Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 79
JIHAD
AKBAR
MENGALAHKAN HAWA-NAFSU --GUNA “PENSUCIAN
JIWA” -- MERUPAKAN “MEDAN JIHAD DI JALAN ALLAH” YANG BEBAS SUASANA HIRUK-PIKUK
DAN KEKERASAN FISIK
YANG DILAKUKAN “ORANG-ORANG ARAB GURUN”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 78 dikemukakan topik
Terjadinya Azab Ilahi
yang Diperingatkan Allah Swt. & Tersebarnya
“Orang-orang Bermata Biru” yang
Takabbur. Sehubungan dengan hal tersebut berikut firman Allah Swt. kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ ؕ
وَ اِنَّ
جَہَنَّمَ لَمُحِیۡطَۃٌۢ
بِالۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ یَوۡمَ یَغۡشٰہُمُ
الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ وَ یَقُوۡلُ
ذُوۡقُوۡا مَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Mereka minta kepada engkau menyegerakan azab,
dan sesungguhnya Jahannam akan mengepung orang-orang
kafir. یَوۡمَ
یَغۡشٰہُمُ الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ
وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ -- Pada hari azab itu akan meliputi mereka dari atas mereka dan dari
bawah kaki mereka, یَقُوۡلُ
ذُوۡقُوۡا مَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ -- dan Dia
akan berfirman: “Rasakanlah apa yang
telah kamu kerjakan.” (Al-Ankabut [29]:55-56).
Ketika azab
Ilahi yang diperingatkan rasul Allah datang datang, maka datangnya
tiba-tiba dan cepat, dan bagaikan air
terjun menimpa dan meliputi orang-orang
ingkar dari segala jurusan itulah
makna ayat: وۡمَ یَغۡشٰہُمُ
الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ -- “pada hari azab itu akan meliputi mereka dari atas mereka dan dari
bawah kaki mereka.” (Al-Ankabut [29]:55-56).
Azab Ilahi yang Dijanjikan Allah
Swt. di Akhir Zaman
Azab
Ilahi yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. setelah
1000 tahun sejak 3 abad masa kejayaan Islam yang pertama (QS.32:6), firman-Nya:
وَ یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ
یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ کَاَلۡفِ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka meminta kepada engkau
untuk mempercepat azab, tetapi Allah
tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ
کَاَلۡفِ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ -- Dan
sesungguhnya satu hari di sisi Rabb
(Tuhan) engkau seperti
seribu tahun menurut perhitungan kamu. (Al-Hājj
[22]:48).
Nabi Besar Muhammad saw. menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad pertama Islam akan merupakan masa
yang terbaik (Tirmidzi), sesudah itu kepalsuan akan tersebar
dan suatu masa kegelapan akan datang
kepada umat Islam dan meluas sampai 1000 tahun. Masa 1000 tahun
ini dipersamakan dengan satu hari
(QS.32:6). Dalam masa ini satu kaum yang
bermata biru -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau fitnah
Dajjal -- akan bangkit dan menyebar luas
ke seluruh dunia termasuk ke wilayah-wilayah umat
Islam (QS.20:103-104; QS.21:96-101),
dan sebagai “sarana azab Ilahi ” bagi
mereka sebagai,ana yang pernah terjadi
terhadap Bani Israil (QS.17:5-9).
Orang-orang bermata biru -- yakni bangsa-bangsa
Kristen dari Barat -- itulah yang
karena sombong dan takaburnya, yang diakibatkan oleh karena
memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik (QS.18:1-9) telah
digambarkan memberi tantangan kepada
Nabi Besar Muhammad saw. untuk
mempercepat azab Ilahi yang —
begitulah dikatakan oleh beliau saw. — akan menimpa
mereka pada waktu yang ditentukan dan
dijanjikan itu, yakni pada abad 14 Hijriyah berupa Perang
Dunia I dan Perang Dunia II,
sedang ancaman mengerikan Perang
Dunia III atau Perang Nuklir pun hanya tinggal menunggu waktu saja. Wallahi ‘alam. Yang jelas Allah Swt. telah berfirman:
“Dan Kami tidak menimpakan azab hingga Kami terlebih dahulu mengirimkan seorang rasul,” selengkapnya Dia berfirman:
مَنِ
اہۡتَدٰی فَاِنَّمَا یَہۡتَدِیۡ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ
مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا
یَضِلُّ عَلَیۡہَا ؕ وَ لَا
تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ؕ وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ
حَتّٰی
نَبۡعَثَ رَسُوۡلًا ﴿﴾
وَ اِذَاۤ اَرَدۡنَاۤ اَنۡ
نُّہۡلِکَ قَرۡیَۃً اَمَرۡنَا مُتۡرَفِیۡہَا فَفَسَقُوۡا
فِیۡہَا فَحَقَّ عَلَیۡہَا الۡقَوۡلُ
فَدَمَّرۡنٰہَا
تَدۡمِیۡرًا ﴿﴾
Barangsiapa telah mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk faedah dirinya, dan barangsiapa
sesat maka kesesatan itu hanya kemudaratan
atas dirinya, dan tidak
ada pemikul beban akan memikul beban
orang lain. Dan
Kami tidak menimpakan
azab hingga Kami terlebih dahulu mengirimkan
seorang rasul. Dan apabila
Kami hendak membinasakan suatu kota,
Kami terlebih dahulu memerintahkan warganya yang hidup mewah
untuk menempuh kehidupan yang saleh, tetapi mereka durhaka di dalamnya, maka berkenaan
dengan kota itu firman Kami menjadi sempurna lalu Kami
menghancur-leburkannya. (Bani Israil [17]:16-17). Lihat pula QS.6:132;
QS.11:118; QS.20:134-136; QS.26:209;
QS.28:60.
Pentingnya Memiliki “Kesucian
Hati”
Jadi, betapa Kitab suci Al-Quran tidak sederhana
seperti perkiraan “orang-orang
awam” – yang senang menyederhanakan
persoalan agama -- misalnya mengenai makna jihad yang dimaksud Allah Swt. dalam Al-Quran
(QS.29:70) disederhanakan pengertiannya
atau disalah-tafsirkan sebagai cara paling
mudah untuk “masuk surga” melalui perbuatan “bunuh diri” atau dengan mengobral fatwa pengkafiran sesama Muslim
serta fatwa mengenai tuduhan-tuduhan
lainnya dan membunuh mereka sebagai bagian dari “jihad di jalan Allah.”
Padahal dengan tegas Allah Swt. telah
berfirman bahwa hanya “orang-orang yang telah disucikan-Nya”sajalah yang mampu “menyentuh kedalaman”
berbagai khazanah makrifat
Al-Quran yang hakiki, firman-Nya:
فَلَاۤ
اُقۡسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ ﴿ۙ﴾ وَ
اِنَّہٗ لَقَسَمٌ لَّوۡ
تَعۡلَمُوۡنَ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ
لَقُرۡاٰنٌ کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
فِیۡ کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا یَمَسُّہٗۤ اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ اَفَبِہٰذَا
الۡحَدِیۡثِ اَنۡتُمۡ مُّدۡہِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ تَجۡعَلُوۡنَ رِزۡقَکُمۡ
اَنَّکُمۡ تُکَذِّبُوۡنَ ﴿﴾
Maka Aku
benar-benar bersumpah demi bintang-bintang
berjatuhan, Dan
sesungguhnya itu benar-benar kesaksian agung, seandainya kamu mengetahui, اِنَّہٗ لَقُرۡاٰنٌ کَرِیۡمٌ -- Sesungguhnya itu benar-benar Al-Quran yang mulia, فِیۡ کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- dalam suatu kitab yang sangat terpelihara, لَّا یَمَسُّہٗۤ اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ -- yang
tidak
dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. تَنۡزِیۡلٌ
مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Wahyu
yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam. اَفَبِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ
اَنۡتُمۡ مُّدۡہِنُوۡنَ -- Maka
apakah terhadap firman
ini kamu menggap sepele? وَ تَجۡعَلُوۡنَ
رِزۡقَکُمۡ اَنَّکُمۡ
تُکَذِّبُوۡنَ -- Dan bahwa kamu
dengan mendustakannya kamu
menjadikannya sebagai rezekimu?
(Al-Wāqi’ah [56]:76-83).
Ayat 76 bersumpah
dengan dan berpegang kepada nujum yang berarti juga bagian-bagian
Al-Quran (Lexicon Lane),
sebagai bukti untuk mendukung pengakuan
bahwa Al-Quran -- sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) -- luar-biasa cocoknya untuk memenuhi tujuan besar di balik kejadian manusia, demikian pula untuk
membuktikan keberasalan Al-Quran
sendiri dari Allah Swt..
Jika kata mawāqi’ dalam ayat: فَلَاۤ
اُقۡسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ -- “Maka Aku
benar-benar bersumpah demi bintang-bintang
berjatuhan” diambil dalam
arti tempat-tempat dan waktu bintang-bintang berjatuhan, maka
ayat ini bermakna bahwa telah merupakan hukum
Ilahi yang tidak pernah salah bahwa pada saat ketika seorang mushlih rabbani (reformer) atau seorang nabi Allah yang dijanjikan datang (QS.7:35-37) terjadi
gejala meteoric berupa bintang-bintang berjatuhan dalam jumlah
luar biasa banyaknya, dan yang demikian itu telah terjadi juga di masa Nabi Besar Muhammad saw..
Makna ayat selanjutnya: اِنَّہٗ لَقُرۡاٰنٌ کَرِیۡمٌ -- “sesungguhnya itu benar-benar Al-Quran
yang mulia, فِیۡ
کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- dalam suatu kitab yang sangat terpelihara” bahwa Al-Quran itu sebuah Kitab
wahyu Ilahi yang terpelihara dan terjaga baik, (QS.15:10) merupakan tantangan terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad, tantangan itu tetap tidak terjawab atau tidak
mendapat sambutan.
Tidak ada upaya yang telah disia-siakan para pengecam Non-Muslim yang tidak bersahabat untuk mencela
kemurnian teksnya. Tetapi semua daya
upaya ke arah ini telah membawa kepada satu-satunya hasil yang tidak
terelakkan – walaupun tidak enak dirasakan oleh musuh-musuh – bahwa kitab
yang disodorkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. kepada dunia 14 abad yang lalu, telah sampai kepada kita tanpa perubahan barang satu huruf pun (Sir
Williams Muir).
Makna ayat: فِیۡ
کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- “dalam suatu kitab yang sangat terpelihara” bahwa Al-Quran
adalah sebuah Kitab yang sangat
terpelihara dalam pengertian bahwa
hanya orang-orang beriman yang hatinya bersih dapat meraih khazanah keruhanian seperti diterangkan
dalam ayat berikutnya: لَّا یَمَسُّہٗۤ
اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ -- “yang
tidak
dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.”
Ayat: فِیۡ کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- “dalam suatu kitab
yang sangat terpelihara” ini pun dapat berarti bahwa cita-cita dan asas-asas yang terkandung dalam Al-Quran
itu tercantum di dalam kitab alam,
yaitu cita-cita dan asas-asas itu sepenuhnya serasi dengan hukum alam. Seperti hukum
alam, demikian juga cita-cita dan asas-asas Al-Quran itu juga kekal dan tidak berubah
serta hukum-hukumnya tidak dapat dilanggar tanpa menerima hukuman.
Atau, ayat ini dapat
diartikan bahwa Al-Quran dipelihara dalam
fitrat yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia (QS.30:31). Fitrat
insani berlandaskan pada hakikat-hakikat
dasar dan telah dilimpahi kemampuan
untuk sampai kepada keputusan yang benar.
Orang yang secara jujur bertindak sesuai dengan naluri atau fitratnya ia dengan mudah dapat mengenal kebenaran Al-Quran.
Makna ayat
selanjutnya: لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ -- “yang
tidak dapat menyentuhnya kecuali orang-orang
yang disucikan.” Hanya orang
yang bernasib baik sajalah yang
diberi pengertian mengenai dan dan dapat mendalami kandungan
(khazanah) arti Al-Quran yang hakiki, melalui cara menjalani kehidupan bertakwa lalu meraih kebersihan hati dan mereka dimasukkan Allah Swt. ke dalam alam rahasia
ruhani makrifat Ilahi, yang tertutup bagi
orang-orang yang hatinya tidak bersih.
Secara sambil lalu
dikatakan dalam ayat: لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ – “yang tidak dapat menyentuhnya
kecuali orang-orang yang disucikan” bahwa orang-orang Islam hendaknya jangan
menyentuh atau membaca Al-Quran
sementara keadaan fisik yang tidak bersih.
Makna ayat selanjutnya: اَفَبِہٰذَا
الۡحَدِیۡثِ اَنۡتُمۡ مُّدۡہِنُوۡنَ
-- “maka apakah
terhadap firman ini kamu
menggap sepele? وَ تَجۡعَلُوۡنَ رِزۡقَکُمۡ
اَنَّکُمۡ تُکَذِّبُوۡنَ
-- Dan bahwa kamu dengan mendustakannya kamu menjadikannya sebagai rezekimu?” Orang-orang kafir takut kalau-kalau
mereka menerima kebenaran akan dijauhkan
dari sumber-sumber kehidupan duniawi
mereka.
Jadi, demi memperoleh keuntungan duniawi yang kotor itulah maka mereka menolak seruan Ilahi; atau, ayat ini
dapat diartikan bahwa orang-orang kafir
menolak kebenaran sebagai sesuatu yang seakan-akan kehidupan mereka bergantung padanya saja, sehingga bagaimana jua
pun keadaannya, mereka tidak akan
menerima kebenaran.
Jadi, berbeda dengan memahami masalah fiqih, untuk dapat menyentuh kedalaman kandungan khazanah Al-Quran yang tiada terhingga
(QS.18:119; QS.32:28) syarat
adanya kesucian hati sangat
diperlukan selain persyaratan
lainnya: َّا یَمَسُّہٗۤ
اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ – “yang tidak
dapat menyentuhnya kecuali orang-orang
yang disucikan.” (Al-Wāqi’ah [56]:80).
Kesederhanaan Pemahaman Keagamaan
“Orang-orang Arab Gurun”
Dengan demikian benarlah firman-Nya
mengenai kesederhanaan faham keagamaan “orang-orang
Arab gurun” yang dikemukakan dalam
firman-Nya:
قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ قُلۡ
لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ
قُوۡلُوۡۤا اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا
یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ
ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ
لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ
رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ
جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ
اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصّٰدِقُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ
اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ
اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا
تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ
اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ اَنۡ
ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ
اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Orang-orang Arab gurun berkata: “Kami
telah beriman.” قُوۡلُوۡۤا
اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ -- Katakanlah: “Kamu belum beriman, tetapi
katakanlah: “Kami telah berserah diri’, karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu.” وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ
اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- Tetapi jika
kamu menaati Allah dan Rasul-Nya,
Dia tidak akan mengurangi sesuatu dari
amal-amal kamu, sesungguhnya Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang. اِنَّمَا
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ
لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ -- Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian tidak ragu-ragu dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka
di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الصّٰدِقُوۡنَ -- Mereka itulah orang-orang yang benar. قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ
مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ
شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ -- Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal Allah
mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ -- Mereka
mengira telah memberi anugerah kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. قُلۡ لَّا تَمُنُّوۡا
عَلَیَّ اِسۡلَامَکُمۡ -- Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islaman kamu, ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ
عَلَیۡکُمۡ اَنۡ ہَدٰىکُمۡ لِلۡاِیۡمَانِ
اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ
-- bahkan Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap
kamu karena Dia telah memberi kamu
petunjuk kepada iman, jika kamu
orang-orang yang benar.” اِنَّ اللّٰہَ
یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya Allah
mengetahui yang gaib di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ
بَصِیۡرٌۢ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ -- Dan Allah
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hujurāt [49]:15-19).
Firman-Nya lagi:
اَلۡاَعۡرَابُ اَشَدُّ
کُفۡرًا وَّ نِفَاقًا وَّ اَجۡدَرُ اَلَّا یَعۡلَمُوۡا حُدُوۡدَ مَاۤ اَنۡزَلَ
اللّٰہُ عَلٰی رَسُوۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ مِنَ الۡاَعۡرَابِ مَنۡ یَّتَّخِذُ مَا یُنۡفِقُ مَغۡرَمًا وَّ یَتَرَبَّصُ بِکُمُ الدَّوَآئِرَ ؕ عَلَیۡہِمۡ دَآئِرَۃُ السَّوۡءِ ؕ وَ
اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Orang-orang Arab gurun itu sangat keras dalam kekafiran dan kemunafikan, karena itu mereka
pantas tidak mengetahui mengenai
batas-batas hukum yang diturunkan
Allah kepada Rasul-Nya, dan Allah
Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Dan di antara orang-orang Arab gurun itu ada
yang menganggap apa yang dibelanjakan di jalan Allah itu sebagai denda
dan ia menunggu-nunggu bencana-bencana menimpa
atas diri kamu. Atas merekalah bencana buruk akan
menimpa, dan Allah Maha Mendengar,
Maha Mengetahui. (At-Taubah
[9]:97-98).
Tidak Mencela “Buruk”
Semuanya & Pentingnya Ujian Keimanan
Namun
demikian pula Al-Quran pun tidak pernah “menyama-ratakan” mengenai perbuatan
buruk yang dilakukan oleh suatu kaum
– misalnya golongan Ahli Kitab (QS.3:111 & 200) – demikian pula dengan “orang-orang Arab gurun” pun ada pula orang-orang yang memiliki “kecerdasan
ruhani”, firman-Nya:
وَ مِنَ الۡاَعۡرَابِ مَنۡ یُّؤۡمِنُ
بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ
یَتَّخِذُ مَا یُنۡفِقُ قُرُبٰتٍ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ صَلَوٰتِ الرَّسُوۡلِ ؕ اَلَاۤ
اِنَّہَا قُرۡبَۃٌ لَّہُمۡ ؕ
سَیُدۡخِلُہُمُ اللّٰہُ فِیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾
Dan di
antara orang-orang Arab gurun itu ada pula yang beriman kepada Allah
dan kepada Hari Kemudian, dan menganggap apa yang dibelanjakannya itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai penarik doa-doa Rasul. اَلَاۤ اِنَّہَا قُرۡبَۃٌ لَّہُمۡ ؕ سَیُدۡخِلُہُمُ اللّٰہُ فِیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ
-- Ketahuilah,
sesungguhnya itulah sarana bagi mereka untuk mendekatkan diri, Allah
segera akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (At-Taubah [9]:99).
Al-Quran tak pernah mengutuk satu kaum seluruhnya tanpa memilah-milah. Ayat ini bertujuan hendak
melenyapkan salah paham bahwa semua orang Arab dusun itu jahat.
Kembali kepada masalah
kesederhanaan faham keagamaan
“orag-orang Arab gurun” (Al-Hujurāt
[49]:15-19). Mereka menyangka
bahwa untuk menjadi seorang “Muslim” yang hakiki itu cukup dengan
memiliki pemahaman dan pengamalan keagamaan secara alakadarnya saja, atau untuk meraih “kehidupan surgawi” di dunia dan di akhirat cukup dengan
melakukan beberapa tindakan saja -- misalnya melakukan “bom
bunuh diri” atau “tindakan praktis” yang bersifat paksaan
dan tindakan kekerasan lainnya dengan mengatas
namakan agama -- padahal Allah Swt. berfirman:
اَحَسِبَ
النَّاسُ اَنۡ یُّتۡرَکُوۡۤا اَنۡ یَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَ ہُمۡ لَا یُفۡتَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ
لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ الۡکٰذِبِیۡنَ
﴿﴾
Apakah manusia menyangka bahwa mereka
akan dibiarkan berkata: “Kami telah
beriman,” dan mereka tidak akan diuji?
Dan sungguh Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka pasti Allah mengetahui orang-orang yang
berkata benar dan pasti Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabūt
[29]:3-4). Lihat pula QS.2:215; QS.3:143 & 180; QS.9:16; QS.20:3-4.
Dua macam ‘Ilmu & Pentingnya Memohon Pertolongan
Ilahi Dengan Sabar dan Shalat
‘Ilm (ilmu) ada dua macam: (a) Ilmu berupa pengetahuan mengenai sesuatu sebelum sesuatu itu mengambil wujud. Ilmu semacam itu tidak dimaksudkan di
sini, sebab Allah Swt. adalah yang
paling mengetahui segala yang nampak maupun yang gaib (QS.59:23). (b) Ilmu berupa pengetahuan mengenai peristiwa yang benar-benar terjadi. Ilmu semacam itulah yang dimaksud di
sini.
Ayat
4 berarti bahwa makrifat Ilahi yang sederhana dan bertaraf rendah
akan mengambil bentuk ilmu lahiriah
(yang nyata). Atau ayat itu mengandung arti
bahwa Allah Swt. senantiasa akan memisahkan pendusta-pendusta dari orang-orang jujur dalam keimanannya kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya sebagaimana kata ‘ilm memiliki juga
pengertian membedakan antara dua
benda, terutama bila kata itu disusul oleh kata perangkai min (dari).
Lihat juga QS.2:144 dan QS.3:141.
Jadi, menurut ayat-ayat tersebut orang-orang yang beriman telah ditakdirkan
atau diwajibkan untuk melalui kesulitan-kesulitan besar dan serba berkekurangan, dan keimanan mereka mendapat ujian
yang berat; dan sesudah mereka keluar
dari percobaan-percobaan itu dengan berhasil
barulah kenyataan akan menjadi
terbukti bahwa mereka adalah hamba-hamba
Allah yang sejati dan tulus-ikhlas.
Dengan
melalui ujian keimanan inilah orang-orang yang keimanannya kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya benar dipisahkan dari orang-orang munafik, yakni
yang palsu dalam pengakuan iman mereka, firman-Nya: اِنَّمَا
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ ثُمَّ
لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ -- Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
kemudian tidak ragu-ragu dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka
di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ ہُمُ
الصّٰدِقُوۡنَ
-- Mereka itulah orang-orang yang benar? (Al-Hujurāt
[49]:16).
Selaras dengan pernyataan Allah Swt. tersebut Allah Swt. menjelaskan secara terinci macam-macam ujian keimanan di jalan-Nya
tersebut, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ
اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ
الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ
الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ
الَّذِیۡنَ اِذَاۤ
اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ
قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اُولٰٓئِکَ
عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ
اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, mohonlah
pertolongan dengan sabar dan
shalat, اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ -- sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ
فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ -- Dan janganlah
kamu mengatakan mengenai orang-orang
yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka
itu mati, tidak bahkan mereka
hidup, tetapi kamu tidak menyadari. وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ
وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ
الصّٰبِرِیۡنَ -- Dan Kami
niscaya akan menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan,
kelaparan, kekurangan
dalam harta, jiwa
dan buah-buahan, dan berilah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ
مُّصِیۡبَۃٌ ۙ -- Yaitu
orang-orang yang apabila
suatu musibah menimpa mereka,
قَالُوۡۤا
اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- mereka berkata: ”Sesungguhnya kami milik Allah
dan sesungguhnya kepada-Nya-lah
kami kembali.” اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ
رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ --
Mereka itulah orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Rabb (Tuhan)
mereka وَ اُولٰٓئِکَ
ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ
-- dan mereka inilah yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah
[2]:154-158).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 6 Desember 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar