Selasa, 13 Desember 2016

Semakin Jauh Umat Manusia (Umat Beragama) Dari "Masa Kenabian" yang Penuh Berkat Menyebabkan Semakan Kerasnya Hati & Tiga Macam Keadaan Permukaan Tanah dan Jiwa Manusia




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  77

SEMAKIN JAUH  UMAT MANUSIA (UMAT BERAGAMA) DARI MASA KENABIAN YANG PENUH BERKAT MENYEBABKAN SEMAKIN KERASNYA HATI   & TIGA MACAM KEADAAN PERMUKAAN TANAH DAN JIWA MANUSIA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 76 dikemukakan   topik  Kemunculan “Hizbullāh” (Jemaat Allah) yang Hakiki, sehubungan dengan firmn-Nya:
   وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا    --  Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan)  engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).

Kemunculan “Hizbullāh” (Jemaat Allah) yang Hakiki

        Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana petunjuk  Al-Quran   -- sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.  --  demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini, terutama di kawasan Timur Tengah, sesuai hadits  Nabi Besar Muhammad saw..   yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman).
         Sungguh masa sekarang-sekarang di Akhir Zaman  inilah saat yang dimaksudkan itu, sesuai dengan nubuatan dalam Al-Quran berikut ini, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
 Hai orang-orang yang beriman, مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ   --  barangsiapa di antara kamu  murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ  --  Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ  -- mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap  orang-orang beriman  dan keras (tegas) terhadap orang-orang kafir.  یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ  --  Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ  -- Itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki  وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ  -- dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.  اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ  --   Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah dan  Rasul-Nya  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ  --  dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.   وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  --  Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai pelindung, فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ  --  maka  sesungguhnya   jamaat Allah pasti menang. (Al-Māidah [55]:55-57). 
        Dalam rangka keberadaan “Hizbullāh” yang hakiki itulah  maka   sebabnya Allah Swt. dalam Al-Quran telah mengemukakan pentingnya kesinambungan kedatangan rasul Allah di kalangan Bani Adam,  karena Sunnatullāh berupa  pergantian malam  (kegelapan) dengan siang  (cahaya)  dan pergantian siang (cahaya) dengan malam (kegelapan) berlaku juga dalam keruhanian, itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan  dalam Al-Quran bahwa “pergantian malam dan siang” merupakan bagian dari Tanda-tanda-Nya juga  (QS.10:68; QS.17:13; QS.7:27; QS.28:74; QS.30.24),  firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.    یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ     --    Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ  -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya.  (Al-A’rāf [7].7:35-37).

 Pengulangan Merebaknya   Kerusakan di “Daratan” dan di “Lautan 

       Tujuan kedatangan rasul Allah yang dijanjikan dari kalangan Bani Adam tersebut adalah untuk melepaskan manusia dari berbagai bentuk   kejahiliyah --   atau dari  kegelapan malam   (kesesatan)   -- yang   senantiasa kembali merebak  di kalangan umat beragama, setelah mengalami masa “siang” (petunjuk)  melalui pengutusan rasul Allah dari kalangan Bani Adam tersebut.
      Berikut ini   firman Allah Swt.  mengenai zaman kejahiliyah  yang paling hebat pada masa menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  – termasuk  selain kejahiliyah  di kalangan  Bani Isma’il  sendiri (QS.62:3)   -- firman-Nya:   
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya. Katakanlah:  Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini.  کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ -- Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ  --    Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
Kata-kata “daratan dan lautan” dalam ayat: ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ    -- “Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia” dapat diartikan:
     (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi  yakni umat beragama.
      (b) orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau.
        Ayat ini berarti  bahwa semua bangsa di dunia telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki:  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- “supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya”.

Penyebab “Mengerasnya Hati” Manusia
  
        Menurut  Al-Quran penyebab terulangnya  kemunculan   kejahiliyah” tersebut   adalah akibat   umat beragama  pada masa itu telah jauh dari masa kenabian yang penuh berkat, firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ  --  dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُم  -- maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras, وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ  -- dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا  --   Ketahuilah, bahwasanya  Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ --  Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
       Firman Allah Swt. tersebut menarik perhatian manusia kepada akibat buruk   yang ditimbulkan musim kemarau panjang yang  bukan saja menyebabkan matinya berbagai jenis tumbuhan di permukaan bumi, tetapi juga menyebabkan permukaan bumi pun menjadi kering dan keras membatu.  Kalau pun mmasih ada tersisa air di permukaan bumi tetapi  keadaannya telah rusak, busuk dan berpenyakit.
     Demikian juga hukum alam tersebut berlaku dalam dunia keruhanian, firman-Nya: وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ  --  dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُم  -- maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras, وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ  -- dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?”
      Ada pun cara Allah Swt. menghidupkan kembali “permukaan bumi yang telah mati” seperti itu adalah dengan menurunkan curahan air hujan dari langit, firman-Nya:  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا  --   Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ --  Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:18).

Pentingnya  Siraman “Hujan Ruhani

      Dalam dunia keruhanian yang dimaksud dengan “turunnya hujan” dari langit adalah pengutusan rasul Allah yang kedatangannnya dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) yang  kepadanya Allah Swt. menurunkan wahyu Ilahi  guna menghidupkan kembali “hati” manusia yang telah keras membatu,  sehingga  hati” manusia  tersebut menjadi “jannah” (kebun  yang rimbun) yang di bawahnya  mengalir sungai-sungai, sebagaimana  perumpamaan keadaan “surga  yang dijanjikan  Allah Swt. bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih (QS.2:26), firman-Nya:
وَ ہُوَ الَّذِیۡ یُرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ حَتّٰۤی  اِذَاۤ   اَقَلَّتۡ  سَحَابًا ثِقَالًا سُقۡنٰہُ لِبَلَدٍ مَّیِّتٍ فَاَنۡزَلۡنَا بِہِ الۡمَآءَ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ؕ کَذٰلِکَ نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ  تَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾  وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ ۚ وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ  اِلَّا نَکِدًا ؕ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Dia-lah Yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum datang rahmat-Nya,  حَتّٰۤی  اِذَاۤ   اَقَلَّتۡ  سَحَابًا ثِقَالًا سُقۡنٰہُ لِبَلَدٍ مَّیِّتٍ --   hingga apabila angin itu mem-bawa awan yang berat, Kami menghalaunya ke suatu negeri yang mati, فَاَنۡزَلۡنَا بِہِ الۡمَآءَ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ  -- maka Kami  turunkan air darinya, lalu dengan itu Kami mengeluarkan segala macam buah-buahan.  َذٰلِکَ نُخۡرِجُ الۡمَوۡتٰی لَعَلَّکُمۡ  تَذَکَّرُوۡنَ  -- Seperti itulah  Kami mengeluarkan orang-orang mati ruhani supaya kamu mengambil pelajaran. وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ   --    Dan negeri yang baik menumbuhkan tumbuh-tumbuhan atas perintah Rabb-nya (Tuhan-nya),  وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ  اِلَّا نَکِدًا -- sedangkan  negeri yang buruk tidak menumbuhkannya kecuali sedikit.  ؕ کَذٰلِکَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لِقَوۡمٍ یَّشۡکُرُوۡنَ --  Demikianlah Kami berulang-ulang menjelaskan Tanda-tanda bagi kaum yang bersyukur. (Al-A’rāf [7]:58-59).
  Kata rahmat  dalam ayat:  وَ ہُوَ الَّذِیۡ یُرۡسِلُ الرِّیٰحَ بُشۡرًۢا بَیۡنَ یَدَیۡ رَحۡمَتِہٖ   --  ”Dan  Dia-lah Yang mengirimkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum datang rahmat-Nya“ mengisyaratkan kepada hujan,  karena tak ubahnya seperti di alam jasmani hujan didahului oleh angin sepoi-sepoi basa sebagai pertandanya, begitu pula sebelum seorang nabi Allah   menampakkan diri (diutus) ada semacam kebangkitan  semangat keagamaan meluas di tengah-tengah umat manusia.

Tiga Macam    Keadaan Permukaan Tanah dan “jiwa  Manusia

    Ayat ini berarti bahwa  tak ubahnya seperti air hujan memberi kehidupan baru kepada permukaan tanah (bumi)  yang mati  dan menyebabkan  buah-buahan, tumbuh-tumbuhan  serta padi-padian tumbuh darinya, seperti itu pula peran air ruhani  berupa wahyu Ilahi  yang turun bersama pengutusan rasul Allah menghembuskan  nafas kehidupan baru  ke dalam suatu kaum yang sepi dari kehidupan ruhani.
  Dengan demikian ayat itu mengemukakan  janji bahwa tanah (jazirah)   Arab yang tadinya berupa gurun yang kering dan gersang itu akan segera mekar  menjadi sebuah kebun ruhani  yang penuh dengan pohon-pohon berbuah dan sarat  dengan tanam-tanaman yang berbunga semerbak sebagai akibat dari air samawi yang turun dalam  bentuk Al-Quran menyirami tanah itu.
 Jadi, tidak mengherankan kalau orang-orang Arab hingga waktu itu  telah dianggap sebagai busa dan sampah masyarakat umat manusia  --  sehingga disebut “kaum jahiliyah” atau berada dalam “kesesatan yang nyata” (QS.62:3)   -- dengan serta-merta tampil  menjadi guru-guru dan pemimpin-pemimpin manusia.
 Makna ayat 59: وَ الۡبَلَدُ الطَّیِّبُ یَخۡرُجُ نَبَاتُہٗ بِاِذۡنِ رَبِّہٖ   --    “dan negeri yang baik menumbuhkan tumbuh-tumbuhan atas perintah Rabb-nya (Tuhan-nya),  وَ الَّذِیۡ خَبُثَ لَا یَخۡرُجُ  اِلَّا نَکِدًا -- sedangkan  negeri yang buruk tidak menumbuhkannya kecuali sedikit.”     Bahwa tak ubahnya seperti hujan mendatangkan bermacam-ragam akibat atas berbagai lahan tanah menurut sifat dan kaifiatnya, demikian pula halnya wahyu Ilahi  memberi pengaruh kepada berbagai-bagai sifat manusia dalam bermacam-macam cara.  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda bahwa ada 3 macam permukaan tanah:
 (a)  Tanah bagus lagi datar yang jika disiram air hujan menyerap air hujan dan menumbuhkan  tumbuh-tumbuhan yang baik dan menghasilkan buah-buah dengan berlimpah-limpah;
 (b)  Tanah yang oleh karena letaknya yang rendah  dan berbatu-batu  hanya menampung air hujan tetapi tidak menyerapnya, dan karenanya tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, tetapi menyediakan air minum untuk manusia dan binatang;
  (c)  Tanah  yang tinggi lagi  berbatu-batu yang tidak menghimpun air hujan, begitu pula tidak menyerapnya  dan sama sekali tidak ada gunanya untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan  atau pun sebagai penyimpan air hujan.
     Begitu pula halnya manusia  pun keadaan jiwanya  terdiri atas tiga macam, yaitu:
 (1) Mereka yang bukan saja yang mendapat manfaat dari wahyu Ilahi untuk dirinya sendiri  tetapi juga menjadi sumber penyuluh  keruhanian bagi orang lain.
  (2)  Mereka yang dirinya tidak mendapat faedah dari wahyu Ilahi namun menerimanya dan menyimpannya  supaya orang lain memperoleh manfaat.
   (3)  Mereka yang dirinya sendiri tidak memperoleh faedah dari wahyu Ilahi, begitu juga tidak menyimpannya untuk digunakan orang lain. Mereka itu laksana sebidang tanah yang tidak mengeluarkan hasil apa pun dan tidak  pula menghimpun air supaya manusia dan binatang dapat minum darinya.

Kesederhanaan Pemahaman “Orang-orang Arab Gurun”

     Dengan demikian benarlah firman-Nya mengenai kesederhanaan faham keagamaan “orang-orang Arab gurun” yang dikemukakan dalam    dalam Bab sebelum ini, firman-Nya: 
قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ قُلۡ لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ  قُوۡلُوۡۤا  اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الصّٰدِقُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾  یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Orang-orang Arab gurun berkata: “Kami telah beriman.”  قُوۡلُوۡۤا  اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ   -- Katakanlah: “Kamu belum beriman,   tetapi katakanlah:  Kami telah berserah diri’, karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu.”   وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ --      Tetapi jika kamu menaati Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sesuatu dari amal-amal kamu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.    اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ  --  Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الصّٰدِقُوۡنَ   --  Mereka itulah orang-orang yang benar. قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  --            Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal  Allah mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ   --     Mereka mengira telah memberi anugerah  kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ   -- Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islaman kamu,  ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- bahkan  Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap kamu karena Dia telah memberi kamu petunjuk kepada iman, jika kamu orang-orang yang benar.” اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hujurāt [49]:15-19).
Firman-Nya lagi:
اَلۡاَعۡرَابُ اَشَدُّ کُفۡرًا وَّ نِفَاقًا وَّ اَجۡدَرُ اَلَّا یَعۡلَمُوۡا حُدُوۡدَ  مَاۤ  اَنۡزَلَ اللّٰہُ عَلٰی رَسُوۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ مِنَ الۡاَعۡرَابِ مَنۡ یَّتَّخِذُ مَا یُنۡفِقُ مَغۡرَمًا وَّ یَتَرَبَّصُ بِکُمُ الدَّوَآئِرَ ؕ عَلَیۡہِمۡ دَآئِرَۃُ  السَّوۡءِ ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Orang-orang Arab gurun itu sangat keras dalam kekafiran dan kemunafikan, karena itu mereka pantas  tidak mengetahui mengenai batas-batas hukum yang diturunkan Allah ke-pada Rasul-Nya, dan Allah Maha Me-ngetahui, Maha Bijaksana.  Dan di antara orang-orang Arab gurun itu ada yang menganggap apa yang dibelanjakan di jalan Allah itu sebagai denda dan ia menunggu-nunggu bencana-bencana menimpa atas diri kamu  Atas merekalah bencana buruk  akan menimpa, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (At-Taubah [9]:97-98).

Tidak Semuanya “Buruk

     Namun  demikian pula Al-Quran pun tidak pernah “menyama-ratakan”  mengenai perbuatan buruk yang dilakukan oleh suatu kaum – misalnya golongan Ahli Kitab  (QS.3:111 & 200)  – demikian pula dengan “orang-orang Arab gurun” pun ada pula orang-orang yang memiliki “kecerdasan ruhani”, firman-Nya:
وَ مِنَ الۡاَعۡرَابِ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  وَ یَتَّخِذُ مَا یُنۡفِقُ قُرُبٰتٍ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ صَلَوٰتِ الرَّسُوۡلِ ؕ اَلَاۤ اِنَّہَا قُرۡبَۃٌ  لَّہُمۡ ؕ سَیُدۡخِلُہُمُ اللّٰہُ  فِیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  ﴿٪﴾
Dan di antara orang-orang Arab gurun itu ada pula yang beriman kepada Allah dan kepada Hari Kemudian,  dan menganggap apa yang dibelanjakan-nya itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai penarik doa-doa Rasul. اَلَاۤ اِنَّہَا قُرۡبَۃٌ  لَّہُمۡ ؕ سَیُدۡخِلُہُمُ اللّٰہُ  فِیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  --  Ketahuilah, sesungguhnya itulah sarana bagi mereka un-tuk mendekatkan diri,  Allah segera akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (At-Taubah [9]:99).
        Al-Quran tak pernah mengutuk satu kaum seluruhnya tanpa memilah-milah. Ayat ini bertujuan hendak melenyapkan salah paham bahwa semua orang Arab dusun itu jahat.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  5 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar