Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
12
MAKNA TIDAK ADA KELETIHAN DALAM SURGA DAN KETIDAKTERBATASAN TINGKATAN
SURGA & HAKIKAT MI’RAJ NABI BESAR MUHAMMAD
SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir bagian
Bab 11 dijelaskan
makna tidak ada “keletihan” yang dirasakan para penghuni
surga, firman-Nya:
اِنَّ
الۡمُتَّقِیۡنَ فِیۡ جَنّٰتٍ
وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ؕ﴾ اُدۡخُلُوۡہَا
بِسَلٰمٍ اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ اِخۡوَانًا
عَلٰی سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِیۡنَ ﴿﴾ لَا یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ
مَا ہُمۡ مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ
﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa akan berada di dalam kebun-kebun dan mata
air-mata air yang mengalir. اُدۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ اٰمِنِیۡنَ -- Dikatakan: “Masuklah kamu ke dalamnya dengan
selamat sejahtera dan aman.” Dan Kami
akan mencabut segala dendam yang
ada dalam dada mereka, sehingga
mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas tahta-tahta, لَا یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا
نَصَبٌ وَّ مَا ہُمۡ
مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ -- Di dalamnya
keletihan tidak akan menyentuh mereka dan
mereka sama sekali tidak akan dikeluarkan darinya. (Al-Hijr
[15]:46-49).
Suasana Damai dan Aman Dalam Surga
Kata-kata “selamat” dan “aman”
dalam ayat: اُدۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ اٰمِنِیۡنَ -- Dikatakan: “Masuklah kamu ke dalamnya dengan
selamat sejahtera dan aman.” masing-masing mengandung arti kebebasan dari kecemasan-kecemasan batin yang menggerogoti
hati seseorang, dan kebebasan
dari sakit dan hukuman lahiriah. Dan hanya orang-orang yang hatinya bebas dari
segala perasaan-perasaan dendam kesumat
terhadap saudara-saudaranya,
merekalah yang dapat dikatakan menikmati
kehidupan surga yang sungguh-sungguh
di dunia ini juga: وَ نَزَعۡنَا مَا
فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ اِخۡوَانًا عَلٰی
سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِیۡنَ -- “Dan Kami
akan mencabut segala dendam yang
ada dalam dada mereka, sehingga
mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas tahta-tahta”.
Ayat لَا یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا
نَصَبٌ وَّ مَا ہُمۡ
مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ -- “Di dalamnya
keletihan tidak akan menyentuh mereka dan
mereka sama sekali tidak akan dikeluarkan darinya” mengandung arti, bahwa surga itu akan merupakan satu
tempat di mana amal-perbuatan akan tetap
dan terus-menerus dilakukan, firman-Nya:
اِنَّ اَصۡحٰبَ
الۡجَنَّۃِ الۡیَوۡمَ فِیۡ شُغُلٍ فٰکِہُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Sesungguhnya
para ahli surga pada hari itu akan bergembira dalam kesibukan2454 mereka. (Yā Sīn [36]:56).
Kehidupan di alam akhirat -- yang pada umumnya keliru diartikan itu -- bukanlah kehidupan santai dan bermalas-malas,
melainkan suatu kehidupan dengan kesibukan kerja terus-menerus dan kemajuan ruhani yang senantiasa
meningkat. (QS.66:9), namun kendatipun demikian, orang-orang beriman tidak akan merasa keletihan, sebagai akibat yang tak bisa dihindarkan dari kerja-berat, dan juga tenaga mereka tidak akan hilang atau berkurang sebagai akibat
dari kelelahan, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ الَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ
اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ
الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ لَخَبِیۡرٌۢ
بَصِیۡرٌ ﴿﴾ ثُمَّ اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا
مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ
مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ جَنّٰتُ
عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ
لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ ﴿﴾ وَ
قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ
اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ
رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ
وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Dan Kitab yang Kami wahyukan kepada engkau
adalah kebenaran untuk menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya
benar-benar Maha Mengetahui, Maha
Melihat. ثُمَّ اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا
مِنۡ عِبَادِنَا --- Kemudian Kitab
itu Kami wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari
antara hamba-hamba Kami, فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ
مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ -- maka
dari antara mereka sangat zalim terhadap
dirinya, dan dari antara mereka ada
yang mengambil jalan tengah, وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ
بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ
الۡکَبِیۡرُ -- dan
dari antara mereka ada yang unggul dalam kebaikan dengan izin
Allah, itu adalah karunia yang sangat besar. جَنّٰتُ عَدۡنٍ
یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ
لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ -- Ganjaran mereka Kebun-kebun
abadi, mereka akan memasukinya, di dalamnya
mereka dihiasi dengan gelang-gelang
emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.
وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
الَّذِیۡۤ اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ
اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ -- Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha
Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا
دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Yang menempatkan
kami di rumah abadi dari karunia-Nya,
لَا
یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ -- kesulitan tidak menyentuh kami di
dalamnya dan tidak pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya.” (Al-Fāthir
[35]:32-36).
Berbagai Tingkatan Jihad
Ruhani di Dunia & Makna Kebebasan
dari Rasa Lelah dan Lemah
Dalam Surga
Makna ayat 33 bahwa seorang beriman melampaui berbagai tingkat disiplin keruhanian yang ketat: فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ -- “maka dari
antara mereka sangat zalim terhadap dirinya.” Pada
tingkat pertama ia melancarkan peperangan
yang sungguh-sungguh terhadap keinginan
dan nafsu rendahnya (nafs-al-Ammarah
– QS.12:54) serta mengamalkan peniadaan
diri secara mutlak.
Pada
tingkat selanjutnya وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ -- “dan dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah” kemajuan ke arah tujuannya hanya sebagian saja, dan pada tingkat
terakhir ia mencapai taraf akhlak
sempurna, dan kemajuan ke arah tujuannya yang agung itu berlangsung cepat sekali dan merata: وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ
بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ
الۡکَبِیۡرُ
-- “dan dari antara mereka ada yang
unggul dalam kebaikan dengan izin
Allah, itu adalah karunia yang sangat besar.”
Kebebasan sepenuhnya dari setiap corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai
yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan hati berpadu dengan keridhaan Allah Swt. merupakan tingkat tertinggi surga, yang telah dijanjikan Al-Quran kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat, sebagaimana diperlihatkan oleh ayat selanjutnya:
جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا
یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ
ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ
فِیۡہَا حَرِیۡرٌ ﴿﴾ وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾ الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا
دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ
ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Ganjaran
mereka Kebun-kebun abadi, mereka akan memasukinya, یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا -- di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara,
وَ
لِبَاسُہُمۡ فِیۡہَا حَرِیۡرٌ -- dan
pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.
وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ
الَّذِیۡۤ اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ
اِنَّ رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ شَکُوۡرُۨ -- Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha
Pengampun, Maha Menghargai, الَّذِیۡۤ اَحَلَّنَا
دَارَ الۡمُقَامَۃِ مِنۡ فَضۡلِہٖ -- Yang menempatkan
kami di rumah abadi dari karunia-Nya,
لَا
یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا لُغُوۡبٌ -- kesulitan tidak menyentuh kami di
dalamnya dan tidak pula kelelahan menyentuh kami di dalamnya.” (Al-Fāthir
[35]:34-36).
Kebebasan
sepenuhnya dari rasa lelah dan setiap
corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan
hati berpadu dengan keridhaan Allah
Swt. merupakan tingkat
tertinggi surga, yang telah dijanjikan
Al-Quran kepada orang-orang beriman
di dunia ini dan di akhirat, sebagaimana diperlihatkan oleh
ayat-ayat 35-36.
Ketidak-terbatasan Tingkatan Surga
Pendek kata, sebagaimana halnya kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt. dan penampakannya tidak ada batas akhirnya (QS.6:92; 22:75; QS.39:68-71; QS.55:27-31;), demikian
pula penganugerahan rangkaian kenikmatan
surgawi di alam akhirat pun tidak
mengenal batas akhir pula.
Mengisyaratkan kepada ketiadaan
batas akhir kesempurnaan Sifat-sifat
Allah Swt. – yang apabila
orang-orang bertakwa meraihnya merupakan “surga yang hakiki” -- itulah
yang diisyaratkan dalam Surah An-Najm berkenaan mi’raj (kenaikan ruhani) Nabi Besar Muhammad
saw., digambarkan bahwa yang “bergerak mendekat”
itu bukan hanya Nabi Besar Muhammad saw. saja yang “bergerak naik”, tetapi Allah Swt. juga “bergerak turun” dari maqam
Ketuhanan Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya yang kesempurnaannya tidak dapat dibayangkan -- seperti tidak terbatasnya rahasia khazanah ciptaan
Allah Swt. (QS.18:110; QS.32:28) dan hakikat “nikmat-nikmat surgawi” -- firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ
نَفۡسٌ مَّاۤ اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ
قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui
apa yang tersembunyi bagi mereka
dari penyejuk mata sebagai balasan
terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah [32]:18).
Waktu
Nabi Besar Muhammad saw. menggambarkan
bentuk dan sifat nikmat dan kesenangan
surga, beliau saw. diriwayatkan
pernah bersabda: “Tiada mata pernah
melihatnya (nikmat surga itu) dan tiada pula telinga pernah mendengarnya, tidak
pula pikiran manusia dapat membayangkannya” (Bukhari, Kitab
Bad’al-Khalaq).
Hadits itu menunjukkan bahwa nikmat
kehidupan ukhrawi tidak akan bersifat kebendaan.
Nikmat-nikmat surgawi itu akan
merupakan penjelmaan-keruhanian perbuatan
dan tingkah-laku baik yang telah
dikerjakan orang-orang bertakwa di
alam dunia ini.
Jadi, kata-kata yang dipergunakan
dalam Al-Quran untuk menggambarkan nikmat-nikmat
surgawi itu telah
dipakai hanya dalam arti kiasan. Ayat
yang sekarang pun dapat berarti bahwa karunia
dan nikmat Ilahi yang akan
dilimpahkan kepada orang-orang beriman yang bertakwa
di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan.
Nikmat-nikmat surgawi itu akan berada jauh
di luar batas jangkauan daya cipta
manusia untuk memahami hakikatnya, terlebih lagi penganugerahan nikmat-nikmat surgawi tersebut akan terus
menerus meningkat sejalan dengan kemajuan
ruhani yang diraih para ahli surga di dalam surga sesuai “kerja-kerasnya” (QS.23:13-18; QS.36:
56-59; QS.78:13; QS.84:20), firman-Nya:
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, تُوۡبُوۡۤا
اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا -- bertaubatlah
kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas
taubat. عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ -- Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan
menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan
kamu وَ یُدۡخِلَکُمۡ
جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا
الۡاَنۡہٰرُ
-- dan akan
memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ
النَّبِیَّ وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan
Nabi maupun orang-orang yang beriman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِم -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan di sebelah
kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka akan berkata: “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami
cahaya kami, dan maafkanlah kami, sesungguhnya
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(At-Tahrim
[66]:9).
Kesempurnaan Mi’raj Ruhani Nabi
Besar Muhammad Saw.
Jadi, kembali kepada “bergerak saling mendekat
” Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa mi’raj, karena seandainya Allah Swt.
tidak berkenan “bergerak turun
mendekati” dari maqam Ketuhanan
Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya yang
tidak dapat dibayangkan kesempurnaannya,
maka tidak ada seorang manusia pun –
termasuk Nabi Besar Muhammad saw. – yang akan mampu “naik mendekati-Nya” apa lagi “berpadu
dengan-Nya” sebagaimana digambarkan
dalam ayat: ثُمَّ
دَنَا فَتَدَلّٰی --
“Kemudian ia, Rasulullah, men-dekati Allāh, lalu Dia kian dekat kepa-danya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ
اَوۡ اَدۡنٰی -- Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas
tali dari dua buah busur,2 atau lebih dekat lagi.”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی ۙ﴿ ﴾ مَا
ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿ ﴾ وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی ؕ﴿ ﴾
اِنۡ ہُوَ اِلَّا
وَحۡیٌ یُّوۡحٰی ۙ﴿ ﴾ع َلَّمَہٗ
شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿ ﴾ذُوۡ مِرَّۃٍ
ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿ ﴾ وَ
ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿ ﴾ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿ ﴾ فَکَانَ قَابَ
قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿ ﴾
فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی ﴿ؕ ﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Demi bintang apabila jatuh.
Tidaklah
sesat sahabat kamu dan tidak pula
keliru. Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti
keinginannya. Perkataannya itu tidak lain me-lainkan wahyu
yang diwahyukan. Tuhan
Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya, Pemilik
Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah,
berada di ufuk
tertinggi. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati
Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,
فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- Maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali
dari dua buah busur, atau
lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی
اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی -- Lalu Dia
mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang
telah Dia wahyukan. (An-Najm [53]:1-11).
Makna ayat:
مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا
غَوٰی -- “Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ
عَنِ الۡہَوٰی -- Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ ہُوَ
اِلَّا وَحۡیٌ یُّوۡحٰی -- Perkataannya
itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan.” Cita-cita dan asas-asas yang dikemukakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. tidak salah lagi pula beliau saw. sekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas
itu (yakni beliau juga tidak tersesat).
Dengan demikian, mengingat cita-cita
luhur dan mulia Nabi Besar Muhammad saw., dan mengingat pula cara beliau saw. menjalani hidup sesuai
dengan cita-cita itu, beliau saw. adalah
penunjuk-jalan yang terjamin dan aman. Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam beberapa ayat
berikutnya.
Wahyu Al-Quran Adalah Kalam
(Firman) Allah
Kalau ayat اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی -- “Perkataannya
itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan” membicarakan sumber asal wahyu Nabi Besar
Muhammad saw. yang
adalah dari Allah Swt. maka
dua ayat sebelumnya mengisyaratkan kepada khayalan
kosong orang yang berotak miring
dan kepada alam pikiran yang timbul
dari nafsu pribadinya dan
dorongan-dorongan ruh jahat.
Makna ayat
selanjutnya: ع َلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- “Tuhan
Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya”
bahwa Al-Quran adalah wahyu
yang gagah perkasa, yang di
hadapannya semua Kitab Suci terdahulu
pudar artinya. ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی – “Pemilik
Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy.”
Mirrah berarti: kekuatan karya atau
kecerdasan, pertimbangan sehat, kete-guhan (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Dzū mirrah dapat juga berarti orang
yang kekuatannya nampak kentara dengan lestari. Ungkapan istawā
‘alā asy-syai-i berarti bahwa “ia
memperoleh atau memiliki hak penguasaan
atau pengaruh penuh atas barang itu”.
Jika diterapkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. ungkapan ayat: ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی – “Pemilik
Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arasy” akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek
beliau saw. telah mencapai kekuatan
dan kematangan sepenuh-penuhnya,
sehingga beliau saw. satu-satunya Rasul
Allah yang layak mengemban Al-Quran
yang merupakan syariat yang terakhir dan yang tersempurna
(QS.5:4; QS.33:73-74).
Makna ayat selanjutnya: وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- “Dan
Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada
di ufuk
tertinggi.” Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai batas tertinggi dalam mikraj
beliau saw., ketika Allah Swt. – yang
“turun mendekati” beliau saw. -- menampakkan
Wujud-Nya kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempurna.
Atau, ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dapat menunjuk
kepada Allah Swt. dan kepada Nabi
Besar Muhammad saw.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 12 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar