Minggu, 25 Desember 2016

Nubuatan dan Peringatan Allah Swt. Dalam Kisah "Empat Burung" Nabi Ibrahim a.s. & Nubuatan dan Peringatan Allah Swt. Kepada Umat Islam di Timur-Tengah Dalam Surah Al-Quraisy

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  87

NUBUATAN DAN PERINGATAN ALLAH SWT. DALAM  KISAH “EMPAT BURUNG”  NABI IBRAHIM A.S.  & NUBUATAN DAN PERINGATAN ALLAH SWT. KEPADA UMAT ISLAM  DI TIMUR TENGAH DALAM SURAH AL-QURAISY

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 86  dibahas  makna    ayat فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ  – “maka condongkan mereka kepada engkau” berkenaan “empat burung” Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:261) dan hubungannya  dengan  makna allafa  (melekatkan hati dengan kecintaan) mengenai kecintaan para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. dalam QS.8:64 serta kecintaan kaum Quraisy terhadap kota Mekkah dalam QS.106:1-5,   firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اَرِنِیۡ  کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ  قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara Engkau menghidupkan yang mati?” قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ  --  Dia berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?” قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ  --  Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.”  Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka ke-pada engkau, kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada engkauوَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ --  dan Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:261).

Akibat Buruk Kelimpahan-ruahan Kekayaan Duniawi Berlimpah-ruah Hasil Penjualan  “Mas Hitam”  & Perpecahan   “Persaudaraan Muslim”    

         Berikut adalah firman Allah Swt. mengenai kecintaan luar biasa para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. kepada beliau saw.:
وَ اَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ  اَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau  sekali-kali tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka,   tetapi Allah  telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-An’ām [6]:64).
         Di Akhir Zaman ini   -- sesuai dengan nubuatan Nabi Besar Muhammad saw.  --   akibat  mengalirnya  “mas hitam” (minyak bumi) di wilayah Timur Tengah  telah membuat negara-negara Islam di wilayah Arabia  tersebut bergelimang dengan kekayaaan duniawi luar-biasa yang tidak pernah terjadi sebelumnya  -- sekali pun di masa kejayaan Islam yang pertama. Namun demikian  sesuai dengan pernyataan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam firman-Nya tersebut kelimpah-ruahan kekayaan duniawi tersebut tidak mampu membuat umat Islam di wilayah Timur Tengah   bersatu-padu menjadi “satu umat bersaudara” seperti di zaman Nabi Besar Muhammad saw. (QS.49:11),  malah sebaliknya limpahan kekayaan duniawi tersebut menjadi penyebab semakin parahnya    perpecahan umat  dan penumpahan darah, benarlah firman-Nya:   seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya,   engkau  sekali-kali tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka.”
       Mengapa demikian? Sebab menurut Allah Swt. memang seperti itulah pengaruh buruk kekayaan duniawi  bagi manusia jika tidak dilandasi dengan ketakwaan kepada Allah  Swt., yakni limpahan  kekayaan duniawi tersebut akan semakin menjauhkan manusia dari Allah Swt. (Tauhid Ilahi) dan menjerumuskan  ke dalam berbagai bentuk kemusyrikan terselubung, sebagaimana firman-Nya:
وَ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ یَّکُوۡنَ النَّاسُ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً لَّجَعَلۡنَا  لِمَنۡ یَّکۡفُرُ بِالرَّحۡمٰنِ لِبُیُوۡتِہِمۡ سُقُفًا مِّنۡ فِضَّۃٍ  وَّ مَعَارِجَ عَلَیۡہَا یَظۡہَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لِبُیُوۡتِہِمۡ  اَبۡوَابًا وَّ سُرُرًا عَلَیۡہَا یَتَّکِـُٔوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ زُخۡرُفًا ؕ وَ اِنۡ کُلُّ  ذٰلِکَ لَمَّا مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا ؕ وَ الۡاٰخِرَۃُ  عِنۡدَ  رَبِّکَ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan seandainya tidak karena  manusia akan menjadi satu umat yang durhaka maka niscaya Kami menjadikan bagi orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah itu atap-atap rumah mereka dari perak dan juga tangga-tangga yang di atasnya mereka naik,   dan Kami menjadikan pintu-pintu rumah mereka dan dipan-dipan dari perak yang padanya mereka bersandar, وَ زُخۡرُفًا  --    dan bahkan dari emas.  وَ اِنۡ کُلُّ  ذٰلِکَ لَمَّا مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا -- Dan tidak lain itu hanyalah perbekalan se-mentara kehidupan duniaوَ الۡاٰخِرَۃُ  عِنۡدَ  رَبِّکَ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ --  sedangkan kesenangan akhirat di sisi  Rabb (Tuhan) engkau adalah untuk orang-orang bertakwa. (Az-Zukhruf [43]:34-36).

Nubuatan Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Perpecahan Umat Islam di Timur Tengah

  Seandainya dengan menghapuskan kesenjangan (ketidakseimbangan) sarana, kekayaan, dan martabat    -- yakni jika  semua manusia  diberikan kelimpah-ruahan kekayaan duniawi  serta kekuasaan duniawi     tidak akan mengakibatkan segenap manusia     berhenti  berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi   dan ketakwaan kepada Allah Swt., niscaya Allah Swt.  akan mencukupi orang-orang kafir dengan rumah-rumah dari perak yang berpintu dan bertangga terbuat dari  emas, sebab hal itu semua tidak ada nilainya dan tidak berharga sama sekali dalam pandangan Allah Swt..
 Itulah sebabnya salah satu alasan yang dikemukakan para pemuka kaum-kaum purbakala mendustakan dan menentang para rasul Allah yang dibangkitkan dari kalangan mereka (QS.7:35-37)   karena mereka sangat bangga  dengan jumlah mereka yang besar (mayoritas) serta kelimpah-ruahan  kekayaan dan kekuasaan duniawi mereka, sedangkan keadaan rasul Allah dan orang-orang  yang beriman kepada para rasul Allah tersebut merupakan kaum minoritas dan miskin kekayaan dan kekuasaan duniawi, contohnya penentangan  para pemuka kaum Nabi Nuh a.s.  (QS.11:26-35) dan penentangan  Fir’aun dan serta Qarun  terhadap Nabi Musa a.s. (QS.43:52-57; QS.28: 77-83),  Allah Swt. berfirman:
وَ لَوۡ بَسَطَ اللّٰہُ  الرِّزۡقَ لِعِبَادِہٖ لَبَغَوۡا فِی الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنۡ یُّنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ  بِعِبَادِہٖ  خَبِیۡرٌۢ   بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan seandainya Allah melapangkan rezeki bagi hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan melampaui batas  di bumi, وَ لٰکِنۡ یُّنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا یَشَآءُ --   tetapi Dia me-nurunkan menurut ukuran yang Dia kehendaki, اِنَّہٗ  بِعِبَادِہٖ  خَبِیۡرٌۢ   بَصِیۡرٌ  --  sesungguhnya  Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat mengenai hamba-hamba-Nya. (Asy-Syūrā [42]:28).
      Firman Allah Swt. tersebut memperkuat  pernyataan firman  Allah Swt. dalam QS.6:64 mengenai sisi negative penganugerahan  kekayaan duniawi kepada umat Islam  di Timur  Tengah sebagaimana telah dinubuatkan Nabi Besar Muhammad saw., bahwa Malaikat Jibril a.s. datang menjumpai Nabi Besar  Muhammad saw., malaikat  Jibril a.s. datang dengan wujud manusia. Ia datang dengan penampilan indah, mengenakan baju yang teramat putih ditimpali warna rambut yang hitam kelam. Malaikat Jibril a.s.  datang berdialog dengan Nabi Besar  saw. untuk memberikan pengajaran kepada para sahabat. Malaikat  Jibril a.s. bertanya tentang Islam, iman, dan ihsan. Kemudian ia bertanya tentang tanda Kiamat. Di antara jawaban Nabi Besar Muhammad saw. adalah:
Dan bila engkau menyaksikan mereka yang berjalan tanpa alas kaki, tidak berpakaian, fakir, dan penggembala kambing, (kemudian) berlomba-lomba membuat bangunan yang tinggi.” (HR. Muslim).
      Dalam hadits lain, yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu ‘Abbas r.a.  ada keterangan tambahan. Ibnu ‘Abbas r.a. bertanya kepada Nabi  Besar Muhammad saw.:
 “Wahai Rasulullah, dan siapakah para pengembala, orang yang tidak memakai sandal, dalam keadaan lapar dan yang miskin itu?” Beliau menjawab, “Orang Arab.” (Musnad Ahmad, IV/332-334, no. 2926).
      Pendek kata,  menurut Allah Swt. harta kekayaan  serta kekuasaan duniawi   tidak akan pernah mampu mempersatukan “hati manusia” dengan kecintaan yang hakiki seperti yang dilakukan Allah Swt. melalui pengutusan rasul Allah  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw., termasuk di Akhir Zaman ini (QS.62:3-4; QS.61:10)   – firman-Nya:
وَ اَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ  اَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka, seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau  sekali-kali tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah  telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-An’ām [6]:64).

Penyebab Kecintaan Kaum Quraisy Kepada Kota Mekkah

      Kemudian mengenai peran Allah Swt. mengenai kecintaan kaum Quraisy kepada kota Mekkah Dia berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  لِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ ۙ﴿﴾   اٖلٰفِہِمۡ  رِحۡلَۃَ  الشِّتَآءِ  وَ الصَّیۡفِ ۚ﴿ ﴾  فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayangلِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ      --  Tuhan engkau membinasakan para pemilik gajah untuk melekatkan hati  orang-orang Quraisyٖلٰفِہِمۡ  رِحۡلَۃَ  الشِّتَآءِ  وَ الصَّیۡفِ --  Untuk melekatkan kecintaan   mereka pada  perjalanan  di musim dingin dan musim panas. فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ     --  Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik   Rumah ini, الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ  -- Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan.   (Al-Quraisy [106]:1-5).
    Īlāf dalam ayat: لِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ   --  Tuhan engkau membinasakan para pemilik gajah untuk melekatkan hati  orang-orang Quraisy   sebagai masdar dari alafa berarti: melekatkan atau membuat sesuatu melekat pada suatu benda; mencintai dan membuat seseorang mencintai seorang pribadi atau sesuatu; membekali seseorang dengan sesuatu; perjanjian atau kewajiban yang menyangkut pertanggung-jawaban untuk keselamatan; perlindungan (Lexicon Lane).
  Kata quraisy   yang diserap dari akar-kata qarasya yang berarti: ia mengum-pulkannya dari sana-sini dan melekatkan sebagian darinya kepada bagian lainnya (Aqrab-ul-Mawarid). Suku Quraisy disebut demikian karena salah seorang dari moyang mereka, Qushay Ibn Kilāb bin Nadhr telah membujuk mereka dari segala bagian negeri Arab, yang tadinya menjalani hidup mengembara, berhijrah untuk kemudian menetap di Mekkah. Dari Banu Kinanah, hanya keturunan Nadr saja menetap dan oleh sebab mereka hanya merupakan kelompok kecil, mereka disebut Quraisy,  yang berarti suatu kelompok kecil yang telah dikumpulkan dari sana-sini.

Pengabulan Doa Nabi Ibrahim a.s. Mengenai Penduduk Mekkah

     Makna  ayat:      اٖلٰفِہِمۡ  رِحۡلَۃَ  الشِّتَآءِ  وَ الصَّیۡفِ   --  “untuk melekatkan kecintaan   mereka pada  perjalanan  di musim dingin dan musim panas”,   karena huruf lam itu partikel dan dalam bahasa Arab kalimat baru tidak pernah dimulai dengan partikel, oleh karena itu suatu kalimat atau anak kalimat atau ungkapan haruslah dianggap mahzuf   -- yakni   harus ada, tetapi tidak disebutkan atau dinyatakan  -- sebelum ayat ini.
    Kalimat mahzuf itu kira-kira begini bunyinya: “Hai Muhammad, herankah engkau atas karunia Allah terhadap kaum Quraisy, karena Dia telah menimbulkan di dalam hati mereka kesukaan mengembara di musim dingin maupun di musim panas?”  
   Karunia Allah Swt. itu terwujud dalam kenyataan bahwa dengan membawa kafilah-kafilah niaga itu, kaum Quraisy berangsur-angsur memperoleh semacam wibawa dan menambah kesejahteraan kota mereka (Mekkah),   dan juga menjadikan mereka  mengetahui akan adanya nubuatan-nubuatan  mengenai kemunculan seorang Nabi agung di tanah Arab  sebagai akibat dari hubungan mereka dengan orang-orang Yahudi asal Yaman dan orang-orang Nasrani asal Siria, yang mengetahui nubuatan-nubuatan itu.
    Kaum Quraisy itu begitu terikat kepada tanah mereka dan mempunyai kecintaan mendalam kepada Ka’bah (Baitullah), sehingga lebih suka mati kelaparan daripada meninggalkannya, sekalipun hanya untuk sementara waktu. Adalah berkat anjuran Hasyim, nenek mo-yang Nabi Besar Muhammad saw., makanya mereka menyambut baik ajakan itu.
     Dengan demikian, hal itu merupakan karunia besar sekali bagi mereka, bahwa perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat itu selain faedah-faedah yang diraih dari perjalanan-perjalanan mereka,  mereka pun sedang dipersiapkan agar mereka dapat menerima Nabi Besar Muhammad saw  yang kedatangannya diharapkan akan segera terjadi, sebagai pengabulan doa dari leluhur mereka, Nabi Ibrahim a.s.  (QS.2:126-130; QS.14:36:42).

Hikmah Dihancurkan-Nya Bala Tentara Gajah Abrahah & Nubuatan dan Peringatan Allah Swt.  Dalam Surah Al-Quraisy

    Ada penjelasan lain mengenai ayat ini, barangkali lebih cocok dalam hubungan ini yang kira-kira sebagai berikut: “Hai MuhammadTuhan engkau telah membinasakan para pemilik gajah supaya hati orang-orang Quraisy melekat pada kegemaran mereka, berkelana bebas bagi mereka.” Penjelasan ini sangat dapat diterima oleh akal, sebab seandainya Abraha dan pasukannya   -- tepat pada hari kelahiran Nabi Besar Muhammad saw.  -- tidak dibinasakan  Allah Swt. niscaya orang-orang Quraisy tidak akan suka bepergian ke tempat-tempat itu, dan perjalanan-perjalanan niaga mereka pun tidak akan aman.
     Jadi, kebinasaan Abraha – Raja Muda Kristen dari Yaman  --  dan bala tentaranya yang bermaksud menghancurkan Baitullah di Mekkah, selain membuka jalan untuk perjalanan-perjalanan niaga bagi kaum Quraisy, juga Ka’bah nampak lebih suci dan lebih keramat lagi dalam pandangan orang-orang Arab, tempat yang bagi mereka sebelumnya pun telah merupakan tempat ziarah.
   Ziarah para penduduk Arabia  ke Baitullah di Mekkah tersebut itu pada gilirannya menambah dorongan kepada peningkatan perdagangan kaum Quraisy. Ayat ini dapat pula berarti, “Tuhan engkau menghancurkan para pemilik gajah sebagai tindak pemeliharaan bagi kaum Quraisy.” Dan untuk menggugah kaum Quraisy terhadap “rahmat dan karunia” Allah Swt. serta sebgaai rasa syukur  mereka kepada Allah Swt. selanjutnya Dia berfirman: فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ     --  Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik   Rumah ini.”
    Makna ayat: الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ  -- Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan.”  Orang-orang Quraisy dianugerahi jaminan keselamatan dan kebebasan dari ketakutan, sedang kaum-kaum  serta keadaan sekitar mereka seluruhnya dicekam oleb rasa ketakutan dan ketidak-amanan.
    Di samping itu, sepanjang tahun mereka mempunyai persediaan segala macam buah-buahan dan makanan. Kesemuanya itu bukan hanya secara kebetulan belaka. Hal demikian itu sesuai dengan rencana Ilahi dan memenuhi nubuatan  yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim a.s. 2.500 tahun yang telah silam (QS.2:127-130 dan QS.14:36, 38).
    Ada pun yang menarik  mengenai doa Nabi Ibrahim a.s. mengenai jaminan kehidupan duniawi bagi penduduk Mekkah tersebut adalah jawaban Allah Swt. mengenai penganugerahan kekayaan duniawi   bahwa  hal tersebut tidak hanya terbatas bagi orang-orang yang beriman  saja, bahkan kepada orang-orang kafir  pun akan diberikan, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ  اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا ثُمَّ  اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), jadikanlah tempat ini kota yang aman dan berikanlah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya dari antara mereka yang beriman  kepada  Allah dan Hari Kemudian.” Dia berfirman: “Dan orang yang kafir pun  maka Aku akan memberi sedikit kesenangan kepadanya   kemudian  akan Aku paksa ia masuk ke dalam azab Api, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Baqarah [2]:127).
   Jadi, surah Al-Quraisy  memberikan pengertian kepada kaum Quraisy – dan juga  sebagai nubuatan dan peringatan    bagi  umat Islam di Timur Tengah di Akhir Zaman ini  -- akan kesalahan sikap ketidak-bersyukuran mereka, dengan memberitahukan  bahwa mereka telah memilih penyembahan kepada tuhan-tuhan terbuat dari kayu dan batu  daripada menyembah kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang  -- yakni Allah Swt.  -- Yang telah menganugerahkan kepada mereka karunia-karunia besar dan jaminan keamanan, keselamatan dan ketakutan dan kelaparan, sehingga hati mereka senantiasa  melekat (allafa) dan “mencintai kota Mekkah”, dan sebagai rasa syukur yang hakiki: فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ     --  Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik   Rumah ini, الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ  -- Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan.  (Al-Quraisy [106]:4-5).

Nubuatan  dan Peringatan Dalam Kisah “Empat Burung” Nabi Ibrahim a.s.

   Kembali kepada  firman Allah Swt. mengenai “empat burung” Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اَرِنِیۡ  کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ  قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara Engkau menghidupkan yang mati?” قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ  --  Dia berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?” قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ  --  Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.” Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka ke-pada engkau, kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada engkau dan Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:261).
     Dengan demikian jelaslah bahwa makna perintah Allah Swt.  فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ  kepada Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat:    Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ  kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada engkau”,  makna kalimat  فَصُرۡہُنَّ   bukan “lalu potong-potonglah” melainkan “condongkanlah  mereka kepada engkau” atau “lekatkanlah hati  mereka kepada engkau.”
      Sebab, seandainya benar  tujuan ayat tersebut  adalah semata-mata untuk membuktikan bahwa Allah Swt. berkuasa menghidupkan kembali apa pun yang  secara jasmani yang telah mati, maka  dengan  mengemukakan contoh empat ekor  burung sangat tidak tepat,  karena akan   lebih spektakuler jika contoh  yang dikemukakan Allah Swt. yang diperintahkan dipotong-potong itu adalah  empat orang manusia lalu dihidupkan lagi.
      Namun terlepas dari adanya perbedaan penafsiran  mengenai ayat tersebut, pada hakikatnya peristiwa yang dikemukakan dalam ayat itu suatu kasyaf  (penglihatan ruhani) yang dialami Nabi Ibrahim a.s. mengenai “burung” tersebut yang juga dikemukakan dalam Bible  dengan versi cerita yang   berbeda  tetapi maknanya  sama yaitu berupa nubuatan mengenai keturunan Nabi Ibrahim a.s. (Kejadian 15:7-21).
       Dengan  mengambil “empat ekor burung”  maknanya atau takwilnya   adalah bahwa keturunan Nabi Ibrahim a.s.  akan  mengalami empat kali   peritiwa kebangkitan dan kejatuhan, yakni peristiwa itu akan dialami  dua kali  oleh  kaum Bani Israil, yakni melalui pengutusan Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan peristiwa tersebut akan terulang lagi dua kali di kalangan kaum Bani Isma’il  (QS.62:3-4) yakni melalui Nabi Besar Muhammad Saw. dan Al-Masih Akhir Zaman (Masih Mau’ud a.s.)  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58).

Allah Swt. menjadikan Orang-orang Kafir yang Memiliki Kekuatan Tempur yang Hebat Sebagai Sarana Hukuman Bagi Orang-orang Beriman yang Durhaka

       Kenyataan sejarah membuktikan bahwa kekuatan kaum Yahudi (Bani Israil) yang adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s.  melalui Nabi Ishaq a.s. setelah mengalami masa kejayaan lalu  mengalami masa kehancuran  dua kali: pertama kali oleh Nebukadnezar dan kemudian oleh Titus (Encyclopaedia  Britannica pada Jews; QS.17:5-8.), sebagai akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79),  dan tiap-tiap kali Allah Swt.  membangkitkan kembali sesudah keruntuhan mereka;  dan kebangkitan kedua kalinya terlaksana oleh Konstantin, Maharaja Roma, yang kemudian memeluk agama Kristen, walau pun sudah tidak lagi merupakan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:117-119).
       Demikian pula kekuatan Islam, mula-mula dengan hebat digoncang ketika Baghdad – pusat pemerintahan Islam  Bani Abbas   -- jatuh saat menghadapi pasukan-pasukan Mongol dan Tartar pimpinan Hulaku Khan  -- yang dijadikan sarana hukuman Allah Swt. terhadap mereka --  tetapi  segera dapat pulih kembali sesudah pukulan yang meremukkan itu.   Para pemenang Islam tersebut berubah menjadi golongan yang kalah dan cucu Hulaku Khan, perebut Bagdad, masuk Islam.
   Keruntuhan kedua  umat Islam datang kemudian  ketika – seiring dengan bangkitkan bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang disebut Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:96-101; Wahyu 20:7-10)  -- kemunduran umum dan menyeluruh dialami oleh kaum Muslimin dalam bidang ruhani dan bidang politik sebagaimana dinubuatkan dalam  QS.32:6, dan kebangkitan Islam yang kedua sedang dilaksanakan oleh  Masih Mau’ud a.s.  (QS.62:3-4; QS.61:10).
       Dalam ayat-ayat yang lalu dijelaskan bahwa  menurut hukum Ilahi, Allah Swt. memberikan hidup baru kepada bangsa-bangsa yang layak menerimanya sesudah mereka  secara  ruhani mengalami kematian,  dan ihwal Bani Israil disebut sebagai contoh  (QS.2:260).  Kemudian dinyatakan dalam QS.2:261 bahwa keturunan Ibrahim a.s akan bangkit empat kali  -- yang diisyaratlan dengan “4 ekor burung” dan salah satu takwil  “burung”  adalah “keturunan”  -- yakni Bani Israil dan Bani Isma’il masing-masing akan bangkit dua kali, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terha-dap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”  Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,  dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.  Kemudian Kami mengembali-kan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok ka-mu lebih besar   dari sebelumnya.  Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri. فَ Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu  dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.   (Bani Israil [17]:5-8).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,   16 Desember  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar