Senin, 05 September 2016

Berbagai Pendapat Mengenai "Surga" dan "Neraka" & Hikmah Perintah "Istighfar" Kepada Nabi Besar Muhammad saw.



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 4

  BERBAGAI PENDAPAT   MENGENAI SURGA DAN NERAKA   &  HIKMAH PERINTAH ISTIGHFAR KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  bagian Bab 3  telah    dijelaskan makna “percakapan kiasan” antara Allah Swt. dengan neraka   jahannam dalam ayat:   یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ --  Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:    ہَلِ امۡتَلَاۡتِ  -- “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Apakah masih ada tambahan lagi?”, firman-Nya:
یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ ﴿﴾  وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ ﴿﴾  ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾  ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾  لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:    ہَلِ امۡتَلَاۡتِ  -- “Apakah eng-kau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ  --  Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa,  tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya.  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ   -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat, ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ  --  “Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. Inilah Hari yang kekal abadi.”   لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan  dan di sisi Kami  ada tambahan lagi. (Qāf [50]:31-36).
         Namun betapa pun dahsyat dan mengerikan nampaknya hukuman dalam neraka itu, tetapi  neraka menurut Al-Quran merupakan rumah tahanan sementara  yakni berfungsi seperti “rahim ibu” --  firman-Nya:  “ada pun orang-orang yang ringan timbangan amalnya maka ibunya haawiyah (jahannam). Dan apakah engkau mengetahui apa haawiyah itu, yaitu api yang menyala-nyala”   (QS.101:9-12)  --  yang mengubah “segumpal darah” menjadi bayi (QS.22:6; QS.23:13-15.

Rangkaian  Berkesinambungan Nikmat-nikmat Surgawi

    Berbeda dengan fungsi “neraka jahannam” yang bersifat sementara,  surga merupakan sebuah tempat kediaman abadi karena  rahmat  Allah Swt.  tidak ada batas dan hingganya, keadaannya   tidak statis melainkan dinamis itulah makna  kata  khuld (kekal),  sesuai dengan penampakan-penampakan baru  kesempurnaan Sifat-sifat Allah  Swt. (QS.55:30), firman-Nya:
فَاَمَّا الَّذِیۡنَ شَقُوۡا فَفِی النَّارِ لَہُمۡ فِیۡہَا زَفِیۡرٌ  وَّ شَہِیۡقٌ ﴿﴾ۙ  خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّکَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ فَعَّالٌ  لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿﴾  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ سُعِدُوۡا فَفِی الۡجَنَّۃِ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ  اِلَّا  مَا شَآءَ رَبُّکَ ؕ عَطَآءً غَیۡرَ  مَجۡذُوۡذٍ ﴿﴾
Maka adapun orang yang nasibnya buruk,  mereka itu akan ada dalam Api, di dalamnya mereka akan menarik nafas panjang dan tersendat-sendat.  Mereka  akan kekal di dalamnya selama langit dan bumi ada, kecuali apa yang Rabb (Tuhan) engkau kehendaki, sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau melakukan apa yang Dia kehendaki.  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ سُعِدُوۡا فَفِی الۡجَنَّۃِ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ            --  Tetapi mengenai orang yang bernasib baik, mereka ada dalam surga, mereka   kekal di dalamnya selama langit dan bumi ada, اِلَّا  مَا شَآءَ رَبُّکَ   -- kecuali apa yang Rabb (Tuhan) engkau kehendaki, عَطَآءً غَیۡرَ  مَجۡذُوۡذٍ  -- pemberian yang tidak ada putus-putusnya.  (Hūd [11]:107-109).
       Makna kata zafīr dalam ayat:  فَاَمَّا الَّذِیۡنَ شَقُوۡا فَفِی النَّارِ لَہُمۡ فِیۡہَا زَفِیۡرٌ  وَّ شَہِیۡقٌ  -- “Maka adapun orang yang nasibnya buruk,  mereka itu akan ada dalam Api, di dalamnya mereka akan menarik nafas panjang dan tersendat-sendat,” berarti, permulaan teriakan keledai, dan syahiq berarti penghabisan teriakan itu (Lexicon Lane).
Orang-orang kafir dalam ayat ini telah diumpamakan dengan keledai, ialah seekor binatang penakut dan bodoh, dengan arti  bahwa mereka itu tidak berani berbuat menurut keyakinan mereka, dan tidak mengambil faedah dari ilmu (QS.62:6; QS.74:50-52).
      Ungkapan Al-Quran خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّکَ   -- “Mereka  akan kekal di dalamnya selama langit dan bumi ada, kecuali apa yang Rabb (Tuhan) engkau kehendaki”  merupakan peribahasa, yang berarti masa yang sangat panjang. Al-Quran mengajarkan bahwa siksaan di neraka itu tidak kekal.
    berbeda dengan fungsi “neraka jahannam” yang bersifat sementara sedangkan  surga merupakan sebuah tempat kediaman abadi karena  rahmat  Allah Swt.  tidak ada batas dan hingganya, keadaannya   tidak statis melainkan dinamis itulah makna  kata  khuld (kekal),  sesuai dengan penampakan-penampakan baru  kesempurnaan Sifat-sifat Allah  Swt. (QS.55:30), firman-Nya:
فَاَمَّا الَّذِیۡنَ شَقُوۡا فَفِی النَّارِ لَہُمۡ فِیۡہَا زَفِیۡرٌ  وَّ شَہِیۡقٌ ﴿﴾ۙ  خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّکَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ فَعَّالٌ  لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿﴾  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ سُعِدُوۡا فَفِی الۡجَنَّۃِ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ  اِلَّا  مَا شَآءَ رَبُّکَ ؕ عَطَآءً غَیۡرَ  مَجۡذُوۡذٍ ﴿﴾
Maka adapun orang yang nasibnya buruk,  mereka itu akan ada dalam Api, di dalamnya mereka akan menarik nafas panjang dan tersendat-sendat.  Mereka  akan kekal di dalamnya selama langit dan bumi ada, kecuali apa yang Rabb (Tuhan) engkau kehendaki, sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau melakukan apa yang Dia kehendaki.  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ سُعِدُوۡا فَفِی الۡجَنَّۃِ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ            --  Tetapi mengenai orang yang bernasib baik, mereka ada dalam surga, mereka   kekal di dalamnya selama langit dan bumi ada, اِلَّا  مَا شَآءَ رَبُّکَ   -- kecuali apa yang Rabb (Tuhan) engkau kehendaki, عَطَآءً غَیۡرَ  مَجۡذُوۡذٍ  -- pemberian yang tidak ada putus-putusnya.  (Hūd [11]:107-109).
      Makna kata zafīr dalam ayat:  فَاَمَّا الَّذِیۡنَ شَقُوۡا فَفِی النَّارِ لَہُمۡ فِیۡہَا زَفِیۡرٌ  وَّ شَہِیۡقٌ  -- “Maka adapun orang yang nasibnya buruk,  mereka itu akan ada dalam Api, di dalamnya mereka akan menarik nafas panjang dan tersendat-sendat,” berarti, permulaan teriakan keledai, dan syahiq berarti penghabisan teriakan itu (Lexicon Lane).
Orang-orang kafir dalam ayat ini telah diumpamakan dengan keledai, ialah seekor binatang penakut dan bodoh, dengan arti  bahwa mereka itu tidak berani berbuat menurut keyakinan mereka, dan tidak mengambil faedah dari ilmu (QS.62:6; QS.74:50-52).
       Ungkapan Al-Quran خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّکَ   -- “Mereka  akan kekal di dalamnya selama langit dan bumi ada, kecuali apa yang Rabb (Tuhan) engkau kehendaki”  merupakan peribahasa, yang berarti masa yang sangat panjang. Al-Quran mengajarkan bahwa siksaan di neraka itu tidak kekal.

Berbagai Pendapat  Tentang Surga dan Neraka

      Menurut agama Hindu surga dan neraka kedua-duanya (ialah ganjaran dan siksaan) masanya terbatas, dan orang sesudah mengalami siksaan atau memetik hasil perbuatannya akan dikembalikan ke dunia untuk melakukan reinkarnasi. Dari agama-agama Semit, agama Yahudi menolak surga bagi bukan-Yahudi, sedang orang-orang Yahudi dipandangnya sebagai hampir-hampir bebas sama sekali dari siksaan neraka. Menurut orang-orang Kristen, surga dan neraka kedua-duanya kekal-abadi, meskipun beberapa dari sektenya (mazhabnya) berpegang kepada kepercayaan bahwa surga akan berakhir pula.  
       Ajaran Islam (Al-Quran)   -- sebagai agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4)   -- pada dasarnya berbeda dari semua agama tersebut dalam hal ini, sebab pewahyuan  Al-Quran kepada Nabi esar Muhammad ssw. Untuk menyempurnakan ajaran-ajaran yang telah diwahyukan sebelumnya  kepada para rasul Allah (QS.2:107).
     Menurut  ajaran  Islam – sesuai dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt. yang juga berlaku di alam akhirat (QS.34:2-3; QS.66:9) -- surga itu kekal dan abadi, sedang neraka itu berlangsung untuk sementara dan jangka waktunya terbatas. Imam Ahmad bin Hanbal menyebut sebuah hadits  Nabi Besar Muhammad saw.  yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash demikian:  “Akan tiba suatu hari untuk neraka, ketika pintu-pintunya akan melambai-lambai dan tak seorang pun akan tersisa di sana. Hal itu akan terjadi bila penghuni neraka telah tinggal di sana berabad-abad lamanya” (Musnad Ahmad  bin Hanbal).
      Menurut riwayat itu kata khālidīn (kekal)  yang dipakai sehubungan dengan neraka hanya berarti “tinggal untuk beberapa abad”. ‘Abdullah bin ‘Umar dan Jabir sepakat dengan Imam Hanbal. Abu Said al-Khudri pun menyebut suatu hadits yang serupa (Bukhari). 

Pendapat ‘Ulama Islam Terkenal

      Tetapi beberapa ahli keagamaan kenamaan, di antaranya Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim, berpendapat bahwa meskipun orang-orang kafir yang durjana itu layak ditahan dalam neraka untuk selama-lamanya, neraka itu sendiri pada suatu hari akan lenyap berkat rahmat Ilahi dan neraka itu sudah tidak ada, dengan sendirinya neraka itu tidak mempunyai penghuni (Fath-ul-Bari).
      Al-Quran mengenai surga telah mempergunakan kata-kata ganjaran yang tiada putus-putusnya (QS.41:9; QS.84:26; QS.95:7), tetapi tidak ada ungkapan demikian telah dipergunakan sehubungan dengan neraka, yakni siksaan yang tiada putus-putusnya.  Tambahan pula, dalam ayat-ayat QS.101:10-12 neraka diibaratkan seorang ibu, dan kita mengetahui bahwa mudighah tetap tinggal dalam rahim ibu hingga  tubuh bayi itu telah terbentuk dan berbagai-bagai anggota tubuhnya telah menjadi lengkap (QS.22:6; QS.23:13-15).
       Demikian pula orang-orang malang yang dilemparkan ke dalam neraka itu akan tetap tinggal di sana, hingga kemampuan-kemampuan mereka telah berkembang sepenuhnya (QS.17:73; QS.10:125-129, sehingga memberi kesanggupan kepada mereka untuk melihat Wajah Cemerlang  Allah Swt.  yang disebut “kehidupan surgawi.”
     Begitu beratnya dosa orang-orang kafir  itu, sehingga seandainya tidak ditakdirkan Allah Swt. sebelumnya bahwa umat manusia telah diciptakan untuk mencapai kemajuan ruhani, dan mereka akhirnya akan menjadi tempat turun rahmat Ilahi (QS.7:157; QS.11:120; QS.51:57), niscaya mereka telah lama dibinasakan. Itulah makna:  اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّکَ  -- “kecuali apa yang Rabb (Tuhan) engkau kehendaki,”   baik mengenai penghuni neraka mau pun penghuni surga, bedanya mengenai penghuni surga ada tambahan kalimat: عَطَآءً غَیۡرَ  مَجۡذُوۡذٍ   -- pemberian yang tidak ada putus-putusnya.  (Hūd [11]:107-109).

Para  Penghuni Surga

  Kalau dalam ayat sebelumnya disebutkan bahwa semakin bertambah banyak manusia akan dilemparkan ke dalam api neraka untuk menguras dan membersihkan mereka dari penyakit-penyakit ruhani mereka, maka ayat selanjutnya mengatakan bahwa surga juga akan dihampirkan (didekatkan) kepada orang-orang yang bertakwa: وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ  --  Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa,  tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya,”  firman-Nya:
یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ ﴿﴾  وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ ﴿﴾  ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾  ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾  لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:    ہَلِ امۡتَلَاۡتِ  -- “Apakah eng-kau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ  --  Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa,  tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya.  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ   -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat, ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ  --  “Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. Inilah Hari yang kekal abadi.”   لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan  dan di sisi Kami  ada tambahan lagi. (Qāf [50]:31-36).   
    Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ   -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat, ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ  --  “Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. Inilah Hari yang kekal abadi.”   لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan  dan di sisi Kami  ada tambahan lagi.“

Tambahan Ganjaran dan Hidangan dari Allah Swt.

    Di surga orang-orang bertakwa akan memperoleh dengan sepuas hati apa saja yang diinginkan mereka, tetapi karena keinginan manusia itu terbatas, mereka paling-paling diberi  --  jauh lebih banyak daripada apa yang diinginkan mereka atau layak diterima mereka  --  bahkan lebih banyak daripada apa yang diangankan atau dikhayalkan mereka:    لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan  dan di sisi Kami  ada tambahan lagi“, sebagaimana firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪     
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ”Rabb (Tuhan) kami Allah,”     kemudian mereka teguhتَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ  -- kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ --- Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat.  وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ -- Dan bagi kamu di dalamnya apa yang diinginkan diri kamu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta.  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ  -- Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(Ha MimAs-Sajdah [41]:31-33).
  Dalam kehidupan di sinilah malaikat-malaikat turun kepada orang yang beriman dan bertakwa untuk memberi mereka kata-kata penghibur dan pelipur lara jika mereka menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat dalam mempertahankan Tauhid Ilahi yang diajarkan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37).

Makna Perintah Istighfar Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

 Jadi,mengingat perjalanan (perkembangan) ruhani manusia  yang berkesinambungan – baik di dunia ini mau pun di alam akhirat -- betapa pentingnya keberadaan hukum syariat    diajarkan oleh  para Rasul Allah pembawa syariat  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.   (QS.3:32 & 86; QS.33:22) – serta betapa pentingnya kesinambungan pengutusan para Rasul Allah  di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) – karena itu  betapa pentingnya orang-orang beriman senantiasa  memanjatkan istighfar  memohon maghfirah   Allah Swt.    agar  dalam melakukan “perjalanan ruhaninya” yang tidak ada batas akhirnya tersebut (QS.53:1-19; QS.66:9) Allah Swt. berkenan menutupi “kekurangan-kekuranganmanusiawi  yang merupakan bagian dari fitrat kemanusiaannya,   sebagaimana    firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ      َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ    -- Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datangوَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ      َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا --  dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,    وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا  --  dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
 Ayat 3 dengan sengaja disalahkemukakan, atau -- karena kekurangan pengetahuan tentang muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab  -- disalahartikan oleh beberapa penulis Kristen seakan mengandung arti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  mempunyai kesalahan-kesalahan akhlaki.
    Telah merupakan salah satu dari Rukun Islam, sebagaimana diperintakan oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Ilahi (QS.21:28). Oleh karena mereka diutus oleh Allah Swt.  untuk membersihkan manusia dari dosa, maka tidaklah mungkin mereka sendiri berbuat dosa. Dan dari antara utusan-utusan Allah, Nabi Besar Muhammad saw.  yang  paling mulia dan paling suci (QS.33:22 & 42)
   Al-Quran mengandung banyak sekali ayat-ayat yang menyebut dengan kata-kata yang ceria  mengenai  kesucian dan kema’shuman hidup beliau saw.  (QS.2:130; QS.3:32 & 165; QS.6:163; QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5; dan QS.81:20-22). Firman-Nya lagi:
فَاصۡبِرۡ  اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ ﴿﴾
Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mintalah ampunan bagi mereka atas dosa yang diperbuat mereka terhadap engkau dan bertasbihlah dengan pujian Rabb (Tuhan) engkau pada waktu petang dan pagi. (Al-Mu’min [40]:56).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 4 September 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar