Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 88
BERBAGAI KEKECEWAAN NABI MUSA A.S. – “BURUNG”
NABI IBRAHIM A.S. YANG PERTAMA -- OLEH SIKAP PENGECUT
DAN TIDAK
BERSYUKUR BANI ISRAIL MERUPAKAN PERINGATAN BAGI UMAT ISLAM
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 87 dibahas topik Nubuatan
dan Peringatan Dalam Kisah “Empat Burung” Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
وَ
اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ
اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ
لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً
مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ
مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara
Engkau menghidupkan yang mati?” قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ -- Dia
berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?”
قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ
-- Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.” قَالَ
فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ
اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ
سَعۡیًا -- Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka ke-pada engkau, kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau, وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ -- dan Ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa,
Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah
[2]:261).
Takwil “Empat Burung” Nabi Ibrahim a.s.
Dengan demikian jelaslah bahwa makna perintah Allah Swt. فَصُرۡہُنَّ
اِلَیۡکَ kepada Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat: قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً
مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ
جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا -- Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung فَصُرۡہُنَّ
اِلَیۡکَ kemudian
letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau”, makna kalimat فَصُرۡہُنَّ bukan “lalu potong-potonglah” melainkan “condongkanlah mereka kepada engkau” atau “lekatkanlah hati mereka kepada engkau.”
Sebab, seandainya benar tujuan
ayat tersebut adalah semata-mata untuk membuktikan bahwa Allah Swt.
berkuasa menghidupkan kembali apa pun yang
secara jasmani yang telah mati, maka dengan
mengemukakan contoh empat ekor burung
sangat tidak tepat, karena akan
lebih spektakuler jika
contoh yang dikemukakan Allah Swt. yang
diperintahkan dipotong-potong itu
adalah empat orang manusia lalu dihidupkan
lagi.
Namun terlepas dari adanya perbedaan penafsiran mengenai ayat
tersebut, pada hakikatnya peristiwa
yang dikemukakan dalam ayat itu suatu kasyaf
(penglihatan ruhani) yang dialami Nabi Ibrahim a.s. mengenai “burung” tersebut yang juga dikemukakan
dalam Bible dengan versi cerita yang berbeda
tetapi maknanya sama yaitu berupa nubuatan mengenai keturunan
Nabi Ibrahim a.s. (Kejadian 15:7-21).
Dengan mengambil “empat
ekor burung” maknanya atau takwilnya adalah bahwa keturunan
Nabi Ibrahim a.s. akan mengalami empat
kali peritiwa kebangkitan
dan kejatuhan, yakni peristiwa itu akan dialami dua kali oleh kaum Bani
Israil, yakni melalui pengutusan Nabi
Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s., dan peristiwa tersebut akan terulang lagi dua kali di kalangan kaum Bani
Isma’il (QS.62:3-4) yakni melalui Nabi Besar Muhammad Saw. dan Al-Masih Akhir Zaman (Masih Mau’ud
a.s.) atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58).
Allah Swt. menjadikan Orang-orang
Kafir yang Memiliki Kekuatan Tempur
yang Hebat Sebagai Sarana Hukuman Bagi Orang-orang Beriman yang Durhaka
Kenyataan sejarah membuktikan bahwa kekuatan kaum Yahudi (Bani Israil) yang adalah keturunan Nabi Ibrahim a.s. melalui Nabi
Ishaq a.s. setelah mengalami masa kejayaan
lalu mengalami masa kehancuran dua kali:
pertama kali oleh Nebukadnezar dan
kemudian oleh Titus (Encyclopaedia Britannica pada Jews; QS.17:5-8.), sebagai akibat kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79), dan
tiap-tiap kali Allah Swt. membangkitkan kembali sesudah keruntuhan mereka; dan kebangkitan
kedua kalinya terlaksana oleh Konstantin,
Maharaja Roma, yang kemudian memeluk agama
Kristen, walau pun sudah tidak lagi merupakan ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:117-119).
Demikian pula kekuatan Islam, mula-mula dengan hebat digoncang ketika Baghdad – pusat pemerintahan Islam Bani Abbas -- jatuh saat menghadapi pasukan-pasukan Mongol dan Tartar pimpinan Hulaku Khan -- yang
dijadikan sarana hukuman Allah Swt. terhadap mereka -- tetapi
segera dapat pulih kembali
sesudah pukulan yang meremukkan itu. Para pemenang Islam tersebut berubah menjadi golongan yang kalah dan cucu Hulaku Khan, perebut Bagdad, masuk Islam.
Keruntuhan kedua umat Islam datang kemudian ketika – seiring dengan bangkitkan bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang
disebut Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:96-101; Wahyu
20:7-10) -- kemunduran umum dan menyeluruh
dialami oleh kaum Muslimin dalam bidang ruhani dan bidang politik sebagaimana dinubuatkan
dalam QS.32:6, dan kebangkitan Islam yang kedua
sedang dilaksanakan oleh Masih Mau’ud a.s. (QS.62:3-4; QS.61:10).
Dalam
ayat-ayat yang lalu dijelaskan bahwa menurut hukum
Ilahi, Allah Swt. memberikan hidup
baru kepada bangsa-bangsa yang
layak menerimanya sesudah mereka secara ruhani mengalami kematian, dan ihwal Bani Israil disebut sebagai contoh (QS.2:260). Kemudian dinyatakan dalam QS.2:261 bahwa keturunan Ibrahim a.s . akan
bangkit empat kali -- yang diisyaratlan dengan “4 ekor burung” dan salah satu takwil “burung” adalah “keturunan” -- yakni Bani
Israil dan Bani Isma’il masing-masing
akan bangkit dua kali, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا
لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ
نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا
مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya kamu
akan menyombongkan diri dengan kesombongan
yang sangat besar.” Apabila datang
saat sempurnanya janji yang
pertama dari kedua janji itu, Kami
membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan
tempur yang dahsyat, dan mereka
menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan
itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami
mengembali-kan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan anak-anak, dan Kami
menjadikan kelompok ka-mu lebih besar dari
sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan bagi diri kamu
sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu
untuk dirimu sendiri. فَ Lalu
bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami
membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu dan
supaya mereka memasuki masjid seperti
pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka
meng-hancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai (Bani Israil [17]:5-8).
Serbuan Dahsyat Raja Nebukadnezar Sebagai Hukuman Pertama Allah Swt. Kepada Bani Israil
Dua kali kedurhakaan yang dilakukan Bani
Israil yang tersebut dalam kitab Musa a.s. (Ulangan 28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam QS.17
ayat 5-8. Orang-orang kafir di kalangan Bani Israil yang tidak beriman kepada kedatangan “dua burung” Nabi Ibrahim a.s.
– yakni Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- telah dua kali dikutuk yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79), dan sebagai akibatnya Bani Israil telah dihukum Allah Swt. dua kali. Azab
Ilahi yang pertama menimpa Bani
Israil sesudah mereka melakukan kedurhakaan
kepada Nabi Daud a.s, dan Nabi
Sulaiman a.s., sedangkan azab Ilahi
kedua terjadi akibat kedurhakaan Bani Israil (orang-orang
Yahudi) berupa upaya pembunuhan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban
(QS.4:156-159) sebagaimana dinubuatkan pula oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Matius
23:37-39 & 24:1-22), firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ
دَاوٗدَ وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ
ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا لَا
یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang
kafir dari kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu
karena mereka senantiasa durhaka dan
melampaui batas. Azab
itu karena mereka tidak pernah saling
mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat
buruk apa yang senantiasa mereka
kerjakan. (Al-Māidah [5]:79).
Mungkin timbul pertanyaan: Kalau Nabi Musa a.s. merupakan “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang pertama
dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
merupakan “burung” Nabi Ibrahim a.s.
yang kedua, mengapa yang mengutuk Bani Israil sehingga mereka
mendapat hukuman Allah Swt. yang pertama
tersebut bukan Nabi Musa a.s. melainkan
Nabi Daud a.s.?
Jawabannya adalah:
Walau pun benar bahwa Nabi Musa
a.s. dan Nabi Harun as. – baik selama Bani Israil masih berada di Mesir
mau pun setelah berhasil keluar dari Mesir – kedua rasul Allah tersebut senantiasa mengalami berbagai kedurhakaan serta fitnah dari Bani Israil,
tetapi Nabi Musa a.s. tetap bersabar
menghadapi berbagai bentuk
kelakuan Bani Israil yang sangat
tidak tahu bersyukur dan selalu menyakiti
hati tersebut, dan mustahil
beliau akan mengutuk Bani Israil.
Mengingat Allah Swt. akan membangkitkan “nabi yang seperti Musa” di kalangan Bani Isma’il – yakni Nabi Besar Muhammad saw. (Ulangan 18:15-19; QS.46:11; QS.73:16) di kalangan Bani Isma’il -- maka Allah
Swt. telah memperingatkan Bani Isma’il,
khususnya umat Islam, agar
mereka tidak meniru kelakuan buruk Bani Israil tersebut terhadap Nabi Besar Muhammad saw. yang akan dibangkitkan di kalangan mereka sebagai
“burung” Nabi Ibrahim a.s. yang ketiga (QS.2:261), firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ لِمَ
تُؤۡذُوۡنَنِیۡ وَ قَدۡ
تَّعۡلَمُوۡنَ اَنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ ؕ فَلَمَّا زَاغُوۡۤا اَزَاغَ اللّٰہُ قُلُوۡبَہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu
sungguh mengetahui bahwa aku Rasul
Allah yang diutus kepada kamu?” فَلَمَّا زَاغُوۡۤا
اَزَاغَ اللّٰہُ قُلُوۡبَہُمۡ -- Maka
tatkala mereka me-nyimpang dari
jalan benar Allah pun menyimpangkan
hati mereka, وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الۡفٰسِقِیۡنَ -- dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang fasik. (Ash-Shaf [61]:5).
Berbagai Fitnah
Terhadap Nabi Musa a.s.
Mungkin tidak ada nabi Allah yang begitu banyak menderita kepedihan hati karena perbuatan
para pengikutnya selain Nabi Musa
a.s, yakni Bani Israil, Mereka telah menyaksikan Fir’aun dan lasykarnya tenggelam di hadapan mata kepala mereka
sendiri, namun demikian baru saja mereka melintasi
lautan mereka telah mencoba lagi kembali kepada kemusyrikan, dan karena mereka melihat suatu kaum penyembah berhala, mereka meminta kepada Nabi Musa a.s. membuatkan
bagi mereka berhala semacam itu juga
(QS.7:139).
Bahkan ketika Bani Israil ditinggalkan oleh Nabi Musa a.s. selama 40 hari untuk berkhalwat di gunung Thur,
mereka mengikuti perbuatan
Samiri yang membuat patung
anak sapi dan menyembahnya, sekali pun Nabi Harun a.s. telah berusaha
keras melarang mereka melakukan kemusyrikan tersebut (QS.7:143-152; QS.20:84-99)
Demikian pula
ketika Bani Israil diajak Nabi
Musa a.s. untuk bersama-sama bergerak memasuki Kanaan – negeri yang telah dijanjikan
Allah akan diberikan kepada mereka—tetapi mereka sambil mencemoohkan
dan dengan bersitebal-kulit-muka
mereka mengatakan kepada Nabi Musa a.s. agar beliau pergi
bersama Tuhan beliau yang amat dipercayai beliau, sedangkan mereka tidak mau bergerak barang satu tapak pun dari
tempat mereka bermukim (QS.5:21-27).
Jadi
Nabi Musa a.s. – dalam
usaha beliau memanggil Bani Israil kembali dari kemusyrikan beliau berkali-kali dihina
dan dikecewakan oleh kaum yang justru telah diselamatkan beliau dari penindasan perbudakan para Fir’aun
di Mesir sejak
wafatnya Nabi Yusuf a.s. sekitar
4 abad (Kejadian 15:12-21),
tetapi Bani Israil malahan mengumpat
dan memfitnah Nabi Musa a.s..
Namun demikian Nabi Musa
a.s. tidak pernah mengutuk Bani Israil melainkan Allah
Swt. Sendiri yang kemudian menangguhkan
pewarisan Kanaan -- “negeri yang dijanjikan” – kepada Bani Israil selama 40 tahun sampai munculnya generasi
baru yang memiliki semangat baru akibat gemblengan kehidupan yang keras di padang pasir serta akibat pengaruh hukum Taurat yang lebih menekankan kepada hukum pembalasan dalam
rangka membangkitkan kembali jiwa ksatria Bani Israil yang telah hancur akibat penindasan dinasti Fir’aun selama 400 tahun di Mesir (Matius 5:38; QS.5:46).
Jadi, atas dasar kenyataan ketidak-bersyukuran Bani Israil tersebut
Allah Swt. telah memperingatkan umat Islam di kalangan Bani
Isma’il -- yang merupakan “saudara” Bani
Israil (Ulangan 18:18-19) -- agar tidak melakukan perbuatan
buruk yang sama terhadap Nabi
Besar Muhammad saw. yang
dibangkitkan di kalangan mereka sebagai penggenapan
nubuatan kedatangan “misal Nabi Musa a.s.” atau “nabi yang seperti
Musa” (Ulangan 18:15-19;
QS.46:11; QS.73:15), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اٰذَوۡا مُوۡسٰی
فَبَرَّاَہُ اللّٰہُ مِمَّا قَالُوۡا ؕ وَ
کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ وَجِیۡہًا ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman, لَا تَکُوۡنُوۡا
کَالَّذِیۡنَ اٰذَوۡا مُوۡسٰی فَبَرَّاَہُ
اللّٰہُ مِمَّا قَالُوۡا -- janganlah
kamu seperti orang-orang yang telah
menyusahkan Musa, tetapi Allah membersihkannya dari apa yang mereka katakan. وَ کَانَ عِنۡدَ اللّٰہِ وَجِیۡہًا -- Dan ia di sisi Allah adalah
orang yang terhormat. (Al-Ahzāb
[33]:70).
Arti kata ādzahu
sehubungan ayat لَا تَکُوۡنُوۡا
کَالَّذِیۡنَ اٰذَوۡا مُوۡسٰ -- berarti,
ia melakukan atau mengatakan apa yang tidak disenanginya atau yang dibencinya,
mengganggu atau menjengkelkan atau
melukai perasaan dia. Nabi Musa a.s. telah dijadikan sasaran fitnahan-fitnahan berat dari para
pemuka Bani Israil, antara lain:
(1) Qarun (Qorah) menghasut seorang perempuan
mengada-adakan tuduhan terhadap Nabi
Musa a.s. bahwa beliau pernah mengadakan
hubungan gelap dengan dirinya.
(2) Karena timbul iri hati melihat semakin meningkatnya
pengaruh Nabi Harun a.s. di tengah kaum beliau, Nabi Musa a.s. difitnah berusaha membunuh Nabi Harun a.s.
(3) Nabi Musa a.s, difitnah mengidap penyakit
lepra dan rajasinga atau syphilis, karena Nabi Musa a.s. tidak mau
mandi bersama-sama seperti mereka (4) Samiri menuduh beliau berbuat syirik. (5) Adik perempuan beliau
sendiri melemparkan tuduhan palsu
terhadap beliau (Bilangan 12:1).
Jasa Besar Thalut
(Gideon) dan Nabi Daud a.s. Membangun Kerajaan
Bani Israil
Kembali kepada alasan
mengapa bukan Nabi Musa a.s. melainkan Nabi
Daud a.s. yang justru telah mengutuk
Bani Israil akibat kedurhakaan yang senantiasa mereka
lakukan sejak zaman Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.. Dari Bible bahwa sesudah wafatnya Nabi Musa a.s., Bani
Israil setelah mendapat pimpinan Thalut (Gideon) telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat,
dan Bani Israil mencapai masa puncak kejayaannya di masa pemerintahan Nabi
Daud a.s. meletakkan dasar suatu kerajaan kuat -- yang dalam
Al-Quran digambarkan secara kiasan beliau telah membunuh Jalut (QS.2:247-253), yang
setelah beliau wafat pun terutama
di masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s. -- untuk
beberapa waktu kejayaan
dan kemuliaan kerajaan Bani Israil terus berlanjut.
Firman Allah Swt. berikut ini mengisyaratkan
kepada proses terwujudnya kerajaan Bani Israil secara bertahap yang dimulai pada zaman Thalut (Gideon) hingga zaman Nabi
Daud a.s., berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ تَرَ اِلَی الۡمَلَاِ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مُوۡسٰی ۘ
اِذۡ قَالُوۡا لِنَبِیٍّ لَّہُمُ ابۡعَثۡ لَنَا مَلِکًا نُّقَاتِلۡ فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ قَالَ ہَلۡ عَسَیۡتُمۡ
اِنۡ کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الۡقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوۡا ؕ قَالُوۡا وَ مَا
لَنَاۤ اَلَّا نُقَاتِلَ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ وَ قَدۡ اُخۡرِجۡنَا مِنۡ دِیَارِنَا وَ اَبۡنَآئِنَا ؕ فَلَمَّا کُتِبَ
عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ تَوَلَّوۡا اِلَّا قَلِیۡلًا مِّنۡہُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌۢ بِالظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat mengenai para pemuka Bani Israil sesudah Musa,
ketika mereka berkata kepada seorang
nabi mereka: “Angkatlah bagi kami
seorang raja, supaya kami dapat
berperang di jalan Allah.” Ia (nabi) berkata: ”Mungkin saja kamu tidak akan berperang jika berperang itu diwajibkan atas kamu?” Mereka berkata: “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan
Allah padahal sungguh kami telah diusir dari rumah-rumah kami
dan dipisahkan dari anak-anak
kami?” Tetapi tatkala berperang ditetapkan
atas mereka, mereka berpaling kecuali sedikit
dari mereka, dan Allah Maha
Mengetahui orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah [2]:247).
Peristiwa yang dikemukakan ayat ini menunjukkan kemajuan dalam keadaan
kaum Bani Israil dibandingkan dengan keadaan mereka pada zaman Nabi Musa
a.s. setelah mereka keluar dari Mesir. Dalam QS.5:21-27
Allah Swt. dalam Al-Quran menuturkan bahwa ketika Nabi Musa a.s. memerintahkan Bani Israil untuk memasuki Kanaan – “negeri yang dijanjikan” – guna
memerangi musuh mereka di jalan Allah, mereka menjawab dengan penuh kepengecutan: “Pergilah engkau bersama Tuhan engkau,
kemudian berperanglah kalian berdua; sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja
di sini!”, firman-Nya:
قَالُوۡا
یٰمُوۡسٰۤی اِنَّا لَنۡ
نَّدۡخُلَہَاۤ اَبَدًا مَّا
دَامُوۡا فِیۡہَا فَاذۡہَبۡ اَنۡتَ وَ رَبُّکَ فَقَاتِلَاۤ اِنَّا ہٰہُنَا قٰعِدُوۡنَ ﴿﴾
Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya kami tidak akan pernah memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah engkau bersama Rabb (Tuhan) engkau, kemudian beperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hendak duduk-duduk saja di sini.” (QS.5:25).
Pelajaran Dari “Sikap Pengecut”
Bani Israil
Sebaliknya, dalam QS.2:247
sebelumnya sebagai jawaban atas “sindiran” nabi mereka disebutkan mereka telah berkata: “Mengapakah kami tidak akan
berperang di jalan Allah jika kami telah diusir dari rumah-rumah kami dan
dipisahkan dari anak-anak kami?” Tetapi perbaikan
sikap itu hanya di mulut saja dan
tidak dalam kenyataan, sebab ketika
saat pertempuran yang sebenarnya
tiba, banyak dari antara mereka bimbang
dan menolak untuk bertempur. Dengan demikian, peristiwa
itu merupakan peringatan keras kepada
kaum Muslimin untuk waspada agar jangan menempuh sikap Bani Israil yang serupa
itu.
Akibat dari jawaban pengecut para pemuka Bani Israil terhadap ajakan
Nabi Musa a.s. tersebut Allah Swt.
menangguhkan pewarisan
“negeri yang dijanjikan” (Kanaan) kepada Bani
Israil selama 40 tahun
(QS.5:27), menunggu munculnya generasi
penerus yang berjiwa ksatria akibat gemblengan kehidupan keras di padang
pasir dan akibat pengaruh hukum
Taurat yang lebih menekankan hukum pembalasan.
Namun dalam masa penangguhkan selama 40
tahun tersebut Nabi Musa a.s. dan Nabi
Harun a.s. wafat. Dengan demikian Nabi Musa a.s. sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang pertama tersebut tidak menikmati
pewarisan “negeri yang dijanjikan” (Kanaan) kepada Bani Israil
akibat kepengecutan mereka. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ
مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ
الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً
مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ اِنَّ
اللّٰہَ اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ
بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
﴿﴾
Dan nabi mereka berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya Allah telah mengangkat
Thalut menjadi raja bagi kamu.” Mereka berkata:
“Bagaimana ia bisa memiliki kedaulatan atas kami, padahal kami lebih berhak memiliki kedaulatan daripadanya, karena ia tidak pernah diberi harta yang berlimpah-ruah?” Ia berkata:
“Sesungguhnya Allah telah memilihnya
sebagai raja atas kamu dan melebihkannya
dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.” Dan Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:248).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 18 Desember
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar