Selasa, 13 Desember 2016

Perumpamaan "Pengorbanan harta" yang Dikabulkan Allah Swt. & Perbaikan Akhlak dan Ruhani Adalah "Jihad di jalan Allah" yang Hakiki



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  81

PERUMPAMAAN “PENGORBANAN HARTA” YANG DIKABULKAN ALLAH SWT.  &  PERBAIKAN AKHLAK DAN RUHANI ADALAH  JIHAD DI JALAN ALLAH” YANG HAKIKI

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 80 dikemukakan    topik  Persamaan Keadaan Nafs  Al-Ammarah Dengan “Banjir Dahsyat” di Zaman Nabi Nuh a.s..        Sebelumnya telah dikemukakan bahwa Allah Swt. menyebut orang-orang bertakwa seperti itu sebagai orang-orang yang akan mendapat “minuman surgawi” yang campurannya “kafur” (Ad-Dahr/Al-Insan [76]:6-12), sebab mereka telah berhasil menekan serta mengendalikan keadaan nafs-Ammarahnya, sebagaimana  firman-Nya mengenai Nabi Yusuf a.s.:
وَ مَاۤ  اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ  النَّفۡسَ لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dikasihani oleh  Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya  Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Yusuf [12]:54).
       Anak kalimat  اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ  (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku) dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
      (a) Kecuali nafs (jiwa) yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, huruf  di sini menggantikan kata nafs.
      (b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang,  di sini berarti man (siapa).
        (c) Memang begitu, tetapi kasih-sayang Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
       Arti pertama menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28). Arti kedua dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya, kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya. Arti ketiga dikenakan kepada orang, ketika nafsu kebinatangannya bersimaharajalela dalam dirinya.      
          Tingkatan ini disebut nafs ammarah (jiwa yang cenderung kepada keburukan).
Ungkapan ayat   اِلَّا مَا رَحِمَ  رَبِّیۡ  (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku) yang dikemukakan Nabi Yusuf a.s. persis seperti ucapan Nabi Nuh a.s. ketika beliau mengajak  anaknya untuk naik ke dalam “Bahtera” (perahu) bersama beliau agar selamat dari “banjir dahsyat” yang sedang terjadi tetapi ia menolaknya, firman-Nya:
وَ ہِیَ تَجۡرِیۡ بِہِمۡ فِیۡ مَوۡجٍ کَالۡجِبَالِ ۟  وَ نَادٰی نُوۡحُۨ  ابۡنَہٗ وَ کَانَ فِیۡ  مَعۡزِلٍ یّٰـبُنَیَّ ارۡکَبۡ مَّعَنَا وَ لَا تَکُنۡ مَّعَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ سَاٰوِیۡۤ  اِلٰی جَبَلٍ یَّعۡصِمُنِیۡ  مِنَ الۡمَآءِ ؕ قَالَ لَا عَاصِمَ  الۡیَوۡمَ  مِنۡ  اَمۡرِ اللّٰہِ  اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ ۚ وَ حَالَ بَیۡنَہُمَا الۡمَوۡجُ  فَکَانَ  مِنَ  الۡمُغۡرَقِیۡنَ﴿﴾
Dan bahtera itu melaju dengan  membawa mereka di tengah ombak seperti gunung, dan Nuh berseru kepada anaknya  yang senantiasa berada di tempat terpisah:   -- “Hai anakku, naiklah beserta kami dan janganlah engkau termasuk orang-orang kafir.”  قَالَ سَاٰوِیۡۤ  اِلٰی جَبَلٍ یَّعۡصِمُنِیۡ  مِنَ الۡمَآءِ --  Ia menjawab: “Aku segera akan mencari sendiri perlindungan ke sebuah gunung yang akan menjaga-ku dari air itu.” قَالَ لَا عَاصِمَ  الۡیَوۡمَ  مِنۡ  اَمۡرِ اللّٰہِ    --  Ia, Nuh berkata: “Tidak ada tempat berlindung pada hari ini bagi seorang pun dari perintah Allah, اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ  -- kecuali bagi orang yang Dia kasihani.” وَ حَالَ بَیۡنَہُمَا الۡمَوۡجُ  فَکَانَ  مِنَ  الۡمُغۡرَقِیۡنَ  -- Lalu ombak menjadi peng-halang di antara keduanya  maka jadilah ia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hūd [11]:43-44).

Benarnya “Prediksi  Para Malaikat Mengenai Munculnya Pelaku “Kerusakan  dan Penumpah Darah di Muka Bumi 

       Jadi, walau pun  seseorang  memiliki wawasan  pengetahuan agama yang memadai, tetapi jika keadaan jiwanya masih dalam tingkatan nafs-al-Ammarah  maka pengetahuan agamanya tersebut tidak akan bermanfaat  --  baik bagi dirinya sendiri mau pun bagi  orang lain  -- sebab walau pun ia melakukan tindakan-tindakan  yang disebutnya sebagai “membuat perbaikan  atau melakukan “nahi wal-munkar  tetapi   Allah Swt. akan menyebutnya sebagai “pelaku kerusakan  di muka bumi”, sebab dalam kenyataannya  setiap pemikiran dan tindakannya senantiasa menimbulkan huru-hara dan kerusakan,  firman-Nya:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ لَا تُفۡسِدُوۡا فِی الۡاَرۡضِ ۙ  قَالُوۡۤا اِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾اَلَاۤ اِنَّہُمۡ ہُمُ الۡمُفۡسِدُوۡنَ وَ لٰکِنۡ لَّا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi” mereka berkata, “Kami hanyalah pencipta perdamaian”.  Ketahuilah! Sesungguhnya mereka itulah pembuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari.   (Al-Baqarah [2]:12-13).
       Dengan demikian membenarkan “prediksi” para malaikat  -- mengenai akan munculnya para pembuat kerusakan dan penumpah darah  --  ketika Allah Swt. berkehendak menjadikan seorang Khalifah Allah di bumi guna menata “ketertiban” yang hakiki di muka bumi,  firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada para  malaikat: اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً  --  “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang akhalifah di bumi”, قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ  --  mereka berkata: “Apakah Eng-kau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan mem-buat kerusakan  di dalamnya dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ  --   padahal kami senantiasa  bertasbih dengan pujian Engkau dan kami senantiasa mensucikan  Engkau?”  قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  (Al-Baqarah [2]:31).  
        Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya  ia me-ngirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan Allah dan pembaharu-pembaharu samawi.
        Para malaikat tidak mengemukakan keberatan (protes) terhadap rencana Ilahi atau    mengaku diri mereka lebih unggul daripada Adam a.s. karena mereka senantiasa bertasbih, bertahmid dan bertaqdis kepada Allah Swt..  Pertanyaan mereka didorong oleh     pengumuman Allah Swt.  mengenai rencana-Nya untuk mengangkat seorang Khalifah, sebab wujud khalifah  Allah (rasul Allah) diperlukan bila tertib harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan.
       Jadi, “keberatan semu” para malaikat menyiratkan bahwa  dengan adanya seorang Khalifah Allah (rasul Allah) maka akan ada orang-orang di bumi yang  -- karena merasa kepentingan duniawinya terusik  -- lalu mereka akan membuat kerusakan  dan menumpahkan darah melakukan penentangan terhadap “Khalifah Allah” tersebut.
       Karena manusia dianugerahi kekuatan-kekuatan besar untuk berbuat baik dan jahat, dalam ayat tersebut  para malaikat menyebut segi gelap tabiat manusia, tetapi Allah Swt.   mengetahui bahwa  -- sekali pun prediksi    para malaikat tersebut benar  --   dengan  adanya upaya-upaya penentang seperti itu  manusia dapat mencapai tingkat akhlak dan ruhani  yang sangat tinggi, sehingga ia dapat menjadi cermin (bayangan) sifat-sifat Ilahi.
        Itulah makna jawaban Allah Swt.:  اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  -- "Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"   yakni Allah Swt.  menyebutkan segi terang tabiat manusia.  Dengan demikian jelaslah bahwa pertanyaan para malaikat  tersebut bukan sebagai celaan terhadap perbuatan Allah Swt. akan menjadi  seorang Khalifah di muka bumi, melainkan sekedar mencari ilmu yang lebih tinggi mengenai sifat dan hikmah  penciptaan    khalifah Allah  tersebut. 

Akibat Baik Melakukan  Ibadah  dan Pengorbanan harta Karena Allah Swt

     Kembali kepada perbuatan baik (birr)  yang dikemukakan dalam  Ad-Dahr/Al-Insan [76]:6-12  yang   dilakukan orang-orang bertakwa  karena:  اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا  --   Sesungguhnya kami takut azab dari Rabb (Tuhan) kami pada suatu hari  muka menjadi masam dan penuh kesulitan.”  فَوَقٰہُمُ  اللّٰہُ  شَرَّ ذٰلِکَ  الۡیَوۡمِ وَ لَقّٰہُمۡ نَضۡرَۃً   وَّ  سُرُوۡرًا --   Maka Allah memelihara mereka dari keburukan hari itu, dan menganugerahkan kepada mereka kesenangan dan kebahagiaan. (Ad-Dahr/Al-Insan [76]:11-12).    
     Yaumun ‘abūsun artinya: hari penuh sengsara atau hari bencana, atau hari yang menyebabkan orang bersedih hati, dan yaumun qamtharīrun berarti hari yang penuh kesedihan atau hari bencana, atau hari yang menyebabkan orang mengerutkan kening atau mengernyitkan kulit di antara kedua belah matanya (Lexicon Lane).
Selanjutnya Allah Swt. mengemukakan perumpamaan orang-orang yang dalam melakukan pengorbanan hartanya di jalan Allah Swt. sesuai perintah Allah Swt.  – yakni mereka yang berhasil melepaskan diri dari cengkraman  gejolak keadaan nafs-al-Ammarah (QS.12:54)  yang bagaikan “banjir dahsyat” zaman Nabi Nuh a.s. (QS.11:43-44) --  firman-Nya:   
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَہُمُ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللّٰہِ وَ تَثۡبِیۡتًا مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ کَمَثَلِ جَنَّۃٍۭ بِرَبۡوَۃٍ اَصَابَہَا وَابِلٌ فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan perumpamaan  orang-orang yang membelanjakan harta mereka ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللّٰہِ وَ تَثۡبِیۡتًا مِّنۡ اَنۡفُسِہِم  -- demi mencari keridhaan Allah dan memperteguh  jiwa mereka کَمَثَلِ جَنَّۃٍۭ بِرَبۡوَۃٍ اَصَابَہَا وَابِلٌ فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ  -- adalah seperti perumpamaan  kebun yang terletak di tempat tinggi,  hujan lebat menimpanya lalu menghasilkan  buahnya dua kali lipat, فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ  -- tetapi  jika hujan lebat tidak pernah menimpanya  maka hujan gerimis pun memadai,  وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  بَصِیۡرٌ  -- dan Allah Maha Melihat apa pun yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah [2]:266).
       Menurut ayat-ayat tersebut bahwa pembelanjaan harta di jalan Allah memberi kekuatan kepada jiwa manusia, sebab dengan membelanjakan harta yang diperolehnya dengan susah payah, ia secara sukarela meletakkan beban atas diri sendiri dan menjadikannya lebih kuat serta lebih teguh dalam keimanan.
        Hati orang-orang beriman  yang membelanjakan harta dengan sukarela di jalan Allah adalah laksana sebidang tanah tinggi, hujan lebat yang kadang-kadang sangat berbahaya bagi tanah rendah tidak membahayakannya. Sebaliknya tanah itu akan mendapat faedah dari hujan, meskipun hujan itu besar atau kecil: اَصَابَہَا وَابِلٌ فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ  -- “hujan lebat menimpanya lalu menghasilkan  buahnya dua kali lipat, tetapi  jika hujan lebat tidak pernah menimpanya  maka hujan gerimis pun memadai. وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  بَصِیۡرٌ  -- “dan Allah Maha Melihat apa pun yang kamu kerjakan.

Peringatan Allah Swt. Bagi Para Pelaku Ibadah  Pamer

       Selanjutnya Allah Swt. memperingatkan  para pelaku ibadah mengenai  bahaya atau kerugian yang akan dialami jika ibadah dan pengorbanan harta tidak dilakukan semata-mata mencari keridhaan Allah Swt., firman-Nya:
اَیَوَدُّ اَحَدُکُمۡ اَنۡ تَکُوۡنَ لَہٗ جَنَّۃٌ مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ اَعۡنَابٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ لَہٗ فِیۡہَا مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ۙ وَ اَصَابَہُ الۡکِبَرُ وَ لَہٗ ذُرِّیَّۃٌ ضُعَفَآءُ ۪ۖ فَاَصَابَہَاۤ اِعۡصَارٌ فِیۡہِ نَارٌ فَاحۡتَرَقَتۡ ؕ  کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾٪
Adakah salah seorang di antara kamu yang ingin memiliki  kebun kurma dan anggur, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di dalam kebun itu ia memiliki segala macam buah-buahan, وَ اَصَابَہُ الۡکِبَرُ وَ لَہٗ ذُرِّیَّۃٌ ضُعَفَآءُ --  kemudian  masa tua menghampirinya sedangkan ia memiliki keturunan yang lemah, فَاَصَابَہَاۤ اِعۡصَارٌ فِیۡہِ نَارٌ فَاحۡتَرَقَتۡ   --  lalu kebun itu ditimpa angin puyuh yang mengandung api maka terbakarlah kebun itu?        کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَتَفَکَّرُوۡنَ  --  Demikianlah Allah menjelaskan Tanda-tanda-Nya bagimu supaya kamu berfikir. (Al-Baqarah [2]:267).
         Dengan perantaraan perumpamaan ini orang mukmin diperingatkan bahwa bila ia membelanjakan harta bendanya untuk pamer atau mengiringi sedekahnya dengan membangkit-bangkit jasa baik dan menyakiti perasaan orang yang disedekahinya, (QS.2:285) maka semua yang dibelanjakannya itu akan menjadi sia-sia belaka.
        Lebih lanjut Allah Swt. menjelaskan, bahwa   melakukan pengorbanan harta di jalan-Nya merupakan bagian dari pelaksanaan ibadah yang diajarkan syariat Islam (Al-Quran)  berupa  pelaksanaan huququl- ‘ibād (hablun- minan-nās), hal tersebut    bukan  memberi  makan dan rezeki  kepada Allah Swt. (QS.51:57-59)   -- sebab  yang sampai kepada Allah Swt. dalam  dalam melakukan pengorbanan harta  dan pengorbanan binatang kurban  adalah ketakwaan si pelakunya,  bukan “darah dan daging korbannya” (QS.22:38) --  karena itu harta yang dibelanjakan (dikorbankan) di jalan Allah Swt. pun harus harta yang halal   --   baik bendanya mau pun cara memperolehnya  --  firman-Nya: 
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِنۡ طَیِّبٰتِ مَا کَسَبۡتُمۡ وَ مِمَّاۤ اَخۡرَجۡنَا لَکُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ ۪ وَ لَا تَیَمَّمُوا الۡخَبِیۡثَ مِنۡہُ تُنۡفِقُوۡنَ وَ لَسۡتُمۡ بِاٰخِذِیۡہِ اِلَّاۤ اَنۡ تُغۡمِضُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ اعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ غَنِیٌّ حَمِیۡدٌ ﴿﴾ اَلشَّیۡطٰنُ یَعِدُکُمُ الۡفَقۡرَ وَ یَاۡمُرُکُمۡ بِالۡفَحۡشَآءِ ۚ وَ اللّٰہُ یَعِدُکُمۡ مَّغۡفِرَۃً مِّنۡہُ  وَ فَضۡلًا ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ۖۙ
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah barang-barang   baik yang kamu usahakan dan juga apa pun  yang Kami keluarkan dari bumi bagimu, وَ لَا تَیَمَّمُوا الۡخَبِیۡثَ مِنۡہُ تُنۡفِقُوۡنَ وَ لَسۡتُمۡ بِاٰخِذِیۡہِ اِلَّاۤ اَنۡ تُغۡمِضُوۡا فِیۡہِ  --  dan janganlah kamu memilih darinya yang buruk-buruk  lalu kamu membelanjakan di jalan Allah, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya kecuali sambil memicingkan mata terhadapnya.  وَ اعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ غَنِیٌّ حَمِیۡدٌ --   Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.   Syaitan menjanjikan yakni menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan,  dan menyuruh kamu berbuat kekejian, sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia dari-Nya. Dan Allah Maha Luas karu-nia-Nya, Maha Mengetahui  (Al-Baqarah [2]:268-269).

Pentingnya  Ketakwaan Dalam Ibadah dan Pengorbanan Harta di Jalan Allah  Swt. &  Memperagakan Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt.

       Ayat ini berarti bahwa orang-orang beriman hendaknya membelanjakan (mengorbankan) di jalan Allah apa-apa yang baik dan murni, sebab harta yang sekalipun dihasilkan secara sah, adakalanya meliputi barang-barang buruk juga. Barang-barang tua dan bekas dapat saja diberikan kepada orang miskin, tetapi barang-barang yang sudah rusak janganlah dipilih untuk maksud itu:  وَ لَا تَیَمَّمُوا الۡخَبِیۡثَ مِنۡہُ تُنۡفِقُوۡنَ وَ لَسۡتُمۡ بِاٰخِذِیۡہِ اِلَّاۤ اَنۡ تُغۡمِضُوۡا فِیۡہِ  --  dan janganlah kamu memilih darinya yang buruk-buruk  lalu kamu membelanjakan di jalan Allah, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya kecuali sambil memicingkan mata terhadapnya.“
Dari sekian banyak tujuan,    fungsi,   khasiat    hukum syariat ditetapkan-Nya  perintah  mengorbankan  rezeki dari Allah Swt. di jalan-Nya terhadap orang-orang yang berhak menerimanya    --  antara  lain  fakir-miskin    baik yang meminta mau pun yang tidak meminta  (Qs.2:273-275; QS.51:20; QS.70:25-26)  --  adalah  dalam rangka meniru dan  memperagakan  (mengamalkan) Sifat-sifat  Tasybihiyyah Allah Swt., bukan untuk kepentingan Allah Swt.,  firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾   مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak   menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku. مَاۤ  اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ  مِّنۡ  رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ  --   Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka  dan tidak pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku.  اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ  ذُو الۡقُوَّۃِ  الۡمَتِیۡنُ  -- Sesungguhnya  Allah Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki  Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt [51]:57-59).
   Arti yang utama untuk kata ‘ibadah  adalah  menundukkan diri sendiri kepada disiplin keruhanian yang ketat  -- berupa peraturan (hukum) syariat  --  lalu bekerja dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai  sepenuh jangkauannya, sepenuhnya serasi dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai pengesahan Allah Swt.  dan  mampu mencampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri Sifat-sifat Allah Swt. sebagaimana yang dicontohnya oleh para rasul Allah, terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.6:162-164; QS.33:22).

Makna “Jihad di jalan Allah” yang Hakiki

   Sebagaimana tersebut dalam ayat ini itulah maksud dan tujuan agung lagi mulia bagi penciptaan manusia dan memang itulah makna ibadah kepada Allah Swt.. Karunia-karunia jasmani  dan  ruhani  yang terdapat pada sifat (ruh/jiwa) manusia (QS.7:173-175; QS.30:31-33; QS.82:7-9; QS.87:1-4; QS,91:8; QS.95:5) memberikan dengan jelas pengertian kepada kita, bahwa ada di antara kemampuan manusia yang membangunkan pada dirinya dorongan untuk mencari Allah Swt.  dan yang meresapkan kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada  Allah Swt. (QS.2: 129 & 131-134 & 209; QS.3:103). Itulah makna dari  ‘ibadah yang dikemukakan ayat:   وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ  اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ  -- “Dan Aku sekali-kali tidak   menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
  Bila sang musafir (kelana) keruhanian (salik) menempuh perjalanan menuju tujuan hidupnya yang mulia itu dengan sabar dan tawakkal,   pada hakikatnya peribadahan dan pengorbanan yang dilakukannya itu  tidak berarti bahwa  ia  berbuat bajik (ihsan) kepada Allah Swt.  atau kepada siapa pun melainkan dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan akan mencapai tujuan perjuangannya (jihadnya) di jalan Allah Swt., firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan) (Al-Ankabūt [29]:70).
   Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami.” Dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ  اِنَّکَ کَادِحٌ  اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا  فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka  engkau akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqāq [84]:7).
       Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya “beramal saleh” dengan menjauhi  berbagai bentuk “kemusyrikan”: 
قُلۡ اِنَّمَاۤ  اَنَا بَشَرٌ  مِّثۡلُکُمۡ  یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah:  ”Sesungguh­nya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, tetapi telah diwahyukan kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) Yang Maha Esa,  فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا --    maka barangsiapa mengharap akan bertemu  dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) hendaklah ia beramal saleh dan ia jangan  memper­sekutukan siapa pun dalam ber­ibadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)"  (Al-Kahf [18]:111).

Keutamaan Orang yang Diberi Hikmah  Oleh Allah Swt. &  Pernyataan Allah Swt. Mengenai  Keberadaan-Nya” di Kalangan  Faqir-Miskin

        Kembali kepada tata-cara mengorbankan harta di jalan Allah Swt. yang dapat menumbuhkan akhlak dan ruhani terpuji bagi pelakunya (QS.2:262-275) selanjutnya Allah Swt. berfirman: 
یُّؤۡتِی الۡحِکۡمَۃَ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَنۡ یُّؤۡتَ الۡحِکۡمَۃَ فَقَدۡ اُوۡتِیَ خَیۡرًا کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ  اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾وَ مَاۤ اَنۡفَقۡتُمۡ مِّنۡ نَّفَقَۃٍ اَوۡ نَذَرۡتُمۡ مِّنۡ نَّذۡرٍ فَاِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ  اَنۡصَارٍ ﴿﴾  اِنۡ تُبۡدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا ہِیَ ۚ وَ اِنۡ تُخۡفُوۡہَا وَ تُؤۡتُوۡہَا الۡفُقَرَآءَ فَہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ؕ وَ یُکَفِّرُ عَنۡکُمۡ مِّنۡ سَیِّاٰتِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Dia memberi hikmah  kepada siapa yang Dia kehendaki dan barangsiapa diberi hikmah maka sungguh ia telah diberi berlimpah-limpah kebaikan, dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.    Dan belanja apa pun yang kamu belanjakan atau nazar apa pun yang kamu nazarkan di jalan Allah  maka sesungguhnya Allah mengetahuinya, dan bagi orang-orang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun.   Jika kamu memberikan sedekah-sedekah secara  terang-terangan maka hal itu baik, tetapi jika kamu menyembunyikannya dan kamu memberikannya kepada orang-orang fakir maka hal itu lebih baik  bagi kamu, dan  Dia akan menghapuskan darimu  be-berapa kesalahanmu,  dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah [2]:270-272). 

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 9   Desember  2016



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar