Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
43
NABI ADAM A.S. DAN ISTRINYA TIDAK MEWARISKAN DOSA KEPADA KETURUNANNYA (BANI ADAM) & CARA MERAIH NAJAT (KESELAMATAN) HAKIKI MELALUI PENDEKATAN DIRI KEPADA ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab 42 dikemukakan mengenai topic Maghfirah Ilahi Menutupi
“Aurat” Adam dan “istrinya” (Jama’ahnya), yaitu bahwa maghfirah
Ilahi itulah yang telah menutupi “aurat” (kelemahan) Adam (khalifah Allah) dan “istrinya” (jamaahnya), karena beliau mengakui
“kealfaan” (kelupaan) terhadap peringatan Allah Swt. mengenai tipu-daya “syaitan” (QS.20:116) -- yang disebut “pohon terlarang” (QS.2:36;
QS.7:20-24) – lalu beliau taubat dan memohon maghfirah Ilahi, firman-Nya:
فَتَلَقّٰۤی اٰدَمُ مِنۡ
رَّبِّہٖ کَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَیۡہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا
مِنۡہَا جَمِیۡعًا ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی فَمَنۡ تَبِعَ
ہُدَایَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا
ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿٪﴾
Lalu Adam mempelajari beberapa kalimat doa dari Rabb-nya (Tuhan-nya), maka Dia
menerima taubatnya, sesungguhnya Dia benar-benar Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا مِنۡہَا جَمِیۡعًا ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ
ہُدًی فَمَنۡ تَبِعَ ہُدَایَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- Kami berfirman: “Pergilah
kamu semua dari sini, lalu jika datang kepada kamu suatu petunjuk
dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan
bersedih.” وَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا
بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --- Tetapi orang-orang
yang kafir dan mendustakan Ayat-ayat
Kami, mereka adalah penghuni Api, mereka
kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:38-40).
Mengisyaratkan
kepada doa memohon maghfirah
Ilahi itu pulalah makna “beberapa
kalimat” dalam
firman-Nya tersebut:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ
اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا
لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata: ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami
telah berlaku zalim terhadap diri kami,
وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا
لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ -- dan jika
Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi
kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang rugi” (Al-A’rāf [7]:24).
Adam
segera menyadari kekeliruan beliau lalu cepat-cepat rujuk (kembali) kepada Allah Swt. yakni taubat. Sesungguhnya kesalahan Adam a.s. terletak
pada anggapan beliau bahwa
"manusia syaitan" itu bermaksud
baik, sungguhpun Allah Swt. telah
memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang
(manusia syaitan) itu dan Allah Swt. mengabulkan permohonan maghfirah-Nya tersebut bahkan
memilih Adam untuk menerima karunia-Nya firman-Nya:
فَوَسۡوَسَ
اِلَیۡہِ الشَّیۡطٰنُ قَالَ یٰۤـاٰدَمُ ہَلۡ اَدُلُّکَ عَلٰی شَجَرَۃِ الۡخُلۡدِ
وَ مُلۡکٍ لَّا یَبۡلٰی ﴿﴾ فَاَکَلَا
مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ
وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی
اٰدَمُ رَبَّہٗ فَغَوٰی ﴿﴾۪ۖ ثُمَّ اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ فَتَابَ عَلَیۡہِ وَ
ہَدٰی ﴿﴾ قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ
لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ
ہُدَایَ فَلَا یَضِلُّ
وَ لَا یَشۡقٰی ﴿﴾ وَ مَنۡ
اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی ﴿﴾
Maka
syaitan membisikkan waswas kepadanya. Ia berkata: "Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada engkau pohon kekekalan dan kerajaan
yang tidak akan binasa?" فَاَکَلَا مِنۡہَا
فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ -- Maka keduanya
makan darinya, lalu tampaklah bagi mereka berdua kelemahan-kelemahan
mereka, وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی
اٰدَمُ رَبَّہٗ فَغَوٰی
-- dan keduanya
menutupi tubuh mereka dengan daun-daun
surga. وَ عَصٰۤی اٰدَمُ
رَبَّہٗ فَغَوٰی -- Dan Adam
telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya)
maka ia menderita. ثُمَّ
اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ فَتَابَ
عَلَیۡہِ وَ ہَدٰی
-- Kemudian Rabb-nya
(Tuhan-nya) memilihnya maka
Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk. قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا
بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ -- Dia
berfirman: “Pergilah kamu berdua semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian
yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی
-- Maka apabila datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka
ia tidak akan sesat dan tidak
pula ia akan menderita kesusahan. وَ مَنۡ اَعۡرَضَ
عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی
-- "Dan barangsiapa
berpaling dari mengingat Aku maka sesungguhnya
baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami
akan membangkit-kannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (Thā Hā[20]:121-125).
Makna “Pohon Kekekalan”
Di dunia
ini tidak terdapat pohon yang disebut
pohon khuld (kekekalan). "Pohon" seperti yang disebut di sini
dan di tempat-tempat lain dalam Al-Quran (QS.17:61)adalah keluarga atau suku
tertentu, dan Nabi Adam a.s. dinasihati Allah Swt. agar menjauhkan diri darinya karena anggota-anggota
keluarga atau warga suku itu adalah
musuh beliau.
Sebagai akibat penolakan Nabi Adam a.s.
terhadap ajakan-ajakan atau “bujuk-rayu” syaitan
tersebut terjadilah perpecahan di
antara kaum beliau, sehingga menyebabkan beliau sangat sedih dan cemas hati,
sehingga beliau terpaksa
mengabulkannya.
Kemudian Nabi
Adam a.s. dan Siti Hawa menyadari bahwa dengan mengikuti ajakan buruk syaitan itu
mereka telah membuat kesalahan besar
dan telah menjerumuskan diri mereka
ke dalam keadaan yang amat sulit. Ayat ini tidak berarti bahwa “aurat”
(kelemahan) mereka telah dimaklumi (diketahui)
orang lain, tetapi yang dimaksudkan hanyalah
bahwa Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa sendiri menjadi sadar akan kelemahan
mereka itu, itulah makna kiasan “terlepasnya pakaian” atau “terbukanya aurat”
keduanya
setelah “memakan buah pohon
terlarang” tersebut dalam firman-Nya:
فَدَلّٰىہُمَا
بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ
طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا
رَبُّہُمَاۤ اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ
تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ وَ اَقُلۡ
لَّکُمَاۤ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا
عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Lalu ia, syaitan, membujuk
kedua mereka itu dengan tipu-daya,
maka tatkala keduanya merasai buah pohon itu tampaklah kepada keduanya aurat mereka berdua dan mulailah keduanya menutupi diri mereka dengan daun-daun kebun itu. Dan keduanya
diseru oleh Rabb (Tuhan)
mereka: “Bukankah Aku telah melarang
kamu berdua dari mendekati pohon
itu dan Aku telah katakan kepada
kamu berdua bahwa sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al-A’rāf
[7]:23).
Membina “Jemaah” yang
Telah Terbuka “Auratnya”
Dengan Menghimpun “Daun-daun Surga”
Itulah makna
ayat فَاَکَلَا
مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ -- “maka
keduanya makan darinya, lalu
tampaklah bagi mereka berdua
kelemahan-kelemahan mereka.” (Thā Hā[20]:122), selanjutnya berfirman: وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی اٰدَمُ
رَبَّہٗ فَغَوٰی -- “dan
keduanya menutupi tubuh mereka
dengan daun-daun surga.” Karena waraq berarti pula tunas-tunas muda suatu jemaat (Lexicon Lane), maka ayat ini bermaksud mengemukakan bahwa karena syaitan telah berhasil
mendatangkan perpecahan di tengah-tengah Jemaat Nabi Adam a.s., dan beberapa anggota yang lemah wataknya
telah keluar dari
lingkungannya, maka guna membina
kembali jama’ahnya Nabi Adam a.s.
menghimpun para pemuda dan anggota-anggota jemaat beliau lainnya yang baik dan shalih. dan
dengan bantuan mereka beliau menertibkan
lagi kaumnya.
Makna ayat
selanjutnya ثُمَّ اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ فَتَابَ عَلَیۡہِ وَ
ہَدٰی -- “kemudian Rabb-nya
(Tuhan-nya) memilihnya maka
Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk” (Thā Hā[20]:123), menunjukkan bahwa perbuatan melanggar perintah dari pihak Nabi Adam
a.s. itu tidak disengaja dan telah terjadi secara kebetulan (QS.20:116),
sebab pelanggaran yang disengaja tidak mungkin mengakibatkan
beliau malah memperoleh kehormatan besar
dengan dipilih Allah Swt. untuk menerima karunia-Nya yang istimewa.
Perkataan "kamu berdua" dalam ayat selanjutnya: قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا
بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ -- Dia
berfirman: “Pergilah kamu berdua semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian
yang lain” (Thā Hā[20]:124), maksudnya ialah dua golongan manusia, yaitu para pengikut Nabi Adam a.s. dan murid-murid syaitan.
Kata kum
(kamu) dan جَمِیۡعًۢا (jami’an - semua) juga menunjukkan bahwa perintah Allah Swt. itu tidak ditujukan kepada dua orang -- yakni Nabi Adam a.s. dan istrinya -- saja melainkan kepada dua golongan manusia atau dua
partai. Hal itu jelas pula dari QS.7:25, di tempat itu telah dipakai kata
jamak ihbithā (pergilah kamu
semua) dan bukan ihbitha (pergilah kamu berdua).
Ringkasnya,
sebagai tindak-lanjut dari “maghfirah
Ilahi” serta “pemilihan” beliau
oleh Allah Swt. maka Nabi Adam a.s. diperintahkan Allah Swt. untuk hijrah
dari Irak, tanah air beliau, ke suatu negeri
tetangga, karena hanya dengan cara
itulah Nabi Adam a.s. akan dapat “membina” kembali Jama’ah beliau dengan aman
dan tanpa
gangguan serta rongrongan
dari musuh-musuh
beliau: قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ -- Dia berfirman: “Pergilah kamu berdua semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian
yang lain.”
Hijrah Sementara Nabi
Adam a.s. dari “Jannah” ke Negeri Tetangga
Tetapi
nampaknya hijrah
Nabi Adam a.s. dan jama’ahnya
tersebut itu hanya untuk sementara waktu
saja dan besar kemungkinan tidak lama
kemudian beliau kembali ke tanah air beliau. Kata-kata “dan bekal hidup sampai suatu masa tertentu”
(QS.7:25) mengandung isyarat bahwa hijrah itu dimaksudkan hanya untuk sementara waktu, firman-Nya:
قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ
لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ وَّ مَتَاعٌ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Dia berfirman: ”Pergilah kamu semua dari sini, sebagian
kamu adalah musuh bagi sebagian lain, dan bagi kamu di bumi ini terdapat tempat tinggal dan bekal
hidup sampai masa tertentu” (Al-A’rāf [7]:25).
Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Adam a.s. diperintahkan supaya hijrah
dari tanah tumpah darah beliau, sebab
-- akibat “tipu-daya” syaitan -- suasana permusuhan dan benci-membenci telah tumbuh di tengah
berbagai anggota jemaat beliau. Hal
itu merupakan bukti lebih lanjut tentang kenyataan bahwa “kebun” yang daripadanya Nabi
Adam a.s. keluar itu,
bukanlah surga.
Rupa-rupanya
Nabi Adam a.s. dan jama’ah beliau hijrah
dari Mesopotamia -- tanah kelahiran beliau -- ke
negeri yang berdekatan. Hijrah itu bersifat sementara
dan beliau agaknya telah kembali lagi
ke negeri tempat asal, tidak lama sesudah itu. Sungguh, kata-kata bekal
hidup sampai suatu masa tertentu mengandung isyarat halus tentang hijrah yang bersifat sementara itu. Nabi Adam
a.s. . diperingatkan Allah
Swt. dalam ayat ini agar berhati-hati
di masa depan, sebab adalah di tanah air
sendirilah beliau harus tinggal
untuk selama-lamanya.
Demikianlah
“buah manis” yang dihasilkan “maghfirah
Ilahi” yang dilakukan Nabi Adam a.s. atas “pelanggaran” beliau yang tidak disengaja, firman-Nya:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ
اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا
لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata: ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami, وَ
اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ
تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ -- dan jika
Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi
kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang rugi” (Al-A’rāf [7]:24).
Dengan demikian jelaslah bahwa sama
sekalai tidak ada “dosa” yang
diwariskan Nabi Adam a.s. dan istri kepada Bani Adam (umat manusia) yang
memerlukan “penebusan dosa” oleh “kematian terkutuk Yesus di tiang salib”
seperti ajaran Paulus dalam surat-surat kirimannya, karena Allah
Swt. bukan saja telah mengampuni
“kekeliruan” Nabi Adam a.s. dan istrinya, bahkan Allah Swt. telah memilih beliau untuk menerima karunia-karunia-Nya
yang lain, firman-Nya:
فَوَسۡوَسَ
اِلَیۡہِ الشَّیۡطٰنُ قَالَ یٰۤـاٰدَمُ ہَلۡ اَدُلُّکَ عَلٰی شَجَرَۃِ الۡخُلۡدِ
وَ مُلۡکٍ لَّا یَبۡلٰی ﴿﴾ فَاَکَلَا
مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ
وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی اٰدَمُ رَبَّہٗ
فَغَوٰی ﴿﴾۪ۖ ثُمَّ
اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ فَتَابَ
عَلَیۡہِ وَ ہَدٰی ﴿﴾ قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ
لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ
ہُدَایَ فَلَا یَضِلُّ
وَ لَا یَشۡقٰی ﴿﴾ وَ مَنۡ
اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی ﴿﴾
Maka
syaitan membisikkan waswas kepadanya. Ia berkata: "Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada engkau pohon kekekalan dan kerajaan
yang tidak akan binasa?" فَاَکَلَا مِنۡہَا
فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ -- Maka keduanya
makan darinya, lalu tampaklah bagi mereka berdua kelemahan-kelemahan
mereka, وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی
اٰدَمُ رَبَّہٗ فَغَوٰی
-- dan keduanya
menutupi tubuh mereka dengan daun-daun
surga. وَ عَصٰۤی اٰدَمُ
رَبَّہٗ فَغَوٰی -- Dan Adam
telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya)
maka ia menderita. ثُمَّ
اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ فَتَابَ
عَلَیۡہِ وَ ہَدٰی
-- Kemudian Rabb-nya
(Tuhan-nya) memilihnya maka
Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk. قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا
بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ -- Dia
berfirman: “Pergilah kamu berdua semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian
yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی
-- Maka apabila datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka
ia tidak akan sesat dan tidak
pula ia akan menderita kesusahan. وَ مَنۡ اَعۡرَضَ
عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی
-- "Dan barangsiapa
berpaling dari mengingat Aku maka sesungguhnya
baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami
akan membangkit-kannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (Thā Hā[20]:121-125).
Cara Meraih Najat (Keselamatan) Hakiki
Sehubungan dengan najat
(keselamatan) yang diraih oleh Nabi Adam a.s. melalui taubat dan “maghfirah Ilahi”
yang diajarkan langsung oleh Allah Swt. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Falsafah
keselamatan menunjukkan bahwa mereka yang menciptakan hubungan suci dan sempurna dengan Tuhan-nya maka mereka
akan menjadi manifestasi (perwujudan) dari nur yang tidak
pernah meredup.
Dengan tenggelamnya (fananya) mereka dalam
api kecintaan-Nya,
mereka telah meninggalkan eksistensi (keberadaan) mereka sendiri laiknya sepotong
besi
yang ketika dipanaskan lalu mengambil
bentuk rona (sifat) api,
meskipun bukan menjadi api itu sendiri karena masih tetap bersifat besi.
Melalui manifestasi Tuhan lalu muncul
perubahan mencengangkan dalam
diri para pecinta-Nya, dan bersamaan dengan itu Tuhan juga mengalami “perubahan fitrat” (sunnah) demi mereka. Memang benar bahwa Tuhan bersifat tidak bisa
diubah
dan bebas dari segala perubahan, namun bagi
para hamba-Nya maka
Dia akan memanifestasikan (menampakkan) berbagai kinerja
ajaib
laiknya Dia itu Tuhan baru yang bukan Tuhan kebanyakan manusia.
Sepadan
dengan derajat kedekatan seorang hamba yang bertakwa kepada Tuhan-nya melalui amal saleh, kejujuran dan ketulusan yang sedemikian rupa, sehingga menjadikan
mereka fana
(sirna) terhadap kehidupan sebelumnya, maka Allah
Swt. juga akan mendekat kepadanya bersama rahmat, pertolongan dan kecemburuan
Ilahi
yang diperagakan secara luar
biasa.
Adalah suatu hal yang tidak mungkin dan bertentangan dengan fitrat Pemurah
Allah Swt.
bahwa Dia akan menjerumuskan ke neraka hamba yang setia kepada-Nya dengan sepenuh hati dan ketulusan.
Hamba seperti itu tidak akan menganggap siapa pun bisa setara dengan Wujud-Nya,
selalu siap mengorbankan nyawanya di
jalan Tuhan serta menganggap tidak berarti orang-orang yang
menentang-Nya.
Bagaimana
mungkin orang seperti itu akan disiksa di api neraka?
Sesungguhnya kecintaan yang sempurna
kepada Tuhan adalah keselamatan itu sendiri. Mungkinkah
kalian akan melemparkan anak yang kalian kasihi ke dalam nyala api? Lalu bagaimana mungkin Tuhan -- Yang merupakan perwujudan kasih itu sendiri -- akan melemparkan mereka yang mencintai Wujud-Nya ke dalam api neraka?
Tidak ada pengurbanan yang lebih baik daripada seorang
yang mencintai Tuhan-nya sedemikian
rupa sehingga melebihi dari cintanya
kepada orang-orang lain di
sekitarnya. Tidak itu saja, tetapi juga melepaskan
kecintaan kepada dirinya sendiri
dan bersedia menempuh kehidupan pahit demi Dia.
Ketika yang bersangkutan telah mencapai tahapan ini, jelas bahwa ia telah
mencapai najat (keselamatan). Pada tingkat
kecintaan Ilahi seperti itu, ia tidak
memerlukan adanya transmigrasi jiwa
atau reinkarnasi[1],
atau pun memerlukan adanya penebusan
orang lain yang disalibkan demi
dirinya.
Pada tingkat
kecintaan demikian, seseorang
tidak lagi hanya membayangkan bahwa ia telah mencapai keselamatan, tetapi cintanya sendiri mengajarkan kepadanya
bahwa kasih Allah Swt. beserta dengan dirinya yang menimbulkan
rasa kepuasan dan kedamaian dalam hati.
Tuhan
akan memperlakukan dirinya
sebagaimana biasanya Dia memperlakukan
hamba-hamba yang dikasihi dan diridhai-Nya. Dia akan menerima hampir semua doa-doanya dan mengajarkan
kepadanya hikmah-hikmah dari wawasan yang mulia, serta memberitahukan kepadanya berbagai hal
yang tersembunyi (gaib) dan membentuk perubahan di dunia sejalan
dengan keinginan hatinya.
Dia akan menjadikan dirinya dikenal dan dihormati
dunia serta mempermalukan mereka
yang memusuhi dan menghina
dirinya. Dia akan selalu membantunya
dengan cara yang luar biasa dan menumbuhkan kecintaan di hati jutaan
manusia kepada dirinya
serta memanifestasikan (menampakkan)
berbagai mukjizat melalui dirinya.
Kalbu
manusia umumnya akan tertarik kepada
dirinya melalui wahyu Ilahi
dimana mereka lalu bergegas datang
melayani dirinya dengan berbagai
pemberian uang dan barang. Tuhan
akan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang menyenangkan dan agung laiknya seorang kawan yang berbicara
kepada sahabatnya.
Tuhan yang tersembunyi dari mata dunia
akan memanifestasikan
(menampakkan) Wujud-Nya di hadapannya serta menenangkan
dirinya dengan firman-firman-Nya
di setiap masa kesulitan. Tuhan berbicara
dengan dirinya dengan kata-kata yang
fasih, menyenangkan dan agung serta menjawab segala pertanyaannya
dan memberitahukan kepadanya segala
hal tersembunyi yang tidak diketahui
manusia umumnya. Tuhan melakukan hal
ini bukan sebagai seorang juru ramal
atau ahli perbintangan tetapi
sebagai raja agung yang berbicara dengan kata-kata yang berwibawa.
Dia membukakan kepadanya berbagai nubuatan
sebagai pertanda kemuliaan dirinya
dan tanda kenistaan bagi para musuhnya yang menunjukkan tanda kemenangan dirinya. Dengan cara ini, melalui firman dan kinerja-Nya
maka Tuhan memanifestasikan (menampakkan)
eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya
kepada dirinya. Dengan disucikannya hamba tersebut dari
segala dosa maka ia telah sampai pada derajat kesempurnaan yang untuk
itu dirinya itu diciptakan.” (Chasmai Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 418-421, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 24 Oktober 2016
[1]
Transmigration atau
metempsychosis, merupakan kepercayaan
dalam agama-agama yang kebanyakan
berasal dari Asia, yang menyatakan bahwa jiwa akan mengalami kelahiran kembali
beberapa kali, baik dalam bentuk manusia, hewan atau pun tumbuh an. Nama lain yang
biasa digunakan adalah reinkarnasi dimana jiwa akan berputar terus dilahirkan
kembali sampai yang bersangkutan berhasil mencapai tahapan moksha. (Penterjemah/ Khalid. A Qoyum).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar