Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
18
KABAR GEMBIRA BAGI PARA “PENDOSA” MENGENAI “MAGHFIRAH ILAHI”& HUBUNGAN RIBA
DENGAN PEPERANGAN
YANG BERLARUT-LARUT
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab 17 dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai benih keimanan pada “Tauhid
Ilahi” dalam fitrat manusia serta
taubat sebagai penawar racun dosa yang sangat ampuh, Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Meskipun Allah
Yang Maha Kuasa telah menyatakan kalau benih keimanan
pada Ketauhidan Ilahi sudah ada dalam
setiap jiwa, Dia juga menjelaskan bahwa benih
tersebut tidak sama kadar
kekuatannya pada setiap orang, karena nur tersebut pada sebagian orang nyatanya dikalahkan
sampai hampir redup oleh nafsu mereka
sendiri.
Sebagaimana halnya fitrat bawaan
hewaniah
atau fitrat
agresif,
begitu juga keimanan
pada Tuhan
Yang Satu
merupakan fitrat bawaan. Betapa pun bebasnya
seseorang mengumbar nafsunya dan betapa pun ia mengikuti dorongan keji dari dirinya sendiri,
tetap saja ia sedikit banyak masih memiliki nur alamiah dalam dirinya.
Sebagai contoh, bila karena dorongan nafsu atau amarah seseorang melakukan pembunuhan, pencurian
atau pun zinah, maka meski tindakan tersebut merupakan tuntutan
fitratnya
namun nur
kebaikan yang ada dalam dirinya selalu
menegurnya saat ia melakukan ketidak-pantasan tersebut. Allah Yang Maha Agung menyatakan
tentang hal ini dalam ayat:
فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ
“Dia
mengilhamkan kepadanya jalan-jalan kejahatan dan jalan-jalan ketakwaan” (Asy-Syams [91]:9).
Berarti bahwa Tuhan ada mengaruniakan suatu bentuk wahyu kepada setiap
orang yang disebut sebagai cahaya hati yang merupakan fitrat
guna membedakan
di antara yang baik
dan yang
buruk.
Sebagai contoh, ketika seorang pencuri
melakukan tindak pencuriannya, atau
seorang pembunuh melakukan pembunuhan, Tuhan akan menanamkan dalam batinnya rasa penyesalan karena telah melakukan suatu hal yang buruk. Hanya saja yang bersangkutan lalu tidak memperhatikannya karena cahaya hatinya
amat lemah
dan kalah
di bawah pengaruh fitrat hewaniah serta egonya.
Taubat Merupakan Penawar
Racun Dosa yang Ampuh
Kegalauan ego orang-orang seperti itu tidak mungkin diatasi oleh orang lain, namun Tuhan telah menyediakan obat penawarnya. Apakah penawar tersebut? Penawar
itu bernama pertobatan, memohonkan
pengampunan
dan rasa
penyesalan.
Berarti jika mereka melakukan suatu kekejian sejalan dengan tuntutan ego mereka, atau muncul suatu fikiran jahat dalam benak
mereka, lalu mereka mencari penawar melalui pertobatan
dan memohonkan
keampunan (maghfirah),
maka Tuhan
akan mengampuni mereka.
Bila mereka terantuk berulangkali tetapi menyesal
setiap kali terjadi
dan bertobat, maka rasa penyesalan dan pertobatan tersebut akan membasuh noda-noda dosa mereka. Hal inilah yang dikenal sebagai kafarah (penebusan) hakiki guna penawar
bagi dosa
alamiah.
Allah Swt. menyatakan mengenai hal ini dalam
ayat:
وَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ سُوۡٓءًا اَوۡ یَظۡلِمۡ نَفۡسَہٗ ثُمَّ یَسۡتَغۡفِرِ اللّٰہَ یَجِدِ
اللّٰہَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا
Barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian ia meminta ampun kepada Allah atas dosa-dosanya, akan didapati olehnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang (An-Nisā
[4]:111).
Ayat yang bermakna sangat dalam
dan penuh kebijakan tersebut
mengandung arti bahwa sebagaimana keterperosokan dan laku dosa merupakan karakteristik dari kalbu yang cacat, tetapi tetap ada fitrat-fitrat abadi Ilahi dalam bentuk rahmat dan pengampunan, karena Dia secara
inheren (melekat)
adalah Maha
Pengampun
dan Maha
Penyayang.
Sifat
pengampunan-Nya tersebut bukan suatu hal yang kebetulan saja melainkan merupakan fitrat abadi Wujud-Nya yang memang disukai-Nya, dan yang ingin diberlakukan-Nya terhadap orang-orang yang layak. Tiap kali seseorang berpaling kepada Tuhan-nya dengan rasa penuh penyesalan dan pertobatan karena telah terperosok atau melakukan suatu tindakan dosa, ia menjadi layak memperoleh perlakuan bahwa Tuhan akan memandangnya dengan rahmat dan pengampunan.
Hal ini tidak
dibatasi pada satu atau dua kali
kejadian
saja karena sudah merupakan fitrat abadi Allah Yang Maha Agung bahwa Dia akan selalu berpaling (At-Tawwāb) kepada hamba-Nya yang telah menyesal dan telah bertobat.
Dengan demikian sudah menjadi hukum alam kalau seorang yang lemah nuraninya akan sering
terperosok dan alam tidak mengatur
agar fitrat orang yang mengikuti nafsu hewaniahnya lalu harus diubah. Yang menjadi kaidah abadi-Nya adalah mereka yang melakukan dosa
akan memperoleh pengampunan melalui laku pertobatan dan permohonan ampun.” (Brahin-i- Ahmadiyah, Safir Hind
Press, Amritsar, 1882, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.
I, hlm. 185-187, London, 1984).
Kabar Gembira Bagi Para Pendosa
Besar
Sesuai dengan penjelasan Masih Mau’ud a.s. -- mengenai peran taubat dan maghfirah Ilahi sehubungan
dengan penghapusan dosa-dosa --
tersebut Allah Swt. berfirman:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ
اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ
لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ
الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ
ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Katakanlah:
“Hai hamba-ham-ba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ
رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ -- janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. اِنَّ اللّٰہَ
یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.
اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ -- “Dan kembalilah
kepada Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah
kepada-Nya sebelum azab datang kepadamu kemudian kamu tidak akan ditolong. وَ اتَّبِعُوۡۤا
اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً
وَّ اَنۡتُمۡ لَا
تَشۡعُرُوۡنَ -- Dan
ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu, sebelum datang kepadamu
azab dengan tiba-tiba, sedang kamu
tidak menyadari.” (Az-Zumar [39]:54-56)
Ayat 54 memberi
amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan.
Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah Swt. (QS.6:55;
QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan
hati bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul lebih
besar daripada itu.
Sementara ayat-ayat sebelumnya (54-55) memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar gembira, ayat 56 memperingatkan mereka bahwa mereka akan harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi -- yakni ajaran Al-Quran (QS.5:4; QS.3:32 & 86)-- firman-Nya: وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی
رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ --
“Dan ikutilah ajaran terbaik
yang telah diturunkan kepada kamu
dari Rabb (Tuhan) kamu,
sebelum datang kepada kamu azab dengan
tiba-tiba, sedang kamu tidak
menyadari.”
Masih sehubungan dengan maghfirah (pengampunan) Allah Swt., dalam surah berikut ini Dia berfirman:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ وَّ
زِیۡنَۃٌ وَّ تَفَاخُرٌۢ بَیۡنَکُمۡ وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ
الۡاَوۡلَادِ ؕ کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا
ثُمَّ یَکُوۡنُ حُطَامًا ؕ وَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ
مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ
اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ ﴿﴾ سَابِقُوۡۤا اِلٰی
مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ ۙ اُعِدَّتۡ
لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ
مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو
الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia
ini hanyalah permainan, pengisi waktu,
perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta bersaing
dalam memperbanyak harta dan anak.
کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ
نَبَاتُہٗ ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ
مُصۡفَرًّا ثُمَّ یَکُوۡنُ حُطَامًا -- Kehidupan ini seperti hujan, tanaman-tanamannya
mengagumkan para penanamnya kemudian
tanaman itu menjadi kering
dan engkau melihatnya menjadi kuning
lalu menjadi hancur. وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ
اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ --- Dan di akhirat ada azab sangat keras dan ada ampunan serta keridhaan
dari Allah. وَ مَا
الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ -- Dan sekali-kali
tidaklah kehidupan dunia ini
melainkan kesenangan sementara yang
menipu. سَابِقُوۡۤا
اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ
رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ -- Berlomba-lombalah
kamu dalam mencari ampunan Rabb
(Tuhan) kamu dan surga yang nilainya setara dengan nilai langit dan bumi اُعِدَّتۡ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- yang disediakan
bagi orang-orang yang beriman kepada Allah
dan para rasul-Nya. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ -- Demikianlah karunia Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki, وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ -- dan Allah itu Pemilik karunia yang besar. (Al-Hadīd
[57]:21-22).
Hakikat Keluasan Surga & Hakikat Larangan
Riba
Makna ayat:
سَابِقُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ -- “Berlomba-lombalah kamu dalam mencari
ampunan Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya setara
dengan nilai langit dan bumi
yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah
dan para rasul-Nya,” karena “ardh” berarti nilai atau keluasan maka
ayat ini berarti bahwa:
(a) ganjaran bagi orang-orang yang bertakwa di akhirat
akan tidak terkira banyaknya;
(b) karena surga itu seluas bentangan langit dan bumi
– seluruh jagat raya – maka surga itu
meliputi neraka juga.
Hal itu menunjukkan bahwa surga dan neraka itu bukan dua tempat
yang berbeda dan terpisah, melainkan dua
keadaan atau kondisi alam pikiran.
Sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw. yang terkenal memberikan pengertian
yang mendalam mengenai paham Al-Quran berkenaan surga
dan neraka. Pada sekali peristiwa
beberapa orang sahabat bertanya: “Jika
surga itu meliputi bentangan langit dan bumi dalam keluasannya, maka di manakah
terletak neraka itu?” Menurut riwayat Nabi Besar Muhammad saw. telah memberikan jawaban atas pertanyaan
itu: “Dimanakah malam bila siang tiba?”
(Tafsir
Ibnu Katsir).
Sehubungan ayat سَابِقُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا کَعَرۡضِ
السَّمَآءِ وَ الۡاَرۡضِ -- “Berlomba-lombalah kamu dalam mencari ampunan
Rabb (Tuhan) kamu dan surga yang nilainya setara dengan nilai langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah
dan para rasul-Nya”
tersebut, dalam surah berikut ini dihubungkan
dengan pelarangan riba, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡکُلُوا الرِّبٰۤوا
اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَۃً ۪ وَ
اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ۚ وَ
اتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡۤ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ۚ وَ
اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ
لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿﴾ۚ وَ
سَارِعُوۡۤا اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ جَنَّۃٍ
عَرۡضُہَا السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ ۙ اُعِدَّتۡ
لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ فِی
السَّرَّآءِ وَ الضَّرَّآءِ وَ الۡکٰظِمِیۡنَ الۡغَیۡظَ
وَ الۡعَافِیۡنَ عَنِ النَّاسِ ؕ وَ
اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang berlipatganda, dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu memperoleh keberhasilan. وَ اتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡۤ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ -- Dan peliharalah
diri kamu terhadap Api yang disediakan bagi orang-orang
kafir. وَ
اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ لَعَلَّکُمۡ
تُرۡحَمُوۡنَ -- Dan taatlah
kamu kepada Allah dan Rasul ini supaya kamu dikasihani. وَ سَارِعُوۡۤا
اِلٰی مَغۡفِرَۃٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ
جَنَّۃٍ عَرۡضُہَا السَّمٰوٰتُ
وَ الۡاَرۡضُ ۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِیۡنَ -- Dan bersegeralah kamu ke arah ampunan dari Rabb
(Tuhan) kamu dan surga yang nilainya seluruh langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang bertakwa. الَّذِیۡنَ
یُنۡفِقُوۡنَ فِی السَّرَّآءِ
وَ الضَّرَّآءِ -- Yaitu
orang-orang yang membelanjakan harta di waktu lapang dan di waktu sempit,
وَ الۡکٰظِمِیۡنَ
الۡغَیۡظَ وَ الۡعَافِیۡنَ عَنِ النَّاسِ -- yang menahan
amarah dan yang memaafkan manusia,
وَ
اللّٰہُ یُحِبُّ الۡمُحۡسِنِیۡنَ -- dan Allah
mencintai orang-orang yang berbuat
ihsan. (Ali
‘Imran [3]:131-135).
Larangan mengenai riba dalam ayat: یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- Hai orang-orang yang beriman, لَا
تَاۡکُلُوا الرِّبٰۤوا اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَۃً
-- janganlah
kamu memakan riba yang berlipatganda”, memiliki hubungan dengan ayat
sebelumnya mengenai gambaran kehidupan
duniawi yang fana (tidak kekal),
firman-Nya:
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَا لَعِبٌ وَّ لَہۡوٌ وَّ
زِیۡنَۃٌ وَّ تَفَاخُرٌۢ بَیۡنَکُمۡ وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ
ؕ کَمَثَلِ غَیۡثٍ اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا
ثُمَّ یَکُوۡنُ حُطَامًا ؕ وَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ
مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ ؕ وَ مَا الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ
اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ ﴿﴾
Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia
ini hanyalah permainan, pengisi waktu,
perhiasan, وَّ تَفَاخُرٌۢ بَیۡنَکُمۡ -- saling berbangga di antara kamu وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ -- serta bersaing dalam memperbanyak harta dan anak. کَمَثَلِ غَیۡثٍ
اَعۡجَبَ الۡکُفَّارَ نَبَاتُہٗ ثُمَّ
یَہِیۡجُ فَتَرٰىہُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ
یَکُوۡنُ حُطَامًا -- Kehidupan
ini seperti hujan, tanaman-tanamannya mengagumkan para
penanamnya kemudian tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya menjadi kuning lalu
menjadi hancur. وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ شَدِیۡدٌ ۙ وَّ مَغۡفِرَۃٌ مِّنَ
اللّٰہِ وَ رِضۡوَانٌ --- Dan di akhirat ada azab sangat keras dan ada ampunan serta keridhaan
dari Allah. وَ مَا
الۡحَیٰوۃُ الدُّنۡیَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الۡغُرُوۡرِ -- Dan sekali-kali
tidaklah kehidupan dunia ini
melainkan kesenangan sementara yang
menipu (Al-Hadīd [57]:21).
Kata-kata adh’āfan mudhā’afah dalam
ayat: یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَاۡکُلُوا الرِّبٰۤوا اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَۃً
-- “Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu memakan riba yang berlipatganda” tidak dipakai sebagai anak kalimat yang membatasi arti riba sehingga membatasinya kepada jenis bunga uang tertentu. Kata-kata itu
dipakai sebagai anak-kalimat penjelasan
untuk mengisyaratkan kepada sifat yang
melekat pada riba ialah bahwa riba
itu terus-menerus bertambah besar,
sesuai dengan firman-Nya: وَّ
تَفَاخُرٌۢ بَیۡنَکُمۡ -- saling
berbangga di antara kamu وَ تَکَاثُرٌ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ -- serta bersaing
dalam memperbanyak harta dan anak.”
Hubungan Riba dengan Peperangan yang Berlarut-larut
Penarikan bunga
uang, meskipun sekarang disahkan
oleh bangsa-bangsa Kristen, dulu dilarang oleh Nabi Musa a.s. (Keluaran
22:25; Lewi 25:36, 37; Ulangan 23:19, 20). Jadi, ayat ini tidak berarti bahwa riba itu diizinkan dengan prosentase
yang ringan dan hanya prosentase tinggi sajalah yang dilarang.
Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran
segala bentuk riba itu dilarang,
baik yang berbunga ringan mau pun secara berlebih-lebihan; dan kata-kata adha’āfan
mudhā’afah yang diterjemahkan yang berlipatganda telah ditambahkan
hanya untuk menunjuk kepada kelaziman
yang berlaku di zaman Nabi Besar Muhammad saw. Jadi, hanya batas ekstrim yang disebut di sini adalah semata-mata untuk
mengemukakan keburukannya, sebenarnya
segala bentuk riba dilarang, seperti jelas dikatakan dalam
ayat-ayat QS.2:276-281.
Perintah larangan mengenai riba
dinyatakan dalam Al-Quran pada waktu membahas soal peperangan hal itu mengandung
arti yang mendalam: وَ اتَّقُوا النَّارَ
الَّتِیۡۤ اُعِدَّتۡ
لِلۡکٰفِرِیۡنَ -- “dan peliharalah
diri kamu terhadap Api yang disediakan bagi orang-orang
kafir.”
Dalam ayat QS.2:280 juga larangan penarikan riba itu telah disebut sehubungan dengan soal peperangan. Hal itu menunjukkan
bahwa perang dan riba
itu saling berkaitan antara satu sama
lain — suatu kenyataan yang cukup terbukti dalam peperangan di zaman modern di Akhir
Zaman ini. Pada hakikatnya, riba
adalah salah satu penyebab peperangan
dan pula membantu memperpanjang
peperangan.
Dalam
ayat QS.2:276 pun larangan penarikan bunga diikuti oleh peringatan terhadap api. Jelas benar
bahwa api peperanganlah yang terutama
dimaksud di sini. Ungkapan “orang-orang kafir” di samping mengandung
artian umum – yakni bangsa-bangsa Non
Muslim - di sini dapat juga
diartikan mereka yang tidak menaati perintah Ilahi mengenai riba, sekali pun mereka itu orang-orang Muslim.
Berikut firman Allah Swt. mengenai keburukan
yang diakibatkan riba bagi para pelakunya -- yakni pihak yang mengambil riba dan yang mempergunakan riba -- firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ یَاۡکُلُوۡنَ الرِّبٰوا لَا یَقُوۡمُوۡنَ اِلَّا کَمَا یَقُوۡمُ الَّذِیۡ یَتَخَبَّطُہُ الشَّیۡطٰنُ مِنَ الۡمَسِّ ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا ۘ وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ فَمَنۡ جَآءَہٗ مَوۡعِظَۃٌ مِّنۡ رَّبِّہٖ فَانۡتَہٰی فَلَہٗ مَا سَلَفَ ؕ وَ اَمۡرُہٗۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ وَ
مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang memakan riba tidak
berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang syaitan merasukinya
dengan penyakit gila. ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَالُوۡۤا اِنَّمَا الۡبَیۡعُ مِثۡلُ الرِّبٰوا -- Hal demikian adalah karena
mereka berkata: “Sesungguhnya jual-beli pun sama
dengan riba”, وَ
اَحَلَّ
اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا -- padahal Allah menghalalkan jual-beli tetapi mengharamkan riba. Karena itu
barangsiapa yang kepadanya telah
sampai peringatan dari Rabb-nya (Tuhan-nya) lalu berhenti dari
pelanggaran itu maka untuknya
apa yang diterimanya di masa lalu, sedangkan urusannya terserah kepada Allah.
وَ
مَنۡ عَادَ فَاُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ
النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- Dan barangsiapa
kembali lagi makan riba maka mereka
adalah penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:276).
Riba secara harfiah berarti suatu kelebihan atau imbuhan, menunjukkan tambahan
yang melebihi dan di atas jumlah pokok
(Lexicon Lane). Riba meliputi renten atau bunga uang.
Menurut hadits “tiap-tiap pinjaman yang
diberikan guna menarik keuntungan”, termasuk batasan ini.
Pengertian-tambahan (konotasi)
kata riba tidak betul-betul sama dengan “bunga uang” seperti biasa dipahami oleh umum. Tetapi karena tidak
ada kata-kata yang lebih cocok maka “bunga uang” dapat dipakai secara kasar
sebagai kata padanannya.
Pada hakikatnya setiap jumlah yang ditetapkan akan diterima atau dibayarkan
lebih dari dan di atas apa yang
dipinjamkan atau diterima sebagai
pinjaman itu adalah “bunga uang” (riba), baik itu urusannya dengan perseorangan
atau dengan bank atau perkumpulan atau kantor pos atau organisasi lainnya. Riba
tak terbatas pada uang saja. “Bunga
uang” meliputi tiap-tiap barang dagangan
yang diberikan sebagai pinjaman
dengan syarat bahwa benda itu akan
dikembalikan dengan kelebihan
yang telah disepakati. Demikianlah
penjelasan mengenai definisi riba
atau “bunga uang”.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 18 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar