Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
21
HIKMAH PELARANGAN ORANG-ORANG MUSYRIK BERZIARAH DAN MEMAKMURKAN KA’BAH (BAITULLAH)
& JAMINAN ALLAH SWT. MENGENAI KEAMANAN
DAN KESEJAHTARAAN PENDUDUK MEKKAH
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab 20 dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai pentingnya manusia berpaling
kepada Allah Swt. dengan penyesalan. Dan sehubungan dengan maghfirah
Ilahi yang dijanjikan Allah
Swt. terhadap orang-orang atau bangsa-bangsa
yang meninggalkan system riba Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Dalam
bahasa Arab, arti kata taubah mengandung arti kembali, sehingga dalam Al-Quran
nama Tuhan pun antara lain disebut sebagai Tawwāb yang berarti “Dia yang selalu kembali”. Hal ini mengandung arti bahwa jika seseorang setelah menanggalkan dosa-dosanya lalu berpaling
kepada Tuhan
dengan hati yang tulus maka Tuhan
akan lebih lagi mendekat
kepadanya.
Keadaan tersebut sejalan
dengan hukum alam dimana Tuhan telah
menjadikan hal itu sebagai bagian dari fitrat
manusia, yaitu jika
seseorang menghampiri orang lainnya dengan hati yang tulus maka hati
orang yang didatangi itu pun akan melembut kepadanya.
Karena itu bagaimana mungkin daya
nalar
ini bisa menerima bahwa seorang hamba yang dengan hati tulus telah berpaling
kepada Tuhan-nya
tetapi Tuhan malah menolaknya? Sesungguhnya Tuhan
Yang Maha Pemurah
dan Maha Penyayang malah akan lebih mendekat lagi kepada hamba-Nya. Sebab itu juga maka dalam Al-Quran Tuhan
disebut sebagai Tawwāb yang
berarti “Dia yang selalu kembali.”
Manusia berpaling kepada Tuhan melalui rasa
penyesalan, kerendahan hati dan penyerahan diri, sedangkan Tuhan
menghadapinya (menghampirinya)
dengan rahmat dan pengampunan. Jika rahmat
tidak merupakan salah satu fitrat Ilahi maka tidak
akan ada manusia yang akan diselamatkan.
Sayang sekali manusia lebih bertumpu sepenuhnya pada tindakan
mereka sendiri
dan tidak merenungi fitrat-fitrat Ilahi. Apakah
mungkin Tuhan akan mengabaikan seseorang yang lemah yang telah
berpaling kepada-Nya dengan
menanggalkan segala pakaian kebiasaan lamanya dan mendatangi
Tuhan-nya
laiknya orang yang sudah mati terbakar dalam api
kasih-Nya,
padahal Dia telah demikian banyak menebar rahmat dan karunia bagi manusia
di bumi tanpa diminta terlebih
dahulu? Apakah ini yang disebut sebagai hukum
alam?
لَّعۡنَتَ
اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ
“Laknat Allah ditimpakan atas orang-orang yang berdusta” (Ali Imran [3]:62).
(Chasma
Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908;
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. XXIII, hlm. 133-134, London, 1984).
Hikmah Larangan Orang-orang Musyrik Menziarahi Baitullah
Pada
saat Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi Besar Muhamad saw. agar melarang orang-orang musyrik untuk berziarah ke Baitullah di Mekkah, timbul kekhawatiran
di kalangan penduduk Mekkah akan
terjadi kebangkrutan ekonomi,
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِنَّمَا
الۡمُشۡرِکُوۡنَ نَجَسٌ
فَلَا یَقۡرَبُوا
الۡمَسۡجِدَ الۡحَرَامَ بَعۡدَ عَامِہِمۡ ہٰذَا ۚ وَ اِنۡ خِفۡتُمۡ
عَیۡلَۃً فَسَوۡفَ یُغۡنِیۡکُمُ
اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖۤ اِنۡ شَآءَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, karena
itu janganlah mereka mendekati
Masjidilharam sesudah tahun mereka
ini. وَ اِنۡ خِفۡتُمۡ عَیۡلَۃً فَسَوۡفَ یُغۡنِیۡکُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖۤ اِنۡ شَآءَ -- Dan jika
kamu khawatir menjadi miskin maka Allah
segera akan memperkaya kamu dengan karunia-Nya jika Dia
menghendaki, اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (At-Taubah [9]:28)
Ketika itu Mekkah merupakan pusat
perdagangan yang besar dan musim ibadah haji merupakan kesempatan
menyelenggarakan kegiatan perniagaan
yang besar dan merupakan sumber
penghasilan yang besar bagi orang-orang
Mekkah. Sudah tentu larangan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa hal itu akan memberi dampak yang tidak baik terhadap mata
pencaharian mereka.
Ada pun mengenai alasan pelarangan terhadap orang-orang
musyrik tersebut tersebut Allah
Swt. berfirman:
مَا کَانَ
لِلۡمُشۡرِکِیۡنَ اَنۡ یَّعۡمُرُوۡا مَسٰجِدَ اللّٰہِ
شٰہِدِیۡنَ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ
بِالۡکُفۡرِ ؕ اُولٰٓئِکَ
حَبِطَتۡ اَعۡمَالُہُمۡ ۚۖ وَ فِی
النَّارِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Sekali-kali tidak
layak bagi orang-orang
musyrik memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka menjadi saksi atas kekafiran
diri mereka sendiri. Mereka
itulah orang-orang yang amalnya hilang sia-sia dan mereka
akan kekal di dalam Api. (At-Taubah
[9]:17).
Ayat ini bertalian dengan peziarah-peziarah musyrik yang berziarah dan merupakan pengantar untuk maklumat yang tersebut dalam QS.9:28 di
bawah ini. Untuk seterusnya tiada seorang
musyrik akan diizinkan
menghampiri Ka’bah seperti diumumkan
oleh Ali bin Abi Thalib r.a. kepada para peziarah yang berkumpul di Mekkah pada saat Haj Akbar pada tahun 9 Hijrah.
Ayat ini mengemukakan alasan pelarangan
tersebut, yaitu karena Ka’bah (Baitullah)
merupakan Rumah yang telah diwakafkan untuk beribadah kepada Tuhan Yang
Mahaesa, maka orang-orang musyrik
tidak mempunyai hubungan apa-apa
dengan Ka’bah.
Yang layak Memakmurkan
Mesjid-mesjid Allah
Orang-orang musyrik dinyatakan
sebagai musuh-musuh yang nyata
terhadap Tauhid Ilahi, dan
seakan-akan mereka dicela oleh pengakuan-pengakuan mereka sendiri.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
اِنَّمَا یَعۡمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰہِ
مَنۡ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ اَقَامَ
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَی الزَّکٰوۃَ وَ لَمۡ یَخۡشَ اِلَّا اللّٰہَ
فَعَسٰۤی اُولٰٓئِکَ اَنۡ یَّکُوۡنُوۡا مِنَ
الۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
yang layak memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang
yang beriman kepada Allah dan Hari
Kemudian, dan yang mendirikan shalat,
membayar zakat, dan ia
tidak takut kecuali kepada Allah, maka boleh jadi mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At-Taubah [9]:18).
Kata-kata “masjid-masjid Allah” merujuk kepada Masjidilharam dalam ayat 19, sebab Masjidilharam atau Ka’bah merupakan pusat
segala masjid di dunia ini. Lebih
lanjut Allah Swt. berfirman mengenai alasan pelarangan tersebut:
اَجَعَلۡتُمۡ
سِقَایَۃَ الۡحَآجِّ وَ
عِمَارَۃَ
الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ کَمَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ جٰہَدَ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَا یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی
الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۘ﴾ اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ دَرَجَۃً
عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu anggap memberi minum orang-orang
yang melaksanakan haji dan memelihara
Masjidilharam itu sama seperti
orang yang beriman kepada Allah, Hari
Kemudian, dan yang berjihad pada jalan Allah?
لَا یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ -- Mereka tidak sama di sisi Allah وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ دَرَجَۃً عِنۡدَ اللّٰہِ -- Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka memiliki derajat yang tertinggi di sisi Allah. وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡفَآئِزُوۡنَ -- Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah [9]:19-20).
Pengkhidmatan lahiriah (jasmani) terhadap Ka’bah
seperti yang selama ini dilakukan -- sekalipun merupakan satu perbuatan terpuji -- tetapi
sedikit pun tidak ada artinya bila
dibandingkan dengan pengkhidmatan
ruhaniah yang hanya dapat dijalankan
(dilakukan) oleh seorang Muslim sejati.
Sebab mengenai pengkhidmatan secara jasmani Allah Swt. sendiri yang telah memberikan berbagai sarana financial bagi pemeliharaan Ka’bah (Baitullah) dan pelaksanaan ibadah hajji, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ لِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ ۙ﴿﴾ اٖلٰفِہِمۡ
رِحۡلَۃَ الشِّتَآءِ وَ الصَّیۡفِ ۚ﴿﴾ فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ
اَطۡعَمَہُمۡ مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ
اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Tuhan
engkau membinasakan para pemilik gajah
untuk melekatkan hati
orang-orang Quraisy.
Untuk melekatkan kecintaan mereka
pada perjalanan di musim dingin dan musim panas. فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا
الۡبَیۡتِ -- Maka
hendaklah mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik
Rumah ini, الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ -- Yang telah memberi mereka makan di waktu
lapar dan telah memberi mereka
keamanan di waktu ketakutan (Al-Quraisy [106]:1-5).
Ketidakbersyukuran Kaum
Quraisy Mekkah Kepada Allah Swt.
Orang-orang Quraisy dianugerahi jaminan keselamatan dan kebebasan dari ketakutan oleh Allah Swt., sedang keadaan
sekitar mereka seluruhnya dicekam
oleb rasa ketakutan dan ketidak-amanan. (QS.29:68). Di samping
itu sepanjang tahun mereka mempunyai persediaan
segala macam buah-buahan dan makanan. Kesemuanya itu bukan hanya
secara kebetulan belaka.
Hal demikian itu sesuai dengan rencana Ilahi dan memenuhi nubuatan
yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim
a.s. 2.500 tahun yang
telah silam yakni
merupakan pengabulan doa Nabi
Ibrahim a.s. (QS.2:125-130; QS.14:36-38; QS.28:58-61), karena itu Allah Swt.
berfirman: فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ -- Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik Rumah ini, الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ
مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ
-- Yang
telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan.”
Ayat ini memberikan pengertian kepada kaum Quraisy akan kesalahan sikap ketidak-bersyukuran mereka, dengan
memberitahukan, bahwa mereka telah memilih penyembahan
kepada tuhan-tuhan terbuat dari kayu dan batu daripada menyembah
kepada Allah Swt., Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha
Penyayang, Yang telah menganugerahkan kepada mereka karunia-karunia besar dan jaminan
keamanan, keselamatan dan ketakutan dan kelaparan.
Dengan demikian benarlah firman Allah Swt.
kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
اِنَّکَ لَا
تَہۡدِیۡ مَنۡ اَحۡبَبۡتَ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡۤا اِنۡ
نَّتَّبِعِ الۡہُدٰی مَعَکَ نُتَخَطَّفۡ مِنۡ
اَرۡضِنَا ؕ اَوَ لَمۡ نُمَکِّنۡ لَّہُمۡ حَرَمًا اٰمِنًا یُّجۡبٰۤی اِلَیۡہِ
ثَمَرٰتُ کُلِّ شَیۡءٍ رِّزۡقًا
مِّنۡ لَّدُنَّا وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَمۡ
اَہۡلَکۡنَا مِنۡ قَرۡیَۃٍۭ
بَطِرَتۡ مَعِیۡشَتَہَا ۚ فَتِلۡکَ مَسٰکِنُہُمۡ لَمۡ تُسۡکَنۡ مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
اِلَّا قَلِیۡلًا ؕ وَ کُنَّا نَحۡنُ
الۡوٰرِثِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ
رَبُّکَ مُہۡلِکَ الۡقُرٰی حَتّٰی یَبۡعَثَ فِیۡۤ
اُمِّہَا رَسُوۡلًا یَّتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِنَا ۚ وَ مَا کُنَّا
مُہۡلِکِی الۡقُرٰۤی اِلَّا وَ اَہۡلُہَا
ظٰلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَاۤ
اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ فَمَتَاعُ
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ زِیۡنَتُہَا ۚ وَ مَا عِنۡدَ اللّٰہِ خَیۡرٌ وَّ
اَبۡقٰی ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ
﴿٪﴾
Sesungguhnya
engkau tidak dapat memberi petunjuk
kepada siapa yang engkau cintai,
tetapi Allah memberi petunjuk kepada
siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk. وَ قَالُوۡۤا اِنۡ
نَّتَّبِعِ الۡہُدٰی مَعَکَ نُتَخَطَّفۡ مِنۡ
اَرۡضِنَا --
Dan mereka berkata: “Jika kami mengikuti petunjuk bersama engkau tentu kami akan diusir dari negeri kami.” Katakanlah: اَوَ لَمۡ نُمَکِّنۡ لَّہُمۡ حَرَمًا
اٰمِنًا یُّجۡبٰۤی اِلَیۡہِ ثَمَرٰتُ
کُلِّ شَیۡءٍ رِّزۡقًا مِّنۡ لَّدُنَّا -- “Bukankah
Kami telah menempatkan mereka
pada tempat suci yang aman, yang didatangkan kepadanya segala macam buah-buahan sebagai rezeki
dari sisi Kami?” وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ لَا
یَعۡلَمُوۡنَ -- Akan
tetapi kebanyakan mereka tidak
mengetahui. وَ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا مِنۡ قَرۡیَۃٍۭ بَطِرَتۡ مَعِیۡشَتَہَا -- Dan berapa banyak kota yang telah Kami binasakan yang bersenang-senang
dalam kehidupannya, فَتِلۡکَ
مَسٰکِنُہُمۡ لَمۡ تُسۡکَنۡ مِّنۡۢ
بَعۡدِہِمۡ اِلَّا قَلِیۡلًا -- maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak
didiami lagi sesudah mereka, اِلَّا قَلِیۡلًا
kecuali sebagian kecil, وَ کُنَّا نَحۡنُ الۡوٰرِثِیۡنَ -- dan Kami-lah Yang menjadi pewarisnya.
وَ مَا کَانَ رَبُّکَ مُہۡلِکَ الۡقُرٰی حَتّٰی
یَبۡعَثَ فِیۡۤ اُمِّہَا رَسُوۡلًا
یَّتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِنَا -- Dan Rabb
(Tuhan) engkau sekali-kali tidak akan
membinasakan kota-kota hingga Dia
membangkitkan di ibu-kotanya seorang rasul yang membacakan
kepada mereka Ayat-ayat Kami, وَ مَا کُنَّا
مُہۡلِکِی الۡقُرٰۤی اِلَّا وَ اَہۡلُہَا
ظٰلِمُوۡنَ -- dan Kami
sekali-kali tidak akan membinasakan kota-kota kecuali penduduknya orang-orang zalim.
وَ مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ
فَمَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ
زِیۡنَتُہَا ۚ -- Dan apa pun yang diberikan kepada kamu adalah kesenangan sementara dari kehidupan duniawi dan perhiasannya, وَ مَا عِنۡدَ اللّٰہِ خَیۡرٌ وَّ
اَبۡقٰی ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- sedangkan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan
lebih kekal maka tidakkah kamu menggunakan
akal? (Al-Qashash [28]:57-61).
Alasan Penolakan Terhadap Nabi Besar Muhammad Saw.
Makna
ayat: وَ قَالُوۡۤا اِنۡ نَّتَّبِعِ الۡہُدٰی
مَعَکَ نُتَخَطَّفۡ مِنۡ اَرۡضِنَا -- Dan mereka berkata:
“Jika kami mengikuti petunjuk bersama engkau tentu kami akan diusir dari negeri kami,” bahwa tidak
beralasan untuk takut bahwa bila syariat baru yang diajarkan Nabi Besar Muhammad saw. itu diterima maka orang-orang akan menyerang kota Mekkah dan merampas dari kaum Mekkah hak milik dan kemerdekaan mereka.
Pernyataan Allah Swt. dalam ayat
selanjutnya: Katakanlah: اَوَ لَمۡ نُمَکِّنۡ
لَّہُمۡ حَرَمًا اٰمِنًا یُّجۡبٰۤی
اِلَیۡہِ ثَمَرٰتُ کُلِّ شَیۡءٍ رِّزۡقًا مِّنۡ لَّدُنَّا -- “Bukankah Kami
telah menempatkan mereka pada tempat suci yang aman, yang
didatangkan kepadanya segala macam
buah-buahan sebagai rezeki dari sisi Kami?” Ayat ini
bermaksud mengatakan, bahwa dari zaman purbakala Mekkah -- yang kini akan
menjadi pusat agama baru itu -- tetap merupakan tempat suci yang aman, dan mereka yang pernah coba-coba mengganggu kesuciannya, mereka sendiri
jugalah yang menemui kehancuran dan kebinasaan, contohnya yang dialami pasukan gajah Abrahah (QS.105:1-6).
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman: وَ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا مِنۡ قَرۡیَۃٍۭ بَطِرَتۡ مَعِیۡشَتَہَا -- Dan berapa banyak kota yang telah Kami binasakan yang bersenang-senang
dalam kehidupannya, فَتِلۡکَ
مَسٰکِنُہُمۡ لَمۡ تُسۡکَنۡ مِّنۡۢ
بَعۡدِہِمۡ اِلَّا قَلِیۡلًا -- maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak
didiami lagi sesudah mereka, اِلَّا قَلِیۡلًا
kecuali sebagian kecil,
وَ کُنَّا نَحۡنُ الۡوٰرِثِیۡنَ -- dan Kami-lah Yang menjadi pewarisnya.”
Di dalam Al-Quran illa qalilan berarti tidak ada sama sekali.
Pernah
ada bangsa-bangsa yang hidup di masa lampau yang lebih kuat dan lebih kaya,
lagi memiliki peradaban lebih tinggi
dari bangsa yang ditakuti oleh kaum Mekkah, namun ketika mereka menolak kebenaran dan berlaku sombong terhadap para rasul Allah yang diutus kepada mereka, mereka disapu
bersih dari permukaan bumi,
seolah-olah mereka tidak pernah hidup di atasnya, dan mereka yang dianggap lemah ditakdirkan menggantikan tempat mereka -- di antaranya adalah umat Islam -- firman-Nya:
اَوَ
لَمۡ یَرَوۡا اَنَّا جَعَلۡنَا حَرَمًا اٰمِنًا
وَّ یُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنۡ حَوۡلِہِمۡ ؕ اَفَبِالۡبَاطِلِ یُؤۡمِنُوۡنَ
وَ بِنِعۡمَۃِ اللّٰہِ یَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَنۡ
اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی
اللّٰہِ کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ
بِالۡحَقِّ لَمَّا جَآءَہٗ ؕ اَلَیۡسَ
فِیۡ جَہَنَّمَ مَثۡوًی لِّلۡکٰفِرِیۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ
سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَمَعَ
الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Apakah mereka tidak melihat bahwa Kami telah menjadikan tanah suci Mekkah
aman, padahal manusia direnggut dari sekeliling mereka
di luar Mekkah? Maka
apakah mereka akan beriman kepada yang
batil dan ingkar kepada nikmat Allah?
وَ مَنۡ
اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی
اللّٰہِ کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ
بِالۡحَقِّ لَمَّا جَآءَہٗ -- Dan
siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap
Allah, atau yang mendustakan
kebenaran ketika datang kepadanya?
اَلَیۡسَ فِیۡ جَہَنَّمَ مَثۡوًی لِّلۡکٰفِرِیۡنَ -- Bukankah dalam Jahannam ada tempat
tinggal bagi orang-orang kafir? وَ الَّذِیۡنَ
جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ -- Dan
orang-orang yang berjuang untuk
Kami niscaya Kami akan memberi
petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan
Kami, dan sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang berbuat kebaikan. (Al-Ankabūt [29]:68-70).
Lenyapnya “Jaminan Pemeliharaan” Allah Swt.
Terhadap Wilayah Sekitar Baitullah (Ka’bah) di Akhir Zaman Saat Ini
Ayat 68 merupakan kesaksian yang kekal mengenai Ka’bah
sebagai rumah suci milik Allah Swt. Sendiri. Semenjak Islam lahir, ketika dinyatakan olehnya bahwa Ka’bah
menjadi kiblat yang kekal bagi umat manusia, dan bahkan di zaman
jahiliah ketika orang-orang Arab waktu itu tidak mempunyai rasa hormat terhadap jiwa manusia wilayah itu
disebut haram (suci) — daerah sekitar Ka’bah tetap merupakan tempat
yang aman sentosa. Kalau di lingkungan luar
Ka’bah tidak ada keamanan, maka keamanan dan kedamaian
sempurna bertakhta di dalamnya.
Makna jihad dalam
ayat selanjutnya sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus
membunuh atau menjadi kurban
pembunuhan, melainkan harus berjuang
keras guna memperoleh keridhaan Ilahi,
sebab kata fīnā berarti “untuk
menjumpai Kami”: وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا
لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ
لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ -- Dan
orang-orang yang berjuang untuk
Kami niscaya Kami akan memberi
petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan
Kami, dan sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang berbuat kebaikan. (Al-Ankabūt [29]:70).
Pendek kata, Allah Swt. telah memberikan jaminan keselamatan dan kesejarahteraan
kepada penduduk Mekkah karena di
dalamnya terletak Baitullah (rumah
Allah) yang abadi. Namun di Akhir Zaman
ini makna jihad tersebut menjadi
sesuatu yang sangat mengerikan, sebab
yang menjadi korban tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sedang melakukan “jihad Islam” tersebut adalah umat Islam sendiri, sehingga
wilayah umat Islam di Timur Tengah dewasa ini tidak lagi merupakan tempat yang aman dan sejahtera -- justru
sebaliknya -- seakan-akan Allah
Swt. telah mencabut “jaminan
pemeliharaan-Nya” terhadap Baitullah (Ka’bah) dan wilayah
sekitarnya.
Jadi, kembali firman Allah Swt. kepada cara memakmurkannya
yang hakiki serta siapa yang berhak melakukannya Dia berfirman:
اِنَّمَا یَعۡمُرُ مَسٰجِدَ
اللّٰہِ مَنۡ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ اَقَامَ
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَی الزَّکٰوۃَ وَ لَمۡ یَخۡشَ اِلَّا اللّٰہَ
فَعَسٰۤی اُولٰٓئِکَ اَنۡ یَّکُوۡنُوۡا مِنَ
الۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
yang layak memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang
yang beriman kepada Allah
dan Hari
Kemudian, dan yang mendirikan shalat,
membayar zakat, dan ia
tidak takut kecuali kepada Allah, maka boleh jadi mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At-Taubah [9]:18).
Kata-kata “masjid-masjid Allah” merujuk kepada Masjidilharam dalam ayat 19, sebab Masjidilharam atau Ka’bah merupakan pusat
segala masjid di dunia ini. Lebih
lanjut Allah Swt. berfirman mengenai alasan pelarangan tersebut:
اَجَعَلۡتُمۡ
سِقَایَۃَ الۡحَآجِّ وَ
عِمَارَۃَ
الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ کَمَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ جٰہَدَ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَا یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی
الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۘ﴾ اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ دَرَجَۃً
عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu anggap memberi minum orang-orang
yang melaksanakan haji dan memelihara
Masjidilharam itu sama seperti
orang yang beriman kepada Allah, Hari
Kemudian, dan yang berjihad pada jalan Allah?
لَا یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ -- Mereka tidak sama di sisi
Allah وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ دَرَجَۃً عِنۡدَ اللّٰہِ -- Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka memiliki derajat yang tertinggi di sisi Allah. وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡفَآئِزُوۡنَ -- Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah
[9]:19-20).
Pengkhidmatan
lahiriah (jasmani) terhadap Ka’bah seperti yang selama ini dilakukan -- sekalipun merupakan satu perbuatan terpuji --
tetapi sedikit pun tidak ada
artinya bila dibandingkan dengan pengkhidmatan
ruhaniah yang hanya dapat dijalankan
(dilakukan) oleh seorang Muslim sejati.
Jiwa Orang Beriman Lebih Mulia Daripada Ka’bah
Ayat ini mengandung arti bahwa Islam lebih mengutamakan semangat (ruh) yang menjiwai peraturan-peraturannya daripada bentuknya yang lahir. Nabi
Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda bahwa jiwa seorang mukmin
jauh lebih suci daripada Ka’bah (Ibnu Majah). Beliau saw. bersabda: “Setitik darah seorang Muslim adalah lebih
bernilai dari seluruh Ka’bah dan sekelilingnya” (Riwayat Bukhari
dan Muslim).
Mengapa demikian? Sebab pada
hakikatnya keberadaan Ka’bah
(Baitullah) di lembah Bakkah (Mekkah)
merupakan lambang keimanan kepada Tauhid Ilahi
yang telah ditanamkan Allah Swt.
dalam jiwa (ruh) setiap manusia,
firman-Nya:
وَ اِذۡ
اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ
اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا
عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ
تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا
ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿ ﴾ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil
kesaksian dari bani
Adam yakni dari sulbi
keturunan mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman: اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ -- Hal itu
supaya kamu tidak berkata pada Hari
Kiamat: “Sesungguhnya kami benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ
اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
-- Atau kamu
mengatakan: ”Sesungguhnya
bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا
بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan
oleh orang-orang yang berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali kepada yang haq.
(Al-A’rāf [7]:173-175).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 25 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar