Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 72
DELAPAN
SARANA PETUNJUK AL-QURAN YANG DAPAT “MEMPERTEMUKAN” MANUSIA DENGAN ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab 71 dikemukakan penjelasan
Hubungan
Rukun Iman Dengan
Rukun Islam & Tiga Syarat
Mencapai Tujuan Perjalanan. Mengenai pentingnya beriman kepada Allah Swt.
dan kepada rasul Allah tersebut –
terutama Nabi Besar Muhammad saw. –
dalam ajaran Islam diabadikan dalan bentuk Rukun Iman: (1) Iman kepada Allah, (2) Iman kepada malaikat-malaikat, (3) iman
kepada Kitab-kitab, (4) iman kepada rasul-rasul, (5) iman kepada akhirat (Kiamat), (6) iman
kepada takdir, sebagaimana
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اٰمَنَ
الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ
رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا
سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫
غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula orang-orang
beriman, semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, mereka
berkata: لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ -- ”Kami tidak membeda-bedakan
seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,
وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ
رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ -- dan
mereka berkata: “Kami telah mendengar
dan kami taat. Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb
(Tuhan )kami, dan kepada Engkau-lah kami kembali.”
(Al-Baqarah
[2]:286).
Amal-amal baik atau amal
shalih memang merupakan cara utama
untuk mencapai kesucian ruhani,
tetapi amal-amal baik itu bersumber pada kesucian hati yang dapat dicapai hanya dengan berpegang pada itikad-itikad
yang benar. Dari itu, ayat ini merinci dasar-dasar
kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran
yaitu beriman kepada Allah Swt.,
para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya menurut urutan
atau tertib yang wajar.
Tiga Syarat Cara
Mencapai Tujuan Perjalanan &
Sifat-sifat Utama Tasybihiyah Allah Swt.
Jika seseorang berkehendak pergi menuju ke satu tempat
tujuan ada 3 hal utama yang perlu
baginya, yakni:
(1) ia harus mengetahui letak posisi atau arah tempat yang akan didatanginya
tersebut.
(2) ia harus bergerak menuju arah yang benar berkenaan letak
tempat yang akan didatanginya
tersebut.
(3) ia harus mengetahui keadaan
medan perjalanan yang akan
ditempuhnya.
Apabila ketiga syarat
-- bahkan pun salah satu dari ketiga
syarat tersebut -- tidak
dipenuhi maka sampai kapan pun ia
tidak akan dapat sampai ke tempat
yang hendak ditujunya tersebut.
Contohnya, jika tempat yang hendak dituju seseorang letaknya
di sebelah barat, tetapi ia bergerak
ke arah sebaliknya yakni
ke arah timur, atau bergerak ke arah
utara atau ke arah selatan, maka sampai kapan pun ia tidak akan pernah sampai ke tempat yang hendak ditujunya tersebut.
Sekali pun ia mengetahui arah serta posisi tempat yang hendak ditujunya tetapi tidak berusaha bergerak ke arah
tempat tersebut ia tidak akan pernah
sampai ke tempat tersebut.
Begitu pula jika ia mengetahui arah yang benar dan bergerak menuju arah tujuan yang benar, tetapi ia tidak mengetahui keadaan medan perjalanan yang penuh
dengan rintangan dan tantangan maka mungkin ia tidak akan sampai ke tempat tujuan perjalanan yang akan
dilakukannya. Jadi, betapa pentingnya
mengetahui ketiga syarat tersebut.
Ada pun dalam
masalah agama (ruhani) yang
dimasud dengan tempat yang hendak dituju
dalam perjalanan yang
dilakukan adalah perjalanan menuju “pertemuan” dengan Allah Swt. karena merupakan tujuan utama segala bentuk
“perjalanan” (suluk) manusia menuju “perjumpaan”
dengan Allah Swt. sebagaimana
firman-Nya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan
sesungguhnya kepada-Nya-lah kami kembali” (Al-Baqarah [2]:157).
Ada pun arti mengetahui “arah yang benar” adalah memiliki pengetahuan yang benar tentang segala sesuatu, dalam masalah agama yang dimaksud dengan
mengetahui “arah yang benar” adalah
memiliki makrifat (pengetahuan)
tentang berbagai petunjuk atau informasi yang terkandung dalam agama
(kitab suci) – terutama ajaran Islam
( Al-Quran) karena merupakan agama
(kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4) --
terutama sekali mengenai makrifat
Ilahi yang menjadi tujuan
perjalanan.
Buku “Islami Ushul ki Filasafi” (Falsafah
Ajaran Islam)
Sehubungan dengan kesuksesan melakukan suluk (perjalanan ruhani) menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt. tersebut
(QS.29:70; QS.84:7) Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan dalam buku beliau yang sangat terkenal Islami Ushul ki Filasafi (Falsafah Ajaran Islam)
bab:
Masalah Ketiga
APA TUJUAN
SEBENARNYA MANUSIA HIDUP DI DUNIA
DAN BAGAIMANA DAPAT MENCAPAINYA?
Jawaban terhadap masalah ini adalah,
manusia dengan berbagai macam pembawaan alaminya – karena pengetahuan
yang dangkal serta kemampuan yang terbatas --
menetapkan berbagai tujuan bagi hidupnya, dan mereka berjalan
hanya sampai pada tujuan-tujuan dan
cita-cita duniawi belaka lalu berhenti. Akan tetapi
tujuan yang ditetapkan Allah Ta'ala di dalam Kalam Suci-Nya
adalah sebagai berikut:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ
Yakni, “Aku
telah menciptakan jin dan manusia agar mereka mengenal-Ku dan menyembah-Ku”
(Adz-Dzaariyaat, 57).
Jadi, menurut ayat ini tujuan
sebenarnya hidup manusia adalah untuk menyembah Allah Ta'ala dan
meraih makrifat Allah Ta'ala serta menjadi milik Allah Ta'ala.
Jelas bahwa manusia tidak memperoleh kedudukan untuk – dengan ikhtiarnya –
menetapkan sendiri tujuan hidupnya. Sebab manusia bukan atas kemauannya
sendiri datang dan pula bukan atas kemauannya sendiri akan kembali, melainkan
dia hanyalah makhluk (hasil ciptaan), sedangkan Wujud yang menciptakan serta
menganugerahkan kemampuan yang
cemerlang dan lebih tinggi kepadanya dibandingkan dengan seluruh hewan Dia
jugalah yang telah menetapkan suatu tujuan
hidup baginya.
Tidak peduli apakah manusia mengerti atau
tidak mengerti tujuan itu, akan tetapi tujuan penciptaan manusia tidak diragukan lagi yaitu untuk menyembah
Tuhan dan meraih makrifat Allah Ta'ala serta menjadi fana
(larut) di dalam Allah Ta'ala, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman di satu
tempat lain dalam Al-Quran:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا .........ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
Yakni, “Agama yang di dalamnya terdapat makrifat
yang benar tentang Tuhan dan penyembahan terhadap-Nya dalam bentuk terbaik
adalah Islam (Âli
'Imran, 20). Dan Islam telah ditanamkan dalam fitrat manusia, dan Allah Ta'ala
telah menciptakan manusia dalam keadaan Islam serta telah menciptakannya untuk
Islam. Yakni, Dia telah
menghendaki agar manusia dengan segala kemampuannya
terus-menerus menyembah, menaati dan
mencintai Tuhan. Itulah sebabnya
Sang Mahakuasa dan Maha Mulia telah
menganugerahkan kepada manusia seluruh kemampuan
yang selaras dengan Islam.”
(Ar-Rūm, 31).
Rincian
ayat-ayat ini sangat luas, dan kami dalam kadar tertentu telah juga
menuliskannya pada bagian ketiga Masalah
Pertama. Akan tetapi pada saat ini
kami hanya ingin menzahirkan (mengemukakan)
secara ringkas, bahwa segala organ bagian dalam dan luar
yang telah dianugerahkan kepada manusia, atau segala kemampuan yang
telah diberikan, tujuan sebenarnya
dari semua itu ialah untuk mendapatkan makrifat Ilahi dan menyembah
Allah Ta'ala serta mencintai Allah Ta'ala. Itulah sebabnya manusia di dunia setelah
tenggelam dalam ribuan kesibukan mereka
tetap saja tidak menemukan kebahagiaan
sejati dalam suatu apa pun kecuali pada Allah Ta'ala.
Setelah menjadi hartawan, setelah
memperoleh kedudukan tinggi, setelah menjadi saudagar besar, setelah mencapai
tahta kerajaan besar, setelah dijuluki filsuf besar, akhirnya ia pergi dengan hasrat-hasrat besar karena belenggu-belenggu duniawi itu, dan kalbunya
senantiasa mengecamnya karena tenggelam
dalam dunia. Hati-nuraninya tidak
pernah menyetujuinya tindakan-tindakannya
yang licik, penuh tipu-muslihat, dan curang.
Seorang manusia bijak dapat juga memahami
masalah ini dengan cara demikian: tugas-tugas
paling tinggi yang dapat dilakukan oleh kemampuan-kemampuan
suatu benda lalu lebih dari itu kemampuan-kemampuan
tersebut terhenti maka tugas paling tinggi itu dianggap sebagai
tujuan penciptaan benda tersebut. Misalnya, tugas paling tinggi seekor lembu jantan ialah
membajak tanah atau menimba air sumur untuk pengairan atau untuk menarik
pedati. Lebih dari itu ia tidak mempunyai kemampuan lain.
Akan tetapi apabila kita mengukur kemampuan-kemampuan manusia – yaitu kemampuan paling tinggi yang terdapat
dalam dirinya -- maka yang terbukti
adalah padanya terdapat pencarian terhadap Tuhan Yang Maha Agung dan Maha
Besar. Sampai-sampai manusia berkeinginan
untuk melebur dan tenggelam di dalam kecintaan Tuhan
sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi miliknya yang tersisa, semua telah
menjadi milik Tuhan.
Dalam hal makan dan tidur serta hal-hal alami
lainnya manusia menyerupai hewan-hewan lain. dalam bidang keterampilan,
sebagian hewan sangat jauh melebihi manusia. Bahkan lebah-lebah madu mengambil
sari dari setiap bunga lalu menghasilkan madu murni yang sampai sekarang tidak
berhasil dibuat oleh manusia. Jadi, jelaslah bahwa kelebihan paling tinggi yang dimiliki
manusia yaitu perjumpaan dengan Allah Ta'ala. Oleh karena itu tujuan
sebenarnya hidup manusia ialah agar terbuka jendela hatinya ke arah Allah Ta'ala.
Sarana-sarana
Untuk Mencapai Tujuan Hidup Manusia
Ya,
jika yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dan bagaimana tujuan
itu dapat dicapai serta dengan sarana-sarana apa manusia dapat meraihnya? Maka
hendaklah jelas bahwa sarana paling besar yang dipersyaratkan untuk mencapai tujuan itu adalah:
Sarana
pertama: Mengenal Allah Ta'ala secara benar dan mengimani Tuhan yang hakiki.
Sebab jika langkah pertama saja sudah salah dan seseorang, misalnya
menjadikan burung atau hewan atau unsur-unsur zat atau manusia sebagai tuhan (sembahan) maka
bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa pada langkah-langkah berikutnya
dia akan menempuh jalan yang lurus?
Tuhan yang hakiki memberikan pertolongan kepada orang-orang yang mencari-Nya.
Akan tetapi bagaimana mungkin benda mati dapat memberikan pertolongan kepada sesuatu yang mati? Dalam hal ini Allah Ta’ala memberikan tamsil (perumpamaan) yang indah,
yaitu:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾
Yakni, “Dia-lah
Tuhan Yang Hakiki yang pantas dimintai doa, yang berkuasa atas tiap sesuatu.
Dan orang-orang yang berseru kepada wujud-wujud selain Dia sedikit pun tidak
dapat menjawab mereka. Keadaan mereka seperti orang yang sambil membuka telapak
tangannya ke air lalu berkata, "Hai air datanglah ke mulutku!" Apakah
air itu akan datang ke mulutnya? Sekali-kali tidak! Jadi barangsiapa yang tidak
mengenal Tuhan Yang Hakiki maka segala doa mereka menjadi sia-sia” (Ar-Rā'd,
15).
Sarana kedua ialah mendapatkan gambaran jelas tentang kejuitaan
(حُسْنٌ) serta keindahan yang lengkap di dalam Wujud Allah Ta'ala. Sebab kejuitaan
adalah sesuatu yang secara alami menawan hati dan dengan menyaksikannya
akan timbul kecintaan secara alami. Ada pun kejuitaan Allah
Ta'ala itu terletak pada ke-Esa-an-Nya, Kebesaran-Nya, Kemuliaan-Nya,
dan Sifat-sifat-Nya. Sebagaimana Quran
Syarif berkata:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ()اللَّهُ
الصَّمَدُ()لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ()وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Yakni, “Tuhan adalah Esa dalam Dzat-Nya,
sifat-sifat-Nya dan kegagahan-Nya. Tak ada yang bersekutu dengan Dia. Segala
sesuatu bergantung pada Dia. Tiap
dzarrah menerima anugerah hidup dari
Dia. Dia Sumber karunia bagi segala sesuatu dan Dia tidak menerima karunia dari
sesuatu apa pun. Dia bukan anak seseorang dan bukan bapak seseorang. Bagaimana
mungkin, sebab tidak ada sesuatu yang setara
dengan Dia” (Al-Ikhlash, 2-5).
Quran Syarif telah menarik perhatian
orang-orang dengan berkali-kali mengemukakan kesempurnaan dan keagungan
Tuhan, "Lihatlah, Tuhan seperti itu
adalah Wujud yang menarik minat, dan bukan Wujud yang mati, lemah, memiliki
sedikit kasih-sayang dan sedikit kekuasaan."
Sarana ketiga untuk mencapai tujuan
sebenarnya yang merupakan tangga kedua ialah mengenal ihsān Tuhan (kebajikan Tuhan), karena
pendorong rasa cinta itu hanya terdiri dari 2 hal, yaitu: kejuitaan
(حُسْنٌ) dan ihsaan (اِحْسَانٌ). Sedangkan ringkasan
sifat-sifat ihsaan Allah Ta'ala terdapat dalam surah Al-Fatihah,
sebagaimana Dia berfirman:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ()الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ()مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Sebab,
jelaslah bahwa ihsan yang sempurna
terletak pada kenyataan bahwa Allah Ta'ala menciptakan hamba-hamba-Nya dari
tiada, dan kemudian sifat Rabbubiyyat
senantiasa menaungi mereka, dan Dia sendiri merupakan Penunjang bagi segala sesuatu, serta
segala macam rahmat-Nya diwujudkan
bagi hamba-hamba-Nya, dan ihsan-Nya tak terbatas sehingga tidak ada yang dapat menghitungnya.
Jadi, Allah Ta'ala telah berulang kali
menjelaskan tentang ihsan-ihsan-Nya yang demikian, sebagaimana pada
tempat lain Dia berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا
تُحْصُوهَا
Yakni, “jika kamu ingin menghitung nikmat-nikmat
Allah Ta'ala maka kamu sekali-kali tidak akan dapat menghitungnya” (Ibrahim,
35).
Sarana keempat yang telah ditetapkan
oleh Allah Ta'ala untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah doa, sebagaimana Dia
berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Yakni, “kamu berdoalah, Aku akan kabulkan” (Al-Mukmin,
61). Dan berkali-kali Dia menarik minat
untuk berdoa supaya manusia bukan karena kekuatannya sendiri
meraih sesuatu melainkan dengan kekuatan Tuhan menemukan Tuhan.
Sarana kelima yang telah ditetapkan Allah Ta'ala
untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah mujahadah.
Yakni, carilah Dia dengan cara
membelanjakan harta di jalan-Nya, dengan cara menyalurkan kemampuan-kemampuan
di jalan Allah Ta'ala, dengan cara mengorbankan jiwa pada jalan Allah
Ta'ala, dan dengan cara mengerahkan akal pikiran di jalan Allah Ta'ala,
sebagaimana Dia berfirman:
وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ
اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Yakni, “Belanjakanlah harta-benda kamu, jiwa kamu, dan diri kamu beserta segenap kemampuannya pada jalan
Allah” (At-Taubah, 41). “Dan
apa pun yang telah Kami anugerahkan kepada kamu – berupa akal, ilmu, pemahaman,
keahlian dan sebagainaya -- kerahkanlah
semuanya di jalan Allah Ta'ala” (Al-Baqarah, 4). “Orang-orang yang berusaha dengan segala cara
pada jalan Kami, Kami selalu menunjukkan jalan Kami kepada mereka” (Al-Ankabūt,
70).
Sarana keenam untuk
mencapai tujuan sebenarnya yang telah Dia jelaskan ialah istiqamah.
Yakni di jalan ini tidak bosan, tidak putus-asa, tidak lelah, dan tidak gentar
menghadapi cobaan, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ
ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ()نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ
فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Yakni, “Orang-orang yang berkata, "Tuhan kami
Allah dan kami telah menjauhkan diri dari tuhan-tuhan palsu", kemudian
mereka istiqamah – yakni tetap
teguh dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan musibah – maka
malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil berkata, "Janganlah kamu
takut dan jangan pula bersedih hati, dan
bergembiralah serta bersukarialah, sebab kamu telah menjadi pewaris kebahagiaan yang dijanjikan kepada kamu. Kami adalah
sahabat kamu di dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat” (Ha Mim
– As Sajdah, 31-32).
Ayat ini mengisyaratkan bahwa dengan istiqamah
manusia memperoleh keridhaan Allah Ta'ala. Benarlah bahwa istiqamah itu lebih unggul dari karamat.
Istiqamah
yang sempurna ialah: ketika segala musibah mengepung dari segala penjuru dan di
jalan Allah Ta'ala nyawa, kehormatan, dan harga diri dihadapkan kepada bahaya,
sementara tidak terdapat sesuatu yang
menghibur – sampai-sampai Tuhan pun dengan tujuan hendak menguji menutup pintu kasyaf atau mimpi
atau ilham yang membesarkan hati – lalu membiarkan dalam keadaan-keadaan
takut yang mengerikan, pada saat itu tidak memperlihatkan sikap penakut
dan tidak mundur ke belakang bagai para pengecut, serta tidak memperlihatkan
perubahan apa pun pada sifat kesetiaan, dan mencemari ketulusan
dan ketabahan, rela terhadap kenistaan, rela terhadap maut
(kematian), dan untuk mengokohkan langkah-langkah tidak menunggu-nunggu seorang
kawan agar dia memberikan pertolongan, tidak menuntut turunnya kabar suka
dari Tuhan sebab masa yang genting, dan walaupun tidak berdaya dan lemah serta
tidak memperoleh sesuatu yang menghibur sekali pun, tetap saja berdiri tegak dan merebahkan leher ke depan seraya
mengatakan, "Apa yang akan terjadi biarlah terjadi”, dan tidak mengecam keputusan takdir
serta sama sekali tidak memperlihatkan kegelisahan dan keluh-kesah sampai selesainya saat cobaan
itu.
Inilah yang yang menyebabkan sampai sekarang
masih menimbulkan aroma wangi dari tanah (kubur) para rasul,
para nabi, para shiddiq dan para syahid. Ke arah inilah
Allah Ta'ala memberikan isyarat dalam doa berikut:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ()صِرَاطَ
الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yakni, “Wahai Allah Ta'ala kami, tunjukkanlah kami
jalan istiqamah, yaitu jalan yang di atasnya diperoleh nikmat-nikmat dan
kemuliaan dan Engkau meridhainya” (Al-Fatihah, 6-7).
Dan pada
tempat lain Allah Ta'ala mengisyaratkan kepada hal itu juga:
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا
وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
“Wahai Rabb (Tuhan) kami,
dalam menghadapi musibah turunkanlah kepada hati kami perasaan tentram yang
karenanya timbul kesabaran, dan semoga kematian kami ada dalam Islam” (Al-A’rāf,
127).
Hendaklah diketahui bahwa pada waktu penderitaan dan musibah
datang, Allah Ta'ala menurunkan suatu nur (cahaya) atas hati hamba-hamba
kesayangan-Nya sehingga mereka mendapat kekuatan lalu menghadapi musibah dengan sangat tenang. Dan karena lezatnya iman
mereka menciumi rantai yang membelenggu kaki-kaki mereka di jalan-Nya.
Apabila bala-musibah turun kepada orang
yang ber-Tuhan dan tanda-tanda
maut (kematian) sudah zahir maka
ia tidak akan mulai bertengkar dengan Tuhan-nya Yang Maha Mulia supaya ia diselamatkan dari bala-bencana tersebut. Sebab bersikeras
mendesak minta keselamatan pada masa demikian berarti melawan
Allah Ta'ala dan bertentangan
dengan penyerahan diri secara
sempurna.
Bahkan dengan turunnya bencana, seorang pencinta
sejati melangkahkan kaki lebih maju ke depan. Dan pada saat demikian dia menganggap jiwanya tidak berharga
serta mengucapkan selamat tinggal kepada kecintaan terhadap jiwanya lalu ia sepenuhnya mengikuti kehendak
Tuhan-nya dan menginginkan karidhaan-Nya. Mengenai hal itu Allah
Ta’ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ
ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Yakni, “Hamba
kesayangan Tuhan memberikan jiwanya di jalan Allah, dan sebagai imbalannya dia
menerima keridhaan Allah Ta'ala. Itulah
orang-orang yang memperoleh rahmat istimewa dari Allah Ta'ala” (Al-Baqarah,
208).
Ringkasnya, yang telah diuraikan ini
adalah ruh istiqamah yang karenanya dapat berjumpa dengan
Tuhan. Barangsiapa yang mau memahami, pahamilah.
Sarana ketujuh untuk
mencapai tujuan sebenarnya ialah bergaul dengan orang-orang benar
dan memperhatikan tauladan-tauladan sempurna mereka. Jadi hendaknya diketahui bahwa salah
satu sebab perlunya para nabi Allah ialah manusia secara alami
memerlukan tauladan yang
sempurna. Dan tauladan yang sempurna meningkatkan gairah serta
membangkitkan semangat, sedangkan orang
yang tidak mengikuti tauladan akan menjadi malas dan sesat. Ke arah
inilah Allah Ta'ala mengisyaratkan di dalam ayat berikut:
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yakni,”Bergaulah kamu dengan orang-orang benar”
(At-Taubah, 119). “Pelajarilah
jalan orang-orang sebelum kamu yang telah mendapat karunia” (Al-Fatihah,
7).
Sarana
kedelapan adalah kasyaf suci, ilham suci, dan mimpi-mimpi
suci dari Allah Ta'ala. Dikarenakan menempuh
jalan menuju kepada Allah Ta'ala merupakan suatu jalan yang sangat pelik dan dipenuhi oleh bermacam-macam musibah
serta penderitaan, dan mungkin saja mereka tersesat di jalan yang
tidak nampak itu, atau dicekam rasa putus asa sehingga enggan meneruskan
langkahnya ke depan, oleh karena itu rahmat Ilahi menghendaki agar di dalam perjalanan tersebut Dia
terus menerus menghiburnya dan membesarkan hatinya serta terus
menerus mengukuhkan semangat dan meningkatkan gairahnya.
Jadi, demikianlah sunnah Allah Ta'ala
yang berlaku terhadap orang-orang yang menempuh jalan-Nya. Yaitu, dari waktu ke waktu Dia menghibur mereka dengan kalam
dan ilham-Nya, dan Dia menzahirkan kepada mereka bahwa, "Aku ada bersama kamu." Barulah
mereka memperoleh kekuatan, kemudian dengan sangat cepat menempuh jalan tersebut. Berkenaan dengan itu Dia berfirman:
لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَفِي الْآخِرَةِ
Yakni, “Bagi mereka berita gembira di dalam
kehidupan dunia dan akhirat” (Yunus, 65).
Demikian pula banyak lagi sarana lain yang
telah diterangkan oleh Quran Syarif,
akan tetapi sayang sekali kami tidak dapat memaparkannya, karena khawatir
terlalu panjang.”
Demikianlah salah satu penjelasan Masih Mau’ud a.s. dari 5 Bab
yang ditetapkan Panitia (Komite)
Konferensi
Agama-agama dalam artikel Islami Ushul ki
Filasafi (Falsafah Ajaran Islam), yang
dibacakan oleh Maulana Abdul Karim
Sahib Sialkoti r.a pada Konferensi
Agama-agama Besar di Lahore pada bulan Desember 1896.
Keunggulan
artikel tersebut bukan saja merupakan kebenaran gelar Shultanul-Qalam
(Raja pena) yang dianugerahkan Allah
Ta'ala kepada Mirza Ghulam
Ahmad a.s. – Al-Masih Mau'ud a.s. & Imam Mahdi a.s.
-- yang kedatangannya sangat
ditunggu-tunggu oleh seluruh umat
beragama, tetapi juga membuktikan benarnya
firman Allah Ta'ala dalam Al-Quran Suci
bahwa tujuan kedatangan Rasul Akhir Zaman tersebut adalah untuk mengunggulkan agama Islam atas
semua agama (QS.61:10).
Kelima topik permasalahan itu telah
disebar-luaskan terlebih dulu oleh Komite
untuk mendapatkan jawaban-jawabannya.
Dan untuk jawaban tersebut Komite mempersyaratkan agar para
penceramah sedapat mungkin membatasi
hanya pada kitab yang telah diakuinya sebagai kitab suci dari
sudut pandang agamanya. Permasalahan-permasalahan itu adalah:
1.
Keadaan
jasmani (thabi'i/alami), akhlaki, dan ruhani manusia.
2.
Keadaan
manusia sesudah mati.
3.
Tujuan
sebenarnya hidup manusia di dunia, dan bagaimana cara memenuhi tujuan tersebut.
4.
Dampak amal
perbuatan manusia di dunia dan di Hari Kemudian.
5.
Apa saja
sarana-sarana untuk mendapatkan ilmu, yakni irfan dan makrifat.
Konferensi ini berlangsung dari
tanggal 26 sampai 29 Desember 1896.
Wakil-wakil dari Sanatan Darm, Hindu, Arya Samaj, Free Thinker, Brahmu
Samaj, Theosophical Society, Religion of Harmony, Kristen, Islam, dan Sikh
menyampaikan pidato-pidato mereka. Akan tetapi hanya satu pidato saja yang berisikan jawaban sejati serta lengkap terhadap
permasalahan-permasalahan tersebut.
Tidak dapat digambarkan bagaimana suasana
tatkala Hadhrat Maulwi Abdul Karim
Sialkoti r.a. membacakan artikel
Mirza Ghulam Ahmad a.s. dengan suara yang menarik. Tidak seorang pun dari agama tertentu yang tidak memujinya
secara spontan.
Tiada seorang pun yang tidak terpukau
serta tertegun. Cara penyampaiannya
sangat menarik dan memikat hati. Tidak ada lagi bukti yang lebih besar tentang kehebatan
artikel ini dari sikap para penentang yang memuji-mujinya.
Sebuah suratkabar berbahasa Inggris
yang terkenal dan terkemuka, Civil and Militery Gazette Lahore, -- walaupun merupakan harian Kristen
-- telah memuat pujian yang tinggi terhadap artikel tersebut, dan
menyatakannya sebagai suatu yang patut diperbincangkan.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
28 November 2016