Rabu, 14 September 2016

Makna Tidak Ada "keletihan" Dalam Surga dan Ketidakterbatasan Tingkatan Surga & Hakikat "Mi'raj" Nabi Besar Muhammad Saw.






Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 12

MAKNA TIDAK ADA KELETIHAN DALAM SURGA DAN KETIDAKTERBATASAN TINGKATAN SURGA   & HAKIKAT MI’RAJ NABI  BESAR MUHAMMAD SAW.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  bagian  Bab 11    dijelaskan   makna tidak ada “keletihan” yang dirasakan para penghuni surga, firman-Nya:
اِنَّ  الۡمُتَّقِیۡنَ  فِیۡ  جَنّٰتٍ  وَّ عُیُوۡنٍ ﴿ؕ﴾  اُدۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ  اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾  وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ اِخۡوَانًا عَلٰی  سُرُرٍ  مُّتَقٰبِلِیۡنَ ﴿﴾  لَا  یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا نَصَبٌ  وَّ  مَا ہُمۡ  مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ ﴿﴾ 
Sesungguhnya  orang-orang yang bertakwa akan berada di dalam kebun-kebun dan mata air-mata air yang mengalir.  اُدۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ  اٰمِنِیۡنَ  --   Dikatakan: “Masuklah kamu   ke dalamnya dengan selamat sejahtera dan aman.”  Dan   Kami akan  mencabut segala dendam yang ada dalam dada mereka, sehingga mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas tahta-tahta,  لَا  یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا نَصَبٌ  وَّ  مَا ہُمۡ  مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ --  Di dalamnya   keletihan tidak akan menyentuh mereka dan  mereka sama sekali tidak akan dikeluarkan darinya. (Al-Hijr [15]:46-49).

Suasana Damai dan Aman Dalam Surga

      Kata-kata “selamat” dan “aman” dalam ayat:    اُدۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ  اٰمِنِیۡنَ  --   Dikatakan: “Masuklah kamu   ke dalamnya dengan selamat sejahtera dan aman.”  masing-masing mengandung arti kebebasan dari kecemasan-kecemasan batin yang menggerogoti hati seseorang, dan kebebasan dari sakit dan hukuman lahiriah.  Dan hanya orang-orang yang hatinya bebas dari segala perasaan-perasaan dendam kesumat terhadap saudara-saudaranya, merekalah yang dapat dikatakan menikmati kehidupan surga yang sungguh-sungguh  di dunia ini  juga:  وَ نَزَعۡنَا مَا فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ مِّنۡ غِلٍّ اِخۡوَانًا عَلٰی  سُرُرٍ  مُّتَقٰبِلِیۡنَ  -- “Dan   Kami akan  mencabut segala dendam yang ada dalam dada mereka, sehingga mereka merasa bersaudara, duduk berhadap-hadapan di atas tahta-tahta”.
       Ayat  لَا  یَمَسُّہُمۡ فِیۡہَا نَصَبٌ  وَّ  مَا ہُمۡ  مِّنۡہَا بِمُخۡرَجِیۡنَ --  “Di dalamnya   keletihan tidak akan menyentuh mereka dan  mereka sama sekali tidak akan dikeluarkan darinya mengandung arti, bahwa surga itu akan merupakan satu tempat  di mana amal-perbuatan akan tetap dan terus-menerus dilakukan, firman-Nya:
اِنَّ  اَصۡحٰبَ الۡجَنَّۃِ  الۡیَوۡمَ فِیۡ  شُغُلٍ فٰکِہُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Sesungguhnya para ahli surga pada hari itu akan bergembira dalam kesibukan2454  mereka.  (Yā Sīn [36]:56).
       Kehidupan di alam akhirat   -- yang pada umumnya keliru diartikan itu  -- bukanlah kehidupan santai dan bermalas-malas, melainkan suatu kehidupan dengan kesibukan kerja terus-menerus dan kemajuan ruhani yang senantiasa meningkat. (QS.66:9), namun kendatipun demikian, orang-orang beriman tidak akan merasa keletihan, sebagai akibat yang tak bisa dihindarkan dari kerja-berat, dan juga tenaga mereka tidak akan hilang atau berkurang sebagai akibat dari kelelahan, sebagaimana  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ الَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ  مِنَ الۡکِتٰبِ ہُوَ الۡحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِعِبَادِہٖ  لَخَبِیۡرٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا ۚ فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾  جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ ﴿﴾  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Dan Kitab yang Kami wahyukan kepada engkau adalah  kebenaran untuk menggenapi apa yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambanya benar-benar Maha Mengetahui, Maha Melihat.  ثُمَّ  اَوۡرَثۡنَا الۡکِتٰبَ الَّذِیۡنَ اصۡطَفَیۡنَا مِنۡ عِبَادِنَا  ---  Kemudian Kitab itu Kami   wariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari antara hamba-hamba Kami,  فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ ۚ  -- maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya, dan dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah, وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ   -- dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allah, itu adalah  karunia yang sangat besar. جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ  --  Ganjaran mereka  Kebun-kebun abadi,  mereka akan memasukinya, di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ    --  Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargai,   الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ  --  Yang menempatkan kami di rumah abadi dari karunia-Nya, لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ  -- kesulitan   tidak menyentuh kami di dalamnya  dan tidak pula kelelahan  menyentuh kami di dalamnya.” (Al-Fāthir [35]:32-36).

Berbagai Tingkatan Jihad Ruhani  di Dunia &  Makna Kebebasan dari Rasa Lelah dan Lemah  Dalam Surga

      Makna ayat 33   bahwa seorang beriman melampaui berbagai tingkat disiplin keruhanian yang ketat:   فَمِنۡہُمۡ ظَالِمٌ لِّنَفۡسِہٖ    --  “maka dari antara mereka sangat zalim terhadap dirinya.   Pada tingkat pertama ia melancarkan peperangan yang sungguh-sungguh terhadap keinginan dan nafsu rendahnya (nafs-al-Ammarah – QS.12:54) serta mengamalkan peniadaan diri secara mutlak.
     Pada tingkat selanjutnya وَ مِنۡہُمۡ مُّقۡتَصِدٌ --   “dan dari antara mereka ada yang mengambil jalan tengah” kemajuan ke arah tujuannya  hanya sebagian saja,  dan pada tingkat terakhir ia mencapai taraf akhlak sempurna, dan kemajuan ke arah tujuannya yang agung itu berlangsung cepat sekali dan merata:  وَ مِنۡہُمۡ سَابِقٌۢ بِالۡخَیۡرٰتِ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَضۡلُ  الۡکَبِیۡرُ  --  “dan dari antara mereka ada yang    unggul dalam kebaikan  dengan izin Allah, itu adalah  karunia yang sangat besar.
       Kebebasan sepenuhnya dari setiap corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan hati berpadu dengan keridhaan Allah Swt. merupakan tingkat tertinggi surga, yang telah dijanjikan Al-Quran kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat, sebagaimana diperlihatkan oleh ayat selanjutnya:   
جَنّٰتُ عَدۡنٍ یَّدۡخُلُوۡنَہَا یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ۚ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ ﴿﴾  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ ۚ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ ﴿﴾
Ganjaran mereka  Kebun-kebun abadi,  mereka akan memasukinya,  یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ  مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا  -- di dalamnya mereka dihiasi dengan gelang-gelang emas dan mutiara, وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا  حَرِیۡرٌ  --  dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutera.  وَ قَالُوا الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَذۡہَبَ عَنَّا الۡحَزَنَ ؕ اِنَّ  رَبَّنَا لَغَفُوۡرٌ  شَکُوۡرُۨ    --  Dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah, Yang telah menjauhkan kesedihan dari kami. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kami benar-benar Maha Pengampun, Maha Menghargai,   الَّذِیۡۤ  اَحَلَّنَا  دَارَ الۡمُقَامَۃِ  مِنۡ فَضۡلِہٖ  --  Yang menempatkan kami di rumah abadi dari karunia-Nya, لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا نَصَبٌ وَّ لَا یَمَسُّنَا فِیۡہَا  لُغُوۡبٌ  -- kesulitan   tidak menyentuh kami di dalamnya  dan tidak pula kelelahan  menyentuh kami di dalamnya.” (Al-Fāthir [35]:34-36).
      Kebebasan sepenuhnya dari rasa lelah dan setiap corak perasaan takut dan cemas serta perasaan damai yang sempurna dalam alam pikiran dan kepuasan hati berpadu dengan keridhaan Allah Swt. merupakan tingkat tertinggi surga, yang telah dijanjikan Al-Quran kepada orang-orang beriman di dunia ini dan di akhirat, sebagaimana diperlihatkan oleh ayat-ayat 35-36.

Ketidak-terbatasan Tingkatan Surga

     Pendek kata, sebagaimana  halnya kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt.  dan penampakannya  tidak ada batas akhirnya (QS.6:92;  22:75; QS.39:68-71; QS.55:27-31;), demikian pula penganugerahan rangkaian kenikmatan surgawi di alam akhirat  pun tidak  mengenal batas akhir pula.      
      Mengisyaratkan kepada ketiadaan batas akhir kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt.    – yang  apabila   orang-orang bertakwa  meraihnya merupakan “surga yang hakiki    --   itulah  yang diisyaratkan dalam Surah An-Najm    berkenaan mi’raj  (kenaikan ruhani) Nabi Besar Muhammad saw.,  digambarkan bahwa yang “bergerak  mendekat  itu bukan hanya Nabi Besar Muhammad saw. saja yang “bergerak naik”, tetapi Allah Swt. juga “bergerak turun” dari maqam Ketuhanan Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya yang kesempurnaannya  tidak dapat dibayangkan -- seperti tidak terbatasnya rahasia khazanah ciptaan Allah Swt. (QS.18:110; QS.32:28) dan hakikat “nikmat-nikmat surgawi   --  firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.   (As-Sajdah [32]:18).
       Waktu Nabi Besar Muhammad saw.  menggambarkan bentuk dan sifat nikmat dan kesenangan surga, beliau  saw. diriwayatkan pernah bersabda: “Tiada mata pernah melihatnya (nikmat surga itu) dan tiada pula telinga pernah mendengarnya, tidak pula pikiran manusia dapat membayangkannya” (Bukhari, Kitab Bad’al-Khalaq).
      Hadits itu menunjukkan bahwa nikmat kehidupan ukhrawi tidak akan bersifat kebendaan. Nikmat-nikmat surgawi itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian perbuatan dan tingkah-laku baik yang telah dikerjakan orang-orang bertakwa di alam dunia ini.
      Jadi, kata-kata yang dipergunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan nikmat-nikmat surgawi  itu   telah dipakai hanya dalam arti kiasan. Ayat yang sekarang pun dapat berarti bahwa karunia dan nikmat Ilahi yang akan dilimpahkan kepada orang-orang beriman  yang bertakwa di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan.
        Nikmat-nikmat surgawi  itu akan berada jauh di luar batas jangkauan daya cipta manusia untuk memahami hakikatnya,  terlebih lagi penganugerahan nikmat-nikmat surgawi tersebut akan terus  menerus meningkat sejalan dengan kemajuan ruhani  yang diraih para ahli surga di dalam surga sesuai “kerja-kerasnya” (QS.23:13-18; QS.36: 56-59; QS.78:13; QS.84:20), firman-Nya:
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا   -- bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat.  عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ   -- Boleh jadi Rabb (Tuhan)  kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan  kamu وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  --  dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,  یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِم  --  cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ   -- mereka  akan berkata: “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).

Kesempurnaan Mi’raj Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.

      Jadi, kembali kepada “bergerak  saling  mendekat ” Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa  mi’raj,  karena seandainya  Allah Swt.   tidak berkenan “bergerak turun mendekati” dari maqam Ketuhanan Sifat-sifat Tasybihiyah-Nya yang tidak dapat dibayangkan kesempurnaannya, maka  tidak ada seorang manusia pun – termasuk Nabi Besar Muhammad saw.  – yang akan mampu “naik mendekati-Nya” apa lagi “berpadu dengan-Nya” sebagaimana digambarkan dalam ayat:   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی   -- “Kemudian ia, Rasulullah, men-dekati Allāh, lalu Dia kian dekat kepa-danya,  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  --          Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,2  atau lebih dekat lagi.”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿   مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿    وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿    اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿ ﴾ع َلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿ ﴾ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿    وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿ ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿    فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿    فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ      
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Demi bintang   apabila  jatuh.  Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru.  Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.   Perkataannya itu tidak lain me-lainkan wahyu yang diwahyukan.  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,      Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi. ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی --  Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی --   Maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    --  Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. (An-Najm [53]:1-11). 
  Makna ayat:    مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی        --   Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  --  Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  --   Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan.” Cita-cita dan asas-asas yang dikemukakan oleh  Nabi Besar Muhammad saw.    tidak salah  lagi pula beliau saw.  sekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas itu (yakni beliau juga tidak tersesat).
  Dengan demikian, mengingat cita-cita luhur dan mulia Nabi Besar Muhammad saw., dan mengingat pula cara beliau saw. menjalani hidup sesuai dengan cita-cita itu, beliau saw. adalah penunjuk-jalan yang terjamin dan aman. Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam beberapa ayat berikutnya.

Wahyu Al-Quran Adalah Kalam (Firman) Allah

   Kalau ayat   اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  -- “Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan” membicarakan sumber asal wahyu  Nabi Besar  Muhammad saw.   yang adalah dari Allah Swt.  maka dua ayat sebelumnya mengisyaratkan kepada khayalan kosong orang yang berotak miring dan kepada alam pikiran yang timbul dari nafsu pribadinya dan dorongan-dorongan ruh jahat.
  Makna ayat selanjutnya:  ع َلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی      --  Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya” bahwa  Al-Quran adalah wahyu yang gagah perkasa, yang di hadapannya semua Kitab Suci terdahulu pudar artinya. ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی    – “Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy.
    Mirrah berarti: kekuatan karya atau kecerdasan, pertimbangan sehat, kete-guhan (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Dzū  mirrah dapat juga berarti  orang yang kekuatannya nampak kentara dengan lestari.    Ungkapan istawā ‘alā asy-syai-i  berarti  bahwa  “ia memperoleh atau memiliki  hak penguasaan atau pengaruh penuh atas barang itu”.
    Jika diterapkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  ungkapan ayat:    ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی    – “Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy  akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek beliau saw. telah mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya, sehingga beliau saw. satu-satunya Rasul Allah yang layak mengemban  Al-Quran  yang merupakan  syariat yang terakhir dan yang tersempurna (QS.5:4; QS.33:73-74).
   Makna ayat selanjutnya:   وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی     -- “Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi.” Nabi Besar Muhammad saw.  telah mencapai batas tertinggi dalam mikraj beliau saw., ketika Allah Swt.     – yang “turun mendekati” beliau saw.  --  menampakkan Wujud-Nya kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempurna.
   Atau, ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dapat menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 12 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar