Rabu, 14 Desember 2016

Pengaruh "Bai'at" Kepada Rasul Allah Bagi Kemajuan Akhlak dan Ruhani Pelakunya & Makna Ruhani "Kebersamaan" Dengan Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad Saw.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  83

PENGARUH   BAI’AT KEPADA RASUL ALLAH BAGI KEMAJUAN AKHLAK DAN RUHANI  PELAKUNYA & MAKNA RUHANI “KEBERSAMAAN” DENGAN ALLAH SWT. DAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW.     

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 82  topik Hakikat “Keberadaan” Allah Swt. di Kalangan “Orang-orang Miskin  sehubungan dengan  adanya “persamaan” atau “kebersamaan  Allah Swt. dengan hamba-hamba-Nya yang hakiki sebagaimana   dikemukakan dalam firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ  نَّکَثَ فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ اللّٰہَ  فَسَیُؤۡتِیۡہِ  اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada  Allah. یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِم  -- Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya maka ia melanggar janji atas  dirinya sendiri, dan barangsiapa memenuhi apa yang telah  dia  janjikan kepada Allah maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:11).
    Isyarat  ayat: اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ   -- “Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada  Allah. Tangan Allah ada di atas tangan mereka,”  hal itu ditujukan kepada sumpah setia (baiat) orang-orang beriman di tangan  Nabi Besar Muhammad saw. di bawah sebatang pohon di Hudaibiyah (Bukhari), karena mendengar berita bahwa Ustman bin ‘Affan r.a. sebagai  utusan dari  Nabi Besar Muhammad saw. telah dibunuh oleh orang-orang kafir Quraisy.  Firman-Nya lagi:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی  --  dan bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا --  dan supaya Dia  menganugerahi  orang-orang yang beriman  anugerah yang baik dari-Nya,  اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ --   sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).

Pengaruh Baiat yang Hakiki Bagi Kemajuan Akhlak dan Ruhani

        Kedua firman Allah Swt. mengenai “kebersamaan” Allah Swt. dalam tindakan dengan manusia  -- khususnya dengan Nabi Besar Muhammad saw. -- dan “kebersamaan” secara ruhani seperti itu terbuka bagi semua pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang AllAh memberi nikmat kepada mereka مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ --  yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا  -- dan mereka  itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا  -- Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allāh Yang Maha Menge-tahui. (An-Nisa [4]:70-71).
      Firman Allah Swt. dalam ayat  70   sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi,  shidiq-shiddiq,   syuhada (saksi-saksi) dan  orang-orang  shalih     dengan diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. dan dengan diwahyukan-Nya Al-Quran sebagai Kitab suci terakhir tersempurna (QS.5:4) kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70-71).
       Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw.  semata. Tidak ada nabi Allah  lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini, sebab kenabian yang terjadi sebelum Nabi Besar Muhammad saw. adalah kenabian mustaqil (berdiri sendiri) dan semata-mata karunia Allah Swt., contohnya diangkat-Nya Nabi Harun a.s. sebagai pendamping Nabi Musa a.s., bukan karena akibat ketaatan Nabi Harun a.s. kepada Nabi Musa a.s. atau  akibat melaksanakan hukum Taurat, sebab ketika itu  Taurat belum diwahyukan kepada Nabi Musa a.s. (QS.20:25-36;   QS.28:30-36).

Nubuatan kedatangan Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s di Kalangan Umat Islam

       Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi  Allah secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada AllAh dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka” (QS.57: 20).
       Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih  --   tidak lebih tinggi dari itu  --  maka pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi juga”: مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ --  yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih.”
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
        Inilah alasan mengapa dalam  nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.543:58) di Akhir Zaman  yang akan  dibangkitkan dari kalangan umat Islam (fīkum) beliau berpangkat nabi Allah:
Kayfa antum idzā nazala- bnu maryama fīkum wa imāmukum minkum.
Bagaimana sikap kalian apabila turun Ibnu Maryam di kalangan kalian dan sebagai imam kalian  dari kalangan kalian.” (Bukhari),
      Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
"Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnya" (Az-Zukhruf [43]:58).
   Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid).   Kedatangan Al-Masih  Ibnu Maryam a..s.. yang dilahirkan tanpa ayah seorang laki-laki merupakan  as-Sā’ah (tanda Kiamat)  bagi Bani Israil, bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya (QS.43:62) karena kemudian dipindahkan Allah Swt.  kepada Bani Isma’il (Ulangan 18:15-20).
       Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw.  — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama Nabi Isa ibnu Maryam a.s.  akan dibangkitkan di antara mereka (minkum) untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang (QS.61:10).
      Tetapi mereka bukannya     bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes serta melakukan berbagai bentuk makar penentangan, sebagaimana sebelumnya pernah dilakukan oleh para pemuka agama Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.61:7).  Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada nubuatan kedatangan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.    untuk kedua kalinya di Akhir Zaman ini yang telah disalah-tafsirkan akan turun dari langit ke bumi.

Makna “Keberadaan” Allah Swt. Di Kalangan “Faqir-Miskin

        Kembali kepada masalah makna “keberadaan” atau “kebersamaan   antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt. dalam Surah Al-Anfāl  ayat 18 dan surah Al-Fath  ayat 11  tersebut,   dalam sebuah hadits qudsi    Nabi Besar Muhammad saw. pun mengumpamaan “keberadaan” Allah Swt.    di kalangan “orang-orang miskin”:
     Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw. sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak di Hari Kiamat akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjenguk-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhan-ku, bagaimana kami menjenguk Engkau sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam”, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hamba-Ku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan mendapati-Ku didekatnya
      Wahai anak cucu adam,   Aku minta makanan kepada kamu, namun kamu tidak memberi-Ku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada Engkau sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Tidakkah engkau tahu,  sesungguhnya hamba-Ku fulan meminta makanan, dan kemudian kamu tidak memberinya makanan? Tidakkah  kamu  tahu, seandainya kamu memberinya makanan, benar-benar akan kamu  dapati perbuatan itu di sisi-Ku.
       Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepada kamu, namun  kamu tidak memberi-Ku minum”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada Engkau sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Seorang hamba-Ku yang bernama fulan meminta minum kepada kamu, namun tidak kamu beri minum, tidakkah kamu tahu, seandainya kamu memberi minum kepadanya, benar-benar kamu akan dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku  (Hadits diriwayatkan oleh Muslim).
       Penjelasan Hadits Qudsi  tersebut sama dengan  penjelasan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil  bab “Penghakiman terakhir”:
25:31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta  kemuliaan-Nya. 25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan  mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,   25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan   yang telah disediakan bagimu sejak dunia   dijadikan. 25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;  25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian;  ketika Aku sakit, kamu melawat Aku;   ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.   25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku,   hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.    25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 25:44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal. (Matius 25:31-46).

Tidak Berbuat Baik Kepada Siapa pun Melainkan Bagi Manfaat Dirinya

        Jadi,  sehubungan dengan pentingnya pelaksanaan huququl ‘ibād (hal-hal  para hamba Allah)  berupa pengorbanan harta di jalan Allah Swt.,  dalam kedua keterangan tersebut Allah Swt. menggambarkan dalam bentuk perumpamaan mengenai “keberadaan-Nya  di kalangan  orang-orang yang berkekurangan dalam segi ekonomi  yaitu anak-anak yatim dan orang-orang miskin, sesuai firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾   مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak   menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku. مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ  --   Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka  dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ  -- Sesungguhnya  Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki  Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt [51]:57-59).
 Dengan demikian jika sang musafir (kelana)  ruhani  (salik) menempuh perjalanan  ruhani (suluk) menuju tujuan hidupnya yang mulia itu  -- yakni beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57) --dengan sabar dan tawakkal, ia  sama sekali tidak berbuat ihsan (baik)  kepada Allah Swt. atau kepada siapa pun melainkan dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan mencapai tujuan perjuangannya  (jihadnya) yang hakiki tersebut: مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ  --   Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka  dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ  -- Sesungguhnya  Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki  Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt [51]:57-59).

Nazar Merupakan “Perjanjian” Dengan Allah Swt. &  Dua Cara Pemberian Sedekah

       Kembali  kepada firman Allah Swt. mengenai  tujuan perintah pembelanjaan harta di jalan Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah ayat 262-269, selanjutnya  Allah Swt. berfirman:
یُّؤۡتِی الۡحِکۡمَۃَ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَنۡ یُّؤۡتَ الۡحِکۡمَۃَ فَقَدۡ اُوۡتِیَ خَیۡرًا کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ  اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾
Dia memberi hikmah  kepada siapa yang Dia kehendaki dan barangsiapa diberi hikmah maka sungguh ia telah diberi berlimpah-limpah kebaikan, dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal  (Al-Baqarah [2]:270).  
         Kemudian Dia berfirman:  وَ مَاۤ اَنۡفَقۡتُمۡ مِّنۡ نَّفَقَۃٍ اَوۡ نَذَرۡتُمۡ مِّنۡ نَّذۡرٍ فَاِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُہٗ ؕ     -- “Dan belanja apa pun yang kamu belanjakan atau nadzar apa pun yang kamu nazarkan di jalan Allah  maka sesungguhnya Allah mengetahuinya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ  اَنۡصَارٍ    -- dan bagi orang-orang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun ” (Al-Baqarah [2]:271). 
        Nadzar  merupakan  perjanjian” seseorang dengan Allah Swt. berkenaan suatu maksud yang apabila dikabulkan Allah Swt. ia  akan melakukan   suatu bentuk pengorbanan  jalan-Nya, baik berupa pengorbanan harta atau pun lainnya, contohnya nadzar ibu Maryam binti ‘Imran  ketika mengandung  Maryam binti ‘Imran  untuk  menyerahkan bayi yang dikandungnya apabila  lahir akan sepenuhnya  dijadikan sebagai pengkhidmat agama (QS.3:36-38).
         Kemudian Allah Swt. berfirman: اِنۡ تُبۡدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا ہِیَ ۚ وَ اِنۡ تُخۡفُوۡہَا وَ تُؤۡتُوۡہَا الۡفُقَرَآءَ فَہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ؕ وَ یُکَفِّرُ عَنۡکُمۡ مِّنۡ سَیِّاٰتِکُمۡ ؕ --   -- “Jika kamu memberikan sedekah-sedekah secara  terang-terangan maka hal itu baik, tetapi jika kamu menyembunyikannya dan kamu memberikannya kepada orang-orang fakir maka hal itu lebih baik  bagi kamu, dan  Dia akan menghapuskan darimu  beberapa kesalahanmu, وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ   --   dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah [2]:272). 
      Dengan sangat bijaksana Islam menganjurkan kedua bentuk pemberian sedekah, baik secara terang-terangan maupun secara diam-diam (dirahasiakan). Dengan memberi sedekah secara terang-terangan, orang memperlihatkan contoh baik kepada orang-orang lain yang mungkin akan menirunya.
     Pemberian sedekah secara diam-diam itu dalam beberapa keadaan adalah  lebih baik, karena dengan demikian seseorang mencegah diri dari membeberkan kemiskinan saudara-saudaranya yang tidak begitu beruntung, dan pula dalam memberikan secara rahasia itu sedikit sekali peluang untuk berbangga atau atau pamer (riya).

Orang-orang Berhak Dikhidmati    & Mencari Keridhaan Allah Swt.

      Selanjutnya Allah Swt. merinci  mengenai orang-orang yang berhak mendapat  sedekah serta manfaatnya bagi para pelakunya, Dia berfirman  kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
لَیۡسَ عَلَیۡکَ ہُدٰىہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ فَلِاَنۡفُسِکُمۡ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡنَ اِلَّا ابۡتِغَآءَ وَجۡہِ اللّٰہِ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ یُّوَفَّ اِلَیۡکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ لَا تُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ لِلۡفُقَرَآءِ الَّذِیۡنَ اُحۡصِرُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ ضَرۡبًا فِی الۡاَرۡضِ ۫ یَحۡسَبُہُمُ الۡجَاہِلُ اَغۡنِیَآءَ مِنَ التَّعَفُّفِ ۚ تَعۡرِفُہُمۡ بِسِیۡمٰہُمۡ ۚ لَا یَسۡـَٔلُوۡنَ النَّاسَ اِلۡحَافًا ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ فَاِنَّ اللّٰہَ بِہٖ عَلِیۡمٌ ﴿﴾٪ اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ بِالَّیۡلِ وَ النَّہَارِ سِرًّا وَّ عَلَانِیَۃً فَلَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ؔ
Sekali-kali bukanlah tanggungjawab engkau memberi petunjuk kepada mereka tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.   Dan harta  apa pun yang kamu belanjakan maka manfaatnya adalah untuk diri kamu,  dan tidaklah kamu membelanjakannya melainkan untuk mencari keridhaan AllahDan harta apa pun yang kamu  belanjakan niscaya akan dikembalikan kepada kamu dengan penuh dan kamu tidak akan dizalimi Infak tersebut bagi orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi.    Orang yang tidak berpengetahuan menganggap mereka itu kaya, karena  mereka menghindarkan diri dari meminta-minta Engkau dapat mengenali mereka dari wajahnya,  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak  Dan harta  apa pun yang kamu belanjakan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.  Orang-orang yang membelanjakan harta mereka pada malam dan siang dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya), dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah [2]:273-275).  

Makna Faqir dan Mahrum  (Yang Tidak Meminta)

  Faqara dalam ayat: Infak tersebut bagi orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi”, kata faqara  berarti: ia membuat lubang ke dalam mutiara; faqura berarti:  ia menjadi miskin dan kekurangan; dan faqira berarti:  ia mengidap penyakit tulang punggung.
       Jadi faqr berarti kemiskinan; kekurangan atau keperluan yang sangat memberatkan kehidupan si miskin; kesusahan atau kecemasan atau kegelisahan pikir (Lexicon Lane). Dengan demikian keadaan orang  faqir lebih berat (susah) daripada orang miskin, sebab  keadaan orang  miskin  hanya perlu dibantu dari segi ekonomi saja karena secara  jiwa dan fisik keadaannya  normal, sedangkan orang faqir  adalah orang-orang miskin yang didak mampu berusaha karena menderita kelemahan dari segi fisik  atau menderita cacat fisik.
       Makna ayat selanjutnya mengenai: orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi”: “orang yang tidak berpengetahuan menganggap mereka itu kaya, karena  mereka menghindarkan diri dari meminta-minta.   Engkau dapat mengenali mereka dari wajahnya,  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak (Al-Baqarah [2]:274).
        Orang-orang miskin mau pun faqir  yang dikemukakan ayat tersebut termasuk golongan “mahrum  --  yang umumnya dikenakan kepada binatang peliharaan  yang tidak bisa berbicara   --  Allah Swt. berfirman:
وَ فِیۡۤ  اَمۡوَالِہِمۡ حَقٌّ  لِّلسَّآئِلِ وَ الۡمَحۡرُوۡمِ ﴿﴾
Dan dalam harta benda mereka ada  hak bagi mereka yang meminta وَ الۡمَحۡرُوۡمِ  -- dan bagi mereka yang tidak meminta.   (Adz-Dzāriyāt [51]:20).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,   11 Desember  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar