Sabtu, 17 September 2016

Perbedaan Waktu "Mi'raj" dan "Isra" Nabi Besar Muhammad Saw. & Syariat dan Pengutusan Rasul Allah Merupakan "Rahmat Ilahi", Bukan "Kutuk"" yang Menjerumuskan Manusia ke Dalam "Dosa"





Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 14

PERBEDAAN WAKTU MI’RAJ DAN ISRA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. & HUKUM SYARIAT DAN PENGUTUSAN RASUL ALLAH MERUPAKAN RAHMAT ILAHI, BUKAN   KUTUK YANG MENJERUMUSKAN MANUSIA   KE DALAM DOSA    

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  bagian  Bab 13    dijelaskan     kesempurnaan mi’raj ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.,   yang   Nabi Musa a.s. pun tidak sanggup melakukannya dan beliau menyatakan beriman  kepada kesempurnaan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.:   فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ      -- Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ     -- . dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini”,  firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perli-hatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempatnya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.”  فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  -- Maka  tatkala Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur,  dan Musa pun jatuh pingsan.  فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ      -- Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ     --  dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144). 

Makna Permohonan Nabi Musa a.s. Ingin “Melihat” Allah Swt.

     Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan  Allah Swt. . dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah  Swt. dapat disaksikan oleh mata jasmani (QS.6:104). Jangankan melihat  Allah  Swt. dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka.
      Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan)  Allah  Swt.  sajalah yang dapat manusia saksikan  tetapi Wujud  Allah  Swt.   Sendiri tidak. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi Allah yang besar seperti Nabi Musa a.s.  dengan segala makrifat mengenai Sifat-sifat Allah Swt. akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.
      Nabi Musa a.s.  mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan kekuasaan)  Allah Swt.  dan bukan Wujud-Nya Sendiri. Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli  Allah Swt.  dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (28:30). Jadi  apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan:  رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ  -- “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), tampakkanlah  kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
     Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan kepada keinginan Nabi Musa a.s. menyaksikan  tajalli-sempurna Allah Swt.  yang kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad saw. beberapa masa kemudian. Nabi Musa a.s.   diberi janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22).
     Nubuatan tersebut  berkenaan dengan suatu tajalli  Ilahi lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s.,  karena itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt.  yang akan tampak dalam tajalli Ilahi yang dijanjikan itu. Nabi Musa a.s.  berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan Tajalli Ilahi itu  ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
      Dalam peristiwa ruhani tersebut Nabi Musa a.s. diberi tahu Allah Swt. bahwa bahwa Tajalli  Ilahi tersebut  berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,  tajalli Ilahi  sempurna  itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, karena itu  Allah Swt.   memilih gunung untuk bertajalli.
      Dalam peristiwa ruhani (kasyaf) tersebut gunung itu berguncang  hebat  serta nampak  seakan-akan ambruk, dan Nabi Musa a.s. karena dicekam oleh pengaruh guncangan akibat tajalli Ilahi itu rebah tidak sadarkan diri: فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  -- “maka  tatkala Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur,  dan Musa pun jatuh pingsan.”
     Dengan cara demikian  Nabi Musa a.s. dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri tempat  Allah  Swt.  bertajalli sebagaimana dimohonkan beliau.
      Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang  nabi Allah  yang lebih besar daripada Nabi Musa a.s. tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, yaitu Baginda Nabi Besar Muhammad saw., yang pada kesempatan itu pula Nabi Musa a.s. menyatakan beriman  kepada Nabi Besar Muhammad saw.: فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ      -- Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ     --  dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” 

Perbedaan  Waktu Terjadinya Peristiwa Mi’raj dan Isra

      Karena pada hakikatnya peristiwa  Tajalli Ilahi tersebut merupakan peristiwa ruhani yang dialami oleh Nabi Musa a.s., karena itu dalam kenyataannya  gunung  itu sebenarnya tidak hancur-lebur.  Kata-kata  “hancurnya gunung” tersebut itu telah dipergunakan secara majasi (kiasan) untuk menyatakan kehebatan gempa bumi  yang terjadi saat itu. Lihat Keluaran 24:18.  Mungkin pula permohonan Nabi Musa a.s.  itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut untuk melihat Allah Swt.  dengan mata jasmani (QS.2:56).
      Pengalaman Nabi Musa a.s.  yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan beliau itu tidak layak:  فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ      -- Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ     --  dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini”,  yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu, dan bahwa beliau (Nabi Musa a.s.) adalah orang yang pertama-tama beriman kepada keluhuran kedudukan ruhani yang telah ditakdirkan akan dicapai oleh Nabi Besar itu. Keimanan Nabi Musa a.s.   kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   itu telah disinggung juga dalam QS.46:11.
      Jadi, kembali kepada ayat  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی --  kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی --   maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    --  Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. (An-Najm [53]:9-11) berkenaan     peristiwa mi’raj Nabi Besar Muhammad saw. (QS.53:1-19),  dalam pikiran umum  mi’raj telah dicampurbaurkan dengan isra’ (perjalanan Nabi Besar Muhammad saw.  pada waktu malam ke Yerusalem – QS.17:2), padahal  masing-masing berlainan dan terpisah waktu terjadinya.
      Isra  terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 tahun Nabawi (Zurqani), padahal Nabi Besar Muhammad saw.   telah lebih dahulu mengalami  mi’raj pada tahun ke-5, tidak lama sesudah hijrah pertama ke Abessinia 6 atau 7 tahun sebelum terjadi isra’. Penelaahan saksama dan teliti mengenai rincian kedua peristiwa rhani  itu, sebagaimana disebut-sebut di dalam hadits  juga mendukung pendapat ini.  

Penglihatan Hati Nabi Besar Muhammad Saw. & Makna “Sidratul-Muntaha

     Sehubungan peristiwa mi’raj Nabi Besar Muhammad saw. – yang merupakan peristiwa ruhani   -- tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾  اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی  ﴿﴾  وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾  عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat.  Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?   وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی     -- Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali, عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی  --    dekat pohon Sidrah tertinggi, yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal. اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi, مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی  --  penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula me-lantur.  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی  --   Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya).    (An-Najm [53]:12-19).  
  Penyebutan hati (fuadz) dalam ayat: مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی    -- “Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat. اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی    --   Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?”     Hakikatnya  ialah apa yang telah dilihat atau dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw.   adalah pengalaman hakiki,  pengalaman itu kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau saw..
   Makna ayat:    وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی     -- “dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali bahwa kasyaf  (pelihatan/pengalaman ruhani) Nabi Besar Muhammad saw.  itu suatu pengalaman ruhani berganda. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی  --    dekat pohon Sidrah tertinggi, yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal. اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi.”
  Pada waktu mi’raj, Nabi Besar Muhammad saw.  telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya; atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau  saw. samudera luas tanpa tepi – yakni samudera makrifat Ilahi,  hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi.
  Sadir yang diambil dari akar kata yang sama, berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw., bahwa   akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih dan payah. Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat ini dapat berarti  bahwa ajaran Al-Quran  yang diwahyukan Allah Swt.  kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan (QS.15:10),  melainkan juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan akhlak dan ruhani.
 Atau, ayat  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی  --    dekat pohon Sidrah tertinggi, yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal. اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi” mengandung kabar gaib yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon, yang di bawah pohon itu para sahabat  Nabi Besar Muhammad saw. .  mengikat janji setia kepada beliau pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah (QS.48:19).
  Kata-kata “yang menutupi” dalam ayat:  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی    -- ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi” maknanya ialah penjelmaan Ilahi yang paling sempurna, yang sebelumnya tidak pernah terjadi di kalangan para rasul Allah, termasuk terhadap Nabi Musa a.s., yang terbukti beliau tidak sanggup menyaksikan tajjali  Ilahi  yang ditampakkan Allah Swt. kepada sebuah gunung:  فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  -- “maka  tatkala Tuhan-nya menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur,  dan Musa pun jatuh pingsan.  فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ      -- Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ     --  dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144). 
Itulah sebabnya dalam peristiwa mi’raj yang dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw.,  kedudukan ruhani Nabi Musa a.s. digambarkan berada  pada tingkatan langit ke 6, dan    Nabi Ibrahim a.s.  berapa pada  tingkatan langit ke-7, sedangkan Nabi Besar Muhammad saw. terus mi’raj (naik)  ke tingkatan langit yang jauhlebih tinggi lagi  -- hingga sampai ke Sidratul Muntaha --  yang bahkan Malaikat Jibril a.s. pun tidak sanggup lagi mendampingi Nabi Besar Muhammad saw. dalam persiwa mi’raj tersebut, karena seandainya Malaikat Jibril a.s. naik lebih tinggi lagi maka  seluruh  sayapnya akan terbakar”, demikian hadits tentang mi’raj menjelaskan.

Pentingnya Hukum Syariat dan Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah

Demikianlah  gambaran perjalanan ruhani atau mi’raj ruhani yang harus ditempuh oleh umat manusia  -- termasuk para rasul Allah   -- menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt.  yang tiada batas akhirnya, yang   seandainya Allah Swt. tidak berkenan ”turun mendekati” kepada Nabi Besar Muhammad saw.   --  yang telah meraih kenaikan ruhani (mi’raj) yang paling sempurna  sehingga  digambarkan menjadi “seutas tali dua buah busur” (QS53:1-19)  --  maka tidak akan pernah ada manusia pun yang akan mampu meraih  “perjumpamaan” dengan Allah Swt.   walau pun dalam derajat yang paling sederhana.
Karena itu selain pentingnya keberadaan hukum syariat dan pengamalannya, betapa  pentingnya peran  istighfar  guna memperoleh maghfirah Allah Swt.,   dalam upaya meraih perjumpaan Ilahi   yang lebih sempurna lagi, baik  di dunia ini mau pun dalam surga   di alam akhirat, sebagaimana  ayat:   یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ   -- mereka  akan berkata: “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu    dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا   -- bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat.  عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ   -- Boleh jadi Rabb (Tuhan)  kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan  kamu وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  --  dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,  یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِم  --  cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ   -- mereka  akan berkata: “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).
Jadi, Allah Swt.  dengan mewahyukan syariat  kepada para rasul Allah pembawa syariat  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. sebagai pengemban syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4)  --     telah meringankan  beban  manusia  sebagaimana dikemukakan dalam  firman-Nya:
یُرِیۡدُ اللّٰہُ لِیُبَیِّنَ لَکُمۡ وَ یَہۡدِیَکُمۡ سُنَنَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ وَ یَتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ اللّٰہُ یُرِیۡدُ اَنۡ یَّتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ ۟ وَ یُرِیۡدُ الَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الشَّہَوٰتِ اَنۡ تَمِیۡلُوۡا مَیۡلًا عَظِیۡمًا ﴿﴾  یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِیۡفًا﴿﴾
Allah menghendaki untuk menjelaskan bagi kamu dan memberi kamu petunjuk  cara-cara orang-orang sebelummu serta Dia kembali  dengan kasih-sayang kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.  وَ اللّٰہُ یُرِیۡدُ اَنۡ یَّتُوۡبَ عَلَیۡکُمۡ  --  Dan Allah menghendaki kembali dengan kasih-sayang kepada kamu, وَ یُرِیۡدُ الَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الشَّہَوٰتِ اَنۡ تَمِیۡلُوۡا مَیۡلًا عَظِیۡمًا  -- sedangkan orang-orang yang menuruti hawa-nafsu menghendaki kamu cenderung kepada kejahatan.  یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِیۡفًا  --  Allah menghendaki untuk meringankan beban dari kamu, karena manusia telah diciptakan lemah. (An-Nisa [4]:27-29).
     Ayat 29   merupakan sanggahan pula terhadap ajaran Kristen mengenai  Penebusan Dosa” yang menolak syariat dengan alasan bahwa  manusia itu lemah, dimana menurut Paulus dalam surat-surat kirimannya bahwa syariat itu merupakan “kutuk” karena telah membuat manusia terjerumus ke dalam “dosa” (Roma 2:12-29 & 3:1-31; Galatia 3:15-29).
       Islam  (Al-Quran) mengemukakan bahwa pada hakikatnya “kelemahan” manusia justru merupakan alasan untuk turunnya syariat agar dapat membantu manusia mencapai maksudnya (tujuan utama penciptaannya  -- QS.51:57-59),   yang tinggi, yakni sebagai “khalifah” (wakil) Allah Swt.  di muka bumi, karena itu syariat bukan suatu kutukan melainkan suatu pertolongan dan  rahmat dari Allah Swt.. Itulah makna ayat: یُرِیۡدُ اللّٰہُ اَنۡ یُّخَفِّفَ عَنۡکُمۡ ۚ وَ خُلِقَ الۡاِنۡسَانُ ضَعِیۡفًا  --  Allah menghendaki untuk meringankan beban dari kamu, karena manusia telah diciptakan lemah.” (An-Nisa [4]29).

Sabda Masih Mau’ud a.s. Mengenai Pentingnya Taubat  dan  Istighfar

     Sehubungan dengan pentingnya senantiasa memanjatkan istighfar guna memperoleh maghfirah  Allah Swt.  dalam setiap kemajuan ruhani yang diraih oleh orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah,  Mirza Ghulam Ahmad a.s.—yakni Masih Mau’ud a.s.   -- bersabda:
       Jelas kiranya bahwa manusia itu secara alamiah memang lemah sekali namun demikian dibebani demikian banyak peraturan Ilahi. Karena kelemahan dirinya itu maka manusia tidak sempurna melaksanakan perintah-perintah Ilahi, terkadang malah dikalahkan nafsu dirinya yang cenderung mengundang dosa. Karena fitrat kelemahan dirinya itu maka setiap kali ia tergelincir  perlu baginya bertobat dan memohon ampun agar rahmat Ilahi dapat menyelamatkannya dari kerugian.
     Sesungguhnya jika Tuhan bukan merupakan Wujud Yang menerima pertobatan  maka manusia tidak akan dibebani dengan demikian banyak ketentuan dan perintah. Hal ini membuktikan secara konklusif (pasti) kalau Tuhan itu cenderung kepada manusia dengan Rahmat-Nya dan bersifat Maha Pengampun.

Pengertian Taubat

       Taubat mengandung pengertian bahwa seseorang meninggalkan suatu kebiasaan buruk dengan tekad penuh bahwa setelah itu --  meski ia dilempar ke dalam api sekali pun -- ia tidak akan mengulangi dosa itu lagi. Bila manusia berpaling kepada Allah Swt. dengan ketulusan dan keteguhan niat seperti ini maka Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang akan mengampuni dosanya tersebut. Adalah menjadi fitrat Ilahi bahwa Dia akan mengabulkan pertobatan dan menyelamatkan sang pendosa dari kehancuran.
     Bila manusia tidak mempunyai harapan bahwa pertobatannya akan diterima maka ia tidak akan menahan dirinya melakukan dosa. Umat Kristiani juga percaya akan pertobatan tetapi diikuti persyaratan bahwa orang bersangkutan haruslah seorang penganut Kristen.
        Islam tidak mempersyaratkan apa pun untuk bertobat. Pertobatan dari penganut semua agama bisa saja diterima dengan kekecualian dosa karena menolak Kitab Allah dan Rasul-Nya.
      Adalah suatu hal yang tidak mungkin bagi manusia memperoleh keselamatan hanya berdasarkan perilakunya sendiri saja. Hanya karena Sifat Maha Pemurah dari Allah Swt. sajalah maka Dia menerima pertobatan sebagian manusia, dan berkat dari rahmat-Nya dianugrahkan kekuatan kepada yang lainnya agar mereka terpelihara dari laku dosa.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  189-190, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 14 September 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar