Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
2
PELAKSANAAN IBADAH DAN KEMAJUAN RUHANI PELAKUNYA &
PEWARIS “SURGA FIRDAUS”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian bab I telah dikemukakan kekeliruan
orang-orang beragama yang melupakan tujuan
beragama yaitu bahwa
tujuan beragama dan mengamalkan ajaran agama atau dalam melakukan amal shaleh bukan hanya sekedar agar
manusia memperoleh pahala serta
menjadi penghuni surga -- yang di dalamnya tersedia bagi mereka berbagai macam kenikmatan yang disediakan Allah Swt. -- sehingga mereka melupakan upaya
perbaikan akhlak dan ruhani, sebagaimana yang diperingatkan Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَرَءَیۡتَ
الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾ فَذٰلِکَ
الَّذِیۡ یَدُعُّ الۡیَتِیۡمَ ۙ﴿﴾ وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ﴿﴾ فَوَیۡلٌ لِّلۡمُصَلِّیۡنَ
ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ یُرَآءُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
اَرَءَیۡتَ الَّذِیۡ
یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ -- Apakah
engkau melihat orang yang mendustakan
agama? فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ
الۡیَتِیۡمَ -- Maka itulah orang
yang mengusir anak yatim, وَ
لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ
-- dan tidak
menganjurkan memberi makan orang miskin. فَوَیۡلٌ
لِّلۡمُصَلِّیۡنَ -- Maka celakalah bagi
orang-orang yang shalat, الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ -- Orang-orang
yang lalai dari shalatnya, الَّذِیۡنَ
ہُمۡ یُرَآءُوۡنَ -- Yaitu
orang-orang yang berbuat pamer. ۙ وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ -- Dan
mencegah diri mereka untuk memberi
barang-barang kecil kepada orang-orang miskin. (Al-Mā’ūn
[107]:1-8).
Fungsi dan Khasiat Shalat & Munculnya Akhlak-akhlak Terpuji
Dalam firman-Nya tersebut Allah Swt.
menjelaskan bahwa tujuan utama beragama dan mengamalkan ajaran agama --
khususnya agama Islam (Al-Quran) –
adalah munculnya akhlak dan ruhani
terpuji dalam diri para pengamalnya, yang digambarkan dalam
bentuk kepedulian terhadap sesama manusia yang nasibnya kurang beruntung,
terutama anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
Karena itu sungguh sangat
buruk orang-orang yang tidak percaya kepada pembalasan Ilahi, atau, yang tidak percaya kepada dīn (agama)
– yang merupakan sumber dan dasar semua akhlak dan ruhani manusia. Contohnya mengenai fungsi atau khasiat shalat Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
اُتۡلُ
مَاۤ اُوۡحِیَ اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ ؕ اِنَّ الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ الۡمُنۡکَرِ ؕ
وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ ؕ وَ اللّٰہُ
یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ ﴿﴾
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu, وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ -- dan dirikanlah
shalat الۡمُنۡکَرِ اِنَّ الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ -- sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran. وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ -- Dan
me-ngingat Allah benar-benar pekerjaan
yang lebih besar, وَ
اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ -- dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabūt
[29]:46).
Utlu
berarti: mengumumkan; menablighkan; membaca; mengutarakan; memperdengarkan,
mengikuti (Lexicon Lane). Tiga
hal telah disebut dalam ayat ini -- yaitu,
menablighkan serta membacakan Al-Quran,
mendirikan shalat, dan zikir Ilahi -- tujuan ketiga hal itu ialah menyelamatkan manusia dari cengkeraman dosa dan membantu manusia untuk bangkit dan membuat kemajuan dalam akhlak dan
keruhanian.
Keimanan
yang hidup kepada Allah Swt. -- Dzat Yang Mahaluhur -- adalah asas
pokok bagi semua agama yang diwahyukan, sebab keimanan inilah yang dapat memegang
peranan sebagai suatu hambatan
yang kuat lagi ampuh terhadap kecenderungan-kecenderungan
dan perbuatan-perbuatan buruk
manusia.
Itulah sebabnya mengapa Al-Quran berulang kali kembali kepada masalah adanya Tuhan serta membicarakan kekuasaan, keagungan, dan
kecintaan-Nya yang besar, lalu
memberi tekanan keras pada kepentingan dzikir
Ilahi dalam bentuk shalat secara
Islam, yang bila dikerjakan dengan memenuhi
segala syarat yang diperlukan,
maka kebersihan pikiran dan perbuatan merupakan hasilnya
yang pasti, itulah makna: الۡمُنۡکَرِ اِنَّ
الصَّلٰوۃَ تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ وَ -- “sesungguhnya
shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran.” Firman-Nya lagi:
وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ طَرَفَیِ
النَّہَارِ وَ زُلَفًا مِّنَ الَّیۡلِ ؕ اِنَّ
الۡحَسَنٰتِ یُذۡہِبۡنَ السَّیِّاٰتِ ؕ ذٰلِکَ
ذِکۡرٰی
لِلذّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Dan dirikanlah
shalat pada kedua ujung siang
dan pada beberapa bagian malam.
Sesungguhnya kebaikan-kebaikan menghapuskan
keburukan-keburukan. Itu adalah suatu peringatan
bagi orang-orang yang mengingat. (Hūd
[11]:115).
Pentingnya Memperhatikan Anak Yatim dan Orang Miskin
Jadi, kembali kepada Surah Al-Mā’ūn: اَرَءَیۡتَ الَّذِیۡ
یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ -- “apakah engkau melihat orang yang mendustakan agama? فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ
الۡیَتِیۡمَ -- maka itulah orang yang mengusir anak yatim, وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ -- dan tidak
menganjurkan memberi makan orang miskin.”
Ayat-ayat ini membicarakan dua macam penyakit masyarakat yang sangat berbahaya, dan bila tidak mengadakan penjagaan seksama terhadap kedua
penyakit itu dapat dipastikan akan mendatangkan kemunduran dan perpecahan
total di dalam masyarakat.
Kegagalan memelihara
anak-anak yatim dengan cara sebaik-baiknya membunuh jiwa pengorbanan di dalam suatu bangsa; dan mengabaikan orang-orang
miskin dan fakir akan menjauhkan satu bagian masyarakat yang berguna dari segala prakarsa dan kemauan memperbaiki nasib mereka.
Makna
ayat selanjutnya: فَوَیۡلٌ
لِّلۡمُصَلِّیۡنَ -- Maka celakalah
bagi orang-orang yang shalat, الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ -- Orang-orang yang lalai dari shalatnya,
الَّذِیۡنَ ہُمۡ یُرَآءُوۡنَ -- Yaitu orang-orang yang berbuat pamer.” Shalat
merupakan tugas dan kewajiban yang harus kita laksanakan
karena Allah Swt., dan shalat
orang-orang munafik yang tidak
menunaikan kewajiban terhadap sesama makhluk Allah itu, tidak lebih daripada
sebuah jasad tanpa ruh, atau kulit tanpa isi. Orang-orang
munafik hanya memperagakan perbuatan-perbuatan baik dan sedekah
sekedarnya tetapi tidak mengandung jiwa.
Al-mā’ūn
dalam ayat:
. ۙ وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ -- “dan mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil kepada
orang-orang miskin” berarti: barang-barang kecil; perabot rumah tangga
biasa; seperti, kapak, panci masak, dan sebagainya; suatu tindak kebaikan;
sesuatu yang berguna; zakat (Aqrab-ul-Mawarid).
Tingkatan-tingkatan
Kemajuan Melakukan Ibadah Kepada Allah Swt.: Shalat yang Khusyuk
Jika shalat dilakukan sesuai yang difahami dan diamalkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. maka akan
menimbulkan pengaruh yang sangat besar bagi perbaikan akhlak dan ruhani
pelakunya, mengenai hal tersebut Allah
Swt. berfirman berkenaan rangkaian
kemajuan akhlak dan ruhani yang mengikuti pelaksanan shalat yang hakiki:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قَدۡ اَفۡلَحَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ ہُمۡ فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ مُعۡرِضُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ لِلزَّکٰوۃِ فٰعِلُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِفُرُوۡجِہِمۡ
حٰفِظُوۡنَ ۙ﴿﴾ اِلَّا
عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ مَلُوۡمِیۡنَ ۚ﴿﴾ فَمَنِ
ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ ۚ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ
ہُمۡ لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ
رٰعُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ
عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ ۘ﴿﴾
اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡوٰرِثُوۡنَ
﴿ۙ﴾ الَّذِیۡنَ
یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sungguh
telah berhasil orang-orang
yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang
yang berpaling dari hal yang sia-sia.
Dan orang-orang
yang membayar zakat. Dan orang-orang
yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa
yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa mencari selain dari itu
maka mereka itu orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka. Dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka. Mereka itulah pewaris, yaitu orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka
akan kekal di dalamnya. (Al-Mu’minūn
[23[:1-12).
Ayat 2 menunjuk
kepada orang-orang beriman yang
mempunyai tingkat keruhanian yang amat
tinggi. Sifat-sifat istimewa dan ciri-ciri khususnya disebutkan dalam
ayat-ayat berikutnya. Orang-orang beriman
semacam itu akan memperoleh falah (sukses) dan bukan hanya najat
(keselamatan), sebab mencapai falah (kesuskesan) menandakan tingkat ruhani yang jauh lebih tinggi dari hanya mencapai najat (keselamatan).
Dengan
ayat 3 mulai pelukisan mengenai kondisi-kondisi atau prasyarat-prasyarat yang seorang beriman harus penuhi sebelum dapat
menaruh harapan untuk memperoleh falah (sukses) dalam kehidupan dan mencapai tujuan utama, yang untuk itu Allah Swt.
telah menciptakan dia, firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ مَاۤ اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ
رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ
یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ
اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ ذُو
الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan ins ( manusia) melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. Aku
tidak menghendaki rezeki dari mereka,
dan tidak pula Aku menghendaki
supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya
Allah Dia-lah Pemberi rezeki,
Pemiliki
Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt [51]:57-59).
Syarat-syarat tersebut dapat dianggap sekian banyak tingkat perkembangan ruhani manusia. Tingkat atau pal pertama dalam
perjalanan ruh manusia ialah bahwa seorang
beriman harus menghadap kepada
Tuhan dengan penuh kerendahan diri,
merasa gentar oleh keagungan Ilahi, dan dengan hati yang
menyesal dan merendahkan diri: فِیۡ صَلَاتِہِمۡ
خٰشِعُوۡنَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ -- “Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.”
Pengisian Waktu
Dengan Ibadah &
Menjaga Kesucian Farji (Aurat)
Tingkat kemajuan kedua terletak dalam berpaling dari segala macam
percakapan dan khayalan tidak berguna, dan dari amal perbuatan sia-sia, percuma
serta tidak membawa manfaat: مُعۡرِضُوۡنَ اللَّغۡوِ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ وَ -- “dan orang-orang
yang berpaling dari hal yang sia-sia.”
Kehidupan di dunia ini merupakan suatu kenyataan yang suram dan serius
sebab merupakan ladang untuk melaksanakan iman
dan amal shaleh dan seorang
beriman harus menanggapinya demikian. Ia harus mempergunakan setiap saat dalam kehidupannya dengan cara yang bermanfaat dan menjauhi semua kesibukan sia-sia yang tidak berguna, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾ اِنَّ
الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾ اِلَّا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
وَ الۡعَصۡرِ
-- Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasihati mengenai kebenaran dan saling menasihati mengenai kesabaran. (Al-Ashr [103]:1-4).
Makna ayat selanjutnya: فٰعِلُوۡنَ لِلزَّکٰوۃِ الَّذِیۡنَ ہُمۡ وَ -- “Dan orang-orang yang
membayar zakat.” Tujuan zakat
bukan hanya menyediakan sarana-sarana
untuk meringankan beban orang-orang yang
keadaannya menyedihkan, atau untuk memajukan kesejahteraan golongan
masyarakat yang secara ekonomis kurang beruntung, melainkan mencegah
juga penimbunan uang dan bahan-bahan keperluan dan dengan
demikian menjamin kelancaran perputaran
kedua-duanya, agar mengakibatkan terciptanya keseimbangan ekonomi yang sehat.
Sebagaimana air yang tergenang
lama kelamaan akan membusuk dan berpenyakit demikian pula penimbunan
harta-kekayaan pun mengakibatkan akibat buruk yang sama, baik kepada si pemilik mau pun kepada masyarakat luas yang berhak atas harta yang ditimbul tersebut, khususnya anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
Kemajuan akhlak dan ruhani berikutnya: ۡ لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ الَّذِیۡنَ ہُم وَ -- “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, مَلُوۡمِیۡنَ اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ
فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ -- kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa
yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela.” Makna ungkapan mā malakat aimanukum secara umum berarti perempuan-perempuan berstatus tawanan
perang yang tidak ditebus dan
berada dalam tahanan serta jatuh ke
dalam kuasa orang-orang Islam, karena mereka telah ikut secara aktif dalam peperangan
yang dilancarkan dengan maksud menghancurkan
Islam, maka dengan demikian secara hukum mencabut
hak diri mereka sendiri untuk
memperoleh kemerdekaan.
Istilah mā malakat aimanukum (yang dimiliki tangan kanannya) itu digunakan
dalam Al-Quran sebagai pengganti
sebutan ‘ibad dan ‘ima (budak laki-laki dan budak perempuan)
untuk mengisyaratkan kepada pemilikan
yang sah dan benar menurut hukum. Jadi
terjemahan ayat tersebut adalah: “kecuali
terhadap istri-istri mereka yang berasal
dari kalangan orang-orang merdeka dan istri-istri mereka yang berasal dari
kalangan yang dimiliki tangan kanan (sahaya)
kalian.”
Ungkapan, milk yamin berarti milik
penuh dan sah menurut hukum (Lisan-ul-‘Arab). Istilah itu mencakup budak-budak laki-laki dan perempuan,
dan hanya letaknya dalam kalimat saja yang menetapkan apa yang dimaksud oleh
ungkapan itu pada satu tempat tertentu. Banyak sekali terjadi kesalahpahaman, mengenai ungkapan “yang
dimiliki tangan kanan kamu” dan apa hak
dan kedudukan orang-orang yang
menjadi tujuan pernyataan itu. Islam telah mengutuk
perbudakan dengan kata-kata yang tidak samar-samar.
Menurut Islam memahrumkan
(meluputkan) seseorang dari kemerdekaannya merupakan dosa
yang amat besar kecuali, tentu saja ia — baik laki-laki maupun perempuan —
membuat dirinya layak dirampas
kemerdekaannya, karena keikutsertaannya
dalam peperangan yang dilancarkan
dengan maksud menghancurkan agama Islam
atau negara Islam.
Memperjualbelikan budak-budak itu merupakan dosa besar pula. Ajaran Islam dalam hal ini
benar-benar lugas, tegas, dan
tidak samar-samar. Menurut Islam, seseorang yang membuat orang lain menjadi budaknya,
berbuat dosa besar terhadap Tuhan dan terhadap manusia (Bukhari,
Kitab-ul-Bai’, dan Dawud,
seperti ditukil oleh Fath al-Bari).
Setelah menyebutkan istri-istri
yang berasal dari latar-belakang sosial
yang berbeda tersebut selanjutnya
Allah Swt. menegaskan: فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡعٰدُوۡنَ --
“Tetapi barangsiapa mencari selain dari
itu maka mereka itu orang-orang yang
melampaui batas. ”
Menjadi “Al-Amin” &
Pewaris “Surga Firdaus”
Kembali kepada jenjang-jenjang suluk
(perjalanan ruhani) yang ditempuh orang-orang beriman yang hakiki dalam Surah Al-Mu’minun ayat 2-12 selanjutnya Allah
Swt. berfirman: الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ وَ -- “Dan orang-orang
yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian
mereka.” Yakni mereka benar-benar
menjadi orang-orang yang amīn
(terpercaya) dalam hal memenuhi
amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian
mereka, baik berkenaan dengan Allah Swt.
mau pun dengan sesama manusia.
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman mengenai jenjang suluk
(perjalanan ruhani) berikut ini: “ Dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka. (Al-Mu’minūn [23[:11). Ayat ini
menandai tingkat perkembangan ruhani
yang terakhir dan tertinggi, di mana zikir Ilahi menjadi
fitrat kedua bagi seorang beriman dan menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari wujudnya serta penghibur
bagi ruhnya.
Pada tingkat ini ia menaruh perhatian khusus kepada amal ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjamaah), yang
menunjukkan bahwa perasaan dan kesadaran
berkaum menjadi sangat kuat dalam
dirinya, dan ia membelakangkan kepentingan-kepentingan
diri pribadi serta mendahulukan kebaikan
bersama dan kepentingan kaum.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: الۡوٰرِثُوۡنَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ -- “Mereka
itulah pewaris, الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ
ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- yaitu orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka
akan kekal di dalamnya. (Al-Mu’minūn
[23[:12). Karena orang-orang
beriman yang disebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinya menghimpun dalam diri mereka segala macam sifat mulia maka mereka
akan disuruh bermukim di surga Firdaus
yang berisikan segala sesuatu yang
terdapat dalam kebun mana pun (Lexicon Lane).
Selain itu, karena mereka mendatangkan kematian terhadap keinginan-keinginan mereka sendiri, maka sebagai imbalannya Allah Swt. akan memberi
mereka kehidupan kekal dan mereka akan
memperoleh segala yang mereka inginkan: لَہُمۡ مَّا
یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا
مَزِیۡدٌ – “Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan dan di
sisi Kami ada tambahan
lagi”, firman-Nya:
یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ
امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ مِنۡ
مَّزِیۡدٍ ﴿﴾ وَ اُزۡلِفَتِ
الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ ﴿﴾ ہٰذَا
مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾ مَنۡ
خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾ ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾ لَہُمۡ مَّا یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Pada
hari itu Kami akan berkata
kepada Jahannam: ہَلِ امۡتَلَاۡتِ
-- “Apakah eng-kau sudah penuh?”
Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ
مِنۡ مَّزِیۡدٍ -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ بَعِیۡدٍ
-- Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa, tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ
حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah
dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya. مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat,
ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ
الۡخُلُوۡدِ -- “Masuklah
ke dalamnya dengan selamat sejahtera.
Inilah Hari yang kekal abadi.” لَہُمۡ مَّا
یَشَآءُوۡنَ فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا
مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di
dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan
dan di sisi Kami ada tambahan lagi. (Qāf
[50]:31-36).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy
Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 2 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar