Selasa, 27 September 2016

Hikmah Pelarangan Orang-orang Musyrik Berziarah dan Memakmurkan Ka'bah (Baitullah) & Jaminan Allah Swt. Mengenai Keamanan dan Kesejahteraan Penduduk Mekkah




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 21

HIKMAH PELARANGAN ORANG-ORANG MUSYRIK BERZIARAH DAN MEMAKMURKAN KA’BAH (BAITULLAH) & JAMINAN ALLAH SWT.  MENGENAI KEAMANAN DAN KESEJAHTARAAN  PENDUDUK MEKKAH

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma
 
D
alam  bagian  akhir Bab 20   dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai  pentingnya   manusia   berpaling kepada Allah Swt.  dengan penyesalan. Dan sehubungan dengan maghfirah Ilahi yang dijanjikan Allah Swt.  terhadap orang-orang atau bangsa-bangsa yang meninggalkan system riba Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     Dalam bahasa Arab, arti kata taubah mengandung arti  kembali,  sehingga dalam Al-Quran nama Tuhan pun antara lain disebut sebagai Tawwāb yang berarti “Dia yang selalu kembali”. Hal ini mengandung arti bahwa jika seseorang setelah menanggalkan dosa-dosanya lalu berpaling kepada Tuhan dengan hati yang tulus  maka Tuhan akan lebih lagi mendekat kepadanya.
    Keadaan tersebut sejalan dengan hukum alam dimana Tuhan telah menjadikan hal itu sebagai bagian dari fitrat manusia,  yaitu jika seseorang menghampiri orang lainnya dengan hati yang tulus maka hati orang yang didatangi itu pun akan melembut kepadanya.
     Karena itu bagaimana mungkin daya nalar ini bisa   menerima bahwa seorang hamba yang dengan hati tulus telah berpaling kepada Tuhan-nya tetapi Tuhan malah menolaknya? Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang malah akan lebih mendekat lagi kepada hamba-Nya. Sebab itu juga maka dalam Al-Quran Tuhan disebut sebagai Tawwāb yang berarti “Dia yang selalu kembali.
      Manusia berpaling kepada Tuhan melalui rasa penyesalan, kerendahan hati dan penyerahan diri, sedangkan Tuhan menghadapinya (menghampirinya)  dengan rahmat dan pengampunan.   Jika rahmat tidak merupakan salah satu fitrat Ilahi maka tidak akan ada manusia yang akan diselamatkan.
     Sayang sekali manusia lebih bertumpu sepenuhnya pada tindakan mereka sendiri dan tidak merenungi fitrat-fitrat Ilahi.   Apakah mungkin Tuhan akan mengabaikan seseorang yang lemah yang telah berpaling kepada-Nya dengan menanggalkan segala pakaian kebiasaan lamanya dan mendatangi Tuhan-nya laiknya orang yang sudah mati terbakar dalam api kasih-Nya, padahal Dia telah demikian banyak menebar rahmat dan karunia bagi manusia di bumi tanpa diminta terlebih dahulu? Apakah ini yang disebut sebagai hukum alam?
لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ
Laknat Allah ditimpakan atas orang-orang yang berdusta (Ali Imran [3]:62).
(Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  133-134, London, 1984).

Hikmah Larangan Orang-orang Musyrik Menziarahi Baitullah

    Pada saat Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi Besar Muhamad saw. agar melarang orang-orang musyrik untuk berziarah ke Baitullah di Mekkah, timbul kekhawatiran di kalangan penduduk Mekkah akan terjadi kebangkrutan ekonomi, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنَّمَا الۡمُشۡرِکُوۡنَ نَجَسٌ فَلَا یَقۡرَبُوا الۡمَسۡجِدَ الۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِہِمۡ ہٰذَا ۚ وَ اِنۡ خِفۡتُمۡ عَیۡلَۃً فَسَوۡفَ یُغۡنِیۡکُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖۤ  اِنۡ شَآءَ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, karena itu janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun mereka ini.  وَ اِنۡ خِفۡتُمۡ عَیۡلَۃً فَسَوۡفَ یُغۡنِیۡکُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖۤ  اِنۡ شَآءَ --  Dan  jika kamu khawatir menjadi miskin  maka Allah   segera akan memperkaya kamu dengan karunia-Nya jika Dia menghendaki, اِنَّ  اللّٰہَ  عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ --  sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (At-Taubah [9]:28)
       Ketika itu Mekkah merupakan pusat perdagangan yang besar dan musim ibadah haji merupakan kesempatan menyelenggarakan kegiatan perniagaan yang besar dan merupakan sumber penghasilan yang besar bagi orang-orang Mekkah. Sudah  tentu larangan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa hal itu akan memberi dampak yang tidak baik terhadap mata pencaharian mereka.
      Ada pun  mengenai alasan pelarangan  terhadap orang-orang musyrik tersebut   tersebut Allah Swt.  berfirman:
مَا کَانَ لِلۡمُشۡرِکِیۡنَ اَنۡ یَّعۡمُرُوۡا مَسٰجِدَ اللّٰہِ شٰہِدِیۡنَ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ بِالۡکُفۡرِ ؕ اُولٰٓئِکَ حَبِطَتۡ اَعۡمَالُہُمۡ ۚۖ وَ فِی النَّارِ ہُمۡ  خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Sekali-kali tidak  layak   bagi  orang-orang musyrik memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka menjadi saksi atas kekafiran diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang  amalnya hilang sia-sia dan mereka  akan kekal  di dalam Api. (At-Taubah [9]:17).
     Ayat ini bertalian dengan peziarah-peziarah musyrik yang berziarah dan merupakan pengantar untuk maklumat yang tersebut dalam QS.9:28 di bawah ini. Untuk seterusnya tiada seorang musyrik akan diizinkan menghampiri Ka’bah seperti diumumkan oleh   Ali bin Abi Thalib r.a.   kepada para peziarah yang berkumpul di Mekkah pada saat Haj Akbar pada tahun 9 Hijrah.
    Ayat ini mengemukakan alasan  pelarangan tersebut, yaitu karena Ka’bah (Baitullah) merupakan Rumah yang telah diwakafkan untuk beribadah kepada Tuhan Yang Mahaesa, maka orang-orang musyrik tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Ka’bah.

Yang layak Memakmurkan Mesjid-mesjid Allah

      Orang-orang musyrik dinyatakan sebagai musuh-musuh yang nyata terhadap Tauhid Ilahi, dan seakan-akan mereka dicela oleh pengakuan-pengakuan mereka sendiri. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِنَّمَا یَعۡمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰہِ مَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ اَقَامَ الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتَی الزَّکٰوۃَ وَ لَمۡ یَخۡشَ اِلَّا اللّٰہَ فَعَسٰۤی اُولٰٓئِکَ اَنۡ یَّکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya yang layak memakmurkan masjid-masjid Allah  hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan  Hari Kemudian, dan yang mendirikan shalat, membayar zakat, dan  ia tidak takut kecuali kepada Allah,  maka boleh jadi mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At-Taubah [9]:18).
       Kata-kata “masjid-masjid Allah” merujuk kepada Masjidilharam dalam ayat 19, sebab Masjidilharam atau Ka’bah merupakan pusat segala masjid di dunia ini. Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai  alasan pelarangan tersebut:
اَجَعَلۡتُمۡ سِقَایَۃَ الۡحَآجِّ وَ عِمَارَۃَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ کَمَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  وَ جٰہَدَ  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَا  یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۘ﴾ اَلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ  دَرَجَۃً  عِنۡدَ  اللّٰہِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu anggap memberi minum orang-orang yang melaksanakan haji dan  memelihara Masjidilharam itu sama seperti orang yang beriman kepada Allah, Hari Kemudian, dan  yang  berjihad pada jalan Allah? لَا  یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ   -- Mereka tidak sama di sisi Allah  وَ اللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ --     dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. اَلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ  دَرَجَۃً  عِنۡدَ  اللّٰہِ   -- Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka  memiliki derajat yang tertinggi di sisi Allah.  وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفَآئِزُوۡنَ  -- Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah [9]:19-20). 
       Pengkhidmatan lahiriah (jasmani) terhadap Ka’bah  seperti yang selama ini dilakukan  -- sekalipun merupakan satu perbuatan terpuji  --  tetapi sedikit pun tidak ada artinya bila dibandingkan dengan pengkhidmatan ruhaniah yang hanya dapat dijalankan (dilakukan) oleh seorang Muslim sejati. Sebab mengenai pengkhidmatan secara jasmani Allah Swt.  sendiri yang telah memberikan berbagai sarana financial bagi pemeliharaan Ka’bah (Baitullah) dan pelaksanaan ibadah hajji, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  لِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ ۙ﴿﴾  اٖلٰفِہِمۡ  رِحۡلَۃَ  الشِّتَآءِ  وَ الصَّیۡفِ ۚ﴿﴾ فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Tuhan engkau membinasakan para pemilik gajah untuk melekatkan  hati  orang-orang Quraisy. Untuk melekatkan kecintaan   mereka pada  perjalanan  di musim dingin dan musim panas. فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ  --  Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik  Rumah ini, الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ  --  Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan (Al-Quraisy [106]:1-5).

Ketidakbersyukuran Kaum Quraisy Mekkah Kepada Allah Swt.

    Orang-orang Quraisy dianugerahi jaminan keselamatan dan kebebasan dari ketakutan oleh Allah Swt.,  sedang keadaan sekitar mereka seluruhnya dicekam oleb rasa ketakutan dan ketidak-amanan. (QS.29:68). Di samping itu sepanjang tahun mereka mempunyai persediaan segala macam buah-buahan dan makanan. Kesemuanya itu bukan hanya secara kebetulan belaka.
  Hal demikian itu sesuai dengan rencana Ilahi dan memenuhi nubuatan  yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim a.s.  2.500 tahun yang telah silam  yakni  merupakan pengabulan doa Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:125-130; QS.14:36-38; QS.28:58-61), karena itu Allah Swt. berfirman:   فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ  --  Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik  Rumah ini, الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ  --   Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan.”
    Ayat ini memberikan pengertian kepada kaum Quraisy akan kesalahan sikap ketidak-bersyukuran mereka, dengan memberitahukan, bahwa mereka telah memilih penyembahan kepada tuhan-tuhan terbuat dari kayu dan batu daripada menyembah kepada Allah Swt.,  Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, Yang telah menganugerahkan kepada mereka karunia-karunia besar dan jaminan keamanan, keselamatan dan ketakutan dan kelaparan.
   Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
اِنَّکَ لَا تَہۡدِیۡ مَنۡ  اَحۡبَبۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤا اِنۡ نَّتَّبِعِ الۡہُدٰی مَعَکَ نُتَخَطَّفۡ مِنۡ  اَرۡضِنَا ؕ اَوَ لَمۡ نُمَکِّنۡ لَّہُمۡ حَرَمًا اٰمِنًا یُّجۡبٰۤی  اِلَیۡہِ  ثَمَرٰتُ  کُلِّ شَیۡءٍ رِّزۡقًا مِّنۡ لَّدُنَّا وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَمۡ  اَہۡلَکۡنَا مِنۡ قَرۡیَۃٍۭ  بَطِرَتۡ مَعِیۡشَتَہَا ۚ فَتِلۡکَ مَسٰکِنُہُمۡ لَمۡ تُسۡکَنۡ مِّنۡۢ  بَعۡدِہِمۡ  اِلَّا قَلِیۡلًا ؕ وَ کُنَّا نَحۡنُ  الۡوٰرِثِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کَانَ رَبُّکَ مُہۡلِکَ الۡقُرٰی حَتّٰی یَبۡعَثَ فِیۡۤ  اُمِّہَا رَسُوۡلًا یَّتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِنَا ۚ وَ مَا کُنَّا مُہۡلِکِی الۡقُرٰۤی  اِلَّا وَ اَہۡلُہَا ظٰلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ فَمَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ زِیۡنَتُہَا ۚ وَ مَا عِنۡدَ اللّٰہِ خَیۡرٌ  وَّ  اَبۡقٰی ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿٪﴾   
Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.  وَ قَالُوۡۤا اِنۡ نَّتَّبِعِ الۡہُدٰی مَعَکَ نُتَخَطَّفۡ مِنۡ  اَرۡضِنَا  -- Dan mereka berkata: “Jika  kami mengikuti petunjuk bersama engkau  tentu  kami akan diusir  dari negeri kami.” Katakanlah: اَوَ لَمۡ نُمَکِّنۡ لَّہُمۡ حَرَمًا اٰمِنًا یُّجۡبٰۤی  اِلَیۡہِ  ثَمَرٰتُ  کُلِّ شَیۡءٍ رِّزۡقًا مِّنۡ لَّدُنَّا  -- “Bukankah   Kami telah menempatkan mereka pada tempat suci yang aman,  yang didatangkan kepadanya segala macam buah-buahan  sebagai rezeki dari sisi Kami?” وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَہُمۡ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.  وَ کَمۡ  اَہۡلَکۡنَا مِنۡ قَرۡیَۃٍۭ  بَطِرَتۡ مَعِیۡشَتَہَا  --     Dan berapa banyak  kota yang  telah Kami binasakan yang  bersenang-senang dalam kehidupannya,  فَتِلۡکَ مَسٰکِنُہُمۡ لَمۡ تُسۡکَنۡ مِّنۡۢ  بَعۡدِہِمۡ  اِلَّا قَلِیۡلًا     -- maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak  didiami lagi sesudah mereka, اِلَّا قَلِیۡلًا  kecuali sebagian kecil,  وَ کُنَّا نَحۡنُ  الۡوٰرِثِیۡنَ    --     dan Kami-lah Yang  menjadi pewarisnya.   وَ مَا کَانَ رَبُّکَ مُہۡلِکَ الۡقُرٰی حَتّٰی یَبۡعَثَ فِیۡۤ  اُمِّہَا رَسُوۡلًا یَّتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِنَا --    Dan  Rabb (Tuhan) engkau sekali-kali tidak akan membinasakan kota-kota hingga Dia membangkitkan di ibu-kotanya seorang rasul  yang membacakan kepada mereka Ayat-ayat Kami,  وَ مَا کُنَّا مُہۡلِکِی الۡقُرٰۤی  اِلَّا وَ اَہۡلُہَا ظٰلِمُوۡنَ -- dan Kami sekali-kali tidak akan membinasakan kota-kota kecuali penduduknya orang-orang zalim.  وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ فَمَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ زِیۡنَتُہَا ۚ    --     Dan apa pun yang diberikan kepada kamu adalah kesenangan sementara dari kehidupan duniawi dan perhiasannya,  وَ مَا عِنۡدَ اللّٰہِ خَیۡرٌ  وَّ  اَبۡقٰی ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ --  sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal maka tidakkah kamu menggunakan akal? (Al-Qashash [28]:57-61).

Alasan Penolakan Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw.

       Makna ayat:   وَ قَالُوۡۤا اِنۡ نَّتَّبِعِ الۡہُدٰی مَعَکَ نُتَخَطَّفۡ مِنۡ  اَرۡضِنَا  -- Dan mereka berkata: “Jika  kami mengikuti petunjuk bersama engkau  tentu  kami akan diusir  dari negeri kami,”     bahwa tidak beralasan untuk takut bahwa bila syariat baru yang diajarkan Nabi Besar Muhammad saw. itu diterima maka orang-orang akan menyerang kota Mekkah dan merampas dari kaum Mekkah hak milik dan kemerdekaan mereka.
       Pernyataan Allah Swt. dalam ayat selanjutnya:  Katakanlah: اَوَ لَمۡ نُمَکِّنۡ لَّہُمۡ حَرَمًا اٰمِنًا یُّجۡبٰۤی  اِلَیۡہِ  ثَمَرٰتُ  کُلِّ شَیۡءٍ رِّزۡقًا مِّنۡ لَّدُنَّا  -- “Bukankah   Kami telah menempatkan mereka pada tempat suci yang aman,  yang didatangkan kepadanya segala macam buah-buahan  sebagai rezeki dari sisi Kami?” Ayat ini bermaksud mengatakan, bahwa dari zaman purbakala Mekkah   -- yang kini akan menjadi pusat agama baru itu  --  tetap merupakan tempat suci yang aman, dan mereka yang pernah coba-coba mengganggu kesuciannya, mereka sendiri jugalah yang menemui kehancuran dan kebinasaan, contohnya yang dialami pasukan gajah Abrahah (QS.105:1-6).
       Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  وَ کَمۡ  اَہۡلَکۡنَا مِنۡ قَرۡیَۃٍۭ  بَطِرَتۡ مَعِیۡشَتَہَا  --     Dan berapa banyak  kota yang  telah Kami binasakan yang  bersenang-senang dalam kehidupannya,  فَتِلۡکَ مَسٰکِنُہُمۡ لَمۡ تُسۡکَنۡ مِّنۡۢ  بَعۡدِہِمۡ  اِلَّا قَلِیۡلًا     -- maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak  didiami lagi sesudah mereka, اِلَّا قَلِیۡلًا  kecuali sebagian kecil,  وَ کُنَّا نَحۡنُ  الۡوٰرِثِیۡنَ    --     dan Kami-lah Yang  menjadi pewarisnya.” Di dalam Al-Quran illa qalilan berarti tidak ada sama sekali.
        Pernah ada bangsa-bangsa yang hidup di masa lampau yang lebih kuat dan lebih kaya, lagi memiliki peradaban lebih tinggi dari bangsa yang ditakuti oleh kaum Mekkah, namun ketika mereka menolak kebenaran dan berlaku sombong terhadap para rasul Allah yang diutus kepada mereka,  mereka disapu bersih dari permukaan bumi, seolah-olah mereka tidak pernah hidup di atasnya, dan mereka yang dianggap lemah ditakdirkan menggantikan tempat mereka   -- di antaranya adalah umat Islam  --  firman-Nya: 
اَوَ لَمۡ  یَرَوۡا  اَنَّا جَعَلۡنَا حَرَمًا  اٰمِنًا  وَّ یُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنۡ حَوۡلِہِمۡ ؕ اَفَبِالۡبَاطِلِ یُؤۡمِنُوۡنَ وَ بِنِعۡمَۃِ اللّٰہِ یَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَنۡ اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِالۡحَقِّ  لَمَّا جَآءَہٗ ؕ اَلَیۡسَ فِیۡ جَہَنَّمَ مَثۡوًی  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Apakah mereka tidak melihat bahwa Kami telah menjadikan tanah suci Mekkah  aman, padahal  manusia direnggut dari sekeliling mereka di luar Mekkah?  Maka apakah mereka akan beriman kepada yang batil dan ingkar kepada nikmat Allah?   وَ مَنۡ اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِالۡحَقِّ  لَمَّا جَآءَہٗ --    Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, atau yang mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? اَلَیۡسَ فِیۡ جَہَنَّمَ مَثۡوًی  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ  --    Bukankah dalam Jahannam ada tempat tinggal bagi orang-orang kafir? وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ   --  Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan. (Al-Ankabūt [29]:68-70).

Lenyapnya “Jaminan Pemeliharaan” Allah Swt.  Terhadap Wilayah Sekitar Baitullah (Ka’bah) di Akhir Zaman Saat Ini

       Ayat 68 merupakan kesaksian yang kekal mengenai Ka’bah sebagai rumah suci milik Allah Swt.  Sendiri. Semenjak Islam lahir, ketika dinyatakan olehnya  bahwa Ka’bah menjadi kiblat yang kekal bagi umat manusia, dan bahkan di zaman jahiliah ketika orang-orang Arab waktu itu tidak mempunyai rasa hormat terhadap jiwa manusia  wilayah itu disebut haram (suci) — daerah sekitar Ka’bah tetap merupakan tempat yang aman sentosa. Kalau di lingkungan luar Ka’bah tidak ada keamanan, maka keamanan  dan kedamaian sempurna bertakhta di dalamnya.
      Makna  jihad dalam ayat  selanjutnya sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami”: وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ   --  Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebaikan. (Al-Ankabūt [29]:70).
     Pendek kata, Allah Swt. telah memberikan jaminan keselamatan dan kesejarahteraan kepada penduduk Mekkah karena di dalamnya terletak Baitullah (rumah Allah) yang abadi. Namun di Akhir Zaman ini makna jihad tersebut menjadi sesuatu yang sangat mengerikan, sebab yang menjadi korban tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sedang melakukan “jihad Islam” tersebut adalah umat Islam sendiri,  sehingga  wilayah umat Islam di Timur Tengah dewasa ini tidak  lagi merupakan tempat yang aman dan sejahtera  -- justru  sebaliknya -- seakan-akan   Allah Swt. telah mencabut “jaminan pemeliharaan-Nya” terhadap  Baitullah (Ka’bah) dan wilayah sekitarnya.
        Jadi,  kembali  firman Allah Swt. kepada   cara memakmurkannya yang hakiki   serta siapa yang berhak melakukannya Dia berfirman:
اِنَّمَا یَعۡمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰہِ مَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ اَقَامَ الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتَی الزَّکٰوۃَ وَ لَمۡ یَخۡشَ اِلَّا اللّٰہَ فَعَسٰۤی اُولٰٓئِکَ اَنۡ یَّکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya yang layak memakmurkan masjid-masjid Allah  hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan  Hari Kemudian, dan yang mendirikan shalat, membayar zakat, dan  ia tidak takut kecuali kepada Allah,  maka boleh jadi mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At-Taubah [9]:18).
       Kata-kata “masjid-masjid Allah” merujuk kepada Masjidilharam dalam ayat 19, sebab Masjidilharam atau Ka’bah merupakan pusat segala masjid di dunia ini. Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai  alasan pelarangan tersebut:
اَجَعَلۡتُمۡ سِقَایَۃَ الۡحَآجِّ وَ عِمَارَۃَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ کَمَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  وَ جٰہَدَ  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَا  یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۘ﴾ اَلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ  دَرَجَۃً  عِنۡدَ  اللّٰہِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu anggap memberi minum orang-orang yang melaksanakan haji dan  memelihara Masjidilharam itu sama seperti orang yang beriman kepada Allah, Hari Kemudian, dan  yang  berjihad pada jalan Allah? لَا  یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ   -- Mereka tidak sama di sisi Allah  وَ اللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ --     dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. اَلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ  دَرَجَۃً  عِنۡدَ  اللّٰہِ   -- Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka  memiliki derajat yang tertinggi di sisi Allah.  وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفَآئِزُوۡنَ  -- Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah [9]:19-20). 
        Pengkhidmatan lahiriah (jasmani) terhadap Ka’bah  seperti yang selama ini dilakukan  -- sekalipun merupakan satu perbuatan terpuji  --  tetapi sedikit pun tidak ada artinya bila dibandingkan dengan pengkhidmatan ruhaniah yang hanya dapat dijalankan (dilakukan) oleh seorang Muslim sejati.

Jiwa  Orang Beriman Lebih Mulia Daripada Ka’bah

Ayat ini mengandung arti bahwa Islam lebih mengutamakan semangat (ruh) yang menjiwai peraturan-peraturannya daripada bentuknya yang lahir. Nabi Besar Muhammad saw.   diriwayatkan pernah bersabda bahwa jiwa seorang mukmin jauh lebih suci daripada Ka’bah (Ibnu Majah). Beliau saw. bersabda: “Setitik darah seorang Muslim adalah lebih bernilai dari seluruh Ka’bah dan sekelilingnya(Riwayat Bukhari dan Muslim).
     Mengapa demikian?  Sebab pada hakikatnya keberadaan Ka’bah (Baitullah) di lembah Bakkah (Mekkah) merupakan lambang  keimanan kepada Tauhid Ilahi yang telah ditanamkan Allah Swt. dalam jiwa (ruh) setiap manusia, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿    وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam  yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?”  قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا  -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ   --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ    -- Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?”  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ  --   Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu  dan supaya mereka kembali kepada yang haq.  (Al-A’rāf [7]:173-175).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 25 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar