Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
15
PENTINGNYA TAUBAT DAN MAGHFIRAH ILAHI & PENTINGNYA PEMAHAMAN DAN PENGAMALAN
YANG BENAR RUKUN IMAN DAN RUKUN ISLAM
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian Bab 14 dijelaskan
pentingnya keberadaan dan pengamalan hukum syariat serta pengutusan rasul Allah (QS.7:35-37) dalam rangka “meringankan beban” manusia, firman-Nya:
یُرِیۡدُ اللّٰہُ لِیُبَیِّنَ لَکُمۡ
وَ یَہۡدِیَکُمۡ سُنَنَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ وَ یَتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ
اللّٰہُ یُرِیۡدُ اَنۡ یَّتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ۟ وَ یُرِیۡدُ الَّذِیۡنَ
یَتَّبِعُوۡنَ الشَّہَوٰتِ اَنۡ تَمِیۡلُوۡا مَیۡلًا عَظِیۡمًا ﴿﴾ یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ
ضَعِیۡفًا﴿﴾
Allah menghendaki untuk
menjelaskan bagi kamu dan memberi kamu petunjuk cara-cara orang-orang sebelummu serta Dia kembali dengan kasih-sayang kepada kamu, dan Allah Maha
Mengetahui, Maha Bijaksana. وَ اللّٰہُ یُرِیۡدُ اَنۡ یَّتُوۡبَ
عَلَیۡکُمۡ -- Dan Allah menghendaki kembali dengan kasih-sayang kepada kamu, وَ یُرِیۡدُ
الَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الشَّہَوٰتِ اَنۡ تَمِیۡلُوۡا مَیۡلًا عَظِیۡمًا -- sedangkan orang-orang yang menuruti hawa-nafsu menghendaki
kamu cenderung kepada kejahatan. یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ
ضَعِیۡفًا -- Allah
menghendaki untuk meringankan beban dari kamu, karena manusia telah diciptakan lemah. (An-Nisa
[4]:27-29).
Ayat 29 merupakan sanggahan
pula terhadap ajaran Kristen mengenai
“Penebusan
Dosa” yang menolak syariat dengan
alasan bahwa manusia itu lemah, dimana menurut Paulus
dalam surat-surat kirimannya bahwa syariat itu merupakan “kutuk” karena telah membuat manusia terjerumus ke dalam “dosa” (Roma 2:12-29 & 3:1-31; Galatia 3:15-29).
Islam (Al-Quran) mengemukakan bahwa pada hakikatnya
“kelemahan” manusia justru merupakan alasan untuk turunnya syariat agar dapat membantu
manusia mencapai maksudnya (tujuan
utama penciptaannya --
QS.51:57-59), yang tinggi, yakni
sebagai “khalifah” (wakil) Allah Swt. di muka bumi, karena itu syariat bukan suatu kutukan
melainkan suatu pertolongan dan rahmat
dari Allah Swt.. Itulah makna ayat: یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ
ضَعِیۡفًا -- “Allah
menghendaki untuk meringankan beban dari kamu, karena manusia telah diciptakan lemah.” (An-Nisa
[4]29).
Sabda Masih Mau’ud a.s. Mengenai Pentingnya Taubat dan Istighfar
Sehubungan dengan pentingnya senantiasa memanjatkan istighfar guna memperoleh maghfirah Allah Swt.
dalam setiap kemajuan ruhani
yang diraih oleh orang-orang yang beriman
dan beramal shaleh, Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. —yakni
Masih
Mau’ud a.s. -- bersabda:
“Jelas kiranya bahwa manusia
itu secara alamiah
memang lemah sekali namun demikian dibebani
demikian banyak peraturan Ilahi. Karena kelemahan dirinya itu maka manusia
tidak sempurna
melaksanakan perintah-perintah Ilahi, terkadang malah dikalahkan nafsu dirinya yang cenderung mengundang
dosa.
Karena fitrat kelemahan dirinya itu maka setiap kali ia tergelincir perlu baginya bertobat dan memohon ampun agar rahmat
Ilahi dapat menyelamatkannya
dari kerugian.
Sesungguhnya jika Tuhan bukan
merupakan Wujud Yang menerima
pertobatan maka manusia
tidak akan dibebani
dengan demikian
banyak ketentuan dan perintah. Hal ini membuktikan secara konklusif
(pasti) kalau Tuhan itu cenderung kepada
manusia
dengan Rahmat-Nya dan bersifat Maha Pengampun.
Pengertian
Taubat
Taubat mengandung pengertian
bahwa seseorang meninggalkan suatu kebiasaan buruk dengan tekad
penuh
bahwa setelah itu -- meski ia dilempar ke dalam api sekali pun -- ia
tidak akan mengulangi dosa
itu lagi. Bila manusia berpaling kepada Allah Swt. dengan ketulusan dan keteguhan
niat
seperti ini maka Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha
Penyayang
akan mengampuni dosanya tersebut.
Adalah
menjadi fitrat Ilahi bahwa Dia
akan mengabulkan pertobatan
dan menyelamatkan sang pendosa dari kehancuran.
Bila manusia tidak mempunyai harapan bahwa pertobatannya
akan diterima
maka ia tidak akan menahan dirinya melakukan dosa.
Umat Kristiani
juga percaya akan pertobatan tetapi diikuti
persyaratan
bahwa orang bersangkutan haruslah
seorang penganut Kristen. Islam tidak mempersyaratkan apa pun untuk bertobat. Pertobatan
dari penganut semua agama bisa saja
diterima dengan kekecualian dosa karena menolak
Kitab Allah
dan Rasul-Nya.
Adalah suatu hal yang tidak
mungkin bagi manusia memperoleh keselamatan hanya berdasarkan
perilakunya sendiri
saja. Hanya karena Sifat Maha Pemurah dari Allah
Swt.
sajalah maka Dia menerima pertobatan sebagian manusia, dan berkat dari rahmat-Nya dianugrahkan kekuatan kepada
yang lainnya agar mereka terpelihara dari laku
dosa.” (Chasma
Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908;
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. XXIII, hlm. 189-190, London, 1984).
Berikut
beberapa firman Allah Swt. mengenai pentingnya menyembah Allah Swt. -- berupa pengamalan
hukum syariat -- dan pentingnya
pengutusan rasul Allah dan pentingnya
senantiasa istighfar guna meraih maghfirah (penutupan
kelemahan/kekurangan) Allah Swt., firman-Nya:
لِلّٰہِ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ
تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ
تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ
لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Milik Allah-lah apa pun yang ada
di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, وَ اِنۡ
تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ
اَوۡ تُخۡفُوۡہُ -- dan jika
kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya یُحَاسِبۡکُمۡ
بِہِ اللّٰہُ -- Allah akan menghisab kamu mengenainya, ؕ فَیَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ
یَّشَآءُ -- maka
Dia akan mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki, وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- dan Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu (Al-Baqarah [2]:285).
Ayat ini diawali dengan memperkenalkan
mengenai “Tuhan yang Hakiki” yang harus disembah oleh umat
manusia -- yakni Allah Swt. – firman-Nya: لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ – “Milik Allah-lah apa pun yang ada di seluruh
langit dan apa pun yang ada di bumi”.
Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan bahwa
karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya (QS.51:57) -- yakni mematuhi perintah dan larangan-Nya
dalam syariat -- maka selanjutnya
Dia berfirman: وَ اِنۡ
تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ
اَوۡ تُخۡفُوۡہُ -- dan jika
kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya یُحَاسِبۡکُمۡ
بِہِ اللّٰہُ -- Allah akan menghisab kamu mengenainya.”
Walau pun manusia diciptakan dalam keadaan “lemah” tetapi jika telah melakukan upaya keras untuk mematuhi
perintah dan larangan-Nya dalam
hukum syariat: ؕ فَیَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ
یَّشَآءُ -- maka
Dia akan mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki, وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- dan Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu.”
Tuhan Yang Hakiki Hanya Allah
Swt. Pemilik Sifat-sifat Sempurna
Jadi, kecuali Allah Swt., di alam semesta ini tidak ada “tuhan-tuhan sembahan”
lainnya sebagaimana yang dipercayai dan disembah oleh orang-orang
musyrik, yang pada hakikatnya kemusyrikan tersebut membuktikan
ketidak-tahuan dan kejahilan
mereka terhadap Allah Swt. dan kesempurnaan Sifat-sifat-Nya, sebagai -- Tuhan Pencipta alam semesta serta Tuhan kehidupan dunia dan akhirat -- Tuhan Yang
Maha gaib dan Maha Pengampun, firman-Nya:
وَ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ
الۡجِنَّ وَ خَلَقَہُمۡ وَ خَرَقُوۡا لَہٗ
بَنِیۡنَ وَ بَنٰتٍۭ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ ؕ سُبۡحٰنَہٗ وَ تَعٰلٰی عَمَّا
یَصِفُوۡنَ ﴿﴾٪ بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ
اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہٗ
وَلَدٌ وَّ لَمۡ تَکُنۡ لَّہٗ صَاحِبَۃٌ ؕ وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ ۚ وَ ہُوَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan mereka menjadikan jin-jin sebagai sekutu
bagi Allah padahal Dia menciptakan
mereka yakni jin-jin itu, dan mereka
telah mengada-adakan anak-anak lelaki dan anak-anak anak perempuan bagi-Nya tanpa ilmu. Maha-suci Dia dan Mahaluhur dari apa yang mereka sifatkan. بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Dia-lah Yang
memulai penciptaan seluruh langit dan bumi,
اَنّٰی یَکُوۡنُ
لَہٗ وَلَدٌ وَّ لَمۡ تَکُنۡ لَّہٗ
صَاحِبَۃٌ -- bagaimana
mungkin Dia mempunyai anak padahal Dia
tidak pernah mempunyai isteri, وَ خَلَقَ کُلَّ شَیۡءٍ ۚ وَ
ہُوَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- Dia-lah Yang menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-An’ām [6]:101-102).
Jin
adalah wujud yang sembunyi atau memencilkan diri dari orang-orang
awam (ins). Ayat itu berarti bahwa manusia tergelincir bila ia menolak wahyu Ilahi dan mengikuti pertimbangan akalnya sendiri,
lalu menyekutukan jin dan malaikat-malaikat dengan Allah Swt.
serta menisbahkan anak laki-laki dan anak
perempuan kepada Dia: وَ خَرَقُوۡا لَہٗ بَنِیۡنَ وَ بَنٰتٍۭ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ -- “mereka
telah mengada-adakan anak-anak lelaki dan anak-anak anak perempuan bagi-Nya tanpa ilmu.”
Kata waladun, wuldun dan waldun
berarti: bocah, anak laki-laki anak perempuan, atau anak sesuatu apa pun,
anak-anak, anak-anak laki-laki, anak-anak perempuan; atau bocah-bocah, juga
anak-cucu (Lexicon Lane).
Manusia dapat memperoleh anak hanya apabila mempunyai istri. Sedangkan Allah Swt. tidak
mempunyai istri, maka dari itu Dia
tidak mempunyai anak. Lebih-lebih, karena Allah Swt. adalah
Al-Khāliq (Maha Pencipta) Yang menciptakan
segala sesuatu dan memiliki
pengetahuan yang sempurna, maka Dia
tidak memerlukan anak, untuk membantu-Nya atau menjadi penerus-Nya (QS.112:1-5).
Wujud Yang Maha Gaib dari Jangkauan Indera-indera
Jasmani
Lebih jauh
Allah Swt. menerangkan mengenai
satu-satunya Wujud Yang harus disembah manusia sebagai Tuhan mereka yang hakiki firman-Nya:
ذٰلِکُمُ اللّٰہُ رَبُّکُمۡ ۚ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ خَالِقُ
کُلِّ شَیۡءٍ فَاعۡبُدُوۡہُ ۚ وَ
ہُوَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
وَّکِیۡلٌ ﴿ ﴾ لَا تُدۡرِکُہُ الۡاَبۡصَارُ
۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ
ہُوَ اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡرُ ﴿ ﴾ قَدۡ
جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ
عَمِیَ فَعَلَیۡہَا ؕ وَ مَاۤ اَنَا عَلَیۡکُمۡ بِحَفِیۡظٍ ﴿ ﴾
Wujud Yang demikian itulah Allah,
Rabb (Tuhan) kamu. Tidak ada Tuhan kecuali Dia, Pencipta
segala sesuatu, maka sembahlah Dia,
dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. لَا تُدۡرِکُہُ الۡاَبۡصَارُ
۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ
ہُوَ اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡرُ -- Penglihatan mata tidak mencapai-Nya
tetapi Dia mencapai penglihatan, dan Dia
Mahahalus, Maha Mengetahui. قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ
-- Sungguh telah datang kepada kamu bukti-bukti yang terang dari Rabb (Tuhan) kamu, فَمَنۡ اَبۡصَرَ
فَلِنَفۡسِہٖ ۚ -- maka barangsiapa melihat maka faedahnya
untuk dirinya, وَ مَنۡ عَمِیَ فَعَلَیۡہَا
-- dan barangsiapa buta maka
ia sendiri menanggungnya, وَ مَاۤ اَنَا
عَلَیۡکُمۡ بِحَفِیۡظٍ -- dan aku
sekali-kali bukan pemelihara kamu.
(Al-An’ām [6]:103-105).
Abshār dalam ayat لَا تُدۡرِکُہُ الۡاَبۡصَارُ ۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ -- “Penglihatan mata tidak mencapai-Nya
tetapi Dia mencapai penglihatan” adalah
jamak dari bashar yang berarti penglihatan
atau pengertian, dan lathīf dalam ayat:
وَ ہُوَ
اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡرُ -- “dan Dia
Mahahalus, Maha Mengetahui” berarti: yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindera;
halus (Lexicon Lane & Taj-ul-‘Arus).
Ayat itu
berarti, bahwa akal manusia sendiri
tanpa pertolongan wahyu Ilahi tidak
bisa menghayati pengertian yang benar
mengenai Allah Swt.. Tuhan tidak
dapat dilihat dengan mata jasmani, tetapi Dia menampakkan Diri-Nya kepada manusia melalui nabi-nabi-Nya
atau melalui bekerjanya Sifat-sifat-Nya.
Dia pun nampak kepada mata ruhani.
Dari seluruh jenis wahyu
Ilahi yang dalam segala seginya paling
sempurna dalam membantu akal
atau “mata ruhani” manusia untuk mengenal Wujud Tuhan yang hakiki –
yakni Allah Swt., Wujud Yang Mahagaib -- adalah Al-Quran yang diwahyukan
kepada Nabi Besar Muhammad saw., sedangkan wahyu-wahyu
Ilahi yang diturunkan sebelumnya
tidak memberikan informasi yang lengkap mengenai Tuhan sembahan manusia yang
hakiki, sehingga menyebabnya timbulnya kemusyrikan di kalangan
para penganutnya, sebagaimana firman-Nya: قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ
-- Sungguh telah datang kepada kamu bukti-bukti yang terang dari Rabb (Tuhan) kamu, فَمَنۡ اَبۡصَرَ
فَلِنَفۡسِہٖ ۚ -- maka barangsiapa melihat maka faedahnya
untuk dirinya, وَ مَنۡ عَمِیَ فَعَلَیۡہَا
-- dan barangsiapa buta maka
ia sendiri menanggungnya, وَ مَاۤ اَنَا
عَلَیۡکُمۡ بِحَفِیۡظٍ -- dan aku
sekali-kali bukan pemelihara kamu.
(Al-An’ām [6]:105).
Bashāir (jamak dari bashirah) dalam ayat: قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ
-- ”sungguh telah datang kepada kamu bukti-bukti yang terang dari Rabb (Tuhan) kamu” berarti bukti-bukti,
dalil-dalil, tanda-tanda, kesaksian-kesaksian
(Lexicon Lane), sedangkan makna
ayat: فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ -- “maka barangsiapa
melihat maka faedahnya untuk dirinya” artinya “memanfaatkan
akal.” Makna ayat: وَ مَنۡ
عَمِیَ فَعَلَیۡہَا
-- “dan barangsiapa buta maka
ia sendiri menanggungnya” artinya menutup matanya terhadap kebenaran dan ia betul-betul
menjadi buta (ruhani).
Islam Bukan Agama Kekerasan dan Paksaan
Makna ayat selanjutnya: وَ مَاۤ اَنَا
عَلَیۡکُمۡ بِحَفِیۡظٍ -- “dan aku
sekali-kali bukan pemelihara kamu”.
Tugas seorang nabi Allah -- dalam hal
ini adalah Nabi Besar Muhammad saw. -- terbatas pada penyampaian apa yang diwahyukan
Allah kepada beliau saw.. Bukanlah urusan beliau saw. memaksa orang-orang menerimanya.
Secara tidak langsung ayat itu merupakan satu
sanggahan terhadap tuduhan bahwa Islam mendorong atau membenarkan
penggunaan kekerasan untuk penyebaran
ajarannya (QS.2:257; QS.9:6; QS.10:100;
QS.18:30). Selanjutnya Allah swt. berfirman:
وَ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ وَ
لِیَقُوۡلُوۡا دَرَسۡتَ وَ لِنُبَیِّنَہٗ
لِقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
اِتَّبِعۡ مَاۤ اُوۡحِیَ
اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ ۚ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ وَ اَعۡرِضۡ
عَنِ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَاۤ اَشۡرَکُوۡا ؕ وَ مَا جَعَلۡنٰکَ عَلَیۡہِمۡ
حَفِیۡظًا ۚ وَ مَاۤ اَنۡتَ
عَلَیۡہِمۡ بِوَکِیۡلٍ ﴿﴾
Dan demikianlah
Kami berulang-ulang menjelaskan
Tanda-tanda dengan berbagai
cara dan supaya mereka berkata: دَرَسۡتَ -- “Engkau
telah membacakannya", وَ لِنُبَیِّنَہٗ لِقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ -- dan supaya Kami menjelaskannya untuk orang-orang yang mengetahui. اِتَّبِعۡ مَاۤ
اُوۡحِیَ اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ ۚ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ وَ اَعۡرِضۡ عَنِ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- Ikutilah
apa yang diwahyukan kepada engkau dari Rabb
(Tuhan) engkau. Tidak ada Tuhan kecuali Dia,
dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.
وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَاۤ اَشۡرَکُوۡا ؕ -- Dan jika Allah menghendaki sekali-kali mereka tidak akan berbuat syirik. وَ مَا جَعَلۡنٰکَ عَلَیۡہِمۡ حَفِیۡظًا ۚ وَ مَاۤ اَنۡتَ عَلَیۡہِمۡ بِوَکِیۡلٍ
-- Dan Kami
sekali-kali tidak menjadikan engkau sebagai penjaga bagi mereka, dan tidak
pula eng-kau menjadi pelindung bagi mereka. (Al-An’ām [6]:106-108).
Sesuai
dengan hikmah-Nya yang tak terbatas
itu Allah Swt. telah memberi
manusia kemandirian. Andaikata Dia berkehendak memaksa manusia, niscaya
Dia akan memaksa mereka mengikuti kebenaran, akan tetapi demi kepentingan manusia sendiri Allah Swt. tidak
berkehendak menggunakan tindak
paksaan (QS.2:257; QS.9:6; QS.10:100; QS.18:30).
Kata-kata “pelindung”,
“pemelihara” atau “pengurus dan pemutus perkara-perkara”
yang dipakai untuk Nabi Besar Muhammad
asw. dalam Al-Quran,
maksudnya untuk menjelaskan bahwa beliau saw. tidak bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan
orang-orang lain, karena kewajiban
dan tanggungjawab beliau sebagai Rasul
Allah adalah menyampaikan amanat
Allah Swt. – yakni wahyu Al-Quran -- seutuhnya
dan sejelas-jelasnya (QS.5:93, QS.16:36; QS.64:13) sesuai dengan firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ وَ لِیَقُوۡلُوۡا دَرَسۡتَ وَ لِنُبَیِّنَہٗ لِقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan
demikianlah Kami berulang-ulang menjelaskan Tanda-tanda dengan berbagai cara dan supaya mereka berkata: دَرَسۡتَ -- “Engkau telah membacakannya",
وَ
لِنُبَیِّنَہٗ لِقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ -- dan supaya Kami menjelaskannya untuk orang-orang yang mengetahui (Al-An’ām
[6]:106).
Ajaran Islam Tidak Melampui Batas
Kemampuan Manusia & Makna “Kehendak”
Allah Swt.
Demikianlah penjelasan mengenai firman
Allah Swt. yang dikemukakan sebelumnya:
لِلّٰہِ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ
تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ
تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ
لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Milik Allah-lah apa pun yang ada
di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan jika
kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya Allah akan menghisab kamu
mengenainya, maka Dia
akan mengampuni siapa yang Dia kehendaki
dan akan mengazab siapa yang Dia
kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu (Al-Baqarah [2]:285).
Kata bihī
dalam ayat: وَ اِنۡ
تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ
اَوۡ تُخۡفُوۡہُ
یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ اللّٰہُ -- “dan jika
kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya Allah akan menghisabmu mengenainya,”
berarti: (a) dengan jalan atau atas dasar; (b) untuk
atau karena; dan anak kalimat itu
akan berarti “Allah akan menuntut kamu
atas dasar itu atau karena itu,” ialah tidak ada pikiran
atau perbuatan manusia akan lepas
dari tuntutan, bagaimana pun tersembunyinya perbuatan itu, dan akan dihukum atau dimaafkan menurut kehendak
Ilahi: فَیَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- “maka Dia akan mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Ungkapan “kehendak
Tuhan” agaknya menunjukkan adanya hukum
alam (QS.7:157), tetapi karena kehendak Allah-lah yang menjadi hukum-Nya, maka Al-Quran telah
mempergunakan ungkapan itu untuk menunjukkan bahwa:
(1) Allah Swt. itu Pemegang
wewenang terakhir di alam semesta;
(2) Kehendak-Nya itu hukum,
dan
(3) Kehendak-Nya dizahirkan dengan cara
yang adil serta murah hati, sebab
Dia Pemilik Sifat-sifat yang sempurna,
firman-Nya:
قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا
تَدۡعُوۡا فَلَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ
لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ
بَیۡنَ ذٰلِکَ سَبِیۡلًا ﴿﴾ وَ
قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ لَمۡ
یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ وَلِیٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَ
کَبِّرۡہُ تَکۡبِیۡرًا ﴿﴾٪
Katakanlah:
“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah), اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی -- dengan nama apa saja kamu berseru kepada
Dia milik-Nya semua nama yang terbaik.” Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras dan jangan
pula kamu mengucapkannya terlalu lemah tetapi carilah jalan di antara itu. Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Yang tidak memiliki anak dan tidak
ada sekutu bagi-Nya di kerajaan-Nya, dan tidak ada bagi-Nya penolong karena sesuatu kelemahan-Nya.” Dan sanjunglah keagungan-Nya dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. (Bani Israil [17]:111).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 15 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar