Selasa, 13 September 2016

Pentingnya "Istghfar" dan "Maghfirah" Allah Swt. Dalam Masa "Kemenangan Islam" & Membantah Berbagai "Tuduhan Dusta" (Fitnah) Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 11

PENTINGNYA ISTIGHFAR DAN MAGHFIRAH ALLAH SWT.  DALAM MASA KEMENANGAN ISLAM &  MEMBANTAH BERBAGAI TUDUHAN DUSTA (FITNAH) TERHADAP NABI BESAR MUHAMMAD SAW. 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  bagian  Bab 10  telah   dikemukakan  pembukaan rahasia gaib Allah Swt. kepada Rasul Allah   dalam Al-Quran,  bahwa para  rasul Allah  -- termasuk Nabi besar Muhammad saw.  -- tidak mengetahui hal-hal yang gaib, kecuali apa-apa yang dibukakan  dan diberitahukan Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya  hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ   --  Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki,  فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ    -- karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  --  dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar.(Ali ‘Imran [3]:180).

Keistimewaan Pembukan Rahasia  Gaib Kepada Rasul Allah

    Ada pun tujuan pemilihan para rasul Allah tersebut adalah  dalam hubungannya pembukaan rahasia-rahasia gaib  oleh Allah Swt. – termasuk saat terjadinya azab Ilahi  atau Kiamat --  firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ  اَدۡرِیۡۤ  اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ  یَجۡعَلُ  لَہٗ  رَبِّیۡۤ   اَمَدًا ﴿﴾  عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ     وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui apakah yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Rabb-ku (Tuhan-ku) telah menetapkan baginya masa yang lama.”  عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا  -- Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا  --  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,          لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ            --  Supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ     وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا  --  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu.  (Al-Jin [2]:26-29). 
 Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting:   عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا  --  “Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun”.
 Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan Allah Swt. kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin muttaki lainnya.
  Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang muttaki dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
  Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang muttaki lainnya tidak begitu terpelihara.
     
Pentingnya Memohon Maghfirah di Masa Meraih Kemenangan

 Atas dasar  -- bahwa para rasul Allah tidak mengetahui hal-hal yang gaib   --  itulah mereka pun   senantiasa memanjatkan istighfar  serta   membutuhkan maghfirah Allah Swt.  guna menutupi  atau menghilangkan berbagai kelemahan insani  yang merupakan bagian dari fitrat manusia yang disebut dzanb,  sebagaimana firman-Nya berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ      َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا  --     Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ     -- Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datangوَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ      َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا --  dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,    وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا  --  dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4). 
     Dzanbaka  dalam ayat: وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ    berarti: dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau; dosa-dosa yang dituduhkan musuh-musuh engkau seakan-akan engkaulah melakukan dosa-dosa itu; kealpaan dan kelemahan  engkau sebagai manusia.
   Seseorang yang mempunyai martabat akhlak begitu sempurna (QS.68:5) seperti Nabi Besar Muhammad saw.  yang telah mengangkat derajat seluruh bangsa — yang  tenggelam ke dalam lubuk kejahatan akhlak sampai ke dasar yang paling dalam — ke puncak kemulaian ruhani tertinggi sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS.3:111; QS.62:3-4), tidak mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan akhlak demikian (QS.3:32; QS.33:22; QS.68:1-5), seperti dengan sia-sia telah dituduhkan oleh orang-orang yang biasa memperolok-olokkan beliau saw..

Perbedaan Arti Kata Dzanb dengan Junah, Jurm dan  Itsm  

   Sepatah kata sederhana dan polos, dzanb, telah dimanfaatkan untuk memfitnah beliau saw.. Kata itu berarti kelemahan-kelemahan yang melekat pada sifat insani dan pada kesalahan-kesalahan yang diprakirakan akan menimbulkan akibat-akibat merugikan.
 Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. akan melindungi Nabi Besar Muhammad saw.  – yang melimpahkan maghfirah  --  terhadap akibat-akibat merugikan yang akan datang kemudian sesudah kemenangan yang dijanjikan, seperti telah diisyaratkan oleh ayat sebelumnya, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾  وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondong, فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  --   maka  bertasbihlah dengan memuji  Rabb  (Tuhan) engkau,  dan mohonlah ampunan-Nya,  اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا  --  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.  (An-Nashr [110]:1-4). 
   Oleh karena itu berbondong-bondong orang akan masuk Islam maka dengan sendirinya penggemblengan dan pemeliharaan akhlak dan keruhanian mereka tidak akan mencapai taraf yang diharapkan. Itulah sebabnya  tatkala dalam Al-Quran keberhasilan dan kemenangan dijanjikan kepada  Nabi Besar Muhammad saw, pada waktu itu diperintahkan supaya  beliau saw. memohon perlindungan Allah atau maghfirah terhadap dzanb  beliau saw., yakni kelemahan-kelemahan insani yang akan menghalangi jalan pelaksanaan tugas besar beliau saw..
  Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu (junah, jurm, itsm) yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, menunjukkan, bahwa dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya tersebut.
   Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau telah melakukannya; atau dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau.”

Menggugurkan Semua Tuduhan Palsu Terhadap
Nabi Nabi Besar Muhammad saw.

   Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku), berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.” Jadi, ayat yang sedang dibahas ini akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — Perjanjian Hudaibiyah — itu, semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh  Nabi Besar Muhammad saw.  kepada beliau saw.   -- bahwa beliau seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt. dan manusia, dan sebagainya  akan terbukti palsu semua, sebab segala macam orang yang mempunyai hubungan dengan para pengikut beliau  saw. akan menjumpai kebenaran mengenai beliau saw. (QS.3:32; QS.33:22; QS.68:1-5).
 Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam  dosa mereka diampuni, sebagaimana Nabi Yusuf a.s. telah mengampuni kesalahan saudara-saudara beliau (QS.12:89-93).
  Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas Nabi Besar Muhammad saw. diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa, jika dzanb dianggap berarti dosa.
  Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang oleh musuh-musuh beliau saw. pun akan dielakkan dan beliau saw. akan terbukti sama sekali suci dari noda itu.
  Pertolongan Ilahi datang dalam bentuk tersebarnya agama Islam secara cepat di tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah, dan Nabi Besar Muhammad saw. diakui sebagai Kepala Negara satu pemerintah yang merdeka dan berdaulat, itulah makna   dzanb  berkenaan Nabi Besar Muhammad saw. dalam firman-Nya: 
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ      َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا  --     Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ     -- Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datangوَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ      َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا --  dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,    وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا  --  dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4). 

 Sabda-sabda Nabi Besar Muhammad Saw. Berkenaan Pentingnya Istighfar

 Mengenai pentingnya orang-orang beriman senantiasa memohon maghfirah Allah Swt.  berikut beberapa hadits Nabi Besar Muhammad saw.:
       Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307).
      Dari Al Agharr Al Muzanni, yang merupakan sahabat Nabi, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى وَإِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Ketika hatiku malas, aku beristighfar kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702).  
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هُمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “
Dari ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Allah memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (HR. Abu Daud no. 1518, Ibnu Majah no. 3819, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 6421 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kubra no. 10665).

Aktivitas Berkesinambungan Para Ahli Surga di Akhirat

  Karena Sifat Rabubiyat Allah Swt.  di alam akhirat juga tetap berlaku   karena itu  di alam akhirat pun  para penghuni surga akan terus menerus meraih kemajuan (perkembangan) yang tidak  tidak ada batas akhir, firman-Nya:
اِنَّ  اَصۡحٰبَ الۡجَنَّۃِ  الۡیَوۡمَ فِیۡ  شُغُلٍ فٰکِہُوۡنَ ﴿ۚ﴾   ہُمۡ وَ اَزۡوَاجُہُمۡ فِیۡ ظِلٰلٍ عَلَی الۡاَرَآئِکِ مُتَّکِـُٔوۡنَ ﴿﴾  لَہُمۡ فِیۡہَا فَاکِہَۃٌ  وَّ لَہُمۡ مَّا یَدَّعُوۡنَ ﴿ۚۖ﴾  سَلٰمٌ ۟ قَوۡلًا  مِّنۡ  رَّبٍّ  رَّحِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya para ahli surga pada hari itu akan bergembira dalam kesibukan mereka.   Mereka dan istri-istri mereka berada di tempat-tempat teduh   sambil bersandar di atas dipan-dipan.   Bagi mereka di dalamnya ter-sedia buah-buahan, dan bagi mereka  apa pun yang mereka minta.   ”Salām”  adalah  ucapan selamat dari Rabb ( Tuhan) Yang Maha Penyayang. (Yā Sīn [36]:56-59).
      Makna ayat اِنَّ  اَصۡحٰبَ الۡجَنَّۃِ  الۡیَوۡمَ فِیۡ  شُغُلٍ فٰکِہُوۡنَ  -- “Sesungguhnya para ahli surga pada hari itu akan bergembira dalam kesibukan mereka.”     Kehidupan di alam akhirat yang pada umumnya keliru diartikan itu, bukanlah kehidupan santai dan bermalas-malas, melainkan suatu kehidupan dengan kesibukan kerja terus-menerus dan kemajuan ruhani yang senantiasa meningkat. 
      Ayat selanjutnya: ہُمۡ وَ اَزۡوَاجُہُمۡ فِیۡ ظِلٰلٍ عَلَی الۡاَرَآئِکِ مُتَّکِـُٔوۡنَ  -- “Mereka dan istri-istri mereka berada di tempat-tempat teduh   sambil bersandar di atas dipan-dipan,”  menjelaskan bahwa segala kegembiraan dan kebahagiaan bertambah lipat ganda bila seseorang menikmatinya bersama-sama dengan orang-orang yang dicintainya, baik itu   istri-istri  mereka dan anak-anak mereka dan orang-orang tua mereka (QS.13:23-25; QS.40:8-10; QS.52:18-29)
      Dengan satu kata tunggal, salāām, yang artinya  “damai,” ayat ini mengikhtisarkan semua nikmat surga yang beraneka ragam itu  ialah “damai dengan Tuhan dan damai dengan diri sendiri,” yaitu  ketenteraman alam pikiran dan jiwa. Inilah taraf tertinggi rahmat surgawi:  سَلٰمٌ ۟ قَوۡلًا  مِّنۡ  رَّبٍّ  رَّحِیۡمٍ  --  ”Salām”  adalah  ucapan selamat dari Rabb ( Tuhan) Yang Maha Penyayang.” 
   Jadi, walau pun di dalam surga di akhirat para penghuninya tetap sibuk berakhtivitas, namun demikian rasa letih dan lemah – akibat melakukan kerja-keras  tersebut --  tidak akan lagi menyentuh  (dirasakan),  sebab kelelahan dan kelemahan akibat  bekerja  hanya terjadi di dalam  kehidupan di dunia  saja,  firman-Nya:
اِنَّ  الۡمُتَّقِیۡنَ  فِیۡ  جَنّٰتٍ  وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ؕ﴾  اُدۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ  اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾  وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ اِخۡوَانًا عَلٰی  سُرُرٍ  مُّتَقٰبِلِیۡنَ ﴿﴾  لَا  یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا نَصَبٌ  وَّ  مَا ہُمۡ  مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ ﴿﴾ 
Sesungguhnya  orang-orang yang bertakwa akan berada di dalam kebun-kebun dan mata air-mata air yang mengalir.  اُدۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ  اٰمِنِیۡنَ  --   Dikatakan: “Masuklah kamu   ke dalamnya dengan selamat sejahtera dan aman.”  Dan   Kami akan  mencabut segala dendam yang ada dalam dada mereka, sehingga mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas tahta-tahta,  لَا  یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا نَصَبٌ  وَّ  مَا ہُمۡ  مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ --  Di dalamnya   keletihan tidak akan menyentuh mereka dan  mereka sama sekali tidak akan dikeluarkan darinya. (Al-Hijr [15]:46-49). 

Makna Tidak Ada “Keletihan” yang Dirasakan Para Penghuni Surga

      Kata-kata “selamat” dan “aman” dalam ayat:    اُدۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ  اٰمِنِیۡنَ  --   Dikatakan: “Masuklah kamu   ke dalamnya dengan selamat sejahtera dan aman.”  masing-masing mengandung arti kebebasan dari kecemasan-kecemasan batin yang menggerogoti hati seseorang, dan kebebasan dari sakit dan hukuman lahiriah.  Dan hanya orang-orang yang hatinya bebas dari segala perasaan-perasaan dendam kesumat terhadap saudara-saudaranya, merekalah yang dapat dikatakan menikmati kehidupan surga yang sungguh-sungguh  di dunia ini  juga:  وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ اِخۡوَانًا عَلٰی  سُرُرٍ  مُّتَقٰبِلِیۡنَ  -- “Dan   Kami akan  mencabut segala dendam yang ada dalam dada mereka, sehingga mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas tahta-tahta”.
       Ayat  لَا  یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا نَصَبٌ  وَّ  مَا ہُمۡ  مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ --  “Di dalamnya   keletihan tidak akan menyentuh mereka dan  mereka sama sekali tidak akan dikeluarkan darinya”  mengandung arti, bahwa surga itu akan merupakan satu tempat, di mana amal-perbuatan akan tetap dan terus-menerus dilakukan.
      Namun kendatipun demikian, orang-orang beriman tidak akan merasa keletihan, sebagai akibat yang tak bisa dihindarkan dari kerja-berat, dan juga tenaga mereka tidak akan hilang atau berkurang sebagai akibat dari kelelahan, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ الَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ  مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ  لَخَبِیۡرٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾  جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ ﴿﴾  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Dan  Kitab yang Kami wahyukan kepada engkau adalah  kebenaran untuk menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat.  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا  ---  Kemudian Kitab itu Kami   wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami,  فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ  -- maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya, dan dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah, وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ   -- dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allah, itu adalah  karunia yang sangat besar.   Ganjaran mereka  Kebun-kebun abadi,  mereka akan memasukinya, di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ    --  Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargai,   الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ  --  Yang menempatkan kami di rumah abadi dari karunia-Nya, لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ  -- kesulitan   tidak menyentuh kami di dalamnya  dan tidak pula kelelahan  menyentuh kami di dalamnya.” (Al-Fāthir [35]:32-36).
      Makna ayat 33   bahwa seorang beriman melampaui berbagai tingkat disiplin keruhanian yang ketat:   فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ    --  “maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya.”   Pada tingkat pertama ia melancarkan peperangan yang sungguh-sungguh terhadap keinginan dan nafsu rendahnya (nafs-al-Ammarah – QS.12:54) serta mengamalkan peniadaan diri secara mutlak. Pada tingkat selanjutnya وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ --   “dan dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah” kemajuan ke arah tujuannya  hanya sebagian saja,  dan pada tingkat terakhir ia mencapai taraf akhlak sempurna, dan kemajuan ke arah tujuannya yang agung itu berlangsung cepat sekali dan merata:  وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ  --  “dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allah, itu adalah  karunia yang sangat besar.
      Kebebasan sepenuhnya dari setiap corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan hati berpadu dengan keridhaan Allah Swt. . merupakan tingkat tertinggi surga, yang telah dijanjikan Al-Quran kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat, sebagaimana diperlihatkan oleh ayat selanjutnya:   
جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ ﴿﴾  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Ganjaran mereka  Kebun-kebun abadi,  mereka akan memasukinyaیُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا  -- di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ  --  dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ    --  Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargai,   الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ  --  Yang menempatkan kami di rumah abadi dari karunia-Nya, لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ  -- kesulitan   tidak menyentuh kami di dalamnya  dan tidak pula kelelahan  menyentuh kami di dalamnya.” (Al-Fāthir [35]:34-36).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 11 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar