Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 90
ORANG-ORANG YANG TERGELINCIR OLEH AYAT-AYAT MUTASYÂBIHÂT AL-QURAN & BAHAYA “PERANG FATWA” DI KALANGAN UMAT BERAGAMA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 89 dibahas topik Thalut Adalah Gideon
& Tidak Ada Anachronisme (Pengacauan Waktu) Dalam Al-Quran. Thalut
adalah nama sifat seorang raja Bani Israil yang hidup kira-kira
200 tahun sebelum Nabi Dawud a.s.
dan kira-kira 200 tahun sesudah Nabi
Musa a.s., firman-Nya:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ
مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ
الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً
مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ اِنَّ
اللّٰہَ اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ
بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
﴿﴾
Dan nabi mereka berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya Allah telah mengangkat
Thalut menjadi raja bagi kamu.” Mereka berkata:
“Bagaimana ia bisa memiliki kedaulatan atas kami, padahal kami lebih berhak memiliki kedaulatan daripadanya, karena ia tidak pernah diberi harta yang berlimpah-ruah?” Ia berkata: “Sesungguhnya
Allah telah memilihnya sebagai
raja atas kamu dan melebihkannya
dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.” Dan Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:248).
Beberapa ahli tafsir Al-Quran telah keliru
mempersamakan Thalut dengan Saul. Penjelasan Al-Quran tersebut lebih
cocok dengan Gideon (Hakim-hakim fasal-fasal
6-8) daripada dengan Saul. Gideon hidup kira-kira 1250 sebelum
Masehi dan Bible menyebutnya “pahlawan yang perkasa” (Hakim-hakim 6:12) tiada
lain melainkan Thalut.
Menurut sementara penulis Kristen, peristiwa yang dituturkan Al-Quran dalam bagian ini menunjuk kepada dua masa yang berlainan, terpisah satu
sama lain oleh masa-antara yang rentangannya 200 tahun, dan menunjuk kepada
bagian ini sebagai contoh — menurut mereka — terjadi anachronisme
(pengacauan waktu) sejarah yang
terdapat dalam Al-Quran.
Keunikan Penyajian Kisah-kisah
Sejarah Dalam Al-Quran & Penggunaan Kiasan
Kritikan
tersebut akibat ketidak-fahaman
mereka mengenai “gaya penuturan”
Al-Quran yang penuh hikmah
mengenai sejarah yang terjadi di masa silam, karena kadang-kadang Al-Quran
menceritakan satu peristiwa yang sama
-- contohnya kisah kaum-kaum purbakala dan Fir’aun
yang berlangsung puluhan tahun --
tetapi Allah Swt. menceritakannya
dalam berbagai surah Al-Quran dalam jumlah
ayat yang berbeda-beda, bahkan kisah tersebut diceritakan hanya dalam satu ayat saja (QS.8:53 & 56;
QS.29:40), ada juga surah Al-Quran
yang menceritakan hanya seorang nabi
Allah saja contohnya Surah Yusuf dan Surah Nuh.
Jadi, kisah Thalut (Gideon) dan Nabi Daud a.s. yang
dikemukakan dalam QS.2:247-252 memang betul menunjuk kepada dua masa yang berlainan, tetapi tiada anachronisme
(pengacauan waktu) di dalamnya. Al-Quran menunjuk di sini kepada kedua masa itu. Tujuan berbuat demikian
ialah untuk melukiskan bagaimana mulainya proses
mempersatukan berbagai suku Bani
Israil di zaman Gideon (Thalut) -- 200
tahun sebelum Nabi Daud a.s. -- dan
yang akhirnya tercapai sepenuhnya di zaman Nabi Daud a.s. setelah beliau berhasil membunuh Jalut
-- bukan sekedar mengalahkannya
seperti yang dilakukan Thalut (QS.2:250-252) -- yakni Nabi
Daud a.s. berhasil mengalahkan secara
total kaum Midian dan sekutu-sekutunya
secara total.
Kaum Midian dan sekutu-sekutunya
yang hidup di wilayah pegunungan yang berhasil ditaklukkan oleh Nabi Daud a.s. inilah yang dalam surah Al-Quran lainnya secara kiasan disebut “gunung” atau disebut “jin”
dan “syaitan” – yang arti lainnya:pemberontak dan penentang; pemimpin
kekafiran; orang yang ahli dalam sesuatu (QS.2:15). Kaum-kaum taklukkan Nabi
Daud a.. dan Nabi Sulaiman a.s. inilah yang
atas izin Allah Swt. dimanfaatkan tenaganya dan keahliannya
oleh kedua raja Bani Israil tersebut untuk
berbagai macam pembangunan
di kerajaan Bani Israil, termasuk armada laut (QS.21:79-83; QS.34:111-13;
QS.38:37-41), lihat pula Bible (Samuel
Bab 5; II Tawarikh 2:18; II Tawarikh
4:1-2; II Tawarikh 8:18; I Raja-raja 9:21-22; I
Raja-raja
10:22-29).
Dengan
demikian jelaslah bahwa penggunaan
sebutan jin dan syaitan (setan)
berkenaan dengan lasykar Nabi Daud
a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. sama sekali tidak ada hubungannya dengan makhluk halus yang juga disebut jin dan syaitan (setan).
Demikian juga penggunaan kata “gunung” dan “burung” pun merupakan ungkapan
kiasan yang mengandung makna-makna yang sangat dalam dan beragam.
Penindasan oleh Kaum Midian
Kata-kata “sesudah Musa” dalam ayat: اَلَمۡ تَرَ اِلَی الۡمَلَاِ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ۘ
اِذۡ قَالُوۡا لِنَبِیٍّ لَّہُمُ
ابۡعَثۡ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ -- “Apakah engkau tidak melihat
mengenai para pemuka Bani Israil
sesudah Musa, ketika mereka berkata
kepada seorang nabi mereka: “Angkatlah
bagi kami seorang raja, supaya kami
dapat berperang di jalan Allah” (QS.2:247), menunjukkan bahwa peristiwa itu termasuk masa
permulaan ketika kaum Bani Israil
sebagai bangsa mulai mengambil bentuk
yang pasti dalam sejarah. Sebab 200 tahun sesudah Nabi Musa a.s. mereka
pecah-belah dalam berbagai suku, tidak mempunyai raja
dan tidak pula angkatan perang.
Dalam tahun 1256 sebelum Masehi, disebabkan
oleh kedurhakaan mereka, Allah Swt.
membiarkan Bani Israil kembali jatuh ke tangan kaum Midian yang menjarah
dan menindas mereka selama 7 tahun
dan mereka terpaksa mencari perlindungan di dalam gua-gua (Hakim-hakim 6:1-6). “Maka sesungguhnya tatkala Bani Israil itu berseru kepada Tuhan dari
sebab orang Midian itu, maka disuruhkan Tuhan seorang yang nabi adanya kepada
Bani Israil” (Hakim-hakim
6:7-8)”; “dan
seorang malaikat Tuhan datang kepada Gideon
menunjuknya menjadi raja dan
menjadikannya pertolongan Ilahi” .... “Maka
sembahnya kepadanya: Ya Tuhan dengan apa gerangan dapat hamba melepaskan orang
Israil? Bahwasanya bangsa hamba terkecil dalam suku Manasye, maka hamba ini
anak bungsu di antara orang isi rumah bapak hamba” (Hakim-hakim 6:15).
Hal ini cocok dengan keterangan yang
diberikan dalam ayat yang dibahas ini tentang Thalut (QS.2:247-249). Apa yang menjadikan persamaan Thalut dengan Gideon lebih pasti lagi adalah memang di zaman Gideon -- dan bukan di
zaman Saul -- kaum Bani
Israil mendapat cobaan dengan perantaraan air, dan gambaran yang
diberikan oleh Bible (Hakim-hakim 7:4-7)
tentang cobaan itu memang sama dengan
gambaran Al-Quran (QS.2:250). Dari Hakim-hakim
7: 6-7 kita mengetahui bahwa sesudah cobaan
tersebut di atas, orang-orang yang tinggal bersama-sama dengan Gideon hanya ada 300 orang.
Tanda Kedaulatan Thalut (Gideon)
Sebagai Raja Bani Israil &
Ayat-ayat Mutasyābihāt yang Menggelincirkan Orang-orang “Berhati Bengkok”
Sangat menarik untuk diperhatikan, yaitu
seorang sahabat Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan telah bersabda: “Kami berjumlah 313 orang dalam perang Badar,
dan jumlah itu sesuai dengan jumlah orang yang mengikuti Thalut” (Tirmidzi, bab Siyar).
Hadits itu pun mendukung kesimpulan bahwa Thalut
itu adalah Gideon. Apa yang selanjutnya menguatkan persamaan antara Thalut
dengan Gideon ialah, kata itu berasal
dari akar-kata yang dalam bahasa Ibrani
berarti “menumbangkan” (Encyclopaedia Biblica) atau “menebang” (Jewish Encyclopaedia).
Jadi, Gideon
berarti “orang yang menebas musuh hingga
merobohkannya ke tanah”, dan Bible
sendiri mengatakan mengenai Gideon
sebagai “pahlawan yang perkasa” (Hakim-hakim 6:12). Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai tanda kedaulatan Thalut sebgai raja Bani
Israil:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ
اٰیَۃَ مُلۡکِہٖۤ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ التَّابُوۡتُ فِیۡہِ سَکِیۡنَۃٌ مِّنۡ
رَّبِّکُمۡ وَ بَقِیَّۃٌ مِّمَّا تَرَکَ
اٰلُ مُوۡسٰی وَ اٰلُ ہٰرُوۡنَ تَحۡمِلُہُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ
لَاٰیَۃً لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾٪
Dan nabi
mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya tanda kedaulatannya ialah bahwa akan datang kepada kamu suatu Tabut,
yang di dalamnya mengandung ketenteraman
dari Rabb (Tuhan) kamu dan
pusaka peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dipikul oleh malaikat-malaikat,
sesungguhnya dalam hal ini benar-benar
ada suatu Tanda bagi kamu, jika kamu sungguh orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah
[2]:249).
Ayat
ini termasuk ayat Al-Quran yang mutasyābihāt (QS.3:8) karena itu banyak penafsir yang -- karena kekurangan pengetahuannya -- keliru memaknai ayat-ayat
mutasyābihāt seperti ini, dan
bahkan menurut Allah Swt. orang-orang
yang berhati bengkok sengaja membuat-buat tafsiran yang keliru dan menyesatkan dari ayat-ayat
Al-Quran yang mutasyābihāt guna mencapai maksud-maksud buruk mereka yang bersifat mencari keuntungan duniawi, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ
الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ
الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ
زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ
ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ
اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ
الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا
یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
﴿﴾ رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ
رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran kepada engkau, di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah
pokok-pokok Al-Kitab, sedangkan yang lain ayat-ayat mutasyābihāt. Adapun
orang-orang yang di dalam hatinya
ada kebengkokan maka mereka
mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt
karena ingin menimbulkan fitnah
dan ingin mencari-cari takwilnya
yang salah, padahal tidak ada yang
mengetahui takwilnya kecuali Allah, dan orang-orang yang memiliki pe-ngetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal
dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” Dan
tidak ada yang meraih nasihat kecuali
orang-orang yang mempergunakan akal.
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا
بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا
مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau
menyimpangkan hati kami setelah Engkau
telah memberi kami petunjuk, dan anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah.
(Ali
‘Imran [3]:8-9).
Muhkam berarti: (1)
hal yang telah terjamin aman dari perobahan atau pergantian; (2) hal yang tidak
mengandung arti ganda atau kemungkinan ada keraguan; (3) hal yang jelas artinya
dan pasti dalam keterangan, dan (4) ayat yang merupakan ajaran khusus dari
Al-Quran (Al-Mufradat dan Lexicon Lane).
Umm
berarti: (1) ibu; (2) sumber atau asal atau dasar sesuatu; (3) sesuatu yang
merupakan sarana pembantu dan penunjang, atau sarana islah (reformasi dan
koreksi) untuk orang lain; (4) sesuatu yang di sekitarnya benda-benda lain
dihubungkan (Aqrab-ul-Mawarid
dan Al-Mufradat).
Mutasyābih
dipakai mengenai: (1) ucapan, kalimat atau ayat yang memungkinkan adanya
penafsiran yang berbeda, meskipun selaras; (2) hal yang bagian-bagiannya
mempunyai persamaan atau yang selaras satu sama lain; (3) hal yang makna sebenarnya
mengandung persamaan dengan artian yang tidak dimaksudkan; (4) hal yang arti
sebenarnya diketahui hanya dengan menunjuk kepada apa yang disebut muhkam;
(5) hal yang tidak dapat dipahami dengan segera
tanpa pengamatan yang berulang-ulang; (6) sesuatu ayat yang berisi
ajaran yang sesuai dengan atau menyerupai apa yang dikandung oleh Kitab-kitab wahyu terlebih dahulu (Al-Mufradat).
Ta’wil
berarti: (1) penafsiran atau penjelasan; (2) terkaan mengenai arti suatu pidato
atau tulisan; (3) penyimpangan suatu pidato atau tulisan dari penafsiran yang
benar; (4) penafsiran suatu impian; (5) akhir, hasil atau akibat sesuatu (Lexicon Lane).
Dalam ayat ini
kata ta’wil itu dijumpai dua kali, pada tempat pertama kata itu mengandung arti yang kedua atau yang ketiga,
sedangkan pada tempat kedua kata itu mempunyai arti yang pertama atau yang kelima.
Cara Menafsirkan yang Benar Ayat-ayat Al-Quran
Ayat 8 surah Âli ‘Imran meletakkan peraturan
yang sangat luhur, bahwa untuk membuktikan sesuatu hal yang mengenainya terdapat
perbedaan paham, bagian-bagian sebuah
Kitab Suci yang diterangkan dengan kata-kata yang tegas dan jelas (muhkam) harus diperhatikan. Bila
bagian yang tegas (muhkam) itu terbukti berlawanan
dengan susunan kalimat tertentu yang
mengandung dua maksud (mutasyabih)
maka kalimat itu harus diartikan
sedemikian rupa sehingga menjadi selaras
dengan bagian-bagian yang tegas dan jelas kata-katanya (muhkam).
Menurut ayat
ini, Al-Quran mempunyai dua perangkat ayat. Beberapa di antaranya muhkam
(kokoh dan pasti dalam artinya) dan lain-lainnya mutasyābih (yang dapat
diberi penafsiran berbeda-beda). Cara
yang tepat untuk mengartikan ayat mutasyābih adalah arti yang dapat
diterima hanyalah yang sesuai dengan ayat-ayat muhkam.
Dalam QS.39:24 seluruh Al-Quran disebut mutasyābih
dan dalam QS.11:2 semua ayat Al-Quran dikatakan muhkam. Hal itu tak
boleh dianggap bertentangan dengan
ayat yang sedang dibahas ini (ayat 3:8) bahwa menurut ayat ini beberapa ayat
Al-Quran itu muhkam dan beberapa lainnya mutasyabih.
Sepanjang hal yang menyangkut maksud hakiki ayat-ayat Al-Quran,
seluruh Al-Quran itu muhkam, dalam pengertian bahwa ayat-ayatnya mengandung
kebenaran-kebenaran pasti dan kekal-abadi. Tetapi dalam pengertian
lain seluruh Al-Quran itu mutasyābih, sebab ayat-ayat Al-Quran itu
disusun dengan kata-kata demikian rupa, sehingga pada waktu itu juga ayat itu mempunyai berbagai arti yang sama-sama benar dan baik.
Al-Quran itu mutasyābih pula
(menyerupai satu sama lain) dalam pengertian bahwa tidak ada pertentangan atau ketidakselarasan
di dalamnya, berbagai ayat-ayatnya bantu-membantu. Tetapi ada
bagian-bagiannya yang tentu muhkam, dan yang lain mutasyābih
untuk berbagai pembaca menurut ilmu pengetahuan, keadaan mental, dan kemampuan alami mereka seperti dikemukakan oleh ayat sekarang ini.
Adapun nubuatan-nubuatan yang dikemukakan
dengan bahasa yang jelas dan
langsung menyerap satu arti saja
harus dianggap sebagai muhkam, sedangkan nubuatan-nubuatan yang digambarkan dengan bahasa majaz
(kiasan) dan mampu menyerap tafsiran
lebih dari satu harus dianggap mutasyābih. Karena itu nubuatan-nubuatan yang digambarkan
dengan bahasa majaz (perumpamaan, kiasan) harus ditafsirkan sesuai dengan nubuatan-nubuatan
yang jelas dan secara harfiah menjadi sempurna (genap) dan
pula sesuai dengan asas-asas ajaran Islam yang pokok.
Contoh Nubuatan yang Muhkam dan yang Mutasyābih
Untuk nubuatan-nubuatan yang muhkam
para pembaca diingatkan kepada QS.58:21-22, firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾ کَتَبَ
اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ اَنَا وَ
رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina. کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ -- Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti
akan menang.” اِنَّ
اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Sesungguhnya
Allah Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujadalah [58]:21-22).
Sedang QS.28:86 berisikan nubuatan-nubuatan yang mutasyābih, Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw. berkenaan peristiwa Fatah Mekkah:
اِنَّ الَّذِیۡ
فَرَضَ عَلَیۡکَ الۡقُرۡاٰنَ لَرَآدُّکَ اِلٰی مَعَادٍ ؕ قُلۡ رَّبِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَنۡ جَآءَ بِالۡہُدٰی وَ مَنۡ ہُوَ
فِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
Dia yang telah mewajibkan Al-Quran
atas engkau, لَرَآدُّکَ اِلٰی مَعَادٍ -- pasti Dia akan mengembalikan engkau ke tempat kembali yang telah dite-tapkan. Katakanlah: “Rabb-ku (Tuhan-ku) lebih
mengetahui siapa yang membawa petunjuk, dan siapa yang ada dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Qashash [28]:86).
Ayat yang berisi nubuatan ini dianggap oleh beberapa ulama diturunkan tatkala Nabi Besar Muhammad saw. sedang dalam perjalanan hijrah dari Mekkah ke Medinah. Ayat ini mengandung nubuatan besar, yaitu, bahwa pada suatu hari beliau saw. -- akibat makar
buruk yang dirancang Abu Jahal dan para pemuka Quraisy
lainnya (QS.8:31) -- akan terpaksa meninggalkan Mekkah dan kemudian pada akhirnya beliau saw. akan kembali lagi ke Mekkah sebagai seorang pemenang
dan penakluk agung pada waktu Fatah Mekkah.
Ayat ini merupakan kelanjutan yang cocok sekali bagi Surah yang dengan agak rinci membeberkan kisah
kehidupan Nabi Musa a.s., yang mempunyai kesamaan
dengan kisah Nabi Besar Muhammad
saw. – yakni misal Nabi Musa a.s. (Ulangan
15-19; QS.46:11) -- Nabi Musa a.s. melarikan diri dari Mesir dan tinggal di Midian selama 10 tahun, yang menjadi masa persiapan bagi tugas besar yang menantikan beliau di kemudian hari. Kemudian
beliau kembali lagi ke Mesir dengan amanat Ilahi dan berhasil melepaskan
orang-orang Bani Israil dari belenggu perbudakan Fir’aun.
Seperti itu pula Nabi Besar Muhammad
saw. terpaksa “hijrah” dari Mekkah dan melewatkan 10 tahun dari kehidupan beliau yang
sangat berharga dan penuh berkat itu di Medinah,
yang menjadi masa persiapan untuk tujuan
besar, yaitu menaklukkan Mekkah
yang merupakan pusat dan kubu agama
beliau saw.. Nabi Besar Muhammad
saw. kembali ke Mekkah sebagai
seorang penakluk dan seorang pemenang, dan sepenuhnya berhasil dalam
tugas hidup beliau saw..
Peraturan-peraturan Agama Merupakan
Ayat yang Muhkam (Jelas)
Jadi, istilah muhkam (jelas) dapat pula dikenakan kepada ayat-ayat yang mengandung peraturan-peraturan yang penuh dan lengkap, sedang ayat-ayat mutasyābih itu ayat-ayat yang
memberikan bagian dari perintah tertentu
dan perlu dibacakan bersama-sama
dengan ayat-ayat lain untuk
menjadikan suatu perintah yang lengkap.
Muhkamat (ayat-ayat yang jelas dan pasti)
umumnya membahas hukum dan itikad-itikad agama, sedang mutasyābihāt
umumnya membahas pokok pembahasan
yang menduduki tingkat kedua menurut pentingnya, atau menggambarkan
peristiwa-peristiwa dalam kehidupan nabi-nabi atau sejarah bangsa-bangsa, dan dalam berbuat demikian kadang-kadang
memakai tata-bahasa (idiom) serta peribahasa-peribahasa dan tamsil-tamsil
yang dapat dianggap mempunyai berbagai
arti.
Ayat-ayat demikian hendaknya jangan diartikan demikian rupa sehingga
seolah-olah bertentangan dengan ajaran-ajaran agama yang diterangkan
dengan kata-kata yang jelas (muhkam).
Baiklah dicatat di sini bahwa penggunaan
kiasan-kiasan yang menjadi dasar
pokok ayat-ayat mutasyābih dalam Kitab-kitab
Suci perlu sekali guna menjamin
keluasan arti dengan kata-kata
sesingkat-singkatnya, untuk menambah keindahan
dan keagungan gaya bahasanya dan
untuk memberikan kepada manusia suatu cobaan (ujian) yang tanpa itu perkembangan dan penyempurnaan ruhaninya tidak akan mungkin tercapai.
Atas dasar kenyataan itulah Allah
Swt. menyatakan, bahwa walau pun benar Al-Quran merupakan kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) dan merupakan petunjuk bagi
seluruh umat manusia (QS.2:186),
tetapi Al-Quran pun mempunyai kemampuan “memisahkan”
orang-orang yang berhati lurus dan
orang-orang yang hatinya bengkok dan berpenyakit (QS.3:8-9), firman-Nya:
وَ نُنَزِّلُ
مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ
لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا
خَسَارًا ﴿﴾
Dan Kami berangsur-angsur menurunkan dari Al-Quran suatu
penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, tetapi tidak menambah kepada orang-orang
yang zalim melainkan kerugian. (Bani
Israil [17]:83).
Firman-Nya
lagi:
قُلۡ کُلٌّ
یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَنۡ
ہُوَ اَہۡدٰی سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Katakanlah:
“Setiap orang beramal menurut caranya sendiri dan
Rabb
(Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang
lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).
Al-Quran Merupakan Al-Furqān (Pembeda) yang Haq (Benar) dan yang Bathil (Palsu) & “Orang-orang
yang Disucikan” Allah Swt.
Kata-kata ‘alā syākilati-hi berarti: sesuai dengan niat,
cara berpikir, tujuan-tujuan, dan maksud-maksud sendiri, فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَنۡ
ہُوَ اَہۡدٰی سَبِیۡلًا -- “dan Rabb
(Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang lebih
terpimpin pada jalan-Nya,” sebab memang Al-Quran
– sebagai Kitab suci yang terakhir dan tersempurna pun (QS.5:4)
sebagai “furqan” (pemisah)
yang haq (benar) dan yang bathil (palsu/dusta – QS.186), sebagaimana firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ
الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ
الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ
زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ
ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ
اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ
الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا
یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
﴿﴾ رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ
رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran kepada engkau, di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah
pokok-pokok Al-Kitab, sedangkan yang lain ayat-ayat mutasyābihāt. Adapun
orang-orang yang di dalam hatinya
ada kebengkokan maka mereka
mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt
karena ingin menimbulkan fitnah
dan ingin mencari-cari takwilnya
yang salah, padahal tidak ada yang
mengetahui takwilnya kecuali Allah, dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal
dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” Dan
tidak ada yang meraih nasihat kecuali
orang-orang yang mempergunakan akal.
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا
بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا
مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau
menyimpangkan hati kami setelah Engkau
telah memberi kami petunjuk, dan anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah.
(Ali
‘Imran [3]:8-9).
Makna ayat:
وَ
مَا یَعۡلَمُ
تَاۡوِیۡلَہٗۤ اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ
یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ
عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ
اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ -- “padahal
tidak ada yang mengetahui takwilnya
kecuali Allah, dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal
dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” Dan
tidak ada yang meraih nasihat kecuali
orang-orang yang mempergunakan akal”
bahwa makrifat Al-Quran yang hakiki hanya dianugerahkan kepada mereka
yang berhati suci atau yang “disucikan
Allah Swt.” (QS.56:80).
“Perang Fatwa” di Akhir
Zaman Ini Mengancam Kerukunan Hidup Umat Beragama
Jadi betapa berbahayanya “berfatwa”
masalah agama jika tidak didukung
oleh pemahaman keagamaan yang benar -- sebagaimana yang difahami oleh Nabi Besar
Muhammad saw. dan “orang-orang yang
disucikan” Allah Swt. (QS.56:76-80) --
karena “fatwa-fatwa” seperti itu
bukannya akan menyelesaikan
masalah melainkan justru akan mengakibatkan timbulnya berbagai masalah besar lainnya yang menjurus
kepada perpecahan umat yang semakin parah dan berlanjut dengan
“perang fatwa” sebagaimana
yang terjadi
di Akhir Zaman ini.
Dari sekian banyak macam “fatwa” yang menimbulkan masalah diantaranya
adalah “fatwa takfir” (pengkafiran)
terhadap pihak-pihak lainnya padahal mereka menganut agama yang sama, yang akan berlanjut dengan tindakan
menghalalkan segala cara atas nama agama.
Salah satu contoh “fatwa
keliru” – yang didasari ketunaan ilmu -- seperti itu adalah protes yang dikemukakan para pemuka Bani Israil ketika mendengar nabi mereka menyatakan bahwa Allah Swt. telah memilih “Thalut” sebagai raja
mereka, firman-Nya:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ
مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ
الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً
مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی
الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan nabi mereka berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya Allah telah mengangkat
Thalut menjadi raja bagi kamu.” قَالُوۡۤا اَنّٰی
یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ
یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ -- Mereka berkata: “Bagaimana ia bisa memiliki kedaulatan atas
kami, padahal kami lebih berhak
memiliki kedaulatan daripadanya,
karena ia tidak pernah diberi harta yang
berlimpah-ruah?” قَالَ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی
الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ -- Ia (nabi) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya sebagai raja
atas kamu dan melebihkannya dengan
keluasan ilmu dan kekuatan badan.”
وَ
اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Dan Allah
memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa
yang Dia kehendaki, dan Allah Maha
Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.
(Al-Baqarah
[2]:248).
Jadi, menurut pendapat para pemuka Bani Israil syarat yang paling penting bagi seseorang untuk dijadikan raja
mereka adalah “memiliki harta kekayaan yang berlimpah-ruah”, firman-Nya: َالُوۡۤا اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ
نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ -- Mereka berkata: “Bagaimana ia bisa memiliki kedaulatan atas
kami, padahal kami lebih berhak
memiliki kedaulatan daripadanya,
karena ia tidak pernah diberi harta yang
berlimpah-ruah?”
Tetapi pendapat
atau “fatwa” para pemuka Bani Israil tersebut bertentangan dengan kebijaksanaan Allah Swt.: قَالَ اِنَّ اللّٰہَ
اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ -- Ia (nabi) berkata:
“Sesungguhnya Allah telah memilihnya
sebagai raja atas kamu dan melebihkannya
dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.” وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Dan Allah
memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa
yang Dia kehendaki, dan Allah Maha
Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.”
(Al-Baqarah
[2]:248).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 22 Desember
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar