Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
5
PENTINGNYA MENGIKUTI UJIAN DAN LULUS
UJIAN & HUBUNGAN
PENGANUGERAHAN FURQĀN DENGAN KETAKWAAN KEPADA ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir bagian Bab
4 telah
dikemukakan mengenai makna perintah istighfar
kepada Nabi Besar Muhammad Saw., bahwa
karena perjalanan
(perkembangan) ruhani manusia yang berkesinambungan
– baik di dunia ini mau pun di alam akhirat -- betapa pentingnya keberadaan hukum syariat yang diwahyukan Allah Swt. kepada para
Rasul Allah pembawa syariat -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32 & 86; QS.33:22) – serta betapa
pentingnya kesinambungan pengutusan
para Rasul Allah di kalangan Bani Adam (QS.7:35-
Berdasarkan kenyataan tersebut betapa pentingnya orang-orang beriman senantiasa memanjatkan istighfar memohon maghfirah Allah Swt. agar dalam melakukan “perjalanan ruhaninya” yang tidak ada batas akhirnya tersebut
(QS.53:1-19; QS.66:9) Allah Swt.
berkenan menutupi “kekurangan-kekurangan”
manusiawi yang merupakan bagian dari fitrat kemanusiaannya.
Sabda Nabi Besar Muhammad saw. Mengenai Pentingnya Istighfar
Sehubungan dengan pentingnya
senantiasa istighfar memohon maghfirah
(penutupan kelemahan) oleh Allah Swt. Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
“Wahai sekalian
manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya,
sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim).
Abu Musa
radhiallahu’anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari
agar bertaubat orang yang berbuat jahat di siang hari dan Dia membentangkan
tangan-Nya pada siang hari agar bertaubat orang yang berbuat jahat di
malam hari, sehingga matahari terbit dari barat (Kiamat).” (HR. Muslim).
Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari barat
niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR.
Muslim).
Dari Ibnu Abbas r.a. berkata, Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
“Barangsiapa
senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya
kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya
rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.”
(HR. Abu
Daud).
Anas bin Malik r.a. meriwayatkan:
“Aku mendengar Rasulullah saw. Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu memohon dan mengharap kepada-Ku,
niscaya Aku ampuni dosa-dosa kamu yang lalu dan aku tidak peduli. Wahai anak
Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit, kemudian kamu memohon ampun
kepada-Ku niscaya Aku mengampuni kamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam,
sesungguhnya jika kamu datang kepada-Ku dengan dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu
menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, niscaya Aku
datangkan untukmu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi).
Ali Al-Qari Al-Harawi (wafat tahun 1014 H)
menyatakan bahwa hadits di atas bersumber dari firman Allah Ta’ala:
.....ؕ
وَ مَنۡ یَّتَّقِ اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّہٗ مَخۡرَجًا ۙ﴿﴾ وَّ
یَرۡزُقۡہُ مِنۡ حَیۡثُ لَا یَحۡتَسِبُ ؕ
وَ مَنۡ یَّتَوَکَّلۡ عَلَی اللّٰہِ فَہُوَ حَسۡبُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بَالِغُ
اَمۡرِہٖ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰہُ
لِکُلِّ شَیۡءٍ قَدۡرًا ﴿﴾
“Dan barangsiapa
yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah
akan menjadikannya untuknya jalan keluar dan Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Dan barangsiapa berserah diri kepada
Allah niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya. Dan Allah telah menetapkan ketentuan atas segala sesuatu.” (Ath-Thalaq [65]:
3-4).
Makna hadits di atas juga ditegaskan
oleh firman Allah Swt. melalui lisan Nabi
Hud a.s:
وَ
یٰقَوۡمِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ یُرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ مِّدۡرَارًا وَّ یَزِدۡکُمۡ
قُوَّۃً اِلٰی قُوَّتِکُمۡ وَ لَا
تَتَوَلَّوۡا مُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
“Dan wahai kaumku, mintalah
ampunan Rabb (Tuhan) kamu kemudian bertaubatlah
kamu kepada-Nya, niscaya Dia
mengirimkan dari langit hujan yang deras kepada kamu dan menambahkan kekuatan atas kekuatan kamu,
dan janganlah kamu berpaling dengan
menjadi orang-orang yang banyak berbuat
dosa.” (Hūd [11]:
53).
Juga firman Allah Swt. melalui lisan Nabi Nuh a.s.:
فَقُلۡتُ
اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ غَفَّارًا ﴿ۙ﴾ یُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ
مِّدۡرَارًا ﴿ۙ﴾ وَّ یُمۡدِدۡکُمۡ
بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ جَنّٰتٍ وَّ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ اَنۡہٰرًا ﴿ؕ﴾
Maka aku katakan kepada kaumku: “Mintalah ampunan Rabb (Tuhan) kamu karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun, niscaya Dia
akan mengirimkan dari
langit hujan yang deras kepada kamu, mengaruniakan kepada kamu limpahan
harta dan anak-anak, menjadikan
untuk kamu kebun-kebun dan
menjadikan untuk kamu sungai-sungai.” (Nuh [71]:
12-13)
Pentingnya Mengikuti Ujian
dan Lulus Ujian
Mengenai kesinambungan ujian-ujian keimanan dari Allah Swt. – sehingga penting senantiasa memanjatkan istighfar
memohon maghfirah Allah Swt. -- contohnya
adalah dalam menempuh jenjang
pendidikan di sekolah, mulai
dari tingkatan Sekolah Dasar sampai
dengan Perguruan Tinggi, mengikuti ujian dan lulus
dari ujian merupakan syarat
bagi siswa atau mahasiswa untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya yang lebih
tinggi.
Demikian pula Sunnatullah adanya ujian-ujian
keimanan yang diberlakukan-Nya dalam dunia
keruhanian, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
الٓـمّٓ ۚ﴿﴾ اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ یُّتۡرَکُوۡۤا اَنۡ
یَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَ ہُمۡ لَا
یُفۡتَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ
لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ الۡکٰذِبِیۡنَ
﴿﴾ اَمۡ
حَسِبَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ اَنۡ یَّسۡبِقُوۡنَا ؕ سَآءَ مَا یَحۡکُمُوۡنَ ﴿﴾ مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ فَاِنَّ
اَجَلَ اللّٰہِ لَاٰتٍ ؕ وَ
ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ وَ
مَنۡ جَاہَدَ فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ لِنَفۡسِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
لَغَنِیٌّ عَنِ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ لَنُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَنَجۡزِیَنَّہُمۡ
اَحۡسَنَ الَّذِیۡ کَانُوۡا
یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Aku, Allah Yang Maha
Mengetahui. اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ یُّتۡرَکُوۡۤا اَنۡ یَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَ
ہُمۡ لَا یُفۡتَنُوۡنَ -- Apakah
manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan berkata: “Kami telah
beriman,” dan mereka tidak akan diuji? وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ
فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ
صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ الۡکٰذِبِیۡنَ -- Dan
sungguh Kami benar-benar telah
menguji orang-orang sebelum mereka, maka pasti Allah mengetahui orang-orang yang berkata benar dan pasti Dia
mengetahui orang-orang yang dusta. اَمۡ حَسِبَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ السَّیِّاٰتِ اَنۡ یَّسۡبِقُوۡنَا ؕ سَآءَ مَا یَحۡکُمُوۡنَ -- Ataukah orang-orang
yang berbuat keburukan menyangka bahwa mereka
akan dapat melepaskan diri dari azab Kami? Sangat buruk apa yang mereka
putuskan! مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ فَاِنَّ
اَجَلَ اللّٰہِ لَاٰتٍ -- Barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang ditetapkan Allah pasti tiba,
وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ -- dan
Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. وَ مَنۡ جَاہَدَ فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ
لِنَفۡسِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَغَنِیٌّ
عَنِ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Barangsiapa
telah berjihad maka sesungguhnya
ia berjihad untuk dirinya sendiri, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari yakni tidak memerlukan seluruh
alam. وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ لَنُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ -- Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, niscaya akan Kami jauhkan dari mereka
keburukan-keburukan mereka, وَ لَنَجۡزِیَنَّہُمۡ اَحۡسَنَ الَّذِیۡ
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ -- dan pasti akan Kami berikan pahala kepada
mereka yang lebih baik dari yang mereka
kerjakan. (Al-Ankabūt [29]:1-8).
Furqān: Proses “Pemisahan” dan “Pembedaan
Maqam Ruhani ” Melalui Ujian Keimanan
‘Ilm (ilmu) dalam ayat: وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ
اللّٰہُ الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ
لَیَعۡلَمَنَّ الۡکٰذِبِیۡنَ -- “ Dan sungguh Kami
benar-benar telah menguji orang-orang
sebelum mereka, maka pasti Allah mengetahui orang-orang yang berkata benar dan pasti Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.” ada dua macam:
(a)
Ilmu berupa pengetahuan mengenai sesuatu sebelum
sesuatu itu mengambil wujud. Ilmu
semacam itu tidak dimaksudkan di sini, sebab Allah Swt. adalah yang paling
mengetahui segala yang nampak
maupun yang gaib (QS.59:23).
(b) Ilmu
berupa pengetahuan mengenai peristiwa yang benar-benar terjadi. Ilmu
semacam itulah yang dimaksud di sini.
Ayat ini berarti bahwa makrifat Ilahi yang sederhana
dan bertaraf rendah akan mengambil
bentuk ilmu lahiriah (yang nyata).
Atau ayat itu mengandung arti bahwa Allah
Swt. akan memisahkan pendusta-pendusta dari orang-orang jujur, sebagaimana kata ‘ilm memiliki juga
pengertian membedakan antara dua benda, terutama bila kata itu
disusul oleh kata perangkai min (dari). Lihat juga QS.2:144 dan
QS.3:141.
Orang-orang yang beriman ditakdirkan untuk
melalui kesulitan-kesulitan besar dan
serba berkekurangan, dan keimanan mereka mendapat ujian yang berat; dan sesudah mereka
keluar dari percobaan-percobaan itu
dengan berhasil, barulah kenyataan akan menjadi terbukti, bahwa mereka adalah hamba-hamba
Allah yang sejati dan tulus-ikhlas (QS.2:154-158). Dengan
jalan inilah mereka dipisahkan dari orang-orang munafik, yakni palsu
dalam pengakuan iman mereka.
Makna yarju
(harapan-harapan) dalam ayat: مَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ اللّٰہِ فَاِنَّ
اَجَلَ اللّٰہِ لَاٰتٍ -- “Barangsiapa mengharapkan
pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang ditetapkan Allah pasti tiba, dan Dia Maha Mendengar, Maha
Mengetahui”. Kata yarju berasal dari kata raja yakni ia berharap
memperoleh barang itu, atau ia khawatir akan itu. Dalam pengertian khawatir kata yarju itu dipergunakan pada peristiwa-peristiwa bila barang-barang
yang diharapkan itu mungkin dapat
memberi kepuasan (Mufradat).
Makna Jihad yang Hakiki
& Hubungan Ketakwaan dan Jihad
dengan Furqān
Makna jihad
dalam ayat: وَ مَنۡ جَاہَدَ فَاِنَّمَا یُجَاہِدُ
لِنَفۡسِہٖ ؕ -- “Barangsiapa
berjihad
maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri, اِنَّ
اللّٰہَ لَغَنِیٌّ عَنِ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya dari yakni tidak memerlukan seluruh
alam.” Kata itu memberikan gambaran
singkat tetapi tepat mengenai seseorang mujahid
— seorang pejuang sejati di jalan Allah.
Cita-cita yang tinggi serta mulia, dan usaha yang gigih dan dawam dalam pengamalannya, itulah yang dalam istilah Islam disebut jihad; dan barangsiapa memiliki cita-cita semulia itu dan hidup sesuai dengan cita-cita itu ia adalah seorang muhajid dalam arti kata yang
sebenarnya. Sehubungan dengan hal itu di akhir surah Al-Ankabūt Allah Swt. berfirman:
وَ الَّذِیۡنَ
جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka
pada jalan-jalan Kami, dan se-sungguhnya
Allāh beserta orang-orang yang berbuat ihsan.
(Al-Ankabūt
[29]:70).
Jihad sebagaimana diperintahkan oleh
Islam, tidak berarti harus membunuh
atau menjadi kurban pembunuhan -- seperti yang disalah-tafsirkan dengan merebaknya
peristiwa “bom bunuh diri” -- melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan
Ilahi, sebab kata fīnā berarti “untuk
menjumpai Kami.”
Pendek kata, ujian-ujian keimanan merupakan bagian dari Sunnatullah yang harus dialami orang-orang
yang beriman kepada Allah Swt.
dan Rasul-Nya yang tujuannya
bukan saja agar memperoleh peningkatan
martabat ruhani tetapi juga sebagai furqān
(pembeda), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا
اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ
فُرۡقَانًا وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, اِنۡ تَتَّقُوا اللّٰہَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ فُرۡقَانًا
وَّ یُکَفِّرۡ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ -- jika kamu bertakwa kepada Allah Dia
akan menjadikan bagi kamu pembeda,
وَّ یُکَفِّرۡ
عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ -- dan Dia
akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu,
dan Dia akan mengampuni kamu, وَ اللّٰہُ ذُو
الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- dan Allah Memiliki
karunia yang sangat besar. (Al-Anfāl [8]:30).
Berbagai Makna Furqān &
Hubungan Kesempurnaan Sifat-sifat
Allah Swt. dan Kesempurnaan Al-Quran dengan
“Nur di atas Nur” (Nabi Besar Muhammad Saw.)
Furqān
berarti: (1) sesuatu yang membedakan
antara yang benar dan yang salah; (2) bukti atau bahan bukti
atau dalil; (3) bantuan atau kemenangan,
dan (4) fajar (Lexicon Lane). Jadi, ketika orang-orang bertakwa telah dianugerahi furqān oleh Allah Swt,
maka mereka akan dianugerahi berbagai kemampuan
sebagaimana arti kata furqān tersebut, seperti yang dijanjikan
Allah Swt. dalam Al-Quran – yang juga
disebut Al-Furqān (QS.3:5; QS.25:2) -- firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ تَبٰرَکَ الَّذِیۡ
نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ لِیَکُوۡنَ لِلۡعٰلَمِیۡنَ نَذِیۡرَا ۙ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. تَبٰرَکَ
الَّذِیۡ نَزَّلَ الۡفُرۡقَانَ عَلٰی عَبۡدِہٖ -- Maha
Beberkat Dia, Yang telah menurunkan Al-Furqān kepada hamba-Nya, لِیَکُوۡنَ لِلۡعٰلَمِیۡنَ نَذِیۡرَا -- supaya ia
menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam. (Al-Furqān [25]:1-2).
Kata tabāraka berkenaan Allah Swt. berarti: sangat mulia sekali;
jauh sekali dari segala keaiban, kekotoran, ketidak-sempurnaan, dan segala
macam sifat yang cemar; memiliki kebaikan yang berlimpah-limpah (QS.6:156 &
QS.21:51). Karena Al-Quran -- sebagai kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) diwahyukan dari Allah Swt. tentu Al-Quran
pun memiliki semua nilai dan sifat yang terkandung dalam kata tabāraka tersebut.
Al-Quran tidak hanya bebas sepenuhnya dari segala keaiban
dan ketidak-sempurnaan (QS.4:83;
QS.41:43; QS15:10), bahkan juga memiliki
semua nilai luhur yang dapat dibayangkan dan yang seharusnya dipunyai oleh syariat
terakhir bagi seluruh umat manusia,
dan Al-Quran memilikinya itu dengan
sepenuh-sepenuhnya.
Furqān
berarti: sesuatu yang membedakan
antara yang benar dan yang palsu; keterangan, bukti atau kesaksian, sebab keterangan atau bukti itu
gunanya membedakan antara yang benar dan yang salah. Kata furqān itu
pun mengandung arti pagi atau fajar, sebab fajar memisahkan siang hari
dari malam.
Al-Quran adalah furqān yang paripurna.
Di antara seribu satu macam keindahan
dan kebagusan yang membedakan Al-Quran dari kitab-kitab wahyu lainnya, dan yang menegakkan keunggulannya di atas kitab-kitab itu semuanya, dua macam nampak jelas sekali, yakni:
(a)
Al-Quran tidak membuat pernyataan
atau pengakuan yang tidak didukung
oleh bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang sehat dan kuat,
(b)
Al-Quran membuat kebenaran itu begitu nyata
bedanya dari kepalsuan
sebagaimana nyata benar bedanya siang hari dari malam hari.
Makna “Nur di Atas Nur”
Di antara seluruh umat manusia –
bahkan di kalangan para Rasul Allah --
satu-satunya orang yang berkat ketakwaannya
serta jihadnya di jalan Allah yang sempurna sehingga memperoleh furqān
yang paling sempurna pula adalah Nabi Besar Muhammad saw. --
yakni “Nūr di atas nūr” (Cahaya di atas cahaya) -- firman-Nya:
اَللّٰہُ نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ
نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ
اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ
یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ
زَیۡتُوۡنَۃٍ لَّا
شَرۡقِیَّۃٍ وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ
یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی
نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur seluruh
langit dan bumi. Perumpamaan Nur-Nya seperti sebuah
relung yang di dalamnya ada pelita.
Pelita itu ada dalam kaca. Kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu pohon
zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ
لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ -- minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun
api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ
ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ
یَّشَآءُ -- Nur di atas nur. Allah memberi bimbingan
menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia
kehendaki, وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ
الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ -- dan Allah
mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia, وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- dan
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An-Nūr [24]:36).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy
Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 5 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar