Rabu, 26 Oktober 2016

"Perpaduan" Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. Dengan " Sifat-sifat Tasybihiyyah" Allah Swt. & Kejelasan "Penglihatan Hati" (Penglihatan Ruhani) Nabi Besar Muhammad Saw. dalam "Mi'raj"


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 44

PERPADUAN” SEMPURNA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DENGAN SIFAT-SIFAT  TASYBIHIYYAH ALLAH SWT. & KEJELASAN “PENGLIHATAN HATI” (PENGLIHATAN RUHANI) NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  DALAM MI’RAJ    

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir   Bab 43 dikemukakan   mengenai      najat (keselamatan) yang diraih oleh Nabi Adam a.s. melalui taubat dan “maghfirah Ilahi” yang diajarkan langsung oleh Allah Swt.,  sehingga beliau meraih najat (keselamatan)  setelah mengalami “tipu-daya syaitan” (QS.7:24). Sehubungan dengan   cara meraih najat (keselamatan) yang hakiki  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    Falsafah   keselamatan menunjukkan bahwa mereka yang menciptakan hubungan suci dan sempurna dengan Tuhan-nya maka mereka akan menjadi manifestasi (perwujudan) dari nur yang tidak pernah meredup. Dengan tenggelamnya (fananya)  mereka dalam api kecintaan-Nya, mereka telah meninggalkan eksistensi (keberadaan) mereka sendiri laiknya sepotong besi yang ketika dipanaskan lalu mengambil bentuk rona (sifat) api, meskipun bukan menjadi api itu sendiri karena masih tetap bersifat besi.
        Melalui manifestasi Tuhan lalu muncul perubahan mencengangkan dalam diri para pecinta-Nya, dan bersamaan dengan itu Tuhan juga mengalami “perubahan fitrat” (sunnah)  demi mereka. Memang benar bahwa Tuhan bersifat tidak bisa  diubah dan bebas dari segala perubahan, namun bagi para hamba-Nya maka Dia akan memanifestasikan (menampakkan) berbagai kinerja ajaib laiknya Dia itu Tuhan baru yang bukan Tuhan kebanyakan manusia.

“Perpaduan” Sempurna Kecintaan

      Sepadan dengan derajat kedekatan seorang hamba yang bertakwa  kepada Tuhan-nya melalui amal saleh, kejujuran dan ketulusan yang sedemikian rupa,  sehingga menjadikan mereka fana (sirna) terhadap kehidupan sebelumnya, maka Allah Swt. juga akan mendekat kepadanya bersama rahmat, pertolongan dan kecemburuan Ilahi yang diperagakan secara luar biasa.
    Adalah suatu hal yang tidak mungkin dan bertentangan dengan fitrat Pemurah Allah Swt. bahwa Dia akan menjerumuskan ke neraka hamba yang setia kepada-Nya dengan sepenuh hati dan ketulusan. Hamba seperti itu tidak akan menganggap siapa pun bisa setara dengan Wujud-Nya, selalu siap mengorbankan nyawanya di jalan Tuhan serta  menganggap tidak berarti orang-orang yang menentang-Nya.
   Bagaimana mungkin orang seperti itu akan disiksa di api neraka? Sesungguhnya kecintaan yang sempurna kepada Tuhan adalah keselamatan itu sendiri. Mungkinkah kalian akan    melemparkan  anak yang kalian kasihi ke dalam nyala api? Lalu bagaimana mungkin Tuhan -- Yang merupakan perwujudan kasih itu sendiri -- akan melemparkan mereka yang mencintai Wujud-Nya ke dalam api neraka?
     Tidak ada pengurbanan yang lebih baik daripada seorang yang mencintai Tuhan-nya sedemikian rupa sehingga melebihi dari cintanya kepada orang-orang lain di sekitarnya. Tidak itu saja, tetapi juga melepaskan kecintaan kepada dirinya sendiri dan bersedia menempuh kehidupan pahit demi Dia.

Meraih Najat (Keselamatan) Surgawi

      Ketika yang bersangkutan telah mencapai tahapan ini, jelas bahwa ia telah mencapai najat (keselamatan).   Pada tingkat kecintaan Ilahi seperti itu, ia tidak memerlukan adanya transmigrasi jiwa atau reinkarnasi[1], atau pun memerlukan adanya penebusan orang lain yang disalibkan demi dirinya.
       Pada tingkat kecintaan demikian, seseorang tidak lagi hanya membayangkan bahwa ia telah mencapai keselamatan, tetapi cintanya sendiri mengajarkan kepadanya bahwa kasih Allah Swt. beserta dengan dirinya yang menimbulkan rasa kepuasan dan kedamaian dalam hati.
 Tuhan akan memperlakukan dirinya sebagaimana biasanya Dia memperlakukan hamba-hamba yang dikasihi dan diridhai-Nya. Dia akan menerima hampir semua doa-doanya dan mengajarkan kepadanya hikmah-hikmah dari wawasan yang mulia, serta memberitahukan kepadanya berbagai hal yang tersembunyi (gaib) dan membentuk perubahan di dunia sejalan dengan keinginan hatinya.
  Dia akan menjadikan dirinya dikenal dan dihormati dunia serta mempermalukan mereka yang memusuhi dan menghina  dirinya. Dia akan selalu membantunya dengan cara yang luar biasa dan menumbuhkan kecintaan di hati jutaan  manusia kepada dirinya serta memanifestasikan (menampakkan) berbagai mukjizat melalui dirinya.
       Kalbu manusia umumnya akan tertarik kepada dirinya melalui wahyu Ilahi dimana mereka lalu bergegas datang melayani dirinya dengan berbagai pemberian uang dan barang. Tuhan akan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang menyenangkan dan agung laiknya seorang kawan yang berbicara kepada sahabatnya.
  Tuhan yang tersembunyi dari mata dunia akan memanifestasikan (menampakkan)  Wujud-Nya di hadapannya serta menenangkan dirinya dengan firman-firman-Nya di setiap masa kesulitan.    Tuhan berbicara dengan dirinya dengan kata-kata yang fasih, menyenangkan dan agung serta menjawab segala pertanyaannya dan memberitahukan kepadanya segala hal tersembunyi yang tidak diketahui manusia umumnya. Tuhan melakukan hal ini bukan sebagai seorang juru ramal atau ahli perbintangan tetapi sebagai Raja agung yang berbicara dengan kata-kata yang berwibawa.
   Dia membukakan kepadanya berbagai nubuatan sebagai pertanda kemuliaan dirinya dan tanda kenistaan bagi para musuhnya yang menunjukkan tanda kemenangan dirinya. Dengan cara ini, melalui firman dan kinerja-Nya maka Tuhan memanifestasikan (menampakkan)  eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya kepada dirinya.
      Dengan disucikannya hamba tersebut dari segala dosa maka ia telah sampai pada derajat kesempurnaan yang untuk itu dirinya itu diciptakan.” (Chasmai Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  418-421, London, 1984).

Perpaduan” Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. Dengan Sifat-sfat Tasybihiyyah  Allah Swt.

   Cara pendekatan diri  kepada Allah Swt.  paling sempurna dalam rangka menyelamatkan umat manusia dari cengkraman dosa telah diperagakan serta dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. yang beliau saw.  “warisi” dari Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh  Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا --  agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ  -- dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.”  قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ --    Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbanankukehidupanku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh  alam. لَا شَرِیۡکَ لَہٗ   --   Tidak ada sekutu bagi-Nya, وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri  (Al-An’ām [6]:162-164).
  Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw.   diperintah Allah Swt. menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt., semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt.,  semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau saw. mencari kematian itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

Hakikat  Perpaduan “Dua Busur”

Begitu sempurnanya “ketenggelaman” kecintaan Nabi Besar Muhammad saw.  terhadap Allah Swt., sehingga  seakan-akan antara makhluk (yang diciptakan) dan Khāliq (Pencipta)  seakan-akan telah “berpadu” bagaikan   dua buah busur  yang disatukan, sebagaimana firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾   اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾ مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang  apabila  jatuh.  Sahabat kamu  tidaklah sesat   dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  --   Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  --   Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan.  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa  mengajarinya, Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی  -- Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi. ؕ ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  --  Kemudian ia, Rasulullah, men-dekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanyaفَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی --   Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,  atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    --   Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wah-yukan.  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی   -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat  (An-Najm [53]:1-12).
       Makna ayat: ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  --  Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanyaفَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی --   Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,  atau lebih dekat lagi,” ungkapan   dalla al-dalwa berarti: ia menurunkan ember ke dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi, Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-al-‘Arab).
     Ayat ini berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw.   mendekati Allah Swt. dan Allah Swt.  turun  kepada beliau saw. Ayat itu dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.     mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt., kemudian setelah minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia.

Tanda Kesepakatan Melalui Penyatuan Dua Busur Panah

   Qāb dalam ayat  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی   “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,  atau lebih dekat lagi,” berarti: (1) bagian busur antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan; (2) dari satu ujung busur ke ujung busur yang lain; (3) ukuran atau ruang. Orang Arab berkata  bainahumā  qāba qausaini, yakni di antara mereka berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat akrab.
   Peribahasa Arab yang mengatakan  ramaunā  ‘an qausin wāhidin, yakni  “mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu  bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane; Lisan-al-‘Arab, dan Zamakhsyari).
  Apa pun kandungan arti kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat ini bermaksud bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj  dan menghampiri Allah  Swt. sehingga jarak antara keduanya hilang sirna dan Nabi Besar Muhammad saw.    seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur”.
  Peribahasa ini mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu dan kemudian mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
  Bila kata tadalla dianggap mengenai Allah Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   naik menuju Allah Swt.  dan Allah Swt.  turun kepada beliau saw., sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.
Ungkapan tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak Nabi Besar Muhammad saw.  menjadi sama sekali  fana (sirna) dalam Tuhan serta Pencipta-nya, sehingga beliau  saw. eakan-akan menjadi bayangan Allah Swt. Sendiri, maka di pihak lain beliau saw. turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka, sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw., dan beliau saw. menjadi titik-pusat tali kedua busur Ketuhanan dan busur kemanusiaan.

Kejelasan “Penglihatan Hati” Nabi Besar Muhammad Saw.

      Kata-kata “atau lebih dekat lagi,” mengandung arti bahwa perhubungan antara  Nabi Besar Muhammad saw.   dengan Allah  Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran. Itulah makna ayat:  . ؕ ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  --  Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanyaفَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی --   Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,  atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی   --   Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan;  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی   -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat  (An-Najm [53]:1-12).    
        Ayat  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی   -- Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat  (An-Najm [53]: 12)      menjelaskan bahwa  berbagai pemendangan serta peristiwa yang dialami serta dilihat Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa mi’raj  bukanlah penglihatan   dengan mata jasmani  melainkan dengan  penglihatan ruhani yakni melalui penglihatan “hati”.
       Mengisyaratkan kepada    “indera-indera ruhani   itu pulalah firman Allah Swt. berikut ini:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ  مُّعَطَّلَۃٍ   وَّ  قَصۡرٍ  مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah  membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim  lalu  dinding-dindingnya  jatuh atas atapnya, dan sumur yang telah diting-galkan dan istana yang menjulang tinggi. اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا  --    Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu  menjadikan hati mereka memahami dengannya   atau menjadikan telinga  mereka mendengar dengannya? فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ  -- Maka sesungguh-nya bukan mata yang buta  tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.  (Al-Hājj [22]:46-47).

Menyembuhkan  “Indera-indera Ruhani” yang Lumpuh

        Dari ayat ini jelas bahwa orang-orang mati, orang-orang buta, dan orang-orang tuli, yang dibicarakan di sini atau di tempat lain dalam Al-Quran ialah orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli, yang untuk memfungsikan kembali indera-indera ruihani manusia  yang lumpuh itulah tujuan  Allah Swt. mengutus para Rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37).
    Tetapi dalam kenyataannya umumnya manusia memilih indera-indera ruhani  mereka tetap lumpuh     karena mendustakan dan menentang  para Rasul Allah tersebut   --  termasuk di Akhir Zaman ini  -- yang akibatnya di alam akhirat pun mereka akan dibangkitkan Allah Swt. dalam keadaan lumpuh indera-indera ruhaninya (QS.17:73), sebagaimana firman-Nya berkenaan  perintah melakukan hijrah  kepada Nabi Adam a.s. dan jama’ah beliau yang diuraikan dalam Bab-bab sebelumnya:
قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی  ﴿﴾   وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا﴿﴾  قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی ﴿﴾٪
Dia berfirman:  Pergilah kamu berdua  semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی    --  Maka apabila datang kepadamu petunjuk dari­-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat, dan tidak pula ia akan menderita kesusahan.  وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی --   Dan barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkit-kannya pada Hari Kiamat dalam keadaan butaقَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا --   Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan­-ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesung-guhnya dahulu aku dapat melihat?” قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ       --   Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada engkau Tanda-tanda Kami   tetapi engkau melupakannya  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی  --   dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini."   Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab- akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.   Maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka   berapa banyak generasi yang telah Kami bina-sakan sebelum mereka, mereka berja-lan-jalan di tempat-tempat tinggal me-reka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:124-129).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 24 Oktober 2016


[1] Transmigration atau metempsychosis, merupakan kepercayaan dalam agama-agama yang  kebanyakan berasal dari Asia, yang menyatakan bahwa jiwa akan mengalami kelahiran kembali beberapa kali, baik dalam bentuk manusia, hewan atau pun tumbuh an. Nama lain yang biasa digunakan adalah reinkarnasi dimana jiwa akan berputar terus dilahirkan kembali sampai yang bersangkutan berhasil mencapai tahapan moksha. (Penterjemah/ Khalid. A Qoyum).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar