Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
10
HIKMAH PENANGGUHAN AZAB ILAHI YANG DIPERINGATKAN RASUL ALLAH & KUNCI-KUNCI RAHASIA GAIB DI TANGAN ALLAH
SWT. DAN PEMBUKAAN RAHASIA GAIB-NYA KEPADA RASUL
ALLAH
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir bagian
Bab 9 telah dikemukakan pertanyaan kepada Nabi Besar Muhammad saw.
mengenai terjadinya Hari Kiamat, firman-Nya:
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ
السَّاعَۃِ اَیَّانَ
مُرۡسٰہَا ؕ
قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا
عِنۡدَ رَبِّیۡ ۚ لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ
اِلَّا ہُوَ ؕۘؔ ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ لَا تَاۡتِیۡکُمۡ اِلَّا
بَغۡتَۃً ؕ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ
حَفِیٌّ عَنۡہَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ لَّاۤ
اَمۡلِکُ
لِنَفۡسِیۡ نَفۡعًا وَّ لَا
ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ وَ
لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ
مِنَ الۡخَیۡرِۚۖۛ وَ مَا مَسَّنِیَ السُّوۡٓءُ ۚۛ اِنۡ
اَنَا اِلَّا
نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ
لِّقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾٪
Mereka bertanya kepada engkau mengenai Kiamat: اَیَّانَ مُرۡسٰہَا -- “Kapan
terjadinya?” قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ -- Katakanlah: ”Pengetahuan mengenai itu hanya ada
pada sisi Rabb-ku (Tuhan-ku). لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat me-nampakkan mengenai
waktunya kecuali Dia. ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sangat berat Kiamat itu di seluruh langit dan bumi, لَا تَاۡتِیۡکُمۡ اِلَّا بَغۡتَۃً -- tidak
akan datang kepada kamu melainkan dengan
tiba-tiba.” یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا -- Mereka
bertanya kepada engkau seolah-olah engkau benar-benar mengetahuinya, قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- katakanlah:
“Sesungguhnya pengetahuan mengenai itu
hanya ada pada sisi Allah, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” قُلۡ لَّاۤ اَمۡلِکُ
لِنَفۡسِیۡ نَفۡعًا وَّ لَا
ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ -- Katakanlah: “Aku tidak memiliki kekuasaan meraih manfaat bagi diriku dan tidak pula
mudarat, kecuali apa yang
dikehendaki Allah. وَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِ -- Dan seandainya
aku mengetahui hal gaib niscaya aku
telah meraih banyak kebaikan, وَ مَا مَسَّنِیَ السُّوۡٓءُ -- dan keburukan
sekali-kali tidak akan menyentuhku. اِنۡ
اَنَا اِلَّا نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ
لِّقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ -- Aku
tidak lain melainkan pemberi
peringatan dan pemberi kabar gembira
kepada kaum yang beriman.” (Al-A’rāf [7]:188-189).
Mursā dalam ayat اَیَّانَ مُرۡسٰہَا -- “Kapan terjadinya?” itu
kata-benda masdar, atau kata-waktu atau kata-tempat (Lexicon Lane). Allah
Swt. memerintahkan Nabi Besar Muhammad saw. untuk menjawab: قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ -- Katakanlah: ”Pengetahuan mengenai itu hanya ada
pada sisi Rabb-ku (Tuhan-ku). لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat
menampakkan mengenai waktunya kecuali
Dia.”
Kecuali Allah Swt. Tidak
Ada yang Mengetahui Terjadinya Qiamat
Makna
ayat: لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat
menampakkan mengenai waktunya kecuali
Dia. ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sangat berat Kiamat
itu di seluruh langit dan bumi,
لَا تَاۡتِیۡکُمۡ اِلَّا بَغۡتَۃً -- tidak
akan datang kepada kamu melainkan dengan
tiba-tiba.” Memberikan hukuman
itu bagi Allah Swt. . sama pedihnya
seperti halnya bagi manusia menerimanya.”
“Langit” menampilkan Allah
Swt. dan para malaikat, sedangkan “bumi” menampilkan manusia.
Hafiyy
dalam ayat: یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا -- Mereka bertanya kepada engkau seolah-olah engkau benar-benar mengetahuinya, قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ -- katakanlah:
“Sesungguhnya pengetahuan mengenai itu
hanya ada pada sisi Allah, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” Hafiyy
berarti: memperlihatkan keinginan yang sangat dan menampakkan kegembiraan atau kesenangan di saat bertemu dengan orang lain; berupaya sampai ke batas terakhir dalam bertanya
atau mencari tahu; atau mengetahui
sedalam-dalamnya (Lexicon Lane).
Mengenai ketidak-tahuan para rasul Allah -- termasuk Nabi
Besar Muhammad saw. – mengenai hal-hal
yang gaib, lebih jauh Allah Swt. berfirman
kepada Nabi Besar Muhammad saw.: قُلۡ لَّاۤ اَمۡلِکُ
لِنَفۡسِیۡ نَفۡعًا وَّ لَا
ضَرًّا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ -- Katakanlah: “Aku tidak memiliki kekuasaan meraih manfaat bagi diriku dan tidak pula
mudarat, kecuali apa yang dikehendaki
Allah. وَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِ -- Dan seandainya
aku mengetahui hal gaib niscaya aku
telah meraih banyak kebaikan, وَ مَا مَسَّنِیَ السُّوۡٓءُ -- dan keburukan
sekali-kali tidak akan menyentuhku. اِنۡ
اَنَا اِلَّا نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ
لِّقَوۡمٍ یُّؤۡمِنُوۡنَ -- Aku
tidak lain melainkan pemberi
peringatan dan pemberi kabar gembira
kepada kaum yang beriman.” (Al-A’rāf [7]:188-189).
Hikmah Penangguhan Azab Ilahi
Sebagaimana waktu kematian, penampakkan waktu yang tepat terjadinya Hari Kiamat atau terjadinya azab Ilahi yang diperingatkan
para Rasul Allah kepada kaumnya
sepenuhnya merupakan wewenang Allah
Swt. -- bukan wewenang para rasul Allah -- sebab umumnya manusia bersifat
tergesa-gesa padahal dalam masa penangguhan
azab Ilahi tersebut merupakan pemberian
kesempatan untuk bertaubat,
seperti yang dilakukan oleh kaum Nabi
Yunus a.s., firman-Nya:
فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ
فَنَفَعَہَاۤ اِیۡمَانُہَاۤ اِلَّا قَوۡمَ
یُوۡنُسَ ؕ لَمَّاۤ اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا
عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Maka mengapa tidak ada suatu penduduk kota
yang beriman dan keimanannya
itu bermanfaat baginya kecuali kaum Yunus? لَمَّاۤ اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا
عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا --
Tatkala mereka beriman Kami menyingkirkan dari mereka azab yang
menghinakan dalam kehidupan di dunia,
وَ
مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ -- dan
Kami memberi mereka perbekalan untuk
sementara waktu. (Yunus [10]:99).
Dalam ayat sebelumnya Allah Swt.
berfirman mengenai tujuan penangguhan
kedatangan azab Ilahi yang diperingatkan para rasul Allah tersebut:
وَ لَوۡ یُعَجِّلُ اللّٰہُ لِلنَّاسِ
الشَّرَّ اسۡتِعۡجَالَہُمۡ بِالۡخَیۡرِ لَقُضِیَ اِلَیۡہِمۡ اَجَلُہُمۡ ؕ فَنَذَرُ
الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا فِیۡ
طُغۡیَانِہِمۡ یَعۡمَہُوۡنَ﴿﴾
Dan seandainya
Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti keinginan mereka untuk segera memperoleh yang baik,
niscaya jangka waktu mereka akan
diputuskan, tetapi Kami membiarkan
orang-orang yang tidak mengharapkan
pertemuan dengan Kami berkelana bingung dalam kedurhakaan mereka (Yunus [10]:12).
Berhubung kata khair berarti pula kekayaan (Lexicon Lane), maka ayat ini berarti, bahwa orang mencurahkan segala kekuatannya untuk
memperoleh kekayaan dan mereka mengabaikan Allah Swt. sama sekali
(QS.102:1-9). Kelakuan buruk mereka itu
menuntut agar mereka ditimpa kemalangan, tetapi Allah
Swt. sangat
lambat dalam menjatuhkan hukuman.
Sebab jika Allah Swt. menghukum mereka secepat
kelayakan perilaku buruk mereka untuk
dihukum niscaya mereka telah lama binasa.
Apabila kata khair diambil dalam arti “kebaikan” seperti tersebut dalam teks
maka ayat ini akan berarti, bahwa jika Allah Swt. sama cepatnya dalam menurunkan hukuman
kepada orang-orang kafir atas perbuatannya yang jahat seperti cepatnya Dia
menurunkan kebaikan, maka mereka telah lama binasa.
Dalam surah
lain Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai tuntutan orang-orang kafir agar beliau saw. menyegerakan kedatangan azab Ilahi yang diperingatkan kepada mereka
itu:
قُلۡ
اِنِّیۡ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّیۡ
وَ کَذَّبۡتُمۡ بِہٖ ؕ مَا عِنۡدِیۡ مَا تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِہٖ
ؕ اِنِ الۡحُکۡمُ اِلَّا لِلّٰہِ ؕ
یَقُصُّ الۡحَقَّ وَ ہُوَ خَیۡرُ
الۡفٰصِلِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ
لَّوۡ اَنَّ عِنۡدِیۡ مَا تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِہٖ لَقُضِیَ الۡاَمۡرُ بَیۡنِیۡ وَ
بَیۡنَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ اَعۡلَمُ
بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Sesungguhnya aku tegak di atas
keterangan yang jelas dari Rabb-ku (Tuhan-ku), sedangkan kamu mendustakannya. مَا عِنۡدِیۡ مَا تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِہٖ -- Sekali-kali tidak ada kekuasaan padaku
mengenai apa yang ingin kamu
segerakan. اِنِ
الۡحُکۡمُ اِلَّا لِلّٰہِ ؕ یَقُصُّ
الۡحَقَّ وَ ہُوَ خَیۡرُ الۡفٰصِلِیۡنَ -- Tidak
ada keputusan hukum kecuali pada Allah. Dia menerangkan yang benar dan Dia sebaik-baik
Pemberi keputusan.” قُلۡ لَّوۡ اَنَّ عِنۡدِیۡ مَا
تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِہٖ لَقُضِیَ الۡاَمۡرُ بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکُمۡ -- Katakanlah: ”Seandainya ada padaku kekuasaan mengenai apa yang ingin kamu segerakan itu, niscaya telah diputuskan perkara di antara aku dengan kamu, وَ اللّٰہُ اَعۡلَمُ
بِالظّٰلِمِیۡنَ -- dan Allah lebih mengetahui mengenai orang-orang yang zalim.” (Al-An’ām [6]:58-59).
“Kunci-kunci
Segala yang Gaib” di Tangan Allah Swt.
Terhadap tuntutan
takabbur dan jahil dari orang-orang kafir mengenai penyegeraan
azab Ilahi yang diperingatkan Rasul Allah
kepada mereka tersebut Allah Swt.
selanjutnya berfirman:
وَ عِنۡدَہٗ مَفَاتِحُ الۡغَیۡبِ
لَا یَعۡلَمُہَاۤ اِلَّا ہُوَ ؕ وَ یَعۡلَمُ مَا فِی
الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ ؕ وَ مَا تَسۡقُطُ
مِنۡ وَّرَقَۃٍ اِلَّا یَعۡلَمُہَا وَ لَا
حَبَّۃٍ فِیۡ ظُلُمٰتِ الۡاَرۡضِ وَ لَا
رَطۡبٍ وَّ لَا یَابِسٍ اِلَّا فِیۡ کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ وَ ہُوَ
الَّذِیۡ یَتَوَفّٰىکُمۡ بِالَّیۡلِ وَ یَعۡلَمُ مَا جَرَحۡتُمۡ بِالنَّہَارِ
ثُمَّ یَبۡعَثُکُمۡ فِیۡہِ لِیُقۡضٰۤی
اَجَلٌ مُّسَمًّی ۚ ثُمَّ اِلَیۡہِ
مَرۡجِعُکُمۡ ثُمَّ یُنَبِّئُکُمۡ بِمَا
کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan pada sisi-Nya-lah kunci-kunci segala yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, Dia mengetahui
apa pun yang ada di daratan dan di
lautan, tidaklah gugur sehelai daun
pun melainkan Dia mengetahuinya, dan
tidak ada sebutir biji pun dalam
berbagai kegelapan bumi dan tidak
pula sesuatu yang basah atau yang
kering melainkan tertulis dalam
Kitab yang terang. Dan Dia-lah
Yang mewafatkan kamu di waktu malam,
dan Dia mengetahui apa pun yang
kamu perbuat pada waktu siang, kemudian Dia membangkitkan kamu di dalamnya, supaya menjadi genap jangka waktu yang telah ditetapkan,
kemudian kepada-Nya kamu akan
dikembalikan, lalu Dia akan
memberitahukan kepada kamu mengenai apa
pun yang senantiasa kamu kerjakan. (Al-An’ām [6]:60-61).
Ayat 60
dan ayat berikutnya meletakkan asas penyuluh bahwa keputusan untuk menurunkan
azab atas orang-orang kafir tidak
diserahkan ke tangan Nabi Besar Muhammad
saw. sebagaimana dituntut oleh mereka untuk menyegerakannya,. Sebab jika demikian
halnya sudah lama mereka akan menemui ajal
mereka, sehingga banyak dari orang-orang
yang dahulunya merupakan musuh Islam -- seperti Umar bin Khaththab r.a. dan Khalid bin Walid r.a. yang
kemudian ditakdirkan memainkan peranan penting dalam melebarkan sayap serta menegakkan
kekuasaan Islam -- niscaya orang-orang besar
seperti itu akan meninggal dunia
dalam keadaan kafir.
Akan tetapi oleh karena Allah Swt. itu Maha
Kuasa, Dia lambat sekali menghukum dan karena Dia mengetahui sepenuhnya tentang gerak-gerik batin manusia maka Dia
mengetahui kapan dan siapa
yang harus dihukum. Dia Sendiri mengetahui betapa jauh kesukaran-kesukaran atau kesenangan-kesenangan dapat mempengaruhi perbuatan-perbuatan
manusia, dan apakah mungkin atau tidak, pekerjaan-pekerjaan
baik yang dilakukan manusia jadi hapus
atau sia-sia oleh bekerjanya sebab-sebab lain.
Dia Sendiri mengetahui benih-benih kebaikan yang tertanam di dalam hati manusia dan
mengetahui apakah mungkin atau tidak, benih-benih
itu akan bersemi lalu tumbuh dan berkembang subur lalu menghasilkan buah. Hanya Dia Sendiri Yang dapat mengatakan apakah seseorang yang nampaknya “kering” dan “kosong dari segala kehidupan ruhani” akan menjadi “hijau” bila diberi siraman air ataukah ia “mati” dan tak bisa dihidupkan lagi.
Pendek kata,
hanya Tuhan Yang mempunyai pengetahuan sepenuhnya tentang segala hal, segala keadaan, segala
kemungkinan dan segala kemampuan
yang tersembunyi, dan karena itu hanya Dia Sendiri pula Yang dapat
mengatakan siapa harus dihukum dan siapa tidak. Itulah makna firman-Nya:
وَ عِنۡدَہٗ مَفَاتِحُ الۡغَیۡبِ
لَا یَعۡلَمُہَاۤ اِلَّا ہُوَ ؕ وَ یَعۡلَمُ مَا فِی
الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ ؕ وَ مَا تَسۡقُطُ
مِنۡ وَّرَقَۃٍ اِلَّا یَعۡلَمُہَا وَ لَا
حَبَّۃٍ فِیۡ ظُلُمٰتِ الۡاَرۡضِ وَ لَا
رَطۡبٍ وَّ لَا یَابِسٍ اِلَّا فِیۡ کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan
pada sisi-Nya-lah kunci-kunci segala
yang gaib, tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia,
Dia mengetahui apa pun yang ada
di daratan dan di lautan, tidaklah gugur sehelai daun pun
melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak ada sebutir biji pun dalam berbagai
kegelapan bumi dan tidak pula
sesuatu yang basah atau yang kering
melainkan tertulis dalam
Kitab yang terang. (Al-An’ām
[6]:60).
Penghakiman Allah Swt.
di Dunia Melalui Pengutusan Rasul Allah
Makna ungkapan
“Yatawaffakum bil lail” dalam ayat selanjutnya berarti “mengambil ruh di waktu malam” ketika tidur.
Hanya Allah Swt. Sendiri
mengetahui keadaan manusia di waktu malam dan perbuatan-perbuatannya di waktu
siang, dan semua waktu ada di
bawah pengawasan-Nya. Oleh karena itu
hanya Dia Sendiri juga yang mengetahui tabiat
sebenarnya orang yang saleh dan
yang jahat. Maka, sebagai akibatnya,
hanya Dia Sendiri pula Yang berwenang
menghukum, firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ یَتَوَفّٰىکُمۡ
بِالَّیۡلِ وَ یَعۡلَمُ مَا جَرَحۡتُمۡ بِالنَّہَارِ ثُمَّ یَبۡعَثُکُمۡ فِیۡہِ
لِیُقۡضٰۤی اَجَلٌ مُّسَمًّی ۚ ثُمَّ اِلَیۡہِ مَرۡجِعُکُمۡ ثُمَّ یُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ
تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Dia-lah Yang mewafatkan kamu di waktu malam, dan Dia
mengetahui apa pun yang kamu perbuat pada waktu siang, kemudian Dia membangkitkan kamu di dalamnya,
supaya menjadi genap jangka waktu yang
telah ditetapkan, kemudian kepada-Nya
kamu akan dikembalikan, lalu Dia
akan memberitahukan kepada kamu mengenai apa pun yang senantiasa kamu kerjakan. (Al-An’ām [6]:61).
“Jangka
waktu” yang dikatakan di sini
ditetapkan oleh kemampuan-kemampuan dan
kekuatan-kekuatan yang dianugerahkan
Allah Swt. kepada manusia semenjak ia
dilahirkan dan dapat diperpanjang atau diperpendek
menurut benar atau salahnya ia menggunakan kemampuan-kemampuan dan kekuatan-kekuatan itu. Di sini tidak
disebutkan mengenai kearifan Allah Swt. yang kekal-abadi.
Ayat ini memberikan alasan lainnya mengapa Allah Swt. Sendiri Yang berhak menghukum. Dia Qāhir yakni Maha Gagah-perkasa dan Berkuasa atas segala sesuatu; oleh
karena itu Dia dapat menghukum
makhluk-makhluk-Nya sesuai dengan pengetahuan-Nya
yang tak kenal salah itu manakala Dia
menganggap tepat. Wujud-wujud yang gagah-perkasa tidak pernah terburu-buru menghukum.
Pembukaan Rahasia Gaib Allah Swt. Kepada Rasul Allah
Jadi, itulah penjelasan Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa para rasul
Allah -- termasuk Nabi besar
Muhammad saw. – bahwa wujud-wujud
suci tersebut tidak mengetahui
hal-hal yang gaib, kecuali apa-apa yang dibukakan dan diberitahukan
Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
مَا
کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ
اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ
رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan
orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya hingga Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی
الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ -- Dan Allah
sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di an-tara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ
عَظِیۡمٌ -- dan jika
kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar.(Ali
‘Imran [3]:180).
Ada pun tujuan pemilihan para rasul Allah
tersebut adalah dalam hubungannya
pembukaan rahasia-rahasia gaib oleh Allah Swt., firman-Nya:
قُلۡ
اِنۡ اَدۡرِیۡۤ اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ یَجۡعَلُ
لَہٗ رَبِّیۡۤ اَمَدًا ﴿﴾ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ
اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ
اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Aku tidak
mengetahui apakah yang dijanjikan
kepada kamu itu telah dekat ataukah Rabb-ku
(Tuhan-ku) telah menetapkan baginya masa
yang lama.” عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا -- Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا -- kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai, maka
sesungguhnya barisan pengawal berjalan
di hadapannya dan di belakangnya,
لِّیَعۡلَمَ
اَنۡ قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ --
Supaya Dia mengetahui bahwa sungguh mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb
(Tuhan) mereka, وَ اَحَاطَ
بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ
اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا -- dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala
sesuatu. (Al-Jin [2]:26-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala
al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan
dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan
mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting: عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا -- “Dia-lah
Yang mengetahui yang gaib, maka Dia
tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun”.
Ayat ini merupakan ukuran
yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang
dibukakan Allah Swt. kepada seorang rasul
Tuhan dan rahasia-rahasia gaib
yang dibukakan kepada orang-orang mukmin
muttaki lainnya. Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib yakni penguasaan
atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang muttaki dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati
kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau
pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang muttaki
lainnya tidak begitu terpelihara.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 10 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar