Selasa, 13 Desember 2016

"Jihad Akbar" Mengalahkan "Hawa-nafsu" Guna "Pensucian Jiwa" Merupakan "Medan Jihad di jalan Allah" yang Bebas Kehiruk-pikukan Dan Kekerasan Fisik




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  79

JIHAD AKBAR MENGALAHKAN HAWA-NAFSU  --GUNA “PENSUCIAN JIWA” --  MERUPAKAN “MEDAN JIHAD DI JALAN ALLAH  YANG   BEBAS    SUASANA HIRUK-PIKUK DAN KEKERASAN  FISIK YANG DILAKUKAN “ORANG-ORANG ARAB GURUN   

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 78 dikemukakan     topik Terjadinya Azab Ilahi yang Diperingatkan Allah Swt. & Tersebarnya “Orang-orang Bermata Biru” yang Takabbur.  Sehubungan dengan hal tersebut  berikut firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ ؕ وَ  اِنَّ  جَہَنَّمَ لَمُحِیۡطَۃٌۢ  بِالۡکٰفِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  یَوۡمَ  یَغۡشٰہُمُ  الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ وَ یَقُوۡلُ ذُوۡقُوۡا مَا کُنۡتُمۡ  تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Mereka minta kepada engkau menyegerakan azab, dan sesungguhnya  Jahannam akan mengepung orang-orang kafir.  یَوۡمَ  یَغۡشٰہُمُ  الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ  --   Pada hari azab itu akan meliputi mereka dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka, یَقُوۡلُ ذُوۡقُوۡا مَا کُنۡتُمۡ  تَعۡمَلُوۡنَ --  dan Dia akan berfirman: “Rasakanlah apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Ankabut [29]:55-56).
      Ketika azab Ilahi yang diperingatkan  rasul Allah datang datang, maka datangnya tiba-tiba dan cepat, dan bagaikan air terjun menimpa dan meliputi orang-orang ingkar dari segala jurusan itulah makna ayat: وۡمَ  یَغۡشٰہُمُ  الۡعَذَابُ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ  --   “pada hari azab itu akan meliputi mereka dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (Al-Ankabut [29]:55-56).

Azab Ilahi yang Dijanjikan Allah Swt. di Akhir Zaman

        Azab Ilahi yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah  yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. setelah  1000 tahun  sejak  3 abad masa kejayaan Islam yang pertama (QS.32:6), firman-Nya:
وَ  یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah  tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.  وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ  -- Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau  seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu.  (Al-Hājj [22]:48).
         Nabi Besar Muhammad saw.  menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik (Tirmidzi),  sesudah itu kepalsuan akan tersebar dan suatu masa kegelapan akan datang kepada umat Islam  dan meluas sampai 1000 tahun. Masa 1000 tahun ini dipersamakan dengan satu hari (QS.32:6). Dalam masa ini satu kaum yang bermata biru   -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau fitnah Dajjal   -- akan bangkit dan menyebar luas ke seluruh dunia  termasuk ke wilayah-wilayah  umat Islam  (QS.20:103-104; QS.21:96-101), dan sebagai “sarana azab Ilahi   bagi mereka  sebagai,ana yang pernah terjadi terhadap Bani Israil (QS.17:5-9).
  Orang-orang bermata biru  -- yakni  bangsa-bangsa Kristen dari Barat   -- itulah yang karena sombong dan takaburnya, yang diakibatkan oleh karena memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik (QS.18:1-9) telah digambarkan memberi tantangan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   untuk mempercepat azab Ilahi yang — begitulah dikatakan oleh beliau saw. — akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan itu, yakni pada abad 14 Hijriyah berupa  Perang Dunia I dan Perang Dunia II, sedang ancaman mengerikan  Perang Dunia III atau Perang Nuklir  pun hanya tinggal menunggu waktu saja. Wallahi ‘alam.  Yang jelas Allah Swt. telah berfirman:    “Dan  Kami tidak menimpakan azab  hingga Kami  terlebih dahulu mengirimkan seorang rasul,” selengkapnya Dia berfirman: 
مَنِ اہۡتَدٰی فَاِنَّمَا یَہۡتَدِیۡ لِنَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ ضَلَّ فَاِنَّمَا یَضِلُّ عَلَیۡہَا ؕ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ؕ وَ مَا کُنَّا مُعَذِّبِیۡنَ  حَتّٰی  نَبۡعَثَ  رَسُوۡلًا ﴿﴾ وَ اِذَاۤ  اَرَدۡنَاۤ  اَنۡ نُّہۡلِکَ قَرۡیَۃً  اَمَرۡنَا مُتۡرَفِیۡہَا فَفَسَقُوۡا فِیۡہَا فَحَقَّ عَلَیۡہَا الۡقَوۡلُ  فَدَمَّرۡنٰہَا  تَدۡمِیۡرًا ﴿﴾
Barangsiapa telah mendapat petunjuk maka sesungguhnya petunjuk itu untuk faedah dirinya,  dan barangsiapa sesat maka kesesatan itu hanya kemudaratan atas dirinya,  dan  tidak ada pemikul beban akan memikul beban orang lain.    Dan  Kami tidak menimpakan azab  hingga Kami  terlebih dahulu mengirimkan seorang rasul   Dan  apabila Kami   hendak membinasakan suatu kota,  Kami terlebih dahulu memerintahkan warganya yang hidup mewah untuk menempuh kehidupan yang saleh, tetapi mereka durhaka di dalamnya,   maka berkenaan dengan kota itu firman Kami menjadi sempurna  lalu Kami menghancur-leburkannya. (Bani Israil [17]:16-17). Lihat pula QS.6:132; QS.11:118; QS.20:134-136; QS.26:209;  QS.28:60.

Pentingnya Memiliki  Kesucian Hati

        Jadi, betapa Kitab suci Al-Quran    tidak  sederhana  seperti perkiraan “orang-orang awam” – yang senang menyederhanakan persoalan agama  -- misalnya mengenai makna jihad  yang dimaksud Allah Swt. dalam Al-Quran (QS.29:70)  disederhanakan pengertiannya    atau disalah-tafsirkan  sebagai cara  paling  mudah untuk “masuk surga” melalui perbuatan “bunuh diri atau  dengan mengobral fatwa pengkafiran  sesama Muslim serta fatwa mengenai  tuduhan-tuduhan lainnya  dan membunuh mereka sebagai bagian dari “jihad di jalan Allah.”
       Padahal dengan tegas Allah Swt. telah berfirman bahwa  hanya “orang-orang yang telah disucikan-Nya”sajalah  yang mampu “menyentuh kedalaman  berbagai khazanah makrifat Al-Quran yang hakiki, firman-Nya:
فَلَاۤ   اُقۡسِمُ  بِمَوٰقِعِ  النُّجُوۡمِ ﴿ۙ﴾  وَ  اِنَّہٗ  لَقَسَمٌ  لَّوۡ  تَعۡلَمُوۡنَ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  تَنۡزِیۡلٌ  مِّنۡ  رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  اَفَبِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَنۡتُمۡ  مُّدۡہِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ تَجۡعَلُوۡنَ  رِزۡقَکُمۡ  اَنَّکُمۡ تُکَذِّبُوۡنَ ﴿﴾
Maka  Aku benar-benar bersumpah demi bintang-bintang berjatuhan,  Dan sesungguhnya itu benar-benar  kesaksian agung, seandainya kamu mengetahui,  اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ --  Sesungguhnya itu  benar-benar   Al-Quran yang mulia,  فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ  --   dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara,  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ --             yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan. تَنۡزِیۡلٌ  مِّنۡ  رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ  --            Wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam. اَفَبِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَنۡتُمۡ  مُّدۡہِنُوۡنَ  --            Maka apakah terhadap  firman  ini kamu menggap sepele?  وَ تَجۡعَلُوۡنَ  رِزۡقَکُمۡ  اَنَّکُمۡ تُکَذِّبُوۡنَ  --  Dan bahwa kamu dengan mendustakannya  kamu menjadikannya sebagai rezekimu?  (Al-Wāqi’ah [56]:76-83).
    Ayat  76 bersumpah dengan dan berpegang kepada nujum yang berarti  juga bagian-bagian Al-Quran (Lexicon Lane), sebagai bukti untuk mendukung pengakuan bahwa Al-Quran   -- sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4)   -- luar-biasa cocoknya untuk memenuhi tujuan besar di balik kejadian manusia, demikian pula untuk membuktikan keberasalan Al-Quran sendiri dari Allah Swt..
  Jika kata mawāqi’  dalam ayat: فَلَاۤ   اُقۡسِمُ  بِمَوٰقِعِ  النُّجُوۡمِ  -- “Maka  Aku benar-benar bersumpah demi bintang-bintang berjatuhandiambil dalam arti tempat-tempat dan waktu bintang-bintang berjatuhan, maka ayat ini bermakna bahwa telah merupakan hukum Ilahi yang tidak pernah salah bahwa pada saat ketika seorang mushlih rabbani (reformer) atau seorang nabi Allah  yang dijanjikan datang (QS.7:35-37) terjadi gejala meteoric berupa bintang-bintang berjatuhan dalam jumlah luar biasa banyaknya, dan yang demikian itu telah terjadi juga di masa  Nabi Besar Muhammad saw..  
     Makna ayat selanjutnya:  اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ --  “sesungguhnya itu  benar-benar   Al-Quran yang mulia,  فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ  --   dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara” bahwa Al-Quran itu sebuah Kitab wahyu Ilahi yang terpelihara dan terjaga baik, (QS.15:10) merupakan tantangan terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad, tantangan itu tetap tidak terjawab atau tidak mendapat sambutan.
    Tidak ada upaya yang telah disia-siakan para pengecam Non-Muslim yang tidak bersahabat untuk mencela kemurnian teksnya. Tetapi semua daya upaya ke arah ini telah membawa kepada satu-satunya hasil yang tidak terelakkan – walaupun tidak enak dirasakan oleh musuh-musuh – bahwa kitab yang disodorkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.   kepada dunia 14  abad yang lalu, telah sampai kepada kita tanpa perubahan barang satu huruf pun (Sir Williams Muir).
   Makna ayat: فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ  --   “dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara    bahwa Al-Quran adalah sebuah Kitab yang sangat terpelihara  dalam pengertian bahwa hanya orang-orang beriman yang hatinya bersih dapat meraih khazanah keruhanian seperti diterangkan dalam ayat berikutnya: لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ --              “yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan.”
    Ayat:   فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ  --   “dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara     ini pun dapat berarti bahwa cita-cita dan asas-asas yang terkandung dalam Al-Quran itu tercantum di dalam kitab alam, yaitu cita-cita dan asas-asas itu sepenuhnya serasi dengan hukum alam. Seperti hukum alam,  demikian juga cita-cita dan asas-asas  Al-Quran itu juga kekal dan tidak berubah serta hukum-hukumnya tidak dapat dilanggar tanpa menerima hukuman.
  Atau, ayat ini dapat diartikan bahwa Al-Quran dipelihara dalam fitrat yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia (QS.30:31). Fitrat insani berlandaskan pada hakikat-hakikat dasar dan telah dilimpahi kemampuan untuk sampai kepada keputusan yang benar. Orang yang secara jujur bertindak sesuai dengan naluri atau fitratnya  ia dengan mudah dapat mengenal kebenaran Al-Quran.
 Makna ayat selanjutnya:  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ --       “yang tidak dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan.”  Hanya  orang yang bernasib baik sajalah yang  diberi pengertian  mengenai dan dan dapat mendalami kandungan (khazanah) arti Al-Quran yang hakiki, melalui cara menjalani kehidupan bertakwa lalu meraih kebersihan hati dan mereka dimasukkan Allah Swt. ke dalam alam rahasia ruhani makrifat Ilahi, yang tertutup bagi orang-orang yang hatinya tidak bersih.
   Secara sambil lalu dikatakan  dalam ayat: لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan”   bahwa orang-orang Islam  hendaknya jangan menyentuh atau membaca Al-Quran sementara keadaan fisik yang  tidak bersih.
   Makna ayat selanjutnya: اَفَبِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَنۡتُمۡ  مُّدۡہِنُوۡنَ  --   “maka apakah terhadap  firman  ini kamu menggap sepele?  وَ تَجۡعَلُوۡنَ  رِزۡقَکُمۡ  اَنَّکُمۡ تُکَذِّبُوۡنَ  --  Dan bahwa kamu dengan mendustakannya  kamu menjadikannya sebagai rezekimu?”    Orang-orang kafir takut kalau-kalau mereka  menerima kebenaran akan dijauhkan dari sumber-sumber kehidupan duniawi mereka.
  Jadi, demi memperoleh keuntungan duniawi  yang  kotor itulah maka mereka menolak seruan Ilahi; atau, ayat ini dapat diartikan bahwa orang-orang kafir menolak kebenaran sebagai sesuatu yang seakan-akan kehidupan mereka bergantung padanya saja, sehingga bagaimana jua pun keadaannya, mereka tidak akan menerima kebenaran.
        Jadi, berbeda dengan    memahami masalah fiqih, untuk  dapat menyentuh kedalaman kandungan khazanah Al-Quran yang tiada terhingga (QS.18:119; QS.32:28)    syarat adanya  kesucian hati  sangat diperlukan selain persyaratan lainnya: َّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan.”   (Al-Wāqi’ah [56]:80).

Kesederhanaan Pemahaman Keagamaan  “Orang-orang Arab Gurun”

     Dengan demikian benarlah firman-Nya mengenai kesederhanaan faham keagamaan “orang-orang Arab gurun” yang dikemukakan dalam    firman-Nya: 
قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ قُلۡ لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ  قُوۡلُوۡۤا  اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الصّٰدِقُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿﴾  یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Orang-orang Arab gurun berkata: “Kami telah beriman.”  قُوۡلُوۡۤا  اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ  قُلُوۡبِکُمۡ   -- Katakanlah: “Kamu belum beriman,   tetapi katakanlah:  Kami telah berserah diri’, karena keimanan belum masuk ke dalam hati kamu.”   وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ --      Tetapi jika kamu menaati Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sesuatu dari amal-amal kamu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.    اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ  --  Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الصّٰدِقُوۡنَ   --  Mereka itulah orang-orang yang benar. قُلۡ اَتُعَلِّمُوۡنَ اللّٰہَ بِدِیۡنِکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  بِکُلِّ  شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ  --   Katakanlah, “Apakah kamu mengajarkan kepada Allah tentang agama kamu? Padahal  Allah mengetahui apa yang ada di seluruh langit dan bumi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” یَمُنُّوۡنَ عَلَیۡکَ اَنۡ  اَسۡلَمُوۡا ؕ قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ   --     Mereka mengira telah memberi anugerah  kepada engkau karena mereka telah menjadi orang Islam. قُلۡ  لَّا تَمُنُّوۡا عَلَیَّ  اِسۡلَامَکُمۡ   -- Katakanlah: “Janganlah kamu merasa memberi anugerah kepadaku karena ke-Islaman kamu,  ۚ بَلِ اللّٰہُ یَمُنُّ عَلَیۡکُمۡ  اَنۡ ہَدٰىکُمۡ  لِلۡاِیۡمَانِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ  -- bahkan  Allah-lah Yang memberi anugerah terhadap kamu karena Dia telah memberi kamu petunjuk kepada iman, jika kamu orang-orang yang benar.” اِنَّ  اللّٰہَ  یَعۡلَمُ غَیۡبَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ -- Sesungguhnya Allah mengetahui yang gaib di seluruh langit dan bumi. وَ اللّٰہُ  بَصِیۡرٌۢ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ  -- Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hujurāt [49]:15-19).
Firman-Nya lagi:
اَلۡاَعۡرَابُ اَشَدُّ کُفۡرًا وَّ نِفَاقًا وَّ اَجۡدَرُ اَلَّا یَعۡلَمُوۡا حُدُوۡدَ  مَاۤ  اَنۡزَلَ اللّٰہُ عَلٰی رَسُوۡلِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ مِنَ الۡاَعۡرَابِ مَنۡ یَّتَّخِذُ مَا یُنۡفِقُ مَغۡرَمًا وَّ یَتَرَبَّصُ بِکُمُ الدَّوَآئِرَ ؕ عَلَیۡہِمۡ دَآئِرَۃُ  السَّوۡءِ ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Orang-orang Arab gurun itu sangat keras dalam kekafiran dan kemunafikan, karena itu mereka pantas  tidak mengetahui mengenai batas-batas hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.  Dan di antara orang-orang Arab gurun itu ada yang menganggap apa yang dibelanjakan di jalan Allah itu sebagai denda dan ia menunggu-nunggu bencana-bencana menimpa atas diri kamu  Atas merekalah bencana buruk  akan menimpa, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (At-Taubah [9]:97-98).

Tidak  Mencela “Buruk” Semuanya & Pentingnya Ujian Keimanan

   Namun  demikian pula Al-Quran pun tidak pernah “menyama-ratakan”  mengenai perbuatan buruk yang dilakukan oleh suatu kaum – misalnya golongan Ahli Kitab  (QS.3:111 & 200)  – demikian pula dengan “orang-orang Arab gurun” pun ada pula orang-orang yang memiliki “kecerdasan ruhani”, firman-Nya:
وَ مِنَ الۡاَعۡرَابِ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  وَ یَتَّخِذُ مَا یُنۡفِقُ قُرُبٰتٍ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ صَلَوٰتِ الرَّسُوۡلِ ؕ اَلَاۤ اِنَّہَا قُرۡبَۃٌ  لَّہُمۡ ؕ سَیُدۡخِلُہُمُ اللّٰہُ  فِیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  ﴿٪﴾
Dan di antara orang-orang Arab gurun itu ada pula yang beriman kepada Allah dan kepada Hari Kemudian,  dan menganggap apa yang dibelanjakannya itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai penarik doa-doa Rasul. اَلَاۤ اِنَّہَا قُرۡبَۃٌ  لَّہُمۡ ؕ سَیُدۡخِلُہُمُ اللّٰہُ  فِیۡ رَحۡمَتِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  --  Ketahuilah, sesungguhnya itulah sarana bagi mereka untuk mendekatkan diri,  Allah segera akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (At-Taubah [9]:99).
        Al-Quran tak pernah mengutuk satu kaum seluruhnya tanpa memilah-milah. Ayat ini bertujuan hendak melenyapkan salah paham bahwa semua orang Arab dusun itu jahat. 
     Kembali kepada masalah kesederhanaan faham keagamaan “orag-orang Arab gurun”   (Al-Hujurāt [49]:15-19).    Mereka menyangka bahwa     untuk menjadi seorang “Muslim” yang hakiki itu cukup dengan memiliki pemahaman dan pengamalan keagamaan  secara alakadarnya saja,  atau untuk meraih “kehidupan surgawi    di dunia dan di akhirat   cukup dengan melakukan beberapa tindakan saja  -- misalnya melakukan  bom bunuh diri  atau “tindakan praktis” yang bersifat  paksaan dan  tindakan kekerasan  lainnya  dengan mengatas namakan agama      --    padahal Allah Swt. berfirman:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ یُّتۡرَکُوۡۤا اَنۡ یَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَ ہُمۡ  لَا یُفۡتَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ فَتَنَّا الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ فَلَیَعۡلَمَنَّ اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ صَدَقُوۡا وَ لَیَعۡلَمَنَّ  الۡکٰذِبِیۡنَ  ﴿﴾
Apakah manusia menyangka  bahwa mereka akan dibiarkan berkata: “Kami telah beriman,” dan  mereka tidak akan diuji?  Dan  sungguh Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka pasti Allah   mengetahui orang-orang yang berkata benar dan pasti Dia  mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabūt [29]:3-4). Lihat pula QS.2:215; QS.3:143 & 180; QS.9:16; QS.20:3-4.

Dua macam ‘Ilmu  & Pentingnya Memohon Pertolongan Ilahi  Dengan Sabar dan Shalat

   ‘Ilm (ilmu) ada dua macam: (a) Ilmu berupa pengetahuan mengenai sesuatu sebelum sesuatu itu mengambil wujud. Ilmu semacam itu tidak dimaksudkan di sini, sebab Allah Swt.  adalah yang paling mengetahui segala yang nampak maupun yang gaib (QS.59:23). (b) Ilmu berupa pengetahuan mengenai peristiwa yang benar-benar terjadi. Ilmu semacam itulah yang dimaksud di sini.
    Ayat  4  berarti bahwa makrifat Ilahi yang sederhana dan bertaraf rendah akan mengambil bentuk ilmu lahiriah (yang nyata). Atau ayat itu mengandung arti  bahwa Allah Swt.  senantiasa akan memisahkan pendusta-pendusta dari orang-orang jujur dalam keimanannya kepada Allah  Swt. dan Rasul-Nya  sebagaimana kata ‘ilm memiliki juga pengertian membedakan antara dua benda, terutama bila kata itu disusul oleh kata perangkai min (dari). Lihat juga QS.2:144 dan QS.3:141.
       Jadi, menurut ayat-ayat tersebut orang-orang yang beriman  telah ditakdirkan atau diwajibkan untuk melalui kesulitan-kesulitan besar dan serba berkekurangan, dan keimanan mereka mendapat ujian yang berat; dan sesudah mereka keluar dari percobaan-percobaan itu dengan berhasil  barulah kenyataan akan menjadi terbukti  bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang sejati dan tulus-ikhlas.
         Dengan  melalui ujian keimanan inilah  orang-orang yang keimanannya  kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya benar  dipisahkan dari orang-orang munafik, yakni  yang palsu dalam pengakuan iman mereka, firman-Nya:  اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہٖ  ثُمَّ لَمۡ یَرۡتَابُوۡا وَ جٰہَدُوۡا بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ  --  Sesungguhnya orang beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu-ragu dan terus berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الصّٰدِقُوۡنَ   --  Mereka itulah orang-orang yang benar? (Al-Hujurāt [49]:16).
       Selaras dengan pernyataan  Allah Swt. tersebut Allah Swt.   menjelaskan secara terinci macam-macam ujian keimanan  di jalan-Nya tersebut, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾ۙ   الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ ﴿﴾ؕ اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat, اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ  -- sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ یُّقۡتَلُ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتٌ ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا تَشۡعُرُوۡنَ  -- Dan  janganlah kamu mengatakan mengenai orang-orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa  mereka itu mati, tidak bahkan mereka hidup,  tetapi kamu tidak menyadari. وَ لَنَبۡلُوَنَّکُمۡ بِشَیۡءٍ مِّنَ الۡخَوۡفِ وَ الۡجُوۡعِ وَ نَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَ الۡاَنۡفُسِ وَ الثَّمَرٰتِ ؕ وَ بَشِّرِ الصّٰبِرِیۡنَ           --  Dan  Kami niscaya  akan  menguji kamu dengan sesuatu berupa ketakutan, kelaparan,  kekurangan dalam harta,  jiwa dan buah-buahan,     dan berilah kabar gembira kepada  orang-orang yang sabar. الَّذِیۡنَ اِذَاۤ  اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ  ۙ     --  Yaitu orang-orang yang  apabila  suatu musibah menimpa mereka,  قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ  -- mereka berkata:  Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali.”  اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ   -- Mereka itulah  orang-orang yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Rabb (Tuhan) mereka وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ  --  dan mereka inilah  yang mendapat petunjuk. (Al-Baqarah [2]:154-158).

 (Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  6 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar