Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
7
MENGHIDUPKAN RUHANI YANG MATI MELALUI PENGUTUSAN RASUL
ALLAH & PENTINGNYA PERAN ISTIGHFAR
DAN MAGHFIRAH ILAHI BAGI KESUKSESAN DUNIA DAN AKHIRAT
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir bagian Bab
6 telah
dikemukakan mengenai “anak-anak cahaya” dan “anak-anak
kegelapan” sehubungan dengan makna “Nur di Atas Nur”, firman-Nya:
فِیۡ
بُیُوۡتٍ اَذِنَ اللّٰہُ اَنۡ
تُرۡفَعَ وَ یُذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ ۙ یُسَبِّحُ لَہٗ فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ۙ﴾ رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ اِقَامِ الصَّلٰوۃِ وَ اِیۡتَآءِ
الزَّکٰوۃِ ۪ۙ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ
الۡاَبۡصَارُ ﴿٭ۙ﴾ لِیَجۡزِیَہُمُ
اللّٰہُ اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ
یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ بِغَیۡرِ
حِسَابٍ ﴿﴾
Di dalam rumah yang Allah telah mengizinkan supaya ditinggikan
dan nama-Nya diingat di
dalamnya, bertasbih kepada-Nya di
dalamnya pada waktu pagi dan petang, رِجَالٌ ۙ لَّا
تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ وَّ لَا بَیۡعٌ
عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ اِقَامِ
الصَّلٰوۃِ وَ اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ -- Orang-orang
lelaki, tidak melalaikan mereka dari
mengingat Allah perniagaan dan tidak pula jual-beli, mendirikan shalat dan membayar zakat, یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا
تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ -- mereka
takut akan hari ketika di dalamnya hati dan mata berubah-ubah
(goncang), لِیَجۡزِیَہُمُ
اللّٰہُ اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ
یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ -- Supaya
Allah memberi mereka ganjaran yang sebaik-baiknya atas apa yang telah
mereka kerjakan, dan Allah akan
menambah kepada mereka dari karunia-Nya.
وَ
اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ
بِغَیۡرِ حِسَابٍ -- Dan
Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
(An-Nūr
[24]:37-39).
Mengenai “anak-anak kegelapan” dalam
surah yang sama Allah Swt. selanjutnya berfirman:
وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَعۡمَالُہُمۡ کَسَرَابٍۭ
بِقِیۡعَۃٍ یَّحۡسَبُہُ الظَّمۡاٰنُ مَآءً ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَہٗ لَمۡ
یَجِدۡہُ شَیۡئًا وَّ وَجَدَ
اللّٰہَ عِنۡدَہٗ فَوَفّٰىہُ
حِسَابَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿ۙ﴾ اَوۡ
کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ مَوۡجٌ مِّنۡ
فَوۡقِہٖ سَحَابٌ ؕ ظُلُمٰتٌۢ بَعۡضُہَا
فَوۡقَ بَعۡضٍ ؕ اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ
لَمۡ یَکَدۡ یَرٰىہَا ؕ وَ
مَنۡ لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ لَہٗ
نُوۡرًا فَمَا لَہٗ
مِنۡ نُّوۡرٍ ﴿٪﴾
Dan orang-orang kafir amal-amal mereka bagaikan fatamorgana di padang pasir, orang-orang yang haus menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya ia tidak mendapati sesuatu pun, dan ia mendapati Allāh di sisinya lalu Dia membayar penuh perhitungannya, dan Allah sangat cepat dalam perhitungan. Atau seperti
kegelapan di lautan yang dalam, di atasnya gelom-bang demi gelombang meliputinya, di atasnya lagi ada awan hitam. Kegelapan sebagiannya di atas sebagian lain. Apabila ia mengulurkan tangan-nya ia hampir-hampir
tidak dapat melihatnya, dan barangsiapa baginya Allah tidak menjadikan nur maka baginya tidak ada nur (An-Nūr [24]:40-41).
Akibat Buruk “Musim Kemarau
Ruhani” yang Lama & Peringatan
dan Nubuatan Bagi Umat
Islam
Sehubungan dengan adanya siklus pergantian siang dan malam atau perhantian cahaya
dan kegelapan di kalangan umat manusia tersebut (QS.3:191) mengisyaratkan perlunya kesinambungan pengutusan para Rasul Allah di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) serta pentingnya permohonan maghfirah
Allah Swt. melalui istighfar, sebagaimana dijelaskan Allah
Swt. dalam peringatan-Nya kepada umat Islam berikut ini, firman-Nya:
اَلَمۡ
یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ
یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ
لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang
beriman, bahwa hati mereka tunduk
untuk mengingat Allah dan mengingat
kebenaran yang telah turun kepada
mereka, dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab
sebelumnya, maka zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا -- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami
telah menjelaskan Tanda-tanda kepadamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadid [57]:17-18).
Dengan merujuk peristiwa yang pernah
terjadi di kalangan ahli Kitab – yakni Bani
Israil -- Allah Swt. memperingatkan umat Islam
yang menurut Nabi Besar Muhammad saw. dalam masa kemunduran selama 1000 tahun
(QS.32:6) -- setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad -- umat Islam
akan melakukan langkah-langkah
kehidupan buruk yang sama dengan Bani
Israil, firman-Nya: وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ
الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ -- “dan mereka tidak menjadi seperti
orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, maka zaman
kesejahteraan menjadi panjang
atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, وَ کَثِیۡرٌ
مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?”
Sejalan dengan ayat tersebut dalam surah
lain Allah Swt. berfirman mengenai
kaum-kaum purbakala:
بَلۡ مَتَّعۡنَا ہٰۤؤُلَآءِ وَ اٰبَآءَہُمۡ حَتّٰی طَالَ عَلَیۡہِمُ
الۡعُمُرُ ؕ اَفَلَا یَرَوۡنَ اَنَّا نَاۡتِی الۡاَرۡضَ نَنۡقُصُہَا مِنۡ
اَطۡرَافِہَا ؕ اَفَہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿﴾
Bahkan Kami telah memberi mereka dan orangtua
mereka kenikmatan hidup sehingga
umurnya menjadi panjang. Apakah mereka tidak melihat
bahwasanya Kami mendatangi bumi dengan
menguranginya da-ri segala tepinya? Maka apakah
mungkin mereka menjadi
orang-orang yang menang? (Al-Anbiya [21]:45).
Menghidupkan Ruhani yang Mati melalui
Pengutusan Rasul Allah
Jika suatu
kaum mengalami masa kesejahteraan nasional yang berlangsung lama, mereka mulai mempunyai anggapan
yang keliru bahwa kesejahteraan
dan kemajuan duniawi mereka
sekali-kali tidak akan mengalami
kemunduran, dan sebagai akibatnya mereka
menjadi sombong dan hati mereka
menjadi keras. Dengan demikian lamanya
berlangsung masa kesejahteraan mereka
menjadi penyebab kejatuhan mereka.
Ayat ini memperingatkan orang-orang kafir terhadap khayalan dan rasa kepuasan palsu bahwa kemajuan
dan kesejahteraan duniawi mereka akan
berlangsung untuk masa tidak terbatas,
dan mengatakan kepada mereka agar jangan menutup mata terhadap kenyataan yang
jelas bahwa Allah Swt. - -
dengan perlahan-lahan tetapi pasti --
akan mengurangi dan memotong bumi dari segala sisinya, yaitu agama Islam sedang masuk
ke tiap rumah dan ke dalam semua golongan serta lapisan masyarakat mereka.
Sunnatulah yang sama terjadi di kalangan umat Islam pada masa kemunduran mereka selama 1000 tahun setelah mengalmi masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.32:6), firman-Nya: اَلَمۡ یَاۡنِ
لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ اللّٰہِ وَ مَا
نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- “Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah
dan mengingat kebenaran yang telah turun kepada mereka,
dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab
sebelumnya.” (Al-Hadid [57]:17-18).
Makna firman-Nya: اِعۡلَمُوۡۤا
اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا -- Ketahuilah, bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya.
قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ
لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami
telah menjelaskan Tanda-tanda kepadamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadid [57]:18), bahwa sebagaimana
halnya Sunnatullah di alam jasmani melalui curahan air hujan maka bumi
yang mati akibat musim kemarau panjang dihidupkan
kembali, demikian pula Sunnatullah
yang berlaku di alam ruhani, yaitu
melalui pengutusan Rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37) Allah Swt. menghidupkan kembali keruhanian manusia yang sudah mati, terutama di kalangan umat Islam yang di Akhir Zaman ini telah terpecah-belah menjadi berbagai firqah yang saling bertentangan
dan saling mengkafirkan, firman-Nya:
مَا
کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ
رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya hingga
Dia memisahkan yang buruk
dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di an-tara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia
kehendaki, karena itu berimanlah
kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180).
Proses “Pemisahan” yang Berkesinambungan Melalui Pengutusan Rasul Allah
Ayat ini maksudnya adalah bahwa percobaan
dan kemalangan yang telah dialami
kaum Muslimin hingga saat itu tidak
akan segera berakhir. Masih banyak lagi percobaan
yang tersedia bagi mereka, dan percobaan-percobaan
itu akan terus-menerus datang, hingga orang-orang
beriman sejati, akan benar-benar dibedakan dari kaum munafik dan yang lemah
iman, sebagaimana firman-Nya:
اَمۡ
حَسِبۡتُمۡ اَنۡ تُتۡرَکُوۡا
وَ لَمَّا یَعۡلَمِ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ
جٰہَدُوۡا
مِنۡکُمۡ وَ لَمۡ یَتَّخِذُوۡا مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لَا
رَسُوۡلِہٖ وَ لَا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَلِیۡجَۃً ؕ وَ اللّٰہُ خَبِیۡرٌۢ بِمَا
تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan padahal Allah
belum mengetahui siapa di antaramu yang telah berjihad dan mereka
tidak mengambil sahabat selain Allah,
Rasul-Nya, dan orang-orang beriman? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (At-Taubah [19]:16).
Melakukan pemisahan yang buruk dari
yang baik di lingkungan umat Islam melalui pengutusan Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
tersebut merupakan Sunnatullah yang berlangsung di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), firman-Nya:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Dia-lah Yang
mengetahui yang gaib, maka Dia tidak men-zahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka
sesungguhnya baris-an pengawal berjalan
di hadapannya dan di belakangnya,
supaya Dia mengetahui bahwa
sungguh mereka telah menyam-paikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin
[72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi
pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan
mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting. Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat
dan jangkauan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan kepada seorang rasul Allahdan
rahasia-rahasia gaib yang dibukakan
kepada orang-orang mukmin muttaqi
lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib (penguasaan atas yang gaib), maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang muttaqi dan orang-orang
suci lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang muttaqi
lainnya tidak begitu terpelihara.
Pengutusan Rasul Akhir Zaman & Hizbullāh (Gologan Allah) Hakiki
Sunnatullah pengutusan Rasul
Allah tersebut berlaku pula di
kalangan umat Islam di Akhir Zaman ini -- setelah mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun setelah mengalami masa kejayaan
yang pertama selama 3 abad (QS.32:6)
-- firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ
یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ
یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ
عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا
وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ
یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ
الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾ وَ
مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ
اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum,
Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, mereka
akan bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang beriman dan keras
terhadap orang-orang kafir. Mereka akan
berjuang di jalan Allah dan tidak
takut akan celaan seorang pencela. Itulah karunia Allah, Dia memberikannya
kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah
Maha Luas karunia-Nya, Maha
Mengetahui. Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah, Rasul-Nya
dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.
وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡن -- Dan barangsiapa
menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai pelindung, maka sesungguhnya
jamaat Allah pasti menang. (Al-Maidah
[5]:55-57).
Ada pun yang dimaksud dengan حِزۡبَ اللّٰہِ
-- ”golongan Allah” adalah
golongan yang beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan di kalangan umat Islam (QS.58:21-23), sebab hanya
para pengikut Rasul Allah sajalah yang
memenuhi gambaran ayat:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ
یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ
یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ
عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman,
barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ
وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ -- maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum,
Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ
عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap
orang-orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir. یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ -- Mereka akan
berjuang di jalan Allah dan tidak
takut akan celaan seorang pencela. ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ
یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
-- Itulah karunia Allah, Dia
memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.” (Al-Maidah [5]:55).
Dua Macam Perumpamaan Umat Islam
Sehubungan
dengan ayat tersebut berikut firman Allah Swt. mengenai gambaran umat
Islam di masa Nabi Besar Muhammad saw.:
مُحَمَّدٌ رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ
اَشِدَّآءُ عَلَی الۡکُفَّارِ رُحَمَآءُ
بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ رُکَّعًا
سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنَ
اللّٰہِ وَ رِضۡوَانًا ۫
سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ
اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ
فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ
فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ
اَخۡرَجَ شَطۡـَٔہٗ فَاٰزَرَہٗ
فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ لِیَغِیۡظَ بِہِمُ الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad itu
adalah Rasul Allah, dan orang-orang besertanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang di antara mereka,
engkau melihat mereka rukuk serta sujud mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ
وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ اَثَرِ السُّجُوۡدِ -- ciri-ciri
pengenal mereka terdapat pada wajah
mereka dari bekas-bekas sujud. ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ
-- Demikianlah perumpamaan mereka
dalam Taurat, وَ
مَثَلُہُمۡ فِی الۡاِنۡجِیۡلِ -- dan perumpaman
mereka dalam Injil adalah laksana
tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi
kokoh, dan berdiri mantap pada
batangnya, menyenangkan
penanam-penanamnya لِیَغِیۡظَ بِہِمُ الۡکُفَّارَ -- supaya Dia
membangkitkan amarah orang-orang kafir dengan perantaraan itu. وَعَدَ
اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
-- Allah telah menjanjikan kepada orang-orang
yang beriman dan berbuat amal saleh
di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar. (Al-Fath
[48]:30).
Kata-kata, ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ فِی
التَّوۡرٰىۃِ -- “Demikianlah perumpamaan mereka dalam
Taurat,” dapat juga ditujukan kepada pelukisan yang diberikan oleh Bible,
yakni: “Kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu
datang hampir dari bukit Kades” (Terjemahan ini dikutip dari “Alkitab” dalam bahasa Indonesia,
terbitan “Lembaga Alkitab Indonesia” tahun 1958). Dalam bahasa
Inggrisnya berbunyi: “He shined forth from mount Paran and he came with ten
thousands of saints,” yang artinya: “Ia
nampak dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran dan ia datang dengan
sepuluh ribu orang kudus” (Deut.
33:2), Peny).
Ada pun ungkapan وَ مَثَلُہُمۡ
فِی الۡاِنۡجِیۡلِ -- “Dan perumpamaan mereka dalam Injil کَزَرۡعٍ -- adalah laksana
tanaman, “ dapat
ditujukan kepada perumpamaan lain dalam Bible, yaitu: “Adalah seorang penabur keluar
hendak menabur benih; maka sedang ia menabur, ada separuh jatuh di tepi jalan,
lalu datanglah burung-burung makan, sehinga habis benih itu. Ada separuh jatuh
di tempat yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, maka dengan segera
benih itu tumbuh, sebab tanahnya tidak dalam. Akan tetapi ketika matahari naik,
layulah ia, dan sebab ia tiada berakar, keringlah ia. Ada juga separuh jatuh di
tanah semak dari mana duri itu pun tumbuh serta membantutkan benih itu. Dan ada
pula se-paruh jatuh di tanah yang baik, sehingga mengeluarkan buah, ada yang
seratus, ada yang enam puluh, ada yang tiga puluh kali ganda banyaknya” (Matius 13:3-8).
Perumpamaan
yang pertama dalam Taurat nampaknya
dikenakan kepada para sahabat Nabi
Besar Muhammad saw. dan perumpamaan yang kedua dalkam Injil dikenakan kepada para pengikut rekan sejawat dan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yaitu Masih Mau’ud a.s. (QS.43:58) di Akhir Zaman ini, yang berawal dari suatu permulaan yang sangat kecil dan tidak berarti telah ditakdirkan
Allah Swt. berkembang menjadi suatu organisasi
perkasa, dan berangsur-angsur tetapi tetap maju menyampaikan tabligh Islam ke seluruh pelosok dunia,
sehingga Islam akan mengungguli dan menang atas semua agama
(QS.61:10), dan lawan-lawannya akan
merasa heran dan iri hati terhadap kekuatan
dan pamornya.
Pentingnya Peran Istighfar
dan Maghfirah Ilahi
Penyebutan maghfirah (istighfar) dalam ayat وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ
مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا -- Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar (Al-Fath
[48]:30) membuktikan bahwa betapa pentingnya peran istighfar atau maghfirah (pengampunan) Allah Swt. bagi kesuksesan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dalam meraih tingkaan-tingkatan kehidupan surgawi yang tidak terbatas,
terutama di alam akhirat (QS.66:9).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy
Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 7 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar