Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
3
MAKNA PERCAKAPAN ALLAH SWT. DENGAN NERAKA
JAHANNAM & HUBUNGAN KERAKUSAN DUNIAWI DENGAN KELUMPUHAN I
NDERA-INDERA RUHANI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian bab 2 telah
dikemukakan jenjang-jenjang suluk
(perjalanan ruhani) yang ditempuh orang-orang
beriman yang hakiki dalam Surah Al-Mu’minun ayat 2-12, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قَدۡ اَفۡلَحَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ ہُمۡ فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ مُعۡرِضُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ
لِلزَّکٰوۃِ فٰعِلُوۡ
ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ ۙ﴿﴾ اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ
فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ مَلُوۡمِیۡنَ
ۚ﴿﴾ فَمَنِ
ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ ۚ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ
رٰعُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ
عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ ۘ﴿﴾
اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡوٰرِثُوۡنَ
﴿ۙ﴾ الَّذِیۡنَ
یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sungguh
telah berhasil orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang
yang berpaling dari hal yang sia-sia.
Dan orang-orang
yang membayar zakat. Dan orang-orang
yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa
yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa mencari selain dari itu
maka mereka itu orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka. Dan orang-orang yang meme-lihara shalat-shalat mereka. Mereka itulah pewaris, yaitu orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka
akan kekal di dalamnya. (Al-Mu’minūn
[23[:1-12).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ وَ
-- “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka.” Mereka
benar-benar menjadi orang-orang yang amīn
(terpercaya) dalam hal memenuhi
amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian
mereka, baik berkenaan dengan Allah Swt.
(Huququllāh) mau pun dengan sesama
manusia (huququl- ‘ibād).
Kemudian Allah Swt. berfirman mengenai
jenjang suluk (perjalanan ruhani)
berikut ini: الَّذِیۡنَ ہُمۡ
عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ وَ -- “Dan orang-orang yang
memelihara shalat-shalat mereka.” Ayat
ini menandai tingkat perkembangan ruhani
yang terakhir dan tertinggi, di mana zikir Ilahi menjadi
fitrat kedua bagi seorang beriman dan menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari wujudnya serta penghibur
bagi ruhnya.
Pada tingkat ini ia menaruh perhatian khusus kepada amal ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjamaah), yang
menunjukkan bahwa perasaan dan kesadaran
berkaum menjadi sangat kuat dalam
dirinya, dan ia membelakangkan kepentingan-kepentingan
diri pribadi serta mendahulukan kebaikan
bersama dan kepentingan kaum.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: الۡوٰرِثُوۡنَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ -- “Mereka itulah pewaris, الَّذِیۡنَ
یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- yaitu orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka
akan kekal di dalamnya. (Al-Mu’minūn
[23[:12). Karena orang-orang
beriman yang disebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinya menghimpun dalam diri mereka segala macam sifat mulia maka mereka
akan disuruh bermukim dalam surga Firdaus yang berisikan segala sesuatu yang terdapat dalam kebun mana pun (Lexicon Lane).
Makna “Percakapan” Allah
Swt. Dengan “Neraka Jahannam”
Karena para penghuni surga katika dalam kehidupan di dunia mendatangkan kematian
terhadap keinginan-keinginan (hawa-nafsu) mereka sendiri, maka sebagai imbalannya Allah Swt. memberi mereka kehidupan kekal dalam surga
dan dan mereka akan memperoleh segala
yang mereka inginkan, firman-Nya:
یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ
امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ
مَّزِیۡدٍ ﴿﴾ وَ اُزۡلِفَتِ
الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ ﴿﴾ ہٰذَا
مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾ مَنۡ
خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾ ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾ لَہُمۡ مَّا یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Pada
hari itu Kami akan berkata
kepada Jahannam: ہَلِ امۡتَلَاۡتِ
-- “Apakah eng-kau sudah penuh?”
Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ
مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ
-- Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa, tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ
حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah
dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya. مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat,
ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ -- “Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. Inilah Hari yang kekal abadi.” لَہُمۡ مَّا
یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا
مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di
dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan
dan di sisi Kami ada tambahan lagi. (Qāf
[50]:31-36).
Percakapan dalam ayat یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ
وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: ہَلِ امۡتَلَاۡتِ -- “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam
itu akan menjawab: ہَلۡ مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” adalah tamsilan (kiasaan).
Dalam ayat tersebut neraka diibaratkan di sini sebagai manusia dan perkataan diletakkan pada mulut neraka untuk
menyatakan keadaan manusia dan bukan benar-benar neraka itu akan berbicara,
atau seolah-olah dapat berbicara. Kata qāla dipergunakan juga dalam pengertian seperti yang tercantum dalam QS.41:12, yaitu langit dan
bumi digambarkan seakan-akan mengatakan bahwa mereka menaati hukum llahi dengan tulus ikhlas, firman-Nya:
ثُمَّ
اسۡتَوٰۤی اِلَی السَّمَآءِ وَ
ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ
ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا ؕ
قَالَتَاۤ اَتَیۡنَا طَآئِعِیۡنَ ﴿﴾
Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit,
ketika itu masih merupakan asap,
lalu Dia berfirman kepadanya dan
kepada bumi: ائۡتِیَا طَوۡعًا اَوۡ کَرۡہًا -- ”Datanglah
kamu berdua dengan rela atau pun
terpaksa. قَالَتَاۤ
اَتَیۡنَا طَآئِعِیۡنَ -- Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela.”
(Hā Mīm – As-Sajdah [41]:12).
Kurhan atau karhan dalam kedua
bentuknya, adalah katabenda (ism) masdar dari kata kariha (ia tidak
menyukai); yang pertama (kurhan) berarti “apa yang kamu sendiri tidak
menyukai”, dan yang kedua (kurhan) berarti “apa
yang kamu terpaksa mengerjakannya, bertentangan dengan kemauanmu sendiri atas
kehendak orang lain.” Fa'alahu karhan berarti “ia melakukannya karena terpaksa” (Lexicon Lane).
Kerakusan
Duniawi
yang Berakhir Dalam Neraka Jahannam
Inilah salah satu dari keistimewaan dan keindahan bahasa Arab, yang mempergunakan kata dan ungkapan untuk benda-benda tidak bernyawa, seperti yang
dipergunakan bagi manusia. Contohnya lainnya adalah “dialog” antara Allah Swt. dengan
para malaikat berkenaan dengan penciptaan Adam sebagai Khalifah di bumi bumi (QS.2:31-35).
Ungkapan kiasan berupa “percakapan”
antara Allah Swt. dengan
“neraka jahannam” pada hakikatnya mengisyaratkan
kepada kemampuan manusia yang tidak
berhingga untuk melakukan dosa dan melampiaskan nafsunya yang tidak terkendalikan untuk mencari kesenangan-kesenangan duniawi, dan
dengan demikian ia menempuh jalan ke
neraka, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ اَلۡہٰکُمُ
التَّکَاثُرُ ۙ﴿﴾ حَتّٰی
زُرۡتُمُ الۡمَقَابِرَ ؕ﴿﴾ کَلَّا
سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ﴿﴾ ثُمَّ کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ؕ﴿﴾ کَلَّا لَوۡ
تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ الۡیَقِیۡنِ ؕ﴿﴾ لَتَرَوُنَّ الۡجَحِیۡمَ ۙ﴿﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ ۙ﴿﴾ ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dalam
upaya memperbanyak kekayaan
telah melalaikan kamu, hingga
kamu sampai di kuburan. Sekali-kali tidak, segera kamu akan
mengetahui. Kemudian, sekali-kali
tidak demikian, segera kamu akan
mengetahui. Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin, لَتَرَوُنَّ الۡجَحِیۡمَ -- niscaya
kamu akan melihat Jahannam, kemudian
kamu niscaya akan melihatnya dengan mata
yakin. ثُمَّ
لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ -- Kemudian pada
hari itu kamu pasti akan ditanya mengenai berbagai kenikmatan. (At-Takatsūr
[102]:1-9).
Firman-Nya
lagi:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَیۡلٌ
لِّکُلِّ ہُمَزَۃٍ لُّمَزَۃِۣ ۙ
﴿﴾ الَّذِیۡ
جَمَعَ مَالًا وَّ عَدَّدَہٗ ۙ﴿﴾ یَحۡسَبُ
اَنَّ مَالَہٗۤ اَخۡلَدَہٗ ۚ﴿﴾ کَلَّا
لَیُنۡۢبَذَنَّ فِی الۡحُطَمَۃِ ۫﴿ۖ﴾ وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا الۡحُطَمَۃُ ؕ﴿﴾ نَارُ اللّٰہِ الۡمُوۡقَدَۃُ ۙ﴿﴾ الَّتِیۡ
تَطَّلِعُ عَلَی الۡاَفۡـِٕدَۃِ
ؕ﴿﴾ اِنَّہَا
عَلَیۡہِمۡ مُّؤۡصَدَۃٌ ۙ﴿﴾ فِیۡ
عَمَدٍ مُّمَدَّدَۃٍ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Celakalah bagi setiap pengumpat
dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.
Ia mengira
bahwa hartanya akan menjadikannya kekal.
Sekali-kali tidak! Pasti dia akan
dicampakkan ke dalam Hutamah.
Dan tahukah engkau apakah Hutamah
itu? Yaitu Api Allah yang dinyalakan, yang naik
sampai ke hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka. Diikat pada tiang-tiang yang panjang. (Al-Humazah [104]:1-10).
Kemudian
selaras dengan pernyataan-pernyataan
keras Allah Swt. mengenai para pecinta
kehidupan duniawi tersebut Dia
berfirman lagi mengenai orang-orang yang indera-indera
ruhaninya lumpuh:
وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ
کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ
لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا
یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ
کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menjadikan
untuk penghuni Jahannam banyak
di antara jin dan ins (manusia), mereka memiliki hati tetapi mereka
tidak mengerti dengannya, mereka memiliki
mata tetapi mereka tidak melihat dengannya, mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar dengannya,
اُولٰٓئِکَ
کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ -- mereka itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat. اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ -- Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’rāf [7]:180).
Bagaikan “Binatang Ternak”
Huruf lam
(lā) di sini lam ‘aqibat yang menyatakan kesudahan atau akibat.
Dengan demikian ayat ini tidak ada hubungannya dengan tujuan kejadian manusia
melainkan hanya menyebutkan kesudahan yang patut disesalkan mengenai kehidupan
kebanyakan ins (manusia) dan jin (kata jin itu juga mempunyai
arti golongan manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa atau pemuka-pemuka
atau orang-orang besar). Dari cara mereka menjalani hidup mereka dalam berbuat
dosa dan kedurhakaan nampak seolah-olah mereka telah diciptakan untuk masuk
neraka.
Sehubungan dengan pernyataan keras Allah Swt.: اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ
-- mereka itu seperti
binatang ternak, bahkan mereka lebih
sesat. اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ --
Mereka itulah orang-orang yang
lalai. (Al-A’rāf [7]:180), senada dengan hal tersebut dalam surah
lainnya Dia berfirman:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا
کَمَثَلِ الَّذِیۡ یَنۡعِقُ بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً وَّ نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan perumpamaan
keadaan orang-orang kafir itu seperti seseorang
yang berteriak kepada sesuatu yang
tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka.
Mereka tuli, bisu, dan buta,
karena itu mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah [2]:172).
Nabi Besar Muhammad saw. menyampaikan Amanat Allah Swt. – yakni
ajaran Al-Quran -- kepada orang-orang
kafir. Beliau saw. itu penyeru dan mereka mendengar suara beliau saw., tetapi tidak berusaha menangkap maknanya. Kata-kata (seruan) beliau saw. seolah-olah
sampai kepada telinga orang tuli
dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani
mereka menjadi sama sekali rusak
dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf keadaan hewan dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang
hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya.
Penyegelan Indera-indera
Ruhani Orang-orang Kafir
Dengan demikian benarlah pernyataan keras Allah Swt. lainnya
berikut ini, firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا سَوَآءٌ عَلَیۡہِمۡ
ءَاَنۡذَرۡتَہُمۡ اَمۡ لَمۡ تُنۡذِرۡہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ خَتَمَ اللّٰہُ
عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِمۡ ؕ
وَ عَلٰۤی اَبۡصَارِہِمۡ غِشَاوَۃٌ ۫ وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ٪﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang kafir sama
saja bagi mereka, apakah engkau
memperingatkan mereka atau pun engkau
tidak memperingatkan mereka, mereka tidak akan beriman. خَتَمَ
اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِم -- Allah telah mencap hati mereka dan pendengaran mereka, sedangkan pada
penglihatan mereka ada tutupan, dan bagi mereka ada siksaan yang amat besar. (Al-Baqarah [2]:7-8).
Ayat 7
membicarakan orang-orang kafir, yang
sama sekali tidak mengindahkan kebenaran
dan keadaan mereka tetap sama, baik
mereka itu mendapat peringatan atau
pun tidak. Mengenai orang-orang
semacam itu dinyatakan bahwa selama keadaan
mereka tetap demikian mereka tidak
akan beriman.
Bagian tubuh manusia yang tidak digunakan untuk waktu yang lama,
berangsur-angsur menjadi merana dan tak berguna. Orang-orang kafir yang
disebut di sini menolak penggunaan hati
dan telinga mereka untuk memahami kebenaran, akibatnya daya pendengaran dan daya tangkap mereka hilang (lumpuh).
Apa yang dinyatakan dalam anak kalimat, Allah
telah mencap, hanya merupakan akibat
wajar dari sikap membangkang
mereka sendiri yang sengaja tidak mau mengacuhkan kebenaran yang disampaikan
kepada mereka. Karena semua hukum
datang dari Allah Swt. dan tiap-tiap sebab diikuti oleh akibatnya
yang wajar menurut kehendak Allah Swt. maka pencapan
hati dan telinga orang-orang kafir
itu dikaitkan (dinisbahkan) kepada Allah Swt..
Hukuman Dalam Neraka
Tidak Kekal
Jadi, itulah makna “percakapan kiasan” antara Allah Swt. dengan neraka jahannam dalam
ayat: یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam: ہَلِ امۡتَلَاۡتِ
-- “Apakah engkau sudah penuh?”
Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ
مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- “Apakah masih ada tambahan lagi?”, firman-Nya:
یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ
امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ
مَّزِیۡدٍ ﴿﴾ وَ اُزۡلِفَتِ
الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ ﴿﴾ ہٰذَا
مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾ مَنۡ
خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾ ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾ لَہُمۡ مَّا یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Pada
hari itu Kami akan berkata
kepada Jahannam: ہَلِ امۡتَلَاۡتِ
-- “Apakah eng-kau sudah penuh?”
Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ مِنۡ
مَّزِیۡدٍ -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ
-- Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa, tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ
حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah
dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya. مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat,
ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ -- “Masuklah
ke dalamnya dengan selamat sejahtera.
Inilah Hari yang kekal abadi.” لَہُمۡ مَّا
یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا
مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di
dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan
dan di sisi Kami ada tambahan lagi. (Qāf
[50]:31-36).
Namun betapa pun dahsyat dan mengerikan
nampaknya hukuman dalam neraka itu, tetapi neraka
menurut Al-Quran merupakan rumah tahanan
sementara yakni berfungsi seperti “rahim ibu” -- firman-Nya: “ada pun orang-orang
yang ringan timbangan amalnya maka ibunya haawiyah (jahannam). Dan apakah engkau mengetahui apa haawiyah itu, yaitu api yang menyala-nyala” (QS.101:9-12) -- yang mengubah “segumpal darah” menjadi bayi
(QS.22:6; QS.23:13-15.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy
Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 3
September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar