Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 74
KEMUSYRIKAN
TIDAK MENGHARGAI SIFAT-SIFAT SEMPURNA ALLAH
SWT. & MAKNA SIFAT-SIFAT TANZIHIYYAH ALLAH SWT. DALAM SURAH AL-IKHLASH
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab 73 dikemukakan penjelasan
topik Ketidak-berdayaan
Berhala-berhala Sembahan Orang-orang Musyrik & Segala Sesuatu di Alam Semesta Tunduk-patuh Kepada Allah Swt. sehubungan dengan firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ
مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا
قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia,
suatu tamsil telah dikemukakan maka
dengarlah tamsil itu. اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ -- Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat,
walau pun mereka itu bergabung untuk
itu. وَ
اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ -- Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali
dari lalat itu. ضَعُفَ
الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat
lemah yang meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya
Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).
Ketidak-berdayaan Sembahan-sembahan Selain Allah Swt.
Kemudian sehubungan pernyataan Allah
Swt. dalam surah sebelumnya mengenai kesia-siaan berdoa kepada sembahan selain Allah Swt., firman-Nya:
لَہٗ دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ
کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ -- melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua
tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ
الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ
ضَلٰلٍ -- dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi
dengan rela atau tidak
rela dan demikian juga
bayangan-bayangan mereka pada setiap
pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d [13]:15-16).
Makna ayat: وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ
فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ -- “dan mereka
yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air supaya sampai
ke mulutnya, tetapi itu tidak akan
sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ -- “dan
tidaklah doa orang-orang kafir itu
melainkan sia-sia belaka“, firman-Nya:
Makna ayat tersebut bahwa jalan
yang benar untuk mendapat sukses
dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat - memberikan kedudukan
kepada Allah Swt. kedudukan yang mustahak bagi-Nya dan memberi kedudukan
kepada makhluk-makhluk-Nya yang mereka berhak memilikinya sebagai
makhluk (ciptaan). Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
Makna ayat: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- “Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi
dengan rela atau tidak
rela dan demikian juga
bayangan-bayangan mereka pada setiap
pagi dan petang hari.” Ayat ini mengandung satu kebenaran yang agung,
yaitu bahwa segala sesuatu yang
dijadikan (diciptakan) Allah Swt. mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum
alam yang diadakan oleh Allah Swt..
Lidah harus melaksanakan tugas
mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar.
Tunduknya segala sesuatu ciptaan
Allah Swt. kepada hukum-hukum alam -- yang juga merupakan bagian dari Kehendak-Nya -- itu dapat disebut
sebagai dipaksakan.
Tetapi manusia diberi juga kebebasan
tertentu untuk berbuat, di mana ia
dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan
dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk
melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan,
ia sedikit-banyak harus tunduk kepada
paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum Allah
Swt. dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
Kata-kata:
طَوۡعًا
وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang atau tidak senang”
dapat juga mengisyaratkan kepada dua
golongan manusia, ialah, orang-orang
beriman yang secara ikhlas tunduk
kepada Allah Swt. serta menyelaraskan keinginannya dengan Kehendak Allah Sw. – baik Kehendak Allah Swt. berupa hukum syariat mau pun hukum alam -- dan orang-orang
kafir yang menaati hukum-hukum Allah Swt. dengan menggerutu (tidak ikhlas/terpaksa).
Tidak Menghargai Allah Swt. Semestinya & Allah Swt., Tuhan Sembahan Yang Hakiki
Mengenai kekeliruan orang-orang musyrik melakukan penyembahan terhadap sesuatu
selain Allah Swt. dalam surah lainnya Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ
مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ
شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ
ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿﴾ مَا
قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Hai manusia,
suatu tamsil telah dikemukakan maka
dengarlah tamsil itu. Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat,
walau pun mereka itu bergabung untuk
itu. Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali
dari lalat itu. ضَعُفَ
الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat
lemah yang meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ
عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya
Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:74-75).
Ayat 74
menerangkan
kepada orang-orang kafir bahwa “tuhan-tuhan
sembahan” mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan itu,
sebagaimana yang dikatakan Nabi Ibrahim a.s. berupa “sindiran-sindiran” yang penuh hikmah
terhadap kaumnya yang menyembah
patung-patung berhala yang mereka
buat sendiri (QS.6:75-85; QS.19:42-51; QS.21:52-74; QS.26:70-90).
Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat
mereka sendiri ke tingkat yang begitu
rendah, hingga mereka menyembah
patung-patung — berupa berhala-berhala sembahan yang terbuat dari kayu dan batu — menunjukkan, bahwa mereka
mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat
Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq Yang Agung, Allah Swt.: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- “Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah
dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya
Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” (Al-Hājj [22]:75).
Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui
adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul
dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat
Tuhan terbatas dan mempunyai kekurangan
seperti halnya manusia.
Selanjutnya Allah Swt.
menjelaskan mengenai siapa dan bagaimana keadaan “Tuhan
Yang Hakiki” yang harus disembah
manusia itu, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَنۡ
رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ
لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ
تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿﴾
Katakanlah:
“Siapakah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!”
Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan
untuk kemanfaatan ataupun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan
orang-orang yang melihat?
Atau samakah gelap dan terang? Atau apakah mereka
itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah
menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga
kedua jenis ciptaan itu nampak
serupa saja bagi mereka?”
Katakanlah: “Hanya Allah yang
telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah
Yang Maha Esa, Maha
Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:17).
Perbedaan Sifat Ahad dan Wāhid Allah Swt.
Al-Quran memakai dua kata yang
berlainan untuk menyatakan Ke-Esa-an
Allah Swt : (1) Ahad dan (2) Wāhid. Di mana ahad menunjuk
kepada Ke-Esa-an Tuhan yang mutlak,
tanpa pertalian dengan wujud lain
maka wāhid hanya berarti “yang pertama” atau “titik tolak”; dan
menghendaki yang kedua dan yang ketiga sebagai lanjutannya.
Sifat wahid (satu)
memperlihatkan, bahwa Allah Swt. itu
“Sumber” sejati, tempat terbit segala penciptaan,
dan segala sesuatu menunjuk kepada Allah Swt., sebagaimana seharusnya benda yang kedua atau ketiga
menunjuk kepada yang pertama.
Tetapi di mana Al-Quran menolak
paham keputraan wujud-wujud yang
dengan tidak sah diberikan kedudukan itu, maka dipakainya kata ahad
yakni, Dia itu Esa dan senantiasa Esa serta Tunggal dan Yang tidak
beranak, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ
اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾ اَللّٰہُ
الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang segala sesuatu
bergantung pada-Nya. لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan,
وَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ
کُفُوًا اَحَدٌ ٪ -- Dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Kata qul
(katakan) dalam ayat: قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ -- “Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa“ mengandung perintah kekal kepada orang-orang
Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan
itu Maha Esa.” Kata Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir
asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan
berarti “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan
dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173; QS.30:31).
Allah adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran
untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama
mutlak untuk Tuhan Pencipta seluruh
alam, bukan nama sifat dan bukan
pula keterangan.
Allah adalah nama Zat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat
sempurna, dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Sebagaimana
telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam bahasa
Arab lafaz Allah tidak
pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun.
Tidak ada bahasa lain yang
memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat Yang Maha Agung
itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa selain bahasa Arab semuanya
adalah nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian
(pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk
jamak, sedangkan lafaz Allah tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.
Lafaz Allah
adalah ism zat (nama zat), bukan
ism musytak, yakni tidak
diambil dari kata lain dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat.
Karena tidak ada lafaz lain yang sepadan
maka lafaz Allah dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat
Al-Quran.
Pandangan ini didukung oleh para
alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat lafaz
Allah adalah nama
Wujud bagi Dzat yang
wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya
Sendiri, Pemilik segala sifat
sempurna, dan huruf al
tidak terpisahkan dari lafaz Allah
(Lexicon Lane).
Makna Sifat Allah Swt. “Ash-Shamad”
Ahad adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang
tiada wujud lainnya sebagai mitra
dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula
dalam Wujud-Nya (Lexicon Lane).
Sementara Ahad berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya – sehingga gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wahid berarti kemandirian Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya. Dengan demikian
ungkapan, Allāhu Wahidun akan berarti bahwa “Tuhan itu Wujud Tertinggi
dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk”; dan Allāhu
Ahadun berarti bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal, dalam arti bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah
dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa
dan Tunggal dalam segala arti.
Dia bukan mata
rantai pertama suatu rangkaian mata
rantai, dan bukan pula mata rantai
terakhir. Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah
menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran,
firman-Nya: قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ -- “Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa.“
Makna kata Shamad dalam ayat: اَللّٰہُ الصَّمَدُ -- “Allah, adalah
Tuhan Yang segala sesuatu bergantung
pada-Nya” berarti: seorang
yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan;
orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
Karena Ash-Shamad merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti: Wujud
tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan
keperluannya; Yang akan terus berwujud
untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk
sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
Dalam ayat yang mendahuluinya telah
dinyatakan bahwa Tuhan itu Maha Esa, Tunggal, dan Mandiri.
Ayat sekarang ini mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan
dari Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun.
Dia tidak
memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada
hakikatnya, tiada sesuatu di alam
raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap
sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Tuhan-lah satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana
pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan.
Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.
Keberadaan Anak Membuktikan Kelemahan
Orangtua Karena Membuntuhkan Pewaris
(Penerus) & Tidak Ada yang “Setara”
Dengan Allah Swt.
Maka ayat:
لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- “Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan.”
Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan
tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk
mengukuhkan pernyataan bahwa Allah itu Ahad (Maha Esa, Tunggal
dan tiada tara bandingan-Nya) dan dalam ayat ini sifat “Dia tidak beranak dan
tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia
berada di atas segala keperluan).
Mengapa demikian? Sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul
dari pikiran bahwa Dia memerlukan bantuan dari seorang
orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya,
dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya
sesudah Dia mati, karena semua wujud
yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain pasti tunduk kepada hukum kematian. Sedangkan Allah Swt. tidak menggantikan
siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua Sifat-Nya dan Dia itu azali,
abadi, dan mutlak. Itulah makna ayat: لَمۡ
یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ
یُوۡلَدۡ -- “Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan.”
Ayat berikutnya: وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪ --
“Dan tidak ada sesuatu pun yang setara
dengan-Nya” Ayat ini
menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh
jadi ditimbulkan karena ayat yang
mendahuluinya, bahwa taruhlah Allah itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia (Ahad) lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain (Ash-Shamad), dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
Ayat ini menghapus
kesalah-pahaman itu. Ayat ini
mengatakan bahwa tidak ada wujud lain
seperti Allah. Sebab akal manusia pun menuntut bahwa harus
ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya. Demikian
pula tata
kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam semesta pun menuntun
kepada kesimpulan yang tidak dapat
dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam
harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan Ke-Esa- Sang Pencipta, firman-Nya:
لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ
عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit
dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, maka
Maha Suci Allah Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan.
Dia tidak akan ditanya me-ngenai apa
yang Dia kerjakan, sedangkan mereka akan ditanya. (Al-Anbiya [21:23-24).
Keserasian Sempurna Tatanan Alam Semesta Sebagai Bukti Tauhid Ilahi
Ayat 23 merupakan dalil
yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak
dapat menolak, bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi
dan meliputi seluruh alam raya. Tertib ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan Ke-Esa-an
Pencipta dan Pengatur alam raya (QS.67:1-5)
Seandainya ada Tuhan lebih dari satu tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam — sebab adalah perlu bagi suatu wujud
tuhan untuk menciptakan alam-semesta
dengan peraturan-peraturannya yang khusus — dan dengan demikian sebagai
akibatnya kekalutan dan kekacauan niscaya akan terjadi yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi hancur berantakan. Karena itu sungguh
janggal ajaran “Trinitas” yang mengatakan
bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi
secara bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi seluruh alam semesta.
Ayat 24 menunjuk kepada sempurnanya
dan lengkapnya tata-tertib alam semesta,
sebab itu mengisyaratkan kepada kesempurnaan Pencipta dan Pengaturnya, yakni Allah Swt., dan
mengisyaratkan pula kepada Ke-Esa-an-Nya. Ayat ini berarti bahwa kekuasaan Allah Swt. mengatasi segala
sesuatu, sedang semua wujud dan
barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan.
Mencabut Semua “Akar
Kemusyrikan”
Dengan demikian Surah Al-Ikhlash mencabut akar-akar
semua itikad kemusyrikan yang
terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama
lain – kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak, dan kepercayaan bahwa ruh
dan benda itu azali seperti Tuhan.
Inilah penjelasan definisi agung
mengenai Dzat Yang Maha Tinggi -- yakni Allah
Swt. -- seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan
keagungan definisi yang diberikan
oleh Al-Quran berkenaan Tuhan yang Hakiki,
yakni Allah Swt.
Demikianlah penjelasan
mengenai makna “arah yang benar” dari “tempat
tujuan” dilakukannya perjalanan sehubungan dengan tiga cara mencapai tujuan perjalanan yang dilakukan
seseorang, baik dalam urusan duniawi
mau pun urusan ruhani (agama), sebagaimana telah dikemukakan
dalam Bab sebelumnya, yakni:
(1) ia harus mengetahui letak posisi atau arah tempat yang akan didatanginya
tersebut.
(2) ia harus bergerak menuju arah yang benar berkenaan letak
tempat yang akan didatanginya
tersebut.
(3) ia harus mengetahui keadaan
medan perjalanan yang akan
ditempuhnya.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
1 Desember 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar