Rabu, 14 Desember 2016

Keutamaan Orang yang Dianugerahi "Hikmah" Oleh Allah Swt. & Hakikat "Keberadaan" Allah Swt. di Kalangan Faqir-Miskin




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  82

ORANG YANG DIANUGERAHI “HIKMAH” 0LEH ALLAH SWT. & HAKIKAT “KEBERADAANALLAH SWT.  DI KALANGAN ANAK-ANAK YATIM DAN  ORANG-ORANG MISKIN       

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 81 dikemukakan    fungsi,   khasiat    hukum syariat ditetapkan-Nya  perintah  mengorbankan  rezeki dari Allah Swt. di jalan-Nya terhadap orang-orang yang berhak menerimanya    --  antara  lain  fakir-miskin,    baik yang meminta mau pun yang tidak meminta  (Qs.2:273-275; QS.51:20; QS.70:25-26)  --  adalah  dalam rangka meniru dan  memperagakan  (mengamalkan) Sifat-sifat  Tasybihiyyah Allah Swt., bukan untuk kepentingan Allah Swt.,  firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾   مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak   menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku. مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ  --   Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka  dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ  -- Sesungguhnya  Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki  Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt [51]:57-59).
   Arti yang utama untuk kata ‘ibadah  adalah  menundukkan diri sendiri kepada disiplin keruhanian yang ketat  -- berupa peraturan (hukum) syariat  --  lalu bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai  sepenuh jangkauannya, sepenuhnya serasi dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai pengesahan Allah Swt.  dan  mampu mencampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri Sifat-sifat Allah Swt. sebagaimana yang dicontohnya oleh para rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ  لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh  Rabb-Ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا --  agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.” قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku,  kehidupanku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh  alam;  لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- Tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri.  Katakanlah:  ”Apakah aku akan mencari Tuhan  yang bukan-Allah, padahal  Dia-lah Tuhan segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, dan  tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain.  Kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang me-ngenainya kamu berselisih. (Al-An’ām [6]:162-165).   
       Jadi,  kecuali sepenuhnya mengikuti sunnah Nabi Besar Muhammad saw., tidak ada perbuatan bid’ah   macam apa pun  yang dapat mengundang kecintaan dan maghfirah Ilahi, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah  aku, یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ   --   Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ --  Dan Allāh Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguh-nya Allāh tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
       Ayat 32dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti suri-teladan  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:22).  Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan).

Makna “Jihad di jalan Allah” yang Hakiki

   Jadi, sebagaimana tersebut dalam ayat:  وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ -- “Dan Aku sekali-kali tidak   menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzāriyāt [61]:57)  itulah maksud dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Allah Swt.. Karunia-karunia jasmani  dan  ruhani  yang terdapat pada sifat (ruh/jiwa) manusia (QS.7:173-175; QS.30:31-33; QS.82:7-9; QS.87:1-4; QS,91:8; QS.95:5) memberikan dengan jelas pengertian kepada kita, bahwa ada di antara kemampuan manusia yang membangunkan pada dirinya dorongan untuk mencari Allah Swt.  dan yang meresapkan kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada  Allah Swt. (QS.2: 129 & 131-134 & 209; QS.3:103
  Bila sang musafir (kelana) keruhanian (salik) menempuh perjalanan menuju tujuan hidupnya yang mulia itu dengan sabar dan tawakkal,   pada hakikatnya peribadahan dan pengorbanan yang dilakukannya itu  tidak berarti bahwa  ia  berbuat bajik (ihsan) kepada Allah Swt.  atau kepada siapa pun melainkan dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan akan mencapai tujuan perjuangannya (jihadnya) di jalan Allah Swt., firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan) (Al-Ankabūt [29]:70).
        Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami.” Dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ  اِنَّکَ کَادِحٌ  اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا  فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka  engkau akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqāq [84]:7).
       Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya “beramal saleh” dengan menjauhi  berbagai bentuk “kemusyrikan”: 
قُلۡ اِنَّمَاۤ  اَنَا بَشَرٌ  مِّثۡلُکُمۡ  یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah:  ”Sesungguh­nya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, tetapi telah diwahyukan kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) Yang Maha Esa,   maka barangsiapa mengharap akan bertemu  dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) hendaklah ia beramal saleh dan ia jangan  memper­sekutukan siapa pun dalam ber­ibadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)"  (Al-Kahf [18]:111).

Keutamaan Orang yang Diberi Hikmah  Oleh Allah Swt. &  Pernyataan Allah Swt. Mengenai  Keberadaan-Nya” di Kalangan  Faqir-Miskin

        Kembali kepada tata-cara mengorbankan harta di jalan Allah Swt. yang dapat menumbuhkan akhlak dan ruhani terpuji bagi pelakunya (QS.2:262-275) selanjutnya Allah Swt. berfirman: 
یُّؤۡتِی الۡحِکۡمَۃَ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَنۡ یُّؤۡتَ الۡحِکۡمَۃَ فَقَدۡ اُوۡتِیَ خَیۡرًا کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ  اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾وَ مَاۤ اَنۡفَقۡتُمۡ مِّنۡ نَّفَقَۃٍ اَوۡ نَذَرۡتُمۡ مِّنۡ نَّذۡرٍ فَاِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ  اَنۡصَارٍ ﴿﴾  اِنۡ تُبۡدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا ہِیَ ۚ وَ اِنۡ تُخۡفُوۡہَا وَ تُؤۡتُوۡہَا الۡفُقَرَآءَ فَہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ؕ وَ یُکَفِّرُ عَنۡکُمۡ مِّنۡ سَیِّاٰتِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Dia memberi hikmah  kepada siapa yang Dia kehendaki dan barangsiapa diberi hikmah maka sungguh ia telah diberi berlimpah-limpah kebaikan, dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.    Dan belanja apa pun yang kamu belanjakan atau nazar apa pun yang kamu nazarkan di jalan Allah  maka sesungguhnya Allah mengetahuinya, dan bagi orang-orang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun.   Jika kamu memberikan sedekah-sedekah secara  terang-terangan maka hal itu baik, tetapi jika kamu menyembunyikannya dan kamu memberikannya kepada orang-orang fakir maka hal itu lebih baik  bagi kamu, dan  Dia akan menghapuskan dari kamu  beberapa kesalahanmu,  dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah [2]:270-272).            
      Makna hikmah dalam ayat:   “Dia memberi hikmah  kepada siapa yang Dia kehendaki dan barangsiapa diberi hikmah maka sungguh ia telah diberi berlimpah-limpah kebaikan, dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal, ayat ini berarti bahwa perintah mengenai pembelanjaan kekayaan untuk bersedekah yang merupakan rahasia kemajuan dan kesejahteraan nasional itu berdasar atas hikmah (kebijakan), bahkan  menurut Nabi Besar Muhammad saw. pembelanjaan rezeki di jalan-Nya merupakan sarana untuk “menjumpai” (bertemu)   Allah Swt..

Makna “Berjumpa” Dengan Allah Swt. Dalam Sifat-sifat Tasybihiyyah

      Perlu difahami bahwa makna “berjumpa” dengan Allah Swt. tidak sama dengan perjumpaan di antara sesama manusia secara fisik, melainkan “perjumpaan” secara ruhani  yaitu  terjadinya “persamaan” dalam hal sifat, khususnya Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt.. Contohnya adalah para nabi Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.53:1-11), sehingga diabadikan dalam bentuk Dua  Kalimat Syahadat  dalam Rukun Islam yang pertama.
       Salah satu bukti  atau  tanda terjadinya “perjumpaan” secara ruhani dalam bentuk terjadinya “persamaan” dalam sifat-sifat Tasybihiyah  dan perbuatan Allah Swt. antara manusia dengan Allah Swt.   diisyaratkan dalam firman-Nya berikut ini:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ  نَّکَثَ فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ اللّٰہَ  فَسَیُؤۡتِیۡہِ  اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada  Allah. یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِم  -- Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya maka ia melanggar janji atas  dirinya sendiri, dan barangsiapa memenuhi apa yang telah  dia  janjikan kepada Allah maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:11).
  Isyarat  ayat: اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ   -- “Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada  Allah. Tangan Allah ada di atas tangan me-reka,” itu ditujukan kepada sumpah setia orang-orang beriman di tangan  Nabi Besar Muhammad saw. di bawah sebatang pohon di Hudaibiyah (Bukhari). Firman-Nya lagi:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی  --  dan bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا --  dan supaya Dia  menganugerahi  orang-orang yang beriman  anugerah yang baik dari-Nya,  اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ --   sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).
       Kemenangan  dalam perang  Badar itu sebenarnya bukan disebabkan oleh suatu kecakapan atau kemahiran pihak orang-orang Islam. Mereka terlalu sedikit, terlalu lemah, dan terlalu buruk persenjataan mereka untuk memperoleh kemenangan terhadap satu lasykar yang jauh lebih besar jumlahnya, jauh lebih baik persenjataannya, lagi pula jauh lebih terlatih.
        Perlemparan segenggam kerikil dan pasir oleh Nabi Besar Muhammad saw.  dalam ayat:  وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی  --  “dan bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar” mempunyai kesamaan yang ajaib dengan pemukulan air laut dengan tongkat oleh Nabi Musa a.s. ketika Bani Israil ke luar dari wilayah Mesir.
      Sebagaimana dalam   perbuatan Nabi Musa a.s.  itu seolah-olah merupakan isyarat bagi angin untuk bertiup dan bagi air-pasang naik kembali sehingga membawa akibat tenggelamnya Fir’aun serta lasykarnya di laut, demikian pula halnya pelemparan segenggam kerikil oleh Nabi Besar Muhammad saw.   merupakan satu isyarat untuk angin bertiup kencang dengan membawa akibat kebinasaan Abu Jahal   -- yang pernah disebut oleh beliau saw.   sebagai Fir’aun kaumnya  --  dan lasykarnya di padang pasir itu. Dalam kedua kejadian tersebut bekerjanya kekuatan-kekuatan alam itu, bertepatan benar dengan tindakan-tindakan kedua nabi Allah  itu di bawah takdir khas Allah Swt., yang disebut mukjizat.   

Hakikat “Keberadaan” Allah Swt. di Kalangan “Orang-orang Miskin

         Sehubungan dengan  adanya “persamaan” atau “kebersamaan” seperti itu, dalam sebuah hadits qudsi    Nabi Besar Muhammad saw. mengumpamaan “keberadaan” Allah Swt.    di kalangan “orang-orang miskin”:
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw. sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak di Hari Kiamat akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu tidak menjenguk-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhan-ku, bagaimana kami menjenguk Engkau sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam”, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hamba-Ku yang bernama Fulan sakit, dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu menjenguknya, engkau akan mendapati-Ku didekatnya
      Wahai anak cucu adam,   Aku minta makanan kepada kamu, namun kamu tidak memberi-Ku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada Engkau sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Tidakkah engkau tahu,  sesungguhnya hamba-Ku fulan meminta makanan, dan kemudian kamu tidak memberinya makanan? Tidakkah  kamu  tahu, seandainya kamu memberinya makanan, benar-benar akan kamu  dapati perbuatan itu di sisi-Ku.
       Wahai anak cucu adam, Aku meminta minum kepada kamu, namun  kamu tidak memberi-Ku minum”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami memberi minum kepada Engkau sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Seorang hamba-Ku yang bernama fulan meminta minum kepada kamu, namun tidak kamu beri minum, tidakkah kamu tahu, seandainya kamu memberi minum kepadanya, benar-benar kamu akan dapati (pahala) amal itu di sisi-Ku  (Hadits diriwayatkan oleh Muslim).
      Penjelasan Hadits Qudsi  tersebut sama dengan  penjelasan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil  bab “Penghakiman terakhir”:
25:31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta  kemuliaan-Nya. 25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan  mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,   25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan   yang telah disediakan bagimu sejak dunia   dijadikan. 25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;  25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian;  ketika Aku sakit, kamu melawat Aku;   ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.   25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? 25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku,   hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.    25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 25:44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal. (Matius 25:31-46).

Tidak Berbuat Baik Kepada Siapa pun Melainkan Bagi Manfaat Dirinya

        Jadi,  sehubungan dengan pentingnya pelaksanaan huququl ‘ibād (hal-hal  para hamba Allah)  berupa pengorbanan harta di jalan Allah,  dalam kedua keterangan tersebut Allah Swt. menggambarkan dalam bentuk perumpamaan mengenai “keberadaan-Nya  di kalangan  orang-orang yang berkekurangan dalam segi ekonomi  yaitu anak-anak yatim dan orang-orang miskin, sesuai firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾   مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak   menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku. مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ  --   Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka  dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ  -- Sesungguhnya  Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki  Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt [51]:57-59).
 Dengan demikian jika sang musafir (kelana)  ruhani  (salik) menempuh perjalanan  ruhani (suluk) menuju tujuan hidupnya yang mulia itu  -- yakni beribadah kepada Allah Swt. (QS.51:57) --dengan sabar dan tawakkal, ia  sama sekali tidak berbuat ihsan (baik)  kepada Allah Swt. atau kepada siapa pun melainkan dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan mencapai tujuan perjuangannya  (jihadnya) yang hakiki tersebut: مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ  --   Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka  dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ  -- Sesungguhnya  Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki  Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt [51]:57-59).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,   10 Desember  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar