Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 87
NUBUATAN
DAN PERINGATAN ALLAH SWT. DALAM KISAH “EMPAT
BURUNG” NABI IBRAHIM A.S. & NUBUATAN
DAN PERINGATAN ALLAH SWT. KEPADA UMAT ISLAM
DI TIMUR TENGAH DALAM
SURAH AL-QURAISY
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 86 dibahas makna ayat فَصُرۡہُنَّ
اِلَیۡکَ – “maka
condongkan mereka kepada engkau” berkenaan “empat burung” Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:261) dan hubungannya dengan makna allafa
(melekatkan
hati dengan kecintaan) mengenai kecintaan
para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.
dalam QS.8:64 serta kecintaan kaum Quraisy terhadap kota Mekkah dalam QS.106:1-5, firman-Nya:
وَ
اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ
اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ
لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً
مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ
مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara
Engkau menghidupkan yang mati?” قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ -- Dia
berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?”
قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ
-- Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.” Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka ke-pada engkau, kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau, وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ -- dan Ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa,
Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah
[2]:261).
Akibat Buruk Kelimpahan-ruahan Kekayaan Duniawi Berlimpah-ruah Hasil
Penjualan “Mas Hitam” & Perpecahan “Persaudaraan Muslim”
Berikut adalah firman Allah Swt.
mengenai kecintaan luar biasa para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. kepada
beliau saw.:
وَ اَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ اَلَّفۡتَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan Dia
telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka, seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini
seluruhnya, engkau sekali-kali tidak akan dapat menanamkan
kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah
telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-An’ām
[6]:64).
Di Akhir
Zaman ini -- sesuai dengan nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. -- akibat
mengalirnya “mas
hitam” (minyak bumi) di wilayah Timur
Tengah telah membuat negara-negara Islam di wilayah Arabia tersebut bergelimang
dengan kekayaaan duniawi luar-biasa
yang tidak pernah terjadi sebelumnya --
sekali pun di masa kejayaan Islam
yang pertama. Namun demikian sesuai
dengan pernyataan Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw. dalam firman-Nya tersebut kelimpah-ruahan kekayaan
duniawi tersebut tidak mampu membuat umat
Islam di wilayah Timur Tengah bersatu-padu menjadi “satu umat bersaudara” seperti di zaman Nabi Besar Muhammad saw. (QS.49:11),
malah sebaliknya limpahan kekayaan duniawi tersebut menjadi penyebab semakin parahnya perpecahan umat dan penumpahan
darah, benarlah firman-Nya: seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini
seluruhnya, engkau sekali-kali tidak akan dapat menanamkan
kecintaan di antara hati mereka.”
Mengapa demikian? Sebab menurut Allah Swt. memang seperti itulah pengaruh buruk kekayaan duniawi bagi
manusia jika tidak dilandasi dengan ketakwaan kepada Allah Swt., yakni limpahan kekayaan
duniawi tersebut akan semakin menjauhkan
manusia dari Allah Swt. (Tauhid
Ilahi) dan menjerumuskan ke dalam berbagai bentuk kemusyrikan terselubung, sebagaimana firman-Nya:
وَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً لَّجَعَلۡنَا لِمَنۡ یَّکۡفُرُ بِالرَّحۡمٰنِ لِبُیُوۡتِہِمۡ
سُقُفًا مِّنۡ فِضَّۃٍ وَّ مَعَارِجَ
عَلَیۡہَا یَظۡہَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ
لِبُیُوۡتِہِمۡ اَبۡوَابًا وَّ سُرُرًا عَلَیۡہَا
یَتَّکِـُٔوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ زُخۡرُفًا ؕ وَ اِنۡ کُلُّ ذٰلِکَ لَمَّا مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ؕ وَ الۡاٰخِرَۃُ عِنۡدَ
رَبِّکَ لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan seandainya tidak karena manusia
akan menjadi satu umat yang durhaka maka niscaya Kami menjadikan bagi orang
yang kafir kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah itu atap-atap rumah
mereka dari perak dan juga tangga-tangga yang di atasnya mereka naik, dan Kami
menjadikan pintu-pintu rumah mereka
dan dipan-dipan dari perak yang
padanya mereka bersandar, وَ زُخۡرُفًا -- dan bahkan dari emas. وَ اِنۡ کُلُّ ذٰلِکَ لَمَّا مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا -- Dan tidak lain itu hanyalah perbekalan se-mentara kehidupan dunia, وَ الۡاٰخِرَۃُ عِنۡدَ
رَبِّکَ لِلۡمُتَّقِیۡنَ -- sedangkan kesenangan
akhirat di sisi Rabb
(Tuhan) engkau adalah untuk orang-orang bertakwa. (Az-Zukhruf
[43]:34-36).
Nubuatan Nabi Besar Muhammad Saw.
Mengenai Perpecahan Umat Islam di Timur Tengah
Seandainya dengan menghapuskan
kesenjangan (ketidakseimbangan) sarana,
kekayaan, dan martabat --
yakni jika semua manusia diberikan kelimpah-ruahan kekayaan duniawi serta kekuasaan
duniawi tidak akan mengakibatkan
segenap manusia berhenti
berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi dan ketakwaan
kepada Allah Swt., niscaya Allah Swt. akan mencukupi orang-orang kafir dengan rumah-rumah
dari perak yang berpintu dan bertangga terbuat dari emas,
sebab hal itu semua tidak ada nilainya
dan tidak berharga sama sekali dalam pandangan Allah Swt..
Itulah sebabnya salah satu alasan yang dikemukakan para pemuka kaum-kaum purbakala mendustakan dan menentang para rasul Allah
yang dibangkitkan dari kalangan mereka (QS.7:35-37) karena mereka sangat bangga dengan jumlah mereka yang besar (mayoritas)
serta kelimpah-ruahan kekayaan dan kekuasaan duniawi mereka, sedangkan keadaan rasul Allah dan orang-orang yang beriman kepada para rasul Allah tersebut merupakan kaum minoritas dan miskin kekayaan dan kekuasaan duniawi, contohnya penentangan para pemuka
kaum Nabi Nuh a.s. (QS.11:26-35) dan penentangan Fir’aun
dan serta Qarun terhadap Nabi
Musa a.s. (QS.43:52-57; QS.28: 77-83), Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ بَسَطَ
اللّٰہُ الرِّزۡقَ لِعِبَادِہٖ لَبَغَوۡا
فِی الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ یُّنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ بِعِبَادِہٖ
خَبِیۡرٌۢ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan seandainya Allah melapangkan rezeki
bagi hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan melampaui batas di bumi, وَ لٰکِنۡ یُّنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا یَشَآءُ -- tetapi Dia me-nurunkan menurut ukuran yang Dia kehendaki, اِنَّہٗ بِعِبَادِہٖ
خَبِیۡرٌۢ بَصِیۡرٌ -- sesungguhnya
Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat mengenai hamba-hamba-Nya. (Asy-Syūrā [42]:28).
Firman Allah Swt. tersebut
memperkuat pernyataan firman Allah Swt. dalam QS.6:64 mengenai sisi
negative penganugerahan kekayaan duniawi kepada umat Islam di Timur
Tengah sebagaimana telah dinubuatkan
Nabi Besar Muhammad saw., bahwa Malaikat
Jibril a.s. datang menjumpai Nabi Besar Muhammad saw., malaikat Jibril a.s. datang dengan wujud
manusia. Ia datang dengan penampilan indah, mengenakan baju yang teramat putih
ditimpali warna rambut yang hitam kelam. Malaikat Jibril a.s. datang berdialog
dengan Nabi Besar saw. untuk
memberikan pengajaran kepada para sahabat. Malaikat Jibril a.s. bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Kemudian
ia bertanya tentang tanda Kiamat. Di
antara jawaban Nabi Besar Muhammad saw. adalah:
“Dan bila engkau menyaksikan mereka
yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian) berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.” (HR. Muslim).
Dalam hadits lain, yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu ‘Abbas r.a. ada keterangan tambahan. Ibnu ‘Abbas r.a. bertanya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
“Wahai Rasulullah, dan siapakah para pengembala, orang yang tidak memakai sandal, dalam keadaan
lapar dan yang miskin itu?”
Beliau menjawab, “Orang Arab.” (Musnad Ahmad, IV/332-334, no. 2926).
Pendek kata, menurut Allah Swt. harta kekayaan serta kekuasaan
duniawi tidak akan pernah mampu mempersatukan “hati manusia” dengan kecintaan yang hakiki seperti yang dilakukan
Allah Swt. melalui pengutusan rasul
Allah -- terutama Nabi Besar
Muhammad saw., termasuk di Akhir Zaman ini (QS.62:3-4; QS.61:10) – firman-Nya:
وَ اَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ اَلَّفۡتَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan Dia
telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka, seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini
seluruhnya, engkau sekali-kali tidak akan dapat menanamkan
kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah
telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-An’ām
[6]:64).
Penyebab Kecintaan Kaum Quraisy
Kepada Kota Mekkah
Kemudian mengenai peran Allah Swt. mengenai kecintaan
kaum Quraisy kepada kota Mekkah Dia berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ لِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ ۙ﴿﴾ اٖلٰفِہِمۡ رِحۡلَۃَ
الشِّتَآءِ وَ الصَّیۡفِ ۚ﴿ ﴾ فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ
مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ ٪﴿﴾
Aku
baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. لِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ -- Tuhan
engkau membinasakan para pemilik gajah untuk melekatkan hati
orang-orang Quraisy. ٖلٰفِہِمۡ رِحۡلَۃَ
الشِّتَآءِ وَ الصَّیۡفِ -- Untuk melekatkan kecintaan
mereka pada perjalanan
di musim dingin dan musim panas. فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ -- Maka hendaklah
mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik Rumah ini, الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ
مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ -- Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan. (Al-Quraisy [106]:1-5).
Īlāf dalam
ayat: لِاِیۡلٰفِ
قُرَیۡشٍ -- Tuhan engkau membinasakan para
pemilik gajah untuk melekatkan hati orang-orang
Quraisy” sebagai masdar dari alafa berarti: melekatkan atau membuat sesuatu melekat
pada suatu benda; mencintai dan
membuat seseorang mencintai seorang
pribadi atau sesuatu; membekali
seseorang dengan sesuatu; perjanjian
atau kewajiban yang menyangkut
pertanggung-jawaban untuk
keselamatan; perlindungan (Lexicon
Lane).
Kata quraisy yang
diserap dari akar-kata qarasya yang berarti: ia mengum-pulkannya dari
sana-sini dan melekatkan sebagian darinya kepada bagian lainnya (Aqrab-ul-Mawarid). Suku Quraisy disebut demikian karena salah
seorang dari moyang mereka, Qushay Ibn Kilāb bin Nadhr telah membujuk mereka
dari segala bagian negeri Arab, yang tadinya menjalani hidup mengembara,
berhijrah untuk kemudian menetap di Mekkah. Dari Banu Kinanah, hanya keturunan Nadr saja menetap dan oleh
sebab mereka hanya merupakan kelompok
kecil, mereka disebut Quraisy, yang berarti suatu kelompok kecil yang telah dikumpulkan
dari sana-sini.
Pengabulan Doa Nabi Ibrahim a.s. Mengenai Penduduk
Mekkah
Makna ayat: اٖلٰفِہِمۡ رِحۡلَۃَ
الشِّتَآءِ وَ الصَّیۡفِ -- “untuk melekatkan kecintaan
mereka pada perjalanan
di musim dingin dan musim panas”, karena
huruf lam itu partikel dan
dalam bahasa Arab kalimat baru tidak
pernah dimulai dengan partikel, oleh
karena itu suatu kalimat atau anak kalimat atau ungkapan haruslah dianggap mahzuf -- yakni
harus ada, tetapi tidak
disebutkan atau dinyatakan -- sebelum ayat ini.
Kalimat mahzuf itu kira-kira begini
bunyinya: “Hai Muhammad, herankah engkau atas karunia
Allah terhadap kaum Quraisy,
karena Dia telah menimbulkan di dalam
hati mereka kesukaan mengembara di
musim dingin maupun di musim panas?”
Karunia Allah Swt. itu terwujud dalam
kenyataan bahwa dengan membawa kafilah-kafilah
niaga itu, kaum Quraisy
berangsur-angsur memperoleh semacam wibawa
dan menambah kesejahteraan kota
mereka (Mekkah), dan juga menjadikan
mereka mengetahui akan adanya nubuatan-nubuatan
mengenai kemunculan seorang Nabi agung di tanah Arab sebagai akibat dari hubungan mereka dengan orang-orang
Yahudi asal Yaman dan orang-orang Nasrani asal Siria, yang mengetahui nubuatan-nubuatan itu.
Kaum Quraisy
itu begitu terikat kepada tanah mereka dan mempunyai kecintaan mendalam kepada Ka’bah
(Baitullah), sehingga lebih suka mati
kelaparan daripada meninggalkannya,
sekalipun hanya untuk sementara
waktu. Adalah berkat anjuran Hasyim,
nenek mo-yang Nabi Besar Muhammad saw., makanya mereka menyambut baik ajakan itu.
Dengan demikian, hal itu merupakan karunia besar sekali bagi mereka, bahwa perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat
itu selain faedah-faedah yang diraih
dari perjalanan-perjalanan mereka, mereka pun sedang dipersiapkan agar mereka dapat menerima Nabi Besar Muhammad saw
yang kedatangannya diharapkan akan segera terjadi, sebagai pengabulan doa dari leluhur mereka, Nabi Ibrahim
a.s. (QS.2:126-130; QS.14:36:42).
Hikmah Dihancurkan-Nya Bala Tentara Gajah Abrahah & Nubuatan dan Peringatan Allah Swt. Dalam
Surah Al-Quraisy
Ada penjelasan lain mengenai ayat ini,
barangkali lebih cocok dalam hubungan ini yang kira-kira sebagai berikut: “Hai Muhammad, Tuhan
engkau telah membinasakan para pemilik gajah supaya hati orang-orang Quraisy melekat pada kegemaran mereka, berkelana bebas bagi mereka.”
Penjelasan ini sangat dapat diterima oleh akal, sebab seandainya Abraha dan pasukannya -- tepat pada hari kelahiran Nabi Besar Muhammad
saw. -- tidak dibinasakan Allah Swt. niscaya
orang-orang Quraisy tidak akan suka bepergian ke tempat-tempat itu, dan perjalanan-perjalanan niaga mereka pun tidak akan aman.
Jadi, kebinasaan
Abraha – Raja Muda Kristen dari
Yaman -- dan bala tentaranya yang bermaksud menghancurkan Baitullah di Mekkah, selain
membuka jalan untuk perjalanan-perjalanan
niaga bagi kaum Quraisy, juga Ka’bah nampak
lebih suci dan lebih keramat lagi dalam
pandangan orang-orang Arab, tempat
yang bagi mereka sebelumnya pun telah merupakan tempat ziarah.
Ziarah para penduduk Arabia ke Baitullah
di Mekkah tersebut itu pada
gilirannya menambah dorongan kepada peningkatan perdagangan kaum Quraisy. Ayat ini dapat pula berarti, “Tuhan
engkau menghancurkan para pemilik
gajah sebagai tindak pemeliharaan
bagi kaum Quraisy.” Dan untuk menggugah
kaum Quraisy terhadap “rahmat dan karunia” Allah Swt. serta sebgaai rasa syukur mereka kepada Allah Swt. selanjutnya Dia
berfirman: فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ --
Maka hendaklah mereka menyembah
Rabb (Tuhan) Pemilik Rumah ini.”
Makna ayat: الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ
مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ -- “Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah
memberi mereka keamanan di waktu ketakutan.” Orang-orang Quraisy dianugerahi jaminan
keselamatan dan kebebasan dari
ketakutan, sedang kaum-kaum serta keadaan sekitar mereka seluruhnya dicekam oleb rasa ketakutan dan ketidak-amanan.
Di samping itu, sepanjang tahun mereka
mempunyai persediaan segala macam buah-buahan dan makanan. Kesemuanya itu bukan hanya secara kebetulan belaka. Hal demikian itu sesuai dengan rencana Ilahi dan memenuhi nubuatan yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim a.s. 2.500
tahun yang telah silam (QS.2:127-130 dan QS.14:36, 38).
Ada pun yang menarik mengenai doa
Nabi Ibrahim a.s. mengenai jaminan
kehidupan duniawi bagi penduduk
Mekkah tersebut adalah jawaban
Allah Swt. mengenai penganugerahan kekayaan
duniawi bahwa
hal tersebut tidak hanya terbatas bagi orang-orang yang beriman
saja, bahkan kepada orang-orang
kafir pun akan diberikan, firman-Nya:
وَ اِذۡ
قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا
بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ
مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ مَنۡ
کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ
قَلِیۡلًا ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ
اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ
بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Ibrahim
berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), jadikanlah tempat ini kota yang aman dan berikanlah rezeki berupa
buah-buahan kepada penduduknya dari
antara mereka yang beriman kepada
Allah dan Hari Kemudian.” Dia berfirman: “Dan orang yang
kafir pun maka Aku akan memberi sedikit kesenangan
kepadanya kemudian akan
Aku paksa ia masuk ke dalam
azab Api, dan itulah seburuk-buruk
tempat kembali.” (Al-Baqarah [2]:127).
Jadi, surah Al-Quraisy memberikan
pengertian kepada kaum Quraisy – dan
juga sebagai nubuatan dan peringatan bagi
umat Islam di Timur Tengah di Akhir Zaman ini -- akan kesalahan sikap ketidak-bersyukuran mereka,
dengan memberitahukan bahwa mereka telah
memilih penyembahan kepada tuhan-tuhan terbuat dari kayu dan batu daripada menyembah kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang -- yakni Allah Swt. -- Yang telah menganugerahkan kepada mereka karunia-karunia
besar dan jaminan keamanan, keselamatan dan ketakutan dan kelaparan,
sehingga hati mereka senantiasa melekat
(allafa) dan “mencintai kota Mekkah”,
dan sebagai rasa syukur yang hakiki: فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ --
Maka hendaklah mereka menyembah
Rabb (Tuhan) Pemilik Rumah ini, الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ
مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ -- Yang
telah memberi mereka makan di waktu
lapar dan telah memberi mereka
keamanan di waktu ketakutan. (Al-Quraisy [106]:4-5).
Nubuatan
dan Peringatan Dalam Kisah “Empat Burung” Nabi Ibrahim a.s.
Kembali kepada firman Allah Swt. mengenai “empat burung” Nabi Ibrahim a.s.,
firman-Nya:
وَ
اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ
اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ
لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً
مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ
مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara
Engkau menghidupkan yang mati?” قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ -- Dia
berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?”
قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ
-- Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.” Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka ke-pada engkau, kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau, dan Ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa,
Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah
[2]:261).
Dengan demikian jelaslah bahwa makna perintah Allah Swt. فَصُرۡہُنَّ
اِلَیۡکَ kepada Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat: Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung فَصُرۡہُنَّ
اِلَیۡکَ kemudian
letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau”, makna kalimat فَصُرۡہُنَّ bukan “lalu potong-potonglah” melainkan “condongkanlah mereka kepada engkau” atau “lekatkanlah hati mereka kepada engkau.”
Sebab, seandainya benar tujuan
ayat tersebut adalah semata-mata untuk membuktikan bahwa Allah Swt.
berkuasa menghidupkan kembali apa pun yang
secara jasmani yang telah mati, maka dengan mengemukakan contoh empat ekor burung sangat tidak tepat, karena
akan lebih spektakuler jika contoh yang
dikemukakan Allah Swt. yang diperintahkan dipotong-potong
itu adalah empat orang manusia lalu dihidupkan
lagi.
Namun terlepas dari adanya perbedaan penafsiran mengenai ayat
tersebut, pada hakikatnya peristiwa
yang dikemukakan dalam ayat itu suatu kasyaf
(penglihatan ruhani) yang dialami Nabi Ibrahim a.s. mengenai “burung” tersebut yang juga dikemukakan
dalam Bible dengan versi cerita yang berbeda tetapi maknanya sama yaitu berupa nubuatan mengenai keturunan
Nabi Ibrahim a.s. (Kejadian 15:7-21).
Dengan mengambil “empat
ekor burung” maknanya atau takwilnya adalah bahwa keturunan
Nabi Ibrahim a.s. akan mengalami empat
kali peritiwa kebangkitan
dan kejatuhan, yakni peristiwa itu akan dialami dua kali oleh kaum Bani
Israil, yakni melalui pengutusan Nabi
Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s., dan peristiwa tersebut akan terulang lagi dua kali di kalangan kaum Bani
Isma’il (QS.62:3-4) yakni melalui Nabi Besar Muhammad Saw. dan Al-Masih Akhir Zaman (Masih Mau’ud
a.s.) atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58).
Allah Swt. menjadikan Orang-orang
Kafir yang Memiliki Kekuatan Tempur
yang Hebat Sebagai Sarana Hukuman Bagi Orang-orang Beriman yang Durhaka
Kenyataan sejarah
membuktikan bahwa kekuatan kaum Yahudi
(Bani Israil) yang adalah keturunan Nabi
Ibrahim a.s. melalui Nabi Ishaq a.s. setelah mengalami masa kejayaan lalu mengalami masa
kehancuran dua kali: pertama kali
oleh Nebukadnezar dan kemudian oleh Titus (Encyclopaedia Britannica
pada Jews; QS.17:5-8.), sebagai
akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79), dan tiap-tiap kali Allah Swt. membangkitkan
kembali sesudah keruntuhan mereka; dan kebangkitan
kedua kalinya terlaksana oleh Konstantin,
Maharaja Roma, yang kemudian memeluk agama
Kristen, walau pun sudah tidak lagi merupakan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:117-119).
Demikian pula kekuatan Islam, mula-mula dengan hebat digoncang ketika Baghdad – pusat pemerintahan Islam Bani Abbas -- jatuh saat menghadapi pasukan-pasukan Mongol dan Tartar pimpinan Hulaku Khan -- yang
dijadikan sarana hukuman Allah Swt. terhadap mereka -- tetapi
segera dapat pulih kembali
sesudah pukulan yang meremukkan itu. Para pemenang Islam tersebut berubah menjadi golongan yang kalah dan cucu Hulaku Khan, perebut Bagdad, masuk Islam.
Keruntuhan kedua umat Islam datang kemudian ketika – seiring dengan bangkitkan bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang
disebut Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:96-101; Wahyu
20:7-10) -- kemunduran umum dan menyeluruh
dialami oleh kaum Muslimin dalam bidang ruhani dan bidang politik sebagaimana dinubuatkan
dalam QS.32:6, dan kebangkitan Islam yang kedua
sedang dilaksanakan oleh Masih Mau’ud a.s. (QS.62:3-4; QS.61:10).
Dalam
ayat-ayat yang lalu dijelaskan bahwa menurut hukum
Ilahi, Allah Swt. memberikan hidup
baru kepada bangsa-bangsa yang
layak menerimanya sesudah mereka secara ruhani
mengalami kematian, dan ihwal Bani
Israil disebut sebagai contoh
(QS.2:260). Kemudian dinyatakan dalam
QS.2:261 bahwa keturunan Ibrahim a.s . akan bangkit empat kali -- yang
diisyaratlan dengan “4 ekor burung” dan salah satu takwil “burung” adalah “keturunan”
-- yakni Bani Israil dan Bani Isma’il masing-masing
akan bangkit dua kali, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا
لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ
نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا
مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terha-dap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya kamu
akan menyombongkan diri dengan kesombongan
yang sangat besar.” Apabila datang
saat sempurnanya janji yang
pertama dari kedua janji itu, Kami
membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan
tempur yang dahsyat, dan mereka
menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan
itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami
mengembali-kan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan anak-anak, dan Kami
menjadikan kelompok ka-mu lebih besar dari
sebelumnya. Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi diri kamu
sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu
untuk dirimu sendiri. فَ Lalu
bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami
membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan
supaya mereka memasuki masjid seperti
pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan
segala yang telah mereka kuasai.
(Bani Israil [17]:5-8).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 16 Desember
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar