Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
16
SIFAT-SIFAT SEMPURNA ALLAH SWT. & UJIAN KEIMANAN YANG MENGGELINCIRKAN
AKIBAT KEDURHAKAAN
BERULANG KALI KEPADA ALLAH SWT. DAN RASUL-NYA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian Bab 15 dijelaskan bahwa ajaran Islam
tidak melampui matas kemampuan manusia
serta makna “kehendak” Allah Swt., yaitu sehubungan dengan penjelasan . firman
Allah Swt. yang dikemukakan sebelumnya:
لِلّٰہِ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ
تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ
تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ
لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Milik Allah-lah apa pun yang ada
di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan jika
kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya Allah akan menghisab kamu
mengenainya, maka Dia
akan mengampuni siapa yang Dia kehendaki
dan akan mengazab siapa yang Dia
kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu (Al-Baqarah [2]:285).
Kata bihī
dalam ayat: وَ اِنۡ
تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ اَنۡفُسِکُمۡ
اَوۡ تُخۡفُوۡہُ
یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ اللّٰہُ -- “dan jika
kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya Allah akan menghisabmu mengenainya,”
berarti: (a) dengan jalan atau atas dasar; (b) untuk
atau karena; dan anak kalimat itu akan
berarti “Allah akan menuntut kamu atas
dasar itu atau karena itu,” ialah tidak ada pikiran
atau perbuatan manusia akan lepas
dari tuntutan, bagaimana pun tersembunyinya perbuatan itu, dan akan dihukum atau dimaafkan menurut kehendak
Ilahi: فَیَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- “maka Dia akan mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Ungkapan “kehendak Tuhan”
agaknya menunjukkan adanya hukum alam
(QS.7:157), tetapi karena kehendak Allah-lah yang menjadi hukum-Nya, maka Al-Quran telah
mempergunakan ungkapan itu untuk menunjukkan bahwa:
(1) Allah Swt. itu Pemegang
wewenang terakhir di alam semesta;
(2) Kehendak-Nya itu hukum,
dan
(3) Kehendak-Nya dizahirkan dengan cara
yang adil serta murah hati, sebab
Dia Pemilik Sifat-sifat yang sempurna,
firman-Nya:
قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا
تَدۡعُوۡا فَلَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ
لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ
بَیۡنَ ذٰلِکَ سَبِیۡلًا ﴿﴾ وَ
قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ لَمۡ
یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ وَلِیٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَ
کَبِّرۡہُ تَکۡبِیۡرًا ﴿﴾٪
Katakanlah:
“Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah), اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی -- dengan nama apa saja kamu berseru kepada
Dia milik-Nya semua nama yang terbaik.” Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras dan jangan
pula kamu mengucapkannya terlalu lemah tetapi carilah jalan di antara itu. وَ قُلِ الۡحَمۡدُ
لِلّٰہِ الَّذِیۡ لَمۡ یَتَّخِذۡ وَلَدًا
وَّ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ -- Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Yang tidak memiliki anak dan tidak
ada sekutu bagi-Nya di kerajaan-Nya, وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ وَلِیٌّ مِّنَ الذُّلِّ وَ کَبِّرۡہُ تَکۡبِیۡرًا -- dan
tidak ada bagi-Nya penolong karena sesuatu kelemahan-Nya.” Dan sanjunglah keagungan-Nya dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. (Bani
Israil [17]:111).
Allah Swt. Pemilik Sifat-sifat Sempurna
Allah
Swt. memiliki Sifat-sifat
yang tidak terbilang jumlahnya, maka seorang Muslim dalam doanya ia hendaknya menyebut Sifat Ilahi tertentu yang mempunyai hubungan khas dengan perkara
yang untuk perkara itu ia mohon petunjuk dan pertolongan Ilahi. Contohnya mohon pengampunan menyebut sifat Allah Swt. Al-Ghafūr (Maha Pengampun)atau Al’ Afw
(Maha Pemaaf) atau At-Tawwab (Maha
Penerima taubat) atau As-Sattar (Maha Menutupi Kelemahan) dll., firman-Nya:
لَوۡ اَنۡزَلۡنَا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ
عَلٰی جَبَلٍ لَّرَاَیۡتَہٗ خَاشِعًا
مُّتَصَدِّعًا مِّنۡ خَشۡیَۃِ اللّٰہِ ؕ وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا
لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ
اللّٰہُ الَّذِیۡ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ
الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
ہُوَ اللّٰہُ الَّذِیۡ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ
السَّلٰمُ الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ
الۡعَزِیۡزُ الۡجَبَّارُ الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ
اللّٰہُ الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia,
Mengetahui yang gaib dan yang
nampak, Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dia-lah Allah
Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Maha Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpahan
keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung.
سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ
-- Maha Suci Allah dari apa
yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat
segala sesuatu, Pemberi bentuk, لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی -- milik
Dia-lah semua nama yang terindah. ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Bertasbih kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit
dan bumi وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
-- dan Dia-lah Yang Maha Perkasa,
Maha Bijaksana. (Al-Hasyr [59]:23-25).
Firman-Nya lagi:
وَ لِلّٰہِ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی
فَادۡعُوۡہُ بِہَا ۪ وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ
یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ مَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ
بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ یَعۡدِلُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik, maka serulah
Dia dengan nama-nama itu,
وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ اَسۡمَآئِہٖ -- dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dalam
memahami nama-nama-Nya, سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ -- mereka segera
akan mendapat balasan terhadap apa
yang senantiasa mereka kerjakan. وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ یَعۡدِلُوۡنَ -- Dan di antara manusia yang telah
Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk
dengan haq dan dengan itu pula
mereka menegakkan keadilan. (Al-A’rāf [7]:181-182).
Menyimpang dari jalan yang benar berkenaan dengan Sifat-sifat Allah Swt. dapat diartikan bahwa oleh karena Allah Swt. adalah
Pemilik segala sifat terbaik
yang tersebut dalam Al-Quran dan Hadits, maka tidak perlu memberikan
kepada-Nya Sifat-sifat lain yang tidak sesuai dengan Keagungan-Nya, Kehormatan-Nya,
dan Kasih Sayang-Nya yang meliputi
segala-gala, misalnya dengan menyatakan bahwa
-- Na’ūdzubillāhi min dzālik --
bahwa Allah Swt. punya istri dan anak serta sekutu dalam Ketuhanan-Nya, sebab bertentangan dengan firman-Nya dalam
Surah Al-Ikhlas [112]:1-5).
Pemurnian dan Penegakan Tauhid Ilahi Melalui Pengutusan Rasul Allah
Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa jika
di kalangan umat manusia atau umat beragama timbul kemusyrikan, maka Allah Swt. akan
membangkitkan satu umat yang memberi petunjuk
dengan haq (kebenaran): وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ یَعۡدِلُوۡنَ
-- “Dan di
antara manusia yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan haq dan dengan itu pula mereka menegakkan keadilan.
(Al-A’rāf
[7]: 182).”
Pembangkitan umat pilihan seperti itu selalu melalui pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. dari kalangan Bani
Adam (QS.7:35-37), firman-Nya:
مَا
کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ
رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan
orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya hingga
Dia memisahkan yang buruk
dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara
rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- karena itu berimanlah kamu kepada Allah
dan rasul-rasul-Nya, وَ
اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ -- dan jika kamu beriman
dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali
‘Imran [3]:180).
Sebagaimana hanya kepada Adam (Khalifah Allah) Dia mengajarkan Sifat-sifat-Nya yang para malaikat
pun tidak mengetahuinya (QS.2:31-35), demikian pula hanya kepada para Rasul
Allah sajalah Dia membukakan rahasia
gaib Ketuhanan-Nya atau rahasia baru Sifat-sifat-Nya
–
termasuk di Akhir Zaman ini (QS.61:10) -- firman-Nya:
قُلۡ
اِنۡ اَدۡرِیۡۤ اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ یَجۡعَلُ
لَہٗ رَبِّیۡۤ اَمَدًا ﴿﴾ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ
اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Aku tidak
mengetahui apakah yang dijanjikan
kepada kamu itu telah dekat ataukah Rabb-ku
(Tuhan-ku) telah menetapkan baginya masa
yang lama.” عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا -- Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا --
kecuali kepada Rasul yang Dia
ridhai, maka sesungguhnya barisan
pengawal berjalan di hadapannya dan di
belakangnya, لِّیَعۡلَمَ
اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ --
Supaya Dia mengetahui
bahwa sungguh mereka telah menyampaikan
Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ
وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا -- dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan
mengenai segala sesuatu. (Al-Jin
[2]:26-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala
al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan
dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan
mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting: عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا -- “Dia-lah
Yang mengetahui yang gaib, maka Dia
tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun”.
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna
membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang
dibukakan Allah Swt. kepada seorang rasul
Tuhan dan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan kepada orang-orang mukmin
muttaki lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib yakni penguasaan
atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang muttaki dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati
kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan
oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang muttaki lainnya tidak begitu
terpelihara.
Pentingnya Pemahaman dan Pengamalan yang Benar
& Pentingnya Istighfar
Sehubungan perintah Allah Swt. dalam ayat sebelumnya: فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, وَ
اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ
اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ -- dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180),
Allah Swt. berfirman:
اٰمَنَ
الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ
رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا
سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫
غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang
diturunkan kepadanya dari Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu
pula orang-orang beriman, semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya,
dan Rasul-rasul-Nya, لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ
رُّسُلِہٖ --
mereka berkata: ”Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”, وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا -- dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat. غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ
الۡمَصِیۡرُ -- Kami
mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan)
kami, dan kepada Engkau-lah kami kembali.” (Al-Baqarah [2]:286).
Sekali
pun benar bahwa amal-amal baik (amal
shalih) merupakan cara
utama untuk mencapai kesucian ruhani,
tetapi amal-amal baik itu harus bersumber pada kesucian hati yang dapat dicapai
hanya dengan berpegang pada itikad-itikad yang benar berkenaan iman.
Sehubungan
dengan hal itu ayat tersebut merinci dasar-dasar kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran yaitu beriman
kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya
menurut urutan atau tertib yang wajar, yang dalam ajaran Islam disebut Rukun Iman: (1) Beriman kepada Allah,
(2) beriman kepada malaikat-malaikat,
(3) beriman kepada Kitab-kitab, (4)
beriman kepada rasul-rasul, (5)
beriman kepada Hari Akhir, (6) beriman
kepada qadha (keputusan) dan qadar (takdir).
Namun demikian, selain harus
memahami Rukun Iman secara benar -- lalu mengamalkannya berupa pengamalan Rukun Islam -- tetapi demi kesempurnaan keimanan dan amal
shalehnya tersebut mereka tetap
harus memohon maghfirah Ilah,
firman-Nya: وَ قَالُوۡا
سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا -- dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami
taat. غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا
وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ -- Kami
mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan)
kami, dan kepada Engkau-lah kami kembali.” (Al-Baqarah [2]:286).
Sehubungan dengan pentingnya taubat dan istighfar tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Menyangkal pertobatan dan pengampunan sama juga dengan menutup pintu bagi kemajuan kemanusiaan. Jelas disadari
kalau manusia itu pada dasarnya tidak sempurna
dan memerlukan penyempurnaan. Manusia lahir tidak
langsung memiliki pengetahuan karena intelektualnya berkembang kemudian bersama umurnya.
Begitu juga dengan kondisi
akhlaknya
yang berada pada tingkat dasar pada
saat baru dilahirkan. Jika kita
melihat kelakuan anak-anak kecil,
sering terlihat dimana yang satu memukul yang lainnya hanya
karena alasan
yang amat sepele,
ditambah lagi ada yang terbiasa berdusta dan berkata kotor terhadap temannya. Sebagian ada yang terbiasa mencuri, berdusta
mengarang cerita, pencemburu dan kedekut (kikir). Kalau dibiarkan
maka mereka akan tumbuh dewasa dalam
cengkeraman
ego dirinya
yang cenderung
kepada dosa
serta melakukan
berbagai bentuk kekejian
dan kejahatan.
Bagi sebagian besar manusia, tahap-tahap awal kehidupan umumnya bersifat tidak
suci,
namun mereka yang kemudian berhasil
melewati badai dahsyat masa remajanya, sebagian kemudian berpaling
kepada Tuhan dan menahan diri
dari segala kegiatan tidak baik
melalui pertobatan
hakiki
dan menyibukkan dirinya dengan pensucian jubah
fitratnya.
Semua ini merupakan tahapan-tahapan dalam kehidupan
yang biasa selalu ditempuh seorang manusia. Jadi jika ada yang menyatakan
bahwa pertobatan
tidak akan diterima
atau tidak
dikabulkan,
sama saja berarti bahwa Tuhan tidak
berkeinginan mengaruniakan keselamatan kepada siapa pun.” (Chasma
Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.XXIII, hlm.
192-193, London, 1984).
Hubungan Beban yang Tidak Dapat Dipikul dengan Kedurhakaan
Setelah menjelaskan mengenai pentingnya beriman kepada Allah, Kitab-kitab-Nya, para malaikat-Nya dan para rasul-Nya, selanjutnya Dia berfirman:
لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ
وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا
تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا
تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ
مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ
رَبَّنَا وَ لَا
تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَۃَ
لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا
فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya. Baginya
ganjaran untuk apa yang
diusahakannya, dan ia akan mendapat
siksaan untuk apa yang diusahakannya.
Mereka berkata: رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا
تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami
terlupa atau kami tersalah.
Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah
Engkau membebani kami
tanggung jawab seperti telah Engkau
bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah
Eng-kau membebani kami dengan apa
yang kami tidak kuat menanggungnya, dan maafkanlah kami, ampunilah
kami, dan kasihanilah kami karena Engkau-lah
Pelindung kami, maka
tolonglah kami terhadap kaum kafir.”
(Al-Baqarah
[2]:287).
Anak kalimat: لَا
یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا
وُسۡعَہَا -- “Allah
tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya” ini merupakan sanggahan
yang kuat sekali terhadap itikad penebusan dosa dan mengandung dua
asas penting:
(1) Bahwa perintah-perintah Ilahi senantiasa diberikan dengan memberi
perhatian yang sepenuhnya kepada kemampuan
manusia dan batas-batas kodratnya.
(2) Bahwa kesucian akhlak di dunia ini tidak
seharusnya berarti bebas sepenuhnya
dari segala macam kelemahan dan kekurangan.
Apa yang diharapkan untuk dilakukan manusia ialah
berjuang dengan sungguh-sungguh untuk
meraih kebaikan dan menjauhi dosa dengan sekuat tenaga,
sedangkan selebihnya Tuhan Yang Maha
Pemurah akan memaafkannya. Oleh
karena itu penebusan dosa sama sekali tidak
diperlukan.
Kata kasabat
dalam ayat: لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ -- “Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya” pada
umumnya berarti melakukan amal shalih,
dan iktasaba melakukan perbuatan
jahat. Kedua kata itu berasal dari akar
kata yang sama, tetapi iktasaba berarti usaha yang lebih keras
dari pihak pelakunya.
Jadi, menurut ayat tersebut setiap orang akan diberi ganjaran untuk perbuatan baik, sekalipun perbuatan itu dilakukan sambil lalu saja dan tanpa usaha secara sadar; sedang ia akan dihukum atas perbuatan
jahatnya hanya bila perbuatan itu
dilakukan dengan sengaja dan dengan usaha yang dilakukan secara sadar: وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ -- “dan ia
akan mendapat siksaan untuk
apa yang diusahakannya”.
Lebih lanjut Allah Swt. menjelaskan mengenai ayat: Mereka berkata: رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami
terlupa atau kami tersalah.” Dalam keadaan biasa nis-yan
dan khati’ah tidak akan mendapat hukuman,
sebab kedua kata itu menunjukkan tidak
adanya niat atau motif yang mengharuskan dijatuhkannya hukuman. Tetapi di sini kata-kata itu
berarti kealpaan atau kekeliruan yang dapat dihindari seandainya segala ikhtiar ditempuh untuk
menghindarinya.
Ishr
dalam ayat: رَبَّنَا وَ لَا
تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا --
“Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang
sebelum kami,” berarti:
(1)
beban yang
menahan seseorang untuk bergerak;
(2)
pertanggungjawaban
berat yang bila dilanggar menyebabkan seseorang layak mendapat hukuman;
(3)
dosa atau
pelanggaran;
(4)
siksaan yang
pedih atas suatu dosa.
Ungkapan “janganlah
Engkau membebani kami tanggung jawab seperti
telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami” tidak berarti
bahwa beban yang akan diletakkan di
atas kita hendaknya lebih ringan
daripada yang telah dibebankan atas
orang-orang sebelum kita, melainkan artinya "semoga kami dilindungi dari pelanggaran terhadap perjanjian kepada
Engkau dan dengan demikian dapat diselamatkan dari menanggung tanggung jawab
besar atas pembangkangan seperti telah dilakukan oleh orang-orang sebelum kami."
Doa ini merupakan doa kolektif untuk pemeliharaan
dan perlindungan terhadap agama Islam dan penjagaan kaum Muslim dari kemurkaan
Allah Swt., seperti yang terjadi atas golongan
Ahli Kitab karena mereka berulang
kali melakukan pelanggaran
terhadap perintah Allah Sw. dan para rasul
Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka.
Akibat Buruk Pelanggaran
Hari Sabat
Contohnya adalah hukuman
akibat pelanggaran mengenai Hari
Sabat, yang “godaannya” benar-benar melebihi daya-pikul
kemampuan golongan Ahli Kitab, firman-Nya:
وَ سۡـَٔلۡہُمۡ عَنِ الۡقَرۡیَۃِ الَّتِیۡ کَانَتۡ حَاضِرَۃَ الۡبَحۡرِ ۘ اِذۡ یَعۡدُوۡنَ فِی السَّبۡتِ
اِذۡ تَاۡتِیۡہِمۡ حِیۡتَانُہُمۡ یَوۡمَ سَبۡتِہِمۡ شُرَّعًا وَّ یَوۡمَ لَا
یَسۡبِتُوۡنَ ۙ لَا تَاۡتِیۡہِمۡ ۚۛ
کَذٰلِکَ ۚۛ نَبۡلُوۡہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡسُقُوۡنَ ﴿﴾
Dan tanyakanlah kepada mereka mengenai kota yang terletak di dekat laut,
ketika mereka melanggar aturan pada hari
Sabat, yaitu
ketika ikan-ikan mereka mendatangi
mereka bermunculan di permukaan air pada hari Sabat, tetapi pada
hari ketika mereka tidak merayakan Sabat ikan-ikan itu tidak mendatangi mereka. Demikianlah Kami menguji mereka sebab mereka senantiasa berbuat fasik. (Al-A’rāf
[7]:164).
Qaryah
yang dimaksudkan dalam ayat ini, konon ialah Aila (Elath) di Pantai Laut Merah.
Letaknya pada sayap timur Laut Merah. di Teluk Aelanitic (yang namanya diambil
dari nama tempat itu sendiri) yang disebutkan sebagai salah satu dari tahap
terakhir pengembaraan kaum Bani Israil (1 Raja-raja
9:26 & II Tawarikh 8:17).
Zaman Nabi Sulaimana.s. kota
itu jatuh ke tangan kaum Bani Israil,
tetapi boleh jadi kemudian direbut dari tangan mereka. Kemudian Uzziah
merebutnya kembali, tetapi di bawah Ahaz kota itu terlepas lagi (Encyclopaedia Biblica & Jewish Encyclopaedia).
Syurra’an
dalam ayat: اِذۡ یَعۡدُوۡنَ
فِی السَّبۡتِ اِذۡ تَاۡتِیۡہِمۡ حِیۡتَانُہُمۡ یَوۡمَ سَبۡتِہِمۡ شُرَّعًا -- “ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabat, yaitu ketika ikan-ikan mereka mendatangi mereka
bermunculan di permukaan air pada hari Sabat” berarti juga mereka (ikan-ikan itu) datang berbondong-bondong.
Karena pada hari Sabat orang-orang Yahudi pantang
menangkap ikan, sehingga secara naluri
ikan-ikan mengetahui waktu yang aman dan karena itu perasaan
aman secara naluri ini telah
membuat ikan-ikan itu bermunculan ke permukaan air atau mendekati pantai dalam jumlah yang besar pada hari Sabat.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 16 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar