Jumat, 30 September 2016

Tiga Syarat "Pengabulan Taubat" Oleh Allah Swt. & "Istighfar" Nabi Besar Muhammad Saw. Merupakan "Syafaat" Bagi Orang-orang Beriman Pengakut Hakiki Nabi Besar Muhammad Saw.


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 24

TIGA SYARAT PENGABULAN TAUBAT OLEH ALLAH SWT. & ISTIGHFAR NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MERUPAKAN SYAFAAT BAGI ORANG-ORANG BERIMAN PENGIKUT  HAKIKI BELIAU SAW.  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 23   dikemukakan  sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai bentuk-bentuk “maghfirah” yang harus diamalkan oleh umat Islam sebagai “umat terbaik” yang dijadikan bagi manfaat seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111).
       Tetapi di Akhir Zaman ini kenyataannya tidak demikian melainkan bukan saja di antara sesama mereka  telah saling mengkafirkan, bahkan saling membinasakan, padahal Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
“Sesungguhnya lenyapnya dunia ini adalah lebih ringan bagi Allah daripada membunuh jiwa seorang Muslim”. (HR At-Tirmidzi, juga oleh An-Nasa’i dan Ibn Majah).
Hal tersebut sesuai firman-Nya mengenai hukuman  terhadap Bani Israil (Al-Maidah [5]:33-35).

Dua Kali Hukuman Allah Swt. Kepada Bani Israil dan Bani Isma’il

         Sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  selaras dengan firman Allah Swt. mengenai kedengkian Kain terhadap saudaranya, Habel – dalam  monumental Dua anak Adam (QS.5:28-32)  -- selanjutnya Allah Swt. berfirman:  
مِنۡ اَجۡلِ ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ  اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ  اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِیۡنَ یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ ۚ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾  
Oleh sebab itu Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa: Barangsiapa yang membunuh seseorang,  padahal orang itu tidak pernah membunuh orang lain atau  telah mengadakan kerusakan  di bumi, maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia;  dan barangsiapa menyelamatkan nyawa seseorang maka ia seolah-olah menghidupkan seluruh manusia. Dan sungguh benar-benar telah datang ke-pada mereka  rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata, kemudian sesudah itu sungguh kebanyakan dari mereka benar-benar melampaui batas di bumi.  Sesungguhnya balasan bagi orang-orang  yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi ini ialah mereka dibunuh atau disalib atau pun dipotong tangan dan kakinya disebabkan oleh permusuhan mereka, atau mereka diusir dari negeri.  Hal demikian adalah penghinaan bagi mereka di dunia ini, dan di akhirat pun mereka akan mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang   yang  bertaubat sebelum kamu berkuasa atas mereka, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-Maidah [5]:33-35).
        Apa yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah suatu peristiwa yang serupa dengan apa yang tersebut di sini mengenai kedua putra Adam, tetapi peristiwa yang mengandung arti yang jauh lebih luas lagi penting itu, akan terjadi kelak di kemudian hari.
        Seorang nabi Allah akan muncul di antara saudara-saudara Bani Israil, yakni  dari kalangan  Bani Isma’il. Kenyataan ini akan menimbulkan kemarahan kaum Bani Israil terhadap nabi itu dan mereka akan menjadi haus darah karena disulut oleh rasa iri hati (kedengkian),  persis seperti Kain telah menjadi haus darah terhadap saudaranya, Habel.
     Nabi Allah tersebut bukan sembarang wujud. Dialah yang akan menjadi Pembaharu Dunia dan ditakdirkan membawa syariat abadi bagi segenap umat manusia yang seluruh masa depannya bergantung padanya (QS.5:4; QS.7:159; QS.21:108),  dan  karena itu membunuhnya adalah sama dengan membunuh seluruh umat manusia dan menyelamatkan jiwanya berarti sama dengan me-nyelamatkan seluruh umat manusia.

Bentuk-bentuk Hukuman Allah Swt.

    Islam tidak ragu-ragu mengambil tindakan-tindakan yang paling keras bila kepentingan negara atau masyarakat luas menghendaki demikian untuk membongkar sampai ke akar-akarnya suatu kejahatan yang berbahaya. Islam menolak tenggang-rasa palsu yang berdasar emosi khayali, namun  pada waktu menjatuhkan hukuman atas pelanggaran yang mengganggu ketertiban umum, Islam menggunakan akal dan pertimbangan-pertimbangan yang sehat.
     Hukuman yang ditetapkan di sini terdiri atas empat kategori. Bentuk hukuman yang dijatuhkan dalam suatu perkara tertentu akan bergantung pada suasana dan lingkungan. Memberikan atau menjatuhkan hukuman adalah menjadi wewenang pemerintah dan bukan wewenang perseorangan. Kata-kata diusir dari negeri, menurut Imam Abu Hanifah berarti dipenjarakan.
       Ayat ini dan ayat sebelumnya tidak mengisyaratkan kepada perampok-perampok dan penyamun-penyamun biasa melainkan kepada pemberontak dan penjahat-penjahat yang menyerang negara Islam, sebagaimana jelas dari kata-kata “yang memerangi Allah dan Rasul-Nya”. Kesimpulan demikian selanjutnya ditunjang oleh kenyataan bahwa ayat ini menjanjikan pengampunan kepada pelanggar-pelanggar hukum apabila mereka bertaubat.
    Tetapi nyata bahwa mereka yang berbuat jahat terhadap perseorangan-perseorangan atau terhadap masyarakat  -- seperti perampok-perampok dan pencuri-pencuri  --  dalam keadaan biasa tidak bisa diampuni oleh negara, sekalipun mereka bertaubat. Mereka tetap harus mengalami hukuman karena perbuatan jahat mereka sesuai dengan ketentuan hukum.
       Sudah   tentu taubat dapat menjamin mendapat ampunan dari Allah Swt.,   tetapi kekuasaan negara dalam hal ini terbatas. Akan tetapi penjahat-penjahat politik bisa dimaafkan   oleh negara jika mereka bertaubat dan berhenti dari kegiatan-kegiatan memberontak dan berhenti dari aktivitas-aktivitas lainnya yang mengganggu kebijaksanaan negara.

Tiga Syarat Pengabulan Taubat

      Sehubungan pengabulan taubat oleh Allah Swt.  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan syarat-syaratnya:
     “Perlu selalu diperhatikan bahwa ada tiga persyaratan pertobatan dimana tanpa pemenuhannya maka pertobatan hakiki tidak akan pernah bisa dicapai:
       Syarat pertama, adalah mengenyahkan segala khayalan buruk yang akan menimbulkan kecenderungan jahat. Sebab pemikiran atau gagasan memiliki daya yang amat kuat. Setiap tindakan selalu diawali dengan sebuah gagasan. Karena itu syarat utama bagi pertobatan adalah mengenyahkan segala fikiran dan khayalan buruk.
         Sebagai contoh, bila seseorang mempunyai hubungan gelap dengan seorang wanita dan bermaksud akan bertobat, perlu baginya membayangkan wanita tersebut sebagai seorang yang buruk rupa dan mengingat-ingat segala sifatnya yang rendah.
        Sebagaimana telah aku kemukakan, daya khayal mempunyai kekuatan pengaruh yang luar biasa. Aku pernah membaca dimana beberapa Sufi[1] telah membiarkan daya khayal mereka menerawang terlalu jauh, sehingga mereka melihat seseorang dalam rupa sebagai kera atau babi.
    Segala hal membentuk rona  sejalan dengan bagaimana kalian membayangkannya. Karena itulah sebagai syarat pertama pertobatan adalah agar semua fikiran yang mengajak kepada kenikmatan jahat harus dienyahkan sama sekali.
       Persyaratan kedua, adalah rasa penyesalan. Kesadaran batin tiap orang akan selalu mengingatkan jika yang bersangkutan melakukan suatu dosa, hanya saja mereka yang kurang beruntung terbiasa mengabaikan kesadaran batin tersebut. Karena itu seorang pendosa haruslah menyatakan rasa penyesalan atas segala dosa dan kelakuan buruknya serta menyadari bahwa kenikmatan yang didapat dari perbuatannya itu hanya bersifat amat sementara.
       Ia juga patut menyadari bahwa tingkat kenikmatan demikian kian lama kian menurun dan pada akhirnya ketika ia sudah tua dan semua kemampuan dirinya telah melemah, dengan sendirinya ia terpaksa harus melepaskan segala kenikmatan tersebut. Karena itu mengapa harus memperturutkan nafsu dalam suatu hal yang pada akhirnya harus ditinggalkan?
  Manusia yang paling beruntung adalah mereka yang bertobat dan meninggalkan semua fikiran kotor dan khayalan durjana. Dilambari penyesalan maka ia harus melepaskan semuanya.
     Syarat ketiga, adalah keteguhan niat bahwa ia tidak akan kembali lagi kepada semua keburukan yang telah ditinggalkan. Jika ia bersiteguh dalam niatnya tersebut maka Tuhan akan mengaruniakan kepadanya kekuatan bagi pertobatan hakiki dimana semua keburukannya akan tanggal dan digantikan oleh akhlak yang mulia serta amal yang saleh. Saat itu tercapailah kemenangan akhlak yang baik.
     Pada Tuhan-lah terletak kekuatan dan kekuasaan guna mencapai hal itu, karena Dia itulah Penguasa segala daya sebagaimana dinyatakan dalam ayat:
اَنَّ الۡقُوَّۃَ لِلّٰہِ جَمِیۡعًا
  “Segala kekuatan itu kepunyaan Allah (Al-Baqarah [2]:166).
(Malfuzat, jld. I, hlm.  138-140).

Pengertian Istighfar

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan pengertian istighfar, beliau a.s. bersabda:
      Makna hakiki   istighfar adalah permohonan kepada Allah Swt. agar kelemahan manusiawi janganlah sampai ditampakkan, dan harapan semoga Tuhan mau membantu dengan kekuatan-Nya secara alamiah serta  memasukkan mereka ke dalam lingkaran perlindungan-Nya.
    Akar kata istighfar adalah ghafara yang mengandung arti menutupi atau menyelimuti. Dengan demikian pengertian  istighfar ialah agar Tuhan berkenan menutupi kelemahan alamiah si pemohon dengan kekuatan-Nya.     Pengertian ini menjadi lebih luas dengan juga menyertakan pengertian menutupi dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.
   Namun pengertian hakikinya adalah permohonan agar Tuhan berkenan memelihara si pemohon terhadap kelemahan alamiah dirinya dan menganugrahkan kepadanya kekuatan dari Wujud-Nya, [menganugerahkan] pengetahuan dari khazanah-Nya dan cahaya dari Nur-Nya.
    Setelah menciptakan manusia, Tuhan tidak lalu melepaskan diri darinya. Sebagaimana Dia itu Pencipta manusia dan segala fitrat internal dan eksternal yang ada pada diri manusia, Dia juga bersifat Dzat Yang Tegak dengan Sendiri-Nya (Al-Qayyum), dengan pengertian bahwa Dia akan memelihara dan membantu segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Karena itu perlu selalu diingat oleh manusia bahwa mengingat ia telah diciptakan Tuhan maka ia harus menjaga karakteristik dirinya melalui fitrat Tuhan sebagai Sang Maha Pemelihara.

Istighfar Merupakan  Kebutuhan Alamiah Manusia

   Dengan demikian  adalah suatu kebutuhan alamiah bahwa manusia diperintahkan untuk selalu beristighfar sebagaimana tersirat dalam ayat:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ
Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri”(Al-Baqarah [2]:256).
      Ketika manusia sudah diciptakan maka fungsi penciptaan telah selesai tetapi fungsi pemeliharaan terus berlanjut selamanya dan karena itu istighfar selalu diperlukan sepanjang waktu. Setiap fitrat Ilahi memiliki suatu rahmat, dan istighfar dibutuhkan guna memperoleh rahmat dari fitrat   Al-Qayyum   --  “Tegak atas Dzat-Nya Sendiri”.
        Hal yang sama juga diindikasikan dalam Surah Al-Fatihah:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾
“Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan” (Al-Fatihah [5]:5).
       Yakni “dengan memohonkan pertolongan berdasar fitrat-Nya sebagai Yang Maha Pemelihara dan Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri agar kami ini dipeliharakan dari kejatuhan,  dan kelemahan kami jangan menjadi nyata terlihat karena akan mengakibatkan kami kurang dalam menyembah Engkau.”
      Dengan demikian jelas bahwa makna hakiki   istighfar adalah bukan karena telah terjadi suatu kesalahan, tetapi agar jangan sampai terjadi kesalahan apa pun. Manusia yang menyadari kelemahan dirinya secara alamiah berusaha memperoleh kekuatan dari Tuhan laiknya seorang anak mencari susu ibunya.
      Sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa sejak awal sudah mengaruniakan lidah, mata, hati, telinga dan lain-lain, Dia juga telah membekali diri manusia dengan hasrat untuk beristighfar serta perasaan ketergantungan kepada Tuhan untuk bantuan pertolongan. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
وَ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ
“Dan mohonlah ampunan untuk kelemahan-kelemahan insani engkau dan juga untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan (Muhammad [47]:20).
      Maksud dari ayat ini adalah perintah bagi Hadhrat Rasulullah Saw. agar memohon supaya fitrat beliau dipelihara  dari kelemahan-kelemahan yang bersifat insani,  dan fitrat tersebut agar diperkuat  supaya kelemahan beliau tidak menjadi tampak.

Istighfar  Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai Syafaat

      Beliau juga diperintahkan untuk berdoa sebagai syafaat bagi manusia laki-laki dan perempuan yang beriman kepada beliau, sehingga mereka itu terpelihara dari hukuman atas segala kesalahan yang telah mereka lakukan disamping memelihara mereka terhadap laku dosa dalam sisa umur mereka selanjutnya.
   Ayat ini mengandung falsafah yang amat luhur tentang syafaat dan pemeliharaan terhadap dosa. Ayat ini mengindikasikan bahwa manusia sebenarnya bisa mencapai derajat perlindungan yang tinggi terhadap dosa dan memperoleh syafaat jika beliau (Hadhrat Rasulullah Saw.) secara terus menerus berdoa bagi penekanan terhadap kelemahan dirinya sendiri, dan menyelamatkan umat lainnya dari racun dosa.
      Beliau memperoleh kekuatan dari Tuhan berkat doa beliau dan berhasrat agar mereka yang terkait dengan wujud beliau karena tali keimanan  juga mendapatkan manfaat dari kekuatan Ilahi tersebut.
     Seorang yang tidak punya dosa tetap saja perlu berdoa kepada Allah Swt. agar mendapat kekuatan, mengingat fitrat manusia sendiri tidak ada memiliki keunggulan  dan selalu bergantung kepada-Nya,  serta tidak mempunyai kekuatan sendiri karena bergantung pada bantuan kekuatan dari Tuhan serta tidak ada padanya nur sendiri yang sempurna melainkan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya.

Daya Tarik Fitrat yang Sempurna

    Fitrat yang sempurna dibekali dengan daya tarik yang mampu menarik kekuatan dari atas kepada dirinya yang berasal dari khazanah kekuatan yang ada pada Tuhan. Para malaikat memperoleh kekuatan dari khazanah tersebut, sebagaimana juga para manusia sempurna yang mendapatkan kekuatan agar luput dari dosa serta mendapatkan rahmat dari Sumber tadi melalui saluran penghambaan kepada Ilahi.
       Karena itu dari antara manusia ia dianggap suci dari  dosa secara sempurna bila mampu menarik ke dalam dirinya kekuatan Ilahi melalui istighfar serta terus menyibukkan dirinya dengan berdoa memohon agar nur tetap turun kepadanya.
        Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan istighfar? Istighfar adalah suatu sarana guna memperoleh kekuatan. Inti dari Ketauhidan Ilahi adalah kenyataan bahwa kondisi kesucian manusia bukanlah milik permanen dirinya,  melainkan harus diperoleh melalui pengagungan Tuhan sebagai Sumber segala rahmat.
    Allah Swt. secara metaforika (kiasan) mirip dengan jantung yang mengandung persediaan darah bersih, sedangkan istighfar dari seorang manusia sempurna adalah mirip urat nadi yang tersambung ke jantung tersebut guna menarik darah darinya dan menyalurkannya ke anggota tubuh yang memerlukan.” (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 187-190).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 28 September 2016





[1] Kelompok umat Muslim yang berorientasi pada mistisisme yang di awalnya bersumber pada berbagai pandangan di luar Islam tetapi kemudian berkembang secara khusus dalam masyarakat Muslim sendiri. Dikenal juga dengan nama Tasauf yang banyak sekali pengaruhnya pada filsafat agama dan telah menghasilkan berbagai pemikir Islami seperti Syekh ‘Abdul Qadir Al-Jailani, Abdul Ghani ibn Isma’il  an-Nabulusi dan lain-lain. Merupakan kelompok-kelompok yang memiliki nama-nama khusus seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah dan lain-lain. (Penterjemah/Abdul Qayum Khalid)


Pentingnya Membina "Persaudaraan Muslim" yang hakiki & Akibat Buruk Membunuh Sesama Muslim



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 23

PENTINGNYA MEMBINA “PERSAUDARAAN MUSLIM” YANG HAKIKI  & AKIBAT BURUK MEMBUNUH SESAMA MUSLIM

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 22   dikemukakan  mengenai  orang-orang yang  lebih mengutamakan kecintaan kepada Allah Swt. dan  Rasul Allah yang disebut  Hizbullāh (golongan/partai Allah), firman-Nya:
لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ  -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang  di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal  di dalamnya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ  --   Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah  itulah orang-orang yang berhasil. (Al-Mujādalah [58]:23).
Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu  murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap  orang-orang beriman  dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. Itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.    Sesungguhnya pelindung ka-u adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا      -- Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai pelindung, فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ --  maka  sesungguhnya   jamaat Allah pasti menang.   (Al-Māidah [5]:55-57.

Kabar Gembira dari Allah Swt. & “Persaudaraan Muslim” yang Hakiki

  Jadi kembali kepada   ayat-ayat yang  melarang orang-orang musyrik berziarah ke Ka’bah (Baitullah), Allah Swt. menyatakan bahwa  pengkhidmatan  secara jasmani penduduk Mekkah  terhadap Ka’bah (Baitullah)  tidak sebanding dengan pengkhidmatan secara ruhani oleh orang-orang yang beriman  kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37), firman-Nya:
اَجَعَلۡتُمۡ سِقَایَۃَ الۡحَآجِّ وَ عِمَارَۃَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ کَمَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  وَ جٰہَدَ  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَا  یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۘ﴾ اَلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ  دَرَجَۃً  عِنۡدَ  اللّٰہِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu anggap memberi minum orang-orang yang melaksanakan haji dan  memelihara Masjidilharam itu sama seperti orang yang beriman kepada Allah, Hari Kemudian, dan  yang  berjihad pada jalan Allah? لَا  یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ   -- Mereka tidak sama di sisi Allah  وَ اللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ --     dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. اَلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا  فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ  دَرَجَۃً  عِنۡدَ  اللّٰہِ   -- Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka  memiliki derajat yang tertinggi di sisi Allahوَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفَآئِزُوۡنَ  -- Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (At-Taubah [9]:19-20). 
  Selanjutnya Allah Swt.  berfirman:
یُبَشِّرُہُمۡ رَبُّہُمۡ بِرَحۡمَۃٍ مِّنۡہُ وَ رِضۡوَانٍ وَّ جَنّٰتٍ  لَّہُمۡ  فِیۡہَا نَعِیۡمٌ مُّقِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عِنۡدَہٗۤ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Rabb (Tuhan) mereka memberi kabar gembira kepada mereka mengenai rahmat dari-Nya, keridhaan-Nya, dan kebun-kebun,  di dalamnya mereka akan memperoleh  nikmat yang abadi.   Mereka  kekal  di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah di sisi-Nya  terdapat ganjaran yang besar.   (At-Taubah [9]:21-22). 

"Persaudaran Muslim" yang Hakiki 

     Sehubungan dengan “Hizbullah” (golongan Allah) tersebut Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
    “Kamu akan melihat orang-orang yang beriman dalam saling kasih sayang, cinta-mencintai dan kasih-mengasihi ibarat satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit  maka bahagian anggota lain juga merasa sakit dan tidak dapat tidur malam.” (Bukhari dan Muslim).
    “Orang Islam itu bersaudara, tidak boleh menzalimi dan mengkhianatinya. Sesiapa yang menolong saudaranya  niscaya Allah akan menolongnya. Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan orang Islam niscaya Allah akan menghilangkan darinya kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa yang menutup keaiban orang Islam niscaya Allah akan menutup keaibannya pada hari kiamat.” (Riwayat Ahmad).
        Abu Musa r.a. berkata, Nabi Saw. bersabda: “Seorang mu’min terhadap sesama mu’min bagaikan satu bangunan yang setengahnya menguatkan setengahnya”, lalu Nabi Saw. mengeramkan jari-jarinya. (Bukhari; Muslim). 
     Allah Swt. berfirman mengenai pentingnya memperkokoh “persaudaraan Muslim”   sebagai bukti bahwa umat Islam benar-benar berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi (QS.3:103-105), sebab Tauhid Ilahi identik dengan  kesatuan dan persatuan umat, sedang  kemusyrikan identik dengan perpecahan umat:
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  اِخۡوَۃٌ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَ اَخَوَیۡکُمۡ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ  لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka  damaikanlah di antara kedua saudara kamu,  dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu dikasihani. (Al-Hujurāt [49]:11).
        Caranya adalah semua Muslim harus berpegang-teguh pada “Tali Allah” firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ   کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ  یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾   وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  ﴿﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.   وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا --   Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah,  dan  janganlah kamu berpecah-belah, وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا --  dan  ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu  Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا   -- dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkan kamu darinya  کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ  --  Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu mendapat petunjuk. وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ  --  Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan,  dan menyuruh kepada yang makrufdan melarang dari berbuat munkar,  وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ  -- dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ  -- Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah belah dan berselisih  sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ  --  dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar. یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ  --   Pada hari  ketika  wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam.  فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ  -- Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu." وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --   Dan  ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal  di dalamnya.  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡ  --    Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam. وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  --  Dan  milik Allah-lah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.  (Âli ‘Imran [3]:103-110).

Tanda-tanda  Tegaknya “Persaudaraan Muslim” yang Hakiki

       Apabila umat Islam melaksanakan perintah Allah Swt. dalam firman-Nya tersebut  maka,   Insya Allah, Allah Swt. akan menganugerahkan maghfirah-Nya dalam berbagai hal kepada umat Islam.  Sehubungan dengan firman-Nya tersebut Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: 
      “Barangsiapa ingin (suka) memperoleh kelezatan iman, hendaklah ia mencintai seseorang hanya karena Allah.” (Riwayat Ahmad).
      Abdullah bin Umar r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Seorang Muslim saudara terhadap sesama Muslim, tidak menganiyayanya dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain. Dan siapa yang menyampaikan hajat saudaranya, maka Allah akan menyampaikan hajatnya. Dan siapa yang melapangkan kesusahan seorang Muslim  maka Allah akan melapangkan kesukarannya di hari qiyamat, dan siapa yang menutupi aurat seorang Muslim maka Allah akan menutupinya di hari qiyamat. (Bukhari; Muslim).
         Nabi Besar Muhammad saw. bersabda: “Barangsiapa yang tidak mempedulikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukanlah termasuk dari kalangan mereka”  (Hadits riwayat Abu Daud).
        “Barangsiapa yang melepaskan sesuatu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan hari Akhirat, dan barangsiapa melapangkan seorang yang berada di dalam kesempitan, Allah akan melapangkan untuknya di dunia dan di akhirat”. (Hadits riwayat Muslim).  
        ”Janganlah menunjukkan kegembiraan di atas penderitaan saudara Muslim, kerana nanti Allah akan menyelamatkannya dan menimpakan musibah itu terhadap kamu pula”. (Hadits riwayat At-Tirmidzi)
       “Pada hari kiamat Allah berfirman: “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku ini, aku menaungi mereka dengan naungan-Ku.” (Riwayat Muslim).
       “Barangsiapa yang bersaudara dengan seseorang karena Allah, niscaya Allah akan mengangkatnya ke suatu derajat di surga yang tidak bisa diperolehnya dengan sesuatu dari amalnya.” (Riwayat Muslim).
        “Di sekeliling ‘Arsy terdapat mimbar-mimbar dari cahaya yang ditempati oleh suatu kaum yang berpakaian dan berwajah (cemerlang) pula. Mereka bukanlah para nabi atau syuhada, tetapi nabi dan syuhada merasa iri terhadap mereka.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami tentang mereka.” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai, bersahabat, dan saling mengunjungi karena Allah.” (Riwayat Nasa’i dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu).        
          Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a.  bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, melakukan najasy (semacam promosi palsu), saling membenci, memusuhi, atau menjual barang yang sudah dijual ke orang lain. Tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak menzhalimi, dan tidak membiarkan atau menghinakannya. Takwa itu di sini (beliau menunjuk ke dadanya tiga kali).”
         Demikianlah bentuk-bentuk “maghfirah” yang harus diamalkan oleh umat Islam sebagai “umat terbaik” yang dijadikan bagi manfaat seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111). Tetapi di Akhir Zaman ini kenyataannya tidak demikian melainkan bukan saja di antara sesama mereka  telah saling mengkafirkan, bahkan saling membinasakan, padahal Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
“Sesungguhnya lenyapnya dunia ini adalah lebih ringan bagi Allah daripada membunuh jiwa seorang Muslim”. (HR At-Tirmidzi, juga oleh An-Nasa’i dan Ibn Majah).

Dua Kali Hukuman Allah Swt. Kepada Bani Israil dan Bani Ismail

         Sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  selaras dengan firman Allah Swt. mengenai kedengkian Kain terhadap saudaranya, Habel – dalam  monumental Dua anak Adam (QS.5:28-32)  -- selanjutnya Allah Swt. berfirman:  
مِنۡ اَجۡلِ ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ  اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ  اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِیۡنَ یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ ۚ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾  
Oleh sebab itu Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa: Barangsiapa yang membunuh seseorang,  padahal orang itu tidak pernah membunuh orang lain atau  telah mengadakan kerusakan  di bumi, maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia;  dan ba-rangsiapa menyelamatkan nyawa seseorang maka ia seolah-olah menghidupkan seluruh manusia. Dan sungguh benar-benar telah datang ke-pada mereka  rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata, kemudian sesudah itu sungguh kebanyakan dari mereka benar-benar melampaui batas di bumi.  Sesungguhnya balasan bagi orang-orang  yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi ini ialah mereka dibunuh atau disalib atau pun dipotong tangan dan kakinya disebabkan oleh permusuhan mereka, atau mereka diusir dari negeri.  Hal demikian adalah penghinaan bagi mereka di dunia ini, dan di akhirat pun mereka akan mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang   yang  bertaubat sebelum kamu berkuasa atas mereka, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-Maidah [5]:33-35).
       Apa yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah suatu peristiwa yang serupa dengan apa yang tersebut di sini mengenai kedua putra Adam, tetapi peristiwa yang mengandung arti yang jauh lebih luas lagi penting itu, akan terjadi kelak di kemudian hari.
        Seorang nabi Allah akan muncul di antara saudara-saudara Bani Israil, yakni  dari kalangan  Bani Isma’il. Kenyataan ini akan menimbulkan kemarahan kaum Bani Israil terhadap nabi itu dan mereka akan menjadi haus darah karena disulut oleh rasa iri hati (kedengkian),  persis seperti Kain telah menjadi haus darah terhadap saudaranya, Habel.
    Nabi Allah tersebut bukan sembarang wujud. Dialah yang akan menjadi Pembaharu Dunia dan ditakdirkan membawa syariat abadi bagi segenap umat manusia yang seluruh masa depannya bergantung padanya (QS.5:4; QS.7:159; QS.21:108),  dan  karena itu membunuhnya adalah sama dengan membunuh seluruh umat manusia dan menyelamatkan jiwanya berarti sama dengan me-nyelamatkan seluruh umat manusia.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 27 September 2016