Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 85
DUA GOLONGAN MANUSIA YANG “MAHRUM”
& MAKNA “EMPAT EKOR BURUNG” NABI IBRAHIM A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 84
topik Kisah Kelaparan Abu Hurairah r.a. dan Semangkuk Susu & Kepekaan Bashirat serta Keagungan Akhlak
dan Ruhani Nabi Besar Muhammad
Saw. Berkenaan
dengan kata sima dalam ayat “orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi” Allah Swt. menjelaskan: “orang yang tidak berpengetahuan
menganggap mereka itu kaya, karena mereka menghindarkan diri dari meminta-minta. Engkau
dapat mengenali mereka dari wajahnya,
mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak (Al-Baqarah [2]:274).
Sehubungan dengan hal tersebut dalam Shahih Bukhari diceritakan tentang Abu Hurairah r.a. – salah seorang Ahlush- shufah yang tinggal di mesjid
Nabawi – agar selalu dekat
dengan Nabi Besar Muhammad saw. guna
memperoleh pengetahuan agama sehingga sering mengalami kekurangan makanan -- karena mengalami rasa lapar yang sangat lalu ia meminta dibacakan sebuah ayat Al-Quran dan pura-pura menanyakan maknanya kepada dua orang sahabat yang lewat, padahal maksud
menanyakan makna ayat tersebut agar
diketahui bahwa ia sedang kelaparan tetapi tidak berani meminta
secara langsung kepada dua sahabat
tersebut. Terjemahan hadits Shahih Bukhari tersebut selengkapnya
sebagai berikut:
“Diriwayatkan dari Abu
Hurairah r.a.: “Demi Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, seringkali aku tidur
di atas tanah dengan perut lapar dan aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk
menahan lapar. Suatu hari aku duduk di jalan yang biasa dilalui merek
(Rasulullah saw. dan para sahabatnya).
Ketika Abu Bakar lewat aku memintanya membacakan untukku sebuah ayat Al-Quran dan aku memintanya hanya
dengan maksud barangkali ia dapat [memberikan sesuatu] untuk menghilangkan rasa
laparku, tetapi ia lewat begitu saja. Kemudian Umar lewat di depanku dan aku
memintanya membacakan untuku sebuah ayat dari kitab Allah hanya dengan maksud
barangkali ia dapat [memberikan sesuatu
untuk] menghilangkan rasa laparku, tetapi ia lewat begitu saja.
Akhirnya Abu Qasim (Rasulullah saw.) lewat dan ia tersenyum ketika
melihatku karena ia tahu maksudku hanya dengan melihat wajahku. Rasulullah saw.
bersabda, “Wahai Abu Hirr!” aku menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Rasulullah
saw. bersabda kepadaku, “Ikuti aku”. Nabi Muhammad saw. pergi dan aku berjalan
di belakangnya, mengikutinya.
Kemudian Rasulullah saw. masuk ke dalam rumahnya dan aku minta izin
masuk ke rumahnya dan diizinkan. Rasulullah saw. melihat semangkuk susu dan berakata”Dari mana ini?” Mereka (istri
beliau saw.) berkata, “Itu hadiah dari si fulan untuk engau.” Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Abu Hirr, aku menjawab,
“Labbaik ya Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Panggillah orang-orang
shuffah.”
Orang-orang shuffah adalah tamu-tamu Islam yang tidak memiliki
keluarga, uang atau seseorang yang dapat mereka mintai pertolongan dan setiap
kali ada sedekah diberikan kepada Rasulullah saw. beliau saw. akan
memberikannya kepada mereka sedangkan beliau saw. sendiri sama sekali tidak menyentuhnya. Dan setiap kali hadiah apa pun
yang diberikan kepada Rasulullah saw., beliau saw. akan memberikannya sebagian
untuk mereka dan sebagian untuk diri beliau saw..
Perintah Rasulullah saw. itu membuatku kecewa dan aku berkata
kepada diriku sendiri, “Bagaimana mungkin susu semangkuk cukup untuk
orang-orang shuffah?” Menurutku susu itu hanya cukup untuk diriku sendiri.
Rasulullah saw. menyuruhku memberikan susu itu kepada mereka. Aku akan takjub
seandainya masih ada sisa untukku. Tetapi bagaimana pun aku harus taat kepada
perintah Allah dan rasul-Nya, maka aku pergi menemui orang-orang shuffah itu
dan memanggil mereka.
Mereka pun berdatangan dan meminta izin masuk ke dalam rumah.
Rasulullah saw. memberi mereka izin. Mereka duduk di dalam rumah itu.
Rasulullah saw. bersabda, “Hai Abu Hirr.” Aku menjawab, “Labbaik ya
Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Bawalah susu ini dan berikan kepada
mereka.” Maka aku membawa semangkuk susu itu kepada mereka satu persatu dan
setiap mereka mengembalikannya kepadaku setelah memninumnya mangkuk suus itu
tetap penuh.
Setelah mereka semua selesai minum dari mangkuk suus itu aku
memberikannya kepada Rasulullah saw. yang memegang mangkuk itu sambil tersenyum
jenaka dan berkata kepadaku, “Wahai Abu Hirr!” Aku menjawab, “Labbaik yang Rasulullah.”
Rasulullah saw. bersabda, “Masuk cukup untuk engkau dan aku” aku berkata,
“Engkau berkata benar ya Rasulullah!”
Rasulullah saw. bersabda, “Duduklah dan minumlah.” Aku duduk dan
meminumnya. Rasulullah saw.
berkali-kali menyruhku untuk meminumnya lagi
hingga aku berkata, “Tidak, demi Dzat Yang mengutus engkau sebagai pembawa
kebenaran, perutku sudah sangat kenyang.”
Rasulullah saw. bersabda, “berikan kepadaku.” Ketika kuberikan
mangkuk itu kepadanya Rasulullah saw.
memuji dan menyebut nama Allah serta memnimum sisa susu itu.” (Shahih Bukhari).
Jadi betapa sangat pekanya indera-indera ruhani Nabi Bear Muhammad
saw. berkenaan berbagai hal yang untuk mengetahui
dan mengatasinya diperlukan kemampuan ruhani (bashirah) seperti itu.
Dua Golongan
Manusia yang “Mahrum”
Kembali
kepada firman Allah Swt. mengenai pentingnya pembelanjaan harta di jalan
Allah Swt. dan caranya serta peruntukkannya yang sedang dibahas:
لَیۡسَ
عَلَیۡکَ ہُدٰىہُمۡ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ یَہۡدِیۡ
مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ فَلِاَنۡفُسِکُمۡ ؕ وَ
مَا تُنۡفِقُوۡنَ اِلَّا ابۡتِغَآءَ وَجۡہِ اللّٰہِ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ
یُّوَفَّ اِلَیۡکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ لَا تُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ لِلۡفُقَرَآءِ الَّذِیۡنَ
اُحۡصِرُوۡا
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ ضَرۡبًا فِی
الۡاَرۡضِ ۫ یَحۡسَبُہُمُ الۡجَاہِلُ اَغۡنِیَآءَ
مِنَ التَّعَفُّفِ ۚ تَعۡرِفُہُمۡ بِسِیۡمٰہُمۡ ۚ لَا یَسۡـَٔلُوۡنَ النَّاسَ اِلۡحَافًا ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ
فَاِنَّ اللّٰہَ بِہٖ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾٪ اَلَّذِیۡنَ
یُنۡفِقُوۡنَ
اَمۡوَالَہُمۡ بِالَّیۡلِ
وَ النَّہَارِ سِرًّا وَّ عَلَانِیَۃً فَلَہُمۡ
اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ؔ
Sekali-kali bukanlah tanggungjawab engkau memberi
petunjuk kepada mereka tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan
harta apa pun yang kamu belanjakan maka manfaatnya
adalah untuk diri kamu, dan
tidaklah kamu membelanjakannya
melainkan untuk mencari keridhaan Allah. Dan harta
apa pun yang kamu belanjakan
niscaya akan dikembalikan kepada kamu
dengan penuh dan kamu tidak akan dizalimi. Infak tersebut bagi orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi. Orang yang tidak berpengetahuan
menganggap mereka itu kaya, karena mereka menghindarkan diri dari meminta-minta. Engkau
dapat mengenali mereka dari wajahnya,
mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak. Dan harta
apa pun yang kamu belanjakan
maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. Orang-orang yang membelanjakan harta mereka pada malam
dan siang dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),
dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah
[2]:273-275).
Sehubungan dengan ayat: "Infak tersebut bagi orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi" lebih lanjut diterangkan "Orang yang tidak berpengetahuan
menganggap mereka itu kaya, karena mereka menghindarkan diri dari meminta-minta. Engkau
dapat mengenali mereka dari wajahnya,
mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak. Dan harta
apa pun yang kamu belanjakan
maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”
Keadaan kadang-kadang memaksa orang untuk diam terkurung dalam satu tempat,
mereka tidak mampu mencari rezeki
-- contohnya Abu
Hurairah r.a. dan para ahli shufah
lainnya. Orang-orang demikian khususnya layak mendapatkan pertolongan dari anggota-anggota masyarakat yang lebih baik
keadaannya. Dua macam manusia terutama termasuk dalam
golongan ini:
(a) Mereka yang dengan sukarela
berkhidmat kepada seorang hamba pilihan
Allah dan tak pernah pisah dari
pergaulannya agar mendapat faedah
ruhani dari pergaulan itu. Contohnya adalah Abu Hurairah r.a. dan para ahli
shuffah lainnya.
(b) Mereka yang karena terkurung
dalam lingkungan yang tidak bersahabat
sehingga menjadi mahrum (luput)
dari sarana memperoleh keperluan
hidup. Contohnya orang-orang Islam yang
tidak mampu hijrah dari Mekkah
ke Madinah bersama para muhajirin
lainnya.
Kekayaan Milik Bersama & Ancaman Syaitan Dengan Kemiskinan
Jadi, karena segala sesuatu dalam
alam semesta ini milik bersama
seluruh umat manusia, maka tidak
boleh ada hak milik mutlak atas sesuatu
pada diri setiap orang, dan menurut ajaran Islam (Al-Quran) si
miskin mempunyai bagian dalam kekayaan si kaya sebagai haknya. Dalam ayat sebelumnya Allah Swt.
telah berfirman:
اَلشَّیۡطٰنُ
یَعِدُکُمُ الۡفَقۡرَ وَ یَاۡمُرُکُمۡ بِالۡفَحۡشَآءِ ۚ وَ اللّٰہُ یَعِدُکُمۡ
مَّغۡفِرَۃً مِّنۡہُ وَ فَضۡلًا ؕ وَ
اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ۖ
Syaitan menjanjikan yakni menakut-nakuti
kamu dengan kemiskinan, dan
menyuruh kamu berbuat kekejian,
sedangkan Allah menjanjikan kepada
kamu ampunan dan karunia dari-Nya.
Dan Allah Maha Luas karunia-Nya,
Maha Mengetahui. (Al-Baqarah
[2]:269).
Ayat ini melenyapkan prarasa takut
yang dibisikkan syaitan bahwa membelanjakan harta dengan sukarela di jalan Allah dapat menjadikan
seseorang jatuh miskin; sebaliknya
ayat itu menerangkan dengan tegas
bahwa jika orang-orang kaya tidak membelanjakan
(menginfakkan) dengan sukarela
dalam urusan yang baik akibatnya ialah faqr nasional, artinya negeri akan menderita dalam bidang
ekonomi dan akan mengalami kemerosotan
akhlak, karena bila keperluan ekonomi
anggota-anggota masyarakat yang kurang beruntung tidak terpenuhi secara layak, mereka akan cenderung menempuh fahsya’ (cara yang buruk dan bertentangan
dengan akhlak baik) untuk mencari nafkah
mereka.
Penggunaan kata khair dalam
ayat: “dan harta apa pun yang
kamu belanjakan maka sesungguhnya
Allah Maha Mengetahuinya” (QS.2:273 &274) yang berarti pula: sesuatu atau segala yang
baik (Lexicon Lane) meluaskan ruang lingkup infak yang tidak membatasinya pada belanja uang saja. Kata khair
itu meliputi pula perbuatan baik dalam setiap bentuk
atau cara. Khair pun berarti: kekayaan;
kekayaan yang berlimpah-limpah; kekayaan yang dihasilkan dengan jujur (Al-Mufradat)
Kata-kata ini merupakan bukti besar akan kebaikan
fitrat para sahabat Nabi Besar
Muhammad saw.. Hal itu berarti bahwa mereka tidak
memerlukan perintah untuk membelanjakan
kekayaan di jalan Allah. Mereka
itu sebelumnya pun senantiasa berbuat demikian karena dorongan hasrat naluri untuk mendapat ridha Ilahi.
Demikianlah hikmah dan falsafah
serta cara melakukan pembelanjaan
harta di jalan Allah yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 262-274 yang akan menumbuhkan akhlak dan ruhani terpuji para diri para pelakunya
jika dilakukan sesuai dengan sunnah
Nabi Besar Muhammad saw. serta mereka
akan mendapat kecintaan serta maghfirah
Ilahi, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(Ali
‘Imran [3]:32).
Makna Empat Ekor Burung Nabi Ibrahim a.s. & Penyempurnaan Berbagai Nubuatan dalam Bible Mengenai Kedatangan Nabi Besar Muhammad Saw.
Ada pun hal yang menarik dari Surah Al-Baqarah ayat 262-274 mengenai
pentingnya pembelanjaan harta di
jalan Allah Swt. – yakni pelaksanaan huququl- ‘ibād -- tersebut, ayat-ayat tersebut sebelumnya didahului oleh
ayat mengenai empat ekor burung Nabi Ibrahim a.s. dan dilanjutkan dengan
ayat mengenai larangan tentang riba (bunga
uang – QS.2:266), firman-Nya:
وَ
اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ
اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ
لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً
مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ
مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara
Engkau menghidupkan yang mati?” قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ -- Dia
berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?”
قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ
-- Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.” قَالَ
فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ
اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ
سَعۡیًا -- Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka ke-pada engkau, kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau, وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ -- dan Ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allāh Maha Perkasa,
Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah
[2]:261).
Peristiwa kasyaf yang dialami Nabi Ibrahim
a.s. dalam ayat tersebut sangat erat hubungannya dengan nubuatan dalam Bible -- yang dikemukakan dalam Bab-bab sebelum
pembahasan mengenai cara-cara menginfakkan
harta di jalan Allah Swt., (QS.262-275) -- yaitu
dalam Ulangan 18:15-20 mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” atau kedatangan “Dia
yang datang dalam nama Tuhan”” (Matius 23:37-39) atau “Nabi
itu” atau “Nabi yang akan
datang” (Yohanes 1:19-23) atau
kedatangan “Roh Kebenaran” yang “membawa seluruh
kebenaran” (Yohanes 16:12-13), yakni Nabi
Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ
اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ کَانَ مِنۡ
عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ
شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah dan kamu
tidak percaya kepadanya dan seorang
saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisal dirinya lalu ia
beriman tetapi kamu berlaku sombong?"
Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada kaum yang zalim.
(Al-Ahqāf
[46]:11).
Ayat
11 yang didukung oleh Ulangan 18:18 menunjuk kepada kedatangan seorang nabi dari antara Bani Isma’il. Ayat yang sekarang ini
menunjuk ke tanah Arab sebagai tempat
turunnya nabi Allah yang akan mempunyai persamaan dengan Nabi Musa a.s. itu dan juga kepada Kitab (Al-Quran) yang akan menggenapi nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan diunggulinya.
Nubuatan yang bersangkutan adalah sebagai
berikut: "Bahwa inilah firman akan
hal negeri Arab: Di dalam gurun Arab kamu akan bermalam, hai kafilah orang
Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa air, hai orang
isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari itu" (Yesaya 21:13-15).
Perbedaan Iman dan Ithminan
Kembali kepada firman-Nya
mengenai Nabi Ibrahim a.s. dan “empat ekor burung” dalam ayat sebelumnya
mengenai jawaban Nabi Ibrahim a.s.
atas pertanyaan Allah Swt. dalam
ayat: قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ -- Dia berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?” قَالَ
بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ -- Ia
berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku
tanyakan supaya hatiku tenteram.”
Perbedaan antara iman dan ithminan (hati dalam keadaan
tenteram) ialah, dalam keadaan pertama (iman), orang hanya percaya bahwa Allah Swt.
benar-benar dapat atau berkuasa untuk berbuat sesuatu, sedangkan dalam keadaan kedua (ithminan) orang
mendapat kepastian bahwa sesuatu itu dapat pula berlaku
(terjadi) atas dirinya.
Nabi Ibrahim a.s. sungguh beriman (percaya) bahwa Allah Swt. dapat
menghidupkan yang sudah mati,
tetapi apa yang diinginkan beliau
ialah kepuasan pribadi untuk
mengetahui apakah Allah Swt. akan berbuat demikian untuk beliau dan keturunan beliau, karena
Allah Swt. telah menjadikan beliau sebagai imam bagi umat manusia (QS.2:125).
Menunjuk kepada ayat yang ada dalam
bahasan Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
telah bersabda: “Kita lebih layak menaruh
syak daripada
Ibrahim” (Muslim).
Kata syak berarti keinginan
keras yang tersembunyi, menunggu dengan penuh
harapan akan sempurnanya keinginan
itu, sebab Nabi Besar Muhammad saw. tidak
pernah ragu-ragu mengenai janji
atau apa pun perbuatan Allah Swt. Hal itu menunjukkan bahwa pertanyaan Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat: وَ
اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ
اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی -- “Dan ingatlah ketika
Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara
Engkau menghidupkan yang mati?” tidak terdorong oleh keraguan, tetapi hanya oleh kedambaan yang sangat yakni agar ithminan: قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ -- Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.”
Makna ayat selanjutnya yang banyak orang salah menafsirkan: "Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka kepada engkau, kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, kemudian mereka
dengan cepat akan datang kepada engkau.”
Shurtu al ghushna ilayya berarti “saya mencondongkan
dahan itu kepadaku sendiri” (Lexicon
Lane). Kata depan ila menentukan arti kata shurhunna
dalam artian mencondongkan atau melekatkan dan bukan memotong, seperti umumnya diterjemahkan
dalam berbagai tafsir Al-Quran, sebab
menganggap pertanyaan Nabi Ibrahim
a.s. dalam ayat: کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی -- “bagaimana cara menghidupkan yang mati”
merujuk kepada kematian jasmani,
karena itu mereka menerjemahkan kalimat فَصُرۡہُنَّ adalah bahwa keempat ekor burung itu “dipotong-potong” menjadi beberapa bagian, padahal yang dimaksud Nabi Ibrahim a.s. adalah cara menghidupkan orang-orang yang
secara ruhani telah mati, khususnya di kalangan keturunan beliau, baik dari kalangan Bani Israil mau pun Bani Isma’il.
Juz’a dalam ayat selanjutnya: ثُمَّ
اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا – “kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung” Kata جُزۡءًا berarti suku, sebagian atau sesuatu. Jadi, jika sesuatu
terdiri atas atau meliputi suatu rombongan, maka kata جُزۡءًا -- “bagian”
akan berarti tiap-tiap anggotanya.
Dengan demikian kata جُزۡءًا bukan
merujuk kepada bagian-bagian tubuh
keempat ekor burung yang telah dipotong-potong melainkan tertuju kepada
masing-masing burung itu sendiri
yang diperintahkan Allah Swt. agar
diletakkan di empat buah gunung: ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا -- “kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا -- maka mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau”.
Kalau tujuan ayat tersebut adalah
semata-mata untuk membuktikan bahwa Allah Swt. berkuasa menghidupkan kembali yang secara jasmani telah mati
mengemukakan contoh empat ekor burung
sangat tidak tepat, karena akan
lebih spektakuler jika
contoh yang dikemukakan Allah Swt. yang
diperintahkan dipotong-potong itu
adalah empat orang manusia.
Namun terlepas dari adanya
perbedaan penafsiran mengenai ayat tersebut, pada hakikatnya yang dikemukakan dalam ayat itu suatu kasyaf Hadhrat Ibrahim a.s.. Dengan mengambil “empat ekor burung” maknanya ialah bahwa keturunan Nabi Ibrahim a.s. akan mengalami empat
kali peritiwa kebangkitan
dan kejatuhan, yakni peristiwa itu
disaksikan dua kali di tengah-tengah kaum Bani
Israil dan terulang lagi dua kali
di tengah-tengah para pengikut Nabi Besar Muhammad saw. yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui Nabi Isma’il a.s..
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 13 Desember
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar