Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
4
BERBAGAI PENDAPAT MENGENAI SURGA
DAN NERAKA &
HIKMAH PERINTAH ISTIGHFAR
KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir bagian Bab 3
telah dijelaskan makna “percakapan kiasan” antara Allah Swt. dengan neraka jahannam dalam
ayat: یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: ہَلِ امۡتَلَاۡتِ -- “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam
itu akan menjawab: ہَلۡ مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- “Apakah masih ada tambahan lagi?”, firman-Nya:
یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ
امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ
مَّزِیۡدٍ ﴿﴾ وَ اُزۡلِفَتِ
الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ ﴿﴾ ہٰذَا
مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾ مَنۡ
خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾ ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾ لَہُمۡ مَّا یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Pada
hari itu Kami akan berkata
kepada Jahannam: ہَلِ امۡتَلَاۡتِ
-- “Apakah eng-kau sudah penuh?”
Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ
مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ
-- Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa, tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ
حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah
dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya. مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat,
ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ -- “Masuklah
ke dalamnya dengan selamat sejahtera.
Inilah Hari yang kekal abadi.” لَہُمۡ مَّا
یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا
مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di
dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan
dan di sisi Kami ada tambahan lagi. (Qāf
[50]:31-36).
Namun betapa pun dahsyat dan mengerikan
nampaknya hukuman dalam neraka itu, tetapi neraka
menurut Al-Quran merupakan rumah tahanan
sementara yakni berfungsi seperti “rahim ibu” -- firman-Nya: “ada pun orang-orang
yang ringan timbangan amalnya maka ibunya haawiyah (jahannam). Dan apakah engkau mengetahui apa haawiyah itu, yaitu api yang menyala-nyala” (QS.101:9-12) -- yang mengubah “segumpal darah” menjadi bayi
(QS.22:6; QS.23:13-15.
Rangkaian Berkesinambungan Nikmat-nikmat Surgawi
Berbeda dengan fungsi “neraka jahannam” yang bersifat
sementara, surga merupakan sebuah tempat
kediaman abadi karena rahmat Allah Swt.
tidak ada batas dan hingganya, keadaannya tidak
statis melainkan dinamis itulah
makna kata khuld
(kekal), sesuai dengan penampakan-penampakan baru kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt.
(QS.55:30), firman-Nya:
فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ شَقُوۡا
فَفِی النَّارِ لَہُمۡ فِیۡہَا زَفِیۡرٌ وَّ شَہِیۡقٌ ﴿﴾ۙ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّکَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ سُعِدُوۡا فَفِی الۡجَنَّۃِ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ اِلَّا
مَا شَآءَ رَبُّکَ ؕ
عَطَآءً غَیۡرَ مَجۡذُوۡذٍ ﴿﴾
Maka adapun orang yang nasibnya buruk, mereka itu akan ada dalam Api, di dalamnya mereka akan menarik nafas panjang dan tersendat-sendat. Mereka akan
kekal di dalamnya selama langit dan bumi
ada, kecuali apa yang
Rabb (Tuhan) engkau kehendaki, sesungguhnya Rabb
(Tuhan) engkau melakukan apa yang Dia
kehendaki. وَ اَمَّا
الَّذِیۡنَ سُعِدُوۡا فَفِی الۡجَنَّۃِ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا
مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ -- Tetapi mengenai orang yang bernasib baik, mereka ada dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama langit dan bumi
ada, اِلَّا مَا شَآءَ
رَبُّکَ -- kecuali
apa yang Rabb (Tuhan) engkau kehendaki, عَطَآءً غَیۡرَ مَجۡذُوۡذٍ -- pemberian
yang tidak ada putus-putusnya. (Hūd [11]:107-109).
Makna kata zafīr dalam
ayat: فَاَمَّا الَّذِیۡنَ شَقُوۡا فَفِی النَّارِ لَہُمۡ فِیۡہَا زَفِیۡرٌ
وَّ شَہِیۡقٌ -- “Maka adapun
orang yang nasibnya buruk, mereka
itu akan ada dalam Api, di dalamnya mereka akan menarik nafas panjang dan tersendat-sendat,” berarti, permulaan teriakan keledai, dan syahiq
berarti penghabisan teriakan itu (Lexicon Lane).
Orang-orang kafir dalam ayat ini telah diumpamakan
dengan keledai, ialah seekor binatang penakut dan bodoh, dengan arti bahwa mereka itu tidak berani berbuat menurut keyakinan
mereka, dan tidak mengambil faedah
dari ilmu (QS.62:6; QS.74:50-52).
Ungkapan Al-Quran خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّکَ -- “Mereka
akan kekal di dalamnya selama langit dan bumi ada, kecuali apa yang
Rabb (Tuhan) engkau kehendaki” merupakan peribahasa,
yang berarti masa yang sangat panjang.
Al-Quran mengajarkan bahwa siksaan di
neraka itu tidak kekal.
berbeda
dengan fungsi “neraka jahannam” yang
bersifat sementara sedangkan surga
merupakan sebuah tempat kediaman abadi
karena rahmat Allah Swt. tidak ada batas
dan hingganya, keadaannya tidak
statis melainkan dinamis itulah
makna kata khuld
(kekal), sesuai dengan penampakan-penampakan baru kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt.
(QS.55:30), firman-Nya:
فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ شَقُوۡا
فَفِی النَّارِ لَہُمۡ فِیۡہَا زَفِیۡرٌ وَّ شَہِیۡقٌ ﴿﴾ۙ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّکَ ؕ اِنَّ رَبَّکَ فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ
سُعِدُوۡا فَفِی الۡجَنَّۃِ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ اِلَّا
مَا شَآءَ رَبُّکَ ؕ
عَطَآءً غَیۡرَ مَجۡذُوۡذٍ ﴿﴾
Maka adapun orang yang nasibnya buruk, mereka itu akan ada dalam Api, di dalamnya mereka akan menarik nafas panjang dan tersendat-sendat. Mereka akan
kekal di dalamnya selama langit dan bumi
ada, kecuali apa yang
Rabb (Tuhan) engkau kehendaki, sesungguhnya Rabb
(Tuhan) engkau melakukan apa yang Dia
kehendaki. وَ اَمَّا
الَّذِیۡنَ سُعِدُوۡا فَفِی الۡجَنَّۃِ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا
مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ -- Tetapi mengenai orang yang bernasib baik, mereka ada dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama langit dan bumi
ada, اِلَّا مَا شَآءَ
رَبُّکَ -- kecuali
apa yang Rabb (Tuhan) engkau kehendaki, عَطَآءً غَیۡرَ مَجۡذُوۡذٍ -- pemberian
yang tidak ada putus-putusnya. (Hūd [11]:107-109).
Makna kata zafīr dalam
ayat: فَاَمَّا الَّذِیۡنَ شَقُوۡا فَفِی النَّارِ لَہُمۡ فِیۡہَا زَفِیۡرٌ
وَّ شَہِیۡقٌ -- “Maka adapun
orang yang nasibnya buruk, mereka
itu akan ada dalam Api, di dalamnya mereka akan menarik nafas panjang dan tersendat-sendat,” berarti, permulaan teriakan keledai, dan syahiq
berarti penghabisan teriakan itu (Lexicon Lane).
Orang-orang kafir dalam ayat ini telah diumpamakan
dengan keledai, ialah seekor binatang penakut dan bodoh, dengan arti bahwa mereka itu tidak berani berbuat menurut keyakinan
mereka, dan tidak mengambil faedah
dari ilmu (QS.62:6; QS.74:50-52).
Ungkapan Al-Quran خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا مَا دَامَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّکَ -- “Mereka
akan kekal di dalamnya selama langit dan bumi ada, kecuali apa yang
Rabb (Tuhan) engkau kehendaki” merupakan peribahasa,
yang berarti masa yang sangat panjang.
Al-Quran mengajarkan bahwa siksaan di
neraka itu tidak kekal.
Berbagai Pendapat Tentang Surga
dan Neraka
Menurut
agama Hindu surga dan neraka kedua-duanya (ialah ganjaran dan
siksaan) masanya terbatas, dan orang
sesudah mengalami siksaan atau
memetik hasil perbuatannya akan dikembalikan ke dunia untuk melakukan reinkarnasi. Dari agama-agama Semit, agama Yahudi menolak surga bagi bukan-Yahudi, sedang orang-orang Yahudi dipandangnya sebagai
hampir-hampir bebas sama sekali dari siksaan neraka. Menurut orang-orang
Kristen, surga dan neraka kedua-duanya kekal-abadi, meskipun beberapa dari sektenya (mazhabnya) berpegang
kepada kepercayaan bahwa surga akan berakhir pula.
Ajaran Islam (Al-Quran) -- sebagai
agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4) -- pada dasarnya berbeda dari semua agama tersebut dalam hal ini,
sebab pewahyuan Al-Quran kepada Nabi
esar Muhammad ssw. Untuk menyempurnakan ajaran-ajaran
yang telah diwahyukan sebelumnya kepada para rasul Allah (QS.2:107).
Menurut
ajaran Islam – sesuai dengan Sifat
Rabubiyat Allah Swt. yang juga berlaku di alam akhirat (QS.34:2-3; QS.66:9) -- surga itu kekal dan abadi, sedang neraka itu berlangsung untuk sementara dan jangka waktunya terbatas. Imam Ahmad bin Hanbal menyebut sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin
‘Amr bin Al-’Ash demikian: “Akan
tiba suatu hari untuk neraka, ketika pintu-pintunya akan melambai-lambai dan
tak seorang pun akan tersisa di sana. Hal itu akan terjadi bila penghuni neraka
telah tinggal di sana berabad-abad lamanya” (Musnad Ahmad bin Hanbal).
Menurut riwayat itu kata khālidīn
(kekal) yang dipakai sehubungan dengan neraka hanya berarti “tinggal untuk beberapa abad”. ‘Abdullah
bin ‘Umar dan Jabir sepakat dengan Imam Hanbal. Abu Said al-Khudri pun menyebut
suatu hadits yang serupa (Bukhari).
Pendapat ‘Ulama Islam
Terkenal
Tetapi beberapa ahli keagamaan kenamaan, di
antaranya Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim, berpendapat bahwa meskipun
orang-orang kafir yang durjana itu layak ditahan dalam neraka untuk
selama-lamanya, neraka itu sendiri
pada suatu hari akan lenyap berkat rahmat Ilahi dan neraka itu sudah tidak ada, dengan sendirinya neraka itu tidak mempunyai penghuni (Fath-ul-Bari).
Al-Quran mengenai surga telah mempergunakan kata-kata ganjaran
yang tiada putus-putusnya (QS.41:9; QS.84:26; QS.95:7), tetapi tidak ada
ungkapan demikian telah dipergunakan sehubungan dengan neraka, yakni siksaan yang tiada putus-putusnya. Tambahan pula, dalam ayat-ayat QS.101:10-12
neraka diibaratkan seorang ibu, dan
kita mengetahui bahwa mudighah tetap tinggal dalam rahim ibu hingga tubuh bayi itu telah terbentuk dan
berbagai-bagai anggota tubuhnya telah
menjadi lengkap (QS.22:6; QS.23:13-15).
Demikian pula orang-orang malang yang
dilemparkan ke dalam neraka itu akan
tetap tinggal di sana, hingga kemampuan-kemampuan
mereka telah berkembang sepenuhnya
(QS.17:73; QS.10:125-129, sehingga memberi kesanggupan
kepada mereka untuk melihat Wajah Cemerlang Allah Swt.
yang disebut “kehidupan surgawi.”
Begitu
beratnya dosa orang-orang kafir itu, sehingga seandainya tidak ditakdirkan Allah Swt. sebelumnya bahwa
umat manusia telah diciptakan untuk
mencapai kemajuan ruhani, dan mereka
akhirnya akan menjadi tempat turun rahmat
Ilahi (QS.7:157; QS.11:120; QS.51:57), niscaya mereka telah lama dibinasakan. Itulah makna: اِلَّا مَا شَآءَ رَبُّکَ -- “kecuali
apa yang Rabb (Tuhan) engkau kehendaki,” baik mengenai penghuni neraka mau pun penghuni
surga, bedanya mengenai penghuni surga
ada tambahan kalimat: عَطَآءً غَیۡرَ
مَجۡذُوۡذٍ -- pemberian
yang tidak ada putus-putusnya. (Hūd [11]:107-109).
Para Penghuni Surga
Kalau
dalam ayat sebelumnya disebutkan bahwa semakin bertambah banyak manusia akan dilemparkan ke dalam api neraka untuk menguras dan membersihkan
mereka dari penyakit-penyakit ruhani
mereka, maka ayat selanjutnya mengatakan bahwa surga juga akan dihampirkan
(didekatkan) kepada orang-orang yang bertakwa:
وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ -- Dan
surga akan didekatkan kepada orang-orang
bertakwa, tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah
dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya,” firman-Nya:
یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ
امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ
مَّزِیۡدٍ ﴿﴾ وَ اُزۡلِفَتِ
الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ ﴿﴾ ہٰذَا
مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾ مَنۡ
خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾ ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾ لَہُمۡ مَّا یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Pada
hari itu Kami akan berkata
kepada Jahannam: ہَلِ امۡتَلَاۡتِ
-- “Apakah eng-kau sudah penuh?”
Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ
مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ
-- Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa, tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ
حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah
dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya. مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat,
ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ -- “Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. Inilah Hari yang kekal abadi.” لَہُمۡ مَّا
یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا
مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di
dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan
dan di sisi Kami ada tambahan lagi. (Qāf
[50]:31-36).
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman: مَنۡ خَشِیَ
الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat,
ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ
-- “Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. Inilah Hari yang kekal abadi.” لَہُمۡ مَّا
یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا
مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan dan di
sisi Kami ada tambahan
lagi.“
Tambahan Ganjaran dan Hidangan dari Allah Swt.
Di surga orang-orang bertakwa akan memperoleh dengan sepuas
hati apa saja yang diinginkan
mereka, tetapi karena keinginan
manusia itu terbatas, mereka
paling-paling diberi -- jauh lebih banyak daripada apa yang diinginkan mereka atau layak diterima mereka -- bahkan lebih
banyak daripada apa yang diangankan
atau dikhayalkan mereka: لَہُمۡ مَّا
یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا
مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan dan di
sisi Kami ada tambahan
lagi“, sebagaimana firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ
ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ
اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ﴿﴾ نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ
اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾ نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ ﴿٪ ﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang berkata: ”Rabb (Tuhan)
kami Allah,” kemudian mereka teguh, تَتَنَزَّلُ
عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا
تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ
کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ -- kepada mereka turun malaikat-malaikat seraya
berkata: ”Janganlah kamu
takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah kamu dengan surga
yang telah dijanjikan kepadamu.” نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ --- Kami
adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ
اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ -- Dan bagi
kamu di dalamnya apa yang diinginkan
diri kamu dan bagi kamu di dalamnya
apa yang kamu minta. نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ -- Sebagai hidangan dari Tuhan Yang
Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(Ha
Mim – As-Sajdah [41]:31-33).
Dalam
kehidupan di sinilah malaikat-malaikat
turun kepada orang yang beriman dan bertakwa
untuk memberi mereka kata-kata penghibur
dan pelipur lara jika mereka
menampakkan keteguhan dan ketabahan di tengah-tengah cobaan dan kemalangan yang berat dalam mempertahankan Tauhid Ilahi yang diajarkan Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
kepada mereka (QS.7:35-37).
Makna Perintah Istighfar
Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
Jadi,mengingat perjalanan (perkembangan) ruhani
manusia yang berkesinambungan – baik di dunia
ini mau pun di alam akhirat -- betapa
pentingnya keberadaan hukum syariat diajarkan oleh para Rasul Allah pembawa syariat -- terutama
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32 &
86; QS.33:22) – serta betapa pentingnya kesinambungan
pengutusan para Rasul Allah di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) – karena itu betapa pentingnya orang-orang beriman senantiasa memanjatkan istighfar memohon maghfirah Allah Swt. agar dalam melakukan “perjalanan ruhaninya” yang tidak ada batas akhirnya tersebut (QS.53:1-19;
QS.66:9) Allah Swt. berkenan menutupi
“kekurangan-kekurangan” manusiawi yang merupakan bagian dari fitrat kemanusiaannya, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ لَکَ
اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ
مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ
َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan
nyata. لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ -- Supaya Allah melindungi engkau dari
dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا
مُّسۡتَقِیۡمًا -- dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan
memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, وَّ
یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا
عَزِیۡزًا -- dan Allah
akan menolong engkau dengan pertolongan
yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
Ayat 3 dengan sengaja disalahkemukakan, atau -- karena
kekurangan pengetahuan tentang muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab -- disalahartikan
oleh beberapa penulis Kristen seakan
mengandung arti, bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. mempunyai kesalahan-kesalahan akhlaki.
Telah merupakan salah satu dari Rukun
Islam, sebagaimana diperintakan oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan sesuatu yang bertentangan
dengan perintah Ilahi (QS.21:28).
Oleh karena mereka diutus oleh Allah Swt. untuk membersihkan
manusia dari dosa, maka tidaklah
mungkin mereka sendiri berbuat dosa.
Dan dari antara utusan-utusan Allah, Nabi
Besar Muhammad saw. yang paling
mulia dan paling suci (QS.33:22
& 42)
Al-Quran
mengandung banyak sekali ayat-ayat yang menyebut dengan kata-kata yang ceria mengenai
kesucian dan kema’shuman hidup beliau saw. (QS.2:130; QS.3:32 & 165; QS.6:163;
QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5; dan QS.81:20-22).
Firman-Nya lagi:
فَاصۡبِرۡ اِنَّ وَعۡدَ
اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ
بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ ﴿﴾
Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mintalah ampunan bagi mereka atas dosa yang diperbuat
mereka terhadap engkau dan
bertasbihlah dengan pujian Rabb (Tuhan) engkau pada waktu petang dan pagi. (Al-Mu’min
[40]:56).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy
Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 4 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar