Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 86
HAKIKAT “KELEKATAN EMPAT BURUNG”
NABI IBRAHIM A.S. & RAHASIA KECINTAAN HAKIKI PARA SAHABAT NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 85 dibahas topik Perbedaan Iman
dan Ithminan mengenai Nabi Ibrahim a.s. dan “empat ekor burung” dalam ayat sebelumnya
mengenai jawaban Nabi Ibrahim a.s.
atas pertanyaan Allah Swt. dalam
ayat: قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ -- Dia berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?” قَالَ
بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ -- Ia
berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku
tanyakan supaya hatiku tenteram” dalam
firman-Nya:
وَ
اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ
اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ
لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً
مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ
مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara
Engkau menghidupkan yang mati?” قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ -- Dia
berfirman: “Apakah engkau tidak percaya?”
قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ
-- Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.” قَالَ
فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ
اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ
سَعۡیًا -- Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka ke-pada engkau, kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau, وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ -- dan Ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa,
Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah
[2]:261).
Perbedaan antara iman dan ithminan (hati dalam keadaan
tenteram) ialah, dalam keadaan pertama (iman), orang hanya percaya bahwa Allah Swt.
benar-benar dapat atau berkuasa untuk berbuat sesuatu, sedangkan dalam keadaan kedua (ithminan) orang
mendapat kepastian bahwa sesuatu itu dapat pula berlaku
(terjadi) atas dirinya.
Nabi Ibrahim a.s. sungguh beriman (percaya) bahwa Allah Swt. dapat
menghidupkan yang sudah mati,
tetapi apa yang diinginkan beliau
ialah kepuasan pribadi untuk
mengetahui apakah Allah Swt. akan
berbuat demikian untuk beliau dan
keturunan beliau, karena Allah Swt. telah menjadikan beliau sebagai imam bagi umat manusia (QS.2:125).
Menunjuk kepada ayat yang ada dalam
bahasan Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
telah bersabda: “Kita lebih layak menaruh
syak daripada
Ibrahim” (Muslim).
Kata syak berarti keinginan
keras yang tersembunyi, menunggu dengan penuh
harapan akan sempurnanya keinginan
itu, sebab Nabi Besar Muhammad saw. tidak
pernah ragu-ragu mengenai janji
atau apa pun perbuatan Allah Swt.. Hal itu menunjukkan bahwa pertanyaan Nabi Ibrahim a.s. dalam ayat: وَ
اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ
اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی -- “Dan ingatlah ketika
Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara
Engkau menghidupkan yang mati?” tidak terdorong oleh keraguan, tetapi hanya oleh kedambaan yang sangat yakni agar ithminan: قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ -- Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.”
Pentingnya “Melekatkan Hati” Manusia Dengan Kecintaan
Makna ayat selanjutnya yang banyak orang salah menafsirkan: "Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung lalu jinakkanlah mereka kepada engkau, kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, kemudian mereka
dengan cepat akan datang kepada engkau.”
Shurtu al ghushna ilayya berarti “saya mencondongkan
dahan itu kepadaku sendiri” (Lexicon
Lane). Kata depan ila menentukan arti kata shurhunna
dalam artian mencondongkan atau melekatkan dan bukan memotong, seperti umumnya diterjemahkan
dalam berbagai tafsir Al-Quran, sebab
menganggap pertanyaan Nabi Ibrahim
a.s. dalam ayat: کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی -- “bagaimana cara menghidupkan yang mati”
merujuk kepada kematian jasmani,
karena itu mereka menerjemahkan kalimat فَصُرۡہُنَّ adalah bahwa keempat ekor burung itu
“dipotong-potong” menjadi beberapa bagian,
padahal yang dimaksud Nabi Ibrahim a.s.
adalah bagaimana cara menghidupkan
orang-orang yang secara ruhani telah mati
di kalangan keturunan beliau, baik dari kalangan Bani Israil mau pun Bani Isma’il.
Dengan demikian
makna perintah فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ dalam ayat: Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ" bukan
berarti “lalu potong-potonglah”
melainkan maknanya “condongkanlah hati burung-burung itu kepada engkau” --
yakni “jinakkan burung-burung itu sehingga lekat kepada engkau“ – itulah
sebabnya ketika burung-burung tersebut dipanggil Nabi Ibrahim a.s. mereka segera
datang kepada
beliau, itulah makna ayat: "Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung فَصُرۡہُنَّ
اِلَیۡکَ -- lalu jinakkanlah
mereka kepada engkau, kemudian letakkanlah
setiap burung itu di atas
tiap-tiap gunung ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا -- lalu panggillah
mereka, kemudian mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau.”
Contoh yang paling mudah dimengerti mengenai makna kata “fanshurhunna ilayka” berkenaan dengan “empat burung” Nabi Ibrahim a.s. adalah permainan memanggil burung merpati jantan yang sedang terbang tinggi oleh pemiliknya dengan cara menggerak-gerakkan burung merpati betina pasangannya
di tangannya. Karena adanya allafa (kelekatan hati) di antara pasangan burung merpati tersebut maka burung
merpati jantan segera akan turun
dari ketinggian dan akan bertengger di punggung burung merpati betina yang ada di tangan pemiliknya.
“Kasih-Sayang” Nabi
Besar Muhammad saw. Penyebab Timbulnya Kecintaan
Luar-biasa Para Sahabat r.a. Kepada Beliau Saw.
Kemudian
mengenai makna kata juz’a dalam ayat selanjutnya: ثُمَّ
اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا – “kemudian
letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung”, kata
جُزۡءًا berarti suku,
bagian
atau sesuatu. Jadi, jika sesuatu terdiri atas atau meliputi suatu rombongan maka kata جُزۡءًا -- “bagian”
akan berarti tiap-tiap anggotanya.
Dengan demikian kata جُزۡءًا berkenaan “empat ekor burung” Nabi Irahim a..s bukan merujuk kepada bagian-bagian tubuh keempat ekor burung yang telah dipotong-potong – untuk kemudian dihidupkan kembali oleh Allah Swt.
-- melainkan tertuju kepada masing-masing
burung itu sendiri, yang setelah
terlebih dulu “dijinakkan” oleh Nabi
Ibrahim a.s. – kemudian keempat ekor burung tersebut diperintahkan Allah Swt. agar diletakkan
masing-masing satu ekor buruk empat ditempatkan pada empat buah gunung, firman-Nya: ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا -- “kemudian letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا -- maka mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau”.
Jadi, makna
kalimat فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ
-- “maka condongkanlah kepada engkau” atau
“jinakkanlah kepada engkau” berkenaan dengan "burung-burung" Nabi Ibrahim a.s. selaras dengan firman Allah Swt. berikut ini kepada
Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan kata allafa:
وَ اَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ اَلَّفۡتَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan Dia
telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka, seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini
seluruhnya, engkau sekali-kali tidak akan dapat menanamkan
kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah
telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-An’ām
[6]:64).
Nabi Besar Muhammad Saw. Adalah “Rahmat
Bagi Seluruh Alam”
Makna kata allafa dalam ayat: “Dan Dia telah menanamkan kecintaan di
antara hati mereka” tersebut adalah berkenaan dengan “kecintaan” yang luar biasa para sahabah Nabi Besar Muhammad saw. kepada beliau saw. yang dilandasi oleh keimanan yang hakiki kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, yang menurut Allah Swt. tidak mungkin terjadi kecintaan
seperti itu sekali pun melakukan
berbagai upaya duniawi yang
bagaimanapun coraknya, firman-Nya: “Seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau sekali-kali tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah
telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.“
Kata-kata:
فَبِمَا
رَحۡمَۃٍ مِّنَ اللّٰہِ لِنۡتَ لَہُمۡ -- maka karena rahmat dari Allah-lah ۡ
engkau bersikap lemah-lembut terhadap mereka” melukiskan keindahan
watak atau akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.. Di antara perangai yang paling baik lagi menonjol adalah kasih-sayang beliau saw. yang meliputi
segala sesuatu, karena pengutusan
Nabi Besar Muhammad saw. merupakan “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108).
Nabi
Besar Muhammad saw. penuh dengan kemesraan cinta-kasih manusiawi, dan
beliau saw. bukan saja berlaku baik
terhadap para sahabat dan para pengikut beliau saw., bahkan penuh kasih-sayang
dan belas-kasih terhadap musuh-musuh beliau saw. yang senantiasa mencari-cari kesempatan untuk menikam dari belakang.
Terukir di dalam sejarah bahwa Nabi Besar Muhammad saw. tidak mengambil tindakan hukum apa pun terhadap orang-orang munafik Madinah yang melakukan
pengkhianatan telah meninggalkan
beliau saw. dan orang-orang beriman pada waktu Perang
Uhud. Bahkan beliau saw. meminta musyawarah
(pendapat) mereka dalam urusan kenegaraan sesuai perintah Allah Swt.: وَ شَاوِرۡہُمۡ فِی الۡاَمۡرِ -- “dan bermusyawarahlah
dengan mereka dalam urusan yang penting.”
Kekeliruan Sangkaan Orang-orang Munafik
Mengenai Keimanan dan Kesetiaan Para Sahabat Nabi Besar
Muhammad Saw. Dalam Segala Kondisi
Pengampunan umum yang Nabi Besar Muhmmad
saw. berikan para waktu peristiwa “Fatah Mekkah” terhadap para penduduk
Mekkah -- yang telah mengusir beliau saw. dari
Mekkah (QS.8:31), bahkan mereka terus menerus mengejar beliau saw. dan
kaum Muslimin yang telah hijrah ke Madinah, merupakan bukti lainnya mengenai sifat “rahmat bagi
seluruh alam” yang diperagakan Nabi Besar Muhammad saw., sehingga hasilnya
yang pasti adalah terjadinya allafa (kelekatan hati dengan kecintaan) terhadap
Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ اَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ اَلَّفۡتَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Dan Dia
telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka, ً seandainya engkau
membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau sekali-kali
tidak akan dapat menanamkan kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah
telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-An’ām
[6]:64).
Rahasia terjadinya allafa – yakni kecintaan
hakiki -- para sahabat r.a. kepada Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang tidak
difahami orang-orang munafik Madinah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul, firman-Nya:
ہُمُ
الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ لَا
تُنۡفِقُوۡا عَلٰی مَنۡ عِنۡدَ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ حَتّٰی یَنۡفَضُّوۡا ؕ وَ لِلّٰہِ خَزَآئِنُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنَّ الۡمُنٰفِقِیۡنَ لَا
یَفۡقَہُوۡنَ ﴿﴾ یَقُوۡلُوۡنَ لَئِنۡ
رَّجَعۡنَاۤ اِلَی الۡمَدِیۡنَۃِ لَیُخۡرِجَنَّ الۡاَعَزُّ مِنۡہَا الۡاَذَلَّ ؕ وَ لِلّٰہِ
الۡعِزَّۃُ وَ لِرَسُوۡلِہٖ وَ
لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ لٰکِنَّ
الۡمُنٰفِقِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ٪﴿﴾
Merekalah orang-orang yang berkata: لَا تُنۡفِقُوۡا عَلٰی مَنۡ عِنۡدَ رَسُوۡلِ اللّٰہِ حَتّٰی
یَنۡفَضُّوۡا -- “Janganlah kamu membelanjakan harta bagi orang yang bersama Rasul Allah, supaya mereka lari karena kelaparan. وَ لِلّٰہِ خَزَآئِنُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لٰکِنَّ الۡمُنٰفِقِیۡنَ لَا
یَفۡقَہُوۡنَ -- Padahal kepunyaan Allah khazanah-khazanah seluruh
langit dan bumi, tetapi orang-orang
munafik itu tidak mengerti. (Al-Munafiqun
[QS.63:8)
Karena tidak ada ketulusan dan kejujuran
dalam dirinya, orang-orang
munafik memandang orang-orang lain seperti
dirinya sendiri. Kaum munafiqin Medinah membuat pikiran totol dan keliru
sama sekali mengenai ketulusan tujuan dan keimanan para sahabat
Nabi Besar Muhammad saw., sebab mereka menyangka
para sahabat telah berkumpul di
sekitar beliau saw. karena pertimbangan
kepentingan duniawi, dan mereka menyangka
apabila mereka (para sahabat) itu menyadari
bahwa harapan mereka itu tidak terlaksana, mereka itu akan
meninggalkan Nabi Besar Muhammad saw. Tetapi perjalanan masa membatalkan sama sekali segala harapan mereka yang sia-sia itu.
Penyebab “Kelekatan Hati” Kaum Quraisy Terhadap Kota Mekkah
Kemudian
masih sehubungan makna kata allafa (melekatkan hati dengan kecintaan) dalam hubungannya dengan ayat fashurhunna ilayka --
(condongkanlah kepada engkau) berkenaan “empat burung” Nabi Ibrahim a.s. (QS.2:261), Allah Swt. berfirman
mengenai allafa (kelekatan hati) kaum Quraisy trehadap kota Mekkah:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ لِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ ۙ﴿﴾ اٖلٰفِہِمۡ رِحۡلَۃَ
الشِّتَآءِ وَ الصَّیۡفِ ۚ﴿ ﴾ فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ
مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ ٪﴿﴾
Aku
baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. لِاِیۡلٰفِ قُرَیۡشٍ -- Tuhan engkau
membinasakan para pemilik gajah untuk melekatkan
hati orang-orang Quraisy. ٖلٰفِہِمۡ رِحۡلَۃَ
الشِّتَآءِ وَ الصَّیۡفِ -- Untuk
melekatkan kecintaan mereka
pada perjalanan di musim
dingin dan musim panas. فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ -- Maka hendaklah
mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik Rumah ini, الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ
مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ -- Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah memberi mereka keamanan di waktu ketakutan. (Al-Quraisy
[106]:1-5).
Kata Īlāf
dalam ayat: "Tuhan engkau membinasakan para pemilik gajah untuk melekatkan hati
orang-orang Quraisy” sebagai masdar dari alafa berarti: melekatkan atau membuat sesuatu melekat
pada suatu benda; mencintai dan
membuat seseorang mencintai seorang
pribadi atau sesuatu; membekali
seseorang dengan sesuatu; perjanjian
atau kewajiban yang menyangkut
pertanggung-jawaban untuk
keselamatan; perlindungan (Lexicon
Lane).
Kata quraisy yang
diserap dari akar-kata qarasya yang berarti: ia mengum-pulkannya dari
sana-sini dan melekatkan sebagian darinya kepada bagian lainnya (Aqrab-ul-Mawarid). Suku Quraisy disebut demikian karena salah
seorang dari moyang mereka, Qushay Ibn Kilāb bin Nadhr telah membujuk mereka
dari segala bagian negeri Arab, yang tadinya menjalani hidup mengembara,
berhijrah untuk kemudian menetap di Mekkah. Dari Banu Kinanah, hanya keturunan
Nadr saja menetap dan oleh sebab mereka hanya merupakan kelompok kecil, mereka
disebut Quraisy, yang berarti suatu
kelompok kecil yang telah dikumpulkan dari sana-sini.
Pengabulan Doa Nabi Ibrahim a.s. Mengenai Penduduk Mekkah
Makna ayat: "Untuk
melekatkan kecintaan mereka
pada perjalanan di musim
dingin dan musim panas”, karena
huruf lam itu partikel dan
dalam bahasa Arab kalimat baru tidak
pernah dimulai dengan partikel, oleh
karena itu suatu kalimat atau anak kalimat atau ungkapan haruslah dianggap mahzuf -- yakni
harus ada, tetapi tidak
disebutkan atau dinyatakan -- sebelum ayat ini.
Kalimat mahzuf itu kira-kira begini
bunyinya: “Hai Muhammad, herankah engkau atas karunia
Allah terhadap kaum Quraisy,
karena Dia telah menimbulkan di dalam
hati mereka kesukaan mengembara di
musim dingin maupun di musim panas?”
Karunia Allah Swt. itu terwujud dalam
kenyataan bahwa dengan membawa kafilah-kafilah
niaga itu, kaum Quraisy
berangsur-angsur memperoleh semacam wibawa
dan menambah kesejahteraan kota
mereka (Mekkah), dan juga menjadikan
mereka mengetahui akan adanya nubuatan-nubuatan
mengenai kemunculan seorang Nabi agung di tanah Arab sebagai akibat dari hubungan mereka dengan orang-orang
Yahudi asal Yaman dan orang-orang Nasrani asal Siria, yang mengetahui nubuatan-nubuatan itu.
Kaum Quraisy
itu begitu terikat kepada tanah mereka dan mempunyai kecintaan mendalam kepada Ka’bah
(Baitullah), sehingga lebih suka mati
kelaparan daripada meninggalkannya,
sekalipun hanya untuk sementara
waktu. Adalah berkat anjuran Hasyim,
nenek mo-yang Nabi Besar Muhammad saw., makanya mereka menyambut baik ajakan itu.
Dengan demikian, hal itu merupakan karunia besar sekali bagi mereka, bahwa perjalanan-perjalanan ke tempat-tempat
itu selain faedah-faedah yang diraih
dari perjalanan-perjalanan mereka, mereka pun sedang dipersiapkan agar mereka dapat menerima Nabi Besar Muhammad saw
yang kedatangannya diharapkan akan segera terjadi, sebagai pengabulan doa dari leluhur mereka, Nabi Ibrahim
a.s. (QS.2:126-130; QS.14:36:42).
Hikmah Dihancurkan-Nya Bala Tentara Gajah Abrahah
Ada penjelasan lain mengenai ayat ini,
barangkali lebih cocok dalam hubungan ini yang kira-kira sebagai berikut: “Hai Muhammad, Tuhan
engkau telah membinasakan para pemilik gajah supaya hati orang-orang Quraisy melekat pada kegemaran mereka, berkelana bebas bagi mereka.”
Penjelasan ini sangat dapat diterima oleh akal, sebab seandainya Abraha dan pasukannya -- tepat pada hari kelahiran Nabi Besar Muhammad
saw. -- tidak dibinasakan Allah Swt. niscaya
orang-orang Quraisy tidak akan suka bepergian ke tempat-tempat itu, dan perjalanan-perjalanan niaga mereka pun tidak akan aman.
Jadi, kebinasaan
Abraha – Raja Muda Kristen dari
Yaman -- dan bala tentaranya yang bermaksud menghancurkan Baitullah di Mekkah, selain
membuka jalan untuk perjalanan-perjalanan
niaga bagi kaum Quraisy, juga Ka’bah nampak
lebih suci dan lebih keramat lagi dalam pandangan orang-orang Arab, tempat yang bagi mereka sebelumnya pun telah
merupakan tempat ziarah.
Ziarah para penduduk Arabia ke Baitullah
di Mekkah tersebut itu pada
gilirannya menambah dorongan kepada peningkatan perdagangan kaum Quraisy. Ayat ini dapat pula berarti, “Tuhan
engkau menghancurkan para pemilik
gajah sebagai tindak pemeliharaan
bagi kaum Quraisy.” Dan untuk menggugah
kaum Quraisy terhadap “rahmat dan karunia” Allah Swt. serta sebgaai rasa syukur mereka kepada Allah Swt. selanjutnya Dia
berfirman: فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ --
Maka hendaklah mereka menyembah
Rabb (Tuhan) Pemilik Rumah ini.”
Makna ayat: الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ
مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ -- “Yang telah memberi mereka makan di waktu lapar dan telah
memberi mereka keamanan di waktu ketakutan.” Orang-orang Quraisy dianugerahi jaminan
keselamatan dan kebebasan dari
ketakutan, sedang kaum-kaum serta keadaan sekitar mereka seluruhnya dicekam oleb rasa ketakutan dan ketidak-amanan.
Di samping itu, sepanjang tahun mereka
mempunyai persediaan segala macam buah-buahan dan makanan. Kesemuanya itu bukan hanya secara kebetulan belaka. Hal
demikian itu sesuai dengan rencana Ilahi dan memenuhi nubuatan yang disampaikan
oleh Nabi Ibrahim a.s. 2.500 tahun yang telah silam (QS.2:127, 130
dan QS.14:36, 38).
Jadi, surah Al-Quraisy memberikan
pengertian kepada kaum Quraisy akan kesalahan sikap ketidak-bersyukuran mereka,
dengan memberitahukan bahwa mereka telah
memilih penyembahan kepada tuhan-tuhan terbuat dari kayu dan batu daripada menyembah kepada Tuhan Yang Maha Pemurah
dan Maha Penyayang, -- yakni Allah Swt. -- Yang telah menganugerahkan kepada mereka karunia-karunia
besar dan jaminan keamanan, keselamatan dan ketakutan dan kelaparan,
sehingga hati mereka senantiasa melekat
(allafa) dan “mencintai kota Mekkah”:
فَلۡیَعۡبُدُوۡا رَبَّ ہٰذَا الۡبَیۡتِ ۙ -- Maka hendaklah
mereka menyembah Rabb (Tuhan) Pemilik Rumah ini, الَّذِیۡۤ اَطۡعَمَہُمۡ
مِّنۡ جُوۡعٍ ۬ۙ وَّ اٰمَنَہُمۡ مِّنۡ خَوۡفٍ -- Yang
telah memberi mereka makan di waktu
lapar dan telah memberi mereka
keamanan di waktu ketakutan. (Al-Quraisy
[106]:4-5).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 14 Desember
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar