Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
20
NUBUATAN AKAN LENYAPNYA SISTEM RIBA & ANCAMAN “PERANG” DARI ALLAH SWT.
DAN RASUL-NYA TERHADAP PARA PELAKU SISTEM RIBA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 19
dikemukakan bahwa Allah Swt. merupakan “Sumber Rezeki” yang Hakiki. Allah Swt. adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta) kita. Dia adalah Al-Razaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Al-Muqaddim (Maha Pemberi Kemajuan) kepada kita; dan Dia memegang kekuasaan sepenuhnya atas hidup dan mati — ketiga sifat sangat penting
yang harus dan memang dimiliki oleh Dzat Yang Maha Tinggi, Yang memerintah dan menuntut bakti kita, firman-Nya:
اَللّٰہُ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ ثُمَّ رَزَقَکُمۡ ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ
یُحۡیِیۡکُمۡ ؕ ہَلۡ مِنۡ شُرَکَآئِکُمۡ
مَّنۡ یَّفۡعَلُ مِنۡ ذٰلِکُمۡ
مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ سُبۡحٰنَہٗ وَ
تَعٰلٰی عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿٪﴾
Allah-lah Yang telah menciptakan kamu, kemudian memberi rezeki kepada kamu, kemudian Dia
mematikan kamu, kemudian Dia
menghidupkan kamu. ہَلۡ مِنۡ شُرَکَآئِکُمۡ مَّنۡ یَّفۡعَلُ مِنۡ ذٰلِکُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ -- Adakah dari antara tuhan-tuhan sekutu kamu itu yang dapat berbuat sesuatu dari hal itu? سُبۡحٰنَہٗ وَ تَعٰلٰی
عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha Suci Dia dan Maha Tinggi daripada apa
yang mereka sekutukan. (Ar-Rūm [30]:41).
Hubungan Riba dan Berlanjutnya Peperangan
Kembali kepada firman Allah Swt. dalam
surah Al-Baqarah dan surah Ali ‘Imran mengenai hubungan riba dengan berkobarnya
api peperangan:
اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ ؕ وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ وَ
مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang memakan riba tidak
berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang syaitan merasukinya
dengan penyakit gila. ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا -- Hal demikian adalah karena
mereka berkata: “Sesungguhnya jual-beli pun sama
dengan riba”, وَ
اَحَلَّ
اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا -- padahal Allah menghalalkan jual-beli tetapi mengharamkan riba. Karena itu
barangsiapa yang kepadanya telah
sampai peringatan dari Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari
pelanggaran itu maka untuknya
apa yang diterimanya di masa lalu, sedangkan urusannya terserah kepada Allah.
وَ
مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- Dan barangsiapa
kembali lagi makan riba maka mereka
adalah penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:276).
Riba menjuruskan pula kepada
peperangan: وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ
ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- “dan barangsiapa kembali lagi makan riba maka
mereka adalah penghuni Api, mereka
kekal di dalamnya.” Tiada peperangan yang berlarut-larut terjadi tanpa bantuan pinjaman yang bunganya
membawa kepada keruntuhan ekonomi
bagi pihak yang menang dan pihak yang
kalah kedua-duanya.
Sistem yang memudahkan mengambil pinjaman membuka kemungkinan bagi pemerintah-pemerintah
meneruskan peperangan yang merusak itu, sebab mereka mendapatkan angin untuk berperang
tanpa mengadakan pemungutan pajak
dengan langsung. Itulah sebabnya Islam
melarang segala bentuk riba.
Di zaman modern ini perniagaan telah begitu terikat oleh dan tak terpisahkan dari rantai
riba, sehingga seolah-olah hampir tidak mungkin menghindarkannya
sama sekali. Tetapi bila diadakan
perubahan dalam sistem dan dalam
lingkungan serta keadaan, maka perniagaan tanpa riba dapat diselenggarakan
seperti halnya pada hari-hari ketika
Islam berada di masa keemasannya yang pertama.
Nubuatan Lenyapnya Sistem Riba &
Hakikat “Keluasan” Surga
Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya
Allah Swt. berfirman mengenai kepastian
akan lenyapnya sistem riba di Akhir Zaman ini:
یَمۡحَقُ
اللّٰہُ الرِّبٰوا وَ یُرۡبِی الصَّدَقٰتِ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یُحِبُّ
کُلَّ کَفَّارٍ اَثِیۡمٍ ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا الزَّکٰوۃَ لَہُمۡ
اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾
Allah
akan menghapuskan riba
dan mengembangkan sedekah-sedekah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap
dalam kekafiran lagi berdosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal
shalih, mendirikan shalat dan membayar zakat, bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhannya),
tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah [2]:277-278).
Hal itu
merupakan nubuatan bahwa ekonomi berdasarkan riba
akhirnya akan lenyap atau akan binasa, selanjutnya berfirman lagi:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا
اللّٰہَ وَ ذَرُوۡا مَا بَقِیَ
مِنَ الرِّبٰۤوا اِنۡ
کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا
فَاۡذَنُوۡا بِحَرۡبٍ
مِّنَ اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ۚ وَ
اِنۡ تُبۡتُمۡ
فَلَکُمۡ رُءُوۡسُ
اَمۡوَالِکُمۡ ۚ لَا تَظۡلِمُوۡنَ
وَ لَا تُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah yang masih tersisa dari riba
jika kamu benar-benar orang-orang yang
beriman. Tetapi jika kamu tidak
mengerjakannya maka waspadalah
terhadap perang dari Allah dan Rasul-Nya,
dan jika
kamu bertaubat maka untuk kamu harta pokokmu dengan demikian
kamu tidak akan menzalimi dan tidak
pula kamu akan dizalimi. (Al-Baqarah [2]:279-280).
Kembali kepada firman-Nya
mengenai hubungan pelarangan riba dengan janji tentang surga yang nilainya “seluas langit dan bumi”:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡکُلُوا الرِّبٰۤوا
اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَۃً ۪ وَ
اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ۚ وَ
اتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡۤ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ۚ وَ
اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ
لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿﴾ۚ وَ
سَارِعُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ
عَرۡضُہَا السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ ۙ اُعِدَّتۡ
لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ فِی
السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ الۡکٰظِمِیۡنَ الۡغَیۡظَ
وَ الۡعَافِیۡنَ عَنِ النَّاسِ ؕ وَ
اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang berlipatganda, dan bertakwalah kepada Allsh supaya kamu memperoleh keberhasilan. وَ اتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡۤ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ -- Dan peliharalah
diri kamu terhadap Api yang disediakan bagi orang-orang
kafir. وَ
اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ لَعَلَّکُمۡ
تُرۡحَمُوۡنَ -- Dan taatlah
kamu kepada Allah dan Rasul ini supaya kamu dikasihani. وَ سَارِعُوۡۤا
اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ
جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا السَّمٰوٰتُ
وَ الۡاَرۡضُ ۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِیۡنَ -- Dan bersegeralah kamu ke arah ampunan dari Rabb
(Tuhan) kamu dan surga yang nilainya seluruh langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa. الَّذِیۡنَ
یُنۡفِقُوۡنَ فِی السَّرَّآءِ
وَ الضَّرَّآءِ -- Yaitu
orang-orang yang membelanjakan harta di waktu lapang dan di waktu sempit, وَ الۡکٰظِمِیۡنَ
الۡغَیۡظَ وَ الۡعَافِیۡنَ عَنِ النَّاسِ -- yang menahan amarah dan yang memaafkan manusia,
وَ
اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ -- dan Allah
mencintai orang-orang yang berbuat
ihsan. (Ali
‘Imran [3]:131-135).
Kehidupan Surgawi Dimulai di
Dunia
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa ‘ardh berarti: (1) harga atau nilai sesuatu benda dalam bentuk lain dari uang; (2) lebarnya; (3)
luasnya (Al-Aqrab-ul-Mawarid). Ayat
ini merupakan jawaban kepada mereka -- yang karena terpukau oleh keadaan sekeliling mereka dewasa ini -- menyangka bahwa perdagangan atau perniagaan
tidak dapat terselenggara tanpa riba.
Ayat ini mengatakan bahwa dengan mengikuti ajaran Islam, kaum Muslimin
dapat dan akan menikmati segala macam
manfaat dan keuntungan. Ayat ini
merupakan seruan kepada kaum Muslimin untuk mengikuti perintah dan peraturan Islam.
Ayat ini berarti pula bahwa surga akan meliputi langit dan bumi,
yakni orang-orang beriman akan berada di surga, baik dalam kehidupan
ini maupun dalam kehidupan yang akan
datang di akhirat kelak. Itulah makna ayat: وَ سَارِعُوۡۤا
اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ
جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا السَّمٰوٰتُ
وَ الۡاَرۡضُ ۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِیۡنَ -- ”dan bersegeralah
kamu ke arah ampunan dari Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya seluruh
langit dan bumi yang disediakan bagi
orang-orang bertakwa.”
Suatu hadits yang terkenal
menjelaskan keadaan surga dan neraka dengan sangat menarik hati.
Ketika Nabi Besar Muhammad saw. ditanya:
“Jika surga meliputi langit dan bumi,
kemudian di manakah tempat neraka?” Beliau saw. balik bertanya: “Di manakah malam bila siang tiba?” (Tafsir Ibnu Katsir).
Menurut riwayat Nabi Besar Muhammad saw. pernah bersabda pula
bahwa ganjaran surga terkecil akan sebesar ruang antara langit dan bumi. Hal itu menunjukkan bahwa surga
merupakan keadaan ruhani dan bukan suatu tempat jasmani tertentu sebagaimana yang umumnya difahami,
firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ
اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa
mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka
kerjakan. (As-Sajdah
[32]:18).
Waktu Nabi Besar Muhammad saw. menggambarkan bentuk dan sifat nikmat dan kesenangan surga, beliau saw. diriwayatkan pernah bersabda: “Tiada mata pernah melihatnya (nikmat surga
itu) dan tiada pula telinga pernah mendengarnya, tidak pula pikiran manusia
dapat membayangkannya” (Bukhari,
Kitab Bad’al-Khalaq).
Hadits itu menunjukkan bahwa nikmat kehidupan ukhrawi tidak akan bersifat kebendaan. Nikmat-nikmat surgawi
itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian perbuatan
dan tingkah-laku baik yang telah
dikerjakan orang-orang bertakwa di
alam dunia ini.
Kata-kata yang dipergunakan untuk
menggambarkan nikmat-nikmat surgawi itu
dalam Al-Quran telah dipakai hanya
dalam arti kiasan. Ayat yang sekarang
pun dapat berarti bahwa karunia dan nikmat Ilahi yang akan dilimpahkan
kepada orang-orang beriman yang bertakwa
di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan.
Nikmat-nikmat surgawi itu akan berada
jauh di luar batas jangkauan daya cipta manusia.
Hubungan Riba dengan Perang Berkelanjutan
Kembali kepada firman Allah Swt. dalam
surah Al-Baqarah dan surah Ali ‘Imran mengenai hubungan riba dengan berkobarnya
api peperangan:
اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ ؕ وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ وَ
مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang memakan riba tidak
berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang syaitan merasukinya
dengan penyakit gila. ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا -- Hal demikian adalah karena
mereka berkata: “Sesungguhnya jual-beli pun sama
dengan riba”, وَ
اَحَلَّ
اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا -- padahal Allah menghalalkan jual-beli tetapi mengharamkan riba. Karena itu
barangsiapa yang kepadanya telah
sampai peringatan dari Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari
pelanggaran itu maka untuknya
apa yang diterimanya di masa lalu, sedangkan urusannya terserah kepada Allah.
وَ
مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- Dan barangsiapa
kembali lagi makan riba maka mereka
adalah penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:276).
Riba menjuruskan pula kepada
peperangan: وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ
ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- “dan barangsiapa kembali lagi makan riba maka
mereka adalah penghuni Api, mereka
kekal di dalamnya.” Tiada peperangan yang berlarut-larut terjadi tanpa bantuan pinjaman yang bunganya
membawa kepada keruntuhan ekonomi
bagi pihak yang menang dan pihak yang
kalah kedua-duanya.
Sistem yang memudahkan mengambil pinjaman membuka kemungkinan bagi pemerintah-pemerintah
meneruskan peperangan yang merusak itu, sebab mereka mendapatkan angin untuk berperang
tanpa mengadakan pemungutan pajak
dengan langsung. Itulah sebabnya Islam
melarang segala bentuk riba.
Di zaman modern ini perniagaan telah begitu terikat oleh dan tak terpisahkan dari rantai
riba, sehingga seolah-olah hampir tidak mungkin menghindarkannya
sama sekali. Tetapi bila diadakan
perubahan dalam sistem dan dalam
lingkungan serta keadaan, maka perniagaan tanpa riba dapat diselenggarakan
seperti halnya pada hari-hari ketika
Islam berada di masa keemasannya yang pertama.
Hubungan “Larangan Riba”
dengan “Maghfirah Ilahi”
Kemudian mengenai hubungan pelarangan riba dengan janji
mendapat “maghfirah Ilahi” Allah
Swt. berfirman:
اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ ؕ وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ وَ
مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang memakan riba tidak
berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang syaitan merasukinya dengan penyakit gila. Hal demikian adalah karena mereka berkata: “Sesungguhnya jual-beli pun sama dengan riba”, padahal Allah menghalalkan jual-beli tetapi mengharamkan riba. فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ -- Karena itu
barangsiapa yang kepadanya telah
sampai peringatan dari Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari pelanggaran itu -- maka
untuknya
apa yang diterimanya di
masa lalu, وَ اَمۡرُہٗۤ
اِلَی اللّٰہِ -- sedangkan
urusannya terserah kepada Allah. وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ -- Dan barangsiapa
kembali lagi makan riba maka
mereka adalah penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:276).
Dalam
ayat: فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ -- Karena itu
barangsiapa yang kepadanya telah
sampai peringatan dari Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari pelanggaran itu maka untuknya
apa yang diterimanya di
masa lalu, وَ اَمۡرُہٗۤ
اِلَی اللّٰہِ -- sedangkan
urusannya terserah kepada Allah” mengisyaratkan adanya “maghfirah Ilahi” yakni: وَ اَمۡرُہٗۤ
اِلَی اللّٰہِ – “sedangkan
urusannya terserah kepada Allah.”
Manusia Harus Berpaling
Kepada Allah Swt. dengan Penyesalan
Sehubungan
dengan maghfirah Ilahi yang dijanjikan Allah Swt. terhadap orang-orang
atau bangsa-bangsa yang meninggalkan
system riba Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Dalam
bahasa Arab, arti kata taubah mengandung arti kembali, sehingga dalam Al-Quran
nama Tuhan pun antara lain disebut sebagai Tawwāb yang berarti “Dia yang selalu kembali”. Hal ini mengandung arti bahwa jika seseorang setelah menanggalkan dosa-dosanya lalu berpaling
kepada Tuhan
dengan hati yang tulus maka Tuhan
akan lebih lagi mendekat
kepadanya.
Keadaan tersebut sejalan
dengan hukum alam dimana Tuhan telah
menjadikan hal itu sebagai bagian dari fitrat
manusia, yaitu jika
seseorang menghampiri orang lainnya dengan hati yang tulus maka hati
orang yang didatangi itu pun akan melembut kepadanya.
Karena
itu bagaimana mungkin daya nalar ini bisa
menerima bahwa seorang hamba yang dengan hati tulus telah berpaling
kepada Tuhan-nya
tetapi Tuhan malah menolaknya? Sesungguhnya Tuhan
Yang Maha Pemurah
dan Maha Penyayang malah akan lebih mendekat lagi kepada hamba-Nya. Sebab itu juga maka dalam Al-Quran Tuhan disebut sebagai Tawwāb yang berarti “Dia yang selalu kembali.”
Manusia berpaling kepada Tuhan melalui rasa
penyesalan, kerendahan hati dan penyerahan diri, sedangkan Tuhan
menghadapinya (menghampirinya) dengan rahmat dan pengampunan. Jika rahmat
tidak merupakan salah satu fitrat Ilahi maka tidak
akan ada manusia yang akan diselamatkan.
Sayang
sekali manusia lebih bertumpu sepenuhnya pada tindakan
mereka sendiri
dan tidak merenungi fitrat-fitrat Ilahi. Apakah mungkin Tuhan
akan mengabaikan seseorang
yang lemah yang telah berpaling kepada-Nya dengan menanggalkan
segala pakaian kebiasaan lamanya dan mendatangi
Tuhan-nya
laiknya orang yang sudah mati terbakar dalam api
kasih-Nya,
padahal Dia telah demikian banyak menebar rahmat dan karunia bagi manusia
di bumi tanpa diminta terlebih
dahulu? Apakah ini yang disebut sebagai hukum
alam?
لَّعۡنَتَ
اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ
“Laknat Allah ditimpakan atas orang-orang yang berdusta” (Ali Imran [3]:62).
(Chasma
Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908;
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. XXIII, hlm. 133-134, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 23 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar