Kamis, 08 September 2016

Nabi Besar Muhammad Saw. Adalah "Nur di atas Nur" & Perbedaan "Anak-anak Cahaya" Dengan "Anak-anak Kegelapan"



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 6

  NABI BESAR MUHAMMAD SAW. ADALAH “NUR DI ATAS NUR”  & “ANAK-ANAK CAHAYA”  DAN “ANAK-ANAK KEGELAPAN

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  bagian  Bab 5  telah   dikemukakan    mengenai     makna “Nur di Atas Nur”,  bahwa   di antara seluruh umat manusia – bahkan di kalangan para Rasul Allah   --  satu-satunya orang yang berkat ketakwaannya serta jihadnya di jalan Allah yang sempurna sehingga memperoleh furqān yang paling sempurna pula adalah Nabi Besar Muhammad saw.    yakni “Nūr di atas nūr” (Cahaya di atas cahaya)  -- firman-Nya:
اَللّٰہُ  نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ  فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ  زَیۡتُوۡنَۃٍ  لَّا شَرۡقِیَّۃٍ  وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur  seluruh langit dan bumi. Perumpamaan Nur-Nya   seperti sebuah relung yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu ada dalam kaca.  Kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu  pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat,   یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ --  minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ  لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ   -- Nur di atas nur. Allah memberi bimbingan menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia kehendakiوَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ  --  dan Allah mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia, وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  --  dan Allah Maha  Mengetahui segala sesuatu. (An-Nūr [24]:36).

Makna Relung, Pelita dan Minyak

       Nur berarti cahaya sebagai lawan kegelapan. Kata nur mempunyai pengertian lebih luas dan lebih menembus dan juga lebih bertahan (lama) daripada dhiya yang juga artinya cahaya (Lexicon Lane).   Misykat berarti:  relung dalam sebuah tembok  yakni lobang atau lekuk dalam tembok yang tidak menembus dinding itu, dan  lampu yang ditempatkan di sana memberi cahaya lebih banyak daripada di tempat lain; tiang yang dipuncaknya diletakkan lampu (Lexicon Lane).  Zujajah berarti: kaca; bola dari kaca (Lexicon Lane).
   Ayat tersebut merupakan tamsil (perumpamaan) yang indah. Ayat ini membicarakan tiga buah benda — pelita,  kaca, dan relung. Nur Ilahi disebutkan terkurung di dalam tiga benda tersebut yang bila digabung bersama membuat binar dan kilau cahayanya menjadi lengkap dan sempurna.
     Memang “pelita” itulah yang menjadi sumber cahaya; dan  “kaca” yang melindungi lampu itu menjaga supaya cahayanya jangan padam oleh tiupan angin serta menambah terangnya; sedangkan “relung” menjaga cahaya itu.Tamsil (perumpamaan) ini dengan tepat dapat dikenakan kepada lampu senter yang bagian-bagiannya adalah kawat-kawat listrik yang memberikan cahaya, dan bola-lampu yang melindungi cahaya itu serta  reflektor  -- yakni permukaan relung yang mengkilat -- yang memancarkan dan menyebarkan cahaya serta memberi arah kepadanya.
      Dalam istilah ruhani  tiga buah benda itu — “lampu”, “kaca” dan “relung” — masing-masing dapat melukiskan cahaya Ilahi, para nabi Allah yang melindungi cahaya itu (Tauhid Ilahi) dari menjadi padam serta menambah kilau dan terangnya, sedangkan para khalifah Rasul  yang menyebarkan dan memancarkan cahaya Ilahi dan memberikan arah dan tujuan untuk menjadi petunjuk dan sinar penerang dunia.
     Ayat   selanjutnya:   یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ – “minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya” menyatakan bahwa minyak yang dipakai menyalakan lampu itu mempunyai kemurnian yang semurni-murninya dan dapat menyala sampai batas hingga membuat minyak itu berkobar menyala-nyala  sekalipun tidak dinyalakan api.
       Minyak itu diambil dari pohon yang bukan dari timur dan bukan juga dari barat, yaitu yang tidak bersifat pilih kasih terhadap sesuatu kaum tertentu:   یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ  زَیۡتُوۡنَۃٍ  لَّا شَرۡقِیَّۃٍ  وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ  -- “Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu  pohon zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat.
        Ayat ini dapat pula mempunyai tafsiran lain lagi. Nur (cahaya) yang tersebut dalam ayat ini dapat dianggap menunjuk kepada Nabi Besar Muhammad saw. , sebab beliau saw. dalam Al-Quran disebut nur (QS.5:16), dalam keadaan demikian “relung” berarti “hati” beliau saw.  dan “lampu” berarti fitrat beliau saw. yang amat murnikhalis dan dikaruniai sifat-sifat serta mengandung arti bahwa nur Ilahi yang telah ditanamkan dalam fitrat beliau saw. adalah sebersih dan secemerlang hablur (kristal), sehingga  ketika nur wahyu Ilahi turun kepada nur fitrat Nabi Besar Muhammad saw.  maka nur itu bersinar dengan kilauan berlipat ganda, yang oleh Al-Quran dilukiskan dengan kata-kata “Nur di atas nur”.

Matahari” Alam Semesta Ruhani

      Nur Nabi Besar Muhammad saw.  ini telah dibantu oleh minyak yang keluar dari pohon yang bukan hanya terang dan cemerlang tetapi juga berlimpah-limpah, mantap, dan kekal (seperti arti dan maksud kata mubarakah itu) dan dimaksudkan menyinari timur dan barat kedua-duanya.
      Lagi pula hati   Nabi Besar Muhammad saw.  begitu suci bersih, dan fitrat beliau saw. dianugerahi kemampuan yang begitu mulia, sehingga beliau saw. layak melaksanakan tugas-tugas misi agung beliau saw. (QS.62:3), bahkan sebelum wahyu Ilahi turun kepada beliau saw.. Inilah maksud kata-kata   یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ  --  “yang minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya.”
      Jadi, bagaikan matahari yang terbit dari timur ke barat  demikian juga halnya dengan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “matahari ruhani” alam keruhanian, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ  اِنَّاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ  نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾  وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dDan  sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya,   وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا -- dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya.  Dan berilah kabar gembira  kepada orang-orang beriman  bahwa sesungguhnya bagi mereka ada karu-nia yang besar dari Allah. (Al-Ahzāb [33]:46-48).
     Sebagaimana matahari merupakan titik-pusat alam semesta jasmani, begitulah pribadi  Nabi Besar Muhammad saw. pun merupakan titik-pusat alam keruhanian. Beliau saw. merupakan matahari dalam jumantara nabi-nabi dan mujaddid-mujaddid   -- yang seperti sekalian banyak bintang dan bulan berkeliling di sekitar beliau saw. dan meminjam cahaya dari beliau saw. (QS.4:70-71). Beliau saw. diriwayatkan pernah bersabda: “Sahabat-sahabatku adalah bagaikan bintang-bintang yang begitu banyak; siapa pun di antara mereka kamu ikut, kamu akan mendapat petunjuk” (Al-Jami’ash-Shaghir).

Rumah-rumah yang Bercahaya Al-Quran

      Tamsil ini dapat pula diberi tafsiran lain lagi. Relung dalam ayat ini berarti jasad manusia. Jasad manusia berisi  ruh  serta mengantarkan cahaya, yang berarti tubuh  manusia itu berisikan misbah atau pelita ruh yang menyinari akal manusia dan menghubungkannya dengan Tuhan.
      Pelita ruh itu terletak dalam zujajah (kaca   yakni otak/akal) yang menjaganya terhadap kemudaratan dan cacat serta menambah dan memantulkan cahayanya, zujājah yang melambangkan otak manusia susunannya begitu sempurna, sehingga telah menjuruskan beberapa ahli filsafat untuk mengira bahwa akal manusia adalah sumber asli cahaya Ilahi.
      Cahaya itu dibantu oleh minyak yang berasal dari suatu pohon yang diberkati, yaitu dari kebenaran-kebenaran yang pokok lagi abadi, yang tidak merupakan milik khusus orang-orang timur ataupun barat. Dan kebenaran-kebenaran kekal-abadi itu telah tertanam dalam fitrat manusia dan hampir-hampir akan menampakkan dirinya meskipun tanpa bantuan wahyu Ilahi: یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ – “minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun api tidak menyentuhnya.”
      “Cahaya” Allah – yang merupakan perpaduan antara wahyu Al-Quran  dengan  pribadi sempurna  Nabi Besar Muhamad saw.   – memancar cemerlang menerangi  pribadi dan rumah  para pengikut sejati beliau saw., sebagaimana diterangkan ayat selanjutnya, firman-Nya:
فِیۡ  بُیُوۡتٍ اَذِنَ اللّٰہُ  اَنۡ تُرۡفَعَ وَ یُذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ ۙ یُسَبِّحُ لَہٗ  فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ۙ﴾  رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ  وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ  اِقَامِ الصَّلٰوۃِ  وَ  اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ ۪ۙ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ ﴿٭ۙ﴾  لِیَجۡزِیَہُمُ اللّٰہُ  اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ  بِغَیۡرِ  حِسَابٍ  ﴿﴾
Di dalam rumah yang Allah telah mengizinkan supaya ditinggikan dan nama-Nya diingat di dalamnya,  bertasbih kepada-Nya di dalamnya pada waktu pagi dan petang, رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ  وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ  اِقَامِ الصَّلٰوۃِ  وَ  اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ  --    Orang-orang lelaki, tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah perniagaan dan tidak pula jual-beli, mendirikan shalat dan membayar zakat, یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ  -- mereka takut akan hari ketika   di dalamnya hati dan mata berubah-ubah (goncang),  لِیَجۡزِیَہُمُ اللّٰہُ  اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ --   Supaya  Allah memberi mereka ganjaran yang sebaik-baiknya atas apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah akan menambah kepada mereka dari karunia-Nyaوَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ  بِغَیۡرِ  حِسَابٍ    --  Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. (An-Nūr [24]:37-39).

Anak-anak Cahaya”  

       Ayat 37  berisikan suatu bukti dan juga suatu nubuatan. Ayat ini menubu-atkan bahwa rumah-rumah yang disinari oleh cahaya  -- yakni petunjuk   -- yang terdapat dalam Al-Quran akan dimuliakan,  dan para penghuninya senantiasa akan mengirim persembahan sanjung-puji kepada Allah Swt. . Ini akan merupakan bukti bahwa rumah-rumah itu disinari oleh nur Ilahi.
     Ayat 38-39  merupakan pengakuan agung terhadap ketakwaan dan kebaikan sahabat-sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  dan terhadap kecintaan mereka kepada Allah Swt.. Mereka itu orang-orang — demikian kata ayat itu — yang berdaging dan bertulang sehingga memerlukan makan dan minum serta pakaian dan rumah.
     Mereka pun mempunyai kemauan-kemauan dan keinginan-keinginan duniawi, pekerjaan-pekerjaan, dan kesibukan-kesibukan. Mereka bukan rahib-rahib atau pertapa-pertapa yang telah memutuskan hubungan dengan dunia. Namun di tengah-tengah segala kesibukan dan perjuangan dalam urusan dunianya tersebut mereka tidak lalai menjalankan kewajiban-kewajiban mereka kepada Allah Swt. (huququlLāh) dan manusia (huququl- ‘Ibād).
       Dalam ayat-ayat 37-39 di atas telah dikemukakan kata-kata penghargaan yang ditujukan kepada suatu golongan manusia  yaitu para pencinta nur Ilahi dan hamba-hamba Allah yang bertakwa.  Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai orang-orang yang menolak kecemerlangan cahaya  “Nur di atas nur” tersebut, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اَعۡمَالُہُمۡ کَسَرَابٍۭ بِقِیۡعَۃٍ یَّحۡسَبُہُ الظَّمۡاٰنُ مَآءً ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَہٗ  لَمۡ  یَجِدۡہُ شَیۡئًا وَّ وَجَدَ  اللّٰہَ عِنۡدَہٗ  فَوَفّٰىہُ حِسَابَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿ۙ﴾  اَوۡ کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ سَحَابٌ ؕ ظُلُمٰتٌۢ  بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ ؕ اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ  لَمۡ  یَکَدۡ یَرٰىہَا ؕ وَ مَنۡ  لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ   لَہٗ   نُوۡرًا  فَمَا  لَہٗ  مِنۡ  نُّوۡرٍ ﴿٪﴾
Dan orang-orang kafir   amal-amal mereka bagaikan fatamorgana di padang pasir, orang-orang  yang haus menyangkanya air,  hingga apabila ia mendatanginya  ia tidak mendapati sesuatu pun, dan ia mendapati Allāh di sisinya lalu Dia membayar penuh perhitungannya, dan Allah sangat cepat dalam perhitungan.  Atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, di atasnya gelom-bang demi gelombang meliputinya, di atasnya lagi ada awan hitam. Kegelapan sebagiannya di atas sebagian lain. Apabila ia mengulurkan tangan-nya ia hampir-hampir tidak dapat melihatnya,  dan barangsiapa baginya   Allah tidak menjadikan nur maka baginya tidak ada nur. (An-Nūr [24]:40-41). 

Anak-anak Kegelapan

      Ayat-ayat  ini membicarakan sesuatu golongan manusia lainnya  yaitu anak-anak kegelapan. Golongan pertama menerima nur  Nabi Besar Muhammad saw. serta mereka berjalan di dalamnya. Keadaan mereka yang sungguh membangkitkan rasa iri itu telah digambarkan dalam tamsil dengan kata-kata نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ  --  “nur di atas nur” (QS.24:36-39).
       Sedangkan golongan kedua menolak nur Ilahi dan memilih jalan kegelapan dalam rimba keragu-raguan. Segala usaha mereka terbukti sia-sia serta menyesatkan, laksana suatu fatamorgana. Mereka suka kepada kegelapan, mengikuti langkah kegelapan dan tinggal dalam kegelapan,  maka keadaan mereka yang tidak menarik itu telah dilukiskan dengan tepat dan jelas lagi terperinci dengan kata-kata:
 اَوۡ کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ سَحَابٌ ؕ ظُلُمٰتٌۢ  بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ ؕ اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ  لَمۡ  یَکَدۡ یَرٰىہَا ؕ وَ مَنۡ  لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ   لَہٗ   نُوۡرًا  فَمَا  لَہٗ  مِنۡ  نُّوۡرٍ ﴿٪﴾
“... atau seperti kegelapan di lautan yang dalam, di atasnya gelombang demi gelombang meliputinya, di atasnya lagi ada awan hitam. ظُلُمٰتٌۢ  بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ   -- Kegelapan sebagiannya di atas sebagian lain.  اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ  لَمۡ  یَکَدۡ یَرٰىہَا  -- Apabila ia mengulurkan tangannya ia hampir-hampir tidak dapat melihatnya,  وَ مَنۡ  لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ   لَہٗ   نُوۡرًا  فَمَا  لَہٗ  مِنۡ  نُّوۡرٍ  --  dan barangsiapa baginya   Allah tidak menjadikan nur maka baginya tidak ada nur. (An-Nūr [36:36-41).
      Dalam surah lain Allah Swt. berfirman mengenai penglihatan ilusi “fatamorgana” yang dilihat  “anak-anak kegelapan” tersebut, khususnya orang-orang munafik:
اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اشۡتَرَوُا الضَّلٰلَۃَ بِالۡہُدٰی ۪  فَمَا رَبِحَتۡ تِّجَارَتُہُمۡ وَ مَا کَانُوۡا مُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾ مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ  فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَہٗ ذَہَبَ اللّٰہُ بِنُوۡرِہِمۡ وَ تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ کَصَیِّبٍ مِّنَ السَّمَآءِ فِیۡہِ ظُلُمٰتٌ وَّ رَعۡدٌ وَّ بَرۡقٌ ۚ یَجۡعَلُوۡنَ اَصَابِعَہُمۡ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الۡمَوۡتِ ؕ وَ اللّٰہُ مُحِیۡطٌۢ بِالۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  یَکَادُ الۡبَرۡقُ یَخۡطَفُ اَبۡصَارَہُمۡ ؕ کُلَّمَاۤ اَضَآءَ لَہُمۡ مَّشَوۡا فِیۡہِ ٭ۙ وَ اِذَاۤ اَظۡلَمَ عَلَیۡہِمۡ قَامُوۡا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ  لَذَہَبَ بِسَمۡعِہِمۡ وَ اَبۡصَارِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Mereka itulah orang-orang yang  telah membeli yakni menukar kesesatan dengan petunjuk maka   perniagaan mereka sama sekali tidak beruntung dan mereka  sama sekali bukanlah orang-orang yang  mendapat petunjuk.  Perumpamaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api, maka tatkala api itu telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan meninggalkan mereka dalam kegelapan,  mereka tidak dapat melihat.    Mereka tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali.  Atau keadaan mereka seperti hujan lebat dari langit   yang di dalamnya berbagai macam kegelapan,  guruh, dan kilat, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya  disebabkan petir karena takut mati, dan Allah mengepung  orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:17-20).

Orang-orang Munafik   &  Makna “ Menyalakan Api

      Makna ayat:     “Mereka itulah orang-orang yang  telah membeli yakni menukar kesesatan dengan petunjuk”:  (1) Mereka telah melepaskan petunjuk dan mengambil kesesatan sebagai gantinya; (2) petunjuk dan kesesatan ditawarkan kepada mereka, tetapi mereka memilih kesesatan dan menolak petunjuk.
  Kata “api” dalam ayat:   “Perumpamaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api,”  kadang-kadang dipakai untuk peperangan. “Seorang yang menyalakan api” dalam ayat ini dapat dimaksudkan orang-orang munafik yang berserikat dengan orang-orang kafir untuk mengadakan peperangan terhadap Islam.
       Kata “api” tersebut dpat pula ditujukan kepada    Nabi Besar Muhammad saw.    yang atas perintah Allah Swt.   menyalakan Nur Ilahi  (QS.9:31-33; QS.61:8-10). Beliau saw.  diriwayatkan pernah bersabda: “Perumpamaanku adalah seperti orang yang menyalakan api” (Bukhari), yakni “Api Tauhid Ilahi”, sebab penampakan Allah Swt.  dalam kasyaf  (penglihatan ruhani) kadangkala dalam wujud “Api” sebagaimana yang dialami oleh Nabi Musa a.s. (QS.20:10-49;  QS.27:8-15; QS.28:30-36).
      Ungkapan: ذَہَبَ اللّٰہُ بِنُوۡرِہِمۡ وَ تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ  -- “Allah melenyapkan cahaya mereka dan  meninggalkan mereka dalam kegelapan,  mereka tidak dapat melihat”  berarti bahwa orang-orang munafik mengobarkan peperangan untuk menegakkan kembali pengaruh mereka yang telah lenyap di Madinah oleh kedatangan Nabi Besar Muhammad saw., tetapi  hasil yang sebenarnya dari peperangan itu adalah  terbukanya kedok kemunafikan mereka,  dan sebagai akibatnya  kekacauan pikiran dan kebingungan menimpa mereka.
       Kata zhulumāt  (kegelapan) yang senantiasa dipakai dalam Al-Quran dalam bentuk jamak, mengandung arti kegelapan akhlak dan ruhani, sebab dosa dan kejahatan tak pernah berpisah dan berdiri sendiri. Suatu kejahatan menarik kejahatan lain dan suatu kemalangan menarik kesialan yang lain. Artinya adalah bahwa  orang-orang munafik ditimpa oleh bahaya dan malapetaka yang berlipat ganda banyaknya.
       Oleh karena mereka tidak mengacuhkan peringatan   Nabi Besar Muhammad saw.  dan tidak pula berusaha mengungkapkan keragu-raguan mereka agar dapat dihilangkan, dan mereka telah menjadi tidak peka terhadap kemajuan yang telah dicapai oleh Islam di hadapan mata mereka sendiri  maka mereka disebut tuli, bisu, dan butaصُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ   -- “Mereka  tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali. ”  Makna  ayat selanjutnya:
اَوۡ کَصَیِّبٍ مِّنَ السَّمَآءِ فِیۡہِ ظُلُمٰتٌ وَّ رَعۡدٌ وَّ بَرۡقٌ ۚ یَجۡعَلُوۡنَ اَصَابِعَہُمۡ فِیۡۤ  اٰذَانِہِمۡ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الۡمَوۡتِ ؕ وَ اللّٰہُ مُحِیۡطٌۢ بِالۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  یَکَادُ الۡبَرۡقُ یَخۡطَفُ اَبۡصَارَہُمۡ ؕ کُلَّمَاۤ اَضَآءَ لَہُمۡ مَّشَوۡا فِیۡہِ ٭ۙ وَ اِذَاۤ اَظۡلَمَ عَلَیۡہِمۡ قَامُوۡا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ  لَذَہَبَ بِسَمۡعِہِمۡ وَ اَبۡصَارِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Atau keadaan mereka seperti hujan lebat dari langit   yang di dalamnya berbagai macam kegelapan,  guruh, dan  kilat, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya  disebabkan petir karena takut mati, dan Allah mengepung  orang-orang kafir (Al-Baqarah [2]:19-20).

Orang-orang   Penakut

        Sama’ berarti: sesuatu yang tergantung di atas dan memberi naungan; cakrawala atau langit, mega atau awan (Lexicon Lane).  Ayat ini dan ayat-ayat yang mendahuluinya menyebut dua golongan orang munafik: (1) orang-orang kafir yang pura-pura menjadi Muslim, dan (2) orang-orang beriman — buruk dalam kepercayaan dan lebih buruk lagi dalam pekerjaan mereka — yang mempunyai kecenderungan kepada kekafiran.
         Maksud ayat ini agaknya bahwa keadaan kaum munafik  golongan  yang kedua itu seperti orang-orang penakut, yang hanya karena hujan turun disertai guruh dan petir menjadi ketakutan dan tidak mengambil faedah dari kejadian itu.   Orang-orang munafik itu yang dilukiskan sebagai orang-orang lemah iman sangat dekat kepada kehilangan penglihatan.
      Mereka tidak benar-benar kehilangan mata iman tetapi jika mereka berulang-ulang dihadapkan kepada ujian-ujian keimanan      yang meminta keberanian dan pengorbanan yang dilambangkan dengan petir dan guruh, mereka sangat boleh jadi akan kehilangan matanya yakni imannya.
      Tetapi kasih-sayang Allah Swt.   telah mengatur demikian, sehingga kilat itu tidak selamanya disertai sambaran  petir. Seringkali kilat hanya sekilas kilau yang menyingkapkan selimut kegelapan dan menolong sang musafir untuk bergerak ke depan. Manakala Islam nampaknya mencapai kemajuan maka  orang-orang munafik mengadakan kerjasama dengan kaum Muslimin. Tetapi kalau kilat diikuti oleh guntur dan petir   -- yakni  bila keadaan menghendaki pengorbanan jiwa dan harta-benda – maka  dunia menjadi gelap bagi mereka; mereka menjadi kehilangan akal  lalu berhenti, mereka enggan bergerak maju bersama-sama dengan orang-orang yang beriman hakiki.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 6  September 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar