Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 76
KEBENARAN JANJI
ALLAH SWT. AKAN SENANTIASA MEMELIHARA
KESEMPURNAAN AL-QURAN DAN KESUCIAN NABI
BESAR MUHAMMAD SAW. SAMPAI HARI
KIAMAT
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab 75 dikemukakan topik Merasa
Telah “Memberi Jasa” Kepada Allah
Swt. dan Rasul Allah. Berkenaan
dengan hal tersebut Allah Swt. memberi pengertian kepada “Muslim”
(orang-orang Islam) dari kalangan “Arab gurun” yang berfikiran sederhana tersebut -- dan
yang merasa bangga dengan “ke-Muslim-an”
mereka itu -- berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.: قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ -- Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal Allah
mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- Dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hujurāt [49]:17).
Perbedaan Sirr dan Akhfa &
Menganggap “Telah Berjasa” Kepada
Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad Saw.
Allah Swt. adalah Tuhan
Yang Maha Mengetahui bukan saja yang bersifat sirr (tersembunyi) mengenai
apa pun terdapat dada (hati) manusia, bahkan juga Dia pun Maha
Mengetahui yang akhfa (lebih
tersembunyi) – bagaimana pun rapinya rekayasa
yang dilakukan manusia dalam upaya penyembunyian yang dilakukannya (QS.20:8) -- firman-Nya:
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ
مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا وَ مَا
تَحۡتَ الثَّرٰی ﴿﴾ وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ
یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی
﴿﴾ اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ لَہُ الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ﴿﴾
Kepunyaan-Nya apa pun yang ada di seluruh
langit dan apa pun
yang ada di bumi, dan apa pun yang ada di antara keduanya serta apa
pun yang ada di bawah tanah yang lembab.
وَ اِنۡ
تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی --
Dan jika engkau berkata dengan suara keras maka sesungguhnya Dia mengetahui yang rahasia
dan yang sangat tersembunyi. اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ؕ -- Allah
tidak ada tuhan kecuali Dia. لَہُ الۡاَسۡمَآءُ
الۡحُسۡنٰی -- Kepunyaan-Nya
semua nama yang terindah (Thā Hā [20]:7-9).
Kata sirr (pikiran-pikiran
rahasia) dalam ayat وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ
یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی --
“Dan jika engkau berkata dengan suara keras maka sesungguhnya Dia mengetahui yang rahasia
dan yang sangat tersembunyi” maksudnya
pikiran-pikiran yang tersembunyi di
dalam benak manusia yang diketahui hanya oleh dirinya sendiri, sedang makna akhfa -- “lebih
tersembunyi” meliputi semua cita-cita, gagasan,
dan ambisi seseorang yang tersembunyi dalam kandungan masa depan dan yang belum
pernah terlintas dalam pikirannya.
Allah Swt.
adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang
nyata mau yang gaib, karena itu Dia pun Maha Mengetahui apa yang terjadi di masa depan pada diri seseorang yang beriman mau pun yang kafir
apakah di masa depan keadaan mereka
akan tetap beriman dan tetap kafir ataukah mereka akan berubah, karena itu Allah Swt. senantiasa memberikan tenggang-waktu kepada orang-orang
kafir sampai batas tertentu
sebelum menimpakan azab Ilahi yang diperingatkan kepada mereka
sampai datang kepada mereka rasul
Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37), guna membedakan siapa yang keimanannya kepada Allah
Swt. dan Rasul-Nya benar dan
siapa yang palsu (QS.17:16; QS.20:134-136; QS.28:60), firman-Nya:
یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ
عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ
یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Mereka
mengira telah memberi anugerah kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا
عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ -- Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islam-an kamu, ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ
عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ
-- bahkan Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap
kamu karena Dia telah memberi kamu
petunjuk kepada iman, jika kamu
orang-orang yang benar.” اِنَّ اللّٰہَ
یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh
langit dan bumi. وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ
بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
(Al-Hujurāt
[49]:18-19).
Allah Sendiri Yang Memelihara
Kesempurnaan Al-Quran dan Kesucian
Nabi Besar Muhammad Saw. -- Bukan Pemeliharaan Terhadap Umat Islam
Jadi, sungguh
keliru jika di kalangan umat Islam
ada pihak-pihak yang mendakwakan diri paling berjasa
dalam membela agama Islam (Al-Quran)
dan membela
Nabi Besar Muhammad saw. – dengan mengenyampingkan sesama Muslim lainnya -- sebab Allah Swt.
Sendiri yang telah menyatakan dengan tegas dalam Al-Quran bahwa Dia Sendiri-lah yang akan memelihara kesempurnaan Al-Quran sampai Hari Kiamat, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا
الذِّکۡرَ وَ اِنَّا
لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ
اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ شِیَعِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾ کَذٰلِکَ نَسۡلُکُہٗ فِیۡ
قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ قَدۡ خَلَتۡ سُنَّۃُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya
Kami-lah pemeliharanya. وَ
لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ
شِیَعِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan
sungguh Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau kepada umat-umat yang terdahulu. وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ -- Dan sekali-kali
tidak datang kepada mereka seorang rasul
pun melainkan mereka selalu
memperolok-olokkannya. کَذٰلِکَ نَسۡلُکُہٗ فِیۡ
قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah Kami memasukkan kebiasaan buruk ini ke dalam
hati orang-orang yang berdosa, لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ قَدۡ خَلَتۡ سُنَّۃُ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Mereka itu tidak beriman kepada Al-Quran
ini, sekalipun telah berlalu
sebelum mereka contoh orang-orang
yang terdahulu. (Al-Hijr
[15]:10-14).
Namun perlu diperhatikan pula, bahwa tidak
ada satu ayat Al-Quran pun yang menyatakan bahwa Allah Swt. akan memelihara umat Islam dari keterpecah-belahan seperti yang terjadi
di kalangan golongan Ahli Kitab
(QS.3:103-106; QS.6:160; QS.30:31-33)
seperti yang saat ini terjadi di wilayah Timur
Tengah atau di kawasan lainnya.
Nubuatan Kedatangan Kaum lain dari Kalangan Umat
Islam di Akhir Zaman
Mengapa demikian? Sebab Sunnatullah membuktikan bahwa
jika suatu umat beragama telah berlaku tidak bersyukur lagi kepada Allah
Swt. dan Rasul-Nya (QS.14:8) maka Allah Swt. akan membangkitkan kaum lain sebagai pengganti
kaum yang tidak bersyukur tersebut,
firman-Nya:
ہٰۤاَنۡتُمۡ ہٰۤؤُلَآءِ تُدۡعَوۡنَ لِتُنۡفِقُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ ۚ فَمِنۡکُمۡ مَّنۡ یَّبۡخَلُ ۚ
وَ مَنۡ یَّبۡخَلۡ فَاِنَّمَا یَبۡخَلُ عَنۡ
نَّفۡسِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ الۡغَنِیُّ وَ
اَنۡتُمُ الۡفُقَرَآءُ ۚ وَ اِنۡ
تَتَوَلَّوۡا یَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا
غَیۡرَکُمۡ ۙ ثُمَّ لَا یَکُوۡنُوۡۤا اَمۡثَالَکُمۡ ﴿﴾
Ingatlah,
kamu adalah orang-orang yang dipanggil untuk membelanjakan di jalan Allah, tetapi
di antara kamu ada orang yang kikir,
dan barangsiapa kikir maka
sesungguhnya ia kikir terhadap dirinya
sendiri. وَ اللّٰہُ
الۡغَنِیُّ وَ اَنۡتُمُ الۡفُقَرَآءُ -- Dan
Allah Maha Kaya sedangkan kamu
orang-orang fakir, وَ اِنۡ تَتَوَلَّوۡا یَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَیۡرَکُمۡ ۙ -- dan jika
kamu berpaling Dia akan menggantikan kamu
dengan suatu kaum selain kamu, ثُمَّ لَا یَکُوۡنُوۡۤا اَمۡثَالَکُمۡ -- kemudian
mereka tidak akan menjadi seperti kamu.
(Muhammad [47]:39).
Ketika kepada Nabi Besar Muhammad saw. pada suatu peristiwa ditanyakan men genai
siapa yang dituju oleh ayat: وَ اِنۡ تَتَوَلَّوۡا
یَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَیۡرَکُمۡ ۙ -- “dan jika kamu berpaling Dia
akan menggantikan kamu dengan suatu kaum selain kamu”, beliau saw. menurut riwayat telah bersabda "Jika iman telah terbang ke Bintang Suraya,
seorang keturunan bangsa Parsi akan membawanya kembali ke bumi" (Ruh-al-Ma'ani), yaitu berkait-erat juga dengan maka ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana“ yang secara khusus ditanyakan oleh Abu Hurairah
r.a. kepada Nabi Besar Muhammad saw. ketika wahyu Al-Quran dalam surah Al-Jumu’ah berikut ini diwahyukan, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan
kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, وَ
اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ لَفِیۡ ضَلٰلٍ
مُّبِیۡنٍ ۙ -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata; وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ -- Dan juga Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara me-reka,
yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
(Al-Jumu’ah
[62]:3-4).
Berbagai Makna Kemunculan “Kaum
Lain” di Kalangan Umat Islam &
Rasul Akhir Zaman
Makna ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ -- “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana“ bahwa berbeda dengan para rasul Allah sebelumnya yang hanya untuk kaum mereka masing-masing –
termasuk Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:88-89; QS.61:6-7), pengutusan dan ajaran Nabi
Besar Muhammad saw. tidak hanya ditujukan kepada bangsa
Arab (Bani Isma’il) saja --
yang di tengah-tengah bangsa
itu beliau saw. dibangkitkan (ayat 3)
-- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab
atau kepada seluruh manusia
(QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), dan juga bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw. melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga Hari Kiamat, termasuk di Akhir
Zaman ini.
Atau, ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ --
“Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ --
Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana“ dapat juga berarti bahwa
setelah pengutusannya yang pertama di
kalangan Bani Isma’il (bangsa Arab)
yang jahiliyah, Nabi Besar Muhammad
saw. di Akhir Zaman ini akan dibangkitkan
lagi secara ruhani di antara kaum (umat Islam) yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw., yaitu setelah umat Islam mengalami masa
kemunduran selama 1000 tahun sejak masa
kejayaannya yang pertama selama 3
abad (QS.32:6) dalam wujud
Masih Mau’ud a.s.. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)
guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ --
walaupun orang musyrik tidak menyukai.
(Ash-Shaf
[61]:10).
Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat
ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan
(Masih Mau’ud a.s.) sebab di zaman beliau semua
agama muncul dan keunggulan Islam
di atas semua agama akan menjadi kepastian.
Makna Keprihatinan Rasul Akhir
Zaman Melihat Perlakuan Terhadap Al-Quran
Sehubungan dengan Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 tersebut Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw. , ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta
keterangan kepada Rasulullah saw. “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata
وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan
Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu
dengan mereka?” – Salman al-Farsi
(Salman asal Parsi) sedang duduk di
antara kami.
Setelah saya
berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan
beliau saw. pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka
ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Besar
Muhammad saw. tersebut menunjukkan
bahwa ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- “Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum
lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan
Parsi. Dan Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s. – walau pun termasuk Ahli Bait Nabi Besar Muhammad saw. dari jalur Sayyidina Hassan
bin Ali bin Abi Thalib r.a.
-- adalah dari keturunan Parsi -- yakni “kaum lain” yang bukan bangsa Arab sesuai dengan ayat tersebut.
Hadits Nabi Besar
Muhammad saw. lainnya menyebutkan bahwa kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s. pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi).
Jadi, Al-Quran dan
hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ -- “Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana“ menunjuk kepada pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. secara ruhani
dalam wujud Masih
Mau’ud a.s. pada masa puncak kemunduran
umat Islam selama 1000 tahun
(QS.32:6) pada abad ke 14 Hijriyah, beliau itulah yang dimaksud rasul Allah dalam firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی
اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ
نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ
نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ
عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi
dari antara orang-orang yang
berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan)
engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong.
(Al-Furqān
[25]:31-32).
Kemunculan “Hizbullāh” (Jemaat Allah) yang Hakiki
Ayat
ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan
diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali
belum pernah terjadi selama 14 abad
ini di mana petunjuk Al-Quran -- sebagaimana yang difahami dan diamalkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. -- demikian rupa diabaikan dan dilupakan
oleh orang-orang Muslim seperti
dewasa ini, terutama di kawasan Timur
Tengah, sesuai hadits Nabi Besar
Muhammad saw.. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman).
Sungguh masa
sekarang-sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan itu, sesuai
dengan nubuatan dalam Al-Quran
berikut ini, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ
یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ
یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ
عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا
وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ
یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ
الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾ وَ
مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ
اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang
yang beriman, مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی
اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ -- barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya maka Allah segera
akan mendatangkan suatu kaum, اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ
عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- Dia
akan mencintai mereka dan mereka pun
akan mencintai-Nya, اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی
الۡکٰفِرِیۡنَ --
mereka akan bersikap lemah-lembut
terhadap orang-orang beriman dan keras
(tegas) terhadap orang-orang kafir. یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ
لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ -- Mereka
akan berjuang di jalan Allah dan tidak
takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ
مَنۡ یَّشَآءُ -- Itulah karunia Allah, Dia memberikannya
kepada siapa yang Dia kehendaki وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ
عَلِیۡمٌ -- dan
Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ
رَسُوۡلُہٗ -- Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah dan Rasul-Nya وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ
یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ
الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ -- dan
orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.
وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ
اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- Dan
barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai pelindung, فَاِنَّ حِزۡبَ
اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ -- maka sesungguhnya jamaat Allah pasti menang. (Al-Māidah
[55]:55-57).
Dalam rangka keberadaan “Hizbullāh” yang hakiki itulah maka sebabnya Allah Swt. dalam Al-Quran telah
mengemukakan pentingnya kesinambungan
kedatangan rasul Allah di
kalangan Bani Adam, karena Sunnatullāh berupa pergantian malam (kegelapan) dengan siang (cahaya) dan pergantian siang (cahaya) dengan malam
(kegelapan) berlaku juga dalam keruhanian,
itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan
dalam Al-Quran bahwa “pergantian malam
dan siang” merupakan bagian dari Tanda-tanda-Nya juga (QS.10:68; QS.17:13; QS.7:27; QS.28:74;
QS.30.24), firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ --
Wahai Bani Adam, jika
datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu yang
membacakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
-- maka barangsiapa bertakwa
dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan
tidak pula mereka akan bersedih hati.
وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا
وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7].7:35-37).
Tujuan kedatangan rasul Allah yang dijanjikan dari kalangan Bani Adam tersebut adalah untuk melepaskan manusia dari berbagai bentuk
“kejahiliyah” --
atau dari “kegelapan malam” (kesesatan)
-- yang senantiasa kembali
merebak di kalangan umat beragama, setelah mengalami masa “siang” (petunjuk) melalui
pengutusan rasul Allah dari kalangan
Bani Adam tersebut.
Berikut ini firman Allah Swt. mengenai zaman kejahiliyah yang paling
hebat pada masa menjelang pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. – termasuk selain kejahiliyah
di kalangan Bani
Isma’il sendiri (QS.62:3) -- firman-Nya::
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ
الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی
النَّاسِ لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ
الَّذِیۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ
﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا
کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ
قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ
مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ
وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا
مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ
یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya
dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan,
supaya mereka kembali dari
kedurhakaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana
buruknya akibat bagi orang-orang
sebelum kamu ini. کَانَ
اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ -- Kebanyakan mereka itu
orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ
الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ
لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ
یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ -- Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat
dihindarkan, pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm
[30]:42-44).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
4 Desember 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar