Selasa, 27 Desember 2016

Berbagai "Kekecewaan" Nabi Musa a.s. -- "Burung" Nabi Ibrahim a.s. yang Pertama -- Oleh "Sikap Pengecut" dan "Tidak Bersyukur" Bani Israil Merupakan Peringatan Bagi Umat Islam



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  88

BERBAGAI KEKECEWAAN NABI MUSA A.S. – “BURUNG” NABI IBRAHIM A.S. YANG PERTAMA -- OLEH  SIKAP PENGECUT DAN  TIDAK BERSYUKUR BANI ISRAIL MERUPAKAN PERINGATAN BAGI UMAT ISLAM 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 87  dibahas  topik Nubuatan  dan Peringatan Dalam Kisah “Empat Burung” Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اَرِنِیۡ  کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ  قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara Engkau menghidupkan yang mati?” قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ  --  Dia berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?” قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ  --  Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.” قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا --  Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka ke-pada engkau, kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada engkauوَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ --  dan Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:261).

Takwil  “Empat  Burung” Nabi Ibrahim a.s.

     Dengan demikian jelaslah bahwa makna perintah Allah Swt.  فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ  kepada Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat:  قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا --  Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ  kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada engkau”,  makna kalimat  فَصُرۡہُنَّ   bukan “lalu potong-potonglah” melainkan “condongkanlah  mereka kepada engkau” atau “lekatkanlah hati  mereka kepada engkau.”
      Sebab, seandainya benar  tujuan ayat tersebut  adalah semata-mata untuk membuktikan bahwa Allah Swt. berkuasa menghidupkan kembali apa pun yang  secara jasmani yang telah mati, maka  dengan  mengemukakan contoh empat ekor  burung sangat tidak tepat,  karena akan   lebih spektakuler jika contoh  yang dikemukakan Allah Swt. yang diperintahkan dipotong-potong itu adalah  empat orang manusia lalu dihidupkan lagi.
       Namun terlepas dari adanya perbedaan penafsiran  mengenai ayat tersebut, pada hakikatnya peristiwa yang dikemukakan dalam ayat itu suatu kasyaf (penglihatan ruhani) yang dialami Nabi Ibrahim a.s. mengenai “burung” tersebut yang juga dikemukakan dalam Bible  dengan versi cerita yang   berbeda  tetapi maknanya  sama yaitu berupa nubuatan mengenai keturunan Nabi Ibrahim a.s. (Kejadian 15:7-21).
     Dengan  mengambil “empat ekor burung”  maknanya atau takwilnya   adalah  bahwa keturunan Nabi Ibrahim a.s.  akan  mengalami empat kali   peritiwa kebangkitan dan kejatuhan, yakni peristiwa itu akan dialami  dua kali  oleh  kaum Bani Israil, yakni melalui pengutusan Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan peristiwa tersebut akan terulang lagi dua kali di kalangan kaum Bani Isma’il  (QS.62:3-4) yakni melalui Nabi Besar Muhammad Saw. dan Al-Masih Akhir Zaman (Masih Mau’ud a.s.)  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58).

Allah Swt. menjadikan Orang-orang Kafir yang Memiliki Kekuatan Tempur yang Hebat Sebagai Sarana Hukuman Bagi Orang-orang Beriman yang Durhaka

        Kenyataan sejarah membuktikan bahwa kekuatan kaum Yahudi (Bani Israil) yang adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s.  melalui Nabi Ishaq a.s. setelah mengalami masa kejayaan lalu  mengalami masa kehancuran  dua kali: pertama kali oleh Nebukadnezar dan kemudian oleh Titus (Encyclopaedia  Britannica pada Jews; QS.17:5-8.), sebagai akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79),  dan tiap-tiap kali Allah Swt.  membangkitkan kembali sesudah keruntuhan mereka;  dan kebangkitan kedua kalinya terlaksana oleh Konstantin, Maharaja Roma, yang kemudian memeluk agama Kristen, walau pun sudah tidak lagi merupakan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:117-119).
    Demikian pula kekuatan Islam, mula-mula dengan hebat digoncang ketika Baghdad – pusat pemerintahan Islam  Bani Abbas   -- jatuh saat menghadapi pasukan-pasukan Mongol dan Tartar pimpinan Hulaku Khan  -- yang dijadikan sarana hukuman Allah Swt. terhadap mereka --  tetapi  segera dapat pulih kembali sesudah pukulan yang meremukkan itu.   Para pemenang Islam tersebut berubah menjadi golongan yang kalah dan cucu Hulaku Khan, perebut Bagdad, masuk Islam.
     Keruntuhan kedua  umat Islam datang kemudian  ketika – seiring dengan bangkitkan bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang disebut Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:96-101; Wahyu 20:7-10)  -- kemunduran umum dan menyeluruh dialami oleh kaum Muslimin dalam bidang ruhani dan bidang politik sebagaimana dinubuatkan dalam  QS.32:6, dan kebangkitan Islam yang kedua sedang dilaksanakan oleh  Masih Mau’ud a.s.  (QS.62:3-4; QS.61:10).
     Dalam ayat-ayat yang lalu dijelaskan bahwa  menurut hukum Ilahi, Allah Swt. memberikan hidup baru kepada bangsa-bangsa yang layak menerimanya sesudah mereka  secara  ruhani mengalami kematian,  dan ihwal Bani Israil disebut sebagai contoh  (QS.2:260).  Kemudian dinyatakan dalam QS.2:261 bahwa keturunan Ibrahim a.s akan bangkit empat kali  -- yang diisyaratlan dengan “4 ekor burung”  dan salah satu takwil  “burung”  adalah “keturunan”  -- yakni Bani Israil dan Bani Isma’il masing-masing akan bangkit dua kali, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,  dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.     Kemudian Kami mengembali-kan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok ka-mu lebih besar   dari sebelumnya.  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا  --   Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri. فَ  Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu   dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka meng-hancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai    (Bani Israil [17]:5-8).
    
Serbuan Dahsyat Raja Nebukadnezar   Sebagai Hukuman Pertama Allah Swt. Kepada Bani Israil

Dua kali kedurhakaan yang dilakukan Bani Israil yang tersebut dalam kitab Musa a.s. (Ulangan 28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam QS.17 ayat 5-8.  Orang-orang kafir di kalangan Bani Israil    yang tidak beriman  kepada kedatangan “dua burung” Nabi Ibrahim a.s.  – yakni Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  --  telah dua kali dikutuk  yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan Isa Ibnu Maryam  a.s.  (QS.5:79), dan sebagai akibatnya Bani Israil telah dihukum Allah Swt. dua kali.  Azab Ilahi yang pertama menimpa Bani Israil sesudah mereka melakukan kedurhakaan kepada Nabi Daud a.s,  dan Nabi Sulaiman a.s., sedangkan azab Ilahi kedua terjadi  akibat kedurhakaan Bani Israil (orang-orang Yahudi) berupa upaya pembunuhan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  melalui penyaliban (QS.4:156-159) sebagaimana dinubuatkan pula oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Matius 23:37-39 & 24:1-22), firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah  dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas.  Azab itu karena mereka tidak pernah saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan. (Al-Māidah [5]:79).
     Mungkin timbul pertanyaan: Kalau Nabi  Musa a.s. merupakan “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang pertama dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. merupakan “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang kedua, mengapa yang mengutuk Bani Israil sehingga mereka mendapat hukuman  Allah Swt.  yang pertama tersebut bukan Nabi Musa a.s. melainkan Nabi Daud a.s.?
      Jawabannya  adalah:  Walau pun benar bahwa Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun as.  – baik selama Bani Israil masih berada di Mesir mau pun setelah berhasil keluar dari Mesir – kedua rasul Allah tersebut senantiasa mengalami berbagai kedurhakaan serta fitnah dari Bani Israil, tetapi  Nabi Musa a.s. tetap bersabar  menghadapi berbagai bentuk  kelakuan Bani Israil yang sangat tidak tahu bersyukur  dan selalu menyakiti hati tersebut, dan mustahil beliau akan mengutuk Bani Israil.
        Mengingat Allah Swt. akan membangkitkan “nabi yang seperti Musa” di kalangan Bani Isma’il – yakni Nabi Besar Muhammad saw. (Ulangan 18:15-19; QS.46:11; QS.73:16)  di kalangan Bani Isma’il --  maka Allah Swt. telah memperingatkan Bani Isma’il, khususnya umat Islam,   agar mereka  tidak meniru kelakuan buruk Bani Israil tersebut  terhadap   Nabi Besar Muhammad saw. yang akan dibangkitkan di kalangan mereka sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang ketiga (QS.2:261),  firman-Nya:
وَ اِذۡ  قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ لِمَ تُؤۡذُوۡنَنِیۡ  وَ قَدۡ تَّعۡلَمُوۡنَ  اَنِّیۡ  رَسُوۡلُ اللّٰہِ  اِلَیۡکُمۡ ؕ فَلَمَّا  زَاغُوۡۤا اَزَاغَ  اللّٰہُ قُلُوۡبَہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku,  padahal kamu sungguh mengetahui bahwa aku Rasul Allah yang diutus kepada kamu?” فَلَمَّا  زَاغُوۡۤا اَزَاغَ  اللّٰہُ قُلُوۡبَہُمۡ  --  Maka tatkala mereka me-nyimpang dari jalan benar Allah pun menyimpangkan hati mereka, وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ  -- dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (Ash-Shaf [61]:5).

Berbagai Fitnah Terhadap Nabi Musa a.s.

    Mungkin tidak ada nabi Allah yang begitu banyak menderita kepedihan hati karena perbuatan para pengikutnya selain Nabi Musa a.s, yakni  Bani Israil, Mereka  telah menyaksikan Fir’aun dan lasykarnya  tenggelam di hadapan mata kepala mereka sendiri, namun demikian baru saja mereka melintasi lautan mereka telah mencoba lagi kembali kepada kemusyrikan, dan karena mereka melihat suatu kaum penyembah berhala, mereka meminta kepada Nabi Musa a.s. membuatkan bagi mereka berhala semacam itu juga (QS.7:139).
    Bahkan ketika Bani Israil ditinggalkan oleh Nabi Musa a.s. selama 40 hari untuk berkhalwat di gunung Thur,    mereka mengikuti   perbuatan Samiri  yang membuat  patung anak sapi  dan menyembahnya,  sekali pun Nabi Harun a.s. telah berusaha keras  melarang  mereka melakukan kemusyrikan  tersebut (QS.7:143-152; QS.20:84-99)
  Demikian pula  ketika Bani Israil diajak Nabi Musa a.s. untuk bersama-sama bergerak memasuki Kanaan – negeri yang telah dijanjikan Allah akan diberikan kepada mereka—tetapi mereka  sambil mencemoohkan dan dengan bersitebal-kulit-muka mereka mengatakan kepada Nabi Musa a.s. agar beliau  pergi bersama Tuhan beliau yang amat dipercayai beliau, sedangkan mereka tidak mau bergerak barang satu tapak pun dari tempat mereka bermukim (QS.5:21-27).
  Jadi  Nabi Musa a.s.  – dalam usaha beliau memanggil Bani Israil  kembali dari kemusyrikan beliau berkali-kali dihina dan dikecewakan oleh kaum yang justru telah diselamatkan beliau dari penindasan perbudakan  para Fir’aun  di Mesir    sejak  wafatnya Nabi Yusuf a.s.     sekitar  4 abad  (Kejadian 15:12-21), tetapi Bani Israil   malahan mengumpat dan memfitnah  Nabi Musa a.s..
    Namun demikian Nabi Musa a.s. tidak pernah mengutuk Bani Israil  melainkan Allah Swt. Sendiri yang kemudian menangguhkan pewarisan Kanaan  -- “negeri  yang dijanjikan” – kepada Bani Israil selama 40 tahun sampai munculnya generasi baru  yang memiliki semangat baru akibat gemblengan kehidupan yang keras di padang pasir serta  akibat pengaruh hukum Taurat yang lebih menekankan kepada hukum pembalasan  dalam rangka membangkitkan kembali jiwa ksatria Bani Israil yang telah hancur akibat penindasan dinasti  Fir’aun selama 400 tahun di Mesir  (Matius 5:38QS.5:46).   
      Jadi, atas dasar kenyataan ketidak-bersyukuran Bani Israil tersebut Allah Swt. telah memperingatkan umat Islam di kalangan  Bani Isma’il  -- yang merupakan  “saudara” Bani Israil   (Ulangan 18:18-19)   -- agar tidak melakukan  perbuatan buruk yang sama  terhadap  Nabi Besar Muhammad saw.  yang dibangkitkan di kalangan mereka sebagai penggenapan nubuatan kedatangan “misal  Nabi Musa a.s.” atau “nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:15-19; QS.46:11; QS.73:15), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اٰذَوۡا مُوۡسٰی فَبَرَّاَہُ  اللّٰہُ مِمَّا قَالُوۡا ؕ وَ کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ  وَجِیۡہًا  ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman, لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اٰذَوۡا مُوۡسٰی فَبَرَّاَہُ  اللّٰہُ مِمَّا قَالُوۡا --  janganlah kamu seperti  orang-orang yang telah menyusahkan Musa, tetapi Allah membersihkannya dari apa yang mereka katakan.  وَ کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ  وَجِیۡہًا  --   Dan ia di sisi Allah adalah orang yang terhormat. (Al-Ahzāb [33]:70).
       Arti  kata  ādzahu sehubungan ayat  لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اٰذَوۡا مُوۡسٰ  --   berarti, ia melakukan atau mengatakan apa yang tidak disenanginya atau yang dibencinya, mengganggu atau menjengkelkan atau melukai perasaan dia.   Nabi Musa a.s.  telah dijadikan sasaran fitnahan-fitnahan berat dari para pemuka  Bani Israil,  antara lain:
      (1) Qarun (Qorah) menghasut seorang perempuan mengada-adakan tuduhan terhadap Nabi Musa a.s.  bahwa beliau pernah mengadakan hubungan gelap dengan dirinya.
       (2) Karena timbul iri hati melihat semakin meningkatnya pengaruh Nabi Harun a.s. di tengah kaum beliau, Nabi Musa a.s. difitnah berusaha membunuh Nabi Harun a.s.  
       (3) Nabi Musa a.s, difitnah  mengidap penyakit lepra dan rajasinga atau syphilis, karena Nabi Musa a.s. tidak mau mandi bersama-sama seperti mereka (4) Samiri menuduh beliau berbuat syirik. (5) Adik perempuan beliau sendiri melemparkan tuduhan palsu terhadap beliau (Bilangan 12:1).

Jasa Besar Thalut (Gideon) dan Nabi Daud a.s.   Membangun Kerajaan Bani Israil  

       Kembali kepada  alasan mengapa bukan Nabi Musa a.s. melainkan Nabi Daud a.s. yang justru telah mengutuk Bani Israil akibat kedurhakaan yang senantiasa mereka lakukan sejak  zaman Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.. Dari Bible bahwa sesudah wafatnya Nabi Musa a.s.,   Bani Israil   setelah mendapat pimpinan Thalut (Gideon) telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat, dan Bani Israil mencapai masa puncak kejayaannya di masa pemerintahan  Nabi Daud a.s.  meletakkan dasar suatu kerajaan kuat  -- yang dalam Al-Quran digambarkan secara kiasan beliau telah membunuh Jalut (QS.2:247-253),    yang setelah beliau wafat  pun  terutama di masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s.  --  untuk beberapa waktu   kejayaan dan kemuliaan kerajaan Bani Israil terus berlanjut.
       Firman Allah Swt. berikut ini mengisyaratkan kepada  proses  terwujudnya kerajaan Bani Israil  secara bertahap  yang dimulai pada zaman Thalut (Gideon) hingga zaman Nabi Daud a.s., berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ  اِلَی الۡمَلَاِ مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ۘ اِذۡ  قَالُوۡا لِنَبِیٍّ لَّہُمُ ابۡعَثۡ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ  اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا ؕ قَالُوۡا وَ مَا لَنَاۤ  اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا ؕ فَلَمَّا کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌۢ  بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak  melihat mengenai para pemuka Bani Israil sesudah Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka: “Angkatlah bagi kami seorang raja, supaya kami dapat berperang di jalan Allah.” Ia (nabi) berkata: ”Mungkin saja kamu tidak akan berperang jika berperang itu diwajibkan atas kamu?” Mereka berkata: “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah padahal sungguh  kami telah diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?” Tetapi tatkala berperang ditetapkan atas merekamereka berpaling  kecuali sedikit  dari mereka, dan Allah Maha Mengetahui orang-orang  yang zalim. (Al-Baqarah [2]:247).
       Peristiwa  yang dikemukakan ayat ini  menunjukkan kemajuan dalam keadaan kaum Bani Israil   dibandingkan dengan keadaan  mereka pada zaman Nabi Musa a.s.   setelah mereka   keluar dari Mesir. Dalam  QS.5:21-27  Allah Swt. dalam Al-Quran menuturkan bahwa ketika Nabi Musa a.s. memerintahkan Bani Israil  untuk memasuki Kanaan – “negeri yang dijanjikan” – guna memerangi musuh mereka di jalan Allah,    mereka menjawab dengan penuh kepengecutan:  “Pergilah engkau bersama Tuhan engkau, kemudian berperanglah kalian berdua; sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini!”, firman-Nya:
قَالُوۡا یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ  نَّدۡخُلَہَاۤ  اَبَدًا مَّا دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ  اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾
Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, kemudian beperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini.” (QS.5:25).

Pelajaran Dari “Sikap Pengecut” Bani Israil

       Sebaliknya, dalam QS.2:247  sebelumnya sebagai jawaban atas  “sindirannabi mereka disebutkan mereka  telah berkata: “Mengapakah kami tidak akan berperang di jalan Allah jika kami telah diusir dari rumah-rumah kami dan dipisahkan dari anak-anak kami?” Tetapi  perbaikan sikap itu hanya di mulut saja dan tidak dalam kenyataan, sebab ketika saat pertempuran yang sebenarnya tiba, banyak dari antara mereka bimbang dan menolak untuk bertempur. Dengan demikian, peristiwa itu merupakan peringatan keras kepada kaum Muslimin untuk waspada agar jangan menempuh sikap Bani Israil yang serupa itu.
       Akibat dari jawaban pengecut  para pemuka Bani Israil terhadap ajakan Nabi Musa a.s. tersebut Allah Swt.  menangguhkan  pewarisan “negeri yang dijanjikan” (Kanaan)    kepada Bani Israil  selama 40 tahun (QS.5:27),   menunggu munculnya generasi penerus    yang  berjiwa ksatria  akibat gemblengan kehidupan keras di padang pasir dan akibat pengaruh   hukum Taurat yang lebih menekankan hukum pembalasan.
         Namun dalam masa penangguhkan selama 40 tahun tersebut Nabi Musa a.s. dan Nabi  Harun a.s.    wafat.  Dengan demikian Nabi Musa a.s. sebagai  “burung” Nabi Ibrahim a.s.  yang pertama tersebut tidak menikmati pewarisan “negeri yang dijanjikan” (Kanaan) kepada Bani Israil akibat kepengecutan mereka.  Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ  اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا  اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ  اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan nabi mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut  menjadi raja bagi kamu.” Mereka berkata:  “Bagaimana ia bisa memiliki  kedaulatan atas kami, padahal kami lebih berhak memiliki kedaulatan  daripadanya, karena ia tidak pernah diberi harta yang berlimpah-ruah?” Ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya sebagai raja atas kamu dan melebihkannya dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.” Dan  Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:248).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,   18 Desember  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar