Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 9
BERBAGAI MAKNA ISTIGHFAR DAN MAGHFIRAH ALLAH SWT. & KECUALI ALLAH
SWT. TIDAK ADA YANG MENGETAHUI YANG GAIB
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam akhir bagian Bab 8
telah dikemukakan mengenai terhindarnya orang-orang yang mencapai keadaan nafs-ul-muthmainnah (jiwa yang Tentram)
dari bahaya ancaman penghadangan iblis di jalan
Allah Swt., firman-Nya:
قَالَ
فَبِمَاۤ اَغۡوَیۡتَنِیۡ
لَاَقۡعُدَنَّ لَہُمۡ صِرَاطَکَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ
لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ
ؕ وَ لَا تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ
﴿﴾
Ia, Iblis, berkata: “Karena Engkau
telah menyatakan aku sesat, niscaya aku akan menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus, kemudian
niscaya akan kudatangi mereka dari depan
mereka, dan dari belakang mereka, dan dari kanan mereka, dan dari kiri mereka, وَ لَا تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ
شٰکِرِیۡنَ -- dan Engkau
tidak akan mendapati kebanyakan mereka
bersyukur.” (Al-A’rāf
[7]:17-19).
Jejaring
Ancaman Penghadangan Iblis di Jalan Allah
Swt. & Nafs-al-Muthmainnah
(Jiwa yang Tentram)
Dalam surah lain bentuk ancaman
iblis tersebut dijelaskan
Allah Swt, firman-Nya:
قَالَ اذۡہَبۡ
فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ جَہَنَّمَ
جَزَآؤُکُمۡ جَزَآءً مَّوۡفُوۡرًا ﴿﴾ وَ
اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ
بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ وَ
عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ
اِلَّا غُرُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّ عِبَادِیۡ لَیۡسَ لَکَ
عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی
بِرَبِّکَ وَکِیۡلًا ﴿﴾
Dia berfirman: “Pergilah,
lalu barangsiapa akan mengikuti engkau
dari antara mereka maka sesungguhnya Jahannamlah
balasan bagi kamu, suatu balasan yang penuh. Dan bujuklah siapa dari antara mereka yang
engkau sanggup de-ngan suara engkau,
dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan
berkuda engkau dan pasukan
berjalan-kaki engkau dan berserikatlah
dengan mereka dalam harta dan anak-anak
mereka, dan berikanlah
janji-janji kepada mereka.” وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ اِلَّا
غُرُوۡرًا -- Dan
syaitan tidak menjanjikan kepada mereka
selain tipu-daya. Sesungguhnya mengenai hamba-hamba-Ku, engkau tidak akan mempunyai kekuasaan atas mereka, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau
sebagai Pelindung. (Bani
Israil [17]:64-66).
Ayat
ini menguraikan tiga macam daya-upaya
yang dilakukan oleh putra-putra kegelapan
pengikut Iblis untuk membujuk manusia supaya menjauhi jalan kebenaran:
(1) mereka
berusaha menakut-nakuti orang-orang
miskin dan lemah dengan ancaman akan mempergunakan kekerasan terhadap mereka;
(2) mereka
mempergunakan tindakan-tindakan yang
lebih keras terhadap mereka yang tidak dapat ditakut-takuti dengan cara gertak sambal (ancaman), yaitu dengan
mengadakan persekutuan-persekutuan
untuk tujuan melawan mereka dan mengadakan serangan
bersama terhadap mereka dengan segala cara;
(3) mereka
mencoba membujuk orang-orang kuat dan
yang lebih berpengaruh dengan tawaran akan menjadikannya pemimpin mereka, asalkan mereka tidak
akan membantu lagi pihak kebenaran.
Makna firman Allah Swt.: “Sesungguhnya
mengenai ham-ba-hamba-Ku,
engkau tidak akan mempunyai kekuasaan atas mereka, dan cukuplah
Tuhan Engkau sebagai Pelindung. (Bani Israil [17]:64-66). Manusia dapat terkena oleh bujukan-bujukan syaitan selama dia belum “dibangkitkan”, yaitu selama keimanannya belum mencapai taraf yang sempurna, yaitu mencapai
tingkatan ruhani an-Nafs-ul-muthmainnah (jiwa yang tentra), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا
النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی
رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً
﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai
jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau
ridha kepada-Nya dan Dia pun
ridha kepada engkau. Maka masuklah
dalam golongan hamba-hamba-Ku,
dan masuklah
ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:27-31).
Keadaan jiwa manusia yang disebut nafs-al-muthmainnah
merupakan tingkat perkembangan
ruhani tertinggi, ketika manusia
ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan
kekuatan ruhani yang khas. Ia “manunggal” dengan Tuhan dan tidak dapat hidup
tanpa Dia.
Pentingnya Istighfar dan Maghfirah Allah Swt.
Di dunia
ini, dan bukan setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam
dirinya, dan di dunia inilah dan bukan
di tempat lain jalan dibukakan
baginya untuk masuk ke surga, yang
akan berlanjut dengan memasuki surga di akhirat yang rangkaian tingkatannya tidak terbatas, sebagaimana dikemukakan dalam surah At-Tahrim
9, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, تُوۡبُوۡۤا
اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا -- bertaubatlah
kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas
taubat. عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ -- Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan
menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan
kamu وَ یُدۡخِلَکُمۡ
جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا
الۡاَنۡہٰرُ
-- dan akan
memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ
النَّبِیَّ وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan
Nabi maupun orang-orang yang beriman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِم -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan di sebelah
kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka akan berkata: “Hai Rabb
(Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami
cahaya kami, dan maafkanlah kami, sesungguhnya
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(At-Tahrim
[66]:9).
Jadi, ancaman penghadangan Iblis di jalan Allah Swt. terhadap orang-orang beriman tidak akan pernah berhenti dilakukan, karena itu betapa pentingnya orang-orang beriman untuk senantiasa
melakukan istighfar guna memohon maghfirah
(ampunan) Allah Swt..
Kisah upaya penyesatan yang dilakukan Iblis
terhadap wali Allah terkenal, Syeikh
Abdul-Qadir Jailani r.a. --
dengan menampakkan dirinya seakan-akan perwujudan Allah Swt. -- bahwa semua
yang diharamkan
Allah Swt. telah dihalalkan bagi
beliau merupakan salah satu contohnya, tetapi
wali Allah yang bermartabat Ghauts agung
tersebut berhasil mengenali semua
bentuk penipuan dan penyesatan yang dilakukan iblis, termasuk pada saat menjelang kewafatannya.
Sehubungan dengan pentingnya orang-orang beriman untuk senantiasa melakukan istighfar guna memohon maghfirah
(ampunan) Allah Swt. tersebut Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad
saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ لَکَ
اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ
مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ
َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. اِنَّا
فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا
-- Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan
nyata. لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ -- Supaya Allah melindungi engkau dari
dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا
مُّسۡتَقِیۡمًا -- dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan
memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, وَّ
یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا
عَزِیۡزًا -- dan Allah
akan menolong engkau dengan pertolongan
yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
Ayat 3 dengan sengaja disalahkemukakan, atau -- karena
kekurangan pengetahuan tentang muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab -- disalahartikan
oleh beberapa penulis Kristen seakan
mengandung arti, bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. mempunyai kesalahan-kesalahan akhlaki.
Telah merupakan salah satu dari Rukun
Islam, sebagaimana diperintakan oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan sesuatu yang bertentangan
dengan perintah Ilahi (QS.21:28).
Oleh karena mereka diutus oleh Allah Swt. untuk membersihkan
manusia dari dosa, maka tidaklah
mungkin mereka sendiri berbuat dosa.
Dan dari antara utusan-utusan Allah, Nabi
Besar Muhammad saw. yang paling
mulia dan paling suci (QS.33:22
& 42)
Al-Quran
mengandung banyak sekali ayat-ayat yang menyebut dengan kata-kata yang ceria mengenai
kesucian dan kema’shuman hidup beliau saw. (QS.2:130; QS.3:32 & 165; QS.6:163;
QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5; dan QS.81:20-22).
Firman-Nya lagi:
فَاصۡبِرۡ اِنَّ وَعۡدَ
اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ
بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ ﴿﴾
Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mintalah ampunan bagi mereka atas dosa yang diperbuat
mereka terhadap engkau dan
bertasbihlah dengan pujian Rabb (Tuhan) engkau pada waktu petang dan pagi. (Al-Mu’min
[40]:56).
Berbagai Makna Istighfar
Ghafar al-Mata’a berarti: ia meletakkan
barang-barang itu dalam kantong, lalu menutupi dan melindungi barang-barang
itu. Ghafran dan maghfirah kedua-duanya isim masdar (infinitive
nouns) dari ghafara dan berarti perlindungan
serta pemeliharaan. Mighfar berarti
topi baja karena topi baja melindungi kepala. Dzanb berarti kekurangan atau kelemahan
yang membawa akibat merugikan. Dzanba-hu
berarti: ia mengikuti jejaknya, tidak beranjak dari jejaknya (Lexicon Lane & Mufradat).
Istighfar bukan saja diperlukan oleh orang-orang
beriman awam (umum) melainkan juga
oleh wujud-wujud suci, seperti para wali Allah, bahkan oleh nabi-nabi
Allah. Sementara golongan pertama (mukmim awam) membaca istighfar untuk mencari perlindungan terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula
terhadap akibat-akibat buruk kesalahan
dan kekeliruan yang diperbuat di masa lalu, maka golongan
kedua (para rasul Allah) mohon
perlindungan terhadap kealpaan
dan kelemahan manusiawi yang dapat
merintangi kemajuan misi mereka.
Nabi-nabi Allah pun adalah makhluk manusia
dan walau mereka itu ma’shum (terpelihara dari dosa), namun
mereka pun diwarisi kekurangan-kekurangan
dan kelemahan-kelemahan insan maka
mereka memerlukan istighfar guna memohon pertolongan dan perlindungan Allah Swt., karena sebagaimana manusia pada umumnya mereka (para nabi Allah) pun tidak
mengetahui hal-hal gaib,
sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ
السَّاعَۃِ اَیَّانَ
مُرۡسٰہَا ؕ
قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا
عِنۡدَ رَبِّیۡ ۚ لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ
اِلَّا ہُوَ ؕۘؔ ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ لَا تَاۡتِیۡکُمۡ اِلَّا
بَغۡتَۃً ؕ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ
حَفِیٌّ عَنۡہَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ لَّاۤ
اَمۡلِکُ
لِنَفۡسِیۡ نَفۡعًا وَّ لَا
ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ وَ
لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ
مِنَ الۡخَیۡرِۚۖۛ وَ مَا مَسَّنِیَ السُّوۡٓءُ ۚۛ اِنۡ
اَنَا اِلَّا
نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ
لِّقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾٪
Mereka bertanya kepada engkau mengenai Kiamat: اَیَّانَ مُرۡسٰہَا -- “Kapan
terjadinya?” قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ -- Katakanlah: ”Pengetahuan mengenai itu hanya ada
pada sisi Rabb-ku (Tuhan-ku). لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat me-nampakkan mengenai
waktunya kecuali Dia. ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sangat berat Kiamat itu di seluruh langit dan bumi, لَا تَاۡتِیۡکُمۡ اِلَّا بَغۡتَۃً -- tidak
akan datang kepada kamu melainkan dengan
tiba-tiba.” یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا -- Mereka
bertanya kepada engkau seolah-olah engkau benar-benar mengetahuinya, قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- katakanlah:
“Sesungguhnya pengetahuan mengenai itu
hanya ada pada sisi Allah, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” قُلۡ لَّاۤ اَمۡلِکُ
لِنَفۡسِیۡ نَفۡعًا وَّ لَا
ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ -- Katakanlah: “Aku tidak memiliki kekuasaan meraih manfaat bagi diriku dan tidak pula
mudarat, kecuali apa yang
dikehendaki Allah. وَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِ -- Dan seandainya
aku mengetahui hal gaib niscaya aku
telah meraih banyak kebaikan, وَ مَا مَسَّنِیَ السُّوۡٓءُ -- dan keburukan
sekali-kali tidak akan menyentuhku. اِنۡ
اَنَا اِلَّا نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ
لِّقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ -- Aku
tidak lain melainkan pemberi
peringatan dan pemberi kabar gembira
kepada kaum yang beriman.” (Al-A’rāf [7]:188-189).
Berbagai makna
Istighfar, yakni
ghafar al-Mata’a berarti: ia
meletakkan barang-barang itu dalam kantong, lalu menutupi dan melindungi
barang-barang itu. Ghafran dan maghfirah kedua-duanya isim masdar
(infinitive nouns) dari ghafara dan berarti perlindungan serta pemeliharaan.
Mighfar berarti topi baja karena topi baja melindungi kepala. Dzanb berarti kekurangan atau kelemahan
yang membawa akibat merugikan. Dzanba-hu
berarti: ia mengikuti jejaknya, tidak beranjak dari jejaknya (Lexicon Lane & Mufradat).
Istighfar bukan saja diperlukan oleh orang-orang
beriman awam (umum) melainkan juga
oleh wujud-wujud suci, seperti para wali Allah, bahkan oleh nabi-nabi
Allah. Sementara golongan pertama (mukmim awam) membaca istighfar untuk mencari perlindungan terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula
terhadap akibat-akibat buruk kesalahan
dan kekeliruan yang diperbuat di masa lalu, maka golongan
kedua (para rasul Allah) mohon
perlindungan terhadap kealpaan
dan kelemahan manusiawi yang dapat
merintangi kemajuan misi mereka.
Para Rasul Allah Tidak
Mengetahui yang Gaib
Nabi-nabi Allah pun adalah makhluk manusia
dan walau mereka itu ma’shum (terpelihara dari dosa), namun
mereka pun diwarisi kekurangan-kekurangan
dan kelemahan-kelemahan insan maka
mereka memerlukan istighfar guna memohon pertolongan dan perlindungan Allah Swt., karena sebagaimana manusia pada umumnya mereka (para nabi Allah) pun tidak
mengetahui hal-hal gaib,
sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ
السَّاعَۃِ اَیَّانَ
مُرۡسٰہَا ؕ
قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا
عِنۡدَ رَبِّیۡ ۚ لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ
اِلَّا ہُوَ ؕۘؔ ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ لَا تَاۡتِیۡکُمۡ اِلَّا
بَغۡتَۃً ؕ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ
حَفِیٌّ عَنۡہَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ لَّاۤ
اَمۡلِکُ
لِنَفۡسِیۡ نَفۡعًا وَّ لَا
ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ وَ
لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ
مِنَ الۡخَیۡرِۚۖۛ وَ مَا مَسَّنِیَ السُّوۡٓءُ ۚۛ اِنۡ
اَنَا اِلَّا
نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ
لِّقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾٪
Mereka bertanya kepada engkau mengenai Kiamat: اَیَّانَ مُرۡسٰہَا -- “Kapan
terjadinya?” قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ -- Katakanlah: ”Pengetahuan mengenai itu hanya ada
pada sisi Rabb-ku (Tuhan-ku). لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat me-nampakkan mengenai
waktunya kecuali Dia. ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sangat berat Kiamat itu di seluruh langit dan bumi, لَا تَاۡتِیۡکُمۡ اِلَّا بَغۡتَۃً -- tidak
akan datang kepada kamu melainkan dengan
tiba-tiba.” یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا -- Mereka
bertanya kepada engkau seolah-olah engkau benar-benar mengetahuinya, قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- katakanlah:
“Sesungguhnya pengetahuan mengenai itu
hanya ada pada sisi Allah, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” قُلۡ لَّاۤ اَمۡلِکُ
لِنَفۡسِیۡ نَفۡعًا وَّ لَا
ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ -- Katakanlah: “Aku tidak memiliki kekuasaan meraih manfaat bagi diriku dan tidak pula
mudarat, kecuali apa yang
dikehendaki Allah. وَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِ -- Dan seandainya
aku mengetahui hal gaib niscaya aku
telah meraih banyak kebaikan, وَ مَا مَسَّنِیَ السُّوۡٓءُ -- dan keburukan
sekali-kali tidak akan menyentuhku. اِنۡ
اَنَا اِلَّا نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ
لِّقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ -- Aku
tidak lain melainkan pemberi
peringatan dan pemberi kabar gembira
kepada kaum yang beriman.” (Al-A’rāf [7]:188-189).
Mursa dalam ayat اَیَّانَ مُرۡسٰہَا -- “Kapan terjadinya?” itu
kata-benda masdar, atau kata-waktu atau kata-tempat (Lexicon Lane). Allah
Swt. memerintahkan Nabi Besar Muhammad saw. untuk menjawab: قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ -- Katakanlah: ”Pengetahuan mengenai itu hanya ada
pada sisi Rabb-ku (Tuhan-ku). لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat
menampakkan mengenai waktunya kecuali
Dia.”
Kecuali Allah Swt. Tidak
Ada yang Mengetahui Terjadinya Qiamat
Makna
ayat: لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat
menampakkan mengenai waktunya kecuali
Dia. ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sangat berat Kiamat
itu di seluruh langit dan bumi,
لَا تَاۡتِیۡکُمۡ اِلَّا بَغۡتَۃً -- tidak
akan datang kepada kamu melainkan dengan
tiba-tiba.” Memberikan hukuman
itu bagi Allah Swt. . sama pedihnya
seperti halnya bagi manusia menerimanya.”
“Langit” menampilkan Allah
Swt. dan para malaikat, sedangkan “bumi” menampilkan manusia.
Hafiyy
dalam ayat: یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا -- Mereka bertanya kepada engkau seolah-olah engkau benar-benar mengetahuinya, قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- katakanlah:
“Sesungguhnya pengetahuan mengenai itu
hanya ada pada sisi Allah, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” Hafiyy
berarti: memperlihatkan keinginan yang sangat dan menampakkan kegembiraan atau kesenangan di saat bertemu dengan orang lain; berupaya sampai ke
batas terakhir, dalam bertanya atau mencari tahu; atau mengetahui
sedalam-dalamnya (Lexicon Lane).
Mengenai ketidak-tahuan para rasul Allah -- termasuk Nabi Besar Muhammad saw. –
mengenai hal-hal yang gaib lebih jauh Allah Swt. berfirman kepada Nabi
Besar Muhammad saw.: قُلۡ لَّاۤ اَمۡلِکُ
لِنَفۡسِیۡ نَفۡعًا وَّ لَا
ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ -- Katakanlah: “Aku tidak memiliki kekuasaan meraih manfaat bagi diriku dan tidak pula
mudarat, kecuali apa yang
dikehendaki Allah. وَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِ -- Dan seandainya
aku mengetahui hal gaib niscaya aku
telah meraih banyak kebaikan, وَ مَا مَسَّنِیَ السُّوۡٓءُ -- dan keburukan
sekali-kali tidak akan menyentuhku. اِنۡ
اَنَا اِلَّا نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ
لِّقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ -- Aku
tidak lain melainkan pemberi
peringatan dan pemberi kabar gembira
kepada kaum yang beriman.” (Al-A’rāf [7]:188-189).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 9 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar