Jumat, 02 September 2016

Tujuan Utama Penciptaan Manusia dan Makna "Ibadah" Kepada Allah Swt. & Kemajuan Tak terbatas Para "Penghuni Surga" di Alam Akhirat


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 1

TUJUAN UTAMA PENCIPTAAN MANUSIA DAN  MAKNA IBADAH KEPADA ALLAH SWT. & KEMAJUAN TAK TERBATAS PARA PENGHUNI SURGA   DI AKHIRAT

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   BLOG sebelumnya  --  “GHULAM ABDUL QADIR”  --  telah dibahas sabda-sabda Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, berkenaan dengan “Doa dan Pengabulannya”, dan dalam BLOG ini akan dijelaskan sabda-sabda beliau berkenaan   “Taubat dan Ampunan Allah Swt.”  
     Allah Swt. berfirman mengenai tujuan utama diciptakan-Nya umat manusia di alam semesta ini:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾  مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak   menciptakan jin dan ins ( manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku.  Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka, dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.  Sesungguhnya  Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki  Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt [51]:57-59).

Makna Ibadah Kepada Allah Swt.

    Arti yang utama untuk kata ‘ibadah  adalah  menundukkan diri sendiri kepada disiplin keruhanian yang ketat, lalu bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai  sepenuh jangkauannya, sepenuhnya serasi dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai pengesahan Allah Swt. dan  mampu mencampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri sifat-sifat Allah Swt. atau warna Sifat-sifat Allah Swt. melalui pengamalan syariat  -- terutama syariat Islam (Al-Quran – QS.3:32 & 86; QS.5:4; QS.33:22)   --  firman-Nya:
صِبۡغَۃَ اللّٰہِ ۚ وَ مَنۡ اَحۡسَنُ مِنَ اللّٰہِ صِبۡغَۃً  ۫ وَّ نَحۡنُ لَہٗ عٰبِدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Kami menganut agama  Allah, dan siapakah yang lebih baik daripada Allah dalam mengajarkan agama, dan kepada-Nya kami beribadah.”  (Al-Baqarah [2]:139).
      Shibghah berarti: celup atau warna; macam atau ragam atau sifat sesuatu; agama; peraturan hukum; pembaptisan. Shibghatallāh berarti: agama Allah; sifat yang dianugerahkan Allah Swt.  kepada manusia (Aqrab-ul-Mawarid). Agama itu disebut demikian karena agama mewarnai manusia seperti celup atau warna mewarnai sesuatu.
     Shibghah dipakai di sini sebagai pelengkap kata kerja yang mahzuf (tidak disebut karena telah diketahui). Menurut tata bahasa Arab, kadang-kadang bila ada satu kehendak keras untuk membujuk seseorang melakukan sesuatu pekerjaan tertentu, maka kata kerjanya ditinggalkan dan hanya tujuannya saja yang disebut. Maka kata-kata seperti na’khudzu (kami telah mengambil) atau nattabi’u (kami telah mengikuti) dapat dianggap sudah diketahui dan anak kalimat itu akan berarti “kami telah menerima atau kami telah menganut agama sebagaimana Tuhan menghendaki supaya kami menerima atau mengikutinya.”
  Sebagaimana tersebut dalam Surah Adz-Dzāriyāt [51]:57  sebelumnya,  itulah maksud dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Allah Swt.. Karunia-karunia lahir dan batin yang terdapat pada sifat manusia (QS.95:5; QS.14:35; QS.16:10) memberikan dengan jelas pengertian kepada kita, bahwa  di antara berbagai kemampuan manusia yang membangunkan pada dirinya  adalah dorongan untuk mencari Allah dan yang meresapkan kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada  Allah Swt., karena Allah Swt. telah menanamkan potensi kecintaan  kepada Tauhid Ilahi tersebut  dalam jiwa (ruh) manusia.

Hakikat Kesaksian Ruh Manusia &  Kesinambungan Pengutusan Para Rasul Allah

    Mengisyaratkan kepada kenyataan ituah   firman Allah Swt.  kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam  yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri   اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   --   sambil berfirman: ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا  --  Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ  --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.”   اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ  -- Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu  dan supaya mereka kembali kepada yang haq.  (Al-A’rāf [7]:173-175).
  Ayat 173  menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31). Atau ayat itu dapat pula merujuk kepada kemunculan para nabi Allah  dari kalangan Bani Adam yang menunjuki jalan menuju Allah Swt. (QS.7:35-37; QS.22:75-76; QS.6:92; QS.39:68-71),  dan ungkapan “dari sulbi  bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾    
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannyaیٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  --   Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ     --  maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri,  فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ    -- tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّار  --  Dan orang-orang yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Apiہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  mereka kekal di dalamnya.(Al-A’rāf [7]:35-37).

Makna Pertanyaan Allah Swt. kepada Ruh

 Makna ayat 35 bahwa apabila  batas waktu (ajal) yang ditetapkan untuk menghukum suatu kaum tiba  -- akibat mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka   -- maka  waktu itu tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda.
  Penggunaan sebutan Bani Adam dalam ayat 36 patut mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32), seruan dengan kata-kata “Hai anak-cucu Adam”ditujukan kepada umat manusia  di zaman  Nabi Besar Muhammad saw.  dan kepada generasi-generasi umat manusia yang akan lahir sesudah beliau saw.,  bukan kepada umat manusia yang hidup di masa  silam dan yang datang tak lama sesudah masa Nabi Adam a.s., sebagaimana telah keliru memahami ayat tersebut.
 Makna ayat:  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّار  --  “Dan orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Apiہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  mereka kekal di dalamnya”  berarti bahwa mereka yang menolak Utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman Allah Swt. yang dijanjikan kepada mereka karena menentang  para Rasul  Allah (QS.9:63; QS.14:47-48; QS.58:21-22).
  Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaan Ilahi:  اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” Pertanyaan itu berarti bahwa jika Allah Swt.   telah menyediakan perbekalan sepenuhnya untuk keperluan jasmani manusia -- dan demikian  pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian (QS.14:35; QS.16:19; QS.55:30-31)  --  maka betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya.

Pentingnya Beriman Kepada Rasul Allah dan Melaksanakan  Syariat

  Sesungguhnya karena menolak nabi Allah yang diutus kepada mereka  maka manusia menjadi saksi terhadap diri  mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih bahwa  mereka tidak mengetahui Allah atau syariat-Nya atau Hari Pembalasan itukah makna  firman-Nya: اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ  --  “Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.”   
   Kemunculan para nabi Allah juga menghambat (membungkam)  kaumnya dari mengemukakan dalih seperti dalam ayat 173 di atas, sebab pada saat itulah  haq   (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan  terang benderang dicela, firman-Nya: اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ  --   Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?” 
      Dengan demikian jelaslah betapa pentingnya kesinambungan pengutusan para Rasul Allah   sebab   Rasul Allah dan syariat merupakan dua sarana  yang dapat membawa manusia  memperoleh makrifat Ilahi yang benar dan sempurna serta    -- sampai batas tertentu  --  manusia dapat meniru dan menyerap Sifat-sifat Tasybihiyah Allah Swt. dalam kehidupannya, sehingga manusia layak disebut sebagai “Khalifah (wakil) Allah di muka bumi, sebagaimana tujuan utama dari melakukan ibadah kepada Allah Swt. (QS.51:57-59), firman-Nya:
یُرِیۡدُ اللّٰہُ لِیُبَیِّنَ لَکُمۡ وَ یَہۡدِیَکُمۡ سُنَنَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ وَ یَتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ اللّٰہُ یُرِیۡدُ اَنۡ یَّتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ۟ وَ یُرِیۡدُ الَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الشَّہَوٰتِ اَنۡ تَمِیۡلُوۡا مَیۡلًا عَظِیۡمًا ﴿﴾  یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِیۡفًا﴿﴾
Allah menghendaki untuk menjelaskan bagi kamu dan memberi kamu petunjuk  cara-cara orang-orang sebelummu serta Dia kembali  dengan kasih-sayang kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.  Dan Allah menghendaki kembali dengan kasih-sayang kepada kamu, sedangkan orang-orang yang menuruti hawa-nafsu menghendaki kamu cenderung kepada kejahatan.  یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِیۡفًا  --  Allah menghendaki untuk me-ringankan beban dari kamu, karena manusia telah diciptakan lemah. (An-Nisa [4]:27-29).

Jiwa (Fitrat) Manusia Memerlukan Petunjuk Syariat dan Rasul Allah

     Jadi, alasan mengapa Allah Swt.   telah pengutusan para Rasul Allah dan menurunkan syariat,   karena manusia   fitratnya lemah   dan  ia tidak dapat menemukan sendiri jalan-jalan untuk mencapai kemajuan ruhani  (QS.7:173-175) yang tidak berhingga  -- dan yang akan berlanjut di alam akhirat, yang disebut “kehidupan surgawi”  yang tidak ada batas akhirnya (QS.66:9)   --  sesuai dengan kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt. yang juga tidak ada batas akhirnya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat.  Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,  یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا  -- mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami, اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ  --   sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).
        Makna “cahaya yang berlari-lari” dalam ayat: یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya,  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya,”  kata yas-ā’ (berlari-lari) mengisyaratkan bahwa kemajuan ruhani manusia   -- melalui  ketakwaan kepada Allah Swt. dan ketaatan kepada Rasul Allah   -- berlangsung terus menerus (QS.36:56-59), tidak hanya terbatas dalam kehidupan di dunia ini tetapi juga berlanjut di alam akhirat, sebagaimana diisyaratkan dalam   permohonan  mereka dalam ayat selanjutnya.
  Makna ayat:   یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا  --  “mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami, اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ  --   sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”    Dari ayat ini   tampak bahwa setelah masuk surga, orang-orang beriman  dan bertakwa akan menggapai maghfirah – penutupan kekurangan (Lexicon Lane).
Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik (mi’raj) kian menanjak ke atas,  dan memandang tiap-tiap tingkat  surgawi sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat  surgawi yang lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu mereka akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya, sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat surgawi yang  lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan”: یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا  --  “mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami.”

Orang-orang Beragama yang Melupakan “Pembalasan

 Jadi, sungguh keliru  jika memahami bahwa  tujuan beragama dan mengamalkan ajaran agama  atau dalam melakukan amal shaleh hanya  agar  manusia memperoleh pahala serta menjadi penghuni surga,  yang didalamnya tersedia bagi mereka berbagai macam kenikmatan yang disediakan Allah Swt., sehingga   melupakan upaya perbaikan akhlak dan  ruhani, sebagaimana yang diperingatkan Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  اَرَءَیۡتَ  الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾  فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ  الۡیَتِیۡمَ ۙ﴿﴾  وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ﴿﴾  فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ ہُمۡ  یُرَآءُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  اَرَءَیۡتَ  الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ  --    Apakah engkau melihat orang yang mendustakan  agama?       فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ  الۡیَتِیۡمَ -- Maka itulah orang yang mengusir anak yatim, وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ  --  dan  tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.     فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ -- Maka celakalah bagi orang-orang yang shalatالَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ --  Orang-orang yang lalai dari  shalatnya, الَّذِیۡنَ ہُمۡ  یُرَآءُوۡنَ  -- Yaitu orang-orang yang berbuat  pamerۙ  وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ  --   Dan mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil kepada orang-orang miskin. (Al-Mā’ūn [107]:1-8).
     Dalam firman-Nya tersebut Allah Swt. menjelaskan bahwa tujuan utama beragama dan mengamalkan ajaran agama  -- khususnya agama Islam (Al-Quran) – adalah munculnya akhlak  dan ruhani terpuji dalam  diri para pengamalnya, yang digambarkan dalam bentuk  kepedulian terhadap sesama manusia yang nasibnya kurang beruntung,  terutama  anak-anak yatim  dan orang-orang miskin.
 Karena itu sungguh sangat  buruk  orang-orang yang tidak percaya kepada pembalasan Ilahi, atau, yang tidak percaya kepada dīn (agama) –  yang merupakan sumber dan dasar semua akhlak dan ruhani  manusia.  Contohnya mengenai fungsi atau khasiat shalat  Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:      
اُتۡلُ مَاۤ  اُوۡحِیَ  اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ ؕ اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ ﴿﴾
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu, وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ  -- dan dirikanlah shalat  الۡمُنۡکَرِ اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ  --   sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran.  وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ  -- Dan  me-ngingat Allāh benar-benar pekerjaan yang lebih besarوَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ --  dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabūt [29]:46).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 1 September 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar