Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 83
PENGARUH BAI’AT
KEPADA RASUL ALLAH BAGI KEMAJUAN AKHLAK DAN RUHANI PELAKUNYA & MAKNA
RUHANI “KEBERSAMAAN” DENGAN ALLAH SWT. DAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 82 topik Hakikat “Keberadaan” Allah Swt. di Kalangan “Orang-orang Miskin” sehubungan dengan adanya “persamaan” atau “kebersamaan” Allah Swt.
dengan hamba-hamba-Nya yang hakiki sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ
اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ
اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ نَّکَثَ
فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ
اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ اللّٰہَ
فَسَیُؤۡتِیۡہِ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
﴿٪﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang baiat kepada engkau
sebenarnya mereka baiat
kepada Allah. یَدُ اللّٰہِ
فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِم -- Tangan
Allah ada di atas tangan mereka,
maka barangsiapa melanggar janjinya
maka ia melanggar janji
atas dirinya sendiri, dan barangsiapa
memenuhi apa yang telah dia janjikan kepada Allah maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang
besar. (Al-Fath [48]:11).
Isyarat
ayat: اِنَّ الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ
اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ -- “Sesungguhnya
orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat
kepada Allah. Tangan Allah ada di atas
tangan mereka,” hal itu ditujukan
kepada sumpah setia (baiat) orang-orang beriman di tangan Nabi
Besar Muhammad saw. di bawah sebatang pohon di Hudaibiyah (Bukhari),
karena mendengar berita bahwa Ustman bin
‘Affan r.a. sebagai utusan dari Nabi Besar Muhammad saw. telah dibunuh oleh
orang-orang kafir Quraisy. Firman-Nya
lagi:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ
رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ
اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan
kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ
رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی -- dan
bukan engkau yang melemparkan pasir
ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ بَلَآءً
حَسَنًا -- dan supaya Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).
Pengaruh Baiat yang Hakiki Bagi Kemajuan
Akhlak dan Ruhani
Kedua firman Allah Swt. mengenai “kebersamaan” Allah Swt. dalam tindakan dengan manusia -- khususnya dengan Nabi Besar Muhammad
saw. -- dan “kebersamaan” secara ruhani seperti itu terbuka bagi semua pengikut
hakiki Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang AllAh memberi nikmat kepada
mereka مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka itulah sahabat
yang sejati. ذٰلِکَ
الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allāh Yang Maha Menge-tahui. (An-Nisa
[4]:70-71).
Firman Allah Swt. dalam ayat
70 sangat
penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan
ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin.
Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi,
shidiq-shiddiq,
syuhada (saksi-saksi) dan orang-orang
shalih — dengan diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. dan dengan diwahyukan-Nya Al-Quran sebagai Kitab suci terakhir
tersempurna (QS.5:4) kini semuanya dapat
dicapai hanya dengan jalan mengikuti
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32;
QS.4:70-71).
Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar
Muhammad saw. semata. Tidak
ada nabi Allah lain menyamai beliau saw. dalam perolehan
nikmat ini, sebab kenabian yang
terjadi sebelum Nabi Besar Muhammad saw. adalah kenabian mustaqil (berdiri sendiri) dan semata-mata karunia Allah Swt., contohnya diangkat-Nya Nabi Harun a.s. sebagai pendamping Nabi Musa a.s., bukan karena
akibat ketaatan Nabi Harun a.s.
kepada Nabi Musa a.s. atau akibat melaksanakan hukum Taurat, sebab ketika itu
Taurat belum diwahyukan kepada
Nabi Musa a.s. (QS.20:25-36;
QS.28:30-36).
Nubuatan kedatangan Misal Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s di Kalangan Umat
Islam
Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh
ayat yang membicarakan nabi-nabi Allah secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada AllAh
dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi
Tuhan mereka” (QS.57: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti
bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah
lainnya dapat mencapai martabat shiddiq,
syahid, dan shalih -- tidak lebih
tinggi dari itu -- maka pengikut
hakiki Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi juga”: مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih.”
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang
mengatakan: “Tuhan telah membagi
orang-orang beriman dalam empat golongan
dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di
antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang
beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan
membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua
macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat,
sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat
dicapai.”
Inilah alasan mengapa dalam nubuatan
Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.543:58) di Akhir Zaman yang akan dibangkitkan dari kalangan umat Islam (fīkum) beliau berpangkat nabi Allah:
Kayfa antum idzā nazala- bnu
maryama fīkum wa imāmukum minkum.
“Bagaimana sikap kalian apabila turun Ibnu Maryam di kalangan kalian dan sebagai imam kalian dari kalangan kalian.” (Bukhari),
Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt.
berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ لَمَّا
ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾
"Dan
apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai
misal tiba-tiba kaum engkau
meneriakkan penentangan terhadapnya" (Az-Zukhruf [43]:58).
Shadda (yashuddu) berarti: ia
menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia
mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-al-Mawarid). Kedatangan Al-Masih Ibnu Maryam a..s.. yang dilahirkan tanpa ayah seorang laki-laki merupakan as-Sā’ah
(tanda Kiamat) bagi Bani Israil, bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan
serta akan kehilangan kenabian untuk
selama-lamanya (QS.43:62) karena kemudian dipindahkan
Allah Swt. kepada Bani Isma’il (Ulangan 18:15-20).
Karena matsal berarti sesuatu yang
semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping
arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw. — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa
orang lain seperti dan merupakan sesama Nabi Isa ibnu Maryam a.s. akan dibangkitkan di antara mereka (minkum)
untuk memperbaharui mereka dan
mengembalikan kejayaan ruhani mereka
yang telah hilang (QS.61:10).
Tetapi mereka bukannya bergembira
atas kabar gembira itu malah mereka berteriak mengajukan protes serta melakukan berbagai bentuk makar penentangan, sebagaimana sebelumnya pernah dilakukan oleh
para pemuka agama Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.61:7). Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan
kepada nubuatan kedatangan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. untuk
kedua kalinya di Akhir Zaman ini yang
telah disalah-tafsirkan akan turun
dari langit ke bumi.
Makna “Keberadaan” Allah Swt. Di Kalangan “Faqir-Miskin”
Kembali
kepada masalah makna “keberadaan”
atau “kebersamaan” antara Nabi
Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt.
dalam Surah Al-Anfāl ayat 18 dan surah Al-Fath ayat 11 tersebut,
dalam sebuah hadits qudsi Nabi Besar
Muhammad saw. pun mengumpamaan “keberadaan”
Allah Swt. di kalangan “orang-orang
miskin”:
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw. sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla kelak di Hari Kiamat
akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam,
aku sakit dan kamu tidak menjenguk-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhan-ku, bagaimana kami menjenguk Engkau sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam”,
Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu,
sesungguhnya hamba-Ku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya?
Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan
mendapati-Ku didekatnya.
Wahai anak cucu adam, Aku minta makanan kepada kamu, namun kamu
tidak memberi-Ku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada Engkau sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?”
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Tidakkah
engkau tahu, sesungguhnya hamba-Ku fulan meminta makanan, dan kemudian
kamu tidak memberinya makanan? Tidakkah
kamu tahu, seandainya kamu memberinya
makanan, benar-benar akan kamu dapati
perbuatan itu di sisi-Ku.
Wahai anak cucu adam, Aku meminta
minum kepada kamu, namun kamu tidak
memberi-Ku minum”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami
memberi minum kepada Engkau sedangkan Engkau
adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Seorang hamba-Ku yang bernama fulan meminta
minum kepada kamu, namun tidak kamu beri minum, tidakkah kamu tahu, seandainya
kamu memberi minum kepadanya, benar-benar kamu akan dapati (pahala) amal itu di
sisi-Ku” (Hadits
diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan Hadits Qudsi tersebut sama
dengan penjelasan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. dalam Injil bab “Penghakiman terakhir”:
25:31 "Apabila Anak Manusia
datang dalam kemuliaan-Nya
dan semua malaikat bersama-sama dengan
Dia, maka Ia akan bersemayam di atas
takhta kemuliaan-Nya.
25:32 Lalu semua bangsa akan
dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia
akan memisahkan mereka
seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
25:33 dan Ia akan menempatkan
domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing
di sebelah kiri-Nya. 25:34 Dan Raja itu akan berkata
kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya:
Mari, hai kamu yang diberkati oleh
Bapa-Ku, terimalah Kerajaan
yang telah
disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu
memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu
memberi Aku minum; ketika Aku
seorang asing, kamu memberi Aku
tumpangan; 25:36 ketika Aku telanjang, kamu
memberi Aku pakaian; ketika
Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku
di dalam penjara, kamu mengunjungi
Aku. 25:37 Maka orang-orang benar itu
akan menjawab Dia, katanya: Tuhan,
bilamanakah kami melihat Engkau lapar
dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 25:38 Bilamanakah kami melihat
Engkau sebagai orang asing, dan kami
memberi Engkau tumpangan, atau telanjang
dan kami memberi Engkau pakaian?
25:39 Bilamanakah kami melihat
Engkau sakit atau dalam penjara
dan kami mengunjungi Engkau? 25:40 Dan Raja itu akan menjawab
mereka: Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang kamu
lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 25:41 Dan Ia akan berkata juga
kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu
orang-orang terkutuk, enyahlah ke
dalam api yang kekal
yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu
tidak memberi Aku makan; ketika Aku
haus, kamu tidak memberi Aku minum; 25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan;
ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi
Aku pakaian; ketika Aku sakit dan
dalam penjara, kamu tidak melawat
Aku. 25:44 Lalu merekapun akan menjawab
Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar,
atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang
atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya segala
sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina
ini, kamu tidak melakukannya juga untuk
Aku. 25:46 Dan mereka ini akan masuk ke
tempat siksaan yang kekal, tetapi orang
benar ke dalam hidup yang kekal. (Matius 25:31-46).
Tidak Berbuat Baik Kepada Siapa
pun Melainkan Bagi Manfaat Dirinya
Jadi,
sehubungan dengan pentingnya pelaksanaan huququl ‘ibād (hal-hal para
hamba Allah) berupa pengorbanan harta di jalan
Allah Swt., dalam kedua keterangan
tersebut Allah Swt. menggambarkan
dalam bentuk perumpamaan mengenai “keberadaan-Nya” di kalangan orang-orang yang berkekurangan dalam segi ekonomi yaitu anak-anak
yatim dan orang-orang miskin,
sesuai firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ مَاۤ
اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. مَاۤ
اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ -- Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan tidak
pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ -- Sesungguhnya Allah
Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt
[51]:57-59).
Dengan demikian jika sang
musafir (kelana) ruhani
(salik) menempuh perjalanan ruhani (suluk) menuju
tujuan hidupnya yang mulia itu -- yakni beribadah
kepada Allah Swt. (QS.51:57) --dengan sabar
dan tawakkal, ia sama sekali tidak berbuat ihsan (baik) kepada Allah
Swt. atau kepada siapa pun
melainkan dirinya sendirilah yang
memperoleh manfaatnya dan mencapai tujuan perjuangannya (jihadnya) yang hakiki tersebut: مَاۤ اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ
رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ
یُّطۡعِمُوۡنِ -- Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan tidak
pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ -- Sesungguhnya Allah
Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt
[51]:57-59).
Nazar Merupakan “Perjanjian” Dengan Allah Swt. & Dua Cara Pemberian Sedekah
Kembali
kepada firman Allah Swt. mengenai
tujuan perintah pembelanjaan harta di jalan Allah Swt.
dalam surah Al-Baqarah ayat 262-269,
selanjutnya Allah Swt. berfirman:
یُّؤۡتِی
الۡحِکۡمَۃَ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَنۡ یُّؤۡتَ الۡحِکۡمَۃَ فَقَدۡ اُوۡتِیَ خَیۡرًا کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾
Dia memberi hikmah kepada siapa
yang Dia kehendaki dan barangsiapa
diberi hikmah maka sungguh ia telah
diberi berlimpah-limpah kebaikan, dan tidak
ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal (Al-Baqarah [2]:270).
Kemudian
Dia berfirman: وَ مَاۤ اَنۡفَقۡتُمۡ
مِّنۡ
نَّفَقَۃٍ اَوۡ نَذَرۡتُمۡ
مِّنۡ نَّذۡرٍ فَاِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُہٗ ؕ
-- “Dan belanja apa pun yang kamu belanjakan
atau nadzar apa pun yang kamu nazarkan
di jalan Allah maka sesungguhnya Allah mengetahuinya, وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ
مِنۡ اَنۡصَارٍ -- dan bagi
orang-orang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun ” (Al-Baqarah
[2]:271).
Nadzar
merupakan “perjanjian”
seseorang dengan Allah Swt. berkenaan suatu maksud
yang apabila dikabulkan Allah Swt.
ia akan melakukan suatu bentuk pengorbanan jalan-Nya, baik berupa pengorbanan harta atau pun lainnya, contohnya nadzar ibu Maryam binti
‘Imran ketika mengandung Maryam
binti ‘Imran untuk menyerahkan bayi yang dikandungnya apabila
lahir akan sepenuhnya dijadikan sebagai pengkhidmat agama (QS.3:36-38).
Kemudian Allah Swt. berfirman: اِنۡ
تُبۡدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا ہِیَ ۚ وَ اِنۡ
تُخۡفُوۡہَا وَ تُؤۡتُوۡہَا
الۡفُقَرَآءَ فَہُوَ خَیۡرٌ
لَّکُمۡ ؕ وَ یُکَفِّرُ عَنۡکُمۡ
مِّنۡ سَیِّاٰتِکُمۡ ؕ -- -- “Jika kamu memberikan sedekah-sedekah secara terang-terangan maka hal itu baik, tetapi jika
kamu menyembunyikannya dan kamu
memberikannya kepada orang-orang fakir maka hal itu lebih baik bagi kamu, dan Dia
akan menghapuskan darimu beberapa
kesalahanmu, وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ -- dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (Al-Baqarah [2]:272).
Dengan sangat bijaksana Islam menganjurkan kedua
bentuk pemberian sedekah, baik secara terang-terangan
maupun secara diam-diam
(dirahasiakan). Dengan memberi sedekah
secara terang-terangan, orang
memperlihatkan contoh baik kepada
orang-orang lain yang mungkin akan menirunya.
Pemberian sedekah secara diam-diam
itu dalam beberapa keadaan adalah lebih baik, karena dengan demikian
seseorang mencegah diri dari membeberkan kemiskinan saudara-saudaranya
yang tidak begitu beruntung, dan pula dalam memberikan
secara rahasia itu sedikit sekali peluang untuk berbangga atau atau pamer
(riya).
Orang-orang Berhak Dikhidmati & Mencari Keridhaan Allah Swt.
Selanjutnya Allah Swt.
merinci mengenai orang-orang yang berhak mendapat sedekah
serta manfaatnya bagi para pelakunya,
Dia berfirman kepada Nabi Besar Muhammad
saw.:
لَیۡسَ
عَلَیۡکَ ہُدٰىہُمۡ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ یَہۡدِیۡ
مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ فَلِاَنۡفُسِکُمۡ ؕ وَ
مَا تُنۡفِقُوۡنَ اِلَّا ابۡتِغَآءَ وَجۡہِ اللّٰہِ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ
یُّوَفَّ اِلَیۡکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ لَا تُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ لِلۡفُقَرَآءِ الَّذِیۡنَ
اُحۡصِرُوۡا
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ ضَرۡبًا فِی الۡاَرۡضِ ۫ یَحۡسَبُہُمُ الۡجَاہِلُ اَغۡنِیَآءَ
مِنَ التَّعَفُّفِ ۚ تَعۡرِفُہُمۡ بِسِیۡمٰہُمۡ ۚ لَا یَسۡـَٔلُوۡنَ النَّاسَ اِلۡحَافًا ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ
فَاِنَّ اللّٰہَ بِہٖ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾٪ اَلَّذِیۡنَ
یُنۡفِقُوۡنَ
اَمۡوَالَہُمۡ بِالَّیۡلِ
وَ النَّہَارِ سِرًّا وَّ عَلَانِیَۃً فَلَہُمۡ
اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ؔ
Sekali-kali bukanlah tanggungjawab engkau memberi
petunjuk kepada mereka tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan
harta apa pun yang kamu belanjakan maka manfaatnya
adalah untuk diri kamu, dan
tidaklah kamu membelanjakannya
melainkan untuk mencari keridhaan Allah. Dan harta
apa pun yang kamu belanjakan
niscaya akan dikembalikan kepada kamu
dengan penuh dan kamu tidak akan
dizalimi. Infak tersebut bagi orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi.
Orang yang tidak berpengetahuan
menganggap mereka itu kaya, karena mereka menghindarkan diri dari meminta-minta. Engkau
dapat mengenali mereka dari wajahnya,
mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak. Dan harta
apa pun yang kamu belanjakan
maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. Orang-orang yang membelanjakan harta mereka pada malam
dan siang dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),
dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah
[2]:273-275).
Makna Faqir dan Mahrum (Yang Tidak Meminta)
Faqara
dalam ayat: “Infak tersebut bagi orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi”, kata
faqara berarti: ia membuat lubang
ke dalam mutiara; faqura berarti: ia menjadi miskin
dan kekurangan; dan faqira
berarti: ia mengidap penyakit tulang
punggung.
Jadi faqr berarti
kemiskinan; kekurangan atau keperluan yang sangat memberatkan kehidupan si
miskin; kesusahan atau kecemasan atau kegelisahan pikir (Lexicon Lane). Dengan demikian keadaan orang faqir lebih berat (susah) daripada orang
miskin, sebab keadaan orang miskin hanya perlu dibantu dari segi ekonomi saja
karena secara jiwa dan fisik
keadaannya normal, sedangkan orang faqir adalah orang-orang miskin yang didak mampu
berusaha karena menderita kelemahan
dari segi fisik atau menderita cacat fisik.
Makna ayat selanjutnya mengenai: “orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi”: “orang yang tidak berpengetahuan
menganggap mereka itu kaya, karena mereka menghindarkan diri dari meminta-minta. Engkau
dapat mengenali mereka dari wajahnya,
mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak (Al-Baqarah
[2]:274).
Orang-orang miskin mau pun faqir
yang dikemukakan ayat tersebut termasuk golongan “mahrum” -- yang umumnya dikenakan kepada binatang peliharaan yang tidak bisa
berbicara -- Allah Swt. berfirman:
وَ فِیۡۤ اَمۡوَالِہِمۡ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَ الۡمَحۡرُوۡمِ ﴿﴾
Dan
dalam harta benda mereka ada hak bagi mereka yang meminta وَ الۡمَحۡرُوۡمِ
-- dan bagi mereka yang tidak
meminta. (Adz-Dzāriyāt [51]:20).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 11 Desember
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar