Jumat, 09 September 2016

Pentingnya Peran "Istighfar" dan "Maghfirah Ilahi" & Ancaman "Penghadangan Iblis" di Jalan Allah Swt.







Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 8

PENTINGNYA PERAN ISTIGHFAR DAN MAGHFIRAH ILAHI    & ANCAMAN PENGHADANGAN IBLIS DI JALAN ALLAH  


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  bagian  Bab 7  telah   dikemukakan    mengenai     dua macam perumpamaan      sehubungan dengan   gambaran  umat Islam di masa Nabi Besar Muhammad saw. yang muncul di masa awal dan di Akhir Zaman (Q.62:3-4), firman-Nya::
مُحَمَّدٌ  رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ  عَلَی الۡکُفَّارِ  رُحَمَآءُ  بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ  رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ  فَضۡلًا مِّنَ  اللّٰہِ  وَ رِضۡوَانًا ۫ سِیۡمَاہُمۡ  فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ  مِّنۡ  اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ  اَخۡرَجَ  شَطۡـَٔہٗ  فَاٰزَرَہٗ  فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ  لِیَغِیۡظَ بِہِمُ  الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً  وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad itu adalah Rasul Allah, dan orang-orang besertanya sangat  keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang di antara mereka, engkau melihat mereka rukuk serta sujud    mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya,   سِیۡمَاہُمۡ  فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ  مِّنۡ  اَثَرِ السُّجُوۡدِ --  ciri-ciri pengenal mereka terdapat pada wajah mereka dari bekas-bekas sujud. ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ  -- Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat, وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ  --  dan perumpaman mereka dalam Injil adalah laksana tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi kokoh, dan berdiri mantap pada batangnya, menyenangkan penanam-penanamnya    لِیَغِیۡظَ بِہِمُ  الۡکُفَّارَ --  supaya Dia membangkitkan amarah orang-orang kafir dengan perantaraan itu. وَعَدَ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً  وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا  --  Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:30).

Perumpamaan Dalam Taurat dan Injil

    Kata-kata,  ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ  --  “Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat,” dapat juga ditujukan kepada pelukisan yang diberikan oleh Bible, yakni:  Kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang hampir dari bukit Kades” (Terjemahan ini dikutip dari “Alkitab” dalam bahasa Indonesia, terbitan “Lembaga Alkitab Indonesia” tahun 1958). Dalam bahasa Inggrisnya berbunyi: “He shined forth from mount Paran and he came with ten thousands of saints,” yang artinya: “Ia nampak dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran dan ia datang dengan sepuluh ribu orang kudus” (Deut. 33:2), Peny).
   Ada pun ungkapan   وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ --  “Dan perumpamaan mereka dalam Injil   کَزَرۡعٍ    -- adalah laksana tanaman, “ dapat ditujukan kepada perumpamaan lain dalam Bible, yaitu: “Adalah  seorang penabur keluar hendak menabur benih; maka sedang ia menabur, ada separuh jatuh di tepi jalan, lalu datanglah burung-burung makan, sehinga habis benih itu. Ada separuh jatuh di tempat yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, maka dengan segera benih itu tumbuh, sebab tanahnya tidak dalam. Akan tetapi ketika matahari naik, layulah ia, dan sebab ia tiada berakar, keringlah ia. Ada juga separuh jatuh di tanah semak dari mana duri itu pun tumbuh serta membantutkan benih itu. Dan ada pula se-paruh jatuh di tanah yang baik, sehingga mengeluarkan buah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, ada yang tiga puluh kali ganda banyaknya” (Matius 13:3-8). 
       Perumpamaan yang pertama dalam Taurat  nampaknya  dikenakan kepada para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  dan perumpamaan yang kedua dalam Injil dikenakan kepada para pengikut rekan sejawat dan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    yaitu  Masih Mau’ud a.s. (QS.43:58) di Akhir Zaman ini,  yang berawal dari suatu permulaan yang sangat kecil dan tidak berarti telah ditakdirkan Allah Swt. berkembang menjadi suatu organisasi perkasa, dan berangsur-angsur tetapi tetap maju  menyampaikan tabligh Islam ke seluruh pelosok dunia, sehingga Islam akan mengungguli dan menang atas semua agama (QS.61:10), dan lawan-lawannya akan merasa heran dan iri hati terhadap kekuatan dan pamornya.

Pentingnya Peran Istighfar dan Maghfirah Ilahi

     Penyebutan maghfirah (istighfar) dalam ayat وَعَدَ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً  وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا  --  Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar  (Al-Fath [48]:30) membuktikan bahwa betapa pentingnya peran istighfar  atau maghfirah (pengampunan) Allah Swt.  bagi kesuksesan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh  dalam meraih tingkaan-tingkatan kehidupan surgawi yang tidak terbatas, terutama di alam akhirat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat.  عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ   -- Boleh jadi Rabb (Tuhan)  kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan  kamu وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  --  dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di ba-wahnya sungai-sungai,  یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ke-tika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang ber-iman besertanya, نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِم  --  cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ   -- mereka  akan berkata: “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [66]:9).
    Sehubungan ayat:   یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ   -- mereka  akan berkata: “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurna-kanlah bagi kami cahaya kami,  dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”     Tampak bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman  akan mencapai maghfirah – penutupan kekurangan (Lexicon Lane).
    Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah Swt. untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas dan memandang tiap-tiap tingkat surga atau maqam ruhani sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan.”

Ancaman Penghadangan Iblis di jalan Allah

     Dengan demikian jelaslah, bahwa   -- sejalan dengan peningkatan maqam (martabat) keruhanian  orang-orang beriman   --   maka  ujian-ujian keimanan  pun  datang   berkesinambungan, sehingga betapa  pentingnya orang-orang beriman selalu memanjatkan  istighfar   memohon maghfirah  Allah Swt.,   karena   -- sesuai dengan ancaman Iblis  yang dikemukakan kepada Allah Swt.   (QS.7:12-19) --  iblis dan para pengikutnya akan terus menerus melakukan “penghadangan” di jalan Allah   terhadap para penempuh “suluk” (perjalanan ruhani) menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ ﴿﴾  قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ  اَنۡظِرۡنِیۡۤ   اِلٰی  یَوۡمِ  یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ   اِنَّکَ  مِنَ  الۡمُنۡظَرِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ فَبِمَاۤ  اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ  لَہُمۡ صِرَاطَکَ  الۡمُسۡتَقِیۡمَ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ  وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ ؕ وَ لَا  تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ اخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا ؕ لَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ  مِنۡکُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian  Kami memberi kamu bentuk, lalu Kami berfirman kepada para malaikat:  Sujudlah yakni patuh-lah sepenuhnya  kamu kepada Adam", maka mereka bersujud ke-cuali iblis,  ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.   Dia aberfirman:  Apa  yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh sepenuhnya ketika Aku memberi perintah kepada engkau?” Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.”   Dia berfirman:  ”Jika demikian, pergilah engkau darinya, karena sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang hina.”  Ia, Iblis,   berkata: “Berilah aku tangguh sampai hari mereka dibangkitkan.”  Dia berfirman: “Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang diberi tangguh.” Ia, Iblis,  berkata: “Karena  Engkau telah menyatakan  aku  sesat, niscaya aku akan menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus,   Kemudian  niscaya  akan ku-datangi mereka dari depan  mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka  bersyukur.”    Dia berfirman: “Keluarlah eng-kau darinya dengan  terhina dan terusir,  barangsiapa dari mereka mengikuti engkau, niscaya akan Aku penuhi Jahannam dengan kamu semua.” (Al-A’rāf [7]:12-19).
 Perhatikanlah jejaring godaan-godaan dan bujukan-bujukan yang diancamkan oleh iblis  yang dikemukakan ayat-ayat berikut ini, firman-Nya::
قَالَ فَبِمَاۤ  اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ  لَہُمۡ صِرَاطَکَ  الۡمُسۡتَقِیۡمَ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ  وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ ؕ وَ لَا  تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  
Ia, Iblis,  berkata: “Karena  Engkau telah menyatakan  aku  sesat, niscaya aku akan menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus,   kemudian  niscaya  akan kudatangi mereka dari depan  mereka,  dan dari belakang mereka, dan dari kanan mereka, dan dari kiri mereka,   وَ لَا  تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ  --  dan Engkau tidak akan mendapati keba-nyakan mereka  bersyukur.”   (Al-A’rāf [7]:17-19).

Jiwa yang Tentram” Bersama Allah Swt.

    Dalam surah lain  bentuk ancaman iblis  tersebut  dijelaskan Allah Swt, firman-Nya:
قَالَ اذۡہَبۡ فَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ فَاِنَّ جَہَنَّمَ  جَزَآؤُکُمۡ  جَزَآءً  مَّوۡفُوۡرًا ﴿﴾  وَ اسۡتَفۡزِزۡ مَنِ اسۡتَطَعۡتَ مِنۡہُمۡ بِصَوۡتِکَ وَ اَجۡلِبۡ عَلَیۡہِمۡ بِخَیۡلِکَ وَ رَجِلِکَ وَ شَارِکۡہُمۡ فِی الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَوۡلَادِ وَ عِدۡہُمۡ ؕ وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّ عِبَادِیۡ  لَیۡسَ  لَکَ  عَلَیۡہِمۡ سُلۡطٰنٌ ؕ وَ کَفٰی  بِرَبِّکَ  وَکِیۡلًا  ﴿﴾
Dia berfirman: “Pergilah, lalu barangsiapa akan mengikuti engkau dari antara mereka maka sesungguhnya Jahannamlah balasan bagi kamu,  suatu balasan yang penuh. Dan bujuklah siapa dari antara mereka yang engkau sanggup dengan suara engkau, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda engkau dan pasukan berjalan-kaki engkau dan berserikatlah dengan mereka dalam harta dan anak-anak mereka, dan berikanlah janji-janji kepada mereka.” وَ مَا یَعِدُہُمُ الشَّیۡطٰنُ   اِلَّا  غُرُوۡرًا  --   Dan syaitan tidak menjanjikan kepada mereka selain tipu-daya.  Sesungguhnya mengenai hamba-hamba-Ku, engkau tidak akan mempunyai kekuasaan atas mereka, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai Pelindung. (Bani Israil [17]:64-66).
  Ayat ini menguraikan tiga macam daya-upaya yang dilakukan oleh putra-putra kegelapan pengikut Iblis untuk membujuk manusia supaya menjauhi jalan kebenaran:
    (1) mereka berusaha menakut-nakuti orang-orang miskin dan lemah dengan ancaman akan mempergunakan kekerasan terhadap mereka;
     (2) mereka mempergunakan tindakan-tindakan yang lebih keras terhadap mereka yang tidak dapat ditakut-takuti dengan cara gertak sambal (ancaman), yaitu dengan mengadakan persekutuan-persekutuan untuk tujuan melawan mereka dan mengadakan serangan bersama terhadap mereka dengan segala cara;
      (3) mereka mencoba membujuk orang-orang kuat dan yang lebih berpengaruh dengan tawaran akan menjadikannya pemimpin mereka, asalkan mereka tidak akan membantu lagi pihak kebenaran.
  Makna firman Allah Swt.: “Sesungguhnya mengenai ham-ba-hamba-Ku, engkau tidak akan mempunyai kekuasaan atas mereka, dan cukuplah Tuhan Engkau sebagai Pelindung. (Bani Israil [17]:64-66).    Manusia dapat terkena oleh bujukan-bujukan syaitan selama dia belum “dibangkitkan”, yaitu selama keimanannya belum mencapai taraf yang sempurna, yaitu mencapai tingkatan ruhani  an-Nafs-ul-muthmainnah (jiwa yang tentra), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾   ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾   فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾  
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.  Maka masuklah dalam golongan hamba-hamba-Ku,  dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:27-31).
       Keadaan jiwa manusia  yang disebut nafs-al-muthmainnah  merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi, ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (58:23). Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi ia menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khas. Ia “manunggal” dengan Tuhan dan tidak dapat hidup tanpa Dia.
      Di dunia ini, dan bukan  setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan  bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga, yang akan berlanjut dengan  memasuki surga di akhirat yang rangkaian tingkatannya tidak terbatas, sebagaimana  dikemukakan dalam  surah At-Tahrim 9 sebelumnya.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 8 September 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar