Senin, 12 September 2016

Hikmah "Penangguhan Azab Ilahi" yang Diperingatkan Rasul Allah & Kunci-kunci "Rahasia Gaib" di Tangan Allah Swt. dan Pembukaan "Rahasia Gaib-Nya" Kepada Rasul Allah



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 10

HIKMAH PENANGGUHAN  AZAB ILAHI YANG DIPERINGATKAN RASUL ALLAH &  KUNCI-KUNCI RAHASIA GAIB  DI TANGAN ALLAH SWT. DAN PEMBUKAAN RAHASIA GAIB-NYA  KEPADA   RASUL ALLAH

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  bagian  Bab 9  telah   dikemukakan      pertanyaan kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai  terjadinya Hari Kiamat, firman-Nya:
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ السَّاعَۃِ اَیَّانَ مُرۡسٰہَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ ۚ لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ ؕۘؔ ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ لَا تَاۡتِیۡکُمۡ  اِلَّا بَغۡتَۃً ؕ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا ؕ قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾    قُلۡ لَّاۤ  اَمۡلِکُ  لِنَفۡسِیۡ  نَفۡعًا وَّ لَا  ضَرًّا  اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِۚۖۛ وَ مَا مَسَّنِیَ  السُّوۡٓءُ ۚۛ اِنۡ  اَنَا  اِلَّا  نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ  لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾٪
Mereka bertanya kepada engkau mengenai Kiamat:  اَیَّانَ مُرۡسٰہَا -- “Kapan  terjadinya?”  قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ  --   Katakanlah:  Pengetahuan mengenai itu hanya ada pada sisi Rabb-ku (Tuhan-ku). لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat me-nampakkan mengenai  waktunya kecuali Dia. ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --  Sangat berat  Kiamat itu di seluruh langit dan bumiلَا تَاۡتِیۡکُمۡ  اِلَّا بَغۡتَۃً --   tidak akan datang kepada kamu melainkan dengan tiba-tiba.” یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا  -- Mereka bertanya kepada engkau seolah-olah engkau benar-benar mengetahuinya,  قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan mengenai itu hanya ada pada sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.قُلۡ لَّاۤ  اَمۡلِکُ  لِنَفۡسِیۡ  نَفۡعًا وَّ لَا  ضَرًّا  اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ  --      Katakanlah: “Aku tidak memiliki kekuasaan meraih manfaat bagi diriku dan tidak pula  mudarat, kecuali apa yang dikehendaki Allahوَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِ  --  Dan seandainya aku mengetahui hal gaib niscaya aku telah meraih banyak kebaikan, وَ مَا مَسَّنِیَ  السُّوۡٓءُ -- dan keburukan sekali-kali tidak akan menyentuhku. اِنۡ  اَنَا  اِلَّا  نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ  لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ  --    Aku tidak lain melainkan pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira kepada kaum yang beriman.”  (Al-A’rāf [7]:188-189).
   Mursā  dalam ayat  اَیَّانَ مُرۡسٰہَا -- “Kapan  terjadinya?”    itu kata-benda masdar, atau kata-waktu atau kata-tempat (Lexicon Lane).  Allah Swt. memerintahkan Nabi Besar Muhammad saw. untuk menjawab: قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ رَبِّیۡ  --   Katakanlah:  Pengetahuan mengenai itu hanya ada pada sisi Rabb-ku (Tuhan-ku). لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat menampakkan mengenai  waktunya kecuali Dia.”

Kecuali Allah Swt.  Tidak Ada yang Mengetahui Terjadinya Qiamat

  Makna ayat:  لَا یُجَلِّیۡہَا لِوَقۡتِہَاۤ اِلَّا ہُوَ -- Tidak ada yang dapat menampakkan mengenai  waktunya kecuali Dia. ثَقُلَتۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --  Sangat berat  Kiamat itu di seluruh langit dan bumiلَا تَاۡتِیۡکُمۡ  اِلَّا بَغۡتَۃً --   tidak akan datang kepada kamu melainkan dengan tiba-tiba.”   Memberikan hukuman itu bagi Allah Swt. . sama pedihnya seperti halnya bagi manusia menerimanya.”    “Langit” menampilkan  Allah Swt.   dan para malaikat, sedangkan “bumi” menampilkan manusia.
   Hafiyy dalam ayat: یَسۡـَٔلُوۡنَکَ کَاَنَّکَ حَفِیٌّ عَنۡہَا  -- Mereka bertanya kepada engkau seolah-olah engkau benar-benar mengetahuinya,  قُلۡ اِنَّمَا عِلۡمُہَا عِنۡدَ اللّٰہِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یَعۡلَمُوۡنَ  -- katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan mengenai itu hanya ada pada sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”    Hafiyy berarti:  memperlihatkan keinginan yang sangat dan menampakkan kegembiraan atau kesenangan di saat bertemu dengan orang lain; berupaya sampai ke batas terakhir  dalam bertanya atau mencari tahu; atau mengetahui sedalam-dalamnya (Lexicon Lane).
    Mengenai ketidak-tahuan para rasul Allah  -- termasuk Nabi Besar Muhammad saw. – mengenai hal-hal yang gaib,  lebih jauh Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.: قُلۡ لَّاۤ  اَمۡلِکُ  لِنَفۡسِیۡ  نَفۡعًا وَّ لَا  ضَرًّا  اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰہُ  --      Katakanlah: “Aku tidak memiliki kekuasaan meraih manfaat bagi diriku dan tidak pula  mudarat, kecuali apa yang dikehendaki Allahوَ لَوۡ کُنۡتُ اَعۡلَمُ الۡغَیۡبَ لَاسۡتَکۡثَرۡتُ مِنَ الۡخَیۡرِ  --  Dan seandainya aku mengetahui hal gaib niscaya aku telah meraih banyak kebaikan, وَ مَا مَسَّنِیَ  السُّوۡٓءُ -- dan keburukan sekali-kali tidak akan menyentuhku. اِنۡ  اَنَا  اِلَّا  نَذِیۡرٌ وَّ بَشِیۡرٌ  لِّقَوۡمٍ  یُّؤۡمِنُوۡنَ  --    Aku tidak lain melainkan pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira kepada kaum yang beriman.”  (Al-A’rāf [7]:188-189).


Hikmah Penangguhan Azab Ilahi

    Sebagaimana waktu kematian, penampakkan waktu  yang tepat terjadinya Hari Kiamat atau terjadinya azab Ilahi yang  diperingatkan para Rasul Allah kepada kaumnya sepenuhnya merupakan wewenang Allah Swt.  -- bukan wewenang para rasul Allah   -- sebab umumnya  manusia bersifat tergesa-gesa padahal dalam masa penangguhan azab Ilahi tersebut merupakan pemberian  kesempatan  untuk bertaubat, seperti yang dilakukan oleh kaum Nabi Yunus a.s., firman-Nya:
فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ فَنَفَعَہَاۤ اِیۡمَانُہَاۤ  اِلَّا قَوۡمَ یُوۡنُسَ ؕ لَمَّاۤ  اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ  فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Maka mengapa tidak ada suatu penduduk  kota  yang beriman dan keimanannya itu  bermanfaat baginya  kecuali kaum Yunus? لَمَّاۤ  اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ  فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا  --  Tatkala mereka beriman Kami menyingkirkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan di dunia, وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ  --  dan Kami memberi mereka perbekalan untuk sementara waktu. (Yunus [10]:99).
      Dalam ayat sebelumnya Allah Swt. berfirman mengenai tujuan penangguhan kedatangan azab Ilahi yang diperingatkan para rasul Allah  tersebut:
وَ لَوۡ یُعَجِّلُ اللّٰہُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسۡتِعۡجَالَہُمۡ بِالۡخَیۡرِ لَقُضِیَ اِلَیۡہِمۡ اَجَلُہُمۡ ؕ فَنَذَرُ الَّذِیۡنَ لَا یَرۡجُوۡنَ لِقَآءَنَا فِیۡ  طُغۡیَانِہِمۡ  یَعۡمَہُوۡنَ﴿﴾
Dan  seandainya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti keinginan mereka untuk segera memperoleh yang baik, niscaya  jangka waktu  mereka akan diputuskan, tetapi Kami membiarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkelana bingung dalam kedurhakaan mereka (Yunus [10]:12).
       Berhubung kata khair berarti pula kekayaan (Lexicon Lane), maka ayat ini berarti, bahwa orang mencurahkan segala kekuatannya untuk memperoleh kekayaan dan mereka mengabaikan Allah Swt. sama sekali (QS.102:1-9). Kelakuan buruk mereka itu menuntut agar mereka ditimpa kemalangan, tetapi Allah Swt.  sangat lambat dalam menjatuhkan hukuman.  Sebab jika  Allah Swt. menghukum mereka secepat kelayakan perilaku buruk mereka untuk dihukum niscaya mereka telah lama binasa.
      Apabila  kata khair diambil dalam arti “kebaikan” seperti tersebut dalam teks maka ayat ini akan berarti, bahwa jika Allah Swt. sama cepatnya dalam menurunkan hukuman kepada orang-orang kafir atas perbuatannya yang jahat seperti cepatnya Dia menurunkan kebaikan, maka mereka telah lama binasa.
 Dalam surah lain Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai tuntutan orang-orang kafir agar beliau saw.  menyegerakan kedatangan azab Ilahi yang diperingatkan  kepada mereka itu:
قُلۡ  اِنِّیۡ عَلٰی بَیِّنَۃٍ  مِّنۡ رَّبِّیۡ وَ  کَذَّبۡتُمۡ  بِہٖ ؕ مَا عِنۡدِیۡ مَا تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِہٖ ؕ اِنِ الۡحُکۡمُ  اِلَّا لِلّٰہِ ؕ یَقُصُّ الۡحَقَّ وَ ہُوَ  خَیۡرُ الۡفٰصِلِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ لَّوۡ اَنَّ عِنۡدِیۡ مَا تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِہٖ لَقُضِیَ الۡاَمۡرُ بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ اَعۡلَمُ  بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ 
Katakanlah:  ”Sesungguhnya aku  tegak di atas keterangan yang jelas  dari Rabb-ku (Tuhan-ku), sedangkan kamu mendustakannya.  مَا عِنۡدِیۡ مَا تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِہٖ  -- Sekali-kali tidak ada  kekuasaan padaku mengenai apa yang ingin kamu segerakan. اِنِ الۡحُکۡمُ  اِلَّا لِلّٰہِ ؕ یَقُصُّ الۡحَقَّ وَ ہُوَ  خَیۡرُ الۡفٰصِلِیۡنَ  --  Tidak ada  keputusan hukum kecuali pada Allah. Dia  menerangkan  yang benar  dan Dia sebaik-baik Pemberi keputusan.”  قُلۡ لَّوۡ اَنَّ عِنۡدِیۡ مَا تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ بِہٖ لَقُضِیَ الۡاَمۡرُ بَیۡنِیۡ وَ بَیۡنَکُمۡ    -- Katakanlah:  Seandainya ada padaku kekuasaan mengenai apa yang ingin kamu segerakan itu, niscaya telah diputuskan perkara di antara aku dengan kamu, وَ اللّٰہُ اَعۡلَمُ  بِالظّٰلِمِیۡنَ  -- dan Allah lebih mengetahui mengenai orang-orang yang zalim.” (Al-An’ām [6]:58-59).

Kunci-kunci Segala yang Gaib” di Tangan Allah Swt.

 Terhadap tuntutan takabbur dan jahil dari orang-orang kafir  mengenai penyegeraan azab Ilahi yang diperingatkan Rasul Allah kepada mereka tersebut Allah Swt.  selanjutnya berfirman:
وَ عِنۡدَہٗ مَفَاتِحُ الۡغَیۡبِ لَا  یَعۡلَمُہَاۤ  اِلَّا ہُوَ ؕ وَ یَعۡلَمُ مَا فِی الۡبَرِّ  وَ الۡبَحۡرِ ؕ وَ مَا تَسۡقُطُ مِنۡ وَّرَقَۃٍ  اِلَّا یَعۡلَمُہَا وَ لَا حَبَّۃٍ  فِیۡ ظُلُمٰتِ الۡاَرۡضِ وَ لَا رَطۡبٍ وَّ لَا یَابِسٍ  اِلَّا فِیۡ  کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ یَتَوَفّٰىکُمۡ بِالَّیۡلِ وَ یَعۡلَمُ مَا جَرَحۡتُمۡ بِالنَّہَارِ ثُمَّ یَبۡعَثُکُمۡ فِیۡہِ لِیُقۡضٰۤی  اَجَلٌ مُّسَمًّی ۚ ثُمَّ  اِلَیۡہِ مَرۡجِعُکُمۡ  ثُمَّ یُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan pada sisi-Nya-lah kunci-kunci segala yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali  Dia,  Dia mengetahui apa pun yang ada di daratan dan di lautan, tidaklah gugur sehelai daun pun melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak ada sebutir biji pun dalam berbagai kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam Kitab  yang terang.   Dan  Dia-lah Yang mewafatkan kamu di waktu malam,  dan Dia mengetahui apa pun yang kamu perbuat pada waktu siang, kemudian Dia membangkitkan kamu di dalamnya, supaya menjadi genap jangka waktu yang telah ditetapkan, kemudian kepada-Nya kamu akan dikembalikan, lalu Dia akan memberitahukan kepada kamu mengenai apa pun yang senantiasa kamu kerjakan. (Al-An’ām [6]:60-61).
    Ayat 60  dan ayat berikutnya meletakkan asas penyuluh bahwa keputusan untuk menurunkan azab atas orang-orang kafir tidak diserahkan ke tangan Nabi Besar Muhammad saw.  sebagaimana dituntut oleh mereka untuk menyegerakannya,. Sebab jika demikian halnya sudah lama mereka akan menemui ajal mereka, sehingga  banyak dari orang-orang yang dahulunya merupakan musuh Islam   -- seperti Umar bin Khaththab r.a. dan Khalid bin Walid r.a.     yang kemudian ditakdirkan memainkan peranan penting dalam melebarkan sayap serta menegakkan kekuasaan Islam  -- niscaya  orang-orang  besar  seperti itu akan meninggal dunia dalam keadaan kafir.
Akan tetapi oleh karena Allah Swt.  itu Maha Kuasa, Dia lambat sekali menghukum dan karena Dia mengetahui sepenuhnya tentang gerak-gerik batin manusia maka Dia mengetahui kapan  dan siapa yang harus dihukum. Dia Sendiri mengetahui betapa jauh kesukaran-kesukaran atau kesenangan-kesenangan dapat mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia, dan apakah mungkin atau tidak, pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan manusia jadi hapus atau sia-sia oleh bekerjanya sebab-sebab lain.
Dia Sendiri mengetahui benih-benih kebaikan yang tertanam di dalam hati manusia dan mengetahui apakah mungkin atau tidak, benih-benih itu akan bersemi lalu tumbuh dan berkembang subur lalu menghasilkan buah. Hanya Dia Sendiri Yang dapat mengatakan apakah seseorang yang nampaknya “kering” dan “kosong dari segala kehidupan ruhani” akan menjadi “hijau” bila diberi siraman air  ataukah ia “mati” dan tak bisa dihidupkan lagi.
 Pendek kata, hanya Tuhan Yang mempunyai pengetahuan sepenuhnya tentang segala hal, segala keadaan, segala kemungkinan dan segala kemampuan yang tersembunyi, dan karena itu hanya Dia Sendiri pula Yang dapat mengatakan siapa harus dihukum dan siapa tidak. Itulah makna firman-Nya:
وَ عِنۡدَہٗ مَفَاتِحُ الۡغَیۡبِ لَا  یَعۡلَمُہَاۤ  اِلَّا ہُوَ ؕ وَ یَعۡلَمُ مَا فِی الۡبَرِّ  وَ الۡبَحۡرِ ؕ وَ مَا تَسۡقُطُ مِنۡ وَّرَقَۃٍ  اِلَّا یَعۡلَمُہَا وَ لَا حَبَّۃٍ  فِیۡ ظُلُمٰتِ الۡاَرۡضِ وَ لَا رَطۡبٍ وَّ لَا یَابِسٍ  اِلَّا فِیۡ  کِتٰبٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Dan pada sisi-Nya-lah kunci-kunci segala yang gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali  Dia,  Dia mengetahui apa pun yang ada di daratan dan di lautan, tidaklah gugur sehelai daun pun melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak ada sebutir biji pun dalam berbagai kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam Kitab  yang terang.   (Al-An’ām [6]:60). 

Penghakiman Allah Swt. di Dunia Melalui Pengutusan Rasul Allah

  Makna ungkapan  “Yatawaffakum bil lail”   dalam ayat selanjutnya berarti “mengambil ruh di waktu malam”   ketika tidur. Hanya Allah Swt.  Sendiri mengetahui keadaan manusia di waktu malam dan perbuatan-perbuatannya di waktu siang, dan semua waktu ada di bawah pengawasan-Nya. Oleh karena itu hanya Dia Sendiri juga yang mengetahui tabiat sebenarnya orang yang saleh dan yang jahat. Maka, sebagai akibatnya, hanya Dia Sendiri pula Yang berwenang menghukum, firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ یَتَوَفّٰىکُمۡ بِالَّیۡلِ وَ یَعۡلَمُ مَا جَرَحۡتُمۡ بِالنَّہَارِ ثُمَّ یَبۡعَثُکُمۡ فِیۡہِ لِیُقۡضٰۤی  اَجَلٌ مُّسَمًّی ۚ ثُمَّ  اِلَیۡہِ مَرۡجِعُکُمۡ  ثُمَّ یُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Dia-lah Yang mewafatkan kamu di waktu malam,  dan Dia mengetahui apa pun yang kamu perbuat pada waktu siang, kemudian Dia membangkitkan kamu di dalamnya, supaya menjadi genap jangka waktu yang telah ditetapkan, kemudian kepada-Nya kamu akan dikembalikan, lalu Dia akan memberitahukan kepada kamu mengenai apa pun yang senantiasa kamu kerjakan. (Al-An’ām [6]:61).
      “Jangka waktu” yang dikatakan di sini ditetapkan oleh kemampuan-kemampuan dan kekuatan-kekuatan yang dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia semenjak ia dilahirkan dan dapat diperpanjang atau diperpendek menurut benar atau salahnya ia menggunakan kemampuan-kemampuan dan kekuatan-kekuatan itu. Di sini tidak disebutkan mengenai kearifan Allah   Swt.   yang kekal-abadi.
   Ayat ini memberikan alasan lainnya mengapa Allah Swt.   Sendiri Yang berhak menghukum. Dia Qāhir yakni Maha Gagah-perkasa dan Berkuasa atas segala sesuatu; oleh karena itu Dia dapat menghukum makhluk-makhluk-Nya sesuai dengan pengetahuan-Nya yang tak kenal salah itu manakala Dia menganggap tepat. Wujud-wujud yang gagah-perkasa tidak pernah terburu-buru menghukum.

Pembukaan Rahasia Gaib Allah Swt. Kepada Rasul Allah

 Jadi, itulah penjelasan Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa para  rasul Allah  -- termasuk Nabi besar Muhammad saw.  –  bahwa wujud-wujud suci tersebut tidak mengetahui hal-hal yang gaib, kecuali apa-apa yang dibukakan  dan diberitahukan Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya  hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ   --  Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di an-tara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki,  فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ    -- karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ  --  dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar.(Ali ‘Imran [3]:180).
    Ada pun tujuan pemilihan para rasul Allah tersebut adalah  dalam hubungannya pembukaan rahasia-rahasia gaib  oleh Allah Swt., firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ  اَدۡرِیۡۤ  اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ  یَجۡعَلُ  لَہٗ  رَبِّیۡۤ   اَمَدًا ﴿﴾  عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ     وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui apakah yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Rabb-ku (Tuhan-ku) telah menetapkan baginya masa yang lama.”  عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا  -- Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا  --  kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya,          لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ            --  Supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ     وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا  --  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu.  (Al-Jin [2]:26-29). 
 Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib,” berarti, diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting:   عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا  --  “Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun”.
 Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan Allah Swt. kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin muttaki lainnya. Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang muttaki dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
  Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang muttaki lainnya tidak begitu terpelihara.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 10 September 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar