Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 73
DUA SIFAT UTAMA ALLAH SWT. TANZIHIYYAH DAN TASYBIHIYYAH SEBAGAI “TUHAN
YANG HAKIKI” & HAKIKAT “DUA KALIMAH SYAHADAT” MENOLAK
“KEMUSYRIKAN”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab 72 dikemukakan penjelasan topik Tiga Syarat Cara
Mencapai Tujuan Perjalanan &
Sifat-sifat Utama Tasybihiyah Allah Swt. serta uraian mengenai delapan
sarana yang dijelaskan Masih
Mau’ud a.s. dalam buku beliau yang sangat
terkenal Islami Ushul ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam) bab: Masalah Ketiga “Apa
Tujuan Sebenarnya Manusia Hidup di Dunia dan Bagaimanan cara Mencapainya.” Yaitu bahwa jika
seseorang berkehendak pergi menuju ke satu tempat tujuan ada 3
hal utama yang perlu baginya, yakni:
(1) ia harus mengetahui letak posisi atau arah tempat yang akan didatanginya
tersebut.
(2) ia harus bergerak menuju arah yang benar berkenaan letak
tempat yang akan didatanginya
tersebut.
(3) ia harus mengetahui keadaan
medan perjalanan yang akan
ditempuhnya.
Apabila ketiga syarat
-- bahkan pun salah satu dari ketiga
syarat tersebut -- tidak
dipenuhi maka sampai kapan pun ia
tidak akan dapat sampai ke tempat
yang hendak ditujunya tersebut.
Contohnya, jika tempat yang hendak dituju seseorang letaknya di sebelah barat, tetapi ia bergerak ke arah sebaliknya yakni ke arah
timur, atau bergerak ke arah utara
atau ke arah selatan, maka sampai kapan
pun ia tidak akan pernah sampai ke tempat
yang hendak ditujunya tersebut.
Demikian pula jika ia mengetahui arah serta posisi tempat yang hendak ditujunya tetapi tidak berusaha bergerak ke arah
tempat tersebut ia tidak akan pernah
sampai ke tempat tersebut.
Begitu pula sekali pun ia mengetahui arah yang benar dan bergerak menuju arah tujuan yang benar, tetapi ia tidak mengetahui keadaan medan perjalanan yang penuh
dengan rintangan dan tantangan maka mungkin ia tidak akan sampai ke tempat tujuan perjalanan yang akan
dilakukannya. Jadi, betapa pentingnya
mengetahui ketiga syarat tersebut.
Ada pun dalam masalah agama
(ruhani) yang dimasud dengan tempat
yang hendak dituju dalam perjalanan
yang dilakukan adalah perjalanan
menuju “pertemuan” dengan Allah Swt.
karena merupakan tujuan utama segala bentuk
“perjalanan” (suluk) manusia menuju “perjumpaan”
dengan Allah Swt. sebagaimana
firman-Nya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan
sesungguhnya kepada-Nya-lah kami kembali” (Al-Baqarah [2]:157).
Ada pun arti mengetahui “arah yang benar” adalah memiliki pengetahuan yang benar tentang segala sesuatu, dalam masalah agama yang dimaksud dengan
mengetahui “arah yang benar” adalah
memiliki makrifat (pengetahuan)
tentang berbagai petunjuk atau informasi yang terkandung dalam agama
(kitab suci) – terutama ajaran Islam
( Al-Quran) karena merupakan agama
(kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4) --
terutama sekali mengenai makrifat
Ilahi yang menjadi tujuan
perjalanan.
Sifat Tanzihiyyah
dan Sifat Tasybihiyyah Allah Swt.
Salah satu contoh informasi mengenai
makrifat Ilahi adalah berkenaan
Sifat Tasybihiyyah dan Sifat Tanzihiyyah Allah Swt. yang
sempurna adalah yang dikemukakan dalam
surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlash, sehingga dengan memahaminya maka manusia dalam
melaksanakan peribadahan ia tidak
akan mempertuhankan apa pun selain Allah Swt., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ﴿a﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ
اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Segala puji hanya bagi Allah,
Rabb (Tuhan) seluruh
alam, Maha
Pemurah, Maha Pe-nyayang, Pemilik
Hari Pembalasan. Hanya
Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya
kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. Tunjukilah
kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula jalan
mereka yang sesat. (Al-Fatihah
[1]:1-7).
Empat Sifat utama Tasybihiyyah Allah Swt. – yaitu Sifat-sifat
Allah Swt. yang sampai batas tertentu dimiliki juga oleh makhluk-Nya, terutama manusia
-- adalah Rabbubiyat (Maha Pencipta dan Pengayom), Rahmāniyat (Maha Pemurah), Rahīmiyat (Maha Penyayang), dan Māliki Yaumid-dīn (Pemilik Hari
Pembalasan).
Ada pun Sifat-sifat Tanzihiyyah – yakni Sifat-sifat yang khusus hanya dimiliki Allah
Swt. --
dikemukakan antara lain dalam
surah Al-Ikhlash dan ayat kursiy, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ
اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ
الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan,
وَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ
کُفُوًا اَحَدٌ ٪ -- Dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Firman-Nya
lagi:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ
اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی
السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ عِنۡدَہٗۤ اِلَّا ِاِذۡنِہٖ ؕ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ
وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ۚ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ
بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ
وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾
Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia Yang
Maha Hidup, Yang Maha Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan
Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyentuh-Nya dan tidak pula tidur. Kepunyaan-Nya apa pun yang ada
di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi. Siapakah
yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya? Dia mengetahui apa pun yang ada di hadapan
mereka dan apa pun di belakang
mereka, dan mereka tidak meliputi
sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa
yang Dia kehendaki. وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ -- Singgasana ilmu-Nya meliputi
seluruh langit dan bumi, dan tidak memberatkan-Nya menjaga keduanya,
dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung. (Al-Baqarah
[2]:256).
Semua Sifat-sifat Allah Swt. yang yang dikemukakan dalam semua surah
Al-Quran lainnya merupakan rincian
dari kedua macam Sifat-sifat utama
Allah Swt. tersebut, contohnya dalam firman-Nya berikut ini:
ہُوَ اللّٰہُ الَّذِیۡ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ
الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ الرَّحۡمٰنُ
الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ ہُوَ
اللّٰہُ الَّذِیۡ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ
الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ الۡمُؤۡمِنُ
الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ
الۡجَبَّارُ الۡمُتَکَبِّرُ ؕ
سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ اللّٰہُ الۡخَالِقُ
الۡبَارِئُ الۡمُصَوِّرُ لَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ
وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia,
Mengetahui yang gaib dan yang nampak,
Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang. Dia-lah
Allah Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Maha Berdaulat, Yang Maha
Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpahan keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk,
Maha Agung. سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ -- Maha
Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi
bentuk, لَہُ
الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰ -- milik
Dia-lah semua nama yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ مَا فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Bertasbih kepada-Nya segala yang ada di seluruh
langit dan bumi وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Hasyr [59]:23-25).
Pentingnya Memahami “Dua Kalimah Syahadat” & Kesia-sian Menyembah Sesuatu Selain Allah Swt.
Itulah rincian mengenai Sifat-sifat
sempurna Allah Swt. yang dikemukakan
dalam kalimat pertama Dua Kalimah
Syahadat, dan dari seluruh makhluk
Allah Swt. – bahkan di kalangan para rasul
Allah – manusia yang paling sempurna
dalam menyerap serta memperagakan Sifat-sifat Tasybihiyah Allah Swt. adalah Nabi Besar Muhammad saw. sehingga Allah Swt. mengabadikannya berupa Dua
Kalimah Syahadat:
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَ
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
“Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan
yang berhak disembah selain Allah,
dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Jadi, memiliki makrifat Ilahi yang benar mengenai “Tuhan yang Hakiki”-- yakni Allah
Swt. – sebagaimana yang dikemukakan dalam Kitab suci Al-Quran tersebut sangat penting – bahkan yang paling utama dan paling penting – sebab jika keliru
memahami Tuhan Sembahan yang hakiki serta melakukan kemusyrikan maka “tuhan-tuhan palsu” yang disembahnya tidak akan memberikan manfaat mau pun kerugian apa pun bagi para penyembahnya, sebagaimana firman-Nya:
لَہٗ دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ
کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ -- melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua
tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ
الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ
ضَلٰلٍ -- dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi
dengan rela atau tidak
rela dan demikian juga
bayangan-bayangan mereka pada setiap
pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d [13]:15-16). Ungkapan لَہٗ
دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ -- “bagi Dia-lah seruan
yang haq (benar)” diterjemahkan
sebagai berikut: (1) Allah Swt.
sajalah yang layak disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt.
sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia; (3) suara Allah Swt. sajalah
yang berkumandang untuk mendukung
kebenaran; dan (4) suara Allah
Swt. sajalah yang akan unggul.
Makna ayat: وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ -- “dan mereka
yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air supaya sampai
ke mulutnya, tetapi itu tidak akan
sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ -- “dan
tidaklah doa orang-orang kafir itu
melainkan sia-sia belaka.“ Makna ayat tersebut bahwa jalan
yang benar untuk mendapat sukses
dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan
kepada Allah Swt. kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kedudukan
kepada makhluk-makhluk-Nya yang mereka berhak memilikinya sebagai
makhluk (ciptaan). Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
Segala Sesuatu di Alam Semesta
Tunduk-patuh Kepada Allah Swt.
Makna ayat: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- “Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi
dengan rela atau tidak
rela dan demikian juga
bayangan-bayangan mereka pada setiap
pagi dan petang hari.” Ayat ini mengandung satu kebenaran yang agung,
yaitu bahwa segala sesuatu yang
dijadikan (diciptakan) Allah Swt. mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum
alam yang diadakan oleh Allah Swt..
Lidah harus melaksanakan tugas
mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar.
Tunduknya segala sesuatu ciptaan
Allah Swt. kepada hukum-hukum alam -- yang juga merupakan bagian dari Kehendak-Nya -- itu dapat disebut
sebagai dipaksakan.
Tetapi manusia diberi juga kebebasan
tertentu untuk berbuat, di mana ia
dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan
dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk
melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan,
ia sedikit-banyak harus tunduk kepada
paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum Allah
Swt. dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
Kata-kata:
طَوۡعًا
وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang”
dapat juga mengisyaratkan kepada dua
golongan manusia, ialah, orang-orang
beriman yang secara ikhlas tunduk
kepada Allah Swt. serta menyelaraskan keinginannya dengan Kehendak Allah Sw. – baik Kehendak Allah Swt. berupa hukum syariat mau pun hukum alam -- dan orang-orang
kafir yang menaati hukum-hukum Allah Swt. dengan menggerutu (tidak ikhlas/terpaksa).
Mengenai kekeliruan orang-orang musyrik melakukan penyembahan terhadap sesuatu
selain Allah Swt. dalam surah lainnya Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ
مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا
قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia,
suatu tamsil telah dikemukakan maka
dengarlah tamsil itu. Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat,
walau pun mereka itu bergabung untuk
itu. Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali
dari lalat itu. ضَعُفَ
الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat
lemah yang meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya
Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).
Ayat 74
menerangkan
kepada orang-orang kafir bahwa “tuhan-tuhan
sembahan” mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan itu,
sebagaimana yang dikatakan Nabi Ibrahim
a.s. terhadap kaumnya yang menyembah
patung-patung berhala yang mereka
buat sendiri (QS.6:75-85; QS.19:42-51; QS.21:52-74; QS.26:70-90).
Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat
mereka sendiri ke tingkat yang begitu
rendah, hingga mereka menyembah
patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu —
menunjukkan, bahwa mereka mempunyai
anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan
dan Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq
Yang Agung, Allah Swt.: مَا
قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- “Mereka
sekali-kali tidak dapat menilai
kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya,
sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.”
Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui
adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul
dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat
Tuhan itu terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia.
Selanjutnya Allah Swt.
menjelaskan mengenai siapa dan bagaimana keadaan “Tuhan
Yang Hakiki” yang harus disembah
manusia itu, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَنۡ
رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ
لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ
تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!”
Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan
untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan
orang-orang yang melihat?
Atau samakah gelap dan terang? Atau apakah mereka
itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah
menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga
kedua jenis ciptaan itu nampak
serupa saja bagi mereka?”
Katakanlah: “Hanya Allah yang
telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah
Yang Maha Esa, Maha
Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).
Ungkapan لَہٗ
دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ -- “bagi Dia-lah seruan
yang haq (benar)” diterjemahkan
sebagai berikut: (1) Allah Swt.
sajalah yang layak disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt.
sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia; (3) suara Allah Swt. sajalah
yang berkumandang untuk mendukung
kebenaran; dan (4) suara Allah
Swt. sajalah yang akan unggul.
Ketidak-berdayaan
Berhala-berhala Sembahan Orang-orang Musyrik
& Segala Sesuatu di Alam
Semesta Tunduk-patuh Kepada Allah
Swt.
Makna ayat: وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ -- “dan mereka
yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air supaya sampai
ke mulutnya, tetapi itu tidak akan
sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ -- “dan
tidaklah doa orang-orang kafir itu
melainkan sia-sia belaka.“
Makna ayat tersebut bahwa jalan
yang benar untuk mendapat sukses
dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan
kepada Allah Swt. kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kedudukan
kepada makhluk-makhluk-Nya yang mereka berhak memilikinya sebagai
makhluk (ciptaan). Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
Kemudian makna ayat: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- “Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi
dengan rela atau tidak
rela dan demikian juga
bayangan-bayangan mereka pada setiap
pagi dan petang hari.” Ayat ini mengandung satu kebenaran yang agung,
yaitu bahwa segala sesuatu yang
dijadikan (diciptakan) Allah Swt. mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum
alam yang diadakan oleh Allah Swt..
Lidah harus melaksanakan tugas
mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar.
Tunduknya segala sesuatu ciptaan
Allah Swt. kepada hukum-hukum alam -- yang juga merupakan bagian dari Kehendak-Nya -- itu dapat disebut
sebagai dipaksakan.
Tetapi manusia diberi juga kebebasan
tertentu untuk berbuat, di mana ia
dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan
dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk
melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan,
ia sedikit-banyak harus tunduk kepada
paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum Allah
Swt. dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
Kata-kata:
طَوۡعًا
وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang”
dapat juga mengisyaratkan kepada dua
golongan manusia, ialah, orang-orang
beriman yang secara ikhlas tunduk
kepada Allah Swt. serta menyelaraskan keinginannya dengan Kehendak Allah Sw. – baik Kehendak Allah Swt. berupa hukum syariat mau pun hukum alam -- dan orang-orang
kafir yang menaati hukum-hukum Allah Swt. dengan menggerutu (tidak ikhlas/terpaksa).
Mengenai kekeliruan orang-orang musyrik melakukan penyembahan terhadap sesuatu
selain Allah Swt. dalam surah lainnya Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ
مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا
قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia,
suatu tamsil telah dikemukakan maka
dengarlah tamsil itu. Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat,
walau pun mereka itu bergabung untuk
itu. Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali
dari lalat itu. ضَعُفَ
الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat
lemah yang meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya
Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
30 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar