Minggu, 18 September 2016

Pertingnya "Taubat" dan "Maghfirah Ilahi"& Pentingnya "Pemahaman dan Pengamalan" yang Benar "Rukun Iman" dan "Rukun Islam"




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 15

PENTINGNYA TAUBAT DAN MAGHFIRAH ILAHI & PENTINGNYA PEMAHAMAN DAN PENGAMALAN YANG BENAR  RUKUN IMAN DAN RUKUN ISLAM

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  Bab 14    dijelaskan     pentingnya keberadaan  dan pengamalan hukum syariat  serta  pengutusan rasul Allah (QS.7:35-37) dalam rangka “meringankan beban” manusia, firman-Nya:
یُرِیۡدُ اللّٰہُ لِیُبَیِّنَ لَکُمۡ وَ یَہۡدِیَکُمۡ سُنَنَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ وَ یَتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ اللّٰہُ یُرِیۡدُ اَنۡ یَّتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ۟ وَ یُرِیۡدُ الَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الشَّہَوٰتِ اَنۡ تَمِیۡلُوۡا مَیۡلًا عَظِیۡمًا ﴿﴾  یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِیۡفًا﴿﴾
Allah menghendaki untuk menjelaskan bagi kamu dan memberi kamu petunjuk  cara-cara orang-orang sebelummu serta Dia kembali  dengan kasih-sayang kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.  وَ اللّٰہُ یُرِیۡدُ اَنۡ یَّتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ  --  Dan Allah menghendaki kembali dengan kasih-sayang kepada kamu, وَ یُرِیۡدُ الَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الشَّہَوٰتِ اَنۡ تَمِیۡلُوۡا مَیۡلًا عَظِیۡمًا  -- sedangkan orang-orang yang menuruti hawa-nafsu menghendaki kamu cenderung kepada kejahatan.  یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِیۡفًا  --  Allah menghendaki untuk meringankan beban dari kamu, karena manusia telah diciptakan lemah. (An-Nisa [4]:27-29).
   Ayat 29   merupakan sanggahan pula terhadap ajaran Kristen mengenai  “Penebusan Dosa” yang menolak syariat dengan alasan bahwa  manusia itu lemah, dimana menurut Paulus dalam surat-surat kirimannya bahwa syariat itu merupakan “kutuk” karena telah membuat manusia terjerumus ke dalam “dosa” (Roma 2:12-29 & 3:1-31; Galatia 3:15-29).
       Islam  (Al-Quran) mengemukakan bahwa pada hakikatnya “kelemahan” manusia justru merupakan alasan untuk turunnya syariat agar dapat membantu manusia mencapai maksudnya (tujuan utama penciptaannya  -- QS.51:57-59),   yang tinggi, yakni sebagai “khalifah” (wakil) Allah Swt.  di muka bumi, karena itu syariat bukan suatu kutukan melainkan suatu pertolongan dan  rahmat dari Allah Swt.. Itulah makna ayat: یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِیۡفًا  --  “Allah menghendaki untuk meringankan beban dari kamu, karena manusia telah diciptakan lemah.” (An-Nisa [4]29).

Sabda Masih Mau’ud a.s. Mengenai Pentingnya Taubat  dan  Istighfar

  Sehubungan dengan pentingnya senantiasa memanjatkan istighfar guna memperoleh maghfirah  Allah Swt.  dalam setiap kemajuan ruhani yang diraih oleh orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah,  Mirza Ghulam Ahmad a.s. —yakni Masih Mau’ud a.s.   -- bersabda:
       Jelas kiranya bahwa manusia itu secara alamiah memang lemah sekali namun demikian dibebani demikian banyak peraturan Ilahi. Karena kelemahan dirinya itu maka manusia tidak sempurna melaksanakan perintah-perintah Ilahi, terkadang malah dikalahkan nafsu dirinya yang cenderung mengundang dosa. Karena fitrat kelemahan dirinya itu maka setiap kali ia tergelincir  perlu baginya bertobat dan memohon ampun agar rahmat Ilahi dapat menyelamatkannya dari kerugian.
     Sesungguhnya jika Tuhan bukan merupakan Wujud Yang menerima pertobatan  maka manusia tidak akan dibebani dengan demikian banyak ketentuan dan perintah. Hal ini membuktikan secara konklusif (pasti) kalau Tuhan itu cenderung kepada manusia dengan Rahmat-Nya dan bersifat Maha Pengampun.

Pengertian Taubat

       Taubat mengandung pengertian bahwa seseorang meninggalkan suatu kebiasaan buruk dengan tekad penuh bahwa setelah itu --  meski ia dilempar ke dalam api sekali pun -- ia tidak akan mengulangi dosa itu lagi. Bila manusia berpaling kepada Allah Swt. dengan ketulusan dan keteguhan niat seperti ini maka Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang akan mengampuni dosanya tersebut.
       Adalah menjadi fitrat Ilahi bahwa Dia akan mengabulkan pertobatan dan menyelamatkan sang pendosa dari kehancuran.  Bila manusia tidak mempunyai harapan bahwa pertobatannya akan diterima maka ia tidak akan menahan dirinya melakukan dosa.
      Umat Kristiani juga percaya akan pertobatan tetapi diikuti persyaratan bahwa orang bersangkutan haruslah seorang penganut Kristen.  Islam tidak mempersyaratkan apa pun untuk bertobat. Pertobatan dari penganut semua agama bisa saja diterima dengan kekecualian dosa karena menolak Kitab Allah dan Rasul-Nya.
      Adalah suatu hal yang tidak mungkin bagi manusia memperoleh keselamatan hanya berdasarkan perilakunya sendiri saja. Hanya karena Sifat Maha Pemurah dari Allah Swt. sajalah maka Dia menerima pertobatan sebagian manusia, dan berkat dari rahmat-Nya dianugrahkan kekuatan kepada yang lainnya agar mereka terpelihara dari laku dosa.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  189-190, London, 1984).
      Berikut beberapa firman Allah Swt. mengenai pentingnya menyembah Allah Swt.   --  berupa   pengamalan hukum syariat   -- dan pentingnya pengutusan rasul Allah dan pentingnya senantiasa  istighfar  guna meraih maghfirah (penutupan kelemahan/kekurangan) Allah Swt., firman-Nya:
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ  اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ   لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Milik Allah-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi,  وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ -- dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ  اللّٰہُ   --  Allah akan menghisab  kamu mengenainya, ؕ فَیَغۡفِرُ   لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ --  maka Dia akan mengampuni siapa yang  Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki,  وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ -- dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Al-Baqarah [2]:285).
      Ayat ini diawali dengan  memperkenalkan mengenai  “Tuhan yang Hakiki” yang harus disembah  oleh umat manusia  -- yakni Allah Swt. – firman-Nya:   لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ – “Milik Allah-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi”.
      Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan bahwa karena manusia diciptakan untuk menyembah-Nya (QS.51:57)  -- yakni mematuhi perintah dan larangan-Nya  dalam syariat --  maka selanjutnya Dia berfirman: وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ -- dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ  اللّٰہُ   --  Allah akan menghisab  kamu mengenainya.”
    Walau pun manusia diciptakan dalam keadaan “lemah”  tetapi jika  telah melakukan upaya keras untuk mematuhi perintah dan larangan-Nya dalam hukum syariat: ؕ فَیَغۡفِرُ   لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ --  maka Dia akan mengampuni siapa yang  Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki,  وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ -- dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Tuhan Yang Hakiki Hanya  Allah Swt.  Pemilik Sifat-sifat Sempurna

          Jadi, kecuali Allah Swt., di alam semesta ini tidak ada “tuhan-tuhan sembahan”  lainnya sebagaimana yang  dipercayai dan disembah oleh orang-orang musyrik,  yang pada hakikatnya kemusyrikan tersebut   membuktikan ketidak-tahuan  dan kejahilan mereka terhadap Allah Swt.  dan kesempurnaan Sifat-sifat-Nya, sebagai -- Tuhan Pencipta alam semesta serta Tuhan kehidupan dunia dan akhirat  -- Tuhan Yang  Maha gaib dan Maha Pengampun,  firman-Nya:
وَ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ الۡجِنَّ وَ خَلَقَہُمۡ وَ خَرَقُوۡا لَہٗ  بَنِیۡنَ وَ بَنٰتٍۭ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ ؕ سُبۡحٰنَہٗ وَ تَعٰلٰی عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾٪ بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ اَنّٰی  یَکُوۡنُ  لَہٗ  وَلَدٌ وَّ لَمۡ تَکُنۡ لَّہٗ صَاحِبَۃٌ ؕ وَ خَلَقَ کُلَّ  شَیۡءٍ ۚ وَ ہُوَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan mereka menjadikan jin-jin  sebagai sekutu bagi Allah padahal Dia menciptakan mereka yakni jin-jin itu, dan mereka telah mengada-adakan anak-anak lelaki dan anak-anak anak perempuan bagi-Nya tanpa ilmu. Maha-suci Dia dan Mahaluhur dari apa yang mereka sifatkan.  بَدِیۡعُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --  Dia-lah  Yang memulai penciptaan seluruh langit dan bumi, اَنّٰی  یَکُوۡنُ  لَہٗ  وَلَدٌ وَّ لَمۡ تَکُنۡ لَّہٗ صَاحِبَۃٌ  -- bagaimana mungkin Dia mempunyai anak  padahal Dia tidak pernah mempunyai isteri, وَ خَلَقَ کُلَّ  شَیۡءٍ ۚ وَ ہُوَ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  --  Dia-lah  Yang menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-An’ām [6]:101-102).
  Jin adalah wujud yang sembunyi atau memencilkan diri dari orang-orang awam (ins).  Ayat itu berarti bahwa manusia tergelincir bila ia menolak wahyu Ilahi dan mengikuti pertimbangan akalnya sendiri, lalu menyekutukan jin dan malaikat-malaikat dengan Allah Swt.   serta menisbahkan anak laki-laki dan anak perempuan kepada Dia:   وَ خَرَقُوۡا لَہٗ  بَنِیۡنَ وَ بَنٰتٍۭ بِغَیۡرِ عِلۡمٍ  -- “mereka telah mengada-adakan anak-anak lelaki dan anak-anak anak perempuan bagi-Nya tanpa ilmu.” 
  Kata waladun, wuldun dan waldun berarti: bocah, anak laki-laki anak perempuan, atau anak sesuatu apa pun, anak-anak, anak-anak laki-laki, anak-anak perempuan; atau bocah-bocah, juga anak-cucu (Lexicon Lane).
 Manusia dapat memperoleh anak hanya apabila mempunyai istri. Sedangkan Allah  Swt.  tidak mempunyai istri, maka dari itu Dia tidak mempunyai anak. Lebih-lebih, karena Allah Swt.    adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta) Yang  menciptakan segala sesuatu dan memiliki pengetahuan yang sempurna, maka Dia tidak memerlukan anak,  untuk membantu-Nya atau menjadi penerus-Nya (QS.112:1-5).

Wujud Yang Maha Gaib  dari Jangkauan  Indera-indera Jasmani

Lebih  jauh Allah Swt.  menerangkan mengenai satu-satunya Wujud Yang harus disembah manusia sebagai Tuhan mereka yang hakiki  firman-Nya:
ذٰلِکُمُ اللّٰہُ رَبُّکُمۡ ۚ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ  فَاعۡبُدُوۡہُ ۚ  وَ  ہُوَ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ   وَّکِیۡلٌ ﴿  لَا تُدۡرِکُہُ  الۡاَبۡصَارُ ۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ  ہُوَ  اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡرُ ﴿   قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ عَمِیَ  فَعَلَیۡہَا ؕ وَ مَاۤ   اَنَا عَلَیۡکُمۡ  بِحَفِیۡظٍ ﴿
Wujud Yang demikian itulah Allah, Rabb (Tuhan) kamu. Tidak ada Tuhan kecuali Dia,  Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.  لَا تُدۡرِکُہُ  الۡاَبۡصَارُ ۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ ۚ وَ  ہُوَ  اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡرُ  --    Penglihatan mata tidak mencapai-Nya tetapi Dia mencapai penglihatan,   dan   Dia Mahahalus, Maha Mengetahuiقَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ  --     Sungguh telah datang kepada kamu bukti-bukti  yang terang dari Rabb (Tuhan) kamu, فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ  -- maka barangsiapa melihat maka faedahnya untuk dirinya, وَ مَنۡ عَمِیَ  فَعَلَیۡہَا  --  dan barangsiapa  buta maka ia sendiri menanggungnya,  وَ مَاۤ   اَنَا عَلَیۡکُمۡ  بِحَفِیۡظٍ  -- dan aku sekali-kali  bukan pemelihara kamu.  (Al-An’ām [6]:103-105).
   Abshār dalam ayat لَا تُدۡرِکُہُ  الۡاَبۡصَارُ ۫ وَ ہُوَ یُدۡرِکُ الۡاَبۡصَارَ -- “Penglihatan mata tidak mencapai-Nya tetapi Dia mencapai penglihatan” adalah jamak dari bashar yang berarti penglihatan atau pengertian, dan lathīf dalam ayat:  وَ  ہُوَ  اللَّطِیۡفُ الۡخَبِیۡرُ  -- “dan   Dia Mahahalus, Maha Mengetahui”  berarti:  yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindera; halus (Lexicon Lane & Taj-ul-‘Arus).
 Ayat itu berarti, bahwa akal manusia sendiri tanpa pertolongan wahyu Ilahi tidak bisa menghayati pengertian yang benar mengenai Allah Swt.. Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata jasmani, tetapi Dia menampakkan Diri-Nya kepada manusia  melalui nabi-nabi-Nya atau melalui bekerjanya Sifat-sifat-Nya. Dia pun nampak kepada mata ruhani.
Dari seluruh jenis wahyu Ilahi   yang dalam segala seginya  paling sempurna dalam membantu  akal atau  “mata ruhani”   manusia untuk mengenal Wujud Tuhan yang hakiki  – yakni Allah Swt.,      Wujud Yang Mahagaib    -- adalah Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sedangkan wahyu-wahyu Ilahi yang diturunkan sebelumnya tidak memberikan informasi yang lengkap mengenai Tuhan sembahan manusia  yang hakiki, sehingga  menyebabnya timbulnya kemusyrikan  di kalangan  para penganutnya, sebagaimana firman-Nya:  قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ  --   Sungguh telah datang kepada kamu bukti-bukti  yang terang dari Rabb (Tuhan) kamu, فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ  -- maka barangsiapa melihat maka faedahnya untuk dirinya, وَ مَنۡ عَمِیَ  فَعَلَیۡہَا  --  dan barangsiapa  buta maka ia sendiri menanggungnya,  وَ مَاۤ   اَنَا عَلَیۡکُمۡ  بِحَفِیۡظٍ  -- dan aku sekali-kali  bukan pemelihara kamu.  (Al-An’ām [6]:105).
  Bashāir (jamak dari bashirah) dalam ayat:  قَدۡ جَآءَکُمۡ بَصَآئِرُ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۚ  --     ”sungguh telah datang kepada kamu bukti-bukti  yang terang dari Rabb (Tuhan) kamu” berarti bukti-bukti, dalil-dalil, tanda-tanda, kesaksian-kesaksian (Lexicon Lane), sedangkan makna ayat: فَمَنۡ اَبۡصَرَ فَلِنَفۡسِہٖ ۚ  -- “maka barangsiapa melihat maka faedahnya untuk dirinya”  artinya  “memanfaatkan akal.” Makna ayat: وَ مَنۡ عَمِیَ  فَعَلَیۡہَا  --  “dan barangsiapa  buta maka ia sendiri menanggungnya” artinya menutup  matanya terhadap kebenaran dan ia  betul-betul menjadi buta (ruhani).

Islam Bukan Agama Kekerasan  dan Paksaan

 Makna ayat selanjutnya:   وَ مَاۤ   اَنَا عَلَیۡکُمۡ  بِحَفِیۡظٍ  -- “dan aku sekali-kali  bukan pemelihara kamu”.   Tugas seorang nabi Allah    -- dalam hal ini adalah Nabi Besar Muhammad saw.  -- terbatas pada penyampaian apa yang diwahyukan Allah kepada beliau saw.. Bukanlah urusan beliau saw. memaksa orang-orang menerimanya.
  Secara tidak langsung ayat itu merupakan satu sanggahan terhadap tuduhan bahwa Islam mendorong atau membenarkan penggunaan kekerasan untuk penyebaran ajarannya (QS.2:257; QS.9:6; QS.10:100;  QS.18:30). Selanjutnya Allah swt. berfirman:
وَ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ وَ لِیَقُوۡلُوۡا دَرَسۡتَ وَ لِنُبَیِّنَہٗ  لِقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّبِعۡ مَاۤ  اُوۡحِیَ  اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ ۚ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ وَ اَعۡرِضۡ عَنِ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَاۤ  اَشۡرَکُوۡا ؕ وَ مَا جَعَلۡنٰکَ عَلَیۡہِمۡ حَفِیۡظًا ۚ وَ مَاۤ  اَنۡتَ عَلَیۡہِمۡ  بِوَکِیۡلٍ ﴿﴾
Dan  demikianlah Kami berulang-ulang menjelaskan  Tanda-tanda dengan berbagai cara dan supaya mereka berkata: دَرَسۡتَ --  “Engkau telah membacakannya",  وَ لِنُبَیِّنَہٗ  لِقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ --  dan supaya Kami menjelaskannya untuk orang-orang yang mengetahui.  اِتَّبِعۡ مَاۤ  اُوۡحِیَ  اِلَیۡکَ مِنۡ رَّبِّکَ ۚ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ وَ اَعۡرِضۡ عَنِ الۡمُشۡرِکِیۡنَ  --  Ikutilah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Rabb (Tuhan)  engkau. Tidak ada Tuhan kecuali Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَاۤ  اَشۡرَکُوۡا ؕ     -- Dan jika Allah menghendaki   sekali-kali mereka tidak akan berbuat syirik. وَ مَا جَعَلۡنٰکَ عَلَیۡہِمۡ حَفِیۡظًا ۚ وَ مَاۤ  اَنۡتَ عَلَیۡہِمۡ  بِوَکِیۡلٍ  -- Dan   Kami sekali-kali tidak menjadikan engkau sebagai penjaga bagi mereka, dan tidak pula eng-kau menjadi pelindung bagi mereka. (Al-An’ām [6]:106-108). 
  Sesuai dengan hikmah-Nya yang tak terbatas itu Allah Swt.  telah memberi manusia kemandirian. Andaikata Dia berkehendak memaksa manusia, niscaya Dia akan memaksa mereka mengikuti kebenaran, akan tetapi demi kepentingan manusia sendiri  Allah Swt.  tidak berkehendak menggunakan tindak paksaan (QS.2:257; QS.9:6; QS.10:100; QS.18:30).
  Kata-kata “pelindung”, “pemelihara” atau “pengurus dan pemutus perkara-perkara” yang dipakai untuk  Nabi Besar Muhammad asw.  dalam Al-Quran, maksudnya untuk menjelaskan bahwa beliau saw. tidak bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan orang-orang lain, karena kewajiban dan tanggungjawab beliau sebagai  Rasul Allah adalah menyampaikan amanat Allah Swt.  – yakni wahyu Al-Quran  -- seutuhnya dan sejelas-jelasnya (QS.5:93, QS.16:36; QS.64:13) sesuai dengan firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ وَ لِیَقُوۡلُوۡا دَرَسۡتَ وَ لِنُبَیِّنَہٗ  لِقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  demikianlah Kami berulang-ulang menjelaskan  Tanda-tanda dengan berbagai cara dan supaya mereka berkata:  دَرَسۡتَ  -- “Engkau telah membacakannya",  وَ لِنُبَیِّنَہٗ  لِقَوۡمٍ یَّعۡلَمُوۡنَ   -- dan supaya Kami menjelaskannya untuk orang-orang yang mengetahui   (Al-An’ām [6]:106).

Ajaran Islam Tidak Melampui Batas Kemampuan Manusia & Makna “Kehendak” Allah Swt.

     Demikianlah penjelasan mengenai firman Allah Swt. yang dikemukakan sebelumnya:
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ  اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ   لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Milik Allah-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya   Allah akan menghisab kamu mengenainya, maka Dia akan mengampuni siapa yang  Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Al-Baqarah [2]:285).
       Kata bihī  dalam ayat: وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ  اللّٰہُ  -- “dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya   Allah akan menghisabmu mengenainya,” berarti: (a) dengan jalan atau atas dasar; (b) untuk atau karena; dan anak kalimat itu akan berarti “Allah akan menuntut kamu atas dasar itu atau karena itu,” ialah  tidak ada pikiran atau perbuatan manusia akan lepas dari tuntutan, bagaimana pun tersembunyinya perbuatan itu, dan akan dihukum atau dimaafkan menurut kehendak Ilahi: فَیَغۡفِرُ   لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ  -- “maka Dia akan mengampuni siapa yang  Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
   Ungkapan “kehendak Tuhan” agaknya menunjukkan adanya hukum alam (QS.7:157),  tetapi karena kehendak Allah-lah yang menjadi hukum-Nya, maka Al-Quran telah mempergunakan ungkapan itu untuk menunjukkan bahwa:
      (1) Allah Swt. itu Pemegang wewenang terakhir di alam semesta;  
       (2) Kehendak-Nya itu hukum, dan
     (3) Kehendak-Nya dizahirkan dengan cara yang adil serta murah hati, sebab Dia Pemilik Sifat-sifat yang sempurna, firman-Nya:
قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ  اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ  بَیۡنَ  ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾   وَ قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ لَمۡ  یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہٗ  شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ  وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ  وَلِیٌّ  مِّنَ الذُّلِّ وَ کَبِّرۡہُ  تَکۡبِیۡرًا ﴿﴾٪
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah)اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی --  dengan nama apa saja kamu berseru kepada Dia  milik-Nya semua nama yang terbaik.”    Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras  dan jangan pula kamu mengucapkannya terlalu lemah  tetapi carilah jalan di antara itu  Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Yang tidak memiliki anak  dan tidak ada sekutu bagi-Nya di kerajaan-Nya, dan tidak ada bagi-Nya penolong karena sesuatu kelemahan-Nya.” Dan sanjunglah keagungan-Nya dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. (Bani Israil [17]:111).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 15 September 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar