Jumat, 16 Desember 2016

Pentingnya Memiliki "Bashirah" (Penglihatan Ruhani) yang Baik dan Hubungannya Dengan "Bekas Sujud" yang Hakiki & Kisah Penuh Hikmah Kelaparan Abu Hurairah r.a. dan Semangkuk Susu




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  84

PENTINGNYA MEMILIKI BASHIRAH (PENGLIHATAN RUHANI) YANG BAIK  DAN HUBUNGANNYA DENGAN  BEKAS SUJUD” YANG HAKIKI & KISAH PENUH HIKMAH KELAPARAN ABU HURAIRAH R.A.  DAN SEMANGKUK   SUSU

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma



D
alam   bagian akhir  Bab 83  topik  Makna Faqir dan Mahrum  (Yang Tidak Meminta). Makna kata faqara dalam ayat   Infak tersebut bagi orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi”   dalam surah Al-Baqarah [2]:273-275.  
      Kata faqara  berarti: ia membuat lubang ke dalam mutiara; faqura berarti:  ia menjadi miskin dan kekurangan; dan faqira berarti:  ia mengidap penyakit tulang punggung.   Jadi faqr berarti kemiskinan; kekurangan atau keperluan yang sangat memberatkan kehidupan si miskin; kesusahan atau kecemasan atau kegelisahan pikir (Lexicon Lane). Dengan demikian keadaan orang  faqir lebih berat (susah) daripada orang miskin, sebab  keadaan orang  miskin  hanya perlu dibantu dari segi ekonomi saja karena secara  jiwa dan fisik keadaannya  normal, sedangkan orang faqir  adalah orang-orang miskin yang didak mampu berusaha karena menderita kelemahan dari segi fisik  atau menderita cacat fisik.

Makna Orang-orang yang  Mahrum” &  Harta Orang-orang Kaya Merupakan Amanat

        Makna ayat selanjutnya:    Orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi. Orang yang tidak berpengetahuan menganggap mereka itu kaya, karena  mereka menghindarkan diri dari meminta-minta.   Engkau dapat mengenali mereka dari wajahnya,  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak (Al-Baqarah [2]:274).
        Orang-orang miskin mau pun faqir  yang dikemukakan ayat tersebut termasuk golongan “mahrum  --  yang umumnya dikenakan kepada binatang peliharaan  yang tidak bisa berbicara   --  Allah Swt. berfirman:
وَ فِیۡۤ  اَمۡوَالِہِمۡ حَقٌّ  لِّلسَّآئِلِ وَ الۡمَحۡرُوۡمِ ﴿﴾
Dan dalam harta benda mereka ada  hak bagi mereka yang meminta وَ الۡمَحۡرُوۡمِ  -- dan bagi mereka yang tidak meminta.   (Adz-Dzāriyāt [51]:20).
  Menurut Islam, baik orang-orang yang dapat menyatakan keperluan mereka  لِّلسَّآئِلِ  -- ataupun  وَ الۡمَحۡرُوۡمِ --  dan yang tidak dapat, semuanya mempunyai bagian sebagai hak dalam harta orang Islam yang kaya. Dengan demikian harta orang Islam merupakan amanat yang orang-orang miskin pun mempunyai hak menikmati manfaatnya.
     Karena itu jika orang-orang kaya memenuhi keperluan saudaranya yang miskin, pada hakikatnya ia tidak berbuat kebajikan kepada mereka melainkan hanyalah menunaikan kewajiban membayar utang kepada mereka dan mengembalikan lagi apa yang memang telah menjadi hak mereka, sebagaimana firman-Nya berikut ini:
وَ  سَیُجَنَّبُہَا  الۡاَتۡقَی ﴿ۙ﴾  الَّذِیۡ یُؤۡتِیۡ مَالَہٗ یَتَزَکّٰی ﴿ۚ﴾  وَ مَا لِاَحَدٍ عِنۡدَہٗ  مِنۡ نِّعۡمَۃٍ  تُجۡزٰۤی ﴿ۙ﴾  اِلَّا ابۡتِغَآءَ  وَجۡہِ  رَبِّہِ الۡاَعۡلٰی ﴿ۚ﴾  وَ  لَسَوۡفَ یَرۡضٰی ﴿٪﴾
Dan orang yang paling bertakwa segera akan dijauhkan darinya (api),   yaitu yang memberikan hartanya  supaya ia memperoleh kesucian.   Dan sekali-kali tidak bagi seorang pun nikmat  yang diberikan kepadanya  yang harus dibalas.  Kecuali hanya mencari keridhaan Rabb-nya (Tuhan-nya) Yang Maha Tinggi.   Dan niscaya  Dia akan ridha ke-padanya.  (Al-Lail [92]:18-21).
  Jadi, orang beriman yang bertakwa berbuat baik terhadap orang lain  bukan karena membalas sesuatu kebaikan yang pernah diterimanya dari mereka, melainkan semata-mata karena terdorong oleh keinginan memberi faedah kepada sesama makhluk Allah dan untuk memperoleh keridhaan Ilahi.
  Oleh karena itu menurut ajaran Islam sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.,   dalam melakukan amal shalih  berupa pemberian harta kepada pihak-pihak yang wajib disantuni  tidak menunggu ada permintaan bantuan, melainkan  mereka mencari orang-orang yang memerlukan santunan tersebut karena di kalangan faqir-miskin pun terdapat orang-orang yang “mahrum”, yakni sekali pun memerlukan bantuan tetapi  karena  demi menjaga “kehormatan dirinya” mereka tidak pernah meminta-minta.

Golongan “Faqir-Miskin” yang Memiliki “Kemuliaaan Derajat  

 Jadi, kembali mengenai  faqir-miskin” yang “terhormat” seperti diisyaratkan dalam ayat:   Orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi. Orang yang tidak berpengetahuan menganggap mereka itu kaya, karena  mereka menghindarkan diri dari meminta-minta.   Engkau dapat mengenali mereka dari wajahnya,  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak (Al-Baqarah [2]:274).    Dengan demikian jelaslah bahwa makna kata al-mahrūm, dalam pengertian imbuhannya bukan hanya tertuju kepada  binatang-binatang tunawicara (bisu),  tetapi  juga mencakup orang-orang miskin, yang karena rasa harga dirinya atau rasa malunya mereka tidak mau meminta  sedekah (QS.2:274). 
     Kata itu telah dianggap di sini mempunyai arti, seseorang yang terhalang dari mencari nafkah oleh kelemahan jasmani (sakit-sakit) atau beberapa sebab lain yang serupa, yaitu golongan faqir. Firman-Nya lagi: 
الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَلٰی صَلَاتِہِمۡ   دَآئِمُوۡنَ  ﴿۪ۙ﴾ وَ الَّذِیۡنَ فِیۡۤ  اَمۡوَالِہِمۡ حَقٌّ مَّعۡلُوۡمٌ ﴿۪ۙ﴾  لِّلسَّآئِلِ وَ الۡمَحۡرُوۡمِ ﴿۪ۙ﴾
Orang-orang yang mereka itu tetap mengerjakan shalat dan orang-orang yang dalam harta mereka ada bagian yang ditentukan untuk orang miskin. untuk yang meminta dan yang tidak meminta. (Al-Mā’arīj [70]:24-26).

Makna Hakiki “Bekas-bekas Sujud” & Perumpamaan Dalam Taurat  dan Injil

     Makna kata sima   dalam ayat  Orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi. Orang yang tidak berpengetahuan menganggap mereka itu kaya, karena  mereka menghindarkan diri dari meminta-minta.   Engkau dapat mengenali mereka dari wajahnya,  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak  (Al-Baqarah [2]:274).
         Sima berarti tanda atau ciri yang membedakan; atau roman muka yang menjadi tanda atau ciri yang membedakan (Aqrabul-Mawarid). Ayat ini secara sepintas lalu memuji orang-orang yang memelihara rasa harga-diri dengan mencegah diri dari meminta-minta, dan mengandung arti ketidak-pantasan kebiasaan meminta-minta, seperti nampak dalam kata ta’affuf (mencegah diri dari hal-hal yang kurang pantas atau haram) dan ilhaf (dengan mendesak-desak). Nabi Besar Muhammad saw. mencela kebiasaan meminta-minta (mengemis).
      Jadi, betapa ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. mampu para pelakunya memiliki perasaan yang sangat peka  atau memiliki firasat  yang sangat halus atau bashirat (penglihatan ruhani)  sehingga  mereka mampu melihat “sima” (ciri/tanda) yang halus dari orang-orang yang perlu mendapat santunan (pengkhidmatan) darinya:  Engkau dapat mengenali mereka dari wajahnya,  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak (Al-Baqarah [2]:274).
      Orang-orang bertakwa yang seperti  itu disebut dalam Al-Quran sebagai  orang-orang yang memiliki “bekas-bekas sujud” yang hakiki – yang secara keliru dianggap sebagai  bercak-bercak hitam di dahi karena  dahinya sering bergesekan dengan tempat sujud   --  melainkan maknanya adalah kemajuan akhlak dan ruhani   sebagai buah (hasil) dari melaksanakan ibadah kepada Allah Swt. sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22),  firman-Nya:
مُحَمَّدٌ  رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ  عَلَی الۡکُفَّارِ  رُحَمَآءُ  بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ  رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ  فَضۡلًا مِّنَ  اللّٰہِ  وَ رِضۡوَانًا ۫ سِیۡمَاہُمۡ  فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ  مِّنۡ  اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ  اَخۡرَجَ  شَطۡـَٔہٗ  فَاٰزَرَہٗ  فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ  لِیَغِیۡظَ بِہِمُ  الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً  وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad itu adalah Rasul Allah, وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ  عَلَی الۡکُفَّارِ  رُحَمَآءُ  بَیۡنَہُمۡ  -- dan orang-orang besertanya sangat keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang  di antara mereka,  فَضۡلًا مِّنَ  اللّٰہِ  وَ رِضۡوَانًا    تَرٰىہُمۡ  رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ -- engkau melihat mereka rukuk serta sujud   mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, سِیۡمَاہُمۡ  فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ  مِّنۡ  اَثَرِ السُّجُوۡدِ  -- ciri-ciri pengenal mereka terdapat pada wajah mereka dari bekas-bekas sujud. ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ --  Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat,  وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ  اَخۡرَجَ  شَطۡـَٔہٗ  فَاٰزَرَہٗ  فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ َ --  dan perumpaman mereka dalam Injil adalah laksana tanaman yang mengeluarkan tunasnya, kemudian menjadi kuat, kemudian menjadi kokoh, dan berdiri mantap pada batangnya, یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ  لِیَغِیۡظَ بِہِمُ  الۡکُفَّار  --  menyenangkan penanam-penanamnya supaya Dia membangkitkan amarah orang-orang kafir dengan perantaraan itu.  وَعَدَ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً  وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمً -- Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar. (Al-Fath [48]:30).
   Inilah dua macam ciri khas penting bagi suatu bangsa  yang maju dan jaya yang berusaha meninggalkan jejak mereka di atas jalur peristiwa sejarah dunia. Di lain tempat dalam Al-Quran orang-orang Muslim sejati dan baik telah dilukiskan sebagai yang baik hati dan rendah hati terhadap orang-orang mukmin dan keras serta tegas terhadap orang-orang kafir (QS.5:55).

Keteguhan  Memegang Akidah dan Syariah  Tidak Identik Dengan Sikap Keras dan Kasar &  Makna Perumpamaan Dalam Taurat dan Injil

   Perlu diketahui bahwa makna keras/tegas dalam ayat:  وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ  عَلَی الۡکُفَّارِ   -- “dan orang-orang besertanya sangat keras terhadap orang-orang kafir” bukan berarti kejam dan bengis serta tidak-memiliki rasa kemanusiaan  terhadap orang-orang kafir, melainkan maknanya adalah  mereka  sangat teguh dalam hal akidah dan ajaran agamanya, sebab mereka adalah para pengikut hakiki  Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108) yang disebut “umat terbaik  bai kemanfaatan  seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
   Kata-kata: ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ  فِی التَّوۡرٰىۃِ  -- “Demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat,” dapat juga ditujukan kepada pelukisan yang diberikan oleh Bible, yakni:  Kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran, lalu datang hampir dari bukit Kades” (Terjemahan ini dikutip dari “Alkitab” dalam bahasa Indonesia, terbitan “Lembaga Alkitab Indonesia” tahun 1958). Dalam bahasa Inggrisnya berbunyi: “He shined forth from mount Paran and he came with ten thousands of saints,” yang artinya: “Ia nampak dengan gemerlapan cahayanya dari gunung Paran dan ia datang dengan sepuluh ribu orang kudus” (Deut. 33:2), Peny).
    Dan ungkapan: وَ مَثَلُہُمۡ  فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ    --  “Dan perumpamaan mereka dalam Injil adalah laksana tanaman“ dapat ditujukan kepada perumpamaan lain dalam Bible, yaitu: “Adalah  seorang penabur keluar hendak menabur benih; maka sedang ia menabur, ada separuh jatuh di tepi jalan, lalu datanglah burung-burung makan, sehinga habis benih itu. Ada separuh jatuh di tempat yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, maka dengan segera benih itu tumbuh, sebab tanahnya tidak dalam. Akan tetapi ketika matahari naik, layulah ia, dan sebab ia tiada berakar, keringlah ia. Ada juga separuh jatuh di tanah semak dari mana duri itu pun tumbuh serta membantutkan benih itu. Dan ada pula separuh jatuh di tanah yang baik, sehingga mengeluarkan buah, ada yang seratus, ada yang enam puluh, ada yang tiga puluh kali ganda banyaknya” (Matius 13:3-8).    
         Perumpamaan yang pertama  nampaknya  dikenakan kepada para sahabat Nabi Besar Muhammad saw.  dari golongan Muhajirin dan Anshar,  sedangkan perumpamaan yang kedua dikenakan kepada para pengikut rekan sejawat dan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  yaitu   Masih Mau’ud a.s. (QS.62:3-4) yang mendirikan sebuah jama’ah Muslim berawal dari suatu permulaan yang sangat kecil  dan tidak berarti -- bagaikan tunas pohon   --   telah ditakdirkan Allah Swt. berkembang menjadi suatu organisasi ruhani perkasa, dan berangsur-angsur tetapi tetap maju  menyampaikan tabligh Islam ke seluruh pelosok dunia, sehingga Islam akan mengungguli dan menang atas semua agama (QS.61:10), dan lawan-lawannya akan merasa heran dan iri hati terhadap kekuatan dan pamornya. 
Perumpamaan   dalam Injil  itu pun  sesuai dengan  perumpamaan yang dikemukakan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai tiga  jenis tanah  berkenaan dengan turunnya air hujan dalam surah   Al-A’rāf ayat 59,   bahwa tak ubahnya seperti hujan mendatangkan bermacam-ragam akibat atas berbagai lahan tanah menurut sifat dan kaifiatnya, demikian pula halnya wahyu Ilahi  memberi pengaruh kepada berbagai-bagai sifat manusia dalam bermacam-macam cara.  Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa ada 3 macam  keadaan tanah di permukaan bumi ini:
 (a)  Tanah bagus lagi datar yang jika disiram air hujan menyerap air hujan dan menumbuhkan  tumbuh-tumbuhan yang baik dan menghasilkan buah-buah dengan berlimpah-limpah;
 (b)  Tanah yang   karena letaknya yang rendah  dan berbatu-batu  hanya menampung air hujan tetapi tidak menyerapnya, dan karenanya tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, tetapi menyediakan air minum untuk manusia dan binatang;
  (c)  Tanah tinggi lagi  berbatu-batu yang tidak menghimpun air hujan, begitu pula tidak menyerapnya  dan sama sekali tidak ada gunanya untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan  atau pun sebagai penyimpan air hujan.
     Begitu pula halnya keadaan hati (jiwa)  manusia  dari segi keruhanian terdiri atas tiga macam:
 (1) Mereka yang bukan saja yang mendapat manfaat dari wahyu Ilahi untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sumber penyuluh  keruhanian bagi orang lain.     
 (2)  Mereka yang dirinya tidak mendapat faedah dari wahyu Ilahi namun menerimanya dan menyimpannya  supaya orang lain memperoleh manfaat.
 (3)  Mereka yang dirinya sendiri tidak memperoleh faedah dari wahyu Ilahi, begitu juga tidak menyimpannya untuk digunakan orang lain. Mereka itu laksana sebidang tanah yang tidak mengeluarkan hasil apa pun dan tidak  pula menghimpun air supaya manusia dan binatang dapat minum darinya.

Kisah Kelaparan Abu Hurairah r.a. dan Semangkuk Susu  & Kepekaan Bashirat serta Keagungan Akhlak  dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.

        Berkenaan dengan    kata sima        dalam ayat:    Orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah, mereka tidak mampu bergerak bebas di muka bumi“orang yang tidak berpengetahuan menganggap mereka itu kaya, karena  mereka menghindarkan diri dari meminta-minta.    Engkau dapat mengenali mereka dari wajahnya,  mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak  (Al-Baqarah [2]:274), dalam Shahih Bukhari  diceritakan tentang Abu Hurairah r.a. – salah seorang Ahlush- shufah yang tinggal di mesjid Nabawi  agar selalu dekat dengan  Nabi Besar Muhammad saw. guna memperoleh  pengetahuan agama sehingga sering mengalami kekurangan makanan   --  karena mengalami rasa lapar yang sangat lalu ia meminta dibacakan sebuah ayat Al-Quran dan pura-pura menanyakan maknanya kepada dua orang sahabat yang lewat, padahal maksud menanyakan  makna ayat tersebut agar diketahui   bahwa ia sedang kelaparan tetapi tidak berani  meminta secara langsung kepada  dua sahabat  tersebut.  Terjemahan hadits Shahih Bukhari tersebut selengkapnya sebagai berikut:
       “Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: “Demi Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, seringkali aku tidur di atas tanah dengan perut lapar dan aku ikatkan sebuah batu ke perutku untuk menahan lapar. Suatu hari aku duduk di jalan yang biasa dilalui merek (Rasulullah saw. dan para sahabatnya).
      Ketika Abu Bakar lewat aku memintanya membacakan untukku  sebuah ayat Al-Quran dan aku memintanya hanya dengan maksud barangkali ia dapat [memberikan sesuatu] untuk menghilangkan rasa laparku, tetapi ia lewat begitu saja. Kemudian Umar lewat di depanku dan aku memintanya membacakan untuku sebuah ayat dari kitab Allah hanya dengan maksud barangkali ia dapat [memberikan sesuatu  untuk] menghilangkan rasa laparku, tetapi ia lewat begitu saja.
       Akhirnya Abu Qasim (Rasulullah saw.) lewat dan ia tersenyum ketika melihatku karena ia tahu maksudku hanya dengan melihat wajahku. Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Abu Hirr!” aku menjawab: “Labbaik ya Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda kepadaku, “Ikuti aku”. Nabi Muhammad saw. pergi dan aku berjalan di belakangnya, mengikutinya.
       Kemudian Rasulullah saw.  masuk ke dalam rumahnya dan aku minta izin masuk ke rumahnya dan diizinkan. Rasulullah saw.  melihat semangkuk  susu dan berakata”Dari mana ini?” Mereka (istri beliau saw.) berkata, “Itu hadiah dari si fulan untuk engau.” Rasulullah saw.  bersabda, “Wahai Abu Hirr, aku menjawab, “Labbaik ya Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Panggillah orang-orang shuffah.”
      Orang-orang shuffah adalah tamu-tamu Islam yang tidak memiliki keluarga, uang atau seseorang yang dapat mereka mintai pertolongan dan setiap kali ada sedekah diberikan kepada Rasulullah saw. beliau saw. akan memberikannya kepada mereka sedangkan beliau saw.  sendiri sama sekali tidak  menyentuhnya. Dan setiap kali hadiah apa pun yang diberikan kepada Rasulullah saw., beliau saw. akan memberikannya sebagian untuk mereka dan sebagian untuk diri beliau saw..
      Perintah Rasulullah saw. itu membuatku kecewa dan aku berkata kepada diriku sendiri, “Bagaimana mungkin susu semangkuk cukup untuk orang-orang shuffah?” Menurutku susu itu hanya cukup untuk diriku sendiri. Rasulullah saw. menyuruhku memberikan susu itu kepada mereka. Aku akan takjub seandainya masih ada sisa untukku. Tetapi bagaimana pun aku harus taat kepada perintah Allah dan rasul-Nya, maka aku pergi menemui orang-orang shuffah itu dan memanggil mereka.
      Mereka pun berdatangan dan meminta izin masuk ke dalam rumah. Rasulullah saw. memberi mereka izin. Mereka duduk di dalam rumah itu. Rasulullah saw. bersabda, “Hai Abu Hirr.” Aku menjawab, “Labbaik ya Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Bawalah susu ini dan berikan kepada mereka.” Maka aku membawa semangkuk susu itu kepada mereka satu persatu dan setiap mereka mengembalikannya kepadaku setelah memninumnya mangkuk suus itu tetap penuh.
       Setelah mereka semua selesai minum dari mangkuk suus itu aku memberikannya kepada Rasulullah saw. yang memegang mangkuk itu sambil tersenyum jenaka dan berkata kepadaku, “Wahai Abu Hirr!” Aku menjawab, “Labbaik yang Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Masuk cukup untuk engkau dan aku” aku berkata, “Engkau berkata benar ya Rasulullah!”
      Rasulullah saw. bersabda, “Duduklah dan minumlah.” Aku duduk dan meminumnya.  Rasulullah saw. berkali-kali  menyruhku untuk meminumnya lagi hingga aku berkata, “Tidak, demi Dzat Yang mengutus engkau sebagai pembawa kebenaran, perutku sudah sangat kenyang.”
Rasulullah saw. bersabda, “berikan kepadaku.” Ketika kuberikan mangkuk itu kepadanya  Rasulullah saw. memuji dan menyebut nama Allah serta memnimum sisa susu itu.” (Shahih Bukhari).
       Jadi betapa sangat pekanya indera-indera ruhani Nabi Bear Muhammad saw. berkenaan berbagai hal yang untuk mengetahui dan mengatasinya diperlukan kemampuan ruhani (bashirah) seperti itu.

 (Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,   12 Desember  2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar