Rabu, 28 September 2016

Jiwa "Orang Beriman" Lebih Mulia Daripada "Ka'bah" (Baitullah) Karena di Dalam "Fitrat" Manusia Allah Swt. Telah Menanamkan "Tauhid Ilahi"




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 22

JIWA ORANG BERIMAN LEBIH MULIA DARIPADA KA’BAH (BAITULLAH) KARENA DI DALAM FITRAT MANUSIA  ALLAH SWT. TELAH MENANAMKAN  TAUHID ILAHI & PENTINGNYA BERIMAN KEPADA RASUL ALLAH

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma




D
alam  bagian  akhir Bab 21   dikemukakan  mengenai  alasan pelarangan orang-orang musyrik berziarah ke Baitullah (Ka’bah):
اَجَعَلۡتُمۡ سِقَایَۃَ الۡحَآجِّ وَ عِمَارَۃَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ کَمَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  وَ جٰہَدَ  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَا  یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۘ﴾ اَلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ  دَرَجَۃً  عِنۡدَ  اللّٰہِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu anggap memberi minum orang-orang yang melaksanakan haji dan  memelihara Masjidilharam itu sama seperti orang yang beriman kepada Allah, Hari Kemudian, dan  yang  berjihad pada jalan Allah? لَا  یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ   -- Mereka tidak sama di sisi Allah  وَ اللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ --     dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. اَلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ  دَرَجَۃً  عِنۡدَ  اللّٰہِ   -- Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa, mereka  memiliki derajat yang tertinggi di sisi Allah.  وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفَآئِزُوۡنَ  -- Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah [9]:19-20). 
        Pengkhidmatan lahiriah (jasmani) terhadap Ka’bah  seperti yang selama ini dilakukan  -- sekalipun merupakan satu perbuatan terpuji  --  tetapi sedikit pun tidak ada artinya bila dibandingkan dengan pengkhidmatan ruhaniah yang hanya dapat dijalankan (dilakukan) oleh seorang Muslim sejati,  yang menyambut seruan Allah Swt. melalui pengutusan rasul-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:   اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ     -- "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan)  kamu" فَاٰمَنَّا  -- maka kami telah beriman. Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami,  hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan. Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Eng-kau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Âli ‘Imran [3]:194-195).

Jiwa  Orang Beriman Lebih Mulia Daripada Ka’bah

       Jadi, pengkhidmatan Ka’bah (Baitullah) yang dikemukakan  At-Taubah [9]:19-20  sebelumnya mengandung arti bahwa Islam lebih mengutamakan semangat (ruh) yang menjiwai peraturan-peraturannya daripada bentuknya yang lahir. Nabi Besar Muhammad saw.   diriwayatkan pernah bersabda bahwa jiwa seorang mukmin jauh lebih suci daripada Ka’bah (Ibnu Majah). Beliau saw. bersabda: “Setitik darah seorang Muslim adalah lebih bernilai dari seluruh Ka’bah dan sekelilingnya(Riwayat Bukhari dan Muslim).
     Mengapa demikian?  Sebab pada hakikatnya keberadaan Ka’bah (Baitullah) di lembah Bakkah (Mekkah) merupakan lambang  keimanan kepada Tauhid Ilahi yang telah ditanamkan Allah Swt. dalam jiwa (ruh) setiap manusia, tetapi  keimanan kepada “Tauhid Ilahi  yang tertanam dalam jiwa manusia itu cenderung  tenggelam  oleh himpitan   hawa-nafsu manusia   -- yakni nafs Ammarah (QS.12:54)  --  firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿    وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam  yakni   dari sulbi  keturunan  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri sambil berfirman: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?”  قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا  -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ   --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ    -- Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  -- Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?”  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ  --  Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu  dan supaya mereka kembali kepada yang haq.  (Al-A’rāf [7]:173-175). 
  Ayat itu menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki jalan menuju Allah Swt. dan ungkapan “dari sulbi  bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus(QS.7:35-37).

Hakikat Pengutusan Rasul Allah

  Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul Allah yang dijanjikan tersebut  itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaan  Ilahi  kepada jiwa manusia: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” dan jawaban mereka:   قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا  -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi       mengisyaratkan kepada jiwa-jiwa manusia yang suci yang menerima   Tauhid Ilahi hakiki  yang diajarkan oleh rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada Bani Adam,  firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  ٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ --   Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepadamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ  -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  Dan  orang-orang yang men-dustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya (Al-A’rāf [7]:35-37).
 Jadi, pertanyaan Ilahi اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ     --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?”  قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا  -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi   itu juga mengandung makna bahwa    jika Allah Swt.    telah menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan demikian  pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya.
 Sesungguhnya karena menolak nabi mereka  maka manusia menjadi saksi terhadap diri  mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih bahwa  mereka tidak mengetahui Allah atau syariat-Nya atau Hari Pembalasan. Itulah makna ayat:  اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.”

Pentingnya Beriman kepada Rasul Allah Guna Memunculkan Kembali  Tauhid Ilahi” Dalam Jiwa Manusia

  Kemunculan seorang nabi Allah juga menghambat kaumnya dari mengemukakan dalih seperti dalam ayat 173 di atas, sebab pada saat itulah  haq   (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan  terang benderang dicela, firman-Nya:
اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿ 
Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?” (Al-A’rāf [7]:174).
  Dengan demikian jelaslah, bahwa melakukan pendustaan dan penentangan terhadap rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan sama dengan membiarkan Baitullah dikotori oleh keberadaan patung-patung sembahan orang-orang musyrik, dan sama dengan membiarkan Tauhid Ilahi yang tertanam dalam jiwa setiap jiwa (ruh) manusia dihimpit oleh kemusyrkan.
 Sebaliknya, orang-orang yang yang menerima seruan rasul Allah dan beriman kepada pendakwaannya sama seperti jawaban ruh terhadap pertanyaan Allah Swt. kepadanya: اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ   -- ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?”  قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا  -- Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.”
   Itulah makna  sabda Nabi Besar Muhammad saw.  sebelum  ini bahwa jiwa seorang mukmin jauh lebih suci daripada Ka’bah (Ibnu Majah). Beliau saw. bersabda: “Setitik darah seorang Muslim adalah lebih bernilai dari seluruh Ka’bah dan sekelilingnya(Riwayat Bukhari dan Muslim).
 Tetapi   sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut tidak berlaku bagi jiwa   manusia yang mendustakan dan menentang pendakwaan Rasul Allah, itulah sebabnya  Allah Swt. telah  mengazab dan membinasakan kaum-kaum purbakala yang  berlaku takabbur seperti itu (QS.17:16; QS.22:46-49; QS.28:60;  QS.29:41).
   Jadi, betapa pentingnya beriman kepada Rasul Allah yang  kedatangannya dijanjikan tersebut, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡۤا اٰبَآءَکُمۡ وَ اِخۡوَانَکُمۡ اَوۡلِیَآءَ اِنِ اسۡتَحَبُّوا الۡکُفۡرَ عَلَی الۡاِیۡمَانِ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾  
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil bapak-bapakmu dan saudara-saudara laki-lakimu menjadi sahabat jika mereka lebih mencintai kekafiran daripada  iman.  Dan barangsiapa di antara kamu menjadikan mereka sebagai  pelindung-pelindung maka mereka  adalah orang-orang yang zalim.  (Al Taubah [9]:23).

Hizbullāh (Golongan Allah)

    Makna  ayat  jika mereka lebih mencintai kekafiran daripada  iman” mengisyaratkan kepada segolongan orang-orang kafir yang aktif memusuhi Islam dan berupaya keras untuk memusnahkannya. Itulah makna  firman-Nya:   Hai orang-orang yang beriman,  janganlah kamu mengambil bapak-bapakmu dan saudara-saudara laki-lakimu menjadi sahabat”. Selanjutnya Allah Swt. berfirman: 
قُلۡ اِنۡ کَانَ اٰبَآؤُکُمۡ وَ اَبۡنَآؤُکُمۡ وَ اِخۡوَانُکُمۡ وَ اَزۡوَاجُکُمۡ  وَ عَشِیۡرَتُکُمۡ وَ اَمۡوَالُۨ  اقۡتَرَفۡتُمُوۡہَا وَ تِجَارَۃٌ تَخۡشَوۡنَ  کَسَادَہَا وَ مَسٰکِنُ  تَرۡضَوۡنَہَاۤ  اَحَبَّ  اِلَیۡکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  وَ جِہَادٍ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ      فَتَرَبَّصُوۡا حَتّٰی یَاۡتِیَ اللّٰہُ بِاَمۡرِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: “Jika ayah-ayah kamu, anak-anak lelaki kamu,  saudara-saudara lelaki kamu,  istri-istri kamu, kerabat kamu, harta yang kamu telah meng-upayakannya, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kamu menyukainya, kesemuanya  اَحَبَّ  اِلَیۡکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  وَ جِہَادٍ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ        --  lebih kamu cintai daripada Allah,  Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya,   فَتَرَبَّصُوۡا حَتّٰی یَاۡتِیَ اللّٰہُ بِاَمۡرِہٖ  --  maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الۡفٰسِقِیۡن  --  dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (Al Taubah [9]:24).
       Jadi, berkenaan dengan Tauhid Ilahi yang diajarkan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37),  hendaknya ikatan-ikatan kekeluargaan dan kecintaan kepada kaum kerabat serta pertimbangan-pertimbangan duniawi lainnya -- seperti kekayaan, perdagangan dan harta   -- hendaknya jangan dibiarkan menjadi penghalang, bila ada suatu perhubungan yang lebih berharga dan suatu tujuan yang lebih mulia serta  pertimbangan-pertimbangan yang lebih penting menuntut pengorbanan mereka, itulah hakikat  Lā Ilāha Illallāh (tidak ada Tuhan kecuali Allah) yang harus diperagakan melalui amal.
      Allah Swt. menyebut orang-orang lebih mengutamakan kecintaan kepada Allah Swt. dan  Rasul Allah seperti itu  Hizbullāh (golongan/partai Allah) firman-Nya:
لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ  -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang  di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal  di dalamnya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ  --   Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah  itulah orang-orang yang berhasil. (Al-Mujādalah [58]:23), Lihat pula QS.5:55-57.

Kabar Gembira dari Allah Swt.

  kembali kepada   ayat-ayat yang  melarang orang-orang musyrik berziarah ke Ka’bah (Baitullah), Allah Swt. menyatakan bahwa  pengkhidmatan  secara jasmani penduduk Mekkah  terhadap Ka’bah (Baitullah)  tidak sebanding dengan pengkhidmatan secara ruhani oleh orang-orang yang beriman  kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37), firman-Nya:
اَجَعَلۡتُمۡ سِقَایَۃَ الۡحَآجِّ وَ عِمَارَۃَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ کَمَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  وَ جٰہَدَ  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَا  یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۘ﴾ اَلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ  دَرَجَۃً  عِنۡدَ  اللّٰہِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu anggap memberi minum orang-orang yang melaksanakan haji dan  memelihara Masjidilharam itu sama seperti orang yang beriman kepada Allah, Hari Kemudian, dan  yang  berjihad pada jalan Allah? لَا  یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ   -- Mereka tidak sama di sisi Allah  وَ اللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ --     dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. اَلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ  دَرَجَۃً  عِنۡدَ  اللّٰہِ   -- Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka  memiliki derajat yang tertinggi di sisi Allah.  وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفَآئِزُوۡنَ  -- Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah [9]:19-20). 
Selanjutnya Allah Swt.  berfirman:
یُبَشِّرُہُمۡ رَبُّہُمۡ بِرَحۡمَۃٍ مِّنۡہُ وَ رِضۡوَانٍ وَّ جَنّٰتٍ  لَّہُمۡ  فِیۡہَا نَعِیۡمٌ مُّقِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عِنۡدَہٗۤ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Rabb (Tuhan) mereka memberi kabar gembira kepada mereka mengenai rahmat dari-Nya, keridhaan-Nya, dan kebun-kebun,  di dalamnya mereka akan memperoleh  nikmat yang abadi.   Mereka  kekal  di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah di sisi-Nya  terdapat ganjaran yang besar.   (At-Taubah [9]:21-22). 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 26 September 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar