Jumat, 02 Desember 2016

Dua Sifat Utama "Tanzihiyyah" dan Tasybihiyyah" Allah Swt. Sebagai "Tuhan yang Hakiki" & Hakikat "Dua Kalimah Syahadat" Menolak "Kemusyrikan"



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  73  

DUA SIFAT UTAMA ALLAH SWT.   TANZIHIYYAH DAN TASYBIHIYYAH SEBAGAI “TUHAN YANG HAKIKI” &  HAKIKAT “DUA KALIMAH SYAHADAT MENOLAK “KEMUSYRIKAN”

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   Bab 72 dikemukakan   penjelasan  topik  Tiga Syarat Cara Mencapai Tujuan Perjalanan & Sifat-sifat  Utama Tasybihiyah  Allah Swt. serta uraian mengenai delapan sarana yang dijelaskan Masih Mau’ud a.s.   dalam buku beliau yang sangat terkenal Islami Ushul ki  Filasafi  (Falsafah Ajaran Islam) bab:  Masalah Ketiga  Apa Tujuan Sebenarnya Manusia Hidup di Dunia dan Bagaimanan cara Mencapainya.  Yaitu bahwa jika seseorang  berkehendak pergi menuju ke satu tempat tujuan   ada 3   hal utama yang perlu baginya, yakni:
      (1) ia harus mengetahui letak posisi atau arah tempat  yang akan didatanginya tersebut.
      (2) ia harus bergerak menuju arah yang benar  berkenaan letak tempat yang akan didatanginya tersebut.
       (3) ia harus mengetahui keadaan  medan  perjalanan yang akan ditempuhnya.
Apabila  ketiga  syarat  -- bahkan pun salah satu dari ketiga syarat  tersebut  --   tidak dipenuhi maka sampai kapan pun ia tidak akan dapat sampai ke tempat yang hendak ditujunya tersebut.
        Contohnya, jika tempat  yang hendak dituju seseorang  letaknya di sebelah barat, tetapi ia  bergerak ke arah sebaliknya  yakni  ke arah  timur, atau bergerak  ke arah utara atau ke arah selatan, maka sampai kapan pun ia tidak akan pernah sampai ke tempat yang hendak ditujunya tersebut.
       Demikian pula jika ia   mengetahui  arah serta posisi  tempat yang hendak ditujunya tetapi tidak berusaha bergerak ke  arah tempat tersebut ia tidak akan pernah sampai ke tempat tersebut.
         Begitu pula sekali pun ia mengetahui arah yang benar dan  bergerak menuju arah tujuan yang benar, tetapi ia tidak mengetahui keadaan medan perjalanan yang penuh  dengan rintangan dan tantangan  maka mungkin ia tidak akan sampai ke tempat tujuan perjalanan yang akan dilakukannya.  Jadi, betapa pentingnya mengetahui  ketiga syarat tersebut.
       Ada pun  dalam  masalah agama (ruhani) yang dimasud dengan tempat yang hendak dituju  dalam perjalanan yang dilakukan adalah perjalanan menuju “pertemuan” dengan Allah Swt. karena    merupakan tujuan utama   segala bentuk “perjalanan” (suluk) manusia  menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt. sebagaimana firman-Nya:    “Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali” (Al-Baqarah [2]:157).
        Ada pun arti mengetahui “arah yang benar” adalah memiliki pengetahuan yang benar  tentang segala sesuatu, dalam masalah agama yang dimaksud dengan mengetahui “arah yang benar” adalah memiliki makrifat (pengetahuan) tentang  berbagai petunjuk atau informasi  yang terkandung dalam   agama (kitab suci) – terutama ajaran Islam ( Al-Quran) karena  merupakan agama  (kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4)  --   terutama sekali mengenai makrifat Ilahi yang menjadi tujuan perjalanan.

Sifat Tanzihiyyah dan Sifat Tasybihiyyah Allah Swt.

        Salah satu contoh informasi mengenai  makrifat Ilahi adalah berkenaan Sifat Tasybihiyyah dan Sifat Tanzihiyyah Allah Swt. yang sempurna adalah yang  dikemukakan dalam surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlash, sehingga dengan memahaminya maka manusia dalam melaksanakan peribadahan ia tidak akan mempertuhankan apa pun selain Allah Swt., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ     ۙ﴿﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕؕ﴿﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ  ﴿aاِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾                                           
Aku baca dengan  nama  Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala  puji hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan)  seluruh alam,   Maha Pemurah,  Maha Pe-nyayang,   Pemilik Hari   Pembalasan.   Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.  Tunjukilah kami   jalan yang lurus.  Yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,  bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat.  (Al-Fatihah [1]:1-7).
        Empat Sifat utama Tasybihiyyah Allah Swt.   – yaitu Sifat-sifat Allah Swt. yang sampai batas tertentu dimiliki juga oleh makhluk-Nya, terutama manusia  -- adalah Rabbubiyat  (Maha Pencipta dan Pengayom), Rahmāniyat (Maha Pemurah), Rahīmiyat (Maha Penyayang), dan Māliki Yaumid-dīn (Pemilik Hari Pembalasan).
       Ada pun  Sifat-sifat Tanzihiyyah – yakni Sifat-sifat yang khusus hanya dimiliki Allah Swt.   --  dikemukakan antara lain dalam  surah Al-Ikhlash dan ayat kursiy, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah:  Dia-lah  Allah Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya. لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --     Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,    وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪  -- Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Firman-Nya lagi:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا   ِاِذۡنِہٖ ؕ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  ۚ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ  الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾
Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia   Yang Maha Hidup, Yang  Maha Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyentuh-Nya dan tidak pula tidur. Kepunyaan-Nya  apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun  yang ada di bumi.  Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya?  Dia mengetahui apa pun yang ada di hadapan mereka dan apa pun di belakang mereka, dan mereka tidak meliputi sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ --  Singgasana ilmu-Nya meliputi seluruh langit dan bumi,  dan tidak memberatkan-Nya menjaga keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung. (Al-Baqarah [2]:256).
       Semua Sifat-sifat Allah Swt. yang yang dikemukakan dalam  semua surah Al-Quran lainnya merupakan rincian dari kedua macam Sifat-sifat utama Allah Swt. tersebut, contohnya dalam firman-Nya berikut ini:
ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ ۚ ہُوَ  الرَّحۡمٰنُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الَّذِیۡ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ۚ اَلۡمَلِکُ الۡقُدُّوۡسُ السَّلٰمُ  الۡمُؤۡمِنُ الۡمُہَیۡمِنُ الۡعَزِیۡزُ  الۡجَبَّارُ  الۡمُتَکَبِّرُ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ اللّٰہُ  الۡخَالِقُ الۡبَارِئُ  الۡمُصَوِّرُ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰی ؕ یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿٪﴾
Dia-lah Allah, Yang tidak ada tuhan kecuali Dia,  Mengetahui yang gaib dan yang nampak, Dia Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Dia-lah Allah Yang tidak ada tuhan kecuali Dia, Maha Berdaulat, Yang Maha Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpahan keamanan, Maha Pelindung, Maha Perkasa, Maha Penakluk, Maha Agung. سُبۡحٰنَ اللّٰہِ عَمَّا  یُشۡرِکُوۡنَ --  Maha Suci Allah  dari apa yang mereka persekutukan.  Dia-lah Allah, Maha Pencipta, Pembuat segala sesuatu, Pemberi bentuk, لَہُ الۡاَسۡمَآءُ  الۡحُسۡنٰ  --   milik Dia-lah semua nama yang terindah. یُسَبِّحُ لَہٗ  مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ --   Bertasbih  kepada-Nya segala yang ada di seluruh langit dan bumi  وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  --  dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Hasyr [59]:23-25).

Pentingnya Memahami “Dua Kalimah Syahadat” &   Kesia-sian Menyembah Sesuatu Selain Allah Swt.

        Itulah rincian mengenai  Sifat-sifat sempurna Allah Swt.  yang dikemukakan dalam kalimat pertama Dua Kalimah Syahadat, dan dari seluruh makhluk Allah Swt. – bahkan di kalangan para rasul Allah – manusia yang paling sempurna dalam menyerap serta memperagakan Sifat-sifat Tasybihiyah Allah Swt. adalah Nabi Besar Muhammad saw. sehingga Allah Swt. mengabadikannya berupa Dua Kalimah Syahadat:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah,
dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah
.
       Jadi, memiliki makrifat Ilahi yang benar mengenai “Tuhan yang Hakiki”-- yakni  Allah Swt. – sebagaimana yang dikemukakan dalam Kitab suci Al-Quran tersebut sangat penting – bahkan yang paling utama dan paling penting – sebab jika keliru memahami Tuhan Sembahan yang hakiki serta melakukan kemusyrikan  maka “tuhan-tuhan palsu” yang disembahnya tidak akan memberikan manfaat mau pun kerugian apa pun bagi para penyembahnya, sebagaimana  firman-Nya:
   لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  --  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ  -- melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ  --  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.    وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ     --  Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d [13]:15-16).        Ungkapan لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ -- “bagi Dia-lah seruan yang haq (benar)”  diterjemahkan sebagai berikut: (1)  Allah Swt.  sajalah yang layak disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt.  sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia; (3) suara Allah Swt.  sajalah yang berkumandang untuk mendukung kebenaran; dan (4) suara Allah Swt.  sajalah yang akan unggul.
       Makna ayat:  وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ  -- “dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya,   وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ   --  “dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.  Makna ayat tersebut bahwa  jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan kepada Allah  Swt.  kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kedudukan kepada makhluk-makhluk-Nya  yang mereka berhak memilikinya sebagai makhluk (ciptaan).  Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.

Segala Sesuatu di Alam Semesta  Tunduk-patuh Kepada Allah Swt.

        Makna ayat: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  -- “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari.” Ayat ini mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan (diciptakan)  Allah Swt.   mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan oleh Allah Swt..  
      Lidah harus melaksanakan tugas mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar. Tunduknya segala sesuatu ciptaan Allah Swt. kepada hukum-hukum alam  -- yang juga merupakan bagian dari Kehendak-Nya -- itu dapat disebut sebagai dipaksakan.
      Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat, di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan, ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum  Allah Swt.   dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
   Kata-kata:  طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, ialah, orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada  Allah Swt. serta menyelaraskan keinginannya dengan Kehendak Allah Sw. – baik Kehendak Allah Swt. berupa hukum syariat mau pun hukum alam  --     dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum  Allah Swt.  dengan menggerutu (tidak ikhlas/terpaksa).
         Mengenai kekeliruan orang-orang musyrik  melakukan penyembahan  terhadap sesuatu selain Allah Swt.   dalam surah lainnya  Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ  -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta.  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).
         Ayat 74   menerangkan kepada orang-orang kafir  bahwa “tuhan-tuhan sembahan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan itu, sebagaimana  yang dikatakan Nabi Ibrahim a.s. terhadap kaumnya yang menyembah patung-patung berhala yang mereka buat sendiri (QS.6:75-85;  QS.19:42-51; QS.21:52-74; QS.26:70-90).
        Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung, Allah Swt.: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.”
        Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan itu terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia.
       Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan mengenai siapa dan bagaimana  keadaan “Tuhan Yang Hakiki” yang harus disembah manusia itu, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah:  ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan    orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).
          Ungkapan لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ -- “bagi Dia-lah seruan yang haq (benar)”  diterjemahkan sebagai berikut: (1)  Allah Swt.  sajalah yang layak disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada Allah Swt.  sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia; (3) suara Allah Swt.  sajalah yang berkumandang untuk mendukung kebenaran; dan (4) suara Allah Swt.  sajalah yang akan unggul.

Ketidak-berdayaan Berhala-berhala Sembahan Orang-orang Musyrik &  Segala Sesuatu di Alam Semesta  Tunduk-patuh Kepada Allah Swt.

        Makna ayat:  وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ  -- “dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya,   وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ   --  “dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.
        Makna ayat tersebut bahwa  jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan kepada Allah  Swt.  kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kedudukan kepada makhluk-makhluk-Nya  yang mereka berhak memilikinya sebagai makhluk (ciptaan).  Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
       Kemudian makna ayat: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  -- “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari.” Ayat ini mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan (diciptakan)  Allah Swt.   mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan oleh Allah Swt..  
       Lidah harus melaksanakan tugas mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar. Tunduknya segala sesuatu ciptaan Allah Swt. kepada hukum-hukum alam  -- yang juga merupakan bagian dari Kehendak-Nya -- itu dapat disebut sebagai dipaksakan.
Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat, di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan, ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum  Allah Swt.   dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
      Kata-kata:  طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, ialah, orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada  Allah Swt. serta menyelaraskan keinginannya dengan Kehendak Allah Sw. – baik Kehendak Allah Swt. berupa hukum syariat mau pun hukum alam  --     dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum  Allah Swt. dengan menggerutu (tidak ikhlas/terpaksa).
      Mengenai kekeliruan orang-orang musyrik  melakukan penyembahan  terhadap sesuatu selain Allah Swt.   dalam surah lainnya  Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ  -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta.  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  30 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar