Senin, 17 Oktober 2016

Kedurhakaan "Orang-orang Beriman" Kepada Allah Swt. di Akhir Zaman & "Ketidak-bersyukuran" Penyebab Kehancuran Kaum Saba



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 37

KEDURHAKAAN “ORANG-ORANG BERIMAN”  KEPADA ALLAH SWT. DI AKHIR ZAMAN &  KETIDAK-BERSYUKURAN PENYEBAB KEHANCURAN KAUM SABA  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 36  dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai  cara memperoleh keselamatan hakiki dari dosa di dunia ini  antara lain beliau menjelaskan mengenai  Pentingnya Kepastian  “Pertemuan” Dengan Allah Swt.:
  “Apakah mungkin seseorang meredakan rasa hausnya hanya dengan membayangkan rasanya air? Jelas tidak. Seorang yang haus, dengan satu dan lain cara  harus bisa menghampiri suatu sumber mata air dan menyentuhkan bibirnya ke air tersebut  barulah rasa hausnya akan mereda.     Demikian juga yang disebut sebagai air yang akan memuaskan dahaga kalian serta memupus rasa terbakar akibat dosa adalah suatu kepastian.
      Tidak ada cara lain di bawah langit ini guna memusnahkan dosa. Tidak ada kayu salib yang bisa menyelamatkan kalian dari dosa. Tidak ada penumpahan darah yang mampu mengekang nafsu kalian. Semua hal itu tidak ada kaitannya dengan keselamatan hakiki. Pahamilah realitasnya dan renungkan segala hikmahnya.
      Sebagaimana kalian biasa mencobai berbagai hal di dunia, coba jugalah cara ini maka kalian akan segera menyadari bahwa tidak ada cahaya lain selain nur hakiki yang dapat menyelamatkan kalian dari kegelapan kalbu kalian. Tanpa air suci dari wawasan yang sempurna  tak ada lagi yang bisa membasuh kekotoran dalam kalbu kalian. Rasa panas kemrungsung   yang kalian derita tidak mungkin diredakan tanpa air segar hasil pertemuan dengan Tuhan.
      Berbohong ia yang menawarkan obat penawar lainnya kepada kalian, bodoh ia yang mencoba menyuruh kalian melakukan cara lain. Orang-orang seperti ini tidak akan memberikan nur petunjuk kepada kalian, malah akan menjerumuskan kalian ke jurang kegelapan. Orang-orang ini tidak ada menawarkan air yang segar, malah memberikan sesuatu yang lebih menimbulkan rasa terbakar.
   Tidak ada darah yang bisa bermanfaat bagi kalian, kecuali darah yang dihasilkan di dalam diri kalian sendiri karena dihidupkan oleh rasa kepastian. Tidak ada salib yang dapat menyelamatkan kalian kecuali jalan yang lurus dengan teguh pada jalan kebenaran.
   Karena itu bukalah mata kalian lebar-lebar dan perhatikan apakah tidak benar bahwa kalian hanya bisa melihat berkat bantuan cahaya dan bukan dengan cara lain. Bahwa kalian dapat mencapai tujuan sasaran dengan mengikuti jalan yang lurus dan bukan dengan jalan lain.
   Benda-benda duniawi berada dekat dengan diri kalian,  sedangkan yang berkaitan dengan keimanan terletak jauh sekali. Karena itu perhatikanlah apa yang ada di dekat kalian serta pelajari kaidah-kaidahnya, setelah itu terapkan hal itu pada yang terletak jauh, karena Tuhan yang sama juga yang telah menyusun kerangka kaidah-kaidah tersebut.

Najat (Keselamatan) Hakiki di Dunia dan di Akhirat

   Tidak mungkin bagi manusia tanpa memperoleh nur dan dengan membutakan mata, bisa memperoleh keselamatan melalui darah siapa pun. Keselamatan bukan suatu hal yang hanya dikaruniakan di akhirat saja. Keselamatan hakiki yang nyata sesungguhnya dikaruniakan di dunia ini juga.
   Keselamatan demikian berbentuk sebuah nur yang turun di kalbu dan memperlihatkan siapa yang sedang menggelepar di kubangan dosa. Ikutilah jalan kebenaran dan kebijakan karena dengan demikian itulah kalian dapat berjumpa Tuhan kalian.
    Ciptakan rasa kehangatan dalam batin agar kalian mampu bergerak ke arah kebenaran. Sial sungguh kalbu yang dingin, tidak beruntung fitrat yang bersifat melankolis (murung) dan mati sudah kesadaran yang tidak cemerlang. Sekurang-kurangnya jadilah seperti ember kosong yang jatuh ke sumur dan dinaikkan dalam keadaan penuh, dan bukan seperti ayakan yang tidak mampu menyimpan air.
      Berusahalah tetap sehat agar kemrungsung (panas) demam mencari duniawi dapat diredakan, karena demam demikian hanya akan meluputkan nur cahaya dari mata, tertutupnya telinga yang tidak mendengar, rancunya lidah dalam mengecap, hilangnya kekuatan memegang dari kedua tangan serta melemahnya kekuatan di kaki.
     Putuskan hubungan keduniawian demikian agar tercipta hubungan baru. Blokade hati kalian kepada dunia agar bisa mencari arah ke tempat lain. Buangkan jauh-jauh serangga duniawi yang busuk ini agar kalian mendapat intan cemerlang dari surga. Berpalinglah kepada Sumber mata air yang telah menghidupkan Adam a.s. dengan Ruh Ilahi, agar kalian dianugrahi kerajaan di atas segala hal yang dikaruniakan kepada bapak-bapak kalian.” (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm.  23-29).
    Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa kehidupan dunia dan kehidupan akhirat itu bagaikan  seorang suami memiliki dua orang istri, jika ia pergi ke istrinya yang satu maka istrinya yang lain akan marah. Artinya tidak mungkin dengan mencintai kehidupan dunia  lalu akan meraih kehidupan akhirat.  Tetapi orang yang mendahulukan kehidupan akhirat maka urusan duniawi pun akan dimudahkan Allah Swt., firman-Nya:
وَ کَمۡ  اَہۡلَکۡنَا مِنَ الۡقُرُوۡنِ مِنۡۢ  بَعۡدِ نُوۡحٍ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ بِذُنُوۡبِ عِبَادِہٖ خَبِیۡرًۢا  بَصِیۡرًا ﴿﴾  مَنۡ کَانَ یُرِیۡدُ الۡعَاجِلَۃَ عَجَّلۡنَا لَہٗ فِیۡہَا مَا نَشَآءُ لِمَنۡ نُّرِیۡدُ ثُمَّ  جَعَلۡنَا لَہٗ جَہَنَّمَ ۚ یَصۡلٰىہَا مَذۡمُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا ﴿﴾ وَ مَنۡ اَرَادَ   الۡاٰخِرَۃَ  وَ سَعٰی لَہَا سَعۡیَہَا وَ ہُوَ مُؤۡمِنٌ فَاُولٰٓئِکَ کَانَ سَعۡیُہُمۡ  مَّشۡکُوۡرًا ﴿﴾  کُلًّا نُّمِدُّ ہٰۤؤُلَآءِ وَ ہٰۤؤُلَآءِ مِنۡ عَطَآءِ رَبِّکَ ؕ وَ مَا  کَانَ عَطَـآءُ  رَبِّکَ  مَحۡظُوۡرًا ﴿﴾
Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, Kami menyegerakan baginya di dalamnya perbekalan yang Kami kehendaki bagi orang-orang yang Kami kehendaki,   kemudian Ka-mi menetapkan baginya azab Jahannam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela, terusir.     Dan barangsiapa menghendaki akhirat dan berusaha untuk itu  dengan usahanya yang sungguh-sungguh  dan ia seorang beriman, maka mereka itulah yang usaha-usahanya akan dihargai. کُلًّا نُّمِدُّ ہٰۤؤُلَآءِ وَ ہٰۤؤُلَآءِ مِنۡ عَطَآءِ رَبِّکَ -- Semuanya Kami beri pertolongan, mereka itu maupun mereka ini, suatu anugerah dari Rabb (Tuhan) engkau, وَ مَا  کَانَ عَطَـآءُ  رَبِّکَ  مَحۡظُوۡرًا  --  dan anugerah  Rabb (Tuhan) engkau tidak  terbatas.  (Bani Israil [17]:19-21).
     Kata penunjuk nama  (itu) dalam ayat  وَ مَنۡ اَرَادَ   الۡاٰخِرَۃَ  وَ سَعٰی لَہَا  -- “Dan barangsiapa menghendaki akhirat dan berusaha untuk itu” menunjuk kepada akhirat, dan maknanya ialah bahwa usaha-usaha yang dianggap dapat menjamin kebaikan di akhirat,  hanya usaha-usaha itulah yang akan mendatangkan hasil yang sungguh-sungguh baik.

Penjelmaan Sifat Rahmāniyyat (Maha Pemurah) dan Rahīmiyyat (Maha Penyayang) Allah Swt,

      Makna ayat:  کُلًّا نُّمِدُّ ہٰۤؤُلَآءِ وَ ہٰۤؤُلَآءِ مِنۡ عَطَآءِ رَبِّکَ -- semuanya Kami beri pertolongan, mereka itu maupun mereka ini, suatu anugerah dari Rabb (Tuhan) engkau, وَ مَا  کَانَ عَطَـآءُ  رَبِّکَ  مَحۡظُوۡرًا  --  dan anugerah  Rabb (Tuhan) engkau tidak  terbatas.”  Pertolongan Allah Swt.  ada dua macam:
     (1) Pertolongan umum, yang sebagai akibatnya, maka amal perbuatan dan usaha-usaha segala macam orang Islam, Kristen, Yahudi, Hindu dan sebagainya, memberi buah (hasil) sesuai dengan ruang lingkup dan besarnya, sesuai dengan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt.
      (2) Karunia dan bantuan istimewa dari Allah Swt.  yang terbatas pada hal-hal bersifat ruhani dan yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang sejati, tapi tidak diberikan kepada orang-orang kafir, yaitu sesuai dengan Sifat RahÎmiyyat (Maha Penyayang) Allah Swt.
Mengenai topik pembahasan yang sama  dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
مَنۡ کَانَ یُرِیۡدُ حَرۡثَ الۡاٰخِرَۃِ  نَزِدۡ لَہٗ فِیۡ حَرۡثِہٖ ۚ وَ مَنۡ کَانَ یُرِیۡدُ حَرۡثَ الدُّنۡیَا نُؤۡتِہٖ  مِنۡہَا وَ مَا لَہٗ  فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ نَّصِیۡبٍ ﴿﴾
Barangsiapa menghendaki ladang akhirat Kami meningkatkan baginya hasil ladangnya, dan barangsiapa menghendaki ladang dunia  Kami memberikan kepadanya bagiannya, tetapi di akhirat ia sekali-kali ti-dak akan memiliki  bagian. (Asy-Syūrā [42]:21).
   Mereka yang seluruh upayanya ditujukan guna memperoleh hal-hal yang sia-sia dan tidak berharga dalam kehidupan ini  akan terluput dari rahmat dan berkat kehidupan kekal di akhirat, tetapi  mereka yang mengadakan persiapan guna menyongsong kehidupan yang akan datang (akhirat)  akan mendapat karunia Allah yang dianugerahkan kepada mereka tanpa ukuran dan tidak kunjung berkurang. Firman-Nya lagi:
فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  مِنۡ خَلَاقٍ ﴿﴾وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً  وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
“…..Dan  di antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan hidup  di dunia ini”, dan tidak ada baginya  bagian di akhirat.   Dan di antara mereka ada yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat,  dan peliharalah kami dari azab Api.” Mereka inilah yang akan memperoleh bagian sebagai pahala dari apa yang mereka usahakan, dan Allah Mahacepat dalam menghisab. (Al-Baqarah [2]:201-203).
        Ayat  202  menyebut golongan orang dengan upaya-upaya dan hasrat-hasratnya tidak hanya terbatas pada dunia ini. Mereka mencari segala yang baik dari dunia ini dan pula segala yang baik dari alam ukhrawi. Hasanah berarti pula sukses (Taj-ul-‘Arus). Doa ini sangat padat dan Nabi Besar Muhammad saw.   amat sering mempergunakannya (Muslim).

Kedurhakaan Orang-orang   Beriman Kepada Allah Swt. di Akhir Zaman

      Jadi, Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan bahwa  terdapat perbedaan antara iman (keimanan) dengan yaqin (keyakinan), karena itu dalam kenyataannya banyak di antara orang-orang yang mengaku sebagai “orang-orang yang beriman” tetapi mereka  tetap terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan dosa  atau yang melanggar perintah dan larangan Allah Swt., contohnya pelanggaran terhadap  perintah  dan peringatan Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ   کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ  یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾   وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  ﴿﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.   وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا --   Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah,  dan  janganlah kamu berpecah-belah, وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا --  dan  ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu  Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا   -- dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkan kamu darinya  کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ  --  Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu mendapat petunjuk. وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ  --  Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan,  dan menyuruh kepada yang makrufdan melarang dari berbuat munkar,  وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ  -- dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ  -- Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah belah dan berselisih  sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ  --  dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar. یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ  --   Pada hari  ketika  wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam.  فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ  -- Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu." وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --   Dan  ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal  di dalamnyaتِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡ  --    Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam. وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  --  Dan  milik Allah-lah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.  (Âli ‘Imran [3]:103-110).


Pentingnya Keselarasan Antara Ucapan Orang-orang Beriman dan Perbuatannya

     Dengan kata lain yang membuktikan benar-tidaknya pendakwaan keimanan  seseorang itu bukan sekedar ucapannya tetapi juga perbuatannya,  demikian pula halnya dengan kekafiran. Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah penyebab turunnya azab Ilahi terhadap kaum Saba  karena mereka  tidak mensyukuri nikmat-nikmat duniawi yang dianugerahkan Allah Swt. kepada mereka, berupa pemanfaatan aliran sungai dengan cara membuat bendungan Al-Ma’arib, sehingga menjadikan wilayah kering gersang  di sebelah kanan dan kiri sungai menjadi wilayah yang  subur, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لِسَبَاٍ  فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾  فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾  ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾  وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا  اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾  فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ  اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ  اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کَانَ لَہٗ  عَلَیۡہِمۡ  مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ  مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ ؕ وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ ﴿٪﴾
Sungguh  bagi kaum Saba'  benar-benar terdapat satu Tanda besar di tanah air mereka, yaitu dua kebun  di sebelah kanan dan di kiri sungai.  Kami berfirman:  کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ   --Makanlah rezeki dari   Rabb (Tuhan) kamu dan berterima kasihlah kepada-Nya.  بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ -- Negeri yang indah dan  Rabb (Tuhan)  Maha Pengampun.”  فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ  -- Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan. وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ  --       Dan Kami mengganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang   berbuah buah-buahan pahit, pohon cemara dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ  -- Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami membalas seperti itu kecuali kepada orang-orang yang sangat tidak bersyukur. وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ  --  Dan Kami telah menjadikan antara mereka dan antara kota-kota yang telah Kami  berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan  di antara kota-kota itu,  Kami berfirman:  سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا  اٰمِنِیۡنَ  -- Berjalanlah di dalamnya dengan aman malam dan siang.”  فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا   --  Lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,”  وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ  -- dan mereka menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnyaاِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ --  Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi setiap orang yang bersabar dan bersyukur. وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ  اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ   --  Dan  sungguh  iblis benar-benar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,  maka  mereka mengikutinya, اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --   kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman. وَ مَا کَانَ لَہٗ  عَلَیۡہِمۡ  مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ  مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ  --     Tetapi ia sekali-kali tidak memiliki kekuasaan atas mereka,  melainkan supaya Kami dapat mengetahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang masih dalam keraguan mengenainya, وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ  --  dan Rabb (Tuhan) engkau adalah Pemelihara atas segala sesuatu. (As-Sabā’ [34]:16-20).

Ketidak-bersyukuran Kaum Saba

      Saba', sebagaimana tersebut dalam QS.27:23, adalah sebuah kota di negeri Yaman, terletak kira-kira tiga hari perjalanan dari Shan’a yang disebut juga Ma’arib. Kota ini sering disebut-sebut dalam kitab Taurat dan dalam kepustakaan Yunani, Romawi, dan Arab; lebih-lebih pula dalam prasasti-prasasti yang terdapat di Arabia Selatan.
      Bangsa Saba' adalah bangsa yang sangat makmur lagi berkebudayaan tinggi, dan kepadanya Allah Swt. telah menganugerahkan berlimpah-limpah kehidupan yang serba senang dan sentausa. Seluruh negeri dijadikan subur sekali tanahnya dengan pembuatan bendungan-bendungan dan bangunan-bangunan irigasi lainnya serta sarat dengan kebun-kebun dan sungai-sungai atau kanal-kanal penyalur   air bendungan.  Dari antara bangunan-bangunan umum yang didirikan guna membantu pertanian, seperti pengempang-pengempang dan bendungan-bendungan, yang paling tersohor  ialah Bendungan Ma’arib (Encyclopaedia of Islam, Jilid IV, hlm. 16).
        Tirmidzi menyebut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Farwah bin Malik, bahwa tatkala ditanya, adakah Saba' itu sebuah negeri ataukah seorang perempuan, konon  Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Itu bukan nama sebuah negeri atau pun nama seorang perempuan  melainkan nama seorang laki-laki asal Yaman yang mempunyai 10orang anak laki-laki, 6 di antaranya menetap terus di Yaman, sedang 4 orang selebihnya pergi ke Siria dan bermukim di sana.” (Taj-ul ’Urus).
     ‘Arim dalam ayat  فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ  --  “tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan” berarti suatu bendungan atau beberapa bendungan yang dibangun  di lembah-lembah atau di alur-alur sungai berarus deras; atau sebuah sungai deras yang daya desak arus airnya tidak tetahankan; atau hujan lebat (Lexicon Lane).
       Suatu banjir hebat telah menyebabkan Bendungan Ma’arib, yang menjadi andalan bangsa Saba’ untuk kemakmuran mereka  roboh dan banjir dahsyat menggenangi seluruh wilayah sehingga menyebabkan kehancuran yang luas jangkauannya, sehingga     negeri kaum Saba' yang sebelumnya penuh dengan taman-taman asri, sungai-sungai dan bangunan-bangunan anggun yang artistik telah berubah menjadi belantara yang membentang luas. Bendungan itu kira-kira dua mil panjangnya dan 120 kaki tingginya. Bendungan itu hancur kira-kira pada abad pertama atau kedua sebelum Masehi (Palmer). 
      Itulah makna ayat selanjutnya: وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ  --     “dan Kami mengganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang   berbuah buah-buahan pahit, pohon cemara dan sedikit pohon bidara.” ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ  -- Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami membalas seperti itu kecuali kepada orang-orang yang sangat tidak bersyukur.”
       Kata-kata  “Kota yang telah Kami beri berkat,” dalam ayat:  وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ  --   ”dan Kami telah menjadikan antara mereka dan antara kota-kota yang telah Kami  berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan  di antara kota-kota itu”,   menunjuk kepada kota Palestina – yakni Yerusalem --  tempat kedudukan pemerintahan Nabi Sulaiman a.s., yang dengan kota itu bangsa Saba' melangsungkan hubungan niaga dan mendatangkan kemakmuran.
   Kata-kata “Kami tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota,” mengandung pengertian kota-kota yang terletak begitu berdekatan satu sama lain sehingga mudah sekali terlihat, atau kata-kata itu dapat pula berarti  kota-kota terkemuka, dan menunjukkan bahwa jalan dari Yaman ke Palestina dan Siria sangat ramai dilalui orang, aman, dan berpenduduk cukup banyak.
    Menurut Sir Williams Muir pada waktu itu ada 70 tempat perhentian dari Hadramaut    ke Ailah    pada jalan dari Yaman ke Siria. Jalan itu ramai dilalui orang lagi aman, diapit di kedua belah tepinya oleh pohon-pohon rimbun, sehingga jalan tersebut teduh dan nyaman.

Makna Ucapan Durhaka Kaum Saba

      Makna kata-kata yang diletakkan dalam mulut orang-orang Saba'  dalam ayat selanjutnya: فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا   --  “lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,” ucapan tersebut    itu sesungguhnya menggambarkan keadaan mereka yang sebenarnya, ketika mereka membangkang dan mengingkari perintah-perintah Allah Swt., dan sebagai akibatnya mereka jadi binasa:  وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ  -- dan mereka menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya.”
  Jalan yang tadinya makmur dan ramai dilalui orang, kini menjadi sunyi senyap. Kata-kata “Jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,” berarti, bahwa sebab banyak kota di sepanjang jalan yang menjadi puing-puing, jarak di antara satu perhentian dengan perhentian lainnya menjadi lebih jauh dan tidak  aman. Orang-orang Saba' menjadi hancur sama sekali sehingga tiada tanda atau bekas yang ditinggalkan mereka. Mereka itu hanya menjadi bahan ceritera belaka bagi para juru dongeng.
       Makna pernyataan Allah Swt. dalam ayat selanjutnya:  وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ  اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ   --  “dan  sungguh  iblis benar-benar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,  maka  mereka mengikutinya, اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --     kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman”.   Orang-orang Saba’ dengan perbuatan durhaka mereka menggenapi sangkaan syaitan (iblis – QS.7:17-19) bahwa ia akan berhasil menyesatkan mereka.
       Penyebutan mengenai sangkaan syaitan (iblis) mengenai orang-orang durhaka dan perbuatan jahat mereka ini dapat dijumpai di dalam QS.17:63; di tempat itu syaitan disebut mengatakan bahwa ia akan menyebabkan keturunan Adam binasa, kecuali beberapa dari antara mereka.
      Makna ayat:   اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --   “kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman. وَ مَا کَانَ لَہٗ  عَلَیۡہِمۡ  مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ  مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ  --     Tetapi ia sekali-kali tidak memiliki kekuasaan atas mereka,  melainkan supaya Kami dapat mengetahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang masih dalam keraguan mengenainya.”   Syaitan tidak mempunyai kekuasaan atas manusia (QS.14:23; 43; QS,16:100; QS.17:66), adalah karena kepercayaan yang sesat dan perbuatannya yang buruk saja  manusia mendatangkan kehancuran dalam kehidupan ruhaninya. Itulah sebabnya syaitan  di alam akhirat   akan berlepas-tangan terhadap tuntutan orang-orang yang berhasil disesatkannya (QS.7:39-40; QS.28:64-67; QS.33:67-69; QS.34:32-34; QS.40:48-51).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 15 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar