Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
17
PELANGGARAN “HARI SABAT” DAN MEREKA YANG DIKUTUK
ALLAH SWT. MENJADI KERA DAN BABI SERTA “PENYEMBAH
SYAITAN” & TAUBAT ADALAH PENAWAR “RACUN DOSA” YANG SANGAT AMPUH
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab 16 dijelaskan ayat: “Mereka
berkata: رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami
terlupa atau kami tersalah” (Al-Baqarah
[2]:287). Dalam keadaan biasa nis-yan
dan khati’ah tidak akan mendapat hukuman,
sebab kedua kata itu menunjukkan tidak
adanya niat atau motif yang mengharuskan dijatuhkannya hukuman. Dengan demikian di sini kata-kata itu berarti kealpaan atau kekeliruan yang dapat dihindari
seandainya segala ikhtiar ditempuh
untuk menghindarinya.
Makna ishr
dalam ayat: رَبَّنَا وَ لَا
تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا --
“Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang
sebelum kami,” berarti:
(1)
beban yang menahan seseorang untuk
bergerak;
(2)
pertanggungjawaban berat yang bila dilanggar menyebabkan
seseorang layak mendapat hukuman;
(3)
dosa atau pelanggaran;
(4)
siksaan yang pedih atas suatu dosa.
Akibat Buruk Pelanggaran
Hari Sabat
Ungkapan رَبَّنَا وَ لَا
تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا --
“Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang
sebelum kami”, tidak
berarti bahwa beban yang akan
diletakkan di atas kita hendaknya lebih
ringan daripada yang telah dibebankan
atas orang-orang sebelum kita, melainkan artinya "semoga kami dilindungi dari pelanggaran terhadap perjanjian kepada Engkau dan dengan demikian dapat diselamatkan dari menanggung tanggung
jawab besar atas pembangkangan
seperti telah dilakukan oleh orang-orang
sebelum kami."
Doa ini merupakan doa kolektif untuk pemeliharaan
dan perlindungan terhadap agama Islam dan penjagaan kaum Muslim dari kemurkaan
Allah Swt., seperti yang terjadi atas golongan
Ahli Kitab karena mereka berulang
kali melakukan pelanggaran
terhadap perintah Allah Sw. dan para rasul
Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-91; QS.3:113; QS.5:61).
Contohnya adalah hukuman
akibat pelanggaran mengenai Hari
Sabat yang “godaannya” benar-benar melebihi
daya-pikul kemampuan golongan Ahli
Kitab, firman-Nya:
وَ سۡـَٔلۡہُمۡ عَنِ الۡقَرۡیَۃِ الَّتِیۡ کَانَتۡ حَاضِرَۃَ الۡبَحۡرِ ۘ اِذۡ یَعۡدُوۡنَ فِی السَّبۡتِ
اِذۡ تَاۡتِیۡہِمۡ حِیۡتَانُہُمۡ یَوۡمَ سَبۡتِہِمۡ شُرَّعًا وَّ یَوۡمَ لَا یَسۡبِتُوۡنَ
ۙ لَا تَاۡتِیۡہِمۡ ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ
نَبۡلُوۡہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡسُقُوۡنَ ﴿﴾
Dan tanyakanlah kepada mereka mengenai kota yang terletak di dekat laut,
ketika mereka melanggar aturan pada hari
Sabat, yaitu
ketika ikan-ikan mereka mendatangi
mereka bermunculan di permukaan air pada hari Sabat, tetapi pada
hari ketika mereka tidak merayakan Sabat ikan-ikan itu tidak mendatangi mereka. Demikianlah Kami menguji me.-reka sebab mereka senantiasa berbuat fasik. (Al-A’rāf
[7]:164).
Qaryah
yang dimaksudkan dalam ayat ini, konon ialah Aila (Elath) di Pantai Laut Merah.
Letaknya pada sayap timur Laut Merah. di Teluk Aelanitic (yang namanya diambil
dari nama tempat itu sendiri) yang disebutkan sebagai salah satu dari tahap
terakhir pengembaraan kaum Bani Israil (1 Raja-raja 9:26 & II Tawarikh
8:17). Zaman Nabi Sulaimana.s. kota
itu jatuh ke tangan kaum Bani Israil, tetapi boleh jadi kemudian, direbut dari
tangan mereka. Kemudian Uzziah merebutnya kembali, tetapi di bawah Ahaz kota
itu terlepas lagi (Encyclopaedia
Biblica & Jewish
Encyclopaedia).
Syurra’an
dalam ayat: اِذۡ یَعۡدُوۡنَ
فِی السَّبۡتِ اِذۡ تَاۡتِیۡہِمۡ حِیۡتَانُہُمۡ یَوۡمَ سَبۡتِہِمۡ شُرَّعًا -- “ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabat, yaitu ketika ikan-ikan mereka mendatangi mereka
bermunculan di permukaan air pada hari Sabat” berarti juga mereka (ikan-ikan itu) datang berbondong-bondong.
Karena pada hari Sabat orang-orang Yahudi pantang
menangkap ikan, sehingga secara naluri
ikan-ikan mengetahui waktu yang aman dan karena itu perasaan
aman secara naluri ini telah
membuat ikan-ikan itu bermunculan ke permukaan air atau mendekati pantai dalam jumlah yang besar pada hari Sabat.
Godaan Menggelincirkan
yang Mengundang Kutukan Allah Swt.
Keadaan ini ternyata merupakan godaan yang terlalu besar bagi orang-orang
Yahudi dan mereka mengadakan
persiapan untuk menangkap ikan pada
hari Sabat, dan dengan demikian mereka menodai
kekeramatan hari itu. Akibatnya mereka mendapat laknat Allah Swt. dengan menyebut
mereka secara kiasan
sebagai kera dan babi dan yang beribadah kepada thaghut (setan),
firman-Nya:
وَ اِذۡ
قَالَتۡ اُمَّۃٌ مِّنۡہُمۡ لِمَ تَعِظُوۡنَ قَوۡمَۨا ۙ اللّٰہُ مُہۡلِکُہُمۡ اَوۡ
مُعَذِّبُہُمۡ عَذَابًا شَدِیۡدًا ؕ قَالُوۡا مَعۡذِرَۃً اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ﴿﴾ فَلَمَّا
نَسُوۡا مَا ذُکِّرُوۡا بِہٖۤ اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ السُّوۡٓءِ
وَ اَخَذۡنَا الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا بِعَذَابٍۭ بَئِیۡسٍۭ بِمَا کَانُوۡا یَفۡسُقُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا عَتَوۡا عَنۡ مَّا نُہُوۡا عَنۡہُ
قُلۡنَا لَہُمۡ کُوۡنُوۡا قِرَدَۃً
خٰسِئِیۡنَ ﴿﴾
Dan ketika
segolongan di antara mereka berkata kepada golongan lain: “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang sangat
keras?” Mereka berkata: “Agar
kami punya dalih di hadapan Rabb (Tuhan) kamu, dan supaya mereka bertakwa.” فَلَمَّا نَسُوۡا مَا ذُکِّرُوۡا بِہٖۤ
اَنۡجَیۡنَا الَّذِیۡنَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ السُّوۡٓءِ وَ اَخَذۡنَا الَّذِیۡنَ
ظَلَمُوۡا بِعَذَابٍۭ بَئِیۡسٍۭ بِمَا کَانُوۡا
یَفۡسُقُوۡنَ -- Maka tatkala
mereka melupakan yang telah dinasihatkan kepadanya, Kami menyelamatkan orang-orang yang melarang
berbuat keburukan dan Kami menghukum
orang-orang zalim dengan siksaan
yang sangat buruk karena mereka
senantiasa berbuat fasik (durhaka). فَلَمَّا عَتَوۡا عَنۡ مَّا نُہُوۡا عَنۡہُ
قُلۡنَا لَہُمۡ کُوۡنُوۡا قِرَدَۃً
خٰسِئِیۡنَ
-- Maka tatkala mereka melanggar
apa yang dilarang untuk me-ngerjakannya,
Kami berfirman kepada mereka: ”Jadilah
kamu kera-kera yang hina!” (Al-A’rāf [7]:165-167).
Dalam surah lain mengenai topik
pembahasan yang sama Allah Swt. berfirman:
قُلۡ ہَلۡ اُنَبِّئُکُمۡ بِشَرٍّ مِّنۡ
ذٰلِکَ مَثُوۡبَۃً عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ مَنۡ لَّعَنَہُ اللّٰہُ وَ غَضِبَ عَلَیۡہِ وَ
جَعَلَ مِنۡہُمُ الۡقِرَدَۃَ وَ
الۡخَنَازِیۡرَ وَ عَبَدَ الطَّاغُوۡتَ ؕ اُولٰٓئِکَ شَرٌّ مَّکَانًا وَّ اَضَلُّ
عَنۡ سَوَآءِ السَّبِیۡلِ ﴿﴾
Katakanlah:
“Maukah
aku beritahukan kepada kamu yang
lebih buruk daripada itu mengenai pembalasan
dari sisi Allah? Yaitu orang-orang
yang dilaknati Allah, dan kepadanya
Dia murka dan menjadikan sebagian dari mereka kera-kera,
babi-babi dan yang
menyembah syaitan.
Mereka itu berada di tempat yang buruk dan tersesat
jauh dari jalan lurus. (Al-Māidah
[5]:61).
Makna Kiasan Kera
dan Babi
Kata-kata “kera” dan “babi”
telah dipergunakan di sini dalam artian kiasan.
Kebiasaan tertentu merupakan ciri khas binatang-binatang tertentu
pula. Ciri-ciri khas itu tidak dapat digambarkan sepenuhnya kalau binatang
yang mempunyai kebiasaan itu tidak disebut namanya dengan jelas.
Kera
terkenal karena sifat penirunya dan babi ditandai oleh kebiasaan-kebiasaan kotor dan tidak
bermalu dan juga oleh kebodohannya.
Ungkapan, “yang menyembah kepada syaitan,” menunjukkan bahwa kata-kata “kera” dan “babi” telah dipergunakan di sini secara kiasan.
Allah Swt. berfirman kepada orang-orang
Yahudi mengenai akibat buruk pelanggaran Hari
Sabat tersebut:
وَ لَقَدۡ عَلِمۡتُمُ الَّذِیۡنَ اعۡتَدَوۡا
مِنۡکُمۡ فِی السَّبۡتِ فَقُلۡنَا لَہُمۡ کُوۡنُوۡا قِرَدَۃً خٰسِئِیۡنَ ﴿ۚ﴾ فَجَعَلۡنٰہَا نَکَالًا
لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہَا وَ مَا خَلۡفَہَا
وَ مَوۡعِظَۃً لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh kamu benar-benar mengetahui orang-orang
di antara kamu yang melanggar dalam hal Hari Sabat, lalu Kami berfirman
kepada mereka: ”Jadi kera yang hinalah kamu!” Maka Kami menjadikan hal itu sebagai peringatan
bagi orang-orang yang ada pada masanya
dan bagi orang-orang yang datang
di be-lakangnya, dan juga sebagai nasihat bagi orang-orang yang
bertakwa. (Al-Baqarah [2]:66-67).
Kata “kera” telah dipakai secara kiasan,
artinya orang-orang Bani Israil
menjadi nista dan hina seperti kera, perubahannya tidak dalam wujud
dan bentuk melainkan dalam watak
dan jiwa. “Mereka tidak sungguh-sungguh diubah menjadi kera, hanya hatinya yang
diubah” (Mujahid). “Allah Swt. telah memakai ungkapan
itu secara kiasan” (Tafsir Ibnu Katsir).
Bila Al-Quran memaksudkan perubahan wujudnya menjadi kera maka kata yang biasa dipergunakan
adalah khashi'ah, bukan khasi’in, yang dipakai untuk wujud-wujud berakal. Penggunaan kata itu
dimaksudkan untuk menegaskan bahwa sebagaimana kera itu binatang hina,
begitu pula orang-orang Bani Israil -- akibat kedurhakaan mereka kepada Allah Swt. dan kepada rasul-rasul Allah yang dibangkitkandi kalangan mereka
(QS.2:98-99) -- senantiasa akan dihinakan
di dunia ini dan sungguh pun mereka
mempunyai sumber-sumber daya besar
dalam harta dan pendidikan, mereka tidak akan
memiliki suatu kubu pertahanan di
bumi secara permanen.
Arti akar kata qiradatan
(qarada -- al-qaruda’atu) menunjukkan kenistaan
dan kehinaan dan pula kerendahan martabat, sehubungan dengan
hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ
لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ
الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ رَبَّکَ لَسَرِیۡعُ
الۡعِقَابِ ۚۖ وَ اِنَّہٗ لَغَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ﴿ ﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan bahwa niscaya Dia akan mengutus kepada
mereka orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang sangat buruk hingga Hari Kiamat. اِنَّ
رَبَّکَ لَسَرِیۡعُ الۡعِقَابِ --
Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam
menghukum وَ اِنَّہٗ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- dan sesungguhnya Dia
benar-benar Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (Al-A’rāf
[7]:168).
Pentingnya Memohon Maghfirah Ilahi
Jelas dari beberapa ayat Al-Quran bahwa Allah
Swt. sangat lambat dalam menghukum orang-orang durhaka.
Dia berkali-kali memberi tenggang waktu
kepada mereka. Kata-kata itu dimaksudkan bahwa bila pada akhirnya hukuman ditetapkan menimpa satu kaum, hukuman itu datangnya cepat dan tak ada sesuatu yang dapat memperlambat kedatangannya.
Demikianlah maksud doa “memohon agar Allah Swt. tidak memberikan
beban yang melebihi kesanggupan”, sehingga sama sekali tidak ada pertentangan dengan pernyataan Allah
Swt. sebelumnya bahwa” Dia tidak
membebani manusia melebihi kemampuannya” dalam firman-Nya:
لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ
وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا
تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا
تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ
مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ
رَبَّنَا وَ لَا
تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَۃَ
لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا
فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya. Baginya
ganjaran untuk apa yang
diusahakannya, dan ia akan mendapat
siksaan untuk apa yang diusahakannya.
Mereka berkata: رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا
تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami
terlupa atau kami tersalah.
Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah
Engkau membebani kami
tanggung jawab seperti telah Engkau
bebankan atas orang-orang sebelum kami. رَبَّنَا وَ لَا
تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani
kami dengan apa yang kami tidak kuat
menanggungnya, وَ اعۡفُ عَنَّا
ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا
-- dan maafkanlah kami, ampunilah
kami, dan kasihanilah kami اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ -- karena Engkau-lah
Pelindung kami, maka
tolonglah kami terhadap kaum kafir.”
(Al-Baqarah
[2]:287).
Membantah Ajaran Paulus “Penebusan Dosa” & Memikul “Beban
Berat”
Dalam ayat tersebut dan dalam firman
Allah Swt. sebelumnya masalah
memohon maghfirah Ilahi telah
dikemukakan serta membantah ajaran “penebusan
dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib, yang direkayasa
Paulus dalam surat-surat kirimannya, firman-Nya:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکَ
لَیَبۡعَثَنَّ عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ
الۡعَذَابِ ؕ اِنَّ رَبَّکَ لَسَرِیۡعُ
الۡعِقَابِ ۚۖ وَ اِنَّہٗ لَغَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ﴿ ﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengumumkan bahwa niscaya Dia akan mengutus kepada
mereka orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang sangat buruk hingga Hari Kiamat. اِنَّ
رَبَّکَ لَسَرِیۡعُ الۡعِقَابِ --
Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam
menghukum وَ اِنَّہٗ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- dan sesungguhnya Dia
benar-benar Maha Pengampun, Maha
Penyayang. (Al-A’rāf
[7]:168).
Ayat ini dan juga beberapa ayat berikutnya
menunjukkan bahwa kaum yang dikatakan sebagai “kera-kera yang hina” dalam
ayat sebelumnya itu tidak sungguh-sungguh berubah menjadi kera, melainkan mereka itu tetap makhluk manusia walaupun
mereka menjalani peri kehidupan yang hina
dan dipandang rendah oleh orang-orang lain juga.
Bahkan mereka
berkali-kali menjadi sasaran
kebencian bangsa-bangsa tertentu – termasuk di Akhir Zaman ini -- seperti
diisyaratkan dalam ayat: لَیَبۡعَثَنَّ
عَلَیۡہِمۡ اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ مَنۡ یَّسُوۡمُہُمۡ سُوۡٓءَ الۡعَذَابِ -- “niscaya Dia akan mengutus kepada
mereka orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang sangat buruk hingga Hari Kiamat.”
Ada
pun makna اِنَّ
رَبَّکَ لَسَرِیۡعُ الۡعِقَابِ --
Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau benar-benar sangat cepat dalam menghukum”, jelas dari beberapa ayat Al-Quran bahwa
Allah Swt. sangat lambat dalam menghukum orang-orang durhaka. Dia berkali-kali memberi tenggang waktu kepada mereka
untuk bertaubat.
Kata-kata
itu dimaksudkan bahwa bila pada akhirnya hukuman
ditetapkan menimpa satu kaum maka hukuman itu datangnya cepat dan tak ada sesuatu yang dapat memperlambat kedatangannya serta tidak dapat dihindarkan lagi, yakni baghtah
(tiba-tiba), firman-Nya:
قَدۡ خَسِرَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِلِقَآءِ اللّٰہِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَتۡہُمُ السَّاعَۃُ بَغۡتَۃً
قَالُوۡا یٰحَسۡرَتَنَا عَلٰی مَا فَرَّطۡنَا فِیۡہَا ۙ وَ ہُمۡ
یَحۡمِلُوۡنَ اَوۡزَارَہُمۡ عَلٰی ظُہُوۡرِہِمۡ ؕ اَلَا سَآءَ
مَا یَزِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
مَا
الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ اِلَّا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ ؕ وَ لَلدَّارُ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Sungguh rugilah orang-orang yang mendustakan
pertemuan dengan Allah حَتّٰۤی اِذَا جَآءَتۡہُمُ السَّاعَۃُ بَغۡتَۃً
-- sehingga
apabila Saat itu mendatangi mereka dengan tiba-tiba, قَالُوۡا
یٰحَسۡرَتَنَا عَلٰی مَا فَرَّطۡنَا فِیۡہَا -- mereka akan berkata: ”Alangkah menyesalnya kami atas apa
yang telah kami abaikan mengenai Saat ini.” وَ
ہُمۡ یَحۡمِلُوۡنَ اَوۡزَارَہُمۡ عَلٰی ظُہُوۡرِہِمۡ -- Dan mereka
akan memikul bebannya di atas punggungnya. اَلَا سَآءَ
مَا یَزِرُوۡنَ -- Ingatlah, sangat buruk apa
yang mereka pikul. Dan
sekali-kali tidak lain kehidupan dunia ini kecuali permainan dan hiburan belaka. Dan sesungguhnya rumah
akhirat itu lebih baik bagi orang-orang
yang bertakwa, maka apakah kamu
tidak mengerti? (Al-An’ām
[6]:32-33).
Makna ungkapan “Dan mereka akan memikul bebannya di atas
punggungnya” berarti bahwa beban
mereka akan menjadi bukan main beratnya.
Sebab mereka bukan saja harus memikul “beban
dosa” mereka sendiri tetapi juga “beban
dosa” dari orang-orang yang mereka sesatkan
atau para pengikut mereka,
sebagaimana firman-Nya mengenai para penentang Al-Quran:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ مَّا ذَاۤ اَنۡزَلَ رَبُّکُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَسَاطِیۡرُ
الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ۙ﴾ لِیَحۡمِلُوۡۤا
اَوۡزَارَہُمۡ کَامِلَۃً یَّوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ۙ وَ مِنۡ اَوۡزَارِ الَّذِیۡنَ
یُضِلُّوۡنَہُمۡ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ ؕ اَلَا سَآءَ مَا یَزِرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan apabila
dikatakan kepada mereka: “Apa pendapat kamu mengenai wahyu yang telah diturunkan oleh Rabb (Tuhan) kamu”. قَالُوۡۤا اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Mereka berkata: “Itu
dongeng-dongeng orang-orang dahulu.” لِیَحۡمِلُوۡۤا اَوۡزَارَہُمۡ کَامِلَۃً
یَّوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ -- Akibatnya mereka
pada Hari Kiamat akan memikul bebannya
sepenuhnya, وَ مِنۡ اَوۡزَارِ الَّذِیۡنَ یُضِلُّوۡنَہُمۡ
بِغَیۡرِ عِلۡمٍ -- dan
beban dari orang-orang yang mereka sesatkan tanpa ilmu. اَلَا سَآءَ مَا یَزِرُوۡنَ -- Ketahuilah,
sangat buruk beban yang mereka pikul.
(An-Nahl
[16]:25-26).
Benih Keimanan Kepada “Tauhid Ilahi”
Sehubungan dengan maghfirah Allah Swt. kepada orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa
yang dilakukannya Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Meskipun Allah Yang Maha Kuasa telah menyatakan kalau benih keimanan pada Ketauhidan Ilahi sudah ada dalam setiap jiwa, Dia juga menjelaskan bahwa benih tersebut tidak sama kadar kekuatannya pada setiap orang, karena nur tersebut pada sebagian orang nyatanya dikalahkan sampai hampir redup oleh nafsu mereka sendiri.
Sebagaimana halnya fitrat bawaan
hewaniah
atau fitrat
agresif,
begitu juga keimanan
pada Tuhan
Yang Satu
merupakan fitrat bawaan. Betapa pun bebasnya
seseorang mengumbar nafsunya dan betapa pun ia mengikuti dorongan keji dari dirinya sendiri,
tetap saja ia sedikit banyak masih memiliki nur alamiah dalam dirinya.
Sebagai contoh, bila karena dorongan nafsu atau amarah seseorang melakukan pembunuhan, pencurian
atau pun zinah, maka meski tindakan tersebut merupakan tuntutan
fitratnya
namun nur
kebaikan yang ada dalam dirinya selalu
menegurnya saat ia melakukan ketidak-pantasan tersebut. Allah Yang Maha Agung menyatakan
tentang hal ini dalam ayat:
فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ
“Dia
mengilhamkan kepadanya jalan-jalan kejahatan dan jalan-jalan ketakwaan” (Asy-Syams [91]:9).
Berarti bahwa Tuhan ada mengaruniakan suatu bentuk wahyu kepada setiap
orang yang disebut sebagai cahaya hati yang merupakan fitrat
guna membedakan
di antara yang baik
dan yang
buruk.
Sebagai contoh, ketika seorang pencuri
melakukan tindak pencuriannya, atau
seorang pembunuh melakukan pembunuhan, Tuhan akan menanamkan dalam batinnya rasa penyesalan karena telah melakukan suatu hal yang buruk. Hanya saja yang bersangkutan lalu tidak memperhatikannya karena cahaya hatinya
amat lemah
dan kalah
di bawah pengaruh fitrat hewaniah serta egonya.
Taubat Merupakan Penawar
Racun Dosa yang Ampuh
Kegalauan ego orang-orang seperti itu tidak mungkin diatasi oleh orang lain, namun Tuhan telah menyediakan obat penawarnya. Apakah penawar tersebut? Penawar
itu bernama pertobatan, memohonkan
pengampunan
dan rasa
penyesalan.
Berarti jika mereka melakukan suatu kekejian sejalan dengan tuntutan ego mereka, atau muncul suatu fikiran jahat dalam benak
mereka, lalu mereka mencari penawar melalui pertobatan
dan memohonkan
keampunan (maghfirah),
maka Tuhan
akan mengampuni mereka.
Bila mereka terantuk berulangkali tetapi menyesal
setiap kali terjadi
dan bertobat, maka rasa penyesalan dan pertobatan tersebut akan membasuh noda-noda dosa mereka. Hal inilah yang dikenal sebagai kafarah (penebusan) hakiki guna penawar
bagi dosa
alamiah.
Allah Swt. menyatakan mengenai hal ini dalam
ayat:
وَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ سُوۡٓءًا اَوۡ یَظۡلِمۡ نَفۡسَہٗ ثُمَّ یَسۡتَغۡفِرِ اللّٰہَ یَجِدِ
اللّٰہَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا
Barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian ia meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosanya, akan didapati olehnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang (An-Nisā
[4]:111).
Ayat yang bermakna sangat dalam
dan penuh kebijakan tersebut
mengandung arti bahwa sebagaimana keterperosokan dan laku dosa merupakan karakteristik dari kalbu yang cacat, tetapi tetap ada fitrat-fitrat abadi Ilahi dalam bentuk rahmat dan pengampunan, karena Dia secara
inheren (melekat)
adalah Maha
Pengampun
dan Maha
Penyayang.
Sifat
pengampunan-Nya tersebut bukan suatu hal yang kebetulan saja melainkan merupakan fitrat abadi Wujud-Nya yang memang disukai-Nya, dan yang ingin diberlakukan-Nya terhadap orang-orang yang layak. Tiap kali seseorang berpaling kepada Tuhan-nya dengan rasa penuh penyesalan dan pertobatan karena telah terperosok atau melakukan suatu tindakan dosa, ia menjadi layak memperoleh perlakuan bahwa Tuhan akan memandangnya dengan rahmat dan pengampunan.
Hal ini tidak
dibatasi pada satu atau dua kali
kejadian
saja karena sudah merupakan fitrat abadi Allah Yang Maha Agung bahwa Dia akan selalu berpaling (At-Tawwāb) kepada hamba-Nya yang telah menyesal dan telah bertobat.
Dengan demikian sudah menjadi hukum alam kalau seorang yang lemah nuraninya akan sering
terperosok dan alam tidak mengatur
agar fitrat orang yang mengikuti nafsu hewaniahnya lalu harus diubah. Yang menjadi kaidah abadi-Nya adalah mereka yang melakukan dosa
akan memperoleh pengampunan melalui laku pertobatan dan permohonan ampun.” (Brahin-i- Ahmadiyah, Safir Hind
Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.
I, hlm. 185-187, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 17 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar