Jumat, 30 September 2016

Tiga Syarat "Pengabulan Taubat" Oleh Allah Swt. & "Istighfar" Nabi Besar Muhammad Saw. Merupakan "Syafaat" Bagi Orang-orang Beriman Pengakut Hakiki Nabi Besar Muhammad Saw.


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 24

TIGA SYARAT PENGABULAN TAUBAT OLEH ALLAH SWT. & ISTIGHFAR NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MERUPAKAN SYAFAAT BAGI ORANG-ORANG BERIMAN PENGIKUT  HAKIKI BELIAU SAW.  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 23   dikemukakan  sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai bentuk-bentuk “maghfirah” yang harus diamalkan oleh umat Islam sebagai “umat terbaik” yang dijadikan bagi manfaat seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
       Tetapi di Akhir Zaman ini kenyataannya tidak demikian melainkan bukan saja di antara sesama mereka  telah saling mengkafirkan, bahkan saling membinasakan, padahal Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
“Sesungguhnya lenyapnya dunia ini adalah lebih ringan bagi Allah daripada membunuh jiwa seorang Muslim”. (HR At-Tirmidzi, juga oleh An-Nasa’i dan Ibn Majah).
Hal tersebut sesuai firman-Nya mengenai hukuman  terhadap Bani Israil (Al-Maidah [5]:33-35).

Dua Kali Hukuman Allah Swt. Kepada Bani Israil dan Bani Isma’il

         Sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  selaras dengan firman Allah Swt. mengenai kedengkian Kain terhadap saudaranya, Habel – dalam  monumental Dua anak Adam (QS.5:28-32)  -- selanjutnya Allah Swt. berfirman:  
مِنۡ اَجۡلِ ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ  اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ  اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِیۡنَ یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ ۚ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾  
Oleh sebab itu Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa: Barangsiapa yang membunuh seseorang,  padahal orang itu tidak pernah membunuh orang lain atau  telah mengadakan kerusakan  di bumi, maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia;  dan barangsiapa menyelamatkan nyawa seseorang maka ia seolah-olah menghidupkan seluruh manusia. Dan sungguh benar-benar telah datang ke-pada mereka  rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata, kemudian sesudah itu sungguh kebanyakan dari mereka benar-benar melampaui batas di bumi.  Sesungguhnya balasan bagi orang-orang  yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi ini ialah mereka dibunuh atau disalib atau pun dipotong tangan dan kakinya disebabkan oleh permusuhan mereka, atau mereka diusir dari negeri.  Hal demikian adalah penghinaan bagi mereka di dunia ini, dan di akhirat pun mereka akan mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang   yang  bertaubat sebelum kamu berkuasa atas mereka, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-Maidah [5]:33-35).
        Apa yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah suatu peristiwa yang serupa dengan apa yang tersebut di sini mengenai kedua putra Adam, tetapi peristiwa yang mengandung arti yang jauh lebih luas lagi penting itu, akan terjadi kelak di kemudian hari.
        Seorang nabi Allah akan muncul di antara saudara-saudara Bani Israil, yakni  dari kalangan  Bani Isma’il. Kenyataan ini akan menimbulkan kemarahan kaum Bani Israil terhadap nabi itu dan mereka akan menjadi haus darah karena disulut oleh rasa iri hati (kedengkian),  persis seperti Kain telah menjadi haus darah terhadap saudaranya, Habel.
     Nabi Allah tersebut bukan sembarang wujud. Dialah yang akan menjadi Pembaharu Dunia dan ditakdirkan membawa syariat abadi bagi segenap umat manusia yang seluruh masa depannya bergantung padanya (QS.5:4; QS.7:159; QS.21:108),  dan  karena itu membunuhnya adalah sama dengan membunuh seluruh umat manusia dan menyelamatkan jiwanya berarti sama dengan me-nyelamatkan seluruh umat manusia.

Bentuk-bentuk Hukuman Allah Swt.

    Islam tidak ragu-ragu mengambil tindakan-tindakan yang paling keras bila kepentingan negara atau masyarakat luas menghendaki demikian untuk membongkar sampai ke akar-akarnya suatu kejahatan yang berbahaya. Islam menolak tenggang-rasa palsu yang berdasar emosi khayali, namun  pada waktu menjatuhkan hukuman atas pelanggaran yang mengganggu ketertiban umum, Islam menggunakan akal dan pertimbangan-pertimbangan yang sehat.
     Hukuman yang ditetapkan di sini terdiri atas empat kategori. Bentuk hukuman yang dijatuhkan dalam suatu perkara tertentu akan bergantung pada suasana dan lingkungan. Memberikan atau menjatuhkan hukuman adalah menjadi wewenang pemerintah dan bukan wewenang perseorangan. Kata-kata diusir dari negeri, menurut Imam Abu Hanifah berarti dipenjarakan.
       Ayat ini dan ayat sebelumnya tidak mengisyaratkan kepada perampok-perampok dan penyamun-penyamun biasa melainkan kepada pemberontak dan penjahat-penjahat yang menyerang negara Islam, sebagaimana jelas dari kata-kata “yang memerangi Allah dan Rasul-Nya”. Kesimpulan demikian selanjutnya ditunjang oleh kenyataan bahwa ayat ini menjanjikan pengampunan kepada pelanggar-pelanggar hukum apabila mereka bertaubat.
    Tetapi nyata bahwa mereka yang berbuat jahat terhadap perseorangan-perseorangan atau terhadap masyarakat  -- seperti perampok-perampok dan pencuri-pencuri  --  dalam keadaan biasa tidak bisa diampuni oleh negara, sekalipun mereka bertaubat. Mereka tetap harus mengalami hukuman karena perbuatan jahat mereka sesuai dengan ketentuan hukum.
       Sudah   tentu taubat dapat menjamin mendapat ampunan dari Allah Swt.,   tetapi kekuasaan negara dalam hal ini terbatas. Akan tetapi penjahat-penjahat politik bisa dimaafkan   oleh negara jika mereka bertaubat dan berhenti dari kegiatan-kegiatan memberontak dan berhenti dari aktivitas-aktivitas lainnya yang mengganggu kebijaksanaan negara.

Tiga Syarat Pengabulan Taubat

      Sehubungan pengabulan taubat oleh Allah Swt.  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan syarat-syaratnya:
     “Perlu selalu diperhatikan bahwa ada tiga persyaratan pertobatan dimana tanpa pemenuhannya maka pertobatan hakiki tidak akan pernah bisa dicapai:
       Syarat pertama, adalah mengenyahkan segala khayalan buruk yang akan menimbulkan kecenderungan jahat. Sebab pemikiran atau gagasan memiliki daya yang amat kuat. Setiap tindakan selalu diawali dengan sebuah gagasan. Karena itu syarat utama bagi pertobatan adalah mengenyahkan segala fikiran dan khayalan buruk.
         Sebagai contoh, bila seseorang mempunyai hubungan gelap dengan seorang wanita dan bermaksud akan bertobat, perlu baginya membayangkan wanita tersebut sebagai seorang yang buruk rupa dan mengingat-ingat segala sifatnya yang rendah.
        Sebagaimana telah aku kemukakan, daya khayal mempunyai kekuatan pengaruh yang luar biasa. Aku pernah membaca dimana beberapa Sufi[1] telah membiarkan daya khayal mereka menerawang terlalu jauh, sehingga mereka melihat seseorang dalam rupa sebagai kera atau babi.
    Segala hal membentuk rona  sejalan dengan bagaimana kalian membayangkannya. Karena itulah sebagai syarat pertama pertobatan adalah agar semua fikiran yang mengajak kepada kenikmatan jahat harus dienyahkan sama sekali.
       Persyaratan kedua, adalah rasa penyesalan. Kesadaran batin tiap orang akan selalu mengingatkan jika yang bersangkutan melakukan suatu dosa, hanya saja mereka yang kurang beruntung terbiasa mengabaikan kesadaran batin tersebut. Karena itu seorang pendosa haruslah menyatakan rasa penyesalan atas segala dosa dan kelakuan buruknya serta menyadari bahwa kenikmatan yang didapat dari perbuatannya itu hanya bersifat amat sementara.
       Ia juga patut menyadari bahwa tingkat kenikmatan demikian kian lama kian menurun dan pada akhirnya ketika ia sudah tua dan semua kemampuan dirinya telah melemah, dengan sendirinya ia terpaksa harus melepaskan segala kenikmatan tersebut. Karena itu mengapa harus memperturutkan nafsu dalam suatu hal yang pada akhirnya harus ditinggalkan?
  Manusia yang paling beruntung adalah mereka yang bertobat dan meninggalkan semua fikiran kotor dan khayalan durjana. Dilambari penyesalan maka ia harus melepaskan semuanya.
     Syarat ketiga, adalah keteguhan niat bahwa ia tidak akan kembali lagi kepada semua keburukan yang telah ditinggalkan. Jika ia bersiteguh dalam niatnya tersebut maka Tuhan akan mengaruniakan kepadanya kekuatan bagi pertobatan hakiki dimana semua keburukannya akan tanggal dan digantikan oleh akhlak yang mulia serta amal yang saleh. Saat itu tercapailah kemenangan akhlak yang baik.
     Pada Tuhan-lah terletak kekuatan dan kekuasaan guna mencapai hal itu, karena Dia itulah Penguasa segala daya sebagaimana dinyatakan dalam ayat:
اَنَّ الۡقُوَّۃَ لِلّٰہِ جَمِیۡعًا
  “Segala kekuatan itu kepunyaan Allah (Al-Baqarah [2]:166).
(Malfuzat, jld. I, hlm.  138-140).

Pengertian Istighfar

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan pengertian istighfar, beliau a.s. bersabda:
      Makna hakiki   istighfar adalah permohonan kepada Allah Swt. agar kelemahan manusiawi janganlah sampai ditampakkan, dan harapan semoga Tuhan mau membantu dengan kekuatan-Nya secara alamiah serta  memasukkan mereka ke dalam lingkaran perlindungan-Nya.
    Akar kata istighfar adalah ghafara yang mengandung arti menutupi atau menyelimuti. Dengan demikian pengertian  istighfar ialah agar Tuhan berkenan menutupi kelemahan alamiah si pemohon dengan kekuatan-Nya.     Pengertian ini menjadi lebih luas dengan juga menyertakan pengertian menutupi dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.
   Namun pengertian hakikinya adalah permohonan agar Tuhan berkenan memelihara si pemohon terhadap kelemahan alamiah dirinya dan menganugrahkan kepadanya kekuatan dari Wujud-Nya, [menganugerahkan] pengetahuan dari khazanah-Nya dan cahaya dari Nur-Nya.
    Setelah menciptakan manusia, Tuhan tidak lalu melepaskan diri darinya. Sebagaimana Dia itu Pencipta manusia dan segala fitrat internal dan eksternal yang ada pada diri manusia, Dia juga bersifat Dzat Yang Tegak dengan Sendiri-Nya (Al-Qayyum), dengan pengertian bahwa Dia akan memelihara dan membantu segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Karena itu perlu selalu diingat oleh manusia bahwa mengingat ia telah diciptakan Tuhan maka ia harus menjaga karakteristik dirinya melalui fitrat Tuhan sebagai Sang Maha Pemelihara.

Istighfar Merupakan  Kebutuhan Alamiah Manusia

   Dengan demikian  adalah suatu kebutuhan alamiah bahwa manusia diperintahkan untuk selalu beristighfar sebagaimana tersirat dalam ayat:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ
Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri”(Al-Baqarah [2]:256).
      Ketika manusia sudah diciptakan maka fungsi penciptaan telah selesai tetapi fungsi pemeliharaan terus berlanjut selamanya dan karena itu istighfar selalu diperlukan sepanjang waktu. Setiap fitrat Ilahi memiliki suatu rahmat, dan istighfar dibutuhkan guna memperoleh rahmat dari fitrat   Al-Qayyum   --  “Tegak atas Dzat-Nya Sendiri”.
        Hal yang sama juga diindikasikan dalam Surah Al-Fatihah:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾
“Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan” (Al-Fatihah [5]:5).
       Yakni “dengan memohonkan pertolongan berdasar fitrat-Nya sebagai Yang Maha Pemelihara dan Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri agar kami ini dipeliharakan dari kejatuhan,  dan kelemahan kami jangan menjadi nyata terlihat karena akan mengakibatkan kami kurang dalam menyembah Engkau.”
      Dengan demikian jelas bahwa makna hakiki   istighfar adalah bukan karena telah terjadi suatu kesalahan, tetapi agar jangan sampai terjadi kesalahan apa pun. Manusia yang menyadari kelemahan dirinya secara alamiah berusaha memperoleh kekuatan dari Tuhan laiknya seorang anak mencari susu ibunya.
      Sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa sejak awal sudah mengaruniakan lidah, mata, hati, telinga dan lain-lain, Dia juga telah membekali diri manusia dengan hasrat untuk beristighfar serta perasaan ketergantungan kepada Tuhan untuk bantuan pertolongan. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
وَ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ
“Dan mohonlah ampunan untuk kelemahan-kelemahan insani engkau dan juga untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan (Muhammad [47]:20).
      Maksud dari ayat ini adalah perintah bagi Hadhrat Rasulullah Saw. agar memohon supaya fitrat beliau dipelihara  dari kelemahan-kelemahan yang bersifat insani,  dan fitrat tersebut agar diperkuat  supaya kelemahan beliau tidak menjadi tampak.

Istighfar  Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai Syafaat

      Beliau juga diperintahkan untuk berdoa sebagai syafaat bagi manusia laki-laki dan perempuan yang beriman kepada beliau, sehingga mereka itu terpelihara dari hukuman atas segala kesalahan yang telah mereka lakukan disamping memelihara mereka terhadap laku dosa dalam sisa umur mereka selanjutnya.
   Ayat ini mengandung falsafah yang amat luhur tentang syafaat dan pemeliharaan terhadap dosa. Ayat ini mengindikasikan bahwa manusia sebenarnya bisa mencapai derajat perlindungan yang tinggi terhadap dosa dan memperoleh syafaat jika beliau (Hadhrat Rasulullah Saw.) secara terus menerus berdoa bagi penekanan terhadap kelemahan dirinya sendiri, dan menyelamatkan umat lainnya dari racun dosa.
      Beliau memperoleh kekuatan dari Tuhan berkat doa beliau dan berhasrat agar mereka yang terkait dengan wujud beliau karena tali keimanan  juga mendapatkan manfaat dari kekuatan Ilahi tersebut.
     Seorang yang tidak punya dosa tetap saja perlu berdoa kepada Allah Swt. agar mendapat kekuatan, mengingat fitrat manusia sendiri tidak ada memiliki keunggulan  dan selalu bergantung kepada-Nya,  serta tidak mempunyai kekuatan sendiri karena bergantung pada bantuan kekuatan dari Tuhan serta tidak ada padanya nur sendiri yang sempurna melainkan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya.

Daya Tarik Fitrat yang Sempurna

    Fitrat yang sempurna dibekali dengan daya tarik yang mampu menarik kekuatan dari atas kepada dirinya yang berasal dari khazanah kekuatan yang ada pada Tuhan. Para malaikat memperoleh kekuatan dari khazanah tersebut, sebagaimana juga para manusia sempurna yang mendapatkan kekuatan agar luput dari dosa serta mendapatkan rahmat dari Sumber tadi melalui saluran penghambaan kepada Ilahi.
       Karena itu dari antara manusia ia dianggap suci dari  dosa secara sempurna bila mampu menarik ke dalam dirinya kekuatan Ilahi melalui istighfar serta terus menyibukkan dirinya dengan berdoa memohon agar nur tetap turun kepadanya.
        Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan istighfar? Istighfar adalah suatu sarana guna memperoleh kekuatan. Inti dari Ketauhidan Ilahi adalah kenyataan bahwa kondisi kesucian manusia bukanlah milik permanen dirinya,  melainkan harus diperoleh melalui pengagungan Tuhan sebagai Sumber segala rahmat.
    Allah Swt. secara metaforika (kiasan) mirip dengan jantung yang mengandung persediaan darah bersih, sedangkan istighfar dari seorang manusia sempurna adalah mirip urat nadi yang tersambung ke jantung tersebut guna menarik darah darinya dan menyalurkannya ke anggota tubuh yang memerlukan.” (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 187-190).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 28 September 2016





[1] Kelompok umat Muslim yang berorientasi pada mistisisme yang di awalnya bersumber pada berbagai pandangan di luar Islam tetapi kemudian berkembang secara khusus dalam masyarakat Muslim sendiri. Dikenal juga dengan nama Tasauf yang banyak sekali pengaruhnya pada filsafat agama dan telah menghasilkan berbagai pemikir Islami seperti Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jailani, Abdul Ghani ibn Isma’il  an-Nabulusi dan lain-lain. Merupakan kelompok-kelompok yang memiliki nama-nama khusus seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah dan lain-lain. (Penterjemah/Abdul Qayum Khalid)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar