Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 78
TIGA MACAM KEADAAN PERMUKAAN
BUMI & SALAH SATU CIRI ‘ULAMA HAKIKI MAMPU MENYAKSIKAN TANDA-TANDA ILAHI DALAM AL-QURAN DAN DI ALAM
SEMESTA BERUPA KOBARAN API AZAB ILAHI YANG DIJANJIKAN ALLAH SWT..
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab 77 dikemukakan cara Allah Swt. menghidupkan
kembali “permukaan bumi yang telah mati” adalah dengan menurunkan curahan air hujan dari langit,
sebagaimana firman-Nya: اِعۡلَمُوۡۤا
اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا
-- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. قَدۡ
بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ
تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada
kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd
[57]:18).
Firman-Nya
lagi:
وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الرَّجۡعِ ﴿ۙ﴾ وَ
الۡاَرۡضِ ذَاتِ الصَّدۡعِ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ لَقَوۡلٌ
فَصۡلٌ ﴿ۙ﴾ وَّ مَا ہُوَ
بِالۡہَزۡلِ ﴿ؕ﴾ اِنَّہُمۡ
یَکِیۡدُوۡنَ کَیۡدًا ﴿ۙ﴾ وَّ اَکِیۡدُ کَیۡدًا ﴿ۚۖ﴾ فَمَہِّلِ
الۡکٰفِرِیۡنَ اَمۡہِلۡہُمۡ رُوَیۡدًا ﴿٪﴾
Demi awan
yang berulang-ulang menurunkan hujan,
dan
demi bumi yang mekar dengan
tumbuh-tumbuhan. اِنَّہٗ لَقَوۡلٌ
فَصۡلٌ -- Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang menentukan, وَّ مَا ہُوَ
بِالۡہَزۡلِ -- dan sekali-kali bukanlah Al-Quran itu perkataan yang lemah. اِنَّہُمۡ یَکِیۡدُوۡنَ
کَیۡدًا -- Dan sesungguhnya
mereka merencanakan suatu rencana, وَّ اَکِیۡدُ کَیۡدًا -- dan Aku pun
merencanakan suatu rencana. فَمَہِّلِ الۡکٰفِرِیۡنَ اَمۡہِلۡہُمۡ رُوَیۡدًا -- Maka berilah
tangguh orang-orang kafir itu, berilah
tangguh mereka sebentar (Ath-Thāriq [86]:12-18).
Pentingnya Wahyu
Ilahi Bagi Pertumbuhan Akhlak dan Ruhani Manusia
Makna ayat 12-13: وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الرَّجۡعِ -- “Demi
awan yang berulang-ulang menurunkan
hujan, وَ الۡاَرۡضِ ذَاتِ الصَّدۡعِ -- dan demi bumi yang mekar dengan
tumbuh-tumbuhan “ bahwa sebagaimana air
hujan – yang padanya kehijauan serta tetumbuhan di permukaan bumi sangat
bergantung -- turun dari awan (langit), karena itu dengan
berhentinya air hujan turun maka air
di dalam bumi pun berangsur-angsur mengering, demikian pula halnya akal manusia tanpa adanya wahyu samawi akan kehilangan kemurnian dan kekuatannya.
Dalam dunia keruhanian yang dimaksud dengan “turunnya hujan” dari langit adalah turunnya wahyu
Ilahi bersama pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) guna menghidupkan kembali “hati” manusia yang telah keras membatu, sehingga
“hati” manusia yang sebelumnya “keras membatu” akan menjadi
seperti “jannah” (kebun yang rimbun) yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
sebagaimana perumpamaan keadaan “surga” yang dijanjikan Allah Swt. bagi orang-orang yang beriman dan beramal
shalih (QS.2:26), firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ یُرۡسِلُ الرِّیٰحَ
بُشۡرًۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ حَتّٰۤی
اِذَاۤ اَقَلَّتۡ سَحَابًا ثِقَالًا سُقۡنٰہُ لِبَلَدٍ مَّیِّتٍ
فَاَنۡزَلۡنَا بِہِ الۡمَآءَ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ؕ کَذٰلِکَ
نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ
تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ ۚ وَ الَّذِیۡ خَبُثَ
لَا یَخۡرُجُ اِلَّا نَکِدًا ؕ کَذٰلِکَ
نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Dia-lah
Yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum datang rahmat-Nya, حَتّٰۤی اِذَاۤ اَقَلَّتۡ
سَحَابًا ثِقَالًا سُقۡنٰہُ لِبَلَدٍ مَّیِّتٍ -- hingga apabila
angin itu membawa awan yang berat, Kami menghalaunya ke suatu negeri
yang mati, فَاَنۡزَلۡنَا
بِہِ الۡمَآءَ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ
-- maka Kami turunkan air darinya, lalu dengan itu Kami
mengeluarkan segala macam buah-buahan. َذٰلِکَ نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ تَذَکَّرُوۡنَ
-- Seperti itulah Kami mengeluarkan orang-orang mati ruhani
supaya kamu mengambil pelajaran.
وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ
نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ -- Dan negeri
yang baik menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan atas perintah Rabb-nya (Tuhan-nya), وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ
اِلَّا نَکِدًا -- sedangkan negeri yang buruk tidak
menumbuhkannya kecuali sedikit. ؕ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ
الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ -- Demikianlah Kami berulang-ulang menjelaskan Tanda-tanda bagi kaum yang bersyukur. (Al-A’rāf
[7]:58-59). Lihat pula QS.6:100;
QS.14:33; QS.16:11; QS.22:64; QS.35:28.
Tiga Macam Keadaan
Tanah (Permukaan Bumi) dan Keadaan “Hati”
Manusia
Kata rahmat dalam ayat:
وَ ہُوَ
الَّذِیۡ یُرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ -- ”Dan
Dia-lah Yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira
sebelum datang rahmat-Nya“
mengisyaratkan kepada hujan, karena tak ubahnya seperti di alam jasmani hujan didahului oleh angin sepoi-sepoi basa sebagai
pertandanya, begitu pula sebelum seorang nabi
Allah menampakkan diri (diutus) ada semacam kebangkitan
semangat keagamaan meluas di tengah-tengah umat manusia.
Ayat ini berarti bahwa tak ubahnya seperti air hujan memberi kehidupan
baru kepada tanah yang mati
akibat kemarau panjang dan menyebabkan
tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, serta
padi-padian tumbuh darinya, seperti
itu pula air ruhani berupa wahyu
Ilahi menghembuskan nafas kehidupan baru ke dalam suatu kaum yang sepi (kering) dari kehidupan
ruhani.
Dengan demikian ayat itu mengemukakan janji bahwa tanah Arab yang tadinya
berupa gurun yang kering dan gersang itu melalui
pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. akan
segera mekar menjadi sebuah kebun yang penuh dengan pohon-pohon
berbuah dan sarat dengan tanam-tanaman yang berbunga semerbak sebagai akibat dari air samawi yang turun dalam
bentuk Al-Quran menyirami tanah itu.
Oleh karena itu tidak mengherankan kalau orang-orang Arab hingga waktu itu
telah dianggap sebagai busa
dan sampah masyarakat umat manusia -- sehingga disebut “kaum jahiliyah” atau
berada dalam “kesesatan yang nyata” (QS.62:3)
-- dengan serta-merta tampil
menjadi guru-guru dan pemimpin-pemimpin manusia dalam berbagai
bidang kehidupan -- baik jasmani
mau pun ruhani -- firman-Nya:
Makna Al-A’rāf ayat 59 bahwa tak ubahnya seperti hujan mendatangkan bermacam-ragam akibat atas berbagai lahan tanah menurut sifat dan kaifiatnya,
demikian pula halnya wahyu Ilahi memberi pengaruh
kepada berbagai-bagai sifat manusia dalam
bermacam-macam cara. Nabi Besar Muhammad
saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa ada 3 macam keadaan
tanah di permukaan bumi ini:
(a) Tanah
bagus lagi datar yang jika disiram air hujan menyerap air hujan dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang baik dan menghasilkan buah-buah dengan berlimpah-limpah;
(b) Tanah
yang karena letaknya
yang rendah dan berbatu-batu hanya menampung air hujan tetapi tidak menyerapnya, dan karenanya tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,
tetapi menyediakan air minum untuk
manusia dan binatang;
(c) Tanah
tinggi lagi berbatu-batu yang tidak
menghimpun air hujan, begitu pula tidak
menyerapnya dan sama sekali tidak ada gunanya untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan atau pun sebagai
penyimpan air hujan.
Begitu pula
halnya keadaan hati (jiwa) manusia
dari segi keruhanian terdiri atas tiga macam:
(1) Mereka yang
bukan saja yang mendapat manfaat dari
wahyu Ilahi untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber penyuluh keruhanian bagi orang lain.
(2) Mereka yang dirinya tidak mendapat faedah dari wahyu
Ilahi namun menerimanya dan menyimpannya supaya orang lain memperoleh manfaat.
(3) Mereka yang dirinya sendiri tidak memperoleh faedah dari wahyu Ilahi, begitu juga tidak menyimpannya untuk digunakan orang
lain. Mereka itu laksana sebidang tanah
yang tidak mengeluarkan hasil apa pun
dan tidak
pula menghimpun air supaya manusia dan binatang dapat minum darinya.
‘Ulama Pemilik
“Makrifat Ilahi” yang Hakiki
Sehubungan
dengan kenyataan tersebut Allah Swt. berfirman mengenai “orang-orang
yang berilmu” yang dengan ilmu yang dimilikinya mereka memperoleh makrifat Ilahi yang hakiki
sehingga Allah Swt. menyebut hamba-hamba
Allah yang hakiki tersebut ‘ulama (orang-orang berilmu), berikut
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad
saw.:
اَلَمۡ تَرَ
اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ
مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہَا ؕ وَ
مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ بِیۡضٌ وَّ
حُمۡرٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ
غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾ وَ
مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ
عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gu-nung ada garis-garis putih dan merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada
yang sehitam burung gagak? وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ
اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ -- Dan demikian juga di antara manusia, hewan
berkaki empat dan binatang ternak
pun
bermacam-macam warnanya. اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ -- Sesungguhnya
dari antara hamba-hamba-Nya
yang takut kepada Allah adalah ulama.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Pengampun. (Al-Fāthir [35]:28-29).
Ayat 28 bermaksud mengatakan, bahwa bila hujan turun di atas tanah yang kering dan gersang,
maka air hujan itu menimbulkan aneka ragam tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang berwarna-warni serta aneka cita rasa, dan bentuk serta corak yang berlainan.
Air
hujannya sama tetapi tanam-tanaman,
bunga-bungaan, dan buah-buahan yang dihasilkan sangat berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan itu mungkin sekali
dikarenakan sifat yang dimiliki tanah dan benih. Demikian pula manakala wahyu
Ilahi yang turun bersama pengutusan rasul
Allah — yang pada beberapa tempat dalam Al-Quran telah diibaratkan air — turun kepada suatu kaum, maka wahyu itu menimbulkan berbagai-bagai
akibat pada bermacam-macam manusia
menurut keadaan “tanah” (hati) mereka
dan cara mereka menerimanya.
Makna ayat 29 menjelaskan bahwa keragaman yang indah sekali dalam bentuk,
warna, dan corak, yang telah dikemukakan dalam ayat sebelumnya tidak hanya
terdapat pada bunga, buah, dan batu karang saja, tetapi juga pada manusia, binatang buas dan
binatang ternak.
Kata an-nās (manusia), ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām
(binatang ternak) dapat juga melukiskan manusia
dengan bermacam-macam kesanggupan, pembawaan, dan kecenderungan alami. Ung-kapan: اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا -- “Sesungguhnya
dari antara hamba-hambanya yang takut kepada Allah dari adalah para ulama” memberikan bobot arti kepada pandangan bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara
mereka itu hanya mereka yang dikaruniai
ilmu saja yang takut kepada Allah Swt..
Ulil Albāb (Orang-orang yang Berakal)
Akan tetapi di sini ilmu itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu keruhanian, akan tetapi juga pengetahuan hukum alam.
Sebab penyelidikan yang seksama terhadap alam
dan hukum-hukumnya niscaya membawa
orang kepada makrifat mengenai kekuasaan Maha Besar Allāh Ta’ala dan
sebagai akibat-nya merasa kagum dan takzim terhadap Allah
Swt., Tuhan Pencipta seluruh alam,
firman-Nya: “Segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh
alam” (Al-Fatihah [1]:2). Firman-Nya lagi mengenai ulil-albāb (orang-orang yang berakal):
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ
قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ
خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ
سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ
اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ
اَنۡصَارٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta pertukaran
malam dan siang لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ -- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal, الَّذِیۡنَ
یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ
قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ -- yaitu
orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil
berbaring atas rusuk mereka,
dan mereka memikirkan mengenai
penciptaan seluruh langit dan bumi seraya berkata: رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ
سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- “Ya Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah
Engkau mencip-takan semua ini sia-sia, Maha
Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api. رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa
yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh
Engkau telah menghinakannya, ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ
مِنۡ اَنۡصَارٍ -- dan sekali-kali
tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. (Âli
‘Imran [3]:191-193).
Kembali kepada masalah ‘ulama
hakiki dalam surah Al-Fāthir Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
beberapa ciri ‘ulama hakiki tersebut:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یَتۡلُوۡنَ کِتٰبَ اللّٰہِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اَنۡفَقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ سِرًّا وَّ
عَلَانِیَۃً یَّرۡجُوۡنَ تِجَارَۃً
لَّنۡ تَبُوۡرَ ﴿ۙ﴾ لِیُوَفِّیَہُمۡ اُجُوۡرَہُمۡ وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ
ؕ اِنَّہٗ غَفُوۡرٌ
شَکُوۡرٌ ﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang membaca Kitab Allah, mendirikan
shalat, dan membelanjakan sebagian dari
apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan,
یَّرۡجُوۡنَ تِجَارَۃً
لَّنۡ تَبُوۡرَ -- mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah gagal. لِیُوَفِّیَہُمۡ
اُجُوۡرَہُمۡ وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ -- Supaya Dia menyempurnakan kepada mereka ganjaran mereka se-penuhnya dan Dia menambahkan kepada mereka dari
karunia-Nya. اِنَّہٗ
غَفُوۡرٌ شَکُوۡرٌ -- Sesungguhnya Dia
Maha Pengampun, Maha Menghargai.
(Al-Fāthir
[35]:30-31).
Perpaduan Makrifat Al-Quran dan makrifat
Alam Semesta Menghasilkan Makrifat dan Beriman
Kepada Rasul Allah yang Dijanjikan
Ayat 30
memberi gambaran mengenai ‘ulama (mereka yang dilimpahi ilmu)
tersebut dalam ayat sebelumnya (QS.35:29), yang apabila makrifatnya tentang Al-Quran -- yang merupakan Kalam Allah Swt. -- dipadukan dengan makrifatnya dengan alam
semesta -- yang merupakan perbuatan Allah Swt. akan menjadikan
mereka sebagai ulul-albāb (orang-orang
yang mempergunakan akal –
QS.3:191-193), yang akan menjuruskannya kepada pengenalan (makrifat) kepada kebenaran pendakwaan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37), firman-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ
النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ
اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا
ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ
اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ
اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
“Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesung-guhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam
Api maka sungguh Engkau telah
menghinakannya, dan sekali-kali
tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru
menyeru kami kepada ke-imanan اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ
فَاٰمَنَّا -- seraya berkata: "Berimanlah
kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu"
maka kami telah beriman. رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ
کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ
الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa
kami, hapuskanlah dari kami kesalah-an-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang ber-buat kebajikan, رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا
تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, karena itu berikanlah
kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari
Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah
menyalahi janji.” (Âli ‘Imran [3]:193-195).
Makna “api”
dalam ayat: رَبَّنَاۤ
اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ
اَنۡصَارٍ -- “Wahai
Rabb (Tuhan) kami, sesung-guhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam
Api maka sungguh Engkau telah
menghinakannya, dan sekali-kali
tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun” berarti “api
kemurkaan” Allah Swt. berupa
berbagai bentuk “bala-bencana” -- baik bencana
alam
maupun api peperangan.
Terjadinya Azab Ilahi yang Diperingatkan
Allah Swt. & Tersebarnya “Orang-orang
Bermata Biru” yang Takabbur
Sehubungan dengan hal tersebut berikut firman Allah Swt. kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ ؕ
وَ اِنَّ
جَہَنَّمَ لَمُحِیۡطَۃٌۢ
بِالۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ یَوۡمَ یَغۡشٰہُمُ
الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ وَ یَقُوۡلُ
ذُوۡقُوۡا مَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Mereka minta kepada engkau menyegerakan azab,
dan sesungguhnya Jahannam akan mengepung orang-orang
kafir. یَوۡمَ
یَغۡشٰہُمُ الۡعَذَابُ مِنۡ
فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ -- Pada hari azab itu akan meliputi mereka dari atas mereka dan dari
bawah kaki mereka, یَقُوۡلُ
ذُوۡقُوۡا مَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ -- dan Dia
akan berfirman: “Rasakanlah apa yang
telah kamu kerjakan.” (Al-Ankabut [29]:55-56).
Ketika azab
Ilahi yang diperingatkan rasul Allah datang datang, maka datangnya
tiba-tiba dan cepat, dan bagaikan air
terjun menimpa dan meliputi orang-orang
ingkar dari segala jurusan itulah
makna ayat: وۡمَ یَغۡشٰہُمُ
الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ -- Pada hari azab itu akan meliputi mereka dari atas mereka dan dari
bawah kaki mereka.” (Al-Ankabut [29]:55-56).
Azab
Ilahi yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. setelah
1000 tahun sejak 3 abad masa kejayaan Islam yang pertama (QS.32:6), firman-Nya:
وَ یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ
یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ کَاَلۡفِ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka meminta kepada engkau
untuk mempercepat azab, tetapi Allah
tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ
کَاَلۡفِ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ -- Dan
sesungguhnya satu hari di sisi Rabb
(Tuhan) engkau seperti
seribu tahun menurut perhitungan kamu. (Al-Hājj
[22]:48).
Nabi Besar Muhammad saw. menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad pertama Islam akan merupakan masa
yang terbaik (Tirmidzi), sesudah itu kepalsuan akan tersebar
dan suatu masa kegelapan akan datang
kepada umat Islam dan meluas sampai 1000 tahun. Masa 1000 tahun
ini dipersamakan dengan satu hari
(QS.32:6). Dalam masa ini satu kaum yang
bermata biru -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau fitnah
Dajjal -- akan bangkit dan menyebar luas
ke seluruh dunia termasuk ke wilayah-wilayah umat
Islam (QS.20:103-104;
QS.21:96-101).
Orang-orang bermata biru -- yakni bangsa-bangsa
Kristen dari Barat -- itulah yang
karena sombong dan takaburnya, yang diakibatkan oleh karena
memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik (QS.18:1-9) telah
digambarkan memberi tantangan kepada Nabi
Besar Muhammad saw. untuk
mempercepat azab Ilahi yang —
begitulah dikatakan oleh beliau saw. — akan menimpa
mereka pada waktu yang ditentukan dan
dijanjikan itu, yakni pada abad 14 Hijriyah berupa Perang
Dunia I dan Perang Dunia II,
sedang ancaman mengerikan Perang
Dunia III atau Perang Nuklir pun hanya tinggal menunggu waktu saja. Wallahi ‘alam. Yang jelas Allah Swt. telah berfirman: وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ حَتّٰی
نَبۡعَثَ رَسُوۡلًا --
“Dan Kami tidak menimpakan azab hingga Kami terlebih dahulu mengirimkan seorang rasul,” selengkapnya Dia berfirman:
مَنِ
اہۡتَدٰی فَاِنَّمَا یَہۡتَدِیۡ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ
مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا
یَضِلُّ عَلَیۡہَا ؕ وَ لَا
تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ؕ وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ
حَتّٰی
نَبۡعَثَ رَسُوۡلًا ﴿﴾
وَ اِذَاۤ اَرَدۡنَاۤ اَنۡ
نُّہۡلِکَ قَرۡیَۃً اَمَرۡنَا مُتۡرَفِیۡہَا فَفَسَقُوۡا
فِیۡہَا فَحَقَّ عَلَیۡہَا الۡقَوۡلُ
فَدَمَّرۡنٰہَا
تَدۡمِیۡرًا ﴿﴾
Barangsiapa telah mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk faedah dirinya, dan barangsiapa
sesat maka kesesatan itu hanya kemudaratan
atas dirinya, dan tidak
ada pemikul beban akan memikul beban
orang lain. Dan
Kami tidak menimpakan
azab hingga Kami terlebih dahulu mengirimkan
seorang rasul. Dan apabila
Kami hendak membinasakan suatu kota,
Kami terlebih dahulu memerintahkan warganya yang hidup mewah
untuk menempuh kehidupan yang saleh, tetapi mereka durhaka di dalamnya, maka berkenaan
dengan kota itu firman Kami menjadi sempurna lalu Kami
menghancur-leburkannya. (Bani Israil
[17]:16-17). Lihat pula QS.6:132; QS.11:118; QS.20:134-136; QS.26:209; QS.28:60.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 6 Desember 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar