Selasa, 13 Desember 2016

Tiga Macam Keadaan "Permukaaan Bumi" & Salah Satu Ciri 'Ilama Hakiki Mampu Menyaksikan "Tanda-tanda Ilahi" Dalam Al-Quran dan Di Alam Semesta Berupa Kobaran "Api Azab Ilahi" yang Dijanjikan Allah Swt.

 



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  78

TIGA MACAM KEADAAN    PERMUKAAN BUMI  &  SALAH SATU CIRI ‘ULAMA HAKIKI  MAMPU  MENYAKSIKAN TANDA-TANDA ILAHI  DALAM AL-QURAN DAN   DI   ALAM SEMESTA  BERUPA KOBARAN API AZAB ILAHI YANG DIJANJIKAN ALLAH SWT..

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 77 dikemukakan     cara Allah Swt. menghidupkan kembali “permukaan bumi yang telah mati   adalah dengan menurunkan curahan air hujan dari langit, sebagaimana firman-Nya:  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا  --   Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ --  Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:18).
Firman-Nya lagi:
وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الرَّجۡعِ ﴿ۙ﴾  وَ الۡاَرۡضِ ذَاتِ الصَّدۡعِ ﴿ۙ﴾  اِنَّہٗ  لَقَوۡلٌ  فَصۡلٌ ﴿ۙ﴾ وَّ مَا ہُوَ  بِالۡہَزۡلِ ﴿ؕ﴾  اِنَّہُمۡ یَکِیۡدُوۡنَ  کَیۡدًا ﴿ۙ﴾    وَّ اَکِیۡدُ  کَیۡدًا ﴿ۚۖ﴾ فَمَہِّلِ الۡکٰفِرِیۡنَ  اَمۡہِلۡہُمۡ رُوَیۡدًا ﴿٪﴾

Demi awan yang berulang-ulang menurunkan hujan,   dan demi bumi yang mekar dengan tumbuh-tumbuhan. اِنَّہٗ  لَقَوۡلٌ  فَصۡلٌ  --   Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang menentukan, وَّ مَا ہُوَ  بِالۡہَزۡلِ  --  dan sekali-kali bukanlah Al-Quran itu perkataan yang lemah.  اِنَّہُمۡ یَکِیۡدُوۡنَ  کَیۡدًا  --  Dan sesungguhnya mereka merencanakan  suatu rencana,  وَّ اَکِیۡدُ  کَیۡدًا -- dan  Aku pun merencanakan  suatu rencana. فَمَہِّلِ الۡکٰفِرِیۡنَ  اَمۡہِلۡہُمۡ رُوَیۡدًا --  Maka berilah tangguh orang-orang kafir itu, berilah tangguh mereka sebentar (Ath-Thāriq [86]:12-18).

Pentingnya Wahyu Ilahi Bagi   Pertumbuhan  Akhlak dan Ruhani Manusia

    Makna ayat 12-13:  وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الرَّجۡعِ    -- “Demi awan yang berulang-ulang menurunkan hujan,     وَ الۡاَرۡضِ ذَاتِ الصَّدۡعِ --   dan demi bumi yang mekar dengan tumbuh-tumbuhan “ bahwa sebagaimana air hujan – yang padanya kehijauan serta tetumbuhan di permukaan bumi sangat bergantung --  turun dari awan (langit), karena itu dengan berhentinya air hujan turun  maka air di dalam bumi pun berangsur-angsur mengering, demikian pula halnya akal manusia tanpa adanya wahyu samawi akan kehilangan kemurnian dan kekuatannya.
       Dalam dunia keruhanian yang dimaksud dengan “turunnya hujan” dari langit adalah turunnya  wahyu Ilahi bersama  pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) guna menghidupkan kembali “hati” manusia yang telah keras membatu,  sehingga  hati” manusia  yang sebelumnya “keras membatu” akan  menjadi  seperti “jannah” (kebun  yang rimbun) yang di bawahnya  mengalir sungai-sungai, sebagaimana  perumpamaan keadaan “surga  yang dijanjikan  Allah Swt. bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih (QS.2:26), firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ یُرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَاۤ   اَقَلَّتۡ  سَحَابًا ثِقَالًا سُقۡنٰہُ لِبَلَدٍ مَّیِّتٍ فَاَنۡزَلۡنَا بِہِ الۡمَآءَ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ؕ کَذٰلِکَ نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ  تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ ۚ وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ  اِلَّا نَکِدًا ؕ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Dia-lah Yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum datang rahmat-Nya,  حَتّٰۤی  اِذَاۤ   اَقَلَّتۡ  سَحَابًا ثِقَالًا سُقۡنٰہُ لِبَلَدٍ مَّیِّتٍ --   hingga apabila angin itu membawa awan yang berat, Kami menghalaunya ke suatu negeri yang mati, فَاَنۡزَلۡنَا بِہِ الۡمَآءَ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ  -- maka Kami  turunkan air darinya, lalu dengan itu Kami mengeluarkan segala macam buah-buahan.  َذٰلِکَ نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ  تَذَکَّرُوۡنَ  -- Seperti itulah  Kami mengeluarkan orang-orang mati ruhani supaya kamu mengambil pelajaran. وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ   --    Dan negeri yang baik menumbuhkan tumbuh-tumbuhan atas perintah Rabb-nya (Tuhan-nya),  وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ  اِلَّا نَکِدًا -- sedangkan  negeri yang buruk tidak menumbuhkannya kecuali sedikit.  ؕ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ --  Demikianlah Kami berulang-ulang menjelaskan Tanda-tanda bagi kaum yang bersyukur. (Al-A’rāf [7]:58-59). Lihat pula QS.6:100;  QS.14:33;  QS.16:11;  QS.22:64; QS.35:28.

Tiga Macam Keadaan Tanah (Permukaan Bumi) dan Keadaan “Hati” Manusia

  Kata rahmat  dalam ayat:  وَ ہُوَ الَّذِیۡ یُرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ   --  ”Dan  Dia-lah Yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum datang rahmat-Nya“ mengisyaratkan kepada hujan,  karena tak ubahnya seperti di alam jasmani hujan didahului oleh angin sepoi-sepoi basa sebagai pertandanya, begitu pula sebelum seorang nabi Allah   menampakkan diri (diutus) ada semacam kebangkitan  semangat keagamaan meluas di tengah-tengah umat manusia.
    Ayat ini berarti bahwa  tak ubahnya seperti air hujan memberi kehidupan baru kepada tanah  yang mati  akibat kemarau panjang  dan menyebabkan tumbuh-tumbuhan,  buah-buahan,    serta padi-padian tumbuh darinya, seperti itu pula air ruhani  berupa wahyu Ilahi menghembuskan  nafas kehidupan baru  ke dalam suatu kaum yang sepi (kering) dari kehidupan ruhani.
Dengan demikian ayat itu mengemukakan  janji bahwa tanah  Arab yang tadinya berupa gurun yang kering dan gersang itu  melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. akan segera mekar  menjadi sebuah kebun yang penuh dengan pohon-pohon berbuah dan sarat  dengan tanam-tanaman yang berbunga semerbak sebagai akibat dari air samawi yang turun dalam  bentuk Al-Quran menyirami tanah itu.  
Oleh karena itu tidak  mengherankan kalau orang-orang Arab hingga waktu itu  telah dianggap sebagai busa dan sampah masyarakat umat manusia  -- sehingga disebut “kaum jahiliyah” atau berada dalam “kesesatan yang nyata” (QS.62:3)   -- dengan serta-merta tampil  menjadi guru-guru dan pemimpin-pemimpin manusia dalam berbagai bidang kehidupan   -- baik jasmani mau pun ruhani  -- firman-Nya:
 Makna Al-A’rāf ayat 59  bahwa tak ubahnya seperti hujan mendatangkan bermacam-ragam akibat atas berbagai lahan tanah menurut sifat dan kaifiatnya, demikian pula halnya wahyu Ilahi  memberi pengaruh kepada berbagai-bagai sifat manusia dalam bermacam-macam cara.  Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa ada 3 macam  keadaan tanah di permukaan bumi ini:
 (a)  Tanah bagus lagi datar yang jika disiram air hujan menyerap air hujan dan menumbuhkan  tumbuh-tumbuhan yang baik dan menghasilkan buah-buah dengan berlimpah-limpah;
 (b)  Tanah yang   karena letaknya yang rendah  dan berbatu-batu  hanya menampung air hujan tetapi tidak menyerapnya, dan karenanya tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, tetapi menyediakan air minum untuk manusia dan binatang;
  (c)  Tanah tinggi lagi  berbatu-batu yang tidak menghimpun air hujan, begitu pula tidak menyerapnya  dan sama sekali tidak ada gunanya untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan  atau pun sebagai penyimpan air hujan.
     Begitu pula halnya keadaan hati (jiwa)  manusia  dari segi keruhanian terdiri atas tiga macam:
 (1) Mereka yang bukan saja yang mendapat manfaat dari wahyu Ilahi untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber penyuluh  keruhanian bagi orang lain.     
 (2)  Mereka yang dirinya tidak mendapat faedah dari wahyu Ilahi namun menerimanya dan menyimpannya  supaya orang lain memperoleh manfaat.
 (3)  Mereka yang dirinya sendiri tidak memperoleh faedah dari wahyu Ilahi, begitu juga tidak menyimpannya untuk digunakan orang lain. Mereka itu laksana sebidang tanah yang tidak mengeluarkan hasil apa pun dan tidak  pula menghimpun air supaya manusia dan binatang dapat minum darinya.

Ulama  Pemilik  Makrifat Ilahi” yang Hakiki

 Sehubungan dengan kenyataan tersebut Allah Swt. berfirman mengenai  orang-orang yang berilmu   yang dengan ilmu yang dimilikinya  mereka memperoleh makrifat Ilahi   yang hakiki sehingga Allah Swt. menyebut hamba-hamba Allah yang hakiki tersebut  ‘ulama  (orang-orang berilmu), berikut firman-Nya  kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّ اللّٰہَ  اَنۡزَلَ مِنَ  السَّمَآءِ  مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ  مُّخۡتَلِفًا  اَلۡوَانُہَا ؕ وَ مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ  بِیۡضٌ وَّ حُمۡرٌ  مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gu-nung ada garis-garis putih  dan    merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak?  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ --  Dan demikian juga di antara manusia,  hewan berkaki empat dan binatang ternak  pun bermacam-macam warnanya. اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ --  Sesungguhnya  dari antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah adalah ulama.  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (Al-Fāthir [35]:28-29).
        Ayat 28  bermaksud mengatakan, bahwa bila hujan turun di atas tanah yang kering dan gersang, maka air hujan itu menimbulkan aneka ragam tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang  berwarna-warni serta aneka cita rasa, dan bentuk serta corak yang berlainan.
       Air hujannya sama tetapi tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang dihasilkan sangat berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan itu mungkin sekali dikarenakan sifat yang dimiliki tanah dan benih. Demikian pula manakala wahyu Ilahi yang turun bersama pengutusan rasul Allah — yang pada beberapa tempat dalam Al-Quran telah diibaratkan air — turun kepada suatu kaum, maka wahyu itu menimbulkan berbagai-bagai akibat pada bermacam-macam manusia menurut keadaan “tanah” (hati) mereka dan cara mereka menerimanya.
        Makna ayat 29  menjelaskan bahwa keragaman yang indah sekali dalam bentuk, warna, dan corak, yang telah dikemukakan dalam ayat sebelumnya tidak hanya terdapat pada bunga, buah, dan batu karang saja,  tetapi juga pada manusia, binatang buas dan binatang ternak.
       Kata an-nās (manusia), ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām (binatang ternak) dapat juga melukiskan manusia dengan bermacam-macam kesanggupan, pembawaan, dan kecenderungan alami. Ung-kapan: اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا  --  “Sesungguhnya dari antara hamba-hambanya yang takut kepada Allah dari  adalah para ulama” memberikan bobot arti kepada pandangan bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu saja yang takut kepada  Allah Swt..

Ulil Albāb (Orang-orang yang Berakal) 

        Akan tetapi di sini ilmu itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu keruhanian, akan tetapi juga pengetahuan  hukum alam. Sebab penyelidikan yang seksama terhadap alam dan hukum-hukumnya niscaya membawa orang kepada makrifat mengenai kekuasaan Maha Besar Allāh Ta’ala dan sebagai akibat-nya merasa kagum dan takzim terhadap  Allah Swt., Tuhan Pencipta seluruh alam, firman-Nya:    Segala puji bagi Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam” (Al-Fatihah [1]:2). Firman-Nya lagi mengenai ulil-albāb (orang-orang yang berakal):
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ  -- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --   yaitu   orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  seraya berkata: رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau mencip-takan  semua ini  sia-sia,  Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api. رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ   --     Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ  --  dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. (Âli ‘Imran [3]:191-193).
         Kembali kepada  masalah ‘ulama hakiki dalam surah Al-Fāthir  Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai beberapa ciri ‘ulama hakiki tersebut:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یَتۡلُوۡنَ  کِتٰبَ اللّٰہِ  وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اَنۡفَقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ سِرًّا وَّ عَلَانِیَۃً  یَّرۡجُوۡنَ  تِجَارَۃً  لَّنۡ تَبُوۡرَ ﴿ۙ﴾ لِیُوَفِّیَہُمۡ  اُجُوۡرَہُمۡ وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ ؕ  اِنَّہٗ  غَفُوۡرٌ  شَکُوۡرٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah,   mendirikan shalat, dan membelanjakan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, یَّرۡجُوۡنَ  تِجَارَۃً  لَّنۡ تَبُوۡرَ  --  mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah  gagal. لِیُوَفِّیَہُمۡ  اُجُوۡرَہُمۡ وَ یَزِیۡدَہُمۡ مِّنۡ فَضۡلِہٖ  --  Supaya Dia menyempurnakan kepada mereka ganjaran mereka se-penuhnya dan Dia menambahkan kepada mereka dari karunia-Nya.  اِنَّہٗ  غَفُوۡرٌ  شَکُوۡرٌ --  Sesungguhnya  Dia Maha Pengampun, Maha Menghargai. (Al-Fāthir [35]:30-31).

Perpaduan Makrifat Al-Quran dan makrifat Alam Semesta  Menghasilkan  Makrifat dan Beriman Kepada Rasul Allah yang Dijanjikan

         Ayat 30   memberi gambaran mengenai   ‘ulama (mereka yang dilimpahi ilmu) tersebut dalam ayat sebelumnya  (QS.35:29), yang apabila makrifatnya tentang Al-Quran    -- yang merupakan Kalam Allah Swt. -- dipadukan dengan makrifatnya dengan alam semesta  -- yang merupakan perbuatan Allah Swt. akan menjadikan mereka sebagai ulul-albāb (orang-orang yang mempergunakan akal – QS.3:191-193), yang akan menjuruskannya kepada pengenalan (makrifat) kepada kebenaran pendakwaan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37),  firman-Nya:
رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
“Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesung-guhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.  رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ    -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  ke-imanan اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا  --  seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah beriman. رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ  --  Wahai  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami,   hapuskanlah dari kami kesalah-an-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang ber-buat kebajikan,  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ   --    Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Âli ‘Imran [3]:193-195).
           Makna “api” dalam ayat: رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ  -- “Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesung-guhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun  berarti “api kemurkaan” Allah Swt.  berupa berbagai bentuk “bala-bencana”  --  baik bencana alam  maupun api peperangan.

Terjadinya Azab Ilahi yang Diperingatkan Allah Swt. & Tersebarnya “Orang-orang Bermata Biru” yang Takabbur

       Sehubungan dengan hal tersebut  berikut firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ ؕ وَ  اِنَّ  جَہَنَّمَ لَمُحِیۡطَۃٌۢ  بِالۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  یَوۡمَ  یَغۡشٰہُمُ  الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ وَ یَقُوۡلُ ذُوۡقُوۡا مَا کُنۡتُمۡ  تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Mereka minta kepada engkau menyegerakan azab, dan sesungguhnya  Jahannam akan mengepung orang-orang kafir.  یَوۡمَ  یَغۡشٰہُمُ  الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ  --   Pada hari azab itu akan meliputi mereka dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka, یَقُوۡلُ ذُوۡقُوۡا مَا کُنۡتُمۡ  تَعۡمَلُوۡنَ --  dan Dia akan berfirman: “Rasakanlah apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Ankabut [29]:55-56).
       Ketika azab Ilahi yang diperingatkan  rasul Allah datang datang, maka datangnya tiba-tiba dan cepat, dan bagaikan air terjun menimpa dan meliputi orang-orang ingkar dari segala jurusan itulah makna ayat: وۡمَ  یَغۡشٰہُمُ  الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ  --   Pada hari azab itu akan meliputi mereka dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (Al-Ankabut [29]:55-56).
       Azab Ilahi yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah  yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. setelah  1000 tahun  sejak  3 abad masa kejayaan Islam yang pertama (QS.32:6), firman-Nya:
وَ  یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah  tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.  وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ  -- Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau  seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu.  (Al-Hājj [22]:48).
         Nabi Besar Muhammad saw.  menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik (Tirmidzi),  sesudah itu kepalsuan akan tersebar dan suatu masa kegelapan akan datang kepada umat Islam  dan meluas sampai 1000 tahun. Masa 1000 tahun ini dipersamakan dengan satu hari (QS.32:6). Dalam masa ini satu kaum yang bermata biru   -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau fitnah Dajjal   -- akan bangkit dan menyebar luas ke seluruh dunia  termasuk ke wilayah-wilayah  umat Islam  (QS.20:103-104; QS.21:96-101). 
  Orang-orang bermata biru  -- yakni  bangsa-bangsa Kristen dari Barat   -- itulah yang karena sombong dan takaburnya, yang diakibatkan oleh karena memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik (QS.18:1-9) telah digambarkan memberi tantangan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   untuk mempercepat azab Ilahi yang — begitulah dikatakan oleh beliau saw. — akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan itu, yakni pada abad 14 Hijriyah berupa  Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sedang ancaman mengerikan  Perang Dunia III atau Perang Nuklir  pun hanya tinggal menunggu waktu saja. Wallahi ‘alam.  Yang jelas Allah Swt. telah berfirman:  وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ  حَتّٰی  نَبۡعَثَ  رَسُوۡلًا  -- “Dan  Kami tidak menimpakan azab hingga Kami  terlebih dahulu mengirimkan seorang rasul,” selengkapnya Dia berfirman: 
مَنِ اہۡتَدٰی فَاِنَّمَا یَہۡتَدِیۡ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا ؕ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ؕ وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ  حَتّٰی  نَبۡعَثَ  رَسُوۡلًا ﴿﴾ وَ اِذَاۤ  اَرَدۡنَاۤ  اَنۡ نُّہۡلِکَ قَرۡیَۃً  اَمَرۡنَا مُتۡرَفِیۡہَا فَفَسَقُوۡا فِیۡہَا فَحَقَّ عَلَیۡہَا الۡقَوۡلُ  فَدَمَّرۡنٰہَا  تَدۡمِیۡرًا ﴿﴾
Barangsiapa telah mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk faedah dirinya,  dan barangsiapa sesat maka kesesatan itu hanya kemudaratan atas dirinya,  dan  tidak ada pemikul beban akan memikul beban orang lain  Dan  Kami tidak menimpakan azab  hingga Kami  terlebih dahulu mengirimkan seorang rasul  Dan  apabila Kami   hendak membinasakan suatu kota,  Kami terlebih dahulu memerintahkan warganya yang hidup mewah untuk menempuh kehidupan yang saleh, tetapi mereka durhaka di dalamnya,  maka berkenaan dengan kota itu firman Kami menjadi sempurna  lalu Kami menghancur-leburkannya. (Bani Israil [17]:16-17). Lihat pula QS.6:132; QS.11:118; QS.20:134-136; QS.26:209;  QS.28:60.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  6 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar