Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
11
PENTINGNYA ISTIGHFAR
DAN MAGHFIRAH ALLAH SWT. DALAM MASA KEMENANGAN
ISLAM & MEMBANTAH BERBAGAI TUDUHAN DUSTA (FITNAH) TERHADAP NABI
BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir bagian Bab 10
telah dikemukakan pembukaan rahasia gaib Allah Swt. kepada Rasul Allah dalam Al-Quran, bahwa para
rasul Allah -- termasuk Nabi besar Muhammad saw. -- tidak
mengetahui hal-hal yang gaib, kecuali apa-apa yang dibukakan dan diberitahukan Allah Swt. kepada mereka,
firman-Nya:
مَا
کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ
رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan
orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی
الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- Dan Allah
sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ
عَظِیۡمٌ -- dan jika
kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar.(Ali
‘Imran [3]:180).
Keistimewaan Pembukan Rahasia Gaib Kepada
Rasul Allah
Ada pun tujuan pemilihan para rasul Allah
tersebut adalah dalam hubungannya
pembukaan rahasia-rahasia gaib oleh Allah Swt. – termasuk saat terjadinya azab Ilahi atau Kiamat
-- firman-Nya:
قُلۡ
اِنۡ اَدۡرِیۡۤ اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ یَجۡعَلُ
لَہٗ رَبِّیۡۤ اَمَدًا ﴿﴾ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ
اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ
اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Aku tidak
mengetahui apakah yang dijanjikan
kepada kamu itu telah dekat ataukah Rabb-ku
(Tuhan-ku) telah menetapkan baginya masa
yang lama.” عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا -- Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا -- kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai, maka
sesungguhnya barisan pengawal berjalan
di hadapannya dan di belakangnya,
لِّیَعۡلَمَ
اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ --
Supaya Dia mengetahui bahwa sungguh mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb
(Tuhan) mereka, وَ اَحَاطَ
بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ
اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا -- dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala
sesuatu. (Al-Jin [2]:26-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala
al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan
dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan
mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting: عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا -- “Dia-lah
Yang mengetahui yang gaib, maka Dia
tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun”.
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna
membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang
dibukakan Allah Swt. kepada seorang rasul
Tuhan dan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan kepada orang-orang mukmin
muttaki lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib yakni penguasaan
atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang muttaki dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati
kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau
pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang muttaki
lainnya tidak begitu terpelihara.
Pentingnya Memohon Maghfirah di Masa Meraih Kemenangan
Atas
dasar -- bahwa para rasul Allah tidak mengetahui hal-hal yang gaib -- itulah mereka pun senantiasa memanjatkan istighfar serta membutuhkan maghfirah Allah Swt. guna menutupi
atau menghilangkan berbagai kelemahan insani yang merupakan bagian dari fitrat manusia yang disebut dzanb,
sebagaimana firman-Nya berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ لَکَ
اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ
مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ
َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. اِنَّا
فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا
-- Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan
nyata. لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ -- Supaya Allah melindungi engkau dari
dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا
مُّسۡتَقِیۡمًا -- dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan
memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, وَّ
یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا
عَزِیۡزًا -- dan Allah
akan menolong engkau dengan pertolongan
yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
Dzanbaka dalam
ayat: وَّ اسۡتَغۡفِرۡ
لِذَنۡۢبِکَ berarti:
dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau; dosa-dosa yang dituduhkan musuh-musuh
engkau seakan-akan engkaulah melakukan dosa-dosa itu; kealpaan dan
kelemahan engkau sebagai manusia.
Seseorang yang mempunyai martabat akhlak begitu sempurna (QS.68:5) seperti Nabi Besar Muhammad saw. yang telah mengangkat derajat seluruh bangsa — yang tenggelam
ke dalam lubuk kejahatan akhlak
sampai ke dasar yang paling dalam — ke puncak kemulaian ruhani tertinggi sebagai “umat terbaik” (QS.2:144;
QS.3:111; QS.62:3-4), tidak mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan akhlak demikian (QS.3:32; QS.33:22; QS.68:1-5),
seperti dengan sia-sia telah dituduhkan oleh orang-orang yang biasa memperolok-olokkan beliau saw..
Perbedaan Arti Kata Dzanb
dengan Junah, Jurm dan Itsm
Sepatah kata sederhana dan polos, dzanb,
telah dimanfaatkan untuk memfitnah
beliau saw.. Kata itu berarti kelemahan-kelemahan
yang melekat pada sifat insani dan pada kesalahan-kesalahan yang diprakirakan
akan menimbulkan akibat-akibat merugikan.
Ayat
ini mengandung arti bahwa Allah Swt. akan melindungi
Nabi Besar Muhammad saw. – yang melimpahkan maghfirah -- terhadap akibat-akibat merugikan yang akan datang kemudian sesudah kemenangan yang dijanjikan, seperti telah diisyaratkan oleh ayat sebelumnya,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اِذَا
جَآءَ نَصۡرُ اللّٰہِ وَ
الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Apabila datang
pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau
melihat manusia masuk dalam agama Allah
berbondong-bondong, فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ -- maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb
(Tuhan) engkau, dan mohonlah
ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ
تَوَّابًا -- sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr
[110]:1-4).
Oleh karena
itu berbondong-bondong orang akan masuk Islam maka dengan sendirinya penggemblengan dan pemeliharaan akhlak dan keruhanian
mereka tidak akan mencapai taraf
yang diharapkan. Itulah sebabnya tatkala dalam Al-Quran keberhasilan dan kemenangan
dijanjikan kepada Nabi Besar
Muhammad saw, pada waktu itu diperintahkan
supaya beliau saw. memohon perlindungan Allah atau maghfirah terhadap dzanb beliau saw., yakni kelemahan-kelemahan insani yang akan menghalangi jalan pelaksanaan tugas
besar beliau saw..
Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah,
jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang
disebut terlebih dahulu (junah, jurm, itsm) yang dipergunakan dalam
Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah,
menunjukkan, bahwa dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya tersebut.
Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran
ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap
mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau
telah melakukannya; atau dosa-dosa
yang diperbuat terhadap engkau.”
Menggugurkan Semua Tuduhan Palsu
Terhadap
Nabi Nabi Besar Muhammad saw.
Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb
itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain
dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku),
berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.”
Jadi, ayat yang sedang dibahas ini akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar
— Perjanjian Hudaibiyah — itu, semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan
yang dilemparkan musuh-musuh Nabi Besar
Muhammad saw. kepada beliau
saw. -- bahwa beliau seorang penipu, pendusta atau tukang
mengada-ada kebohongan terhadap Allah
Swt. dan manusia, dan sebagainya akan terbukti
palsu semua, sebab segala macam orang yang mempunyai hubungan dengan para
pengikut beliau saw. akan menjumpai kebenaran mengenai beliau saw.
(QS.3:32; QS.33:22; QS.68:1-5).
Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau
oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang
telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam dosa
mereka diampuni, sebagaimana Nabi Yusuf a.s. telah mengampuni kesalahan
saudara-saudara beliau (QS.12:89-93).
Hubungan
kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan
nikmat Ilahi atas Nabi Besar Muhammad saw. diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat
sebelum ini agaknya tidak mempunyai
perhubungan apa pun dengan pengampunan
terhadap dosa-dosa, jika dzanb
dianggap berarti dosa.
Kata-kata,
“di masa lalu dan di masa yang akan
datang”, maksudnya tuduhan-tuduhan yang
dilemparkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. di masa
lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan
yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang oleh musuh-musuh beliau saw. pun akan dielakkan dan beliau saw. akan terbukti
sama sekali suci dari noda itu.
Pertolongan Ilahi datang dalam bentuk
tersebarnya agama Islam secara cepat
di tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian
Hudaibiyah, dan Nabi Besar Muhammad saw. diakui sebagai Kepala Negara satu pemerintah yang merdeka
dan berdaulat, itulah makna dzanb berkenaan Nabi Besar Muhammad saw. dalam
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ لَکَ
اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ
مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ
َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. اِنَّا
فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا
-- Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan
nyata. لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ -- Supaya Allah melindungi engkau dari
dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا
مُّسۡتَقِیۡمًا -- dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan
memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, وَّ
یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا
عَزِیۡزًا -- dan Allah
akan menolong engkau dengan pertolongan
yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
Sabda-sabda
Nabi Besar Muhammad Saw. Berkenaan Pentingnya Istighfar
Mengenai pentingnya orang-orang beriman senantiasa memohon maghfirah Allah Swt. berikut beberapa hadits Nabi Besar Muhammad
saw.:
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi
Allah, aku sungguh beristighfar pada
Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam
sehari lebih dari 70 kali.” (HR.
Bukhari
no. 6307).
Dari Al Agharr Al Muzanni, yang merupakan
sahabat Nabi, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى وَإِنِّى
لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Ketika hatiku malas, aku beristighfar kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim
no. 2702).
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ
جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هُمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا،
وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “
Dari ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang
senantiasa beristighfar niscaya
Allah akan menjadikan baginya kelapangan
dari segala kegundahan yang
menderanya, jalan keluar dari segala
kesempitan yang dihadapinya dan
Allah memberinya rizki dari arah
yang tidak ia sangka-sangka.” (HR. Abu Daud no. 1518, Ibnu Majah no. 3819, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 6421 dan Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam
Al-Kubra no. 10665).
Aktivitas Berkesinambungan Para Ahli Surga di Akhirat
Karena Sifat Rabubiyat Allah Swt. di alam akhirat
juga tetap berlaku karena itu di alam
akhirat pun para penghuni surga akan terus menerus meraih
kemajuan (perkembangan) yang
tidak tidak ada batas akhir, firman-Nya:
اِنَّ
اَصۡحٰبَ الۡجَنَّۃِ الۡیَوۡمَ
فِیۡ شُغُلٍ فٰکِہُوۡنَ ﴿ۚ﴾ ہُمۡ وَ اَزۡوَاجُہُمۡ فِیۡ ظِلٰلٍ عَلَی
الۡاَرَآئِکِ مُتَّکِـُٔوۡنَ ﴿﴾ لَہُمۡ
فِیۡہَا فَاکِہَۃٌ وَّ لَہُمۡ مَّا
یَدَّعُوۡنَ ﴿ۚۖ﴾ سَلٰمٌ
۟ قَوۡلًا مِّنۡ رَّبٍّ
رَّحِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
para ahli surga pada hari itu akan
bergembira dalam kesibukan mereka. Mereka dan istri-istri mereka berada di
tempat-tempat teduh sambil bersandar di atas dipan-dipan. Bagi mereka di dalamnya ter-sedia buah-buahan, dan bagi mereka apa pun yang mereka
minta. ”Salām” adalah
ucapan selamat dari Rabb
( Tuhan) Yang Maha Penyayang. (Yā Sīn
[36]:56-59).
Makna ayat اِنَّ
اَصۡحٰبَ الۡجَنَّۃِ الۡیَوۡمَ
فِیۡ شُغُلٍ فٰکِہُوۡنَ -- “Sesungguhnya para ahli surga pada hari itu akan
bergembira dalam kesibukan mereka.” Kehidupan di alam akhirat yang pada umumnya keliru
diartikan itu, bukanlah kehidupan
santai dan bermalas-malas,
melainkan suatu kehidupan dengan kesibukan kerja terus-menerus dan kemajuan ruhani yang senantiasa meningkat.
Ayat selanjutnya: ہُمۡ وَ
اَزۡوَاجُہُمۡ فِیۡ ظِلٰلٍ عَلَی الۡاَرَآئِکِ مُتَّکِـُٔوۡنَ -- “Mereka dan istri-istri
mereka berada di tempat-tempat teduh sambil
bersandar di atas dipan-dipan,” menjelaskan bahwa segala kegembiraan dan kebahagiaan
bertambah lipat ganda bila seseorang menikmatinya bersama-sama dengan orang-orang yang dicintainya, baik itu istri-istri mereka dan
anak-anak mereka dan orang-orang tua
mereka (QS.13:23-25; QS.40:8-10; QS.52:18-29)
Dengan
satu kata tunggal, salāām, yang artinya
“damai,” ayat ini mengikhtisarkan
semua nikmat surga yang beraneka ragam itu ialah “damai
dengan Tuhan dan damai dengan diri
sendiri,” yaitu ketenteraman alam pikiran dan jiwa.
Inilah taraf tertinggi rahmat surgawi: سَلٰمٌ ۟
قَوۡلًا مِّنۡ رَّبٍّ
رَّحِیۡمٍ
-- ”Salām” adalah
ucapan selamat dari Rabb
( Tuhan) Yang Maha Penyayang.”
Jadi, walau pun di dalam surga di akhirat para penghuninya tetap sibuk berakhtivitas, namun demikian rasa
letih dan lemah – akibat
melakukan kerja-keras tersebut --
tidak akan lagi menyentuh (dirasakan),
sebab kelelahan dan kelemahan akibat bekerja hanya terjadi di dalam kehidupan
di dunia saja, firman-Nya:
اِنَّ
الۡمُتَّقِیۡنَ فِیۡ جَنّٰتٍ
وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ؕ﴾ اُدۡخُلُوۡہَا
بِسَلٰمٍ اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ اِخۡوَانًا
عَلٰی سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِیۡنَ ﴿﴾ لَا یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ
مَا ہُمۡ مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ
﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa akan berada di dalam kebun-kebun dan mata
air-mata air yang mengalir. اُدۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ اٰمِنِیۡنَ -- Dikatakan: “Masuklah kamu ke dalamnya dengan
selamat sejahtera dan aman.” Dan Kami
akan mencabut segala dendam yang
ada dalam dada mereka, sehingga
mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas tahta-tahta, لَا یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا
نَصَبٌ وَّ مَا ہُمۡ
مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ -- Di dalamnya
keletihan tidak akan menyentuh mereka dan
mereka sama sekali tidak akan dikeluarkan darinya. (Al-Hijr
[15]:46-49).
Makna Tidak Ada “Keletihan”
yang Dirasakan Para Penghuni Surga
Kata-kata “selamat” dan “aman” dalam
ayat: اُدۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ
اٰمِنِیۡنَ -- Dikatakan: “Masuklah kamu ke dalamnya dengan
selamat sejahtera dan aman.” masing-masing mengandung arti kebebasan dari kecemasan-kecemasan batin yang menggerogoti
hati seseorang, dan kebebasan
dari sakit dan hukuman lahiriah. Dan hanya orang-orang yang hatinya bebas dari
segala perasaan-perasaan dendam kesumat
terhadap saudara-saudaranya,
merekalah yang dapat dikatakan menikmati
kehidupan surga yang sungguh-sungguh
di dunia ini juga: وَ نَزَعۡنَا مَا
فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ اِخۡوَانًا عَلٰی
سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِیۡنَ -- “Dan Kami
akan mencabut segala dendam yang
ada dalam dada mereka, sehingga
mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas tahta-tahta”.
Ayat لَا یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا
نَصَبٌ وَّ مَا ہُمۡ
مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ -- “Di dalamnya
keletihan tidak akan menyentuh mereka dan
mereka sama sekali tidak akan dikeluarkan darinya” mengandung arti, bahwa surga itu akan merupakan satu
tempat, di mana amal-perbuatan
akan tetap dan terus-menerus dilakukan.
Namun kendatipun demikian, orang-orang beriman tidak akan merasa
keletihan, sebagai akibat yang tak bisa dihindarkan dari kerja-berat, dan juga tenaga mereka tidak akan hilang atau berkurang sebagai akibat
dari kelelahan, berikut firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ الَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ
اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ
الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ لَخَبِیۡرٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿﴾ ثُمَّ اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا
مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ
مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ جَنّٰتُ
عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ
لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ ﴿﴾ وَ
قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ
اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ
رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ
وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Dan Kitab
yang Kami wahyukan kepada engkau adalah kebenaran
untuk menggenapi apa yang sebelumnya.
Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya benar-benar Maha Mengetahui,
Maha Melihat. ثُمَّ
اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا --- Kemudian Kitab
itu Kami wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari
antara hamba-hamba Kami, فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ
مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ -- maka
dari antara mereka sangat zalim terhadap
dirinya, dan dari antara mereka ada
yang mengambil jalan tengah, وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ
بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ
الۡکَبِیۡرُ -- dan
dari antara mereka ada yang unggul dalam kebaikan dengan izin
Allah, itu adalah karunia yang sangat besar. Ganjaran
mereka Kebun-kebun abadi, mereka akan memasukinya, di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera. وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
الَّذِیۡۤ اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ
اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ -- Dan
mereka berkata: “Segala puji bagi Allah,
Yang telah menjauhkan kesedihan dari
kami. Sesungguhnya Rabb (Tuhan)
kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا
دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Yang menempatkan
kami di rumah abadi dari karunia-Nya,
لَا
یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ -- kesulitan tidak menyentuh kami di dalamnya dan tidak
pula kelelahan menyentuh kami
di dalamnya.” (Al-Fāthir [35]:32-36).
Makna ayat 33 bahwa seorang beriman melampaui berbagai tingkat disiplin keruhanian yang ketat: فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ -- “maka dari
antara mereka sangat zalim terhadap dirinya.” Pada
tingkat pertama ia melancarkan peperangan
yang sungguh-sungguh terhadap keinginan
dan nafsu rendahnya (nafs-al-Ammarah
– QS.12:54) serta mengamalkan peniadaan
diri secara mutlak. Pada tingkat selanjutnya وَ مِنۡہُمۡ
مُّقۡتَصِدٌ -- “dan dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah” kemajuan ke arah tujuannya hanya sebagian saja, dan pada tingkat
terakhir ia mencapai taraf akhlak
sempurna, dan kemajuan ke arah tujuannya yang agung itu berlangsung cepat sekali dan merata: وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ
بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ
الۡکَبِیۡرُ
-- “dan dari antara mereka ada yang
unggul dalam kebaikan dengan izin
Allah, itu adalah karunia yang sangat besar.”
Kebebasan sepenuhnya dari setiap corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai
yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan hati berpadu dengan keridhaan Allah Swt. . merupakan
tingkat tertinggi surga, yang telah
dijanjikan Al-Quran kepada orang-orang
beriman di dunia ini dan di akhirat, sebagaimana diperlihatkan oleh
ayat selanjutnya:
جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا
یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ
ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ
فِیۡہَا حَرِیۡرٌ ﴿﴾ وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا
دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ
ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Ganjaran
mereka Kebun-kebun abadi, mereka akan memasukinya, یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ
اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا -- di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara,
وَ
لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ -- dan
pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.
وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
الَّذِیۡۤ اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ
اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ -- Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha
Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا
دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Yang menempatkan
kami di rumah abadi dari karunia-Nya,
لَا
یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ -- kesulitan tidak menyentuh kami di
dalamnya dan tidak pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya.” (Al-Fāthir
[35]:34-36).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 11 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar