Selasa, 25 Oktober 2016

Nabi Adam a.s. dan Istrinya "Tidak Mewariskan Dosa" Kepada Keturunannya (Bani Adam) & Cara Meraih "Najat" (Keselamatan) Hakiki Melalui "Pendekatan Diri" Kepada Allah Swt.


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 43

NABI ADAM A.S. DAN ISTRINYA TIDAK MEWARISKAN DOSA KEPADA KETURUNANNYA (BANI ADAM) & CARA MERAIH NAJAT  (KESELAMATAN) HAKIKI   MELALUI PENDEKATAN DIRI  KEPADA ALLAH SWT.  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian   akhir Bab 42 dikemukakan   mengenai topic   Maghfirah Ilahi Menutupi “Aurat” Adam dan “istrinya” (Jama’ahnya), yaitu bahwa     maghfirah Ilahi itulah yang   telah menutupi “aurat” (kelemahan) Adam (khalifah Allah) dan “istrinya” (jamaahnya),   karena beliau  mengakui “kealfaan” (kelupaan)  terhadap peringatan Allah Swt. mengenai tipu-daya  “syaitan” (QS.20:116)  -- yang disebut “pohon terlarang”  (QS.2:36; QS.7:20-24) – lalu beliau  taubat dan memohon maghfirah Ilahi, firman-Nya:
فَتَلَقّٰۤی اٰدَمُ مِنۡ رَّبِّہٖ کَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَیۡہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ  التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا مِنۡہَا جَمِیۡعًا ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی فَمَنۡ تَبِعَ ہُدَایَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿٪﴾
Lalu Adam mempelajari beberapa  kalimat doa dari Rabb-nya (Tuhan-nya), maka Dia menerima taubatnya, sesungguhnya  Dia benar-benar Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا مِنۡہَا جَمِیۡعًا ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی فَمَنۡ تَبِعَ ہُدَایَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ  --   Kami berfirman:  “Pergilah kamu semua  dari sini, lalu jika  datang kepada kamu suatu petunjuk dari-Ku, lalu  barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka tidak  ada ketakutan  atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih.” وَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --- Tetapi  orang-orang yang kafir dan mendustakan Ayat-ayat Kami, mereka adalah penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:38-40).
  Mengisyaratkan kepada  doa  memohon  maghfirah Ilahi itu pulalah    makna “beberapa  kalimat dalam firman-Nya  tersebut:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata:   ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kamiوَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ --  dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, niscaya  kami akan termasuk orang-orang yang rugi” (Al-A’rāf [7]:24).
  Adam    segera menyadari kekeliruan beliau lalu cepat-cepat rujuk (kembali) kepada Allah Swt. yakni   taubat. Sesungguhnya kesalahan  Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa "manusia syaitan" itu bermaksud baik, sungguhpun Allah Swt.   telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang (manusia  syaitan)  itu dan Allah Swt. mengabulkan  permohonan maghfirah-Nya tersebut  bahkan  memilih  Adam  untuk menerima karunia-Nya   firman-Nya:
فَوَسۡوَسَ اِلَیۡہِ الشَّیۡطٰنُ قَالَ یٰۤـاٰدَمُ ہَلۡ اَدُلُّکَ عَلٰی شَجَرَۃِ الۡخُلۡدِ وَ مُلۡکٍ لَّا یَبۡلٰی ﴿﴾  فَاَکَلَا مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  ﴿﴾۪ۖ ثُمَّ  اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ  فَتَابَ عَلَیۡہِ  وَ  ہَدٰی ﴿﴾  قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی ﴿﴾ وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾
Maka  syaitan membisik­kan waswas kepadanya. Ia ber­kata: "Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada engkau pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan binasa?"  فَاَکَلَا مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ  --  Maka  keduanya makan darinya, lalu  tampak­lah bagi mereka berdua kelemahan-­kelemahan mereka, وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  --     dan ke­duanya menutupi tubuh mereka dengan daun-daun  surga. وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  --   Dan Adam telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya)  maka ia menderita.  ثُمَّ  اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ  فَتَابَ عَلَیۡہِ  وَ  ہَدٰی  --  Kemudian  Rabb-nya (Tuhan-nya) memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk.  قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ --    Dia berfirman:  Pergilah kamu berdua  semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی  --  Maka apabila datang kepadamu petunjuk dari­-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat  dan tidak pula ia akan menderita kesusahan.  وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی  --  "Dan  barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkit-kannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (Thā Hā[20]:121-125).

Makna “Pohon Kekekalan

   Di dunia ini tidak terdapat pohon yang disebut pohon khuld (kekekal­an). "Pohon" seperti yang disebut di sini dan di tempat-tempat lain dalam Al-Quran (QS.17:61)adalah keluarga atau suku tertentu, dan Nabi Adam a.s.  dinasihati Allah Swt. agar menjauhkan diri darinya   karena anggota-anggota keluarga atau warga suku itu adalah musuh beliau.
  Sebagai akibat penolakan  Nabi Adam a.s.  terhadap ajakan-ajakan atau “bujuk-rayu” syaitan tersebut terjadilah perpecahan di antara kaum beliau, sehingga menyebabkan beliau sangat sedih dan cemas hati, sehingga beliau terpaksa mengabulkannya.
 Kemudian Nabi Adam a.s.  dan Siti Hawa menyadari bahwa dengan mengikuti ajakan buruk syaitan itu mereka telah membuat kesalahan besar dan telah menjerumuskan diri mereka ke dalam keadaan yang amat sulit. Ayat ini tidak berarti  bahwa “aurat” (kelemahan) mereka telah dimaklumi (diketahui) orang lain, tetapi yang dimaksudkan hanyalah  bahwa Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa sendiri menjadi sadar akan kelemahan mereka itu, itulah makna kiasan  “terlepasnya pakaian” atau “terbukanya aurat”  keduanya  setelah “memakan buah pohon terlarang” tersebut dalam firman-Nya:
فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ  اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ  وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ  اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Lalu ia, syaitanmembujuk kedua mereka itu dengan tipu-daya, maka tatkala keduanya   merasai buah pohon itu  tampaklah kepada keduanya  aurat mereka berdua dan mulailah keduanya  menutupi diri mereka dengan daun-daun kebun itu.  Dan keduanya  diseru oleh Rabb (Tuhan) mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah katakan kepada kamu berdua  bahwa sesungguhnya  syaitan itu  musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al-A’rāf [7]:23).

Membina “Jemaah”  yang  Telah Terbuka “Auratnya” Dengan  Menghimpun “Daun-daun Surga

   Itulah makna ayat فَاَکَلَا مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ  --  “maka  keduanya makan darinya, lalu  tampak­lah bagi mereka berdua kelemahan-­kelemahan mereka.” (Thā Hā[20]:122),  selanjutnya berfirman:   وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  --     “dan ke­duanya menutupi tubuh mereka dengan daun-daun  surga.” Karena waraq berarti pula tunas-tunas muda suatu jemaat (Lexicon Lane), maka ayat ini bermaksud mengemukakan  bahwa karena syaitan telah berhasil mendatangkan perpecahan di tengah-tengah Jemaat Nabi Adam a.s., dan beberapa anggota yang lemah wataknya  telah keluar dari lingkungannya, maka guna membina kembali jama’ahnya Nabi Adam a.s. menghimpun para pemuda dan anggota-anggota jemaat beliau lainnya yang baik dan shalih. dan dengan bantuan mereka beliau menertibkan lagi kaumnya.
   Makna ayat selanjutnya  ثُمَّ  اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ  فَتَابَ عَلَیۡہِ  وَ  ہَدٰی  --  “kemudian  Rabb-nya (Tuhan-nya) memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk” (Thā Hā[20]:123),   menunjukkan bahwa perbuatan melanggar perintah dari pihak Nabi Adam a.s. itu tidak disengaja dan telah terjadi secara kebetulan (QS.20:116), sebab pelanggaran yang disengaja tidak mungkin mengakibatkan beliau malah memperoleh kehormatan besar dengan dipilih Allah Swt.  untuk menerima karunia­-Nya yang istimewa.
  Perkataan "kamu berdua" dalam ayat selanjutnya:  قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ --    Dia berfirman:  Pergilah kamu berdua  semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain” (Thā Hā[20]:124),    maksudnya ialah dua golongan manusia, yaitu para pengikut Nabi Adam a.s. dan murid-murid syaitan.
  Kata kum (kamu) dan   جَمِیۡعًۢا  (jamian - semua) juga menunjukkan bahwa perintah   Allah Swt.  itu tidak ditujukan kepada dua orang  -- yakni Nabi Adam a.s. dan istrinya    -- saja  melainkan kepada dua golongan manusia atau dua partai. Hal itu jelas pula dari QS.7:25, di tempat itu telah dipakai kata jamak ihbithā  (pergilah kamu semua) dan bukan ihbitha (pergilah kamu berdua).
   Ringkasnya, sebagai tindak-lanjut dari “maghfirah Ilahi” serta “pemilihan” beliau oleh Allah Swt.  maka  Nabi Adam a.s. diperintahkan Allah Swt. untuk    hijrah dari Irak, tanah air beliau,  ke suatu negeri tetangga, karena hanya dengan cara itulah Nabi Adam a.s. akan dapat “membina” kembali Jama’ah beliau dengan aman  dan tanpa gangguan  serta rongrongan dari  musuh-musuh beliau: قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ --    Dia berfirman:  Pergilah kamu berdua  semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain.”   

Hijrah Sementara Nabi Adam a.s. dari “Jannah” ke Negeri Tetangga

   Tetapi nampaknya   hijrah  Nabi Adam a.s.  dan jama’ahnya tersebut itu hanya untuk sementara waktu saja  dan besar kemungkinan tidak lama kemudian beliau kembali ke tanah air beliau. Kata-kata “dan bekal hidup sampai suatu masa tertentu” (QS.7:25) mengandung isyarat bahwa hijrah itu dimaksudkan hanya untuk sementara waktu, firman-Nya: 
قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ  لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ  وَّ مَتَاعٌ اِلٰی  حِیۡنٍ ﴿﴾
Dia berfirman:  ”Pergilah kamu semua  dari sini,  sebagian kamu adalah musuh bagi sebagian lain, dan bagi kamu di bumi ini terdapat tempat tinggal  dan bekal hidup sampai masa tertentu” (Al-A’rāf [7]:25).
   Ayat ini menunjukkan bahwa   Nabi Adam a.s.  diperintahkan supaya  hijrah dari tanah tumpah darah beliau, sebab  -- akibat “tipu-daya” syaitan  -- suasana permusuhan dan benci-membenci telah tumbuh di tengah berbagai anggota jemaat beliau. Hal itu merupakan bukti lebih lanjut tentang kenyataan bahwa “kebun” yang daripadanya  Nabi Adam a.s.  keluar itu, bukanlah surga.
    Rupa-rupanya Nabi  Adam a.s. dan jama’ah beliau   hijrah dari Mesopotamia  --  tanah kelahiran beliau  --  ke negeri yang berdekatan. Hijrah itu  bersifat sementara dan beliau agaknya telah kembali lagi ke negeri tempat asal, tidak lama sesudah itu. Sungguh, kata-kata bekal hidup sampai suatu masa tertentu mengandung isyarat halus tentang hijrah yang bersifat sementara itu.  Nabi  Adam a.s. . diperingatkan Allah Swt. dalam ayat ini agar berhati-hati di masa depan, sebab adalah di tanah air sendirilah beliau harus tinggal untuk selama-lamanya.
   Demikianlah “buah manis” yang dihasilkan “maghfirah Ilahi” yang dilakukan Nabi Adam a.s. atas “pelanggaran” beliau yang tidak disengaja, firman-Nya: 
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata: ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kamiوَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ --  dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, niscaya  kami akan termasuk orang-orang yang rugi” (Al-A’rāf [7]:24).
       Dengan demikian jelaslah bahwa sama sekalai tidak ada “dosa”  yang diwariskan  Nabi Adam a.s. dan istri  kepada Bani Adam (umat manusia) yang memerlukan “penebusan dosa” oleh “kematian terkutuk Yesus di tiang salib” seperti ajaran Paulus dalam surat-surat kirimannya, karena Allah Swt. bukan saja telah mengampuni “kekeliruan” Nabi Adam a.s. dan istrinya, bahkan  Allah Swt. telah memilih beliau untuk menerima karunia-karunia-Nya yang lain, firman-Nya:
فَوَسۡوَسَ اِلَیۡہِ الشَّیۡطٰنُ قَالَ یٰۤـاٰدَمُ ہَلۡ اَدُلُّکَ عَلٰی شَجَرَۃِ الۡخُلۡدِ وَ مُلۡکٍ لَّا یَبۡلٰی ﴿﴾  فَاَکَلَا مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  ﴿﴾۪ۖ ثُمَّ  اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ  فَتَابَ عَلَیۡہِ  وَ  ہَدٰی ﴿﴾  قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی ﴿﴾ وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾
Maka  syaitan membisik­kan waswas kepadanya. Ia ber­kata: "Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada engkau pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan binasa?"  فَاَکَلَا مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ  --  Maka  keduanya makan darinya, lalu  tampak­lah bagi mereka berdua kelemahan-­kelemahan mereka, وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  --     dan ke­duanya menutupi tubuh mereka dengan daun-daun  surga. وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  --   Dan Adam telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya)  maka ia menderita.  ثُمَّ  اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ  فَتَابَ عَلَیۡہِ  وَ  ہَدٰی  --  Kemudian  Rabb-nya (Tuhan-nya) memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk.  قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ --    Dia berfirman:  Pergilah kamu berdua  semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی  --  Maka apabila datang kepadamu petunjuk dari­-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, maka ia tidak akan sesat  dan tidak pula ia akan menderita kesusahan.  وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی  --  "Dan  barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkit-kannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (Thā Hā[20]:121-125).

Cara Meraih  Najat (Keselamatan) Hakiki

      Sehubungan dengan  najat (keselamatan) yang diraih oleh Nabi Adam a.s. melalui taubat dan “maghfirah Ilahi” yang diajarkan langsung oleh Allah Swt. tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      Falsafah   keselamatan menunjukkan bahwa mereka yang menciptakan hubungan suci dan sempurna dengan Tuhan-nya maka mereka akan menjadi manifestasi (perwujudan) dari nur yang tidak pernah meredup. Dengan tenggelamnya (fananya)  mereka dalam api kecintaan-Nya, mereka telah meninggalkan eksistensi (keberadaan) mereka sendiri laiknya sepotong besi yang ketika dipanaskan lalu mengambil bentuk rona (sifat) api, meskipun bukan menjadi api itu sendiri karena masih tetap bersifat besi.
      Melalui manifestasi Tuhan lalu muncul perubahan mencengangkan dalam diri para pecinta-Nya, dan bersamaan dengan itu Tuhan juga mengalami “perubahan fitrat” (sunnah)  demi mereka. Memang benar bahwa Tuhan bersifat tidak bisa  diubah dan bebas dari segala perubahan, namun bagi para hamba-Nya maka Dia akan memanifestasikan (menampakkan) berbagai kinerja ajaib laiknya Dia itu Tuhan baru yang bukan Tuhan kebanyakan manusia.
      Sepadan dengan derajat kedekatan seorang hamba yang bertakwa  kepada Tuhan-nya melalui amal saleh, kejujuran dan ketulusan yang sedemikian rupa,  sehingga menjadikan mereka fana (sirna) terhadap kehidupan sebelumnya, maka Allah Swt. juga akan mendekat kepadanya bersama rahmat, pertolongan dan kecemburuan Ilahi yang diperagakan secara luar biasa.
      Adalah suatu hal yang tidak mungkin dan bertentangan dengan fitrat Pemurah Allah Swt. bahwa Dia akan menjerumuskan ke neraka hamba yang setia kepada-Nya dengan sepenuh hati dan ketulusan. Hamba seperti itu tidak akan menganggap siapa pun bisa setara dengan Wujud-Nya, selalu siap mengorbankan nyawanya di jalan Tuhan serta  menganggap tidak berarti orang-orang yang menentang-Nya.
   Bagaimana mungkin orang seperti itu akan disiksa di api neraka? Sesungguhnya kecintaan yang sempurna kepada Tuhan adalah keselamatan itu sendiri. Mungkinkah kalian akan    melemparkan  anak yang kalian kasihi ke dalam nyala api? Lalu bagaimana mungkin Tuhan -- Yang merupakan perwujudan kasih itu sendiri -- akan melemparkan mereka yang mencintai Wujud-Nya ke dalam api neraka?
     Tidak ada pengurbanan yang lebih baik daripada seorang yang mencintai Tuhan-nya sedemikian rupa sehingga melebihi dari cintanya kepada orang-orang lain di sekitarnya. Tidak itu saja, tetapi juga melepaskan kecintaan kepada dirinya sendiri dan bersedia menempuh kehidupan pahit demi Dia.
         Ketika yang bersangkutan telah mencapai tahapan ini, jelas bahwa ia telah mencapai najat (keselamatan).   Pada tingkat kecintaan Ilahi seperti itu, ia tidak memerlukan adanya transmigrasi jiwa atau reinkarnasi[1], atau pun memerlukan adanya penebusan orang lain yang disalibkan demi dirinya.
       Pada tingkat kecintaan demikian, seseorang tidak lagi hanya membayangkan bahwa ia telah mencapai keselamatan, tetapi cintanya sendiri mengajarkan kepadanya bahwa kasih Allah Swt. beserta dengan dirinya yang menimbulkan rasa kepuasan dan kedamaian dalam hati.
         Tuhan akan memperlakukan dirinya sebagaimana biasanya Dia memperlakukan hamba-hamba yang dikasihi dan diridhai-Nya. Dia akan menerima hampir semua doa-doanya dan mengajarkan kepadanya hikmah-hikmah dari wawasan yang mulia, serta memberitahukan kepadanya berbagai hal yang tersembunyi (gaib) dan membentuk perubahan di dunia sejalan dengan keinginan hatinya.
   Dia akan menjadikan dirinya dikenal dan dihormati dunia serta mempermalukan mereka yang memusuhi dan menghina  dirinya. Dia akan selalu membantunya dengan cara yang luar biasa dan menumbuhkan kecintaan di hati jutaan  manusia kepada dirinya serta memanifestasikan (menampakkan) berbagai mukjizat melalui dirinya.
       Kalbu manusia umumnya akan tertarik kepada dirinya melalui wahyu Ilahi dimana mereka lalu bergegas datang melayani dirinya dengan berbagai pemberian uang dan barang. Tuhan akan berbicara kepadanya dengan kata-kata yang menyenangkan dan agung laiknya seorang kawan yang berbicara kepada sahabatnya.
   Tuhan yang tersembunyi dari mata dunia akan memanifestasikan (menampakkan)  Wujud-Nya di hadapannya serta menenangkan dirinya dengan firman-firman-Nya di setiap masa kesulitan.    Tuhan berbicara dengan dirinya dengan kata-kata yang fasih, menyenangkan dan agung serta menjawab segala pertanyaannya dan memberitahukan kepadanya segala hal tersembunyi yang tidak diketahui manusia umumnya. Tuhan melakukan hal ini bukan sebagai seorang juru ramal atau ahli perbintangan tetapi sebagai raja agung yang berbicara dengan kata-kata yang berwibawa.
    Dia membukakan kepadanya berbagai nubuatan sebagai pertanda kemuliaan dirinya dan tanda kenistaan bagi para musuhnya yang menunjukkan tanda kemenangan dirinya. Dengan cara ini, melalui firman dan kinerja-Nya maka Tuhan memanifestasikan (menampakkan)  eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya kepada dirinya. Dengan disucikannya hamba tersebut dari segala dosa maka ia telah sampai pada derajat kesempurnaan yang untuk itu dirinya itu diciptakan.” (Chasmai Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  418-421, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 24 Oktober 2016





[1] Transmigration atau metempsychosis, merupakan kepercayaan dalam agama-agama yang  kebanyakan berasal dari Asia, yang menyatakan bahwa jiwa akan mengalami kelahiran kembali beberapa kali, baik dalam bentuk manusia, hewan atau pun tumbuh an. Nama lain yang biasa digunakan adalah reinkarnasi dimana jiwa akan berputar terus dilahirkan kembali sampai yang bersangkutan berhasil mencapai tahapan moksha. (Penterjemah/ Khalid. A Qoyum).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar