Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 79
HUBUNGAN NAFS AL-AMMARAH DENGAN KECINTAAN DUNIAWI & MUNCULNYA PELAKU KERUSAKAN DAN PENUMPAH DARAH DI MUKA BUMI MEMBENARKAN “PREDIKSI” PARA MALAIKAT
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab 78 dikemukakan topik Mencari Keridhaan Allah
Swt. sehubungan firman Allah Swt.:
اِنَّ
الۡاَبۡرَارَ یَشۡرَبُوۡنَ مِنۡ
کَاۡسٍ کَانَ مِزَاجُہَا کَافُوۡرًا ۚ﴿﴾ عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا عِبَادُ اللّٰہِ یُفَجِّرُوۡنَہَا
تَفۡجِیۡرًا ﴿﴾ یُوۡفُوۡنَ
بِالنَّذۡرِ وَ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا کَانَ شَرُّہٗ مُسۡتَطِیۡرًا ﴿﴾ وَ
یُطۡعِمُوۡنَ الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ
مِسۡکِیۡنًا وَّ یَتِیۡمًا وَّ
اَسِیۡرًا ﴿﴾ اِنَّمَا
نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ مِنۡکُمۡ جَزَآءً وَّ
لَا شُکُوۡرًا ﴿﴾ اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا ﴿﴾ فَوَقٰہُمُ اللّٰہُ شَرَّ ذٰلِکَ
الۡیَوۡمِ وَ لَقّٰہُمۡ نَضۡرَۃً
وَّ سُرُوۡرًا ﴿ۚ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat
kebajikan (birr), mereka minum dari piala yang campurannya kafur. Dari mata air yang darinya hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan pancaran yang
deras. یُوۡفُوۡنَ بِالنَّذۡرِ وَ یَخَافُوۡنَ
یَوۡمًا کَانَ شَرُّہٗ مُسۡتَطِیۡرًا ﴿﴾ -- Mereka
menyempurnakan nazar dan takut pada suatu hari yang keburukannya
tersebar luas. وَ یُطۡعِمُوۡنَ الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ مِسۡکِیۡنًا وَّ یَتِیۡمًا
وَّ اَسِیۡرًا -- Dan
karena cinta kepada-Nya mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan. اِنَّمَا
نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ مِنۡکُمۡ جَزَآءً وَّ
لَا شُکُوۡرًا -- “Sesungguhnya
kami memberi makan kepada kamu
karena mengharapkan keridhaan Allah,
Kami tidak mengharapkan dari kamu
balasan dan tidak pula ucapan terima
kasih. اِنَّا نَخَافُ
مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا -- Sesungguhnya kami takut azab dari
Rabb (Tuhan) kami pada suatu hari muka
menjadi masam dan penuh
kesulitan.” فَوَقٰہُمُ
اللّٰہُ شَرَّ ذٰلِکَ الۡیَوۡمِ وَ لَقّٰہُمۡ نَضۡرَۃً وَّ
سُرُوۡرًا -- Maka Allah
memelihara mereka dari keburukan hari itu, dan menganugerahkan kepada mereka kesenangan dan kebahagiaan. (Ad-Dahr/Al-Insan [76]:6-12).
Kewajiban-kewajiban manusia
terhadap sesama manusia (huququl ‘ibād) disebut dalam ayat: وَ یُطۡعِمُوۡنَ الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ مِسۡکِیۡنًا وَّ یَتِیۡمًا
وَّ اَسِیۡرًا -- ”dan
karena cinta kepada-Nya mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan. اِنَّمَا
نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ مِنۡکُمۡ جَزَآءً وَّ
لَا شُکُوۡرًا -- “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu karena mengharapkan keridhaan Allah, Kami
tidak mengharapkan dari kamu balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” Ayat
ini berarti:
(1) karena orang-orang yang beriman dan mukhlis mencintai Allah Swt. maka
untuk memperoleh ridha-Nya mereka
memberi makan kepada orang-orang miskin dan tawanan-tawanan;
(2) Mereka memberi makan kepada orang-orang miskin demi ingin menjamin
makan mereka, artinya mereka beramal saleh dengan memberi makan
kepada orang-orang miskin demi ingin
beramal saleh, tidak untuk mencari
pahala, penghargaan atau persetujuan atas apa yang dilakukan
mereka.
(3) Mereka memberi makan kepada orang-orang
miskin, sedang mereka sendiri cinta
kepada uang yang dibelanjakan mereka bagi orang-orang miskin itu.
(4) Mereka memberi makan makanan yang sehat dan baik kepada orang-orang
miskin, sebab kata tha’am berarti makanan sehat (Lexicon Lane).
Jadi, itulah makna firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah sebelumnya: اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ اَذًی -- “orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi apa
yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati”,
firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ
اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ کَمَثَلِ حَبَّۃٍ اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ
سَنَابِلَ فِیۡ کُلِّ سُنۡۢبُلَۃٍ مِّائَۃُ حَبَّۃٍ ؕ وَ اللّٰہُ یُضٰعِفُ لِمَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
﴿﴾ اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا
یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ اَذًی ۙ لَّہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ
وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا
ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ
وَّ مَغۡفِرَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ یَّتۡبَعُہَاۤ اَذًی ؕ وَ اللّٰہُ غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ ﴿﴾
Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah,
adalah seperti perumpamaan sebuah biji
menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap
bulir terdapat seratus biji,
وَ
اللّٰہُ یُضٰعِفُ لِمَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Allah melipatgandakan ganjaran-Nya
bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ اَذًی -- Orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi apa
yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati,
لَّہُمۡ
اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ
یَحۡزَنُوۡنَ -- bagi
mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya), tidak
ada ketakutan pada mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih. قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّ مَغۡفِرَۃٌ
خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ یَّتۡبَعُہَاۤ اَذًی -- Tutur kata yang baik dan ampunan
adalah lebih baik daripada
sedekah yang diiringi dengan sikap
menyakiti, وَ اللّٰہُ غَنِیٌّ
حَلِیۡمٌ --
dan Allah Maha Kaya, Maha Penyantun. (Al-Baqarah [2]:262-264).
Keadaan Nafs Ammarah
Allah Swt. menyebut orang-orang bertakwa seperti itu sebagai orang-orang yang akan
mendapat “minuman surgawi” yang
campurannya “kafur” (Ad-Dahr/Al-Insan
[76]:6-12), sebab mereka telah berhasil menekan
serta mengendalikan keadaan nafs-Ammarahnya,
sebagaimana firman-Nya mengenai nabi
Yusuf a.s.:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ النَّفۡسَ
لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku
bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa
menyuruh kepada keburukan, kecuali orang
yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(Yusuf
[12]:54).
Anak kalimat illa mā rahima rabbi (kecuali orang yang
dikasihani oleh Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
(a) Kecuali nafs (jiwa) yang
kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, huruf mā di sini menggantikan kata nafs.
(b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, mā di sini berarti man (siapa).
(c) Memang begitu, tetapi
kasih-sayang Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti
tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
Arti pertama menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs
muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28). Arti kedua dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs
lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang
melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia
mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya. Arti ketiga dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya. Tingkatan
ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada keburukan).
Hubungan Cengkraman
Nafs-Al-Ammarah Dengan Kecintaan Kepada Kehidupan Duniawi
Kemudian mengenai hebatnya cengkraman keadaan nafs-ul-Ammarah Nabi Yusuf a.s. menjelaskan dalam firman-Nya:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ النَّفۡسَ
لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku
bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa
menyuruh kepada keburukan, kecuali orang
yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(Yusuf
[12]:54).
Salah satu sebab hebatnya cengraman nafs-al-Ammarah adalah karena
Allah Swt. telah menanamkan dalam jiwa
manusia berbagai bentuk kecintaan
kepada segala sesuatu yang diinginkannya, firman-Nya:
زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ
مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ
الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ
الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿﴾ قُلۡ
اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ
رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ
رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa
yang diingini yaitu: perempuan-perempuan, anak-anak,
kekayaan yang berlimpah berupa emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. ذٰلِکَ مَتَاعُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا -- Yang demikian itu adalah perlengkapan
hidup di dunia, وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ -- dan Allah,
di sisi-Nya-lah sebaik-baik
tempat kembali. ﴿﴾ قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ -- Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu yang lebih baik daripada yang demikian itu?” لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ
جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا
الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ
اللّٰہِ -- Bagi
orang-orang yang bertakwa, di sisi Rabb (Tuhan) mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan ada jodoh-jodoh
suci dan keridhaan dari Allah, وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ بِالۡعِبَادِ -- dan
Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali
‘Imran [3]:15-16).
Islam tidak melarang
mempergunakan atau mencari barang-barang
yang baik dari dunia ini, tetapi
tentu saja Islam mencela mereka yang menyibukkan
diri dalam urusan duniawi dan menjadikannya satu-satunya tujuan hidup
mereka, seperti yang dikemukakan dalam Surah Al-Takatsur [102]:1-9) dan Surah Al-Humazah
[104]:1-10.
Makna Minuman Surgawi yang Campurannya “Kafur”
Arti ayat:
اِنَّ الۡاَبۡرَارَ
یَشۡرَبُوۡنَ مِنۡ کَاۡسٍ کَانَ مِزَاجُہَا کَافُوۡرًا -- “Sesungguhnya
orang-orang yang berbuat kebajikan (birr),
mereka minum dari piala yang campurannya
kafur” (Ad-Dahr/Al-Insan
[76]:6), maknanya ialah sebagaimana makna kata kafūr berasal
dari kafara, yang berarti menutup
atau menekan, demikian pula meneguk minuman surgawi yang campurannya kapur
akan membawa akibat jadi dinginnya hawa nafsu kebinatangan.
Yakni sebagai akibat dari
upayanya menekan hawa kebinatangan dalam tingkatan nafs-al-Ammarah (QS.12:54)
-- yang keadaannya bagaikan “banjir
dahsyat” di zaman Nabi Nuh a.s.
(QS.11:37-50) -- maka hati orang-orang beriman yang bertakwa akan disucikan dari segala pikiran
kotor, dan mereka akan didinginkan
dengan kesejukan irfan (makrifat) Ilahi yang
mendalam, itulah makna ayat: اِنَّ الۡاَبۡرَارَ
یَشۡرَبُوۡنَ مِنۡ کَاۡسٍ کَانَ مِزَاجُہَا کَافُوۡرًا -- “Sesungguhnya
orang-orang yang berbuat kebajikan (birr), mereka minum
dari piala yang campurannya kafur.
عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا عِبَادُ
اللّٰہِ یُفَجِّرُوۡنَہَا تَفۡجِیۡرًا -- Dari mata air yang darinya hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan pancaran yang
deras.”
Makna ayat selanjutnya: عَیۡنًا یَّشۡرَبُ
بِہَا عِبَادُ اللّٰہِ یُفَجِّرُوۡنَہَا تَفۡجِیۡرًا -- “Dari mata air yang darinya hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan pancaran yang
deras.” Yakni orang-orang beriman yang bertakwa dalam surga akan
minum dari cawan yang diisi dari sumber-sumber
mata air yang digali mereka sendiri
dengan bekerja keras, karena itulah
arti kata tafjīr.
Jadi, perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan mereka
dalam kehidupan duniawi akan nampak
di akhirat dalam bentuk sumber-sumber mata air. Itulah tingkat
pertama dalam perkembangan ruhani yang menghendaki kerja keras dan tidak putus-putus pada pihak orang-orang
beriman, sebab selama manusia belum dapat mengendalikan serta menekan
hawa nafsu jahatnya, selama itu ia tidak dapat membuat suatu kemajuan ruhani. Jadi makna “mata air” yang tercantum dalam ayat ini
adalah mata air kecintaan Allah dan makrifat Ilahi.
Jadi, itulah makna firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah sebelumnya: اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ اَذًی -- “orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi apa
yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati”,
firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ
اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ کَمَثَلِ حَبَّۃٍ اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ
سَنَابِلَ فِیۡ کُلِّ سُنۡۢبُلَۃٍ مِّائَۃُ حَبَّۃٍ ؕ وَ اللّٰہُ یُضٰعِفُ لِمَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
﴿﴾ اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا
یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ اَذًی ۙ لَّہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ
وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا
ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ
وَّ مَغۡفِرَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ یَّتۡبَعُہَاۤ اَذًی ؕ وَ اللّٰہُ غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ ﴿﴾
Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah,
adalah seperti perumpamaan sebuah biji
menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap
bulir terdapat seratus biji,
وَ
اللّٰہُ یُضٰعِفُ لِمَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Allah melipatgandakan ganjaran-Nya
bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ اَذًی -- Orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi apa
yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati,
لَّہُمۡ
اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ
یَحۡزَنُوۡنَ -- bagi
mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya), tidak
ada ketakutan pada mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih. قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّ مَغۡفِرَۃٌ
خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ یَّتۡبَعُہَاۤ اَذًی -- Tutur kata yang baik dan ampunan
adalah lebih baik daripada
sedekah yang diiringi dengan sikap
menyakiti, وَ اللّٰہُ
غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ --
dan Allah Maha Kaya, Maha Penyantun. (Al-Baqarah [2]:262-264).
Persamaan Keadaan Nafs
Al-Ammarah Dengan “Banjir
Dahsyat” di Zaman nabi Nuh a.s.
Sebelumnya telah dikemukakan bahwa
Allah Swt. menyebut orang-orang bertakwa
seperti itu sebagai orang-orang yang akan mendapat “minuman surgawi” yang campurannya “kafur” (Ad-Dahr/Al-Insan [76]:6-12), sebab mereka
telah berhasil menekan serta mengendalikan keadaan nafs-Ammarahnya,
sebagaimana firman-Nya mengenai Nabi
Yusuf a.s.:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ النَّفۡسَ
لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku
bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa
menyuruh kepada keburukan, kecuali orang
yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(Yusuf
[12]:54).
Anak kalimat اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku)
dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
(a) Kecuali nafs (jiwa) yang
kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, huruf mā di sini menggantikan kata nafs.
(b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, mā di sini berarti man (siapa).
(c) Memang begitu, tetapi
kasih-sayang Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti
tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
Arti pertama menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs
muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28). Arti kedua dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs lawwamah
(jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan
buruknya, kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan
olehnya. Arti ketiga dikenakan kepada
orang, ketika nafsu kebinatangannya
bersimaharajalela dalam dirinya. Tingkatan ini disebut nafs ammarah
(jiwa yang cenderung kepada keburukan).
Ungkapan ayat اِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّیۡ (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku)
yang dikemukakan Nabi Yusuf a.s.
persis seperti ucapan Nabi Nuh a.s. ketika beliau mengajak
anaknya untuk naik ke dalam “Bahtera”
(perahu) bersama beliau agar selamat
dari “banjir dahsyat” yang sedang terjadi tetapi ia menolaknya, firman-Nya:
وَ ہِیَ تَجۡرِیۡ بِہِمۡ فِیۡ مَوۡجٍ
کَالۡجِبَالِ ۟ وَ نَادٰی نُوۡحُۨ ابۡنَہٗ وَ کَانَ فِیۡ مَعۡزِلٍ یّٰـبُنَیَّ ارۡکَبۡ مَّعَنَا وَ لَا
تَکُنۡ مَّعَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
قَالَ سَاٰوِیۡۤ اِلٰی جَبَلٍ یَّعۡصِمُنِیۡ مِنَ الۡمَآءِ ؕ قَالَ لَا عَاصِمَ الۡیَوۡمَ
مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ ۚ وَ حَالَ بَیۡنَہُمَا
الۡمَوۡجُ فَکَانَ مِنَ
الۡمُغۡرَقِیۡنَ﴿﴾
Dan bahtera
itu melaju dengan membawa mereka di tengah ombak seperti gunung,
dan Nuh berseru kepada anaknya yang senantiasa berada di tempat terpisah: -- “Hai anakku,
naiklah beserta kami dan janganlah engkau termasuk orang-orang kafir.” قَالَ سَاٰوِیۡۤ اِلٰی جَبَلٍ یَّعۡصِمُنِیۡ مِنَ الۡمَآءِ -- Ia menjawab: “Aku segera akan mencari sendiri perlindungan ke sebuah gunung yang
akan menjaga-ku dari air itu.” قَالَ لَا
عَاصِمَ الۡیَوۡمَ مِنۡ
اَمۡرِ اللّٰہِ -- Ia, Nuh berkata: “Tidak ada tempat berlindung pada hari ini bagi seorang pun dari perintah Allah, اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ -- kecuali bagi orang yang Dia kasihani.” وَ حَالَ بَیۡنَہُمَا
الۡمَوۡجُ فَکَانَ مِنَ
الۡمُغۡرَقِیۡنَ -- Lalu
ombak menjadi peng-halang di antara
keduanya maka jadilah ia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hād
[11]:43-44).
Benarnya “Prediksi” Para Malaikat
Mengenai Munculnya Pelaku “Kerusakan dan Penumpah
Darah” di Muka Bumi
Jadi, walau pun seseorang
memiliki wawasan pengetahuan agama yang memadai, tetapi
jika keadaan jiwanya masih dalam
tingkatan nafs-al-Ammarah maka pengetahuan
agamanya tersebut tidak akan
bermanfaat -- baik bagi dirinya
sendiri mau pun bagi orang lain
-- sebab walau pun ia melakukan tindakan-tindakan
yang disebutnya sebagai “membuat perbaikan” atau melakukan “nahi wal-munkar” tetapi Allah Swt. akan menyebutnya sebagai “pelaku kerusakan di muka
bumi”, sebab dalam kenyataannya setiap pemikiran
dan tindakannya senantiasa
menimbulkan huru-hara dan kerusakan, firman-Nya:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ لَا تُفۡسِدُوۡا
فِی الۡاَرۡضِ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّمَا
نَحۡنُ مُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾اَلَاۤ اِنَّہُمۡ ہُمُ الۡمُفۡسِدُوۡنَ
وَ لٰکِنۡ لَّا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila
dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu
berbuat kerusakan di muka bumi” mereka berkata, “Kami hanyalah pencipta perdamaian”. Ketahuilah! Sesungguhnya mereka itulah pembuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari. (Al-Baqarah
[2]:12-13).
Dengan
demikian membenarkan “prediksi” para malaikat -- mengenai akan munculnya para pembuat kerusakan dan penumpah darah -- ketika Allah Swt. berkehendak menjadikan seorang Khalifah
Allah di bumi guna menata “ketertiban” yang hakiki di muka bumi,
firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ
خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ
نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada
para malaikat: - “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”,
قَ mereka berkata: “Apakah Eng-kau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan mem-buat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ -- padahal kami
senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan kami senantiasa mensucikan Engkau?” قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia
berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah
[2]:31).
Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah
jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia
mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya ia me-ngirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan Allah dan pembaharu-pembaharu
samawi.
Para malaikat tidak mengemukakan keberatan (protes) terhadap rencana Ilahi atau mengaku
diri mereka lebih unggul daripada
Adam a.s. karena mereka senantiasa bertasbih,
bertahmid dan bertaqdis kepada Allah Swt..
Pertanyaan mereka
didorong oleh pengumuman Allah Swt. mengenai
rencana-Nya untuk mengangkat seorang Khalifah,
sebab wujud khalifah Allah (rasul Allah) diperlukan bila tertib
harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan.
Jadi, “keberatan semu” para malaikat menyiratkan bahwa dengan adanya seorang Khalifah Allah (rasul
Allah) maka akan ada orang-orang di bumi
yang -- karena merasa kepentingan duniawinya terusik -- lalu mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan
darah melakukan penentangan terhadap “Khalifah
Allah” tersebut.
Karena manusia dianugerahi kekuatan-kekuatan
besar untuk berbuat baik dan jahat, dalam ayat tersebut para malaikat
menyebut segi gelap tabiat manusia,
tetapi Allah Swt. mengetahui
bahwa -- sekali pun prediksi para malaikat
tersebut benar -- dengan
adanya upaya-upaya penentang
seperti itu manusia dapat mencapai tingkat
akhlak dan ruhani yang sangat
tinggi, sehingga ia dapat menjadi cermin
(bayangan) sifat-sifat Ilahi.
Itulah makna jawaban Allah Swt.: اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا
تَعۡلَمُوۡنَ -- "Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" yakni Allah Swt. menyebutkan segi terang tabiat manusia.
Dengan demikian jelaslah bahwa pertanyaan
para malaikat tersebut bukan sebagai celaan terhadap perbuatan
Allah Swt. akan menjadi seorang Khalifah di muka bumi, melainkan sekedar
mencari ilmu yang lebih tinggi mengenai sifat
dan hikmah penciptaan
khalifah Allah tersebut.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 8 Desember 2016
Pajajaran Anyar, 8 Desember 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar