Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 75
KESEDERHANAAN
FAHAM KEAGAMAAN “ORANG-ORANG ARAB GURUN” & PIDATO BERSEJARAH NABI BESAR MUHAMMAD
SAW. MENGENAI “MAGNA
CHARTA” (PIAGAM PERSAMAAN DAN PERSAUDARAAN UMAT MANUSIA) BERDASARKAN AL-QURAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab 74 dikemukakan topik Mencabut Semua “Akar Kemusyrikan” &
Ajaran “Penebusan Dosa” yang
Hakiki sehubungan dengan surah Al-Ikhlash, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ
۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan,
وَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ
کُفُوًا اَحَدٌ ٪ -- Dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Mencabut Semua Akar Kemusyrikan
Dengan demikian Surah Al-Ikhlash mencabut akar-akar
semua itikad kemusyrikan yang
terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama
lain – yaitu kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak -- dan
kepercayaan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan. Inilah penjelasan definisi
agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi yakni Allah
Swt. seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan
keagungan definisi yang diberikan
oleh Al-Quran.
Demikianlah penjelasan
mengenai makna “arah yang benar” dari “tempat
tujuan” dilakukannya perjalanan sehubungan dengan tiga cara mencapai tujuan perjalanan yang dilakukan
seseorang, baik dalam urusan duniawi
mau pun urusan ruhani (agama), yakni:
(1) ia harus mengetahui letak posisi atau arah tempat yang akan didatanginya
tersebut.
(2) ia harus bergerak menuju arah yang benar berkenaan letak
tempat yang akan didatanginya
tersebut.
(3) ia harus mengetahui keadaan
medan perjalanan yang akan
ditempuhnya.
Sedangkan makna “bergerak ke arah yang benar” adalah
melaksanakan pengetahuannya
yang benar tersebut dalam bentuk amal perbuatan berupa amal shalih yang khasiat-khasiat atau akhibat-akibat baik yang ditimbulkannya telah telah ditetapkan Allah Swt., jika tidak maka
berbagai bentuk ritual yang dilakukan
tidak akan membuahkan manfaat apa pun bagi kehidupan di akhirat
nanti.
Jadi, itulah salah satu makna
firman Allah Swt. bahwa barangsiapa yang mencari agama selain Islam maka tidak
akan diterima darinya dan di akhirat akan termasuk orang-orang yang merugi, firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ
دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی
اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ
اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa
mencari agama yang bukan agama Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ
شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ
جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ -- Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu
kaum yang kafir setelah mereka
beriman, dan mereka telah menjadi
saksi pula bahwa sesungguhnya rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata? وَ اللّٰہُ
لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim (Ali ‘Imran [3]:86-87).
Tentu saja suatu kaum yang mula-mula beriman
kepada kebenaran seorang nabi
(rasul) Allah dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi itu secara terang-terangan dan menjadi saksi
atas Tanda-tanda Ilahi yang mendukung
pendakwaannya, tetapi kemudian menolaknya
karena takut kepada manusia atau karena pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat lagi petunjuk kepada jalan yang
lurus. Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi terdahulu tetapi menolak Nabi Besar Muhammad saw..
Makna “Muslim” dan “Mukmin”yang
Hakiki & “Orang-orang Arab Gurun”
Pendek kata, yang dimaksud dengan
beragama Islam dalam QS.3:86 bukan hanya sekedar menjadi Muslim dari segi identitas
keagamaan belaka (QS.39:17-19),
melainkan benar-benar melaksanakan berusaha
semaksimal mungkin mengamalkan 700 hukum Islam
yang terdapat dalam Al-Quran
sebagaimana yang difahami dan diamalkan Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:32; QS.33:22), sebab jika menjadi
Muslim (orang Islam) sekedar label (sebutan) belaka tidak ada jaminan apa pun dari Allah Swt. seperti janji-Nya
bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ
ؕ کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ
ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ
مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk
mereka ada kebun-kebun yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا -- Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, وَ اُتُوۡا بِہٖ
مُتَشَابِہًا -- akan
diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, -- dan
bagi mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci, dan
mereka akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah
[2]:26).
Berikut pernyataan Allah Swt. bahwa
sekedar berpredikat sebagai “Muslim”
belaka tidak sesuai dengan tujuan Allah Swt. mengutus Nabi Besar Muhammad Saw. sebagai rasul Allah pembawa syariat terakhir dan
tersempurna yaitu agama Islam (Al-Quran – QS.5:4),
firman-Nya:
قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ قُلۡ لَّمۡ
تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ قُوۡلُوۡۤا اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ
فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا
اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ لَا یَلِتۡکُمۡ
مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ
لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصّٰدِقُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ
وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ
شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ
عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Orang-orang Arab gurun berkata: “Kami
telah beriman.” قُوۡلُوۡۤا
اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ -- Katakanlah: “Kamu belum beriman, tetapi
katakanlah: “Kami telah berserah diri’, karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu.” وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ
اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- Tetapi jika
kamu menaati Allah dan Rasul-Nya,
Dia tidak akan mengurangi sesuatu dari
amal-amal kamu, sesungguhnya Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang. اِنَّمَا
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ
لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ -- Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang
yang beriman ke-pada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian tidak ragu-ragu dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka
di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الصّٰدِقُوۡنَ -- Mereka itulah orang-orang yang benar. قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ
مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ
شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal Allah
mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ -- Mereka
mengira telah memberi anugerah kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا
عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ -- Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islaman kamu, ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ
عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ
-- bahkan Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap
kamu karena Dia telah memberi kamu
petunjuk kepada iman, jika kamu
orang-orang yang benar.” اِنَّ اللّٰہَ
یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh
langit dan bumi. وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
(Al-Hujurāt
[49]:15-19).
Kesederhanan Faham
Keagamaan “Muslim” Golongan Awam (Umum) yang Rawan “Diprovokasi”
Makna ayat 15: قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ -- Orang-orang
Arab gurun berkata: “Kami telah
beriman.” قُوۡلُوۡۤا
اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ -- Katakanlah: “Kamu belum beriman, tetapi
katakanlah: “Kami telah berserah diri’, karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu,” bahwa sekalian Muslim
(orang Islam) merupakan bagian tidak terpisahkan dari persaudaraan dalam Islam,
sebagaimana firman-Nya:
اِنَّمَا
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَۃٌ فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَ اَخَوَیۡکُمۡ وَ اتَّقُوا
اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah
di antara kedua saudara kamu, dan
bertakwalah kepada Allah supaya kamu dikasihani. (Al-Hujurāt [49]:11).
Ayat ini secara khusus menekankan pada pentingnya ukhuwah islamiyah –
“persaudaraan dalam Islam”. Sekiranya
timbul pertengkaran atau perselisihan
di antara dua orang atau dua golongan Muslim maka hendaknya orang-orang
Islam lainnya yang memahami ajaran
Islam (Al-Quran) dianjurkan
segera mengambil langkah supaya
mendatangkan ishlah atau perdamaian
di antara mereka. Sebab kekuatan hakiki
agama Islam dan umat Islam terletak pada persaudaraan
ideal, yang mengatasi segala
hambatan kelas, warna kulit atau iklim.
Kesederhanaan pemahaman ajaran
Islam (Al-Quran) -- terlebih lagi jika disertai dengan kelemahan dalam segi ekonomi -- di kalangan umat Islam (Muslim) golongan
“awam” tersebut sangat mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab demi kepentingan duniawi dirinya atau golongannya, firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا
لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّبِعُوۡا سَبِیۡلَنَا وَ لۡنَحۡمِلۡ خَطٰیٰکُمۡ ؕ وَ مَا
ہُمۡ بِحٰمِلِیۡنَ مِنۡ خَطٰیٰہُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ اِنَّہُمۡ لَکٰذِبُوۡنَ ﴿﴾ وَ
لَیَحۡمِلُنَّ اَثۡقَالَہُمۡ وَ اَثۡقَالًا مَّعَ اَثۡقَالِہِمۡ ۫ وَ
لَیُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ عَمَّا کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪ ﴾
Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: اتَّبِعُوۡا سَبِیۡلَنَا وَ لۡنَحۡمِلۡ
خَطٰیٰکُمۡ -- “Ikutilah jalan kami dan
kami akan menanggung dosa-dosa
kamu.” Padahal mereka tidak dapat
memikul dosa-dosa mereka
itu sedikit pun, se-sungguhnya mereka
itu benar-benar pendusta. Dan niscaya mereka akan memikul beban mereka
dan beban orang lain beserta
beban mereka, dan pada Hari
Kiamat niscaya mereka akan diperiksa tentang apa
yang telah mereka ada-adakan (Al-Ankabūt [29]:13-14).
Selain orang-orang munafik yang dikemukakan dalam ayat 11-12 sebelumnya, ada lagi golongan lain -- yakni gembong-gembong kekafiran yang agresip
-- dengan menyalahgunakan kedudukan
dalam masyarakat, mereka berusaha menyesatkan orang-orang lain yang tidak begitu tinggi kedudukannya dalam masyarakat dengan mengatakan kepada
mereka bahwa mereka akan menanggung segala kerugian yang akan diderita mereka itu sebagai akibat mengikuti pimpinan mereka dan menolak
rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. (QS.7:35-37).
Persamaan Bani Isma’il (Umat Islam)
dengan Bani Israil (Ahli-Kitab)
Oleh karena itu jika sepeninggal Nabi Besar Muhammad saw. dan para Khilafatur Rasyidah kemudian
di kalangan umat Islam muncul
berbagai macam sekte
(firqah) dan pembagian “kasta” yang tidak disunnahkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan tidak
diamalkan oleh para Khulafatur
Rasyidah -- seperti yang terjadi di Akhir Zaman ini (QS.6:160; QS.30:31-33) -- termasuk munculnya sekelompok “golongan khusus” yang juga
pernah terjadi di kalangan golongan Ahli
Kitab -- maka kenyataan tersebut merupakan sempurnanya sabda Nabi Besar Muhammad
saw. mengenai akan terjadinya persamaan antara Bani Israil dengan Bani
Isma’il, baik dari segi yang positif mau pun yang negative,
firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ وَ النَّصٰرٰی
نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا اللّٰہِ وَ اَحِبَّآؤُہٗ ؕ قُلۡ فَلِمَ
یُعَذِّبُکُمۡ بِذُنُوۡبِکُمۡ ؕ بَلۡ اَنۡتُمۡ
بَشَرٌ مِّمَّنۡ خَلَقَ ؕ یَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ۫ وَ
اِلَیۡہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi serta Nasrani berkata: نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا اللّٰہِ وَ اَحِبَّآؤُہٗ -- ”Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya." قُلۡ فَلِمَ یُعَذِّبُکُمۡ
بِذُنُوۡبِکُمۡ --
Katakanlah: “Jika benar demikian mengapa
Dia mengazab kamu karena dosa-dosa
kamu بَلۡ اَنۡتُمۡ
بَشَرٌ مِّمَّنۡ خَلَقَ --Tidak, bahkan kamu adalah manusia-manusia biasa dari antara mereka yang telah Dia ciptakan.
یَغۡفِرُ لِمَنۡ
یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ -- Dia
mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan Dia mengazab siapa yang Dia kehendaki." وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ
مَا بَیۡنَہُمَا ۫ وَ اِلَیۡہِ الۡمَصِیۡرُ -- Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan seluruh langit dan bumi dan
apa pun yang ada di antara keduanya,
dan kepada-Nya-lah kembali segala sesuatu. (Al-Māidah
[5]:19).
Menurut
Allah Swt. bahwa dalam ajaran Islam (Al-Quran) dari segi keruhanian hanya ada 4 golongan martabat ruhani yaitu: nabi;
shidiq, syahid, dan shalih
(QS.4:70), karena menurut Allah Swt. kemuliaan manusia di hadirat-Nya ditentukan oleh tingkatan ketakwaan mereka
kepada Allah Swt. (QS.49:14)
bukan karena ada atau tidak adanya hubungan nasab (keturunan) dengan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ
شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ
﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami
telah menciptakan kamu dari la-ki-laki dan perempuan, وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ
لِتَعَارَفُوۡا -- dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ -- Sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu
di sisi Allah ialah yang paling
bertakwa di antara kamu. اِنَّ
اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ --
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt [49]:14).
“Magna Charta”
(Piagam Persamaan dan Persaudaraan Umat Manusia) & Pancasila
dan “Bhineka Tunggal Ika” - Pengikat Kesatuan dan Persatuan di NKRI.
Sesudah membahas masalah persaudaraan dalam Islam pada
dua ayat sebe-lumnya, ayat ini meletakkan dasar persaudaraan yang melingkupi
dan meliputi seluruh umat manusia, sebab pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. di
kalangan bangsa Arab (QS.62:3)bukan
hanya untuk bangsa Arab saja
melainkan untuk seluruh umat manusia
(QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; 34:29),
demikian juga ajaran Islam (Al-Quran).
Pada hakikatnya, ayat
tersebut merupakan “Magna
Charta” - piagam persau-daraan
dan persamaan umat manusia. Ayat ini menumbangkan
rasa dan sikap lebih unggul semu
lagi bodoh, yang lahir dari keangkuhan rasial atau kesombongan nasional. Karena umat manusia sama-sama diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, maka sebagai makhluk manusi
semua orang telah dinyatakan sama dalam pandangan Allah Swt..
Harga
seseorang tidak dinilai oleh warna
kulitnya, jumlah harta miliknya,
oleh pangkatnya atau kedudukannya dalam masyarakat, keturunan atau asal-usulnya, melainkan oleh keagungan
akhlaknya dan oleh caranya
melaksanakan kewajiban kepada Allah Swt. (huququllāh) dan manusia (huququl- ‘ibād): اِنَّ
اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ – “sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu
di sisi Allah ialah yang paling
bertakwa di antara kamu.” (Al-Hujurāt [49]:14).
Seluruh keturunan manusia tidak lain
hanya suatu keluarga belaka.
Pembagian suku-suku bangsa, bangsa-bangsa dan rumpun-rumpun bangsa dimaksudkan untuk memberikan kepada mereka saling pengertian yang lebih baik, terhadap satu-sama lain agar mereka dapat saling mengambil manfaat dari kepribadian serta sifat-sifat baik bangsa-bangsa atau suku-suku bangsa itu
masing-masing.
Dari segi ini, اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ
(segala puji bagi Allah, Rabb (Tuhan) seluruh
alam), di NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia) walau pun keberagaman suku-suku, agama, kepercayaan, budaya serta adat-istiadat yang jumlahnya sangat banyak, tetapi berkat karunia Allah Swt. keadaannya
terikat erat dalam NKRI; UUD 45; PANCASILA
dan BHINEKA TUNGGAL IKA,
sehingga benar-benar merupakan
suatu anugerah sangat besar dari Allah Swt.
harus senantiasa disyukuri dengan cara bersyukur yang hakiki (QS.14:8), karena
betapa di Akhir Zaman ini hal
tersebut tidak terjadi di kawasan Timur Tengah
-- tempat lahirnya Nabi Besar
Muhammad saw. dan ajaran Islam
(Al-Quran – QS.2:128-130; QS.62:3)
-- kecuali di masa
Nabi Besar Muhammad saw. dan di masa para Khalifatul-Rasyidah yang penuh berkat
yakni pada masa kejayaan Islam yang pertama, yang
kemudian setelah 3 abad masa
kejayaan yang pertama tersebut umat
Islam mengalami masa kemunduran berangsur-angsur selama 1000 tahun hingga saat ini,
firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah
itu akan naik kepada-Nya dalam satu
hari, yang hitungan lamanya seribu
tahun dari apa yang kamu hitung.
(As-Sajdah [31]:6).
Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba
sangat hebat yang ditakdirkan akan
menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa
kemajuan dan kesejahteraan yang
mantap selama 3 abad pertama
kehidupannya.
Masa Kemunduran Islam
Selama 1000 Tahun Setelah 3 Abad Masa Kejayaan yang Pertama &
“Pidato Bersejarah” Nabi Besar Muhammad Saw. Pada Hajji Wada (Haji Terakhir)
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat). Islam mulai
mengalami kemunduran secara
bertahap sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya.
Peristiwa kemunduran
dan kemerosotannya ber-langsung dalam
masa 1000 tahun berikutnya. Kepada
masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- “Kemudian
perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu
tahun.”
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda sehubungan tafsir surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 mengenai makna pengutusan kedua kali beliau
secara ruhani yang diisyaratkan dalam ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “Dan juga akan
membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara me-reka, yang belum bertemu
dengan me-reka.3046 Dan Dia-lah Yang Maha Per-kasa, Maha Bijaksana.”
Ketika Abu Hurairah r.a.
menanyakan makna ayat tersebt kepada Nabi Besar Muhammad saw. berulang kali,
sambil memegang tubuh Salman Al-Farisi
r.a. beliau saw. menjelaskan bahwa “iman
akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan
mengembalikannya ke bumi” (Bukhari,
Kitab-ut-Tafsir).
Dengan
kedatangan Masih Mau’ud a.s. dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotan yang menimpa Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini kembali mulai berlaku sesuai firman-Nya dalam (QS.61:10). Selengkapnya ayat-ayat surah Al-Jumu’ah tersebut adalah:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿۲﴾ وَّ
اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا
بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Yang
telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan
kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ -- walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata,
وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
(Al-Jumu’ah
[62]:3-4).
Kembali kepada firman Allah Swt. dalam
surah Al-Hujurat ayat 14 mengenai “Magna Charta” (Piagam Persamaan dan Persaudaraan Umat Manusia), pada
peristiwa Hajj terakhir (Hajji
Wada)di Mekkah, tidak lama sebelum Nabi Besar Muhammad saw. wafat,
beliau saw. khutbah di hadapan sejumlah besar orang-orang Muslim dengan mengatakan:
“Wahai sekalian manusia! Tuhan kamu itu Esa dan bapak-bapak
kamu satu jua. Seorang orang Arab tidak mempunyai
kelebihan atas orang-orang non Arab.
Seorang kulit putih sekali-kali tidak
mempunyai kelebihan atas orang-orang
berkulit merah, begitu pula sebaliknya,
seorang kulit merah tidak mempunyai
kelebihan apa pun di atas orang
berkulit putih melainkan kelebihannya
ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan
kewajibannya terha-dap Allah dan manusia. اِنَّ اَکۡرَمَکُمۡ عِنۡدَ اللّٰہِ اَتۡقٰکُمۡ – “sesungguhnya yang
paling mulia di antara kamu
di sisi Allah ialah yang paling
bertakwa di antara kamu (Baihaqi).
Sabda agung Nabi Besar Muhammad
saw. ini menyimpulkan cita-cita paling
luhur dan asas-asas paling kuat.
Di tengah suatu masyarakat yang terpecah-belah dalam kelas-kelas yang berbeda itulah beliau
saw. mengajarkan asas yang sangat demokratis.
Tanda-tanda “Orang-orang Beriman” (Mukmin) Hakiki
Jadi, kembali kepada surah Al-Hujurāt ayat 15 mengenai
jawaban Allah Swt. menanggapi perkataan
“orang-orang Arab gurun”: اٰمَنَّا -- “Kami telah beriman” قُوۡلُوۡۤا
اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ -- Katakanlah: “Kamu belum beriman, tetapi
katakanlah: “Kami telah berserah diri’, karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu.” (Al-Hujurāt [49]:15).
Dengan demikian jelaslah bahwa menurut Allah Swt. terdapat perbedaan antara “Muslim” dengan “Mukmin” sebagaimana lanjutan ayat tersebut: وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ
اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- Tetapi jika
kamu menaati Allah dan Rasul-Nya,
Dia tidak akan mengurangi sesuatu dari
amal-amal kamu, sesungguhnya Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang. اِنَّمَا
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ -- Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا
بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ
-- kemudian tidak ragu-ragu dan terus
berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah” (Al-Hujurāt [49]:15-16).
Makna surah Al-Hujurāt ayat
15-16 bahwa ajaran Islam (Al-Quran)
memberikan hak yang sama kepada putra-putra
padang pasir buta huruf dan biadab,
seperti halnya kepada penduduk kota kecil
maupun kota besar yang beradab dan berbudaya, hanya saja oleh Islam
(Al-Quran) dianjurkan kepada mereka
yang disebut pertama (orang-orang Arab gurun) atau orang-orang Islamn
(Muslim) golongan awam (umum), agar mereka berusaha
lebih keras untuk belajar dan meresapkan ke dalam dirinya ajaran Islam (Al-Quran) yang hakiki dan membuat ajaran-ajaran itu menjadi pedoman
hidup mereka, sehingga mereka pun layak menjadi “Khayru ummah” (umat terbaik) yang dijadikan untuk manfaat
seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111) sebagaimana pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108).
Lebih lanjut Allah Swt. berfirman bagaimana tanda-tanda dari “mukmin”
(orang-orang beriman) yang hakiki tersebut: اِنَّمَا
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ -- sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya, ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ
اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ -- kemudian tidak
ragu-ragu dan terus berjihad dengan
harta dan jiwa mereka di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصّٰدِقُوۡنَ --
Mereka itulah orang-orang yang benar.”
(Al-Hujurāt
49]:16).
Merasa Telah “Memberi Jasa” Kepada Allah
Swt. dan Rasul Allah
Lebih lanjut Allah Swt. memberi pengertian kepada “Muslim” (orang-orang Islam)
dari kalangan “Arab gurun”
yang berfikiran sederhana
tersebut dan yang merasa bangga dengan “ke-Muslim-an”
mereka itu, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.: قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ -- Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal Allah
mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- Dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hujurāt [49]:17).
Allah Swt. adalah Tuhan
Yang Maha Mengetahui bukan saja yang bersifat sirr (tersembunyi) mengenai
apa pun terdapat dada (hati) manusia, bahkan juga Dia pun Maha
Mengetahui yang akhfa (lebih
tersembunyi) – bagaimana pun rapinya rekayasa
yang dilakukan manusia dalam upaya penyembunyian yang dilakukannya (QS.20:8) -- firman-Nya:
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ
مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا وَ مَا
تَحۡتَ الثَّرٰی ﴿﴾ وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ
یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی
﴿﴾ اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ﴿﴾
Kepunyaan-Nya apa pun yang ada di
seluruh langit dan apa pun
yang ada di bumi, dan apa pun yang ada di antara keduanya serta apa
pun yang ada di bawah tanah yang lembab.
وَ اِنۡ
تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی --
Dan jika engkau berkata dengan suara keras maka sesungguhnya Dia mengetahui yang rahasia
dan yang sangat tersembunyi. اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ؕ -- Allah
tidak ada tuhan kecuali Dia. لَہُ الۡاَسۡمَآءُ
الۡحُسۡنٰی -- Kepunyaan-Nya
semua nama yang terindah (Thā Hā [20]:7-9).
Kata sirr (pikiran-pikiran
rahasia) dalam ayat وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ
یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی --
“Dan jika engkau berkata dengan suara keras maka sesungguhnya Dia mengetahui yang rahasia
dan yang sangat tersembunyi”
maksudnya pikiran-pikiran yang
tersembunyi di dalam benak manusia yang diketahui hanya oleh dirinya sendiri, sedang makna akhfa -- “lebih
tersembunyi” meliputi semua cita-cita, gagasan,
dan ambisi seseorang yang tersembunyi dalam kandungan masa depan dan yang belum
pernah terlintas dalam pikirannya.
Allah Swt.
adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang
nyata mau yang gaib, karena itu Dia pun Maha Mengetahui apa yang terjadi di masa depan pada diri seseorang yang beriman mau pun yang kafir
apakah di masa depan keadaan mereka
akan tetap beriman dan tetap kafir ataukah mereka akan berubah, karena itu Allah Swt. senantiasa memberikan tenggang-waktu kepada orang-orang
kafir sampai batas tertentu
sebelum menimpakan azab Ilahi yang diperingatkan kepada mereka
sampai datang kepada mereka rasul
Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37), guna membedakan siapa yang keimanannya kepada Allah
Swt. dan Rasul-Nya benar dan
siapa yang palsu (QS.17:16; QS.20:134-136; QS.28:60), firman-Nya:
یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ
عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ
اللّٰہَ یَعۡلَمُ غَیۡبَ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ
بَصِیۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Mereka
mengira telah memberi anugerah kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا
عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ -- Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islam-an kamu, ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ
عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ
-- bahkan Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap
kamu karena Dia telah memberi kamu
petunjuk kepada iman, jika kamu
orang-orang yang benar.” اِنَّ اللّٰہَ
یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh
langit dan bumi. وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
(Al-Hujurāt
[49]:18-19).
Allah Sendiri Yang Memelihara
Kesempurnaan Al-Quran dan Kesucian
Nabi Besar Muhammad Saw. -- Bukan Pemeliharaan Terhadap Umat Islam
Jadi, sungguh
keliru jika di kalangan umat Islam
ada pihak-pihak yang mendakwakan diri paling berjasa
dalam membela agama Islam (Al-Quran)
dan membela
Nabi Besar Muhammad saw. – dengan mengenyampingkan sesama Muslim lainnya -- sebab Allah Swt.
Sendiri yang telah menyatakan dengan tegas dalam Al-Quran bahwa Dia Sendiri-lah yang akan memelihara kesempurnaan Al-Quran sampai Hari Kiamat, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا
الذِّکۡرَ وَ اِنَّا
لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ
اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ شِیَعِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾ کَذٰلِکَ نَسۡلُکُہٗ فِیۡ
قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ قَدۡ خَلَتۡ سُنَّۃُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya
Kami-lah pemeliharanya. وَ
لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ
شِیَعِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan
sungguh Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau kepada umat-umat yang terdahulu. وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ -- Dan sekali-kali
tidak datang kepada mereka seorang rasul
pun melainkan mereka selalu
memperolok-olokkannya. کَذٰلِکَ نَسۡلُکُہٗ فِیۡ
قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah Kami memasukkan kebiasaan buruk ini ke dalam
hati orang-orang yang berdosa, لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ قَدۡ خَلَتۡ سُنَّۃُ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Mereka itu tidak beriman kepada Al-Quran
ini, sekalipun telah berlalu
sebelum mereka contoh orang-orang
yang terdahulu. (Al-Hijr
[15]:10-14).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
2 Desember 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar