Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 89
AKIBAT BURUK KEPENGECUTAN
BANI ISRAIL MENOLAK AJAKAN NABI MUSA
A.S. MEMASUKI KANAAN – “NEGERI YANG
DIJANJIKAN” ALLAH SWT. & KEBANGKITAN
BANI ISRAIL MELALUI PERJUANGAN THALUT (GIDEON) DAN NABI DAUD A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 88 dibahas topik proses terwujudnya kerajaan Bani Israil secara
bertahap yang dimulai pada zaman Thalut (Gideon) hingga zaman Nabi Daud a.s. dalam firman-Nya berikut
ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ اِلَی الۡمَلَاِ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ۘ
اِذۡ قَالُوۡا لِنَبِیٍّ لَّہُمُ ابۡعَثۡ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلۡ فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ
اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا ؕ قَالُوۡا وَ مَا
لَنَاۤ اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا ؕ فَلَمَّا کُتِبَ
عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌۢ بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat mengenai para pemuka Bani Israil sesudah Musa,
ketika mereka berkata kepada seorang
nabi mereka: “Angkatlah bagi kami
seorang raja, supaya kami dapat
berperang di jalan Allah.” Ia (nabi) berkata: ”Mungkin saja kamu tidak akan berperang jika berperang itu diwajibkan atas kamu?” Mereka berkata: “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan
Allah padahal sungguh kami telah diusir dari rumah-rumah kami
dan dipisahkan dari anak-anak
kami?” Tetapi tatkala berperang ditetapkan
atas mereka, mereka berpaling kecuali sedikit
dari mereka, dan Allah Maha
Mengetahui orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah
[2]:247).
“Sikap Pengecut” Bani Israil dan
Akibat Buruk yang Harus Dialaminya
Peristiwa yang dikemukakan ayat ini menunjukkan kemajuan dalam keadaan
kaum Bani Israil dibandingkan dengan keadaan mereka pada zaman Nabi Musa
a.s. setelah mereka keluar dari Mesir. Dalam QS.5:21-27
Allah Swt. dalam Al-Quran menuturkan bahwa ketika Nabi Musa a.s. memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan – “negeri yang dijanjikan” – guna
memerangi musuh mereka di jalan Allah, mereka menjawab dengan penuh
kepengecutan: “Pergilah engkau
bersama Tuhan engkau, kemudian berperanglah kalian berdua; sesungguhnya kami
hendak duduk-duduk saja di sini!”,
selengkapnya Dia berfirman:
یٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ
الۡمُقَدَّسَۃَ الَّتِیۡ کَتَبَ اللّٰہُ
لَکُمۡ وَ لَا تَرۡتَدُّوۡا عَلٰۤی
اَدۡبَارِکُمۡ فَتَنۡقَلِبُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا
یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ ٭ۖ وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا
حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا ۚ فَاِنۡ
یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ ﴿﴾ قَالَ
رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ الۡبَابَ ۚ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡہُ فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ وَ عَلَی
اللّٰہِ فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ
کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَاۤ
اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ
فَقَاتِلَاۤ اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾
Hai kaumku, masukilah Tanah yang disucikan yang telah ditetapkan AllAh bagi kamu, dan janganlah
kamu berbalik ke belakangmu lalu kamu
kembali menjadi orang-orang yang rugi.” Mereka
berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu
kaum yang kuat lagi kejam, dan sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya
hingga mereka keluar sendiri darinya,
lalu jika me-reka keluar darinya maka kami akan memasukinya.”
Dua orang laki-laki dari an-tara mereka yang takut kepada
Allah dan Allah telah memberi nikmat
kepa-da keduanya berkata: “Masuklah
melalui pintu gerbang mereka, lalu apa-bila
kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya
kamu akan menang. Dan hanya kepada
Allah-lah hendaknya kamu bertawakkal
jika kamu benar-benar orang-orang yang
beriman.” Mereka
berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami tidak akan per-nah memasuki negeri itu,
selama mereka masih ada di dalamnya,
karena itu pergilah engkau bersama Rabb
(Tuhan) engkau, lalu berperanglah
engkau berdua, sesungguhnya kami
hendak duduk-duduk saja di sini!” (Al-Māidah [5]:22-25).
Menanggapi sikap
pengecut dan ketidak-sopanan Bani Israil tersebut selanjutnya Allah
Swt. berfirman mengenai Nabi Musa a.s.:
قَالَ
رَبِّ اِنِّیۡ لَاۤ اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ
بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ
فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی
الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Musa berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali terhadap diriku dan saudara laki-lakiku, maka bedakanlah antara kami dengan kaum yang fasik (durhaka) itu.” قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ
یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ -- Dia berfirman: “Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat
puluh tahun, mereka akan bertualang
kebingungan di muka bumi فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ -- maka janganlah engkau bersedih atas kaum yang fasik (durhaka) itu.” (Al-Māidah
[5]:26-27).
Kematian
Generasi Tua dan Kelahiran Generasi
Muda Bani Israil
Ketika orang-orang Bani Israil
bertingkah bagai orang-orang pengecut,
Allah Swt. menakdirkan
mereka harus terus-menerus mengembara
di padang belantara selama 40 tahun
agar kehidupan keras padang pasir
akan menempa mereka dan memasukkan ke
dalam diri mereka suatu jiwa baru dan
akan memperkokoh moral mereka. Dalam
masa 40 tahun itu generasi tua boleh dikatakan telah hilang
dan generasi muda tumbuh dengan
memiliki sifat keberanian serta kekuatan
yang cukup untuk memasuki Kanaan -- “Negeri
yang Dijanjikan” -- dan menaklukkan
kaum-kaum liar dan kejam yang berada di dalamnya, yang
terhadap mereka itulah Bani Israil yang bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun
a.s. merasa takut (QS.5:22-25).
Mengisyaratkan kepada sifat
pengecut dan takut mati yang diperagakan Bani Israil itu pulalah ayat Al-Quran
yang mengawali kisah tentang Thalut
(Gideon) dan Nabi Daud a.s.,
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡنَ خَرَجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ
وَ ہُمۡ اُلُوۡفٌ حَذَرَ الۡمَوۡتِ ۪
فَقَالَ لَہُمُ اللّٰہُ مُوۡتُوۡا ۟ ثُمَّ اَحۡیَاہُمۡ
ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی النَّاسِ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ
النَّاسِ لَا یَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat mengenai orang-orang yang keluar dari
kampung halaman mereka karena takut
mati, dan mereka itu beribu-ribu?
Lalu Allah berfirman kepada mereka: ”Matilah!” Kemudian Dia
menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah
benar-benar memiliki karunia
terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al-Baqarah
[2]:244),
Ketika kaum Bani Israil meninggalkan Mesir -- setelah
selama 4 abad mereka tinggal di sana sejak
Nabi Yusuf a.s. dijual ke Mesir karena kedengkian
dan perbuatan buruk
saudara-saudara tua beliau (Kejadian 15:12-16; QS.12:1-22) --
lalu bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun
a.s. Bani Israil menyeberang ke Asia karena dikejar-kejar oleh Fira’un dan balatentaranya, Nabi Musa a.s. ingin agar mereka memasuki Kanaan -- “negeri yang dijanjikan” -- tetapi mereka takut kepada kaum-kaum yang tinggal di sana dan menolak bergerak maju memasuki Kanaan
(QS.5:21-27).
Makna ayat: اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡنَ خَرَجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ
وَ ہُمۡ اُلُوۡفٌ حَذَرَ الۡمَوۡتِ -- “Apakah engkau tidak melihat mengenai orang-orang yang keluar dari
kampung halaman mereka karena takut
mati, dan mereka itu beribu-ribu?”
Kaum Bani Israil meninggalkan Mesir
karena untuk tinggal terus di negeri itu akan berarti kemusnahan mereka. Fira’un telah menempuh semua jalan dan
cara untuk membinasakan kaum laki-laki
mereka dan membiarkan hidup
perempuan-perempuan mereka, sehingga
Bani Israil benar-benar
menjadi bangsa yang “pengecut” dan tidak berani melawan
dinasti Fir’aun. Lihat QS.2:50; QS.14:7;
QS.27:81; QS.44:31-32 & QS.7:128 & 142; QS. 28:5.
Kekecewaan Nabi Musa a.s. -- Sebagai Kebangkitan
“Burung” Nabi Ibrahim a.s. yang
Pertama -- Terhadap Kepengecutan Bani Israil
Bible mengemukakan jumlah kaum Bani Israil
yang hijrah dari Mesir sebanyak
600.000 orang. Penyelidikan mutakhir mendukung pandangan Al-Quran bahwa mereka hanya “beberapa ribu orang” saja
(History of the People of Israel,
oleh Ernest Renan, hlm. 145. 1888 dan History
of Palestine and the Jews, i, 174 oleh John Kitto). Lihat pula
QS.2:61.
Makna ayat selanjutnya: فَقَالَ لَہُمُ
اللّٰہُ مُوۡتُوۡا ۟ ثُمَّ اَحۡیَاہُمۡ
-- “Lalu
Allah berfirman kepada mereka: ”Matilah!” Kemudian Dia
menghidupkan mereka.” Yang
diisyaratkan adalah keadaan hidup tidak menentu kaum Bani Israil di hutan belantara Sinai,
setelah mereka menolak untuk bertolak
bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. memasuki ke
Kanaan dan berperang melawan kaum-kaum liar dan gagah yang ada di dalamnya, yang dalam QS.2:250-252 digambarkan
secara kiasan sebagai “Jalut” dan “bala-tentaranya.”
Akibat penolakan
tersebut generasi yang berjiwa
pengecut tersebut binasa
di hutan belantara Sinai dan bangkit
suatu generasi baru Bani Israil yang diisi oleh semangat kehidupan baru, mereka bertolak ke “negeri yang Dijanjikan” di bawah pimpinan Yusak. Di tempat lain Al-Quran mengatakan peristiwa tersebut dengan
ungkapan “Kemudian Kami membangkitkan kamu sesudah kamu binasa.” (QS.2:57).
Dengan demikian jelaslah bahwa dari
kenyataan sejarah Bani Israil
tersebut jelaslah bahwa pertanyaan Nabi Ibrahim a.s. kepada
Allah Swt. berkenaan dengan “cara
menghidupkan yang mati” dalam QS.2:261 bukanlah menghidupkan kembali manusia
yang secara jasmani telah mati,
melainkan cara menghidupkan kembali
manusia yang dari segi akhlak dan ruhani
telah mati, firman-Nya:
وَ
اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ
اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ
لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً
مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ
مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara
Engkau menghidupkan yang mati?” Dia
ber-firman: “Apakah engkau tidak percaya?”
Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku
tanyakan supaya hatiku tenteram.” Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka kepada engkau,
kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا -- lalu panggillah mereka, niscaya mereka
dengan cepat akan datang kepada engkau, وَ
اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ -- dan Ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:261).
Jadi, betapa kecewanya Nabi Musa a.s. – sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang pertama -- karena
beliau tidak sempat menyaksikan bangkitnya
jiwa ksatria generasi muda Bani
Israil, sebab beliau dan Nabi
Harun a.s. pun telah terlebih dulu wafat
bersama generasi tua Bani Israil yang
pengecut di gurun Sinai dalam masa 40
tahun penangguhan pewarisan Kanaan
– “negeri yang dijanjikan” – kepada Bani
Israil. (QS.5:22-27).
“Sikap Pengecut” Bani Israil
Merupakan Pelajaran Bagi Kaum Muslim
Nampaknya keberhasilan Yusak (Yosua) bin Nun memimpin “generasi penerus” Bani Israil memasuki Kanaan
-- “negeri yang dijanjikan” – pun tidak berlangsung lama, sebab dari
penjelasan QS.2:247 Bani Israil
kembali mengalami kemunduran dalam perjuangan mereka sebagaimana tergambar
dalam firman-Nya di awal Bab ini:
اَلَمۡ تَرَ اِلَی الۡمَلَاِ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ۘ
اِذۡ قَالُوۡا لِنَبِیٍّ لَّہُمُ ابۡعَثۡ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلۡ فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ
اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا ؕ قَالُوۡا وَ مَا
لَنَاۤ اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا ؕ فَلَمَّا کُتِبَ
عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌۢ بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat mengenai para pemuka Bani Israil sesudah Musa,
ketika mereka berkata kepada seorang
nabi mereka: “Angkatlah bagi kami
seorang raja, supaya kami dapat
berperang di jalan Allah.” قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا
تُقَاتِلُوۡا -- Ia (nabi) berkata: ”Mungkin saja kamu tidak akan berperang jika berperang itu diwajibkan atas kamu?” قَالُوۡا وَ مَا
لَنَاۤ اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا -- Mereka berkata:
“Mengapa kami tidak akan berperang di
jalan Allah padahal sungguh kami telah diusir dari rumah-rumah kami
dan dipisahkan dari anak-anak
kami?” فَلَمَّا
کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌۢ بِالظّٰلِمِیۡنَ -- Tetapi tatkala berperang ditetapkan atas mereka, mereka
berpaling kecuali sedikit
dari mereka, dan Allah Maha
Mengetahui orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah
[2]:247).
Ucapan mereka: “Mengapakah
kami tidak akan berperang di jalan Allah jika kami telah diusir dari
rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?” nampaknya perbaikan
sikap itu hanya di mulut saja dan
tidak dalam kenyataan, sebab ketika
saat pertempuran yang sebenarnya
tiba, banyak dari antara mereka bimbang
dan menolak untuk bertempur. Dengan demikian, peristiwa
itu merupakan peringatan keras kepada
kaum Muslimin untuk waspada agar jangan menempuh sikap Bani Israil yang serupa
itu.
Jawaban pengecut para pemuka Bani Israil sebelumnya pun terhadap ajakan Nabi
Musa a.s. tersebut Allah Swt. telah mengakibatkan Allah Swt. menangguhkan pewarisan “negeri yang dijanjikan”
(Kanaan) kepada Bani
Israil selama 40 tahun
(QS.5:27), menunggu munculnya generasi
penerus yang berjiwa ksatria akibat gemblengan kehidupan keras di padang
pasir dan akibat pengaruh hukum
Taurat yang lebih menekankan hukum pembalasan.
Namun dalam masa penangguhkan selama 40
tahun tersebut Nabi Musa a.s. dan Nabi
Harun a.s. wafat. Dengan demikian Nabi Musa a.s. sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang pertama tersebut tidak menikmati
pewarisan “negeri yang dijanjikan” (Kanaan) kepada Bani Israil
akibat kepengecutan mereka. Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai permintaan
para pemuka Bani Israil tersebut:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ
مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ
الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً
مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ اِنَّ
اللّٰہَ اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ
بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
﴿﴾
Dan nabi mereka berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya Allah telah mengangkat
Thalut menjadi raja bagi kamu.” Mereka berkata:
“Bagaimana ia bisa memiliki kedaulatan atas kami, padahal kami lebih berhak memiliki kedaulatan daripadanya, karena ia tidak pernah diberi har-ta yang berlimpah-ruah?” Ia berkata:
“Sesungguhnya Allah telah memilihnya
sebagai raja atas kamu dan melebihkannya
dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.” Dan Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:248).
Thalut Adalah Gideon & Tidak Ada
Anachronisme (Pengacauan Waktu) Dalam Al-Quran
Thalut
adalah nama sifat seorang raja Bani Israil yang hidup kira-kira
200 tahun sebelum Nabi Dawud a.s.
dan kira-kira 200 tahun sesudah Nabi Musa a.s. Beberapa ahli tafsir Al-Quran telah keliru
mempersamakan Thalut dengan Saul. Penjelasan Al-Quran tersebut lebih
cocok dengan Gideon (Hakim-hakim fasal-fasal
6-8) daripada dengan Saul. Gideon hidup kira-kira 1250 sebelum
Masehi dan Bible menyebutnya “pahlawan yang perkasa” (Hakim-hakim 6:12) tiada
lain melainkan Thalut.
Menurut
sementara penulis Kristen, peristiwa
yang dituturkan Al-Quran dalam bagian
ini menunjuk kepada dua masa yang
berlainan, terpisah satu sama lain oleh masa-antara yang rentangannya 200
tahun, dan menunjuk kepada bagian ini sebagai contoh — menurut mereka — terjadi
anachronisme
(pengacauan waktu) sejarah yang
terdapat dalam Al-Quran.
Kritikan
tersebut akibat ketidak-fahaman
mereka mengenai “gaya penuturan”
Al-Quran yang penuh hikmah
mengenai sejarah yang terjadi di masa silam, karena kadang-kadang Al-Quran
menceritakan satu peristiwa yang sama
-- contohnya kisah kaum-kaum purbakala dan Fir’aun
yang berlangsung puluhan tahun --
tetapi Allah Swt. menceritakannya
dalam berbagai surah Al-Quran dalam jumlah
ayat yang berbeda-beda, bahkan kisah tersebut diceritakan hanya dalam satu ayat saja (QS.8:53 & 56;
QS.29:40), ada juga surah Al-Quran
yang menceritakan hanya seorang nabi
Allah saja contohnya Surah Yusuf dan Surah Nuh.
Jadi, kisah Thalut (Gideon) dan Nabi Daud a.s. yang
dikemukakan dalam QS.2:247-252 memang betul menunjuk kepada dua masa yang berlainan, tetapi tiada anachronisme
(pengacauan waktu) di dalamnya. Al-Quran menunjuk di sini kepada kedua masa itu. Tujuan berbuat demikian
ialah untuk melukiskan bagaimana mulainya proses
mempersatukan berbagai suku Bani
Israil di zaman Gideon (Thalut) -- 200
tahun sebelum Nabi Dawud a.s.
-- dan yang akhirnya tercapai sepenuhnya di zaman Nabi Dawud a.s.
Kata-kata “sesudah Musa” dalam ayat: “Apakah engkau tidak melihat
mengenai para pemuka Bani Israil
sesudah Musa, ketika mereka berkata
kepada seorang nabi mereka: “Angkatlah
bagi kami seorang raja, supaya kami
dapat berperang di jalan Allah” (QS.2:247) menunjukkan bahwa peristiwa itu termasuk masa
permulaan ketika kaum Bani Israil
sebagai bangsa mulai mengambil bentuk
yang pasti dalam sejarah. Sebab 200 tahun sesudah Nabi Musa a.s. mereka
pecah-belah dalam berbagai suku, tidak mempunyai raja
dan tidak pula angkatan perang.
Dalam tahun 1256 sebelum Masehi, disebabkan
oleh kedurhakaan mereka, Allah Swt.
membiarkan mereka jatuh ke tangan kaum
Midian yang menjarah dan menindas mereka selama tujuh tahun dan
mereka terpaksa mencari perlindungan di dalam gua-gua (Hakim-hakim 6:1-6). “Maka sesungguhnya tatkala Bani Israil itu berseru kepada Tuhan dari
sebab orang Midian itu, maka disuruhkan Tuhan seorang yang nabi adanya kepada
Bani Israil” (Hakim-hakim
6:7-8)”; “dan
seorang malaikat Tuhan datang kepada Gideon
menunjuknya menjadi raja dan
menjadikannya pertolongan Ilahi” .... “Maka
sembahnya kepadanya: Ya Tuhan dengan apa gerangan dapat hamba melepaskan orang
Israil? Bahwasanya bangsa hamba terkecil dalam suku Manasye, maka hamba ini
anak bungsu di antara orang isi rumah bapak hamba” (Hakim-hakim 6:15).
Hal ini
cocok dengan keterangan yang diberikan dalam ayat yang dibahas ini tentang Thalut (QS.2:247-249). Apa yang
menjadikan persamaan Thalut dengan Gideon lebih pasti lagi adalah memang di zaman Gideon -- dan bukan di
zaman Saul -- kaum Bani
Israil mendapat cobaan dengan perantaraan air, dan gambaran yang
diberikan oleh Bible (Hakim-hakim 7:4-7)
tentang cobaan itu memang sama dengan
gambaran Al-Quran (QS.2:250). Dari Hakim-hakim
7: 6-7 kita mengetahui bahwa sesudah cobaan
tersebut di atas, orang-orang yang tinggal bersama-sama dengan Gideon hanya ada
300 orang.
Tanda Kedaulatan Thalut (Gideon)
Sebagai Raja Bani Israil &
Ayat-ayat Mutasyābihāt Dalam Kisah Thalut dan Nabi Daud a.s.
serta Nabi Sulaiman a.s.
Sangat menarik untuk diperhatikan, yaitu
seorang sahabat Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan telah bersabda: “Kami berjumlah 313 orang dalam perang Badar,
dan jumlah itu sesuai dengan jumlah orang yang mengikuti Thalut” (Tirmidzi, bab Siyar).
Hadits itu pun mendukung kesimpulan bahwa Thalut
itu adalah Gideon. Apa yang selanjutnya menguatkan persamaan antara Thalut dengan Gideon ialah, kata itu berasal dari akar-kata yang dalam bahasa Ibrani berarti “menumbangkan” (Encyclopaedia Biblica) atau
“menebang” (Jewish Encyclopaedia).
Jadi, Gideon
berarti “orang yang menebas musuh hingga
merobohkannya ke tanah”, dan Bible
sendiri mengatakan mengenai Gideon
sebagai “pahlawan yang perkasa” (Hakim-hakim 6:12). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ
اٰیَۃَ مُلۡکِہٖۤ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ التَّابُوۡتُ فِیۡہِ سَکِیۡنَۃٌ مِّنۡ
رَّبِّکُمۡ وَ بَقِیَّۃٌ مِّمَّا تَرَکَ
اٰلُ مُوۡسٰی وَ اٰلُ ہٰرُوۡنَ تَحۡمِلُہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیَۃً لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan nabi
mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya tanda kedaulatannya ialah bahwa akan datang kepada kamu suatu Tabut,
yang di dalamnya mengandung ketenteraman
dari Rabb (Tuhan) kamu dan
pusaka peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dipikul oleh malaikat-malaikat,
sesungguhnya dalam hal ini benar-benar
ada suatu Tanda bagi kamu, jika kamu sungguh orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah
[2]:249).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 20 Desember
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar