Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
48
ORANG-ORANG YANG BERHAK MERAIH NAJAT (KESELAMATAN) HAKIKI & PARA RASUL ALLAH MERUPAKAN “CERMIN”
UNTUK MENYAKSIKAN “TAJALLI" (PENJELMAAN) ALLAH SWT. YANG SEMPURNA DI DUNIA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab 47 dikemukakan mengenai dua golongan orang-orang yang tidak akan memperoleh najat (keselamatan) di dunia mau pun di akhirat karena:
(1) Mereka yang kemudian mengingkari Rasul Allah padahal nubuatannya mereka percayai kebenarannya.
(2) Mereka yang beriman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan Al-Quran tetapi tidak mengamalkan perintah
Allah Swt. dan Sunnah Nabi Besar
Muhammad saw.
Mengenai golongan yang
pertama Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ
یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ
مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی
اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ
اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa
mencari agama yang bukan agama Islam,
maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan
di akhirat ia termasuk orang-orang yang
rugi. Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu
kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula
bahwa sesungguhnya rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata? Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:86-87).
Dalam ayat-ayat sebelumnya dijelaskan bahwa kaum Yahudi menolak kedatangan para nabi bukan-Bani Israil, seperti nampak
dari kata-kata: janganlah kamu percaya kecuali kepada orang yang mengikuti
agamamu (QS.3:74). Tuduhan itu ditudingkan kepada mereka bahwa sementara
mereka menolak semua nabi kecuali nabi-nabi Bani Israil, sedangkan Islam minta kepada para pengikutnya
untuk beriman kepada semua Nabi Allah, tanpa membedakan negeri atau bangsa atau
masyarakat asal mereka atau zaman yang mereka hidup di dalamnya (QS.2:137; 286;
QS.3:85; QS.4:153). Ini merupakan satu
kelebihan Islam di atas semua agama
lainnya.
Makna ayat 87 bahwa tentu saja suatu kaum yang
mula-mula beriman kepada kebenaran seorang nabi Allah dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi Allah
itu secara terang-terangan dan menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi
tetapi kemudian menolaknya karena takut kepada manusia atau karena pertimbangan
duniawi lainnya, mereka kehilangan
segala hak untuk mendapat lagi petunjuk
kepada jalan yang lurus.
Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi terdahulu tetapi menolak Nabi Besar Muhammad saw. padahal
nubuatan mengenai kedatangan beliau
saw. tercantum dalam Kitab-kitab suci agama-agama sebelum Islam (Al-Quran – QS2:147; QS.6:21).
Orang-orang kafir seperti itu
tidak akan meraih najat (keselamatan)
di dunia mau pun di akhirat, walau pun mungkin saja mereka
akan memperoleh kesuksesan duniawi sementara waktu berkat usaha keras mereka sesuai dengan ketentuan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah) Allah Swt. sebagaimana jawaban Allah Swt. atas doa Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ
الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ
وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ
مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ
النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ
الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), jadikanlah tempat ini kota
yang aman dan berikanlah rezeki
berupa buah-buahan kepada penduduknya dari antara mereka yang beriman kepada
Allah dan Hari Kemudian.” قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا -- Dia
berfirman: “Dan orang yang kafir
pun maka Aku akan memberi sedikit
kesenangan kepadanya ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ -- kemudian akan
Aku paksa ia ma-suk ke dalam azab Api, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (Al-Baqarah
[2]:127).
Siapa yang
Berhak atas Najat (Keselamatan)?
Sehubungan
dengan cara meraih najat
(keselamatan) yang hakiki Masih Mau’ud a.s.
bersabda:
“Keselamatan tidak mungkin bisa dicapai melalui upaya sendiri
seseorang, karena hanya bisa diperoleh
sebagai rahmat dari Allah Yang Maha Agung. Kaidah yang ditetapkan Allah Swt. guna memperoleh rahmat tersebut tidak pernah didustakan
dan masih tetap berlaku. Kaidah
tersebut berbunyi:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ
اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ
Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah pun akan mencintaimu” (Ali ‘Imran
[3]:32),
Dan:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ
مِنۡہُ
“Barangsiapa mencari agama lain selain Islam maka agama itu tidak akan diterima darinya” (Ali Imran
[3]:86).
Najat (keselamatan) adalah suatu keberkatan yang natijahnya
(pengaruhnya/akibatnya) bisa dirasakan bahkan dalam kehidupan sekarang ini, jadi tidak
terbatas hanya di akhirat nanti. Keberkatan ini adalah segala sesuatu yang pengaruhnya dimanifestasikan
(diwujudkan) di dunia ini juga, dan orang
yang dikaruniai dengan keselamatan
tersebut berarti mendapat anugrah
kehidupan surgawi di dunia ini juga.
Para
pengikut agama-agama lainnya menurut
kaidah
Ilahi di
atas diluputkan dari keberkatan tersebut. Jika ada yang mengatakan bahwa umat Muslim sebenarnya juga berada dalam kondisi yang sama, jawaban atas
itu adalah karena mereka sudah tidak lagi mengikuti Kitab Allah.
Seseorang yang memiliki sejenis obat penawar tetapi ternyata tidak memanfaatkan atau malah mengabaikannya, jelas tidak akan memperoleh kemaslahatan dari obat tersebut. Keadaan demikian
itulah yang berlaku pada umat Muslim
yang memiliki
Kitab Suci
seperti Al-Quran tetapi mereka tidak mengikuti petunjuk yang ada di dalamnya. Mereka yang berpaling dari Kalimatullāh pasti akan diluputkan dari segala nur dan keberkatan.
Yang
dimaksud berpaling itu ada dua jenis, yang satu diwujudkan dalam perilaku dan yang lainnya dalam akidah yang dianut. Seseorang tidak mungkin mendapat nur dan keberkatan kecuali ia
bertindak sebagaimana yang diperintahkan
Allah Swt. dalam ayat:
کُوۡنُوۡا
مَعَ الصّٰدِقِیۡنَ
“Hendaklah
kamu termasuk orang-orang yang benar” (At-Taubah [9]:119).
(Malfuzat, jld. IV, hlm.
206-207).
Ada pun yang dimaksud dengan “shādiqin” (orang-orang yang benar) dalam
ayat tersebut terutama rasul Allah, firman-Nya:
وَ مَنۡ
یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ -- yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syahid-syahid, dan orang-orang shalih, وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka itulah sahabat
yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahui
(An-Nisa [4]:70-71).
Ayat 70
sangat penting sebab ia
menerangkan semua jalur kemajuan ruhani
yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi, shiddiq-shidisq, syuhada
(saksi-saksi) dan serta shālihin
(orang-orang saleh) — kini semuanya dapat
dicapai hanya dengan jalan mengikuti
Nabi Bear Muhammad saw. (QS.3:32).
Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Bear Muhammad saw. semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut
ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi Allah secara umum dan
mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya,
mereka adalah orang-orang shiddiq
dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka” (QS.57: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama
maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi Allah lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan
tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Bear Muhammad saw. dapat
naik ke martabat nabi Allah juga.
Kitab “Bahr-ul-Muhit”
(jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman
dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka
empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia
telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat
tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian
itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang
membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum
masih tetap dapat dicapai.”
Nabi-nabi
Sebagai Cermin Wujud Tuhan &
Orang yang Dibangkitkan di Akhirat Dalam Keadaan “Buta”
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan mengenai pentingnya beriman
kepada Rasul Allah yang kedatangannya
dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37):
“Sesungguhnya mereka
yang tidak mengakui rasul Tuhan sama dengan tidak mengakui Tuhan itu sendiri. Sebab yang
menjadi cermin dari perwujudan-Nya adalah para rasul-Nya tersebut. Barangsiapa yang kemudian menampak Tuhan
adalah karena melihat-Nya melalui cermin ini.
Karena itu najat (keselamatan) seperti apakah yang diharapkan
oleh mereka yang menyangkal wujud
Hadhrat Rasulullah Saw. sepanjang hidup beliau
serta menolak Kitab Suci Al-Quran. Apakah mungkin yang bersangkutan memperoleh najat (keselamatan) padahal Tuhan tidak ada mengaruniakan mata atau pun hati kepadanya dimana ia pun mati dalam keadaan masih buta?
Berdasar pengamatan kami
terlihat jelas bahwa jika Tuhan bermaksud menganugrahkan rahmat atas diri
seseorang,
pertama-tama Dia akan mengaruniakan penglihatan kepadanya dan memberikan pengetahuan dari Wujud-Nya Sendiri. Dalam jemaat kami ini terdapat ratusan orang yang baiat setelah memperoleh mimpi (ru’ya) atau wahyu.
Rahmat Ilahi itu amat
sangat luas. Bila seseorang menapak selangkah ke arah-Nya maka Dia akan mendekat dua langkah, kalau ada yang bergegas kepada-Nya maka Dia akan berlari menghampiri dan membukakan matanya dari kebutaan.
Karena
itu bagaimana
mungkin
ada orang
yang beriman kepada-Nya
dan kepada Ketauhidan-Nya, mencintai Wujud-Nya
dan para sahabat-Nya, tetapi Tuhan
masih tetap membutakan matanya sehingga ia tidak mengenali nabi Tuhan? Hal ini diperkuat oleh Hadits: “Man maata jahiliyyatan faqad maata
maytata jaahiliyatan” -- “Ia
yang mati tanpa mengenali Imam zamannya, sama dengan mati secara jahiliah dan
diluputkan dari jalan yang lurus”. (Haqiqatul
Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXX,
hlm. 151 London, 1984).
Jadi, kembali kepada orang-orang kafir di akhirat yang mengeluh karena mereka dibangkitkan
dalam keadaan buta: قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا – “ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), mengapa
Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?” dalam firman-Nya mengenai kisah monumental “Ada – Malaikat – Iblis”:
قَالَ
اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا
یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی ﴿﴾ وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ
مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی ﴿﴾ قَالَ رَبِّ
لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ
قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا﴿﴾ قَالَ
کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ وَکَذٰلِکَ
الۡیَوۡمَ تُنۡسٰی ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ
الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا
قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی
النُّہٰی ﴿﴾٪
Dia
berfirman: “Pergilah kamu berdua semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا
یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی -- Maka apabila
datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat, dan tidak
pula ia akan menderita kesusahan. وَ مَنۡ اَعۡرَضَ
عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی -- Dan barangsiapa
berpaling dari mengingat Aku maka sesungguhnya
baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami
akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا -- Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), mengapa
Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?” قَالَ کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا
ۚ -- Dia
berfirman: "Demikianlah
telah datang kepada engkau Tanda-tanda
Kami tetapi engkau
melupakannya وَکَذٰلِکَ الۡیَوۡمَ
تُنۡسٰی -- dan demikian pula engkau dilupakan pada hari
ini." وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ -- Dan
demikianlah Kami memberi balasan orang
yang melanggar dan ia tidak beriman
kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya),
ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی -- dan
niscaya azab akhirat itu lebih keras dan lebih kekal. اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا
قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ -- Maka apakah tidak memberi petunjuk kepada mereka berapa
banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal
mereka yang telah hancur? اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی
النُّہٰی -- Sesungguhnya dalam
hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:124-129).
Pentingnya Kesinambungan Pengutusan Rasul
Allah & “Orang-orang yang
Berakal”
Jawaban Allah Swt. terhadap keluhan orang-orang kafir tersebut: قَالَ کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا
ۚ وَکَذٰلِکَ الۡیَوۡمَ
تُنۡسٰی -- Dia
berfirman: "Demikianlah
telah datang kepada engkau Tanda-tanda
Kami tetapi engkau
melupakannya وَکَذٰلِکَ الۡیَوۡمَ
تُنۡسٰی -- dan demikian pula engkau dilupakan pada hari
ini," mengisyaratkan bahwa kedatangan petunjuk dari Allah Swt.
yang dijanjikan kepada Bani Adam
maksudnya adalah kesinambungan pengutusan rasul Allah (QS.7:35-37), dengan tujuan agar indera-indera ruhani manusia berfungsi
dengan baik, sehingga di dalam kehidupan di dunia ini juga mereka akan
menyaksikan Tanda-tanda Allah Swt. (QS.3:191-195), yang akan menjuruskan mereka beriman kepada Rasul Allah
yang kedatangannya dijanjikan Allah
Swt. kepada Bani Adam, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat mema-jukannya. یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu yang membacakan
Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
-- maka barangsiapa bertakwa dan
memperbaiki diri, tidak akan ada
ketakutan menimpa mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ -- Dan orang-orang yang mendustakan
Ayat-ayat Kami dan dengan takabur
berpaling darinya, اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- mereka itu penghuni Api,
mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raf [7]:35-37).
Allah Swt. menamakan orang-orang yang beriman kepada rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan-Nya
di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) sebagai “petunjuk” Allah Swt. (QS.2:38-40) dengan sebutan “orang-orang
yang berakal”, firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ
خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ
لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ
وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ
ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ
مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ
﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ
لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ
فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا
سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ
الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا
مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ
لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya
dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta pertukaran
malam dan siang لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ --- benar-benar
terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil berbaring atas rusuk mereka, dan mereka
memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا
عَذَابَ النَّارِ -- seraya berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah
Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha
Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.
Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesung-guhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya,
dan sekali-kali tidak ada bagi
orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا
یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada keimanan seraya berkata: "Berimanlah
kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu"
maka kami telah beriman. رَبَّنَا
فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا
مَعَ الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, ampunilah bagi kami
dosa-dosa kami, dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan
kami, dan wafatkanlah kami
bersama orang-orang yang berbuat
kebajikan.” رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah
Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan
rasul-rasul Engkau, dan janganlah
Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:191-195).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 29 Oktober 2016