Selasa, 06 September 2016

Pentingnya "Mengikuti Ujian" dan "lulus Ujian" & Hubungan Penganugerahan "Furqaan" Dengan "Ketakwaan" Kepada Allah Swt.



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 5

  PENTINGNYA MENGIKUTI UJIAN DAN LULUS UJIAN  & HUBUNGAN PENGANUGERAHAN  FURQĀN DENGAN KETAKWAAN  KEPADA ALLAH SWT.
 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  bagian  Bab 4  telah   dikemukakan    mengenai   makna perintah istighfar kepada Nabi Besar Muhammad Saw., bahwa  karena perjalanan (perkembangan) ruhani manusia  yang berkesinambungan – baik di dunia ini mau pun di alam akhirat -- betapa pentingnya keberadaan hukum syariat   yang   diwahyukan Allah Swt. kepada   para Rasul Allah pembawa syariat  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.   (QS.3:32 & 86; QS.33:22) – serta betapa pentingnya kesinambungan pengutusan para Rasul Allah  di kalangan Bani Adam (QS.7:35-       
    Berdasarkan kenyataan tersebut   betapa pentingnya orang-orang beriman senantiasa  memanjatkan istighfar  memohon maghfirah   Allah Swt.    agar  dalam melakukan “perjalanan ruhaninya” yang tidak ada batas akhirnya tersebut (QS.53:1-19; QS.66:9) Allah Swt. berkenan menutupi “kekurangan-kekuranganmanusiawi  yang merupakan bagian dari fitrat kemanusiaannya.

Sabda Nabi Besar Muhammad saw. Mengenai  Pentingnya Istighfar

   Sehubungan dengan pentingnya senantiasa istighfar memohon maghfirah (penutupan kelemahan) oleh Allah Swt. Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim).
    Abu Musa radhiallahu’anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di siang hari dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di malam  hari, sehingga matahari terbit dari barat (Kiamat).” (HR. Muslim).
Nabi Besar Muhammad saw.  bersabda:
“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim).
Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, Nabi Besar Muhammad saw.  bersabda:
 “Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud).
 Anas bin Malik r.a. meriwayatkan:  
 “Aku mendengar Rasulullah saw. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu memohon dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa-dosa kamu yang lalu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit, kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuni kamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu datang kepada-Ku dengan dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, niscaya Aku datangkan untukmu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi).
      Ali Al-Qari Al-Harawi (wafat tahun 1014 H) menyatakan bahwa hadits di atas bersumber dari firman Allah Ta’ala:
.....ؕ وَ  مَنۡ یَّتَّقِ اللّٰہَ  یَجۡعَلۡ لَّہٗ  مَخۡرَجًا ۙ﴿﴾ وَّ یَرۡزُقۡہُ  مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ  فَہُوَ حَسۡبُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  بَالِغُ  اَمۡرِہٖ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰہُ  لِکُلِّ شَیۡءٍ  قَدۡرًا ﴿﴾
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan menjadikannya untuknya jalan keluar dan Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah  niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya. Dan Allah telah menetapkan ketentuan atas segala sesuatu.” (Ath-Thalaq [65]: 3-4).  
       Makna hadits di atas juga ditegaskan oleh firman Allah  Swt. melalui lisan Nabi Hud a.s:
وَ یٰقَوۡمِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ  یُرۡسِلِ السَّمَآءَ  عَلَیۡکُمۡ مِّدۡرَارًا وَّ  یَزِدۡکُمۡ   قُوَّۃً   اِلٰی قُوَّتِکُمۡ  وَ لَا  تَتَوَلَّوۡا  مُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
“Dan wahai kaumku, mintalah ampunan Rabb (Tuhan) kamu kemudian bertaubatlah kamu kepada-Nya, niscaya Dia mengirimkan dari langit hujan yang deras kepada kamu dan menambahkan kekuatan atas kekuatan kamu, dan janganlah kamu berpaling dengan menjadi orang-orang yang banyak berbuat dosa.” (Hūd [11]: 53).
       Juga firman Allah Swt.  melalui lisan Nabi Nuh a.s.:
فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ غَفَّارًا ﴿ۙ﴾   یُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ  مِّدۡرَارًا ﴿ۙ﴾  وَّ یُمۡدِدۡکُمۡ  بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ  جَنّٰتٍ وَّ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ  اَنۡہٰرًا ﴿ؕ﴾   
Maka aku katakan kepada kaumku: “Mintalah ampunan Rabb (Tuhan)  kamu karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan dari langit hujan yang deras kepada kamu, mengaruniakan kepada kamu limpahan harta dan anak-anak, menjadikan untuk kamu kebun-kebun dan menjadikan untuk kamu sungai-sungai.” (Nuh [71]: 12-13)

Pentingnya Mengikuti Ujian dan Lulus Ujian

        Mengenai  kesinambungan ujian-ujian keimanan dari Allah Swt.  – sehingga penting  senantiasa memanjatkan  istighfar  memohon maghfirah Allah Swt.   --  contohnya adalah  dalam  menempuh jenjang pendidikan di sekolah,     mulai dari tingkatan Sekolah Dasar sampai dengan Perguruan Tinggi,     mengikuti ujian   dan lulus dari ujian merupakan  syarat bagi siswa atau mahasiswa untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya yang lebih tinggi.
      Demikian pula Sunnatullah adanya ujian-ujian keimanan yang diberlakukan-Nya dalam dunia keruhanian, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   الٓـمّٓ ۚ﴿﴾   اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ یُّتۡرَکُوۡۤا اَنۡ یَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَ ہُمۡ  لَا یُفۡتَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ  الۡکٰذِبِیۡنَ  ﴿﴾   اَمۡ حَسِبَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ اَنۡ  یَّسۡبِقُوۡنَا ؕ سَآءَ  مَا یَحۡکُمُوۡنَ  ﴿﴾  مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ  فَاِنَّ  اَجَلَ اللّٰہِ  لَاٰتٍ ؕ وَ ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾  وَ مَنۡ جَاہَدَ فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ لِنَفۡسِہٖ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  لَغَنِیٌّ  عَنِ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَنُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَنَجۡزِیَنَّہُمۡ اَحۡسَنَ  الَّذِیۡ  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Aku, Allah Yang Maha Mengetahui.  اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ یُّتۡرَکُوۡۤا اَنۡ یَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَ ہُمۡ  لَا یُفۡتَنُوۡنَ  --  Apakah manusia menyangka  bahwa mereka akan dibiarkan berkata: “Kami telah beriman,” dan  mereka tidak akan diuji?  وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ  الۡکٰذِبِیۡنَ  --  Dan  sungguh Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka pasti  Allah   mengetahui  orang-orang yang berkata benar dan pasti Dia  mengetahui orang-orang yang dusta. اَمۡ حَسِبَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ اَنۡ  یَّسۡبِقُوۡنَا ؕ سَآءَ  مَا یَحۡکُمُوۡنَ     --   Ataukah orang-orang yang berbuat keburukan menyangka bahwa mereka akan dapat melepaskan diri dari azab Kami? Sangat buruk  apa yang mereka putuskan!  مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ  فَاِنَّ  اَجَلَ اللّٰہِ  لَاٰتٍ  --    Barangsiapa mengharapkan  pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang ditetapkan Allah pasti tiba,  وَ ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡعَلِیۡمُ  -- dan   Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. وَ مَنۡ جَاہَدَ فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ لِنَفۡسِہٖ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  لَغَنِیٌّ  عَنِ  الۡعٰلَمِیۡنَ --   Barangsiapa telah berjihad maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari yakni tidak memerlukan seluruh  alam. وَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَنُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ  --    Dan orang-orang  yang beriman dan beramal saleh, niscaya akan Kami jauhkan dari mereka keburukan-keburukan mereka,  وَ لَنَجۡزِیَنَّہُمۡ اَحۡسَنَ  الَّذِیۡ  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ  -- dan pasti akan Kami berikan pahala kepada mereka yang lebih baik dari yang mereka kerjakan. (Al-Ankabūt [29]:1-8).

Furqān:  Proses “Pemisahan”  dan “Pembedaan Maqam Ruhani ” Melalui Ujian Keimanan

   ‘Ilm (ilmu) dalam ayat:  وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ  الۡکٰذِبِیۡنَ  -- “ Dan  sungguh Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka pasti Allah   mengetahui  orang-orang yang berkata benar dan pasti Dia  mengetahui orang-orang yang dusta.” ada dua macam:
    (a) Ilmu berupa pengetahuan mengenai sesuatu sebelum sesuatu itu mengambil wujud. Ilmu semacam itu tidak dimaksudkan di sini, sebab Allah Swt. adalah yang paling mengetahui segala yang nampak maupun yang gaib (QS.59:23).
   (b) Ilmu berupa pengetahuan mengenai peristiwa yang benar-benar terjadi. Ilmu semacam itulah yang dimaksud di sini.
  Ayat ini berarti bahwa makrifat Ilahi yang sederhana dan bertaraf rendah akan mengambil bentuk ilmu lahiriah (yang nyata). Atau ayat itu mengandung arti  bahwa Allah Swt.  akan memisahkan pendusta-pendusta dari orang-orang jujur, sebagaimana kata ‘ilm memiliki juga pengertian membedakan antara dua benda, terutama bila kata itu disusul oleh kata perangkai min (dari). Lihat juga QS.2:144 dan QS.3:141.
  Orang-orang yang beriman ditakdirkan untuk melalui kesulitan-kesulitan besar dan serba berkekurangan, dan keimanan mereka mendapat ujian yang berat; dan sesudah mereka keluar dari percobaan-percobaan itu dengan berhasil, barulah kenyataan akan menjadi terbukti, bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang sejati dan tulus-ikhlas (QS.2:154-158).   Dengan jalan inilah mereka dipisahkan dari orang-orang munafik, yakni palsu dalam pengakuan iman mereka.
  Makna yarju (harapan-harapan) dalam ayat:  مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ  فَاِنَّ  اَجَلَ اللّٰہِ  لَاٰتٍ -- “Barangsiapa mengharapkan  pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang ditetapkan Allah pasti tiba, dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. Kata yarju  berasal dari kata raja yakni  ia berharap memperoleh barang itu, atau ia khawatir akan itu. Dalam pengertian khawatir kata yarju itu dipergunakan pada peristiwa-peristiwa bila barang-barang yang diharapkan itu mungkin dapat memberi kepuasan (Mufradat).

Makna Jihad yang Hakiki & Hubungan Ketakwaan  dan Jihad dengan  Furqān

  Makna  jihad dalam ayat:  وَ مَنۡ جَاہَدَ فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ لِنَفۡسِہٖ ؕ    -- “Barangsiapa  berjihad  maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri, اِنَّ  اللّٰہَ  لَغَنِیٌّ  عَنِ  الۡعٰلَمِیۡنَ    --  sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari yakni tidak memerlukan seluruh  alam.”   Kata itu  memberikan gambaran singkat tetapi tepat mengenai seseorang mujahid — seorang pejuang sejati di jalan Allah.
  Cita-cita yang tinggi serta mulia, dan usaha yang gigih dan dawam dalam pengamalannya, itulah yang dalam istilah Islam disebut jihad; dan barangsiapa memiliki cita-cita semulia itu dan hidup sesuai dengan cita-cita itu ia adalah seorang muhajid dalam arti kata yang sebenarnya. Sehubungan dengan hal itu di akhir surah Al-Ankabūt Allah Swt. berfirman:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang  untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan se-sungguhnya Allāh beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Ankabūt [29]:70).
   Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan  -- seperti yang disalah-tafsirkan dengan merebaknya  peristiwa “bom bunuh diri”   --  melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami.”
   Pendek kata, ujian-ujian keimanan  merupakan bagian dari Sunnatullah yang harus dialami orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya  yang tujuannya bukan saja agar memperoleh peningkatan martabat ruhani  tetapi juga  sebagai furqān (pembeda), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ  یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ  یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ  --  jika kamu bertakwa kepada Allah Dia akan menjadikan  bagi kamu   pembedaوَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ --   dan Dia akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu, dan Dia akan mengampuni kamuوَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ  الۡعَظِیۡمِ  --  dan Allah  Memiliki  karunia yang sangat besar. (Al-Anfāl [8]:30).

Berbagai Makna Furqān  &  Hubungan Kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt. dan Kesempurnaan Al-Quran   dengan  “Nur di atas Nur” (Nabi Besar Muhammad Saw.)

  Furqān berarti: (1) sesuatu yang membedakan antara yang benar dan yang salah; (2) bukti atau bahan bukti atau dalil; (3) bantuan atau kemenangan, dan (4) fajar (Lexicon Lane). Jadi, ketika orang-orang bertakwa telah dianugerahi furqān  oleh Allah Swt, maka  mereka akan dianugerahi berbagai kemampuan sebagaimana  arti kata furqān tersebut, seperti  yang dijanjikan Allah Swt. dalam Al-Quran – yang juga disebut Al-Furqān  (QS.3:5; QS.25:2) -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ    لِیَکُوۡنَ لِلۡعٰلَمِیۡنَ نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. تَبٰرَکَ الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ   --   Maha Beberkat  Dia, Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya, لِیَکُوۡنَ لِلۡعٰلَمِیۡنَ نَذِیۡرَا  --  supaya ia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam. (Al-Furqān [25]:1-2).
   Kata tabāraka berkenaan Allah Swt. berarti: sangat mulia sekali; jauh sekali dari segala keaiban, kekotoran, ketidak-sempurnaan, dan segala macam sifat yang cemar; memiliki kebaikan yang berlimpah-limpah (QS.6:156 & QS.21:51). Karena  Al-Quran   -- sebagai kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) diwahyukan dari Allah Swt.  tentu Al-Quran pun memiliki semua nilai dan sifat yang terkandung dalam kata tabāraka tersebut.
 Al-Quran tidak hanya bebas sepenuhnya dari segala keaiban dan ketidak-sempurnaan (QS.4:83; QS.41:43; QS15:10), bahkan juga memiliki semua nilai luhur yang dapat dibayangkan dan yang seharusnya dipunyai oleh syariat terakhir bagi seluruh umat manusia, dan Al-Quran memilikinya itu dengan sepenuh-sepenuhnya.
  Furqān berarti: sesuatu yang membedakan antara yang benar dan yang palsu; keterangan, bukti atau kesaksian, sebab keterangan atau bukti itu gunanya membedakan antara yang benar dan yang salah. Kata  furqān itu pun mengandung arti pagi atau fajar, sebab fajar memisahkan siang hari dari malam.
 Al-Quran adalah furqān yang paripurna. Di antara seribu satu macam keindahan dan kebagusan yang membedakan Al-Quran dari kitab-kitab wahyu lainnya, dan yang menegakkan keunggulannya di atas kitab-kitab itu semuanya, dua macam nampak jelas sekali, yakni:
(a)               Al-Quran tidak membuat pernyataan atau pengakuan yang tidak didukung oleh bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang sehat dan kuat,  
(b)               Al-Quran membuat kebenaran itu begitu nyata bedanya dari kepalsuan sebagaimana nyata benar bedanya siang hari dari malam hari.

Makna “Nur di Atas Nur

Di antara seluruh umat manusia – bahkan di kalangan para Rasul Allah   --  satu-satunya orang yang berkat ketakwaannya serta jihadnya di jalan Allah yang sempurna sehingga memperoleh furqān yang paling sempurna pula adalah Nabi Besar Muhammad saw.  --  yakni “Nūr di atas nūr” (Cahaya di atas cahaya)  -- firman-Nya:
اَللّٰہُ  نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ  فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ  زَیۡتُوۡنَۃٍ  لَّا شَرۡقِیَّۃٍ  وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur  seluruh langit dan bumi. Perumpamaan Nur-Nya   seperti sebuah relung yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada dalam kaca.  Kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu  pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat,   یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ --  minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ   -- Nur di atas nur. Allah memberi bimbingan menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia kehendakiوَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ  --  dan Allah mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia, وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  --  dan Allah Maha  Mengetahui segala sesuatu. (An-Nūr [24]:36).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 5 September 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar