Minggu, 04 September 2016

Makna "Percakapan" Allah Swt. Dengan "Neraka Jahannam" & Hubungan "Kerakusan Duniawi" Dengan Kelumpuhan "Indera-indera Ruhani"





Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 3

MAKNA PERCAKAPAN ALLAH SWT. DENGAN NERAKA JAHANNAM  & HUBUNGAN KERAKUSAN DUNIAWI DENGAN  KELUMPUHAN I NDERA-INDERA RUHANI  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian bab 2  telah   dikemukakan  jenjang-jenjang  suluk (perjalanan ruhani) yang ditempuh orang-orang beriman yang hakiki dalam Surah Al-Mu’minun ayat 2-12,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ  مُعۡرِضُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِلزَّکٰوۃِ  فٰعِلُوۡ   ۙ﴿﴾   وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ ۙ﴿﴾  اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ   مَلُوۡمِیۡنَ ۚ﴿﴾   فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ ۚ﴿﴾   وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ  ۘ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡوٰرِثُوۡنَ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Sungguh  telah berhasil   orang-orang  yang beriman,  yaitu orang-orang yang khusyuk  dalam shalatnya,      dan  orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia.  Dan  orang-orang yang membayar zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,    kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela.   Tetapi barangsiapa mencari selain dari itu  maka mereka itu  orang-orang yang melampaui batas.  Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka.    Dan orang-orang yang meme-lihara shalat-shalat mereka.  Mereka itulah pewaris,    yaitu  orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus,  mereka akan   kekal di dalamnya.  (Al-Mu’minūn [23[:1-12). 
        Selanjutnya Allah Swt. berfirman: الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ وَ   --  “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka.” Mereka benar-benar menjadi orang-orang yang amīn (terpercaya) dalam hal memenuhi amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka, baik berkenaan dengan Allah Swt. (Huququllāh) mau pun dengan sesama manusia (huququl- ‘ibād).
     Kemudian Allah Swt. berfirman mengenai jenjang suluk (perjalanan ruhani) berikut ini:   الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ   وَ -- “Dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka.”    Ayat ini menandai tingkat perkembangan ruhani yang terakhir dan tertinggi, di mana zikir Ilahi menjadi fitrat kedua bagi seorang beriman dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari wujudnya serta penghibur bagi ruhnya.
      Pada tingkat ini ia menaruh perhatian khusus kepada amal ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjamaah), yang menunjukkan  bahwa perasaan dan kesadaran berkaum menjadi sangat kuat dalam dirinya, dan ia membelakangkan kepentingan-kepentingan diri pribadi serta mendahulukan kebaikan bersama dan kepentingan kaum.
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman: الۡوٰرِثُوۡنَ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ  --  “Mereka itulah pewaris,    الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --   yaitu  orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka akan   kekal di dalamnya.  (Al-Mu’minūn [23[:12).  Karena orang-orang beriman yang disebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinya menghimpun dalam diri mereka segala macam sifat mulia maka mereka akan disuruh bermukim dalam surga Firdaus yang berisikan segala sesuatu yang terdapat dalam kebun mana pun (Lexicon Lane).

Makna “Percakapan” Allah Swt. Dengan “Neraka Jahannam

     Karena para penghuni surga  katika dalam kehidupan di dunia mendatangkan kematian terhadap keinginan-keinginan (hawa-nafsu) mereka sendiri, maka sebagai imbalannya Allah Swt.  memberi mereka kehidupan kekal dalam surga dan dan mereka akan memperoleh segala yang mereka inginkan, firman-Nya:
یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ ﴿﴾  وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ ﴿﴾  ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾  ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾  لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:    ہَلِ امۡتَلَاۡتِ  -- “Apakah eng-kau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ  --  Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa,  tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya.  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ   -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat, ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ  --  “Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. Inilah Hari yang kekal abadi.”   لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan  dan di sisi Kami  ada tambahan lagi. (Qāf [50]:31-36).
    Percakapan  dalam ayat یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ --  Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:    ہَلِ امۡتَلَاۡتِ  -- “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” adalah   tamsilan  (kiasaan). 
     Dalam ayat tersebut neraka diibaratkan di sini sebagai manusia dan perkataan diletakkan pada mulut  neraka untuk menyatakan keadaan manusia  dan bukan benar-benar neraka itu akan berbicara, atau seolah-olah dapat berbicara.   Kata qāla dipergunakan juga dalam pengertian seperti yang tercantum dalam QS.41:12, yaitu langit dan bumi digambarkan seakan-akan mengatakan bahwa mereka   menaati hukum llahi dengan tulus ikhlas, firman-Nya:
ثُمَّ  اسۡتَوٰۤی  اِلَی السَّمَآءِ وَ ہِیَ دُخَانٌ فَقَالَ  لَہَا وَ لِلۡاَرۡضِ ائۡتِیَا طَوۡعًا  اَوۡ کَرۡہًا ؕ قَالَتَاۤ   اَتَیۡنَا  طَآئِعِیۡنَ ﴿﴾
Kemudian Dia mengarahkan perhatian ke langit, ketika itu masih merupakan asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi: ائۡتِیَا طَوۡعًا  اَوۡ کَرۡہًا   -- ”Datanglah kamu berdua dengan rela atau pun terpaksa. قَالَتَاۤ   اَتَیۡنَا  طَآئِعِیۡنَ  --  Keduanya menjawab: ”Kami berdua datang dengan rela.”  (Hā MīmAs-Sajdah [41]:12).
   Kurhan atau karhan dalam kedua bentuknya, adalah katabenda (ism) masdar dari kata kariha (ia tidak menyukai); yang pertama (kurhan) berarti “apa yang kamu sendiri tidak menyukai”, dan yang kedua (kurhan) berarti  “apa yang kamu terpaksa mengerjakannya, bertentangan dengan kemauanmu sendiri atas kehendak orang lain.” Fa'alahu karhan berarti  “ia melakukannya karena terpaksa” (Lexicon Lane).

Kerakusan Duniawi   yang  Berakhir Dalam Neraka Jahannam

  Inilah salah satu dari keistimewaan dan keindahan bahasa Arab, yang mempergunakan kata dan ungkapan untuk benda-benda tidak bernyawa, seperti yang dipergunakan bagi manusia.   Contohnya lainnya adalah “dialog” antara Allah Swt. dengan para malaikat berkenaan dengan penciptaan Adam sebagai Khalifah di bumi bumi (QS.2:31-35).
   Ungkapan kiasan  berupa “percakapan” antara Allah Swt.   dengan “neraka jahannam” pada hakikatnya mengisyaratkan kepada kemampuan manusia yang tidak berhingga untuk melakukan dosa dan melampiaskan nafsunya yang tidak terkendalikan untuk mencari kesenangan-kesenangan duniawi, dan dengan demikian ia menempuh jalan ke neraka, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾   اَلۡہٰکُمُ  التَّکَاثُرُ ۙ﴿﴾  حَتّٰی زُرۡتُمُ  الۡمَقَابِرَ ؕ﴿﴾   کَلَّا  سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ۙ﴿﴾  ثُمَّ  کَلَّا سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ؕ﴿﴾ کَلَّا لَوۡ تَعۡلَمُوۡنَ عِلۡمَ  الۡیَقِیۡنِ ؕ﴿﴾  لَتَرَوُنَّ  الۡجَحِیۡمَ ۙ﴿﴾   ثُمَّ لَتَرَوُنَّہَا عَیۡنَ الۡیَقِیۡنِ ۙ﴿﴾  ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Dalam  upaya memperbanyak kekayaan  telah melalaikan kamu,  hingga kamu sampai di kuburan.   Sekali-kali tidak, segera kamu akan mengetahui.    Kemudian, sekali-kali tidak demikian, segera kamu akan mengetahui.  Sekali-kali tidak! Jika kamu mengetahui hakikat itu dengan ilmu yakin, لَتَرَوُنَّ  الۡجَحِیۡمَ --  niscaya kamu akan melihat Jahannam, kemudian kamu niscaya  akan melihatnya  dengan mata yakin. ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَئِذٍ عَنِ النَّعِیۡمِ -- Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanya mengenai berbagai kenikmatan. (At-Takatsūr [102]:1-9).
Firman-Nya lagi:      
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  وَیۡلٌ   لِّکُلِّ ہُمَزَۃٍ   لُّمَزَۃِۣ ۙ ﴿﴾  الَّذِیۡ جَمَعَ  مَالًا  وَّ عَدَّدَہٗ ۙ﴿﴾   یَحۡسَبُ اَنَّ مَالَہٗۤ  اَخۡلَدَہٗ ۚ﴿﴾   کَلَّا  لَیُنۡۢبَذَنَّ فِی الۡحُطَمَۃِ ۫﴿ۖ﴾   وَ  مَاۤ  اَدۡرٰىکَ مَا  الۡحُطَمَۃُ ؕ﴿﴾   نَارُ اللّٰہِ الۡمُوۡقَدَۃُ ۙ﴿﴾   الَّتِیۡ  تَطَّلِعُ  عَلَی الۡاَفۡـِٕدَۃِ ؕ﴿﴾  اِنَّہَا عَلَیۡہِمۡ  مُّؤۡصَدَۃٌ ۙ﴿﴾   فِیۡ  عَمَدٍ  مُّمَدَّدَۃٍ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha PenyayangCelakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan  menghitung-hitungnya.  Ia mengira bahwa hartanya akan menjadikannya kekal.  Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dicampakkan ke dalam Hutamah. Dan tahukah engkau apakah  Hutamah itu?  Yaitu Api Allah yang dinyalakan,    yang  naik  sampai ke hati.  Sesungguhnya api itu    ditutup rapat  atas mereka.   Diikat pada tiang-tiang yang panjang.  (Al-Humazah [104]:1-10).
      Kemudian  selaras dengan pernyataan-pernyataan keras Allah Swt. mengenai para pecinta kehidupan duniawi  tersebut Dia berfirman lagi mengenai orang-orang yang indera-indera ruhaninya  lumpuh:
وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ  لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾

Dan  sungguh  Kami benar-benar telah  menjadikan  untuk penghuni  Jahannam  banyak di antara jin dan ins (manusia),   mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti dengannya, mereka  memiliki   mata tetapi  mereka tidak melihat dengannya, mereka memiliki telinga  tetapi mereka tidak mendengar dengannyaاُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ   --    mereka itu  seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat.    اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ   --  Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’rāf [7]:180).

Bagaikan “Binatang Ternak

 Huruf lam (lā) di sini lam ‘aqibat yang menyatakan kesudahan atau akibat. Dengan demikian ayat ini tidak ada hubungannya dengan tujuan kejadian manusia melainkan hanya menyebutkan kesudahan yang patut disesalkan mengenai kehidupan kebanyakan ins (manusia) dan jin (kata jin itu juga mempunyai arti golongan manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa atau pemuka-pemuka atau orang-orang besar). Dari cara mereka menjalani hidup mereka dalam berbuat dosa dan kedurhakaan nampak seolah-olah mereka telah diciptakan untuk masuk neraka.
     Sehubungan dengan  pernyataan keras Allah Swt.:  اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ   --    mereka itu  seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat.    اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ   --  Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’rāf [7]:180), senada dengan hal tersebut dalam surah lainnya Dia berfirman:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا کَمَثَلِ الَّذِیۡ یَنۡعِقُ بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً  وَّ  نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ  فَہُمۡ  لَا  یَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan perumpamaan  keadaan orang-orang kafir itu seperti  seseorang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka.    Mereka tuli, bisu, dan buta, karena itu  mereka tidak mengerti. (Al-Baqarah [2]:172).
       Nabi Besar Muhammad saw.  menyampaikan Amanat Allah Swt.  – yakni ajaran Al-Quran   --  kepada orang-orang kafir. Beliau saw. itu penyeru dan mereka mendengar suara beliau saw., tetapi tidak berusaha menangkap maknanya. Kata-kata (seruan) beliau saw. seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf keadaan hewan dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya.

Penyegelan Indera-indera Ruhani Orang-orang Kafir

     Dengan demikian benarlah pernyataan keras Allah Swt. lainnya berikut ini, firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا سَوَآءٌ  عَلَیۡہِمۡ ءَاَنۡذَرۡتَہُمۡ  اَمۡ  لَمۡ  تُنۡذِرۡہُمۡ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ خَتَمَ اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِمۡ ؕ  وَ عَلٰۤی اَبۡصَارِہِمۡ غِشَاوَۃٌ ۫ وَّ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ٪﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang  kafir  sama saja bagi mereka, apakah   engkau  memperingatkan mereka atau pun engkau tidak   memperingatkan mereka, mereka tidak akan berimanخَتَمَ اللّٰہُ عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ وَ عَلٰی سَمۡعِہِم --   Allah  telah mencap  hati mereka dan pendengaran mereka, sedangkan pada penglihatan  mereka   ada tutupan, dan bagi mereka ada siksaan yang amat besar. (Al-Baqarah [2]:7-8).
      Ayat 7 membicarakan orang-orang kafir, yang sama sekali tidak mengindahkan kebenaran dan keadaan mereka tetap sama, baik mereka itu mendapat peringatan atau pun tidak. Mengenai orang-orang semacam itu dinyatakan bahwa selama keadaan mereka tetap demikian mereka tidak akan beriman.
       Bagian tubuh manusia yang tidak digunakan untuk waktu yang lama, berangsur-angsur menjadi merana dan tak berguna. Orang-orang kafir yang disebut di sini menolak penggunaan hati dan telinga mereka untuk memahami kebenaran, akibatnya daya pendengaran dan daya tangkap mereka hilang (lumpuh).
       Apa yang dinyatakan dalam anak kalimat, Allah telah mencap, hanya merupakan akibat wajar dari sikap membangkang mereka sendiri yang sengaja tidak mau mengacuhkan kebenaran yang disampaikan kepada mereka. Karena semua hukum datang dari  Allah Swt.  dan tiap-tiap sebab diikuti oleh akibatnya yang wajar menurut kehendak  Allah Swt.  maka pencapan hati dan telinga orang-orang kafir itu  dikaitkan (dinisbahkan) kepada  Allah Swt..

Hukuman Dalam Neraka Tidak Kekal  

   Jadi, itulah makna “percakapan kiasan” antara Allah Swt. dengan neraka  jahannam dalam ayat:   یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ --  Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:    ہَلِ امۡتَلَاۡتِ  -- “Apakah engkau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Apakah masih ada tambahan lagi?”, firman-Nya:
یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ ﴿﴾  وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ ﴿﴾  ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾  ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾  لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:    ہَلِ امۡتَلَاۡتِ  -- “Apakah eng-kau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ  --  Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa,  tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya.  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ   -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat, ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ  --  “Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. Inilah Hari yang kekal abadi.”   لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan  dan di sisi Kami  ada tambahan lagi. (Qāf [50]:31-36).
         Namun betapa pun dahsyat dan mengerikan nampaknya hukuman dalam neraka itu, tetapi  neraka menurut Al-Quran merupakan rumah tahanan sementara  yakni berfungsi seperti “rahim ibu” --  firman-Nya:  “ada pun orang-orang yang ringan timbangan amalnya maka ibunya haawiyah (jahannam). Dan apakah engkau mengetahui apa haawiyah itu, yaitu api yang menyala-nyala”   (QS.101:9-12)  -- yang mengubah “segumpal darah” menjadi bayi (QS.22:6; QS.23:13-15.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 3 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar