Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 77
SEMAKIN JAUH UMAT MANUSIA (UMAT BERAGAMA) DARI MASA
KENABIAN YANG PENUH BERKAT
MENYEBABKAN SEMAKIN KERASNYA HATI & TIGA MACAM KEADAAN PERMUKAAN
TANAH DAN JIWA MANUSIA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 76 dikemukakan topik Kemunculan “Hizbullāh”
(Jemaat Allah) yang Hakiki, sehubungan dengan firmn-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی
اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ
نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ
نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ
عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi
dari antara orang-orang yang
berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan)
engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong.
(Al-Furqān
[25]:31-32).
Kemunculan “Hizbullāh” (Jemaat Allah) yang Hakiki
Ayat
ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan
diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali
belum pernah terjadi selama 14 abad
ini di mana petunjuk Al-Quran -- sebagaimana yang difahami dan diamalkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. -- demikian rupa diabaikan dan dilupakan
oleh orang-orang Muslim seperti
dewasa ini, terutama di kawasan Timur
Tengah, sesuai hadits Nabi Besar
Muhammad saw.. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman).
Sungguh masa
sekarang-sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan itu, sesuai
dengan nubuatan dalam Al-Quran
berikut ini, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ
یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ
یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ
عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا
وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ
یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ
الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾ وَ
مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ
اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang
yang beriman, مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی
اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ -- barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya maka Allah segera
akan mendatangkan suatu kaum, اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, اَذِلَّۃٍ عَلَی
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang beriman dan keras
(tegas) terhadap orang-orang kafir. یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ
لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ -- Mereka
akan berjuang di jalan Allah dan tidak
takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ
مَنۡ یَّشَآءُ -- Itulah karunia Allah, Dia memberikannya
kepada siapa yang Dia kehendaki وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ
عَلِیۡمٌ -- dan
Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ
رَسُوۡلُہٗ -- Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah dan Rasul-Nya وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ
یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ
الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ -- dan
orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.
وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ
اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- Dan
barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai pelindung, فَاِنَّ حِزۡبَ
اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ -- maka sesungguhnya jamaat Allah pasti menang. (Al-Māidah
[55]:55-57).
Dalam rangka keberadaan “Hizbullāh” yang hakiki itulah maka sebabnya Allah Swt. dalam Al-Quran telah
mengemukakan pentingnya kesinambungan
kedatangan rasul Allah di
kalangan Bani Adam, karena Sunnatullāh berupa pergantian malam (kegelapan) dengan siang (cahaya) dan pergantian siang (cahaya) dengan malam
(kegelapan) berlaku juga dalam keruhanian,
itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan
dalam Al-Quran bahwa “pergantian malam
dan siang” merupakan bagian dari Tanda-tanda-Nya juga (QS.10:68; QS.17:13; QS.7:27; QS.28:74;
QS.30.24), firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ --
Wahai Bani Adam, jika
datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu
yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
-- maka barangsiapa bertakwa
dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan
tidak pula mereka akan bersedih hati.
وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا
وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7].7:35-37).
Pengulangan
Merebaknya Kerusakan di “Daratan” dan di “Lautan”
Tujuan kedatangan rasul Allah yang dijanjikan dari kalangan Bani Adam tersebut adalah untuk melepaskan manusia dari berbagai bentuk
“kejahiliyah” --
atau dari “kegelapan malam” (kesesatan) -- yang
senantiasa kembali merebak di
kalangan umat beragama, setelah
mengalami masa “siang” (petunjuk) melalui pengutusan rasul Allah dari kalangan Bani
Adam tersebut.
Berikut ini firman Allah Swt. mengenai zaman kejahiliyah yang paling
hebat pada masa menjelang pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. – termasuk selain kejahiliyah
di kalangan Bani
Isma’il sendiri (QS.62:3) -- firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ
الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی
النَّاسِ لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ
الَّذِیۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ
﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا
کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ
قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ
مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ
وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا
مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ
یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya
dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan,
supaya mereka kembali dari
kedurhakaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana
buruknya akibat bagi orang-orang
sebelum kamu ini. کَانَ
اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ -- Kebanyakan mereka itu
orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ
الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ
لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ
یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ -- Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat
dihindarkan, pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm
[30]:42-44).
Kata-kata “daratan dan lautan”
dalam ayat: ظَہَرَ
الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
-- “Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia” dapat diartikan:
(a) bangsa-bangsa yang kebudayaan
dan peradabannya hanya semata-mata
berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa
yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi yakni umat beragama.
(b) orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup
di pulau-pulau.
Ayat ini berarti bahwa semua
bangsa di dunia telah menjadi rusak
sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki: لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ
عَمِلُوۡا لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- “supaya dirasakan
kepada mereka akibat sebagian
perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka
kembali dari kedurhakaannya”.
Penyebab “Mengerasnya Hati” Manusia
Menurut
Al-Quran penyebab terulangnya kemunculan
“kejahiliyah” tersebut adalah akibat umat
beragama pada masa itu telah jauh dari masa kenabian yang penuh berkat,
firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang
beriman, bahwa hati mereka tunduk
untuk mengingat Allah dan mengingat
kebenaran yang telah turun kepada
mereka, وَ لَا
یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ
-- dan mereka tidak menjadi seperti
orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ
الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُم
-- maka zaman kesejahteraan menjadi panjang
atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, وَ
کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ
یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا
-- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. قَدۡ
بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ
تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada
kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd
[57]:17-18).
Firman Allah Swt. tersebut menarik
perhatian manusia kepada akibat buruk yang ditimbulkan musim kemarau panjang yang
bukan saja menyebabkan matinya berbagai jenis tumbuhan di permukaan
bumi, tetapi juga menyebabkan permukaan
bumi pun menjadi kering dan keras membatu. Kalau pun mmasih ada tersisa air di permukaan bumi
tetapi keadaannya telah rusak, busuk dan berpenyakit.
Demikian juga hukum alam tersebut berlaku dalam dunia keruhanian, firman-Nya: وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan
mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab
sebelumnya, فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُم -- maka zaman
kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, وَ
کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka?”
Ada pun cara Allah Swt. menghidupkan kembali “permukaan bumi yang telah mati” seperti
itu adalah dengan menurunkan curahan air
hujan dari langit, firman-Nya: اِعۡلَمُوۡۤا
اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا
-- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. قَدۡ
بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ
تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada
kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd
[57]:18).
Pentingnya
Siraman “Hujan Ruhani”
Dalam dunia
keruhanian yang dimaksud dengan “turunnya
hujan” dari langit adalah pengutusan rasul
Allah yang kedatangannnya dijanjikan
dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37)
yang kepadanya Allah Swt. menurunkan wahyu Ilahi guna menghidupkan
kembali “hati” manusia yang telah keras membatu, sehingga
“hati” manusia tersebut menjadi “jannah” (kebun yang rimbun)
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagaimana perumpamaan
keadaan “surga” yang dijanjikan Allah Swt. bagi orang-orang yang beriman dan beramal
shalih (QS.2:26), firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ یُرۡسِلُ الرِّیٰحَ
بُشۡرًۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ حَتّٰۤی
اِذَاۤ اَقَلَّتۡ سَحَابًا ثِقَالًا سُقۡنٰہُ لِبَلَدٍ مَّیِّتٍ
فَاَنۡزَلۡنَا بِہِ الۡمَآءَ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ؕ
کَذٰلِکَ نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ
تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ ۚ وَ الَّذِیۡ خَبُثَ
لَا یَخۡرُجُ اِلَّا نَکِدًا ؕ کَذٰلِکَ
نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan Dia-lah
Yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum datang rahmat-Nya, حَتّٰۤی اِذَاۤ اَقَلَّتۡ
سَحَابًا ثِقَالًا سُقۡنٰہُ لِبَلَدٍ مَّیِّتٍ -- hingga apabila
angin itu mem-bawa awan yang berat, Kami menghalaunya ke suatu negeri
yang mati, فَاَنۡزَلۡنَا
بِہِ الۡمَآءَ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ
-- maka Kami turunkan air darinya, lalu dengan itu Kami
mengeluarkan segala macam buah-buahan. َذٰلِکَ نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ تَذَکَّرُوۡنَ
-- Seperti itulah Kami mengeluarkan orang-orang mati ruhani
supaya kamu mengambil pelajaran.
وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ
نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ -- Dan negeri
yang baik menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan atas perintah Rabb-nya (Tuhan-nya), وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ
اِلَّا نَکِدًا -- sedangkan negeri yang buruk tidak menumbuhkannya
kecuali sedikit. ؕ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ
الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ -- Demikianlah Kami berulang-ulang menjelaskan Tanda-tanda bagi kaum yang bersyukur. (Al-A’rāf
[7]:58-59).
Kata rahmat dalam ayat:
وَ ہُوَ
الَّذِیۡ یُرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ -- ”Dan
Dia-lah Yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira
sebelum datang rahmat-Nya“
mengisyaratkan kepada hujan, karena tak ubahnya seperti di alam jasmani hujan didahului oleh angin sepoi-sepoi basa sebagai
pertandanya, begitu pula sebelum seorang nabi
Allah menampakkan diri (diutus) ada semacam kebangkitan
semangat keagamaan meluas di tengah-tengah umat manusia.
Tiga Macam Keadaan
Permukaan Tanah dan “jiwa”
Manusia
Ayat ini berarti bahwa tak ubahnya seperti air hujan memberi kehidupan
baru kepada permukaan tanah (bumi)
yang mati dan menyebabkan buah-buahan, tumbuh-tumbuhan serta padi-padian tumbuh darinya, seperti itu pula peran air ruhani berupa wahyu Ilahi yang turun bersama pengutusan rasul Allah menghembuskan nafas
kehidupan baru ke dalam suatu kaum yang sepi dari kehidupan ruhani.
Dengan demikian ayat itu mengemukakan janji
bahwa tanah (jazirah) Arab yang tadinya berupa gurun yang kering dan gersang itu
akan segera mekar menjadi sebuah kebun ruhani yang penuh
dengan pohon-pohon berbuah dan
sarat dengan tanam-tanaman yang berbunga
semerbak sebagai akibat dari air
samawi yang turun dalam bentuk Al-Quran menyirami tanah itu.
Jadi, tidak
mengherankan kalau orang-orang Arab
hingga waktu itu telah dianggap sebagai busa dan sampah masyarakat umat manusia --
sehingga disebut “kaum jahiliyah”
atau berada dalam “kesesatan yang nyata”
(QS.62:3) -- dengan serta-merta
tampil menjadi guru-guru dan pemimpin-pemimpin
manusia.
Makna ayat 59: وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ
بِاِذۡنِ رَبِّہٖ -- “dan negeri
yang baik menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan atas perintah Rabb-nya (Tuhan-nya), وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ
اِلَّا نَکِدًا -- sedangkan negeri yang buruk tidak
menumbuhkannya kecuali sedikit.” Bahwa
tak ubahnya seperti hujan
mendatangkan bermacam-ragam akibat
atas berbagai lahan tanah menurut sifat dan kaifiatnya, demikian pula halnya wahyu Ilahi memberi pengaruh kepada berbagai-bagai sifat manusia dalam bermacam-macam cara.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa ada 3 macam permukaan tanah:
(a) Tanah
bagus lagi datar yang jika disiram air
hujan menyerap air hujan dan
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang baik dan menghasilkan buah-buah dengan berlimpah-limpah;
(b) Tanah
yang oleh karena letaknya yang rendah
dan berbatu-batu hanya menampung air hujan tetapi tidak menyerapnya,
dan karenanya tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan,
tetapi menyediakan air minum untuk
manusia dan binatang;
(c) Tanah
yang tinggi
lagi berbatu-batu
yang tidak menghimpun air hujan,
begitu pula tidak menyerapnya dan sama sekali tidak ada gunanya untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan atau pun
sebagai penyimpan air hujan.
Begitu pula
halnya manusia pun keadaan jiwanya terdiri atas tiga
macam, yaitu:
(1) Mereka yang
bukan saja yang mendapat manfaat dari
wahyu Ilahi untuk dirinya sendiri tetapi juga menjadi sumber penyuluh keruhanian
bagi orang lain.
(2) Mereka yang dirinya tidak mendapat faedah dari wahyu
Ilahi namun menerimanya dan menyimpannya supaya orang lain memperoleh manfaat.
(3) Mereka yang dirinya sendiri tidak memperoleh faedah dari wahyu Ilahi, begitu juga tidak menyimpannya untuk digunakan orang
lain. Mereka itu laksana sebidang tanah
yang tidak mengeluarkan hasil apa pun
dan tidak
pula menghimpun air supaya manusia dan binatang dapat minum darinya.
Kesederhanaan Pemahaman “Orang-orang Arab Gurun”
Dengan demikian benarlah firman-Nya mengenai
kesederhanaan faham keagamaan
“orang-orang Arab gurun” yang dikemukakan dalam dalam Bab sebelum ini, firman-Nya:
قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ قُلۡ
لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ
قُوۡلُوۡۤا اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا
یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ
ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ
لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
﴿﴾ اِنَّمَا
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ
لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصّٰدِقُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ
اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ
اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا
تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ
اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ اَنۡ
ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Orang-orang Arab gurun berkata: “Kami
telah beriman.” قُوۡلُوۡۤا
اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ -- Katakanlah: “Kamu belum beriman, tetapi
katakanlah: “Kami telah berserah diri’, karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu.” وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ
اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- Tetapi jika
kamu menaati Allah dan Rasul-Nya,
Dia tidak akan mengurangi sesuatu dari
amal-amal kamu, sesungguhnya Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang. اِنَّمَا
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ
لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ -- Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian tidak ragu-ragu dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka
di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الصّٰدِقُوۡنَ -- Mereka itulah orang-orang yang benar. قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ
مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ
شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- Katakanlah, “Apakah
kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal Allah
mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ -- Mereka
mengira telah memberi anugerah kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا
عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ -- Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islaman kamu, ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ
عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ
-- bahkan Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap
kamu karena Dia telah memberi kamu
petunjuk kepada iman, jika kamu
orang-orang yang benar.” اِنَّ اللّٰہَ
یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh
langit dan bumi. وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
(Al-Hujurāt
[49]:15-19).
Firman-Nya lagi:
اَلۡاَعۡرَابُ اَشَدُّ
کُفۡرًا وَّ نِفَاقًا وَّ اَجۡدَرُ اَلَّا یَعۡلَمُوۡا حُدُوۡدَ مَاۤ اَنۡزَلَ
اللّٰہُ عَلٰی رَسُوۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ مِنَ الۡاَعۡرَابِ مَنۡ یَّتَّخِذُ مَا یُنۡفِقُ مَغۡرَمًا وَّ یَتَرَبَّصُ بِکُمُ الدَّوَآئِرَ ؕ عَلَیۡہِمۡ دَآئِرَۃُ السَّوۡءِ ؕ وَ
اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Orang-orang Arab gurun itu sangat keras dalam kekafiran dan kemunafikan, karena itu mereka
pantas tidak mengetahui mengenai
batas-batas hukum yang diturunkan
Allah ke-pada Rasul-Nya, dan Allah
Maha Me-ngetahui, Maha Bijaksana.
Dan di antara orang-orang Arab gurun itu ada
yang menganggap apa yang dibelanjakan di jalan Allah itu sebagai denda
dan ia menunggu-nunggu bencana-bencana menimpa
atas diri kamu. Atas merekalah bencana buruk akan
menimpa, dan Allah Maha Mendengar,
Maha Mengetahui. (At-Taubah
[9]:97-98).
Tidak Semuanya “Buruk”
Namun demikian pula Al-Quran pun tidak pernah
“menyama-ratakan” mengenai perbuatan buruk yang dilakukan oleh
suatu kaum – misalnya golongan Ahli Kitab (QS.3:111 & 200) – demikian pula dengan “orang-orang Arab gurun” pun ada pula orang-orang yang memiliki “kecerdasan ruhani”, firman-Nya:
وَ مِنَ الۡاَعۡرَابِ مَنۡ یُّؤۡمِنُ
بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ
یَتَّخِذُ مَا یُنۡفِقُ قُرُبٰتٍ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ صَلَوٰتِ الرَّسُوۡلِ ؕ اَلَاۤ
اِنَّہَا قُرۡبَۃٌ لَّہُمۡ ؕ
سَیُدۡخِلُہُمُ اللّٰہُ فِیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾
Dan di
antara orang-orang Arab gurun itu ada pula yang beriman kepada Allah
dan kepada Hari Kemudian, dan menganggap
apa yang dibelanjakan-nya itu untuk mendekatkan
diri kepada Allah dan sebagai penarik doa-doa Rasul. اَلَاۤ
اِنَّہَا قُرۡبَۃٌ لَّہُمۡ ؕ
سَیُدۡخِلُہُمُ اللّٰہُ فِیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- Ketahuilah,
sesungguhnya itulah sarana bagi mereka un-tuk mendekatkan diri, Allah
segera akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (At-Taubah [9]:99).
Al-Quran tak pernah mengutuk satu kaum seluruhnya tanpa memilah-milah. Ayat ini bertujuan hendak melenyapkan salah paham bahwa semua orang Arab dusun itu jahat.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
5 Desember 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar