Selasa, 13 Desember 2016

Hubungan Nafs--al-Ammarah Dengan Kecintaan Duniawi & Munculnya Pelaku "Kerusakan" dan "Penumpah Darah" di Muka Bumi Membenarkan "Prediksi" Para Malaikat




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  79

HUBUNGAN    NAFS AL-AMMARAH DENGAN KECINTAAN DUNIAWI &  MUNCULNYA     PELAKU   KERUSAKAN DAN PENUMPAH DARAH DI MUKA BUMI  MEMBENARKAN “PREDIKSI” PARA MALAIKAT

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 78 dikemukakan    topik Mencari Keridhaan Allah Swt.  sehubungan firman Allah Swt.:  
اِنَّ  الۡاَبۡرَارَ  یَشۡرَبُوۡنَ مِنۡ کَاۡسٍ کَانَ مِزَاجُہَا  کَافُوۡرًا ۚ﴿﴾  عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا عِبَادُ اللّٰہِ یُفَجِّرُوۡنَہَا تَفۡجِیۡرًا ﴿﴾  یُوۡفُوۡنَ بِالنَّذۡرِ وَ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا کَانَ شَرُّہٗ  مُسۡتَطِیۡرًا ﴿﴾  وَ یُطۡعِمُوۡنَ  الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ مِسۡکِیۡنًا وَّ  یَتِیۡمًا  وَّ  اَسِیۡرًا ﴿﴾  اِنَّمَا نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ مِنۡکُمۡ جَزَآءً   وَّ  لَا  شُکُوۡرًا ﴿﴾  اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا ﴿﴾  فَوَقٰہُمُ  اللّٰہُ  شَرَّ ذٰلِکَ  الۡیَوۡمِ وَ لَقّٰہُمۡ نَضۡرَۃً   وَّ  سُرُوۡرًا ﴿ۚ﴾
Sesungguhnya orang-orang  yang berbuat kebajikan (birr), mereka  minum dari piala yang campurannya  kafur.  Dari mata air  yang darinya hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan pancaran yang deras.  یُوۡفُوۡنَ بِالنَّذۡرِ وَ یَخَافُوۡنَ یَوۡمًا کَانَ شَرُّہٗ  مُسۡتَطِیۡرًا ﴿﴾    --    Mereka menyempurnakan nazar  dan takut pada suatu hari yang keburukannya tersebar luas.  وَ یُطۡعِمُوۡنَ  الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ مِسۡکِیۡنًا وَّ  یَتِیۡمًا  وَّ  اَسِیۡرًا --   Dan karena cinta kepada-Nya mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan. اِنَّمَا نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ مِنۡکُمۡ جَزَآءً   وَّ  لَا  شُکُوۡرًا  --   “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu karena mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak mengharapkan dari kamu balasan dan tidak pula ucapan terima kasih. اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا  --   Sesungguhnya kami takut azab dari Rabb (Tuhan) kami pada suatu hari  muka menjadi masam dan penuh kesulitan.”  فَوَقٰہُمُ  اللّٰہُ  شَرَّ ذٰلِکَ  الۡیَوۡمِ وَ لَقّٰہُمۡ نَضۡرَۃً   وَّ  سُرُوۡرًا --   Maka Allah memelihara mereka dari keburukan hari itu, dan menganugerahkan kepada mereka kesenangan dan kebahagiaan. (Ad-Dahr/Al-Insan [76]:6-12).
        Kewajiban-kewajiban manusia terhadap sesama manusia (huququl ‘ibād) disebut dalam ayat: وَ یُطۡعِمُوۡنَ  الطَّعَامَ عَلٰی حُبِّہٖ مِسۡکِیۡنًا وَّ  یَتِیۡمًا  وَّ  اَسِیۡرًا --   ”dan karena cinta kepada-Nya mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan. اِنَّمَا نُطۡعِمُکُمۡ لِوَجۡہِ اللّٰہِ لَا نُرِیۡدُ مِنۡکُمۡ جَزَآءً   وَّ  لَا  شُکُوۡرًا  -- “Sesungguhnya kami memberi makan kepada kamu karena mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak mengharapkan dari kamu balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.”   Ayat ini berarti:
   (1) karena orang-orang yang beriman dan mukhlis mencintai Allah  Swt. maka untuk memperoleh ridha-Nya mereka memberi makan kepada orang-orang miskin dan tawanan-tawanan;
  (2) Mereka memberi makan kepada orang-orang miskin demi ingin menjamin makan mereka, artinya  mereka beramal saleh dengan memberi makan kepada orang-orang miskin demi ingin beramal saleh, tidak untuk mencari pahala, penghargaan atau persetujuan atas apa yang dilakukan mereka.
 (3) Mereka memberi makan kepada orang-orang miskin, sedang mereka sendiri cinta kepada uang yang dibelanjakan mereka bagi orang-orang miskin itu.
  (4) Mereka memberi makan makanan yang sehat dan baik kepada orang-orang miskin, sebab kata tha’am berarti makanan sehat (Lexicon Lane).
  Jadi, itulah makna  firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah sebelumnya: اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ  اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ  اَذًی  -- “orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi  apa yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati”, firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ کَمَثَلِ حَبَّۃٍ اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِیۡ کُلِّ سُنۡۢبُلَۃٍ مِّائَۃُ حَبَّۃٍ ؕ وَ اللّٰہُ یُضٰعِفُ لِمَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ  اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ  اَذًی ۙ لَّہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّ مَغۡفِرَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ یَّتۡبَعُہَاۤ  اَذًی ؕ وَ اللّٰہُ غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ ﴿﴾
Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah, adalah seperti perumpamaan sebuah biji menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji, وَ اللّٰہُ یُضٰعِفُ لِمَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ  -- Allah melipatgandakan ganjaran-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.  اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ  اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ  اَذًی  -- Orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi  apa yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati, لَّہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ  -- bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),  tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّ مَغۡفِرَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ یَّتۡبَعُہَاۤ  اَذًی   --    Tutur kata yang baik dan ampunan adalah lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sikap menyakiti, وَ اللّٰہُ غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ  -- dan Allah Maha Kaya, Maha Penyantun. (Al-Baqarah [2]:262-264).

Keadaan Nafs Ammarah

        Allah Swt. menyebut orang-orang bertakwa seperti itu sebagai orang-orang yang akan mendapat “minuman surgawi” yang campurannya “kafur” (Ad-Dahr/Al-Insan [76]:6-12), sebab mereka telah berhasil menekan serta mengendalikan   keadaan nafs-Ammarahnya, sebagaimana  firman-Nya mengenai nabi Yusuf a.s.:
وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh  Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya  Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:54).
        Anak kalimat illa mā  rahima rabbi (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
       (a) Kecuali nafs (jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, huruf  di sini menggantikan kata nafs.
        (b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang,  di sini berarti man (siapa).
         (c) Memang begitu, tetapi kasih-sayang Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
        Arti pertama menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28). Arti kedua dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya. Arti ketiga dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya. Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada keburukan).

Hubungan Cengkraman Nafs-Al-Ammarah  Dengan  Kecintaan Kepada Kehidupan Duniawi

         Kemudian mengenai hebatnya cengkraman keadaan   nafs-ul-Ammarah  Nabi Yusuf a.s. menjelaskan dalam firman-Nya:
وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh  Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya  Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:54).
       Salah satu sebab hebatnya cengraman nafs-al-Ammarah adalah  karena   Allah Swt. telah menanamkan  dalam jiwa manusia berbagai bentuk kecintaan kepada segala sesuatu yang diinginkannya, firman-Nya:
زُیِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّہَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَ الۡبَنِیۡنَ وَ الۡقَنَاطِیۡرِ الۡمُقَنۡطَرَۃِ مِنَ الذَّہَبِ وَ الۡفِضَّۃِ وَ الۡخَیۡلِ الۡمُسَوَّمَۃِ وَ الۡاَنۡعَامِ وَ الۡحَرۡثِ ؕ ذٰلِکَ مَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۚ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ ﴿﴾ قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ ؕ لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ  بِالۡعِبَادِ ﴿ۚ﴾
Ditampakkan indah bagi manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini yaitu: perempuan-perempuan,  anak-anak, kekayaan yang berlimpah berupa emas dan perak,  kuda pilihan,  binatang ternak dan sawah ladang. ذٰلِکَ مَتَاعُ  الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا  --  Yang demikian itu adalah perlengkapan hidup di dunia, وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الۡمَاٰبِ  -- dan Allah, di sisi-Nya-lah  sebaik-baik tempat kembali.   ﴿﴾ قُلۡ اَؤُنَبِّئُکُمۡ بِخَیۡرٍ مِّنۡ ذٰلِکُمۡ   --  Katakanlah: “Maukah kamu aku beri tahu sesuatu  yang lebih baik daripada yang demikian itu?” لِلَّذِیۡنَ اتَّقَوۡا عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتٌ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا وَ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ وَّ رِضۡوَانٌ مِّنَ اللّٰہِ  -- Bagi orang-orang yang bertakwa, di sisi Rabb (Tuhan) mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya,  dan ada  jodoh-jodoh suci dan  keridhaan dari Allah, وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ  بِالۡعِبَادِ  --  dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali ‘Imran [3]:15-16).
        Islam tidak melarang mempergunakan atau mencari barang-barang yang baik dari dunia ini, tetapi tentu saja Islam mencela mereka yang menyibukkan diri dalam urusan duniawi dan menjadikannya satu-satunya tujuan hidup mereka, seperti yang dikemukakan dalam Surah Al-Takatsur [102]:1-9) dan Surah Al-Humazah [104]:1-10.

Makna Minuman Surgawi yang Campurannya “Kafur

     Arti ayat:  اِنَّ  الۡاَبۡرَارَ  یَشۡرَبُوۡنَ مِنۡ کَاۡسٍ کَانَ مِزَاجُہَا  کَافُوۡرًا -- “Sesungguhnya orang-orang  yang berbuat kebajikan (birr), mereka  minum dari piala yang campurannya  kafur  (Ad-Dahr/Al-Insan [76]:6), maknanya    ialah  sebagaimana makna kata kafūr berasal dari kafara, yang berarti menutup atau menekan, demikian pula meneguk minuman surgawi yang campurannya kapur  akan membawa akibat jadi dinginnya hawa nafsu kebinatangan.
  Yakni sebagai akibat dari upayanya menekan hawa kebinatangan  dalam tingkatan nafs-al-Ammarah (QS.12:54)  -- yang keadaannya bagaikan “banjir dahsyat” di zaman Nabi Nuh a.s.  (QS.11:37-50) --  maka hati orang-orang beriman yang bertakwa akan disucikan dari segala pikiran kotor, dan mereka akan didinginkan dengan kesejukan irfan (makrifat) Ilahi yang mendalam, itulah makna ayat:  اِنَّ  الۡاَبۡرَارَ  یَشۡرَبُوۡنَ مِنۡ کَاۡسٍ کَانَ مِزَاجُہَا  کَافُوۡرًا -- “Sesungguhnya orang-orang  yang berbuat kebajikan (birr), mereka  minum dari piala yang campurannya  kafur.  عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا عِبَادُ اللّٰہِ یُفَجِّرُوۡنَہَا تَفۡجِیۡرًا  -- Dari mata air  yang darinya hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan pancaran yang deras.”
   Makna ayat selanjutnya:  عَیۡنًا یَّشۡرَبُ بِہَا عِبَادُ اللّٰہِ یُفَجِّرُوۡنَہَا تَفۡجِیۡرًا  -- “Dari mata air  yang darinya hamba-hamba Allah minum, mereka memancarkannya dengan pancaran yang deras.  Yakni orang-orang beriman yang bertakwa dalam surga akan minum dari cawan yang diisi dari sumber-sumber mata air yang digali mereka sendiri dengan bekerja keras, karena itulah arti kata tafjīr.
   Jadi, perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan mereka dalam kehidupan duniawi akan nampak di akhirat dalam bentuk sumber-sumber mata air. Itulah tingkat pertama dalam perkembangan ruhani yang menghendaki kerja keras dan tidak putus-putus pada pihak orang-orang beriman, sebab selama manusia belum dapat mengendalikan serta menekan hawa nafsu jahatnya, selama itu ia tidak dapat membuat suatu kemajuan ruhani. Jadi makna  “mata air” yang tercantum dalam ayat ini adalah mata air kecintaan Allah dan makrifat Ilahi.  
     Jadi, itulah makna  firman Allah Swt. dalam surah Al-Baqarah sebelumnya: اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ  اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ  اَذًی  -- “orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi  apa yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati”, firman-Nya:
مَثَلُ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ کَمَثَلِ حَبَّۃٍ اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِیۡ کُلِّ سُنۡۢبُلَۃٍ مِّائَۃُ حَبَّۃٍ ؕ وَ اللّٰہُ یُضٰعِفُ لِمَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ  اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ  اَذًی ۙ لَّہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّ مَغۡفِرَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ یَّتۡبَعُہَاۤ  اَذًی ؕ وَ اللّٰہُ غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ ﴿﴾
Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah, adalah seperti perumpamaan sebuah biji menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji, وَ اللّٰہُ یُضٰعِفُ لِمَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ  -- Allah melipatgandakan ganjaran-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.  اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ثُمَّ لَا یُتۡبِعُوۡنَ مَاۤ  اَنۡفَقُوۡا مَنًّا وَّ لَاۤ  اَذًی  -- Orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi  apa yang dibelanjakannya itu dengan menyebut-nyebut kebaikan dan tidak pula menyakiti hati, لَّہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ  -- bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),  tidak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. قَوۡلٌ مَّعۡرُوۡفٌ وَّ مَغۡفِرَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ صَدَقَۃٍ یَّتۡبَعُہَاۤ  اَذًی   --    Tutur kata yang baik dan ampunan adalah lebih baik daripada sedekah yang diiringi dengan sikap menyakiti, وَ اللّٰہُ غَنِیٌّ حَلِیۡمٌ  -- dan Allah Maha Kaya, Maha Penyantun. (Al-Baqarah [2]:262-264).

Persamaan Keadaan Nafs  Al-Ammarah Dengan “Banjir Dahsyat” di Zaman nabi Nuh a.s.

        Sebelumnya telah dikemukakan bahwa Allah Swt. menyebut orang-orang bertakwa seperti itu sebagai orang-orang yang akan mendapat “minuman surgawi” yang campurannya “kafur” (Ad-Dahr/Al-Insan [76]:6-12), sebab mereka telah berhasil menekan serta mengendalikan   keadaan nafs-Ammarahnya, sebagaimana  firman-Nya mengenai Nabi Yusuf a.s.:
وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh  Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya  Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:54).
       Anak kalimat  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ  (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
      (a) Kecuali nafs (jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, huruf  di sini menggantikan kata nafs.
       (b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang,  di sini berarti man (siapa).
       (c) Memang begitu, tetapi kasih-sayang Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
      Arti pertama menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28). Arti kedua dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya. Arti ketiga dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya. Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada keburukan).
      Ungkapan ayat   اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ  (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku) yang dikemukakan Nabi Yusuf a.s. persis seperti ucapan Nabi Nuh a.s. ketika beliau mengajak  anaknya untuk naik ke dalam “Bahtera” (perahu) bersama beliau agar selamat dari “banjir dahsyat” yang sedang terjadi tetapi ia menolaknya, firman-Nya:
وَ ہِیَ تَجۡرِیۡ بِہِمۡ فِیۡ مَوۡجٍ کَالۡجِبَالِ ۟  وَ نَادٰی نُوۡحُۨ  ابۡنَہٗ وَ کَانَ فِیۡ  مَعۡزِلٍ یّٰـبُنَیَّ ارۡکَبۡ مَّعَنَا وَ لَا تَکُنۡ مَّعَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ سَاٰوِیۡۤ  اِلٰی جَبَلٍ یَّعۡصِمُنِیۡ  مِنَ الۡمَآءِ ؕ قَالَ لَا عَاصِمَ  الۡیَوۡمَ  مِنۡ  اَمۡرِ اللّٰہِ  اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ ۚ وَ حَالَ بَیۡنَہُمَا الۡمَوۡجُ  فَکَانَ  مِنَ  الۡمُغۡرَقِیۡنَ﴿﴾
Dan bahtera itu melaju dengan  membawa mereka di tengah ombak seperti gunung, dan Nuh berseru kepada anaknya  yang senantiasa berada di tempat terpisah:   -- “Hai anakku, naiklah beserta kami dan janganlah engkau termasuk orang-orang kafir.”  قَالَ سَاٰوِیۡۤ  اِلٰی جَبَلٍ یَّعۡصِمُنِیۡ  مِنَ الۡمَآءِ --  Ia menjawab: “Aku segera akan mencari sendiri perlindungan ke sebuah gunung yang akan menjaga-ku dari air itu.” قَالَ لَا عَاصِمَ  الۡیَوۡمَ  مِنۡ  اَمۡرِ اللّٰہِ    --  Ia, Nuh berkata: “Tidak ada tempat berlindung pada hari ini bagi seorang pun dari perintah Allah, اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ  -- kecuali bagi orang yang Dia kasihani.” وَ حَالَ بَیۡنَہُمَا الۡمَوۡجُ  فَکَانَ  مِنَ  الۡمُغۡرَقِیۡنَ  -- Lalu ombak menjadi peng-halang di antara keduanya  maka jadilah ia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hād [11]:43-44).

Benarnya “Prediksi  Para Malaikat Mengenai Munculnya Pelaku “Kerusakan  dan Penumpah Darah di Muka Bumi  

       Jadi, walau pun  seseorang  memiliki wawasan  pengetahuan agama yang memadai, tetapi jika keadaan jiwanya masih dalam tingkatan nafs-al-Ammarah  maka pengetahuan agamanya tersebut tidak akan bermanfaat  --  baik bagi dirinya sendiri mau pun bagi  orang lain  -- sebab walau pun ia melakukan tindakan-tindakan  yang disebutnya sebagai “membuat perbaikan  atau melakukan “nahi wal-munkar  tetapi   Allah Swt. akan menyebutnya sebagai “pelaku kerusakan  di muka bumi”, sebab dalam kenyataannya  setiap pemikiran dan tindakannya senantiasa menimbulkan huru-hara dan kerusakan,  firman-Nya:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ لَا تُفۡسِدُوۡا فِی الۡاَرۡضِ ۙ  قَالُوۡۤا اِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾اَلَاۤ اِنَّہُمۡ ہُمُ الۡمُفۡسِدُوۡنَ وَ لٰکِنۡ لَّا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi” mereka berkata, “Kami hanyalah pencipta perdamaian”.  Ketahuilah! Sesungguhnya mereka itulah pembuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari.   (Al-Baqarah [2]:12-13).
       Dengan demikian membenarkan “prediksi” para malaikat  -- mengenai akan munculnya para pembuat kerusakan dan penumpah darah  --  ketika Allah Swt. berkehendak menjadikan seorang Khalifah Allah di bumi guna menata “ketertiban” yang hakiki di muka bumi,  firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada para  malaikat: -  “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang  khalifah di bumi”, قَ  mereka berkata: “Apakah Eng-kau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan mem-buat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ  --   padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau dan kami senantiasa mensucikan  Engkau?”  قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  (Al-Baqarah [2]:31).  
      Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya  ia me-ngirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan Allah dan pembaharu-pembaharu samawi.
       Para malaikat tidak mengemukakan keberatan (protes) terhadap rencana Ilahi atau    mengaku diri mereka lebih unggul daripada Adam a.s. karena mereka senantiasa bertasbih, bertahmid dan bertaqdis kepada Allah Swt..  Pertanyaan mereka didorong oleh     pengumuman Allah Swt.  mengenai rencana-Nya untuk mengangkat seorang Khalifah, sebab wujud khalifah  Allah (rasul Allah) diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan.
       Jadi, “keberatan semu” para malaikat menyiratkan bahwa  dengan adanya seorang Khalifah Allah (rasul Allah) maka akan ada orang-orang di bumi yang  -- karena merasa kepentingan duniawinya terusik  -- lalu mereka akan membuat kerusakan  dan menumpahkan darah melakukan penentangan terhadap “Khalifah Allah” tersebut.
        Karena manusia dianugerahi kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan jahat, dalam ayat tersebut  para malaikat menyebut segi gelap tabiat manusia, tetapi Allah Swt.   mengetahui bahwa  -- sekali pun prediksi    para malaikat tersebut benar  --   dengan  adanya upaya-upaya penentang seperti itu  manusia dapat mencapai tingkat akhlak dan ruhani  yang sangat tinggi, sehingga ia dapat menjadi cermin (bayangan) sifat-sifat Ilahi.
    Itulah makna jawaban Allah Swt.:  اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  -- "Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"   yakni Allah Swt.  menyebutkan segi terang tabiat manusia.  Dengan demikian jelaslah bahwa pertanyaan para malaikat  tersebut bukan sebagai celaan terhadap perbuatan Allah Swt. akan menjadi  seorang Khalifah di muka bumi, melainkan sekedar mencari ilmu yang lebih tinggi mengenai sifat dan hikmah  penciptaan    khalifah Allah  tersebut.  

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  8 Desember  2016



Pajajaran Anyar,  8 Desember  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar