Sabtu, 03 September 2016

Pelaksanaan Ibadah Kepada Allah Swt. dan Kemajuan Ruhani Para Pelakunya & Para Pewaris "Surga Firdaus"





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 2

PELAKSANAAN IBADAH DAN KEMAJUAN RUHANI PELAKUNYA &  PEWARIS “SURGA FIRDAUS

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian bab I   telah  dikemukakan  kekeliruan orang-orang beragama yang melupakan  tujuan beragama  yaitu  bahwa  tujuan beragama dan mengamalkan ajaran agama  atau dalam melakukan amal shaleh bukan hanya  sekedar  agar  manusia memperoleh pahala serta menjadi penghuni surga   --   yang di dalamnya tersedia bagi mereka berbagai macam kenikmatan yang disediakan Allah Swt.   --  sehingga  mereka  melupakan upaya perbaikan akhlak dan  ruhani, sebagaimana yang diperingatkan Allah Swt. berikut ini:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  اَرَءَیۡتَ  الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ ؕ﴿﴾  فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ  الۡیَتِیۡمَ ۙ﴿﴾  وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ﴿﴾  فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ ہُمۡ  یُرَآءُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  اَرَءَیۡتَ  الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ  --             Apakah engkau melihat orang yang mendustakan  agama?       فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ  الۡیَتِیۡمَ -- Maka itulah orang yang mengusir anak yatim, وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ  --    dan  tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.     فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ -- Maka celakalah bagi orang-orang yang shalatالَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ --  Orang-orang yang lalai dari  shalatnya, الَّذِیۡنَ ہُمۡ  یُرَآءُوۡنَ  -- Yaitu orang-orang yang berbuat  pamerۙ  وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ  --       Dan mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil kepada orang-orang miskin. (Al-Mā’ūn [107]:1-8).

Fungsi dan Khasiat Shalat   & Munculnya Akhlak-akhlak Terpuji

      Dalam firman-Nya tersebut Allah Swt. menjelaskan bahwa tujuan utama beragama dan mengamalkan ajaran agama  -- khususnya agama Islam (Al-Quran) – adalah munculnya akhlak  dan ruhani terpuji dalam  diri para pengamalnya, yang digambarkan dalam bentuk  kepedulian terhadap sesama manusia yang nasibnya kurang beruntung,  terutama  anak-anak yatim  dan orang-orang miskin.
 Karena itu sungguh sangat  buruk  orang-orang yang tidak percaya kepada pembalasan Ilahi, atau, yang tidak percaya kepada dīn (agama) –  yang merupakan sumber dan dasar semua akhlak dan ruhani  manusia.  Contohnya mengenai fungsi atau khasiat shalat  Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اُتۡلُ مَاۤ  اُوۡحِیَ  اِلَیۡکَ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ ؕ اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ ﴿﴾
Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau dari Kitab Al-Quran itu, وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ  -- dan dirikanlah shalat  الۡمُنۡکَرِ اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ  --   sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran.  وَ لَذِکۡرُ اللّٰہِ اَکۡبَرُ  -- Dan  me-ngingat Allah benar-benar pekerjaan yang lebih besarوَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُوۡنَ --  dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Ankabūt [29]:46).
  Utlu berarti: mengumumkan; menablighkan; membaca; mengutarakan; memperdengarkan, mengikuti (Lexicon Lane).   Tiga hal telah disebut dalam ayat ini  -- yaitu, menablighkan serta membacakan Al-Quran, mendirikan shalat, dan zikir Ilahi  -- tujuan ketiga hal itu ialah menyelamatkan manusia dari cengkeraman dosa dan membantu manusia untuk bangkit dan membuat kemajuan dalam akhlak dan keruhanian.
       Keimanan yang hidup kepada Allah Swt.  -- Dzat Yang Mahaluhur  --  adalah  asas pokok bagi semua agama yang diwahyukan, sebab keimanan inilah yang dapat memegang peranan sebagai suatu hambatan yang kuat lagi ampuh terhadap kecenderungan-kecenderungan dan perbuatan-perbuatan buruk manusia.
      Itulah sebabnya mengapa Al-Quran berulang kali kembali kepada masalah adanya Tuhan serta   membicarakan kekuasaan, keagungan, dan kecintaan-Nya yang besar, lalu memberi tekanan keras pada kepentingan dzikir Ilahi dalam bentuk shalat secara Islam, yang bila dikerjakan dengan memenuhi segala syarat yang diperlukan, maka kebersihan pikiran dan perbuatan  merupakan hasilnya yang pasti, itulah makna: الۡمُنۡکَرِ اِنَّ الصَّلٰوۃَ      تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ  --   “sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian serta kemungkaran.”   Firman-Nya lagi:
وَ اَقِمِ الصَّلٰوۃَ طَرَفَیِ النَّہَارِ وَ زُلَفًا مِّنَ الَّیۡلِ ؕ اِنَّ الۡحَسَنٰتِ یُذۡہِبۡنَ السَّیِّاٰتِ ؕ ذٰلِکَ  ذِکۡرٰی  لِلذّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ۚ
Dan  dirikanlah shalat pada kedua ujung siang dan pada beberapa bagian malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan menghapuskan keburukan-keburukan. Itu adalah suatu peringatan bagi orang-orang yang mengingat. (Hūd [11]:115).

Pentingnya Memperhatikan Anak Yatim dan Orang Miskin

        Jadi, kembali kepada Surah Al-Mā’ūnاَرَءَیۡتَ  الَّذِیۡ یُکَذِّبُ بِالدِّیۡنِ  -- “apakah engkau melihat orang yang mendustakan  agama?       فَذٰلِکَ الَّذِیۡ یَدُعُّ  الۡیَتِیۡمَ -- maka itulah orang yang mengusir anak yatim, وَ لَا یَحُضُّ عَلٰی طَعَامِ الۡمِسۡکِیۡنِ ؕ  --    dan  tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”  
    Ayat-ayat ini  membicarakan dua macam penyakit masyarakat yang sangat berbahaya, dan bila tidak mengadakan penjagaan seksama terhadap kedua penyakit itu dapat dipastikan akan mendatangkan kemunduran dan perpecahan total di dalam masyarakat.
  Kegagalan memelihara anak-anak yatim dengan cara sebaik-baiknya membunuh jiwa pengorbanan di dalam suatu bangsa; dan mengabaikan orang-orang miskin dan fakir akan menjauhkan satu bagian masyarakat yang berguna dari segala prakarsa dan kemauan memperbaiki nasib mereka.
   Makna ayat selanjutnya:   فَوَیۡلٌ  لِّلۡمُصَلِّیۡنَ -- Maka celakalah bagi orang-orang yang shalatالَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنۡ صَلَاتِہِمۡ سَاہُوۡنَ --  Orang-orang yang lalai dari  shalatnya, الَّذِیۡنَ ہُمۡ  یُرَآءُوۡنَ  -- Yaitu orang-orang yang berbuat  pamer.”  Shalat merupakan tugas dan kewajiban yang harus kita laksanakan karena Allah Swt., dan shalat orang-orang munafik yang tidak menunaikan kewajiban terhadap sesama makhluk Allah itu, tidak lebih daripada sebuah jasad tanpa ruh, atau kulit tanpa isi.   Orang-orang munafik hanya memperagakan perbuatan-perbuatan baik dan sedekah sekedarnya tetapi tidak mengandung jiwa.
  Al-mā’ūn  dalam ayat:  .  ۙ  وَ یَمۡنَعُوۡنَ الۡمَاعُوۡنَ  --  “dan mencegah diri mereka untuk memberi barang-barang kecil kepada orang-orang miskin” berarti: barang-barang kecil; perabot rumah tangga biasa; seperti, kapak, panci masak, dan sebagainya; suatu tindak kebaikan; sesuatu yang berguna; zakat (Aqrab-ul-Mawarid).

Tingkatan-tingkatan Kemajuan Melakukan Ibadah Kepada Allah Swt.:  Shalat yang Khusyuk

 Jika shalat  dilakukan sesuai yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad  saw. maka akan menimbulkan pengaruh yang sangat besar bagi perbaikan akhlak dan ruhani pelakunya,  mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman berkenaan  rangkaian  kemajuan  akhlak dan ruhani  yang mengikuti pelaksanan shalat yang hakiki:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ  مُعۡرِضُوۡنَ ﴿ۙ﴾   وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِلزَّکٰوۃِ  فٰعِلُوۡنَ   ۙ﴿﴾   وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ ۙ﴿﴾  اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ   مَلُوۡمِیۡنَ ۚ﴿﴾   فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ ۚ﴿﴾   وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ ۙ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَوٰتِہِمۡ یُحَافِظُوۡنَ  ۘ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡوٰرِثُوۡنَ ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Sungguh  telah berhasil   orang-orang  yang beriman,  yaitu orang-orang yang khusyuk  dalam shalatnya,   dan  orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia.  Dan  orang-orang yang membayar zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,      kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela.   Tetapi barangsiapa mencari selain dari itu  maka mereka itu  orang-orang yang melampaui batas.  Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka.    Dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka.  Mereka itulah pewaris,    yaitu  orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus,  mereka akan   kekal di dalamnya.  (Al-Mu’minūn [23[:1-12). 
  Ayat 2 menunjuk kepada orang-orang beriman yang mempunyai tingkat keruhanian yang amat tinggi. Sifat-sifat istimewa dan ciri-ciri khususnya disebutkan dalam ayat-ayat berikutnya. Orang-orang beriman semacam itu akan memperoleh falah (sukses) dan bukan hanya najat (keselamatan), sebab mencapai falah (kesuskesan) menandakan tingkat ruhani yang jauh lebih tinggi dari hanya mencapai najat (keselamatan).
       Dengan ayat  3 mulai pelukisan mengenai kondisi-kondisi atau prasyarat-prasyarat yang seorang beriman harus penuhi sebelum dapat menaruh harapan untuk memperoleh falah (sukses)  dalam kehidupan dan mencapai tujuan utama, yang untuk itu Allah Swt.  telah menciptakan dia, firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾  مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak   menciptakan jin dan ins ( manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku.  Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka, dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya  Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki  Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt [51]:57-59).
      Syarat-syarat tersebut dapat dianggap sekian banyak tingkat perkembangan ruhani manusia. Tingkat atau pal pertama dalam perjalanan ruh manusia ialah bahwa seorang  beriman harus menghadap kepada Tuhan dengan penuh kerendahan diri, merasa gentar oleh keagungan Ilahi, dan dengan hati yang menyesal dan merendahkan diri:  فِیۡ صَلَاتِہِمۡ خٰشِعُوۡنَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  --  “Yaitu orang-orang yang khusyuk  dalam shalatnya.”

Pengisian Waktu  Dengan Ibadah   & Menjaga Kesucian Farji (Aurat)

       Tingkat kemajuan kedua terletak dalam berpaling dari segala macam percakapan dan khayalan tidak berguna, dan dari amal perbuatan sia-sia, percuma serta tidak membawa manfaatمُعۡرِضُوۡنَ  اللَّغۡوِ   الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ  وَ --  “dan  orang-orang yang berpaling dari hal yang sia-sia.
      Kehidupan di dunia ini  merupakan suatu kenyataan yang suram dan serius  sebab merupakan ladang untuk melaksanakan iman dan amal shaleh   dan seorang beriman harus menanggapinya demikian. Ia harus mempergunakan setiap saat dalam kehidupannya dengan cara yang bermanfaat dan menjauhi semua kesibukan sia-sia yang tidak berguna, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  وَ الۡعَصۡرِ ۙ﴿﴾  اِنَّ  الۡاِنۡسَانَ لَفِیۡ خُسۡرٍ ۙ﴿﴾ اِلَّا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَ تَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۬ۙ  وَ تَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  وَ الۡعَصۡرِ  -- Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasihati mengenai kebenaran dan saling menasihati mengenai kesabaran.  (Al-Ashr [103]:1-4).
       Makna ayat selanjutnya: فٰعِلُوۡنَ       لِلزَّکٰوۃِ الَّذِیۡنَ ہُمۡ  وَ  --   “Dan  orang-orang yang membayar zakat.” Tujuan zakat bukan hanya menyediakan sarana-sarana untuk meringankan beban orang-orang yang keadaannya menyedihkan, atau untuk memajukan kesejahteraan golongan masyarakat yang secara ekonomis kurang beruntung, melainkan mencegah juga penimbunan uang dan bahan-bahan keperluan dan dengan demikian menjamin kelancaran perputaran kedua-duanya, agar mengakibatkan terciptanya keseimbangan ekonomi yang sehat.
      Sebagaimana air yang tergenang lama kelamaan akan membusuk dan berpenyakit demikian pula penimbunan harta-kekayaan pun mengakibatkan akibat buruk yang sama, baik kepada si pemilik mau pun kepada masyarakat luas yang berhak atas harta  yang ditimbul tersebut, khususnya anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
      Kemajuan akhlak dan ruhani berikutnya:  ۡ  لِفُرُوۡجِہِمۡ حٰفِظُوۡنَ الَّذِیۡنَ ہُم وَ --  “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, مَلُوۡمِیۡنَ اِلَّا عَلٰۤی اَزۡوَاجِہِمۡ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُمۡ فَاِنَّہُمۡ غَیۡرُ   --  kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanannya maka sesungguhnya mereka tidak tercela.”  Makna   ungkapan  mā malakat aimanukum  secara umum berarti perempuan-perempuan berstatus tawanan perang yang tidak ditebus dan berada dalam tahanan serta jatuh ke dalam kuasa orang-orang Islam, karena mereka telah ikut secara aktif dalam peperangan yang dilancarkan dengan maksud menghancurkan Islam, maka dengan demikian  secara hukum  mencabut hak diri mereka sendiri untuk memperoleh kemerdekaan.
      Istilah  mā malakat aimanukum  (yang dimiliki tangan kanannya) itu digunakan dalam Al-Quran sebagai pengganti sebutan ‘ibad dan ‘ima (budak laki-laki dan budak perempuan) untuk mengisyaratkan kepada pemilikan yang sah dan benar menurut hukum.  Jadi  terjemahan ayat tersebut adalah: “kecuali terhadap istri-istri mereka  yang berasal dari kalangan orang-orang merdeka dan istri-istri mereka yang berasal dari kalangan yang dimiliki tangan kanan (sahaya)  kalian.”
      Ungkapan, milk yamin berarti milik penuh dan sah menurut hukum (Lisan-ul-‘Arab). Istilah itu mencakup budak-budak laki-laki dan perempuan, dan hanya letaknya dalam kalimat saja yang menetapkan apa yang dimaksud oleh ungkapan itu pada satu tempat tertentu. Banyak sekali terjadi kesalahpahaman, mengenai ungkapan “yang dimiliki tangan kanan kamu” dan apa hak dan kedudukan orang-orang yang menjadi tujuan pernyataan itu. Islam telah mengutuk perbudakan dengan kata-kata yang tidak samar-samar.
     Menurut Islam  memahrumkan (meluputkan)  seseorang dari kemerdekaannya  merupakan dosa yang amat besar kecuali, tentu saja ia — baik laki-laki maupun perempuan — membuat dirinya layak dirampas kemerdekaannya, karena keikutsertaannya dalam peperangan yang dilancarkan dengan maksud menghancurkan agama Islam atau negara Islam.
    Memperjualbelikan budak-budak itu merupakan dosa besar pula. Ajaran Islam  dalam hal ini  benar-benar  lugas, tegas, dan tidak samar-samar. Menurut Islam, seseorang yang membuat orang lain menjadi budaknya, berbuat dosa besar terhadap Tuhan dan terhadap manusia (Bukhari, Kitab-ul-Bai’, dan Dawud, seperti ditukil oleh Fath al-Bari).
     Setelah menyebutkan   istri-istri yang berasal dari latar-belakang sosial yang berbeda tersebut selanjutnya Allah Swt. menegaskan: فَمَنِ ابۡتَغٰی وَرَآءَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡعٰدُوۡنَ    -- “Tetapi barangsiapa mencari selain dari itu  maka mereka itu  orang-orang yang melampaui batas.

Menjadi “Al-Amin” & Pewaris “Surga Firdaus

       Kembali kepada jenjang-jenjang  suluk (perjalanan ruhani) yang ditempuh orang-orang beriman yang hakiki dalam Surah Al-Mu’minun ayat 2-12 selanjutnya Allah Swt. berfirman:   الَّذِیۡنَ ہُمۡ  لِاَمٰنٰتِہِمۡ وَ عَہۡدِہِمۡ رٰعُوۡنَ وَ -- “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka.”  Yakni mereka benar-benar menjadi orang-orang yang amīn (terpercaya) dalam hal memenuhi amanat-amanat dan perjanjian-perjanjian mereka, baik berkenaan dengan Allah Swt. mau pun dengan sesama manusia.
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai jenjang suluk (perjalanan ruhani) berikut ini: “ Dan orang-orang yang memelihara shalat-shalat mereka.     (Al-Mu’minūn [23[:11).  Ayat ini menandai tingkat perkembangan ruhani yang terakhir dan tertinggi, di mana zikir Ilahi menjadi fitrat kedua bagi seorang beriman dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari wujudnya serta penghibur bagi ruhnya.
      Pada tingkat ini ia menaruh perhatian khusus kepada amal ibadah yang dilakukan bersama-sama (berjamaah), yang menunjukkan  bahwa perasaan dan kesadaran berkaum menjadi sangat kuat dalam dirinya, dan ia membelakangkan kepentingan-kepentingan diri pribadi serta mendahulukan kebaikan bersama dan kepentingan kaum.
      Selanjutnya Allah Swt. berfirman: الۡوٰرِثُوۡنَ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ        --   “Mereka itulah pewaris,    الَّذِیۡنَ یَرِثُوۡنَ الۡفِرۡدَوۡسَ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ     --  yaitu  orang-orang yang akan mewarisi surga Firdaus,  mereka akan   kekal di dalamnya.  (Al-Mu’minūn [23[:12).  Karena orang-orang beriman yang disebut dalam ayat-ayat yang mendahuluinya menghimpun dalam diri mereka segala macam sifat mulia maka mereka akan disuruh bermukim di surga Firdaus yang berisikan segala sesuatu yang terdapat dalam kebun mana pun (Lexicon Lane).
      Selain itu, karena mereka mendatangkan kematian terhadap keinginan-keinginan mereka sendiri, maka sebagai imbalannya Allah Swt. akan memberi mereka kehidupan kekal dan mereka akan memperoleh segala yang mereka inginkan:     لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ – “Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan  dan di sisi Kami  ada tambahan lagi”,  firman-Nya:
یَوۡمَ نَقُوۡلُ لِجَہَنَّمَ ہَلِ امۡتَلَاۡتِ وَ تَقُوۡلُ ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ ﴿﴾  وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ ﴿﴾  ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ ﴿ۚ﴾  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ ﴿ۙ﴾  ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ ﴿﴾  لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ ﴿﴾
Pada hari itu Kami akan berkata kepada Jahannam:    ہَلِ امۡتَلَاۡتِ  -- “Apakah eng-kau sudah penuh?” Dan Jahannam itu akan menjawab: ہَلۡ  مِنۡ مَّزِیۡدٍ  -- “Apakah masih ada tambahan lagi?” وَ اُزۡلِفَتِ الۡجَنَّۃُ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ غَیۡرَ  بَعِیۡدٍ  --  Dan surga akan didekatkan kepada orang-orang bertakwa,  tidak jauh lagi. ہٰذَا مَا تُوۡعَدُوۡنَ لِکُلِّ اَوَّابٍ حَفِیۡظٍ -- Inilah yang telah dijanjikan kepada setiap orang yang kembali kepada Tuhan dan memelihara amalnya.  مَنۡ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ وَ جَآءَ بِقَلۡبٍ مُّنِیۡبِۣ   -- Yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan menyendiri dan datang dengan hati yang kembali bertaubat, ادۡخُلُوۡہَا بِسَلٰمٍ ؕ ذٰلِکَ یَوۡمُ الۡخُلُوۡدِ  --  “Masuklah ke dalamnya dengan selamat sejahtera. Inilah Hari yang kekal abadi.”   لَہُمۡ  مَّا یَشَآءُوۡنَ  فِیۡہَا وَلَدَیۡنَا مَزِیۡدٌ -- Bagi mereka di dalamnya tersedia apa yang mereka inginkan  dan di sisi Kami  ada tambahan lagi. (Qāf [50]:31-36).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 2 September 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar