Senin, 19 September 2016

Sifat-sifat Sempurna Allah Swt. & Ujian Keimanan yang Menggelincirkan Akibat "Kedurhakaan" Berulang Kali Kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 16

SIFAT-SIFAT SEMPURNA ALLAH SWT.  & UJIAN KEIMANAN YANG MENGGELINCIRKAN AKIBAT   KEDURHAKAAN BERULANG KALI KEPADA ALLAH SWT. DAN RASUL-NYA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  Bab 15    dijelaskan    bahwa  ajaran Islam tidak melampui matas kemampuan manusia serta  makna “kehendak” Allah Swt., yaitu sehubungan dengan penjelasan . firman Allah Swt. yang dikemukakan sebelumnya:
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ  اللّٰہُ ؕ فَیَغۡفِرُ   لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Milik Allah-lah apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya   Allah akan menghisab kamu mengenainya, maka Dia akan mengampuni siapa yang  Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Al-Baqarah [2]:285).
       Kata bihī  dalam ayat: وَ اِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِیۡۤ  اَنۡفُسِکُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡہُ یُحَاسِبۡکُمۡ بِہِ  اللّٰہُ  -- “dan jika kamu menzahirkan apa yang terdapat di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya   Allah akan menghisabmu mengenainya,” berarti: (a) dengan jalan atau atas dasar; (b) untuk atau karena; dan anak kalimat itu akan berarti “Allah akan menuntut kamu atas dasar itu atau karena itu,” ialah  tidak ada pikiran atau perbuatan manusia akan lepas dari tuntutan, bagaimana pun tersembunyinya perbuatan itu, dan akan dihukum atau dimaafkan menurut kehendak Ilahi: فَیَغۡفِرُ   لِمَنۡ یَّشَآءُ  وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ  -- “maka Dia akan mengampuni siapa yang  Dia kehendaki dan akan mengazab siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
      Ungkapan “kehendak Tuhan” agaknya menunjukkan adanya hukum alam (QS.7:157),  tetapi karena kehendak Allah-lah yang menjadi hukum-Nya, maka Al-Quran telah mempergunakan ungkapan itu untuk menunjukkan bahwa:
      (1) Allah Swt. itu Pemegang wewenang terakhir di alam semesta;  
      (2) Kehendak-Nya itu hukum, dan
      (3) Kehendak-Nya dizahirkan dengan cara yang adil serta murah hati, sebab Dia Pemilik Sifat-sifat yang sempurna, firman-Nya:
قُلِ ادۡعُوا اللّٰہَ  اَوِ ادۡعُوا الرَّحۡمٰنَ ؕ اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ۚ وَ لَا تَجۡہَرۡ بِصَلَاتِکَ وَ لَا تُخَافِتۡ بِہَا وَ ابۡتَغِ  بَیۡنَ  ذٰلِکَ  سَبِیۡلًا ﴿﴾   وَ قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ لَمۡ  یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہٗ  شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ  وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ  وَلِیٌّ  مِّنَ الذُّلِّ وَ کَبِّرۡہُ  تَکۡبِیۡرًا ﴿﴾٪
Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah),  اَیًّامَّا تَدۡعُوۡا فَلَہُ  الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی --  dengan nama apa saja kamu berseru kepada Dia  milik-Nya semua nama yang terbaik.” Dan janganlah kamu mengucapkan doa-doamu keras-keras  dan jangan pula kamu mengucapkannya terlalu lemah  tetapi carilah jalan di antara itu. وَ قُلِ الۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡ لَمۡ  یَتَّخِذۡ وَلَدًا وَّ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہٗ  شَرِیۡکٌ فِی الۡمُلۡکِ  --   Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Yang tidak memiliki anak  dan tidak ada sekutu bagi-Nya di kerajaan-Nya, وَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ  وَلِیٌّ  مِّنَ الذُّلِّ وَ کَبِّرۡہُ  تَکۡبِیۡرًا   -- dan tidak ada bagi-Nya penolong karena sesuatu kelemahan-Nya.” Dan sanjunglah keagungan-Nya dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. (Bani Israil [17]:111).

Allah  Swt. Pemilik Sifat-sifat Sempurna

     Allah Swt.   memiliki Sifat-sifat yang tidak terbilang jumlahnya, maka seorang Muslim dalam doanya  ia hendaknya menyebut Sifat Ilahi tertentu yang mempunyai hubungan khas dengan perkara  yang untuk perkara itu ia mohon petunjuk dan pertolongan Ilahi. Contohnya mohon pengampunan menyebut sifat Allah Swt. Al-Ghafūr (Maha  Pengampun)atau  Al’ Afw (Maha Pemaaf) atau At-Tawwab (Maha Penerima taubat) atau As-Sattar  (Maha Menutupi Kelemahan) dll., firman-Nya:
لَوۡ اَنۡزَلۡنَا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ عَلٰی جَبَلٍ لَّرَاَیۡتَہٗ  خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنۡ خَشۡیَۃِ اللّٰہِ ؕ وَ تِلۡکَ الۡاَمۡثَالُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ  الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ  الۡجَبَّارُ  الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ  الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ  الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia,  Mengetahui yang gaib dan yang nampak, Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Dia-lah Allah Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Maha Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpahan keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung. سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ  -- Maha Suci Allah  dari apa yang mereka persekutukan.  Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi bentuk, لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی --   milik Dia-lah semua nama yang terindah. ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  --   Bertasbih  kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit dan bumi  وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  -- dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.  (Al-Hasyr [59]:23-25). 
Firman-Nya lagi:
وَ لِلّٰہِ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی فَادۡعُوۡہُ بِہَا ۪ وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ  اَسۡمَآئِہٖ ؕ سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾   وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ  اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ  یَعۡدِلُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan milik Allah-lah nama-nama yang terbaik,  maka serulah Dia dengan nama-nama itu,  وَ ذَرُوا الَّذِیۡنَ یُلۡحِدُوۡنَ فِیۡۤ  اَسۡمَآئِہٖ    -- dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang  dalam  memahami nama-nama-Nya,  سَیُجۡزَوۡنَ مَا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ --     mereka segera akan mendapat balasan terhadap apa yang senantiasa mereka kerjakan. وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ  اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ  یَعۡدِلُوۡنَ   --  Dan  di antara manusia yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan haq dan dengan itu pula mereka menegakkan keadilan. (Al-A’rāf [7]:181-182).
   Menyimpang dari jalan yang benar berkenaan dengan Sifat-sifat Allah Swt.  dapat diartikan bahwa oleh karena Allah Swt.   adalah  Pemilik segala sifat terbaik yang tersebut dalam Al-Quran dan Hadits, maka tidak perlu memberikan kepada-Nya Sifat-sifat lain yang tidak sesuai dengan Keagungan-Nya, Kehormatan-Nya, dan Kasih Sayang-Nya yang meliputi segala-gala, misalnya dengan menyatakan bahwa   -- Na’ūdzubillāhi min dzālik  --  bahwa Allah Swt. punya istri dan anak serta sekutu dalam Ketuhanan-Nya, sebab bertentangan dengan firman-Nya dalam Surah Al-Ikhlas [112]:1-5).

Pemurnian dan Penegakan Tauhid Ilahi  Melalui Pengutusan Rasul Allah

      Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa jika di kalangan umat manusia atau umat beragama timbul kemusyrikan, maka Allah Swt. akan membangkitkan satu umat yang memberi petunjuk  dengan haq (kebenaran):  وَ مِمَّنۡ خَلَقۡنَاۤ  اُمَّۃٌ یَّہۡدُوۡنَ بِالۡحَقِّ وَ بِہٖ  یَعۡدِلُوۡنَ   -- “Dan  di antara manusia yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan haq dan dengan itu pula mereka menegakkan keadilan. (Al-A’rāf [7]: 182).”
       Pembangkitan umat pilihan seperti itu selalu melalui pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. dari  kalangan Bani Adam  (QS.7:35-37), firman-Nya:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya   hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki,  فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ   -- karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,   وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ -- dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180).  
   Sebagaimana  hanya kepada Adam  (Khalifah Allah) Dia  mengajarkan Sifat-sifat-Nya yang para malaikat pun tidak mengetahuinya (QS.2:31-35), demikian pula  hanya kepada para  Rasul Allah sajalah Dia membukakan rahasia gaib Ketuhanan-Nya atau rahasia  baru Sifat-sifat-Nya   – termasuk di Akhir Zaman ini  (QS.61:10) -- firman-Nya: 
قُلۡ  اِنۡ  اَدۡرِیۡۤ  اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ  یَجۡعَلُ  لَہٗ  رَبِّیۡۤ   اَمَدًا ﴿﴾  عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ     وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui apakah yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Rabb-ku (Tuhan-ku) telah menetapkan baginya masa yang lama.”  عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا  -- Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا  --  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,          لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ            --  Supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ     وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا  --  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu.  (Al-Jin [2]:26-29). 
 Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting:   عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا  --  Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun”.
 Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan Allah Swt. kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin muttaki lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang muttaki dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
  Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang muttaki lainnya tidak begitu terpelihara.

Pentingnya Pemahaman dan Pengamalan  yang Benar & Pentingnya Istighfar

       Sehubungan perintah Allah Swt. dalam ayat sebelumnya: فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ   -- karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,   وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ -- dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180), Allah Swt. berfirman:
اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula  orang-orang beriman,  semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya,  لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ  --  mereka berkata:  Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,  وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا  -- dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat.  غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ  --  Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada Engkau-lah kami  kembali.” (Al-Baqarah [2]:286).
     Sekali  pun benar bahwa amal-amal baik (amal shalih)   merupakan cara utama untuk mencapai kesucian ruhani, tetapi amal-amal baik itu harus bersumber pada kesucian hati yang dapat dicapai hanya dengan berpegang pada itikad-itikad yang benar  berkenaan iman.
      Sehubungan dengan hal itu  ayat  tersebut merinci dasar-dasar kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran yaitu  beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya menurut urutan atau tertib yang wajar, yang dalam ajaran Islam disebut Rukun Iman: (1) Beriman kepada Allah,   (2) beriman kepada malaikat-malaikat, (3) beriman kepada Kitab-kitab, (4) beriman kepada rasul-rasul, (5) beriman kepada  Hari Akhir,  (6) beriman kepada qadha (keputusan) dan qadar (takdir).
     Namun demikian, selain harus memahami Rukun Iman secara benar  -- lalu mengamalkannya berupa pengamalan Rukun Islam  -- tetapi demi kesempurnaan keimanan dan amal shalehnya tersebut  mereka tetap harus memohon maghfirah Ilah, firman-Nya:   وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا  -- dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat.  غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ  --  Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada Engkau-lah kami  kembali.” (Al-Baqarah [2]:286).
Sehubungan dengan pentingnya taubat dan istighfar tersebut  Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     Menyangkal pertobatan dan pengampunan sama juga dengan menutup pintu bagi kemajuan kemanusiaan. Jelas disadari kalau manusia itu pada dasarnya tidak sempurna dan memerlukan penyempurnaan. Manusia lahir tidak langsung memiliki pengetahuan karena intelektualnya berkembang kemudian bersama umurnya.
         Begitu juga dengan kondisi akhlaknya yang berada pada tingkat dasar pada saat baru dilahirkan. Jika kita melihat kelakuan anak-anak kecil, sering terlihat dimana yang satu memukul yang lainnya hanya karena alasan yang amat sepele, ditambah lagi ada yang terbiasa berdusta dan berkata kotor terhadap temannya. Sebagian ada yang terbiasa mencuri, berdusta mengarang cerita, pencemburu dan kedekut (kikir). Kalau dibiarkan maka mereka akan tumbuh dewasa dalam cengkeraman ego dirinya yang cenderung kepada dosa serta melakukan berbagai bentuk kekejian dan kejahatan.
     Bagi sebagian besar manusia, tahap-tahap awal kehidupan umumnya bersifat tidak suci, namun mereka yang kemudian berhasil melewati badai dahsyat masa remajanya, sebagian kemudian berpaling kepada Tuhan dan menahan diri dari segala kegiatan tidak baik melalui pertobatan hakiki dan menyibukkan dirinya dengan pensucian jubah fitratnya.
           Semua ini merupakan tahapan-tahapan dalam kehidupan yang biasa selalu ditempuh seorang manusia. Jadi jika ada yang menyatakan bahwa pertobatan tidak akan diterima atau tidak dikabulkan, sama saja berarti bahwa Tuhan tidak berkeinginan mengaruniakan keselamatan kepada siapa pun.” (Chasma Ma’rifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.XXIII, hlm. 192-193, London, 1984).

 Hubungan  Beban  yang Tidak Dapat Dipikul  dengan Kedurhakaan

      Setelah menjelaskan  mengenai pentingnya beriman kepada Allah, Kitab-kitab-Nya, para malaikat-Nya dan para rasul-Nya,  selanjutnya Dia berfirman:
لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Mereka berkata:  رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا  --   “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah  Engkau menghukum kami jika  kami terlupa atau kami tersalah. Ya  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani  kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Eng-kau membebani kami dengan apa yang kami tidak kuat menanggungnya, dan maafkanlah kami, ampunilah kami, dan  kasihanilah kami karena Engkau-lah Pelindung kami,  maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:287).
       Anak kalimat:   لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا -- “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya” ini merupakan sanggahan yang kuat sekali terhadap itikad penebusan dosa dan mengandung dua asas penting:
      (1) Bahwa perintah-perintah Ilahi senantiasa diberikan dengan memberi perhatian yang sepenuhnya kepada kemampuan manusia dan batas-batas kodratnya.
      (2) Bahwa kesucian akhlak di dunia ini tidak seharusnya berarti bebas sepenuhnya dari segala macam kelemahan dan kekurangan.
       Apa yang diharapkan untuk dilakukan manusia ialah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk meraih kebaikan dan menjauhi dosa dengan sekuat tenaga, sedangkan selebihnya Tuhan Yang Maha Pemurah akan memaafkannya. Oleh karena itu  penebusan dosa sama sekali tidak diperlukan.
       Kata kasabat dalam ayat: لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ    -- “Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya” pada umumnya berarti melakukan amal shalih, dan iktasaba melakukan perbuatan jahat. Kedua kata itu berasal dari akar kata yang sama, tetapi iktasaba berarti usaha yang lebih keras dari pihak pelakunya.
      Jadi, menurut ayat tersebut setiap orang akan diberi ganjaran untuk perbuatan baik, sekalipun perbuatan itu dilakukan sambil lalu saja dan tanpa usaha secara sadar; sedang ia akan dihukum atas perbuatan jahatnya hanya bila perbuatan itu dilakukan dengan sengaja dan dengan usaha yang dilakukan secara sadar:  وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ  -- “dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya”.
       Lebih lanjut Allah Swt. menjelaskan mengenai ayat:   Mereka berkata:  رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ  --   “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah  Engkau menghukum kami jika  kami terlupa atau kami tersalah.”  Dalam keadaan biasa nis-yan dan khati’ah tidak akan mendapat hukuman, sebab kedua kata itu menunjukkan tidak adanya niat atau motif yang mengharuskan dijatuhkannya hukuman. Tetapi di sini kata-kata itu berarti kealpaan atau kekeliruan yang dapat dihindari seandainya segala ikhtiar ditempuh untuk menghindarinya.
       Ishr dalam ayat: رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡ عَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا   -- “Ya  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani  kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami,” berarti:
(1)  beban yang menahan seseorang untuk bergerak;
(2)  pertanggungjawaban berat yang bila dilanggar menyebabkan seseorang layak mendapat hukuman;
(3)  dosa atau pelanggaran;  
(4)  siksaan yang pedih atas suatu dosa.
     Ungkapan “janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti  telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami” tidak berarti bahwa beban yang akan diletakkan di atas kita hendaknya lebih ringan daripada yang telah dibebankan atas orang-orang sebelum kita, melainkan artinya "semoga kami dilindungi dari pelanggaran terhadap perjanjian kepada Engkau dan dengan demikian dapat diselamatkan dari menanggung tanggung jawab besar atas pembangkangan seperti telah dilakukan oleh orang-orang sebelum kami."
       Doa ini merupakan doa kolektif untuk pemeliharaan dan perlindungan terhadap agama Islam dan penjagaan kaum Muslim dari kemurkaan Allah Swt., seperti yang terjadi atas golongan Ahli Kitab karena mereka berulang kali melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah Sw. dan  para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka.

Akibat Buruk Pelanggaran Hari Sabat

       Contohnya adalah hukuman akibat   pelanggaran mengenai Hari Sabat, yang “godaannya” benar-benar melebihi  daya-pikul kemampuan  golongan Ahli Kitab, firman-Nya:
وَ سۡـَٔلۡہُمۡ عَنِ الۡقَرۡیَۃِ  الَّتِیۡ کَانَتۡ حَاضِرَۃَ  الۡبَحۡرِ ۘ اِذۡ یَعۡدُوۡنَ فِی السَّبۡتِ اِذۡ تَاۡتِیۡہِمۡ حِیۡتَانُہُمۡ یَوۡمَ سَبۡتِہِمۡ شُرَّعًا وَّ یَوۡمَ لَا یَسۡبِتُوۡنَ ۙ لَا  تَاۡتِیۡہِمۡ ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ نَبۡلُوۡہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡسُقُوۡنَ ﴿﴾
Dan tanyakanlah kepada mereka mengenai kota yang terletak di dekat laut, ketika mereka melanggar aturan pada hari  Sabat, yaitu ketika ikan-ikan mereka mendatangi mereka bermunculan di permukaan air  pada hari Sabat,  tetapi pada hari ketika mereka tidak merayakan Sabat ikan-ikan itu tidak mendatangi mereka. Demikianlah Kami  menguji mereka sebab mereka senantiasa berbuat fasik. (Al-A’rāf [7]:164). 
       Qaryah yang dimaksudkan dalam ayat ini, konon ialah Aila (Elath) di Pantai Laut Merah. Letaknya pada sayap timur Laut Merah. di Teluk Aelanitic (yang namanya diambil dari nama tempat itu sendiri) yang disebutkan sebagai salah satu dari tahap terakhir pengembaraan kaum Bani Israil (1 Raja-raja 9:26 & II Tawarikh 8:17).
      Zaman Nabi Sulaimana.s.  kota itu jatuh ke tangan kaum Bani Israil, tetapi boleh jadi kemudian direbut dari tangan mereka. Kemudian Uzziah merebutnya kembali, tetapi di bawah Ahaz kota itu terlepas lagi (Encyclopaedia Biblica  & Jewish  Encyclopaedia).
       Syurra’an dalam ayat: اِذۡ یَعۡدُوۡنَ فِی السَّبۡتِ اِذۡ تَاۡتِیۡہِمۡ حِیۡتَانُہُمۡ یَوۡمَ سَبۡتِہِمۡ شُرَّعًا  -- “ketika mereka melanggar aturan pada hari  Sabat, yaitu ketika ikan-ikan mereka mendatangi mereka bermunculan di permukaan air  pada hari Sabat” berarti juga  mereka (ikan-ikan itu) datang berbondong-bondong. 
      Karena pada hari Sabat orang-orang Yahudi pantang menangkap ikan, sehingga secara naluri ikan-ikan mengetahui   waktu yang aman dan karena itu perasaan aman secara naluri ini telah membuat ikan-ikan itu bermunculan ke permukaan air atau mendekati pantai dalam jumlah yang besar pada hari Sabat.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 16 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar