Selasa, 13 Desember 2016

Kebenaran Janji Allah Swt. Akan Senantiasa Memelihara Kesempurnaan Al-Quran dan Kesucian Nabi Besar Muhammad Saw. Sampai Hari Kiamat




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  76

KEBENARAN  JANJI ALLAH SWT. AKAN SENANTIASA MEMELIHARA KESEMPURNAAN AL-QURAN DAN KESUCIAN  NABI BESAR MUHAMMAD SAW. SAMPAI HARI KIAMAT   

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 75 dikemukakan   topik   Merasa Telah “Memberi Jasa  Kepada Allah Swt. dan Rasul Allah.     Berkenaan dengan hal tersebut   Allah Swt. memberi pengertian kepada “Muslim” (orang-orang Islam)  dari kalangan “Arab gurun” yang berfikiran sederhana tersebut  --  dan  yang merasa bangga dengan “ke-Muslim-an” mereka itu -- berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.: قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ  -- Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal  Allah mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi.  وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  --  Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Hujurāt [49]:17).
Perbedaan Sirr dan Akhfa & Menganggap “Telah Berjasa” Kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad Saw.
       Allah Swt.  adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui bukan saja yang bersifat sirr (tersembunyi) mengenai  apa pun terdapat  dada (hati) manusia, bahkan juga  Dia pun Maha Mengetahui yang akhfa (lebih tersembunyi)  – bagaimana pun  rapinya rekayasa yang dilakukan manusia  dalam upaya  penyembunyian  yang dilakukannya (QS.20:8) --  firman-Nya:
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ  وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ وَ مَا بَیۡنَہُمَا وَ مَا  تَحۡتَ الثَّرٰی  ﴿﴾ وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی  ﴿﴾ اَللّٰہُ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ لَہُ  الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی ﴿﴾
Kepunyaan-Nya apa pun yang ada di seluruh langit  dan  apa­ pun  yang ada di bumi,  dan apa pun yang ada di antara keduanya  serta apa pun yang ada di bawah tanah yang lembab.  وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی    --   Dan jika engkau berkata  dengan suara keras maka sesung­guhnya Dia mengetahui yang rahasia dan   yang sangat ter­sembunyi. اَللّٰہُ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ       -- Allah tidak ada tuhan kecuali Dia.  لَہُ  الۡاَسۡمَآءُ الۡحُسۡنٰی  --   Kepunyaan-Nya semua nama yang terindah  (Thā Hā [20]:7-9).
   Kata sirr (pikiran-pikiran rahasia) dalam ayat  وَ اِنۡ تَجۡہَرۡ بِالۡقَوۡلِ فَاِنَّہٗ یَعۡلَمُ السِّرَّ وَ اَخۡفٰی    --   “Dan jika engkau berkata  dengan suara keras maka sesung­guhnya Dia mengetahui yang rahasia dan   yang sangat ter­sembunyi  maksudnya pikiran-pikiran yang tersembunyi di dalam benak manusia  yang diketahui hanya oleh dirinya sendiri, sedang makna  akhfa  -- “lebih tersembunyi”  meliputi semua cita-cita,  gagasan, dan ambisi seseorang yang tersembunyi dalam kandungan masa depan dan yang belum pernah terlintas dalam pikirannya.
 Allah Swt.   adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui segala sesuatu  yang nyata mau yang gaib,   karena itu Dia pun Maha Mengetahui apa yang terjadi di masa depan  pada diri seseorang yang beriman mau pun  yang kafir  apakah di masa depan   keadaan mereka akan tetap beriman dan tetap kafir  ataukah mereka akan berubah, karena itu Allah Swt. senantiasa memberikan tenggang-waktu   kepada orang-orang kafir sampai batas tertentu sebelum menimpakan azab Ilahi yang diperingatkan kepada mereka  sampai datang kepada mereka rasul Allah yang dijanjikan  (QS.7:35-37), guna membedakan siapa yang keimanannya  kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya benar dan siapa yang  palsu (QS.17:16; QS.20:134-136; QS.28:60), firman-Nya:  
یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Mereka mengira telah memberi anugerah  kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ   -- Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islam-an kamu,  ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- bahkan  Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap kamu karena Dia telah memberi kamu petunjuk kepada iman, jika kamu orang-orang yang benar.” اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hujurāt [49]:18-19).

Allah Sendiri  Yang Memelihara Kesempurnaan Al-Quran dan Kesucian Nabi Besar Muhammad Saw. --  Bukan Pemeliharaan Terhadap Umat Islam

      Jadi, sungguh keliru jika di kalangan umat Islam ada pihak-pihak yang mendakwakan diri   paling berjasa dalam membela agama Islam (Al-Quran) dan  membela Nabi Besar Muhammad saw. – dengan mengenyampingkan sesama Muslim lainnya -- sebab Allah Swt. Sendiri yang telah menyatakan dengan tegas dalam Al-Quran bahwa  Dia Sendiri-lah yang akan memelihara kesempurnaan Al-Quran  sampai  Hari Kiamat, sebagaimana  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾   وَ لَقَدۡ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ شِیَعِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾  کَذٰلِکَ نَسۡلُکُہٗ فِیۡ  قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿ۙ﴾  لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ قَدۡ خَلَتۡ سُنَّۃُ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya. وَ لَقَدۡ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ شِیَعِ الۡاَوَّلِیۡنَ --   Dan  sungguh  Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau kepada umat-umat yang terdahulu. وَ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ   --  Dan  sekali-kali tidak  datang kepada mereka seorang rasul pun  melainkan mereka selalu  memperolok-olokkannya.    کَذٰلِکَ نَسۡلُکُہٗ فِیۡ  قُلُوۡبِ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  --    Demikianlah Kami memasukkan kebiasaan buruk ini  ke dalam hati orang-orang yang berdosa, لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ قَدۡ خَلَتۡ سُنَّۃُ الۡاَوَّلِیۡنَ --     Mereka itu  tidak beriman kepada Al-Quran ini, sekalipun telah berlalu sebelum mereka contoh orang-orang yang terdahulu.  (Al-Hijr [15]:10-14).
       Namun perlu diperhatikan pula, bahwa tidak ada satu ayat Al-Quran pun yang menyatakan bahwa Allah Swt. akan memelihara umat Islam dari keterpecah-belahan seperti yang terjadi di kalangan golongan Ahli Kitab (QS.3:103-106; QS.6:160;  QS.30:31-33) seperti yang saat ini terjadi di wilayah Timur Tengah atau di kawasan lainnya.

Nubuatan Kedatangan Kaum lain dari Kalangan  Umat Islam  di Akhir Zaman

      Mengapa demikian? Sebab Sunnatullah membuktikan  bahwa  jika suatu umat beragama  telah berlaku tidak bersyukur lagi kepada Allah Swt. dan  Rasul-Nya (QS.14:8) maka Allah Swt. akan membangkitkan kaum lain sebagai pengganti kaum yang tidak bersyukur tersebut, firman-Nya:
ہٰۤاَنۡتُمۡ ہٰۤؤُلَآءِ  تُدۡعَوۡنَ لِتُنۡفِقُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ۚ فَمِنۡکُمۡ  مَّنۡ یَّبۡخَلُ ۚ وَ مَنۡ یَّبۡخَلۡ  فَاِنَّمَا یَبۡخَلُ عَنۡ نَّفۡسِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ الۡغَنِیُّ  وَ اَنۡتُمُ الۡفُقَرَآءُ ۚ وَ اِنۡ  تَتَوَلَّوۡا یَسۡتَبۡدِلۡ  قَوۡمًا غَیۡرَکُمۡ ۙ ثُمَّ  لَا یَکُوۡنُوۡۤا  اَمۡثَالَکُمۡ ﴿﴾
Ingatlah, kamu adalah   orang-orang yang dipanggil untuk membelanjakan di jalan Allah, tetapi di antara kamu ada orang yang kikir, dan barangsiapa kikir maka sesungguhnya ia kikir terhadap dirinya sendiri. وَ اللّٰہُ الۡغَنِیُّ  وَ اَنۡتُمُ الۡفُقَرَآءُ --   Dan Allah Maha Kaya sedangkan  kamu orang-orang fakir, وَ اِنۡ  تَتَوَلَّوۡا یَسۡتَبۡدِلۡ  قَوۡمًا غَیۡرَکُمۡ ۙ  -- dan jika kamu berpaling Dia akan menggantikan kamu dengan suatu kaum selain kamu,  ثُمَّ  لَا یَکُوۡنُوۡۤا  اَمۡثَالَکُمۡ  --  kemudian mereka tidak akan menjadi seperti kamu.  (Muhammad [47]:39).
    Ketika kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  pada suatu peristiwa ditanyakan men genai siapa yang dituju oleh ayat: وَ اِنۡ  تَتَوَلَّوۡا یَسۡتَبۡدِلۡ  قَوۡمًا غَیۡرَکُمۡ ۙ  -- “dan jika kamu berpaling Dia akan menggantikan kamu dengan suatu kaum selain kamu”,     beliau  saw. menurut riwayat telah bersabda "Jika iman telah terbang ke Bintang Suraya, seorang keturunan bangsa Parsi akan membawanya kembali ke bumi" (Ruh-al-Ma'ani),  yaitu  berkait-erat juga dengan maka  ayat    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --   “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana    yang  secara khusus ditanyakan oleh Abu Hurairah r.a. kepada Nabi Besar Muhammad saw. ketika wahyu Al-Quran dalam surah Al-Jumu’ah berikut ini diwahyukan,  firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah,  وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ -- walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata;  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ      -- Dan juga Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara me-reka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --   Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62]:3-4).

Berbagai Makna Kemunculan  Kaum Lain” di Kalangan Umat Islam  &  Rasul Akhir Zaman

   Makna ayat:  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ      --  “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana bahwa berbeda dengan para rasul Allah sebelumnya yang hanya untuk kaum mereka masing-masing – termasuk Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:88-89; QS.61:6-7), pengutusan  dan ajaran  Nabi Besar Muhammad saw. tidak hanya   ditujukan  kepada bangsa Arab  (Bani Isma’il)  saja --  yang di tengah-tengah bangsa itu beliau saw. dibangkitkan   (ayat 3) --  melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab  atau kepada seluruh manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), dan juga   bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw. melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia yang akan datang hingga Hari Kiamat, termasuk di Akhir Zaman ini.
   Atau, ayat   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ      --  “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana dapat juga berarti bahwa setelah pengutusannya yang pertama di kalangan Bani Isma’il (bangsa Arab) yang jahiliyah, Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini  akan dibangkitkan lagi secara ruhani di antara kaum (umat Islam) yang belum pernah tergabung dalam para pengikut semasa hidup beliau saw.,  yaitu setelah umat Islam mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun sejak masa kejayaannya yang pertama selama 3 abad  (QS.32:6)  dalam wujud   Masih Mau’ud a.s.. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) guna mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ  ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ     -- walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.) sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.

Makna Keprihatinan  Rasul Akhir Zaman Melihat  Perlakuan  Terhadap Al-Quran

   Sehubungan dengan Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 tersebut  Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah  saw. ,  ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah  saw.   “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?”Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau  saw. pada Salman dan bersabda:Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
    Hadits Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  menunjukkan bahwa ayat    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?”  dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.  Dan Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau  Masih Mau’ud a.s.  – walau pun termasuk Ahli Bait Nabi Besar Muhammad saw. dari jalur Sayyidina Hassan  bin Ali bin Abi Thalib r.a.  --     adalah dari keturunan Parsi   -- yakni “kaum lain” yang bukan bangsa Arab sesuai dengan ayat tersebut.
   Hadits Nabi Besar Muhammad saw. lainnya menyebutkan bahwa kedatangan Al-Masih Mau’ud a.s. pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi).
    Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa ayat:  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ      --  “Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana     menunjuk kepada pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw.  secara ruhani   dalam wujud  Masih Mau’ud a.s. pada masa puncak kemunduran umat Islam selama 1000 tahun (QS.32:6) pada abad ke 14 Hijriyah, beliau itulah yang dimaksud rasul Allah dalam firman-Nya:
   وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku te-lah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا    --  Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan)  engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).

Kemunculan “Hizbullāh” (Jemaat Allah) yang Hakiki

        Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana petunjuk  Al-Quran   -- sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.  --  demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini, terutama di kawasan Timur Tengah, sesuai hadits  Nabi Besar Muhammad saw..   yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman).
         Sungguh masa sekarang-sekarang di Akhir Zaman  inilah saat yang dimaksudkan itu, sesuai dengan nubuatan dalam Al-Quran berikut ini, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
 Hai orang-orang yang beriman, مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ   --  barangsiapa di antara kamu  murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ  --  Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ  -- mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap  orang-orang beriman  dan keras (tegas) terhadap orang-orang kafir.  یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ  --  Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ  -- Itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki  وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ  -- dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.  اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ  --   Sesungguhnya pelindung kamu adalah Allah dan  Rasul-Nya  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ  --  dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.   وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  --  Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai pelindung, فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ  --  maka  sesungguhnya   jamaat Allah pasti menang. (Al-Māidah [55]:55-57). 
        Dalam rangka keberadaan “Hizbullāh” yang hakiki itulah  maka   sebabnya Allah Swt. dalam Al-Quran telah mengemukakan pentingnya kesinambungan kedatangan rasul Allah di kalangan Bani Adam,  karena Sunnatullāh berupa  pergantian malam  (kegelapan) dengan siang  (cahaya)  dan pergantian siang (cahaya) dengan malam (kegelapan) berlaku juga dalam keruhanian, itulah sebabnya Allah Swt. menyatakan  dalam Al-Quran bahwa “pergantian malam dan siang” merupakan bagian dari Tanda-tanda-Nya juga  (QS.10:68; QS.17:13; QS.7:27; QS.28:74; QS.30.24),  firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.    یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ     --    Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ  -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya.  (Al-A’rāf [7].7:35-37).  
       Tujuan kedatangan rasul Allah yang dijanjikan dari kalangan Bani Adam tersebut adalah untuk melepaskan manusia dari berbagai bentuk   kejahiliyah --   atau dari  “kegelapan malam”    (kesesatan)   -- yang   senantiasa kembali merebak  di kalangan umat beragama, setelah mengalami masa “siang” (petunjuk)  melalui pengutusan rasul Allah dari kalangan Bani Adam tersebut.
      Berikut ini   firman Allah Swt.  mengenai zaman kejahiliyah  yang paling hebat pada masa menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  – termasuk  selain kejahiliyah  di kalangan  Bani Isma’il  sendiri (QS.62:3)   -- firman-Nya:: 
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya. Katakanlah:  Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini.  کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ -- Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ  --    Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  4 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar