Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
6
NABI BESAR MUHAMMAD SAW. ADALAH “NUR DI ATAS NUR” & “ANAK-ANAK CAHAYA” DAN “ANAK-ANAK
KEGELAPAN”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir bagian Bab
5 telah
dikemukakan mengenai makna “Nur
di Atas Nur”, bahwa di
antara seluruh umat manusia – bahkan di kalangan para Rasul Allah -- satu-satunya orang yang berkat ketakwaannya serta jihadnya di jalan Allah
yang sempurna sehingga memperoleh furqān yang paling sempurna pula adalah Nabi
Besar Muhammad saw. yakni “Nūr
di atas nūr” (Cahaya di atas
cahaya) -- firman-Nya:
اَللّٰہُ نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ
نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ
اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ
یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ
زَیۡتُوۡنَۃٍ لَّا
شَرۡقِیَّۃٍ وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ
زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ
یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ
ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
Allah adalah Nur seluruh
langit dan bumi. Perumpamaan Nur-Nya seperti sebuah
relung yang di dalamnya ada pelita.
Pelita itu ada dalam kaca. Kaca itu seperti bintang yang gemerlapan. Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu pohon
zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat, یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ
لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ -- minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun
api tidak menyentuhnya. نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ
ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ
یَّشَآءُ -- Nur di atas nur. Allah memberi bimbingan
menuju nur-Nya kepada siapa yang Dia
kehendaki, وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ
الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ -- dan Allah
mengemukakan tamsil-tamsil untuk manusia, وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- dan
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (An-Nūr [24]:36).
Makna Relung, Pelita dan Minyak
Nur berarti cahaya sebagai lawan kegelapan. Kata nur mempunyai pengertian lebih luas dan lebih menembus
dan juga lebih bertahan (lama) daripada dhiya yang juga artinya cahaya (Lexicon Lane). Misykat berarti: relung dalam sebuah tembok yakni lobang
atau lekuk dalam tembok yang tidak
menembus dinding itu, dan lampu yang ditempatkan di sana memberi cahaya lebih banyak daripada di tempat
lain; tiang yang dipuncaknya diletakkan lampu (Lexicon Lane). Zujajah
berarti: kaca; bola dari kaca (Lexicon
Lane).
Ayat tersebut
merupakan tamsil (perumpamaan) yang indah. Ayat ini membicarakan tiga buah
benda — pelita, kaca, dan relung. Nur Ilahi disebutkan terkurung di dalam tiga benda tersebut yang bila digabung
bersama membuat binar dan kilau cahayanya menjadi lengkap dan sempurna.
Memang “pelita” itulah yang menjadi sumber cahaya; dan “kaca”
yang melindungi lampu itu menjaga
supaya cahayanya jangan padam oleh tiupan angin serta menambah terangnya; sedangkan “relung”
menjaga cahaya itu.Tamsil (perumpamaan) ini dengan
tepat dapat dikenakan kepada lampu senter
yang bagian-bagiannya adalah kawat-kawat
listrik yang memberikan cahaya, dan
bola-lampu yang melindungi cahaya itu serta reflektor -- yakni permukaan relung yang mengkilat --
yang memancarkan dan menyebarkan cahaya serta memberi arah kepadanya.
Dalam istilah ruhani tiga buah benda itu — “lampu”, “kaca” dan “relung”
— masing-masing dapat melukiskan cahaya Ilahi, para nabi Allah yang
melindungi cahaya itu (Tauhid Ilahi) dari
menjadi padam serta menambah kilau dan terangnya, sedangkan para khalifah Rasul yang menyebarkan
dan memancarkan cahaya Ilahi dan memberikan
arah dan tujuan untuk menjadi petunjuk dan sinar penerang dunia.
Ayat selanjutnya:
یَّکَادُ
زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ – “minyaknya hampir-hampir bercahaya walaupun
api tidak menyentuhnya” menyatakan
bahwa minyak yang dipakai menyalakan
lampu itu mempunyai kemurnian
yang semurni-murninya dan dapat menyala sampai batas hingga
membuat minyak itu berkobar menyala-nyala sekalipun tidak
dinyalakan api.
Minyak itu diambil dari pohon yang bukan dari timur dan bukan juga dari barat, yaitu yang tidak bersifat pilih kasih terhadap sesuatu kaum tertentu: یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ
مُّبٰرَکَۃٍ زَیۡتُوۡنَۃٍ لَّا شَرۡقِیَّۃٍ وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ -- “Pelita itu dinyalakan dengan minyak dari sebatang pohon kayu yang diberkati, yaitu pohon
zaitun yang bukan di timur dan bukan di barat.”
Ayat ini dapat pula mempunyai tafsiran
lain lagi. Nur (cahaya) yang tersebut dalam ayat ini dapat dianggap
menunjuk kepada Nabi Besar Muhammad saw. , sebab beliau saw. dalam
Al-Quran disebut nur (QS.5:16), dalam keadaan demikian “relung” berarti “hati” beliau saw. dan “lampu” berarti fitrat beliau saw.
yang amat murni, khalis
dan dikaruniai sifat-sifat serta
mengandung arti bahwa nur Ilahi yang telah ditanamkan dalam fitrat
beliau saw. adalah sebersih dan secemerlang hablur (kristal), sehingga
ketika nur wahyu Ilahi turun kepada
nur fitrat Nabi Besar Muhammad
saw. maka nur itu bersinar dengan kilauan berlipat ganda, yang oleh
Al-Quran dilukiskan dengan kata-kata “Nur di atas nur”.
“Matahari” Alam Semesta
Ruhani
Nur Nabi Besar
Muhammad saw. ini telah
dibantu oleh minyak yang keluar dari pohon yang bukan hanya terang dan cemerlang tetapi juga berlimpah-limpah,
mantap, dan kekal (seperti arti dan maksud kata mubarakah itu) dan
dimaksudkan menyinari timur dan barat kedua-duanya.
Lagi pula hati Nabi Besar Muhammad
saw. begitu suci bersih, dan fitrat beliau saw. dianugerahi kemampuan
yang begitu mulia, sehingga beliau saw. layak
melaksanakan tugas-tugas misi agung beliau
saw. (QS.62:3), bahkan sebelum wahyu
Ilahi turun kepada beliau saw.. Inilah maksud kata-kata یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ
لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ -- “yang minyaknya hampir-hampir bercahaya
walaupun api tidak menyentuhnya.”
Jadi, bagaikan matahari yang terbit dari timur ke barat demikian juga halnya dengan Nabi Besar
Muhammad saw. sebagai “matahari ruhani”
alam keruhanian, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ اِنَّاۤ
اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ
نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ
بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾ وَ
بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi
dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dDan sebagai penyeru
kepada Allah dengan perintah-Nya,
وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا -- dan juga
sebagai matahari yang memancarkan cahaya.
Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang beriman bahwa sesungguhnya bagi mereka ada karu-nia yang besar dari Allah. (Al-Ahzāb
[33]:46-48).
Sebagaimana matahari merupakan titik-pusat
alam semesta jasmani, begitulah
pribadi Nabi Besar Muhammad saw. pun merupakan titik-pusat alam keruhanian.
Beliau saw. merupakan matahari dalam
jumantara nabi-nabi dan mujaddid-mujaddid -- yang seperti sekalian banyak bintang dan bulan berkeliling di sekitar beliau saw. dan meminjam cahaya dari beliau saw. (QS.4:70-71). Beliau saw. diriwayatkan
pernah bersabda: “Sahabat-sahabatku
adalah bagaikan bintang-bintang yang begitu banyak; siapa pun di antara mereka
kamu ikut, kamu akan mendapat petunjuk” (Al-Jami’ash-Shaghir).
Rumah-rumah yang Bercahaya Al-Quran
Tamsil ini dapat pula diberi tafsiran lain lagi. Relung dalam
ayat ini berarti jasad manusia. Jasad
manusia berisi ruh serta mengantarkan cahaya, yang berarti tubuh
manusia itu berisikan misbah atau
pelita ruh yang menyinari akal manusia dan menghubungkannya dengan Tuhan.
Pelita ruh itu terletak dalam zujajah (kaca yakni otak/akal)
yang menjaganya terhadap kemudaratan dan cacat serta menambah dan
memantulkan cahayanya, zujājah yang melambangkan otak manusia susunannya begitu sempurna, sehingga telah menjuruskan
beberapa ahli filsafat untuk mengira
bahwa akal manusia adalah sumber asli
cahaya Ilahi.
Cahaya itu dibantu
oleh minyak yang berasal dari suatu pohon yang diberkati, yaitu dari kebenaran-kebenaran
yang pokok lagi abadi, yang tidak merupakan milik khusus orang-orang timur ataupun barat.
Dan kebenaran-kebenaran kekal-abadi itu
telah tertanam dalam fitrat
manusia dan hampir-hampir akan menampakkan dirinya meskipun tanpa
bantuan wahyu Ilahi: یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ
تَمۡسَسۡہُ نَارٌ – “minyaknya
hampir-hampir bercahaya walaupun api
tidak menyentuhnya.”
“Cahaya” Allah – yang merupakan perpaduan
antara wahyu Al-Quran dengan pribadi sempurna Nabi Besar Muhamad saw. – memancar cemerlang menerangi pribadi
dan rumah para pengikut
sejati beliau saw., sebagaimana diterangkan ayat selanjutnya, firman-Nya:
فِیۡ
بُیُوۡتٍ اَذِنَ اللّٰہُ اَنۡ
تُرۡفَعَ وَ یُذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ ۙ یُسَبِّحُ لَہٗ فِیۡہَا بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ۙ﴾ رِجَالٌ ۙ لَّا تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ وَّ لَا بَیۡعٌ عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ اِقَامِ الصَّلٰوۃِ وَ اِیۡتَآءِ
الزَّکٰوۃِ ۪ۙ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ
الۡاَبۡصَارُ ﴿٭ۙ﴾ لِیَجۡزِیَہُمُ
اللّٰہُ اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ
یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ بِغَیۡرِ
حِسَابٍ ﴿﴾
Di dalam rumah yang Allah telah mengizinkan supaya ditinggikan
dan nama-Nya diingat di dalamnya, bertasbih kepada-Nya di dalamnya pada waktu
pagi dan petang, رِجَالٌ ۙ لَّا
تُلۡہِیۡہِمۡ تِجَارَۃٌ وَّ لَا بَیۡعٌ
عَنۡ ذِکۡرِ اللّٰہِ وَ اِقَامِ
الصَّلٰوۃِ وَ اِیۡتَآءِ الزَّکٰوۃِ -- Orang-orang
lelaki, tidak melalaikan mereka dari
mengingat Allah perniagaan dan tidak pula jual-beli, mendirikan shalat dan membayar zakat, یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا
تَتَقَلَّبُ فِیۡہِ الۡقُلُوۡبُ وَ الۡاَبۡصَارُ -- mereka
takut akan hari ketika di dalamnya hati dan mata berubah-ubah
(goncang), لِیَجۡزِیَہُمُ
اللّٰہُ اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ
یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ -- Supaya
Allah memberi mereka ganjaran yang sebaik-baiknya atas apa yang telah
mereka kerjakan, dan Allah akan
menambah kepada mereka dari karunia-Nya.
وَ
اللّٰہُ یَرۡزُقُ مَنۡ یَّشَآءُ
بِغَیۡرِ حِسَابٍ -- Dan
Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.
(An-Nūr
[24]:37-39).
“Anak-anak Cahaya”
Ayat 37 berisikan suatu bukti dan juga suatu nubuatan.
Ayat ini menubu-atkan bahwa rumah-rumah yang disinari oleh cahaya -- yakni petunjuk -- yang terdapat dalam Al-Quran akan dimuliakan, dan para penghuninya
senantiasa akan mengirim persembahan
sanjung-puji kepada Allah Swt. . Ini akan merupakan bukti bahwa rumah-rumah itu disinari oleh nur
Ilahi.
Ayat 38-39
merupakan pengakuan agung terhadap ketakwaan
dan kebaikan sahabat-sahabat Nabi
Besar Muhammad saw. dan
terhadap kecintaan mereka kepada Allah
Swt.. Mereka itu orang-orang — demikian kata ayat itu — yang berdaging dan bertulang sehingga memerlukan makan
dan minum serta pakaian dan rumah.
Mereka pun mempunyai kemauan-kemauan
dan keinginan-keinginan duniawi, pekerjaan-pekerjaan, dan kesibukan-kesibukan. Mereka bukan rahib-rahib atau pertapa-pertapa yang telah memutuskan
hubungan dengan dunia. Namun di
tengah-tengah segala kesibukan dan perjuangan dalam urusan dunianya tersebut mereka tidak
lalai menjalankan kewajiban-kewajiban
mereka kepada Allah Swt.
(huququlLāh) dan manusia (huququl-
‘Ibād).
Dalam
ayat-ayat 37-39 di atas telah dikemukakan kata-kata
penghargaan yang ditujukan kepada suatu golongan manusia yaitu para pencinta nur Ilahi dan hamba-hamba
Allah yang bertakwa. Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
orang-orang yang menolak
kecemerlangan cahaya “Nur di atas nur” tersebut, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَعۡمَالُہُمۡ کَسَرَابٍۭ
بِقِیۡعَۃٍ یَّحۡسَبُہُ الظَّمۡاٰنُ مَآءً ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَہٗ لَمۡ
یَجِدۡہُ شَیۡئًا وَّ وَجَدَ
اللّٰہَ عِنۡدَہٗ فَوَفّٰىہُ
حِسَابَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿ۙ﴾ اَوۡ
کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ مَوۡجٌ مِّنۡ
فَوۡقِہٖ سَحَابٌ ؕ ظُلُمٰتٌۢ بَعۡضُہَا
فَوۡقَ بَعۡضٍ ؕ اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ
لَمۡ یَکَدۡ یَرٰىہَا ؕ وَ
مَنۡ لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ لَہٗ
نُوۡرًا فَمَا لَہٗ
مِنۡ نُّوۡرٍ ﴿٪﴾
Dan orang-orang kafir amal-amal mereka bagaikan fatamorgana di padang pasir, orang-orang yang haus menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya ia tidak mendapati sesuatu pun, dan ia mendapati Allāh di sisinya lalu Dia membayar penuh perhitungannya, dan Allah sangat cepat dalam perhitungan. Atau seperti
kegelapan di lautan yang dalam, di atasnya gelom-bang demi gelombang meliputinya, di atasnya lagi ada awan hitam. Kegelapan sebagiannya di atas sebagian lain. Apabila ia mengulurkan tangan-nya ia hampir-hampir
tidak dapat melihatnya, dan barangsiapa baginya Allah tidak menjadikan nur maka baginya tidak ada nur. (An-Nūr
[24]:40-41).
“Anak-anak Kegelapan”
Ayat-ayat ini membicarakan sesuatu golongan manusia
lainnya yaitu anak-anak kegelapan. Golongan pertama menerima nur Nabi Besar Muhammad saw. serta mereka berjalan di dalamnya. Keadaan mereka
yang sungguh membangkitkan rasa iri
itu telah digambarkan dalam tamsil
dengan kata-kata نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ -- “nur
di atas nur” (QS.24:36-39).
Sedangkan golongan kedua menolak
nur Ilahi dan memilih jalan kegelapan
dalam rimba keragu-raguan. Segala usaha mereka terbukti sia-sia serta menyesatkan, laksana suatu fatamorgana.
Mereka suka kepada kegelapan,
mengikuti langkah kegelapan dan tinggal dalam kegelapan, maka keadaan
mereka yang tidak menarik itu telah
dilukiskan dengan tepat dan jelas lagi terperinci dengan kata-kata:
اَوۡ کَظُلُمٰتٍ فِیۡ بَحۡرٍ لُّجِّیٍّ یَّغۡشٰہُ مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ
مَوۡجٌ مِّنۡ فَوۡقِہٖ سَحَابٌ ؕ ظُلُمٰتٌۢ
بَعۡضُہَا فَوۡقَ بَعۡضٍ ؕ اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ لَمۡ
یَکَدۡ یَرٰىہَا ؕ وَ مَنۡ لَّمۡ
یَجۡعَلِ اللّٰہُ لَہٗ نُوۡرًا
فَمَا لَہٗ مِنۡ
نُّوۡرٍ ﴿٪﴾
“... atau seperti kegelapan di
lautan yang dalam, di atasnya gelombang demi gelombang meliputinya, di atasnya lagi ada awan hitam. ظُلُمٰتٌۢ بَعۡضُہَا
فَوۡقَ بَعۡضٍ -- Kegelapan
sebagiannya di atas sebagian lain. اِذَاۤ اَخۡرَجَ یَدَہٗ لَمۡ
یَکَدۡ یَرٰىہَا -- Apabila ia
mengulurkan tangannya ia hampir-hampir tidak dapat melihatnya, وَ مَنۡ لَّمۡ یَجۡعَلِ اللّٰہُ لَہٗ
نُوۡرًا فَمَا لَہٗ
مِنۡ نُّوۡرٍ -- dan
barangsiapa baginya Allah tidak menjadikan nur maka baginya tidak ada nur. (An-Nūr
[36:36-41).
Dalam surah lain Allah Swt. berfirman
mengenai penglihatan ilusi
“fatamorgana” yang dilihat “anak-anak kegelapan” tersebut, khususnya
orang-orang munafik:
اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ اشۡتَرَوُا الضَّلٰلَۃَ بِالۡہُدٰی ۪ فَمَا رَبِحَتۡ تِّجَارَتُہُمۡ وَ مَا کَانُوۡا مُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾ مَثَلُہُمۡ کَمَثَلِ الَّذِی اسۡتَوۡقَدَ نَارًا ۚ فَلَمَّاۤ اَضَآءَتۡ مَا حَوۡلَہٗ
ذَہَبَ اللّٰہُ بِنُوۡرِہِمۡ وَ تَرَکَہُمۡ
فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ ﴿﴾ صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ
﴿ۙ﴾ اَوۡ کَصَیِّبٍ مِّنَ السَّمَآءِ
فِیۡہِ ظُلُمٰتٌ وَّ رَعۡدٌ وَّ بَرۡقٌ ۚ یَجۡعَلُوۡنَ اَصَابِعَہُمۡ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ
الۡمَوۡتِ ؕ وَ اللّٰہُ مُحِیۡطٌۢ بِالۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ یَکَادُ الۡبَرۡقُ یَخۡطَفُ اَبۡصَارَہُمۡ ؕ
کُلَّمَاۤ اَضَآءَ لَہُمۡ مَّشَوۡا
فِیۡہِ ٭ۙ وَ اِذَاۤ اَظۡلَمَ
عَلَیۡہِمۡ قَامُوۡا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ
لَذَہَبَ بِسَمۡعِہِمۡ وَ اَبۡصَارِہِمۡ
ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Mereka
itulah orang-orang yang telah membeli yakni
menukar kesesatan dengan petunjuk maka perniagaan
mereka sama sekali tidak beruntung dan mereka sama sekali bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk. Perumpamaan
mereka seperti keadaan orang yang
menyalakan api, maka tatkala
api itu telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan meninggalkan
mereka dalam kegelapan, mereka
tidak dapat melihat. Mereka tuli,
bisu, buta, maka mereka tidak akan
kembali. Atau keadaan
mereka seperti hujan lebat dari
langit yang di dalamnya berbagai macam kegelapan,
guruh, dan kilat, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya disebabkan petir karena takut mati,
dan Allah mengepung orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:17-20).
Orang-orang Munafik & Makna “ Menyalakan
Api”
Makna ayat: “Mereka itulah orang-orang yang telah
membeli yakni menukar kesesatan
dengan petunjuk”: (1)
Mereka telah melepaskan petunjuk dan
mengambil kesesatan sebagai gantinya;
(2) petunjuk dan kesesatan ditawarkan kepada mereka, tetapi mereka memilih kesesatan dan menolak petunjuk.
Kata “api” dalam ayat: “Perumpamaan
mereka seperti keadaan orang yang
menyalakan api,” kadang-kadang
dipakai untuk peperangan. “Seorang
yang menyalakan api” dalam ayat ini dapat dimaksudkan orang-orang munafik yang berserikat dengan orang-orang kafir untuk mengadakan peperangan terhadap Islam.
Kata “api” tersebut dpat pula ditujukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. yang
atas perintah Allah Swt. menyalakan Nur Ilahi (QS.9:31-33;
QS.61:8-10). Beliau saw. diriwayatkan pernah
bersabda: “Perumpamaanku adalah seperti
orang yang menyalakan api” (Bukhari),
yakni “Api Tauhid Ilahi”, sebab
penampakan Allah Swt. dalam kasyaf (penglihatan ruhani) kadangkala dalam wujud “Api” sebagaimana yang dialami oleh Nabi
Musa a.s. (QS.20:10-49; QS.27:8-15; QS.28:30-36).
Ungkapan: ذَہَبَ اللّٰہُ بِنُوۡرِہِمۡ وَ تَرَکَہُمۡ فِیۡ ظُلُمٰتٍ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ -- “Allah melenyapkan cahaya mereka dan meninggalkan
mereka dalam kegelapan, mereka
tidak dapat melihat” berarti bahwa orang-orang munafik mengobarkan
peperangan untuk menegakkan kembali pengaruh
mereka yang telah lenyap di Madinah oleh kedatangan Nabi Besar Muhammad
saw., tetapi hasil yang sebenarnya dari peperangan itu adalah terbukanya
kedok kemunafikan mereka, dan
sebagai akibatnya kekacauan pikiran dan kebingungan
menimpa mereka.
Kata zhulumāt (kegelapan) yang senantiasa dipakai dalam
Al-Quran dalam bentuk jamak,
mengandung arti kegelapan akhlak dan ruhani, sebab dosa dan kejahatan tak
pernah berpisah dan berdiri sendiri. Suatu kejahatan
menarik kejahatan lain dan suatu kemalangan menarik kesialan yang lain. Artinya adalah bahwa orang-orang
munafik ditimpa oleh bahaya dan malapetaka yang berlipat ganda
banyaknya.
Oleh
karena mereka tidak mengacuhkan peringatan
Nabi Besar Muhammad saw. dan tidak pula berusaha mengungkapkan keragu-raguan mereka agar dapat
dihilangkan, dan mereka telah menjadi tidak
peka terhadap kemajuan yang telah
dicapai oleh Islam di hadapan mata
mereka sendiri maka mereka disebut tuli, bisu, dan buta: صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ -- “Mereka tuli,
bisu, buta, maka mereka tidak akan
kembali. ” Makna ayat selanjutnya:
اَوۡ کَصَیِّبٍ مِّنَ السَّمَآءِ
فِیۡہِ ظُلُمٰتٌ وَّ رَعۡدٌ وَّ بَرۡقٌ ۚ یَجۡعَلُوۡنَ اَصَابِعَہُمۡ فِیۡۤ اٰذَانِہِمۡ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ
الۡمَوۡتِ ؕ وَ اللّٰہُ مُحِیۡطٌۢ بِالۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ یَکَادُ الۡبَرۡقُ یَخۡطَفُ اَبۡصَارَہُمۡ ؕ
کُلَّمَاۤ اَضَآءَ لَہُمۡ مَّشَوۡا
فِیۡہِ ٭ۙ وَ اِذَاۤ اَظۡلَمَ
عَلَیۡہِمۡ قَامُوۡا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ
لَذَہَبَ بِسَمۡعِہِمۡ وَ اَبۡصَارِہِمۡ
ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Atau keadaan
mereka seperti hujan lebat dari
langit yang di dalamnya berbagai macam kegelapan,
guruh, dan kilat, mereka memasukkan jari mereka ke dalam telinganya disebabkan petir karena takut mati,
dan Allah mengepung orang-orang kafir (Al-Baqarah [2]:19-20).
Orang-orang Penakut
Sama’
berarti: sesuatu yang tergantung di atas dan memberi naungan; cakrawala atau langit, mega atau awan (Lexicon Lane).
Ayat ini dan ayat-ayat yang mendahuluinya menyebut dua golongan orang munafik: (1) orang-orang kafir yang pura-pura menjadi Muslim, dan (2) orang-orang beriman — buruk dalam kepercayaan dan lebih buruk lagi dalam pekerjaan mereka — yang mempunyai
kecenderungan kepada kekafiran.
Maksud ayat ini agaknya bahwa keadaan kaum munafik golongan yang kedua itu seperti orang-orang penakut, yang hanya karena hujan turun disertai guruh dan petir menjadi ketakutan
dan tidak mengambil faedah dari
kejadian itu. Orang-orang munafik itu yang dilukiskan sebagai orang-orang lemah iman sangat dekat kepada kehilangan penglihatan.
Mereka tidak benar-benar kehilangan mata iman
tetapi jika mereka berulang-ulang
dihadapkan kepada ujian-ujian keimanan yang
meminta keberanian dan pengorbanan yang dilambangkan dengan petir dan guruh, mereka sangat boleh jadi akan kehilangan matanya yakni imannya.
Tetapi kasih-sayang Allah Swt. telah mengatur demikian, sehingga kilat itu tidak selamanya disertai
sambaran petir. Seringkali kilat
hanya sekilas kilau yang
menyingkapkan selimut kegelapan dan
menolong sang musafir untuk bergerak ke depan. Manakala Islam nampaknya mencapai kemajuan maka orang-orang
munafik mengadakan kerjasama
dengan kaum Muslimin. Tetapi kalau kilat diikuti oleh guntur dan petir -- yakni
bila keadaan menghendaki pengorbanan jiwa dan harta-benda – maka dunia
menjadi gelap bagi mereka; mereka
menjadi kehilangan akal lalu berhenti,
mereka enggan bergerak maju
bersama-sama dengan orang-orang yang
beriman hakiki.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy
Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 6 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar