Jumat, 16 September 2016

Makna Kiasan "Perpaduan Dua Busur" Mengenai "Kedekatan" Allah Swt. Dengan Nabi Besar Muhammad Saw. & AllahSwt. dan Nabi Besar Muhammad Saw. "Saling Mendekati" Secara Vertikal




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 13

MAKNA KIASAN “PERPADUAN DUA BUSUR”  MENGENAI KEDEKATAN  ALLAH SWT. DENGAN    NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DALAM PERISTIWA MI’RAJ & ALLAH SWT. DENGAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. “SALING MENDEKATI” SECARA VERTIKAL

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  bagian  Bab 12    dijelaskan     kesempurnaan mi’raj ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. sehubungan dengan “bergerak  saling  mendekat” Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa  mi’raj,  karena seandainya  Allah Swt.   tidak berkenan “bergerak turun mendekati” dari maqam (martabat)   Ketuhanan Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya -- yang tidak dapat dibayangkan Kemaha-kesempurnaan-Nya  -- maka  tidak ada seorang manusia pun,  termasuk Nabi Besar Muhammad saw., yang akan mampu “naik mendekati-Nya”, apa lagi “berpadu dengan-Nya” sebagaimana digambarkan dalam ayat:   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی   -- “Kemudian ia, Rasulullah, men-dekati Allah, lalu Dia kian dekat kepa-danyaفَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  -- “Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,   atau lebih dekat lagi” dalam  firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿ ﴾   مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿ ﴾   وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿ ﴾   اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿ ﴾ع َلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿ ﴾ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿ ﴾   وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿ ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿ ﴾   فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿ ﴾   فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ  ﴾    
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi bintang apabila  jatuh.  Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru.  Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.   Perkataannya itu tidak lain me-lainkan wahyu yang diwahyukan.  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,      Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi. ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی --  Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی --   Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    --  Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. (An-Najm [53]:1-11). 
  Makna ayat:    مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی        --   “Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  --  Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  --   Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan.” Cita-cita dan asas-asas yang dikemukakan oleh  Nabi Besar Muhammad saw.    tidak salah  lagi pula beliau saw.  sekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas itu (yakni beliau juga tidak tersesat).
  Dengan demikian, mengingat cita-cita luhur dan mulia Nabi Besar Muhammad saw., dan mengingat pula cara beliau saw. menjalani hidup sesuai dengan cita-cita itu, beliau saw. adalah penunjuk-jalan yang terjamin dan aman (QS.3:32; QS.33:22; QS,4:70-71)..  Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam beberapa ayat berikutnya.

Wahyu Al-Quran Adalah Kalam (Firman) Allah

   Kalau ayat   اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  -- “Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan” membicarakan sumber asal wahyu  Nabi Besar  Muhammad saw. yang adalah dari Allah Swt.  maka dua ayat sebelumnya mengisyaratkan kepada khayalan kosong orang yang berotak miring dan kepada alam pikiran yang timbul dari nafsu pribadinya dan dorongan-dorongan ruh jahat.
  Makna ayat selanjutnya:  ع َلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی      --  “Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya” bahwa  Al-Quran adalah wahyu yang gagah perkasa, yang di hadapannya semua Kitab Suci terdahulu pudar artinya. ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی    – “Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy.
    Mirrah berarti: kekuatan karya atau kecerdasan, pertimbangan sehat, kete-guhan (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Dzū  mirrah dapat juga berarti  orang yang kekuatannya nampak kentara dengan lestari.    Ungkapan istawā ‘alā asy-syai-i    berarti  bahwa  “ia memperoleh atau memiliki  hak penguasaan atau pengaruh penuh atas barang itu”.
    Jika diterapkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  ungkapan ayat:    ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی    – “Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy”  akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek beliau saw. telah mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya, sehingga beliau saw. satu-satunya Rasul Allah yang layak mengemban  Al-Quran  yang merupakan  syariat yang terakhir dan yang tersempurna (QS.5:4; QS.33:73-74).
   Makna ayat selanjutnya:   وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی     -- “Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi.” Nabi Besar Muhammad saw.  telah mencapai batas tertinggi dalam mikraj beliau saw., ketika Allah Swt.     – yang “turun mendekati” beliau saw.  --  menampakkan Wujud-Nya kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempurna. Atau, ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dapat menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada  Nabi Besar Muhammad saw..
 Mengenai kata dalam ayat: فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    --  Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.”  Mā  kadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keheranan, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab). Ayat ini mengandung arti bahwa Allāh menurunkan wahyu kepada hamba-Nya, dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!

Makna Perpaduan Dua Buah Busur

    Makna ungkapan  dalla al-dalwa   sehubungan ayat selanjutnya:   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی --  Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya  berarti: ia menurunkan ember ke dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi. Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-al-‘Arab).
    Ayat ini berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  mendekati Allah Swt. dan Allah Swt. pun condong atau “turun  mendekati”   beliau saw. Ayat itu dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt.,   dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi, beliau saw.  turun kembali dan memberikan ilmu (makrifat Ilahi)   -- yakni ajaran Al-Quran   -- kepada segenap umat manusia.
    Qāb  dalam ayat   فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi”    berarti: (1) bagian busur antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan; (2) dari satu ujung busur ke ujung busur yang lain; (3) ukuran atau ruang. Orang Arab berkata  bainahumā  qāba qausaini, yakni di antara mereka berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat akrab.
   Peribahasa Arab yang mengatakan  ramaunā  ‘an qausin wāhidin, yakni  “mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu  bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane, Lisan-al-‘Arab; dan Zamakhsyari).
  Apa pun kandungan arti kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat   فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi”   ini bermaksud bahwa Nabi Besar Muhmmad saw.   terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj  dan menghampiri Allah  Swt.  – yang juga turun mendekati beliau saw.   -- sehingga jarak antara keduanya hilang sirna dan Nabi Besar Muhammad saw. . seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur”, yaitu “busur Ketuhanan” dan “busur kemanusiaan.
   Peribahasa ini mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu dan kemudian mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian merekasecara simbolik  menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.

Nabi Besar Muhammad Saw. dan Allah Swt.  Saling Mendekati  & Nabi Besar Muhammad saw.  Merupakan “Rahmat Bagi Seluruh Alam

     Bila kata tadalla dianggap mengenai Allah Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  naik (mi’raj) menuju Allah Swt. dan Allah Swt. turun (dalla) kepada beliau saw, sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.
  Bergeraknya kedua pihak  saling mendekati seperti itu sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam  hadits berikut ini:
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).
    Ungkapan  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi”    mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak  Nabi Besar Muhammad saw.  menjadi sama sekali  fana (sirna) dalam Sifat-sifat  Allah Swt. serta Pencipta-nya  -- sehingga beliau  saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Swt. Sendiri   -- maka di pihak lain beliau  saw. turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka, sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw., dan beliau saw.  menjadi titik-pusat tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan, firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan bagi kamu dan  terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang. (At-Taubah [9]:127).
       Ayat ini boleh dikenakan kepada orang-orang beriman  maupun kepada orang-orang kafir, tetapi terutama kepada orang-orang beriman, bagian permulaannya mengenai orang-orang kafir dan bagian terakhir mengenai orang-orang beriman.  Kepada orang-orang kafir nampaknya ayat ini mengatakan: “Nabi Besar Muhammad saw.  merasa sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu sekalipun kamu mendatangkan kepadanya segala macam keaniayaan dan kesusahan, namun hatinya begitu sarat dengan rasa kasih-sayang kepada umat manusia, sehingga tidak ada tindakan yang datang dari pihak kamu dapat mem-buatnya menjadi keras hati terhadap kamu dan membuat ia menginginkan keburukan bagi kamu. Ia begitu penuh kasih-sayang dan belas kasihan terhadap kamu, sehingga ia tidak tega hati melihat kamu menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan kesusahan kepada kamu.”
       Kepada orang-orang beriman  ayat ini berkata: “ Nabi Besar Muhammad saw.  penuh dengan kecintaan, kasih-sayang, dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan gembira ikut dengan kamu dalam menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi pula, seperti seorang ayah yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu  dengan sangat murah hati dan kasih-sayang.”

Bapak Ruhani” Umat Manusia &  Permohonan Nabi Musa a.a.  Ingin Menyaksikan Tajjali Ilahi Paling Sempurna 

      Mengapa demikian? Sebab Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar merupakan “bapak ruhani” seluruh umat manusia, sekali pun beliau  saw. bangsa Arab, firman-Nya:
اَلنَّبِیُّ  اَوۡلٰی بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ وَ اَزۡوَاجُہٗۤ  اُمَّہٰتُہُمۡ ؕ وَ اُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلٰی بِبَعۡضٍ فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ تَفۡعَلُوۡۤا  اِلٰۤی  اَوۡلِیٰٓئِکُمۡ مَّعۡرُوۡفًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿﴾
Nabi itu lebih dekat kepada orang-orang beriman daripada kepada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.  Tetapi me-nurut Kitab Allāh keluarga yang sedarah lebih dekat satu sama lain  daripada orang-orang beriman  dan orang-orang yang berhijrah,  kecuali jika kamu berbuat kebaikan terhadap sahabat kamu,  yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab Al-Quran.  (Al-Ahzāb [33]:7).
Firman-Nya lagi:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah   وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ -- dan meterai sekalian nabi, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:42).
   Jadi, kembali kepada ayat  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi”    (An-Najm [53]:10), kata-kata اَوۡ اَدۡنٰی  --  “atau lebih dekat lagi,” mengandung arti bahwa perhubungan antara Nabi Besar Muhammad saw.  dengan Allah Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran.
   Selanjutnya AllahSwt. berfirman: فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    --  Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan” (An-Najm [53]:11). Kata  mā  kadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keheranan, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-ul-Mawarid). Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. menurunkan wahyu  Al-Quran kepada hamba-Nya – yakni Nabi Besar Muhammad saw.   --  dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!
  Ayat-ayat 8 sampai 18 menggambarkan mikraj  Nabi Besar Muhammad saw.  ketika beliau  saw. secara ruhani dibawa ke langit dan dianugerahi pemandangan  suatu penjelmaan   ruhani Allah Swt., dan secara ruhani beliau  saw. naik sampai dekat sekali kepada Khaliq-nya (Allah Swt.).
   Pada hakikatnya, mikraj merupakan dua pengalaman ruhani; yaitu kenaikan ruhani  Nabi Besar Muhammad saw. dan turunnya tajalli (penampakan kebesaran) sempurna Allah Swt. kepada beliau saw., sebagaimana yang diminta oleh Nabi Musa a.s. agar Allah Swt. berkenan memperlihatkannya kepada beliau berkenaan    kesempurnaan ruhani  yang dimiliki “Nabi yang seperti Musa a.s.” sebagaimana dinubuatkan dalam  Bible (Ulangan 18:18-19) yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.46:11), firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perli-hatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempatnya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.”  فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  -- Maka  tatkala Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur,  dan Musa pun jatuh pingsan.  فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ      -- Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ     --  dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144). 

Makna Pernyataan Iman Nabi Musa a.s. Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

      Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan  Allah Swt. . dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah  Swt. dapat disaksikan oleh mata jasmani (QS.6:104). Jangankan melihat  Allah  Swt. dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka.
     Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan)  Allah  Swt.  sajalah yang dapat manusia saksikan  tetapi Wujud  Allah  Swt.   Sendiri tidak. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi Allah yang besar seperti Nabi Musa a.s. dengan segala makrifat mengenai Sifat-sifat Allah Swt. akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.
    Nabi Musa a.s.  mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan kekuasaan)  Allah Swt.  dan bukan Wujud-Nya Sendiri. Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli  Allah Swt.  dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (28:30). Jadi  apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan:  رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ  -- “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), tampakkanlah  kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
      Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan kepadakeinginan Nabi Musa a.s. menyaksikan  tajalli-sempurna Allah Swt.  yang kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad saw. beberapa masa kemudian. Nabi Musa a.s.   diberi janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22).
     Nubuatan tersebut  berkenaan dengan suatu tajalli  Ilahi lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s.,  karena itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt.  yang akan tampak dalam tajalli Ilahi yang dijanjikan itu. Nabi Musa a.s.  berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan Tajalli Ilahi itu  ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
     Nabi Musa a.s. diberitahu Allah Swt. bahwa bahwa Tajalli  Ilahi tersebut  berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,  tajalli Ilahi  itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, karena itu  Allah Swt.   memilih gunung untuk bertajalli.
      Dalam peristiwa ruhani (kasyaf) tersebut gunung itu berguncang  hebat  serta nampak  seakan-akan ambruk, dan Nabi Musa a.s. karena dicekam oleh pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri: فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  -- “maka  tatkala Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur,  dan Musa pun jatuh pingsan.”
      Dengan cara demikian  Nabi Musa a.s. dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri tempat  Allah  Swt.  bertajalli sebagaimana dimohonkan beliau.
      Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang  nabi Allah  yang lebih besar daripada Nabi Musa a.s. tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, Baginda Nabi Besar Muhammad saw., yang pada kesempatan itu pula Nabi Musa a.s. menyatakan beriman  kepada Nabi Besar Muhammad saw.: فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ      -- Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ     --  dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 13 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar