Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN
MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
1
TUJUAN UTAMA PENCIPTAAN MANUSIA DAN MAKNA IBADAH
KEPADA ALLAH SWT. & KEMAJUAN TAK TERBATAS PARA PENGHUNI SURGA DI AKHIRAT
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam BLOG sebelumnya -- “GHULAM ABDUL QADIR” --
telah dibahas sabda-sabda Masih
Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah, berkenaan dengan “Doa
dan Pengabulannya”, dan dalam BLOG ini akan dijelaskan sabda-sabda
beliau berkenaan “Taubat dan Ampunan Allah Swt.”
Allah Swt. berfirman
mengenai tujuan utama diciptakan-Nya umat manusia di alam semesta ini:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ مَاۤ اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ
رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ
یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ
اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ ذُو
الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan ins ( manusia) melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. Aku
tidak menghendaki rezeki dari mereka,
dan tidak pula Aku menghendaki
supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya
Allah Dia-lah Pemberi rezeki,
Pemiliki
Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt [51]:57-59).
Makna Ibadah Kepada
Allah Swt.
Arti yang utama untuk kata ‘ibadah adalah
menundukkan diri sendiri
kepada disiplin keruhanian yang
ketat, lalu bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai
sepenuh jangkauannya, sepenuhnya serasi
dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai pengesahan Allah Swt. dan mampu mencampurkan
dan menjelmakan dalam dirinya sendiri
sifat-sifat Allah Swt. atau warna Sifat-sifat Allah Swt. melalui pengamalan syariat -- terutama syariat Islam (Al-Quran – QS.3:32 &
86; QS.5:4; QS.33:22) -- firman-Nya:
صِبۡغَۃَ اللّٰہِ ۚ وَ
مَنۡ اَحۡسَنُ مِنَ اللّٰہِ صِبۡغَۃً ۫ وَّ نَحۡنُ لَہٗ عٰبِدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Kami menganut agama Allah, dan siapakah yang lebih baik daripada Allah dalam mengajarkan agama, dan kepada-Nya kami beribadah.”
(Al-Baqarah [2]:139).
Shibghah
berarti: celup atau warna; macam atau ragam atau sifat sesuatu; agama;
peraturan hukum; pembaptisan. Shibghatallāh berarti: agama Allah; sifat
yang dianugerahkan Allah Swt. kepada
manusia (Aqrab-ul-Mawarid). Agama itu disebut demikian karena agama mewarnai manusia seperti celup atau warna mewarnai sesuatu.
Shibghah dipakai di sini sebagai
pelengkap kata kerja yang mahzuf (tidak disebut karena telah diketahui).
Menurut tata bahasa Arab, kadang-kadang bila ada satu kehendak keras untuk
membujuk seseorang melakukan sesuatu pekerjaan tertentu, maka kata kerjanya
ditinggalkan dan hanya tujuannya saja yang disebut. Maka kata-kata seperti na’khudzu
(kami telah mengambil) atau nattabi’u (kami telah mengikuti) dapat
dianggap sudah diketahui dan anak kalimat itu akan berarti “kami telah menerima atau kami telah menganut
agama sebagaimana Tuhan menghendaki supaya kami menerima atau mengikutinya.”
Sebagaimana tersebut dalam
Surah Adz-Dzāriyāt [51]:57 sebelumnya, itulah maksud
dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Allah Swt.. Karunia-karunia
lahir dan batin yang terdapat
pada sifat manusia (QS.95:5;
QS.14:35; QS.16:10) memberikan dengan jelas pengertian
kepada kita, bahwa di antara berbagai kemampuan manusia yang membangunkan pada dirinya adalah dorongan
untuk mencari Allah dan yang meresapkan kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt., karena Allah Swt. telah
menanamkan potensi kecintaan kepada Tauhid
Ilahi tersebut dalam jiwa (ruh) manusia.
Hakikat Kesaksian Ruh Manusia & Kesinambungan Pengutusan Para Rasul
Allah
Mengisyaratkan kepada kenyataan ituah firman
Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad
saw. berikut ini:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ
اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ
تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا
ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil kesaksian dari bani Adam yakni dari
sulbi keturunan mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- sambil berfirman: ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- Mereka
berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ
اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا
غٰفِلِیۡنَ -- Hal itu supaya kamu tidak berkata
pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا
اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
-- Atau
kamu mengatakan: ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik,
sedangkan kami hanyalah keturunan
sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا
بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan
oleh orang-orang yang berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah
Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya
mereka kembali kepada yang haq. (Al-A’rāf
[7]:173-175).
Ayat 173
menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam
dalam fitrat manusia sendiri mengenai
adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam serta mengendalikannya (QS.30:31). Atau ayat itu dapat pula merujuk
kepada kemunculan para nabi Allah dari kalangan Bani Adam yang menunjuki
jalan menuju Allah Swt.
(QS.7:35-37; QS.22:75-76; QS.6:92; QS.39:68-71), dan ungkapan “dari sulbi bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman
yang kepada mereka rasul Allah diutus,
firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
-- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul
dari antaramu yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ -- maka barangsiapa
bertakwa dan memperbaiki diri, فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- tidak
akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّار -- Dan orang-orang
yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- mereka kekal di dalamnya.(Al-A’rāf [7]:35-37).
Makna Pertanyaan Allah Swt. kepada Ruh
Makna ayat 35
bahwa apabila batas waktu (ajal) yang ditetapkan untuk menghukum suatu kaum tiba -- akibat mendustakan
dan menentang para Rasul Allah yang
dibangkitkan di kalangan mereka -- maka
waktu
itu tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda.
Penggunaan sebutan Bani Adam dalam ayat 36 patut mendapat perhatian istimewa. Seperti
pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27, 28 & 32), seruan dengan
kata-kata “Hai anak-cucu Adam”ditujukan kepada umat manusia di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dan kepada generasi-generasi umat manusia yang akan lahir sesudah
beliau saw., bukan kepada umat manusia yang hidup di masa
silam dan yang datang tak lama sesudah masa Nabi Adam a.s.,
sebagaimana telah keliru memahami
ayat tersebut.
Makna
ayat: وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّار -- “Dan
orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat
Kami dan dengan takabur
berpaling darinya, mereka itu penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- mereka kekal di dalamnya” berarti
bahwa mereka yang menolak Utusan-utusan
Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman Allah Swt. yang dijanjikan
kepada mereka karena menentang para Rasul Allah (QS.9:63; QS.14:47-48; QS.58:21-22).
Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan itulah yang mendorong timbulnya pertanyaan Ilahi: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” Pertanyaan itu berarti bahwa jika Allah Swt. telah menyediakan perbekalan sepenuhnya untuk keperluan
jasmani manusia -- dan demikian pula
untuk kemajuan akhlak dan keruhanian (QS.14:35; QS.16:19;
QS.55:30-31) -- maka betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya.
Pentingnya Beriman Kepada Rasul Allah
dan Melaksanakan Syariat
Sesungguhnya karena menolak nabi Allah yang diutus kepada mereka maka manusia menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri, sebab jika demikian
mereka tidak dapat berlindung di balik dalih
bahwa mereka tidak mengetahui Allah atau syariat-Nya
atau Hari Pembalasan itukah
makna firman-Nya: اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ
اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا
غٰفِلِیۡنَ -- “Hal itu supaya kamu tidak berkata
pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami benar-benar lengah dari hal ini.”
Kemunculan para nabi Allah juga menghambat (membungkam) kaumnya
dari mengemukakan dalih seperti dalam
ayat 173 di atas, sebab pada saat itulah
haq (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan terang benderang dicela, firman-Nya: اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ
اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
-- Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah
mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا
بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang berbuat batil
itu?”
Dengan demikian jelaslah betapa
pentingnya kesinambungan pengutusan
para Rasul Allah sebab
Rasul Allah dan syariat merupakan dua sarana yang dapat membawa
manusia memperoleh makrifat Ilahi yang benar dan sempurna serta -- sampai batas tertentu --
manusia dapat meniru dan menyerap Sifat-sifat Tasybihiyah Allah
Swt. dalam kehidupannya, sehingga manusia layak disebut sebagai “Khalifah (wakil) Allah di muka bumi, sebagaimana tujuan
utama dari melakukan ibadah
kepada Allah Swt. (QS.51:57-59), firman-Nya:
یُرِیۡدُ اللّٰہُ لِیُبَیِّنَ لَکُمۡ
وَ یَہۡدِیَکُمۡ سُنَنَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ وَ یَتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ
اللّٰہُ یُرِیۡدُ اَنۡ یَّتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ۟ وَ یُرِیۡدُ الَّذِیۡنَ
یَتَّبِعُوۡنَ الشَّہَوٰتِ اَنۡ تَمِیۡلُوۡا مَیۡلًا عَظِیۡمًا ﴿﴾ یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ
ضَعِیۡفًا﴿﴾
Allah menghendaki untuk
menjelaskan bagi kamu dan memberi kamu petunjuk cara-cara orang-orang sebelummu serta Dia kembali dengan kasih-sayang kepada kamu, dan Allah Maha
Mengetahui, Maha Bijaksana. Dan Allah menghendaki kembali dengan kasih-sayang kepada kamu, sedangkan orang-orang yang menuruti hawa-nafsu
menghendaki kamu cenderung kepada kejahatan. یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ
ضَعِیۡفًا -- Allah
menghendaki untuk me-ringankan beban dari kamu, karena manusia telah diciptakan lemah. (An-Nisa
[4]:27-29).
Jiwa (Fitrat) Manusia Memerlukan
Petunjuk Syariat dan Rasul Allah
Jadi, alasan
mengapa Allah Swt. telah pengutusan
para Rasul Allah dan menurunkan syariat, karena
manusia fitratnya
lemah dan ia tidak dapat menemukan sendiri jalan-jalan untuk mencapai kemajuan ruhani (QS.7:173-175) yang tidak berhingga -- dan yang akan berlanjut di alam akhirat, yang disebut “kehidupan surgawi” yang tidak ada batas akhirnya (QS.66:9) --
sesuai dengan kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt. yang juga tidak ada batas akhirnya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang
beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan seikhlas-ikhlas taubat. Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan
menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ
النَّبِیَّ وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan di
sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا -- mereka akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah
bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah
kami, اِنَّکَ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).
Makna “cahaya
yang berlari-lari” dalam ayat: یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ
النَّبِیَّ وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan mereka
dan di
sebelah kanannya,” kata yas-ā’ (berlari-lari) mengisyaratkan
bahwa kemajuan ruhani manusia -- melalui
ketakwaan kepada Allah Swt.
dan ketaatan kepada Rasul Allah -- berlangsung terus menerus (QS.36:56-59),
tidak hanya terbatas dalam kehidupan
di dunia ini tetapi juga berlanjut di
alam akhirat, sebagaimana
diisyaratkan dalam permohonan mereka dalam ayat
selanjutnya.
Makna ayat: یَقُوۡلُوۡنَ
رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا
نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا -- “mereka akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami, اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Dari
ayat ini tampak bahwa setelah masuk surga, orang-orang beriman dan bertakwa
akan menggapai maghfirah – penutupan kekurangan (Lexicon Lane).
Mereka akan terus-menerus
berdoa kepada Allah Swt. untuk
mencapai kesempurnaan dan sama sekali
tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan
terus naik (mi’raj) kian menanjak ke
atas, dan memandang tiap-tiap tingkat surgawi sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat
surgawi yang lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu mereka akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi
ketidaksempurnaannya, sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat surgawi yang lebih
tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang
secara harfiah berarti “mohon ampunan
atas segala kealpaan”: یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا --
“mereka akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah
bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami.”
Orang-orang Beragama yang Melupakan “Pembalasan”
Jadi, sungguh keliru jika memahami
bahwa tujuan beragama dan mengamalkan
ajaran agama atau dalam melakukan amal shaleh hanya agar
manusia memperoleh pahala serta
menjadi penghuni surga, yang didalamnya tersedia bagi mereka berbagai macam kenikmatan yang disediakan Allah Swt., sehingga melupakan upaya perbaikan akhlak dan ruhani, sebagaimana yang diperingatkan Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَرَءَیۡتَ
الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ فَذٰلِکَ
الَّذِیۡ یَدُعُّ الۡیَتِیۡمَ ۙ﴿﴾ وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ﴿﴾ فَوَیۡلٌ لِّلۡمُصَلِّیۡنَ
ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ یُرَآءُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
اَرَءَیۡتَ الَّذِیۡ
یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ -- Apakah
engkau melihat orang yang mendustakan
agama? فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ
الۡیَتِیۡمَ -- Maka itulah orang
yang mengusir anak yatim, وَ
لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ
-- dan tidak
menganjurkan memberi makan orang miskin. فَوَیۡلٌ
لِّلۡمُصَلِّیۡنَ -- Maka celakalah bagi
orang-orang yang shalat, الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ -- Orang-orang
yang lalai dari shalatnya, الَّذِیۡنَ
ہُمۡ یُرَآءُوۡنَ -- Yaitu
orang-orang yang berbuat pamer. ۙ وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ -- Dan
mencegah diri mereka untuk memberi
barang-barang kecil kepada orang-orang miskin. (Al-Mā’ūn
[107]:1-8).
Dalam firman-Nya tersebut Allah Swt.
menjelaskan bahwa tujuan utama beragama dan mengamalkan ajaran agama --
khususnya agama Islam (Al-Quran) –
adalah munculnya akhlak dan ruhani
terpuji dalam diri para pengamalnya, yang digambarkan dalam
bentuk kepedulian terhadap sesama manusia yang nasibnya kurang beruntung,
terutama anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
Karena itu sungguh sangat buruk orang-orang yang tidak percaya kepada pembalasan
Ilahi, atau, yang tidak percaya
kepada dīn (agama) – yang
merupakan sumber dan dasar semua akhlak dan ruhani manusia.
Contohnya mengenai fungsi atau
khasiat shalat Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
اُتۡلُ مَاۤ
اُوۡحِیَ اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ ؕ اِنَّ
الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ الۡمُنۡکَرِ ؕ
وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ ؕ وَ اللّٰہُ
یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ ﴿﴾
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu, وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ -- dan dirikanlah shalat الۡمُنۡکَرِ اِنَّ الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ -- sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran. وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ -- Dan
me-ngingat Allāh benar-benar pekerjaan
yang lebih besar, وَ
اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ -- dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabūt
[29]:46).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy
Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 1 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar