Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
22
JIWA ORANG BERIMAN LEBIH MULIA
DARIPADA KA’BAH (BAITULLAH) KARENA DI
DALAM FITRAT MANUSIA ALLAH SWT. TELAH MENANAMKAN TAUHID
ILAHI & PENTINGNYA BERIMAN KEPADA RASUL ALLAH
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 21
dikemukakan mengenai alasan
pelarangan orang-orang musyrik
berziarah ke Baitullah (Ka’bah):
اَجَعَلۡتُمۡ
سِقَایَۃَ الۡحَآجِّ وَ عِمَارَۃَ
الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ کَمَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ جٰہَدَ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَا یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی
الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۘ﴾ اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ دَرَجَۃً
عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu anggap memberi minum orang-orang
yang melaksanakan haji dan memelihara
Masjidilharam itu sama seperti
orang yang beriman kepada Allah, Hari
Kemudian, dan yang berjihad pada jalan Allah?
لَا یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ -- Mereka tidak sama di sisi
Allah وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ دَرَجَۃً عِنۡدَ اللّٰہِ -- Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa, mereka memiliki derajat
yang tertinggi di sisi Allah. وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡفَآئِزُوۡنَ -- Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah
[9]:19-20).
Pengkhidmatan lahiriah (jasmani) terhadap Ka’bah
seperti yang selama ini dilakukan -- sekalipun merupakan satu perbuatan terpuji --
tetapi sedikit pun tidak ada
artinya bila dibandingkan dengan pengkhidmatan
ruhaniah yang hanya dapat dijalankan
(dilakukan) oleh seorang Muslim sejati, yang menyambut seruan Allah Swt. melalui pengutusan rasul-Nya:
رَبَّنَاۤ
اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا
بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا
فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ
وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
“Wahai Tuhan
kami, sesungguhnya kami telah mendengar
seorang Penyeru menyeru kami kepada
keimanan seraya berkata: اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ -- "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" فَاٰمَنَّا -- maka kami
telah beriman. Wahai Rabb (Tuhan)
kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, hapuskanlah
dari kami kesalahan-kesalahan kami,
dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbuat kebajikan. Wahai
Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah
Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan
rasul-rasul Eng-kau, dan janganlah
Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.”
(Âli
‘Imran [3]:194-195).
Jiwa Orang Beriman Lebih Mulia Daripada Ka’bah
Jadi, pengkhidmatan Ka’bah (Baitullah) yang dikemukakan
At-Taubah [9]:19-20
sebelumnya mengandung arti bahwa Islam
lebih mengutamakan semangat (ruh)
yang menjiwai peraturan-peraturannya
daripada bentuknya yang lahir. Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa jiwa seorang mukmin jauh lebih suci daripada Ka’bah (Ibnu Majah).
Beliau saw. bersabda: “Setitik
darah seorang Muslim adalah lebih bernilai dari seluruh Ka’bah dan sekelilingnya”
(Riwayat Bukhari dan
Muslim).
Mengapa demikian? Sebab pada
hakikatnya keberadaan Ka’bah
(Baitullah) di lembah Bakkah (Mekkah)
merupakan lambang keimanan kepada Tauhid Ilahi
yang telah ditanamkan Allah Swt.
dalam jiwa (ruh) setiap manusia,
tetapi keimanan kepada “Tauhid Ilahi”
yang tertanam dalam jiwa manusia itu cenderung tenggelam
oleh himpitan hawa-nafsu manusia -- yakni nafs
Ammarah (QS.12:54) -- firman-Nya:
وَ اِذۡ
اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ
اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ
تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا
ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ
﴿ ﴾ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil
kesaksian dari bani
Adam yakni dari sulbi
keturunan mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman: اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ -- Hal itu
supaya kamu tidak berkata pada Hari
Kiamat: “Sesungguhnya kami benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ
اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
-- Atau kamu
mengatakan: ”Sesungguhnya
bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا
بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan
oleh orang-orang yang berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya mereka kembali kepada yang haq.
(Al-A’rāf [7]:173-175).
Ayat itu menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam serta mengendalikannya (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk
kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt. dan
ungkapan “dari sulbi bani Adam”
maksudnya umat dari setiap zaman yang
kepada mereka rasul Allah diutus(QS.7:35-37).
Hakikat Pengutusan Rasul Allah
Pada
hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul Allah
yang dijanjikan tersebut itulah yang mendorong
timbulnya pertanyaan Ilahi kepada jiwa
manusia: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah
Aku Rabb (Tuhan) kamu?” dan jawaban mereka: قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi”
mengisyaratkan
kepada jiwa-jiwa manusia yang suci yang menerima Tauhid
Ilahi hakiki yang diajarkan oleh rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
Allah Swt. kepada Bani Adam, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu,
maka apabila telah datang batas waktunya,
mereka tidak dapat mengundurkannya
barang sesaat pun dan tidak pula
dapat memajukannya. ٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada
kamu rasul-rasul dari antaramu yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepadamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ
اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
-- maka barangsiapa bertakwa
dan memperbaiki diri, tidak akan ada
ketakutan menimpa mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- Dan orang-orang
yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya (Al-A’rāf [7]:35-37).
Jadi, pertanyaan Ilahi اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi”
itu juga mengandung makna bahwa jika
Allah Swt. telah
menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan
demikian pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian
betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya.
Sesungguhnya
karena menolak nabi mereka maka manusia menjadi saksi terhadap diri mereka
sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih
bahwa mereka tidak mengetahui Allah atau syariat-Nya
atau Hari Pembalasan. Itulah makna ayat: اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ
اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا
غٰفِلِیۡنَ “Hal itu supaya kamu
tidak berkata pada Hari Kiamat:
“Sesungguhnya kami benar-benar lengah dari hal ini.”
Pentingnya Beriman kepada Rasul Allah
Guna Memunculkan Kembali “Tauhid Ilahi” Dalam Jiwa Manusia
Kemunculan seorang nabi Allah juga menghambat kaumnya dari mengemukakan dalih seperti dalam ayat 173 di atas,
sebab pada saat itulah haq
(kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan
dengan terang benderang dicela,
firman-Nya:
اَوۡ
تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا
ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ
﴿ ﴾
Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang berbuat batil
itu?” (Al-A’rāf [7]:174).
Dengan demikian
jelaslah, bahwa melakukan pendustaan
dan penentangan terhadap rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan sama dengan membiarkan Baitullah dikotori oleh keberadaan patung-patung sembahan orang-orang musyrik, dan sama dengan membiarkan Tauhid Ilahi yang tertanam dalam jiwa setiap jiwa (ruh) manusia dihimpit
oleh kemusyrkan.
Sebaliknya,
orang-orang yang yang menerima seruan
rasul Allah dan beriman kepada pendakwaannya
sama seperti jawaban ruh terhadap pertanyaan Allah Swt. kepadanya: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ
-- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.”
Itulah makna sabda Nabi Besar Muhammad saw. sebelum
ini bahwa jiwa seorang mukmin
jauh lebih suci daripada Ka’bah (Ibnu Majah). Beliau saw. bersabda: “Setitik darah seorang Muslim adalah lebih
bernilai dari seluruh Ka’bah dan sekelilingnya” (Riwayat Bukhari
dan Muslim).
Tetapi
sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut tidak berlaku bagi jiwa
manusia yang mendustakan dan menentang pendakwaan Rasul Allah, itulah sebabnya Allah Swt. telah mengazab
dan membinasakan kaum-kaum purbakala yang berlaku takabbur
seperti itu (QS.17:16; QS.22:46-49; QS.28:60;
QS.29:41).
Jadi, betapa pentingnya beriman kepada Rasul Allah
yang kedatangannya dijanjikan tersebut, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَتَّخِذُوۡۤا اٰبَآءَکُمۡ وَ اِخۡوَانَکُمۡ
اَوۡلِیَآءَ اِنِ
اسۡتَحَبُّوا الۡکُفۡرَ عَلَی الۡاِیۡمَانِ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil bapak-bapakmu
dan saudara-saudara laki-lakimu
menjadi sahabat jika mereka lebih mencintai kekafiran daripada iman.
Dan barangsiapa di antara kamu menjadikan
mereka sebagai pelindung-pelindung
maka mereka adalah orang-orang yang zalim. (Al Taubah [9]:23).
Hizbullāh (Golongan Allah)
Makna
ayat “jika mereka lebih mencintai kekafiran daripada iman” mengisyaratkan kepada segolongan orang-orang kafir yang aktif memusuhi Islam dan berupaya keras untuk memusnahkannya.
Itulah makna firman-Nya: “Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil
bapak-bapakmu dan saudara-saudara laki-lakimu menjadi sahabat”. Selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
قُلۡ اِنۡ کَانَ اٰبَآؤُکُمۡ وَ اَبۡنَآؤُکُمۡ وَ اِخۡوَانُکُمۡ
وَ اَزۡوَاجُکُمۡ وَ عَشِیۡرَتُکُمۡ وَ اَمۡوَالُۨ اقۡتَرَفۡتُمُوۡہَا وَ
تِجَارَۃٌ
تَخۡشَوۡنَ کَسَادَہَا وَ مَسٰکِنُ تَرۡضَوۡنَہَاۤ اَحَبَّ اِلَیۡکُمۡ مِّنَ
اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ وَ جِہَادٍ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ فَتَرَبَّصُوۡا حَتّٰی یَاۡتِیَ اللّٰہُ
بِاَمۡرِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ
لَا یَہۡدِی
الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:
“Jika ayah-ayah kamu, anak-anak lelaki kamu, saudara-saudara lelaki kamu, istri-istri
kamu, kerabat kamu, harta yang kamu telah meng-upayakannya, perniagaan
yang kamu khawatirkan kerugiannya
dan tempat tinggal yang kamu menyukainya, kesemuanya اَحَبَّ اِلَیۡکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ وَ جِہَادٍ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ -- lebih
kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya,
dan berjihad di jalan-Nya, فَتَرَبَّصُوۡا حَتّٰی یَاۡتِیَ اللّٰہُ بِاَمۡرِہٖ -- maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡن -- dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (Al Taubah [9]:24).
Jadi, berkenaan dengan Tauhid Ilahi yang diajarkan rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
(QS.7:35-37), hendaknya ikatan-ikatan kekeluargaan dan kecintaan kepada kaum kerabat serta pertimbangan-pertimbangan duniawi lainnya -- seperti kekayaan,
perdagangan dan harta -- hendaknya jangan
dibiarkan menjadi penghalang, bila ada suatu perhubungan yang lebih berharga dan suatu tujuan
yang lebih mulia serta pertimbangan-pertimbangan yang lebih penting menuntut pengorbanan mereka, itulah hakikat Lā Ilāha Illallāh (tidak ada Tuhan
kecuali Allah) yang harus diperagakan melalui amal.
Allah Swt. menyebut orang-orang lebih mengutamakan kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasul
Allah seperti itu Hizbullāh (golongan/partai Allah) firman-Nya:
لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ
الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ
وَ رَسُوۡلَہٗ وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ
اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ اِخۡوَانَہُمۡ
اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ
کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ
تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ
وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan
beriman kepada Allah dan Hari Akhir
tetapi mereka mencintai orang-orang yang
memusuhi Allah dan Rasul-Nya, walau pun mereka itu bapak-bapak mereka
atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. اُولٰٓئِکَ کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ
اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan
Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham
dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا -- dan Dia
akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ
حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ
اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka ridha
kepada-Nya. Itulah golongan Allah.
Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang berhasil. (Al-Mujādalah
[58]:23), Lihat pula QS.5:55-57.
Kabar Gembira
dari Allah Swt.
kembali kepada ayat-ayat yang
melarang orang-orang musyrik berziarah ke Ka’bah
(Baitullah), Allah Swt. menyatakan bahwa
pengkhidmatan secara jasmani
penduduk Mekkah terhadap Ka’bah (Baitullah) tidak sebanding
dengan pengkhidmatan secara ruhani oleh orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya yang kedatangannya dijanjikan
(QS.7:35-37), firman-Nya:
اَجَعَلۡتُمۡ
سِقَایَۃَ الۡحَآجِّ وَ
عِمَارَۃَ
الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ کَمَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ جٰہَدَ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَا یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی
الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۘ﴾ اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ دَرَجَۃً
عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu anggap memberi minum orang-orang
yang melaksanakan haji dan memelihara
Masjidilharam itu sama seperti
orang yang beriman kepada Allah, Hari
Kemudian, dan yang berjihad pada jalan Allah?
لَا یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ -- Mereka tidak sama di sisi
Allah وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ دَرَجَۃً عِنۡدَ اللّٰہِ -- Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka memiliki derajat yang tertinggi di sisi Allah. وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡفَآئِزُوۡنَ -- Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah
[9]:19-20).
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman:
یُبَشِّرُہُمۡ رَبُّہُمۡ بِرَحۡمَۃٍ مِّنۡہُ وَ رِضۡوَانٍ وَّ جَنّٰتٍ لَّہُمۡ
فِیۡہَا نَعِیۡمٌ مُّقِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اَبَدًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عِنۡدَہٗۤ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Rabb (Tuhan) mereka memberi kabar gembira kepada mereka
mengenai rahmat dari-Nya, keridhaan-Nya, dan kebun-kebun, di dalamnya mereka akan memperoleh nikmat
yang abadi. Mereka kekal
di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah di sisi-Nya terdapat ganjaran yang besar. (At-Taubah [9]:21-22).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 26 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar