Rabu, 30 November 2016

"Delapan Sarana" Petunjuk Al-Quran yang Dapat "Mempertemukan" Manusia Dengan Allah Swt.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  72  

 DELAPAN SARANA PETUNJUK AL-QURAN YANG DAPAT “MEMPERTEMUKAN” MANUSIA DENGAN ALLAH SWT.     

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   Bab 71 dikemukakan   penjelasan   Hubungan Rukun Iman  Dengan  Rukun Islam  & Tiga Syarat Mencapai Tujuan Perjalanan.  Mengenai pentingnya beriman kepada Allah Swt. dan kepada rasul Allah tersebut – terutama Nabi Besar Muhammad saw.  – dalam ajaran Islam diabadikan  dalan bentuk Rukun Iman: (1) Iman kepada Allah, (2) Iman kepada malaikat-malaikat, (3)  iman kepada Kitab-kitab, (4)  iman kepada rasul-rasul, (5)  iman kepada akhirat  (Kiamat), (6)   iman kepada takdir,  sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula  orang-orang beriman,  semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, mereka berkata:  لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ   --  Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”, وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ  --  dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat.  Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan )kami, dan kepada Engkau-lah kami  kembali.” (Al-Baqarah [2]:286).
 Amal-amal baik  atau amal shalih memang merupakan cara utama untuk mencapai kesucian ruhani, tetapi amal-amal baik itu bersumber pada kesucian hati yang dapat dicapai hanya dengan berpegang pada itikad-itikad yang benar. Dari itu, ayat ini merinci dasar-dasar kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran yaitu  beriman kepada Allah Swt., para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya menurut urutan atau tertib yang wajar.

Tiga Syarat Cara Mencapai Tujuan Perjalanan & Sifat-sifat  Utama Tasybihiyah  Allah Swt.

     Jika seseorang  berkehendak pergi menuju ke satu tempat tujuan   ada 3   hal utama yang perlu baginya, yakni:
      (1) ia harus mengetahui letak posisi atau arah tempat  yang akan didatanginya tersebut.
      (2) ia harus bergerak menuju arah yang benar  berkenaan letak tempat yang akan didatanginya tersebut.
      (3) ia harus mengetahui keadaan  medan  perjalanan yang akan ditempuhnya.
Apabila  ketiga  syarat  -- bahkan pun salah satu dari ketiga syarat  tersebut  --   tidak dipenuhi maka sampai kapan pun ia tidak akan dapat sampai ke tempat yang hendak ditujunya tersebut.
        Contohnya, jika tempat  yang hendak dituju seseorang  letaknya di sebelah barat, tetapi ia  bergerak ke arah sebaliknya  yakni  ke arah  timur, atau bergerak  ke arah utara atau ke arah selatan, maka sampai kapan pun ia tidak akan pernah sampai ke tempat yang hendak ditujunya tersebut.
         Sekali pun ia   mengetahui  arah serta posisi  tempat yang hendak ditujunya tetapi tidak berusaha bergerak ke  arah tempat tersebut ia tidak akan pernah sampai ke tempat tersebut.
        Begitu pula  jika ia mengetahui arah yang benar dan  bergerak menuju arah tujuan yang benar, tetapi ia tidak mengetahui keadaan medan perjalanan yang penuh  dengan rintangan dan tantangan  maka mungkin ia tidak akan sampai ke tempat tujuan perjalanan yang akan dilakukannya.  Jadi, betapa pentingnya mengetahui  ketiga syarat tersebut.
      Ada pun  dalam  masalah agama (ruhani) yang dimasud dengan tempat yang hendak dituju  dalam perjalanan yang dilakukan adalah perjalanan menuju “pertemuan” dengan Allah Swt. karena    merupakan tujuan utama   segala bentuk “perjalanan” (suluk) manusia  menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt. sebagaimana firman-Nya:  “Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali” (Al-Baqarah [2]:157).
      Ada pun arti mengetahui “arah yang benar” adalah memiliki pengetahuan yang benar  tentang segala sesuatu, dalam masalah agama yang dimaksud dengan mengetahui “arah yang benar” adalah memiliki makrifat (pengetahuan) tentang  berbagai petunjuk atau informasi  yang terkandung dalam   agama (kitab suci) – terutama ajaran Islam ( Al-Quran) karena  merupakan agama  (kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4)  --   terutama sekali mengenai makrifat Ilahi yang menjadi tujuan perjalanan.

 Buku “Islami Ushul ki  Filasafi”  (Falsafah Ajaran Islam)

      Sehubungan dengan  kesuksesan melakukan suluk (perjalanan ruhani)  menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt. tersebut (QS.29:70; QS.84:7) Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dalam buku beliau yang sangat terkenal Islami Ushul ki  Filasafi  (Falsafah Ajaran Islam) bab:
Masalah Ketiga 

APA TUJUAN SEBENARNYA MANUSIA HIDUP DI DUNIA
DAN BAGAIMANA  DAPAT MENCAPAINYA?

       Jawaban terhadap masalah ini adalah, manusia dengan berbagai macam pembawaan alaminya – karena pengetahuan yang dangkal serta kemampuan yang terbatas --  menetapkan berbagai tujuan bagi hidupnya, dan mereka berjalan hanya sampai pada tujuan-tujuan dan  cita-cita duniawi belaka lalu berhenti. Akan  tetapi  tujuan yang ditetapkan Allah Ta'ala di dalam Kalam Suci-Nya adalah sebagai berikut:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Yakni,  Aku telah menciptakan jin dan manusia agar mereka mengenal-Ku dan menyembah-Ku” (Adz-Dzaariyaat, 57).
      Jadi, menurut ayat ini tujuan sebenarnya hidup manusia adalah untuk menyembah Allah Ta'ala dan meraih makrifat Allah Ta'ala serta menjadi milik Allah Ta'ala. Jelas bahwa manusia tidak memperoleh kedudukan untuk – dengan ikhtiarnya – menetapkan sendiri tujuan hidupnya. Sebab manusia bukan atas kemauannya sendiri datang dan pula bukan atas kemauannya sendiri akan kembali, melainkan dia hanyalah makhluk (hasil ciptaan), sedangkan Wujud yang  menciptakan serta menganugerahkan kemampuan yang  cemerlang dan lebih tinggi kepadanya dibandingkan dengan seluruh hewan   Dia jugalah yang telah menetapkan  suatu tujuan hidup baginya.
       Tidak peduli apakah manusia mengerti atau tidak mengerti tujuan itu, akan tetapi tujuan penciptaan manusia tidak diragukan lagi yaitu untuk menyembah Tuhan dan meraih makrifat Allah Ta'ala serta menjadi fana (larut) di dalam Allah Ta'ala, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman di satu tempat lain dalam Al-Quran:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا .........ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ
Yakni, “Agama yang di dalamnya terdapat makrifat yang benar tentang Tuhan dan penyembahan terhadap-Nya dalam bentuk terbaik adalah Islam (Âli 'Imran, 20).   Dan Islam telah ditanamkan dalam fitrat manusia, dan Allah Ta'ala telah menciptakan manusia dalam keadaan Islam  serta telah menciptakannya untuk Islam. Yakni, Dia telah menghendaki agar manusia dengan segala kemampuannya terus-menerus menyembah, menaati  dan mencintai Tuhan.  Itulah sebabnya Sang  Mahakuasa dan Maha Mulia telah menganugerahkan kepada manusia seluruh kemampuan yang selaras dengan Islam.” (Ar-Rūm, 31).
         Rincian ayat-ayat ini sangat luas, dan kami dalam kadar tertentu telah juga menuliskannya pada bagian  ketiga Masalah Pertama.  Akan tetapi pada saat ini kami hanya ingin menzahirkan (mengemukakan)  secara ringkas, bahwa segala organ bagian dalam dan luar yang telah dianugerahkan kepada manusia, atau segala kemampuan yang telah diberikan, tujuan sebenarnya  dari semua itu ialah untuk mendapatkan makrifat Ilahi dan menyembah Allah Ta'ala serta mencintai Allah Ta'ala.  Itulah sebabnya manusia di dunia setelah tenggelam dalam ribuan kesibukan mereka tetap saja tidak menemukan kebahagiaan   sejati dalam suatu apa pun  kecuali pada Allah Ta'ala.
     Setelah menjadi hartawan, setelah memperoleh kedudukan tinggi, setelah menjadi saudagar besar, setelah mencapai tahta kerajaan besar, setelah dijuluki filsuf besar, akhirnya ia pergi dengan hasrat-hasrat besar karena belenggu-belenggu duniawi itu, dan kalbunya senantiasa mengecamnya karena tenggelam dalam dunia. Hati-nuraninya  tidak  pernah menyetujuinya tindakan-tindakannya yang licik, penuh tipu-muslihat, dan curang.
        Seorang manusia bijak dapat juga memahami masalah ini dengan cara demikian: tugas-tugas paling tinggi yang dapat dilakukan oleh kemampuan-kemampuan suatu benda lalu lebih dari itu kemampuan-kemampuan tersebut terhenti maka tugas paling tinggi itu dianggap sebagai tujuan  penciptaan benda tersebut. Misalnya,  tugas paling tinggi seekor lembu jantan ialah membajak tanah atau menimba air sumur untuk pengairan atau untuk menarik pedati. Lebih dari itu ia tidak mempunyai kemampuan lain.
         Akan tetapi apabila kita mengukur kemampuan-kemampuan manusia – yaitu kemampuan paling tinggi yang terdapat dalam dirinya --  maka yang terbukti adalah padanya terdapat pencarian terhadap Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Besar. Sampai-sampai manusia berkeinginan untuk melebur dan tenggelam di dalam kecintaan Tuhan sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi  miliknya yang tersisa, semua telah menjadi milik Tuhan.
         Dalam hal makan dan tidur serta hal-hal alami lainnya manusia menyerupai hewan-hewan lain. dalam bidang keterampilan, sebagian hewan sangat jauh melebihi manusia. Bahkan lebah-lebah madu mengambil sari dari setiap bunga lalu menghasilkan madu murni yang sampai sekarang tidak berhasil dibuat oleh manusia. Jadi, jelaslah bahwa kelebihan paling tinggi yang dimiliki manusia yaitu perjumpaan dengan Allah Ta'ala. Oleh karena itu tujuan sebenarnya hidup manusia ialah agar terbuka jendela hatinya ke arah Allah Ta'ala.

Sarana-sarana Untuk Mencapai Tujuan Hidup Manusia
 
      Ya,  jika yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dan bagaimana tujuan itu dapat dicapai serta dengan sarana-sarana apa manusia dapat meraihnya? Maka hendaklah jelas bahwa sarana paling besar yang dipersyaratkan untuk mencapai tujuan itu adalah:
       Sarana pertama: Mengenal Allah Ta'ala secara benar dan mengimani Tuhan  yang hakiki. Sebab jika langkah pertama saja sudah salah dan seseorang, misalnya menjadikan burung atau hewan atau unsur-unsur zat atau manusia  sebagai tuhan (sembahan)  maka bagaimana mungkin dapat diharapkan bahwa pada langkah-langkah berikutnya dia akan menempuh jalan yang lurus?
      Tuhan  yang hakiki memberikan pertolongan  kepada orang-orang yang mencari-Nya. Akan tetapi bagaimana mungkin benda mati dapat memberikan pertolongan kepada sesuatu yang mati? Dalam hal ini Allah Ta’ala  memberikan tamsil (perumpamaan) yang indah, yaitu:
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  
 Yakni, “Dia-lah Tuhan Yang Hakiki yang pantas dimintai doa, yang berkuasa atas tiap sesuatu. Dan orang-orang yang berseru kepada wujud-wujud selain Dia sedikit pun tidak dapat menjawab mereka. Keadaan mereka seperti orang yang sambil membuka telapak tangannya ke air lalu berkata, "Hai air datanglah ke mulutku!" Apakah air itu akan datang ke mulutnya? Sekali-kali tidak! Jadi barangsiapa yang tidak mengenal Tuhan Yang Hakiki maka segala doa mereka menjadi sia-sia” (Ar-Rā'd, 15).
     Sarana kedua ialah mendapatkan gambaran jelas tentang kejuitaan (حُسْنٌ) serta keindahan yang lengkap di dalam Wujud Allah Ta'ala. Sebab kejuitaan adalah sesuatu yang secara alami menawan hati dan dengan menyaksikannya akan timbul kecintaan secara alami. Ada pun kejuitaan Allah Ta'ala itu terletak pada ke-Esa-an-Nya, Kebesaran-Nya, Kemuliaan-Nya, dan Sifat-sifat-Nya. Sebagaimana  Quran Syarif berkata:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ()اللَّهُ الصَّمَدُ()لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ()وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Yakni, “Tuhan adalah Esa dalam Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya dan kegagahan-Nya. Tak ada yang bersekutu dengan Dia. Segala sesuatu bergantung pada Dia.  Tiap dzarrah menerima anugerah hidup  dari Dia. Dia Sumber karunia bagi segala sesuatu dan Dia tidak menerima karunia dari sesuatu apa pun. Dia bukan anak seseorang dan bukan bapak seseorang. Bagaimana mungkin, sebab tidak ada sesuatu yang setara  dengan Dia” (Al-Ikhlash, 2-5).
     Quran Syarif telah menarik perhatian orang-orang dengan berkali-kali mengemukakan kesempurnaan dan keagungan Tuhan, "Lihatlah, Tuhan seperti itu adalah Wujud yang menarik minat, dan bukan Wujud yang mati, lemah, memiliki sedikit kasih-sayang dan sedikit kekuasaan."
     Sarana ketiga untuk mencapai tujuan sebenarnya yang merupakan tangga kedua ialah mengenal ihsān Tuhan (kebajikan Tuhan), karena pendorong rasa cinta itu hanya terdiri dari 2 hal, yaitu: kejuitaan (حُسْنٌ)  dan ihsaan (اِحْسَانٌ). Sedangkan ringkasan  sifat-sifat ihsaan Allah Ta'ala terdapat dalam surah Al-Fatihah, sebagaimana Dia berfirman:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ()الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ()مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Sebab, jelaslah bahwa ihsan yang sempurna terletak pada kenyataan bahwa Allah Ta'ala menciptakan hamba-hamba-Nya dari tiada, dan kemudian sifat Rabbubiyyat   senantiasa menaungi mereka, dan Dia sendiri merupakan Penunjang bagi segala sesuatu, serta segala macam rahmat-Nya diwujudkan bagi hamba-hamba-Nya, dan ihsan-Nya tak terbatas  sehingga tidak ada yang dapat menghitungnya.
    Jadi, Allah Ta'ala telah berulang kali menjelaskan tentang ihsan-ihsan-Nya yang demikian, sebagaimana pada tempat lain Dia berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
Yakni, “jika kamu ingin menghitung nikmat-nikmat Allah Ta'ala maka kamu sekali-kali tidak akan dapat menghitungnya” (Ibrahim, 35).
      Sarana keempat yang telah ditetapkan oleh Allah Ta'ala untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah doa, sebagaimana Dia berfirman:
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Yakni, “kamu berdoalah, Aku akan kabulkan” (Al-Mukmin, 61). Dan berkali-kali Dia menarik minat untuk berdoa supaya manusia bukan karena kekuatannya sendiri meraih sesuatu melainkan dengan kekuatan Tuhan menemukan  Tuhan.
       Sarana  kelima yang telah ditetapkan Allah Ta'ala untuk mencapai tujuan sebenarnya  ialah mujahadah. Yakni, carilah Dia  dengan cara membelanjakan harta di jalan-Nya, dengan cara menyalurkan kemampuan-kemampuan di jalan Allah Ta'ala, dengan cara mengorbankan jiwa pada jalan Allah Ta'ala, dan dengan cara mengerahkan akal pikiran di jalan Allah Ta'ala, sebagaimana Dia berfirman:
وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Yakni, “Belanjakanlah harta-benda kamu,  jiwa kamu, dan diri  kamu beserta segenap kemampuannya pada jalan Allah” (At-Taubah, 41). “Dan apa pun yang telah Kami anugerahkan kepada kamu – berupa akal, ilmu, pemahaman, keahlian dan sebagainaya --  kerahkanlah semuanya di jalan Allah Ta'ala” (Al-Baqarah, 4). “Orang-orang yang berusaha dengan segala cara pada jalan Kami, Kami selalu menunjukkan jalan Kami kepada mereka” (Al-Ankabūt, 70).
      Sarana keenam untuk mencapai tujuan sebenarnya yang telah Dia jelaskan ialah istiqamah. Yakni di jalan ini tidak bosan, tidak putus-asa, tidak lelah, dan tidak gentar menghadapi cobaan, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ()نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Yakni, “Orang-orang yang berkata, "Tuhan kami Allah dan kami telah menjauhkan diri dari tuhan-tuhan palsu", kemudian mereka istiqamah – yakni tetap teguh dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan musibah – maka malaikat-malaikat turun kepada mereka sambil berkata, "Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati,  dan bergembiralah serta bersukarialah, sebab kamu telah menjadi pewaris kebahagiaan  yang dijanjikan kepada kamu. Kami adalah sahabat kamu di dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat” (Ha MimAs Sajdah, 31-32). 
    Ayat ini mengisyaratkan bahwa dengan istiqamah manusia memperoleh keridhaan Allah Ta'ala. Benarlah bahwa  istiqamah itu lebih unggul dari karamat.
       Istiqamah yang sempurna ialah: ketika segala musibah mengepung dari segala penjuru dan di jalan Allah Ta'ala nyawa, kehormatan, dan harga diri dihadapkan kepada bahaya, sementara tidak  terdapat sesuatu yang menghibur – sampai-sampai Tuhan pun dengan tujuan hendak menguji  menutup pintu kasyaf atau mimpi atau ilham yang membesarkan hati – lalu membiarkan dalam keadaan-keadaan takut yang mengerikan, pada saat itu tidak memperlihatkan sikap penakut dan tidak mundur ke belakang bagai para pengecut, serta tidak memperlihatkan perubahan apa pun pada sifat kesetiaan, dan mencemari ketulusan dan ketabahan, rela terhadap kenistaan, rela terhadap maut (kematian), dan untuk mengokohkan langkah-langkah tidak menunggu-nunggu seorang kawan agar dia memberikan pertolongan, tidak menuntut turunnya kabar suka dari Tuhan sebab masa yang genting, dan walaupun tidak berdaya dan lemah serta tidak memperoleh sesuatu yang menghibur sekali pun,  tetap saja berdiri tegak  dan merebahkan leher ke depan seraya mengatakan, "Apa yang akan terjadi biarlah terjadi”,  dan tidak mengecam keputusan takdir serta sama sekali tidak memperlihatkan kegelisahan dan  keluh-kesah sampai selesainya saat cobaan itu.
        Inilah yang yang menyebabkan sampai sekarang masih menimbulkan aroma wangi dari tanah (kubur) para rasul, para nabi, para shiddiq dan para syahid. Ke arah inilah Allah Ta'ala memberikan isyarat dalam doa berikut:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ()صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yakni, “Wahai Allah Ta'ala kami, tunjukkanlah kami jalan istiqamah, yaitu jalan yang di atasnya diperoleh nikmat-nikmat dan kemuliaan dan Engkau meridhainya” (Al-Fatihah, 6-7).
       Dan pada tempat lain Allah Ta'ala mengisyaratkan kepada hal itu juga:
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ
Wahai Rabb (Tuhan) kami, dalam menghadapi musibah turunkanlah kepada hati kami perasaan tentram yang karenanya timbul kesabaran, dan semoga kematian kami ada  dalam Islam” (Al-A’rāf, 127).
         Hendaklah diketahui bahwa pada waktu penderitaan  dan musibah datang, Allah Ta'ala menurunkan suatu nur (cahaya) atas hati hamba-hamba kesayangan-Nya sehingga mereka mendapat kekuatan lalu menghadapi musibah dengan  sangat tenang. Dan karena lezatnya iman mereka menciumi rantai yang membelenggu kaki-kaki mereka di jalan-Nya.
      Apabila bala-musibah turun kepada orang  yang ber-Tuhan dan tanda-tanda maut (kematian) sudah zahir maka  ia tidak akan mulai bertengkar dengan Tuhan-nya Yang Maha Mulia supaya ia diselamatkan dari bala-bencana tersebut. Sebab bersikeras mendesak minta keselamatan pada masa demikian berarti melawan Allah Ta'ala dan bertentangan dengan  penyerahan diri secara sempurna.
     Bahkan dengan turunnya bencana, seorang pencinta sejati melangkahkan kaki lebih maju ke depan. Dan pada saat demikian  dia menganggap jiwanya tidak berharga serta mengucapkan selamat tinggal kepada kecintaan terhadap jiwanya lalu ia sepenuhnya mengikuti kehendak Tuhan-nya dan menginginkan karidhaan-Nya. Mengenai hal itu Allah Ta’ala  berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Yakni,  Hamba kesayangan Tuhan memberikan jiwanya di jalan Allah, dan sebagai imbalannya dia menerima keridhaan Allah Ta'ala.  Itulah orang-orang yang memperoleh rahmat istimewa dari Allah Ta'ala” (Al-Baqarah, 208).
       Ringkasnya, yang telah diuraikan ini adalah ruh istiqamah yang karenanya dapat berjumpa dengan Tuhan. Barangsiapa yang mau memahami, pahamilah.
     Sarana ketujuh untuk mencapai tujuan sebenarnya ialah bergaul dengan orang-orang benar dan memperhatikan tauladan-tauladan sempurna mereka.  Jadi hendaknya diketahui bahwa salah satu  sebab perlunya  para nabi Allah  ialah manusia secara alami memerlukan  tauladan yang sempurna. Dan tauladan yang sempurna meningkatkan gairah serta membangkitkan semangat, sedangkan   orang yang tidak mengikuti tauladan akan menjadi malas dan sesat. Ke arah inilah Allah Ta'ala mengisyaratkan di dalam ayat berikut:
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Yakni,”Bergaulah kamu dengan orang-orang benar” (At-Taubah, 119). “Pelajarilah jalan orang-orang sebelum kamu yang telah mendapat karunia” (Al-Fatihah, 7).
         Sarana kedelapan adalah kasyaf suci, ilham suci, dan mimpi-mimpi suci dari Allah Ta'ala. Dikarenakan  menempuh jalan menuju kepada Allah Ta'ala merupakan suatu jalan yang sangat  pelik dan dipenuhi oleh bermacam-macam musibah serta penderitaan, dan mungkin saja mereka tersesat di jalan yang tidak nampak itu, atau dicekam rasa putus asa sehingga enggan meneruskan langkahnya ke depan, oleh karena itu rahmat Ilahi menghendaki  agar di dalam perjalanan tersebut Dia terus menerus menghiburnya dan membesarkan hatinya serta terus menerus mengukuhkan semangat dan meningkatkan gairahnya.
         Jadi, demikianlah sunnah Allah Ta'ala yang berlaku terhadap orang-orang yang menempuh jalan-Nya. Yaitu,  dari waktu ke waktu  Dia menghibur mereka dengan kalam dan ilham-Nya, dan Dia menzahirkan kepada mereka bahwa, "Aku ada bersama kamu." Barulah mereka memperoleh kekuatan, kemudian dengan sangat cepat menempuh jalan  tersebut. Berkenaan dengan itu Dia berfirman:
لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ
Yakni, “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat” (Yunus, 65).
         Demikian pula banyak lagi sarana lain yang telah diterangkan oleh  Quran Syarif, akan tetapi sayang sekali kami tidak dapat memaparkannya, karena khawatir terlalu panjang.”
     Demikianlah salah satu penjelasan Masih Mau’ud a.s.  dari 5 Bab  yang ditetapkan Panitia (Komite) Konferensi Agama-agama dalam  artikel Islami Ushul ki  Filasafi  (Falsafah Ajaran Islam),      yang  dibacakan oleh Maulana Abdul Karim Sahib Sialkoti r.a    pada Konferensi Agama-agama Besar di Lahore pada bulan Desember 1896.
    Keunggulan artikel tersebut   bukan saja merupakan  kebenaran gelar Shultanul-Qalam (Raja pena) yang dianugerahkan Allah   Ta'ala kepada  Mirza Ghulam Ahmad a.s. – Al-Masih Mau'ud a.s. & Imam Mahdi a.s. --  yang kedatangannya sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat beragama,  tetapi juga membuktikan benarnya firman Allah Ta'ala dalam Al-Quran Suci bahwa tujuan kedatangan Rasul Akhir Zaman tersebut adalah  untuk mengunggulkan agama Islam atas semua agama (QS.61:10).
       Kelima topik permasalahan itu telah disebar-luaskan terlebih dulu oleh Komite untuk mendapatkan jawaban-jawabannya. Dan untuk jawaban tersebut Komite mempersyaratkan agar para penceramah sedapat mungkin membatasi hanya pada kitab yang telah diakuinya sebagai kitab suci dari sudut pandang agamanya.       Permasalahan-permasalahan itu adalah:
1.     Keadaan jasmani (thabi'i/alami), akhlaki, dan ruhani manusia.
2.     Keadaan manusia sesudah mati.
3.     Tujuan sebenarnya hidup manusia di dunia, dan bagaimana cara memenuhi tujuan tersebut.
4.     Dampak amal perbuatan manusia di dunia dan di Hari Kemudian.
5.     Apa saja sarana-sarana untuk mendapatkan ilmu, yakni irfan dan makrifat.
      Konferensi ini berlangsung dari tanggal 26 sampai 29 Desember 1896.  Wakil-wakil dari Sanatan Darm, Hindu, Arya Samaj, Free Thinker, Brahmu Samaj, Theosophical Society, Religion of Harmony, Kristen, Islam, dan Sikh menyampaikan pidato-pidato mereka. Akan tetapi hanya satu pidato saja yang berisikan jawaban sejati  serta lengkap terhadap permasalahan-permasalahan tersebut.
       Tidak dapat digambarkan bagaimana suasana tatkala Hadhrat Maulwi  Abdul Karim Sialkoti r.a.  membacakan artikel Mirza Ghulam Ahmad a.s. dengan suara yang menarik. Tidak seorang pun dari agama tertentu yang tidak memujinya secara spontan.
      Tiada seorang pun yang tidak terpukau serta  tertegun. Cara penyampaiannya sangat menarik dan memikat hati. Tidak ada lagi bukti yang lebih besar tentang kehebatan artikel ini dari sikap  para penentang yang memuji-mujinya. Sebuah suratkabar berbahasa Inggris yang terkenal dan terkemuka, Civil and Militery Gazette Lahore,  -- walaupun merupakan harian Kristen -- telah memuat pujian yang tinggi terhadap artikel tersebut, dan menyatakannya sebagai suatu yang patut diperbincangkan.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  28 November 2016