Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
14
PERBEDAAN WAKTU MI’RAJ DAN ISRA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. & HUKUM SYARIAT DAN PENGUTUSAN RASUL
ALLAH MERUPAKAN RAHMAT ILAHI,
BUKAN KUTUK YANG MENJERUMUSKAN MANUSIA KE DALAM DOSA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir bagian
Bab 13 dijelaskan
kesempurnaan
mi’raj ruhani Nabi Besar Muhammad
Saw., yang Nabi Musa a.s. pun tidak sanggup
melakukannya dan beliau menyatakan beriman kepada kesempurnaan
ruhani Nabi Besar Muhammad saw.: فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
-- Lalu
tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat
kepada Engkau وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- . dan aku
adalah orang pertama di antara orang-orang
yang beriman kepadanya di masa ini”, firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ
مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ
وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ
جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی
صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ
سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan
dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata:
“Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perli-hatkanlah kepadaku supaya aku dapat
memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau
tidak akan pernah dapat melihat-Ku
tetapi pandanglah gunung itu,
lalu jika ia tetap ada pada tempatnya maka engkau
pasti akan dapat melihat-Ku.” فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ
جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی
صَعِقًا -- Maka tatkala
Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya
pada gunung itu Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa
pun jatuh pingsan. فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
-- Lalu
tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat
kepada Engkau وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan aku
adalah orang pertama di antara orang-orang
yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).
Makna Permohonan Nabi Musa a.s.
Ingin “Melihat” Allah Swt.
Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah
satu masalah keagamaan yang sangat
penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan Allah Swt. . dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun
tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt. dapat
disaksikan oleh mata jasmani
(QS.6:104). Jangankan melihat Allah Swt. . dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak
dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka.
Begitu pula hanya tajalli
(penjelmaan keagungan) Allah Swt. sajalah yang dapat manusia saksikan tetapi Wujud Allah
Swt. Sendiri tidak. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi Allah yang besar seperti Nabi Musa
a.s. dengan segala makrifat mengenai Sifat-sifat Allah Swt. akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.
Nabi Musa a.s. mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan
kekuasaan) Allah Swt. dan
bukan Wujud-Nya Sendiri. Akan tetapi
beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli Allah Swt. dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (28:30).
Jadi apa gerangan maksud Musa a.s.
dengan perkataan: رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ -- “Ya
Rabb-ku (Tuhan-ku), tampakkanlah
kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
Permohonan itu nampaknya
mengisyaratkan kepada keinginan Nabi
Musa a.s. menyaksikan tajalli-sempurna Allah Swt. yang kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar
Muhammad saw. beberapa masa kemudian. Nabi Musa a.s. diberi janji bahwa dari antara saudara-saudara
Bani Israil akan muncul seorang nabi
yang di mulutnya Tuhan akan meletakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22).
Nubuatan tersebut berkenaan dengan suatu tajalli Ilahi
lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s., karena itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt. yang
akan tampak dalam tajalli Ilahi yang dijanjikan
itu. Nabi Musa a.s. berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan Tajalli Ilahi itu
ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
Dalam peristiwa ruhani tersebut Nabi Musa a.s. diberi tahu Allah Swt. bahwa bahwa
Tajalli Ilahi tersebut berada di luar batas kemampuan beliau untuk
menanggungnya, tajalli Ilahi sempurna
itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, karena itu Allah
Swt. memilih gunung untuk bertajalli.
Dalam peristiwa
ruhani (kasyaf) tersebut gunung
itu berguncang hebat serta nampak
seakan-akan ambruk, dan Nabi
Musa a.s. karena dicekam
oleh pengaruh guncangan akibat tajalli Ilahi itu rebah tidak sadarkan
diri: فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ
جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی
صَعِقًا -- “maka tatkala
Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya
pada gunung itu Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa
pun jatuh pingsan.”
Dengan cara demikian Nabi Musa a.s. dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri tempat
Allah Swt. bertajalli sebagaimana dimohonkan
beliau.
Hak istimewa yang unik itu
disediakan untuk seorang nabi Allah yang lebih
besar daripada Nabi Musa a.s. tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad saw., yang pada kesempatan itu pula
Nabi Musa a.s. menyatakan beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw.: فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
-- Lalu
tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat
kepada Engkau وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan aku
adalah orang pertama di antara orang-orang
yang beriman kepadanya di masa ini.”
Perbedaan Waktu Terjadinya Peristiwa Mi’raj dan Isra
Karena pada hakikatnya peristiwa Tajalli
Ilahi tersebut merupakan peristiwa
ruhani yang dialami oleh Nabi Musa a.s., karena itu dalam kenyataannya gunung
itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata “hancurnya gunung” tersebut itu telah
dipergunakan secara majasi (kiasan)
untuk menyatakan kehebatan gempa bumi
yang terjadi saat itu. Lihat Keluaran
24:18. Mungkin pula permohonan Nabi Musa a.s. itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut untuk melihat
Allah Swt. dengan mata jasmani (QS.2:56).
Pengalaman Nabi Musa a.s. yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan
beliau itu tidak layak: فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
-- Lalu
tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat
kepada Engkau وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan aku
adalah orang pertama di antara orang-orang
yang beriman kepadanya di masa ini”, yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu, dan bahwa
beliau (Nabi Musa a.s.) adalah orang yang pertama-tama beriman kepada keluhuran kedudukan ruhani yang telah ditakdirkan
akan dicapai oleh Nabi Besar itu. Keimanan Nabi Musa a.s. kepada Nabi Besar Muhammad saw. itu telah disinggung juga dalam
QS.46:11.
Jadi, kembali kepada ayat ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- maka
jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی
اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی --
Lalu Dia mewahyukan kepada
hamba-Nya apa yang telah Dia
wahyukan. (An-Najm [53]:9-11) berkenaan peristiwa mi’raj
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.53:1-19), dalam
pikiran umum mi’raj telah
dicampurbaurkan dengan isra’ (perjalanan Nabi Besar Muhammad saw. pada waktu malam ke Yerusalem – QS.17:2),
padahal masing-masing berlainan dan terpisah waktu
terjadinya.
Isra
terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 tahun Nabawi (Zurqani), padahal Nabi Besar Muhammad saw. telah lebih dahulu mengalami mi’raj pada tahun ke-5, tidak lama
sesudah hijrah pertama ke Abessinia 6 atau 7 tahun sebelum terjadi isra’. Penelaahan saksama dan teliti
mengenai rincian kedua peristiwa rhani itu, sebagaimana disebut-sebut di dalam
hadits juga mendukung pendapat ini.
Penglihatan Hati Nabi
Besar Muhammad Saw. & Makna “Sidratul-Muntaha”
Sehubungan peristiwa mi’raj Nabi Besar Muhammad saw. – yang merupakan peristiwa ruhani -- tersebut selanjutnya Allah Swt.
berfirman:
مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا
رَاٰی ﴿﴾
اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ
لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً اُخۡرٰی ﴿ۙ﴾ عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾ عِنۡدَہَا
جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی ﴿ؕ﴾ اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی ﴿ۙ﴾ مَا
زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی ﴿﴾ لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Hati Rasulullah
sekali-kali tidak berdusta apa yang
dia lihat. Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat? وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی -- Dan
sungguh dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی
-- dekat pohon
Sidrah tertinggi, yang di
dekatnya ada surga, tempat tinggal.
اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی
-- penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang
dan tidak pula me-lantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ
الۡکُبۡرٰی -- Sungguh ia benar-benar
melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda
Rabb-nya (Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:12-19).
Penyebutan hati (fuadz) dalam ayat: مَا کَذَبَ
الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی -- “Hati
Rasulullah sekali-kali tidak
berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا
یَرٰی -- Maka apakah
kamu membantahnya mengenai apa yang
telah dia lihat?” Hakikatnya
ialah apa yang telah dilihat atau
dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw.
adalah pengalaman hakiki, pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan
khayal beliau saw..
Makna ayat: وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی -- “dan
sungguh dia benar-benar melihat-Nya kedua kali” bahwa kasyaf
(pelihatan/pengalaman ruhani) Nabi Besar
Muhammad saw. itu suatu pengalaman ruhani berganda. Selanjutnya
Allah Swt. berfirman: عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی
-- dekat pohon Sidrah
tertinggi, yang di
dekatnya ada surga, tempat tinggal.
اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi.”
Pada waktu mi’raj, Nabi Besar Muhammad
saw. telah mencapai martabat qurb
Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk
memahaminya; atau ayat ini dapat
berarti bahwa pada martabat itu
terbentang di hadapan beliau saw. samudera luas tanpa tepi – yakni samudera
makrifat Ilahi, hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi.
Sadir yang diambil dari akar kata yang
sama, berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw., bahwa akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir
ruhani yang merasa kakinya letih dan payah. Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat ini dapat
berarti bahwa ajaran Al-Quran yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. tidak hanya kebal terhadap bahaya
kerusakan (QS.15:10), melainkan juga
baik sekali guna menolong dan memelihara umat
manusia terhadap kerusakan akhlak dan ruhani.
Atau, ayat عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی
-- dekat pohon Sidrah
tertinggi, yang di
dekatnya ada surga, tempat tinggal.
اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi” mengandung
kabar gaib yang mengisyaratkan kepada
sebatang pohon, yang di bawah pohon
itu para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. . mengikat janji setia kepada beliau pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah (QS.48:19).
Kata-kata “yang
menutupi” dalam ayat: اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi” maknanya
ialah penjelmaan Ilahi yang paling
sempurna, yang sebelumnya tidak pernah terjadi di kalangan para rasul Allah, termasuk terhadap Nabi Musa
a.s., yang terbukti beliau tidak sanggup menyaksikan tajjali Ilahi yang ditampakkan Allah Swt. kepada sebuah
gunung: فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا -- “maka tatkala
Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya
pada gunung itu Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa
pun jatuh pingsan. فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ
-- Lalu
tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat
kepada Engkau وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan aku
adalah orang pertama di antara orang-orang
yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).
Itulah sebabnya dalam peristiwa mi’raj yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw., kedudukan
ruhani Nabi Musa a.s. digambarkan berada
pada tingkatan langit ke 6,
dan Nabi Ibrahim a.s. berapa pada
tingkatan langit ke-7,
sedangkan Nabi Besar Muhammad saw. terus mi’raj
(naik) ke tingkatan langit yang jauhlebih
tinggi lagi -- hingga sampai ke Sidratul Muntaha -- yang bahkan Malaikat Jibril a.s. pun tidak sanggup lagi mendampingi Nabi Besar
Muhammad saw. dalam persiwa mi’raj
tersebut, karena seandainya Malaikat Jibril a.s. naik lebih tinggi lagi maka seluruh
“sayapnya akan terbakar”,
demikian hadits tentang mi’raj menjelaskan.
Pentingnya Hukum Syariat dan Kesinambungan
Pengutusan Rasul Allah
Demikianlah gambaran perjalanan ruhani atau mi’raj ruhani yang harus ditempuh oleh umat
manusia -- termasuk para rasul Allah -- menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt. yang tiada
batas akhirnya, yang seandainya
Allah Swt. tidak berkenan ”turun
mendekati” kepada Nabi Besar Muhammad saw.
-- yang telah meraih kenaikan ruhani (mi’raj) yang paling
sempurna sehingga digambarkan menjadi “seutas tali dua buah busur” (QS53:1-19) -- maka
tidak akan pernah ada manusia pun yang akan mampu meraih “perjumpamaan” dengan Allah Swt.
walau pun dalam derajat yang paling sederhana.
Karena itu selain pentingnya keberadaan hukum syariat dan pengamalannya,
betapa pentingnya peran istighfar guna memperoleh maghfirah Allah Swt., dalam upaya meraih perjumpaan Ilahi yang lebih
sempurna lagi, baik di dunia ini mau pun dalam surga
di alam akhirat, sebagaimana ayat: یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka akan berkata: “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami
cahaya kami, dan maafkanlah kami, sesungguhnya
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, تُوۡبُوۡۤا
اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا -- bertaubatlah
kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas
taubat. عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ -- Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan
menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan
kamu وَ یُدۡخِلَکُمۡ
جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا
الۡاَنۡہٰرُ
-- dan akan
memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ
النَّبِیَّ وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan
Nabi maupun orang-orang yang beriman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِم -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan di sebelah
kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka akan berkata: “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami
cahaya kami, dan maafkanlah kami, sesungguhnya
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(At-Tahrim
[66]:9).
Jadi, Allah Swt. dengan mewahyukan
syariat kepada para rasul Allah pembawa syariat -- terutama Nabi
Besar Muhammad saw. sebagai pengemban syariat
terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) -- telah meringankan “beban”
manusia sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya:
یُرِیۡدُ اللّٰہُ لِیُبَیِّنَ لَکُمۡ
وَ یَہۡدِیَکُمۡ سُنَنَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ وَ یَتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ
اللّٰہُ یُرِیۡدُ اَنۡ یَّتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ۟ وَ یُرِیۡدُ الَّذِیۡنَ
یَتَّبِعُوۡنَ الشَّہَوٰتِ اَنۡ تَمِیۡلُوۡا مَیۡلًا عَظِیۡمًا ﴿﴾ یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ
ضَعِیۡفًا﴿﴾
Allah menghendaki untuk
menjelaskan bagi kamu dan memberi kamu petunjuk cara-cara orang-orang sebelummu serta Dia kembali dengan kasih-sayang kepada kamu, dan Allah Maha
Mengetahui, Maha Bijaksana. وَ اللّٰہُ یُرِیۡدُ اَنۡ یَّتُوۡبَ
عَلَیۡکُمۡ -- Dan Allah menghendaki kembali dengan kasih-sayang kepada kamu, وَ یُرِیۡدُ
الَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الشَّہَوٰتِ اَنۡ تَمِیۡلُوۡا مَیۡلًا عَظِیۡمًا -- sedangkan orang-orang yang menuruti hawa-nafsu menghendaki kamu cenderung kepada
kejahatan. یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ
وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِیۡفًا -- Allah menghendaki untuk meringankan beban
dari kamu, karena manusia telah diciptakan
lemah. (An-Nisa [4]:27-29).
Ayat 29 merupakan sanggahan
pula terhadap ajaran Kristen mengenai
“Penebusan
Dosa” yang menolak syariat dengan
alasan bahwa manusia itu lemah, dimana menurut Paulus
dalam surat-surat kirimannya bahwa syariat itu merupakan “kutuk” karena telah membuat manusia terjerumus ke dalam “dosa” (Roma 2:12-29 & 3:1-31; Galatia 3:15-29).
Islam (Al-Quran) mengemukakan bahwa pada hakikatnya
“kelemahan” manusia justru merupakan alasan untuk turunnya syariat agar dapat membantu
manusia mencapai maksudnya (tujuan
utama penciptaannya --
QS.51:57-59), yang tinggi, yakni
sebagai “khalifah” (wakil) Allah Swt. di muka bumi, karena itu syariat bukan suatu kutukan
melainkan suatu pertolongan dan rahmat
dari Allah Swt.. Itulah makna ayat: یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ
ضَعِیۡفًا -- “Allah
menghendaki untuk meringankan beban dari kamu, karena manusia telah diciptakan lemah.” (An-Nisa
[4]29).
Sabda Masih Mau’ud a.s. Mengenai Pentingnya Taubat dan Istighfar
Sehubungan dengan pentingnya
senantiasa memanjatkan istighfar guna
memperoleh maghfirah Allah Swt.
dalam setiap kemajuan ruhani
yang diraih oleh orang-orang yang beriman
dan beramal shaleh, Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.—yakni
Masih
Mau’ud a.s. -- bersabda:
“Jelas kiranya bahwa manusia
itu secara alamiah
memang lemah sekali namun demikian dibebani
demikian banyak peraturan Ilahi. Karena kelemahan dirinya itu maka manusia
tidak sempurna
melaksanakan perintah-perintah Ilahi, terkadang malah dikalahkan nafsu dirinya yang cenderung mengundang
dosa.
Karena fitrat kelemahan dirinya itu maka setiap kali ia tergelincir perlu baginya bertobat dan memohon ampun agar rahmat
Ilahi dapat menyelamatkannya
dari kerugian.
Sesungguhnya jika Tuhan bukan
merupakan Wujud Yang menerima
pertobatan maka manusia
tidak akan dibebani
dengan demikian
banyak ketentuan dan perintah. Hal ini membuktikan secara konklusif
(pasti) kalau Tuhan itu cenderung kepada
manusia
dengan Rahmat-Nya dan bersifat Maha Pengampun.
Pengertian
Taubat
Taubat mengandung pengertian bahwa seseorang meninggalkan suatu kebiasaan buruk dengan tekad
penuh
bahwa setelah itu -- meski ia dilempar ke dalam api sekali pun -- ia tidak
akan mengulangi dosa
itu lagi. Bila manusia berpaling kepada Allah Swt. dengan ketulusan dan keteguhan
niat
seperti ini maka Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha
Penyayang
akan mengampuni dosanya tersebut. Adalah menjadi fitrat Ilahi bahwa Dia akan mengabulkan
pertobatan
dan menyelamatkan sang pendosa dari kehancuran.
Bila
manusia tidak mempunyai harapan bahwa pertobatannya
akan diterima
maka ia tidak akan menahan dirinya melakukan dosa. Umat Kristiani
juga percaya akan pertobatan tetapi diikuti
persyaratan
bahwa orang bersangkutan haruslah
seorang penganut Kristen.
Islam tidak mempersyaratkan apa pun untuk bertobat. Pertobatan
dari penganut semua agama bisa saja
diterima dengan kekecualian dosa karena menolak
Kitab Allah
dan Rasul-Nya.
Adalah suatu hal yang tidak
mungkin bagi manusia memperoleh keselamatan hanya berdasarkan
perilakunya sendiri
saja. Hanya karena Sifat Maha Pemurah dari Allah
Swt.
sajalah maka Dia menerima pertobatan sebagian manusia, dan berkat dari rahmat-Nya dianugrahkan kekuatan kepada yang lainnya agar mereka terpelihara dari laku dosa.” (Chasma Marifat,
Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII,
hlm. 189-190, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 14 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar