Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 82
ORANG YANG DIANUGERAHI “HIKMAH” 0LEH ALLAH SWT. & HAKIKAT “KEBERADAAN” ALLAH SWT. DI KALANGAN ANAK-ANAK YATIM DAN ORANG-ORANG
MISKIN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 81 dikemukakan fungsi,
khasiat hukum syariat ditetapkan-Nya
perintah mengorbankan rezeki dari Allah Swt. di jalan-Nya terhadap orang-orang yang berhak menerimanya --
antara lain fakir-miskin, baik
yang meminta mau pun yang tidak meminta (Qs.2:273-275; QS.51:20; QS.70:25-26) --
adalah dalam rangka meniru dan memperagakan (mengamalkan) Sifat-sifat Tasybihiyyah
Allah Swt., bukan untuk kepentingan Allah
Swt., firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ مَاۤ
اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. مَاۤ
اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ -- Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka
dan tidak
pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ -- Sesungguhnya Allah
Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt
[51]:57-59).
Arti yang utama
untuk kata ‘ibadah adalah menundukkan
diri sendiri kepada disiplin
keruhanian yang ketat -- berupa peraturan (hukum) syariat -- lalu bekerja
dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai sepenuh
jangkauannya, sepenuhnya serasi
dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai pengesahan Allah Swt. dan
mampu mencampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri Sifat-sifat Allah Swt. sebagaimana yang dicontohnya oleh para rasul Allah, terutama Nabi
Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ
اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ
اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ
ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا
عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ
وِّزۡرَ اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی
رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ
تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-Ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا -- agama
yang teguh, agama Ibrahim yang lurus وَ مَا کَانَ
مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik.” قُلۡ
اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ
مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- Katakanlah:
“Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupanku,
dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan)
seluruh
alam; لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ
اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- Tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah
aku diperintahkan, dan akulah
orang pertama yang berserah diri. Katakanlah: ”Apakah aku akan mencari Tuhan yang bukan-Allah, padahal Dia-lah
Tuhan segala sesuatu?” Dan tiada
jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, dan tidak
pula seorang pemikul beban memikul
beban orang lain. Kemudian
kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang
me-ngenainya kamu berselisih. (Al-An’ām [6]:162-165).
Jadi,
kecuali sepenuhnya mengikuti sunnah
Nabi Besar Muhammad saw., tidak ada perbuatan bid’ah macam apa pun
yang dapat mengundang kecintaan
dan maghfirah Ilahi, sebagaimana firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ
اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ
وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا
اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ
ذُنُوۡبَکُمۡ -- Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- Dan Allāh Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguh-nya Allāh tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran
[3]:32-33).
Ayat 32dengan tegas menyatakan
bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin
terlaksana kecuali dengan mengikuti suri-teladan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:22). Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul
dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya
Tuhan dan alam akhirat saja sudah
cukup untuk memperoleh najat
(keselamatan).
Makna “Jihad di jalan Allah” yang Hakiki
Jadi, sebagaimana tersebut dalam ayat: وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ -- “Dan Aku sekali-kali
tidak menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzāriyāt [61]:57) itulah maksud
dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Allah Swt.. Karunia-karunia
jasmani dan ruhani yang terdapat pada sifat (ruh/jiwa) manusia (QS.7:173-175;
QS.30:31-33; QS.82:7-9; QS.87:1-4; QS,91:8; QS.95:5) memberikan dengan jelas pengertian kepada kita, bahwa ada di
antara kemampuan manusia yang
membangunkan pada dirinya dorongan untuk mencari Allah Swt. dan yang meresapkan
kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah
Swt. (QS.2: 129 & 131-134 & 209; QS.3:103
Bila sang musafir
(kelana) keruhanian (salik) menempuh perjalanan menuju tujuan hidupnya yang mulia
itu dengan sabar dan tawakkal, pada
hakikatnya peribadahan dan pengorbanan yang dilakukannya itu tidak berarti bahwa ia berbuat bajik (ihsan) kepada Allah Swt. atau kepada siapa pun melainkan dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan akan mencapai tujuan perjuangannya (jihadnya) di jalan Allah Swt., firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا
لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ
لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk
Kami niscaya Kami akan memberi
petunjuk kepada mereka pada
jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan) (Al-Ankabūt
[29]:70).
Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti
“untuk menjumpai Kami.” Dalam surah
lain Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا
الۡاِنۡسَانُ اِنَّکَ کَادِحٌ اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya engkau
bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka engkau
akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqāq [84]:7).
Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw. mengenai pentingnya “beramal
saleh” dengan menjauhi berbagai
bentuk “kemusyrikan”:
قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ
مِّثۡلُکُمۡ یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ
بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah:
”Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti
kamu, tetapi telah diwahyukan
kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) Yang Maha Esa, maka barangsiapa mengharap akan bertemu
dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) hendaklah ia beramal saleh dan ia jangan
mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)"
(Al-Kahf [18]:111).
Keutamaan Orang yang
Diberi Hikmah Oleh Allah Swt. & Pernyataan Allah Swt. Mengenai “Keberadaan-Nya”
di Kalangan “Faqir-Miskin”
Kembali kepada tata-cara mengorbankan harta di jalan Allah Swt.
yang dapat menumbuhkan akhlak dan ruhani terpuji bagi pelakunya (QS.2:262-275) selanjutnya Allah Swt. berfirman:
یُّؤۡتِی الۡحِکۡمَۃَ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ
وَ مَنۡ یُّؤۡتَ الۡحِکۡمَۃَ
فَقَدۡ اُوۡتِیَ خَیۡرًا کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ
اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾وَ مَاۤ اَنۡفَقۡتُمۡ
مِّنۡ نَّفَقَۃٍ اَوۡ نَذَرۡتُمۡ
مِّنۡ نَّذۡرٍ فَاِنَّ
اللّٰہَ یَعۡلَمُہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾ اِنۡ تُبۡدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا ہِیَ ۚ وَ اِنۡ تُخۡفُوۡہَا وَ تُؤۡتُوۡہَا الۡفُقَرَآءَ فَہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ؕ وَ
یُکَفِّرُ عَنۡکُمۡ مِّنۡ سَیِّاٰتِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Dia memberi hikmah kepada siapa
yang Dia kehendaki dan barangsiapa
diberi hikmah maka sungguh ia telah
diberi berlimpah-limpah kebaikan, dan tidak
ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. Dan belanja apa pun yang kamu
belanjakan atau nazar apa pun yang
kamu nazarkan di jalan Allah maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya, dan bagi
orang-orang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun. Jika kamu memberikan sedekah-sedekah secara terang-terangan maka hal itu baik, tetapi jika
kamu menyembunyikannya dan kamu
memberikannya kepada orang-orang fakir maka hal itu lebih baik bagi kamu, dan Dia
akan menghapuskan dari kamu beberapa
kesalahanmu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah
[2]:270-272).
Makna hikmah dalam ayat: “Dia memberi hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki dan barangsiapa diberi hikmah maka sungguh ia telah diberi berlimpah-limpah kebaikan,
dan tidak ada yang dapat mengambil
pelajaran kecuali orang-orang yang berakal,” ayat ini berarti bahwa perintah mengenai pembelanjaan
kekayaan untuk bersedekah yang
merupakan rahasia kemajuan dan kesejahteraan nasional itu berdasar atas
hikmah (kebijakan), bahkan menurut Nabi Besar Muhammad saw. pembelanjaan rezeki di jalan-Nya merupakan
sarana untuk “menjumpai” (bertemu) Allah
Swt..
Makna “Berjumpa”
Dengan Allah Swt. Dalam Sifat-sifat
Tasybihiyyah
Perlu difahami
bahwa makna “berjumpa” dengan Allah Swt. tidak sama dengan perjumpaan di antara sesama manusia
secara fisik, melainkan “perjumpaan”
secara ruhani yaitu terjadinya “persamaan” dalam hal sifat,
khususnya Sifat-sifat Tasybihiyyah
Allah Swt.. Contohnya adalah para nabi
Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.53:1-11), sehingga diabadikan dalam bentuk Dua Kalimat
Syahadat dalam Rukun Islam yang pertama.
Salah satu bukti atau tanda terjadinya “perjumpaan” secara ruhani
dalam bentuk terjadinya “persamaan”
dalam sifat-sifat Tasybihiyah dan perbuatan
Allah Swt. antara manusia dengan Allah Swt. diisyaratkan
dalam firman-Nya berikut ini:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ
اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ
اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ نَّکَثَ
فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ
اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ اللّٰہَ
فَسَیُؤۡتِیۡہِ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
﴿٪﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang baiat kepada engkau
sebenarnya mereka baiat
kepada Allah. یَدُ اللّٰہِ
فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِم -- Tangan
Allah ada di atas tangan mereka,
maka barangsiapa melanggar janjinya
maka ia melanggar janji
atas dirinya sendiri, dan barangsiapa
memenuhi apa yang telah dia janjikan kepada Allah maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang
besar. (Al-Fath [48]:11).
Isyarat
ayat: اِنَّ الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ
اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ -- “Sesungguhnya
orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat
kepada Allah. Tangan Allah ada di atas
tangan me-reka,” itu ditujukan kepada sumpah
setia orang-orang beriman di tangan Nabi Besar Muhammad saw. di bawah sebatang
pohon di Hudaibiyah (Bukhari). Firman-Nya lagi:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ
اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan
kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ
رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی -- dan
bukan engkau yang melemparkan pasir
ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ بَلَآءً
حَسَنًا -- dan supaya Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).
Kemenangan dalam perang
Badar itu sebenarnya bukan
disebabkan oleh suatu kecakapan atau kemahiran pihak orang-orang Islam. Mereka terlalu sedikit, terlalu
lemah, dan terlalu buruk persenjataan
mereka untuk memperoleh kemenangan
terhadap satu lasykar yang jauh lebih
besar jumlahnya, jauh lebih baik persenjataannya, lagi pula jauh lebih
terlatih.
Perlemparan segenggam kerikil
dan pasir oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat:
وَ مَا رَمَیۡتَ
اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی -- “dan
bukan engkau yang melemparkan pasir
ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar” mempunyai
kesamaan yang ajaib dengan pemukulan air
laut dengan tongkat oleh Nabi
Musa a.s. ketika Bani Israil ke luar
dari wilayah Mesir.
Sebagaimana dalam perbuatan Nabi Musa a.s. itu seolah-olah merupakan isyarat bagi angin untuk bertiup dan
bagi air-pasang naik kembali sehingga
membawa akibat tenggelamnya Fir’aun
serta lasykarnya di laut, demikian pula halnya pelemparan segenggam kerikil oleh Nabi Besar Muhammad saw. merupakan satu isyarat untuk angin
bertiup kencang dengan membawa akibat kebinasaan
Abu Jahal -- yang pernah disebut
oleh beliau saw. sebagai Fir’aun kaumnya -- dan
lasykarnya di padang pasir itu. Dalam
kedua kejadian tersebut bekerjanya
kekuatan-kekuatan alam itu, bertepatan benar dengan tindakan-tindakan kedua nabi Allah itu di bawah takdir khas Allah Swt., yang disebut mukjizat.
Hakikat “Keberadaan”
Allah Swt. di Kalangan “Orang-orang
Miskin”
Sehubungan dengan adanya “persamaan”
atau “kebersamaan” seperti itu, dalam
sebuah hadits qudsi Nabi Besar Muhammad saw. mengumpamaan “keberadaan” Allah Swt. di
kalangan “orang-orang miskin”:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.,
beliau berkata, telah bersabda Rasulullah
saw. sesungguhnya Allah Azza wa Jalla kelak di Hari Kiamat akan berfirman, “Wahai anak cucu Adam, aku sakit dan kamu
tidak menjenguk-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhan-ku, bagaimana kami
menjenguk Engkau sedangkan Engkau
adalah Tuhan Semesta Alam”, Allah berfirman, “Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya hamba-Ku yang bernama Fulan sakit,
dan kamu tidak menjenguknya? Tidakkah engkau tahu, sesungguhnya jika kamu
menjenguknya, engkau akan mendapati-Ku didekatnya.
Wahai anak cucu adam, Aku minta makanan kepada kamu, namun kamu
tidak memberi-Ku makanan kepada-Ku”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami dapat memberi makan kepada Engkau sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?”
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Tidakkah
engkau tahu, sesungguhnya hamba-Ku fulan meminta makanan, dan kemudian
kamu tidak memberinya makanan? Tidakkah
kamu tahu, seandainya kamu
memberinya makanan, benar-benar akan kamu
dapati perbuatan itu di sisi-Ku.
Wahai anak cucu adam, Aku meminta
minum kepada kamu, namun kamu tidak
memberi-Ku minum”, ada yang berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana kami
memberi minum kepada Engkau sedangkan Engkau
adalah Tuhan Semesta Alam?” Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, “Seorang hamba-Ku yang bernama fulan meminta
minum kepada kamu, namun tidak kamu beri minum, tidakkah kamu tahu, seandainya
kamu memberi minum kepadanya, benar-benar kamu akan dapati (pahala) amal itu di
sisi-Ku” (Hadits
diriwayatkan oleh Muslim).
Penjelasan Hadits Qudsi tersebut sama
dengan penjelasan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. dalam Injil bab “Penghakiman terakhir”:
25:31 "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta
kemuliaan-Nya. 25:32 Lalu semua bangsa akan
dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia
akan memisahkan mereka
seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing,
25:33 dan Ia akan menempatkan
domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing
di sebelah kiri-Nya. 25:34 Dan Raja itu akan berkata
kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya:
Mari, hai kamu yang diberkati oleh
Bapa-Ku, terimalah Kerajaan
yang telah
disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu
memberi Aku makan; ketika Aku haus,
kamu memberi Aku minum; ketika Aku
seorang asing, kamu memberi Aku
tumpangan; 25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian;
ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku
di dalam penjara, kamu mengunjungi
Aku. 25:37 Maka orang-orang benar itu
akan menjawab Dia, katanya: Tuhan,
bilamanakah kami melihat Engkau lapar
dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 25:38 Bilamanakah kami melihat
Engkau sebagai orang asing, dan kami
memberi Engkau tumpangan, atau telanjang
dan kami memberi Engkau pakaian?
25:39 Bilamanakah kami melihat
Engkau sakit atau dalam penjara
dan kami mengunjungi Engkau? 25:40 Dan Raja itu akan menjawab
mereka: Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang kamu
lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 25:41 Dan Ia akan berkata juga
kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu
orang-orang terkutuk, enyahlah ke
dalam api yang kekal
yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. 25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu
tidak memberi Aku makan; ketika Aku
haus, kamu tidak memberi Aku minum; 25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan;
ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi
Aku pakaian; ketika Aku sakit dan
dalam penjara, kamu tidak melawat
Aku. 25:44 Lalu merekapun akan menjawab
Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar,
atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang
atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya segala
sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina
ini, kamu tidak melakukannya juga untuk
Aku. 25:46 Dan mereka ini akan masuk ke
tempat siksaan yang kekal, tetapi orang
benar ke dalam hidup yang kekal. (Matius 25:31-46).
Tidak Berbuat Baik Kepada Siapa
pun Melainkan Bagi Manfaat Dirinya
Jadi,
sehubungan dengan pentingnya pelaksanaan huququl ‘ibād (hal-hal para
hamba Allah) berupa pengorbanan harta di jalan Allah,
dalam kedua keterangan tersebut Allah Swt. menggambarkan dalam bentuk perumpamaan mengenai “keberadaan-Nya” di kalangan orang-orang yang berkekurangan dalam segi ekonomi
yaitu anak-anak yatim dan orang-orang
miskin, sesuai firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ مَاۤ
اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. مَاۤ
اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ -- Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan tidak
pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ -- Sesungguhnya Allah
Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt
[51]:57-59).
Dengan demikian jika sang musafir (kelana) ruhani
(salik) menempuh perjalanan ruhani (suluk) menuju
tujuan hidupnya yang mulia itu -- yakni beribadah
kepada Allah Swt. (QS.51:57) --dengan sabar
dan tawakkal, ia sama sekali tidak berbuat ihsan (baik) kepada Allah
Swt. atau kepada siapa pun
melainkan dirinya sendirilah yang
memperoleh manfaatnya dan mencapai tujuan perjuangannya (jihadnya) yang hakiki tersebut: مَاۤ اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ
رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ
یُّطۡعِمُوۡنِ -- Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka dan tidak
pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ -- Sesungguhnya Allah
Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt
[51]:57-59).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 10 Desember
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar