Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
13
MAKNA KIASAN “PERPADUAN DUA BUSUR” MENGENAI KEDEKATAN
ALLAH SWT. DENGAN NABI
BESAR MUHAMMAD SAW. DALAM PERISTIWA MI’RAJ
& ALLAH SWT. DENGAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. “SALING MENDEKATI” SECARA VERTIKAL
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir bagian
Bab 12 dijelaskan
kesempurnaan
mi’raj ruhani Nabi Besar Muhammad
Saw. sehubungan dengan “bergerak saling
mendekat” Allah Swt. dan Nabi
Besar Muhammad saw. dalam peristiwa mi’raj,
karena seandainya Allah Swt. tidak berkenan “bergerak turun mendekati” dari maqam (martabat) Ketuhanan
Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya -- yang
tidak dapat dibayangkan Kemaha-kesempurnaan-Nya -- maka
tidak ada seorang manusia pun,
termasuk Nabi Besar Muhammad saw.,
yang akan mampu “naik mendekati-Nya”,
apa lagi “berpadu dengan-Nya”
sebagaimana digambarkan dalam
ayat: ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- “Kemudian ia, Rasulullah,
men-dekati Allah, lalu Dia kian dekat kepa-danya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ
اَوۡ اَدۡنٰی -- “Maka
jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih
dekat lagi” dalam
firman-Nya berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی ۙ﴿ ﴾ مَا
ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿ ﴾ وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی ؕ﴿ ﴾
اِنۡ ہُوَ اِلَّا
وَحۡیٌ یُّوۡحٰی ۙ﴿ ﴾ع َلَّمَہٗ
شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿ ﴾ذُوۡ مِرَّۃٍ
ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿ ﴾ وَ
ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿ ﴾ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿ ﴾ فَکَانَ قَابَ
قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿ ﴾
فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی ﴿ؕ ﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Demi bintang apabila jatuh.
Tidaklah
sesat sahabat kamu dan tidak pula
keliru. Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti
keinginannya. Perkataannya itu tidak lain me-lainkan wahyu
yang diwahyukan. Tuhan
Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya, Pemilik
Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah,
berada di ufuk
tertinggi. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati
Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,
فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- Maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali
dari dua buah busur, atau
lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی
اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی -- Lalu Dia
mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang
telah Dia wahyukan. (An-Najm [53]:1-11).
Makna ayat:
مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا
غَوٰی -- “Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ
عَنِ الۡہَوٰی -- Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ ہُوَ
اِلَّا وَحۡیٌ یُّوۡحٰی -- Perkataannya
itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan.” Cita-cita dan asas-asas yang dikemukakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. tidak salah lagi pula beliau saw. sekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas
itu (yakni beliau juga tidak tersesat).
Dengan demikian, mengingat cita-cita
luhur dan mulia Nabi Besar
Muhammad saw., dan mengingat pula cara
beliau saw. menjalani hidup sesuai dengan cita-cita
itu, beliau saw. adalah penunjuk-jalan
yang terjamin dan aman (QS.3:32; QS.33:22; QS,4:70-71).. Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam
beberapa ayat berikutnya.
Wahyu Al-Quran Adalah Kalam
(Firman) Allah
Kalau ayat اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی -- “Perkataannya
itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan” membicarakan sumber asal wahyu Nabi Besar
Muhammad saw. yang
adalah dari Allah Swt. maka dua ayat sebelumnya mengisyaratkan kepada
khayalan kosong orang yang berotak miring dan kepada alam pikiran yang timbul dari nafsu pribadinya dan dorongan-dorongan ruh jahat.
Makna ayat
selanjutnya: ع َلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- “Tuhan
Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya”
bahwa Al-Quran adalah wahyu
yang gagah perkasa, yang di
hadapannya semua Kitab Suci terdahulu
pudar artinya. ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی – “Pemilik
Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy.”
Mirrah berarti: kekuatan karya atau
kecerdasan, pertimbangan sehat, kete-guhan (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Dzū mirrah dapat juga berarti orang
yang kekuatannya nampak kentara dengan lestari. Ungkapan istawā
‘alā asy-syai-i berarti bahwa “ia memperoleh atau memiliki hak penguasaan atau pengaruh penuh atas
barang itu”.
Jika diterapkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. ungkapan ayat: ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی – “Pemilik
Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy” akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek
beliau saw. telah mencapai kekuatan
dan kematangan sepenuh-penuhnya,
sehingga beliau saw. satu-satunya Rasul
Allah yang layak mengemban Al-Quran
yang merupakan syariat yang terakhir dan yang tersempurna
(QS.5:4; QS.33:73-74).
Makna ayat
selanjutnya: وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- “Dan
Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada
di ufuk
tertinggi.” Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai batas tertinggi dalam mikraj
beliau saw., ketika Allah Swt. – yang
“turun mendekati” beliau saw. -- menampakkan
Wujud-Nya kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempurna. Atau, ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dapat menunjuk
kepada Allah Swt. dan kepada Nabi
Besar Muhammad saw..
Mengenai kata mā dalam ayat: فَاَوۡحٰۤی
اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی --
Lalu Dia mewahyukan kepada
hamba-Nya apa yang telah Dia
wahyukan.” Mā kadang-kadang dipergunakan untuk
menyatakan kehormatan, keheranan, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab).
Ayat ini mengandung arti bahwa Allāh menurunkan wahyu kepada hamba-Nya, dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!
Makna Perpaduan Dua Buah Busur
Makna ungkapan dalla al-dalwa sehubungan ayat selanjutnya: ثُمَّ
دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati
Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya”
berarti: ia menurunkan ember ke dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar
dari perigi. Tadalla berarti:
ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati
atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-al-‘Arab).
Ayat ini berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mendekati
Allah Swt. dan Allah Swt. pun condong
atau “turun mendekati” beliau saw. Ayat itu dapat juga berarti
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya
kepada Allah Swt., dan
setelah minum dengan sepuas-puasnya
di sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi,
beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu
(makrifat Ilahi) -- yakni ajaran Al-Quran -- kepada segenap umat manusia.
Qāb dalam ayat فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی – “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah
busur, atau lebih dekat
lagi” berarti: (1) bagian busur antara
bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan; (2) dari satu
ujung busur ke ujung busur yang lain; (3) ukuran atau ruang. Orang Arab
berkata bainahumā qāba qausaini, yakni di antara mereka
berdua adalah seukuran busur, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat
akrab.
Peribahasa Arab yang
mengatakan ramaunā ‘an qausin wāhidin, yakni “mereka
memanah kami dari satu busur”, yaitu
bahwa “mereka seia-sekata melawan
kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon
Lane, Lisan-al-‘Arab;
dan Zamakhsyari).
Apa pun kandungan arti kata qāb itu, ungkapan qāba
qausaini menyatakan perhubungan
yang sangat dekat antara dua orang.
Ayat فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی – “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua
buah busur, atau lebih
dekat lagi” ini bermaksud bahwa Nabi Besar Muhmmad
saw. terus
menaiki jenjang-jenjang ketinggian mikraj dan menghampiri
Allah Swt. – yang juga turun mendekati beliau saw.
-- sehingga jarak antara keduanya hilang
sirna dan Nabi Besar Muhammad saw. . seolah-olah menjadi “seutas
tali dari dua busur”, yaitu “busur
Ketuhanan” dan “busur kemanusiaan.”
Peribahasa ini
mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan
orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat
mereka biasa menyatu-padukan busur-busur
mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur
itu nampak seperti satu dan kemudian
mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian merekasecara simbolik menyatakan
bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
Nabi Besar Muhammad Saw. dan
Allah Swt. Saling Mendekati & Nabi Besar
Muhammad saw. Merupakan “Rahmat Bagi Seluruh Alam”
Bila kata tadalla dianggap
mengenai Allah Swt. maka ayat ini
akan berarti bahwa Nabi Besar Muhammad
saw. naik (mi’raj) menuju
Allah Swt. dan Allah Swt. turun (dalla) kepada beliau saw, sehingga
kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.
Bergeraknya kedua
pihak saling mendekati seperti itu sesuai dengan sabda Nabi Besar
Muhammad saw. dalam hadits berikut ini:
Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-,
ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika
ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia
mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih
baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta.
Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia
datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan
berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim
no. 2675).
Ungkapan فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ
اَوۡ اَدۡنٰی – “maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali
dari dua buah busur, atau
lebih dekat lagi” mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak Nabi Besar Muhammad saw. menjadi sama sekali fana (sirna) dalam Sifat-sifat Allah Swt. serta Pencipta-nya -- sehingga
beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Swt. Sendiri -- maka di pihak lain beliau saw. turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka, sehingga sifat Ketuhanan
dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu
dalam diri beliau saw., dan beliau saw. menjadi titik-pusat
tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan, firman-Nya:
لَقَدۡ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ
عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Sungguh
benar-benar telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan
kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan
bagi kamu dan terhadap orang-orang beriman ia sangat berbelas kasih lagi penyayang. (At-Taubah
[9]:127).
Ayat ini boleh dikenakan kepada orang-orang beriman maupun kepada orang-orang kafir, tetapi terutama kepada orang-orang beriman, bagian permulaannya mengenai orang-orang kafir dan bagian terakhir
mengenai orang-orang beriman. Kepada orang-orang
kafir nampaknya ayat ini mengatakan: “Nabi Besar Muhammad saw. merasa
sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu sekalipun kamu mendatangkan kepadanya segala macam keaniayaan dan
kesusahan, namun hatinya begitu sarat dengan rasa kasih-sayang kepada umat
manusia, sehingga tidak ada tindakan
yang datang dari pihak kamu dapat mem-buatnya menjadi keras hati terhadap kamu
dan membuat ia menginginkan keburukan
bagi kamu. Ia begitu penuh
kasih-sayang dan belas kasihan
terhadap kamu, sehingga ia tidak tega
hati melihat kamu menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan kesusahan kepada kamu.”
Kepada orang-orang beriman ayat ini
berkata: “ Nabi Besar Muhammad saw. penuh dengan kecintaan,
kasih-sayang, dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan gembira ikut dengan kamu dalam menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi pula, seperti seorang ayah yang penuh dengan
kecintaan ia memperlakukan kamu dengan sangat
murah hati dan kasih-sayang.”
“Bapak Ruhani” Umat Manusia &
Permohonan Nabi Musa a.a. Ingin Menyaksikan Tajjali Ilahi Paling Sempurna
Mengapa demikian? Sebab Nabi
Besar Muhammad saw. benar-benar merupakan “bapak
ruhani” seluruh umat manusia,
sekali pun beliau saw. bangsa Arab, firman-Nya:
اَلنَّبِیُّ اَوۡلٰی بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡ اَنۡفُسِہِمۡ
وَ اَزۡوَاجُہٗۤ اُمَّہٰتُہُمۡ ؕ وَ
اُولُوا الۡاَرۡحَامِ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلٰی بِبَعۡضٍ فِیۡ کِتٰبِ اللّٰہِ مِنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ
اِلَّاۤ اَنۡ تَفۡعَلُوۡۤا اِلٰۤی
اَوۡلِیٰٓئِکُمۡ مَّعۡرُوۡفًا ؕ کَانَ ذٰلِکَ فِی الۡکِتٰبِ مَسۡطُوۡرًا ﴿﴾
Nabi itu
lebih dekat kepada orang-orang beriman
daripada kepada diri mereka sendiri,
dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.
Tetapi me-nurut Kitab Allāh keluarga yang sedarah
lebih dekat satu sama lain daripada orang-orang beriman dan orang-orang
yang berhijrah, kecuali jika kamu berbuat kebaikan terhadap sahabat
kamu, yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab Al-Quran. (Al-Ahzāb [33]:7).
Firman-Nya
lagi:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ
اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ
وَ کَانَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ -- dan meterai sekalian
nabi, dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:42).
Jadi, kembali kepada
ayat فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ
اَوۡ اَدۡنٰی – “maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali
dari dua buah busur, atau
lebih dekat lagi” (An-Najm [53]:10), kata-kata اَوۡ اَدۡنٰی -- “atau lebih dekat lagi,” mengandung
arti bahwa perhubungan antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran.
Selanjutnya AllahSwt. berfirman: فَاَوۡحٰۤی اِلٰی
عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی --
Lalu Dia mewahyukan kepada
hamba-Nya apa yang telah Dia
wahyukan” (An-Najm [53]:11). Kata mā kadang-kadang
dipergunakan untuk menyatakan kehormatan,
keheranan, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-ul-Mawarid). Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt.
menurunkan wahyu Al-Quran
kepada hamba-Nya – yakni Nabi Besar
Muhammad saw. -- dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!
Ayat-ayat 8 sampai 18
menggambarkan mikraj Nabi Besar
Muhammad saw. ketika beliau saw. secara
ruhani dibawa ke langit dan
dianugerahi pemandangan suatu penjelmaan ruhani Allah Swt., dan secara ruhani beliau saw. naik
sampai dekat sekali kepada Khaliq-nya (Allah Swt.).
Pada hakikatnya, mikraj merupakan dua pengalaman ruhani; yaitu kenaikan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. dan turunnya tajalli
(penampakan kebesaran) sempurna Allah
Swt. kepada beliau saw., sebagaimana yang diminta oleh Nabi Musa a.s. agar
Allah Swt. berkenan memperlihatkannya
kepada beliau berkenaan kesempurnaan ruhani yang dimiliki “Nabi yang seperti Musa a.s.” sebagaimana dinubuatkan dalam Bible (Ulangan 18:18-19) yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.46:11),
firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ
مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ
وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ
فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ
تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan
dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata:
“Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perli-hatkanlah kepadaku supaya aku dapat
memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau
tidak akan pernah dapat melihat-Ku
tetapi pandanglah gunung itu,
lalu jika ia tetap ada pada tempatnya maka engkau
pasti akan dapat melihat-Ku.” فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا -- Maka tatkala
Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya
pada gunung itu Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa
pun jatuh pingsan. فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
-- Lalu
tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat
kepada Engkau وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan aku
adalah orang pertama di antara orang-orang
yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).
Makna Pernyataan Iman
Nabi Musa a.s. Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
Ayat ini memberikan penjelasan
mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah
bagi seseorang menyaksikan Allah Swt. . dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun
tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt. dapat
disaksikan oleh mata jasmani
(QS.6:104). Jangankan melihat Allah Swt. dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak
dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka.
Begitu pula hanya tajalli
(penjelmaan keagungan) Allah Swt. sajalah yang dapat manusia saksikan tetapi Wujud Allah
Swt. Sendiri tidak. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi Allah yang besar seperti Nabi Musa
a.s. dengan segala makrifat mengenai Sifat-sifat Allah Swt.
akan mempunyai keinginan
mengenai hal-hal yang mustahil.
Nabi Musa a.s. mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan
kekuasaan) Allah Swt. dan
bukan Wujud-Nya Sendiri. Akan tetapi
beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli Allah Swt. dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (28:30).
Jadi apa gerangan maksud Musa a.s.
dengan perkataan: رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ -- “Ya
Rabb-ku (Tuhan-ku), tampakkanlah
kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
Permohonan itu nampaknya
mengisyaratkan kepadakeinginan Nabi Musa a.s. menyaksikan tajalli-sempurna
Allah Swt. yang
kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad saw. beberapa
masa kemudian. Nabi Musa a.s. diberi
janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan
meletakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22).
Nubuatan tersebut berkenaan dengan suatu tajalli Ilahi
lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s., karena itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt. yang
akan tampak dalam tajalli Ilahi yang dijanjikan
itu. Nabi Musa a.s. berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan Tajalli Ilahi itu
ada yang dapat diperlihatkan kepada
beliau.
Nabi Musa a.s. diberitahu Allah Swt. bahwa bahwa Tajalli Ilahi
tersebut berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya, tajalli Ilahi itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, karena itu Allah Swt. memilih
gunung untuk bertajalli.
Dalam peristiwa
ruhani (kasyaf) tersebut gunung
itu berguncang hebat serta nampak
seakan-akan ambruk, dan Nabi
Musa a.s. karena dicekam
oleh pengaruh guncangan itu rebah
tidak sadarkan diri: فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ
لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ
خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا -- “maka tatkala
Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya
pada gunung itu Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa
pun jatuh pingsan.”
Dengan cara demikian Nabi Musa a.s. dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri tempat
Allah Swt. bertajalli sebagaimana dimohonkan
beliau.
Hak istimewa yang unik itu
disediakan untuk seorang nabi Allah yang lebih
besar daripada Nabi Musa a.s. tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, Baginda
Nabi Besar Muhammad saw., yang pada kesempatan itu pula Nabi Musa a.s.
menyatakan beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw.: فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
-- Lalu
tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat
kepada Engkau وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan aku
adalah orang pertama di antara orang-orang
yang beriman kepadanya di masa ini.”
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 13 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar