Selasa, 20 September 2016

Pelanggaran "Hari Sabat" dan Mereka yang "Dikutuk" Allah Swt. Menjadi "Kera" dan "Babi" Serta Menjadi "Penyembah Syaitan" & "Taubat" Adalah Penawar "Racun Dosa" yang Sangat Ampuh




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 17

PELANGGARAN “HARI SABAT” DAN MEREKA YANG  DIKUTUK ALLAH SWT. MENJADI  KERA DAN  BABI  SERTA  PENYEMBAH SYAITAN” & TAUBAT ADALAH PENAWAR   RACUN DOSA” YANG SANGAT AMPUH

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 16    dijelaskan      ayat:  Mereka berkata:  رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ  --   “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah  Engkau menghukum kami jika  kami terlupa atau kami tersalah” (Al-Baqarah [2]:287).  Dalam keadaan biasa nis-yan dan khati’ah tidak akan mendapat hukuman, sebab kedua kata itu menunjukkan tidak adanya niat atau motif yang mengharuskan dijatuhkannya hukuman.  Dengan demikian di sini kata-kata itu berarti kealpaan atau kekeliruan yang dapat dihindari seandainya segala ikhtiar ditempuh untuk menghindarinya.
       Makna ishr dalam ayat: رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا   -- “Ya  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani  kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami,” berarti:
(1)  beban yang menahan seseorang untuk bergerak;
(2)  pertanggungjawaban berat yang bila dilanggar menyebabkan seseorang layak mendapat hukuman;
(3)  dosa atau pelanggaran;  
(4)  siksaan yang pedih atas suatu dosa.

Akibat Buruk Pelanggaran Hari Sabat

 Ungkapan رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا   -- “Ya  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani  kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami”,     tidak berarti bahwa beban yang akan diletakkan di atas kita hendaknya lebih ringan daripada yang telah dibebankan atas orang-orang sebelum kita, melainkan artinya "semoga kami dilindungi dari pelanggaran terhadap perjanjian kepada Engkau dan dengan demikian dapat diselamatkan dari menanggung tanggung jawab besar atas pembangkangan seperti telah dilakukan oleh orang-orang sebelum kami."
      Doa ini merupakan doa kolektif untuk pemeliharaan dan perlindungan terhadap agama Islam dan penjagaan kaum Muslim dari kemurkaan Allah Swt., seperti yang terjadi atas golongan Ahli Kitab karena mereka berulang kali melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah Sw. dan  para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-91; QS.3:113; QS.5:61).
      Contohnya adalah hukuman akibat   pelanggaran mengenai Hari Sabat  yang “godaannya” benar-benar melebihi  daya-pikul kemampuan  golongan Ahli Kitab, firman-Nya:
وَ سۡـَٔلۡہُمۡ عَنِ الۡقَرۡیَۃِ  الَّتِیۡ کَانَتۡ حَاضِرَۃَ  الۡبَحۡرِ ۘ اِذۡ یَعۡدُوۡنَ فِی السَّبۡتِ اِذۡ تَاۡتِیۡہِمۡ حِیۡتَانُہُمۡ یَوۡمَ سَبۡتِہِمۡ شُرَّعًا وَّ یَوۡمَ لَا یَسۡبِتُوۡنَ ۙ لَا  تَاۡتِیۡہِمۡ ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ نَبۡلُوۡہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡسُقُوۡنَ ﴿﴾
Dan tanyakanlah kepada mereka mengenai kota yang terletak di dekat laut, ketika mereka melanggar aturan pada hari  Sabat, yaitu ketika ikan-ikan mereka mendatangi mereka bermunculan di permukaan air  pada hari Sabat,  tetapi pada hari ketika mereka tidak merayakan Sabat ikan-ikan itu tidak mendatangi mereka. Demikianlah Kami  menguji me.-reka sebab mereka senantiasa berbuat fasik. (Al-A’rāf [7]:164). 
      Qaryah yang dimaksudkan dalam ayat ini, konon ialah Aila (Elath) di Pantai Laut Merah. Letaknya pada sayap timur Laut Merah. di Teluk Aelanitic (yang namanya diambil dari nama tempat itu sendiri) yang disebutkan sebagai salah satu dari tahap terakhir pengembaraan kaum Bani Israil (1 Raja-raja 9:26 & II Tawarikh 8:17). Zaman Nabi Sulaimana.s.  kota itu jatuh ke tangan kaum Bani Israil, tetapi boleh jadi kemudian, direbut dari tangan mereka. Kemudian Uzziah merebutnya kembali, tetapi di bawah Ahaz kota itu terlepas lagi (Encyclopaedia Biblica  & Jewish  Encyclopaedia).
       Syurra’an dalam ayat: اِذۡ یَعۡدُوۡنَ فِی السَّبۡتِ اِذۡ تَاۡتِیۡہِمۡ حِیۡتَانُہُمۡ یَوۡمَ سَبۡتِہِمۡ شُرَّعًا  -- “ketika mereka melanggar aturan pada hari  Sabat, yaitu ketika ikan-ikan mereka mendatangi mereka bermunculan di permukaan air  pada hari Sabat” berarti juga  mereka (ikan-ikan itu) datang berbondong-bondong. 
       Karena pada hari Sabat orang-orang Yahudi pantang menangkap ikan, sehingga secara naluri ikan-ikan mengetahui   waktu yang aman dan karena itu perasaan aman secara naluri ini telah membuat ikan-ikan itu bermunculan ke permukaan air atau mendekati pantai dalam jumlah yang besar pada hari Sabat.

Godaan   Menggelincirkan yang Mengundang Kutukan Allah Swt.

      Keadaan ini ternyata merupakan godaan yang terlalu besar bagi orang-orang Yahudi dan mereka mengadakan persiapan untuk menangkap ikan pada hari Sabat, dan dengan demikian mereka menodai kekeramatan hari itu. Akibatnya mereka mendapat laknat Allah Swt. dengan menyebut  mereka  secara kiasan  sebagai kera dan babi dan yang beribadah kepada thaghut (setan), firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَتۡ اُمَّۃٌ مِّنۡہُمۡ لِمَ تَعِظُوۡنَ قَوۡمَۨا ۙ اللّٰہُ مُہۡلِکُہُمۡ اَوۡ مُعَذِّبُہُمۡ عَذَابًا شَدِیۡدًا ؕ قَالُوۡا مَعۡذِرَۃً  اِلٰی رَبِّکُمۡ  وَ لَعَلَّہُمۡ  یَتَّقُوۡنَ﴿﴾  فَلَمَّا نَسُوۡا مَا ذُکِّرُوۡا بِہٖۤ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ السُّوۡٓءِ وَ اَخَذۡنَا الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا بِعَذَابٍۭ بَئِیۡسٍۭ بِمَا کَانُوۡا  یَفۡسُقُوۡنَ ﴿﴾   فَلَمَّا عَتَوۡا عَنۡ مَّا نُہُوۡا عَنۡہُ قُلۡنَا لَہُمۡ   کُوۡنُوۡا  قِرَدَۃً  خٰسِئِیۡنَ ﴿﴾
Dan ketika segolongan di antara mereka berkata kepada golongan lain: “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan  membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang sangat keras?” Mereka berkata:  Agar kami punya  dalih di hadapan  Rabb (Tuhan) kamu, dan supaya mereka bertakwa.” فَلَمَّا نَسُوۡا مَا ذُکِّرُوۡا بِہٖۤ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ السُّوۡٓءِ وَ اَخَذۡنَا الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا بِعَذَابٍۭ بَئِیۡسٍۭ بِمَا کَانُوۡا  یَفۡسُقُوۡنَ  --   Maka  tatkala mereka melupakan yang telah dinasihatkan kepadanya, Kami menyelamatkan orang-orang yang melarang berbuat keburukan dan Kami menghukum orang-orang zalim dengan siksaan yang sangat buruk karena mereka senantiasa berbuat fasik (durhaka).  فَلَمَّا عَتَوۡا عَنۡ مَّا نُہُوۡا عَنۡہُ قُلۡنَا لَہُمۡ   کُوۡنُوۡا  قِرَدَۃً  خٰسِئِیۡنَ  --  Maka tatkala mereka  melanggar apa yang dilarang untuk me-ngerjakannya, Kami berfirman kepada mereka: ”Jadilah kamu kera-kera yang hina!” (Al-A’rāf [7]:165-167). 
        Dalam surah lain mengenai topik pembahasan yang sama Allah Swt. berfirman:
قُلۡ ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ بِشَرٍّ مِّنۡ ذٰلِکَ مَثُوۡبَۃً عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ مَنۡ لَّعَنَہُ اللّٰہُ وَ غَضِبَ عَلَیۡہِ وَ جَعَلَ مِنۡہُمُ الۡقِرَدَۃَ  وَ الۡخَنَازِیۡرَ وَ عَبَدَ الطَّاغُوۡتَ ؕ اُولٰٓئِکَ شَرٌّ مَّکَانًا وَّ  اَضَلُّ  عَنۡ  سَوَآءِ السَّبِیۡلِ ﴿﴾
Katakanlah: “Maukah  aku beritahukan kepada kamu yang lebih buruk daripada itu  mengenai pembalasan dari sisi Allah? Yaitu orang-orang yang dilaknati Allah, dan kepadanya Dia  murka dan menjadikan sebagian dari mereka kera-kera, babi-babi  dan yang menyembah  syaitan.  Mereka itu berada di tempat yang buruk dan   tersesat jauh dari jalan lurus. (Al-Māidah [5]:61).

Makna Kiasan  Kera dan Babi

       Kata-kata “kera” dan “babi” telah dipergunakan di sini dalam artian kiasan. Kebiasaan tertentu merupakan ciri khas binatang-binatang tertentu pula. Ciri-ciri khas itu tidak dapat digambarkan sepenuhnya kalau binatang yang  mempunyai kebiasaan itu tidak disebut namanya dengan jelas.
     Kera terkenal karena sifat penirunya dan babi ditandai oleh kebiasaan-kebiasaan kotor dan tidak bermalu dan juga oleh kebodohannya. Ungkapan, “yang menyembah kepada syaitan,” menunjukkan bahwa kata-kata “kera” dan “babi” telah dipergunakan di sini secara kiasan.
    Allah Swt. berfirman  kepada orang-orang Yahudi mengenai  akibat buruk pelanggaran Hari Sabat tersebut:
وَ لَقَدۡ عَلِمۡتُمُ  الَّذِیۡنَ اعۡتَدَوۡا مِنۡکُمۡ فِی السَّبۡتِ فَقُلۡنَا لَہُمۡ کُوۡنُوۡا قِرَدَۃً خٰسِئِیۡنَ ﴿ۚ﴾  فَجَعَلۡنٰہَا نَکَالًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہَا وَ مَا خَلۡفَہَا وَ مَوۡعِظَۃً  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh   kamu benar-benar mengetahui orang-orang di antara kamu yang  melanggar dalam hal  Hari Sabat, lalu Kami berfirman kepada mereka:  ”Jadi kera yang hinalah kamu!”  Maka Kami menjadikan hal    itu sebagai  peringatan bagi orang-orang   yang ada pada masanya dan bagi orang-orang yang datang di be-lakangnya, dan juga sebagai nasihat bagi  orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah [2]:66-67).
      Kata “kera” telah dipakai secara kiasan, artinya orang-orang Bani Israil menjadi nista dan hina seperti kera, perubahannya tidak dalam wujud dan bentuk melainkan  dalam watak dan jiwa. “Mereka tidak sungguh-sungguh diubah menjadi kera, hanya hatinya yang diubah” (Mujahid). “Allah Swt. telah memakai ungkapan itu secara kiasan” (Tafsir Ibnu Katsir).
       Bila Al-Quran memaksudkan perubahan wujudnya menjadi kera maka kata yang biasa dipergunakan adalah khashi'ah, bukan khasi’in, yang dipakai untuk wujud-wujud berakal. Penggunaan kata itu dimaksudkan untuk menegaskan bahwa sebagaimana kera itu binatang hina, begitu pula orang-orang Bani Israil    -- akibat kedurhakaan mereka kepada Allah Swt. dan kepada rasul-rasul Allah  yang dibangkitkandi kalangan mereka (QS.2:98-99) -- senantiasa akan dihinakan di dunia ini dan sungguh pun mereka mempunyai sumber-sumber daya besar dalam harta dan pendidikan, mereka tidak akan memiliki suatu kubu pertahanan di bumi secara permanen.
       Arti akar kata qiradatan (qarada  -- al-qaruda’atu) menunjukkan kenistaan dan kehinaan dan pula kerendahan martabat, sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ  رَبَّکَ  لَسَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۚۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ﴿
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan bahwa niscaya Dia akan mengutus kepada mereka  orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka  azab yang sangat buruk hingga Hari Kiamat. اِنَّ  رَبَّکَ  لَسَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ  --  Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ --   dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-A’rāf [7]:168).

Pentingnya Memohon Maghfirah Ilahi

    Jelas dari beberapa ayat Al-Quran bahwa Allah Swt.  sangat lambat dalam menghukum orang-orang durhaka. Dia berkali-kali memberi tenggang waktu kepada mereka. Kata-kata itu dimaksudkan bahwa bila pada akhirnya hukuman ditetapkan menimpa satu kaum, hukuman itu datangnya cepat dan tak ada sesuatu yang dapat memperlambat kedatangannya.
      Demikianlah maksud doa “memohon agar Allah Swt. tidak memberikan beban yang melebihi kesanggupan”, sehingga sama sekali tidak ada pertentangan dengan pernyataan Allah Swt. sebelumnya bahwa” Dia tidak membebani manusia melebihi kemampuannya” dalam firman-Nya:
لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Mereka berkata:  رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا  --   “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah  Engkau menghukum kami jika  kami terlupa atau kami tersalah. Ya  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani  kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami.  رَبَّنَا وَ لَا  تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ   -- Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami dengan apa yang kami tidak kuat menanggungnya, وَ اعۡفُ عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا  --  dan maafkanlah kami, ampunilah kami, dan  kasihanilah kami  اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ -- karena Engkau-lah Pelindung kami,  maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:287).

Membantah Ajaran Paulus “Penebusan Dosa” & Memikul  Beban Berat

      Dalam ayat tersebut dan dalam firman Allah Swt. sebelumnya   masalah memohon  maghfirah  Ilahi    telah dikemukakan   serta membantah ajaran “penebusan dosa  melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib, yang direkayasa  Paulus dalam surat-surat kirimannya, firman-Nya: 
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ  رَبَّکَ  لَسَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۚۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ﴿
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan bahwa niscaya Dia akan mengutus kepada mereka  orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka  azab yang sangat buruk hingga Hari Kiamat. اِنَّ  رَبَّکَ  لَسَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ  --  Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ --   dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-A’rāf [7]:168).
     Ayat ini dan juga beberapa ayat berikutnya menunjukkan bahwa kaum yang dikatakan sebagai “kera-kera yang hina” dalam ayat sebelumnya itu tidak sungguh-sungguh berubah menjadi kera, melainkan mereka itu tetap makhluk manusia walaupun mereka menjalani peri kehidupan yang hina dan dipandang rendah oleh orang-orang lain juga.
       Bahkan mereka  berkali-kali menjadi sasaran kebencian bangsa-bangsa tertentu – termasuk di Akhir Zaman ini  -- seperti diisyaratkan dalam ayat:  لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ   -- “niscaya Dia akan mengutus kepada mereka  orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka  azab yang sangat buruk hingga Hari Kiamat.”
     Ada pun makna     اِنَّ  رَبَّکَ  لَسَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ  --  Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum”,  jelas dari beberapa ayat Al-Quran bahwa Allah Swt.  sangat lambat dalam menghukum orang-orang durhaka. Dia berkali-kali memberi tenggang waktu kepada mereka untuk bertaubat.  
      Kata-kata itu dimaksudkan bahwa bila pada akhirnya hukuman ditetapkan menimpa satu kaum maka hukuman itu datangnya cepat dan tak ada sesuatu yang dapat memperlambat kedatangannya serta tidak dapat dihindarkan lagi, yakni baghtah  (tiba-tiba), firman-Nya:
قَدۡ خَسِرَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِلِقَآءِ اللّٰہِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمُ السَّاعَۃُ  بَغۡتَۃً  قَالُوۡا یٰحَسۡرَتَنَا عَلٰی مَا فَرَّطۡنَا فِیۡہَا ۙ وَ ہُمۡ یَحۡمِلُوۡنَ اَوۡزَارَہُمۡ عَلٰی ظُہُوۡرِہِمۡ ؕ اَلَا سَآءَ  مَا یَزِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ  اِلَّا  لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ ؕ وَ  لَلدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ  لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Sungguh rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah  حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمُ السَّاعَۃُ  بَغۡتَۃً    -- sehingga apabila Saat itu  mendatangi mereka dengan tiba-tiba,   قَالُوۡا یٰحَسۡرَتَنَا عَلٰی مَا فَرَّطۡنَا فِیۡہَا --  mereka akan berkata:  Alangkah menyesalnya kami atas apa yang telah kami abaikan mengenai Saat ini.” وَ ہُمۡ یَحۡمِلُوۡنَ اَوۡزَارَہُمۡ عَلٰی ظُہُوۡرِہِمۡ  -- Dan mereka akan memikul bebannya di atas punggungnya. اَلَا سَآءَ  مَا یَزِرُوۡنَ  -- Ingatlah, sangat  buruk apa yang   mereka pikul.   Dan  sekali-kali tidak lain kehidupan dunia ini kecuali permainan dan hiburan belaka. Dan sesungguhnya rumah akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, maka apakah kamu tidak  mengerti? (Al-An’ām [6]:32-33).
        Makna ungkapan “Dan mereka akan memikul bebannya di atas punggungnya   berarti bahwa beban mereka akan menjadi bukan main beratnya. Sebab mereka bukan saja harus memikul “beban dosa” mereka sendiri tetapi juga “beban dosa” dari orang-orang yang mereka sesatkan atau para pengikut mereka, sebagaimana firman-Nya mengenai  para penentang Al-Quran:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ مَّا ذَاۤ  اَنۡزَلَ رَبُّکُمۡ ۙ قَالُوۡۤا  اَسَاطِیۡرُ  الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ۙ﴾  لِیَحۡمِلُوۡۤا اَوۡزَارَہُمۡ کَامِلَۃً یَّوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ۙ وَ مِنۡ اَوۡزَارِ الَّذِیۡنَ یُضِلُّوۡنَہُمۡ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ ؕ اَلَا سَآءَ مَا یَزِرُوۡنَ ﴿٪﴾  
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Apa pendapat kamu mengenai  wahyu yang telah diturunkan oleh Rabb (Tuhan) kamu”.  قَالُوۡۤا  اَسَاطِیۡرُ  الۡاَوَّلِیۡنَ --   Mereka berkata: “Itu   dongeng-dongeng orang-orang dahulu.” لِیَحۡمِلُوۡۤا اَوۡزَارَہُمۡ کَامِلَۃً یَّوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  --  Akibatnya   mereka  pada Hari Kiamat akan memikul bebannya   sepenuhnya,   وَ مِنۡ اَوۡزَارِ الَّذِیۡنَ یُضِلُّوۡنَہُمۡ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ -- dan  beban dari orang-orang  yang mereka sesatkan tanpa ilmu.  اَلَا سَآءَ مَا یَزِرُوۡنَ -- Ketahuilah, sangat buruk beban yang mereka pikul. (An-Nahl [16]:25-26).

 Benih  Keimanan Kepada “Tauhid Ilahi

      Sehubungan dengan maghfirah Allah Swt. kepada orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa yang dilakukannya Masih  Mau’ud a.s.  bersabda:
      Meskipun Allah Yang Maha Kuasa telah menyatakan kalau benih keimanan pada Ketauhidan Ilahi sudah ada dalam setiap jiwa, Dia juga menjelaskan bahwa benih tersebut tidak sama kadar kekuatannya pada setiap orang,  karena nur tersebut pada sebagian orang nyatanya dikalahkan sampai hampir redup oleh nafsu mereka sendiri.

     Sebagaimana halnya fitrat bawaan hewaniah atau fitrat agresif, begitu juga keimanan pada Tuhan Yang Satu merupakan fitrat bawaan. Betapa pun bebasnya seseorang mengumbar nafsunya dan betapa pun ia mengikuti dorongan keji dari dirinya sendiri, tetap saja ia sedikit banyak masih memiliki nur alamiah dalam dirinya.

     Sebagai contoh, bila karena dorongan nafsu atau amarah seseorang melakukan pembunuhan, pencurian atau pun zinah, maka meski tindakan tersebut merupakan tuntutan fitratnya namun nur kebaikan yang ada dalam dirinya selalu menegurnya saat ia melakukan ketidak-pantasan tersebut. Allah Yang Maha Agung menyatakan tentang hal ini dalam ayat:

فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ

“Dia mengilhamkan kepadanya jalan-jalan kejahatan dan jalan-jalan ketakwaan  (Asy-Syams [91]:9).

           Berarti bahwa Tuhan ada mengaruniakan suatu bentuk wahyu kepada setiap orang yang disebut sebagai cahaya hati yang merupakan fitrat guna membedakan di antara yang baik dan yang buruk. Sebagai contoh, ketika seorang pencuri melakukan tindak pencuriannya, atau seorang pembunuh melakukan pembunuhan, Tuhan akan menanamkan dalam batinnya rasa penyesalan karena telah melakukan suatu hal yang buruk. Hanya saja yang bersangkutan lalu tidak memperhatikannya karena cahaya hatinya amat lemah dan kalah di bawah pengaruh fitrat hewaniah serta egonya.



Taubat Merupakan Penawar Racun Dosa yang Ampuh



     Kegalauan ego orang-orang seperti itu tidak mungkin diatasi oleh orang lain, namun Tuhan telah menyediakan obat penawarnya. Apakah penawar tersebut? Penawar itu bernama pertobatan, memohonkan pengampunan dan rasa penyesalan. Berarti jika mereka melakukan suatu kekejian sejalan dengan tuntutan ego mereka, atau muncul suatu fikiran jahat dalam benak mereka, lalu mereka mencari penawar melalui pertobatan dan memohonkan keampunan (maghfirah), maka Tuhan akan mengampuni mereka.

       Bila mereka terantuk berulangkali tetapi menyesal setiap kali terjadi dan bertobat, maka rasa penyesalan dan pertobatan tersebut akan membasuh noda-noda dosa mereka.    Hal inilah yang dikenal sebagai kafarah (penebusan) hakiki guna penawar bagi dosa alamiah. Allah Swt. menyatakan mengenai hal ini dalam ayat:
وَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ سُوۡٓءًا اَوۡ یَظۡلِمۡ  نَفۡسَہٗ ثُمَّ یَسۡتَغۡفِرِ اللّٰہَ یَجِدِ اللّٰہَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا

Barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian ia meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosanya, akan didapati olehnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang (An-Nisā [4]:111).

       Ayat yang bermakna sangat dalam dan penuh kebijakan tersebut mengandung arti bahwa sebagaimana keterperosokan dan laku dosa merupakan karakteristik dari kalbu yang cacat, tetapi tetap ada fitrat-fitrat abadi Ilahi dalam bentuk rahmat dan pengampunan,  karena Dia secara inheren (melekat) adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

        Sifat pengampunan-Nya tersebut bukan suatu hal yang kebetulan saja melainkan merupakan fitrat abadi Wujud-Nya yang memang disukai-Nya, dan yang ingin diberlakukan-Nya terhadap orang-orang yang layak. Tiap kali seseorang berpaling kepada Tuhan-nya dengan rasa penuh penyesalan dan pertobatan karena telah terperosok atau melakukan suatu tindakan dosa, ia menjadi layak memperoleh perlakuan bahwa Tuhan akan memandangnya dengan rahmat dan pengampunan.

        Hal ini tidak dibatasi pada satu atau dua kali kejadian saja karena sudah merupakan fitrat abadi Allah Yang Maha Agung bahwa Dia akan selalu berpaling (At-Tawwāb) kepada hamba-Nya yang telah menyesal dan telah bertobat.

     Dengan demikian sudah menjadi hukum alam kalau seorang yang lemah nuraninya akan sering terperosok dan alam tidak mengatur agar fitrat orang yang mengikuti nafsu hewaniahnya lalu harus diubah. Yang menjadi kaidah abadi-Nya adalah mereka yang melakukan dosa akan memperoleh pengampunan melalui laku pertobatan dan permohonan ampun.” (Brahin-i- Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. I, hlm. 185-187, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 17 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar