Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
37
KEDURHAKAAN “ORANG-ORANG BERIMAN” KEPADA ALLAH
SWT. DI AKHIR ZAMAN & KETIDAK-BERSYUKURAN
PENYEBAB KEHANCURAN KAUM SABA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 36
dikemukakan sabda Masih Mau’ud
a.s. mengenai cara memperoleh keselamatan hakiki dari dosa
di dunia ini antara lain beliau menjelaskan
mengenai Pentingnya Kepastian “Pertemuan” Dengan Allah Swt.:
“Apakah mungkin seseorang meredakan rasa
hausnya
hanya dengan membayangkan rasanya air?
Jelas tidak. Seorang yang haus,
dengan satu dan lain cara harus bisa menghampiri suatu sumber mata air dan menyentuhkan bibirnya ke air tersebut barulah rasa hausnya akan mereda.
Demikian juga yang disebut sebagai air yang akan memuaskan dahaga kalian
serta memupus
rasa terbakar
akibat dosa adalah suatu kepastian.
Tidak ada cara lain di bawah langit ini guna memusnahkan
dosa.
Tidak ada kayu salib
yang bisa menyelamatkan kalian dari dosa. Tidak ada penumpahan darah yang mampu mengekang nafsu kalian. Semua hal itu tidak ada kaitannya dengan keselamatan hakiki. Pahamilah realitasnya dan renungkan segala hikmahnya.
Sebagaimana kalian biasa mencobai berbagai hal di dunia, coba
jugalah cara
ini maka kalian akan segera menyadari bahwa tidak ada cahaya lain selain nur hakiki yang dapat menyelamatkan kalian dari kegelapan kalbu kalian. Tanpa air suci dari wawasan yang sempurna tak ada
lagi yang bisa membasuh kekotoran dalam kalbu kalian. Rasa panas kemrungsung yang kalian derita tidak mungkin diredakan tanpa air segar
hasil pertemuan dengan Tuhan.
Berbohong ia yang menawarkan obat
penawar lainnya
kepada kalian, bodoh ia yang mencoba
menyuruh kalian melakukan cara
lain. Orang-orang seperti ini tidak akan
memberikan nur petunjuk kepada kalian, malah akan menjerumuskan kalian ke jurang
kegelapan.
Orang-orang ini tidak ada menawarkan air yang segar, malah memberikan sesuatu yang
lebih menimbulkan rasa terbakar.
Tidak ada darah yang bisa bermanfaat bagi kalian, kecuali darah yang dihasilkan
di dalam diri kalian sendiri karena dihidupkan oleh rasa kepastian. Tidak ada salib yang dapat menyelamatkan kalian kecuali jalan yang lurus dengan teguh pada jalan kebenaran.
Karena itu bukalah mata kalian lebar-lebar dan perhatikan apakah tidak benar bahwa kalian hanya bisa melihat berkat bantuan cahaya dan bukan dengan cara lain. Bahwa kalian
dapat mencapai tujuan sasaran dengan mengikuti jalan yang lurus dan bukan dengan jalan lain.
Benda-benda
duniawi
berada dekat dengan diri
kalian, sedangkan yang berkaitan dengan keimanan terletak jauh
sekali. Karena itu perhatikanlah apa yang ada di dekat kalian serta pelajari
kaidah-kaidahnya,
setelah itu terapkan
hal itu pada yang terletak jauh, karena Tuhan yang sama juga yang telah menyusun kerangka kaidah-kaidah tersebut.
Najat (Keselamatan)
Hakiki di Dunia dan di Akhirat
Tidak mungkin bagi manusia tanpa memperoleh nur dan dengan membutakan mata, bisa memperoleh keselamatan melalui darah siapa pun. Keselamatan bukan suatu hal yang hanya dikaruniakan di
akhirat
saja. Keselamatan
hakiki
yang nyata sesungguhnya dikaruniakan di
dunia
ini juga.
Keselamatan demikian berbentuk sebuah nur yang turun di kalbu dan memperlihatkan siapa yang sedang menggelepar di
kubangan dosa.
Ikutilah jalan
kebenaran
dan kebijakan karena dengan demikian itulah kalian dapat berjumpa Tuhan kalian.
Ciptakan rasa kehangatan dalam batin agar kalian mampu bergerak ke arah kebenaran. Sial sungguh kalbu yang dingin, tidak beruntung fitrat yang
bersifat melankolis (murung) dan mati sudah kesadaran yang tidak cemerlang. Sekurang-kurangnya jadilah seperti ember kosong
yang jatuh ke sumur dan dinaikkan
dalam keadaan penuh, dan bukan
seperti ayakan yang tidak mampu menyimpan air.
Berusahalah tetap sehat agar kemrungsung (panas) demam mencari
duniawi dapat diredakan, karena demam demikian hanya akan
meluputkan nur cahaya dari mata, tertutupnya telinga yang tidak
mendengar, rancunya lidah dalam mengecap,
hilangnya kekuatan memegang dari kedua tangan serta melemahnya
kekuatan di kaki.
Putuskan
hubungan keduniawian
demikian agar tercipta hubungan baru. Blokade hati kalian kepada
dunia agar bisa mencari arah ke tempat lain. Buangkan jauh-jauh serangga
duniawi yang busuk ini agar kalian mendapat intan cemerlang dari surga. Berpalinglah kepada Sumber mata air yang telah menghidupkan Adam a.s. dengan Ruh Ilahi, agar kalian dianugrahi kerajaan di atas segala hal yang dikaruniakan
kepada bapak-bapak kalian.” (Review of Religions-Urdu, jld.
I, hlm. 23-29).
Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa kehidupan dunia dan kehidupan akhirat itu bagaikan
seorang suami memiliki dua orang istri, jika ia pergi ke istrinya yang satu maka istrinya yang lain akan marah. Artinya tidak mungkin dengan mencintai kehidupan dunia lalu akan meraih kehidupan akhirat. Tetapi
orang yang mendahulukan kehidupan akhirat
maka urusan duniawi pun akan dimudahkan Allah Swt., firman-Nya:
وَ
کَمۡ اَہۡلَکۡنَا
مِنَ الۡقُرُوۡنِ مِنۡۢ بَعۡدِ نُوۡحٍ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
بِذُنُوۡبِ عِبَادِہٖ خَبِیۡرًۢا بَصِیۡرًا ﴿﴾ مَنۡ کَانَ یُرِیۡدُ
الۡعَاجِلَۃَ عَجَّلۡنَا
لَہٗ فِیۡہَا مَا نَشَآءُ لِمَنۡ نُّرِیۡدُ
ثُمَّ جَعَلۡنَا لَہٗ جَہَنَّمَ ۚ یَصۡلٰىہَا
مَذۡمُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا ﴿﴾ وَ مَنۡ
اَرَادَ الۡاٰخِرَۃَ وَ سَعٰی لَہَا سَعۡیَہَا وَ ہُوَ مُؤۡمِنٌ
فَاُولٰٓئِکَ کَانَ سَعۡیُہُمۡ
مَّشۡکُوۡرًا ﴿﴾ کُلًّا نُّمِدُّ
ہٰۤؤُلَآءِ وَ ہٰۤؤُلَآءِ مِنۡ عَطَآءِ رَبِّکَ ؕ وَ مَا کَانَ عَطَـآءُ رَبِّکَ
مَحۡظُوۡرًا ﴿﴾
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, Kami menyegerakan baginya di dalamnya perbekalan
yang Kami kehendaki bagi orang-orang yang Kami kehendaki, kemudian Ka-mi menetapkan baginya azab Jahannam, ia akan memasukinya dalam
keadaan tercela, terusir. Dan barangsiapa menghendaki akhirat dan berusaha untuk itu
dengan usahanya yang sungguh-sungguh dan ia
seorang beriman, maka mereka itulah
yang usaha-usahanya akan dihargai. کُلًّا
نُّمِدُّ ہٰۤؤُلَآءِ وَ ہٰۤؤُلَآءِ مِنۡ عَطَآءِ رَبِّکَ -- Semuanya
Kami beri pertolongan, mereka itu
maupun mereka ini, suatu anugerah dari Rabb
(Tuhan) engkau, وَ مَا کَانَ عَطَـآءُ رَبِّکَ
مَحۡظُوۡرًا -- dan anugerah
Rabb (Tuhan) engkau tidak
terbatas. (Bani Israil [17]:19-21).
Kata
penunjuk nama hā (itu) dalam
ayat وَ مَنۡ
اَرَادَ الۡاٰخِرَۃَ وَ سَعٰی لَہَا -- “Dan barangsiapa menghendaki akhirat dan berusaha untuk itu” menunjuk kepada akhirat, dan maknanya ialah bahwa usaha-usaha yang dianggap dapat menjamin kebaikan di akhirat, hanya usaha-usaha itulah yang akan
mendatangkan hasil yang sungguh-sungguh baik.
Penjelmaan Sifat Rahmāniyyat
(Maha Pemurah) dan Rahīmiyyat (Maha
Penyayang) Allah Swt,
Makna ayat:
کُلًّا نُّمِدُّ ہٰۤؤُلَآءِ وَ ہٰۤؤُلَآءِ مِنۡ
عَطَآءِ رَبِّکَ -- semuanya Kami beri pertolongan, mereka itu maupun mereka ini, suatu anugerah dari Rabb (Tuhan) engkau, وَ مَا کَانَ عَطَـآءُ رَبِّکَ
مَحۡظُوۡرًا -- dan anugerah
Rabb (Tuhan) engkau tidak
terbatas.” Pertolongan
Allah Swt. ada dua macam:
(1) Pertolongan umum, yang sebagai akibatnya, maka amal perbuatan dan usaha-usaha
segala macam orang Islam, Kristen, Yahudi, Hindu dan sebagainya, memberi buah (hasil) sesuai dengan ruang lingkup
dan besarnya, sesuai dengan Sifat Rahmāniyat
(Maha Pemurah) Allah Swt.
(2) Karunia
dan bantuan istimewa dari Allah Swt. yang terbatas
pada hal-hal bersifat ruhani dan yang
diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang
sejati, tapi tidak diberikan kepada orang-orang
kafir, yaitu sesuai dengan Sifat RahÎmiyyat
(Maha Penyayang) Allah Swt.
Mengenai topik pembahasan yang
sama dalam surah lain Allah Swt.
berfirman:
مَنۡ کَانَ
یُرِیۡدُ حَرۡثَ الۡاٰخِرَۃِ نَزِدۡ لَہٗ
فِیۡ حَرۡثِہٖ ۚ وَ مَنۡ کَانَ یُرِیۡدُ حَرۡثَ الدُّنۡیَا نُؤۡتِہٖ مِنۡہَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ نَّصِیۡبٍ ﴿﴾
Barangsiapa
menghendaki ladang akhirat Kami
meningkatkan baginya hasil ladangnya, dan barangsiapa menghendaki ladang dunia Kami
memberikan kepadanya bagiannya, tetapi di
akhirat ia sekali-kali ti-dak akan memiliki
bagian. (Asy-Syūrā [42]:21).
Mereka yang seluruh upayanya ditujukan guna memperoleh hal-hal yang sia-sia dan tidak
berharga dalam kehidupan ini akan terluput
dari rahmat dan berkat kehidupan kekal di akhirat,
tetapi mereka yang mengadakan persiapan guna menyongsong kehidupan yang akan datang (akhirat) akan mendapat karunia Allah yang dianugerahkan kepada mereka tanpa ukuran dan tidak
kunjung berkurang. Firman-Nya lagi:
فَمِنَ
النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ
اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ﴿﴾وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ
رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا
حَسَنَۃً وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ
حَسَنَۃً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾
اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿﴾
“…..Dan di antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan
hidup di dunia ini”, dan tidak ada
baginya bagian di akhirat. Dan di antara mereka ada yang
mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, berilah kami segala yang baik di
dunia dan segala yang baik di
akhirat, dan peliharalah kami dari azab Api.” Mereka
inilah yang akan memperoleh bagian sebagai
pahala dari apa yang mereka usahakan, dan Allah Mahacepat dalam menghisab. (Al-Baqarah [2]:201-203).
Ayat 202 menyebut golongan orang dengan upaya-upaya dan hasrat-hasratnya tidak hanya terbatas pada dunia ini. Mereka mencari segala yang baik dari dunia ini dan pula segala yang baik dari
alam ukhrawi. Hasanah berarti
pula sukses (Taj-ul-‘Arus).
Doa ini sangat padat dan Nabi Besar Muhammad saw. amat sering mempergunakannya (Muslim).
Kedurhakaan Orang-orang Beriman Kepada Allah Swt. di Akhir Zaman
Jadi, Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara iman (keimanan) dengan yaqin
(keyakinan), karena itu dalam kenyataannya banyak di antara orang-orang yang mengaku sebagai “orang-orang yang beriman” tetapi mereka tetap terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan dosa atau yang melanggar
perintah dan larangan Allah Swt.,
contohnya pelanggaran terhadap perintah dan peringatan
Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا
تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ
اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ
عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ
اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ
فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا
حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ
فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی
الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ
بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ
الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ
تَفَرَّقُوۡا وَ
اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ
اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ
بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ
فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ
ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ مَا فِی
السَّمٰوٰتِ وَ مَا
فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ
الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah
sekali-kali kamu mati kecuali kamu
dalam keadaan berserah diri. وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا -- Dan berpegangteguhlah
kamu sekalian pada tali Allah,
dan janganlah kamu berpecah-belah, وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا -- dan ingatlah
akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu
dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia
menyatukan hatimu dengan kecintaan antara
satu sama lain maka dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi
bersaudara, وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا
حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا -- dan
kamu dahulu berada di tepi jurang Api
lalu Dia menyelamatkan kamu
darinya. کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ -- Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu mendapat petunjuk. وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ -- Dan
hendaklah ada segolongan di antara kamu yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan, dan menyuruh
kepada yang makruf, dan melarang dari berbuat munkar, وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- dan mereka
itulah orang-orang yang berhasil. وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ -- Dan janganlah
kamu menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih sesudah
bukti-bukti yang jelas datang
kepada mereka, وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ -- dan
mereka itulah orang-orang yang baginya ada azab yang besar. یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ -- Pada hari ketika wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah lainnya menjadi hitam. فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ -- Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka:
“Apakah kamu kafir sesudah beriman?
Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan
kekafiran kamu." وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- Dan ada
pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal
di dalamnya. تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ
ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡ -- Itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada
engkau dengan haq, dan Allah
sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman
atas seluruh alam. وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ
الۡاُمُوۡرُ -- Dan milik
Allah-lah apa pun yang ada di seluruh
langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan. (Âli ‘Imran [3]:103-110).
Pentingnya Keselarasan Antara Ucapan
Orang-orang Beriman dan Perbuatannya
Dengan
kata lain yang membuktikan benar-tidaknya
pendakwaan keimanan seseorang itu bukan sekedar ucapannya tetapi juga perbuatannya, demikian pula halnya dengan kekafiran. Mengisyaratkan kepada
kenyataan itulah penyebab turunnya azab Ilahi terhadap kaum Saba karena mereka tidak
mensyukuri nikmat-nikmat duniawi
yang dianugerahkan Allah Swt. kepada mereka, berupa pemanfaatan aliran sungai dengan cara membuat
bendungan Al-Ma’arib, sehingga
menjadikan wilayah kering gersang di sebelah kanan dan kiri sungai
menjadi wilayah yang subur,
firman-Nya:
لَقَدۡ
کَانَ لِسَبَاٍ فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ
ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ
اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ
وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾ فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ
الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ
سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾ ذٰلِکَ
جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ
نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ
بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ
قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾ فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ
فَجَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ وَ
مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ
فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ
لِّکُلِّ صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ لَہٗ
عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا
لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ
مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ ؕ وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ
﴿٪﴾
Sungguh bagi kaum
Saba' benar-benar terdapat satu Tanda besar di tanah air
mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan di kiri sungai. Kami berfirman: کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ
اشۡکُرُوۡا لَہٗ --“Makanlah rezeki dari Rabb
(Tuhan) kamu dan berterima kasihlah
kepada-Nya. بَلۡدَۃٌ
طَیِّبَۃٌ وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ -- Negeri yang indah dan Rabb (Tuhan) Maha Pengampun.” فَاَعۡرَضُوۡا
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ -- Tetapi mereka
itu berpaling maka Kami kirimkan
kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan. وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ
سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ -- Dan
Kami mengganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang berbuah buah-buahan pahit, pohon cemara dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ -- Demikianlah
Kami memberi balasan kepada mereka
karena mereka tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami membalas seperti itu kecuali
kepada orang-orang yang sangat tidak
bersyukur. وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا
قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا
السَّیۡرَ -- Dan Kami
telah menjadikan antara mereka dan antara
kota-kota yang telah Kami berkati di
dalamnya menjadi kota-kota
yang berdekatan, dan telah Kami
tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota itu, Kami berfirman: سِیۡرُوۡا
فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا
اٰمِنِیۡنَ -- “Berjalanlah di dalamnya
dengan aman malam dan siang.” فَقَالُوۡا
رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا -- Lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah
jarak di antara perjalanan kami,” وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ
اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami
menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya. اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ
صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ -- Sesungguhnya
dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi
setiap orang yang bersabar dan bersyukur. وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ -- Dan
sungguh iblis benar-benar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,
maka mereka
mengikutinya, اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
-- kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman. وَ مَا کَانَ لَہٗ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ
یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ مِمَّنۡ ہُوَ
مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ -- Tetapi ia sekali-kali tidak memiliki kekuasaan atas mereka, melainkan supaya
Kami dapat mengetahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang masih dalam keraguan
mengenainya, وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
حَفِیۡظٌ -- dan Rabb
(Tuhan) engkau adalah Pemelihara atas segala sesuatu. (As-Sabā’
[34]:16-20).
Ketidak-bersyukuran Kaum Saba
Saba', sebagaimana tersebut dalam
QS.27:23, adalah sebuah kota di negeri Yaman,
terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari Shan’a yang disebut juga Ma’arib. Kota ini sering disebut-sebut
dalam kitab Taurat dan dalam
kepustakaan Yunani, Romawi, dan Arab; lebih-lebih pula dalam prasasti-prasasti yang terdapat di
Arabia Selatan.
Bangsa Saba' adalah bangsa yang sangat makmur lagi berkebudayaan
tinggi, dan kepadanya Allah Swt.
telah menganugerahkan berlimpah-limpah kehidupan yang serba senang dan sentausa.
Seluruh negeri dijadikan subur sekali
tanahnya dengan pembuatan
bendungan-bendungan dan bangunan-bangunan
irigasi lainnya serta sarat
dengan kebun-kebun dan sungai-sungai atau kanal-kanal penyalur air bendungan. Dari antara bangunan-bangunan umum yang didirikan guna membantu pertanian, seperti pengempang-pengempang dan bendungan-bendungan,
yang paling tersohor ialah Bendungan Ma’arib (Encyclopaedia of
Islam, Jilid IV, hlm. 16).
Tirmidzi menyebut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Farwah bin
Malik, bahwa tatkala ditanya, adakah Saba'
itu sebuah negeri ataukah seorang perempuan, konon Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Itu bukan nama sebuah negeri atau pun nama
seorang perempuan melainkan nama seorang
laki-laki asal Yaman yang mempunyai 10orang anak laki-laki, 6 di antaranya
menetap terus di Yaman, sedang 4 orang selebihnya pergi ke Siria dan bermukim
di sana.” (Taj-ul ’Urus).
‘Arim
dalam ayat فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ -- “tetapi
mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat
yang membinasakan” berarti suatu bendungan
atau beberapa bendungan yang
dibangun di lembah-lembah atau di alur-alur sungai berarus deras; atau sebuah sungai deras yang daya desak arus airnya tidak tetahankan;
atau hujan lebat (Lexicon Lane).
Suatu banjir hebat telah menyebabkan Bendungan Ma’arib, yang menjadi andalan bangsa Saba’ untuk kemakmuran mereka roboh
dan banjir dahsyat menggenangi
seluruh wilayah sehingga menyebabkan kehancuran
yang luas jangkauannya, sehingga negeri kaum Saba' yang sebelumnya penuh
dengan taman-taman asri, sungai-sungai dan bangunan-bangunan anggun yang
artistik telah berubah menjadi belantara
yang membentang luas. Bendungan itu kira-kira dua mil panjangnya dan 120
kaki tingginya. Bendungan itu hancur kira-kira pada abad pertama atau kedua sebelum
Masehi (Palmer).
Itulah makna ayat selanjutnya: وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ
سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ -- “dan Kami mengganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang berbuah
buah-buahan pahit, pohon cemara
dan sedikit pohon bidara.” ذٰلِکَ
جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ
نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ -- Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka
tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami
membalas seperti itu kecuali kepada
orang-orang yang sangat tidak bersyukur.”
Kata-kata “Kota yang telah Kami beri berkat,” dalam
ayat: وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ
الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ -- ”dan Kami
telah menjadikan antara mereka dan antara
kota-kota yang telah Kami berkati di
dalamnya menjadi kota-kota
yang berdekatan, dan telah Kami
tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota itu”, menunjuk
kepada kota Palestina – yakni
Yerusalem -- tempat kedudukan pemerintahan Nabi Sulaiman a.s., yang dengan kota itu bangsa Saba' melangsungkan hubungan
niaga dan mendatangkan kemakmuran.
Kata-kata “Kami tetapkan perhentian
perjalanan di antara kota-kota,” mengandung pengertian kota-kota yang terletak begitu berdekatan
satu sama lain sehingga mudah sekali terlihat, atau kata-kata itu dapat pula
berarti kota-kota terkemuka, dan menunjukkan bahwa jalan dari Yaman ke Palestina dan Siria sangat ramai dilalui orang, aman, dan berpenduduk cukup banyak.
Menurut Sir
Williams Muir pada waktu itu ada 70
tempat perhentian dari Hadramaut ke Ailah
pada jalan dari Yaman ke Siria. Jalan itu
ramai dilalui orang lagi aman, diapit di kedua belah tepinya oleh pohon-pohon rimbun, sehingga jalan
tersebut teduh dan nyaman.
Makna Ucapan Durhaka
Kaum Saba
Makna kata-kata yang diletakkan dalam mulut orang-orang Saba' dalam ayat
selanjutnya: فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ
بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا -- “lalu
mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan)
kami, jauhkanlah jarak di antara
perjalanan kami,” ucapan
tersebut itu sesungguhnya menggambarkan keadaan mereka yang sebenarnya, ketika mereka membangkang
dan mengingkari perintah-perintah Allah
Swt., dan sebagai akibatnya
mereka jadi binasa: وَ
ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ
اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami
menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya.”
Jalan yang tadinya makmur dan ramai dilalui orang, kini menjadi sunyi
senyap. Kata-kata “Jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,” berarti,
bahwa sebab banyak kota di sepanjang
jalan yang menjadi puing-puing, jarak
di antara satu perhentian dengan perhentian lainnya menjadi lebih jauh dan tidak aman. Orang-orang Saba'
menjadi hancur sama sekali sehingga tiada tanda atau bekas yang ditinggalkan mereka. Mereka itu hanya menjadi bahan ceritera belaka bagi para juru dongeng.
Makna pernyataan Allah Swt. dalam ayat
selanjutnya: وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ
اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ
-- “dan
sungguh iblis benar-benar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,
maka mereka
mengikutinya, اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
-- kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman”. Orang-orang Saba’ dengan perbuatan durhaka mereka menggenapi
sangkaan syaitan (iblis – QS.7:17-19) bahwa ia akan berhasil menyesatkan mereka.
Penyebutan mengenai sangkaan syaitan (iblis) mengenai orang-orang durhaka dan perbuatan jahat mereka ini dapat dijumpai di dalam QS.17:63; di tempat itu syaitan disebut mengatakan bahwa ia akan
menyebabkan keturunan Adam binasa,
kecuali beberapa dari antara mereka.
Makna ayat: اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- “kecuali
segolongan dari orang-orang yang beriman.
وَ مَا کَانَ لَہٗ
عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا
لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ
مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ -- Tetapi ia sekali-kali tidak memiliki kekuasaan atas mereka, melainkan supaya
Kami dapat mengetahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang masih dalam keraguan
mengenainya.” Syaitan tidak mempunyai kekuasaan atas manusia (QS.14:23; 43;
QS,16:100; QS.17:66), adalah karena kepercayaan
yang sesat dan perbuatannya yang
buruk saja manusia mendatangkan kehancuran dalam kehidupan ruhaninya. Itulah sebabnya syaitan
di alam akhirat akan berlepas-tangan terhadap tuntutan orang-orang yang berhasil disesatkannya (QS.7:39-40; QS.28:64-67;
QS.33:67-69; QS.34:32-34; QS.40:48-51).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 15 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar