Senin, 26 September 2016

Nubuatan Akan Lenyapnya "Sistem Riba" & Ancaman "Perang" dari Allah Swt. dan Rasul-Nya Terhadap Para pelaku Sistem Riba


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 20

NUBUATAN   AKAN LENYAPNYA SISTEM RIBA  & ANCAMAN “PERANG” DARI ALLAH SWT. DAN RASUL-NYA  TERHADAP PARA PELAKU SISTEM RIBA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 19  dikemukakan  bahwa Allah Swt.  merupakan “Sumber Rezeki” yang Hakiki.   Allah Swt. adalah Al-Khāliq (Maha Pencipta) kita. Dia adalah Al-Razaq (Maha Pemberi Rezeki) dan Al-Muqaddim (Maha Pemberi Kemajuan) kepada kita; dan Dia memegang kekuasaan sepenuhnya atas hidup dan mati — ketiga sifat sangat penting yang harus dan memang dimiliki oleh Dzat Yang Maha Tinggi, Yang memerintah dan menuntut bakti kita, firman-Nya:
اَللّٰہُ  الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ ثُمَّ  رَزَقَکُمۡ ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یُحۡیِیۡکُمۡ ؕ ہَلۡ مِنۡ شُرَکَآئِکُمۡ  مَّنۡ یَّفۡعَلُ مِنۡ ذٰلِکُمۡ  مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ سُبۡحٰنَہٗ  وَ تَعٰلٰی عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿٪﴾
Allah-lah Yang telah menciptakan kamu, kemudian memberi rezeki kepada kamu, kemudian  Dia mematikan kamu, kemudian Dia menghidupkan kamuہَلۡ مِنۡ شُرَکَآئِکُمۡ  مَّنۡ یَّفۡعَلُ مِنۡ ذٰلِکُمۡ  مِّنۡ شَیۡءٍ     --    Adakah dari antara tuhan-tuhan sekutu kamu itu yang dapat berbuat sesuatu dari hal itu?  سُبۡحٰنَہٗ  وَ تَعٰلٰی عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ  -- Maha Suci Dia dan Maha Tinggi daripada apa yang mereka sekutukan. (Ar-Rūm [30]:41).

Hubungan Riba dan Berlanjutnya Peperangan

      Kembali kepada firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah dan surah Ali ‘Imran mengenai hubungan riba dengan  berkobarnya api peperangan
اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ ؕ وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang   yang memakan riba  tidak berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang syaitan merasukinya dengan penyakit gila. ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا   -- Hal demikian adalah karena mereka berkata: “Sesungguhnya jual-beli  pun sama dengan riba”,   وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا -- padahal Allah menghalalkan jual-beli tetapi mengharamkan riba.  Karena itu    barangsiapa yang kepadanya telah sampai peringatan dari Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari pelanggaran itu  maka untuknya  apa yang diterimanya di masa lalu, sedangkan urusannya terserah kepada Allah. وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- Dan barangsiapa kembali lagi makan riba maka mereka adalah penghuni Api, mereka  kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:276).
       Riba menjuruskan pula kepada peperangan:  وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- “dan barangsiapa kembali lagi makan riba maka mereka adalah penghuni Api, mereka  kekal di dalamnya.”  Tiada peperangan yang berlarut-larut terjadi tanpa bantuan pinjaman yang bunganya membawa kepada keruntuhan ekonomi bagi pihak yang menang dan pihak yang kalah kedua-duanya.
     Sistem yang memudahkan mengambil pinjaman  membuka kemungkinan bagi pemerintah-pemerintah meneruskan peperangan yang merusak itu, sebab mereka mendapatkan angin untuk berperang tanpa mengadakan pemungutan pajak dengan langsung. Itulah sebabnya Islam melarang segala bentuk riba
      Di zaman modern ini perniagaan telah begitu terikat oleh dan tak terpisahkan dari rantai riba,  sehingga seolah-olah hampir tidak mungkin menghindarkannya sama sekali. Tetapi bila diadakan perubahan dalam sistem dan dalam lingkungan serta keadaan, maka perniagaan tanpa riba dapat diselenggarakan seperti halnya pada hari-hari ketika Islam berada di masa  keemasannya yang pertama.

Nubuatan Lenyapnya Sistem Riba &  Hakikat “Keluasan” Surga

     Sehubungan dengan hal tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kepastian akan lenyapnya sistem riba di Akhir Zaman ini:
یَمۡحَقُ اللّٰہُ الرِّبٰوا وَ یُرۡبِی الصَّدَقٰتِ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یُحِبُّ کُلَّ  کَفَّارٍ اَثِیۡمٍ ﴿﴾    اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا الزَّکٰوۃَ لَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾
 Allah akan menghapuskan  riba dan  mengembangkan sedekah-sedekah, dan Allah tidak menyukai setiap orang  yang tetap dalam kekafiran lagi berdosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal shalih,  mendirikan shalat dan membayar zakat, bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhannya), tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka akan bersedih.  (Al-Baqarah [2]:277-278).
       Hal itu merupakan nubuatan bahwa ekonomi berdasarkan  riba akhirnya akan lenyap atau akan binasa, selanjutnya berfirman lagi:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ وَ ذَرُوۡا مَا بَقِیَ مِنَ الرِّبٰۤوا اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا فَاۡذَنُوۡا بِحَرۡبٍ مِّنَ اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُبۡتُمۡ  فَلَکُمۡ رُءُوۡسُ اَمۡوَالِکُمۡ ۚ لَا تَظۡلِمُوۡنَ وَ لَا تُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah yang masih tersisa dari riba jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.  Tetapi jika kamu tidak  mengerjakannya maka waspadalah terhadap perang dari Allah dan Rasul-Nya, dan  jika kamu bertaubat maka untuk  kamu harta pokokmu dengan demikian kamu tidak akan menzalimi  dan tidak pula kamu akan dizalimi. (Al-Baqarah [2]:279-280). 
      Kembali kepada firman-Nya mengenai  hubungan pelarangan riba dengan janji tentang surga yang   nilainya “seluas langit dan bumi”:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡکُلُوا الرِّبٰۤوا اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَۃً  ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ۚ  وَ اتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡۤ  اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ۚ  وَ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿﴾ۚ  وَ سَارِعُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ ۙ اُعِدَّتۡ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ۙ  الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ فِی السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ الۡکٰظِمِیۡنَ الۡغَیۡظَ وَ الۡعَافِیۡنَ عَنِ النَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu memakan riba yang berlipatganda, dan bertakwalah kepada Allsh supaya kamu memperoleh keberhasilan.  وَ اتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡۤ  اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  --   Dan  peliharalah diri kamu terhadap Api  yang disediakan bagi   orang-orang kafir. وَ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ  --  Dan   taatlah kamu kepada  Allah dan Rasul ini supaya kamu dikasihani.  وَ سَارِعُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ ۙ اُعِدَّتۡ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ  --     Dan bersegeralah kamu ke arah ampunan dari  Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya  seluruh langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa. الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ فِی السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ  --   Yaitu orang-orang yang membelanjakan harta di waktu lapang dan di waktu sempitوَ الۡکٰظِمِیۡنَ الۡغَیۡظَ وَ الۡعَافِیۡنَ عَنِ النَّاسِ  --  yang menahan amarah dan yang memaafkan manusia, وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ  --  dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.   (Ali ‘Imran [3]:131-135).

Kehidupan Surgawi Dimulai di Dunia

      Sebagaimana telah dikemukakan  bahwa ‘ardh berarti: (1) harga atau nilai sesuatu benda dalam bentuk lain dari uang; (2) lebarnya; (3) luasnya (Al-Aqrab-ul-Mawarid).   Ayat ini merupakan jawaban kepada mereka  --  yang karena terpukau oleh keadaan sekeliling mereka dewasa ini  --  menyangka bahwa perdagangan atau perniagaan tidak dapat terselenggara tanpa riba.
       Ayat ini mengatakan bahwa dengan mengikuti ajaran Islam, kaum Muslimin dapat dan akan menikmati segala macam manfaat dan keuntungan.  Ayat ini merupakan seruan kepada kaum Muslimin untuk mengikuti perintah dan peraturan Islam.   
      Ayat ini berarti pula bahwa surga akan meliputi langit dan bumi, yakni orang-orang beriman  akan berada di surga, baik dalam kehidupan ini maupun dalam kehidupan yang akan datang  di akhirat kelak. Itulah makna ayat: وَ سَارِعُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ ۙ اُعِدَّتۡ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ  --      ”dan bersegeralah kamu ke arah ampunan dari  Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya  seluruh langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa.”
      Suatu hadits yang terkenal menjelaskan keadaan surga dan neraka dengan sangat menarik hati. Ketika Nabi Besar Muhammad saw.  ditanya: “Jika surga meliputi langit dan bumi, kemudian di manakah tempat neraka?” Beliau saw.  balik bertanya: “Di manakah malam bila siang tiba?” (Tafsir Ibnu Katsir).
    Menurut riwayat  Nabi Besar Muhammad saw. pernah bersabda pula bahwa ganjaran surga terkecil akan sebesar ruang antara langit dan bumi. Hal itu menunjukkan bahwa surga merupakan keadaan ruhani dan bukan suatu tempat jasmani tertentu sebagaimana yang umumnya difahami, firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  (As-Sajdah [32]:18).
     Waktu Nabi Besar Muhammad saw.   menggambarkan bentuk dan sifat nikmat dan kesenangan surga, beliau saw. diriwayatkan pernah bersabda: “Tiada mata pernah melihatnya (nikmat surga itu) dan tiada pula telinga pernah mendengarnya, tidak pula pikiran manusia dapat membayangkannya” (Bukhari, Kitab Bad’al-Khalaq).
     Hadits itu menunjukkan bahwa nikmat kehidupan ukhrawi tidak akan bersifat kebendaan. Nikmat-nikmat surgawi  itu akan merupakan penjelmaan-keruhanian perbuatan dan tingkah-laku baik yang telah dikerjakan orang-orang bertakwa di alam dunia ini.
     Kata-kata yang dipergunakan untuk menggambarkan nikmat-nikmat surgawi itu dalam Al-Quran telah dipakai hanya dalam arti kiasan. Ayat yang sekarang pun dapat berarti bahwa karunia dan nikmat Ilahi yang akan dilimpahkan kepada orang-orang beriman  yang bertakwa di alam akhirat bahkan jauh lebih baik dan jauh lebih berlimpah-limpah dari yang dikhayalkan atau dibayangkan. Nikmat-nikmat surgawi itu akan berada jauh di luar batas jangkauan daya cipta manusia.

Hubungan Riba dengan Perang Berkelanjutan

       Kembali kepada firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah dan surah Ali ‘Imran mengenai hubungan riba dengan  berkobarnya api peperangan
اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ ؕ وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang   yang memakan riba  tidak berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang syaitan merasukinya dengan penyakit gila. ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا   -- Hal demikian adalah karena mereka berkata: “Sesungguhnya jual-beli  pun sama dengan riba”,   وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا -- padahal Allah menghalalkan jual-beli tetapi mengharamkan riba.  Karena itu    barangsiapa yang kepadanya telah sampai peringatan dari Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari pelanggaran itu  maka untuknya  apa yang diterimanya di masa lalu, sedangkan urusannya terserah kepada Allah. وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- Dan barangsiapa kembali lagi makan riba maka mereka adalah penghuni Api, mereka  kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:276).
      Riba menjuruskan pula kepada peperangan:  وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- “dan barangsiapa kembali lagi makan riba maka mereka adalah penghuni Api, mereka  kekal di dalamnya.”  Tiada peperangan yang berlarut-larut terjadi tanpa bantuan pinjaman yang bunganya membawa kepada keruntuhan ekonomi bagi pihak yang menang dan pihak yang kalah kedua-duanya.
      Sistem yang memudahkan mengambil pinjaman  membuka kemungkinan bagi pemerintah-pemerintah meneruskan peperangan yang merusak itu, sebab mereka mendapatkan angin untuk berperang tanpa mengadakan pemungutan pajak dengan langsung. Itulah sebabnya Islam melarang segala bentuk riba
      Di zaman modern ini perniagaan telah begitu terikat oleh dan tak terpisahkan dari rantai riba,  sehingga seolah-olah hampir tidak mungkin menghindarkannya sama sekali. Tetapi bila diadakan perubahan dalam sistem dan dalam lingkungan serta keadaan, maka perniagaan tanpa riba dapat diselenggarakan seperti halnya pada hari-hari ketika Islam berada di masa  keemasannya yang pertama.

Hubungan “Larangan Riba” dengan “Maghfirah Ilahi

     Kemudian mengenai hubungan  pelarangan riba dengan  janji mendapat “maghfirah Ilahi”   Allah Swt. berfirman:
اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ ؕ وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang memakan riba  tidak berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang syaitan merasukinya dengan penyakit gila.  Hal demikian adalah karena mereka berkata: “Sesungguhnya jual-beli  pun sama dengan riba”, padahal Allah menghalalkan jual-beli tetapi mengharamkan riba.  فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ  --  Karena itu    barangsiapa yang kepadanya telah sampai peringatan dari Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari pelanggaran itu     -- maka untuknya  apa yang diterimanya di masa lalu,  وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ -- sedangkan urusannya terserah kepada Allah. وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ  -- Dan barangsiapa kembali lagi makan riba maka mereka adalah penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- mereka  kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:276).
       Dalam  ayat: فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ  --  Karena itu    barangsiapa yang kepadanya telah sampai peringatan dari Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari pelanggaran itu    maka untuknya  apa yang diterimanya di masa lalu,  وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ -- sedangkan urusannya terserah kepada Allah” mengisyaratkan adanya “maghfirah Ilahi” yakni:  وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ – “sedangkan urusannya terserah kepada Allah.”

Manusia Harus Berpaling Kepada Allah Swt.  dengan Penyesalan

      Sehubungan dengan maghfirah Ilahi yang dijanjikan Allah Swt.  terhadap orang-orang atau bangsa-bangsa yang meninggalkan system riba Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     Dalam bahasa Arab, arti kata taubah mengandung arti  kembali,  sehingga dalam Al-Quran nama Tuhan pun antara lain disebut sebagai Tawwāb yang berarti “Dia yang selalu kembali”. Hal ini mengandung arti bahwa jika seseorang setelah menanggalkan dosa-dosanya lalu berpaling kepada Tuhan dengan hati yang tulus  maka Tuhan akan lebih lagi mendekat kepadanya.
   Keadaan tersebut sejalan dengan hukum alam dimana Tuhan telah menjadikan hal itu sebagai bagian dari fitrat manusia,  yaitu jika seseorang menghampiri orang lainnya dengan hati yang tulus maka hati orang yang didatangi itu pun akan melembut kepadanya.
     Karena itu bagaimana mungkin daya nalar ini bisa   menerima bahwa seorang hamba yang dengan hati tulus telah berpaling kepada Tuhan-nya tetapi Tuhan malah menolaknya? Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang malah akan lebih mendekat lagi kepada hamba-Nya. Sebab itu juga maka dalam Al-Quran Tuhan disebut sebagai Tawwāb yang berarti “Dia yang selalu kembali.
      Manusia berpaling kepada Tuhan melalui rasa penyesalan, kerendahan hati dan penyerahan diri, sedangkan Tuhan menghadapinya (menghampirinya)  dengan rahmat dan pengampunan.   Jika rahmat tidak merupakan salah satu fitrat Ilahi maka tidak akan ada manusia yang akan diselamatkan.
     Sayang sekali manusia lebih bertumpu sepenuhnya pada tindakan mereka sendiri dan tidak merenungi fitrat-fitrat Ilahi.   Apakah mungkin Tuhan akan mengabaikan seseorang yang lemah yang telah berpaling kepada-Nya dengan menanggalkan segala pakaian kebiasaan lamanya dan mendatangi Tuhan-nya laiknya orang yang sudah mati terbakar dalam api kasih-Nya, padahal Dia telah demikian banyak menebar rahmat dan karunia bagi manusia di bumi tanpa diminta terlebih dahulu? Apakah ini yang disebut sebagai hukum alam?
لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ
Laknat Allah ditimpakan atas orang-orang yang berdusta (Ali Imran [3]:62).
(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  133-134, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 23 September 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar