Sabtu, 17 Desember 2016

Dua Golongan Manusia yang "Mahrum" & Makna "Empat tEkor Burung" Nabi Ibrahim a.s.







Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  85

DUA GOLONGAN MANUSIA YANG  MAHRUM” &  MAKNA “EMPAT EKOR BURUNG” NABI IBRAHIM A.S.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 84  topik   Kisah Kelaparan Abu Hurairah r.a. dan Semangkuk Susu  & Kepekaan Bashirat serta Keagungan Akhlak  dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. Berkenaan dengan    kata sima   dalam ayat   orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi”  Allah Swt. menjelaskan: “orang yang tidak berpengetahuan menganggap mereka itu kaya, karena  mereka menghindarkan diri dari meminta-minta.    Engkau dapat mengenali mereka dari wajahnya,  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak  (Al-Baqarah [2]:274).
      Sehubungan dengan hal tersebut  dalam Shahih Bukhari  diceritakan tentang Abu Hurairah r.a. – salah seorang Ahlush- shufah yang tinggal di mesjid Nabawi   agar selalu dekat dengan  Nabi Besar Muhammad saw. guna memperoleh  pengetahuan agama sehingga sering mengalami kekurangan makanan   --  karena mengalami rasa lapar yang sangat lalu ia meminta dibacakan sebuah ayat Al-Quran dan pura-pura menanyakan maknanya kepada dua orang sahabat yang lewat, padahal maksud menanyakan  makna ayat tersebut agar diketahui   bahwa ia sedang kelaparan tetapi tidak berani  meminta secara langsung kepada  dua sahabat  tersebut.  Terjemahan hadits Shahih Bukhari tersebut selengkapnya sebagai berikut:
      “Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: “Demi Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, seringkali aku tidur di atas tanah dengan perut lapar dan aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar. Suatu hari aku duduk di jalan yang biasa dilalui merek (Rasulullah saw. dan para sahabatnya).
       Ketika Abu Bakar lewat aku memintanya membacakan untukku  sebuah ayat Al-Quran dan aku memintanya hanya dengan maksud barangkali ia dapat [memberikan sesuatu] untuk menghilangkan rasa laparku, tetapi ia lewat begitu saja. Kemudian Umar lewat di depanku dan aku memintanya membacakan untuku sebuah ayat dari kitab Allah hanya dengan maksud barangkali ia dapat [memberikan sesuatu  untuk] menghilangkan rasa laparku, tetapi ia lewat begitu saja.
      Akhirnya Abu Qasim (Rasulullah saw.) lewat dan ia tersenyum ketika melihatku karena ia tahu maksudku hanya dengan melihat wajahku. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Abu Hirr!” aku menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda kepadaku, “Ikuti aku”. Nabi Muhammad saw. pergi dan aku berjalan di belakangnya, mengikutinya.
      Kemudian Rasulullah saw.  masuk ke dalam rumahnya dan aku minta izin masuk ke rumahnya dan diizinkan. Rasulullah saw.  melihat semangkuk  susu dan berakata”Dari mana ini?” Mereka (istri beliau saw.) berkata, “Itu hadiah dari si fulan untuk engau.” Rasulullah saw.  bersabda, “Wahai Abu Hirr, aku menjawab, “Labbaik ya Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Panggillah orang-orang shuffah.”
      Orang-orang shuffah adalah tamu-tamu Islam yang tidak memiliki keluarga, uang atau seseorang yang dapat mereka mintai pertolongan dan setiap kali ada sedekah diberikan kepada Rasulullah saw. beliau saw. akan memberikannya kepada mereka sedangkan beliau saw.  sendiri sama sekali tidak  menyentuhnya. Dan setiap kali hadiah apa pun yang diberikan kepada Rasulullah saw., beliau saw. akan memberikannya sebagian untuk mereka dan sebagian untuk diri beliau saw..
       Perintah Rasulullah saw. itu membuatku kecewa dan aku berkata kepada diriku sendiri, “Bagaimana mungkin susu semangkuk cukup untuk orang-orang shuffah?” Menurutku susu itu hanya cukup untuk diriku sendiri. Rasulullah saw. menyuruhku memberikan susu itu kepada mereka. Aku akan takjub seandainya masih ada sisa untukku. Tetapi bagaimana pun aku harus taat kepada perintah Allah dan rasul-Nya, maka aku pergi menemui orang-orang shuffah itu dan memanggil mereka.
       Mereka pun berdatangan dan meminta izin masuk ke dalam rumah. Rasulullah saw. memberi mereka izin. Mereka duduk di dalam rumah itu. Rasulullah saw. bersabda, “Hai Abu Hirr.” Aku menjawab, “Labbaik ya Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Bawalah susu ini dan berikan kepada mereka.” Maka aku membawa semangkuk susu itu kepada mereka satu persatu dan setiap mereka mengembalikannya kepadaku setelah memninumnya mangkuk suus itu tetap penuh.
       Setelah mereka semua selesai minum dari mangkuk suus itu aku memberikannya kepada Rasulullah saw. yang memegang mangkuk itu sambil tersenyum jenaka dan berkata kepadaku, “Wahai Abu Hirr!” Aku menjawab, “Labbaik yang Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Masuk cukup untuk engkau dan aku” aku berkata, “Engkau berkata benar ya Rasulullah!”
      Rasulullah saw. bersabda, “Duduklah dan minumlah.” Aku duduk dan meminumnya.  Rasulullah saw. berkali-kali  menyruhku untuk meminumnya lagi hingga aku berkata, “Tidak, demi Dzat Yang mengutus engkau sebagai pembawa kebenaran, perutku sudah sangat kenyang.”
       Rasulullah saw. bersabda, “berikan kepadaku.” Ketika kuberikan mangkuk itu kepadanya  Rasulullah saw. memuji dan menyebut nama Allah serta memnimum sisa susu itu.” (Shahih Bukhari).
       Jadi betapa sangat pekanya indera-indera ruhani Nabi Bear Muhammad saw. berkenaan berbagai hal yang untuk mengetahui dan mengatasinya diperlukan kemampuan ruhani (bashirah) seperti itu.

Dua Golongan Manusia yang “Mahrum

     Kembali kepada  firman Allah Swt.  mengenai pentingnya pembelanjaan harta di jalan Allah Swt. dan caranya serta peruntukkannya yang sedang dibahas:
لَیۡسَ عَلَیۡکَ ہُدٰىہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ فَلِاَنۡفُسِکُمۡ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡنَ اِلَّا ابۡتِغَآءَ وَجۡہِ اللّٰہِ ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ یُّوَفَّ اِلَیۡکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ لَا تُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ لِلۡفُقَرَآءِ الَّذِیۡنَ اُحۡصِرُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ ضَرۡبًا فِی الۡاَرۡضِ ۫ یَحۡسَبُہُمُ الۡجَاہِلُ اَغۡنِیَآءَ مِنَ التَّعَفُّفِ ۚ تَعۡرِفُہُمۡ بِسِیۡمٰہُمۡ ۚ لَا یَسۡـَٔلُوۡنَ النَّاسَ اِلۡحَافًا ؕ وَ مَا تُنۡفِقُوۡا مِنۡ خَیۡرٍ فَاِنَّ اللّٰہَ بِہٖ عَلِیۡمٌ ﴿﴾٪ اَلَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمۡ بِالَّیۡلِ وَ النَّہَارِ سِرًّا وَّ عَلَانِیَۃً فَلَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ۚ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ؔ
Sekali-kali bukanlah tanggungjawab engkau memberi petunjuk kepada mereka tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.  Dan harta  apa pun yang kamu belanjakan maka manfaatnya adalah untuk diri kamu,   dan tidaklah kamu membelanjakannya melainkan untuk mencari keridhaan AllahDan harta apa pun yang kamu  belanjakan niscaya akan dikembalikan kepada kamu dengan penuh dan kamu tidak akan dizalimi. Infak tersebut bagi orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi.   Orang yang tidak berpengetahuan menganggap mereka itu kaya, karena  mereka menghindarkan diri dari meminta-minta.     Engkau dapat mengenali mereka dari wajahnya,  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak.   Dan harta  apa pun yang kamu belanjakan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.     Orang-orang yang membelanjakan harta mereka pada malam dan siang dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, bagi mereka ada ganjarannya di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya), dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah [2]:273-275). 
       Sehubungan dengan ayat:    "Infak tersebut bagi orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi"  lebih lanjut diterangkan "Orang yang tidak berpengetahuan menganggap mereka itu kaya, karena  mereka menghindarkan diri dari meminta-mintaEngkau dapat mengenali mereka dari wajahnya,  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak. Dan harta  apa pun yang kamu belanjakan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.       
         Keadaan kadang-kadang memaksa orang untuk diam terkurung dalam satu tempat, mereka tidak mampu mencari rezeki  --  contohnya  Abu Hurairah r.a. dan para ahli shufah lainnya. Orang-orang demikian khususnya layak mendapatkan pertolongan dari anggota-anggota masyarakat yang lebih baik keadaannya.    Dua macam manusia terutama termasuk dalam golongan ini:
   (a) Mereka yang dengan sukarela berkhidmat kepada seorang hamba pilihan Allah dan tak pernah pisah dari pergaulannya agar mendapat faedah ruhani dari pergaulan itu. Contohnya adalah Abu Hurairah r.a. dan para ahli shuffah lainnya.  
   (b) Mereka yang karena terkurung dalam lingkungan yang tidak bersahabat sehingga  menjadi mahrum (luput) dari sarana memperoleh  keperluan hidup. Contohnya orang-orang Islam yang  tidak mampu hijrah dari Mekkah ke Madinah bersama para muhajirin lainnya.

Kekayaan  Milik Bersama & Ancaman Syaitan Dengan Kemiskinan

   Jadi, karena segala sesuatu dalam alam semesta ini milik bersama seluruh umat manusia, maka tidak boleh ada hak milik mutlak atas sesuatu pada diri setiap orang, dan menurut ajaran Islam (Al-Quran)  si miskin mempunyai bagian dalam kekayaan si kaya sebagai haknya. Dalam ayat sebelumnya Allah Swt. telah berfirman:
اَلشَّیۡطٰنُ یَعِدُکُمُ الۡفَقۡرَ وَ یَاۡمُرُکُمۡ بِالۡفَحۡشَآءِ ۚ وَ اللّٰہُ یَعِدُکُمۡ مَّغۡفِرَۃً مِّنۡہُ  وَ فَضۡلًا ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ۖ
Syaitan menjanjikan yakni menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan, dan menyuruh kamu berbuat kekejian, sedangkan Allah menjanjikan kepada kamu ampunan dan karunia dari-Nya. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:269).         
       Ayat ini melenyapkan prarasa takut yang dibisikkan syaitan bahwa membelanjakan harta dengan sukarela di jalan Allah dapat menjadikan seseorang jatuh miskin; sebaliknya ayat itu menerangkan dengan tegas bahwa  jika orang-orang kaya tidak membelanjakan (menginfakkan)  dengan sukarela dalam urusan yang baik  akibatnya ialah faqr nasional, artinya  negeri akan menderita dalam bidang ekonomi dan akan mengalami kemerosotan akhlak, karena bila keperluan ekonomi anggota-anggota masyarakat yang kurang beruntung tidak terpenuhi secara layak, mereka akan cenderung menempuh fahsya’ (cara yang buruk dan bertentangan dengan akhlak baik) untuk mencari nafkah mereka.
       Penggunaan kata khair  dalam ayat:   “dan harta  apa pun yang kamu belanjakan maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya” (QS.2:273 &274)  yang berarti pula: sesuatu atau segala yang baik (Lexicon Lane)  meluaskan ruang lingkup infak yang tidak membatasinya pada belanja uang saja. Kata khair  itu meliputi pula perbuatan baik dalam setiap bentuk atau cara. Khair pun berarti:  kekayaan; kekayaan yang berlimpah-limpah; kekayaan yang dihasilkan dengan jujur (Al-Mufradat)
        Kata-kata ini merupakan bukti besar akan kebaikan fitrat para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.. Hal itu berarti bahwa mereka tidak memerlukan perintah untuk membelanjakan kekayaan di jalan Allah. Mereka itu sebelumnya pun senantiasa berbuat demikian karena dorongan hasrat naluri untuk mendapat ridha Ilahi.
        Demikianlah hikmah dan falsafah  serta cara melakukan pembelanjaan harta di jalan Allah yang terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 262-274 yang akan menumbuhkan akhlak dan ruhani terpuji para diri para pelakunya jika dilakukan sesuai dengan sunnah Nabi Besar Muhammad saw.  serta mereka akan   mendapat kecintaan serta maghfirah Ilahi, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Katakanlah:  ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah  aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran [3]:32).

Makna Empat Ekor Burung Nabi Ibrahim a.s. & Penyempurnaan Berbagai Nubuatan dalam Bible Mengenai  Kedatangan Nabi Besar Muhammad Saw.

      Ada pun hal yang menarik dari Surah Al-Baqarah ayat 262-274 mengenai pentingnya pembelanjaan harta di jalan Allah Swt.  – yakni pelaksanaan huququl- ‘ibād -- tersebut,  ayat-ayat tersebut sebelumnya didahului oleh ayat mengenai empat ekor burung Nabi Ibrahim a.s. dan dilanjutkan dengan ayat mengenai larangan tentang riba (bunga uang – QS.2:266), firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اَرِنِیۡ  کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ  قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara Engkau menghidupkan yang mati?” قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ  --  Dia berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?” قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ  --  Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.” قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا --  Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka ke-pada engkau, kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada engkau,  وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ --  dan Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allāh Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:261).
         Peristiwa kasyaf yang dialami Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat tersebut sangat erat hubungannya dengan nubuatan dalam Bible   -- yang dikemukakan dalam Bab-bab sebelum pembahasan mengenai cara-cara menginfakkan harta di jalan Allah Swt., (QS.262-275)  --  yaitu dalam Ulangan 18:15-20 mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” atau kedatangan  Dia yang datang dalam nama Tuhan”” (Matius 23:37-39) atau “Nabi  itu” atau “Nabi yang akan datang” (Yohanes 1:19-23)    atau kedatangan  Roh Kebenaran” yang “membawa  seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-13), yakni Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah dan kamu tidak percaya kepadanya dan   seorang saksi dari antara Bani Israil  memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisal dirinya  lalu ia beriman tetapi kamu berlaku sombong?" Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ahqāf [46]:11).
    Ayat 11 yang didukung oleh Ulangan 18:18 menunjuk kepada kedatangan seorang nabi dari antara Bani Isma’il. Ayat yang sekarang ini menunjuk ke tanah Arab sebagai tempat turunnya nabi Allah  yang akan mempunyai persamaan dengan Nabi Musa a.s. itu dan juga kepada Kitab (Al-Quran) yang akan menggenapi nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan diunggulinya.
   Nubuatan yang bersangkutan adalah sebagai berikut: "Bahwa inilah firman akan hal negeri Arab: Di dalam gurun Arab kamu akan bermalam, hai kafilah orang Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa air, hai orang isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari itu" (Yesaya 21:13-15).

Perbedaan Iman dan Ithminan

      Kembali kepada firman-Nya mengenai Nabi Ibrahim a.s. dan “empat ekor burung” dalam ayat sebelumnya mengenai jawaban Nabi Ibrahim a.s. atas pertanyaan Allah Swt. dalam ayat: قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ  --  Dia berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?” قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ  --  Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.”  
      Perbedaan antara iman dan ithminan (hati dalam keadaan tenteram) ialah, dalam keadaan pertama (iman), orang hanya percaya bahwa  Allah Swt. benar-benar dapat atau berkuasa untuk berbuat sesuatu, sedangkan dalam keadaan kedua (ithminan) orang mendapat kepastian bahwa sesuatu itu  dapat pula berlaku  (terjadi) atas dirinya.
     Nabi Ibrahim a.s.   sungguh beriman (percaya) bahwa Allah Swt.   dapat menghidupkan yang sudah mati, tetapi apa yang diinginkan beliau ialah kepuasan pribadi untuk mengetahui apakah Allah Swt.   akan berbuat demikian untuk beliau dan keturunan beliau, karena  Allah Swt. telah menjadikan beliau sebagai imam bagi umat manusia (QS.2:125).
      Menunjuk kepada ayat yang ada dalam bahasan Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan telah bersabda: “Kita lebih layak menaruh syak   daripada  Ibrahim” (Muslim). Kata syak  berarti keinginan keras yang tersembunyi, menunggu dengan penuh harapan akan sempurnanya keinginan itu, sebab  Nabi Besar Muhammad saw.   tidak pernah ragu-ragu mengenai janji atau apa pun perbuatan Allah Swt.        Hal itu menunjukkan bahwa pertanyaan   Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat:  وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اَرِنِیۡ  کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی --  “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara Engkau menghidupkan yang mati?” tidak terdorong oleh keraguan, tetapi hanya oleh kedambaan yang sangat yakni agar  ithminan: قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ  --  Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.”  
      Makna ayat selanjutnya yang banyak orang salah menafsirkan  "Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka kepada engkau, kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, kemudian  mereka dengan cepat akan datang kepada engkau.”            Shurtu al ghushna ilayya berarti  “saya mencondongkan dahan itu kepadaku sendiri” (Lexicon Lane). Kata depan ila menentukan arti kata shurhunna dalam artian mencondongkan atau melekatkan dan bukan memotong, seperti umumnya diterjemahkan dalam berbagai tafsir Al-Quran, sebab menganggap pertanyaan Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat: کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی  --  “bagaimana cara menghidupkan yang mati” merujuk kepada kematian jasmani, karena itu mereka menerjemahkan  kalimat فَصُرۡہُنَّ  adalah bahwa keempat ekor burung itu    “dipotong-potong” menjadi beberapa bagian, padahal yang dimaksud  Nabi Ibrahim a.s. adalah cara menghidupkan orang-orang yang  secara ruhani telah mati, khususnya di kalangan keturunan beliau, baik dari kalangan Bani Israil mau pun Bani Isma’il.
       Juz’dalam ayat selanjutnya:  ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا – “kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung” Kata جُزۡءًا  berarti suku, sebagian atau sesuatu. Jadi, jika sesuatu terdiri atas atau meliputi suatu rombongan,  maka kata  جُزۡءًا   -- “bagian” akan berarti tiap-tiap anggotanya.
      Dengan demikian  kata  جُزۡءًا bukan merujuk kepada bagian-bagian tubuh keempat ekor burung yang telah dipotong-potong melainkan tertuju kepada masing-masing burung itu sendiri yang  diperintahkan Allah Swt. agar diletakkan di empat buah gunung: ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا  -- “kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا --   maka   mereka dengan cepat akan datang kepada engkau”.
      Kalau tujuan ayat tersebut adalah semata-mata untuk membuktikan bahwa Allah Swt. berkuasa menghidupkan kembali yang  secara jasmani telah mati  mengemukakan contoh empat ekor  burung sangat tidak tepat,  karena akan   lebih spektakuler jika contoh  yang dikemukakan Allah Swt. yang diperintahkan dipotong-potong itu adalah  empat orang manusia.
       Namun terlepas dari adanya perbedaan penafsiran  mengenai ayat tersebut, pada hakikatnya  yang dikemukakan dalam ayat itu suatu kasyaf Hadhrat Ibrahim a.s.. Dengan  mengambil “empat ekor burung maknanya ialah bahwa keturunan Nabi Ibrahim a.s.  akan  mengalami empat kali   peritiwa kebangkitan dan kejatuhan, yakni peristiwa itu disaksikan dua kali di tengah-tengah kaum Bani Israil dan terulang lagi dua kali di tengah-tengah para pengikut Nabi Besar Muhammad saw.  yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim a.s.  melalui Nabi Isma’il a.s..

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,   13 Desember  2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar