Rabu, 19 Oktober 2016

Hubungan "Istghfar" Dengan "Kerendahan Hati" & Makna Mukjizat "Tongkat" Nabi Musa a.s. dan Mukjizat "Terbelahnya Bulan" di Zaman Nabi Besar Muhammad Saw.


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 39

HUBUNGAN  ISTIGHFAR PARA RASUL ALLAH DENGAN KERENDAHAN HATI &  MAKNA MUKJIZAT TONGKAT NABI MUSA A.S. DAN MUKJIZAT  “TERBELAHNYA BULAN” DI ZAMAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 38  dikemukakan   mengenai     makna kata   dhall dalam jawaban Nabi Musa a.s. terhadap tuduhan Fir’aun: قَالَ فَعَلۡتُہَاۤ  اِذًا وَّ اَنَا مِنَ الضَّآلِّیۡنَ  -- Musa berkata:  “Aku telah melakukannya  demikian dan ketika itu aku dalam keadaan kalut”   (Asy-Syu’arā [26]:19-21),     berasal dari kata dhalla yang berarti: Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan; ia berada dalam keadaan pikiran kalut; ia tenggelam dalam kecintaan (Lexicon Lane).
     Ketika orang Israil itu memanggil Nabi Musa a.s.  dan minta menolongnya terhadap orang Mesir, beliau   tidak tahu atau bingung apa yang harus beliau lakukan, oleh karena hasrat beliau besar sekali untuk menolong orang Israil yang malang dan tidak berdaya itu (QS.28:16-21) lalu  beliau melayangkan pukulan keras sehingga membuat orang itu mati terkapar.
    Kematian itu tidak terduga sebab satu pukulan dengan tinju biasanya tidak menyebabkan kematian seseorang. Atau ayat ini dapat juga diartikan,  bahwa disebabkan oleh besarnya kecintaan Nabi Musa a.s. kepada orang-orang tertindas, beliau datang menolong orang Israil dan meninju orang Mesir itu, sehingga mengakibatkan kematiannya. Atau artinya ialah bahwa beliau melakukan hal itu  karena tidak menginsyafi akibat-akibatnya.
       Hakikat bahwa sesudah membunuh orang Mesir itu Nabi Musa a.s.  melarikan diri, lalu Allah Swt. mengangkat beliau sebagai seorang nabi Allah —sungguh suatu nikmat Ilahi yang besar sekali— merupakan suatu bukti  bahwa apa yang telah dilakukan oleh Nabi Musa a.s. itu adalah suatu perbuatan yang tidak disengaja dan dilakukan karena dorongan hati yang terbetik secara tiba-tiba.
     Dalam ayat selanjutnya dilukiskan bagaimana kata Nabi Musa a.s.  terhadap teguran lancang dari Fir’aun, bahwa seyogianya Fir’aun sendiri harus malu atas perkataannya  menyinggung-nyinggung suatu kebaikan yang dalam pikirannya ia telah lakukan terhadap kaum Bani Israil,  sebab ia (Fir’aun) telah meringkus mereka dari generasi ke generasi di dalam belenggu perbudakan yang nista dan rendah, dan telah membunuh segala nilai kemuliaan, prakarsa, dan hasrat di dalam diri mereka untuk bangun menjadi bangsa yang terhormat: وَ تِلۡکَ نِعۡمَۃٌ  تَمُنُّہَا عَلَیَّ  اَنۡ عَبَّدۡتَّ بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --  Dan apakah nikmat pemeliharaan   yang  engkau telah memberikannya  kepadaku itu sehingga eng-au beralasan  telah memperbudak Bani Israil?”   
     Jawaban Nabi Musa a.s.  kepada Fir’aun, sebagaimana tersebut dalam ayat sebelumnya rupa-rupanya telah membut dia amat kebingungan, sehingga ia tiba-tiba mengalihkan pokok pembicaraan  sambil berusaha melibatkan Nabi Musa a.s.  dalam soal-jawab yang berhubungan dengan masalah-masalah gaib, tentang asal dan wujud Dzat Ilahi serta sifat-sifat-Nya, firman-Nya:
قَالَ فِرۡعَوۡنُ  وَ  مَا رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
 Fir’aun berkata:   ”Dan apakah  Rabb (Tuhan) seluruh  alam itu?”    (Asy-Syu’arā [26]:24).

Semua Rasul Allah Sangat Rendah Hati

         Bahwa semua rasul Allah adalah orang-orang yang rendah hati – termasuk Nabi Musa a.s. – adalah permohonan beliau kepada Allah Swt. agar menjadikan kakak beliau, Harun, sebagai utusan (rasul) yang akan mendampingi beliau karena dianggapnya lebih fasih dalam berbicara  -- selain karena Fir’aun memiliki tuduhan  terhadap beliau  (QS.26:11-15; QS.20:26-37;  QS.28:34-36).
      Namun dalam kenyataannya jawaban-jawaban Nabi Musa a.s. terhadap berbagai pertanyaan Fir’aun yang bersifat provokatif  membuktikan  kefasihan    dan keakuratan   jawaban  atau pun penjelasan yang beliau kemukakan kepada Fir’aun, artinya  bahwa maghfirah Ilahi dan pertolongan Allah Swt. menyertai Nabi Musa a.s. dalam berbagai hal, yang sebelumnya  beliau merasa  tidak pantas menjadi rasul Allah  (QS.20:10-37).
       Menanggapi pertanyaan Fir’aun yang tiba-tiba topiknya berubah Nabi Musa  a.s. memberikan jawaban-jawaban yang membuat Fir’aun terpaksa mengajukan pertanyaan-pertanyaan provokatif yang lain  lagi, firman-Nya:
قَالَ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ؕ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  مُّوۡقِنِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ  لِمَنۡ  حَوۡلَہٗۤ   اَلَا  تَسۡتَمِعُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَبُّکُمۡ وَ رَبُّ اٰبَآئِکُمُ  الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ  اِنَّ رَسُوۡلَکُمُ الَّذِیۡۤ اُرۡسِلَ  اِلَیۡکُمۡ  لَمَجۡنُوۡنٌ ﴿﴾  قَالَ رَبُّ الۡمَشۡرِقِ وَ الۡمَغۡرِبِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ؕ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ قَالَ لَئِنِ اتَّخَذۡتَ اِلٰـہًا غَیۡرِیۡ لَاَجۡعَلَنَّکَ مِنَ  الۡمَسۡجُوۡنِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ  اَوَ لَوۡ  جِئۡتُکَ بِشَیۡءٍ  مُّبِیۡنٍ ﴿ۚ﴾  قَالَ فَاۡتِ بِہٖۤ  اِنۡ  کُنۡتَ مِنَ الصّٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  فَاَلۡقٰی عَصَاہُ  فَاِذَا ہِیَ ثُعۡبَانٌ  مُّبِیۡنٌ ﴿ۚۖ﴾  وَّ نَزَعَ یَدَہٗ  فَاِذَا ہِیَ بَیۡضَآءُ  لِلنّٰظِرِیۡنَ ﴿٪﴾  قَالَ لِلۡمَلَاِ حَوۡلَہٗۤ  اِنَّ ہٰذَا  لَسٰحِرٌ  عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  یُّرِیۡدُ  اَنۡ یُّخۡرِجَکُمۡ مِّنۡ  اَرۡضِکُمۡ بِسِحۡرِہٖ ٭ۖ  فَمَا ذَا  تَاۡمُرُوۡنَ  ﴿﴾
Musa berkata: ”Rabb (Tuhan) Pencipta seluruh langit dan bumi  dan apa  pun yang ada di antara keduanya  jika kamu mau meyakini.”   Fir’aun berkata kepada  orang-orang di sekelilingnya: “Tidakkah kamu mendengar?”   Musa berkata: “Rabb (Tuhan) kamu  dan Rabb (Tuhan)  bapak-bapak kamu terdahulu.”  Fir’aun berkata:  ”Sesungguhnya rasul kamu yang telah diutus kepada kamu benar-benar gila.”  Musa berkata:  Rabb (Tuhan) timur dan barat,  dan Tuhan segala yang ada di antara keduanya, jika seandainya kamu  mempergunakan akal.”    Fir’aun berkata: “Jika engkau  benar-benar menjadikan persembahan lain selainku niscaya engkau akan aku penjarakan.”   Musa berkata: “Apakah walau pun aku mendatangkan kepada engkau sesuatu Tanda  yang nyata?”     Fir’aun berkata: “Maka datangkanlah sesuatu itu jika engkau termasuk orang-orang yang berkata benar.”   Lalu Musa melemparkan  tongkatnya maka tiba-tiba ia  menjadi seperti seekor ular yang nyata.    Dan ia mengulurkan tangannya lalu tiba-tiba tangannya itu menjadi putih bagi orang-orang yang memperhatikan.   Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar di sekelilingnya: “Sesungguhnya ia benar-benar tukang sihir yang pandai, ia berkehendak   dengan sihirnya mengeluarkan kamu dari negerimu  maka apakah yang kamu anjurkan?” (Asy-Syu’arā [26]:25-36). Lihat pula QS.7:104-137; QS.23:46-49;  QS.28:37-41; QS.40:24-28.

Kefasihan Jawaban dan Penjelasan  Nabi Musa a.s.

       Jawaban Nabi Musa a.s. terhadap pertanyaan Fir’aun:  رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا  --  “Rabb (Tuhan) Pencipta seluruh langit dan bumi” menunjuk kepada keluasan kekuasaan Tuhan berkenaan dengan ruang angkasa (alam semesta). Mendengar jawaban Nabi Musa a.s. tersebut Fir’aun  menanggapi dengan  nada provokatif, firman-Nya:   قَالَ  لِمَنۡ  حَوۡلَہٗۤ   اَلَا  تَسۡتَمِعُوۡنَ  --     Fir’aun berkata kepada  orang-orang di sekelilingnya: “Tidakkah kamu mendengar?”
    Ayat ini melukiskan Fir’aun betapa ia berusaha menghasut rakyatnya untuk menentang Nabi Musa a.s.   dengan mengisyaratkan bahwa beliau menghina tuhan-tuhan mereka dengan menisbahkan kerajaan seluruh langit dan bumi kepada Allah Swt., sebab tuhan-tuhan merekalah yang katanya memegang kekuasaan atas seluruh alam semesta, sebab ia menganggap dirinya sebagai “Tuhan yang maha tinggi” (QS.79:16-27).
     Tetapi Nabi Musa a.s. tidak mempedulikan tanggapan provokatif Fir’aun tersebut dalam melanjutkan da’wah Tauhid Ilahi  kepada Fir’aun dan kaumnya, firman-Nya: قَالَ رَبُّکُمۡ وَ رَبُّ اٰبَآئِکُمُ  الۡاَوَّلِیۡنَ  -- “Musa berkata: “Rabb (Tuhan) kamu  dan  Rabb (Tuhan) bapak-bapak kamu terdahulu.”   Dalam ayat ke-25 Nabi Musa a.s.   telah menunjuk kepada keluasaan kedaulatan dan kekuasaan Allah Swt.  berkenaan dengan ruang angkasa, dan dalam ayat ini beliau menunjuk kepada kedaulatan-Nya bertalian dengan waktu.
    Fir’aun pikir, bahwa seperti seorang orang gila Nabi Musa a.s.  tidak mau mendengarkan perkataan siapa pun, bahkan terus berbicara semau sendiri  dan ia mengoceh terus, firman-Nya:  قَالَ  اِنَّ رَسُوۡلَکُمُ الَّذِیۡۤ اُرۡسِلَ  اِلَیۡکُمۡ  لَمَجۡنُوۡنٌ  -- “Fir’aun berkata:  ”Sesungguhnya rasul kamu yang telah diutus kepadamu benar-benar gila.”
     Namun Nabi Musa a.s. tidak mempedulikan ocehan Fir’aun yang menuduhnya sebagai “orang gila”, firman-Nya:  قَالَ رَبُّ الۡمَشۡرِقِ وَ الۡمَغۡرِبِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ؕ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ -- “Musa berkata:  Rabb (Tuhan) timur dan barat, dan Tuhan segala yang ada di antara keduanya, jika seandainya kamu  mempergunakan akal.”  Ayat ini menunjuk kepada keluasan kerajaan Allah Swt.  dalam hubungan dengan arah dan pihak.
   Sudah merupakan kebiasaan pihak yang terdesak dalam berdialog kebenaran selalu menggunakan ancaman kekerasan terhadap lawan bicaranya,  demikian juga Fir’aun:  قَالَ لَئِنِ اتَّخَذۡتَ اِلٰـہًا غَیۡرِیۡ لَاَجۡعَلَنَّکَ مِنَ  الۡمَسۡجُوۡنِیۡنَ -- “Fir’aun berkata: “Jika engkau benar-benar menjadikan persembahan lain selainku niscaya engkau akan aku penjarakan!”

Mukjizat Sebagai Pelengkap Dalil  & Falsafah Mukjizat Tongkat Nabi Musa a.s.

     Terhadap ancaman Fir’aun tersebut Nabi Musa a.s. menjawab, firman-Nya:  قَالَ  اَوَ لَوۡ  جِئۡتُکَ بِشَیۡءٍ  مُّبِیۡنٍ  -- “Musa berkata: “Apakah walau pun aku mendatangkan kepada engkau sesuatu Tanda  yang nyata?” قَالَ فَاۡتِ بِہٖۤ  اِنۡ  کُنۡتَ مِنَ الصّٰدِقِیۡنَ   -- “Fir’aun berkata: “Maka datangkanlah sesuatu itu jika engkau termasuk orang-orang yang berkata benar.”
   Yakni kalau sebelumnya Nabi Musa a.s. menyampaikan da’wah dari segi akal (logika) guna menyadarkan Fir’aun dan kaumnya mengenai kesesatan  mereka, dalam ayat tersebut Nabi Musa a.s. menawarkan dalil lainnya yang mendukung kebenaran kerasulan beliau, yakni Tanda Ilahi (mukjizat).
      Terhadap tawaran Nabi Musa a.s. tersebut Fir’aun menjawab, firman-Nya:  قَالَ فَاۡتِ بِہٖۤ  اِنۡ  کُنۡتَ مِنَ الصّٰدِقِیۡنَ  -- “Fir’aun berkata: “Maka datangkanlah sesuatu itu jika engkau termasuk orang-orang yang berkata benar.”  فَاَلۡقٰی عَصَاہُ  فَاِذَا ہِیَ ثُعۡبَانٌ  مُّبِیۡنٌ    -- “Lalu Musa melemparkan  tongkatnya maka tiba-tiba ia  menjadi seperti seekor ular yang  nyata.   وَّ نَزَعَ یَدَہٗ  فَاِذَا ہِیَ بَیۡضَآءُ  لِلنّٰظِرِیۡنَ --   Dan ia mengulurkan tangannya lalu tiba-tiba tangannya itu menjadi putih bagi orang-orang yang memperhatikan.
 Al-Quran telah mempergunakan tiga bentuk kata yang berlainan untuk menggambarkan perubahan tongkat Musa a.s. menjadi ular, yaitu, hayyah seperti dalam QS.20:21, jann seperti dalam QS.27:11 dan QS.28:32 dan tsu’ban seperti dalam QS.26:33 yang sedang dibahas dan dalam QS.7:108.
   Kata yang pertama (hayyah) mempunyai makna umum dan dipergunakan untuk segala macam ular. Kata kedua (jann) dipakai untuk ular kecil. Kata yang ketiga (tsu’ban) berarti ular gemuk lagi panjang. Dengan demikian penggunaan ketiga kata yang berlainan pada tiga tempat yang berbeda-beda dalam Al-Quran mempunyai arti tersendiri dan jelas dimaksudkan untuk tujuan tertentu.
  Kata jann dipergunakan karena menilik kecepatan gerak ular itu dan tsu’ban menilik besarnya. Apabila yang dimaksudkan hanya berubahnya tongkat menjadi ular saja, maka yang dipergunakannya ialah kata hayyah, tetapi manakala disebut bahwa tongkat itu telah berubah menjadi ular di hadapan Nabi Musa a.s.  saja maka dipergunakanlah kata jann (ular kecil). Tetapi bila mukjizat berubahnya tongkat itu menjadi ular diperlihatkan kep-da Fir’aun, tukang-tukang sihir, dan khalayak umum maka kata tsu’ban yang dipergunakan.

Berbagai Makna Sebutan “Ular” yang Bermacam-macam &  Hakikat Mukjizat Para Rasul Allah

  Kata-kata yang berlainan pada peristiwa-peristiwa yang berbeda mengandung pemahaman yang berlainan pula. Kata hayyah berarti bahwa suatu kaum yang sudah mati (asha berarti juga masyarakat), begitulah keadaan orang-orang Bani Israil pada masa itu, akan menerima kehidupan baru lagi penuh semangat dengan perantaraan Nabi Musa a.s.  (inilah mafhum akar kata hayyah), dan kata jann (seekor ular kecil yang gesit) berarti bahwa dari satu masyarakat kecil lagi terbelakang mereka akan mencapai kemajuan pesat dan akan menjadi tsu’ban (ular panjang lagi gemuk) bagi Fir’aun dan raknyatnya,  yakni kaum Bani Israil akan menjadi sarana dan alat untuk kehancuran mereka.
  Patut diperhatikan bahwa mukjizat ini, seperti juga mukjizat-mukjizat lainnya yang diperlihatkan oleh para nabi Allah tidak bertentangan dengan hukum alam. Jika sesuatu hal terbukti benar-benar terjadi, maka hal itu harus dianggap benar, sekalipun hal itu tidak dapat diterangkan atau dipahami menurut hukum alam yang kita pahami.
   Pengetahuan kita mengenai hukum alam bagaimana pun luasnya masih sangat terbatas, karena itu  kita tidak boleh menyangkal suatu kenyataan yang sebenarnya atas dasar pengetahuan kita yang serba terbatas dan tak sempurna itu. Lebih-lebih  mukjizat yang diperlihatkan oleh Nabi Musa a.s.  tidak terjadi dengan cara seperti yang dipahami oleh orang pada umumnya.
   Mukjizat-mukjizat yang diperlihatkan oleh para nabi Allah tidak seperti permainan  kelihaian tangan  (kecepatan tangan) tukang-tukang sulap. Mukjizat-mukjizat itu dimaksudkan untuk memenuhi suatu tujuan besar yang erat bertalian dengan akhlak dan keruhanian, yaitu untuk menimbulkan keyakinan dan perasaan tawadhu’ (kerendahan hati) serta takut kepada Allah Swt.   dalam hati mereka yang menyaksikannya.  Karena itu jika tongkat Nabi Musa a.s.  itu benar-benar telah berubah menjadi ular maka seluruh pertunjukan itu tentu nampaknya seperti kelihaian tukang sulap belaka, dan bukan mukjizat dari seorang nabi Allah.
  Kendatipun apa saja yang mungkin dikatakan Bible mengenai mukjizat ini, Al-Quran tidak menunjang pendapat bahwa tongkat itu benar-benar telah berubah menjadi ular asli dan hidup. Sedikit pun tidak nampak terjadinya hal semacam itu. Tongkat itu hanya nampak seperti ular yang bergerak-gerak amat lincah.
Mukjizat  tongkat Nabi Musa a.s. itu semacam kasyaf (pandangan gaib) saat  Allah Swt.  menguasai secara istimewa penglihatan penonton-penonton supaya membuat mereka melihat tongkat itu dalam bentuk ular, ataupun tongkat itu sendiri ditampakkan seperti ular;  begitu pula pemandangan gaib ini disaksikan oleh Fir’aun serta pemuka-pemukanya dan oleh tukang-tukang sihir bersama Nabi Musa a.s..
 Tongkat Nabi Musa a.s. yang dilemparkan itu tetap tongkat jua adanya, tetapi hanya nampak kepada Nabi Musa a.s.  dan lain-lainnya seperti ular. Hal itu merupakan gejala keruhanian yang umum bahwa dalam kasyaf itu bila manusia menembus hijab-hijab (tirai-tirai)  badan kasarnya dan untuk sementara waktu berpindah ke alam ruhani, ia dapat melihat hal-hal yang terjadi di luar batas pengetahuannya dan sama sekali tidak nampak oleh mata jasmaninya.

Mukjizat “Terbelahnya Bulan” di Masa Nabi Besar Muhammad Saw.

 Mukjizat-mukjizat berubahnya tongkat menjadi ular merupakan suatu pengalaman ruhani semacam itu. Suatu gejala keruhanian semacam itu terjadi di masa  Nabi Besar Muhammad saw. ketika bulan — tidak hanya kelihatan oleh beliau saw. (QS.54:2)  melainkan juga oleh beberapa pengikut beliau saw. dan musuh-musuh beliau saw. — seakan-akan telah terbelah (Bukhari, bab Tafsir), firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِقۡتَرَبَتِ السَّاعَۃُ  وَ انۡشَقَّ  الۡقَمَرُ ﴿﴾  وَ اِنۡ یَّرَوۡا اٰیَۃً  یُّعۡرِضُوۡا وَ یَقُوۡلُوۡا سِحۡرٌ مُّسۡتَمِرٌّ ﴿﴾  وَ کَذَّبُوۡا وَ اتَّبَعُوۡۤا اَہۡوَآءَہُمۡ وَ کُلُّ اَمۡرٍ مُّسۡتَقِرٌّ ﴿﴾   
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  اِقۡتَرَبَتِ السَّاعَۃُ  --  Telah dekat  Saat itu  وَ انۡشَقَّ  الۡقَمَرُ --  dan bulan terbelah. وَ اِنۡ یَّرَوۡا اٰیَۃً  یُّعۡرِضُوۡا وَ یَقُوۡلُوۡا سِحۡرٌ مُّسۡتَمِرٌّ  --  Dan jika mereka melihat suatu Tanda, mereka berpaling dan berkata, “Sihir yang selalu berulang.”           وَ کَذَّبُوۡا وَ اتَّبَعُوۡۤا اَہۡوَآءَہُمۡ وَ کُلُّ اَمۡرٍ مُّسۡتَقِرٌّ  -- Dan mereka mendustakan kebenaran dan mengikuti hawa nafsu mereka dan setiap perkara ada ketetapan waktunya. (Al-Qamar [54]:1-4).
  Peristiwa “bulan terbelah” menjadi dua yang dapat disaksikan oleh mata telanjang  —  baik telah menyalahi hukum alam fisika ataupun tidak — sukar di sangkal, sedang peristiwa itu nampaknya kekurangan bukti-bukti sejarah yang meyakinkan. Pada pihak lain, tidak ada seorang pun dapat memberanikan diri mengakui telah menyelami semua rahasia Allah Swt. atau sepenuhnya mengerti atau memahami semua rahasia alam
   Adalah mustahil bahwa peristiwa yang meliputi bagian besar wilayah bumi serupa itu, masih tetap tidak dimaklumi kalangan peneropong-peneropong bintang (para ahli observatori) di dunia ini, atau sama sekali tidak tercatat di dalam buku-buku sejarah. Tetapi  karena peristiwa itu sungguh tercantum di dalam kitab-kitab hadits yang sangat terpercaya, seperti Bukhari dan Muslim, dan sebab dituturkan secara berkesinambungan dalam riwayat-riwayat yang sumbernya dapat dipercaya, pula diriwayatkan oleh sahabat Nabi Besar Muhammad saw. saw. yang cendekia seperti Ibn Mas’ud r.a.,  peristiwa itu sungguh-sungguh menunjukkan bahwa gejala alam yang luar biasa pentingnya itu niscaya telah terjadi di masa beliau saw..
     Beberapa  ahli tafsir Al-Quran – di antaranya Razi – telah berusaha menguraikan masalah pelik itu dengan menyatakan bahwa peristiwa itu adalah gerhana bulan. Imam Ghazali dan Syah Waliullah juga berpegang pada pendapat babwa pada hakikatnya bulan tidak terbelah, melainkan Allah Swt. telah mengatur demikian rupa sehingga bulan nampak kepada orang-orang yang menyaksikannya sebagai sungguh-sungguh terbelah.
  Menurut Ibn ‘Abbas dan Syah ‘Abdul ‘Aziz, peristiwa itu semacam gerhana bulan. Tetapi bagaimana pun bila kita mengingat akan kuatnya bobot bahasa yang dipergunakan Al-Quran berkenaan dengan peristiwa itu nampaknya lebih daripada gerhana bulan biasa. Peristiwa itu sungguh-sungguh merupakan mukjizat besar yang ditampakkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.   atas desakan orang-orang kafir (Bukhari dan Muslim).

Peristiwa Kasyaf  &  Nubuatan Mengenai “Tumbangnya” Bangsa Arab

  Nampaknya peristiwa itu merupakan suatu kasyaf  Nabi Besar Muhammad saw.  – tidak ubah halnya seperti peristiwa tongkat Nabi Musa a.s.   berubah menjadi ular pun adalah suatu kasyaf (rukya) yang para ahli sihir dibuat ikut serta di dalamnya. Atau, boleh jadi seperti halnya pemukulan air laut yang dilakukan  oleh Nabi Musa a.s. dengan tongkat beliau, bertepatan dengan saat pasang surut, dan dengan demikian merupakan suatu mukjizat. Begitu pula boleh jadi Allah Swt. telah memerintahkan Nabi Besar Muhammad saw.   agar memperlihatkan mukjizat pembelahan bulan pada saat ketika suatu benda langit mengambil posisi di depan bulan demikian rupa, sehingga bulan nampak kepada orang-orang yang menyaksikan sebagai terbelah menjadi dua bagian.
  Tetapi keterangan yang paling dapat diterima dan juga mengandung makna keruhanian yang sangat mendalam, terletak pada kenyataan, bahwa bulan adalah lambang kebangsaan orang Arab dan lambang kekuasaan politik mereka, seperti halnya matahari merupakan lambang kebangsaan orang-orang Parsi.
  Tatkala Siti Shafiyah r.a.  anak perempuan Huyay ibn Akhthab, pemimpin orang-orang Yahudi dari Khaibar, menceritakan kepada ayahnya bahwa ia melihat mimpi  bahwa  bulan telah jatuh ke atas pangkuannya. sang ayah menampar muka beliau seraya berkata bahwa “Rupanya engkau menginginkan menikah dengan pemimpin bangsa Arab!.” Sesudah Khaibar jatuh, impian Siti Shafiyah menjadi sempurna, ketika beliau dipersunting oleh  Nabi Besar Muhammad saw.. (Zurqani & Usud al-Ghabbah).
  Begitu pula Siti ‘Aisyah r.a.  pernah melihat dalam mimpi  bahwa tiga buah bulan jatuh ke dalam kamar pribadi beliau, dan mimpi itu telah menjadi kenyataan ketika di sana jasad Nabi Besar Muhammad saw. , Abu Bakar Shiddiq r.a., dan Umar bin Khaththab r.a.,  berturut-turut dikebumikan (Mu’aththa’, Kitab al-Jana’iz).
    Makna simbolis bagi kata qamar bulan) pada ayat ini mengandung arti, bahwa saat kehancuran kekuasaan politik bangsa Arab, yang karenanya orang-orang kafir telah diperingatkan dalam QS.53:58, telah tiba: اِقۡتَرَبَتِ السَّاعَۃُ  --  “Telah dekat  Saat itu  وَ انۡشَقَّ  الۡقَمَرُ --  dan bulan terbelah”.
   Kata Saat dalam hal ini mungkin mengisyaratkan kepada pertempuran Badar, yang di dalam pertempuran itu hampir semua kepala dan pemimpin kabilah Quraisy terbunuh dan dasar kehancuran-mutlak kekuatan mereka telah diletakkan. Dengan demikian ayat ini merupakan nubuatan hebat, yang telah menjadi genap dengan sangat ajaib  kira-kira 8 atau 9 tahun sesudah nubuatan itu diumumkan.
    Teristimewa pula, menurut beberapa penulis, ungkapan bahasa Arab “insyaqqa al-qamaru,” berarti  “urusan itu telah menjadi nampak kentara.” Dalam arti ini ayat ini agaknya bermaksud, bahwa saat kehancuran kekuasaan kaum Quraisy telah tiba, dan kemudian akan menjadi nampak nyata  bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. seorang nabi Allah sejati.
   Mustamir   dalam ayat  وَ اِنۡ یَّرَوۡا اٰیَۃً  یُّعۡرِضُوۡا وَ یَقُوۡلُوۡا سِحۡرٌ مُّسۡتَمِرٌّ  --  Dan jika mereka melihat suatu Tanda, mereka berpaling dan berkata, “Sihir yang selalu berulang.” berarti : (1) sepintas, selintas, tidak kekal; (2) bersinambungan; (3) kuat, kokoh (Aqrab-al-Mawarid).
   Makna mustaqirr dalam ayat:    وَ کَذَّبُوۡا وَ اتَّبَعُوۡۤا اَہۡوَآءَہُمۡ وَ کُلُّ اَمۡرٍ مُّسۡتَقِرٌّ  -- Dan mereka mendustakan kebenaran dan mengikuti hawa nafsu mereka dan setiap perkara ada ketetapan waktunya” bahwa kehancuran kekuatan politik kaum Quraisy telah ditakdirkan oleh Allah Swt.  dan takdir Ilahi pasti terjadi. Demikianlah makna mengenai perisitiwa kasyaf  “terbelahnya bulan” di masa  Nabi Besar Muhammad saw..

Penampakan Malaikat Jibril  a.s. Dalam Wujud Seorang Laki-laki

 Hadits mengatakan kepada kita bahwa Malaikat Jibril  a.s. yang acap terlihat oleh Nabi Besar Muhammad saw.  dalam kasyaf-kasyaf beliau saw., pada suatu ketika juga terlihat oleh sahabat-sahabat beliau saw. yang tengah duduk-duduk bersama beliau saw. dalam wujud seorang laki-laki  (Bukhari, bab Iman). Demikian pula beberapa malaikat terlihat bahkan pula oleh beberapa orang kafir pada Perang Badar (Tafsir Ibnu Jarir, VI hlm. 47).
Contoh lain semacam ini terjadi ketika sebuah pasukan Islam di bawah pimpinan Sariya, penglima Islam termasyhur, sedang bertempur melawan musuh di Irak. Umar bin Khathtab r.a.,  Khalifah  Nabi Besar Muhammad saw. yang kedua, tatkala beliau saw. sedang  khutbah Jum’at di kota Medinah melihat dalam kasyaf bahwa pasukan Muslim sedang dikepung oleh musuh yang bilangannya besar dan bahwa pasukan Muslim terancam kekalahan yang hebat.
  Melihat hal itu  Umar bin Khathtab r.a.,   tiba-tiba menghentikan khutbah beliau, lalu berseru dari mimbar dengan mengatakan: “Hai Sariyah, naik ke bukit, naik ke bukit.” Sariyah yang berada pada jarak ratusan mil jauhnya serentak mendengar suara Sayyidina  Umar bin Khathtab r.a.,   di tengah gegap gempita medan pertempuran yang memekakkan telinga, segera menaati perintah Khalifah dan dengan demikian pasukan Islam itu telah selamat dari kehancuran (Khamis, ii, hlm. 370).

Mukjizat Tangan Bercahaya Putih

Jadi,  kembali kepada mukjizat tongkat Nabi Musa a.s., mukjizat Nabi Musa a.s. tersebut  mengandung makna yang istimewa. Mukjizat itu dapat ditafsirkan kurang lebih demikian: Allah Swt. berfirman kepada Nabi Musa a.s.  agar melem-parkan tongkatnya yang ketika itu nampak kepada beliau seperti ular, dan bila atas perintah Allāh beliau mengangkatnya maka ular itu hanya berupa sepotong kayu belaka.
 Dalam kasyaf  dan mimpi makna ular melambangkan musuh, sedangkan tongkat mengikaskan jemaat (Ta’thir-ul-anam). Dengan demikian lewat kasyaf itu Allah Swt.  memberitahukan kepada Nabi Musa a.s.  bahwa jika beliau melemparkan umatnya jauh dari beliau, mereka benar-benar akan bersifat ular. Tetapi jika beliau mengambil mereka di bawah asuhan sendiri, mereka akan menjadi jemaat yang kuat lagi baik, terdiri atas orang-orang mukhlis lagi bertakwa kepada Allah Swt.
 Makna mukjizat Nabi Musa a.s. berikutnya dalam ayat:  وَّ نَزَعَ یَدَہٗ  فَاِذَا ہِیَ بَیۡضَآءُ  لِلنّٰظِرِیۡنَ --    ”dan  ia mengulurkan tangannya lalu tiba-tiba tangannya itu menjadi putih bagi orang-orang yang memperhatikan” (Asy-Syu’ara [26]:34), tubuh orang-orang yang tinggi keruhaniannya mengeluarkan sinar-sinar berbagai warna menurut derajat atau sifat (kaifiat) perkembangan ruhani mereka.
  Sinar-sinar yang dikeluarkan tubuh para nabi  Allah itu putih bersih. Begitu pula sinar-sinar yang keluar dari tangan Nabi Musa a.s.  tentunya berwarna demikian juga bila sinar-sinar itu dinampakkan, tangan beliau tentu tampak berwarna putih kepada orang-orang yang melihatnya.  Orang-orang pernah mempunyai pengalaman-pengalaman ruhani semacam itu ada di masa nabi-nabi Allah lain juga.
 Allah Swt. berfirman kepada Nabi Musa a.s.:  “Masukkan tangan engkau ke dalam dada engkau, niscaya tangan itu akan keluar putih tanpa kesan buruk” (QS.28:33). Dalam bahasa perumpamaan kalimat itu merupakan satu isyarat yang jelas kepada Nabi Musa a.s.   bahwa bila beliau menghimpun pengikut-pengikut beliau langsung di bawah asuhan beliau, bukan hanya mereka sendiri akan menjadi manusia-manusia bercahaya, tetapi juga memberikan cahaya kepada orang-orang lain.
Tetapi bila tidak dihimpun dibawah asuhan Nabi Musa a.s.  mereka tidak hanya akan menjadi hitam, tetapi juga akan mengidap bermacam penyakit akhlaki atau akan berubah seperti ular  seperti  tongkat Nabi Musa a.s. yang dilemparkan beliau. Oleh karena itu mukjizat tersebut bukan pertunjukan tukang sihir, melainkan suatu Tanda Kebenaran yang sarat dengan arti keruhanian yang mendalam.
Menanggapi mukjizat-mukjizat Nabi Musa a.s. tersebut  Fir’aun menanggapinya negative, firman-Nya:
قَالَ لِلۡمَلَاِ حَوۡلَہٗۤ  اِنَّ ہٰذَا  لَسٰحِرٌ  عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾   یُّرِیۡدُ  اَنۡ یُّخۡرِجَکُمۡ مِّنۡ  اَرۡضِکُمۡ بِسِحۡرِہٖ ٭ۖ  فَمَا ذَا  تَاۡمُرُوۡنَ  ﴿﴾
Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar di sekelilingnya: “Sesungguhnya ia benar-benar tukang sihir yang pandai.   Dia berkehendak   dengan sihirnya mengeluarkan kamu dari negerimu  maka apakah yang kamu anjurkan?” (Asy-Syu’arā [26]:35-36).   
     Sihr berarti: akal licik, dursila; sihir; mengadakan apa-apa yang palsu dalam bentuk kebenaran; setiap kejadian yang sebab-sebabnya tersembunyi, dan disangka lain dari kenyataannya (Lexicon Lane). Jadi setiap kepalsuan, penipuan atau akal licik yang dimaksudkan untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dari penglihatan orang, adalah termasuk sihir juga.
       Kata sāhir tidak selamanya harus diartikan tukang sihir, kata itu pun berarti orang yang mempunyai daya pikat; orang yang terampil dan cerdas; orang yang sanggup membuat orang lain melihat sesuatu benda nampak lain dari keadaan yang sebenarnya; penipu, penyihir mata atau perayu, dan lain-lain (Lexicon Lane).        
  Kata-kata:   یُّرِیۡدُ  اَنۡ یُّخۡرِجَکُمۡ مِّنۡ  اَرۡضِکُمۡ بِسِحۡرِہٖ  -- “ Dia berkehendak   dengan sihirnya mengeluarkan kamu dari negerimu”  itu dimaksudkan untuk menghasut orang-orang Mesir supaya melawan Nabi Musa a.s.  padahal sebenarnya Nabi Musa a.s.  tidak berkeinginan mengusir mereka. Tugas beliau hanyalah harus membawa kaumnya sendiri keluar dari Mesir.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 17 Oktober 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar