Selasa, 13 Desember 2016

Kesederhanaan Faham Keagamaan "Orang-orang Arab Gurun" & Pidato Bersejarah Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai "Magna Charta" (Piagam Persamaan dan Persaudaraan Umat Manusia) Berdasarkan Al-Quran



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  75

KESEDERHANAAN  FAHAM KEAGAMAAN   “ORANG-ORANG ARAB GURUN” &  PIDATO BERSEJARAH NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  MENGENAI  MAGNA CHARTA  (PIAGAM PERSAMAAN DAN PERSAUDARAAN UMAT MANUSIA) BERDASARKAN AL-QURAN

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 74 dikemukakan   topik  Mencabut Semua “Akar Kemusyrikan” &  Ajaran “Penebusan Dosa” yang Hakiki sehubungan dengan surah Al-Ikhlash, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah:  Dia-lah  Allah Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya. لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --  Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,    وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪  -- Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).

 Mencabut Semua Akar Kemusyrikan   

         Dengan demikian Surah  Al-Ikhlash   mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain –  yaitu kepercayaan kepada Tuhan,   dua atau tiga atau lebih banyak  --  dan kepercayaan  bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan. Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi   yakni Allah Swt.   seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi yang diberikan oleh Al-Quran.
        Demikianlah penjelasan mengenai makna  arah yang benar” dari “tempat tujuan” dilakukannya perjalanan  sehubungan dengan tiga cara  mencapai tujuan perjalanan  yang dilakukan seseorang, baik dalam urusan duniawi mau pun urusan ruhani  (agama), yakni:
      (1) ia harus mengetahui letak posisi atau arah tempat  yang akan didatanginya tersebut.
      (2) ia harus bergerak menuju arah yang benar  berkenaan letak tempat yang akan didatanginya tersebut.
        (3) ia harus mengetahui keadaan  medan  perjalanan yang akan ditempuhnya.
Sedangkan makna “bergerak ke arah yang benar   adalah  melaksanakan pengetahuannya yang benar tersebut dalam bentuk amal perbuatan berupa amal shalih yang khasiat-khasiat atau akhibat-akibat  baik yang ditimbulkannya telah   telah ditetapkan Allah Swt., jika tidak maka berbagai bentuk ritual yang dilakukan tidak akan  membuahkan manfaat apa pun bagi kehidupan  di akhirat nanti.
        Jadi, itulah salah satu makna firman Allah Swt. bahwa barangsiapa yang mencari agama selain Islam  maka tidak akan diterima darinya dan di akhirat akan termasuk orang-orang yang merugi, firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ  جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ  جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ --   Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata? وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ  --  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim  (Ali ‘Imran [3]:86-87).
         Tentu saja suatu kaum yang mula-mula beriman kepada kebenaran seorang nabi  (rasul) Allah  dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi itu secara terang-terangan dan menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi yang mendukung pendakwaannya, tetapi kemudian menolaknya karena takut kepada manusia atau karena pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat lagi petunjuk kepada jalan yang lurus. Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi terdahulu tetapi menolak  Nabi Besar Muhammad saw..

Makna “Muslim  dan “Mukmin”yang Hakiki  & “Orang-orang Arab Gurun”

        Pendek kata, yang dimaksud dengan beragama Islam  dalam QS.3:86 bukan hanya sekedar menjadi Muslim  dari segi identitas keagamaan  belaka (QS.39:17-19), melainkan benar-benar melaksanakan berusaha semaksimal mungkin mengamalkan 700 hukum  Islam yang terdapat dalam Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22), sebab jika menjadi   Muslim (orang Islam) sekedar label (sebutan) belaka tidak ada jaminan  apa pun dari Allah Swt. seperti  janji-Nya bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا   -- Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki,  قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ --  mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”,  وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya,  --  dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci, dan mereka akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah [2]:26).
     Berikut pernyataan Allah Swt. bahwa sekedar  berpredikat sebagai “Muslim” belaka tidak sesuai dengan tujuan Allah Swt. mengutus Nabi Besar Muhammad Saw. sebagai rasul Allah pembawa syariat terakhir dan tersempurna yaitu agama Islam (Al-Quran – QS.5:4), firman-Nya:
قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ قُلۡ لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ  قُوۡلُوۡۤا  اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الصّٰدِقُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾  یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Orang-orang Arab gurun berkata: “Kami telah beriman.”  قُوۡلُوۡۤا  اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ   -- Katakanlah: “Kamu belum beriman,   tetapi katakanlah:  Kami telah berserah diri’, karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu.”   وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ --      Tetapi jika kamu menaati Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sesuatu dari amal-amal kamu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.    اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ  --  Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang yang beriman ke-pada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الصّٰدِقُوۡنَ   --  Mereka itulah orang-orang yang benar. قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  --   Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal  Allah mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ   --    Mereka mengira telah memberi anugerah  kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ   -- Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islaman kamu,  ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- bahkan  Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap kamu karena Dia telah memberi kamu petunjuk kepada iman, jika kamu orang-orang yang benar.” اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hujurāt [49]:15-19).

Kesederhanan Faham Keagamaan    “Muslim” Golongan Awam (Umum) yang Rawan “Diprovokasi

  Makna ayat 15: قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ   --  Orang-orang Arab gurun berkata: “Kami telah beriman.”  قُوۡلُوۡۤا  اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ   -- Katakanlah: “Kamu belum beriman,   tetapi katakanlah:  Kami telah berserah diri’, karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu,”     bahwa sekalian   Muslim (orang Islam) merupakan bagian tidak terpisahkan dari persaudaraan dalam Islam, sebagaimana firman-Nya:
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  اِخۡوَۃٌ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَ اَخَوَیۡکُمۡ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ  لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka  damaikanlah di antara kedua saudara kamu,  dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu dikasihani.   (Al-Hujurāt [49]:11).
   Ayat ini secara khusus menekankan pada pentingnya ukhuwah islamiyah “persaudaraan dalam Islam”. Sekiranya timbul pertengkaran atau  perselisihan di antara dua orang atau dua golongan Muslim maka hendaknya  orang-orang Islam lainnya yang memahami ajaran Islam (Al-Quran) dianjurkan segera mengambil langkah supaya mendatangkan ishlah atau perdamaian di antara mereka. Sebab kekuatan hakiki agama Islam  dan umat Islam terletak pada persaudaraan ideal, yang mengatasi segala hambatan kelas, warna kulit atau iklim.
  Kesederhanaan pemahaman ajaran Islam (Al-Quran)   --  terlebih lagi jika disertai dengan kelemahan dalam segi ekonomi  --   di kalangan umat Islam (Muslim)  golongan “awam”  tersebut sangat mudah diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab demi kepentingan duniawi dirinya atau golongannya, firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّبِعُوۡا سَبِیۡلَنَا وَ لۡنَحۡمِلۡ خَطٰیٰکُمۡ ؕ وَ مَا ہُمۡ بِحٰمِلِیۡنَ مِنۡ خَطٰیٰہُمۡ مِّنۡ شَیۡءٍ ؕ اِنَّہُمۡ  لَکٰذِبُوۡنَ ﴿﴾   وَ لَیَحۡمِلُنَّ  اَثۡقَالَہُمۡ  وَ اَثۡقَالًا مَّعَ اَثۡقَالِہِمۡ ۫ وَ لَیُسۡـَٔلُنَّ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ عَمَّا کَانُوۡا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿٪
Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: اتَّبِعُوۡا سَبِیۡلَنَا وَ لۡنَحۡمِلۡ خَطٰیٰکُمۡ   -- “Ikutilah jalan kami   dan   kami akan menanggung dosa-dosa kamu.” Padahal mereka tidak dapat memikul dosa-dosa  mereka itu sedikit pun, se-sungguhnya mereka itu benar-benar pendusta.   Dan niscaya mereka akan memikul beban mereka dan beban orang lain beserta beban mereka, dan pada Hari Kiamat  niscaya mereka akan diperiksa   tentang apa yang telah mereka ada-adakan (Al-Ankabūt [29]:13-14). 
         Selain orang-orang munafik yang dikemukakan dalam ayat 11-12  sebelumnya, ada lagi golongan lain  -- yakni gembong-gembong kekafiran yang agresip  -- dengan menyalahgunakan kedudukan dalam masyarakat, mereka berusaha menyesatkan orang-orang lain yang tidak begitu tinggi kedudukannya dalam masyarakat dengan mengatakan kepada mereka  bahwa mereka akan menanggung segala kerugian yang akan diderita mereka itu sebagai akibat mengikuti pimpinan mereka dan menolak  rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  Allah Swt. (QS.7:35-37).

Persamaan Bani Isma’il  (Umat Islam) dengan Bani Israil  (Ahli-Kitab)

     Oleh karena itu jika sepeninggal Nabi Besar Muhammad saw. dan para Khilafatur Rasyidah  kemudian  di kalangan umat Islam muncul berbagai  macam  sekte (firqah) dan   pembagian “kasta”  yang tidak disunnahkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan tidak diamalkan oleh para Khulafatur Rasyidah  -- seperti yang terjadi di Akhir Zaman  ini  (QS.6:160; QS.30:31-33) --   termasuk munculnya    sekelompok “golongan khusus   yang juga pernah terjadi di kalangan golongan Ahli Kitab  --  maka kenyataan tersebut merupakan sempurnanya sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai akan terjadinya   persamaan antara Bani Israil dengan Bani Isma’il, baik dari segi yang  positif mau pun  yang negative, firman-Nya: 
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ  وَ النَّصٰرٰی  نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا اللّٰہِ وَ اَحِبَّآؤُہٗ ؕ قُلۡ فَلِمَ یُعَذِّبُکُمۡ  بِذُنُوۡبِکُمۡ ؕ بَلۡ  اَنۡتُمۡ  بَشَرٌ مِّمَّنۡ خَلَقَ ؕ یَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ۫ وَ اِلَیۡہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan orang-orang Yahudi serta Nasrani berkata:   نَحۡنُ اَبۡنٰٓؤُا اللّٰہِ وَ اَحِبَّآؤُہٗ  --   ”Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya."   قُلۡ فَلِمَ یُعَذِّبُکُمۡ  بِذُنُوۡبِکُمۡ  -- Katakanlah: “Jika benar demikian mengapa Dia mengazab kamu karena dosa-dosa kamu بَلۡ  اَنۡتُمۡ  بَشَرٌ مِّمَّنۡ خَلَقَ  --Tidak, bahkan kamu adalah manusia-manusia biasa dari antara mereka yang telah Dia ciptakan.  یَغۡفِرُ لِمَنۡ یَّشَآءُ وَ یُعَذِّبُ مَنۡ یَّشَآءُ --   Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan Dia mengazab siapa yang Dia kehendaki." وَ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا ۫ وَ اِلَیۡہِ الۡمَصِیۡرُ  -- Dan kepunyaan   Allah-lah kerajaan seluruh langit dan bumi dan apa pun yang ada di antara keduanya, dan kepada-Nya-lah  kembali segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:19).
        Menurut  Allah Swt. bahwa  dalam ajaran Islam (Al-Quran)   dari segi keruhanian hanya ada 4   golongan martabat ruhani  yaitu: nabi; shidiq, syahid, dan shalih (QS.4:70), karena menurut Allah Swt.  kemuliaan manusia  di hadirat-Nya  ditentukan oleh tingkatan ketakwaan  mereka  kepada Allah Swt. (QS.49:14) bukan karena ada atau tidak adanya hubungan nasab (keturunan) dengan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ  مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari la-ki-laki dan perempuan,  وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا --   dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu dapat saling mengenal. اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ --  Sesungguhnya  yang paling mulia  di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ  -- Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt [49]:14).

Magna Charta” (Piagam Persamaan dan Persaudaraan Umat Manusia) &  Pancasila dan “Bhineka Tunggal Ika” - Pengikat Kesatuan dan Persatuan di NKRI.  

   Sesudah membahas masalah persaudaraan dalam Islam pada dua ayat sebe-lumnya, ayat ini meletakkan dasar persaudaraan yang melingkupi dan meliputi seluruh umat manusia,  sebab pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. di kalangan bangsa Arab (QS.62:3)bukan hanya untuk bangsa Arab saja melainkan untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108;  QS.25:2; 34:29), demikian juga  ajaran   Islam (Al-Quran).
  Pada hakikatnya, ayat  tersebut  merupakan “Magna Charta” - piagam persau-daraan dan persamaan umat manusia.  Ayat ini menumbangkan rasa dan sikap lebih unggul semu lagi bodoh, yang lahir dari keangkuhan rasial atau kesombongan nasional. Karena umat manusia sama-sama diciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan, maka sebagai makhluk manusi  semua orang telah dinyatakan sama dalam pandangan Allah Swt..
 Harga seseorang tidak dinilai oleh warna kulitnya, jumlah harta miliknya, oleh pangkatnya atau kedudukannya dalam masyarakat, keturunan atau asal-usulnya, melainkan oleh keagungan akhlaknya dan oleh caranya melaksanakan kewajiban kepada Allah Swt. (huququllāh) dan manusia (huququl- ‘ibād): اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ “sesungguhnya  yang paling mulia  di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.” (Al-Hujurāt [49]:14).
Seluruh keturunan manusia  tidak lain hanya suatu keluarga belaka. Pembagian suku-suku bangsa, bangsa-bangsa dan rumpun-rumpun bangsa dimaksudkan untuk memberikan kepada mereka saling pengertian yang lebih baik, terhadap satu-sama lain agar mereka dapat saling mengambil manfaat dari kepribadian serta sifat-sifat baik bangsa-bangsa atau suku-suku bangsa  itu masing-masing.
    Dari segi ini,  اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ       (segala puji bagi Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam),   di NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) walau pun  keberagaman suku-suku, agama, kepercayaan,  budaya serta adat-istiadat yang   jumlahnya sangat banyak,   tetapi berkat karunia Allah Swt. keadaannya   terikat erat  dalam NKRI; UUD 45; PANCASILA dan BHINEKA TUNGGAL IKA,  sehingga  benar-benar merupakan suatu anugerah     sangat besar dari  Allah Swt.    harus senantiasa  disyukuri dengan cara bersyukur yang hakiki (QS.14:8),  karena  betapa    di Akhir Zaman ini  hal tersebut   tidak terjadi di kawasan Timur Tengah  -- tempat lahirnya Nabi Besar Muhammad saw. dan ajaran Islam (Al-Quran – QS.2:128-130; QS.62:3)  --   kecuali di masa  Nabi Besar Muhammad saw. dan di masa para Khalifatul-Rasyidah yang penuh berkat yakni   pada masa kejayaan Islam yang pertama, yang kemudian setelah 3 abad  masa kejayaan yang pertama tersebut umat Islam  mengalami masa kemunduran berangsur-angsur selama 1000 tahun  hingga saat ini, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung.  (As-Sajdah [31]:6).
  Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat  yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.

Masa Kemunduran Islam Selama 1000 Tahun Setelah 3 Abad Masa Kejayaan yang Pertama  &  Pidato Bersejarah  Nabi Besar Muhammad Saw. Pada Hajji Wada (Haji Terakhir)  

      Nabi Besar Muhammad saw.   diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat). Islam mulai mengalami kemunduran secara bertahap  sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya.
        Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya ber-langsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  --  “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
         Dalam hadits lain  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda  sehubungan tafsir surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 mengenai makna pengutusan kedua kali beliau secara ruhani  yang  diisyaratkan dalam ayat:  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   -- “Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara me-reka, yang belum bertemu dengan me-reka.3046 Dan Dia-lah Yang Maha Per-kasa, Maha Bijaksana.”
      Ketika Abu Hurairah r.a. menanyakan makna ayat tersebt kepada Nabi Besar Muhammad saw. berulang kali, sambil memegang tubuh Salman Al-Farisi r.a. beliau saw. menjelaskan bahwa “iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi” (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir).
        Dengan kedatangan  Masih Mau’ud  a.s.  dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotan  yang menimpa Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini kembali mulai berlaku sesuai firman-Nya dalam  (QS.61:10). Selengkapnya  ayat-ayat surah Al-Jumu’ah tersebut adalah: 
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿۲   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf  seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   --  Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka  yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62]:3-4).
        Kembali kepada firman Allah Swt. dalam surah Al-Hujurat   ayat 14 mengenai  Magna Charta(Piagam Persamaan dan Persaudaraan Umat Manusia), pada peristiwa Hajj terakhir (Hajji Wada)di Mekkah, tidak lama sebelum Nabi Besar Muhammad saw.   wafat, beliau  saw.  khutbah di hadapan sejumlah besar orang-orang Muslim dengan mengatakan:
   Wahai sekalian manusia! Tuhan kamu itu Esa dan bapak-bapak kamu satu jua. Seorang orang Arab tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang non Arab. Seorang kulit putih sekali-kali tidak mempunyai kelebihan atas orang-orang berkulit merah, begitu pula sebaliknya, seorang kulit merah tidak mempunyai kelebihan apa pun di atas orang berkulit putih melainkan kelebihannya ialah sampai sejauh mana ia melaksanakan kewajibannya terha-dap Allah dan manusia.  اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ “sesungguhnya  yang paling mulia  di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu  (Baihaqi).
   Sabda agung  Nabi Besar Muhammad saw. ini menyimpulkan cita-cita paling luhur dan asas-asas paling kuat. Di tengah suatu masyarakat yang terpecah-belah dalam kelas-kelas yang berbeda itulah  beliau saw.     mengajarkan asas yang sangat demokratis.

Tanda-tanda “Orang-orang Beriman” (Mukmin) Hakiki

        Jadi, kembali kepada surah Al-Hujurāt ayat 15  mengenai  jawaban Allah Swt. menanggapi perkataan  orang-orang Arab gurun”: اٰمَنَّا  -- “Kami telah beriman   قُوۡلُوۡۤا  اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ   -- Katakanlah: “Kamu belum beriman,   tetapi katakanlah:  Kami telah berserah diri’, karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu.”   (Al-Hujurāt [49]:15).
       Dengan demikian jelaslah  bahwa menurut Allah Swt. terdapat perbedaan antara “Muslim” dengan “Mukmin  sebagaimana lanjutan ayat tersebut:   وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ --      Tetapi jika kamu menaati Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sesuatu dari amal-amal kamu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.    اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  ثُمَّ     --  Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ  --  kemudian tidak ragu-ragu dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah” (Al-Hujurāt [49]:15-16).
     Makna surah Al-Hujurāt ayat 15-16  bahwa ajaran  Islam (Al-Quran) memberikan hak  yang sama kepada    putra-putra padang pasir buta huruf dan biadab, seperti halnya kepada penduduk kota kecil maupun kota besar yang beradab dan berbudaya, hanya saja oleh Islam (Al-Quran) dianjurkan kepada mereka yang disebut pertama (orang-orang Arab gurun) atau orang-orang Islamn (Muslim)  golongan awam (umum), agar mereka berusaha lebih keras untuk belajar dan meresapkan ke dalam dirinya ajaran Islam (Al-Quran) yang hakiki dan membuat ajaran-ajaran itu menjadi pedoman hidup mereka, sehingga mereka pun layak menjadi “Khayru ummah” (umat terbaik) yang dijadikan untuk manfaat   seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111) sebagaimana  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108).
 Lebih lanjut Allah Swt. berfirman bagaimana tanda-tanda dari  mukmin” (orang-orang beriman)  yang hakiki tersebut:  اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ       -- sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,  ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ --  kemudian tidak ragu-ragu dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الصّٰدِقُوۡنَ   --  Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurāt 49]:16).    

Merasa Telah “Memberi Jasa  Kepada Allah Swt. dan Rasul Allah

      Lebih lanjut Allah Swt. memberi pengertian kepada “Muslim” (orang-orang Islam)  dari kalangan “Arab gurun” yang berfikiran sederhana tersebut  dan  yang merasa bangga dengan “ke-Muslim-an” mereka itu, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.: قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ  -- Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal  Allah mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi.  وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  --  Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hujurāt [49]:17).
       Allah Swt.  adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui bukan saja yang bersifat sirr (tersembunyi) mengenai  apa pun terdapat  dada (hati) manusia, bahkan juga  Dia pun Maha Mengetahui yang akhfa (lebih tersembunyi)  – bagaimana pun  rapinya rekayasa yang dilakukan manusia  dalam upaya  penyembunyian  yang dilakukannya (QS.20:8) --  firman-Nya:
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ  وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا وَ مَا  تَحۡتَ الثَّرٰی  ﴿﴾ وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی  ﴿﴾ اَللّٰہُ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ لَہُ  الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ﴿﴾
Kepunyaan-Nya apa pun yang ada di seluruh langit  dan  apa­ pun  yang ada di bumi,  dan apa pun yang ada di antara keduanya  serta apa pun yang ada di bawah tanah yang lembab.  وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی    --   Dan jika engkau berkata  dengan suara keras maka sesung­guhnya Dia mengetahui yang rahasia dan   yang sangat ter­sembunyi. اَللّٰہُ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ       -- Allah tidak ada tuhan kecuali Dia.  لَہُ  الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی  --   Kepunyaan-Nya semua nama yang terindah  (Thā Hā [20]:7-9).
  Kata sirr (pikiran-pikiran rahasia) dalam ayat  وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی    --   “Dan jika engkau berkata  dengan suara keras maka sesung­guhnya Dia mengetahui yang rahasia dan   yang sangat ter­sembunyi  maksudnya pikiran-pikiran yang tersembunyi di dalam benak manusia  yang diketahui hanya oleh dirinya sendiri, sedang makna  akhfa  -- “lebih tersembunyi”  meliputi semua cita-cita,  gagasan, dan ambisi seseorang yang tersembunyi dalam kandungan masa depan dan yang belum pernah terlintas dalam pikirannya.
   Allah Swt.   adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu  yang nyata mau yang gaib,   karena itu Dia pun Maha Mengetahui apa yang terjadi di masa depan  pada diri seseorang yang beriman mau pun  yang kafir  apakah di masa depan   keadaan mereka akan tetap beriman dan tetap kafir  ataukah mereka akan berubah, karena itu Allah Swt. senantiasa memberikan tenggang-waktu   kepada orang-orang kafir sampai batas tertentu sebelum menimpakan azab Ilahi yang diperingatkan kepada mereka  sampai datang kepada mereka rasul Allah yang dijanjikan  (QS.7:35-37), guna membedakan siapa yang keimanannya  kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya benar dan siapa yang  palsu (QS.17:16; QS.20:134-136; QS.28:60), firman-Nya:  
یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Mereka mengira telah memberi anugerah  kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ   -- Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islam-an kamu,  ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- bahkan  Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap kamu karena Dia telah memberi kamu petunjuk kepada iman, jika kamu orang-orang yang benar.” اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hujurāt [49]:18-19).

Allah Sendiri  Yang Memelihara Kesempurnaan Al-Quran dan Kesucian Nabi Besar Muhammad Saw. --  Bukan Pemeliharaan Terhadap Umat Islam

      Jadi, sungguh keliru jika di kalangan umat Islam ada pihak-pihak yang mendakwakan diri   paling berjasa dalam membela agama Islam (Al-Quran) dan  membela Nabi Besar Muhammad saw. – dengan mengenyampingkan sesama Muslim lainnya -- sebab Allah Swt. Sendiri yang telah menyatakan dengan tegas dalam Al-Quran bahwa  Dia Sendiri-lah yang akan memelihara kesempurnaan Al-Quran  sampai  Hari Kiamat, sebagaimana  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾   وَ لَقَدۡ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ شِیَعِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾  کَذٰلِکَ نَسۡلُکُہٗ فِیۡ  قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ قَدۡ خَلَتۡ سُنَّۃُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya. وَ لَقَدۡ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ شِیَعِ الۡاَوَّلِیۡنَ --   Dan  sungguh  Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau kepada umat-umat yang terdahulu. وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ   --  Dan  sekali-kali tidak  datang kepada mereka seorang rasul pun  melainkan mereka selalu  memperolok-olokkannya.    کَذٰلِکَ نَسۡلُکُہٗ فِیۡ  قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  --    Demikianlah Kami memasukkan kebiasaan buruk ini  ke dalam hati orang-orang yang berdosa, لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ قَدۡ خَلَتۡ سُنَّۃُ الۡاَوَّلِیۡنَ --     Mereka itu  tidak beriman kepada Al-Quran ini, sekalipun telah berlalu sebelum mereka contoh orang-orang yang terdahulu.  (Al-Hijr [15]:10-14).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  2 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar