Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
39
HUBUNGAN ISTIGHFAR PARA RASUL ALLAH DENGAN KERENDAHAN
HATI & MAKNA MUKJIZAT TONGKAT NABI MUSA A.S. DAN MUKJIZAT “TERBELAHNYA
BULAN” DI ZAMAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 38
dikemukakan mengenai makna kata dhall dalam jawaban
Nabi Musa a.s. terhadap tuduhan
Fir’aun: قَالَ فَعَلۡتُہَاۤ اِذًا وَّ اَنَا
مِنَ الضَّآلِّیۡنَ -- Musa
berkata: “Aku telah melakukannya demikian
dan ketika itu aku dalam keadaan
kalut” (Asy-Syu’arā [26]:19-21), berasal dari kata dhalla yang
berarti: Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan; ia berada dalam keadaan
pikiran kalut; ia tenggelam dalam kecintaan (Lexicon Lane).
Ketika orang Israil itu
memanggil Nabi Musa a.s. dan minta
menolongnya terhadap orang Mesir, beliau tidak
tahu atau bingung apa yang harus
beliau lakukan, oleh karena hasrat
beliau besar sekali untuk menolong
orang Israil yang malang dan tidak berdaya itu (QS.28:16-21) lalu beliau melayangkan pukulan keras sehingga membuat orang itu mati terkapar.
Kematian itu tidak terduga sebab
satu pukulan dengan tinju biasanya
tidak menyebabkan kematian seseorang.
Atau ayat ini dapat juga diartikan,
bahwa disebabkan oleh besarnya
kecintaan Nabi Musa a.s. kepada orang-orang
tertindas, beliau datang menolong
orang Israil dan meninju orang
Mesir itu, sehingga mengakibatkan kematiannya.
Atau artinya ialah bahwa beliau melakukan hal itu karena tidak
menginsyafi akibat-akibatnya.
Hakikat bahwa sesudah membunuh orang Mesir itu Nabi Musa a.s. melarikan
diri, lalu Allah Swt. mengangkat beliau sebagai seorang nabi Allah —sungguh suatu nikmat Ilahi yang besar sekali—
merupakan suatu bukti bahwa apa yang telah dilakukan oleh Nabi Musa a.s. itu adalah suatu perbuatan yang tidak
disengaja dan dilakukan karena dorongan
hati yang terbetik secara tiba-tiba.
Dalam
ayat selanjutnya dilukiskan bagaimana kata Nabi Musa a.s. terhadap teguran lancang dari Fir’aun,
bahwa seyogianya Fir’aun sendiri harus malu atas perkataannya menyinggung-nyinggung suatu kebaikan yang dalam pikirannya ia telah
lakukan terhadap kaum Bani Israil, sebab
ia (Fir’aun) telah meringkus mereka
dari generasi ke generasi di dalam belenggu
perbudakan yang nista dan rendah, dan telah membunuh segala nilai kemuliaan,
prakarsa, dan hasrat di dalam diri mereka untuk bangun menjadi bangsa yang terhormat: وَ تِلۡکَ نِعۡمَۃٌ تَمُنُّہَا
عَلَیَّ اَنۡ عَبَّدۡتَّ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan apakah
nikmat pemeliharaan yang engkau telah memberikannya kepadaku itu sehingga eng-au beralasan telah
memperbudak Bani Israil?”
Jawaban
Nabi Musa a.s. kepada Fir’aun, sebagaimana tersebut dalam ayat
sebelumnya rupa-rupanya telah membut dia amat kebingungan, sehingga ia tiba-tiba mengalihkan pokok
pembicaraan sambil berusaha melibatkan
Nabi Musa a.s. dalam soal-jawab yang berhubungan dengan masalah-masalah
gaib, tentang asal dan wujud Dzat Ilahi serta sifat-sifat-Nya, firman-Nya:
قَالَ فِرۡعَوۡنُ وَ مَا
رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Fir’aun berkata: ”Dan apakah Rabb
(Tuhan) seluruh alam itu?” (Asy-Syu’arā
[26]:24).
Semua Rasul Allah Sangat Rendah
Hati
Bahwa semua rasul Allah adalah orang-orang yang rendah hati – termasuk Nabi Musa a.s. – adalah permohonan beliau kepada Allah Swt. agar menjadikan kakak beliau, Harun, sebagai utusan (rasul) yang akan mendampingi beliau karena dianggapnya lebih fasih dalam berbicara -- selain karena Fir’aun memiliki tuduhan
terhadap beliau (QS.26:11-15;
QS.20:26-37; QS.28:34-36).
Namun dalam kenyataannya jawaban-jawaban Nabi Musa a.s. terhadap berbagai pertanyaan Fir’aun yang bersifat provokatif membuktikan
kefasihan dan keakuratan jawaban atau pun penjelasan
yang beliau kemukakan kepada Fir’aun, artinya bahwa maghfirah
Ilahi dan pertolongan Allah Swt. menyertai
Nabi Musa a.s. dalam berbagai hal, yang sebelumnya beliau merasa
tidak pantas menjadi rasul Allah (QS.20:10-37).
Menanggapi
pertanyaan Fir’aun yang tiba-tiba topiknya berubah Nabi Musa a.s. memberikan jawaban-jawaban yang membuat Fir’aun
terpaksa mengajukan pertanyaan-pertanyaan
provokatif yang lain lagi,
firman-Nya:
قَالَ رَبُّ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ؕ اِنۡ کُنۡتُمۡ
مُّوۡقِنِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ لِمَنۡ
حَوۡلَہٗۤ اَلَا تَسۡتَمِعُوۡنَ ﴿﴾ قَالَ رَبُّکُمۡ وَ رَبُّ اٰبَآئِکُمُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ اِنَّ
رَسُوۡلَکُمُ الَّذِیۡۤ اُرۡسِلَ
اِلَیۡکُمۡ لَمَجۡنُوۡنٌ ﴿﴾ قَالَ رَبُّ الۡمَشۡرِقِ وَ الۡمَغۡرِبِ وَ مَا
بَیۡنَہُمَا ؕ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ قَالَ لَئِنِ
اتَّخَذۡتَ اِلٰـہًا غَیۡرِیۡ لَاَجۡعَلَنَّکَ مِنَ الۡمَسۡجُوۡنِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ اَوَ
لَوۡ جِئۡتُکَ بِشَیۡءٍ مُّبِیۡنٍ ﴿ۚ﴾ قَالَ فَاۡتِ بِہٖۤ
اِنۡ کُنۡتَ مِنَ الصّٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ فَاَلۡقٰی عَصَاہُ
فَاِذَا ہِیَ ثُعۡبَانٌ مُّبِیۡنٌ
﴿ۚۖ﴾ وَّ نَزَعَ یَدَہٗ
فَاِذَا ہِیَ بَیۡضَآءُ
لِلنّٰظِرِیۡنَ ﴿٪﴾ قَالَ لِلۡمَلَاِ
حَوۡلَہٗۤ اِنَّ ہٰذَا لَسٰحِرٌ
عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ یُّرِیۡدُ اَنۡ یُّخۡرِجَکُمۡ مِّنۡ اَرۡضِکُمۡ بِسِحۡرِہٖ ٭ۖ فَمَا ذَا
تَاۡمُرُوۡنَ ﴿﴾
Musa berkata: ”Rabb (Tuhan) Pencipta
seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya jika kamu
mau meyakini.” Fir’aun berkata kepada orang-orang
di sekelilingnya: “Tidakkah kamu mendengar?”
Musa berkata: “Rabb (Tuhan) kamu dan Rabb
(Tuhan) bapak-bapak kamu terdahulu.” Fir’aun berkata: ”Sesungguhnya rasul kamu yang telah diutus
kepada kamu benar-benar gila.”
Musa berkata: ”Rabb (Tuhan) timur dan barat, dan Tuhan segala yang ada di antara keduanya, jika seandainya kamu
mempergunakan akal.” Fir’aun berkata: “Jika engkau benar-benar menjadikan persembahan lain selainku niscaya engkau akan aku penjarakan.” Musa
berkata: “Apakah walau pun aku
mendatangkan kepada engkau sesuatu Tanda
yang nyata?” Fir’aun berkata: “Maka datangkanlah sesuatu itu jika engkau termasuk orang-orang yang
berkata benar.” Lalu Musa
melemparkan tongkatnya maka tiba-tiba ia menjadi seperti seekor ular
yang nyata. Dan ia mengulurkan tangannya lalu tiba-tiba tangannya itu menjadi putih bagi orang-orang yang memperhatikan. Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar di sekelilingnya: “Sesungguhnya
ia benar-benar tukang sihir yang pandai,
ia berkehendak dengan sihirnya mengeluarkan kamu dari negerimu maka apakah
yang kamu anjurkan?” (Asy-Syu’arā [26]:25-36). Lihat pula
QS.7:104-137; QS.23:46-49; QS.28:37-41;
QS.40:24-28.
Kefasihan Jawaban dan Penjelasan Nabi Musa a.s.
Jawaban Nabi Musa a.s.
terhadap pertanyaan Fir’aun: رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا
بَیۡنَہُمَا -- “Rabb
(Tuhan) Pencipta seluruh langit dan
bumi” menunjuk kepada keluasan
kekuasaan Tuhan berkenaan dengan ruang angkasa (alam semesta). Mendengar
jawaban Nabi Musa a.s. tersebut Fir’aun
menanggapi dengan nada provokatif, firman-Nya: قَالَ
لِمَنۡ حَوۡلَہٗۤ اَلَا
تَسۡتَمِعُوۡنَ -- Fir’aun berkata kepada orang-orang di sekelilingnya: “Tidakkah kamu
mendengar?”
Ayat
ini melukiskan Fir’aun betapa ia berusaha menghasut
rakyatnya untuk menentang Nabi
Musa a.s. dengan
mengisyaratkan bahwa beliau menghina
tuhan-tuhan mereka dengan menisbahkan kerajaan
seluruh langit dan bumi kepada Allah Swt., sebab tuhan-tuhan merekalah yang katanya memegang kekuasaan atas seluruh
alam semesta, sebab ia menganggap
dirinya sebagai “Tuhan yang maha
tinggi” (QS.79:16-27).
Tetapi Nabi Musa a.s. tidak mempedulikan
tanggapan provokatif Fir’aun tersebut
dalam melanjutkan da’wah Tauhid Ilahi kepada Fir’aun dan kaumnya, firman-Nya: قَالَ رَبُّکُمۡ وَ رَبُّ اٰبَآئِکُمُ
الۡاَوَّلِیۡنَ -- “Musa
berkata: “Rabb (Tuhan) kamu
dan Rabb (Tuhan) bapak-bapak
kamu terdahulu.” Dalam ayat ke-25 Nabi Musa a.s. telah menunjuk kepada keluasaan kedaulatan dan kekuasaan Allah Swt. berkenaan dengan ruang angkasa, dan dalam ayat ini beliau menunjuk kepada kedaulatan-Nya bertalian dengan waktu.
Fir’aun pikir, bahwa seperti seorang orang
gila Nabi Musa a.s. tidak
mau mendengarkan perkataan siapa pun, bahkan terus berbicara semau sendiri dan ia mengoceh terus, firman-Nya: قَالَ اِنَّ رَسُوۡلَکُمُ الَّذِیۡۤ اُرۡسِلَ اِلَیۡکُمۡ
لَمَجۡنُوۡنٌ -- “Fir’aun
berkata: ”Sesungguhnya
rasul kamu yang telah diutus kepadamu
benar-benar gila.”
Namun Nabi Musa a.s. tidak mempedulikan ocehan Fir’aun yang menuduhnya
sebagai “orang gila”,
firman-Nya: قَالَ رَبُّ الۡمَشۡرِقِ وَ الۡمَغۡرِبِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ؕ اِنۡ کُنۡتُمۡ
تَعۡقِلُوۡنَ -- “Musa berkata: ”Rabb (Tuhan) timur dan barat, dan Tuhan segala yang ada di antara keduanya,
jika seandainya kamu mempergunakan akal.” Ayat ini menunjuk kepada keluasan kerajaan Allah Swt. dalam hubungan dengan arah dan pihak.
Sudah merupakan kebiasaan
pihak yang terdesak dalam berdialog kebenaran selalu
menggunakan ancaman kekerasan
terhadap lawan bicaranya, demikian juga
Fir’aun: قَالَ لَئِنِ اتَّخَذۡتَ اِلٰـہًا غَیۡرِیۡ لَاَجۡعَلَنَّکَ مِنَ الۡمَسۡجُوۡنِیۡنَ -- “Fir’aun
berkata: “Jika engkau benar-benar menjadikan persembahan lain selainku
niscaya engkau akan aku penjarakan!”
Mukjizat Sebagai Pelengkap Dalil & Falsafah Mukjizat Tongkat Nabi Musa a.s.
Terhadap ancaman Fir’aun tersebut Nabi Musa a.s. menjawab, firman-Nya: قَالَ اَوَ لَوۡ
جِئۡتُکَ بِشَیۡءٍ مُّبِیۡنٍ -- “Musa berkata:
“Apakah walau pun aku mendatangkan
kepada engkau sesuatu Tanda yang
nyata?” قَالَ فَاۡتِ بِہٖۤ
اِنۡ کُنۡتَ مِنَ الصّٰدِقِیۡنَ -- “Fir’aun
berkata: “Maka datangkanlah sesuatu
itu jika engkau termasuk orang-orang
yang berkata benar.”
Yakni kalau sebelumnya Nabi Musa
a.s. menyampaikan da’wah dari segi akal (logika) guna menyadarkan Fir’aun dan kaumnya mengenai kesesatan mereka, dalam ayat
tersebut Nabi Musa a.s. menawarkan dalil
lainnya yang mendukung kebenaran kerasulan
beliau, yakni Tanda Ilahi (mukjizat).
Terhadap tawaran
Nabi Musa a.s. tersebut Fir’aun menjawab, firman-Nya: قَالَ فَاۡتِ
بِہٖۤ اِنۡ کُنۡتَ مِنَ الصّٰدِقِیۡنَ -- “Fir’aun
berkata: “Maka datangkanlah sesuatu
itu jika engkau termasuk orang-orang
yang berkata benar.” فَاَلۡقٰی عَصَاہُ فَاِذَا ہِیَ
ثُعۡبَانٌ مُّبِیۡنٌ -- “Lalu Musa melemparkan tongkatnya
maka tiba-tiba ia menjadi seperti seekor ular yang nyata. وَّ نَزَعَ یَدَہٗ فَاِذَا ہِیَ بَیۡضَآءُ لِلنّٰظِرِیۡنَ -- Dan ia mengulurkan tangannya lalu tiba-tiba tangannya itu menjadi putih bagi orang-orang yang memperhatikan. ”
Al-Quran telah mempergunakan tiga bentuk kata
yang berlainan untuk menggambarkan perubahan tongkat Musa a.s. menjadi ular,
yaitu, hayyah seperti dalam QS.20:21, jann seperti dalam QS.27:11
dan QS.28:32 dan tsu’ban seperti dalam QS.26:33 yang sedang dibahas dan
dalam QS.7:108.
Kata yang
pertama (hayyah) mempunyai makna
umum dan dipergunakan untuk segala
macam ular. Kata kedua (jann) dipakai untuk ular kecil. Kata yang ketiga (tsu’ban) berarti ular gemuk lagi panjang. Dengan demikian penggunaan ketiga kata yang berlainan pada
tiga tempat yang berbeda-beda dalam Al-Quran mempunyai arti tersendiri dan jelas dimaksudkan untuk tujuan tertentu.
Kata jann dipergunakan karena menilik kecepatan
gerak ular itu dan tsu’ban
menilik besarnya. Apabila yang dimaksudkan hanya berubahnya tongkat menjadi ular saja, maka yang dipergunakannya ialah kata hayyah,
tetapi manakala disebut bahwa tongkat
itu telah berubah menjadi ular di
hadapan Nabi Musa a.s. saja
maka dipergunakanlah kata jann (ular kecil). Tetapi bila mukjizat berubahnya tongkat itu menjadi ular
diperlihatkan kep-da Fir’aun, tukang-tukang sihir, dan khalayak umum maka kata tsu’ban
yang dipergunakan.
Berbagai Makna Sebutan “Ular” yang Bermacam-macam & Hakikat Mukjizat
Para Rasul Allah
Kata-kata yang
berlainan pada peristiwa-peristiwa yang berbeda mengandung pemahaman yang
berlainan pula. Kata hayyah berarti bahwa suatu kaum yang sudah mati (asha
berarti juga masyarakat), begitulah keadaan orang-orang Bani Israil pada masa itu, akan menerima kehidupan baru lagi penuh semangat dengan perantaraan Nabi Musa
a.s. (inilah mafhum akar kata
hayyah), dan kata jann (seekor ular kecil yang gesit) berarti
bahwa dari satu masyarakat kecil lagi
terbelakang mereka akan mencapai kemajuan
pesat dan akan menjadi tsu’ban (ular panjang lagi gemuk) bagi Fir’aun dan raknyatnya, yakni kaum
Bani Israil akan menjadi sarana dan
alat untuk kehancuran mereka.
Patut
diperhatikan bahwa mukjizat ini,
seperti juga mukjizat-mukjizat
lainnya yang diperlihatkan oleh para nabi Allah tidak bertentangan dengan hukum
alam. Jika sesuatu hal terbukti benar-benar terjadi, maka hal itu harus
dianggap benar, sekalipun hal itu tidak
dapat diterangkan atau dipahami
menurut hukum alam yang kita pahami.
Pengetahuan
kita mengenai hukum alam bagaimana
pun luasnya masih sangat terbatas,
karena itu kita tidak boleh menyangkal suatu kenyataan yang sebenarnya atas dasar pengetahuan kita yang serba
terbatas dan tak sempurna itu.
Lebih-lebih mukjizat yang diperlihatkan oleh Nabi Musa a.s. tidak terjadi dengan cara seperti yang dipahami oleh orang
pada umumnya.
Mukjizat-mukjizat yang diperlihatkan oleh para nabi Allah tidak seperti permainan kelihaian
tangan (kecepatan tangan) tukang-tukang sulap. Mukjizat-mukjizat
itu dimaksudkan untuk memenuhi suatu tujuan
besar yang erat bertalian dengan akhlak
dan keruhanian, yaitu untuk menimbulkan keyakinan dan perasaan tawadhu’ (kerendahan hati) serta takut kepada Allah Swt. dalam hati mereka yang menyaksikannya.
Karena itu jika tongkat Nabi Musa a.s. itu
benar-benar telah berubah menjadi ular maka seluruh pertunjukan itu tentu nampaknya seperti kelihaian tukang sulap belaka, dan bukan mukjizat dari seorang nabi
Allah.
Kendatipun apa
saja yang mungkin dikatakan Bible
mengenai mukjizat ini, Al-Quran tidak
menunjang pendapat bahwa tongkat itu
benar-benar telah berubah menjadi ular asli dan hidup. Sedikit pun tidak nampak terjadinya hal semacam itu. Tongkat
itu hanya nampak seperti ular
yang bergerak-gerak amat lincah.
Mukjizat tongkat Nabi Musa a.s. itu semacam kasyaf
(pandangan gaib) saat Allah Swt. menguasai
secara istimewa penglihatan penonton-penonton supaya membuat mereka melihat tongkat itu dalam bentuk ular, ataupun tongkat itu sendiri ditampakkan seperti ular;
begitu pula pemandangan gaib
ini disaksikan oleh Fir’aun serta
pemuka-pemukanya dan oleh tukang-tukang
sihir bersama Nabi Musa a.s..
Tongkat Nabi
Musa a.s. yang dilemparkan itu tetap tongkat
jua adanya, tetapi hanya nampak kepada Nabi Musa a.s. dan lain-lainnya seperti ular. Hal itu merupakan gejala
keruhanian yang umum bahwa dalam kasyaf
itu bila manusia menembus hijab-hijab (tirai-tirai) badan
kasarnya dan untuk sementara waktu berpindah ke alam ruhani, ia dapat melihat
hal-hal yang terjadi di luar batas
pengetahuannya dan sama sekali tidak
nampak oleh mata jasmaninya.
Mukjizat “Terbelahnya Bulan” di Masa Nabi Besar Muhammad Saw.
Mukjizat-mukjizat berubahnya tongkat menjadi ular
merupakan suatu pengalaman ruhani
semacam itu. Suatu gejala keruhanian
semacam itu terjadi di masa Nabi Besar
Muhammad saw. ketika bulan — tidak hanya kelihatan oleh beliau saw. (QS.54:2) melainkan juga oleh beberapa pengikut
beliau saw. dan musuh-musuh beliau saw.
— seakan-akan telah terbelah (Bukhari,
bab Tafsir), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
اِقۡتَرَبَتِ السَّاعَۃُ وَ انۡشَقَّ
الۡقَمَرُ ﴿﴾ وَ اِنۡ یَّرَوۡا
اٰیَۃً یُّعۡرِضُوۡا وَ یَقُوۡلُوۡا
سِحۡرٌ مُّسۡتَمِرٌّ ﴿﴾ وَ کَذَّبُوۡا وَ
اتَّبَعُوۡۤا اَہۡوَآءَہُمۡ وَ کُلُّ اَمۡرٍ مُّسۡتَقِرٌّ ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اِقۡتَرَبَتِ السَّاعَۃُ -- Telah dekat Saat
itu وَ انۡشَقَّ الۡقَمَرُ -- dan bulan
terbelah. وَ اِنۡ یَّرَوۡا اٰیَۃً
یُّعۡرِضُوۡا وَ یَقُوۡلُوۡا سِحۡرٌ مُّسۡتَمِرٌّ -- Dan jika mereka
melihat suatu Tanda, mereka berpaling
dan berkata, “Sihir yang selalu berulang.” وَ کَذَّبُوۡا وَ اتَّبَعُوۡۤا
اَہۡوَآءَہُمۡ وَ کُلُّ اَمۡرٍ مُّسۡتَقِرٌّ
-- Dan mereka mendustakan kebenaran
dan mengikuti hawa nafsu mereka
dan setiap perkara ada ketetapan waktunya.
(Al-Qamar
[54]:1-4).
Peristiwa “bulan
terbelah” menjadi dua yang dapat disaksikan oleh mata telanjang — baik
telah menyalahi hukum alam fisika
ataupun tidak — sukar di sangkal, sedang peristiwa itu nampaknya kekurangan
bukti-bukti sejarah yang meyakinkan. Pada pihak lain, tidak ada seorang pun
dapat memberanikan diri mengakui
telah menyelami semua rahasia Allah Swt. atau sepenuhnya mengerti atau memahami semua rahasia alam
Adalah mustahil bahwa peristiwa yang meliputi bagian besar wilayah bumi
serupa itu, masih tetap tidak dimaklumi kalangan peneropong-peneropong bintang (para ahli observatori) di dunia ini,
atau sama sekali tidak tercatat di dalam buku-buku sejarah. Tetapi karena peristiwa itu sungguh tercantum di dalam kitab-kitab hadits yang sangat terpercaya, seperti Bukhari dan Muslim, dan sebab dituturkan secara berkesinambungan dalam
riwayat-riwayat yang sumbernya dapat dipercaya, pula diriwayatkan oleh sahabat Nabi Besar Muhammad saw. saw.
yang cendekia seperti Ibn Mas’ud
r.a., peristiwa itu
sungguh-sungguh menunjukkan bahwa gejala
alam yang luar biasa pentingnya itu niscaya telah terjadi di masa beliau saw..
Beberapa ahli tafsir
Al-Quran – di antaranya Razi – telah
berusaha menguraikan masalah pelik itu dengan menyatakan bahwa peristiwa itu
adalah gerhana bulan. Imam Ghazali dan Syah Waliullah juga berpegang pada pendapat babwa pada hakikatnya bulan tidak terbelah, melainkan Allah Swt.
telah mengatur demikian rupa sehingga bulan
nampak kepada orang-orang yang menyaksikannya sebagai sungguh-sungguh terbelah.
Menurut Ibn ‘Abbas dan Syah ‘Abdul ‘Aziz, peristiwa itu semacam gerhana bulan. Tetapi bagaimana pun bila kita mengingat akan kuatnya bobot
bahasa yang dipergunakan Al-Quran berkenaan dengan peristiwa itu nampaknya
lebih daripada gerhana bulan biasa.
Peristiwa itu sungguh-sungguh merupakan mukjizat
besar yang ditampakkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. atas desakan orang-orang kafir (Bukhari
dan Muslim).
Peristiwa Kasyaf & Nubuatan Mengenai “Tumbangnya” Bangsa Arab
Nampaknya peristiwa itu
merupakan suatu kasyaf Nabi Besar Muhammad saw. – tidak ubah halnya seperti peristiwa tongkat Nabi Musa a.s. berubah menjadi ular pun adalah suatu
kasyaf (rukya) yang para ahli sihir dibuat ikut serta di dalamnya. Atau, boleh jadi seperti halnya pemukulan air laut yang dilakukan
oleh Nabi Musa a.s. dengan tongkat beliau, bertepatan dengan
saat pasang surut, dan dengan
demikian merupakan suatu mukjizat.
Begitu pula boleh jadi Allah Swt. telah memerintahkan Nabi Besar Muhammad saw. agar memperlihatkan mukjizat pembelahan bulan pada saat ketika suatu benda langit mengambil posisi
di depan bulan demikian rupa,
sehingga bulan nampak kepada
orang-orang yang menyaksikan sebagai terbelah
menjadi dua bagian.
Tetapi keterangan yang
paling dapat diterima dan juga mengandung makna
keruhanian yang sangat mendalam, terletak pada kenyataan, bahwa bulan adalah lambang kebangsaan orang Arab dan lambang kekuasaan politik mereka, seperti halnya matahari merupakan lambang kebangsaan orang-orang Parsi.
Tatkala Siti Shafiyah r.a.
anak perempuan Huyay ibn Akhthab,
pemimpin orang-orang Yahudi dari Khaibar, menceritakan kepada ayahnya bahwa ia
melihat mimpi bahwa bulan
telah jatuh ke atas pangkuannya. sang
ayah menampar muka beliau seraya berkata bahwa “Rupanya engkau menginginkan menikah dengan pemimpin bangsa Arab!.” Sesudah
Khaibar jatuh, impian Siti Shafiyah menjadi sempurna, ketika beliau
dipersunting oleh Nabi Besar Muhammad
saw.. (Zurqani & Usud al-Ghabbah).
Begitu pula Siti ‘Aisyah r.a. pernah melihat dalam mimpi
bahwa tiga buah bulan jatuh ke
dalam kamar pribadi beliau, dan mimpi itu telah menjadi kenyataan ketika di
sana jasad Nabi Besar Muhammad saw. , Abu Bakar Shiddiq r.a., dan Umar bin
Khaththab r.a., berturut-turut
dikebumikan (Mu’aththa’,
Kitab al-Jana’iz).
Makna simbolis bagi kata qamar bulan) pada ayat ini
mengandung arti, bahwa saat kehancuran
kekuasaan politik bangsa Arab, yang karenanya orang-orang kafir telah diperingatkan
dalam QS.53:58, telah tiba: اِقۡتَرَبَتِ السَّاعَۃُ -- “Telah dekat Saat
itu وَ انۡشَقَّ الۡقَمَرُ -- dan bulan
terbelah”.
Kata Saat dalam
hal ini mungkin mengisyaratkan kepada pertempuran
Badar, yang di dalam pertempuran itu hampir semua kepala dan pemimpin kabilah
Quraisy terbunuh dan dasar
kehancuran-mutlak kekuatan mereka telah diletakkan. Dengan demikian ayat
ini merupakan nubuatan hebat, yang
telah menjadi genap dengan sangat ajaib kira-kira 8 atau 9 tahun sesudah nubuatan itu diumumkan.
Teristimewa pula,
menurut beberapa penulis, ungkapan bahasa Arab “insyaqqa al-qamaru,”
berarti “urusan itu telah menjadi nampak
kentara.” Dalam arti ini ayat ini agaknya bermaksud, bahwa saat kehancuran kekuasaan kaum Quraisy telah tiba, dan kemudian akan menjadi nampak nyata bahwa Nabi Besar Muhammad saw. seorang nabi Allah sejati.
Mustamir
dalam ayat وَ اِنۡ
یَّرَوۡا اٰیَۃً یُّعۡرِضُوۡا وَ
یَقُوۡلُوۡا سِحۡرٌ مُّسۡتَمِرٌّ -- Dan jika mereka melihat suatu Tanda, mereka berpaling
dan berkata, “Sihir yang selalu berulang.” berarti : (1)
sepintas, selintas, tidak kekal; (2) bersinambungan; (3) kuat, kokoh (Aqrab-al-Mawarid).
Makna mustaqirr dalam
ayat: وَ کَذَّبُوۡا وَ اتَّبَعُوۡۤا
اَہۡوَآءَہُمۡ وَ کُلُّ اَمۡرٍ مُّسۡتَقِرٌّ -- Dan mereka
mendustakan kebenaran dan mengikuti
hawa nafsu mereka dan setiap perkara
ada ketetapan waktunya” bahwa kehancuran kekuatan politik kaum
Quraisy telah ditakdirkan oleh Allah Swt. dan takdir
Ilahi pasti terjadi. Demikianlah makna mengenai perisitiwa kasyaf “terbelahnya
bulan” di masa Nabi Besar Muhammad
saw..
Penampakan Malaikat
Jibril a.s. Dalam Wujud Seorang
Laki-laki
Hadits mengatakan
kepada kita bahwa Malaikat Jibril a.s. yang acap terlihat oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam kasyaf-kasyaf beliau saw., pada suatu ketika juga terlihat oleh sahabat-sahabat beliau saw.
yang tengah duduk-duduk bersama beliau saw. dalam wujud seorang laki-laki (Bukhari,
bab Iman). Demikian pula beberapa malaikat terlihat
bahkan pula oleh beberapa orang kafir
pada Perang Badar (Tafsir Ibnu Jarir,
VI hlm. 47).
Contoh lain semacam ini terjadi ketika sebuah pasukan
Islam di bawah pimpinan Sariya, penglima Islam termasyhur, sedang bertempur
melawan musuh di Irak. Umar bin Khathtab r.a., Khalifah
Nabi Besar Muhammad saw. yang kedua,
tatkala beliau saw. sedang khutbah Jum’at di kota Medinah melihat
dalam kasyaf bahwa pasukan Muslim
sedang dikepung oleh musuh yang
bilangannya besar dan bahwa pasukan Muslim terancam kekalahan yang hebat.
Melihat hal
itu Umar bin Khathtab r.a., tiba-tiba menghentikan khutbah beliau, lalu
berseru dari mimbar dengan mengatakan: “Hai
Sariyah, naik ke bukit, naik ke bukit.” Sariyah yang berada pada jarak
ratusan mil jauhnya serentak mendengar
suara Sayyidina Umar bin Khathtab
r.a., di tengah gegap gempita medan
pertempuran yang memekakkan telinga, segera menaati
perintah Khalifah dan dengan demikian pasukan Islam itu telah selamat dari
kehancuran (Khamis, ii, hlm.
370).
Mukjizat Tangan Bercahaya Putih
Jadi, kembali
kepada mukjizat tongkat Nabi Musa
a.s., mukjizat Nabi Musa a.s.
tersebut mengandung makna
yang istimewa. Mukjizat itu dapat
ditafsirkan kurang lebih demikian: Allah Swt. berfirman kepada Nabi
Musa a.s. agar melem-parkan tongkatnya yang ketika itu nampak kepada
beliau seperti ular, dan bila atas
perintah Allāh beliau mengangkatnya maka ular
itu hanya berupa sepotong kayu belaka.
Dalam
kasyaf dan mimpi makna ular melambangkan musuh, sedangkan tongkat
mengikaskan jemaat (Ta’thir-ul-anam). Dengan
demikian lewat kasyaf itu Allah Swt.
memberitahukan kepada Nabi Musa
a.s. bahwa jika beliau melemparkan umatnya jauh dari beliau,
mereka benar-benar akan bersifat ular.
Tetapi jika beliau mengambil mereka
di bawah asuhan sendiri, mereka akan
menjadi jemaat yang kuat lagi baik, terdiri atas orang-orang
mukhlis lagi bertakwa kepada Allah
Swt.
Makna mukjizat
Nabi Musa a.s. berikutnya dalam ayat: وَّ نَزَعَ
یَدَہٗ فَاِذَا ہِیَ بَیۡضَآءُ لِلنّٰظِرِیۡنَ -- ”dan
ia
mengulurkan tangannya lalu tiba-tiba tangannya itu menjadi putih bagi orang-orang
yang memperhatikan” (Asy-Syu’ara [26]:34), tubuh
orang-orang yang tinggi keruhaniannya mengeluarkan sinar-sinar berbagai warna
menurut derajat atau sifat (kaifiat) perkembangan ruhani mereka.
Sinar-sinar
yang dikeluarkan tubuh para nabi Allah itu putih
bersih. Begitu pula sinar-sinar
yang keluar dari tangan Nabi Musa a.s. tentunya berwarna demikian juga bila sinar-sinar itu dinampakkan, tangan
beliau tentu tampak berwarna putih
kepada orang-orang yang melihatnya. Orang-orang
pernah mempunyai pengalaman-pengalaman
ruhani semacam itu ada di masa nabi-nabi Allah lain juga.
Allah Swt.
berfirman kepada Nabi Musa a.s.: “Masukkan tangan engkau ke dalam dada
engkau, niscaya tangan itu akan keluar putih tanpa kesan buruk” (QS.28:33).
Dalam bahasa perumpamaan kalimat itu merupakan satu isyarat yang jelas kepada
Nabi Musa a.s. bahwa bila
beliau menghimpun pengikut-pengikut
beliau langsung di bawah asuhan
beliau, bukan hanya mereka sendiri akan menjadi manusia-manusia bercahaya, tetapi juga memberikan cahaya kepada orang-orang lain.
Tetapi bila tidak dihimpun
dibawah asuhan Nabi Musa a.s. mereka
tidak hanya akan menjadi hitam,
tetapi juga akan mengidap bermacam penyakit akhlaki atau akan berubah
seperti ular seperti
tongkat Nabi Musa a.s. yang
dilemparkan beliau. Oleh karena itu mukjizat
tersebut bukan pertunjukan tukang sihir,
melainkan suatu Tanda Kebenaran yang
sarat dengan arti keruhanian yang mendalam.
Menanggapi mukjizat-mukjizat Nabi Musa a.s.
tersebut Fir’aun menanggapinya negative, firman-Nya:
قَالَ لِلۡمَلَاِ حَوۡلَہٗۤ اِنَّ
ہٰذَا لَسٰحِرٌ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ یُّرِیۡدُ اَنۡ یُّخۡرِجَکُمۡ مِّنۡ اَرۡضِکُمۡ بِسِحۡرِہٖ ٭ۖ فَمَا ذَا
تَاۡمُرُوۡنَ ﴿﴾
Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar di sekelilingnya:
“Sesungguhnya ia benar-benar tukang sihir
yang pandai. Dia berkehendak dengan sihirnya
mengeluarkan kamu dari negerimu maka apakah yang kamu anjurkan?” (Asy-Syu’arā
[26]:35-36).
Sihr berarti:
akal licik, dursila; sihir; mengadakan apa-apa yang palsu dalam bentuk
kebenaran; setiap kejadian yang sebab-sebabnya tersembunyi, dan disangka lain
dari kenyataannya (Lexicon Lane).
Jadi setiap kepalsuan, penipuan atau akal licik yang dimaksudkan untuk
menyembunyikan tujuan sebenarnya dari penglihatan orang, adalah termasuk sihir juga.
Kata sāhir tidak selamanya harus diartikan tukang sihir, kata itu pun berarti orang
yang mempunyai daya pikat; orang yang
terampil dan cerdas; orang yang sanggup membuat orang lain melihat sesuatu benda nampak
lain dari keadaan yang sebenarnya;
penipu, penyihir mata atau perayu, dan lain-lain (Lexicon Lane).
Kata-kata:
یُّرِیۡدُ اَنۡ یُّخۡرِجَکُمۡ
مِّنۡ اَرۡضِکُمۡ بِسِحۡرِہٖ -- “ Dia berkehendak dengan sihirnya mengeluarkan kamu dari negerimu” itu dimaksudkan untuk menghasut orang-orang Mesir supaya melawan Nabi Musa a.s. padahal sebenarnya Nabi Musa a.s. tidak berkeinginan mengusir mereka. Tugas beliau hanyalah harus membawa kaumnya
sendiri keluar dari Mesir.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 17 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar