Rabu, 21 September 2016

Kabar Gembira Bagi Para "Pendosa" Mengenai "Maghfirah Ilahi" & Hubungan "Riba" Dengan Peperangan yang Berlarut-larut


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 18

KABAR GEMBIRA  BAGI PARA “PENDOSA” MENGENAI “MAGHFIRAH ILAHI”&  HUBUNGAN RIBA DENGAN   PEPERANGAN  YANG BERLARUT-LARUT

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 17   dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai   benih  keimanan  pada “Tauhid Ilahi” dalam fitrat manusia serta taubat sebagai penawar racun dosa yang sangat ampuh,  Masih  Mau’ud a.s.  bersabda:
      “Meskipun Allah Yang Maha Kuasa telah menyatakan kalau benih keimanan pada Ketauhidan Ilahi sudah ada dalam setiap jiwa, Dia juga menjelaskan bahwa benih tersebut tidak sama kadar kekuatannya pada setiap orang,  karena nur tersebut pada sebagian orang nyatanya dikalahkan sampai hampir redup oleh nafsu mereka sendiri.
       Sebagaimana halnya fitrat bawaan hewaniah atau fitrat agresif, begitu juga keimanan pada Tuhan Yang Satu merupakan fitrat bawaan. Betapa pun bebasnya seseorang mengumbar nafsunya dan betapa pun ia mengikuti dorongan keji dari dirinya sendiri, tetap saja ia sedikit banyak masih memiliki nur alamiah dalam dirinya.
     Sebagai contoh, bila karena dorongan nafsu atau amarah seseorang melakukan pembunuhan, pencurian atau pun zinah, maka meski tindakan tersebut merupakan tuntutan fitratnya namun nur kebaikan yang ada dalam dirinya selalu menegurnya saat ia melakukan ketidak-pantasan tersebut. Allah Yang Maha Agung menyatakan tentang hal ini dalam ayat:
فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ
“Dia mengilhamkan kepadanya jalan-jalan kejahatan dan jalan-jalan ketakwaan  (Asy-Syams [91]:9).
           Berarti bahwa Tuhan ada mengaruniakan suatu bentuk wahyu kepada setiap orang yang disebut sebagai cahaya hati yang merupakan fitrat guna membedakan di antara yang baik dan yang buruk. Sebagai contoh, ketika seorang pencuri melakukan tindak pencuriannya, atau seorang pembunuh melakukan pembunuhan, Tuhan akan menanamkan dalam batinnya rasa penyesalan karena telah melakukan suatu hal yang buruk. Hanya saja yang bersangkutan lalu tidak memperhatikannya karena cahaya hatinya amat lemah dan kalah di bawah pengaruh fitrat hewaniah serta egonya.

Taubat Merupakan Penawar Racun Dosa yang Ampuh

     Kegalauan ego orang-orang seperti itu tidak mungkin diatasi oleh orang lain, namun Tuhan telah menyediakan obat penawarnya. Apakah penawar tersebut? Penawar itu bernama pertobatan, memohonkan pengampunan dan rasa penyesalan. Berarti jika mereka melakukan suatu kekejian sejalan dengan tuntutan ego mereka, atau muncul suatu fikiran jahat dalam benak mereka, lalu mereka mencari penawar melalui pertobatan dan memohonkan keampunan (maghfirah), maka Tuhan akan mengampuni mereka.
      Bila mereka terantuk berulangkali tetapi menyesal setiap kali terjadi dan bertobat, maka rasa penyesalan dan pertobatan tersebut akan membasuh noda-noda dosa mereka.     Hal inilah yang dikenal sebagai kafarah (penebusan) hakiki guna penawar bagi dosa alamiah. Allah Swt. menyatakan mengenai hal ini dalam ayat:
وَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ سُوۡٓءًا اَوۡ یَظۡلِمۡ  نَفۡسَہٗ ثُمَّ یَسۡتَغۡفِرِ اللّٰہَ یَجِدِ اللّٰہَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا
Barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian ia meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosanya, akan didapati olehnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang (An-Nisā [4]:111).
       Ayat yang bermakna sangat dalam dan penuh kebijakan tersebut mengandung arti  bahwa sebagaimana keterperosokan dan laku dosa merupakan karakteristik dari kalbu yang cacat, tetapi tetap ada fitrat-fitrat abadi Ilahi dalam bentuk rahmat dan pengampunan,  karena Dia secara inheren (melekat) adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
        Sifat pengampunan-Nya tersebut bukan suatu hal yang kebetulan saja melainkan merupakan fitrat abadi Wujud-Nya yang memang disukai-Nya, dan yang ingin diberlakukan-Nya terhadap orang-orang yang layak. Tiap kali seseorang berpaling kepada Tuhan-nya dengan rasa penuh penyesalan dan pertobatan karena telah terperosok atau melakukan suatu tindakan dosa, ia menjadi layak memperoleh perlakuan bahwa Tuhan akan memandangnya dengan rahmat dan pengampunan.
        Hal ini tidak dibatasi pada satu atau dua kali kejadian saja karena sudah merupakan fitrat abadi Allah Yang Maha Agung bahwa Dia akan selalu berpaling (At-Tawwāb) kepada hamba-Nya yang telah menyesal dan telah bertobat.
     Dengan demikian sudah menjadi hukum alam kalau seorang yang lemah nuraninya akan sering terperosok dan alam tidak mengatur agar fitrat orang yang mengikuti nafsu hewaniahnya lalu harus diubah. Yang menjadi kaidah abadi-Nya adalah mereka yang melakukan dosa akan memperoleh pengampunan melalui laku pertobatan dan permohonan ampun.” (Brahin-i- Ahmadiyah, Safir Hind Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,  jld. I, hlm. 185-187, London, 1984).

Kabar Gembira Bagi Para Pendosa Besar

     Sesuai dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. -- mengenai peran taubat dan maghfirah Ilahi   sehubungan dengan penghapusan dosa-dosa -- tersebut Allah Swt. berfirman:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  
Katakanlah: “Hai hamba-ham-ba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri  mereka sendiri, لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ --  janganlah kamu berputus asa  dari rahmat Allah.  اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا  -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ  -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.  وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ  --  “Dan kembalilah kepada Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah  kepada-Nya sebelum azab datang kepadamu kemudian kamu tidak akan ditolong. وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ  -- Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu, sebelum datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.” (Az-Zumar [39]:54-56)
   Ayat 54   memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
   Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah Swt.  (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati   bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul lebih besar daripada itu.
  Sementara ayat-ayat sebelumnya (54-55)  memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar gembira,  ayat 56   memperingatkan mereka bahwa mereka akan harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi  --  yakni ajaran Al-Quran  (QS.5:4; QS.3:32 & 86)--  firman-Nya: وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ  -- “Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan)   kamu, sebelum datang kepada kamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.”
     Masih sehubungan dengan maghfirah (pengampunan) Allah Swt., dalam  surah berikut ini Dia berfirman:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ وَّ زِیۡنَۃٌ  وَّ تَفَاخُرٌۢ  بَیۡنَکُمۡ وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ ؕ کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ  ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ  یَکُوۡنُ حُطَامًا ؕ وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ   اِلَّا مَتَاعُ  الۡغُرُوۡرِ ﴿﴾  سَابِقُوۡۤا  اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ ۙ اُعِدَّتۡ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah  permainan, pengisi waktu, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta  bersaing dalam memperbanyak harta dan anak. کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ  ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ  یَکُوۡنُ حُطَامًا -- Kehidupan ini seperti hujan, tanaman-tanamannya mengagumkan para penanamnya kemudian  tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya menjadi kuning lalu menjadi hancur. وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ  --- Dan di akhirat ada azab sangat keras dan ada ampunan serta  keridhaan dari Allah. وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ   اِلَّا مَتَاعُ  الۡغُرُوۡرِ --  Dan sekali-kali tidaklah  kehidupan dunia ini melainkan kesenangan sementara yang menipu.      سَابِقُوۡۤا  اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ  -- Berlomba-lombalah kamu dalam mencari ampunan Rabb (Tuhan)  kamu dan surga yang nilainya  setara dengan nilai langit dan bumi اُعِدَّتۡ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ   -- yang disediakan bagi  orang-orang yang beriman kepada Allah dan para  rasul-Nya. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ --  Demikianlah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki, وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  -- dan Allah itu Pemilik karunia yang besar. (Al-Hadīd [57]:21-22).

Hakikat  Keluasan  Surga  &  Hakikat Larangan Riba

         Makna ayat:  سَابِقُوۡۤا  اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ    -- “Berlomba-lombalah kamu dalam mencari ampunan Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya  setara dengan nilai langit dan bumi yang disediakan bagi  orang-orang yang beriman kepada Allah dan para  rasul-Nya,”       karena  “ardh” berarti nilai atau keluasan maka ayat ini berarti bahwa:
(a)        ganjaran bagi orang-orang yang bertakwa di akhirat akan tidak terkira banyaknya;
(b)               karena surga itu seluas bentangan langit dan bumi – seluruh jagat raya – maka surga itu meliputi neraka juga.
Hal itu menunjukkan bahwa surga dan neraka itu bukan dua tempat yang berbeda dan terpisah, melainkan dua keadaan atau kondisi alam pikiran. Sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.   yang terkenal memberikan pengertian yang mendalam mengenai paham Al-Quran berkenaan  surga dan neraka. Pada sekali peristiwa beberapa orang sahabat bertanya: “Jika surga itu meliputi bentangan langit dan bumi dalam keluasannya, maka di manakah terletak neraka itu?” Menurut riwayat Nabi Besar Muhammad  saw.  telah memberikan jawaban atas pertanyaan itu: “Dimanakah malam bila siang tiba?” (Tafsir Ibnu Katsir).
   Sehubungan  ayat  سَابِقُوۡۤا  اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ  وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ السَّمَآءِ  وَ الۡاَرۡضِ    -- “Berlomba-lombalah kamu dalam mencari ampunan Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya  setara dengan nilai langit dan bumi yang disediakan bagi  orang-orang yang beriman kepada Allah dan para  rasul-Nya” tersebut,  dalam surah berikut ini   dihubungkan dengan   pelarangan  riba, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡکُلُوا الرِّبٰۤوا اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَۃً  ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ۚ  وَ اتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡۤ  اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ۚ  وَ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿﴾ۚ  وَ سَارِعُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ ۙ اُعِدَّتۡ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ۙ  الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ فِی السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ الۡکٰظِمِیۡنَ الۡغَیۡظَ وَ الۡعَافِیۡنَ عَنِ النَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu memakan riba yang berlipatganda, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu memperoleh keberhasilan.  وَ اتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡۤ  اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  --   Dan  peliharalah diri kamu terhadap Api  yang disediakan bagi   orang-orang kafir. وَ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ  --  Dan   taatlah kamu kepada  Allah dan Rasul ini supaya kamu dikasihani.  وَ سَارِعُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ ۙ اُعِدَّتۡ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ  --     Dan bersegeralah kamu ke arah ampunan dari  Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya  seluruh langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa. الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ فِی السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ  --   Yaitu orang-orang yang membelanjakan harta di waktu lapang dan di waktu sempit,  وَ الۡکٰظِمِیۡنَ الۡغَیۡظَ وَ الۡعَافِیۡنَ عَنِ النَّاسِ  --  yang menahan amarah dan yang memaafkan manusia, وَ اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ  --  dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.   (Ali ‘Imran [3]:131-135).
    Larangan mengenai riba dalam ayat:  یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا    -- Hai orang-orang yang beriman, لَا تَاۡکُلُوا الرِّبٰۤوا اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَۃً    --  janganlah kamu memakan riba yang berlipatganda”, memiliki hubungan dengan ayat sebelumnya  mengenai  gambaran kehidupan duniawi yang fana (tidak kekal), firman-Nya:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ وَّ زِیۡنَۃٌ  وَّ تَفَاخُرٌۢ  بَیۡنَکُمۡ وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ ؕ کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ  ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ  یَکُوۡنُ حُطَامًا ؕ وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ   اِلَّا مَتَاعُ  الۡغُرُوۡرِ ﴿﴾ 
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah  permainan, pengisi waktu, perhiasan, وَّ تَفَاخُرٌۢ  بَیۡنَکُمۡ  --  saling berbangga di antara kamu  وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ --  serta  bersaing dalam memperbanyak  harta dan anak. کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ  ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ  یَکُوۡنُ حُطَامًا  -- Kehidupan ini seperti hujan, tanaman-tanamannya mengagumkan para penanamnya kemudian  tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya menjadi kuning lalu menjadi hancur. وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ  --- Dan di akhirat ada azab sangat keras dan ada ampunan serta  keridhaan dari Allah. وَ مَا الۡحَیٰوۃُ  الدُّنۡیَاۤ   اِلَّا مَتَاعُ  الۡغُرُوۡرِ --  Dan sekali-kali tidaklah  kehidupan dunia ini melainkan kesenangan sementara yang menipu  (Al-Hadīd [57]:21).
  Kata-kata adh’āfan mudhā’afah dalam ayat:  یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡکُلُوا الرِّبٰۤوا اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَۃً     -- “Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu memakan riba yang berlipatganda”  tidak dipakai sebagai anak kalimat yang membatasi arti riba  sehingga membatasinya kepada jenis bunga uang tertentu. Kata-kata itu dipakai sebagai anak-kalimat penjelasan untuk mengisyaratkan kepada sifat yang melekat pada riba ialah bahwa riba itu terus-menerus bertambah besar, sesuai dengan firman-Nya: وَّ تَفَاخُرٌۢ  بَیۡنَکُمۡ  --  saling berbangga di antara kamu  وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ --  serta  bersaing dalam memperbanyak  harta dan anak.”

Hubungan Riba dengan Peperangan yang Berlarut-larut

 Penarikan bunga uang, meskipun sekarang disahkan oleh bangsa-bangsa Kristen, dulu dilarang oleh Nabi Musa a.s.  (Keluaran 22:25; Lewi 25:36, 37; Ulangan 23:19, 20).  Jadi, ayat ini tidak berarti bahwa riba itu diizinkan dengan prosentase yang ringan dan hanya prosentase tinggi sajalah yang dilarang.
Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran segala bentuk riba  itu dilarang, baik  yang berbunga ringan mau pun  secara berlebih-lebihan; dan kata-kata adha’āfan mudhā’afah yang diterjemahkan yang berlipatganda telah ditambahkan hanya untuk menunjuk kepada kelaziman yang berlaku di zaman Nabi Besar Muhammad saw.   Jadi, hanya batas ekstrim yang disebut di sini adalah semata-mata untuk mengemukakan keburukannya, sebenarnya segala bentuk riba  dilarang, seperti jelas dikatakan dalam ayat-ayat QS.2:276-281.
  Perintah larangan mengenai riba  dinyatakan dalam Al-Quran pada waktu membahas soal peperangan hal itu  mengandung arti yang mendalam:  وَ اتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡۤ  اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  --   “dan  peliharalah diri kamu terhadap Api  yang disediakan bagi   orang-orang kafir.”
       Dalam ayat QS.2:280 juga larangan penarikan riba  itu telah disebut sehubungan dengan soal peperangan. Hal itu menunjukkan bahwa perang dan  riba itu saling berkaitan antara satu sama lain — suatu kenyataan yang cukup terbukti dalam peperangan di zaman modern di Akhir Zaman ini. Pada hakikatnya, riba adalah salah satu penyebab peperangan dan pula membantu memperpanjang peperangan.
     Dalam ayat QS.2:276 pun larangan penarikan bunga diikuti oleh peringatan terhadap api. Jelas benar bahwa api peperanganlah yang terutama dimaksud di sini. Ungkapan “orang-orang kafir” di samping mengandung artian umum – yakni bangsa-bangsa Non Muslim -  di sini dapat juga diartikan mereka yang tidak menaati perintah Ilahi mengenai riba, sekali pun mereka itu orang-orang Muslim.
       Berikut firman Allah Swt. mengenai  keburukan yang diakibatkan riba   bagi para pelakunya   -- yakni pihak yang mengambil riba dan yang mempergunakan riba --  firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ ؕ وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang   yang memakan riba  tidak berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang syaitan merasukinya dengan penyakit gila. ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا   -- Hal demikian adalah karena mereka berkata: “Sesungguhnya jual-beli  pun sama dengan riba”,   وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا -- padahal Allah menghalalkan jual-beli tetapi mengharamkan riba.  Karena itu    barangsiapa yang kepadanya telah sampai peringatan dari Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari pelanggaran itu  maka untuknya  apa yang diterimanya di masa lalu, sedangkan urusannya terserah kepada Allah. وَ مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- Dan barangsiapa kembali lagi makan riba maka mereka adalah penghuni Api, mereka  kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:276).
      Riba secara harfiah berarti suatu kelebihan atau imbuhan, menunjukkan tambahan yang melebihi dan di atas jumlah pokok (Lexicon Lane). Riba meliputi renten atau bunga uang. Menurut hadits “tiap-tiap pinjaman yang diberikan guna menarik keuntungan”, termasuk batasan ini.
Pengertian-tambahan (konotasi) kata riba tidak betul-betul sama dengan “bunga uang” seperti biasa dipahami oleh umum. Tetapi karena tidak ada kata-kata yang lebih cocok  maka “bunga uang” dapat dipakai secara kasar sebagai kata padanannya.
      Pada hakikatnya setiap jumlah yang ditetapkan akan diterima atau dibayarkan lebih dari dan di atas apa yang dipinjamkan atau diterima sebagai pinjaman itu   adalah  “bunga uang” (riba), baik itu    urusannya  dengan perseorangan atau dengan bank atau perkumpulan atau kantor pos atau organisasi lainnya.  Riba tak terbatas pada uang saja. “Bunga uang” meliputi tiap-tiap barang dagangan yang diberikan sebagai pinjaman dengan syarat bahwa benda itu akan dikembalikan dengan kelebihan yang telah disepakati. Demikianlah penjelasan mengenai definisi riba atau “bunga uang”.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 18 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar