Rabu, 21 Desember 2016

Hakikat "Kelekatan Empat Burung" Nabi Ibrahim a.s. & Rahasia "Kecintaan" Hakiki Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw.

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  86

HAKIKAT “KELEKATAN  EMPAT BURUNG” NABI IBRAHIM A.S.   & RAHASIA KECINTAAN HAKIKI PARA SAHABAT NABI BESAR MUHAMMAD SAW.


 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 85  dibahas  topik    Perbedaan Iman dan Ithminan   mengenai Nabi Ibrahim a.s. dan “empat ekor burung” dalam ayat sebelumnya mengenai jawaban Nabi Ibrahim a.s. atas pertanyaan Allah Swt. dalam ayat: قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ  --  Dia berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?” قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ  --  Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram”  dalam  firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اَرِنِیۡ  کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ  قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara Engkau menghidupkan yang mati?” قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ  --  Dia berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?” قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ  --  Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.” قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا --  Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka ke-pada engkau, kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada engkauوَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ --  dan Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:261).
       Perbedaan antara iman dan ithminan (hati dalam keadaan tenteram) ialah, dalam keadaan pertama (iman), orang hanya percaya bahwa  Allah Swt. benar-benar dapat atau berkuasa untuk berbuat sesuatu, sedangkan dalam keadaan kedua (ithminan) orang mendapat kepastian bahwa sesuatu itu  dapat pula berlaku  (terjadi) atas dirinya.
     Nabi Ibrahim a.s.   sungguh beriman (percaya) bahwa Allah Swt.   dapat menghidupkan yang sudah mati, tetapi apa yang diinginkan beliau ialah kepuasan pribadi untuk mengetahui apakah Allah Swt.   akan berbuat demikian untuk beliau dan keturunan beliau, karena  Allah Swt. telah menjadikan beliau sebagai imam bagi umat manusia (QS.2:125).
      Menunjuk kepada ayat yang ada dalam bahasan Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan telah bersabda: “Kita lebih layak menaruh syak   daripada  Ibrahim” (Muslim). Kata syak  berarti keinginan keras yang tersembunyi, menunggu dengan penuh harapan akan sempurnanya keinginan itu, sebab  Nabi Besar Muhammad saw.   tidak pernah ragu-ragu mengenai janji atau apa pun perbuatan Allah Swt..                Hal itu menunjukkan bahwa pertanyaan   Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat:  وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اَرِنِیۡ  کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی --  “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara Engkau menghidupkan yang mati?”      tidak terdorong oleh keraguan, tetapi hanya oleh kedambaan yang sangat yakni agar  ithminan: قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ  --  Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.”

Pentingnya “Melekatkan Hati” Manusia   Dengan Kecintaan

        Makna ayat selanjutnya yang banyak orang salah menafsirkan: "Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka kepada engkau, kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, kemudian  mereka dengan cepat akan datang kepada engkau.”           Shurtu al ghushna ilayya berarti  “saya mencondongkan dahan itu kepadaku sendiri” (Lexicon Lane). Kata depan ila menentukan arti kata shurhunna dalam artian mencondongkan atau melekatkan dan bukan memotong, seperti umumnya diterjemahkan dalam berbagai tafsir Al-Quran, sebab menganggap pertanyaan Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat: کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی  --  “bagaimana cara menghidupkan yang mati” merujuk kepada kematian jasmani, karena itu mereka menerjemahkan  kalimat فَصُرۡہُنَّ  adalah bahwa keempat ekor burung itu    “dipotong-potong” menjadi beberapa bagian, padahal yang dimaksud  Nabi Ibrahim a.s. adalah bagaimana cara menghidupkan orang-orang yang  secara ruhani telah mati di kalangan keturunan beliau,  baik dari kalangan Bani Israil mau pun Bani Isma’il.
        Dengan demikian makna  perintah فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ    dalam ayat:   Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung  فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ"   bukan berarti “lalu potong-potonglah” melainkan maknanya  “condongkanlah hati burung-burung itu kepada engkau”  --  yakni  “jinakkan burung-burung itu sehingga lekat kepada engkau“ –     itulah sebabnya  ketika burung-burung tersebut dipanggil  Nabi Ibrahim a.s. mereka   segera  datang   kepada beliau, itulah makna ayat:  "Dia berfirman: “Jika   demikian, maka ambillah empat ekor burung فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ -- lalu jinakkanlah mereka kepada engkau, kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung  ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا --  lalu panggillah mereka, kemudian  mereka dengan cepat akan datang kepada engkau.” 
      Contoh yang paling mudah dimengerti  mengenai  makna kata “fanshurhunna ilayka” berkenaan dengan “empat burung” Nabi Ibrahim a.s. adalah permainan memanggil burung merpati jantan yang sedang terbang tinggi  oleh pemiliknya dengan  cara menggerak-gerakkan burung merpati betina pasangannya di tangannya. Karena  adanya allafa (kelekatan hati) di antara pasangan burung merpati tersebut maka burung merpati jantan  segera akan turun dari ketinggian dan akan bertengger di punggung burung merpati betina yang ada di tangan pemiliknya.

Kasih-Sayang” Nabi Besar Muhammad saw. Penyebab Timbulnya Kecintaan Luar-biasa Para Sahabat r.a. Kepada Beliau Saw.
  
        Kemudian mengenai makna kata   juz’a  dalam ayat selanjutnya:  ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا – “kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung”, kata جُزۡءًا  berarti suku,  bagian atau sesuatu. Jadi, jika sesuatu terdiri atas atau meliputi suatu rombongan   maka kata  جُزۡءًا   -- “bagian” akan berarti tiap-tiap anggotanya.
        Dengan demikian  kata  جُزۡءًا berkenaan “empat ekor burung” Nabi Irahim a..s bukan merujuk kepada bagian-bagian tubuh keempat ekor burung yang telah dipotong-potong – untuk kemudian dihidupkan kembali oleh Allah Swt.  -- melainkan tertuju kepada masing-masing burung itu sendiri,  yang setelah terlebih dulu “dijinakkan” oleh Nabi Ibrahim a.s. – kemudian  keempat ekor burung  tersebut diperintahkan Allah Swt. agar diletakkan masing-masing satu ekor buruk  empat ditempatkan pada empat buah   gunung, firman-Nya: ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا  -- “kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا --   maka   mereka dengan cepat akan datang kepada engkau”.
         Jadi,  makna kalimat   فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ      --  “maka condongkanlah kepada engkau”  atau     “jinakkanlah kepada engkau”  berkenaan dengan "burung-burung" Nabi Ibrahim a.s. selaras dengan firman Allah Swt.  berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.  berkenaan kata allafa: 
وَ اَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ  اَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka,   seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau  sekali-kali tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka tetapi Allah  telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-An’ām [6]:64).

Nabi Besar Muhammad Saw. Adalah  “Rahmat Bagi Seluruh Alam

        Makna kata allafa dalam ayat:   “Dan  Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka” tersebut adalah berkenaan dengan “kecintaan” yang  luar biasa para sahabah Nabi Besar Muhammad saw. kepada beliau saw. yang dilandasi oleh keimanan yang hakiki  kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, yang menurut Allah Swt. tidak mungkin  terjadi kecintaan seperti itu sekali pun  melakukan berbagai upaya duniawi yang bagaimanapun coraknya, firman-Nya: “Seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau  sekali-kali tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka,  tetapi Allah  telah menanamkan kecintaan di antara mereka,  sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.“
        Kata-kata:  فَبِمَا رَحۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ لِنۡتَ لَہُمۡ   -- maka karena rahmat dari Allah-lah ۡ engkau bersikap lemah-lembut terhadap mereka”   melukiskan keindahan watak  atau akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw..   Di antara perangai yang paling baik lagi menonjol adalah kasih-sayang beliau saw. yang meliputi segala sesuatu, karena pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  merupakan “rahmat bagi seluruh alam”  (QS.21:108).
       Nabi Besar Muhammad saw.  penuh dengan kemesraan cinta-kasih manusiawi, dan beliau saw. bukan saja berlaku baik terhadap para sahabat dan para pengikut beliau saw., bahkan  penuh kasih-sayang dan belas-kasih terhadap musuh-musuh beliau saw. yang senantiasa mencari-cari kesempatan untuk menikam dari belakang.
     Terukir di dalam sejarah bahwa Nabi Besar Muhammad saw. tidak mengambil tindakan hukum apa pun terhadap orang-orang munafik Madinah yang melakukan pengkhianatan telah meninggalkan beliau saw. dan  orang-orang beriman pada waktu Perang Uhud. Bahkan beliau saw. meminta musyawarah (pendapat) mereka dalam urusan kenegaraan sesuai perintah Allah Swt.: وَ شَاوِرۡہُمۡ فِی الۡاَمۡرِ    -- “dan bermusyawarahlah  dengan mereka dalam urusan yang penting.”

Kekeliruan Sangkaan Orang-orang Munafik Mengenai Keimanan dan Kesetiaan Para Sahabat Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Segala Kondisi

     Pengampunan umum yang Nabi Besar Muhmmad saw. berikan  para waktu peristiwa  “Fatah Mekkah” terhadap para penduduk Mekkah  --  yang telah mengusir beliau saw. dari Mekkah (QS.8:31), bahkan mereka terus menerus mengejar beliau saw. dan kaum Muslimin yang telah hijrah ke Madinah, merupakan  bukti lainnya mengenai sifat “rahmat bagi seluruh alam” yang diperagakan Nabi Besar Muhammad saw., sehingga hasilnya yang pasti adalah terjadinya allafa  (kelekatan hati dengan kecintaan) terhadap Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ  اَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan  Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka,   ً seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau  sekali-kali tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka,   tetapi Allah  telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-An’ām [6]:64).
        Rahasia terjadinya allafa – yakni kecintaan hakiki  -- para sahabat r.a. kepada Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang tidak difahami  orang-orang munafik Madinah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul, firman-Nya:
ہُمُ  الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ  لَا تُنۡفِقُوۡا عَلٰی مَنۡ عِنۡدَ  رَسُوۡلِ اللّٰہِ  حَتّٰی  یَنۡفَضُّوۡا ؕ وَ لِلّٰہِ خَزَآئِنُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنَّ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ  لَا  یَفۡقَہُوۡنَ ﴿﴾  یَقُوۡلُوۡنَ  لَئِنۡ  رَّجَعۡنَاۤ  اِلَی  الۡمَدِیۡنَۃِ لَیُخۡرِجَنَّ الۡاَعَزُّ  مِنۡہَا الۡاَذَلَّ ؕ وَ لِلّٰہِ الۡعِزَّۃُ  وَ لِرَسُوۡلِہٖ وَ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ لٰکِنَّ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ  لَا  یَعۡلَمُوۡنَ ٪﴿﴾
Merekalah orang-orang yang berkata: لَا تُنۡفِقُوۡا عَلٰی مَنۡ عِنۡدَ  رَسُوۡلِ اللّٰہِ  حَتّٰی  یَنۡفَضُّوۡا --  “Janganlah kamu membelanjakan harta bagi orang yang bersama Rasul Allah, supaya mereka lari karena kelaparan. وَ لِلّٰہِ خَزَآئِنُ  السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنَّ  الۡمُنٰفِقِیۡنَ  لَا  یَفۡقَہُوۡنَ --    Padahal kepunyaan Allah khazanah-khazanah seluruh langit dan bumi,  tetapi orang-orang munafik itu tidak mengerti.  (Al-Munafiqun [QS.63:8)
          Karena tidak ada ketulusan dan kejujuran dalam dirinya,   orang-orang munafik memandang orang-orang lain seperti dirinya sendiri. Kaum munafiqin Medinah membuat pikiran totol dan keliru sama sekali mengenai ketulusan tujuan dan keimanan para sahabat Nabi Besar Muhammad saw., sebab mereka menyangka para sahabat telah berkumpul di sekitar beliau saw. karena pertimbangan kepentingan duniawi, dan mereka menyangka apabila mereka (para sahabat) itu menyadari bahwa harapan mereka itu tidak terlaksana, mereka itu akan meninggalkan Nabi Besar Muhammad saw. Tetapi perjalanan masa membatalkan sama sekali segala harapan mereka yang sia-sia itu.

Penyebab “Kelekatan Hati” Kaum Quraisy Terhadap Kota Mekkah

    Kemudian masih sehubungan makna kata allafa  (melekatkan hati dengan kecintaan)   dalam hubungannya dengan ayat fashurhunna ilayka  --  (condongkanlah kepada engkau) berkenaan “empat burung” Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:261), Allah Swt. berfirman mengenai allafa (kelekatan hati)  kaum Quraisy trehadap kota Mekkah:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  لِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ ۙ﴿﴾   اٖلٰفِہِمۡ  رِحۡلَۃَ  الشِّتَآءِ  وَ الصَّیۡفِ ۚ﴿ ﴾  فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayangلِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ      --  Tuhan engkau membinasakan para pemilik gajah untuk melekatkan hati  orang-orang Quraisyٖلٰفِہِمۡ  رِحۡلَۃَ  الشِّتَآءِ  وَ الصَّیۡفِ --     Untuk melekatkan kecintaan   mereka pada  perjalanan  di musim dingin dan musim panas. فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ     -- Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik   Rumah ini, الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ  -- Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan.   (Al-Quraisy [106]:1-5).
    Kata Īlāf dalam ayat:   "Tuhan engkau membinasakan para pemilik gajah untuk melekatkan hati  orang-orang Quraisy   sebagai masdar dari alafa berarti: melekatkan atau membuat sesuatu melekat pada suatu benda; mencintai dan membuat seseorang mencintai seorang pribadi atau sesuatu; membekali seseorang dengan sesuatu; perjanjian atau kewajiban yang menyangkut pertanggung-jawaban untuk keselamatan; perlindungan (Lexicon Lane).
  Kata quraisy   yang diserap dari akar-kata qarasya yang berarti: ia mengum-pulkannya dari sana-sini dan melekatkan sebagian darinya kepada bagian lainnya (Aqrab-ul-Mawarid). Suku Quraisy disebut demikian karena salah seorang dari moyang mereka, Qushay Ibn Kilāb bin Nadhr telah membujuk mereka dari segala bagian negeri Arab, yang tadinya menjalani hidup mengembara, berhijrah untuk kemudian menetap di Mekkah. Dari Banu Kinanah, hanya keturunan Nadr saja menetap dan oleh sebab mereka hanya merupakan kelompok kecil, mereka disebut Quraisy,  yang berarti suatu kelompok kecil yang telah dikumpulkan dari sana-sini.

Pengabulan Doa Nabi Ibrahim a.s. Mengenai Penduduk Mekkah
     Makna  ayat:     "Untuk melekatkan kecintaan   mereka pada  perjalanan  di musim dingin dan musim panas”,   karena huruf lam itu partikel dan dalam bahasa Arab kalimat baru tidak pernah dimulai dengan partikel, oleh karena itu suatu kalimat atau anak kalimat atau ungkapan haruslah dianggap mahzuf   -- yakni   harus ada, tetapi tidak disebutkan atau dinyatakan  -- sebelum ayat ini.
  Kalimat mahzuf itu kira-kira begini bunyinya: “Hai Muhammad, herankah engkau atas karunia Allah terhadap kaum Quraisy, karena Dia telah menimbulkan di dalam hati mereka kesukaan mengembara di musim dingin maupun di musim panas?”  
   Karunia Allah Swt. itu terwujud dalam kenyataan bahwa dengan membawa kafilah-kafilah niaga itu, kaum Quraisy berangsur-angsur memperoleh semacam wibawa dan menambah kesejahteraan kota mereka (Mekkah),   dan juga menjadikan mereka  mengetahui akan adanya nubuatan-nubuatan  mengenai kemunculan seorang Nabi agung di tanah Arab  sebagai akibat dari hubungan mereka dengan orang-orang Yahudi asal Yaman dan orang-orang Nasrani asal Siria, yang mengetahui nubuatan-nubuatan itu.
    Kaum Quraisy itu begitu terikat kepada tanah mereka dan mempunyai kecintaan mendalam kepada Ka’bah (Baitullah), sehingga lebih suka mati kelaparan daripada meninggalkannya, sekalipun hanya untuk sementara waktu. Adalah berkat anjuran Hasyim, nenek mo-yang Nabi Besar Muhammad saw., makanya mereka menyambut baik ajakan itu.
     Dengan demikian, hal itu merupakan karunia besar sekali bagi mereka, bahwa perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat itu selain faedah-faedah yang diraih dari perjalanan-perjalanan mereka,  mereka pun sedang dipersiapkan agar mereka dapat menerima Nabi Besar Muhammad saw  yang kedatangannya diharapkan akan segera terjadi, sebagai pengabulan doa dari leluhur mereka, Nabi Ibrahim a.s.  (QS.2:126-130; QS.14:36:42).

Hikmah Dihancurkan-Nya Bala Tentara Gajah Abrahah

    Ada penjelasan lain mengenai ayat ini, barangkali lebih cocok dalam hubungan ini yang kira-kira sebagai berikut: “Hai MuhammadTuhan engkau telah membinasakan para pemilik gajah supaya hati orang-orang Quraisy melekat pada kegemaran mereka, berkelana bebas bagi mereka.” Penjelasan ini sangat dapat diterima oleh akal, sebab seandainya Abraha dan pasukannya   -- tepat pada hari kelahiran Nabi Besar Muhammad saw.  -- tidak dibinasakan  Allah Swt. niscaya orang-orang Quraisy tidak akan suka bepergian ke tempat-tempat itu, dan perjalanan-perjalanan niaga mereka pun tidak akan aman.
     Jadi, kebinasaan Abraha – Raja Muda Kristen dari Yaman  --  dan bala tentaranya yang bermaksud menghancurkan Baitullah di Mekkah, selain membuka jalan untuk perjalanan-perjalanan niaga bagi kaum Quraisy, juga Ka’bah nampak lebih suci dan lebih keramat lagi dalam pandangan orang-orang Arab, tempat yang bagi mereka sebelumnya pun telah merupakan tempat ziarah.
   Ziarah para penduduk Arabia  ke Baitullah di Mekkah tersebut itu pada gilirannya menambah dorongan kepada peningkatan perdagangan kaum Quraisy. Ayat ini dapat pula berarti, “Tuhan engkau menghancurkan para pemilik gajah sebagai tindak pemeliharaan bagi kaum Quraisy.” Dan untuk menggugah kaum Quraisy terhadap “rahmat dan karunia” Allah Swt. serta sebgaai rasa syukur  mereka kepada Allah Swt. selanjutnya Dia berfirman: فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ     --  Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik   Rumah ini.”
    Makna ayat: الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ  -- Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan.” Orang-orang Quraisy dianugerahi jaminan keselamatan dan kebebasan dari ketakutan, sedang kaum-kaum  serta keadaan sekitar mereka seluruhnya dicekam oleb rasa ketakutan dan ketidak-amanan.
    Di samping itu, sepanjang tahun mereka mempunyai persediaan segala macam buah-buahan dan makanan. Kesemuanya itu bukan hanya secara kebetulan belaka. Hal demikian itu sesuai dengan rencana Ilahi dan memenuhi nubuatan  yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim a.s. 2.500 tahun yang telah silam (QS.2:127, 130 dan QS.14:36, 38).
   Jadi, surah Al-Quraisy  memberikan pengertian kepada kaum Quraisy akan kesalahan sikap ketidak-bersyukuran mereka, dengan memberitahukan  bahwa mereka telah memilih penyembahan kepada tuhan-tuhan terbuat dari kayu dan batu  daripada menyembah kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, -- yakni Allah Swt.  -- Yang telah menganugerahkan kepada mereka karunia-karunia besar dan jaminan keamanan, keselamatan dan ketakutan dan kelaparan, sehingga hati mereka senantiasa  melekat (allafa) dan “mencintai kota Mekkah”: فَلۡیَعۡبُدُوۡا  رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ     --  Maka hendaklah mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik   Rumah ini, الَّذِیۡۤ  اَطۡعَمَہُمۡ  مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ  -- Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan. (Al-Quraisy [106]:4-5).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,   14 Desember  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar