Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 81
PERUMPAMAAN “PENGORBANAN
HARTA” YANG DIKABULKAN ALLAH SWT.
& PERBAIKAN AKHLAK
DAN RUHANI ADALAH “JIHAD
DI JALAN ALLAH” YANG HAKIKI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 80 dikemukakan topik Persamaan Keadaan Nafs Al-Ammarah Dengan “Banjir Dahsyat” di Zaman Nabi Nuh a.s.. Sebelumnya telah dikemukakan bahwa
Allah Swt. menyebut orang-orang bertakwa
seperti itu sebagai orang-orang yang akan mendapat “minuman surgawi” yang campurannya “kafur” (Ad-Dahr/Al-Insan [76]:6-12), sebab mereka
telah berhasil menekan serta mengendalikan keadaan nafs-Ammarahnya, sebagaimana firman-Nya mengenai Nabi Yusuf a.s.:
وَ مَاۤ اُبَرِّیُٔ نَفۡسِیۡ ۚ اِنَّ النَّفۡسَ
لَاَمَّارَۃٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّیۡ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
“Dan aku sama sekali tidak menganggap diriku
bebas dari kelemahan, sesungguhnya nafsu ammarah itu senantiasa
menyuruh kepada keburukan, kecuali orang
yang dikasihani oleh Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(Yusuf
[12]:54).
Anak kalimat اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّیۡ (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku)
dapat mempunyai tiga tafsiran yang berlainan:
(a) Kecuali nafs (jiwa) yang
kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, huruf mā di sini menggantikan kata nafs.
(b) Kecuali dia, yang kepadanya Tuhan-ku berkasih sayang, mā di sini berarti man (siapa).
(c) Memang begitu, tetapi
kasih-sayang Tuhan-lah yang menyelamatkan siapa yang dipilih-Nya. Ketiga arti
tersebut menunjuk kepada ketiga taraf perkembangan ruhani manusia.
Arti pertama menunjuk kepada taraf ketika manusia telah mencapai tingkat kesempurnaan ruhani — tingkat nafs
muthmainnah (jiwa yang tenteram — QS.89:28). Arti kedua dikenakan kepada orang yang masih pada tingkat nafs
lawwamah (jiwa yang menyesali diri sendiri — QS.75:3), ketika ia berjuang melawan dosa dan kecenderungan-kecenderungan buruknya,
kadang-kadang ia mengalahkannya dan kadang-kadang ia dikalahkan olehnya. Arti ketiga dikenakan kepada orang,
ketika nafsu kebinatangannya
bersimaharajalela dalam dirinya.
Tingkatan ini disebut nafs ammarah
(jiwa yang cenderung kepada keburukan).
Ungkapan ayat اِلَّا مَا
رَحِمَ رَبِّیۡ (kecuali orang yang dikasihani oleh Tuhan-ku)
yang dikemukakan Nabi Yusuf a.s.
persis seperti ucapan Nabi Nuh a.s. ketika beliau mengajak
anaknya untuk naik ke dalam “Bahtera”
(perahu) bersama beliau agar selamat
dari “banjir dahsyat” yang sedang terjadi tetapi ia menolaknya, firman-Nya:
وَ ہِیَ تَجۡرِیۡ بِہِمۡ فِیۡ مَوۡجٍ
کَالۡجِبَالِ ۟ وَ نَادٰی نُوۡحُۨ ابۡنَہٗ وَ کَانَ فِیۡ مَعۡزِلٍ یّٰـبُنَیَّ ارۡکَبۡ مَّعَنَا وَ لَا
تَکُنۡ مَّعَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
قَالَ سَاٰوِیۡۤ اِلٰی جَبَلٍ یَّعۡصِمُنِیۡ مِنَ الۡمَآءِ ؕ قَالَ لَا عَاصِمَ الۡیَوۡمَ
مِنۡ اَمۡرِ اللّٰہِ اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ ۚ وَ حَالَ بَیۡنَہُمَا
الۡمَوۡجُ فَکَانَ مِنَ
الۡمُغۡرَقِیۡنَ﴿﴾
Dan bahtera
itu melaju dengan membawa mereka di tengah ombak seperti gunung,
dan Nuh berseru kepada anaknya yang senantiasa berada di tempat terpisah: -- “Hai anakku,
naiklah beserta kami dan janganlah engkau termasuk orang-orang kafir.” قَالَ سَاٰوِیۡۤ اِلٰی جَبَلٍ یَّعۡصِمُنِیۡ مِنَ الۡمَآءِ -- Ia menjawab: “Aku segera akan mencari sendiri perlindungan ke sebuah gunung yang
akan menjaga-ku dari air itu.” قَالَ لَا
عَاصِمَ الۡیَوۡمَ مِنۡ
اَمۡرِ اللّٰہِ -- Ia, Nuh berkata: “Tidak ada tempat berlindung pada hari ini bagi seorang pun dari perintah Allah, اِلَّا مَنۡ رَّحِمَ -- kecuali bagi orang yang Dia kasihani.” وَ حَالَ بَیۡنَہُمَا
الۡمَوۡجُ فَکَانَ مِنَ
الۡمُغۡرَقِیۡنَ -- Lalu
ombak menjadi peng-halang di antara
keduanya maka jadilah ia termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hūd
[11]:43-44).
Benarnya “Prediksi” Para Malaikat
Mengenai Munculnya Pelaku “Kerusakan dan Penumpah
Darah” di Muka Bumi
Jadi, walau pun seseorang
memiliki wawasan pengetahuan agama yang memadai, tetapi
jika keadaan jiwanya masih dalam
tingkatan nafs-al-Ammarah maka pengetahuan
agamanya tersebut tidak akan bermanfaat --
baik bagi dirinya sendiri mau
pun bagi orang lain -- sebab walau
pun ia melakukan tindakan-tindakan yang disebutnya sebagai “membuat perbaikan” atau
melakukan “nahi wal-munkar” tetapi
Allah Swt. akan menyebutnya sebagai “pelaku
kerusakan di muka bumi”, sebab dalam kenyataannya setiap pemikiran
dan tindakannya senantiasa
menimbulkan huru-hara dan kerusakan, firman-Nya:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ لَا تُفۡسِدُوۡا
فِی الۡاَرۡضِ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّمَا
نَحۡنُ مُصۡلِحُوۡنَ ﴿﴾اَلَاۤ اِنَّہُمۡ ہُمُ الۡمُفۡسِدُوۡنَ
وَ لٰکِنۡ لَّا یَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila
dikatakan kepada mereka, “Janganlah kamu
berbuat kerusakan di muka bumi” mereka berkata, “Kami hanyalah pencipta perdamaian”. Ketahuilah! Sesungguhnya mereka itulah pembuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadari. (Al-Baqarah
[2]:12-13).
Dengan demikian membenarkan “prediksi”
para malaikat -- mengenai akan munculnya para pembuat kerusakan dan penumpah darah -- ketika Allah Swt. berkehendak menjadikan seorang Khalifah
Allah di bumi guna menata “ketertiban” yang hakiki di muka bumi,
firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ رَبُّکَ لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ
خَلِیۡفَۃً ؕ قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ ۚ وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ
نُقَدِّسُ لَکَ ؕ قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau berfirman kepada
para malaikat: اِنِّیۡ جَاعِلٌ فِی الۡاَرۡضِ خَلِیۡفَۃً -- “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang akhalifah di bumi”,
قَالُوۡۤا اَتَجۡعَلُ فِیۡہَا مَنۡ یُّفۡسِدُ فِیۡہَا وَ یَسۡفِکُ الدِّمَآءَ -- mereka berkata: “Apakah Eng-kau akan menjadikan di dalamnya yakni di bumi orang yang akan mem-buat kerusakan di dalamnya dan akan menumpahkan darah, وَ نَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِکَ وَ نُقَدِّسُ لَکَ -- padahal kami
senantiasa bertasbih dengan pujian Engkau dan kami senantiasa mensucikan Engkau?” قَالَ اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ -- Dia
berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah
[2]:31).
Malā’ikah (malaikat-malaikat) yang adalah
jamak dari malak diserap dari malaka, yang berarti: ia
mengendalikan, mengawasi; atau dari alaka, artinya ia me-ngirimkan. Para malaikat disebut demikian sebab mereka mengendalikan kekuatan-kekuatan alam atau mereka membawa wahyu Ilahi kepada utusan-utusan Allah dan pembaharu-pembaharu
samawi.
Para malaikat tidak mengemukakan keberatan (protes) terhadap rencana Ilahi atau mengaku
diri mereka lebih unggul daripada
Adam a.s. karena mereka senantiasa bertasbih,
bertahmid dan bertaqdis kepada Allah Swt..
Pertanyaan mereka
didorong oleh pengumuman Allah Swt. mengenai
rencana-Nya untuk mengangkat seorang Khalifah,
sebab wujud khalifah Allah (rasul Allah) diperlukan bila tertib
harus ditegakkan dan hukum harus dilaksanakan.
Jadi, “keberatan semu” para malaikat menyiratkan bahwa dengan adanya seorang Khalifah Allah (rasul
Allah) maka akan ada orang-orang di bumi
yang -- karena merasa kepentingan duniawinya terusik -- lalu mereka akan membuat kerusakan dan menumpahkan
darah melakukan penentangan terhadap “Khalifah
Allah” tersebut.
Karena manusia dianugerahi kekuatan-kekuatan
besar untuk berbuat baik dan jahat, dalam ayat tersebut para malaikat
menyebut segi gelap tabiat manusia,
tetapi Allah Swt. mengetahui
bahwa -- sekali pun prediksi para malaikat
tersebut benar -- dengan
adanya upaya-upaya penentang
seperti itu manusia dapat mencapai tingkat
akhlak dan ruhani yang sangat
tinggi, sehingga ia dapat menjadi cermin
(bayangan) sifat-sifat Ilahi.
Itulah makna jawaban Allah Swt.: اِنِّیۡۤ اَعۡلَمُ مَا لَا
تَعۡلَمُوۡنَ -- "Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" yakni Allah Swt. menyebutkan segi terang tabiat manusia.
Dengan demikian jelaslah bahwa pertanyaan
para malaikat tersebut bukan sebagai celaan terhadap perbuatan
Allah Swt. akan menjadi seorang Khalifah di muka bumi, melainkan sekedar
mencari ilmu yang lebih tinggi
mengenai sifat dan hikmah
penciptaan khalifah Allah tersebut.
Akibat
Baik Melakukan Ibadah dan Pengorbanan
harta Karena Allah Swt
Kembali kepada perbuatan baik (birr) yang dikemukakan dalam Ad-Dahr/Al-Insan [76]:6-12 yang dilakukan orang-orang
bertakwa karena: اِنَّا نَخَافُ مِنۡ رَّبِّنَا یَوۡمًا عَبُوۡسًا قَمۡطَرِیۡرًا -- Sesungguhnya
kami takut azab dari Rabb (Tuhan) kami pada suatu hari muka menjadi masam dan penuh kesulitan.” فَوَقٰہُمُ اللّٰہُ شَرَّ ذٰلِکَ
الۡیَوۡمِ وَ لَقّٰہُمۡ نَضۡرَۃً
وَّ سُرُوۡرًا -- Maka Allah
memelihara mereka dari keburukan hari itu, dan menganugerahkan kepada mereka kesenangan dan kebahagiaan. (Ad-Dahr/Al-Insan [76]:11-12).
Yaumun ‘abūsun artinya: hari penuh sengsara atau hari bencana, atau hari yang menyebabkan orang bersedih hati, dan yaumun
qamtharīrun berarti hari yang
penuh kesedihan atau hari bencana, atau hari yang menyebabkan orang mengerutkan
kening atau mengernyitkan kulit
di antara kedua belah matanya (Lexicon Lane).
Selanjutnya Allah Swt.
mengemukakan perumpamaan orang-orang
yang dalam melakukan pengorbanan hartanya
di jalan Allah Swt. sesuai perintah Allah Swt. – yakni mereka yang berhasil melepaskan diri dari cengkraman gejolak keadaan nafs-al-Ammarah (QS.12:54)
yang bagaikan “banjir dahsyat”
zaman Nabi Nuh a.s. (QS.11:43-44) --
firman-Nya:
وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ یُنۡفِقُوۡنَ
اَمۡوَالَہُمُ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ اللّٰہِ وَ تَثۡبِیۡتًا مِّنۡ اَنۡفُسِہِمۡ
کَمَثَلِ جَنَّۃٍۭ بِرَبۡوَۃٍ اَصَابَہَا وَابِلٌ فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ ۚ
فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Dan perumpamaan
orang-orang yang membelanjakan harta mereka ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ
اللّٰہِ وَ تَثۡبِیۡتًا مِّنۡ اَنۡفُسِہِم -- demi mencari
keridhaan Allah dan memperteguh jiwa mereka کَمَثَلِ جَنَّۃٍۭ
بِرَبۡوَۃٍ اَصَابَہَا وَابِلٌ فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ -- adalah seperti perumpamaan kebun yang terletak di tempat tinggi,
hujan lebat menimpanya
lalu menghasilkan buahnya dua kali lipat, فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا
ضِعۡفَیۡنِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ -- tetapi
jika hujan lebat tidak pernah
menimpanya maka hujan gerimis pun memadai, وَ اللّٰہُ بِمَا
تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ -- dan Allah Maha Melihat apa pun yang kamu kerjakan. (Al-Baqarah [2]:266).
Menurut ayat-ayat tersebut bahwa pembelanjaan harta di jalan Allah
memberi kekuatan kepada jiwa manusia, sebab dengan membelanjakan harta yang diperolehnya
dengan susah payah, ia secara sukarela meletakkan beban atas diri sendiri dan menjadikannya lebih kuat serta lebih teguh
dalam keimanan.
Hati orang-orang beriman yang membelanjakan
harta dengan sukarela di jalan Allah adalah laksana sebidang tanah tinggi, hujan lebat yang
kadang-kadang sangat berbahaya bagi tanah rendah tidak membahayakannya.
Sebaliknya tanah itu akan mendapat faedah dari hujan, meskipun hujan itu besar atau kecil: اَصَابَہَا وَابِلٌ
فَاٰتَتۡ اُکُلَہَا ضِعۡفَیۡنِ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یُصِبۡہَا وَابِلٌ فَطَلٌّ -- “hujan lebat menimpanya lalu menghasilkan
buahnya dua kali lipat,
tetapi jika hujan lebat tidak pernah menimpanya maka hujan
gerimis pun memadai. وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ -- “dan Allah
Maha Melihat apa pun yang kamu
kerjakan. “
Peringatan Allah Swt. Bagi Para Pelaku
Ibadah “Pamer”
Selanjutnya Allah Swt. memperingatkan para pelaku ibadah mengenai bahaya atau kerugian yang akan dialami jika ibadah
dan pengorbanan harta tidak dilakukan
semata-mata mencari keridhaan Allah
Swt., firman-Nya:
اَیَوَدُّ اَحَدُکُمۡ اَنۡ تَکُوۡنَ
لَہٗ جَنَّۃٌ مِّنۡ نَّخِیۡلٍ وَّ اَعۡنَابٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ
ۙ لَہٗ فِیۡہَا مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ ۙ وَ اَصَابَہُ الۡکِبَرُ وَ لَہٗ
ذُرِّیَّۃٌ ضُعَفَآءُ ۪ۖ فَاَصَابَہَاۤ اِعۡصَارٌ فِیۡہِ نَارٌ
فَاحۡتَرَقَتۡ ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ
اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَتَفَکَّرُوۡنَ ﴿﴾٪
Adakah salah
seorang di antara kamu yang ingin
memiliki kebun kurma dan anggur, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, di
dalam kebun itu ia memiliki
segala macam buah-buahan, وَ اَصَابَہُ الۡکِبَرُ وَ لَہٗ
ذُرِّیَّۃٌ ضُعَفَآءُ -- kemudian
masa tua menghampirinya sedangkan
ia memiliki keturunan yang lemah, فَاَصَابَہَاۤ
اِعۡصَارٌ فِیۡہِ نَارٌ فَاحۡتَرَقَتۡ -- lalu kebun itu ditimpa angin puyuh yang mengandung api maka terbakarlah kebun itu?
کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ
لَعَلَّکُمۡ تَتَفَکَّرُوۡنَ -- Demikianlah Allah menjelaskan Tanda-tanda-Nya bagimu supaya kamu berfikir. (Al-Baqarah [2]:267).
Dengan
perantaraan perumpamaan ini orang
mukmin diperingatkan bahwa bila ia membelanjakan harta bendanya untuk pamer atau mengiringi sedekahnya dengan membangkit-bangkit jasa baik dan menyakiti perasaan orang yang disedekahinya, (QS.2:285) maka semua
yang dibelanjakannya itu akan menjadi
sia-sia belaka.
Lebih lanjut Allah Swt. menjelaskan,
bahwa melakukan pengorbanan harta di jalan-Nya merupakan bagian dari pelaksanaan ibadah yang diajarkan syariat Islam (Al-Quran) berupa
pelaksanaan huququl- ‘ibād
(hablun- minan-nās), hal tersebut
bukan memberi makan dan rezeki
kepada Allah Swt. (QS.51:57-59)
-- sebab yang sampai kepada Allah Swt. dalam dalam
melakukan pengorbanan harta dan pengorbanan
binatang kurban adalah ketakwaan si pelakunya, bukan “darah
dan daging korbannya” (QS.22:38)
-- karena itu harta yang dibelanjakan (dikorbankan) di jalan Allah Swt. pun harus harta
yang halal -- baik bendanya
mau pun cara memperolehnya -- firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا
اَنۡفِقُوۡا مِنۡ طَیِّبٰتِ مَا کَسَبۡتُمۡ وَ مِمَّاۤ اَخۡرَجۡنَا لَکُمۡ مِّنَ
الۡاَرۡضِ ۪ وَ لَا تَیَمَّمُوا الۡخَبِیۡثَ مِنۡہُ
تُنۡفِقُوۡنَ وَ لَسۡتُمۡ بِاٰخِذِیۡہِ اِلَّاۤ اَنۡ تُغۡمِضُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ
اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَنِیٌّ
حَمِیۡدٌ ﴿﴾ اَلشَّیۡطٰنُ یَعِدُکُمُ الۡفَقۡرَ وَ یَاۡمُرُکُمۡ بِالۡفَحۡشَآءِ ۚ
وَ اللّٰہُ یَعِدُکُمۡ مَّغۡفِرَۃً مِّنۡہُ
وَ فَضۡلًا ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ۖۙ
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah barang-barang baik yang kamu usahakan dan juga apa
pun yang Kami keluarkan dari bumi bagimu,
وَ
لَا تَیَمَّمُوا الۡخَبِیۡثَ مِنۡہُ تُنۡفِقُوۡنَ وَ لَسۡتُمۡ بِاٰخِذِیۡہِ
اِلَّاۤ اَنۡ تُغۡمِضُوۡا فِیۡہِ -- dan janganlah kamu memilih darinya yang
buruk-buruk lalu kamu membelanjakan di jalan Allah,
padahal kamu sendiri tidak mau
mengambilnya kecuali sambil
memicingkan mata terhadapnya. وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَنِیٌّ حَمِیۡدٌ -- Dan ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. Syaitan
menjanjikan yakni menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan, dan menyuruh
kamu berbuat kekejian, sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia dari-Nya. Dan Allah
Maha Luas karu-nia-Nya, Maha
Mengetahui (Al-Baqarah [2]:268-269).
Pentingnya Ketakwaan Dalam Ibadah dan Pengorbanan Harta
di Jalan Allah Swt. &
Memperagakan Sifat-sifat
Tasybihiyyah Allah Swt.
Ayat ini berarti bahwa orang-orang beriman hendaknya membelanjakan
(mengorbankan) di jalan Allah apa-apa
yang baik dan murni, sebab harta yang sekalipun dihasilkan secara sah, adakalanya
meliputi barang-barang buruk juga.
Barang-barang tua dan bekas dapat saja diberikan kepada orang miskin, tetapi barang-barang yang sudah rusak janganlah
dipilih untuk maksud itu: وَ لَا تَیَمَّمُوا
الۡخَبِیۡثَ مِنۡہُ تُنۡفِقُوۡنَ وَ لَسۡتُمۡ بِاٰخِذِیۡہِ اِلَّاۤ اَنۡ
تُغۡمِضُوۡا فِیۡہِ -- dan janganlah kamu memilih darinya yang
buruk-buruk lalu kamu membelanjakan di jalan Allah,
padahal kamu sendiri tidak mau
mengambilnya kecuali sambil
memicingkan mata terhadapnya.“
Dari sekian banyak tujuan, fungsi,
khasiat hukum syariat ditetapkan-Nya
perintah mengorbankan rezeki dari Allah Swt. di jalan-Nya terhadap orang-orang yang berhak menerimanya --
antara lain fakir-miskin
baik yang meminta
mau pun yang tidak meminta (Qs.2:273-275; QS.51:20; QS.70:25-26) --
adalah dalam rangka meniru dan memperagakan (mengamalkan) Sifat-sifat Tasybihiyyah
Allah Swt., bukan untuk kepentingan
Allah Swt., firman-Nya:
وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ
الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿﴾ مَاۤ
اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ ﴿﴾
Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan ins (manusia) melainkan supaya
mereka menyembah-Ku. مَاۤ
اُرِیۡدُ مِنۡہُمۡ مِّنۡ رِّزۡقٍ وَّ مَاۤ اُرِیۡدُ اَنۡ یُّطۡعِمُوۡنِ -- Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka
dan tidak
pula Aku menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الرَّزَّاقُ
ذُو الۡقُوَّۃِ الۡمَتِیۡنُ -- Sesungguhnya Allah
Dia-lah Pemberi rezeki, Pemiliki Kekuatan yang sangat kokoh. (Adz-Dzāriyāt
[51]:57-59).
Arti yang utama
untuk kata ‘ibadah adalah menundukkan
diri sendiri kepada disiplin
keruhanian yang ketat -- berupa peraturan (hukum) syariat -- lalu bekerja
dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada sampai sepenuh
jangkauannya, sepenuhnya serasi
dengan dan taat kepada perintah-perintah Ilahi agar menerima meterai pengesahan Allah Swt. dan
mampu mencampurkan dan menjelmakan dalam dirinya sendiri Sifat-sifat Allah Swt. sebagaimana yang dicontohnya oleh para rasul Allah, terutama Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.6:162-164; QS.33:22).
Makna “Jihad di jalan Allah” yang Hakiki
Sebagaimana tersebut dalam ayat ini itulah maksud dan tujuan agung lagi mulia
bagi penciptaan manusia dan memang
itulah makna ibadah kepada Allah Swt..
Karunia-karunia jasmani dan ruhani yang terdapat pada sifat (ruh/jiwa) manusia (QS.7:173-175; QS.30:31-33; QS.82:7-9;
QS.87:1-4; QS,91:8; QS.95:5) memberikan dengan jelas pengertian kepada kita, bahwa ada di antara kemampuan manusia yang membangunkan pada dirinya dorongan untuk mencari Allah Swt. dan
yang meresapkan kepadanya keinginan mulia untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah
Swt. (QS.2: 129 & 131-134 & 209; QS.3:103). Itulah makna dari ‘ibadah
yang dikemukakan ayat: وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ -- “Dan Aku
sekali-kali tidak menciptakan jin
dan ins (manusia) melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
Bila sang musafir
(kelana) keruhanian (salik) menempuh perjalanan menuju tujuan hidupnya yang mulia
itu dengan sabar dan tawakkal, pada
hakikatnya peribadahan dan pengorbanan yang dilakukannya itu tidak berarti bahwa ia berbuat bajik (ihsan) kepada Allah Swt. atau kepada siapa pun melainkan dirinya sendirilah yang memperoleh manfaatnya dan akan mencapai tujuan perjuangannya (jihadnya) di jalan Allah Swt., firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا
لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ
لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk
Kami niscaya Kami akan memberi
petunjuk kepada mereka pada
jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya
Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan) (Al-Ankabūt
[29]:70).
Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti
“untuk menjumpai Kami.” Dalam surah
lain Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا
الۡاِنۡسَانُ اِنَّکَ کَادِحٌ اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya engkau
bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka engkau
akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqāq [84]:7).
Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw. mengenai pentingnya “beramal saleh” dengan menjauhi berbagai bentuk “kemusyrikan”:
قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ
مِّثۡلُکُمۡ یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ
بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah:
”Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti
kamu, tetapi telah diwahyukan
kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu adalah Rabb (Tuhan) Yang Maha Esa, فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا -- maka barangsiapa mengharap akan bertemu
dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) hendaklah ia beramal saleh dan ia jangan
mempersekutukan siapa pun dalam beribadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)"
(Al-Kahf [18]:111).
Keutamaan Orang yang Diberi Hikmah Oleh Allah Swt.
& Pernyataan Allah Swt. Mengenai “Keberadaan-Nya”
di Kalangan “Faqir-Miskin”
Kembali kepada tata-cara mengorbankan harta di jalan Allah Swt. yang
dapat menumbuhkan akhlak dan ruhani terpuji bagi pelakunya (QS.2:262-275) selanjutnya Allah Swt. berfirman:
یُّؤۡتِی الۡحِکۡمَۃَ مَنۡ یَّشَآءُ ۚ
وَ مَنۡ یُّؤۡتَ الۡحِکۡمَۃَ
فَقَدۡ اُوۡتِیَ خَیۡرًا کَثِیۡرًا ؕ وَ مَا یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ
اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾وَ مَاۤ اَنۡفَقۡتُمۡ
مِّنۡ نَّفَقَۃٍ اَوۡ نَذَرۡتُمۡ
مِّنۡ نَّذۡرٍ فَاِنَّ
اللّٰہَ یَعۡلَمُہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾ اِنۡ تُبۡدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا ہِیَ ۚ وَ اِنۡ تُخۡفُوۡہَا وَ تُؤۡتُوۡہَا الۡفُقَرَآءَ فَہُوَ خَیۡرٌ لَّکُمۡ ؕ وَ
یُکَفِّرُ عَنۡکُمۡ مِّنۡ سَیِّاٰتِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Dia memberi hikmah kepada siapa
yang Dia kehendaki dan barangsiapa
diberi hikmah maka sungguh ia telah
diberi berlimpah-limpah kebaikan, dan tidak
ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. Dan belanja apa pun yang kamu
belanjakan atau nazar apa pun yang
kamu nazarkan di jalan Allah maka
sesungguhnya Allah mengetahuinya, dan bagi
orang-orang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun. Jika kamu memberikan sedekah-sedekah secara terang-terangan maka hal itu baik, tetapi jika
kamu menyembunyikannya dan kamu
memberikannya kepada orang-orang fakir maka hal itu lebih baik bagi kamu, dan Dia
akan menghapuskan darimu be-berapa kesalahanmu,
dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan. (Al-Baqarah [2]:270-272).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 9 Desember 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar