Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
44
“PERPADUAN” SEMPURNA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DENGAN SIFAT-SIFAT
TASYBIHIYYAH ALLAH SWT. & KEJELASAN
“PENGLIHATAN HATI” (PENGLIHATAN RUHANI) NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DALAM MI’RAJ
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab 43 dikemukakan mengenai najat (keselamatan) yang diraih oleh
Nabi Adam a.s. melalui taubat dan “maghfirah Ilahi” yang diajarkan langsung oleh Allah Swt., sehingga beliau meraih najat (keselamatan) setelah
mengalami “tipu-daya syaitan” (QS.7:24).
Sehubungan dengan cara meraih najat (keselamatan) yang hakiki Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Falsafah
keselamatan menunjukkan bahwa mereka yang menciptakan hubungan suci dan sempurna dengan Tuhan-nya maka mereka
akan menjadi manifestasi (perwujudan) dari nur yang tidak
pernah meredup.
Dengan tenggelamnya (fananya) mereka dalam
api kecintaan-Nya,
mereka telah meninggalkan eksistensi (keberadaan) mereka sendiri laiknya sepotong
besi
yang ketika dipanaskan lalu mengambil
bentuk rona (sifat) api,
meskipun bukan menjadi api itu sendiri karena masih tetap bersifat besi.
Melalui manifestasi
Tuhan
lalu muncul perubahan mencengangkan dalam diri
para pecinta-Nya,
dan bersamaan dengan itu Tuhan juga mengalami “perubahan fitrat” (sunnah) demi mereka. Memang benar bahwa Tuhan bersifat tidak bisa
diubah
dan bebas dari segala perubahan, namun bagi
para hamba-Nya maka
Dia akan memanifestasikan (menampakkan) berbagai kinerja
ajaib
laiknya Dia itu Tuhan baru yang bukan Tuhan kebanyakan manusia.
“Perpaduan”
Sempurna Kecintaan
Sepadan
dengan derajat kedekatan seorang hamba yang bertakwa kepada Tuhan-nya melalui amal saleh, kejujuran dan ketulusan yang sedemikian rupa, sehingga menjadikan
mereka fana
(sirna) terhadap kehidupan sebelumnya, maka Allah
Swt. juga akan mendekat kepadanya bersama rahmat, pertolongan dan kecemburuan
Ilahi
yang diperagakan secara luar
biasa.
Adalah suatu hal yang tidak mungkin dan bertentangan dengan fitrat Pemurah
Allah Swt.
bahwa Dia akan menjerumuskan ke neraka hamba yang setia kepada-Nya dengan sepenuh hati dan ketulusan.
Hamba seperti itu tidak akan menganggap siapa pun bisa setara dengan Wujud-Nya,
selalu siap mengorbankan nyawanya di
jalan Tuhan serta menganggap tidak berarti orang-orang yang
menentang-Nya.
Bagaimana
mungkin orang seperti itu akan disiksa di api neraka?
Sesungguhnya kecintaan yang sempurna
kepada Tuhan adalah keselamatan itu sendiri. Mungkinkah kalian akan melemparkan anak yang kalian kasihi ke dalam nyala
api? Lalu bagaimana mungkin Tuhan
-- Yang merupakan perwujudan kasih
itu sendiri -- akan melemparkan mereka
yang mencintai Wujud-Nya ke dalam api neraka?
Tidak ada pengurbanan yang lebih baik daripada seorang
yang mencintai Tuhan-nya sedemikian
rupa sehingga melebihi dari cintanya
kepada orang-orang lain di
sekitarnya. Tidak itu saja, tetapi juga melepaskan
kecintaan kepada dirinya sendiri
dan bersedia menempuh kehidupan pahit demi Dia.
Meraih Najat
(Keselamatan) Surgawi
Ketika yang bersangkutan telah mencapai tahapan ini, jelas bahwa ia telah
mencapai najat (keselamatan). Pada tingkat kecintaan Ilahi seperti itu, ia
tidak memerlukan adanya transmigrasi jiwa atau reinkarnasi[1],
atau pun memerlukan adanya penebusan
orang lain yang disalibkan demi
dirinya.
Pada tingkat kecintaan demikian, seseorang tidak lagi hanya membayangkan bahwa ia telah mencapai keselamatan, tetapi cintanya sendiri mengajarkan kepadanya bahwa kasih Allah Swt. beserta
dengan dirinya yang menimbulkan rasa
kepuasan dan kedamaian dalam hati.
Tuhan akan memperlakukan dirinya sebagaimana biasanya Dia memperlakukan hamba-hamba yang dikasihi dan diridhai-Nya.
Dia akan menerima hampir semua doa-doanya dan mengajarkan kepadanya hikmah-hikmah dari wawasan yang mulia, serta memberitahukan
kepadanya berbagai hal yang tersembunyi
(gaib) dan membentuk perubahan di dunia
sejalan dengan keinginan hatinya.
Dia akan menjadikan dirinya dikenal dan dihormati
dunia serta mempermalukan mereka
yang memusuhi dan menghina
dirinya. Dia akan selalu membantunya
dengan cara yang luar biasa dan menumbuhkan kecintaan di hati jutaan
manusia kepada dirinya
serta memanifestasikan (menampakkan)
berbagai mukjizat melalui dirinya.
Kalbu manusia umumnya akan tertarik kepada dirinya melalui wahyu Ilahi dimana mereka lalu bergegas datang melayani dirinya dengan
berbagai pemberian uang dan barang. Tuhan akan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang menyenangkan dan agung laiknya seorang kawan
yang berbicara kepada sahabatnya.
Tuhan yang tersembunyi dari mata dunia
akan memanifestasikan
(menampakkan) Wujud-Nya di hadapannya serta menenangkan
dirinya dengan firman-firman-Nya
di setiap masa kesulitan. Tuhan berbicara
dengan dirinya dengan kata-kata yang
fasih, menyenangkan dan agung serta menjawab segala pertanyaannya
dan memberitahukan kepadanya segala
hal tersembunyi yang tidak diketahui
manusia umumnya. Tuhan melakukan hal
ini bukan sebagai seorang juru ramal
atau ahli perbintangan tetapi
sebagai Raja agung yang berbicara dengan kata-kata yang berwibawa.
Dia membukakan kepadanya berbagai nubuatan
sebagai pertanda kemuliaan dirinya
dan tanda kenistaan bagi para musuhnya yang menunjukkan tanda kemenangan dirinya. Dengan cara ini, melalui firman dan kinerja-Nya
maka Tuhan memanifestasikan (menampakkan)
eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya
kepada dirinya.
Dengan disucikannya
hamba tersebut dari segala dosa maka ia telah sampai
pada derajat kesempurnaan yang untuk
itu dirinya itu diciptakan.” (Chasmai Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 418-421, London, 1984).
“Perpaduan”
Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. Dengan Sifat-sfat
Tasybihiyyah Allah Swt.
Cara
pendekatan diri kepada Allah Swt. paling
sempurna dalam rangka menyelamatkan
umat manusia dari cengkraman dosa
telah diperagakan serta dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad
saw. yang beliau saw. “warisi” dari Nabi Ibrahim a.s.,
firman-Nya:
قُلۡ اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا
قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا
ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ
وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, دِیۡنًا قِیَمًا
مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا -- agama
yang teguh, agama
Ibrahim yang lurus وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ
-- dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik.” قُلۡ
اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ
مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupanku,
dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan)
seluruh
alam. لَا شَرِیۡکَ لَہٗ -- Tidak ada sekutu bagi-Nya, وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ
-- untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah
orang pertama yang berserah diri (Al-An’ām [6]:162-164).
Shalat,
korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. diperintah Allah Swt. menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada
Allah Swt., semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan
kepada Allah Swt., semua pengorbanan
dilakukan beliau saw. untuk Dia;
segala penghidupan dihibahkan beliau saw.
untuk berbakti kepada-Nya, maka bila
di jalan agama beliau saw. mencari kematian
itu pun guna meraih keridhaan-Nya.
Hakikat Perpaduan
“Dua Busur”
Begitu sempurnanya “ketenggelaman” kecintaan Nabi Besar Muhammad saw. terhadap Allah Swt., sehingga seakan-akan antara makhluk (yang diciptakan) dan Khāliq
(Pencipta) seakan-akan telah “berpadu” bagaikan dua
buah busur yang disatukan, sebagaimana firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ
صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾ وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ
الۡہَوٰی ؕ﴿﴾ اِنۡ ہُوَ
اِلَّا وَحۡیٌ یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ
بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ
دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ قَابَ
قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی
اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ
الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi bintang
apabila jatuh.
Sahabat kamu tidaklah
sesat dan tidak
pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی -- Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ ہُوَ
اِلَّا وَحۡیٌ یُّوۡحٰی
-- Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. Tuhan Yang
Mahakuat Perkasa mengajarinya,
Pemilik Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- Dan Dia
mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah,
berada di ufuk
tertinggi. ؕ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی
-- Kemudian ia, Rasulullah,
men-dekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- Maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali dari
dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی -- Lalu Dia
mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah
Dia wah-yukan. مَا کَذَبَ
الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat (An-Najm [53]:1-12).
Makna ayat: ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی
-- Kemudian ia, Rasulullah,
mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- Maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali dari
dua buah busur, atau lebih dekat lagi,” ungkapan dalla
al-dalwa berarti: ia menurunkan ember ke dalam perigi, ia menarik ember ke
atas atau keluar dari perigi, Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu
merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-al-‘Arab).
Ayat ini berarti bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. mendekati Allah Swt. dan Allah Swt. turun
kepada beliau saw. Ayat itu dapat juga
berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt., kemudian setelah
minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi,
beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia.
Tanda Kesepakatan
Melalui Penyatuan Dua Busur Panah
Qāb dalam ayat فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ
اَدۡنٰی – “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi,” berarti: (1) bagian busur antara
bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan; (2) dari satu
ujung busur ke ujung busur yang lain; (3) ukuran atau ruang. Orang Arab
berkata bainahumā qāba qausaini, yakni di antara mereka
berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka
sangat akrab.
Peribahasa Arab yang
mengatakan ramaunā ‘an qausin wāhidin, yakni “mereka
memanah kami dari satu busur”, yaitu
bahwa “mereka seia-sekata melawan
kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon
Lane; Lisan-al-‘Arab,
dan Zamakhsyari).
Apa pun kandungan arti
kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj dan menghampiri
Allah Swt. sehingga jarak antara keduanya hilang
sirna dan Nabi Besar Muhammad saw. seolah-olah
menjadi “seutas tali dari dua busur”.
Peribahasa ini
mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan
orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan
busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu
dan kemudian mereka melepaskan anak panah
dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan
berarti serangan terhadap yang
lainnya juga.
Bila kata tadalla dianggap
mengenai Allah Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. naik
menuju Allah Swt. dan Allah Swt. turun kepada beliau saw., sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu
menjadi satu wujud.
Ungkapan tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan
halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak Nabi Besar Muhammad saw. menjadi sama sekali fana (sirna) dalam Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau saw. eakan-akan menjadi bayangan Allah Swt. Sendiri, maka di pihak lain beliau saw. turun
kembali kepada umat manusia dan
menjadi begitu penuh cinta dan dengan
rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka, sehingga sifat Ketuhanan
dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu
dalam diri beliau saw., dan beliau saw. menjadi titik-pusat tali kedua busur
Ketuhanan dan busur kemanusiaan.
Kejelasan “Penglihatan Hati” Nabi
Besar Muhammad Saw.
Kata-kata “atau lebih dekat lagi,”
mengandung arti bahwa perhubungan
antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan
Allah Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra
lebih daripada yang dapat dibayangkan
pikiran. Itulah makna ayat: . ؕ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی
-- Kemudian ia, Rasulullah,
mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- Maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali dari
dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی --
Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya
apa yang telah Dia wahyukan; مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا
رَاٰی -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat (An-Najm [53]:1-12).
Ayat
مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat (An-Najm [53]: 12) menjelaskan bahwa berbagai pemendangan serta peristiwa yang
dialami serta dilihat Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa mi’raj bukanlah penglihatan dengan mata
jasmani melainkan dengan penglihatan
ruhani yakni melalui penglihatan “hati”.
Mengisyaratkan
kepada “indera-indera ruhani” itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini:
فَکَاَیِّنۡ
مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ
ظَالِمَۃٌ فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی
عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ مُّعَطَّلَۃٍ وَّ
قَصۡرٍ مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ
یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا
لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ
﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah
membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim
lalu dinding-dindingnya jatuh
atas atapnya, dan sumur yang
telah diting-galkan dan istana
yang menjulang tinggi. اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ
قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ
اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا -- Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu menjadikan
hati mereka memahami dengannya atau
menjadikan telinga mereka mendengar dengannya? فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ
وَ لٰکِنۡ تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ
الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ -- Maka sesungguh-nya bukan mata yang buta tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.
(Al-Hājj [22]:46-47).
Menyembuhkan “Indera-indera
Ruhani” yang Lumpuh
Dari ayat ini jelas bahwa orang-orang mati, orang-orang
buta, dan orang-orang tuli, yang
dibicarakan di sini atau di tempat lain dalam Al-Quran ialah orang-orang yang
ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli, yang
untuk memfungsikan kembali indera-indera ruihani manusia yang lumpuh
itulah tujuan Allah Swt. mengutus para Rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37).
Tetapi dalam kenyataannya umumnya
manusia memilih indera-indera ruhani mereka tetap lumpuh karena mendustakan dan menentang para Rasul Allah tersebut -- termasuk
di Akhir Zaman ini -- yang akibatnya di alam akhirat pun mereka akan dibangkitkan
Allah Swt. dalam keadaan lumpuh
indera-indera ruhaninya (QS.17:73), sebagaimana firman-Nya berkenaan perintah
melakukan hijrah kepada Nabi
Adam a.s. dan jama’ah beliau yang
diuraikan dalam Bab-bab sebelumnya:
قَالَ
اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا
یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی ﴿﴾ وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ
مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی ﴿﴾ قَالَ رَبِّ
لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ
قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا﴿﴾ قَالَ
کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ وَکَذٰلِکَ
الۡیَوۡمَ تُنۡسٰی ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ
الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا
قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ
لِّاُولِی النُّہٰی ﴿﴾٪
Dia
berfirman: “Pergilah kamu berdua semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا
یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی -- Maka apabila
datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat, dan tidak
pula ia akan menderita kesusahan. وَ مَنۡ اَعۡرَضَ
عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی -- Dan barangsiapa
berpaling dari mengingat Aku maka sesungguhnya
baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami
akan membangkit-kannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا -- Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), mengapa
Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesung-guhnya dahulu aku dapat melihat?” قَالَ کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا
ۚ -- Dia
berfirman: "Demikianlah
telah datang kepada engkau Tanda-tanda
Kami tetapi engkau
melupakannya وَکَذٰلِکَ الۡیَوۡمَ
تُنۡسٰی -- dan demikian pula engkau dilupakan pada hari
ini." Dan demikianlah
Kami memberi balasan orang yang melanggar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya), dan niscaya
azab- akhirat itu lebih keras dan lebih kekal. Maka apakah tidak memberi petunjuk kepada mereka berapa
banyak generasi yang telah Kami bina-sakan sebelum mereka, mereka berja-lan-jalan di tempat-tempat tinggal
me-reka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā
[20]:124-129).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar,
24 Oktober 2016
[1]
Transmigration atau
metempsychosis, merupakan kepercayaan
dalam agama-agama yang kebanyakan
berasal dari Asia, yang menyatakan bahwa jiwa akan mengalami kelahiran kembali
beberapa kali, baik dalam bentuk manusia, hewan atau pun tumbuh an. Nama lain
yang biasa digunakan adalah reinkarnasi dimana jiwa akan berputar terus
dilahirkan kembali sampai yang bersangkutan berhasil mencapai tahapan moksha. (Penterjemah/ Khalid. A Qoyum).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar