Selasa, 27 Desember 2016

Akibat Buruk "Kepengecutan" Bani Israil" Menolak Memasuki Kanaan -- "Negeri yang Dijanjikan" Allah Swt. & Kebangkitan Bani Israil Melalui Perjuangan "Thalut" (Gideon) dan Nabi Daud a.s.

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  89

AKIBAT BURUK  KEPENGECUTAN BANI ISRAIL MENOLAK AJAKAN NABI MUSA A.S. MEMASUKI KANAAN – “NEGERI YANG DIJANJIKAN”  ALLAH SWT. & KEBANGKITAN BANI ISRAIL MELALUI PERJUANGAN THALUT (GIDEON) DAN NABI DAUD A.S.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 88  dibahas  topik    proses  terwujudnya kerajaan Bani Israil  secara bertahap  yang dimulai pada zaman Thalut (Gideon) hingga zaman Nabi Daud a.s. dalam firman-Nya berikut ini  kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ  اِلَی الۡمَلَاِ مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ۘ اِذۡ  قَالُوۡا لِنَبِیٍّ لَّہُمُ ابۡعَثۡ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ  اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا ؕ قَالُوۡا وَ مَا لَنَاۤ  اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا ؕ فَلَمَّا کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ  بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak  melihat mengenai para pemuka Bani Israil sesudah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka: “Angkatlah bagi kami seorang raja, supaya kami dapat berperang di jalan Allah.” Ia (nabi) berkata: ”Mungkin saja kamu tidak akan berperang jika berperang itu diwajibkan atas kamu?” Mereka berkata: “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah padahal sungguh  kami telah diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?” Tetapi tatkala berperang ditetapkan atas merekamereka berpaling  kecuali sedikit  dari mereka, dan Allah Maha Mengetahui orang-orang  yang zalim. (Al-Baqarah [2]:247).

Sikap Pengecut” Bani Israil dan Akibat Buruk yang Harus Dialaminya

 Peristiwa  yang dikemukakan ayat ini  menunjukkan kemajuan dalam keadaan kaum Bani Israil   dibandingkan dengan keadaan  mereka pada zaman Nabi Musa a.s.   setelah mereka   keluar dari Mesir. Dalam  QS.5:21-27  Allah Swt. dalam Al-Quran menuturkan bahwa ketika Nabi Musa a.s. memerintahkan Bani Israil  untuk memasuki Kanaan – “negeri yang dijanjikan” – guna memerangi musuh mereka di jalan Allah,    mereka menjawab dengan penuh kepengecutan:  “Pergilah engkau bersama Tuhan engkau, kemudian berperanglah kalian berdua; sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!”, selengkapnya Dia berfirman:  
یٰقَوۡمِ ادۡخُلُوا الۡاَرۡضَ الۡمُقَدَّسَۃَ الَّتِیۡ  کَتَبَ اللّٰہُ لَکُمۡ وَ لَا تَرۡتَدُّوۡا عَلٰۤی  اَدۡبَارِکُمۡ فَتَنۡقَلِبُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّ فِیۡہَا قَوۡمًا جَبَّارِیۡنَ ٭ۖ وَ اِنَّا لَنۡ نَّدۡخُلَہَا حَتّٰی یَخۡرُجُوۡا مِنۡہَا ۚ فَاِنۡ  یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا فَاِنَّا دٰخِلُوۡنَ ﴿﴾  قَالَ رَجُلٰنِ مِنَ الَّذِیۡنَ یَخَافُوۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِمَا ادۡخُلُوۡا عَلَیۡہِمُ  الۡبَابَ ۚ فَاِذَا دَخَلۡتُمُوۡہُ  فَاِنَّکُمۡ غٰلِبُوۡنَ ۬ۚ وَ عَلَی اللّٰہِ  فَتَوَکَّلُوۡۤا اِنۡ کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾
Hai kaumku, masukilah Tanah yang disucikan  yang telah ditetapkan AllAh bagi kamu,  dan janganlah kamu berbalik ke belakangmu lalu kamu kembali menjadi orang-orang yang rugi.”   Mereka berkata: “Ya Musa, sesungguhnya di dalam negeri itu ada suatu kaum  yang kuat lagi kejam,  dan sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya  hingga mereka keluar sendiri darinya, lalu  jika me-reka keluar darinya maka kami    akan memasukinya.”  Dua orang laki-laki  dari an-tara mereka yang takut kepada Allah dan Allah telah memberi nikmat kepa-da keduanya berkata: “Masuklah melalui pintu gerbang mereka,  lalu apa-bila kamu memasuki negeri itu maka sesungguhnya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kamu  bertawakkal jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.”    Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami  tidak akan per-nah memasuki negeri itu, selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, lalu berperanglah engkau berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!” (Al-Māidah [5]:22-25).
       Menanggapi sikap pengecut dan ketidak-sopanan Bani Israil tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Nabi Musa a.s.:
قَالَ رَبِّ اِنِّیۡ  لَاۤ  اَمۡلِکُ اِلَّا نَفۡسِیۡ وَ اَخِیۡ فَافۡرُقۡ بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَ الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿٪﴾
Musa berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku tidak berkuasa kecuali terhadap diriku dan saudara laki-lakiku, maka bedakanlah antara kami dengan  kaum yang fasik (durhaka) itu.”  قَالَ فَاِنَّہَا مُحَرَّمَۃٌ عَلَیۡہِمۡ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۚ یَتِیۡہُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ --  Dia berfirman: “Maka  sesungguhnya negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, mereka akan bertualang kebingungan di muka bumi   فَلَا تَاۡسَ عَلَی الۡقَوۡمِ الۡفٰسِقِیۡنَ --    maka janganlah engkau bersedih atas kaum yang fasik (durhaka) itu.” (Al-Māidah [5]:26-27).

Kematian Generasi Tua dan Kelahiran Generasi  Muda  Bani Israil

      Ketika orang-orang Bani Israil bertingkah bagai orang-orang pengecut, Allah Swt. menakdirkan mereka harus terus-menerus mengembara di padang belantara selama 40 tahun agar kehidupan keras padang pasir akan menempa mereka dan memasukkan ke dalam diri mereka suatu jiwa baru dan akan memperkokoh moral mereka. Dalam masa 40 tahun itu generasi tua boleh dikatakan  telah hilang dan generasi muda tumbuh dengan memiliki sifat keberanian serta kekuatan yang cukup untuk memasuki  Kanaan --  “Negeri  yang Dijanjikan”  --  dan   menaklukkan kaum-kaum liar dan kejam yang berada di dalamnya, yang terhadap mereka itulah   Bani Israil  yang bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. merasa takut (QS.5:22-25).
       Mengisyaratkan kepada  sifat pengecut   dan takut mati  yang diperagakan Bani Israil itu pulalah ayat Al-Quran yang mengawali kisah tentang Thalut (Gideon) dan Nabi Daud a.s., firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ  اِلَی الَّذِیۡنَ خَرَجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ ہُمۡ اُلُوۡفٌ حَذَرَ الۡمَوۡتِ  ۪ فَقَالَ لَہُمُ اللّٰہُ  مُوۡتُوۡا ۟ ثُمَّ  اَحۡیَاہُمۡ  ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی النَّاسِ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا یَشۡکُرُوۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat mengenai orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka karena takut mati, dan mereka itu beribu-ribu? Lalu Allah berfirman kepada mereka:   ”Matilah!”  Kemudian Dia menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah benar-benar memiliki  karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (Al-Baqarah [2]:244),
       Ketika kaum Bani Israil meninggalkan Mesir   --   setelah selama 4 abad mereka tinggal di sana  sejak Nabi Yusuf a.s.  dijual ke Mesir  karena kedengkian  dan perbuatan buruk saudara-saudara tua beliau (Kejadian 15:12-16; QS.12:1-22)  --  lalu  bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. Bani Israil menyeberang ke Asia karena dikejar-kejar oleh Fira’un dan balatentaranya, Nabi Musa a.s. ingin agar mereka memasuki Kanaan -- “negeri yang dijanjikan”   --  tetapi mereka takut kepada kaum-kaum  yang tinggal di sana dan menolak bergerak maju  memasuki Kanaan (QS.5:21-27).
        Makna  ayat:  اَلَمۡ تَرَ  اِلَی الَّذِیۡنَ خَرَجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ ہُمۡ اُلُوۡفٌ حَذَرَ الۡمَوۡتِ     -- “Apakah engkau tidak melihat mengenai orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka karena takut mati, dan mereka itu beribu-ribu?” Kaum Bani Israil meninggalkan Mesir karena untuk tinggal terus di negeri itu akan berarti kemusnahan mereka. Fira’un telah menempuh semua jalan dan cara untuk membinasakan kaum laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, sehingga  Bani Israil benar-benar menjadi bangsa yang “pengecut” dan tidak berani melawan dinasti  Fir’aun. Lihat QS.2:50; QS.14:7;  QS.27:81; QS.44:31-32 &  QS.7:128 & 142;  QS. 28:5.

Kekecewaan Nabi Musa a.s. -- Sebagai  Kebangkitan “Burung” Nabi Ibrahim a.s. yang Pertama     -- Terhadap Kepengecutan Bani Israil

       Bible mengemukakan jumlah kaum Bani Israil yang hijrah dari Mesir sebanyak 600.000 orang. Penyelidikan mutakhir mendukung pandangan Al-Quran bahwa mereka hanya “beberapa ribu orang” saja (History of the People of Israel, oleh Ernest Renan, hlm. 145. 1888 dan History of Palestine and the Jews, i, 174 oleh John Kitto). Lihat pula QS.2:61.
        Makna ayat selanjutnya:  فَقَالَ لَہُمُ اللّٰہُ  مُوۡتُوۡا ۟ ثُمَّ  اَحۡیَاہُمۡ   -- “Lalu Allah berfirman kepada mereka:  ”Matilah!”  Kemudian Dia menghidupkan mereka.”    Yang diisyaratkan adalah  keadaan hidup tidak menentu kaum Bani Israil di hutan belantara Sinai, setelah mereka menolak untuk bertolak bersama Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. memasuki   ke Kanaan dan berperang melawan kaum-kaum liar dan gagah yang ada di dalamnya, yang dalam QS.2:250-252 digambarkan secara kiasan sebagai “Jalut” dan “bala-tentaranya.”
       Akibat penolakan tersebut  generasi yang berjiwa pengecut     tersebut  binasa di hutan belantara Sinai   dan bangkit  suatu generasi  baru Bani Israil  yang diisi oleh semangat kehidupan baru, mereka  bertolak ke “negeri yang Dijanjikan” di bawah pimpinan Yusak. Di tempat lain Al-Quran mengatakan peristiwa tersebut dengan ungkapan  “Kemudian Kami membangkitkan kamu sesudah kamu binasa.” (QS.2:57).
       Dengan demikian jelaslah bahwa dari kenyataan sejarah Bani Israil tersebut jelaslah bahwa  pertanyaan Nabi Ibrahim a.s. kepada Allah Swt. berkenaan dengan “cara menghidupkan yang mati” dalam QS.2:261 bukanlah  menghidupkan  kembali manusia yang secara jasmani  telah mati, melainkan cara menghidupkan kembali manusia yang dari segi akhlak dan ruhani  telah mati, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اَرِنِیۡ  کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ  قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara Engkau menghidupkan yang mati?” Dia ber-firman: “Apakah engkau tidak percaya?” Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.”   Dia berfirman:    “Jika                         demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka kepada engkau, kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا  --  lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada engkau,  وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ -- dan Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:261).
       Jadi, betapa kecewanya Nabi Musa a.s. – sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang pertama  --  karena beliau  tidak sempat menyaksikan bangkitnya jiwa ksatria generasi muda Bani Israil, sebab beliau dan Nabi Harun a.s. pun telah terlebih dulu wafat bersama generasi tua Bani Israil yang pengecut di gurun Sinai dalam masa 40 tahun penangguhan pewarisan Kanaan – “negeri yang dijanjikan” – kepada Bani Israil.  (QS.5:22-27).
             
Sikap Pengecut” Bani Israil Merupakan Pelajaran Bagi Kaum Muslim

        Nampaknya keberhasilan Yusak (Yosua) bin Nun  memimpin “generasi penerus” Bani Israil memasuki Kanaan  -- “negeri yang dijanjikan” – pun tidak berlangsung lama, sebab dari penjelasan QS.2:247 Bani Israil kembali mengalami kemunduran dalam perjuangan mereka sebagaimana tergambar dalam firman-Nya di awal Bab ini:
اَلَمۡ تَرَ  اِلَی الۡمَلَاِ مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ۘ اِذۡ  قَالُوۡا لِنَبِیٍّ لَّہُمُ ابۡعَثۡ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ  اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا ؕ قَالُوۡا وَ مَا لَنَاۤ  اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا ؕ فَلَمَّا کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ  بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak  melihat mengenai para pemuka Bani Israil sesudah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka: “Angkatlah bagi kami seorang raja, supaya kami dapat berperang di jalan Allah.” قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ  اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا -- Ia (nabi) berkata: ”Mungkin saja kamu tidak akan berperang jika berperang itu diwajibkan atas kamu?” قَالُوۡا وَ مَا لَنَاۤ  اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا -- Mereka berkata: “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah padahal sungguh  kami telah diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?” فَلَمَّا کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ  بِالظّٰلِمِیۡنَ  -- Tetapi tatkala berperang ditetapkan atas merekamereka berpaling  kecuali sedikit  dari mereka, dan Allah Maha Mengetahui orang-orang  yang zalim. (Al-Baqarah [2]:247).
      Ucapan mereka: “Mengapakah kami tidak akan berperang di jalan Allah jika kami telah diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?” nampaknya  perbaikan sikap itu hanya di mulut saja dan tidak dalam kenyataan, sebab ketika saat pertempuran yang sebenarnya tiba, banyak dari antara mereka bimbang dan menolak untuk bertempur. Dengan demikian, peristiwa itu merupakan peringatan keras kepada kaum Muslimin untuk waspada agar jangan menempuh sikap Bani Israil yang serupa itu.
      Jawaban pengecut  para pemuka Bani Israil  sebelumnya pun terhadap ajakan Nabi Musa a.s. tersebut Allah Swt. telah mengakibatkan  Allah Swt.  menangguhkan  pewarisan “negeri yang dijanjikan” (Kanaan)    kepada Bani Israil  selama 40 tahun (QS.5:27),   menunggu munculnya generasi penerus    yang  berjiwa ksatria  akibat gemblengan kehidupan keras di padang pasir dan akibat pengaruh   hukum Taurat yang lebih menekankan hukum pembalasan.
       Namun dalam masa penangguhkan selama 40 tahun tersebut Nabi Musa a.s. dan Nabi  Harun a.s.    wafat.  Dengan demikian Nabi Musa a.s. sebagai  “burung” Nabi Ibrahim a.s.  yang pertama tersebut tidak menikmati pewarisan “negeri yang dijanjikan” (Kanaan) kepada Bani Israil akibat kepengecutan mereka.  Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai permintaan para pemuka Bani Israil tersebut:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ  اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا  اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ  اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan nabi mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut  menjadi raja bagi kamu.” Mereka berkata:  “Bagaimana ia bisa memiliki  kedaulatan atas kami, padahal kami lebih berhak memiliki kedaulatan  daripadanya, karena ia tidak pernah diberi har-ta yang berlimpah-ruah?” Ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya sebagai raja atas kamu dan melebihkannya dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.” Dan  Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:248).

Thalut Adalah Gideon  & Tidak Ada  Anachronisme (Pengacauan Waktu) Dalam Al-Quran

      Thalut adalah nama sifat seorang raja Bani Israil yang hidup kira-kira 200 tahun sebelum Nabi Dawud a.s.  dan kira-kira 200  tahun   sesudah Nabi Musa a.s.  Beberapa ahli tafsir Al-Quran telah keliru mempersamakan Thalut dengan Saul. Penjelasan Al-Quran tersebut lebih cocok dengan Gideon (Hakim-hakim fasal-fasal 6-8) daripada dengan Saul. Gideon hidup kira-kira 1250 sebelum Masehi dan Bible menyebutnya “pahlawan yang perkasa” (Hakim-hakim 6:12) tiada lain melainkan Thalut.
   Menurut sementara penulis Kristen, peristiwa yang dituturkan  Al-Quran dalam bagian ini menunjuk kepada dua masa yang berlainan, terpisah satu sama lain oleh masa-antara yang rentangannya 200 tahun, dan menunjuk kepada bagian ini sebagai contoh — menurut mereka — terjadi  anachronisme (pengacauan waktu) sejarah yang terdapat dalam Al-Quran.
   Kritikan tersebut akibat ketidak-fahaman mereka mengenai “gaya penuturan” Al-Quran yang penuh hikmah mengenai  sejarah yang terjadi di masa silam, karena kadang-kadang Al-Quran menceritakan satu peristiwa  yang sama  -- contohnya kisah  kaum-kaum purbakala dan  Fir’aun  yang berlangsung  puluhan tahun   --  tetapi  Allah Swt. menceritakannya dalam berbagai surah Al-Quran  dalam jumlah ayat yang berbeda-beda, bahkan  kisah tersebut diceritakan hanya dalam satu ayat saja (QS.8:53 & 56; QS.29:40),  ada juga   surah Al-Quran yang menceritakan hanya seorang nabi Allah saja  contohnya Surah Yusuf dan Surah Nuh.
   Jadi, kisah Thalut (Gideon) dan Nabi Daud a.s.  yang dikemukakan dalam QS.2:247-252   memang betul menunjuk kepada dua masa yang berlainan, tetapi tiada anachronisme (pengacauan waktu) di dalamnya. Al-Quran menunjuk di sini kepada kedua masa itu. Tujuan berbuat demikian ialah untuk melukiskan bagaimana mulainya proses mempersatukan berbagai suku Bani Israil di zaman Gideon (Thalut)  --   200 tahun sebelum Nabi Dawud a.s.  -- dan yang akhirnya tercapai sepenuhnya di zaman Nabi Dawud a.s.  
       Kata-kata “sesudah Musa” dalam ayat:   “Apakah engkau tidak  melihat mengenai para pemuka Bani Israil sesudah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka: “Angkatlah bagi kami seorang raja, supaya kami dapat berperang di jalan Allah”   (QS.2:247)    menunjukkan bahwa peristiwa itu termasuk masa permulaan ketika kaum Bani Israil sebagai bangsa mulai mengambil bentuk yang pasti dalam  sejarah. Sebab 200 tahun sesudah Nabi Musa a.s. mereka pecah-belah dalam berbagai suku, tidak  mempunyai raja dan tidak pula angkatan perang.
  Dalam tahun 1256 sebelum Masehi, disebabkan oleh kedurhakaan mereka, Allah Swt. membiarkan mereka jatuh ke tangan kaum Midian yang menjarah dan menindas mereka selama tujuh tahun dan mereka terpaksa mencari perlindungan di dalam gua-gua (Hakim-hakim 6:1-6). “Maka sesungguhnya tatkala Bani Israil itu berseru kepada Tuhan dari sebab orang Midian itu, maka disuruhkan Tuhan seorang yang nabi adanya kepada Bani Israil” (Hakim-hakim 6:7-8)”;   “dan seorang malaikat Tuhan datang kepada Gideon menunjuknya menjadi raja dan menjadikannya pertolongan Ilahi” .... “Maka sembahnya kepadanya: Ya Tuhan dengan apa gerangan dapat hamba melepaskan orang Israil? Bahwasanya bangsa hamba terkecil dalam suku Manasye, maka hamba ini anak bungsu di antara orang isi rumah bapak hamba” (Hakim-hakim 6:15).
  Hal ini cocok dengan keterangan yang diberikan dalam ayat yang dibahas ini tentang Thalut (QS.2:247-249). Apa yang menjadikan persamaan Thalut dengan Gideon lebih pasti lagi  adalah  memang di zaman Gideon   -- dan bukan di zaman Saul  -- kaum Bani Israil mendapat cobaan dengan perantaraan air, dan gambaran yang diberikan oleh Bible (Hakim-hakim 7:4-7) tentang cobaan itu memang sama dengan gambaran Al-Quran (QS.2:250). Dari Hakim-hakim 7: 6-7 kita mengetahui bahwa sesudah cobaan tersebut di atas, orang-orang yang tinggal bersama-sama dengan Gideon hanya ada 300 orang.

Tanda Kedaulatan Thalut (Gideon) Sebagai Raja Bani Israil & Ayat-ayat Mutasyābihāt  Dalam Kisah Thalut dan Nabi Daud a.s. serta Nabi Sulaiman a.s.

 Sangat menarik untuk diperhatikan, yaitu seorang sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan telah bersabda: “Kami berjumlah 313 orang dalam perang Badar, dan jumlah itu sesuai dengan jumlah orang yang mengikuti Thalut” (Tirmidzi, bab Siyar). Hadits itu pun mendukung kesimpulan bahwa Thalut itu  adalah Gideon. Apa yang selanjutnya menguatkan persamaan antara Thalut dengan Gideon ialah, kata itu berasal dari akar-kata yang dalam bahasa Ibrani berarti “menumbangkan” (Encyclopaedia Biblica) atau “menebang” (Jewish    Encyclopaedia).
  Jadi, Gideon berarti “orang yang menebas musuh hingga merobohkannya ke tanah”, dan Bible sendiri mengatakan mengenai Gideon sebagai “pahlawan yang perkasa” (Hakim-hakim 6:12).  Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اٰیَۃَ مُلۡکِہٖۤ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ التَّابُوۡتُ فِیۡہِ سَکِیۡنَۃٌ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ وَ بَقِیَّۃٌ   مِّمَّا تَرَکَ اٰلُ مُوۡسٰی وَ اٰلُ ہٰرُوۡنَ تَحۡمِلُہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لَّکُمۡ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan  nabi mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya tanda kedaulatannya ialah bahwa akan datang kepada kamu suatu Tabut, yang di dalamnya mengandung ketenteraman dari Rabb (Tuhan)  kamu dan  pusaka  peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dipikul oleh malaikat-malaikat, sesungguhnya dalam hal ini benar-benar ada suatu Tanda bagi kamu, jika kamu sungguh orang-orang yang  beriman.” (Al-Baqarah [2]:249).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,   20 Desember  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar