Sabtu, 10 September 2016

Berbagai Makna "Istighfar" dan "Maghfirah" Allah Swt. & Kecuali Allah Swt. Tidak Ada yang Mengetahui yang Gaib



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 9

  BERBAGAI MAKNA ISTIGHFAR DAN MAGHFIRAH ALLAH SWT. & KECUALI ALLAH SWT. TIDAK ADA YANG MENGETAHUI YANG GAIB  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  bagian  Bab 8  telah   dikemukakan    mengenai terhindarnya  orang-orang yang mencapai keadaan nafs-ul-muthmainnah (jiwa yang Tentram) dari bahaya ancaman penghadangan iblis  di jalan Allah Swt., firman-Nya:
قَالَ فَبِمَاۤ  اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ  لَہُمۡ صِرَاطَکَ  الۡمُسۡتَقِیۡمَ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ  وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ ؕ وَ لَا  تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  
Ia, Iblis,  berkata: “Karena  Engkau telah menyatakan  aku  sesat, niscaya aku akan menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus,   kemudian  niscaya  akan kudatangi mereka dari depan  mereka,  dan dari belakang mereka, dan dari kanan mereka, dan dari kiri mereka,   وَ لَا  تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ  --  dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka  bersyukur.”   (Al-A’rāf [7]:17-19).

Jejaring Ancaman Penghadangan Iblis di Jalan Allah Swt.   & Nafs-al-Muthmainnah (Jiwa yang Tentram)

        Dalam surah lain  bentuk ancaman iblis  tersebut  dijelaskan Allah Swt, firman-Nya:
قَالَ اذۡہَبۡ فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ جَہَنَّمَ  جَزَآؤُکُمۡ  جَزَآءً  مَّوۡفُوۡرًا ﴿﴾  وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّ عِبَادِیۡ  لَیۡسَ  لَکَ  عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی  بِرَبِّکَ  وَکِیۡلًا  ﴿﴾
Dia berfirman: “Pergilah, lalu barangsiapa akan mengikuti engkau dari antara mereka maka sesungguhnya Jahannamlah balasan bagi kamu,  suatu balasan yang penuh. Dan bujuklah siapa dari antara mereka yang engkau sanggup de-ngan suara engkau, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda engkau dan pasukan berjalan-kaki engkau dan berserikatlah dengan mereka dalam harta dan anak-anak mereka, dan berikanlah janji-janji kepada mereka.” وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا  --   Dan syaitan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipu-daya.  Sesungguhnya mengenai hamba-hamba-Ku, engkau tidak akan mempunyai kekuasaan atas mereka, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pelindung. (Bani Israil [17]:64-66).
     Ayat ini menguraikan tiga macam daya-upaya yang dilakukan oleh putra-putra kegelapan pengikut Iblis untuk membujuk manusia supaya menjauhi jalan kebenaran:
    (1) mereka berusaha menakut-nakuti orang-orang miskin dan lemah dengan ancaman akan mempergunakan kekerasan terhadap mereka;
      (2) mereka mempergunakan tindakan-tindakan yang lebih keras terhadap mereka yang tidak dapat ditakut-takuti dengan cara gertak sambal (ancaman), yaitu dengan mengadakan persekutuan-persekutuan untuk tujuan melawan mereka dan mengadakan serangan bersama terhadap mereka dengan segala cara;
    (3) mereka mencoba membujuk orang-orang kuat dan yang lebih berpengaruh dengan tawaran akan menjadikannya pemimpin mereka, asalkan mereka tidak akan membantu lagi pihak kebenaran.
  Makna firman Allah Swt.: “Sesungguhnya mengenai ham-ba-hamba-Ku, engkau tidak akan mempunyai kekuasaan atas mereka, dan cukuplah Tuhan Engkau sebagai Pelindung. (Bani Israil [17]:64-66).    Manusia dapat terkena oleh bujukan-bujukan syaitan selama dia belum “dibangkitkan”, yaitu selama keimanannya belum mencapai taraf yang sempurna, yaitu mencapai tingkatan ruhani  an-Nafs-ul-muthmainnah (jiwa yang tentra), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾   ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾   فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾  
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.  Maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku,  dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:27-31).
    Keadaan jiwa manusia  yang disebut nafs-al-muthmainnah  merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi, ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khas. Ia “manunggal” dengan Tuhan dan tidak dapat hidup tanpa Dia.

Pentingnya Istighfar dan Maghfirah Allah Swt.

      Di dunia ini, dan bukan  setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan  bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga, yang akan berlanjut dengan  memasuki surga di akhirat yang rangkaian tingkatannya tidak terbatas, sebagaimana  dikemukakan dalam  surah At-Tahrim 9, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا   -- bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat.  عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ   -- Boleh jadi Rabb (Tuhan)  kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan  kamu وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  --  dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungaiیَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِم  --  cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ   -- mereka  akan berkata: “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).
       Jadi, ancaman penghadangan Iblis di jalan Allah Swt. terhadap orang-orang beriman  tidak akan pernah berhenti dilakukan, karena itu betapa pentingnya orang-orang beriman untuk senantiasa melakukan istighfar guna memohon  maghfirah (ampunan) Allah Swt..
       Kisah upaya penyesatan yang dilakukan Iblis terhadap wali Allah  terkenal, Syeikh Abdul-Qadir Jailani r.a.  -- dengan  menampakkan dirinya seakan-akan   perwujudan Allah Swt. -- bahwa semua yang  diharamkan Allah Swt. telah dihalalkan bagi beliau merupakan salah satu contohnya, tetapi  wali Allah yang   bermartabat  Ghauts agung tersebut berhasil mengenali semua bentuk penipuan dan penyesatan yang dilakukan iblis, termasuk  pada saat menjelang kewafatannya.
   Sehubungan dengan pentingnya orang-orang beriman untuk senantiasa melakukan istighfar guna memohon  maghfirah (ampunan) Allah Swt. tersebut Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ      َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾  وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا  --    Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ     -- Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datangوَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ      َلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا --  dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,    وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا  --  dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
     Ayat 3 dengan sengaja disalahkemukakan, atau -- karena kekurangan pengetahuan tentang muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab  -- disalahartikan oleh beberapa penulis Kristen seakan mengandung arti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  mempunyai kesalahan-kesalahan akhlaki.
    Telah merupakan salah satu dari Rukun Islam, sebagaimana diperintakan oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Ilahi (QS.21:28). Oleh karena mereka diutus oleh Allah Swt.  untuk membersihkan manusia dari dosa, maka tidaklah mungkin mereka sendiri berbuat dosa. Dan dari antara utusan-utusan Allah, Nabi Besar Muhammad saw.  yang  paling mulia dan paling suci (QS.33:22 & 42)
  Al-Quran mengandung banyak sekali ayat-ayat yang menyebut dengan kata-kata yang ceria  mengenai  kesucian dan kema’shuman hidup beliau saw.  (QS.2:130; QS.3:32 & 165; QS.6:163; QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5; dan QS.81:20-22). Firman-Nya lagi:
فَاصۡبِرۡ  اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ ﴿﴾
Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mintalah ampunan bagi mereka atas dosa yang diperbuat mereka terhadap engkau dan bertasbihlah dengan pujian Rabb (Tuhan) engkau pada waktu petang dan pagi. (Al-Mu’min [40]:56).

Berbagai Makna Istighfar

   Ghafar al-Mata’a berarti: ia meletakkan barang-barang itu dalam kantong, lalu menutupi dan melindungi barang-barang itu. Ghafran dan maghfirah kedua-duanya isim masdar (infinitive nouns) dari ghafara dan berarti perlindungan serta pemeliharaan. Mighfar berarti topi baja  karena topi baja melindungi kepala. Dzanb berarti kekurangan atau kelemahan yang membawa akibat merugikan. Dzanba-hu berarti: ia mengikuti jejaknya, tidak beranjak dari jejaknya (Lexicon Lane & Mufradat).
  Istighfar bukan saja diperlukan oleh orang-orang beriman  awam (umum) melainkan juga oleh wujud-wujud suci,  seperti para wali Allah, bahkan oleh nabi-nabi Allah. Sementara golongan pertama (mukmim awam) membaca istighfar untuk mencari perlindungan terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula terhadap akibat-akibat buruk kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat di masa lalu, maka golongan kedua (para rasul Allah) mohon perlindungan terhadap kealpaan dan kelemahan manusiawi yang dapat merintangi kemajuan misi mereka.
    Nabi-nabi Allah pun  adalah  makhluk manusia dan walau mereka itu  ma’shum (terpelihara dari dosa), namun mereka pun diwarisi kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan insan   maka mereka memerlukan istighfar guna memohon pertolongan dan perlindungan  Allah Swt., karena sebagaimana manusia pada umumnya  mereka (para nabi Allah) pun  tidak mengetahui hal-hal gaib,   sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ السَّاعَۃِ اَیَّانَ مُرۡسٰہَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ ۚ لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ ؕۘؔ ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ لَا تَاۡتِیۡکُمۡ  اِلَّا بَغۡتَۃً ؕ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾    قُلۡ لَّاۤ  اَمۡلِکُ  لِنَفۡسِیۡ  نَفۡعًا وَّ لَا  ضَرًّا  اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِۚۖۛ وَ مَا مَسَّنِیَ  السُّوۡٓءُ ۚۛ اِنۡ  اَنَا  اِلَّا  نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ  لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾٪
Mereka bertanya kepada engkau mengenai Kiamat:  اَیَّانَ مُرۡسٰہَا -- “Kapan  terjadinya?”  قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ  --   Katakanlah:  Pengetahuan mengenai itu hanya ada pada sisi Rabb-ku (Tuhan-ku). لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat me-nampakkan mengenai  waktunya kecuali Dia. ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --  Sangat berat  Kiamat itu di seluruh langit dan bumiلَا تَاۡتِیۡکُمۡ  اِلَّا بَغۡتَۃً --   tidak akan datang kepada kamu melainkan dengan tiba-tiba.” یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا  -- Mereka bertanya kepada engkau seolah-olah engkau benar-benar mengetahuinya,  قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan mengenai itu hanya ada pada sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.قُلۡ لَّاۤ  اَمۡلِکُ  لِنَفۡسِیۡ  نَفۡعًا وَّ لَا  ضَرًّا  اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ  --      Katakanlah: “Aku tidak memiliki kekuasaan meraih manfaat bagi diriku dan tidak pula  mudarat, kecuali apa yang dikehendaki Allahوَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِ  --  Dan seandainya aku mengetahui hal gaib niscaya aku telah meraih banyak kebaikan, وَ مَا مَسَّنِیَ  السُّوۡٓءُ -- dan keburukan sekali-kali tidak akan menyentuhku. اِنۡ  اَنَا  اِلَّا  نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ  لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ  --    Aku tidak lain melainkan pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira kepada kaum yang beriman.”  (Al-A’rāf [7]:188-189).
      Berbagai makna Istighfar,   yakni     ghafar al-Mata’a berarti: ia meletakkan barang-barang itu dalam kantong, lalu menutupi dan melindungi barang-barang itu. Ghafran dan maghfirah kedua-duanya isim masdar (infinitive nouns) dari ghafara dan berarti perlindungan serta pemeliharaan. Mighfar berarti topi baja  karena topi baja melindungi kepala. Dzanb berarti kekurangan atau kelemahan yang membawa akibat merugikan. Dzanba-hu berarti: ia mengikuti jejaknya, tidak beranjak dari jejaknya (Lexicon Lane & Mufradat).
 Istighfar bukan saja diperlukan oleh orang-orang beriman  awam (umum) melainkan juga oleh wujud-wujud suci,  seperti para wali Allah, bahkan oleh nabi-nabi Allah. Sementara golongan pertama (mukmim awam) membaca istighfar untuk mencari perlindungan terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula terhadap akibat-akibat buruk kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat di masa lalu, maka golongan kedua (para rasul Allah) mohon perlindungan terhadap kealpaan dan kelemahan manusiawi yang dapat merintangi kemajuan misi mereka.

Para Rasul Allah Tidak Mengetahui yang Gaib

    Nabi-nabi Allah pun  adalah  makhluk manusia dan walau mereka itu  ma’shum (terpelihara dari dosa), namun mereka pun diwarisi kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan insan   maka mereka memerlukan istighfar guna memohon pertolongan dan perlindungan  Allah Swt., karena sebagaimana manusia pada umumnya  mereka (para nabi Allah) pun  tidak mengetahui hal-hal gaib,   sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ السَّاعَۃِ اَیَّانَ مُرۡسٰہَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ ۚ لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ ؕۘؔ ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ لَا تَاۡتِیۡکُمۡ  اِلَّا بَغۡتَۃً ؕ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾    قُلۡ لَّاۤ  اَمۡلِکُ  لِنَفۡسِیۡ  نَفۡعًا وَّ لَا  ضَرًّا  اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِۚۖۛ وَ مَا مَسَّنِیَ  السُّوۡٓءُ ۚۛ اِنۡ  اَنَا  اِلَّا  نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ  لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾٪
Mereka bertanya kepada engkau mengenai Kiamat:  اَیَّانَ مُرۡسٰہَا -- “Kapan  terjadinya?”  قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ  --   Katakanlah:  Pengetahuan mengenai itu hanya ada pada sisi Rabb-ku (Tuhan-ku). لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat me-nampakkan mengenai  waktunya kecuali Dia. ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --  Sangat berat  Kiamat itu di seluruh langit dan bumiلَا تَاۡتِیۡکُمۡ  اِلَّا بَغۡتَۃً --   tidak akan datang kepada kamu melainkan dengan tiba-tiba.” یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا  -- Mereka bertanya kepada engkau seolah-olah engkau benar-benar mengetahuinya,  قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan mengenai itu hanya ada pada sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.قُلۡ لَّاۤ  اَمۡلِکُ  لِنَفۡسِیۡ  نَفۡعًا وَّ لَا  ضَرًّا  اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ  --      Katakanlah: “Aku tidak memiliki kekuasaan meraih manfaat bagi diriku dan tidak pula  mudarat, kecuali apa yang dikehendaki Allahوَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِ  --  Dan seandainya aku mengetahui hal gaib niscaya aku telah meraih banyak kebaikan, وَ مَا مَسَّنِیَ  السُّوۡٓءُ -- dan keburukan sekali-kali tidak akan menyentuhku. اِنۡ  اَنَا  اِلَّا  نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ  لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ  --    Aku tidak lain melainkan pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira kepada kaum yang beriman.”  (Al-A’rāf [7]:188-189).
   Mursa  dalam ayat  اَیَّانَ مُرۡسٰہَا -- “Kapan  terjadinya?”    itu kata-benda masdar, atau kata-waktu atau kata-tempat (Lexicon Lane).  Allah Swt. memerintahkan Nabi Besar Muhammad saw. untuk menjawab: قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ  --   Katakanlah:  Pengetahuan mengenai itu hanya ada pada sisi Rabb-ku (Tuhan-ku). لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat menampakkan mengenai  waktunya kecuali Dia.”

Kecuali Allah Swt.  Tidak Ada yang Mengetahui Terjadinya Qiamat

  Makna ayat:  لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat menampakkan mengenai  waktunya kecuali Dia. ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --  Sangat berat  Kiamat itu di seluruh langit dan bumiلَا تَاۡتِیۡکُمۡ  اِلَّا بَغۡتَۃً --   tidak akan datang kepada kamu melainkan dengan tiba-tiba.”   Memberikan hukuman itu bagi Allah Swt. . sama pedihnya seperti halnya bagi manusia menerimanya.”    “Langit” menampilkan  Allah Swt.   dan para malaikat, sedangkan “bumi” menampilkan manusia.
 Hafiyy dalam ayat: یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا  -- Mereka bertanya kepada engkau seolah-olah engkau benar-benar mengetahuinya,  قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan mengenai itu hanya ada pada sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”    Hafiyy berarti:  memperlihatkan keinginan yang sangat dan menampakkan kegembiraan atau kesenangan di saat bertemu dengan orang lain; berupaya sampai ke batas terakhir, dalam bertanya atau mencari tahu; atau mengetahui sedalam-dalamnya (Lexicon Lane).
  Mengenai ketidak-tahuan para rasul Allah  -- termasuk Nabi Besar Muhammad saw. – mengenai hal-hal yang gaib  lebih jauh Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.: قُلۡ لَّاۤ  اَمۡلِکُ  لِنَفۡسِیۡ  نَفۡعًا وَّ لَا  ضَرًّا  اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ  --      Katakanlah: “Aku tidak memiliki kekuasaan meraih manfaat bagi diriku dan tidak pula  mudarat, kecuali apa yang dikehendaki Allahوَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِ  --  Dan seandainya aku mengetahui hal gaib niscaya aku telah meraih banyak kebaikan, وَ مَا مَسَّنِیَ  السُّوۡٓءُ -- dan keburukan sekali-kali tidak akan menyentuhku. اِنۡ  اَنَا  اِلَّا  نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ  لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ  --    Aku tidak lain melainkan pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira kepada kaum yang beriman.”  (Al-A’rāf [7]:188-189).

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 9 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar