Sabtu, 03 Desember 2016

"Kemusyrikan" Tidak Menghargai "Sifat-sifat Sempurna" Allah Swt. & Makna Sifat-sifat Tanzihiyyah" Allah Swt. Dalam Surah Al-Ikhlash


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  74  

KEMUSYRIKAN TIDAK MENGHARGAI SIFAT-SIFAT SEMPURNA ALLAH SWT.  & MAKNA  SIFAT-SIFAT TANZIHIYYAH ALLAH SWT.  DALAM SURAH AL-IKHLASH

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   Bab 73 dikemukakan   penjelasan  topik   Ketidak-berdayaan Berhala-berhala Sembahan Orang-orang Musyrik &  Segala Sesuatu di Alam Semesta  Tunduk-patuh Kepada Allah Swt. sehubungan dengan firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu. اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ  --   Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ --  Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ  -- Sangat lemah yang meminta dan yang dimintaمَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).

Ketidak-berdayaan Sembahan-sembahan Selain Allah Swt.

       Kemudian sehubungan pernyataan Allah Swt. dalam surah sebelumnya mengenai  kesia-siaan berdoa kepada sembahan selain Allah Swt., firman-Nya: 
   لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ  -- melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ  --  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.    وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ     --  Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d [13]:15-16). 
       Makna ayat:  وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ  -- “dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya,   وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ   --  “dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka“, firman-Nya:
      Makna ayat tersebut bahwa  jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan kepada Allah  Swt.  kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kedudukan kepada makhluk-makhluk-Nya  yang mereka berhak memilikinya sebagai makhluk (ciptaan).  Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
       Makna ayat: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  -- “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari.” Ayat ini mengandung satu kebenaran yang agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan (diciptakan)  Allah Swt.   mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan oleh Allah Swt..  
     Lidah harus melaksanakan tugas mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar. Tunduknya segala sesuatu ciptaan Allah Swt. kepada hukum-hukum alam  -- yang juga merupakan bagian dari Kehendak-Nya -- itu dapat disebut sebagai dipaksakan.
      Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat, di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan, ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum  Allah Swt.   dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
    Kata-kata:  طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, ialah, orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada  Allah Swt. serta menyelaraskan keinginannya dengan Kehendak Allah Sw. – baik Kehendak Allah Swt. berupa hukum syariat mau pun hukum alam  --     dan orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum  Allah Swt.  dengan menggerutu (tidak ikhlas/terpaksa). 

Tidak Menghargai Allah Swt. Semestinya &  Allah Swt., Tuhan Sembahan Yang Hakiki

      Mengenai kekeliruan orang-orang musyrik  melakukan penyembahan  terhadap sesuatu selain Allah Swt.   dalam surah lainnya  Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ  -- Sangat lemah yang meminta dan yang dimintaمَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).
        Ayat 74   menerangkan kepada orang-orang kafir  bahwa “tuhan-tuhan sembahan”  mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan itu, sebagaimana  yang dikatakan Nabi Ibrahim a.s. berupa “sindiran-sindiran” yang penuh hikmah terhadap kaumnya yang menyembah patung-patung berhala yang mereka buat sendiri (QS.6:75-85;  QS.19:42-51; QS.21:52-74; QS.26:70-90).
       Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berupa berhala-berhala  sembahan yang terbuat dari kayu dan batu — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung, Allah Swt.: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --    “Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” (Al-Hājj [22]:75).
       Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia.
     Selanjutnya Allah Swt. menjelaskan mengenai siapa dan bagaimana  keadaan “Tuhan Yang Hakiki” yang harus disembah manusia itu, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Katakanlah: “Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah:  ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan    orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).

Perbedaan Sifat Ahad dan Wāhid  Allah Swt.

       Al-Quran memakai dua kata yang berlainan untuk menyatakan Ke-Esa-an Allah Swt : (1) Ahad dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk kepada  Ke-Esa-an Tuhan yang mutlak, tanpa pertalian dengan wujud lain maka wāhid hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan menghendaki yang kedua dan yang ketiga sebagai lanjutannya.
      Sifat wahid (satu) memperlihatkan, bahwa Allah Swt.   itu “Sumber” sejati, tempat terbit segala penciptaan, dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah Swt., sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga menunjuk kepada yang pertama.
       Tetapi di mana Al-Quran menolak paham keputraan wujud-wujud yang dengan tidak sah diberikan kedudukan itu, maka dipakainya kata ahad yakni, Dia itu Esa dan senantiasa Esa serta Tunggal dan Yang tidak beranak, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah:  Dia-lah  Allah Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya. لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --     Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,    وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪  -- Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
    Kata qul (katakan)  dalam ayat: قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ    -- “Katakanlah:  Dia-lah  Allah Yang Maha Esa“  mengandung perintah kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Esa.Kata  Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti  “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173; QS.30:31).
  Allah adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan Pencipta seluruh alam, bukan nama sifat dan bukan pula keterangan.
       Allah adalah nama Zat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat  sempurna, dan sama sekali bebas dari segala kekurangan.  Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam bahasa Arab  lafaz Allah  tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun.
       Tidak ada bahasa lain yang memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa selain bahasa Arab semuanya adalah nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak, sedangkan   lafaz   Allah  tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.
      Lafaz  Allah  adalah  ism zat (nama zat),   bukan  ism musytak, yakni  tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada  lafaz lain yang sepadan maka  lafaz  Allah  dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Quran.
      Pandangan ini didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat  lafaz    Allah   adalah nama Wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya Sendiri, Pemilik segala sifat  sempurna, dan huruf al  tidak terpisahkan dari lafaz Allah (Lexicon Lane).

Makna Sifat  Allah Swt.  “Ash-Shamad

     Ahad adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam Wujud-Nya (Lexicon Lane).
  Sementara Ahad berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya –  sehingga gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wahid berarti kemandirian Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya. Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wahidun akan berarti bahwa “Tuhan itu Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk”; dan Allāhu Ahadun berarti bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal, dalam arti bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti.
  Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai, dan bukan pula mata rantai terakhir. Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran, firman-Nya: قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ    -- “Katakanlah:  Dia-lah  Allah Yang Maha Esa.“ 
 Makna kata  Shamad  dalam ayat:  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ  -- “Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya” berarti: seorang yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
  Karena Ash-Shamad  merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti:  Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
   Dalam ayat yang mendahuluinya telah dinyatakan bahwa Tuhan itu Maha Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat sekarang ini mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan dari Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun.
   Dia tidak memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Tuhan-lah satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.

Keberadaan Anak Membuktikan Kelemahan Orangtua Karena Membuntuhkan Pewaris (Penerus) &  Tidak Ada yang “Setara”  Dengan Allah Swt.

    Maka ayat:   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --     “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”  Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk mengukuhkan pernyataan  bahwa Allah itu Ahad (Maha Esa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan   dalam ayat ini sifat “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan).
 Mengapa demikian? Sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran  bahwa Dia memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati, karena semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain pasti tunduk kepada hukum kematian. Sedangkan  Allah Swt.  tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua Sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak. Itulah makna ayat: لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --     “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”   
  Ayat berikutnya:   وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪  -- “Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya    Ayat  ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya, bahwa taruhlah  Allah itu Maha Esa,   Tunggal, dan Mulia (Ahad) lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain (Ash-Shamad), dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
  Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah.  Sebab akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya. Demikian pula  tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam semesta  pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan Ke-Esa- Sang Pencipta, firman-Nya:
لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, maka Maha Suci Allah  Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan. Dia tidak akan ditanya me-ngenai apa yang Dia kerjakan,  sedangkan mereka  akan ditanya. (Al-Anbiya [21:23-24).

Keserasian Sempurna Tatanan Alam Semesta Sebagai Bukti Tauhid Ilahi

        Ayat 23    merupakan dalil yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak, bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi dan meliputi seluruh alam raya. Tertib ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan Ke-Esa-an Pencipta dan Pengatur alam raya (QS.67:1-5)
        Seandainya ada Tuhan lebih dari satu tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam — sebab adalah perlu bagi suatu wujud  tuhan untuk menciptakan alam-semesta dengan peraturan-peraturannya yang khusus — dan dengan demikian sebagai akibatnya kekalutan dan kekacauan niscaya akan terjadi yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi hancur berantakan. Karena itu sungguh janggal ajaran “Trinitas” yang mengatakan bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi secara bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi seluruh alam semesta.
        Ayat 24 menunjuk kepada sempurnanya dan lengkapnya tata-tertib alam semesta, sebab itu mengisyaratkan kepada kesempurnaan Pencipta dan Pengaturnya, yakni Allah Swt.,  dan mengisyaratkan pula kepada Ke-Esa-an-Nya. Ayat ini berarti bahwa kekuasaan Allah Swt.  mengatasi segala sesuatu, sedang semua wujud dan barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan.

Mencabut Semua “Akar Kemusyrikan”  

    Dengan demikian Surah  Al-Ikhlash   mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain – kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak, dan kepercayaan bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan. Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi  -- yakni Allah Swt.  -- seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi yang diberikan oleh Al-Quran berkenaan Tuhan yang Hakiki, yakni Allah Swt.
       Demikianlah penjelasan mengenai makna  “arah yang benar” dari “tempat tujuan” dilakukannya perjalanan  sehubungan dengan tiga cara  mencapai tujuan perjalanan  yang dilakukan seseorang, baik dalam urusan duniawi mau pun urusan ruhani  (agama), sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab sebelumnya,  yakni:
     (1) ia harus mengetahui letak posisi atau arah tempat  yang akan didatanginya tersebut.
      (2) ia harus bergerak menuju arah yang benar  berkenaan letak tempat yang akan didatanginya tersebut.
       (3) ia harus mengetahui keadaan  medan  perjalanan yang akan ditempuhnya.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  1 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar